Penerjemah: Nobu
Proffreader: Nobu
Prologue
Benih Janji
♣♣♣
Upacara kelulusan SMP.
Sudah setahun setengah berlalu sejak aku, Natsume Yuu, mulai mengejar mimpi sebagai mitra takdir bersama seorang gadis bernama Inuzuka Himari.
Musim dingin berakhir, dan musim semi kembali lagi.
Setelah upacara kelulusan selesai, begitu pula jam wali kelas, kami resmi tidak lagi menjadi murid SMP. Di tengah teman-teman sekelas yang diliputi rasa gembira campur sedih, dan penuh harap akan masa depan, mereka sibuk membuat kenangan terakhir. Sementara itu, aku sendiri diam-diam bersiap untuk pulang...
"Yuu~~~! Ayo pulang!"
"Woah!?"
Tiba-tiba, Himari memelukku dari belakang.
Pasti dia berlari ke kelasku setelah jam wali kelas selesai. Selama ini, aku banyak terbantu oleh daya juang "sang pemenang kehidupan" ini, namun di saat yang sama juga sering dibuat bingung.
Pokoknya, aku membalasnya dengan senyum kecut.
"Ya. Aku sudah bilang pada Saku-neesan kalau aku akan bermain dengan Himari dulu sebelum pulang, tapi..."
Pada saat itu, aku merasakan tatapan sekilas.
Perasaan ini... sudah sangat terbiasa kurasakan. Ketika aku melirik sebentar, terlihat teman-teman sekelasku menatap kami seolah ingin mengatakan sesuatu.
...Aku berpikir sejenak, lalu memberikan usulan yang agak hati-hati.
"Himari. Bukankah lebih baik kalau kamu bergabung dengan mereka di sana, mengingat ini hari terakhir?"
"Hm~?"
Himari ikut melihat ke arah itu... lalu dengan senyum ceria yang seperti biasanya, dia mengusap-usap kepalaku dengan kasar.
"Puhaha! Yuu, kamu ini benar-benar serius seperti biasa, ya!"
"Serius, katamu..."
Bukan begitu. Aku hanya berpikir, karena selama ini aku yang 'memonopoli' Himari, setidaknya di hari terakhir ini...
Ah, sudahlah. Pada akhirnya, yang berhak memutuskan hal-hal seperti ini adalah Himari sendiri. Lagipula, kalau sudah begini, Himari tidak akan mendengarku meskipun aku bicara.
Aku keluar dari ruang kelas bersama Himari, sementara tatapan-tatapan sinis dan menusuk masih menyengat di punggungku.
...Meskipun ini hari kelulusan, tempat yang kami tuju tidak banyak berubah. Seperti biasa, kami pergi ke Aeon dan menghabiskan waktu dengan bermalas-malasan.
Pertama, kami memasuki kedai kari India favorit Himari dan makan siang.
Setelah itu, kami pergi ke toko aksesori di lantai dua untuk menikmati aksesori koleksi musim semi terbaru.
Tentu saja, kami tidak lupa mampir ke toko bunga di lantai satu. Sambil mengagumi warna-warni bunga musiman, kami membahas motif untuk karya berikutnya.
Ada juga teman-teman seangkatan lain yang serupa, menikmati masa sepulang sekolah terakhir mereka sebagai murid SMP. Jadwal kelulusan memang sama, dan banyak juga murid dari sekolah lain yang ada di sana.
Masa sepulang sekolah pada hari kelulusan kami berlalu dengan sangat biasa.
Ketika aku memandangi wajahnya dari samping tanpa sengaja, Himari, yang menyadari tatapanku, menoleh.
"Hm? Ada apa, Yuu?"
"Tidak... tidak ada apa-apa..."
Aku tertawa, berusaha menyamarkan rasa canggung yang kurasakan.
(...Apakah Himari sama sekali tidak merasa sedih?)
Aku sendiri merasa sedikit sedih.
Kehidupan SMP tempat aku bertemu Himari kini berakhir. Meskipun kami sudah dipastikan akan melanjutkan ke SMA yang sama, aku tidak tahu apakah semuanya akan tetap sama seperti sebelumnya.
(...Mungkin saja Himari akan mendapatkan teman yang lebih baik dariku)
Mungkinkah hanya aku yang berpikir ingin tetap berada di kehidupan SMP selamanya? Perasaan mundur seperti itu entah kenapa membuatku merasa tidak pantas menjadi mitra takdir bagi Himari... setidaknya, itulah yang kurasakan.
♣♣♣
Tanpa terasa, sore hari tiba, dan kami pun memulai perjalanan pulang.
Saat berjalan berdua di sepanjang jalan, aku bertanya pada Himari.
"Himari. Hari ini kamu tidak minta dijemput Hibari-san?"
Ini adalah waktu di mana Hibari-san baru saja pulang dari kantor pemerintah kota. Dari sini jalannya cukup jauh, dan menurutku lebih baik jika kami diantar menggunakan mobil.
Namun, Himari menggeleng sambil tersenyum.
"Enggak ah. Soalnya, ini kan sepulang sekolah terakhir sebagai murid SMP bareng Yuu. Aku ingin waktu ini berlangsung sedikit lebih lama."
Dia selalu saja mengucapkan hal-hal yang membuatku malu tanpa sedikit pun merasa canggung.
Namun, kata-katanya tadi sama persis dengan apa yang kupikirkan sebelumnya, dan itu membuatku sedikit merasa lega.
"Ya, yah, um. Kalau memang itu maumu, Himari..."
Tiba-tiba, Himari tersenyum lebar, memanfaatkan kelengahan diriku.
Sebelum aku sempat berpikir, "Celaka!", dia sudah menusuk-nusuk pipiku.
"Ah. Jangan-jangan Yuu tersipu malu, ya? Tersipu malu, ya~? Tentu saja begitu, dong~ Wajar kalau Yuu deg-degan, karena aku, si gadis paling imut sedunia, mengucapkan hal sehalus itu, kan~? Ini adalah kenangan seumur hidup dan harta karun yang takkan pernah bisa dicapai oleh cowok introvert sepertimu. Peluklah momen ini erat-erat seumur hidup dan..."
"Kepanjangan! Godaanmu bahkan kepanjangan!?"
Di mana letak suasana haru ala upacara kelulusan!?
Saking biasanya tingkah Himari, aku hanya bisa menghela napas. Kemudian, sambil menatap pemandangan yang mulai temaram... sebuah pikiran terlintas di benakku.
(...Yah, benar juga. Tentu saja tidak ada suasana haru)
Sebab, Himari berbeda denganku.
Mungkin upacara kelulusan bukanlah hal yang istimewa bagi seorang yang sejak lahir sudah secerah Himari. Contohnya, teman-teman sekelas yang ada di kelas hari ini mungkin tidak akan kutemui lagi.
Namun, bagi Himari, itu berbeda.
Jika Himari menghubunginya, dia pasti bisa bertemu mereka kapan saja, dan karena itu adalah hal yang wajar baginya, maka upacara kelulusan bagi Himari hanyalah hal yang biasa.
...Meskipun sudah cukup lama aku bersama Himari, dan mengira telah memahaminya hampir sepenuhnya, tetap saja sulit untuk benar-benar memahami watak bawaan seseorang.
Saat aku sedang memikirkan hal itu.
Himari tiba-tiba menggenggam tanganku.
"Hei, Yuu."
"Eh? Ah, ada apa?"
Aku bertanya balik dengan sedikit bingung, lalu Himari menjawab sambil sedikit menunduk.
"Aku rasa, saat kita jadi murid SMA nanti... kehidupan baru juga menanti kita, ya..."
Ungkapannya terdengar aneh dan ragu-ragu.
Tapi, memang seharusnya begitu. Aku yakin Himari akan tetap populer di SMA, dan kehidupannya pasti akan dipenuhi dengan pertemuan-pertemuan baru.
Yah, kalau aku sih, bahkan tak terbayangkan seperti apa "kehidupan baru" itu! Mungkin saja hari-hariku hanya akan dipenuhi dengan memandangi bunga, sama seperti sebelumnya. Sedih rasanya mengatakan ini, tapi aku puas dengan hal itu. Sungguh, aku benar-benar puas.
"Benar juga. Himari mungkin akan semakin sibuk, dan mungkin saja waktu kita untuk bermain bersama seperti ini akan berkura—"
"B-bukan itu maksudku!"
Eh? Ada apa ini?
Himari sendiri tampak terkejut oleh suaranya yang tiba-tiba meninggi. Seketika, wajahnya memerah padam, lalu dia melambaikan kedua tangan seolah sedang mencari alasan.
"Bukan, bukan berarti itu juga tidak benar, sih! Tapi, maksudku, bukan cuma aku saja, Yuu juga mungkin akan sibuk, kan? Menjelang akhir SMP kemarin, Yuu lumayan sering bisa bicara dengan teman-teman sekelas yang lain. Mungkin saja akan ada gadis yang tertarik ingin membuat aksesori bersamamu, dan lagi, umumnya orang bilang persahabatan antara laki-laki dan perempuan itu tidak akan bertahan lama, kan?"
"U-um. ...Ya?"
Sejak tadi, apa yang sebenarnya sedang dia bicarakan?
Ketika aku tampak tidak mengerti maksud ucapannya, Himari tampak kesal dan menggumam.
"Makanya, um~...!"
Kemudian, seolah kehilangan kesabaran, dia meninggikan suaranya.
"Mulai sekarang, kita akan terus, terus, dan teruuus bersama, ya!"
Saat aku tercengang, Himari berkata dengan nada tergesa-gesa seolah sedang mengucap mantra.
"J-jadi, meskipun nanti ada apa pun yang terjadi pada kita setelah jadi murid SMA, kita akan tetap menjadi mitra takdir selamanya!"
"............"
Melihat Himari yang tampak begitu putus asa—suatu hal yang tidak biasa baginya—membuatku terdiam sejenak.
(Mungkinkah, Himari juga merasa cemas?)
Pikiran itu melintas di benakku.
Kami lulus dari SMP tempat kami bertemu dan akan menjadi murid SMA.
Lingkungan baru belum tentu selalu berdampak positif pada hubungan kami. Tentu saja aku berniat untuk terus bersama Himari, tetapi selalu ada kemungkinan kami akan menjadi renggang.
Apakah karena Himari juga mengkhawatirkan hal itu?
Justru karena itulah, hari ini kami menjalani hari-hari seperti biasanya.
Agar kami dapat merasakan kembali bahwa inilah hubungan terbaik kami.
(Begitu, ya. Himari mengkhawatirkanku...)
Sebuah kata yang telah berulang kali dia sampaikan padaku.
—Mitra takdir.
Meskipun kami naik ke SMA dan mendapatkan pertemuan-pertemuan baru.
kami tidak akan pernah berpisah.
Untuk menyampaikan bahwa perasaan itu bukanlah sebuah kebohongan, aku balas menggenggam tangan Himari.
"....!"
Pada Himari yang terkejut dan menoleh, aku memamerkan senyum terbaikku.
"Tidak masalah. Karena aku adalah mitra takdirmu."
"............"
Mata Himari berkaca-kaca. Dia menunduk sedikit, tampak malu—lalu.
"Puhaha~! Yuu, kamu ini benar-benar terlalu mencintaiku, ya~!"
"Sakit, sakit, sakit!? Berhenti memukul punggungku tiba-tiba!?"
Andaikan tidak ada tingkahnya ini... Meskipun tertawa kecut, perasaanku terasa lapang.
Langit mulai diselimuti kegelapan senja.
Lampu-lampu jalan menyala, memanjangkan bayangan kami yang terhubung.
Itulah janji kecil kami, yang menganggap kebersamaan adalah satu-satunya bukti persahabatan sejati.




Post a Comment