Chapter 2
Hari Istimewa dan Hari Biasa
Baru dua
puluh empat jam berlalu sejak Yuzuki dan aku memulai sandiwara hubungan palsu
ini, tapi sekolah sudah dibanjiri rumor tentang kami.
Situs
gosip yang biasa digunakan mulai dipenuhi berbagai macam kiriman bernada
cacian.
Aku tentu
saja menerima banyak kebencian, tapi itu hal yang biasa bagi si 'bajingan
tukang main perempuan' ini. Namun, kiriman tentang Yuzuki-lah yang benar-benar
keterlaluan.
Dasar
murahan.
Dia mau
melakukannya dengan siapa saja.
Kudengar
dia menduakannya dengan seorang mahasiswa.
Cukup
pedas, bukan?
Tidak
diragukan lagi Yuzuki telah menempatkan dirinya dalam bahaya. Namun, luapan kebencian itu terasa sangat
ekstrem dan membuat hatiku terasa dingin. Jelas sekali, orang-orang telah
memutuskan untuk memasukkan Yuzuki ke dalam kategori "target empuk untuk
dihujat secara brutal", sama sepertiku. Sekarang kami tampaknya telah
menjadi satu unit khusus, keduanya sama-sama siap menjadi sasaran kebencian
daring.
Meski ini
forum anonim, siapa yang tega mengatakan hal semengerikan itu tentang orang
lain? Apa mereka tidak malu? Jelas, beberapa orang memang benar-benar marah. Tapi yang lain hanya ikut-ikutan dan
menggunakan ini sebagai kesempatan gratis untuk melempar lumpur. Semua itu
memang sudah biasa terjadi, tapi aku tetap sedikit terpana melihatnya.
Sudahlah, mari
lanjut...
Eksposur semacam
ini sebenarnya memenuhi tujuan awal kami dengan sempurna. Ketertarikan orang-orang telah
benar-benar terpancing. Jadi tidak perlu lagi ada akting tambahan hari ini.
Sebaliknya, kami memutuskan agar para gadis dan pria berpencar saat makan siang
dan melakukan urusan masing-masing.
Begitu kelas
usai, aku, Kazuki, dan Kaito segera berlari untuk membeli makan siang. Setelah
masing-masing mengambil roti lapis sederhana, kami bergegas ke gimnasium.
Sambil duduk di tepi panggung, kami melahap makan siang kami, lalu mulai
bertanding Free Throw dengan bola basket yang dibawa Kaito.
Kami sudah sering
makan siang bersama sebagai sebuah kelompok sejak tahun kedua dimulai, tapi
sudah agak lama sejak terakhir kali kami hanya nongkrong bertiga saja. Kami
sempat mengajak Kenta juga, tapi dia bilang: "Maksudmu kau ingin aku main
basket tepat setelah makan? Kau mau membunuhku, ya?" dan menolak kami.
Setelah itu, Yuuko dan gadis-gadis lainnya menyeretnya pergi bersama mereka,
jadi syukurlah untuknya. Hmm, aku penasaran apa dia sudah merencanakannya.
Wusss.
Aku melepaskan
tembakan yang cukup bagus, dan bola masuk ke ring.
Aku mengambil
bola itu, lalu mengoper ke Kaito yang berdiri di garis Three-Point.
Karena dia adalah pemain bintang klub basket, kami berdua tidak akan punya
kesempatan menang tanpa handicap. Kazuki dan aku mengambil tembakan dari garis Free
Throw, membiarkan Kaito menembak dari garis Three-Point. Itu adalah
kesepakatan lama kami.
Duk, duk, duk.
Kaito mengambil
bola dariku dan melakukan dribel dengan mahir. Dia tidak memiliki kelincahan
tangan seperti Haru, tapi dia memiliki kekuatan.
"Jadi ada
apa, Saku?"
Kaito menekuk
lututnya dan fokus mencari penentuan waktu yang tepat sambil berbicara.
"Ada apa
apanya?"
"Ada apa
denganmu dan Yuzuki, tentu saja. Hup!"
Kaito melompat ke
udara, tubuh setinggi 180 sentimeternya berada dalam posisi tegak yang
sempurna, bagaikan batang pohon besar. Bola melesat dari tangannya dan seolah
terhisap ke dalam jaring. Tembakannya hampir tidak menimbulkan suara.
Kaito
mengoper bola ke Kazuki lalu menghampiriku.
"Apa
maksudmu dengan ada apa denganku dan Yuzuki?"
"Apa
kau berencana memacarinya sungguhan? Itulah yang... kutanyakan!"
Kaito
menendang pantatku dengan keras sambil bicara.
Jaga
sikapmu, dasar otak otot! Itu benar-benar sakit.
"Apa
maksudnya... itu?" Aku balas menendangnya dengan seluruh kekuatan yang
kukumpulakan.
"Aduh,
Saku!" Kaito memekik,
memegangi pahanya sambil melanjutkan. "Maksudku, kalian berdua pasangan
yang serasi. Kau juga serasi dengan Yuuko, tapi itu urusan lain. Yang ingin
kukatakan adalah, kau pasangan yang cocok untuk Yuzuki."
Kazuki menyahut
dari garis Free Throw sambil memegang bola.
"Seperti
yang Haru katakan kemarin, kau dan Yuzuki sebenarnya agak mirip. Seperti kalian berdua membangun
dinding transparan yang tak tertembus di sekeliling kalian."
Kazuki melepaskan
tembakannya, menggunakan papan pantul untuk memasukkan bola ke ring.
Kazuki
menghampiri kami setelah mengambil bola. Dia memutar bola di ujung jarinya.
Kaito juga mengangkat jarinya dan mengambil bola yang masih berputar itu dari
Kazuki. Dengan tangannya yang bebas, dia menyentuh bola itu agar berputar lebih
cepat.
"Benar.
Bahkan saat aku melihat Yuzuki mengobrol dengan teman-temannya selama
pertandingan basket, rasanya... dia selalu punya ekspresi yang sama. Selalu sama, baik saat tim menang atau
kalah. Dia hanya tampak benar-benar santai saat bersama Haru."
Tidak diragukan
lagi Kaito telah menghabiskan paling banyak waktu di sekitar Yuzuki, karena dia
juga anggota klub basket. Tapi aku tidak pernah menyadari kalau dia...
se-observan ini.
Bagaimanapun, aku
sendiri sudah lama memiliki kesan yang sama tentang Yuzuki.
Kaito adalah pria
dengan banyak lapisan. Dia suka bercanda dengan kawan-kawannya, tapi sebenarnya
dia tipe yang cukup serius. Saat aku menyeret Kenta kembali ke sekolah, dia
menerimanya begitu saja tanpa niat tersembunyi seperti yang aku dan Kazuki
simpan diam-diam.
"Tapi
belakangan ini, saat dia bersamamu, Saku, dia tampak jauh lebih tenang."
Aku teringat
percakapan kami saat jalan pulang semalam. Ketika kami mulai membahas
pertandingan akhir pekan depan, Yuzuki memasang wajah datarnya yang biasa. Atau
setidaknya begitulah pikirku. Tapi mungkin sebenarnya dia tampak sedikit lebih
santai dari biasanya?
Aku merebut bola
dari Kaito dan mulai menerobos ke ring. Kaito mengejarku dengan cepat. Aku
melakukan Layup dan mengarah ke ring. Kaito memblokirku, dan aku
menyambar bola yang meleset itu. Kemudian aku mulai mendribel lagi, mencari
posisi.
"Apa kau
sanggup menghadapinya kalau dia dan aku benar-benar berpacaran sungguhan?"
"Menghadapi
apa?"
"Aku
bertanya apa kau sebenarnya tidak diam-diam naksir Yuzuki, dan... Hyuh!"
Aku melakukan
gerakan tipuan ke satu sisi, lalu menerobos maju. Kaito berputar dan
mendekatiku, memblokir jalanku ke ring.
"Ya, tentu
saja tidak. Yuzuki hanya teman. Yang kukatakan adalah: Jika ada cara kau bisa
membantunya, maka aku ingin kau melakukannya... Hyah!"
Kaito menerjang
ke arahku, berniat mencuri bola.
Aku melangkah
mundur dengan cepat, menghindarinya. "Memangnya kau ayahnya? Aku akan
ingat kata-katamu ini. Jangan coba-coba memukulku kalau dia dan aku benar-benar
jadian... Hyuh!"
"Kalau
sampai aku memukulmu, itu karena kau membuatnya menangis... Hyah!"
"Akan
kuingat itu. Tapi, selama aku masih sadar, otak otot sepertimu tidak akan
pernah bisa mendaratkan pukulan padaku... Hup!"
Aku mengoper bola
ke belakang tanpa menoleh.
Kazuki yang
menunggu di garis Three-Point menangkapnya.
"Hei! Tidak
adil!" Kaito bergegas memblokir, tapi dia terlambat.
Tembakan indah
lainnya, memantul rapi dari papan pantul. Kazuki dan aku melakukan tos.
"Lihat kan,
kubilang juga apa. Otak otot."
Aku menoleh
sambil menyeringai pada Kaito yang tampak menyesal. Kazuki meletakkan tangannya
di bahuku.
"Tapi kau
sendiri juga agak otak otot, tahu, Saku."
"Apa
maksudnya itu?"
"Lagipula
kau tidak akan mendengarkan saranku, tapi menurutku kau harus mempertimbangkan
untuk membuat pilihan yang tegas dan melepaskan pilihan lainnya. Itu keahlian
hidup yang bagus."
Aku menepis
tangan Kazuki—dan juga sarannya.
Aku tahu apa yang
dia isyaratkan di sini.
Tapi bagiku, di
tahap hidupku saat ini... hal itu masih jauh di luar jangkauanku.
Bagaikan kapsul
waktu yang kau janjikan akan digali suatu hari nanti tapi kemudian kau lupakan,
aku merasa hari itu tidak akan pernah datang.
◆◇◆
Sepulang sekolah,
semua anggota Tim Chitose menuju ke Perpustakaan Prefektur Fukui.
Lokasinya agak
jauh dari sekolah, jadi Yuzuki dan aku memastikan untuk pergi ke sekolah dengan
sepeda hari ini. Ini adalah tempat belajar andalan bukan hanya bagi siswa SMA
Fuji, tapi bagi semua siswa SMA di Kota Fukui. Tempat ini dicintai baik oleh
kelompok belajar sebelum ujian seperti kami maupun siswa tahun ketiga yang
sedang belajar giat untuk ujian masuk universitas.
Perpustakaan ini
terletak sedikit di luar "jalan utama" Fukui, Jalan Raya Nasional 8,
sebuah bangunan raksasa yang modis di sebidang tanah rapi yang dikelilingi oleh
hamparan sawah. Dari jendela kaca besar bangunan utama, kau bisa melihat rumput
dan pepohonan yang dirawat dan dipangkas dengan teliti di sekelilingnya. Ini
adalah ruang yang menenangkan dan menyegarkan untuk membaca atau belajar bagi
siapa pun.
Interior
perpustakaan dilengkapi sepenuhnya dengan meja belajar mandiri, meja besar
untuk beberapa orang, dan bahkan kursi empuk untuk membaca. Ada tempat yang
cocok untuk semua orang. Anggota kelompokku semuanya memilih meja mandiri yang
terletak dengan interval jarak tertentu satu sama lain agar bisa fokus belajar.
Namun, Yuzuki dan
aku memilih meja terbuka.
Tentu saja, kami
melakukan ini untuk memastikan semua orang di perpustakaan itu tahu bahwa kami
sedang berkencan.
Kami sempat
mempertimbangkan untuk duduk berdampingan, tapi itu terlihat agak aneh bagi
pengamat luar, dan memberikan ruang yang lebih sempit bagi kami untuk
membentangkan buku teks dan lembar tugas. Akhirnya, kami memutuskan untuk duduk
berseberangan. Ini akan terlihat lebih alami daripada duduk bermesraan.
Aku menoleh ke
arah meja-meja mandiri. Yuuko sedang melotot ke arah punggung Yuzuki, dan saat
aku melihatnya, dia menarik kelopak mata bawahnya dan menjulurkan lidah sebagai
gestur penghinaan. Dia sempat bilang ingin bergabung di meja kami saat semua
orang sedang memilih kursi, tapi Yua meyakinkannya sebaliknya, dan akhirnya,
dia setuju untuk berkompromi dan dengan enggan duduk di meja mandiri terdekat.
Dia menangkap
tatapanku saat itu, memberiku kedipan nakal dan meniupkan ciuman jauh. Aku
berpura-pura menepis ciuman itu kembali padanya.
Setelah itu, aku
melihat sekeliling perpustakaan, mengamati lingkungan sekitar kami.
Aku menyadari
bahwa sekitar 30 persen siswanya berasal dari SMA Fuji kami sendiri. 30 persen
lainnya tampak seperti siswa dari SMA Takashima, dan 40 persen sisanya adalah
siswa dari berbagai sekolah menengah atas lainnya. Tidak ada yang aneh dari
semua itu.
Aku mencuri
pandang ke arah Yuzuki, yang sudah mengeluarkan pensil dan pulpennya lalu mulai
belajar. Dia biasanya menyelipkan rambut di belakang satu telinga saja secara
bergantian, tapi saat ini kedua sisinya terselip rapi di belakang telinga.
Fitur wajahnya yang tegas dan cantik terpampang jelas untuk sekali ini. Dia
tampak fokus mengerjakan tes latihan, pensil mekaniknya menggores berirama di
atas kertas.
Aku melamun
selama beberapa detik lagi, berfokus pada suara-suara di perpustakaan.
Sret,
sret.
Kresek,
kresek.
Klentang,
klentung.
Tap,
tap.
Srek,
srek.
Duk,
duk.
Seret,
seret.
Debum
pelan.
Semua
orang di sini berhati-hati untuk menjaga agar suara yang mereka buat seminimal
mungkin. Aku selalu menyukai perpustakaan.
Aroma
buku-buku tua, suara lembaran kertas yang dibalik secara berirama, suara
decitan pelan dari staf perpustakaan yang mendorong kereta berat. Semua ini
bergabung membuat waktu terasa berjalan sedikit lebih lambat dari biasanya.
Saat kau
keluar dari perpustakaan, rasanya seperti kau telah diberikan kembali sebagian
waktu yang seharusnya sudah kau habiskan. Tapi kebanyakan orang hanya
melanjutkan hari mereka setelah itu, tidak pernah menyadarinya.
Hidup ini
bertabur fenomena kecil yang aneh seperti itu.
Dan aku
menyukainya.
"…Saku?
Sa-ku."
Saat aku
tenggelam dalam pikiranku sendiri, tidak mampu memaksa diri untuk benar-benar
mulai belajar, aku mendengar suara kecil memanggil namaku.
Aku
mengangkat kepala dan melihat Yua berdiri di sampingku. Dia mengenakan kacamata
dengan bingkai biru tua.
"Maaf.
Aku melamun tadi." Aku merendahkan suaraku, memastikan tidak ada orang di
sekitar.
"Oh,
tidak apa-apa. Maaf mengganggu saat kau sedang berpikir. Apa kau punya kertas lepas? Kalau ada, boleh aku
minta?"
"Ya, aku
punya." Aku mengeluarkan beberapa lembar dan menyerahkannya pada Yua.
"Kau pakai kacamata hari ini, ya?"
Yua memalingkan
wajah, seolah tiba-tiba merasa malu.
"…Iya. Lebih
nyaman memakai ini saat aku sedang konsentrasi belajar. Tapi kurasa terlihat
aneh, ya?"
"Tidak, kok.
Aku tidak pernah menganggap kacamata itu terlihat aneh bagimu. Malah terlihat
sangat alami. Mengingatkanku pada tahun lalu. Rasanya seperti
bernostalgia."
"Tolong,
jangan mencoba mengingat tahun lalu terlalu keras…"
Yuzuki, yang
sepertinya ikut mendengarkan, bergabung dalam percakapan kami. "Kau dulu
pakai kacamata? Jadi kau adalah 'gadis berkacamata' di kelasmu?"
Yua tertawa
canggung. "Aku tidak tahu soal jadi 'gadis berkacamata' di kelas; kurasa
aku tidak pernah terlalu memikirkannya. Maksudku, kacamata atau lensa kontak,
aku tidak pernah terlalu peduli soal itu."
"Huh, itu
sedikit mengejutkan. Kau terlihat cukup sederhana, Ucchi, tapi aku tetap punya
kesan kalau kau adalah orang yang sangat peduli pada penampilan."
"Hmm, aku
tidak yakin soal itu. Kau dan Yuuko sama-sama sangat cantik, dan aku, yah,
hanyalah aku. Tapi ya, kurasa banyak hal telah terjadi sejak tahun pertama
kita…"
Yua sepertinya
kesulitan menjelaskan hal ini. Aku memutuskan untuk membantunya.
"Aku
sebenarnya yang memintanya mempertimbangkan lensa kontak. Kukatakan padanya
bahwa kiasan 'si cantik tersembunyi yang mengejutkan semua orang saat dia
akhirnya melepas kacamata' itu sudah basi. Sekarang yang diinginkan orang-orang
adalah 'si cantik biasa yang memberikan dimensi baru yang imut saat dia memakai
kacamatanya kembali'. Dan aku melihat Yua sebagai yang kedua itu."
Yuzuki mengangkat
alis seolah menangkap sesuatu yang tersirat. Dia langsung menyambarnya.
"Jadi
itu tipe seleramu, ya? Hmm, akan kucatat dalam hati."
"Tapi
itu harus tidak terduga. Bukan sesuatu yang direncanakan. Kalau kau sengaja
bilang: 'Jadi, apa jantungmu berdebar barusan?', seluruh suasananya akan
hancur. Itu terlalu jelas."
"Kurasa
kau harus mempertimbangkan kembali soal memuji ego gadis lain tepat di depan
pacarmu sendiri, bukan?"
"Yuzuki,
pesonamu itu bagaikan pola geometris yang dihitung dengan cermat agar
menyenangkan mata. Tapi Yua lebih seperti kacang kastanya manis yang baru
dikupas, sedikit mentah dan alami. Bagaimanapun juga, kalian tidak perlu
bersaing satu sama lain."
"…Um,
apa boleh aku kembali ke tempat dudukku sekarang?"
Dan
dengan kata-kata terakhir dari Yua itu, kami menghentikan obrolan, dan semua
orang mulai belajar dengan serius.
◆◇◆
"…Yuzuki."
Setelah
Yua kembali ke mejanya, kami belajar selama sekitar satu jam.
Sekarang
aku mencondongkan tubuh ke depan, membisikkan nama Yuzuki. Begitu aku
mendapatkan perhatiannya, aku secara diam-diam menyerahkan selembar kertas
lepas dengan catatan yang kutulis di atasnya.
Ada
beberapa anak dari SMA Yan di sini.
Yuzuki
membaca catatan itu. Bahunya seketika menegang, dan dia mengembuskan napas
panjang. Dia butuh waktu sejenak untuk menenangkan diri dan mengembalikan
wajahnya ke ekspresi datar yang biasa. Lalu dia mencoretkan sesuatu di kertas itu dan menyerahkannya kembali
padaku.
Di mana?
Ponselnya
sepertinya tersimpan di dalam tas yang tertutup rapat, itulah sebabnya aku
memilih jalur klasik dengan catatan kertas dan pulpen. Aku berharap dia akan
membacanya lalu membalas lewat aplikasi LINE, tapi ternyata tidak.
Biasanya, Yuzuki
cukup tajam untuk mengerti hal seperti itu, tapi dia jelas sedikit terguncang
sekarang.
Saling berkirim
pesan seperti ini bisa mengundang perhatian, jadi aku menggunakan mataku untuk
menunjukkan pada Yuzuki di mana para pria itu berada. Dia sepertinya mengerti.
Perlahan, dia menoleh untuk melihat ke belakang bahunya. Lalu dia menatapku
kembali seolah ingin bertanya, "Mereka?"
Aku memberikan
senyum pada Yuzuki, berharap itu terlihat seperti kami hanya mengobrol biasa,
dan mengangguk sedikit. Kemudian, sambil tetap menghadap Yuzuki, aku melihat
melewati bahunya untuk memeriksa apa yang terjadi sekarang.
Mereka berada di
belakang Yuzuki tapi tidak di dalam perpustakaan itu sendiri.
Mereka ada di
area taman yang terlihat melalui jendela perpustakaan. Ada tiga orang, dan
hanya dari sekilas pandang, mereka tidak terlihat seperti tipe orang yang akan
sering mengunjungi perpustakaan untuk belajar.
Mereka menatap ke
dalam tanpa rasa malu sedikit pun. Dan mereka tidak melakukannya dari kejauhan.
Mereka tepat menempel di kaca, sambil menyeringai. Para siswa yang duduk di
meja mandiri dekat jendela mulai terlihat tidak nyaman.
Saat aku
mengamati, menjadi jelas bahwa mereka sedang mencari seseorang. Mereka berjalan
mondar-mandir di jalan setapak luar jendela, sampai salah satu dari mereka
mengarahkan pandangannya ke arah sini. Dia berhenti, mengeluarkan ponselnya dan
menunjukkan layarnya kepada dua orang lainnya. Mereka mengangguk, dan yang
pertama menunjuk menembus kaca, tepat ke arah mejaku.
Seringai
mereka yang seperti hiu tiba-tiba melebar.
Nah, ada apa
dengan semua ini?
"Yuzuki,
bisakah kau jelaskan soal ini padaku?" Aku mengambil buku teks matematika sambil
berbicara.
"Oh,
tentu."
Yuzuki
bangkit berdiri dan menghampiriku dari belakang. Dia meletakkan tangannya di
bahuku dan menatap buku teks di atas meja.
Dilihat
dari jauh, kami tampak persis seperti pasangan muda yang sedang jatuh cinta,
sedang belajar bersama.
Aku
mencondongkan tubuh untuk berbisik di telinga kanan Yuzuki, di balik tirai
rambut sutra yang jatuh di depannya.
"Jangan
lakukan kontak mata. Bertindaklah sealami mungkin."
Yuzuki
tersentak. Lalu dia memukul punggungku pelan dengan gaya "Hmph! Dasar
bodoh!".
"Kau
lihat mereka?" aku bergumam pada Yuzuki lagi, masih memainkan peran
sebagai anak SMA yang sedang jatuh cinta, mendengarkan dengan sabar saat
pacarnya menjelaskan soal matematika.
Anak-anak
SMA Yan itu tidak mungkin bisa mendengar apa yang kami bicarakan dari luar
sana, jadi tidak perlu berbisik melebihi apa yang diwajibkan oleh etika
perpustakaan.
"Aku
sempat melihat sekilas. Aku tidak bisa benar-benar yakin, tapi kurasa aku tidak
mengenal satu pun dari mereka."
"Tetap
menunduk. Sepertinya ini waktu sesi pemotretan."
Salah
satu dari ketiga pria itu memegang ponselnya ke arah kami. Pada jarak ini, dan
melalui kaca jendela yang tebal, dia tidak mungkin mendapatkan foto yang sangat
jelas. Tetap saja, jika
mereka menginginkan bahan untuk hal kotor, mereka bisa pergi ke neraka.
"Bagaimanapun
kau melihatnya, jelas mereka mengincar salah satu dari kita berdua."
Setelah aku
mengatakan ini, Yuzuki mencondongkan tubuh untuk berbisik di telingaku, persis
seperti yang kulakukan padanya tadi. Sensasi napas manisnya di daun telingaku
mengirimkan sengatan listrik ke tulang belakangku.
"Mungkin
mereka di sini untuk membalas dendam padamu karena merebut pacar orang lain di
masa lalu?"
Aku merasa lega
karena Yuzuki sepertinya sudah mendapatkan kembali sikap aslinya.
Kurasa itu tidak
mungkin, berdasarkan seringai menyebalkan di wajah anak-anak SMA Yan itu. Tapi
sekali lagi, Yuzuki mungkin juga tahu itu.
"Apa kau
akan baik-baik saja sendirian sebentar? Kau bisa pergi duduk bersama Yua dan
yang lainnya, tapi itu hanya akan membuatmu lebih dekat ke kaca jendela dan
membuat orang-orang bodoh itu senang."
"Kurasa aku
tidak apa-apa sendirian… Tapi apa yang kau rencanakan?"
"Aku hanya
ingin jalan-jalan sebentar. Cari udara segar."
"Apa? Tunggu
dulu…"
Aku bangkit dari
meja dan berjalan pergi, mengabaikan Yuzuki yang mencoba menghentikanku dengan
menepuk-nepuk bahuku.
Aku membeli
sekaleng kopi dari mesin penjual otomatis di dekat pintu masuk dan melangkah
keluar.
Udara berbau
seperti rumput hijau yang segar.
Ini adalah hari
di bulan Mei yang sempurna.
◆◇◆
Aku berjalan
mengitari sekeliling perpustakaan sampai ketiga pria SMA Yan itu terlihat.
Aku berhenti
sekitar sepuluh meter dari mereka dan menarik tutup kaleng kopiku.
Yuuko dan Yua,
yang duduk di dekat jendela, menatap ke arahku dengan ekspresi kekhawatiran
yang sama. Aku memberikan tatapan "Semua akan baik-baik saja" dan
menyesap kopiku sambil memandang rumput yang terpangkas rapi.
Taman yang
dirawat dengan sangat baik, tapi tidak ada siapa-siapa di sini kecuali aku dan
ketiga berandal ini.
Duk,
duk, duk.
Duk,
sret, duk.
Tepat
saat itu, aku mulai mendengar suara sepatu kulit yang berdentum dan menyeret,
mendekat di sepanjang dek kayu yang mendekap dinding perpustakaan. Salah satu
dari mereka sepertinya menginjak bagian belakang sepatunya dan memakainya
seperti selop. Bunyi langkah kakinya terdengar tidak seimbang.
Suara
seretan dan dentuman sepatu itu berhenti di dekatku, digantikan oleh sebuah
suara.
"Hei,
Bung."
Siapa
yang tahu kalau mereka sebenarnya menyapaku? Aku berpura-pura tidak
menyadarinya.
"Jangan
abaikan kami. Kubilang hei!"
Seseorang
mencengkeram bahuku saat itu juga, jadi aku tidak punya pilihan selain menoleh
ke arah suara tersebut.
Pria yang
berdiri di depanku tampak seperti ayam jantan manusia raksasa. Seperti ayam
jantan dari kartun. Sisi kepalanya dicukur habis, dan dia memiliki jambul
rambut merah terang yang mencuat di tengah seperti jengger. Dia mengenakan
pakaian olahraga putih, bukan seragam sekolah. Dia juga agak bungkuk dengan
postur tubuh yang buruk, tapi wajahnya disodorkan maju ke arahku.
Aku pikir
dia terlihat cukup lucu dari luar, tapi dari dekat seperti ini, penampilannya
benar-benar memberikan tekanan.
Tidak
peduli siapa nama aslinya nanti, aku memutuskan untuk menamainya si Ayam
Jago Tolol.
Dan dia
jelas lebih mirip seorang yankii (berandalan) daripada sekadar nakal
biasa. Mari kita sebut dia yankii saja demi kenyamanan.
Teman-temannya
yang lain jelas yankii juga, tapi tidak ada hal lain dari mereka yang
benar-benar menonjol.
"Maaf,
kalian bukan tipe orang yang biasanya bergaul denganku. Aku tidak yakin kalian
sedang bicara padaku."
Cara
bicara dan sikapku yang umum adalah gaya siswa Fuji, dan itu sepertinya membuat
si Ayam Jago Tolol dari SMA Yan terdiam sejenak. Dia menyipitkan matanya
sedetik, lalu mengangkat bahu sedikit dan melepaskan bahuku.
"Kau
cowok yang baru saja duduk di meja di dalam sana bersama Yuzuki Nanase,
kan?"
Huh, jadi
mereka memang mengincar Yuzuki. Sudah cukup jelas, mempertimbangkan segalanya,
tapi tetap saja.
Yah,
kalau aku yang mereka inginkan, mereka tidak akan repot-repot mengambil foto.
"Ya. Aku
pacarnya." Hanya itu yang kukatakan untuk saat ini.
Jika mereka
kebetulan datang ke perpustakaan untuk membaca buku, dan kebetulan melihat
gadis cantik lalu tertarik padanya, maka mereka pasti akan mundur setelah
mengetahui bahwa dia sudah punya pacar.
Tapi fakta bahwa
mereka tahu nama lengkap Yuzuki membuat kemungkinan itu turun menjadi hampir
nol.
"Kalau
begitu, kau Saku Chitose, kan?"
Respons si Ayam
Jago Tolol sungguh tidak terduga. Dia seharusnya tidak tahu nama kami
berdua. Tapi rupanya, dia tahu keduanya.
Apa yang terjadi,
dan mengapa orang ini tahu nama lengkap kami berdua?
Dan apa maksudnya
dengan "Kalau begitu..."? Kata-kata itu menyiratkan adanya pemikiran
matang dan perencanaan.
"Itu aku,
Saku Chitose dari SMA Fuji. Apa maumu?"
Menanggapi hal
itu, si Ayam Jago Tolol merangkulkan lengannya ke bahuku, bersikap
seolah kami teman akrab.
Lubang hidungku
diserang oleh aroma parfum merek terkenal, tipe yang akan dipilih oleh pemula
parfum total.
"Apa mauku?
Bagaimana kalau sebuah perkenalan? Dengan Yuzuki Nanase."
Napasnya berbau
asap rokok, seperti milik Kura.
"Baru saja
kubilang dia pacarku, bukan?"
Sebagai
tanggapan, pria itu mengencangkan lengannya di bahuku, hampir seperti mencekik.
Pipinya yang ditumbuhi jenggot tipis menusuk kulitku, dan bahkan cuaca yang
luar biasa hari ini tidak bisa membuat situasi ini menjadi lebih baik.
"Aku
dengar, Bung, aku dengar. Tapi kau kan bajingan tukang main perempuan yang
tersohor, ya kan?"
"Hmm.
Aku tidak bisa membantahnya."
"Jadi... Yuzuki Nanase. Dia tipe yang mau diajak 'main' langsung,
kan?"
Huh.
Benar-benar menarik, apa yang dikatakan orang ini sekarang.
Dicap
sebagai bajingan tukang main perempuan memang ada untungnya, dan salah satu
yang terbesar adalah orang-orang cenderung menjauhimu. Namun di sisi lain,
terkadang label itu menarik serangga pemakan bangkai yang datang berkerumun,
mencari sisa-sisa.
Mari kita gali
sedikit di sini, ya?
Aku mengubah nada
suaraku dan mulai berlagak ramah. "Oh, cuma itu saja? Jangan menakutiku,
Bung. Aku hampir kencing di celana. Maksudku, di sinilah aku, dikelilingi oleh
sekumpulan bro dari SMA Yan. Tapi, dari mana kau dengar gosip sedap ini?"
Perubahan
karakterku ini semuanya untuk meyakinkan mereka bahwa aku adalah siswa teladan
yang lemah lembut dan sedikit takut pada mereka. Tapi apakah itu berhasil?
Si Ayam Jago
Tolol mengubah gayanya juga, dan menjadi agak angkuh serta sombong.
"Salahku,
salahku. Kau anak SMA Fuji, jadi kau tidak terbiasa dengan cara kami. Dari
siapa aku mendengarnya? Bosku. Dia mengincar Yuzuki Nanase. Dia menyuruh kami
untuk menjajakinya. Kami hanya butuh ID LINE-nya; itu saja, Bung."
Aku setengah
benar, setengah salah, kalau begitu.
Aku berhasil
membuat mereka terbuka padaku tapi tidak menemukan informasi yang benar-benar
berguna di sana.
"Huh. Bosmu
itu, apa dia tipe yang menakutkan?"
"Takut
mampus, Bung. Memukulmu tanpa ragu sedetik pun. Dan dia punya kelemahan pada
gadis panas dan gampangan seperti gadismu. Kau berencana mencampakkannya
sebentar lagi, kan? Jadi serahkan saja dia pada kami; bagaimana?"
Ini bukan sesuatu
yang bisa kusebut sebagai penguntitan.
Penguntit macam
apa yang mengirim pesuruh seperti ini untuk melakukan pekerjaan kotor mereka?
"Wah,
kedengarannya berat, Bung. Jadi kau sudah mengikuti perintah bosmu dan
membuntuti Yuzuki selama beberapa minggu terakhir ini?"
"…Apa
katamu?"
Suara si Ayam
Jago Tolol menjadi rendah dan mengancam.
Pengakuan
sederhana darinya akan menyelesaikan seluruh masalah, atau begitulah pikirku,
tapi aku harus mengaku bahwa aku tidak benar-benar tahu banyak tentang aturan
tak tertulis dari perilaku yankii.
Si Ayam Jago
Tolol mengencangkan lengannya di leherku lebih keras lagi.
"Aku tidak
mengikuti perintah apa pun. Ini tugas, Bung, tugas. Cepat berikan ID LINE-nya.
Tetaplah jadi pacarnya kalau kau mau; bos kami tidak keberatan dengan hal
semacam itu. Fetis
cuckold, tahu sendiri kan? Ayo, Bung, mari berjabat tangan."
Dia
melepaskan leherku dan menyambar tanganku, meremasnya dalam kepalan tangannya
seolah mencoba memamerkan kekuatannya. Tidak diragukan lagi komentarku tentang
dia yang mengikuti perintah melukai harga diri yankii-nya. Ini tidak berjalan sesuai harapanku sama
sekali. Memanipulasi berandalan ini terbukti lebih sulit dari yang kukira.
Aku menghela
napas sedikit dan bergumam pelan.
"Jabat
tangan gaya Amerika, ya? Baiklah."
Lalu aku
meremukkan tangan si Ayam Jago Tolol di tanganku.
"Aduh!
Sialan, Bung!"
Aku mengabaikan
jeritan kesakitannya dan menatap tajam ke arahnya.
"Apa itu?
Kau tidak tahu etika berjabat tangan? Kau harus menatap mata orang lain
dan meremasnya dengan kencang... Lalu kau goyangkan."
Aku menyentak lengannya, menariknya maju dari bahu. "Gack!" dia mendengkur karena
terkejut, kehilangan keseimbangannya. Si Ayam Jago Tolol terpental, mendarat
keras dengan tangan dan lututnya.
"…Sialan,
itu sakit. Kau mau mati, ya?!"
"Maaf, kau
jauh lebih lemah dari yang kukira. Terdengar seolah kau baru saja menghina
pacar tercintaku tadi, jadi aku akhirnya menggunakan terlalu banyak tenaga,
begitulah."
Bodoh. Jangan
remehkan kekuatan cengkeraman seseorang yang menghabiskan setiap hari sejak
sekolah dasar mengayunkan tongkat bisbol.
Saat itulah Yankii
B dan Yankii C mulai melangkah maju.
Sejauh ini
semuanya berjalan sesuai rencana.
Aku tidak tahu di
mana mereka mendengar rumor yang sama sekali tidak berdasar itu, tapi jika
mereka hanya menargetkan Yuzuki sebagai cara untuk menghabiskan waktu dan sudah
bertindak terlalu jauh, maka mendorongku sedikit saja seharusnya sudah cukup
untuk memuaskan mereka. Jika kemarahan bos mereka teralihkan padaku, maka
mereka akan bebas dari masalah.
Jika aku
menghalangi mereka, mereka mungkin menjadi sangat terpaku padaku, yang mana itu
tidak baik, tapi kebijakan terbaik adalah menghadapi mereka dengan cara yang
jelas dan lugas. Satu-satunya hal yang membuatku khawatir adalah anggota Tim
Chitose, atau tim basket putri, atau bahkan siswa SMA Fuji lainnya mungkin akan
terseret ke dalam hal ini. Itu akan memperumit masalah.
Jika aku memulai
perkelahian sekarang, maka para yankii itu akan fokus padaku, daripada
mengejar yang lain. Aku kan pacar Yuzuki, jadi mereka punya dua pilihan.
Berkelahi dengan Saku Chitose yang terang-terangan menantang mereka, atau
mengabaikanku dan mendekati Yuzuki secara langsung. Jalur yang mereka ambil
akan menjadi salah satu dari dua opsi itu; aku yakin akan hal itu.
Sekarang, mari
kita lihat apa yang diputuskan orang-orang ini.
Tepat saat Yankii
B (atau itu Yankii C?) mencengkeram kerah bajuku, aku mendengar
suara yang kukenal.
"Hei! Apa
yang kalian lakukan?!"
Aku menoleh dan
melihat Kaito dan Kazuki berlari ke arah sini.
…Coret itu.
Kazuki sebenarnya berjalan santai. Dasar ular.
Ukuran dan tubuh
besar Kaito sepertinya memberikan efek pada para yankii itu, dan
sekarang peluangnya seimbang, tiga lawan tiga. Tangan yang mencengkeram kerah
bajuku tiba-tiba terlepas, membebaskanku.
Si Ayam Jago
Tolol sudah bangkit berdiri saat ini dan menembakkan tatapan berbisa pada
kami. Tapi kemudian dia tampak menghela napas, seolah semua semangatnya telah
hilang.
"Ah, ini
buang-buang waktu saja. Kami selesai di sini. Tapi aku akan menceritakan
semuanya tentangmu pada bosku."
Oh, syukurlah.
Jika dia mengatakan sesuatu yang klise seperti "Awas saja kau!" aku
tidak akan bisa menahan diri untuk tertawa terbahak-bahak.
Si Ayam Jago
Tolol dan teman-temannya baru saja berbalik untuk pergi ketika aku
berbicara ke punggung mereka.
"Aku tidak
tahu apa yang kalian dengar, tapi Yuzuki Nanase bukan gadis seperti itu. Dia
dan aku benar-benar berpacaran, jadi aku lebih suka jika kalian menjauh
darinya."
Aku cukup yakin
mereka mendengarku, tapi ketiga yankii itu tidak mengatakan apa-apa dan
terus berjalan pergi.
Setelah mereka
menghilang dari pandangan, Kaito berbicara. "Apa-apaan itu, Saku? Itu sama
sekali bukan gayamu."
"Bodoh. Itu
semua berjalan sesuai rencanaku. Lagipula, kau keluar ke sini hanya karena
mencium kesempatan untuk memukul orang, kan?"
"Yah,
jelaslah. Kenapa aku tidak ikut campur, kalau sobatku terlihat seperti akan
dihajar?"
"Aku
tidak akan dihajar! Dan kau, Kazuki! Kau seharusnya menjadi pengendali impuls Kaito."
Kazuki akhirnya
sampai dan menyeringai.
"Salahku.
Saat orang ini melihatmu dicekik, dia langsung melompat untuk menyelamatkan.
Aku tidak punya kesempatan untuk menghentikannya. Sebenarnya, Kenta sedang
bimbang apakah harus ikut dengan kami, tapi aku menyuruhnya duduk diam dan
biarkan kami yang menanganinya."
"Ah, aku
senang mendengarnya. Tapi serius, kalian tidak perlu repot-repot."
Aku membayangkan
Kenta berkeringat memikirkan apakah akan melompat membantuku, dan aku merasakan
sebagian ketegangan hilang dariku.
Kaito
melanjutkan, dahinya berkerut seolah dia masih tidak mengerti.
"Saku,
orang-orang itu dari SMA Yan, kan? Apa mereka pelakunya? Maksudku, penguntit
yang dibicarakan Yuzuki?"
"Hmm, mereka
kandidat yang paling mungkin saat ini, kurasa."
Kazuki berbicara
selanjutnya. "Aku kenal seorang pria dari SMP-ku yang lanjut ke SMA Yan.
Akal sehat tidak berlaku bagi mereka, jadi kau benar-benar harus waspada.
Mereka melakukan hal-hal gila demi kesenangan, seperti menjatuhkan meja dari
lantai dua gedung sekolah dan memaksa semua adik kelas mencukur habis rambut
mereka dengan pencukur rambut. Mereka tidak terkendali."
"Ngeri.
Sekarang karena aku tidak perlu menjaga rambutku tetap pendek untuk klub
bisbol, aku tidak ingin ada mesin pencukur rambut di dekat kepalaku."
Kaito
menyeringai. "Abaikan itu. Bahkan dalam situasi seperti tadi, kau tetap
Saku Chitose, kan? Tidak bisakah kau bereaksi seperti manusia normal dan
menunjukkan sedikit rasa takut? Kau baru saja dikelilingi oleh tiga yankii
SMA Yan, tahu?"
"Kau
bercanda? Aku sangat takut sampai hampir kencing di celana."
Itu benar,
sebenarnya. Dan itu adalah reaksi normal dalam situasi seperti itu.
Aku memiliki
kepercayaan diri yang besar pada kemampuan atletikku, tapi aku selalu mencoba
menghadapi perselisihan dengan kepala dingin. Begitu kekerasan muncul di udara,
wajar saja bagi manusia untuk merasa terpancing. Sejujurnya, jika Kaito dan
Kazuki tidak muncul saat itu, jika ketiga yankii itu menyerangku
sekaligus... aku akan kalah, tidak diragukan lagi.
"Tapi aku
harus mempertimbangkan reputasi kejantananku. Bagaimana jika Yuzuki melihatku
gemetar seperti daun di sini? Aku harus membuat pilihan. Dan sepertinya hanya
ada satu jawaban yang benar."
""Dasar
tukang gaya.""
"Sudahlah."
Kaito
merangkulkan lengannya ke bahuku. Dia bersikap kasar, persis seperti si Ayam Jago Tolol. Tapi
dengan Kaito, tidak ada niat buruk.
"Pokoknya,
panggil kami kapan pun kau butuh. Aku juga takut, sejujurnya, tapi aku tidak
bisa diam saja. Aku lebih baik ikut berantakan daripada tidak melakukan
apa-apa."
Kazuki
memberiku pukulan ringan dan main-main di perut.
"Seperti
yang dia katakan. Jika kami mendapat kode SOS, kami akan berlari datang."
"Aku
tidak lupa caramu berjalan santai ke sini tadi, tahu."
Kami
semua saling bertukar seringai lebar.
◆◇◆
Tidak ada
lagi yang berminat untuk belajar hari itu, jadi kami memutuskan untuk
menyudahinya dan pulang.
Untuk
berjaga-jaga, kami memutuskan bahwa Yuzuki, Kazuki, Kaito, dan aku akan pergi
lebih dulu, dan yang lainnya akan menunggu sebentar sebelum pulang secara
terpisah.
Anak-anak SMA Yan
mungkin masih mengintai di sekitar sini. Tidak diragukan lagi mereka bisa
mencari tahu hal ini dengan sedikit penggalian, tapi kami harus melakukan apa
pun yang kami bisa untuk sementara waktu agar mereka tidak menyadari bahwa
Yuuko dan yang lainnya adalah bagian dari kelompok kami.
Setelah berjalan
beberapa saat dan memastikan si Ayam Jago Tolol dan teman-temannya tidak
ada di sekitar, Kazuki dan Kaito berpisah dari kami dan menuju jalan
masing-masing.
Awalnya aku ingin
menahan diri untuk tidak memberi tahu Yuzuki apa yang sebenarnya terjadi, tapi
dia sepertinya sudah tahu. Menyembunyikan detail darinya mungkin bukan rencana
yang bagus, terutama saat aku membutuhkannya untuk waspada lebih dari sebelumnya.
Kami membeli
minuman dari mesin penjual otomatis dan kembali ke jalur pinggir sungai,
sementara aku menjelaskan detailnya padanya.
"Jadi
begitulah yang terjadi. Itu mungkin akhir dari masalah ini, tapi untuk
sementara, kau harus tetap dekat denganku. Kau bisa menggunakan Kaito dan
Kazuki sebagai pengawal juga, tapi mereka ada latihan klub."
Langit
yang berangsur gelap terpantul di permukaan air yang bergelombang lembut.
Aku
melepas blazerku dan menggulung lengan kemejaku, melemparkan kerikil ke sungai
dengan lemparan menyamping. Aku berhasil membuat salah satunya memantul dua
kali, tapi kemudian ia tenggelam dengan suara plop kecil yang
menyedihkan.
Seekor
ikan muncul di permukaan di suatu tempat dengan suara plop lain, seolah
terkejut oleh kerikil itu.
"Aku dulu jago melempar batu loncat. Aku pernah membuatnya memantul lima kali, saat aku
masih SD."
Aku duduk di
tanah di samping Yuzuki, yang mencengkeram lengan bajuku.
"…Maaf. Aku
minta maaf, Saku." Suaranya
bergetar.
Aku
berpura-pura tidak menyadarinya, melanjutkan dengan nada santai.
"Ayolah. Apa
kau masih memikirkan apa yang dikatakan Yua kemarin? Selalu menjadi impianku
untuk bilang, 'Jangan sentuh gadisku,' tahu? Itu jenis situasi yang diimpikan
setiap anak laki-laki."
Yuzuki
menggelengkan kepalanya, seolah dia bahkan tidak mendengarkan.
Tangan yang
mencengkeram lengan bajuku perlahan turun ke tanganku, yang kemudian dia
genggam erat.
"Aku minta
maaf. Aku sangat menyesal telah membuatmu harus melakukan itu, Saku."
Ini sangat tidak
mirip dengan Yuzuki yang biasanya.
Bukan
berarti aku tidak bisa menebak mengapa dia bertingkah seperti ini. Karena ingin menghentikan gemetarnya
sebisa mungkin, aku balas meremas tangan rampingnya.
"Aku
melakukannya karena aku mau."
Seolah
berpegangan pada harapan tertentu, atau seolah-olah dalam doa, Yuzuki
membungkus tanganku dengan kedua tangannya dan menempelkannya ke dahinya.
"Tapi, Saku.
Kau hampir saja dipukul."
"Oh, ayolah.
Mana mungkin aku membiarkan diriku dipukul oleh sepasang yankii bodoh.
Sudah cukup; diamlah sebentar. Kembalilah saat kau sudah siap menjadi Yuzuki
Nanase lagi."
Aku menyampirkan
blazerku di atas tangan kananku dan wajah Yuzuki pada saat yang sama.
Aku tidak bisa
membiarkannya kehilangan "ke-Yuzuki-annya" hanya karena hal seperti
ini.
Tidak peduli apa
skenarionya. Dia tidak boleh kehilangan dirinya sendiri karena masalah konyol
dari niat jahat orang lain.
Itulah sebabnya,
saat ini, aku telah menjadi sesuatu yang mirip dengan patung Buddha Jizo kecil
yang mungkin kau temui di jalan setapak gunung yang sunyi.
Kau tidak yakin
apakah patung itu benar-benar memiliki berkat suci untuk diberikan padamu, tapi
kau tetap harus berdoa padanya dan melepaskan bebanmu di hadapannya.
Lagipula, setelah
kau selesai berdoa, kau harus melanjutkan perjalanan di jalan gunung itu
menggunakan kedua kakimu sendiri.
Kami tetap
seperti itu selama sekitar sepuluh menit.
Lalu Yuzuki
menjulurkan kepalanya dari bawah blazerku, tersenyum seperti anak kecil yang
bangun pada pagi pertama liburan musim panas.
Dia
melepaskan tanganku dan meregangkan tubuh. "Aku ingin makan katsudon."
"…Apa?"
"Katsudon.
Dari Europe-Ken, tempat makan katsudon terbaik di Fukui!"
"Apa kau
berubah menjadi Haru saat berada di bawah sana tadi?"
"Oh, ayolah.
Penduduk Prefektur Fukui mana pun yang sejati pasti ingin makan katsudon
di saat seperti ini, kan?"
Yuzuki memberiku
senyuman manis yang tampak hanya sedikit dibuat-buat. Sepertinya dia akan
baik-baik saja, setidaknya untuk hari ini.
"Baiklah
kalau begitu. Aku juga lapar setelah semua kegembiraan tadi. Aku tidak
terbiasa. Aku akan makan bersamamu. Maksudmu tempat di dekat East Park itu,
kan? Kau yang traktir, tentu saja."
"Kau baru
saja berbagi kehangatan dari seorang gadis muda yang cantik. Bukankah itu
kompensasi yang cukup bagimu?"
"Sebaliknya,
sebenarnya, katsudon mungkin bukan kompensasi yang cukup... Kau mungkin
harus menambahkan topping udang goreng juga dan mungkin rabaan dada
gratis..."
"Kau
babi!" Yuzuki bangkit berdiri. "Tapi tahu tidak, kau memang luar
biasa, Saku. Kau menghadapi orang-orang itu, padahal mereka benar-benar
menakutkan."
"Memang
menakutkan, jadi kau harus mencoba mengingat ini, Yuzuki. Jika kau menendang
selangkangan pria tepat di tengah, kau hanya butuh sekitar empat puluh persen
dari kekuatan tendangan biasamu untuk melumpuhkannya sepenuhnya. Tapi itu
datang dengan risiko bawaan. Jangan sampai meleset."
"Benarkah?
Apa itu mempan padamu?"
"Tidak
apa-apa; kau tidak perlu mengetesnya. Hei, hentikan. Aku tidak sedang bercanda di
sini."
"Begitu ya, begitu ya..." Yuzuki membungkuk dan
mengambil blazerku, menepuk-nepuk debunya. "Aku akan mencoba mengingatnya.
Oke, waktunya hadiah untukmu!" Dia merentangkan blazer itu agar aku bisa
memasukkan lenganku.
"Setelah aku
mempertaruhkan leherku untukmu, hanya ini terima kasih yang kudapat..."
Aku memasukkan
lenganku ke dalam blazer sementara Yuzuki memegangnya, lalu dia meletakkan
tangannya di bahuku dan bersandar padaku. Aku merasakan kelembutannya di
punggungku.
Dan aku merasakan
napas panasnya di telingaku.
"Kau
benar-benar keren. Terima kasih."
Hanya itu yang
dia katakan sebelum dia menjauh.
…Hmm. Kurasa
semua kerja keras itu sepadan.
"Ayo
berangkat!"
Dia berjalan
mendahuluiku, punggungnya yang tegak dan bermartabat terlihat cantik.
Andai saja semua
orang bisa hidup seperti itu. Mungkin akan ada lebih sedikit anak-anak yang
kesepian di dunia ini.
Sulit bagi siapa
pun untuk hidup kuat di dunia ini. Jadi melihat Yuzuki mencoba yang terbaik
seperti ini—itu terasa indah bagiku.
◆◇◆
"Hahhh."
Itu adalah waktu
makan siang sehari setelah pertemuanku dengan anak-anak SMA Yan. Aku menghela
napas secara dramatis dan merosot di kursiku di kantin.
"A-apa yang
salah, King? Kenapa menghela napas panjang begitu?" Kenta duduk di
sampingku, menyeruput mie.
"Maksudku..." Aku menatap wajah Kenta.
"Hahhh..."
"Baiklah, aku mengerti. Kau sedang berpikir, Kenapa
aku harus makan siang berdua saja dengan orang ini, kan? Sialan, King."
Kenta telah menyesuaikan diri dengan baik ke dalam Tim
Chitose dan mengambil peran sebagai pengejek bagi para pria.
Aku
mengangguk dengan mata lesu, dan Kenta mengangkat bahu.
"Ya
sudahlah. Jika kau bersikeras menatapku seperti itu. Semua teman kita sedang
makan siang dengan teman klub sekolah mereka, karena mereka tidak bisa bertemu
sepulang sekolah selama masa ujian. Satu-satunya orang yang tidak punya urusan
lain adalah kau dan aku."
"Setidaknya
sebut kami serigala penyendiri; buat terdengar keren! Kau menggambarkan kami
sebagai pecundang menyedihkan yang tidak punya teman!"
"Yah,
kita memang menyedihkan dan tidak punya teman. Terima saja. Berhentilah
melawannya."
"Bisakah
kau berhenti terdengar begitu... tercerahkan secara spiritual? Itu agak keren. Aku tidak suka sama
sekali."
Segalanya terasa
tidak beres sejak kemarin.
Aku menghabiskan
semangkuk ramenku sampai ke kuahnya, lalu sebuah pikiran muncul di benakku.
"Kenta, apa
kau melihat apa yang terjadi kemarin?"
"Tentu saja.
Bahkan aman di balik jendela pun, aku pikir aku akan kena serangan jantung, aku
sangat takut. Kami punya orang-orang menakutkan seperti itu di SMP-ku.
Untungnya, aku pada dasarnya tidak terlihat, jadi mereka tidak pernah
menyadariku sama sekali."
"Apa
menurutmu orang-orang seperti itu akan menguntit seseorang?"
Aku sebenarnya
telah berbicara langsung dengan anak-anak SMA Yan kemarin, dan aku merasa ragu.
Tapi aku masih belum memberi tahu Kenta seluk-beluk apa yang kami bicarakan,
dan aku ingin mendapatkan pendapatnya yang tidak bias dari sudut pandang
seorang penonton.
"Hmm,
penguntit punya reputasi menggunakan kekerasan terhadap orang yang mereka
kuntit, tapi bagaimana jika fetis mereka lebih seperti sekadar... mencari tahu
hal-hal tentang dia atau semacam itu?"
Fetis?
Aku tidak menyangka akan mendengar kata itu. Aku tetap diam dan mengangguk,
memberinya isyarat untuk melanjutkan.
"Aku
hanya bilang itu sebuah kemungkinan. Seseorang dengan fetis penguntitan, mereka
menikmati pengintaian. Itu hanya membuatnya lebih menggairahkan bagi mereka.
Atau mungkin mereka mencari sensasi dengan mengamati target mereka, melihat
rasa takut merasuki dirinya saat dia menyadari bahwa dia sedang diikuti."
"Luar biasa
cara kerjamu berpikir, Kenta. Aku tidak akan pernah memikirkan sesuatu yang semengerikan dan sejijik
itu."
Kenta
mengeluarkan suara "heh" kecil dan mendorong pangkal kacamatanya.
"Aku
dengan tegas membantah bahwa aku adalah penikmat segala bentuk light novel,
anime, dan visual novel yang bisa dibayangkan."
"Aku
sangat berharap kau tidak mengekspos dirimu pada konten R-18 apa pun,
Kenta."
"Ehem!
Ehem!"
Tetap
saja, ini adalah cara berpikir yang menarik.
Orang-orang
sepertiku, kami fokus pada memprioritaskan hasil akhir.
Jika
tujuan akhir penguntit adalah memacari Yuzuki, atau setidaknya menjalin semacam
hubungan fisik dengannya, maka ada banyak cara lain yang lebih efektif untuk
melakukannya. Orang waras
akan menggunakan salah satu dari cara itu dulu, kan?
Ambil
contoh anak-anak dari SMA Yan. Aku tidak benar-benar ingin membayangkannya,
tapi jika mereka berniat mengancam dan merundung Yuzuki agar mau memacari salah
satu dari mereka sebagai upaya terakhir, maka tentu saja tidak perlu pendekatan
yang berbelit-belit ini.
Tapi jika
tindakan penguntitan itu sendiri adalah fetisnya, maka itu akan menjadi cerita
yang berbeda.
Kenta
menyesap air, menenangkan diri, dan melanjutkan.
"Mengumpulkan
info tentang orang yang dikuntit—itu hal mendasar. Dalam istilah sederhana, itu mungkin melibatkan
pencarian kelemahan untuk dieksploitasi. Cari sesuatu yang dia sembunyikan dari
semua orang dan gunakan itu untuk keuntunganmu. Itu pilihan yang kurang
bermasalah daripada menggunakan kekuatan fisik."
"Kenta… kau
mulai menakutiku, Bung. Selama ini, kau hanya berpura-pura menjadi temanku, ya?
Secara rahasia, kau sudah mencari bukti yang akan mengeksposku sebagai bajingan
tukang main perempuan yang menyebalkan?"
"Sepertinya
tidak ada yang butuh bukti tambahan untuk hal itu."
Terlepas dari
semua candaan, ini sebenarnya subjek yang cukup serius.
Mungkin aku
membiarkan kata "penguntit" menyesatkanku, baik tentang tujuan akhir
subjek yang tidak dikenal itu maupun langkah-langkah yang mereka ambil. Mungkin
kami semua yang mengawasi Yuzuki ke mana pun dia pergi tidak akan cukup untuk
menjaganya tetap aman, pada akhirnya.
Selagi aku
memikirkannya, sebuah nampan mendarat di meja di sisi kananku.
Itu adalah meja
yang dimaksudkan untuk delapan orang, dan hanya Kenta dan aku yang duduk di
sana, berdampingan. Jadi tidak akan aneh sama sekali jika siswa lain
menggunakan ruang kosong itu. Namun, ada enam kursi kosong lainnya yang bisa
dipilih orang itu—mengapa mereka harus menjatuhkan diri tepat di sampingku?
Aku baru saja
akan kembali ke jalur pemikiranku ketika pria di sampingku mulai berbicara.
"Kau
Chitose, kan?"
Rupanya, dia
menginginkan sesuatu dariku, itulah sebabnya dia duduk begitu dekat sejak awal.
Aku menoleh dan
melihat seorang pria muda yang tampak rapi dan bersih duduk di sana. Wajahnya
tidak jelek. Kemejanya tidak memiliki satu pun kerutan, dan dia mengenakan
seragam sekolahnya sesuai dengan semua aturan juga. Bahkan rambutnya halus dan
berkilau, dan dia memiliki senyum yang cerah dan menarik.
Jika aku harus
mengategorikannya, aku akan memasukkannya ke dalam kategori yang mirip dengan
Kazuki.
"Ah, maaf
karena mendekatimu tiba-tiba seperti ini."
"Tidak apa-apa, sungguh... Apa kita saling kenal?"
Dia terlihat seperti salah satu anak populer, dan kurasa aku
ingat pernah melihatnya di sekitar. Tapi aku juga cukup yakin kami belum pernah
benar-benar berbicara.
"Tidak. Aku tahu banyak tentangmu, Chitose, tapi
sayangnya kita belum pernah punya kesempatan untuk bicara sebelum sekarang. Ah,
boleh aku memanggilmu Saku?" Pria itu memberiku senyum hangat.
"Tentu,
kalau kau mau. Dan kau adalah...?"
"Aku Tomoya
Naruse, dari Kelas Tujuh. Panggil Tomoya saja tidak apa-apa, Saku."
Dia tampak
seperti tipe pria yang sangat disukai para gadis. Ah, tipe yang tidak tahan
kuhadapi.
"Tomoya.
Baiklah kalau begitu."
Kenta mengangguk
kecil sebagai sapaan dan bergumam, "’Sup?" dengan suara rendah. Kenta
memang sudah mulai terbiasa dengan teman-teman sekelasnya di Kelas Lima, tapi
sepertinya dia masih terlalu kaku untuk bersikap santai saat bertemu orang baru.
Tomoya menatap Kenta sejenak, lalu kembali menoleh padaku.
"Aku dengar
rumor soal itu. Kau berhasil menarik seorang otaku hikikomori keluar
dari kamarnya dan meyakinkannya untuk kembali ke sekolah, kan? Itu sangat
menginspirasi, Bung. Serius."
Kenta sepertinya
tidak keberatan dengan ucapan itu, jadi aku memutuskan untuk langsung ke
intinya saja.
"…Jadi, ada
perlu apa? Kuharap kau ke sini bukan untuk menembakku karena punya perasaan
padaku."
"Eh, begini,
soal itu. Bukannya aku ke sini untuk menyatakan perasaan, sih… Um, maaf, Kenta,
apa kau keberatan pindah meja sebentar?"
Ini jelas sesuatu
yang tidak ingin dia dengar oleh orang lain.
"T-tentu,"
kata Kenta, sambil beranjak dari kursinya dengan patuh.
"Tomoya—maaf,
tapi Kenta dan aku sedang makan siang bersama. Dia orang yang sangat menjaga
rahasia, jadi kujamin dia tidak akan membocorkan apa pun yang kau katakan.
Kalau kau tetap tidak mau dia mendengar, lebih baik cari waktu lain untuk
bicara. Oke?"
Tomoya tampak
sedikit terkejut sejenak namun segera mengangguk. "Oh, tentu saja,"
katanya. "Iya, aku tadi agak tidak sopan. Maaf sekali, Kenta."
"Ti... tidak
apa-apa! Aku bisa kembali ke kelas sendirian."
"Duduklah
kembali," perintahku pada Kenta.
"…Jadi, apa
yang kau inginkan?"
Wajah Tomoya
tiba-tiba menjadi sangat serius, dan nada suaranya merendah.
"Baiklah,
jadi… aku tahu ini tidak sopan mendekatimu dan menanyakan hal ini, tapi… apakah
kau dan Yuzuki Nanase benar-benar berpacaran?"
Ah, sudah
kuduga, pikirku.
Tentu saja,
pria-pria seperti ini akan mulai muncul dari persembunyiannya.
Pria dengan
tampang dan tingkat popularitas seperti Tomoya adalah tipe yang secara alami
akan tertarik pada gadis seperti Yuzuki. Dia tahu aku sudah melangkah lebih
dulu darinya, tapi dia ingin mendengarnya langsung dariku, hanya untuk
memastikan apakah dia masih punya peluang.
Aku merasa
sedikit bersalah soal ini, tapi aku harus menempatkan kontrak antara aku dan
Yuzuki di atas apa pun.
"Yap, kami
benar-benar pacaran. Lagipula aku berpikir sudah waktunya untuk meninggalkan
hari-hariku sebagai bajingan tukang main perempuan."
Bahu Tomoya
merosot, tampak sangat kecewa, namun dia terus berbicara.
"Aku sadar
ini tidak sopan untuk menanyakan ini, dan aku tidak peduli jika kau memukulku
karena aku salah paham, tapi ini semua bukan sekadar sandiwara besar,
kan?"
"Apa, kau
pikir Yuzuki dan aku tidak cocok?"
Pemuda itu
menggelengkan kepala dengan kuat. "Bukan itu. Justru kalian sangat cocok.
Terlalu cocok. Tapi dari apa yang kutahu tentang Nanase, dia itu, bagaimana ya
mengatakannya… bukan tipe orang yang mau mencari pacar semudah itu…"
Hmm, yah,
pengamatannya tidak salah.
"Biar
kupastikan kita sepemikiran di sini… Jadi kau punya perasaan pada Yuzuki,
kan?"
"…Sejak hari
upacara penerimaan siswa baru." Tomoya terdiam, menunduk menatap meja,
sebelum mengatupkan bibirnya rapat-rapat dan menatap mataku langsung.
"Aku jatuh
cinta pada pandangan pertama saat melihatnya. Dan aku sangat tergila-gila
padanya sejak saat itu. Kupikir dia juga sempat memperhatikanku, setidaknya
sedikit. Dan perasaanku… ini sungguhan. Jadi aku pikir jika masih ada peluang
sekecil apa pun, aku ingin tahu… Maaf; aku tahu ini terdengar sangat
menjijikkan."
Aku melirik
Kenta, yang menatapku balik dengan ekspresi yang seolah berkata, "Nah,
kan!"
Hmm, apa yang
harus kulakukan?
Aku sudah
membuat kontrak dengan Yuzuki. Aku tahu aku harus menghormati ketentuannya. Dan mengatakan yang sebenarnya
pada Tomoya juga tidak akan memberikan peluang lebih besar baginya untuk
memacari Yuzuki. Meski begitu, berhadapan dengan pemuda yang sedang kasmaran
ini, aku merasa tidak tega membuang perasaannya yang berharga ke tempat sampah
demi alasan pragmatis semata.
Aku ragu-ragu
selama beberapa saat, tapi akhirnya sisi diriku yang baik hati dan naif menang.
"Tomoya, apa
kau tipe orang yang bisa menjaga rahasia? Apa kau siap menerima informasi
dengan niat baik, berjanji untuk tidak membocorkannya atau menggunakannya untuk
tujuan jahat? Biar kuperingatkan, aku tidak main-main soal ini. Aku tipe orang
yang akan membalas dua kali lipat atas apa yang kuterima, kau tahu."
Tomoya menjawab
dengan napas tertahan. "Aku tidak akan pernah membocorkan rahasia. Aku
tahu ini terdengar kosong setelah aku baru saja menumpahkan perasaanku tentang
Yuzuki padamu, Saku, tapi ini benar-benar tulus. Aku tidak akan mengkhianati
perasaan itu."
Aku menghela
napas. "Baiklah. Kalau begitu kau harus bersumpah untuk tutup mulut.
Masalahnya adalah, ada sesuatu yang sedang terjadi, dan untuk menanganinya,
Yuzuki dan aku berpura-pura pacaran untuk sementara waktu. Tapi jangan minta
aku menjelaskan situasinya. Aku tidak bisa mengungkapkannya sampai perkembangan
tertentu terjadi. Apa itu cukup bagimu?"
Wajah Tomoya
tiba-tiba cerah. "Tentu saja! Jadi begitu… Ternyata cuma itu…"
Dia mengepalkan tinjunya diam-diam di bawah meja beberapa kali. "Sebenarnya, aku ingin meminta satu hal lagi
padamu, kalau tidak keberatan."
"Kau punya
wajah yang sangat jujur untuk seseorang yang begitu hati-hati dan penuh
perhitungan. Kau ini apa, saudara Kenta yang lama hilang atau bagaimana?"
Aku memberikan
tatapan "Hmm?" pada Kenta, yang memalingkan wajahnya dan mulai
bersiul dengan nada sumbang.
Tomoya terkekeh.
"Aku tidak bisa bilang kalau aku senang dikelompokkan bersama Kenta.
Ngomong-ngomong, Saku. Jika kau akan berpura-pura pacaran dengan Nanase mulai
sekarang, bolehkah aku mengajukan satu permintaan?"
"Kau punya
nyali juga ya, si Muka Dua! Asal kau tahu saja, jika bicara soal aku ada di
pihak siapa, Yuzuki Nanase akan selalu jauh lebih penting darimu. Aku bahkan
belum pernah bicara denganmu sebelum hari ini. Kau pikir aku akan memberimu
informasi, seperti apa tipe pria idamannya? Jangan harap. Itu namanya bermain
curang."
Yah, lagipula aku
juga tidak tahu hal-hal seperti itu.
"Sudah
kuduga kau akan bilang begitu, Saku. Kalau begitu, setidaknya bisakah kau
memberitahuku apa yang kau dan Nanase bicarakan setiap hari—hal-hal umum saja
seperti itu? Dengan begitu aku bisa memikirkan sendiri informasinya. Tidak ada
salahnya kan mengobrol soal itu antar teman?"
Hmm, baiklah. Itu
mungkin bisa diterima.
Aku bisa saja
menolak menceritakan apa pun yang tidak ingin kuberitahukan padanya.
Hei,
tunggu sebentar. Orang ini benar-benar memanipulasiku, kan? Ah, sudahlah.
"Satu hal
lagi," kata Tomoya.
"Kau belum
selesai juga? Kau
seperti saluran belanja TV yang terus memberikan aksesoris tambahan 'secara
gratis!'"
"Oh,
jangan begitu. Kau kan sangat populer di kalangan gadis, kan, Saku? Jadi kupikir, selain soal Nanase, mungkin
kau bisa memberiku beberapa tips dan saran. Semacam menjadi 'guru
asmaraku'."
Tunggu dulu! Aku
tidak mendaftar untuk menjadi "guru bijak" untuk kedua kalinya.
Aku memberikan
lirikan tajam pada Kenta, tapi dia tetap bersiul sumbang dan bahkan mulai
mengelap termos tempat sup ayamnya dengan saputangan. Sedang apa kau
sebenarnya, Bung?
Aku menatap
Tomoya yang menatapku dengan mata berbinar-binar. Dengan enggan, aku mengangguk.
"Dengar
ya. Ya, aku populer di kalangan gadis. Aku menikmati perhatian wanita lebih
banyak daripada yang bisa diharapkan Kenta dalam seratus kali masa hidupnya.
Namun, aku tidak tahu teknik asmara apa pun. Aku hanya menjalani hidupku, dan
para gadis menyukaiku karena itu."
"Kalau
begitu, ajari aku cara menjalani hidup. Dengan begitu, para gadis akan menyukaiku
juga. Itu rahasiamu untuk menarik perhatian semua gadis, kan?"
Tomoya
terus memancarkan senyum lebar yang polos.
"Ini
hanya teori, tapi kau tidak sedang menggunakan skenario 'guru asmara' ini
sebagai cara untuk menyingkirkan rival terberatmu, kan? Kau tidak berharap ini
akan mencegahku mengejar Yuzuki secara sungguhan… kan?"
"Apa?
Tidak, tidak."
"Jangan
naif, bodoh. Tidak ada yang
tahu bagaimana dan mengapa orang jatuh cinta satu sama lain. Aku tidak peduli
meskipun aku memberimu saran soal gadis; aku akan tetap berpacaran dengan
Yuzuki selama itu, dan jika kami saling jatuh cinta, maka kami akan pacaran
sungguhan. Seperti yang kukatakan, Yuzuki lebih berarti bagiku daripada pria
yang bahkan belum pernah kutemui sebelum hari ini."
"Sayang
sekali. Tapi baiklah, kalau begitu. Pesan diterima, sangat jelas."
Aku sebenarnya
sedang mengalami krisis hati nurani di sini, jadi melihat Tomoya mengabaikannya
begitu saja… benar-benar membuatku kesal, dengan alasan yang berbeda dari rasa
kesalku pada Kenta yang membiarkanku menderita sendirian.
"…Baiklah,
baiklah, kurasa kau menang. Tapi dengar, sekarang adalah waktu yang sibuk. Aku hanya bisa memberimu
saran yang paling dasar dari yang paling dasar, oke?"
Tomoya
menyeringai dan mengulurkan tangannya ke arahku.
Aku
menyambarnya dan menjabatnya dengan erat.
◆◇◆
Setelah
kami bertukar ID LINE, Tomoya pergi, dan Kenta serta aku mengembalikan nampan
sebelum memutuskan untuk kembali ke kelas. Masih ada sekitar setengah jam sisa
waktu makan siang, tapi karena kami sudah selesai makan, tidak ada alasan bagi
kami untuk tetap nongkrong di kantin.
Saat kami
berjalan melewati lorong yang menghubungkan gedung sekolah, Kenta akhirnya
angkat bicara.
"Apa
itu bijak, King? Kau kan punya kontrak dengan Nanase, lagipula banyak
hal lain yang harus kau urus saat ini, selain itu…"
"Khawatir
padaku? Itu namanya perkembangan karakter, Kenta," kataku bercanda, dan
Kenta menatapku tajam.
"Juga…
dibandingkan dengan situasiku dulu, kau benar-benar bersikap jujur padanya, ya?
Ke mana perginya gaya andalanmu yang menimbang untung-rugi, memberikan
penolakan tegas, menunggu orang itu tercengang, lalu akhirnya memberitahunya
bahwa kau memang berencana membantunya sejak awal?"
"Jangan
bilang kau sebenarnya cemburu pada orang asing itu? Aku harus menggunakan semua
trik itu padamu karena kau awalnya sangat keras kepala untuk menerima bantuan
apa pun. Lagipula, aku punya motif tersembunyi."
Memang
benar, aku baru saja menambah beban berat pada tanggung jawab yang sudah harus
kuhadapi, tapi yang satu ini juga berkaitan dengan Yuzuki. Jadi bukannya aku
memulai misi sampingan yang sama sekali berbeda atau semacamnya.
Selain
itu, aku tidak tahu seberapa besar ekspektasi Tomoya padaku, tapi ini tidak
seperti mengajari Kenta cara menjadi anak populer.
Tidak ada
"teknik" dalam urusan mendapatkan seorang gadis. Jika motifnya adalah
"Tidak harus gadis tertentu, buat saja supaya banyak gadis menganggapku
keren!"… dengan kata lain, jika tujuannya adalah tebar pesona dan
menaikkan profilnya, maka tentu saja, aku bisa memberinya beberapa petunjuk.
Tapi bocah itu sudah cukup tampan dan punya
kepribadian yang lumayan oke. Dia pasti sudah aman dalam urusan itu.
Tapi yang dia
inginkan adalah Yuzuki Nanase.
Bagaimana aku
bisa memberinya petunjuk untuk menaklukkan gadis yang bahkan pria sepertiku
belum berhasil kutaklukkan sendiri? Yah, mungkin Tomoya sudah menyadari hal
itu.
Tujuan utamanya
sepertinya adalah untuk mendekatiku, pria yang paling dekat dengan Yuzuki.
Kemudian dia akan perlahan-lahan masuk ke dalam lingkaran pertemanannya.
Tetap saja, apa
katanya? Teman dari temanku adalah temanku juga. Lagipula, itu adalah tugas
yang masih dalam jangkauan kemampuanku. Setidaknya aku bisa mengajarinya apa
yang tidak boleh dilakukan jika ingin mendapatkan hati Yuzuki.
Aku melirik ke
samping, melihat Kenta sedang asyik mengetik di aplikasi LINE pada ponselnya.
Rupanya, dia tidak berniat melanjutkan percakapan ini lebih jauh. Dia mungkin
sedang berkirim pesan dengan anggota Tim Chitose lainnya.
Dulu, Kenta
menghabiskan seluruh waktunya di situs seperti 5chan dan situs gosip bawah
tanah sekolah, jadi ini menunjukkan perkembangan yang nyata. Aku menyeringai
sendiri, berpikir betapa lucunya kenyataan bahwa berjalan melewati sekolah
dengan pria ini di sisiku ternyata tidak terasa lucu lagi.
"Ah, King?
Keberatan menemaniku ke suatu tempat sebentar sebelum kita kembali ke
kelas?"
"Boleh saja,
tapi ada apa?"
"Ah, aku
cuma lupa sesuatu di ruang spesimen biologi."
"Tentu, tapi
apa ada pelajaran di ruang spesimen hari ini?"
"Ikut saja;
jangan banyak tanya." Untuk alasan tertentu, Kenta mulai mendorong
punggungku. "Sini, King, biar kubukakan pintunya untukmu."
"Apa? Kenapa
kau jadi begitu… pelayan?"
Kenta
mendorong pintu ruang spesimen biologi dan mendorongku ke dalam.
Aku
terhuyung beberapa langkah ke dalam ruangan, lalu pintu dibanting di
belakangku.
"Apa-apaan,
Kenta? Apa yang kau mainkan?!"
Aku mengangkat
kepala, merengut, dan saat itulah aku melihat…
Dua iblis berdiri
di sana menungguku.
Salah satunya
adalah Yuuko, berdiri dengan tangan di pinggul dan memancarkan seringai lebar.
Satunya lagi adalah Yua, dengan ekspresi penuh kasih dan pengertian di
wajahnya. Untuk alasan tertentu, dia memegang penggaris segitiga raksasa yang
biasa digunakan untuk matematika di papan tulis.
Aku segera tahu
bahwa aku telah dijebak, tapi saat aku berbalik, aku melihat Kenta sedang
mengawasi melalui jendela kaca pintu. Dia menangkupkan kedua telapak tangannya
seolah sedang berdoa—atau seolah sedang mencoba menyampaikan belasungkawa.
"Bajingan
kau! Kau melemparku ke kandang singa!!!" Kenta berbalik dan lari secepat
kakinya bisa membawanya.
Dengan
gugup, ragu-ragu, dan meringis, aku berbalik kembali.
"Saaaku."
"Sa-ku."
Kedua iblis itu
menyeringai padaku.
""Duduklah
sebentar!""
Sialan. Aku
tamat. Hidupku benar-benar sebuah kuburan penyesalan.
◆◇◆
"Jadi, Saku,
tidakkah kau pikir ada sesuatu yang perlu kau jelaskan?" Yuuko mendekatiku
sambil menyeringai.
Di saat yang
sama, Yua berjalan ke belakangku dan mengunci pintu.
"A-apa
maksudnya ini, hmm?"
Mataku melirik ke
sana kemari mencari jalan keluar saat aku duduk di kursi terdekat.
"Hup!"
"Aduh?!!!"
Aku merasa ada
sesuatu yang baru saja menusuk punggungku. Aku menoleh dan melihat Yua di sana,
memegang penggaris segitiga itu seperti senjata.
"Siapa yang
bilang kau diizinkan duduk di kursi itu, hmm?"
"…Eh?"
"Sitcha ass’n seiza!!!"
(Terjemahan:
Duduklah dalam posisi Seiza!!!)
"Siap,
Nyonya!"
Aku segera turun
ke lantai dan duduk dengan kaki terlipat di bawah dalam posisi Seiza.
Yua menjulang di atasku, menepuk-nepukkan penggaris segitiga itu ke telapak
tangannya secara berirama sambil berdehem.
"Apa yang
kukatakan padamu, Saku? Kau yakin tidak tahu ini soal apa?"
"Anu... kau
bilang sesuatu tentang aku yang tidak peduli jika aku jadi incaran, dan itu,
yah, buruk."
"Mm-hmm,
lalu?"
"Dan... aku
benar-benar minta maaf soal kemarin."
Aku menundukkan
kepala hampir menyentuh lantai. Aku sungguh-sungguh mengatakannya.
Yuuko berjongkok
di depanku. "Saku, apa kau pernah terpikir bagaimana perasaan kami saat
melihatmu kemarin? Kami semua yakin kau akan dipukul oleh anak-anak SMA Yan
itu. Kami benar-benar, sangat khawatir."
"Ah, soal
itu. Aku minta maaf, sungguh."
Yuuko dan Yua
sepenuhnya benar.
Berdasarkan
bagaimana peristiwa itu terungkap, aku membuat pilihan yang tepat sejauh yang
kulihat, dan aku tetap memegang teguh itu. Namun, aku tidak memasukkan
faktor-faktor tertentu dalam kalkulasiku. Kesejahteraanku sendiri adalah salah
satu hal yang kuabaikan. Yang lainnya adalah teman-temanku dan emosi mereka.
Suara Yuuko
sedikit melembut, dan rambut sutranya tergerai di bahunya.
"Dengar,
Saku. Bahkan orang bodoh sepertiku pun bisa mengerti bahwa ada beberapa hal
yang tidak bisa ditangani dengan orang-orang seperti itu hanya dengan bicara
baik-baik. Dan aku tahu terkadang membalas kekuatan dengan kekuatan adalah cara
terbaik untuk mencapai kesimpulan."
Yuuko terdiam
sejenak, lalu menarik napas panjang dan berteriak "NAMUN!!!" sebelum
melanjutkan, suaranya menjadi lebih keras dan mengancam.
"Jika
menyangkut situasi seperti itu, kau sebaiknya melakukannya untuk alasan yang
besar! Seperti, 'Aku harus melindungi seseorang' atau 'Aku harus kembali
hidup-hidup, apa pun risikonya.' Kau tidak boleh bersikap gegabah, hanya
menerjang masuk dan bertindak semaumu!"
Aku tidak
akan menang dalam perdebatan ini; itu jelas.
Tapi
terbukti, berdasarkan tindakan yang kuambil, aku melakukannya untuk melindungi
Yuzuki, bukan? Namun, sepertinya bukan itu yang dibicarakan Yuuko. Entah aku
melakukannya karena aku tersulut emosi ingin melindungi Yuzuki, atau aku
melakukannya karena itu tampak sebagai solusi paling optimal. Keduanya tampak
terhubung, namun ada jurang perbedaan besar di antara keduanya.
Mata
Yuuko sebening danau murni yang belum terjamah di pegunungan. Dengan mata itu,
dia seolah melihat menembus diriku, hingga ke bagian terdalamku yang paling
lemah dan kecil.
Yua duduk
di samping Yuuko.
"Kami
harus melakukan intervensi ini secara pribadi, karena kami tidak ingin Yuzuki
merasa bersalah jika kami membicarakan ini di depannya. Tapi izinkan aku mengulangi kata-kataku, oke? Kami
semua ingin membantu Yuzuki sama besarnya denganmu. Tapi sama sekali tidak ada
alasan bagimu untuk terluka karena hal ini."
Yua mengulurkan
tangan ke arah leherku. Dengan hati-hati, dia mengusap bekas merah yang
tertinggal di sana akibat cengkeraman kerah bajuku kemarin. "Tapi jika
ternyata itu satu-satunya pilihan, tolong bicarakan dengan kami dulu. Kami
benci melihat sesuatu yang mengerikan terjadi padamu saat kami tidak bisa
membantu. Jika kami bisa mempersiapkan diri, setidaknya, kami bisa menangani
rasa sakit itu dengan lebih baik."
"…Baiklah.
Aku janji."
Jawabanku membuat
Yua dan Yuuko tersenyum cerah dan cantik. Rupanya, mereka akan melepaskanku.
"Omong-omong,
Gadis-gadis, aku bisa melihat isi rok kalian dengan jelas sejak aku duduk tadi,
dan… Gack! Maaf, Yua! Tolong, jangan urat leherku!"
"Dasar kau
tidak tahu malu!" kata Yua memarahi, sebelum menyodorkan jari
kelingkingnya padaku. Di sampingnya, Yuuko melakukan hal yang sama dan
menautkan jarinya dengan jari Yua.
"Saku, buat
janji kelingking. Jika kau membohongi kami lagi, kami akan menjadi musuh
bebuyutanmu."
Secara perlahan
namun sengaja, aku melingkarkan jari kelingkingku pada jari mereka berdua.
◆◇◆
Sepulang sekolah,
Yuzuki ada pertemuan singkat soal pertandingan akhir pekan, sepertinya, jadi
selagi aku menunggunya, aku memutuskan untuk membunuh waktu. Dengan sebuah buku
saku di saku belakang, aku menuju ke atap.
Aku memutar kenop
pintu dan terkejut mendapati pintunya sudah tidak terkunci.
Aku mengira itu
Kura, tapi jika itu guru lain, akan sangat merepotkan untuk mengarang alasan.
Tanpa suara, aku membuka pintu sedikit agar bisa mengintip ke dalam.
"Mm-mm-mm,
mmm-mmm."
Dari celah cahaya
yang memanjang hanya beberapa inci, aku bisa mendengar sebuah suara, seseorang
bernyanyi dengan nada serak dan fana yang membuatku membayangkan gema dari
dunia yang telah berubah menjadi puing dan reruntuhan.
Aku belum pernah
mendengarnya bernyanyi sebelumnya.
Jika aku membuka
pintu lebih lebar lagi, aku akan mengganggunya. Jadi aku tetap diam selama
beberapa saat, memasang telinga pada melodi itu. Itu adalah lagu lama,
"Guild," karya Bump of Chicken. Aku memutarnya berulang-ulang tahun
lalu, berkali-kali sampai aku merasa bosan sendiri.
Begitu dia
selesai dengan baitnya, aku perlahan mendorong pintu hingga terbuka sepenuhnya.
Suara pintu yang
berderit membuatnya berhenti bernyanyi sama sekali, persis seperti yang
kuprediksi.
"Bagus
sekali. Bagaimana kalau satu lagu lagi?"
Si kakak kelas
Asuka Nishino sedang berdiri di atas struktur tangki air atap, tampak terkejut
tidak seperti biasanya saat melihatku. Dia butuh sedetik untuk menenangkan
ekspresinya, tapi dia tetap tidak bisa menyembunyikan rona merah di pipinya.
Dia menunduk, lalu akhirnya menatapku dengan tajam.
"Area atap
dilarang bagi semua siswa yang tidak memiliki izin."
Suaranya
terdengar ketus.
Berhasil
memergoki Asuka yang sedang lengah adalah kesenangan yang langka. Aku tidak
bisa menahan seringai.
Aku mengeluarkan
kunci atap dari sakuku dan mengangkatnya di depan wajahku.
"Kau tidak
tahu? Aku adalah cadangan Petugas Kebersihan Atap."
"…Sialan si
Kura itu. Dia pasti sengaja merahasiakan ini dariku…"
Aku menaiki
tangga, sepatuku berdentum di setiap anak tangga.
Dengan cemberut,
Asuka duduk di pinggir dan memeluk lututnya ke dada.
Aku mengeluarkan
buku saku dari saku agar tidak tertekuk dan duduk di sampingnya.
"Rupanya,
Kura punya tradisi memberikan kunci ini kepada siswa terpintar sekaligus paling
nakal di kelasnya."
Aku terkekeh, dan
Asuka menoleh menatapku tiba-tiba, mulutnya ternganga.
"Tunggu
dulu! Ini pertama kalinya aku mendengarnya! Saat giliranku—"
Dia tiba-tiba
bungkam seolah khawatir dia bicara terlalu banyak. Aku mengangkat bahu dan
mengalihkan pembicaraan.
Begitulah lelaki
tua itu. Tidak diragukan lagi dia hanya mengatakan apa pun yang terlintas di
pikirannya saat itu juga.
"Suaramu
bagus, Asuka."
"Aku tahu
kau baru saja mencoba bersikap sopan, tapi kau terus saja membuatku kesal di
sini, tahu?"
Asuka mendengus,
membenamkan pipinya di celah kecil di antara lututnya yang cantik.
"Aku payah
dalam bernyanyi. Selalu begitu." Dia bicara seperti anak kecil yang
merajuk.
"Aku
tadi hanya berharap bisa mendengar lebih banyak. Aku suka lagu itu." Aku
mulai menggumamkan lagu tersebut dengan volume yang kurang lebih sama.
"Tuhan, kau
payah sekali," katanya.
"Kenapa
begitu?"
"Kau
sebenarnya tidak buruk dalam bernyanyi. Ugh, aku membencinya."
"Kau juga bagus, Asuka."
"Hmph." Dia memang sulit ditebak, persis seperti
hujan yang turun tiba-tiba.
"Lagu ini... sebenarnya, seluruh album ini... kau yang
meminjamkannya padaku, kan? Ingat?"
Akhirnya, dia menoleh dan benar-benar menatapku.
Angin sepoi-sepoi di atap mempermainkan rambut pendeknya
hingga berkibar. Dia menyipitkan mata, yang mengingatkanku pada seekor kucing
liar yang acuh tak acuh, dan bibir kecilnya membentuk kurva sabit yang manis.
Tahi lalat kecil di bawah mata kirinya... kurasa itu akan menjadi bintang
pertama yang muncul malam ini.
"Tentu saja
aku ingat, Sobat. Aku ingat betapa kau sangat menyukainya. Kau menyeringai
seperti kucing gelandangan."
Kami berdua
ternyata memikirkan analogi kucing yang sama. Aku merasa senang dengan koneksi
batin yang jelas kami bagi ini. Itu menggelitikku, ya, tapi juga memberiku
perasaan aneh yang menggelenyar di dalam. Lagipula, kurasa dulu aku lebih mirip
anjing liar daripada kucing liar.
CD yang dia
berikan padaku hari itu disertai dengan catatan yang dia tulis sendiri dengan
tulisan tangan yang benar-benar tidak terlihat seperti milik seorang gadis SMA.
Sial, CD itu benar-benar membantuku bertahan melewati masa-masa sulit.
Asuka menyibakkan
poni dari matanya dengan jari kelingking dan melanjutkan.
"Lagu ini
terutama mengingatkanku padamu."
"…Benarkah?"
Aku merasa
sebaiknya tidak menggali lebih dalam soal itu, jadi aku mengalihkan topik.
"Asuka, bisa
kita lakukan rutinitas kita?"
"Sesi
konsultasi dengan guru pembimbing lagi, maksudmu?"
"Kau
bisa menyebutnya waktu pengakuan dosa. Itu kedengarannya sedikit lebih
keren."
Lalu,
seperti biasa, aku mulai menceritakan kejadian-kejadian terbaru dalam hidupku.
Tentu saja, aku
menceritakan segalanya, mulai dari kontrak pacaran palsu antara aku dan Yuzuki
hingga pertikaian kemarin. Asuka selalu mengambil sudut pandang netral, jadi
aku tidak perlu khawatir tentang apa yang harus kuceritakan dan apa yang harus
kusimpan. Aku menceritakan semuanya.
Setelah aku
selesai, Asuka membungkuk dan mengambil buku saku yang kuletakkan di sampingku,
lalu membolak-baliknya.
"The Box Man, karya Kobo Abe?"
"Bukan karena situasi yang sedang terjadi, kok. Aku
hanya merasa ingin membacanya saja secara acak."
Asuka menutup buku itu dengan suara plak dan
menggumamkan sesuatu. "Kau tahu apa yang begitu hebat sekaligus meragukan
darimu, Sobat?" Suara lembutnya seolah terbawa angin. "Kau hanya
berasumsi bahwa kau bisa menangani semuanya sendirian, dan akhirnya kau
benar-benar melakukan semuanya sendirian."
Aku membiarkan kata-katanya meresap sejenak sebelum
berbicara.
"Sebenarnya, Yuuko dan Yua mengatakan hal yang sama
padaku hari ini. Tapi mereka merujuk pada bagaimana aku tidak peduli jika aku
terluka selama aku bisa menjaga orang lain agar tidak terluka."
Bahkan saat mengatakannya, aku menyadari bahwa aku terdengar
sangat payah, dan aku terpaksa menyeringai kecut.
Asuka terkekeh bersamaku. "Cara kau menjalaninya, kau
bertingkah seolah punya seseorang untuk diandalkan, padahal sebenarnya hanya
ada dirimu sendiri. Namun, meskipun kau bertingkah seolah hanya ada dirimu,
kenyataannya kau selalu memiliki seseorang."
Itu benar-benar cara hidup yang meragukan, memang.
Aku baru saja akan bicara, tapi Asuka mendahuluiku, bergumam
lagi.
"Persis seperti lonceng angin yang berdenting tertiup
angin sepoi-sepoi di beranda pada hari musim panas."
Bagaimana aku harus menanggapi itu?
Kesepian,
kebersamaan. Kebaikan, kedinginan. Kekuatan, kelemahan. Kebahagiaan, kesedihan.
Ada ruang luas untuk interpretasi—tapi tidak ada ruang untuk memilih.
Persis seperti
bagaimana aku tidak punya pilihan.
Pintu berderit di
bawah kami.
Rupanya, sesi
dengan guru pembimbing hari ini harus dipersingkat.
"Sakuuu?"
Aku mendengar
suara Yuzuki. Sambil
bangkit berdiri, aku mengangkat tangan sebagai sapaan.
Di
sampingku, Asuka juga berdiri, ekspresinya kembali tenang.
"Maaf, apa
aku mengganggu?"
"Tidak, kami
baru saja akan selesai."
Kami menuruni
tangga, Asuka lebih dulu, diikuti olehku.
"Yuzuki,
perkenalkan. Ini Asuka Nishino dari kelas tiga. Asuka, ini Yuzuki Nanase, yang
baru saja kuceritakan padamu."
Yuzuki mematung,
wajahnya menyerupai penguin yang tiba-tiba berada di Sabana tanpa tahu
bagaimana bisa sampai di sana. Sesaat kemudian, dia tersadar dan menoleh ke
Asuka, mengangguk sopan.
Lalu, dengan
ekspresi yang sulit dibaca seperti biasanya, Asuka berbicara pada Yuzuki.
"Halo,
Nanase. Aku sudah dengar dari teman mudaku ini, sepertinya kau sedang dalam
situasi yang cukup sulit. Kau mungkin tidak butuh simpati dari orang asing yang
bahkan belum pernah kau temui, tapi ini satu saran dariku: Jangan menutup
matamu dari kebenaran."
"Apa...
maksudmu dengan itu?"
Kebingungan
Yuzuki masuk akal. Aku pun tidak punya petunjuk apa maksudnya.
Asuka menatapku.
"Dari apa yang baru saja kudengar, Nanase adalah dirimu yang lain,
Sobat."
Yuzuki
dan aku saling bertukar pandang.
Itu
benar. Yuzuki dan aku dibuat dari kain yang sama. Tapi aku yakin ada makna lebih dari apa yang baru
saja dikatakan Asuka. Kata-katanya terasa sarat makna.
Rupanya, hanya
itu yang direncanakan Asuka untuk dikatakan sebelum dia berbalik dan mulai
berjalan pergi.
"Uh, tunggu
dulu...," panggil Yuzuki.
"Apa
hubungan antara Anda dan Saku, Nishino-senpai?"
Itu adalah
pertanyaan yang sangat wajar bagi gadis normal, tapi juga sangat
tidak-Yuzuki-banget. Dia bisa saja menanyakannya padaku nanti jika dia ingin
tahu. Aku tentu tidak berniat menyesatkannya jika dia bertanya.
"Kau ingin
jawabanku soal itu?" Suara Asuka terdengar tenang dan dewasa saat merespons. Tapi kemudian
dia masuk ke mode berpikir mendalam dengan suara hmm yang terdengar
kekanak-kanakan. "Mari kita lihat. Hubungan apa pun yang kau bayangkan,
ini adalah sesuatu yang sedikit lebih abstrak dari itu—dan sedikit kurang
nyata, seperti..."
Dia mulai
menyeringai, seperti anak kucing yang baru saja menguasai trik kenakalan baru.
"Seperti
seorang gadis dan teman laki-laki mudanya, pria yang benar-benar harus mulai
belajar merasa terancam, mungkin?"
""Tunggu
dulu...!""
Tapi setelah
mengatakan apa yang ingin dia katakan, Asuka menghilang seperti angin
sepoi-sepoi.
◆◇◆
"Sebenarnya
ada apa di antara kalian berdua?"
Yah, benar, aku
tahu ini akan terjadi.
Aku sering lupa
karena dia selalu mengatakan hal-hal cerdas dan filosofis, tapi Asuka itu
semacam wild card. Jiwa bebas. Aku benar-benar tidak punya harapan untuk
bisa mengendalikannya.
Dalam perjalanan
pulang, Yuzuki sepertinya sedang marah.
Rasanya seperti
sedang berjalan santai di kota, lalu tiba-tiba seember air es tumpah padamu
dari langit. Aku
merasa Asuka benar-benar menjebakku, dan aku tidak terlalu senang soal itu.
"Asuka kan
sudah bilang. Cuma kakak kelas dan teman laki-laki mudanya."
"Dia
membuatnya terdengar seperti lebih dari itu."
"Status
hubungan: Rumit."
Yuzuki
mengayunkan tas olahraganya dan memukul pantatku dengan keras. Itu sepertinya
membantu memperbaiki suasana hatinya sedikit, dan dia melanjutkan dengan
bergumam pelan. "Aku cuma agak terkejut saja."
"Tentang
apa?"
"Tentang
kau yang memiliki seseorang seperti itu dalam hidupmu."
Yuzuki menatap
mataku, seolah mencari konfirmasi akan sesuatu.
"Apa
maksudmu dengan 'seseorang seperti itu'?"
"Seseorang
yang spesial bagimu. Seseorang yang menganggapmu spesial juga. Hubungan semacam
itu."
"Ayolah.
Aku lebih seperti penghilang rasa bosan bagi Asuka, seseorang untuk membunuh
waktu."
Aku tidak
sedang bersikap rendah hati atau merendahkan diri. Itulah yang benar-benar
kurasakan.
"Kau
tidak akan seakrab itu dengannya di atap, memanggilnya Asuka, jika dia hanya
gadis biasa bagimu. Lagipula..." Yuzuki berhenti dan menghela
napas. "Kau pasti menyadarinya, kan? Nishino-senpai memanggilku dengan
nama belakangku, Nanase, tapi dia punya cara khusus untuk memanggilmu. Di saat
orang biasanya akan memanggilmu 'Chitose' atau bahkan sekadar 'dia,' dia
merujuk padamu sebagai 'Sobat'-nya secara spesifik setiap saat. Tidak mungkin
kau tidak spesial baginya."
Sejujurnya, aku merasa itu menenangkan.
Kalau dipikir-pikir, itu pertama kalinya aku berbicara
dengan Asuka di hadapan orang ketiga. Aku selalu berasumsi Asuka menghindari
namaku adalah sesuatu yang dia lakukan untuk menjaga batas di antara kami. Lagipula, dia kakak kelas. Tapi mungkin
itu punya tujuan lain bagi Asuka. Siapa yang tahu.
Aku cukup yakin
itu tidak menunjukkan perasaan romantis apa pun padaku. Setidaknya, kuharap
jangan sampai itu artinya.
Aku mengubah
topik dan mulai menggoda Yuzuki sebagai gantinya.
"Cemburu
karena kemunculan rival yang tiba-tiba? Kau sudah sedikit masuk ke mode pacar,
ya?"
"Mungkin
saja."
Aku pikir dia
akan membalas dengan kata-kata tajam seperti biasanya, tapi sebaliknya,
suaranya terdengar agak rapuh.
"Aku mungkin
hanya sedang memikirkan posisiku... Ya, itu dia. Aku selama ini merasa
akulah satu-satunya yang mengenal Saku Chitose yang sebenarnya, satu-satunya
yang bisa diajak mengobrol dengan frekuensi yang sama."
"Yah, itu masih benar. Tidak ada orang di sekitar sini
yang lebih mirip denganku daripada kau, Yuzuki."
"Kau tidak mengerti. Aku sedang memberitahumu, dengan
caraku sendiri, bahwa aku hanyalah gadis seperti yang lainnya. Maksudku bukan
dalam artian aku jatuh cinta padamu atau hal konyol semacam itu. Hanya saja,
aku bangga bahwa aku cukup spesial untuk berdiri di samping seseorang yang
sepesial dirimu. Itu saja."
"Dengar,
Nanase..."
Tapi sebelum aku
bisa menyelesaikan kata-kataku, Yuzuki menempelkan jarinya ke bibirku.
"Benar,
Chitose. Aku Nanase. Kita adalah teman sebelum menjadi pacar. Aku mungkin tidak
akan menjadi orang spesialmu, aku tahu itu. Itu tadi hanya perasaan dangkal
yang kupunya. Sedikit pukulan pada ego gadis yang mengira dialah satu-satunya
yang spesial."
Aku... tidak tahu
harus berkata apa soal itu.
Aku ingin
mencairkan suasana dengan lelucon ringan, tapi aku bahkan tidak bisa
melakukannya.
Karena,
bagaimanapun juga, aku menyadari bahwa sebagian dari diriku memikirkan hal yang
sama dengan Yuzuki.
Bagi
Yuzuki, aku adalah seseorang yang spesial. Di satu titik, tanpa menyadarinya,
aku mulai menganggap diriku sebagai tipe pria yang bisa berdiri di samping
gadis spesial seperti Yuzuki, berbagi segalanya dengannya, dan melindunginya.
Jika aku
tahu ada pria yang lebih peduli pada Yuzuki di luar sana daripada aku, yah...
aku bisa memahaminya. Aku bisa memahaminya, tapi sebagian dari diriku mungkin
akan merasa tidak senang. Lalu ketidaksenangan itu akan menuntunku pada
pemahaman yang berbeda.
"Aku pikir
kau adalah serigala penyendiri, Saku. Sama sepertiku."
"Aku pikir
kau adalah serigala penyendiri, Yuzuki. Sama sepertiku."
"Kita berdua
ternyata tidak secerdas atau selogis yang kita kira, ya?"
"Mungkin
tidak."
Yuzuki
menyodorkan tangannya di depanku.
"Kau sedang
mencoba menangkisku atau apa?"
"Uh, jika
kau tidak bisa mengenali isyarat 'mari bergandengan tangan', maka pasti ada bug
serius dalam perangkat lunak pemrograman sosialmu."
"Kau
mengerjaiku lagi?"
"Aku pikir
aku bisa menjadi orang spesialmu dengan cara itu."
"Hentikan,
sebelum itu jadi kebiasaan."
"Cih."
Lalu kami terus
berjalan, menjaga jarak layaknya laki-laki dan perempuan pada umumnya.
◆◇◆
Setelah berjalan
sekitar dua puluh menit, kami sampai di rumah Yuzuki.
Yuzuki
memberitahuku bahwa itu hanya rumah tangga biasa, tapi sepertinya rumah itu
sendiri pasti dibangun dalam satu dekade terakhir. Rumah itu dicat putih dan
terlihat mewah, dan ada mobil yang diparkir di garasi buatan pabrikan Jerman
yang bisa dikenali siapa pun dalam sekali lirik.
Aku membuka kunci
sepeda gunungku, yang terparkir kesepian di sudut garasi, dan memanggil Yuzuki
yang sedang memeriksa kotak surat.
"Kalau
begitu, aku pulang sekarang."
"Sip.
Terima kasih untuk h—" Yuzuki berhenti membolak-balik tumpukan surat
secara tiba-tiba. "Tunggu!
Saku!"
Suaranya sedikit
panik. Aku turun kembali dari sepeda gunungku.
"Apa... apa
ini?"
Yuzuki
menyodorkan amplop putih polos padaku. Tidak ada cap pos atau alamat, dan bahkan
tidak disegel. Kecuali jika ada kesalahan, seseorang pasti memasukkannya
langsung ke dalam kotak surat rumah ini. Aku mengangkatnya ke arah sinar
matahari untuk mencoba melihat tembus pandang. Ada siluet persegi yang
terlihat.
"Ini surat... Bukan, foto. Aku akan melihat
isinya."
Sesuatu tentang kemurnian warna putih amplop itu membuatku
merinding.
Rasanya seperti seseorang sengaja membeli amplop baru dan
kemudian dengan teliti memasukkan isinya ke dalam. Aku membaliknya di tanganku,
dan beberapa carik kertas persegi jatuh. Itu memang foto.
Aku segera memindai foto-foto tersebut, menjauhkannya dari
jangkauan pandangan Yuzuki. Wajah-wajah yang kukenal muncul di hadapanku.
"Saku, perlihatkan padaku."
Aku bisa saja mencoba memberitahunya sebaiknya tidak usah,
tapi dia tidak akan pernah mendengarkan.
Tanpa suara, aku
menyerahkan ketiga foto itu padanya.
"Ini aku...
dan kau, Saku."
Satu foto kami
berdua sedang belajar di perpustakaan. Satu foto kami sedang berjalan ke
sekolah di jalur pinggir sungai. Namun, foto terakhir adalah masalah yang
sebenarnya.
Foto itu
menunjukkan Yuzuki dan aku sedang makan eggs benedict di kafe dekat
stasiun.
"Kurasa kau
benar selama ini, Yuzuki."
"…Ya."
Pada hari itu...
di jam itu... kami adalah satu-satunya pelanggan di kafe tersebut. Berdasarkan
sudut fotonya, itu pasti diambil dari luar. Aku benar-benar fokus pada
percakapanku dengan Yuzuki saat itu, dan Yuzuki pun belum berada dalam mode
waspada tingkat tinggi saat itu. Akan mudah bagi seseorang untuk mengambil foto
kami secara sembunyi-sembunyi.
"Dua foto
diambil kemarin. Perpustakaan penuh dengan siswa, jadi kita tidak akan pernah
bisa mempersempitnya ke satu orang tertentu. Berdasarkan waktunya, berandalan
dari SMA Yan sepertinya tersangka yang kuat. Tapi foto ini saja bukan bukti.
Sama halnya dengan foto jalur sungai. Kita terlalu lengah soal ini. Ini jauh
lebih buruk dari yang kukira."
Aku terbiasa
orang-orang mengambil foto ponselku dan mengunggahnya ke situs gosip bawah
tanah sekolah dengan keterangan seperti: Terpantau: si bajingan tukang main
perempuan lagi mendekati Si Anu dari Kelas Anu. Tapi ini... ini adalah
kejutan serius bagi sistemku.
Menyadari bahwa
seseorang sedang terpaku padaku sementara aku tetap tidak sadar dengan
bahagia—rasanya menjijikkan. Aku yakin Yuzuki merasakannya juga.
Tidak diragukan
lagi dalam hidupnya yang singkat sejauh ini, dia sendiri telah berurusan dengan
banyak perhatian yang tidak diinginkan dan pemujaan dari pria-pria yang bahkan
tidak pernah dia sadari.
Tapi tujuan dari
foto-foto seperti ini adalah untuk memaksa kami melihat diri kami sendiri
seperti yang dilihat oleh penyiksa kami.
Seseorang, siapa
pun itu, telah menatap kami hari itu di kafe persis seperti yang ditunjukkan
foto ini.
Mentalitas di
baliknya... memuakkan.
"Ini
foto-fotoku yang cukup bagus. Kau benar-benar bisa merasakan kasih sayang yang dipendam sang
fotografer terhadap modelnya di sini." Aku menyeringai, dan ekspresi kaku
Yuzuki sedikit melembut.
"Itu
terdengar terlalu dipaksakan, tidak menurutmu? Maksudku, kau punya kekhawatiran
yang lebih besar sekarang, Saku, jelas sekali."
Sangat jelas apa
yang dia maksud.
"Ah,
benar-benar menyia-nyiakan pria tampan. Ini kan bukan seolah aku kalah main Hanetsuki
dan wajahku harus dicoret-coret tinta sebagai hukuman."
Di setiap foto
tersebut, seseorang telah memotong tanda X tepat di wajahku, menggunakan
pemotong kertas atau pisau semacamnya. Sisa tubuhku telah dicorat-coret dengan
spidol merah. Aku benar-benar telah menjadi subjek pelecehan yang serius di
sini.
Di foto pinggir
sungai, ada pesan juga. Bunyinya PUTUS.SEKARANG. Mungkin mereka mencoba
menyembunyikan tulisan tangan mereka; itu ditulis dalam huruf kapital yang
tajam dan tidak rata. Alih-alih menimbulkan rasa takut, pesan itu malah
membuatku ingin meledak dalam tawa yang tidak pantas.
"Hmm.
Sepertinya semacam tautan yang meragukan, meskipun kurasa aku belum pernah
melihat domain 'titik-sekarang'."
Yuzuki mendengus
menahan tawa. "Kau adalah masternya membuat lelucon bodoh dalam situasi
serius, ya?"
"Kau
menyanjungku. Aku hampir saja tersipu."
Bagaimanapun, ini
jelas pertama kalinya Yuzuki diserang secara terbuka dan langsung. Aku tahu dia
pasti akan memberitahuku jika hal seperti ini pernah terjadi sebelumnya. Dia
juga tidak akan terlihat sekecewa dan se-terkejut ini.
Dan kami bahkan
tidak perlu merenungkannya. Alasan penyerangannya tertulis dengan jelas untuk
kami.
Rupanya, subjek
tidak dikenal ini tidak suka Yuzuki dan aku mulai berpacaran.
Satu-satunya
orang yang tahu bahwa ini semua hanya sandiwara besar adalah anggota kelompok
kami—dan sekarang Tomoya. Kebanyakan orang bahkan tidak akan berpikir untuk
mempertanyakan keabsahan hubungan kami.
Sekarang, apakah
ini alasan untuk merayakannya atau alasan untuk menyesal?
Awalnya, salah
satu tujuan kami adalah untuk memancing sang penguntit keluar ke tempat terang.
Agar subjek yang tidak dikenal itu menjadi agresif dan melakukan serangan yang
jelas terhadap kami... Yah, itu sesuai rencana.
Harapan Yuzuki
adalah begitu penguntitnya melihat dia punya pacar, dia akan mundur dan
menyerah. Itu akan menjadi akhir dari segalanya. Tapi jelas, dia adalah tipe
orang yang malah menjadi marah.
Perlakuan coretan
yang mengerikan terhadap ketiga "Chitose" di foto-foto itu adalah
tindakan yang berpikiran sempit, seperti sesuatu yang mungkin dilakukan oleh
berandalan SMA Yan. Dan bahkan orang paling bodoh pun akan berpikir untuk
menyamarkan tulisan tangan mereka.
"Yuzuki, kau
tidak apa-apa?"
"Oh terima
kasih, Ksatria Putih. Kau tahu, biasanya kau akan memeriksa sang putri dulu,
kan?"
Ah. Benar juga.
"…Tentu saja
aku tidak baik-baik saja. Aku merasa mual. Tapi kurasa akan jauh lebih buruk
bagiku jika aku menemukan foto-foto itu tanpa ada kau di sini. Maksudku,
dibenci orang, itu kan keahlianmu, kan, Saku?" Yuzuki menyenggol bahuku
dengan bercanda.
"Bagus, kau
masih bisa sarkasme. Tetap saja, mari kita bersyukur itu bukan foto kau sedang
ganti baju atau semacamnya."
"Jika foto
seperti itu memang ada, apa yang akan kau lakukan?"
"Jangan
dilihat, Yuzuki! Aku akan... menyitanya untuk dibuang nanti!"
"Pak Polisi?
Ya, ini dia orang yang Bapak cari-cari selama ini."
Kami berdua
tertawa terbahak-bahak.
"Terlepas
dari semua candaan, apa yang kita lakukan sekarang?" tanyaku. "Ada
ide?"
"Jika aku
mengorbankanmu sebagai tumbal, mungkin aku bisa bebas dari masalah."
"Menarik.
Ceritakan lebih lanjut?"
"Kenta
pernah memberitahuku tentang anak laki-laki yang suka memakai gaun. Aku bisa
mendandanimu dan membuat sang penguntit malah jatuh cinta padamu. Satu malam di
balik selimut bersama Chitose mungkin akan berhasil."
"Wah,
sekarang itu arah yang bahkan aku tidak pernah menyangka kau akan ke
sana."
Aku tahu dia
sedang mencoba berpura-pura baik-baik saja.
Aku harus
menyelesaikan situasi ini sebelum Yuzuki kehilangan kemampuannya untuk tetap
tegar.
"Tapi
serius, memasang kamera pengawas di luar rumah mungkin adalah cara tercepat
untuk mengakhiri ini."
Yuzuki
menggelengkan kepalanya.
"Maaf.
Melibatkanmu adalah satu hal, Saku, tapi aku benar-benar tidak ingin curhat
pada orang tuaku soal ini."
"Masuk
akal. Mengerti." Aku mengangguk paham.
Yuzuki
tampak murung, tapi aku tidak menekannya lebih jauh. Seorang siswa SMA yang
tidak ingin curhat pada orang tua mereka... itu seperti penduduk Prefektur
Fukui yang tidak mau makan telur di atas katsudon-nya.
Dengan kata lain,
sangat normal. Hmm, mungkin aku perlu mencari analogi yang lebih baik.
Bagaimanapun,
kami hanya bisa terus bergerak dalam mode bertahan.
Aku ingin
membalas entah bagaimana caranya, tapi jika petunjuk yang sudah kami kumpulkan
berantakan, kami akan kesulitan menyusun kepingan teka-teki itu lagi dari nol.
Pada
akhirnya, tak satu pun dari kami yang punya ide bagus, dan matahari mulai
tenggelam dengan cepat. Mobil Jerman yang kokoh itu terparkir diam di jalan
masuk rumah, seolah-olah sedang mengawasi kami.
◆◇◆
Sesampainya
di rumah, aku mandi, memasak makanan sederhana lalu memakannya, dan baru
menyadari seseorang sedang meneleponku.
Aku memeriksa ID penelepon—Tomoya Naruse. Aku mengetuk ikon ANSWER
CALL.
"Nomor
yang Anda tuju sedang tidak aktif..."
"Lelucon
jadul. Lagipula, ini bukan panggilan telepon, ini fitur bicara aplikasi
LINE."
"Ada perlu
apa?"
"Apa
maksudmu? Kupikir kita sudah membicarakannya tadi siang, Love Guru."
"Kau
tidak benar-benar berencana meneleponku setiap hari, kan?"
"Ayolah,
Saku. Kau selalu bersama Nanase atau teman sekelasmu yang lain. Pilihan apa
yang kupunya?"
Suaranya yang
halus mulai membuatku kesal, tapi dia ada benarnya.
Setidaknya dia
cukup perhatian dengan tidak mengganggu waktu pribadiku. Sulit untuk
menyalahkannya dalam hal itu.
Aku memutuskan
untuk memberitahunya apa yang terjadi hari ini. Aku tidak menyinggung soal
pertemuan dengan Asuka di atap, atau percakapan kami setelahnya, atau soal
foto-foto itu, tapi aku memberi Tomoya ringkasan dasar tentang hal-hal yang
biasa saja.
"Huh,
menarik. Jadi Nanase pun ternyata sangat normal."
"Tentu saja.
Apa kau pikir dia bertransformasi setelah pulang sekolah dan pergi membasmi
kekuatan jahat atau semacamnya?"
"Tidak,
aku hanya berpikir dia berada di atas hal-hal semacam itu. Dia begitu sempurna,
dan kau tidak pernah mendengar rumor buruk tentangnya, tidak seperti kau, Saku.
Dia seolah-olah bukan berasal
dari dunia ini..."
"Kenapa kau
harus menyelipkan sindiran untukku di sana? Dengar, jika kau ingin mengenal
Yuzuki, kau harus membuang semua anggapanmu itu, karena kau salah besar."
"Apa
maksudmu?" Suara Tomoya terdengar tulus terkejut.
"Biar
kutanya sesuatu dulu. Kenapa kau jatuh cinta pada Yuzuki? Jika kau ingin aku
membantu kehidupan cintamu, setidaknya beri tahu aku alasannya. Kalau tidak,
bagaimana aku bisa membantumu?"
"Kau benar.
Sejujurnya, awalnya karena penampilannya. Dia sangat cantik sampai-sampai aku
tidak bisa mengeluarkannya dari pikiranku. Setelah itu, aku selalu
memperhatikannya, dan kurasa begitulah aku jatuh cinta padanya."
Aku
mendengar suara kresek kecil, sepertinya dia sedang menyambungkan earphone.
"Suatu hari
sepulang sekolah, aku jatuh tersungkur. Rasanya seperti adegan dalam manga, aku
jatuh terjerembap dan isi tasku berserakan di mana-mana. Semua orang
menertawakanku, hanya lewat begitu saja, tahu? Lebih buruk lagi, hari sudah
gelap, dan aku tidak bisa mengumpulkan semua barangku."
"Tapi Yuzuki
berhenti. Dia menyalakan lampu layar ponselnya ke tingkat maksimal supaya
kalian berdua bisa melihat, lalu dia membantumu memunguti semuanya."
"Apa?
Bagaimana kau tahu soal itu?"
Itu sudah jelas,
berdasarkan konteksnya.
"Itu
bukan kebaikan seperti yang kau bayangkan. Itu memang salah satu bentuk
kebaikan, tentu saja, tapi dia hanya melakukannya karena dia tidak ingin
menjadi seburuk anak-anak lain yang hanya melewatimu dan menolak
membantu."
"Aku
tidak begitu mengerti apa yang kau katakan."
"Aku tidak
bilang dia sama sekali tidak punya kebaikan. Tentu saja, apa yang dia lakukan
didasarkan pada rasa iba. Tapi jika kau benar-benar menganggap itu murni
kemurahan hati malaikat darinya, yah. Kau tidak akan pernah punya kesempatan
untuk mengencani Yuzuki."
Tomoya terdiam di
seberang sana.
"Berhentilah
melihat idola batu sempurna yang kau pahat dalam pikiranmu sendiri dan lihatlah
gadis yang sebenarnya, Yuzuki sendiri. Gadis yang terkadang mengupil, yang
punya kotoran telinga, yang bau keringat setelah latihan klub, yang
memproyeksikan citra diri yang sangat diperhitungkan kepada semua orang. Kau
harus benar-benar memahami konsep itu terlebih dahulu."
"Nanase itu
manusia, jadi semua hal itu sudah sewajarnya... tapi rasanya tidak menyenangkan
untuk dibayangkan."
"Memang
tidak, tapi itu penting. Aku tidak akan menyangkal bahwa kebanyakan hubungan
dimulai sebagai semacam fatamorgana. Tapi saat kau mendekat, fatamorgana itu
menghilang. Dan kesan keliru yang kau miliki itu hanya akan menyakiti orang
yang kau sayangi."
"Kau
benar-benar tidak menahan diri, ya?"
"Aku sudah
melihat cerita lama yang membosankan itu terjadi berulang kali. Aku muak
dengannya."
Aku mulai terbawa
suasana. Mengingat kembali kejadian hari ini, kurasa aku membiarkan emosiku
menguasai diriku. Ini sebenarnya bukan jenis percakapan yang ingin kulakukan
dengan pria yang baru saja kutemui tadi siang.
"Maaf jika
aku merusak suasana hatimu. Intinya, hanya ini yang bisa kukatakan padamu
tentang hubungan asmara. Kau mau menyerah sekarang?"
"Tidak.
Sebaliknya, aku senang kau mau terbuka padaku seperti ini. Aku ingin lanjut,
kalau kau setuju."
"Ini akan
terdengar murahan, tapi kupikir untuk benar-benar membuat seseorang terkesan,
kau harus berani jujur secara brutal dan penuh semangat. Kau harus beradu
argumen, hancur lebur, bangkit kembali, dan melakukannya lagi dari awal. Itulah
arti masa muda."
Wah, itu
benar-benar murahan, pikirku.
"Jadi jika
kau benar-benar ingin mengencani Yuzuki sungguhan, Tomoya, kau perlu bicara
dengannya dan menjalin hubungan baik. Dapatkan ID LINE-nya, mengobrollah
dengannya sedikit setiap hari, cari tahu lebih banyak tentang dia. Lalu,
setelah kau mengenal sisi dirinya yang berada di luar citra sempurna dalam
kepalamu, jika kau masih merasa mencintainya, barulah kau harus menyatakan
perasaanmu."
"Kedengarannya
sangat tidak canggih. Kupikir kau akan memberiku, semacam gombalan maut untuk
merayunya atau apa."
"Itu delusi
lainnya. Kau tidak hanya punya pemikiran yang sangat salah tentang Yuzuki, tapi
kau juga sedang berhalusinasi tentang versi Saku Chitose yang sebenarnya tidak
ada."
Ya, aku
bicara terlalu banyak lagi. Semua urusan hubungan palsu ini ternyata membuatku
bertindak sentimental secara aneh mengenai topik asmara.
Tapi aku merasa
sebaiknya aku mengatakan pendapatku.
Terserah Tomoya
untuk memutuskan tindakan apa yang dia ambil setelah itu. Dia bisa menangani
tanggung jawab itu sendiri.
"Kurasa aku
mulai mengerti maksudmu. Kau bilang aku masih belum mengenal Nanase sama sekali, kan?"
"Begitulah.
Tapi ingatlah ini: Keberuntungan memihak mereka yang berani. Jalan yang paling aman tidak selalu
mengarah pada harta karun."
"Jadi tidak
ada jalan pintas menuju cinta, dengan kata lain. Terima kasih, kurasa ini
adalah dorongan yang kubutuhkan. Aku akan mencoba untuk belajar lebih banyak
tentang dia."
"Bagus,
bagus. Kalau begitu, waktunya tidur."
"Ya. Sampai
besok."
Setelah aku
mengakhiri panggilan, aku duduk di tepi tempat tidur untuk beberapa saat.
◆◇◆
Kamis berlalu,
diikuti hari Jumat, dan kemudian tibalah hari Sabtu.
Selama dua hari
terakhir, dua amplop baru ditemukan di kotak surat rumah Yuzuki, dan entah
bagaimana kotak pensil serta agenda hariannya menghilang dari tasnya. Amplop
kedua isinya hampir sama dengan yang pertama, tapi rangkaian foto ketiga
menyertakan foto Yuzuki saat dia masih siswa kelas satu.
Aku sama sekali
tidak senang dengan bagaimana keadaan ini berlangsung.
Yuzuki bertingkah
seperti biasa, tapi fakta bahwa dia terlihat sangat tidak terganggu membuatku
menyadari bahwa dia sedang tidak menjadi dirinya sendiri. Biasanya, saat
semuanya baik-baik saja, dia akan tertawa terbahak-bahak karena lelucon
terkecil atau sedikit sarkasme, tapi tidak sekarang. Jelas sekali dia sedang
kelelahan secara emosional.
Tomoya menelepon
setiap malam, dan aku mencoba memberinya saran sebisa mungkin. Sama seperti
saat bersama Kenta, aku menyesal telah merepotkan diri sendiri pada awalnya.
Tapi tanpa kusadari, aku mulai menantikan telepon darinya. "Hmm, dia
seharusnya menelepon sekitar jam segini..." Menakutkan betapa cepatnya
kita bisa terbiasa dengan sesuatu.
Aku sebenarnya
mengajaknya ikut menonton pertandingan persahabatan basket putri hari ini, tapi
dia bilang, "Aku tidak ingin dia menganggapku orang aneh jika aku
tiba-tiba muncul di pertandingannya" dan menolak. Aku mengerti
perasaannya, jadi aku tidak repot-repot membujuknya.
Pertandingan
dijadwalkan berlangsung di sekolah kami, di Gym 1.
Saat aku masuk,
tim SMA Fuji dan tim sekolah lain sudah melakukan pemanasan. Sambil mengawasi
keadaan, aku menuju ke balkon lantai dua. Awalnya aku mengira tidak akan banyak
orang yang menonton hari ini karena ini hanya pertandingan latihan, tapi
sekolah lawan ternyata terkenal secara nasional, jadi ada cukup banyak
kerumunan.
Baik Yuzuki
maupun Haru tidak sengaja mengundang anggota Tim Chitose lainnya. Kedengarannya
tidak terlalu bagus, tapi kenyataannya sesuatu seperti pertandingan latihan
klub bukanlah hal yang terlalu besar bagi para pemain, meskipun lawan mereka
adalah sekolah ternama. Itu hanya kegiatan rutin lainnya. Jika mereka sengaja
mengundang orang untuk menonton, orang-orang mungkin akan merasa terpaksa
datang, bahkan di tengah musim ujian yang sibuk. Yuzuki dan Haru tidak akan
pernah melakukan hal egois seperti itu.
Namun aku
diundang, bukan? Ada apa dengan itu, ya? Yah, keadaan khusus dan semacamnya.
Aku bisa memakluminya.
"Hei!
Saku!"
Itu Kaito,
berdiri di sana dengan tubuhnya yang sangat tinggi seperti biasa dan
memanggilku tanpa tata krama sama sekali.
"Yo. Kau
datang untuk menonton juga, ya?"
"Ini tim
putri peringkat nasional, tahu. Aku bisa belajar satu atau dua hal. Dan
lagipula, belajar lebih banyak lagi tidak akan membantu nilaiku saat ini."
"Orang-orang
sepertimulah yang seharusnya sedang belajar sekarang."
"Saku,
tidakkah kau tahu? Ketika kau sudah melakukan semua yang kau bisa, kau harus
menyerahkan sisanya pada nasib!"
"Apa,
kau sudah jadi orang yang menyerah sebelum bertarung, Bung?"
Aku
melihat sekeliling lagi. Lalu aku melihat beberapa wajah yang tidak kusangka
akan kulihat di sini.
Jika
panggung dianggap sebagai sisi atas gedung olahraga, kami berdiri di balkon
sisi kiri. Di balkon sisi
kanan yang berlawanan, aku bisa melihat Nazuna dan Atomu.
Mereka sepertinya
memperhatikanku juga. Nazuna melambai padaku.
Aku melambai
balik, dan Atomu menyipitkan matanya dengan ketidaksenangan yang jelas.
Mereka
tidak terlihat seperti tipe orang yang datang menonton olahraga SMA saat
berkencan. Mungkin ada teman mereka yang ikut bermain dalam pertandingan hari
ini.
Aku
menoleh kembali ke lapangan.
Para
pemain SMA Fuji, mengenakan warna tim biru aquamarine, sedang berlatih
menembak. Saat aku sedang melamun memikirkan seragam basket putri dan
mengapresiasi betapa seragam itu memancarkan kesan sportivitas yang menarik,
aku menyadari duo yang kukenal tidak ada di dalam lingkaran.
Karena
khawatir, aku mencari ke seluruh penjuru gedung olahraga. Ibu Misaki, Haru, dan
Yuzuki semuanya berdiri di luar lapangan dekat dinding, sedang berbicara dengan
ekspresi serius di wajah mereka. Berdasarkan posisi mereka, sepertinya Yuzuki
yang menjadi topik pembicaraan.
Aku mulai
merasa tidak enak. Aku berlari menuju tangga.
"Ada
apa, Bung? Mau BAB? Pertandingan mau mulai, tahu." Aku bisa mendengar
suara konyol Kaito di belakangku.
"Berhenti
bicara sembarangan dan ikut aku."
Saat kami
mendekat, Ibu Misaki menoleh dan menatap kami dengan tajam. "Ada apa,
Chitose? Dan Asano juga? Jika kalian di sini untuk memberi dukungan, pergilah
ke lantai atas."
Dia memiliki
tubuh dewasa dengan lekuk tubuh yang pas, dan fitur wajahnya yang halus serta
caranya berbicara yang sedingin es membuat banyak pria di SMA Fuji menilainya
tinggi di antara para guru perempuan. Tapi sekarang bukan waktu yang tepat
untuk fokus pada daya tariknya.
Meskipun tim
basket putra dan putri dipisahkan berdasarkan gender, mereka tetap berlatih
setiap hari di gedung olahraga yang sama. Kaito sering merasakan ketajaman
lidah Ibu Misaki. Meskipun sangat tinggi, dia saat ini mencoba menyembunyikan
dirinya di belakang punggungku.
"Maaf, aku
tadi menonton dari atas dan merasa khawatir. Apa terjadi sesuatu?"
Haru menjawab
tanpa jeda. "Chitose, sepatu basket Yuzuki hilang. Kami biasanya
meninggalkan sepatu kami di ruang klub, dan dia masih memakainya saat latihan
terakhir sebelum libur masa ujian dimulai..."
Pencurian lagi.
Itulah hal pertama yang kupikirkan.
Ibu Misaki
melanjutkan penjelasan Haru. "Haru mungkin lain cerita, tapi Yuzuki tidak
akan pernah seceroboh itu dengan barang miliknya. Karena itu, saat aku
memeriksa ruang klub pagi ini, ruangannya masih terkunci rapat."
"Ini mungkin
terdengar aneh, tapi apakah semua orang meninggalkan ruang klub pada saat yang
sama hari ini?"
Ibu Misaki
mengerutkan kening menanggapi itu. "Yah, iya. Setelah siswa tim lawan
tiba, gadis-gadis kami semua berkumpul di gedung olahraga untuk menyambut
mereka secara resmi, lalu kami langsung melakukan rapat tim."
Aku berpikir jika
ada kesempatan bagi siapa pun untuk mencuri sesuatu, itu adalah saat itu.
Yuzuki menyela
seolah-olah sudah diatur, suaranya terdengar ceria secara aneh.
"Yah, aku
tidak bisa memungkiri kalau aku sangat bersemangat untuk pertandingan ini, dan
tidak memakai sepatuku sendiri agak merusak awal pertandinganku. Tapi jangan
khawatir. Semuanya baik-baik saja. Aku bisa meminjam sepatu dari gadis lain
dengan ukuran kaki yang sama. Atau dalam skenario terburuk, aku bisa bermain
pakai sandal."
"Tidak ada
yang baik-baik saja, bodoh."
Aku tidak yakin
apakah aku bisa mewakili Yuzuki, tapi aku tahu ketika aku punya pertandingan
bisbol besar, aku akan panik jika disuruh menggunakan pemukul atau sarung
tangan milik orang lain. Bagi atlet, perlengkapan olahraga punya dampak besar
pada performa.
Aku segera
memahami situasinya. "Kaito," kataku sambil menoleh ke belakang saat
aku menuju pintu keluar gedung olahraga.
Yuzuki
memanggilku. "Saku?"
"Aku tidak
ingin kau menggunakan insiden ini sebagai alasan jika tidak menang. Kau fokus
saja pada pertandingan, Yuzuki."
Haru memanggilku
juga. "Uh, Sayang, jika kau benar-benar pergi sekarang, pastikan kau tidak
kembali dengan tangan hampa, jelas?"
"Serahkan
padaku."
Kaito dan aku
meninggalkan gedung olahraga, lalu kami memutuskan untuk berpisah dan berlari
melakukan pencarian cepat.
Aku memperkirakan
kami punya peluang 50 persen untuk menemukan sepatu itu.
Jika pelakunya
mencuri sepatu Yuzuki hanya karena dia ingin menjadikannya trofi, maka kami
tidak beruntung. Sepatu itu pasti sudah dibawa pergi jauh dari kampus. Tapi
jika pelakunya hanya ingin mengganggu Yuzuki dengan cara apa pun yang tersedia,
maka mungkin kita belum terlambat. Yang bisa kami lakukan hanyalah bertindak
berdasarkan asumsi yang paling menguntungkan.
"Kaito,
periksa semua tempat sampah di sekitar sini. Lalu masuk ke gedung utama dan
periksa setiap tempat yang bisa kau pikirkan di sana."
"Roger.
Bagaimana denganmu, Saku?"
"Aku akan
memeriksa seluruh area kampus, selain gedung sekolah. Lalu aku akan memeriksa
jalan-jalan di dekat kampus."
Kami berdua
melakukan adu kepalan tangan, lalu Kaito berlari pergi.
Aku mulai
mengendus-endus di luar, dimulai dari luar ruang klub itu sendiri.
Aku
memeriksa di antara pagar dan jalan, lalu berkeliling pagar di mana pagar itu
berbatasan dengan gedung-gedung. Aku juga memeriksa celah-celah di antara
gedung. Lalu di belakang gedung olahraga, lalu gudang peralatan kecil. Aku
memeriksa semua yang terlihat seperti mungkin menjadi tempat persembunyian
sepasang sepatu curian. Tapi aku tidak beruntung.
Ini
adalah perlombaan melawan waktu.
Aku
melepas jas almamaterku dan menggantungnya di tiang pagar terdekat, lalu
menyingsingkan lengan baju dan mengencangkan tali sepatu Stan Smith-ku.
Lalu aku menarik
napas panjang dan mengembuskannya.
Kau pintar juga,
kuakui itu, kau penguntit licik. Kau membuatku melakukan pengejaran yang
sia-sia di sini. Tapi mencari gara-gara dengan Saku Chitose adalah keputusan
yang akan kau sesali sampai hari kematianmu. Aku akan memastikannya.
Aku mulai berlari
melintasi tanah yang gembur.
Dari dalam gedung
olahraga, aku bisa mendengar suara peluit ditiup. Pertandingan dimulai.
Sialan! Ini tidak
berhasil.
Aku memeriksa
kedua sisi parit irigasi yang mengalir horizontal ke arah sekolah, napasku
sekarang terengah-engah. Aku memeriksa lapangan permainan, perimeter kantin,
tempat parkir sepeda, tempat parkir di dekat sekolah, dan taman terdekat. Aku
berlari ke seluruh area, tapi tidak ada tanda-tanda sepatu basket Yuzuki. Lebih
dari dua puluh menit pasti telah berlalu sejak aku mulai mencari. Pertandingan
pasti sudah memasuki kuarter ketiga sekarang.
Aku bersimbah
keringat, benar-benar bingung.
Sialan. Jika
pelakunya membawa pulang sepatu itu untuk membanggakan tipu muslihat kecil
mereka, maka aku akan menjadikannya misiku untuk mengejar mereka sampai ke
ujung dunia dan menjejalkan ujung sepatu Stan Smith-ku ke dalam rongga hidung
mereka. Ponselku bergetar saat itu. Aku mendapat telepon dari Kaito.
"Tidak bisa,
Saku. Aku tidak bisa menemukannya."
"Sial.
Lakukan satu putaran lagi untuk sekarang, Kaito. Periksa lemari petugas
kebersihan atau semacamnya. Di mana pun seseorang mungkin telah membuang sepasang sepatu basket. Aku akan kembali ke ruang klub sekali
lagi."
"Apa yang
akan kau lakukan?"
"Kau gunakan
ototmu, dan aku akan gunakan otakku, oke?"
"Hei!
Aku keberatan dengan itu!"
Aku
melompati pagar dan kembali ke tepat di luar ruang klub basket putri.
Aku tidak
akan menemukan sepatu itu hanya dengan memeriksa tempat-tempat secara acak.
Sambil
menyeka kucuran keringat yang tak henti-hentinya, aku mencoba berpikir tenang
dan logis.
Aku tidak
punya cara untuk mengonfirmasi kejadian sebenarnya yang telah terjadi, tapi
tidak diragukan lagi si pelaku mencuri sepatunya pagi ini, saat semua anggota
klub berada di gedung olahraga.
Ada cukup
banyak orang di sini untuk menonton pertandingan hari ini. Penggemar tim lawan,
dan anak-anak seperti Kaito dan aku. Balkon penonton penuh. Tapi ini masih
periode pra-ujian, dan klub sekolah pada dasarnya sedang libur. Sekolah
sebagian besar kosong, tidak seperti kebanyakan akhir pekan saat kegiatan klub
berjalan. Jika ada yang berkeliaran di sekitar sekolah membawa sepasang sepatu
basket berukuran besar... itu akan terlihat sangat mencurigakan. Jika tujuannya
hanya untuk mengganggu Yuzuki, yang perlu mereka lakukan hanyalah menjauhkan
sepatu itu darinya sampai pertandingan dimulai. Mereka tidak benar-benar butuh
tempat persembunyian paling canggih di dunia untuk melakukan itu.
Pasti di
suatu tempat yang dekat, di suatu tempat yang mudah diakses, tapi di suatu
tempat yang tersembunyi dari pandangan...
Aku mencoba
menempatkan diriku di posisi si pencuri, mencoba melihat sesuatu melalui mata
mereka.
Tidak ada
tempat persembunyian yang jelas di sekitarnya. Melompati pagar dan kabur akan
menjadi solusi termudah. Tapi itu berisiko ketahuan oleh warga lokal—atau lebih
buruk lagi, oleh guru. Namun, jika bergerak melewati gedung, si pencuri selalu
bisa memberikan alasan bagus atas apa yang mereka lakukan. Kecuali jika mereka
berpapasan langsung dengan seseorang dari tim basket putri itu sendiri.
Tapi di
mana para anggota tim basket putri berada? Di gedung Gym 1 yang
berdekatan, tentu saja. Tapi
salah satu dari mereka bisa saja meninggalkan gedung olahraga kapan saja,
karena alasan apa pun. Berpikir secara psikologis, si pencuri akan ingin
menghindari area dekat gedung olahraga.
Jadi itu menambah
daftar tempat-tempat yang tidak akan dikunjungi si pencuri. Aku tidak bisa
bilang kalau aku memahami pikiran kriminal, tapi jenis sepatu basket yang
disukai oleh Yuzuki dan gadis-gadis lain di tim... harganya cukup mahal.
Jika si pencuri
tertangkap membawa sepatu curian, sekolah bahkan mungkin akan melapor ke
polisi. Mereka tidak akan dilepaskan begitu saja dengan peringatan karena
melakukan keisengan. Si pencuri perlu menimbang manfaat dari mengganggu Yuzuki
dibandingkan dengan potensi kerugian karena mendapat masalah serius bagi diri
mereka sendiri.
Oleh karena itu,
hal terbaik yang bisa dilakukan adalah meninggalkan sepatu itu di suatu tempat
yang akan mudah ditemukan Yuzuki setelah pertandingan hari ini.
Jika ada yang
menemukan sepasang sepatu basket tergeletak di sekitar sekolah, tidak diragukan
lagi mereka akan mengembalikannya ke ruang klub basket. Jika sepatu itu
ditemukan, si pelaku akan bebas dari tuduhan pencurian yang sebenarnya.
Aku masuk
ke dalam peta pikiran mental tentang tata letak sekolah. Apa yang ada di seberang Gym 1?
…Di sana. Pasti
di sana. Tempat itu memenuhi semua kriteria yang baru saja kususun di
pikiranku. Tempat yang masih belum kuperiksa.
◆◇◆
"Yuzukiii!"
Seorang pemuda
datang menerobos pintu gedung olahraga, berteriak sekuat tenaga. Tim tamu baru
saja mencetak angka, dan ada jeda singkat dalam pertandingan, di mana semua
orang menoleh untuk melihatnya.
Pria itu jelas
bukan anggota tim, namun dia bersimbah keringat dan mengacungkan sepasang
sepatu basket. Dia juga tampak berlumuran tanah di beberapa bagian, dan ada
daun kering di rambutnya.
"Time out!"
Ibu Misaki meminta waktu istirahat.
Yuzuki datang
berlari menghampiri.
Aku menyodorkan
Nike biru dengan logo putih itu ke tangan Yuzuki dan dengan cepat memeriksa
skornya. Lalu, dengan nada ironi yang kental dan seringai kecut, aku berbicara.
"Wah,
kalian benar-benar sedang dihajar ya?"
Aku
menyandarkan punggungku ke dinding dan merosot ke lantai.
Mereka
berada di awal kuarter terakhir. Skor tim tamu adalah delapan puluh delapan,
dan SMA Fuji delapan puluh. Gadis-gadis itu jelas telah berjuang dengan gagah
berani melawan tim yang jauh lebih baik, tapi dengan sisa waktu yang ada,
kemenangan tampaknya sulit diraih.
Yuzuki
berjongkok di depanku, mendekap sepatu basketnya di lengannya. Aku melihat
keringat yang berkilauan di lengan atasnya yang terbuka, tapi aku tidak punya
waktu untuk mengagumi itu sekarang.
"Pfft… Ha-ha-ha!!!"
Yuzuki mengulurkan tangan dan mengacak-acak rambutku yang
basah kuyup oleh keringat, tertawa setengah histeris.
"Saku, ada daun yang tersangkut di rambutmu! Dan
rambutmu jadi lepek dan berantakan karena keringat. Dan apa yang terjadi dengan
lututmu? Semuanya lecet! Pah-ha-ha!"
"Kupikir aku akan mengubah karakterku. Memilih gaya
'pria liar dan kotor', tahu."
"Hei! Jika kau sudah punya sepatunya, cepatlah
bergerak." Suara Ibu Misaki
terdengar menghampiri kami.
Sambil masih
tertawa tertahan, Yuzuki mengganti sandalnya dengan sepatu basketnya, menarik
talinya hingga kencang. Menjepit ikat rambut dari pergelangan tangannya di
antara bibirnya sejenak, dia menarik rambutnya ke belakang menjadi kuncir kuda
dan mengikatnya.
"Nana, Umi,
apa kita sudah siap? Mari kita tunjukkan pada orang-orang bodoh itu apa
kemampuan kita."
""Tentu
saja!""
Yuzuki dan Haru
keduanya berteriak membalas dengan suara ceria, menanggapi dorongan Ibu Misaki.
Nana dan Umi—itu pasti nama lapangan mereka. Aku dengar beberapa tim memberi
pemain mereka nama panggilan berdasarkan candaan internal dan semacamnya, tapi
Nana untuk Nanase dan Umi untuk Aomi terdengar cukup sederhana. Itu cocok
dengan gaya Ibu Misaki.
Yuzuki menatap
papan skor sejenak sebelum berbalik dan menyeringai padaku, terlihat seolah dia
sedang dalam suasana hati yang sangat baik.
"Lihat ini,
Saku. Aku akan menunjukkan kepadamu beberapa kemampuan serius.
Mudah-mudahan."
Lalu Yuzuki
berlari kembali ke lapangan.
Haru menoleh ke
arahku dan memberiku jempol besar, lalu berlari dengan langkah yang gesit.
Aku menyadari
bahwa Ibu Misaki sedang menatapku dengan tatapan tenang.
"Maaf, aku
seharusnya menonton dari lantai dua; Anda benar."
Saat aku
beranjak berdiri, dia mengangkat tangan untuk menghentikanku. "Nana berhutang budi padamu. Kau
duduk saja di sana dan tontonlah."
"Terima
kasih. Omong-omong, aku benci harus meminta lebih banyak bantuan, tapi apakah
Anda pikir anggaran klub basket putri bisa digunakan untuk perbaikan pagar
tanaman?"
Kembali ke topik
sepatu basket Yuzuki sejenak. Tempat terakhir yang kuperiksa adalah lapangan
panahan di dekat gedung olahraga. Lapangan panahan dikelilingi oleh pagar
tanaman tinggi untuk menghindari gangguan visual yang mungkin mengalihkan
perhatian para pemanah, dan pagar tanaman itu begitu tebal sehingga kau hampir
tidak bisa melihat menembusnya, bahkan jika kau berdiri tepat di sampingnya.
Bahkan selama
periode ujian, klub panahan tetap akan melakukan latihan pagi, jadi pada Senin
pagi, sepatu apa pun yang disimpan di sana pasti akan ditemukan. Ya, lapangan
klub panahan adalah tempat persembunyian yang memenuhi setiap kriteria yang
telah kutentukan.
Masalahnya
adalah, bagaimana cara masuk ke dalam?
Si pencuri bisa
saja dengan mudah melemparkan sepatunya melewati pagar tanaman, tapi gerbang
untuk mengakses lapangan itu sendiri terkunci. Satu-satunya cara untuk
memeriksa bagian dalam sendiri adalah dengan menerobos masuk melalui pagar
tanaman.
Aku merasa stres
dan kehabisan waktu, jadi aku berhenti berpikir terlalu keras dan langsung
memaksa masuk melalui pagar tanaman seperti pelantak manusia. Dan beginilah
jadinya.
"Kau
benar-benar berharap klub basket yang membayar?"
"Kurasa
tidak..."
"Hmm... Tetap saja..." Ibu Misaki tersenyum tipis.
"Mari kita pura-pura tidak tahu
saja, ya?"
Ini jelas
merupakan belas kasihan yang besar, datang darinya.
"Jadi yang
mana orangnya, Nana atau Umi?"
"Jadi Anda
orang lain yang menanyakan pertanyaan canggung itu padaku, ya?"
◆◇◆
Pertandingan
dimulai sekali lagi.
Saat aku
mengamati kedua tim lagi, semakin jelas bahwa para pemain tim lawan memiliki
keunggulan tinggi badan yang serius. Bahkan Yuzuki, gadis tertinggi di kelompok
kami, akan menjadi yang terpendek jika dia, entah karena alasan apa, bergabung
dengan tim lawan. Anggota
tim basket kami yang lain semuanya pendek-pendek, termasuk Haru.
Meskipun
begitu, SMA Fuji menunjukkan tingkat penguasaan bola yang tinggi.
Dan
Yuzuki berada tepat di pusat segalanya. Dari sudut pandang orang awam
sepertiku, dia memiliki kendali mutlak atas bola, cukup untuk membuatmu
merinding, dan dia menghindari pemain lain sambil memindai dengan tajam mencari
seseorang yang bebas. Lalu,
ketika dia melihat kesempatan, dia akan memberikan operan yang mengejutkan.
Rasanya seperti dia memiliki penglihatan 360 derajat atau semacamnya.
Haru ada di sana
untuk menangkap setiap operan, yang seolah-olah dilemparkan dengan maksud untuk
meninggalkan bukan hanya tim musuh tapi tim kami sendiri di belakang. Dia
melesat dan meluncur di seluruh lapangan.
Haru menunjukkan
kecepatan dan ketangkasan yang sudah sering kulihat, dengan apik merajut
jalannya melewati pertahanan dan dengan ringan membidik keranjang. Dia lebih
menyukai layup di tengah aksi—dan tembakan jarak menengah. Dia tidak
pernah membiarkan dirinya terbuka, bahkan untuk satu nanodetik pun.
Haru
mencetak angka lagi menggunakan teknik layup-nya.
"Chitose! Bagaimana menurutmu, hah?"
Bodoh. Fokus pada pertandingan.
Haru memberiku tanda kemenangan dengan jarinya sementara aku
melambai acuh tak acuh.
Berkat tim impian Yuzuki dan Haru, skor sekarang terbaca: VISITORS:
94, FUJI HIGH: 88. Mereka telah berhasil memperkecil jarak secara
signifikan, tapi hanya tersisa tiga menit. Berdasarkan perbedaan tingkat
keahlian yang terlibat, kemenangan dramatis tampaknya merupakan kemungkinan
yang kecil.
"Chitose,
apakah ini pertama kalinya kau melihat Nana bermain?" Ibu Misaki tiba-tiba
bertanya padaku.
"Uh, tidak,
aku sudah datang menonton beberapa kali latihan untuk menyemangati Haru juga.
Tapi harus kuakui, gaya permainan yang tenang, terkumpul, dan sangat akurat
yang dia tunjukkan hari ini benar-benar memberikan kesan yang mendalam."
"Kau masih
belum tahu apa-apa tentang dia kalau begitu. Dia tidak seperti Umi, yang menginjak gas
dalam-dalam sepanjang waktu. Nana selalu menjaga dirinya tetap terkendali. Dia
selalu berpikir tentang bagaimana membawa dirinya di lapangan untuk mendukung
Umi dan anggota tim lainnya."
Ibu
Misaki berhenti bicara saat itu, membentuk pistol dari ibu jari dan dua
jarinya, lalu menempelkannya ke pelipisnya.
"Tapi
terkadang... dia menjadi liar."
Tepat
saat Ibu Misaki mengatakan itu, Haru mengejar bola dan memotong jalurnya saat
seorang anggota tim lawan sedang mengoper bola.
"Nana!"
Skreeek.
Stamp.
Nike
putih-biru milik Yuzuki mencit di lantai, dan dia menyambar bola dari luar
garis tiga angka.
Fwoosh.
Yuzuki melempar
bola dengan satu tangan, persis seperti laki-laki, dan bola itu masuk ke
keranjang tanpa suara. Aku tidak punya waktu untuk terpesona. Tim lawan segera
memulai serangan balasan yang sengit. Tembakan liar lainnya dilepaskan dari
garis tiga angka, dan Haru kembali merebut penguasaan bola.
Dia
melesat di lapangan bagaikan kilat, mendribel bola sambil merendahkan tubuh.
Dia berhenti mendadak, melakukan gerakan tipu untuk melewati lawan, dan
mengulanginya beberapa kali lagi. Tidak ada yang bisa menandinginya.
Dia
memberikan operan pendek yang mudah, lalu menyelinap di bawah ring lawan dan
melompat lebih tinggi dari yang bisa dibayangkan dari seorang gadis
seukurannya.
Namun center
tim lawan, yang sudah menjaganya dengan ketat sepanjang waktu, memblokirnya.
Haru mencoba melakukan double clutch, namun lompatan pemain lawan
bertahan lebih lama daripada lompatannya.
"Umi!"
"Nana!"
Hampir
kehilangan keseimbangan di udara, Haru memutar tubuhnya dan melemparkan operan
keras ke luar garis tiga angka.
Fokus
Yuzuki sudah terkunci sepenuhnya pada ring.
Skreech.
Stamp.
Bola
sudah berada di tangannya, dan Yuzuki melompat tanpa keraguan.
Fwoosh.
Bola
masuk dengan mulus melewati jaring.
Skor sekarang menunjukkan VISITORS: 94, FUJI HIGH: 94.
Kedudukan benar-benar seri.
Ibu Misaki
meletakkan tangannya di bahuku.
"Bagaimana
menurutmu tentang gadis-gadis kami? Tidak buruk, kan? Kau juga punya darah
atlet yang mengalir di nadimu, bukan, Chitose?"
"Apa
maksud Anda, Bu Guru? Aku hanyalah mantan anggota klub bisbol rendahan."
Tim lawan tampak
mempercepat tempo permainan mereka.
Pertahanan SMA
Fuji mencoba mati-matian menahan mereka, namun mereka terlalu kuat. Salah satu
dari mereka berhasil melakukan layup.
Kini mereka
unggul dua poin. Dengan waktu tersisa hanya sekitar tiga puluh detik.
"Sini, ambil
kalau bisa!!!"
Haru menerobos
lini depan, bertukar operan pendek dengan rekannya, menunjukkan semangat juang
yang membara.
Namun pertahanan
tim lawan sangat kokoh, dan Haru tidak bisa bebas untuk menembak.
Terhalang
untuk melepaskan tembakan di depan ring, Haru berputar balik.
"Selesaikan
ini, Nanaaa!"
Bola
melesat melewati garis tiga angka seperti peluru, namun Yuzuki lebih cepat.
Dia
menyambar bola itu.
Skreek.
Fwoosh.
Yuzuki
sudah melayang di udara.
Dia
tampak seperti kelopak bunga sakura yang berputar tertiup angin kencang, lebih
dari sekadar seorang gadis manusia.
Momen itu terasa
indah sekaligus fana.
Yuzuki
benar-benar tenang.
Dua anggota tim
lawan mati-matian mencoba memposisikan diri mereka untuk menghalangi jalur
bola.
Kalian
membuang-buang waktu saja. Momen ini milik Yuzuki seorang.
Fwoosh.
Bola meluncur
dari tangan Yuzuki.
Bel
berbunyi nyaring, menandakan akhir dari pertandingan.
Tidak ada
yang bisa memblokir itu, pikirku.
Dengan
suara desiran samar, bola melengkung di udara membentuk kurva seperti bulan
purnama yang indah, mengikuti lintasan yang seolah-olah sudah dipetakan oleh
bintang-bintang.
Tidak ada
manusia yang seharusnya bisa menyentuh parabola sempurna seperti itu.
Bola
melewati ring, meninggalkan jaring yang berkibar seperti penutupan tirai yang
turun menandai berakhirnya sebuah pertunjukan drama.
Selama
dua atau tiga detik, hanya ada keheningan. Kemudian gedung olahraga meledak
dalam teriakan perayaan dan kekecewaan yang bercampur aduk.
Sang
pemenang tampak terbangun dari keadaan antisipasinya yang membeku dan
membiarkan dirinya rileks, mengepalkan tinjunya sejenak dalam kemenangan yang
sunyi.
Lalu
perlahan, dia berbalik dan menunjuk tepat ke arahku dengan kedua jari
telunjuknya, menyeringai lebar sambil mengedipkan mata.
◆◇◆
"Aku
benar-benar tidak habis pikir denganmu, Saku!"
"Ah,
dengar, aku benar-benar minta maaf."
Aku
memalingkan wajah dari Kaito, yang terus mendesak di depan wajahku.
SMA Fuji
memenangkan pertandingan dengan selisih satu poin. Sekarang kedua tim sedang
melakukan pendinginan. Setelah semua kegembiraan berakhir, aku baru ingat kalau
Kaito ada. Aku sempat meneleponnya sebentar, tapi sudah terlambat untuk
melarikan diri dari amarahnya.
"Aku
berlari berkeliling sekolah tanpa henti sampai kau meneleponku...!"
"Ya.
Kau pria yang bisa diandalkan, Kaito. Aku akan mentraktirmu semangkuk ramen Hachiban kapan-kapan, jadi lepaskan
aku kali ini. Oh, dan pastikan kau merapikan semua tempat sampah yang kau
acak-acak tadi. Jangan lupa kembali dan tutup semua pintu loker yang kau
periksa."
"Ah, yang
benar saja!"
Kami sedang duduk
di bangku di luar gedung olahraga, meminum botol Pocari yang dibagikan Ibu
Misaki sambil bersenda gurau, ketika Atomu berjalan melewati kami.
"Tunggu
sebentar, Kaito."
Aku bangkit dan
berlari kecil mengejar Atomu, yang sedang menuju gerbang sekolah.
"Yo. Kencan
akhir pekan di sekolah, ya? Modern sekali."
"Apa? Ugh,
ternyata kau, Chitose. Jangan bicara padaku, Bung," gumam Atomu dengan
nada gelap.
"Ayolah,
jangan begitu. Aku tidak tahu kalau kau penggemar bola basket."
"Bukan aku.
Tapi Nazuna. Dia dulu anggota klub basket. Sepertinya dia cukup hebat
dulu. Katanya dia ingin melihat
bagaimana tim kita melawan sekolah itu."
Huh. Dia penuh
dengan kejutan. Aku benar-benar tidak menyangka dia tipe gadis yang suka
olahraga.
"Lalu di
mana Nazuna?"
"Dia tidak
suka cara tim kita menang tadi. Dia sudah pergi tepat setelah pertandingan
selesai. Katanya dia tidak mau melihat reaksi Nanase."
"Hmm, ya,
aku bisa mengerti kenapa itu bakal merepotkan."
"Ya. Melihat
orang lain berhasil sesukses itu sulit untuk diterima."
Atomu seolah-olah
sedang berpikir keras dengan suara nyaring. Lalu dia cepat-cepat memalingkan
wajah, seolah merasa malu. Aku memutuskan untuk mengalihkan topik.
"Boleh aku
tanya satu hal lagi, Bung? Kau punya teman di SMA Yan?"
"Hah? Tidak,
tidak punya."
"Bagaimana
dengan Nazuna?"
"Sialan.
Baiklah. Ya, dia pernah menyebutkan punya teman yang sekolah di sana
sekali."
"Begitu ya.
Terima kasih. Aku sempat berselisih dengan beberapa anak SMA Yan tempo hari.
Jadi mereka terus mengusik pikiranku sejak saat itu."
"Kau
berhenti main bisbol cuma untuk berkelahi? Kau benar-benar luar biasa."
Jangan
berpikir yang aneh-aneh.
"Maaf
menyita waktumu. Sampai jumpa di sekolah minggu depan."
Atomu
mendengus sebelum keluar dari gerbang sekolah.
Masih
terlalu banyak kepingan yang hilang, pikirku.
◆◇◆
Kaito dan
aku berkeliling sekolah untuk merapikan semuanya bersama, tapi Kaito pergi
lebih awal, katanya dia ingin pergi latihan beban. Apakah berlarian mencari
sepatu basket dianggap sebagai pemanasan baginya? Pria itu memang kuat; aku
harus mengakuinya.
Karena
kelelahan dan benar-benar lemas, aku pergi berbaring di bangku terdekat dan
baru saja hampir terlelap ketika aku merasakan sesuatu yang dingin ditempelkan
ke leherku.
"Dingin!"
Terkejut oleh
sentuhan membeku itu, aku melonjak bangun. Haru berdiri di sana memegang es
lilin jenis Chupet yang ada di dalam tabung plastik yang bisa dipatahkan
menjadi dua untuk dibagikan. Dia sedang mengisap setengah bagian sementara
menyodorkan setengah lainnya padaku.
"Kerja bagus
hari ini, Chitose."
Lalu Haru
menjejalkan setengah bagian Chupet lainnya ke dalam mulutku.
Rasa buah dari
jajanan masa kecil yang akrab itu mengalir di lidahku. Dulu saat masih kecil,
aku sering membeli ini di toko permen untuk dibagi dengan teman.
"Kerja bagus
juga buatmu. Dari mana kau dapat ini?"
"Orang tua
murid yang membagikannya."
"Di mana
Yuzuki?"
"Dia bakal
sedikit lebih lama, kurasa. Dia jadi agak bersemangat di akhir tadi. Dia mungkin sedang menenangkan
diri sejenak."
Ekspresi
Haru tampak lucu bagiku, dan aku tidak bisa menahan tawa.
Aku
menegakkan tubuh dan duduk dengan benar di bangku. Haru ikut duduk di sampingku tanpa ragu sedikit
pun. Dia menendang sepatunya, melepas kaus kakinya, dan duduk bertelanjang kaki
dengan lutut ditarik ke dagu.
Celana basketnya
tersingkap, memperlihatkan paha yang masih kemerahan.
Untuk mengalihkan
perhatianku dari pemandangan itu, aku mulai berbicara.
"Kau dan
Yuzuki sama-sama luar biasa. Aku sudah lama tidak menonton pertandingan, tapi
kalian berdua berada di dimensi yang benar-benar berbeda."
Haru terkekeh,
masih mengisap Chupet-nya.
"Yuzuki
memang selalu hebat, tentu saja, tapi hari ini dia masuk mode dewa. Dalam
kondisi seperti itu, melawan tim sekuat itu... dia berhasil memasukkan tiga
tembakan berturut-turut? Dan yang terakhir itu praktis dari garis tengah
lapangan. Biasanya, kau tidak akan pernah bisa melakukan tembakan dari lokasi
itu di detik-detik terakhir pertandingan."
"Yah, banyak
hal yang dipertaruhkannya. Dia pasti sangat menginginkan kencan denganku
besok."
"Bukan,
bodoh, kau salah besar." Haru merangkul bahuku dan mendekatkan wajahnya ke
wajahku. "Itu
karena seseorang bertindak sangat di luar karakternya, dengan cara yang
dramatis. Yang membuat seseorang yang lain juga ingin bertindak di luar
karakter."
Haru menyandarkan
kakinya di atas pahaku seolah ingin mengatakan, "Ini semua karena kau dan
tindakanmu."
Dia melepas ikat
rambutnya, membiarkan kuncir kuda pendeknya terurai bebas. Menggunakan handuk
olahraga yang tersampir di lehernya, dia membuat bantal untuk dirinya sendiri
di bangku dan berbaring.
"Nona Haru,
ada apa ini?"
"Tidak
apa-apa; nikmati saja kesempatannya."
"Tapi
kenapa?"
"Karena aku
sangat lelah karena harus mengimbangi Yuzuki, yang sudah kau buat
bersemangat."
Meskipun begitu,
itu bukan alasan untuk mengharapkan pijatan dari teman pria.
Hmm, apa yang
harus kulakukan?
Selagi aku
bimbang, Haru bangkit duduk dan menyenggol bahuku.
"Ada apa?
Jadi gugup karena Haru yang seksi?"
"Baiklah.
Kau sendiri yang memintanya." Aku menyambar kaki mungilnya dan mulai
memijatnya dengan sekuat tenaga.
"Aduh!
Sakit, sakit, sakit! Jangan kasar-kasar!"
"Jangan
malu-malu! Aku justru sedang mengapresiasi di sini!"
"Aduuuh! Itu
sakiiit!!!"
Setelah bergelut
tarik-ulur untuk beberapa saat...
"Ahhh!
Kukira aku bakal mati. Tapi..." Haru melompat ke tanah, meskipun
dia bertelanjang kaki, dan melonjak-lonjak beberapa kali. "Kurasa kakiku terasa sedikit lebih
ringan."
"Tentu saja.
Kau pikir aku memijatmu asal-asalan?"
Haru mengangguk
puas, lalu menjatuhkan dirinya kembali ke bangku dan meregangkan kakinya dengan
santai.
"Chitose,
jika sepatu basketku yang hilang, apa kau bakal mencarinya dengan cara yang
sama?"
"Kenapa
tiba-tiba tanya begitu?"
"Tidak ada
alasan khusus, sih. Cuma ingin tanya saja."
"Hmm, mari
kita lihat. Kalau itu kau, aku mungkin bakal bilang, 'Hal sepele begitu tidak
boleh membuatmu lambat! Aku pergi menonton pertandingannya dulu ya!' ...Atau
semacamnya."
"Begitu
ya..."
Haru terdengar murung secara tidak terduga. Aku melirik ke arahnya.
Dia
menunduk, membiarkan rambutnya tergerai dan menyembunyikan wajahnya dari
pandanganku.
"Meski
begitu...," lanjutku, seolah-olah sedang mencari alasan. "Jika Yuzuki memintaku untuk
memijatnya, aku mungkin tidak akan melakukannya. Itu hanya untukmu, Haru."
Haru mengangkat
kepalanya dan menatapku.
"Kenapa?"
"Dia terlalu
menarik. Aku tidak akan tahu harus meletakkan tanganku di mana."
"...Apa?
Hei, tunggu dulu, apa maksudnya itu?!"
Sesaat kemudian,
Haru kembali ke dirinya yang biasa, dan kami berdua mengobrol ke sana kemari
sambil aku terus menunggu Yuzuki.
◆◇◆
Klub basket
langsung bubar setelah merapikan tempat pascapertandingan, jadi Yuzuki, Haru,
dan aku memutuskan untuk pergi ke Hachiban Ramen. Aku memesan menu biasaku, ramen pedas dengan
ekstra daun bawang dan nasi goreng sampingan. Yuzuki memesan ramen sayur rasa
garam, dan Haru memesan set-A, ramen sayur tonkotsu porsi ekstra besar dengan
gyoza dan nasi putih.
"Hei,
Saku, apa pendapatmu tentang kasus hilangnya sepatu basket tadi?"
Setelah
kami selesai memesan, Yuzuki langsung masuk ke pokok persoalan. "Ini hanya
tebakanku, tapi aku tidak percaya pelakunya benar-benar seseorang dari SMA
Yan."
Aku
mengutarakan pikiranku, hal yang sudah kurenungkan sepanjang sore tadi.
"Sebagai
argumen, katakanlah mereka berhasil meminjam seragam SMA Fuji untuk tujuan
infiltrasi. Kejahatan itu tetap akan sulit dilakukan dengan begitu rapi.
Maksudku, lapangan panahan bukanlah jenis tempat yang akan langsung terpikirkan
oleh orang luar sekolah. Tapi mereka tidak hanya menargetkan kerentanan tepat
dari klub basket, mereka juga menunjukkan pengetahuan mendalam tentang
fitur-fitur khusus dari kampus SMA Fuji."
Yuzuki
tidak diragukan lagi telah mencapai kesimpulan yang sama. Dia mengangguk, tampak berpikir keras. Haru ikut
menyela percakapan saat itu.
"Jadi
maksudmu penguntit itu bisa saja seseorang dari sekolah kita?"
"Tidak juga.
Aku punya firasat saat aku berselisih dengan mereka tempo hari, tapi sekarang
aku benar-benar berpikir kalau anak-anak SMA Yan terlibat dalam hal ini entah
bagaimana caranya. Mungkin mereka punya kaki tangan—atau lebih tepatnya,
mungkin mereka memaksa orang lain untuk melakukan pencurian sepatu itu."
Yuzuki memikirkan
hal itu sejenak. "Kalau begitu, itu berarti pencuri sebenarnya bisa siapa
saja di SMA Fuji, selain kita, maksudku. Itu sama saja dengan tidak menemukan
informasi sama sekali."
Tepat sekali.
Itulah sebabnya aku sendiri tidak mengungkit subjek ini sebelumnya.
Jika kami
mengejar sudut pandang kaki tangan, siapa pun itu bisa mengaku telah dipilih
secara acak dan diancam, yang tidak akan membawa kita pada kesimpulan apa pun.
Jika saja kita bisa menangkap mereka basah, mungkin ceritanya akan berbeda.
Tapi sesuatu seperti menargetkan ruang klub basket putri adalah jembatan
berisiko yang tidak akan berani diseberangi oleh siapa pun untuk kedua kalinya.
Kami bisa
mengintai satu area, seperti rumah Yuzuki, dan mengawasinya, tapi kami tidak
tahu jam berapa penguntit itu suka beraksi. Kami mungkin mengawasi rumah itu
sepanjang malam, sementara si penguntit tidur nyenyak dan kemudian melakukan
serangan tengah malam. Kami tidak bisa berbuat apa-apa soal itu.
"Ayase dan
Uemura ada di sana tadi, kan?"
Haru berbicara
dengan santai, seolah-olah ini tidak memiliki signifikansi nyata. Ternyata,
Nazuna dan Atomu telah menonton pertandingan dari balkon penonton dari awal
hingga akhir.
"Huh?"
Yuzuki tampak menganggap hal ini menarik. Tentunya si pencuri sepatu tidak akan
cukup sombong untuk tetap tinggal dan menonton pertandingan, untuk menikmati
hasil kerja keras mereka?
"Aku tidak
ingat, tapi apakah mereka berteman dengan siapa pun dari grup kita?"
"Tidak,
setidaknya setahuku tidak. Bagaimana denganmu, Chitose? Apa kau bicara dengan
salah satu dari mereka?"
"Kau pikir
jadwalku hari ini luang untuk itu?" Aku mencoba mengalihkan perhatian
mereka sedikit. Memang
benar aku tidak berbicara dengan Nazuna, tapi aku sempat bicara dengan Atomu.
Namun, aku bukan tipe orang yang suka mengulang hal-hal yang orang lain
ceritakan padaku begitu saja.
Tepat saat itu,
ramen kami tiba, dan pembicaraan secara alami beralih ke makanan.
"Chitose,
beri aku sedikit mi dan nasi gorengmu." Haru mengulurkan tangan ke arah baki makananku.
"Tentu, tapi
kau sendiri punya nasi. Seberapa banyak sebenarnya kau berencana makan?"
"Sudah lama
sejak kita menjalani pertandingan yang begitu intens! Aku benar-benar kehabisan bensin, dan butuh
pengisian bahan bakar! Sini,
kau boleh minta ramen tonkotsuku. Ambil gyoza-nya juga."
Haru menggeser
mangkuk ramennya ke arahku dengan sumpit dan sendok sup Tiongkok yang masih ada
di dalamnya. Aku memberinya mangkuk mi pedasku, lengkap dengan sumpit dan
sendok berlubang milikku untuk menyaring bahan-bahan yang padat.
Aku menyeruput
ramen tonkotsu itu, sambil berpikir dalam hati bahwa pilihan ramen sayur yang
biasa tidaklah terlalu buruk sesekali. Haru, seperti biasanya, menyeruput mi
pedas dalam jumlah besar, lalu... mulai tersedak.
"Uhukk!
Uhukk! Chitose! Kau menaruh terlalu banyak cuka di sini! Dan terlalu banyak
minyak cabai!"
"Tapi itulah
yang membuatnya enak."
"Hmm...
Rasanya pedas menyiksa, tapi aku bisa mengerti daya tariknya sekarang..."
"Berapa
banyak yang kau rencanakan untuk makan di sini?"
Yuzuki
memperhatikan kami berdua, satu alisnya terangkat tinggi, seolah dia tidak
merasa terhibur.
"Apa itu?
Oh, kau mau juga, Yuzuki?"
Haru mulai
mendorong piring mi pedas itu ke arah Yuzuki, tapi Yuzuki mendorongnya kembali.
"Terima kasih, tapi tidak usah."
"Oh, kupikir
mungkin kau kesal karena aku baru saja memakai sumpit dan sendok Chitose."
"Aku bukan
anak sekolah dasar, tahu."
"Aku
sebenarnya baru saja mendapatkan pijat kaki dari Chitose tadi!"
"...Jelaskan.
Secara mendalam."
Aku melihat
mereka berdua beradu argumen, merasa agak nyaman. Keduanya jelas adalah rekan,
dan bukan hanya di lapangan saja.
Mengesampingkan
kepribadian Haru sejenak, Yuzuki setidaknya adalah seseorang sepertiku,
seseorang yang suka menjaga batasan yang ketat.
'Aku akan
melangkah sejauh ini dengan orang ini. Sedikit lebih jauh dengan orang yang
lain. Seberapa banyak sisi diriku yang harus kutunjukkan? Sisi kepribadian mana
yang harus kulepaskan?' Aku menjalani hidupku dengan banyak memikirkan hal-hal
seperti itu. Kami berdua begitu. Dan kami berdua membutuhkan pasangan yang bisa
menerima hal itu.
Aku
memperhatikan Yuzuki, yang tampak sangat santai di sekitar Haru. Itu membuatku
merasa nyaman juga, dan ada semacam perasaan bahagia di dalam hati.
"Jadi,
ke mana kalian berdua akan pergi berkencan?"
Haru
tiba-tiba merusak momen kedamaian kontemplatifku. Aku sudah menyebutkan kencan
kami kepada Haru sebelumnya, jadi aku tidak terlalu terkejut dia mengungkitnya
sekarang, tapi ternyata Yuzuki belum menceritakannya.
Aku merasakan
tatapan tajam tertuju padaku. Haru bersikap seolah-olah Yuzuki pergi berkencan
denganku besok adalah hal yang sudah sewajarnya, jadi aku berasumsi saja Yuzuki
sudah membicarakannya dengannya.
Kesalahanku,
sungguhan.
"Itu bukan
kencan. Itu bagian dari pertunjukan, untuk menjual kesan bahwa kami adalah
pasangan; itu saja." Yuzuki bergegas menjelaskan segalanya kepada Haru.
Sangat menarik
melihatnya begitu gugup. Aku memutuskan untuk menantangnya.
"Maaf? Kudengar kau yang ingin pergi
berkencan denganku."
Hei!
Jangan lempar serbet basah itu padaku!
"Kau
tahu, Yuzuki..." Haru menyeringai. "Kau jauh lebih seperti gadis
normal daripada yang kau sadari."
"Apa
maksudnya itu?"
"Persis
seperti yang kukatakan, apa lagi?"
Yuzuki menggaruk
kepalanya seolah sedang berpikir dalam. Lalu dia mengangguk mantap dan berbicara lagi.
"Haru, apa kau yakin ini yang kau inginkan? Asal kau tahu saja, aku tidak
akan menahan diri, bahkan jika itu kau. Aku juga tidak akan memberimu
keringanan jika kau tidak bisa mengimbangi."
"Aku tidak
terlalu mengerti maksudmu, tapi ayo maju sini. Aku tidak akan membiarkan diriku
dikalahkan oleh gadis yang butuh meminjam kekuatan pria hanya untuk menjadi
bersemangat."
"Dan aku
tidak akan membiarkan diriku dikalahkan oleh gadis yang tidak akan pernah bisa
meminjam kekuatan pria bahkan jika nyawanya bergantung pada hal itu."
Aduh, sarung tinju benar-benar sudah dilepas di sini. Aku bangkit dari tempat duduk
sepelan mungkin dan menuju ke kamar mandi.
◆◇◆
Clack,
clunk, clank.
"Seranganmu
juga sangat tidak berjiwa, Haru! Hyah!"
Clack,
clunk.
"Yah,
kau selalu mencoba terlalu presisi dalam segala hal, Yuzuki, yang berarti kau
berpikir terlalu lambat! Hyuh!"
Clink. Clank. Clatter. Clack.
"Whoo-hoo!"
"Gahhh!!!"
Swoosh. Clunk. Clatter, clatter, clatter.
"Aw yeah!!! Aku menang!"
"Haru.
Satu ronde lagi."
...Bagaimana kita
bisa berakhir di sini?
Awalnya aku hanya
berencana untuk bermain melawan Haru dan menyelesaikan urusan dari terakhir
kali, tapi tanpa kusadari, kami semua berakhir bermain Air Hockey di
arkade. Lalu, ketika aku kembali dari kamar mandi, aku terjerumus ke dalam...
ini.
Mereka bahkan
tidak membiarkanku bermain. Aku rupanya hanya ada di sini sebagai penonton.
Termasuk
kemenangan terbaru, Haru memimpin dengan tiga kemenangan berbanding dua
kekalahan. Sejak mereka mulai bermain, dia menolak membiarkan Yuzuki memimpin.
Dia memang
diberkati dengan refleks alami yang cepat, tentu saja, tapi Haru memberikan
kesan hanya fokus pada gawang. Pada dasarnya, dia tidak punya konsep pertahanan
dan memperlakukan memblokir tembakan lawan hanya sebagai kesempatan untuk
mencuri puck dan melakukan tembakannya sendiri.
Yuzuki adalah
kebalikannya. Dia memblokir setiap tembakan yang mendekati wilayahnya dan
mempertimbangkan waktu terbaik untuk tembakannya sendiri, menggunakan dinding
samping meja hoki udara sebagai penyangga strategis untuk memantulkan tembakan
yang sudah dihitung secara triangulasi dengan cermat.
Haru berhasil
memasukkan sekitar sepuluh tembakan dari setiap tiga puluh percobaan yang dia
lakukan. Yuzuki memasukkan delapan tembakan dari setiap sepuluh percobaan yang
dia lakukan.
...Begitulah
jenis permainannya. Hai, aku Saku Chitose, di sini hari ini tidak punya
pekerjaan lain selain memberikan komentar olahraga di kepalaku sendiri.
"Chitose."
"Saku."
""Pergi
cari koin lagi.""
"Baik, Tuan
Putri!"
Aku kembali
dengan segenggam koin seratus yen dan memasukkan satu ke dalam mesin. Yuzuki
sedang memimpin saat aku pergi tadi, tapi sekarang Haru yang unggul.
Saat puck
berdentang ke sana kemari, Haru angkat bicara.
"Hei,
Nana-Yuzuki? Mau taruhan untuk yang satu ini?"
Yuzuki fokus pada
puck, kepala menunduk, dan aku tidak bisa melihat wajahnya.
"Tentu,
taruhan macam apa?"
Kami para atlet
memang suka melakukan taruhan olahraga. Aku menyeringai pada diriku sendiri,
lalu Haru mendongak dan menyeringai juga. "Jika Nana memenangkan permainan
ini, aku akan memberinya satu poin ekstra. Dia akan menjadi pemenang secara
keseluruhan, sensasi kebangkitan yang nyata."
"Apa
untungnya buatmu, Umi?"
"Jika aku
menang permainan ini..." Haru mengacungkan pemukulnya. "Aku yang akan
pergi kencan besok menggantikanmu."
Puck masuk.
"Apa...?"
CLUNK. Clatter, clatter, clatter.
Yuzuki lambat bereaksi, dan Haru memasukkan tembakan licik
tepat ke gawang Yuzuki. Perasaanku
mengatakan aku baru saja mendengar sesuatu yang sangat "panas" dan
sulit untuk diabaikan...
Yuzuki
mengambil puck dengan tenang sebelum berbicara.
"Jadi ini
adalah deklarasi perang, karena kita menyebutkan nama lapangan, huh?"
Udara
terasa berat dengan ketegangan, seperti saat pertandingan latihan tadi.
"Benar.
Ini bukan lagi permainan
persahabatan, kita berdua setuju?"
Puck melesat melewati meja, menghindari
tangkapan Haru, dan membentur gawang. Haru mengambil kembali puck itu,
menyeringai nakal.
"Hmm? Merasa
sedikit bersemangat sekarang, ya? Kau pasti benar-benar, sangat menginginkan
kencan dengan Chitose itu."
"Terserahlah.
Aku hanya tidak merasa ingin kalah dari orang sepertimu, Haru."
"Jika kau
benar-benar tidak ingin kalah, tunjukkan padaku wajah seriusmu, Nana."
"Aku
bukan kau, Umi. Aku tidak perlu mengerang dan memaksakan diri untuk
menang."
"Baiklah
kalau itu maumu."
Sambil
menekuk lengannya erat-erat, Haru memukul puck dengan teknik backhand.
"Kau
terus bermain seperti itu, dan kau akan kalah lebih buruk daripada saat itu
yang pernah kusebutkan. Jangan mulai menangis jika itu sampai terjadi,
oke?"
"Waktu
yang mana tepatnya yang kau maksud?"
CLANK.
CLUNK. WHOOSH. CLUNK.
...Apakah
tiba-tiba kita berada di manga olahraga?
"Kau selalu
menahan diri sedikit, Nana! Kau pikir kau begitu jauh di atas semua
orang!"
"Maksudmu
aku berada di luar garis tiga angka?"
"Ya,
ya, baiklah, kau memang hebat hari ini."
"Hanya
menembak liar ke gawang setiap ada kesempatan tidak akan menjamin kemenangan,
tahu... Ugh!"
"Kau
bahkan tidak pernah melakukan tembakan lurus ke gawang seumur hidupmu...
Hng!"
Kemudian
terjadilah reli yang sengit. Ini tidak lagi tampak seperti hiburan arkade yang
sehat dan bersih.
"Hyaaah! Nanaaa!!!"
"Berhenti... main-main... Umiii!!!"
Mereka berdua larut dalam pertukaran geraman dan raungan
tanpa kata yang sengit, sementara nasib kencan besok tergantung pada
hasilnya...
◆◇◆
Clatter, clatter, scuff, scuff. Clip, clop, clunk.
Clatter, scuff, scuff.
Latar belakang kuil itu dipenuhi dengan suara menyenangkan
dari sandal Geta bersol kayu yang berdentang dan berderap. Bilik-bilik
berwarna-warni berjejer rapi di sepanjang jalan, masing-masing melepaskan aroma
yang menggoda dan unik.
Merah, biru, oranye, hijau, dengan pola bulat, segitiga,
persegi. Saat gadis-gadis lewat, ke sana kemari, jubah mereka bermekaran
seperti bunga warna-warni.
Ada warna-warna cerah di mana-mana, mulai dari permen apel
merah yang berkilauan hingga mainan yo-yo cerah yang naik-turun di dalam peti
air.
Orang dewasa memperhatikan dengan penuh perhatian saat
anak-anak berlarian memakai topeng mainan plastik dan mengacungkan pedang
mainan. Mereka memegang bir, dan wajah mereka tampak lebih lembut, lebih ramah
dari biasanya.
Lampion kertas menerangi pemandangan itu, tampak seolah-olah
mengapung dengan halus di atas kerumunan. Dibalut cahayanya, kuil itu
menyerupai desa kecil di buku cerita. Lampion-lampion itu dihiasi dengan
nama-nama bisnis lokal.
Hari itu hari Minggu, sehari setelah pertandingan latihan,
sekitar pukul tujuh tiga puluh malam.
Aku sedang menunggu Yuzuki di bawah gerbang Torii
merah besar yang menandai pintu masuk kuil kecil yang terletak di sekitar SMA
Fuji.
Aku tahu aku menjanjikannya sebuah kencan, dan aku sempat
berpikir untuk mungkin mengajaknya menonton film atau berbelanja di Lpa. Tapi
kemudian aku tahu bahwa mereka sedang mengadakan festival di kuil ini.
Clonk, clop, scuff.
Suara sandal Geta berhenti di depanku.
Aku mengangkat kepalaku, dan waktu seolah berhenti sejenak,
setidaknya bagiku.
Dia mengenakan Yukata putih dengan desain bunga hollyhock
biru cerah dan biru ultramarin yang halus di seluruh bagiannya.
Sabuk Obi-nya berwarna biru tengah malam yang
kontras, dan rambut hitam sebahu miliknya disanggul dengan jepit rambut yang
berornamen.
Tengkuk lehernya terekspos sepenuhnya, dengan cara yang
hampir sensual. Aku tidak yakin apakah dia memakai lipstik, tapi saat dia
tersenyum, bibirnya tampak sedikit lebih merah dari biasanya.
Dia tampil sederhana dan tetap bergaya dengan tenang seperti
biasanya, tapi hari ini Yuzuki juga jauh lebih cantik daripada siapa pun yang
lewat di sana.
Aku sudah menduga dia akan datang dengan mengenakan yukata,
tapi ini jauh lebih spektakuler dari yang bisa kubayangkan.
"Maaf! Aku
membuatmu menunggu sedikit lama hari ini, ya?"
Aku menatap
Yuzuki yang sedikit merona dan masih tersenyum. Untuk alasan yang tidak
kuketahui, aku mulai merasa sangat emosional.
"...Saku?"
Aku mengambil
emosi yang tidak pada tempatnya itu dan melemparkannya ke tempat sampah mental
milikku. Lalu aku angkat bicara dengan nada santai.
"Hmm? Apa
ini? Kau terlihat cukup cantik untuk membuat seorang pria ingin... kau tahu
sendiri."
"Bisakah kau
mencoba memberiku pujian yang lebih tulus dari itu?"
"Di
saat-saat seperti ini, aku benar-benar bertanya-tanya apakah kau memakai
sesuatu di balik pakaian itu..."
"Dengar
ya..."
Yuzuki menghela
napas seolah kesal sesaat, lalu dia menjadi ceria dan, dengan tatapan menggoda
di wajahnya, dia mencengkeram kerah yukata-nya.
"Jika kau
begitu penasaran, apa kau mau melihatnya sendiri?"
"Aku
menyerah, aku menyerah. Kau menang. Sebelum kita mulai menggoda dengan serius,
mari kita bersikap sopan dan pergi makan permen apel atau semacamnya."
Aku mulai
berjalan, tetapi Yuzuki menahanku. "Tunggu sebentar." Dia melangkah
mundur dua atau tiga langkah dengan suara sandal yang berderak, memperhatikan
penampilanku. "Ini memberiku perasaan yang aneh."
"Hmm, aku
ingin menyamakan kedudukan dengan menyertakan elemen kejutan. Aku tahu, aku
tahu; aku terlihat tampan. Tapi di acara seperti ini, pria seharusnya
membiarkan gadis itu mekar, kan?"
Mungkin, Yuzuki
merujuk pada fakta bahwa aku juga datang mengenakan yukata. Yukata biru indigo
sederhana tanpa banyak motif, tapi kupikir, kenapa tidak, lalu aku menariknya
keluar dari lemari sebelum datang.
"Agak tidak
biasa bagi seorang pria punya yukata yang siap pakai."
"Tahun lalu,
aku dipaksa memakainya oleh... seseorang."
"Hmm?
Dan hubungan aneh macam apa yang kau dan 'seseorang' ini miliki?"
"Sudah
kubilang: aku tidak akan mengatakannya."
"Tapi,
Saku, bagian dadanya harus sedikit lebih terbuka..."
"Hei, bagian
lelucon kotor itu tugasku."
Aku mulai
berjalan dengan sungguh-sungguh, dan Yuzuki melingkarkan jari kelingkingnya di
jariku.
Ini hari yang
baik, bagaimanapun juga. Tentunya para dewa akan memaafkan hal ini, sekali ini
saja.
Terpanggil ke
dalam kuil oleh musik festival yang didominasi suara seruling, kami melewati
gerbang Torii bersama-sama.
◆◇◆
Kami membeli
permen apel merah cerah dan bergantian menggigitnya sambil berjalan-jalan di
festival.
Aku selalu
menyukai festival sejak masih kecil. Mencengkeram segenggam koin, berdebat
tentang apa yang akan dibeli, menunggu terlalu lama, dan kemudian mendapati
bahwa setengah dari kios sudah habis terjual. Festival di Fukui biasanya hanya
dikunjungi oleh teman-teman tetangga, tapi tetap saja selalu ada kegembiraan
saat melihat gadis-gadis dari kelasmu di sana.
Siapa sangka
suatu hari aku akan tumbuh dewasa dan mulai pergi ke festival dengan seorang
gadis cantik di sisiku. Tahun lalu saat musim semi, aku sibuk di klub bisbol,
dan di musim panas, meskipun Yuuko dan yang lainnya mengajakku, aku tidak
bersemangat untuk pergi. Aku menyadari bahwa ini adalah festival pertamaku
sejak masuk SMA. Sambil mengunyah apel yang sekarang terasa renyah di balik
lapisan permennya, aku berpikir bahwa festival ternyata tidak seburuk itu.
"Hei, Saku.
Ayo pergi bermain serok ikan mas." Wajah Yuzuki cerah karena kegembiraan.
Aku sedikit
mengkhawatirkannya setelah apa yang terjadi kemarin, tapi festival ini
sepertinya menjadi pengalih perhatian yang bagus.
"Tentu, tapi
kalau kau menangkap ikan, kau harus merawatnya, oke?"
"Oke! Aku
dulu punya ikan peliharaan dari festival saat masih kecil."
Kami berdua
membayar masing-masing tiga ratus yen kepada pria tua yang menjaga kios, dan
dia memberi kami masing-masing sebuah lingkaran plastik dengan lapisan kertas
tipis di atasnya untuk menyerok.
Yuzuki menggulung
lengan yukata-nya dan mencelupkan serokannya ke air dengan hati-hati, sebuah
target sudah ada dalam bidikannya. Dia berhasil mendapatkan seekor ikan tepat
di tengah serokan plastik itu selama sedetik, tapi kemudian kertasnya robek,
dan ikannya melarikan diri.
"Sial!"
"Amatir."
Yuzuki
menggembungkan pipinya dengan dongkol. "Kau saja yang melakukannya kalau
begitu, Saku. Aku mau yang merah kecil itu—oh, dan yang hitam kecil itu
juga."
"Ikan mas Wakin
dan Demekin berenang dengan kecepatan yang berbeda, jadi tidak mungkin
menyerok keduanya sekaligus. Bagaimana kalau dua yang merah atau salah satu
ikan mas Ryukin dengan sirip berbulu itu?"
Mata
Yuzuki berbinar saat dia mengangguk.
"Ada
triknya. Perhatikan serokannya. Sisi dengan kertas yang diregangkan sebenarnya
adalah sisi belakang. Jika kau menyerok dengan sisi itu menghadap ke atas,
kertasnya akan lebih sulit robek."
Aku
mengangkat serokanku sendiri sebagai contoh.
"Siapkan
wadahmu, sedekat mungkin dengan permukaan air. Celupkan serokanmu secara miring
dan bergeraklah dengan cepat. Jika kau hanya merendam setengahnya di bawah air,
kertasnya akan robek jauh lebih cepat."
Sambil berbicara,
aku mengincar salah satu ikan mas Demekin hitam dengan serokanku.
"Lalu
gunakan pinggiran serokan, dan jika memungkinkan, balikkan ikannya dari bagian
kepalanya. Ini dia."
Aku menyerok
seekor Ryukin merah pada saat yang sama.
Aku mengangkat
wadah dengan dua ikan yang berenang di dalamnya untuk dilihat Yuzuki. Dia membungkuk, menatap ikan-ikan
itu.
"Luar
biasa! Benar-benar luar biasa!"
"Hee-hee.
Ini mungkin mengejutkanmu, tapi saat kecil aku adalah penyero k hebat yang
sampai-sampai dilarang bermain."
"Aku
tidak akan pernah menduganya! Kupikir kau tipe orang yang hanya berdiri dan
melihat teman-temanmu melakukannya dengan ekspresi 'aku tidak level dengan
ini'."
"Hei,
kau mungkin tidak percaya, tapi aku ini tipe orang yang suka festival. Aku
pernah ikut memikul kuil portabel Mikoshi dan semuanya."
"Kau
memakai baju Happi? Aku ingin sekali melihatnya!"
Aku akan
merasa bersalah jika menyerok lebih dari jatah kami, jadi aku mengembalikan
serokanku dan meminta pria itu membungkus kedua ikannya. Kurasa pria tua itu
mungkin naksir Yuzuki atau semacamnya, karena dia memberikan sebungkus kecil
makanan ikan secara gratis, bersama dengan senyum yang ramah. Uh-huh, uh-huh,
aku mengerti, kawan lama.
Kami
memutuskan untuk beristirahat, dan aku mengambil beberapa Marumaru-yaki,
satu porsi Yakisoba, dan sekantong kue bola Baby Castella yang
bisa kami makan sambil duduk di tangga batu. Sebagai informasi, Marumaru-yaki
pada dasarnya adalah panekuk goreng gurih kecil ala Okonomiyaki,
kira-kira sebesar telapak tangan. Dan karena kami mungkin akan haus setelah makan semua itu, aku juga
membelikan dua botol Ramune.
Selagi aku sibuk,
aku terus mencuri pandang ke arah Yuzuki, yang sedang memegang kantong ikan ke
arah cahaya dan tersenyum menatapnya. Melihat betapa bahagianya dia dengan
ikannya, aku diam-diam berterima kasih pada diriku saat masih kecil karena
telah berlatih keras menyerok ikan mas.
"Hei, Saku,
apa aku harus memberi mereka nama?"
"Ikan Merah
dan Ikan Hitam."
"Itu agak
terlalu harfiah, bukan?"
"Ikan mas
festival cenderung lemah; terkadang mereka langsung mati. Kau tidak boleh
memberi mereka nama yang bermakna; itu hanya akan membuat perpisahan jadi lebih
sulit."
"Kalau
begitu aku akan memanggil mereka Saku dan Chitose."
"Kau mau
wajahmu ditabrak Marumaru-yaki, ya?"
Yuzuki mencolek
kantongnya dengan ringan. "Aku akan merawat mereka baik-baik agar mereka
tidak mati."
Profil wajahnya
tampak begitu polos, diterangi oleh cahaya lembut lampion festival. Aku
merasakan gelombang melankolis lainnya melandaku, persis seperti yang kurasakan
saat berdiri di bawah gerbang Torii, ketika aku melihat Yuzuki untuk
pertama kalinya malam ini.
Aku bahkan tidak
tahu apa yang membuatku merasa seperti itu. Tapi perasaan yang perlahan terbuka
di dalam dadaku jelas merupakan kesedihan. Semuanya begitu fana. Aku tidak bisa
membotolkan aroma festival, aku tidak bisa menangkap hiruk pikuk kerumunan yang
bahagia, aku tidak bisa menangkap momen ini dan mengawetkannya selamanya. Dan momen yang sama persis seperti
ini tidak akan pernah datang lagi. Pikiran itu membuatku merasa sangat sedih.
Tapi masih
terlalu dini untuk memberi nama pada perasaan ini.
"Mau Yakisoba?"
Aku mematahkan
sumpit kayu sekali pakai, seolah-olah menandai akhir dari sesuatu.
Saat aku mulai
menikmati rasa makanan festival yang murah tapi mengenyangkan itu, Yuzuki
mengulurkan tangannya seolah ingin berkata, "Beri aku."
"Mmn."
Aku memberikan
sepasang sumpit kayu baru, bersama dengan bungkus plastik Yakisoba.
...Untuk beberapa
alasan, dia mengembalikan sumpit itu padaku. Aku memberinya sepasang sumpit
kayu baru lainnya yang belum dipakai. Teman dudukku yang pendiam itu
menggelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. ...Dia juga tidak mau menggunakan
sumpit itu, rupanya.
Sebagai
eksperimen, aku menawarkan sumpit yang sama dengan yang kugunakan untuk makan.
Akhirnya, Yuzuki mengangguk, mengambilnya, dan mulai memakan Yakisoba
tersebut.
'Apa-apaan ini,
kau ingin membuat Haru cemburu atau bagaimana?' ...adalah apa yang ingin
kukatakan untuk menggodanya, tetapi Yuzuki memalingkan wajah seolah dia merasa
malu, jadi aku memutuskan untuk membatalkannya.
Setelah kami
selesai dengan Yakisoba dan Marumaru-yaki, kami berdua menyiapkan
botol Ramune kami, lalu dengan aba-aba "Siap? Mulai!", kami
menekan tutupnya dan menenggelamkan kelerengnya ke dalam soda. Botol-botol ini
sebenarnya berbahan plastik, bukan botol kaca tradisional, yang sedikit
mengecewakan, tapi lupakan saja. Yuzuki melepaskan tangannya dari bagian atas
sedikit terlalu cepat, dan busa mulai menyembur keluar dari botolnya. Dia mulai
menjerit kecil, tapi aku mendekatkan botol itu ke bibirku dan meminum busanya.
Aku terkejut
dengan betapa banyak busa yang keluar dari botol itu. Benar-benar seperti
gelombang pasang. Yuzuki tertawa. Aku pun mulai tertawa. Begitu dia berhenti,
aku mulai lagi, dan kemudian dia ikut tertawa sekali lagi.
Bahkan botol Ramune
ikut bergabung, kelereng yang beradu di dalamnya mengeluarkan suara seperti
tawa yang diredam. Setelah kami selesai minum, kami melepas tutupnya dan
mengeluarkan kelereng kami. Lalu, seperti yang kami lakukan saat masih kecil,
kami memegangnya di depan mata untuk melihat melaluinya.
Dunia yang
dilihat melalui kelereng Ramune tampak terbalik, penuh warna, dan
seolah-olah melayang. Aku bisa melihat anak laki-laki berlarian, gadis-gadis
kecil berbaju yukata warna-warni, pasangan yang berjalan santai sambil
bergandengan tangan dan terlihat seolah ingin melakukan lebih dari sekadar itu.
Tapi tidak satu pun dari mereka yang menyadari bahwa mereka sedang terbalik.
"Hei, Saku.
Kau terlihat cukup tampan jika dilihat melalui kelereng." Begitu kata
Yuzuki.
"Dan kau
terlihat sangat cantik jika dilihat melalui kelereng."
Suasana festival
sepertinya telah merasuki Yuzuki dan aku. Besok, tempat ini akan kembali
menjadi kuil kecil biasa. Dan kehangatan di antara kami ini akan segera
menghilang lagi, saat batasan kami ditegaskan sekali lagi. Jadi kupikir tidak
apa-apa bagi kami untuk tetap terjebak dalam momen ini, selama beberapa menit
saja.
◆◇◆
Setelah kami
menghabiskan semua kue bola Baby Castella, kami memutuskan untuk
berkeliling festival sekali lagi. Yuzuki berjalan ke arah area di luar
jangkauan cahaya lampion. Kupikir dia mungkin sedang mencari kamar mandi, tapi
dia berhenti di depan sebuah pohon—koreksi, dua pohon—yang dililit tali. Lalu
dia memberiku isyarat untuk datang.
"Ada
apa?"
Saat aku
mendekat, Yuzuki diam-diam menunjuk ke sebuah papan tanda. Di situ tertulis: POHON
GINKGO SUAMI ISTRI. Aku segera membaca deskripsinya. Rupanya, kuil ini
memiliki beberapa pohon seperti ini yang memiliki dua batang yang tumbuh
bersama, sangat cocok untuk berdoa memohon ikatan yang bahagia.
Yuzuki memastikan
aku sudah selesai membaca, lalu meletakkan tangannya di salah satu batang
pohon. Batang-batang itu tampak membentuk huruf V.
"Ayo. Kenapa
tidak?"
Aku
kurang lebih bisa menebak apa yang dia inginkan. Aku meletakkan tanganku di
batang yang lain. Aku mencuri pandang ke arah Yuzuki yang sudah memejamkan
mata. Aku terus menatapnya. Bahkan ketika aku akhirnya memejamkan mata, aku
tidak tahu harus berdoa untuk apa.
Beberapa
saat kemudian, aku melakukan kontak mata dengan Yuzuki yang tiba-tiba membuka
matanya lebar-lebar. Dia memberiku senyum yang sedikit sedih.
"Ini
terasa lebih seperti pohon perselingkuhan daripada pohon suami istri yang
bahagia," komentarnya.
"Kau
benar."
Di saat seperti
ini, yang bisa kulakukan hanyalah melontarkan humor. Tidak diragukan lagi
Yuzuki tidak bisa melangkah lebih jauh. Dia juga tidak terlalu menginginkannya.
Tak satu pun dari kami yang punya nyali untuk menyerang lebih dulu, jadi kami
hanya saling mengayunkan pedang satu sama lain di sini.
Aku sedang
memikirkan hal itu, ketika...
"Hei. Saku
Chitose."
...Oh, yang benar
saja. Aku tidak tahu dia datang dari mana, tapi tiba-tiba saja, seekor ayam
jantan besar yang bodoh dan tidak asing sudah datang mendekat di antara kami.
"Eek!"
Yuzuki tersentak mundur karena terkejut yang berlebihan, dan jatuh terduduk di
atas kerikil.
Aku sudah kesal,
tapi aku menahannya, menenangkan diri, dan menawarkan tangan kepada Yuzuki.
Saat itulah seseorang menendang punggungku dengan keras. Aku sedang berjongkok
dengan yukata-ku, yang memang sulit untuk digerakkan. Aku jatuh menimpa Yuzuki,
membuatnya ikut jatuh telentang.
Seseorang tertawa
terkekeh-kekeh di belakang kami, suara yang sangat menyebalkan. Kau bercanda
ya? Sialan.
Saat aku mencoba
bangun, aku menatap Yuzuki dengan cepat. Dia sedang menatap ke arah belakang
bahuku, wajahnya tampak kaku karena ketakutan yang belum pernah kulihat darinya
sebelumnya. Tangannya mencengkeram yukata-ku sambil gemetar, dan bibir indahnya
memucat.
"Wah,
terlihat panas juga, Yuzuki Nanase," si Bodoh Berjambul itu berkokok, dan
aku segera menarik ujung yukata Yuzuki ke bawah untuk menutupi kakinya.
Aku menanamkan
kedua kaki lebar-lebar, bersiap jika dia akan menendangku lagi. Sambil setengah
menyeret Yuzuki, aku berhasil membuat kami berdua berdiri tegak kembali. Aku
berbalik, mendorong Yuzuki secara protektif ke belakang punggungku. Ada pria
lain yang berdiri di belakang si Bodoh Berjambul, pria yang jauh lebih tinggi.
Tingginya
kira-kira sama dengan Kaito, mungkin sedikit lebih pendek. Dia kurus di sekujur
tubuhnya—terlalu kurus, dengan lengan dan kaki yang panjang cungkring. Dengan
tinggi badannya, itu terlihat tidak alami. Menyeramkan. Aku segera mengamati
area sekitar. Aku tidak melihat tanda-tanda dua pria lainnya yang ada di
perpustakaan waktu itu.
Meskipun begitu,
jika sampai terjadi perkelahian, aku akan berada dalam posisi tidak
menguntungkan karena memakai yukata dan sandal kayu. Jika sampai harus
berkelahi, Yakisoba atau Okonomiyaki akan menjadi senjataku.
Mungkin cumi bakar. Setidaknya, menjejalkan makanan panas ke balik baju mereka
mungkin bisa memberiku cukup waktu untuk menyambar Yuzuki dan melarikan diri.
"Sudah lama
sekali ya, Yuzuki."
Pria
tinggi cungkring itu muncul dari bayang-bayang dan mendekati kami. Dia memiliki
potongan rambut gaya samurai—pendek di samping, dengan bagian atas yang panjang
ditarik kencang membentuk kuncir kuda tinggi di belakang. Dia memiliki mata
yang tajam, sempit, dan jahat. Segera, aku tahu ini adalah "bos" yang
dibicarakan si Bodoh Berjambul. Dan cara dia berbicara kepada Yuzuki
memperjelas bahwa mereka saling mengenal.
Yuzuki
mencengkeram lenganku. Dia gemetar, dan kuku-kukunya mulai menancap di kulitku.
"...Yana...,"
suara Yuzuki terdengar hampir menangis. "...Yanashita..."
Aku
menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya. Baiklah. Darah tidak lagi
mendidih di kepalaku. Tetap tenang.
Aku
meletakkan tanganku di atas tangan Yuzuki. "Apa maumu dengan
pacarku?"
Yanashita
menyeringai tipis menanggapi hal itu. "Jadi kau yang namanya Saku Chitose.
Pergi sana. Aku ke sini untuk menemui Yuzuki."
"Begitu
katamu, tapi seperti yang bisa kau lihat, Yuzuki tidak berniat melepaskanku.
Repot juga jadi idola para gadis, kau tahu sendiri kan."
Swoosh. Yanashita menendang sekumpulan kerikil ke
arah kami. Yuzuki tersentak kaget, lalu mencengkeramku lebih erat lagi, begitu
erat sampai terasa sakit.
"Dia
milikku."
"Ini pertama
kalinya aku mendengarnya. Apa ini, drama mantan pacar yang dicampakkan?"
Di belakangku, Yuzuki menggelengkan kepalanya kuat-kuat.
"Ayolah,
Yuzuki. Kau bilang padaku kau tidak ingin berkencan dengan siapa pun, tapi
begitu masuk SMA kau mulai mengangkang untuk pecundang pamer ini?" Wajah
Yanashita berubah sinis. "Karena kau jelas-jelas mau melakukannya dengan
siapa saja, kenapa tidak denganku saja? Kau tidak ingin kejadian itu terulang
lagi, kan?"
"...Kejadian
apa?" tanyaku.
Yuzuki
mengeluarkan suara tercekik, seolah ingin berkata, "Tolong, jangan
tanya."
Yanashita
menyeringai. "Kau bahkan tidak tahu, ya? Saat dia ketakutan dan menangis
seperti ini, itu adalah godaan terbesar yang pernah ada."
Geh-heh-heh. Dia tertawa. Suaranya terdengar
mesum. Yuzuki mencengkeramku semakin erat.
...Ah, oke. Sudah cukup sampai di situ. Aku membiarkan amarah naik ke kepalaku.
Satu pukulan di
hidung seharusnya cukup. Maka waktu yang tidak menyenangkan ini bisa segera berakhir. Meskipun
aku tahu bukan gayaku untuk memilih kekerasan.
Aku
mengepalkan tinjuku—dan kemudian aku teringat dua pasang jari kelingking yang
saling terkait denganku dalam janji kelingking tiga arah. Benar. Aku tidak bisa
melakukan ini. Tidak seperti ini. Tidak sekarang.
Aku
mengepalkan dan membuka tinjuku beberapa kali, mencoba melepaskan ketegangan.
Semuanya akan baik-baik saja kali ini. Aku mengumpulkan kekuatanku, lalu
menarik napas panjang.
"AAAARGH!!!
TOLOOONG! Orang-orang ini mencoba melakukan hal mesum padaku!!! Mereka bilang mereka nafsu pada anak muda
tampan tidak peduli apa pun jenis kelaminnya!!! TOLOOOONG!!! Siapa pun,
TOLOOOONG!!!"
Aku berteriak
sekuat tenaga. Sepertinya semua orang di seluruh kuil itu menoleh ke arah sini.
Orang-orang mulai berbisik-bisik.
Si Bodoh
Berjambul tampak sangat bingung dengan apa yang terjadi selama beberapa detik. Lalu dia sepertinya tersadar dan
mendekatiku sambil menggeram, "Kau bakal mati."
"ADA
ORANG MESUUUM!!! Fantasi mereka adalah menjilat perut six-pack pemain
olahraga SMA!!! Mereka bilang mereka suka membenamkan wajah di antara otot dada
pria dan memijat paha serta bisep yang kencang!!! Lalu mereka ingin
menyelesaikannya sambil meremas bokong pria yang terlatih!!! Tolong, selamatkan
aku dari nasib seksual yang mengerikan dan menyimpang ini!!! TOLOOOONG!!!"
"Berhenti
sekarang, atau kau mati..."
"SELAMAT
TINGGAL KEPOLOSAN MASA MUDAKU, AAARGH!!!"
Orang-orang
di sekitar mulai mengerutkan kening, jelas tidak bisa menyembunyikan rasa jijik
mereka. Yanashita dan si Bodoh Berjambul tampak seperti hampir mati karena
sangat terkejut. Mereka berbalik dan bergegas pergi tanpa mengucapkan sepatah
kata pun lagi.
Hee-hee.
Memberikan serangan yang telak tidak selalu membutuhkan tinju.
Dan
terkadang kau harus mengorbankan apa yang kau anggap berharga untuk
menyelamatkan sesuatu yang lain yang lebih kau hargai.
Yuzuki memelukku dan membenamkan wajahnya di dadaku. Apa, tidak ada tawa?



Post a Comment