Chapter 1
Sesuatu yang Datang dari Abyss
"Berbau,
ya."
Laki-laki
itu mengendus dengan ujung hidungnya yang tersembunyi di balik timbunan rambut
dan janggut. Begitu menangkap aroma pekat yang melayang dari kegelapan, senyum
lebar langsung mengembang di wajahnya.
"Sudah
berapa bulan ya, sejak terakhir kali aku makan daging?"
Dia suka
daging. Dia suka daging ikan. Dia suka daging babi. Dia suka daging domba.
Dan—dia sangat suka daging sapi.
"Aku
berpikir, maka aku ada. Manusia dilahirkan ke dunia ini untuk makan
daging."
Terutama daging
sapi, rasanya sangat lezat. Hal itu tidak berubah, bahkan untuk monster
sekalipun.
Monster yang
mendekati spesies aslinya terkadang memiliki cita rasa yang bahkan melampaui
sapi biasa. Berdasarkan pengalaman hidupnya yang panjang di dalam dungeon,
laki-laki itu tahu benar akan hal itu.
Demi
menyelamatkan dunia, laki-laki ini telah mencapai lantai terdalam dungeon dan
menumbangkan Raja Iblis yang merupakan akar dari segala kejahatan.
Dia adalah
seorang pahlawan.
Namun, Sang Raja
Iblis memilih untuk menyeret laki-laki itu bersamanya. Di ambang kematian, Raja
Iblis mengerahkan sisa tenaga terakhirnya untuk menarik sang pahlawan ke dasar
yang lebih dalam lagi.
Sebuah tempat
bernama Labirin Tanpa Batas di Dunia Iblis, di mana monster-monster setingkat
Raja Iblis atau bahkan lebih kuat berkeliaran. Namun, laki-laki itu tidak
membuang harapannya dan terus menaklukkan dungeon tersebut.
Hingga akhirnya,
dia sampai di lantai atas, tempat di mana jejak manusia mulai terlihat.
"Ketemu."
Penglihatan
laki-laki itu telah terasah tajam akibat hidup dalam kegelapan. Tidak, lebih
tepat jika dikatakan penglihatannya telah berevolusi.
Dia memangkas
jarak dengan targetnya. Di balik kegelapan yang membentang luas, dia memastikan
keberadaan seekor Minotaur.
Minotaur adalah
monster raksasa berkepala banteng dengan tubuh yang mampu berjalan tegak di
atas dua kaki. Tingginya
melebihi tiga meter, dan tidak jarang ada individu yang beratnya mencapai
delapan ratus kilogram.
Kedua
tangannya menggenggam kapak perang yang sanggup membelah manusia menjadi dua
dalam sekali tebas. Meski wajahnya adalah binatang, kecerdasannya cukup tinggi
dan jemarinya sangat cekatan.
Selain itu, dia
ahli dalam menggunakan senjata. Singkatnya, dia adalah musuh yang kuat.
Penjelajah
biasa pasti akan langsung lari tunggang langgang begitu melihat sosok Minotaur.
Namun, laki-laki itu justru
menjilat bibirnya tanpa ada niat untuk lari sedikit pun.
Sebaliknya,
semangat bertarungnya meluap-luap layaknya pemburu yang baru saja menemukan
mangsa. Matanya bersinar terang penuh rasa lapar, seperti binatang buas.
"Unique
Skill—Invisibility."
Seketika itu
juga, keberadaan sang laki-laki menjadi samar dan menghilang bagaikan
fatamorgana. Ini adalah kemampuan khusus yang ia peroleh untuk mendekati musuh
tanpa disadari.
Selama tidak
menimbulkan suara gaduh, target tidak akan menyadari keberadaannya meski ia
berdiri tepat di sampingnya. Bisa dibilang, ini adalah Skill yang
melampaui nalar manusia.
Jaraknya tiga
puluh meter. Normalnya, tidak ada musuh yang gagal menyadari kehadirannya dari
jarak sedekat ini.
Indra penciuman
dan pendengaran Minotaur jauh lebih tajam daripada anjing. Jika monster yang
bersarang di dungeon dikategorikan, Minotaur masuk ke dalam kelompok musuh yang
sangat tangguh.
Namun, Skill
kuat milik laki-laki itu memutus eksistensinya dari persepsi indra si Minotaur.
—Tunggulah
sebentar, ya. Anak sapi manis.
Bagi sang
laki-laki, Minotaur yang merupakan monster kuat itu hanyalah seekor sapi yang
terlihat sangat menggiurkan untuk disantap.
Jarak pun semakin
menyempit. Aroma khas yang dipancarkan oleh Minotaur menjadi semakin pekat.
Laki-laki itu
tidak bisa lagi menahan ekspresi penuh kegembiraan di wajahnya.
—Sudah tidak
tahan lagi.
Gerakan laki-laki
itu sangat gesit. Ia melesat melewati sisi tubuh lawan. Bahkan sampai di titik
ini pun, si Minotaur belum menyadari kehadirannya.
Laki-laki itu
menyelinap ke punggung Minotaur yang tanpa pertahanan, lalu dengan cepat
menusukkan pedang panjang yang baru dicabutnya ke area pinggang.
Minotaur itu
menjerit histeris. Pedang panjang laki-laki itu tertancap dalam hingga ke
pangkalnya sebelum berhenti bergerak. Bilah pedang yang menembus tubuh monster
itu masuk dari pinggang kiri dan tembus hingga dada kanan. Ujung pedangnya
mengintip keluar.
"Bakarlah."
Bersamaan dengan
itu, ia merapalkan mantra panas api. Energi mahabesar yang muncul dari ujung
pedang seketika memanggang bagian dalam tubuh Minotaur.
Terkubur dalam
kobaran api merah, Minotaur itu jatuh bergulingan. Sang laki-laki melompat
mundur untuk menjaga jarak.
"Ups, jangan
sampai terlalu gosong."
Namun, ia
tidak boleh terburu-buru. Ini adalah daging yang sangat berharga. Pengaturan
apinya harus pas. Jika dibakar sampai ke tulang, dagingnya akan berubah jadi
arang.
Ia
melangkah mendekat, lalu mencabut pedangnya dari pinggang monster tersebut.
Memanggang daging yang setara dengan kualitas Rank A5 secara berlebihan adalah
sebuah penistaan terhadap Tuhan.
Ia pun
memotong urat pada kedua kaki Minotaur agar monster itu tidak bisa bergerak.
Meski begitu, Minotaur tersebut masih menggelepar di atas tanah.
Laki-laki
itu menginjak punggung si Minotaur yang mengamuk dengan kedua kakinya, mengunci
posisinya ke tanah. Kemudian, ia kembali menghunjamkan pedang panjangnya dari
punggung dan mengalirkan api sihir sekali lagi.
Padahal
ada perbedaan berat badan yang sangat besar, namun Minotaur itu tidak sanggup
melempar tubuh si laki-laki. Entah teknik rahasia apa yang digunakannya,
laki-laki itu unggul dalam segala hal, baik kekuatan maupun teknik.
"Segar juga
ya, kamu."
Lama-kelamaan,
gerakan Minotaur mulai melemah. Namun, seolah melakukan perlawanan terakhir, ia
melolong keras saat laki-laki itu mendekat.
"Sst,
tenanglah. Jangan mengamuk. Aku akan membuatmu jadi lezat sekarang."
Laki-laki itu
memenggal kepala Minotaur dengan pedang panjangnya. Tanah bergetar saat kepala
banteng itu menggelinding kencang, baru berhenti setelah menabrak dinding.
Laki-laki itu
gemetaran seperti serigala konyol yang lapar, air liur menetes hingga ke
janggutnya. Matanya berkilat-kilat. Hidungnya kembang kempis saat menghirup
aroma daging yang terpanggang dengan pas.
"Sip! Satu
porsi sirloin steak sudah jadi!"
Laki-laki itu
mulai memutilasi tubuh Minotaur yang masih mengepulkan asap. Dia sudah sangat
terbiasa dengan hal semacam ini.
Meski bentuk
tubuhnya mirip manusia, pada akhirnya ini tetaplah sapi. Daging sapi adalah
yang terbaik. Laki-laki itu sudah terbiasa memakan daging monster; baginya,
semua ini adalah keseharian.
"Kalau
begitu, terima kasih atas berkat dari bumi dan labirin. Selamat makan."
Laki-laki itu
menempatkan kepala Minotaur yang sudah terpenggal di depannya, lalu duduk
bersila dan mulai melahap daging hasil buruannya. Daging yang masih meneteskan darah, tingkat
kematangan rare. Steak kelas tertinggi.
"Grrrhh...
nyam nyam."
Laki-laki
itu menggunakan giginya yang tebal dan kuat untuk mengunyah bagian lemak dan
daging merah, lalu menghancurkan tulang yang tersisa dengan teliti. Seperti
serigala yang mengunyah tulang kecil mangsanya, ia melumat tulang itu dan
menghisap sumsum yang gurih di dalamnya.
Sesi makannya
selesai dengan cepat. Padahal bagian yang bisa dimakan saja mencapai hampir
tujuh puluh kilogram, tapi laki-laki itu sudah melahap sekitar sepuluh
kilogram—sebagian kecil dari total daging tersebut.
Laki-laki itu
bertelanjang dada. Tubuh bagian atasnya hanya ditutupi oleh kulit binatang atau
monster hasil buruannya. Tinggi badannya hampir mencapai seratus delapan puluh
sentimeter, namun tubuhnya kurus kering.
Hanya perutnya
saja yang membuncit kencang karena baru saja dijejali daging. Ini adalah hasil
dari mempraktikkan aturan "makanlah selagi bisa" demi bertahan hidup
di dungeon yang minim makanan.
Sisa dagingnya ia
keringkan menggunakan sihir api untuk menghilangkan kadar airnya agar bisa
menjadi stok makanan. Daging asap, atau dendeng.
Bekerja setelah
kenyang sebenarnya terasa malas, namun penyimpanan bahan pangan berkaitan
langsung dengan hidup dan mati. Laki-laki itu pun menyelesaikan pekerjaannya
dengan sigap.
"Fuuuh,
kenyangnya."
Saat sedang duduk
santai dengan kaki selonjoran, hidung laki-laki itu tiba-tiba bergerak. Ada aroma manis yang terasa
familier.
"A-apa
ini?"
Hampir
secara refleks, ia langsung berdiri. Rambut panjangnya yang menjuntai hingga ke
bawah pinggang mengeluarkan suara srek saat bergesekan dengan lantai.
Wajah
laki-laki itu sulit dikenali karena tertutup rambut dan janggut yang dibiarkan
tumbuh liar. Namun, jika dilihat dari binar mata dan hidung yang mengintip di
balik rambut panjangnya, laki-laki itu masih muda.
Laki-laki
itu menyarungkan pedangnya, lalu menggerakkan pandangannya ke sekitar dengan
gelisah. Karena menghabiskan hampir seluruh waktunya dalam kegelapan, mata
laki-laki itu telah berevolusi agar tidak melewatkan cahaya sekecil apa pun.
Ia pun
mulai bergerak mencari sumber aroma tersebut. Di sekitar sini, jumlah lumut
bercahaya sangat banyak. Lumut-lumut
aneh yang memancarkan cahaya alami ini sangat membantu pergerakan sang
laki-laki.
Penerangan sudah
cukup memadai.
Laki-laki itu
telah menghabiskan waktu yang sangat lama di bagian terdalam dungeon,
sampai-sampai konsep waktu pun menghilang dari benaknya. Dia tidak berada di
sana karena keinginan sendiri, melainkan karena ada hal yang harus ia
selesaikan.
Setelah semuanya
berakhir, yang menantinya hanyalah kegelapan abadi dan monster yang tak
terhitung jumlahnya. Pakaian yang ia kenakan dahulu sudah habis terkikis oleh
pertempuran yang berulang-ulang dan berlalunya waktu.
Apa yang ia
kenakan sekarang hanyalah pakaian—jika bisa disebut begitu—yang terbuat dari
kulit monster, yang setidaknya masih bisa menjaga martabatnya sebagai manusia.
Tapi dia tidak
peduli. Karena dia tidak pernah bertemu manusia lain di dalam dungeon ini.
"Ada."
Laki-laki itu
menemukannya. Sebuah benda yang memancarkan cahaya kuat di tengah kegelapan.
Sebuah produk peradaban yang sudah lama tidak ia lihat.
Namun, ada yang
lebih penting dari itu.
"Manusia.
Apalagi, dia seorang perempuan..."
Tanpa sadar
suaranya bergetar. Sudah berapa lama ya, sejak terakhir kali ia melihat manusia
selain dirinya sendiri? Kini, ia bahkan tidak bisa mengingatnya dengan
jelas.
"Uuuugh... Serius?"
Seorang
gadis tergeletak telentang dengan mata terpejam. Bau darah yang sangat
menyengat menusuk hidung sang laki-laki. Namun, ia tidak peduli.
Pakaian gadis itu tampak modis, dan perlengkapan perlindungan tubuhnya pun terlihat sangat canggih.
"O-o-oh... Se-Seorang Pe-perempuan!"
Laki-laki itu melangkah terhuyung-huyung mendekat seolah
sedang mabuk berat. Ia mengangkat jari telunjuknya ke udara dan memusatkan
konsentrasinya.
"Light."
Seketika, bola cahaya muncul dan menerangi seluruh area di
sekitar mereka. Itu adalah sihir penerangan yang biasanya tidak ia butuhkan. Di
kegelapan total sekalipun, ia bisa membaca gerakan lawan hanya dari aroma atau
getaran udara. Sihir ini sudah lama
sekali tidak ia gunakan, namun saat ini, ia yakin inilah saat yang tepat untuk
merapalkannya.
Gadis itu benar-benar cantik. Rambutnya lembut sebahu, bulu
matanya lentik, dan tulang hidungnya tampak sempurna. Bibirnya yang mungil
menyerupai kuncup bunga yang indah. Bagi si laki-laki, sosok itu sudah lebih
dari cukup untuk disebut sebagai seorang dewi.
Dilihat dari
penampilannya, usianya mungkin masih belasan tahun. Ia sangat berharap gadis
itu memang masih remaja. Ya, dia seorang gadis. Pasti seorang gadis. Ia
benar-benar menolak kenyataan jika wanita cantik yang baru ditemuinya setelah
sekian lama ini ternyata adalah seorang nenek-nenek yang awet muda.
"Tapi
tunggu, gawat. Darahnya banyak sekali. Kalau dibiarkan, dia bisa mati. Gawat!
Aku harus segera menolongnya!"
Laki-laki itu
berjongkok di depan sang gadis dan memeriksa denyut nadinya. Terasa sangat
lemah dan halus. Pendarahan hebat di bagian pinggang telah membasahi tubuh
gadis itu.
"Tunggu ya.
Aku akan segera menyembuhkanmu."
Laki-laki ini
adalah seorang penyihir. Meski ia tidak terlalu ahli dalam sihir pemulihan tipe
penyembuhan, ia masih bisa menggunakan mantra untuk menyambung nyawa selama
lukanya tidak terlalu fatal. Ia meletakkan tangannya di bagian yang terluka dan
merapalkan sihir.
Heal milik laki-laki itu seketika melenyapkan
luka sang gadis tanpa bekas. Ia memeriksa denyut nadinya sekali lagi.
"Sip, sudah
baikan."
Detak jantung
yang kuat telah kembali. Mata laki-laki itu kini menatap sang gadis dengan
liar. Gadis itu masih
tertidur lelap dengan napas yang teratur, persis seperti putri tidur.
"Ti-tidak
boleh."
Tanpa
sadar, tangan laki-laki itu terulur menuju dada sang gadis.
"Nggak
boleh, jangan disentuh. Itu nggak sopan, kan?"
Meski
dalam posisi telentang, dadanya terlihat menonjol. Ukurannya cukup besar. Kini,
bagian selangkangan si laki-laki sudah membengkak kencang, seolah nyaris
merobek pakaian kulit binatang yang ia kenakan.
"A-apa
yang sedang dilakukan pria budiman sepertiku ini—"
Tiba-tiba,
ia tersadar. Terlepas dari penampilannya, sekujur tubuh laki-laki itu dipenuhi
bau yang tidak sedap. Ia sudah terlalu lama tinggal di dalam dungeon dan hampir
tidak pernah mandi.
"Ini
gawat. Bauku sekarang seratus kali lebih busuk daripada anjing liar yang
basah."
Bahkan
binatang buas pun biasanya bersolek atau mandi pasir, tetapi laki-laki ini
sudah lama sekali tidak terpikir untuk sekadar membasuh kulitnya.
Itu karena tidak
ada orang lain di sini. Yang ia temui hanyalah musuh. Akibatnya, kebiasaan
untuk menjaga kebersihan diri lenyap seketika. Namun, setelah melihat seorang
perempuan setelah sekian lama, rasa malu yang seharusnya sudah hilang itu kini
muncul kembali.
Kalau tidak
salah, dalam perjalanan menuju ke sini, ia menemukan sebuah danau bawah tanah
yang langka. Ia hanya mampir untuk mengisi persediaan air, karena konsep
"mandi" sudah benar-benar hilang dari kepalanya. Laki-laki itu segera
mengaduk bagian dasar tas ransel yang ia panggul.
"A-ada!
Syukurlah!"
Sabun. Ternyata
benda itu masih tersisa di dalam set perlengkapan yang ia siapkan sebelum
terjun ke dungeon dulu. Ia menggenggam kotak kecil berisi sabun itu dan
mensyukuri keberuntungannya saat itu juga.
"Kesan
pertama itu sangat penting, kan?"
Ia
kemudian berbalik dan berseru ke arah sang "putri tidur".
"Tu-tunggu
sebentar ya. Ja-jangan bangun dulu, oke?"
Setelah
mengatakan itu, ia segera berlari kembali ke jalan yang ia lalui tadi dengan
gerakan secepat angin.
Sesampainya di
danau, laki-laki itu menanggalkan pakaiannya, mengambil kain lap, dan langsung
menceburkan diri ke dalam air. Dinginnya air yang murni membuat kesadarannya
pulih sepenuhnya.
Lalu, ia mulai
menggosok seluruh daki di tubuhnya menggunakan sabun dan kain lap. Ia
benar-benar mengikisnya. Sebenarnya, tidak mandi itu memiliki fungsi
tersendiri; daki yang menempel di kulit seperti lapisan tanah bisa menjadi
dinding pelindung dari kutu atau tungau.
Namun sekarang,
hal semacam itu sudah tidak ada artinya lagi. Di depan lawan jenis, aturan yang
selama ini ia jaga dengan ketat kini nilainya tidak lebih dari kotoran.
"Heh, aku
pun kalau begini... masih lumayan oke juga, kan?"
Ia mengeluarkan
satu-satunya cermin tangan yang ia miliki dan memeriksa penampilannya setelah
mandi. Harusnya tidak ada masalah.
"He... hehe.
Fuhehe."
Seringai di
wajahnya tidak bisa berhenti. Bertemu manusia—apalagi gadis muda—memang
membahagiakan, tetapi yang paling penting adalah kenyataan bahwa saat ini ia
sudah kembali ke lantai atas yang bisa dicapai oleh umat manusia.
—Aku bisa pulang.
Kembali ke dunia manusia.
◆◇◆
Gadis itu
perlahan membuka matanya. Di hadapannya, sebuah ponsel disandarkan pada
gundukan tanah yang landai. Tatapan gadis itu tertuju pada cahaya yang
berkedip-kedip.
: Live
streaming-nya balik lagi!
: Eh,
bohong kan?!
: Dia
masih hidup?!
: Lukanya
gimana? Apa yang terjadi, Haru-chin?
:
Keajaiban, kita beneran lagi liat keajaiban sekarang.
: Udah ketemu
sama temen-temennya?
: Apa diselamatin
sama tim penyelamat resmi?
"E-anu. Aku
nggak tahu apa yang terjadi, tapi... aku selamat."
Saat gadis itu
membalas komentar para penonton, tiba-tiba terdengar suara laki-laki.
"Oh, kau
sudah sadar?"
"Kyaaaaaaa!"
Begitu laki-laki
itu menyapa, sang gadis yang baru saja memulai kembali streaming
dungeon-nya langsung menjerit histeris dan memundurkan pantatnya seperti udang
yang melompat.
"Siapa!
Siapa, siapa, siapa, eh, ah? Eh! Laki-laki!?"
"O-oi.
Setidaknya, akulah yang menyelamatkanmu."
"Laki-laki...
menyelamatkanku?"
"Benar. Yah,
kebetulan saja, sih. Hal biasa, biasa saja."
Sambil tetap
menggenggam pedang pendeknya, gadis itu terduduk lemas di tempat dengan mata
yang terbuka lebar.
"Oi, kau
baik-baik saja?"
"Ah, I-iyaaaa.
Tidak apa-apa,
Saat sang
laki-laki mencoba membantu membangunkannya, wajah gadis itu memerah padam dan
ia menolak dengan keras. Laki-laki itu hanya bisa mengalihkan pandangannya
dengan ekspresi bingung.
"Anu,
tadi aku diserang monster. Terus,
ada luka besar di sini—mungkin ini..."
Gadis itu
menyingkap kausnya yang sobek sedikit. Di sana, tidak ada bekas luka sama
sekali, yang terlihat hanyalah perut putih mulus tanpa lemak.
Bagi laki-laki
yang telah dipaksa hidup terisolasi dari masyarakat dan menjalani hidup pantang
duniawi, pemandangan itu terlalu mengejutkan. Ia merasakan aura erotis yang
samar dari sikap tanpa pertahanan itu, hingga tanpa sadar ia membungkukkan
badannya ke depan.
"O-oh. Sudah
kusembuhkan dengan sihir pemulihanku."
Setelah
mengatakan itu, si laki-laki terdiam.
Ia hanya tidak
ingin ketahuan kalau bagian selangkangannya sudah mengeras seperti batu.
Laki-laki ini masih perjaka. Karena itulah, ia sama sekali tidak tahu cara
menghadapi perempuan.
—Gawat! Bagaimana
ini! Harus diapakan keheningan ini!
Namun,
justru sang gadislah yang bergerak lebih dulu.
"A-anu. Anda
sudah menolongku, kan. Terima kasih banyak! Nama saya Haruka Shimomura, seorang
Penjelajah. Kalau boleh, bi-bisakah saya tahu nama Kakak?"
Gadis bernama
Haruka itu memindahkan tongsis ke tangan kirinya, lalu membungkukkan tubuhnya
dengan sudut yang tajam sambil menjulurkan tangan kanannya dengan sigap.
"Ah, aku
Ryuto Sakazaki. Salam kenal."
"Ryuto
Sakazaki-san..."
Haruka mengulangi
nama itu seolah sedang meresapinya. Ryuto menelan ludah melihat ekspresi Haruka
yang tampak berkilau saat memejamkan matanya sejenak.
Meski dalam
situasi begini, pikiran perjaka Ryuto mulai berfantasi liar; "Eh?
Jangan-jangan, suasana berdua saja di tempat gelap ini cukup romantis?"
"A-anu, bolehkah saya memanggil Anda Ryuto-san!?"
"Uooh. A, ah, boleh saja. Kalau begitu... Fuhihi."
Ia tidak bisa menahan tawa mesum yang keluar secara refleks.
Rendahnya Skill interaksi sosial Ryuto terhadap perempuan membuat segala
gerak-geriknya terasa menjijikkan.
"Ya, kalau begitu ayo pergi. Shimomura-san."
Ryuto memanggil Haruka dengan nama keluarganya, berpikir
bahwa memanggil nama kecil secara tiba-tiba akan terdengar terlalu akrab.
"Haruka! Panggil saja Haruka!"
Haruka mendekat hingga hidungnya hampir bersentuhan dengan
wajah Ryuto dan berteriak. Ryuto yang terkejut sekaligus pening karena aroma
manis yang tercium dari tubuh Haruka, mundur setengah langkah dan menjawab.
"Haruka-san."
"Ah, Haruka
saja sudah cukup!"
"O-oh. Kalau
begitu, Haruka. Begitu saja ya?"
"Iya!"
"Nah, karena
kita sudah saling kenal, bagaimana kalau kita bertukar informasi?"
Inilah hal yang
paling diinginkan oleh Ryuto.
"Asosiasi
Penjelajah? Lisensi? Sistem Rank? Maaf, aku sama sekali tidak tahu soal
itu."
"Eeeh! Tidak
tahu itu gawat lho, Kak. Benar-benar gawat."
"Begitukah?"
"Iya, secara
hukum, menjelajah atau membasmi monster tanpa lisensi itu dilarang. Begitu
ketahuan pihak Asosiasi, Kakak bisa kena pasal pelanggaran Undang-Undang
Senjata Api dan Tajam yang baru, hukumannya bisa lima belas tahun penjara atau
denda maksimal tiga juta yen."
"Serius...
aku tidak tahu. Sejak kapan aturannya begitu?"
"Ah,
tapi, tapi, karena Ryuto-san adalah laki-laki, dari sudut pandang hukum
perlindungan, mungkin ada pengecualian yang bisa diusahakan."
Setelah
berkata demikian, Haruka terdiam di tempat sambil mengerang "uuum"
dan tenggelam dalam pikirannya.
—Laki-laki?
Hukum perlindungan?
Tanda
tanya besar muncul di kepala Ryuto. Tanpa ia sadari, Haruka mendekatkan wajahnya dan mengendus-endus Ryuto.
Ryuto yang sarafnya sudah terkikis karena hidup lama di dungeon pun merasa
sangat malu dan menjaga jarak sedikit.
"A-apa aku
bau? Padahal aku merasa sudah mandi."
"Ah! Maaf!
Bukan bermaksud begitu! Tolong jangan tersinggung! Ryuto-san sama sekali tidak
bau kok. Malah terasa sangat liar!"
"Liar? A,
ahaha. Begitu ya."
—Sepertinya
perempuan ini tidak normal. Meskipun dia imut sih.
Namun, Ryuto
tidak mengatakannya. Sebaliknya, ia malah mengumpat pada Tuhan karena tidak
memberinya pertanda untuk menjaga kebersihan diri setiap hari jika memang akan
ada pertemuan seperti ini.
"Ngomong-ngomong,
Ryuto-san. Kenapa Anda bisa ada di sini? Penjelajah dungeon laki-laki itu
secara teknis seharusnya tidak ada, kan?"
"Penjelajah
tidak ada yang laki-laki?"
"Anu,
sebenarnya bagaimana cara Kakak masuk ke dungeon ini? Masuk lewat rute mana
pun, pengawasan Asosiasi sangat ketat, jadi tidak mungkin bisa menyelinap masuk
secara diam-diam. Ah, maaf. Streaming-nya sudah kumatikan, jadi ini
rahasia di antara kita saja. Kakak boleh bicara jujur."
"Tu-tunggu
sebentar. Pertanyaannya terlalu banyak. Maaf ya, aku sudah terlalu lama tinggal
di dungeon jadi baru kali ini bicara dengan orang lagi. Biarkan aku memastikan
satu per satu."
"Boleh kokー. Maaf ya, aku juga terlalu banyak tanya.
Ehe."
"Begini,
singkatnya aku berhadapan dengan monster super kuat di bagian terdalam dungeon
ini, lalu aku hampir mati dan terpisah dari rekan-rekanku."
"Ah, aku
juga sama! Aku juga dikejar Minotaur dan terpisah dari teman-temanku!"
"A, ah. Iya.
Lalu, entah bagaimana aku bisa bertahan hidup, tapi hidupku penuh penderitaan.
Sudah sangat lama aku tersesat di dungeon ini."
"Begitu,
ya..."
"Uooh!"
Ryuto terkejut.
Mata besar Haruka berkaca-kaca, lalu tetesan air mata besar mulai jatuh
membasahi pipinya. Gadis itu maju seolah hendak memeluk Ryuto dan menggenggam
tangan laki-laki itu dengan kedua tangannya. Ryuto langsung ereksi.
"Pasti berat
sekali ya, Ryuto-san."
—Oi, serius nih.
Jangan-jangan, gadis ini suka padaku?
Ryuto adalah
perjaka tulen. Dan seorang perjaka tidak tahu apa-apa soal perempuan.
Ibaratnya, mereka adalah makhluk menyedihkan yang merasa "dia pasti jatuh
cinta padaku" hanya karena seorang gadis memungut dan mengembalikan
penghapusnya yang jatuh sambil tersenyum di kelas.
"Be-berat? He, itu sih masalah kecil buatku."
—Gawat, anak ini
pasti sudah jatuh cinta padaku. Repot juga ya.
Karena hidup di
dungeon seperti binatang buas dan melupakan moralitas, indra Ryuto mengenai
rasa suka dan benci manusia sudah benar-benar kacau. Apalagi sejak dulu ia
tidak populer, jadi ia tidak punya kekebalan terhadap perempuan.
"Kasihan
sekali. Ryuto-san pasti sudah berjuang keras sendirian di tempat gelap seperti
ini."
"Ti-tidak
kok, tidak seberapa. Biasa
saja, hal biasa. Dahaha."
Laki-laki adalah
makhluk yang akan berpura-pura kuat secara berlebihan di depan perempuan. Meski
terasa perih dan berat, sebagian besar laki-laki benci menunjukkan kelemahan di
depan orang lain. Mungkin ini juga bagian dari insting sebagai makhluk hidup.
"Anu, kalau
boleh tahu, sudah berapa lama Ryuto-san tersesat?"
"Aku tidak
tahu pastinya, tapi let me see. Bagaimana ya. Awalnya aku menghitung hari, tapi
mungkin sudah beberapa bulan atau beberapa tahun. Ngomong-ngomong, kau tahu sekarang tahun
berapa dan bulan berapa?"
"Anu,
sekarang Mei tahun 2025. Tahun Reiwa 7."
"Eh, apa
itu? Bukannya tahun 2005? Terus, Reiwa itu apa? Bukannya sekarang zaman
Heisei?"
Zaman Ryuto telah
berhenti di Heisei.
"Anu, Heisei
sudah berakhir di tahun ke-31... Ryuto-san, candaan itu tidak lucu lho.
Haha."
Haruka tertawa hambar dengan pipi yang berkedut.
"Eh, tu-tunggu. Bohong, kan? Sejak kapan aku naik mesin
waktu—maksudku! Kalau begitu, aku sudah tersesat di dungeon selama dua puluh
tahun? Kau bercanda, kan! Oi!
He-hei, apa aku terlihat seperti kakek-kakek tua bagi kalian!?"
"U-uh, anu.
Karena rambut dan janggut Kakak panjang, aku kurang tahu pasti. Tapi
setidaknya, Ryuto-san tidak terlihat setua itu kok."
"Tu-tunggu.
Haruka, kau punya pisau atau semacamnya?"
"Ah,
iya."
Ryuto meminjam
pisau dari Haruka, lalu menggunakan sisa sabun dan air yang berharga untuk
mulai mencukur janggut di wajahnya. Janggut Ryuto sudah tumbuh memanjang hingga
ke dada.
—Bohong, bohong,
bohong! Kalau dua puluh tahun berlalu, berarti umurku sudah tiga puluh delapan
tahun? Aku? Sudah jadi paman-paman! Padahal aku masih perjaka dan belum pernah
sekalipun bermesraan dengan perempuan!
Jika menyangkut
penggunaan senjata tajam, tidak ada yang bisa mengalahkan Ryuto. Gerakan
pisaunya sangat lincah. Setelah mencukur bersih janggutnya, Ryuto mengintip ke
cermin. Di sana terpantul wajah dirinya saat berusia delapan belas tahun, wajah
yang dulu sering diejek kakak perempuannya sebagai "bocah brengsek bermata
galak".
"He-hei!
Lihat! Aku sama sekali tidak kelihatan seperti paman-paman, kan!"
Saat Ryuto
berbalik dengan penuh semangat, Haruka hanya bisa melongo dengan mulut terbuka
seperti patung Haniwa, tubuhnya membeku di tempat.
"Haruka?"
Ryuto
memanggilnya. Seketika wajah Haruka memerah padam, keringat dingin muncul di
dahinya, dan wajahnya berubah seperti gurita yang baru diangkat dari panci
mendidih.
"...Bohong,
ganteng banget."
"Hah?"
"Kyuu."
Hanya
mengatakan itu, Haruka pingsan dengan tangan mendekap dada dan jatuh terjungkal
ke belakang. Jika Ryuto tidak dengan sigap menangkapnya, kepala Haruka mungkin
sudah terbentur batu dan nyawa yang baru saja diselamatkan itu bisa melayang
kembali.
Ada alasan
mengapa Haruka menunjukkan ketertarikan yang begitu sepihak pada Ryuto.
Selama Ryuto
mengalahkan Raja Iblis dan tersesat di dungeon, dua puluh tahun telah berlalu
di permukaan bumi. Selama periode itu, kutukan yang dilepaskan Raja Iblis saat
kematiannya berubah menjadi penyakit menular yang sangat ganas.
Penyakit yang
menyerang laki-laki di permukaan bumi itu disebut Virus Satan. Akibatnya,
populasi laki-laki di dunia menurun drastis. Perbandingan laki-laki dan
perempuan di dunia kini kira-kira adalah 1:1000.
Laki-laki telah
menjadi kaum yang sangat langka. Bisa dibilang, spesies yang terancam punah.
Tentu
saja bagi Haruka, ini adalah pertama kalinya seumur hidup ia melihat laki-laki
yang seumuran dengannya. Dan Ryuto, secara objektif, memiliki wajah yang
tampan.
Dia
benar-benar berbeda dari laki-laki di kota yang dipingit dan dilindungi karena
kelangkaannya. Aura liarnya sangat menarik insting dasar Haruka.
Ditambah
lagi, ada nilai tambah sebagai "pahlawan penyelamat nyawa". Wajar saja jika rasa suka Haruka terhadap
Ryuto melonjak drastis.
Tentu saja, Ryuto
saat ini sama sekali tidak tahu soal kondisi langka tersebut. Sungguh malang
nasibmu, wahai sang perjaka.
Namun, Ryuto
segera ditarik kembali ke kenyataan.
"Lagi
enak-enak ngobrol, eh lawannya tiba-tiba pingsan."
—Situasi macam
apa ini.
Ryuto merasa
bingung luar biasa sambil memeluk Haruka yang pingsan karena syok. Sebagai
perjaka tulen, ia tidak tahu cara menangani perempuan. Tepat saat ia hendak
membaringkan Haruka di tanah dan memikirkan langkah selanjutnya, sensor Ryuto
bereaksi keras.
Ada niat
membunuh yang sangat kuat sedang mendekat. Monster.
"Umm,
ini sih... cuma kroco, kan!"
Indra
pendengaran Ryuto yang melampaui batas manusia bahkan lebih tajam dari
kelelawar. Ia merasakan sekumpulan monster yang mendekat dengan langkah
mengendap-endap dari balik lorong.
Ryuto
merasa lega setelah menyadari bahwa kekuatan mereka tidak ada apa-apanya
dibandingkan para penguasa lantai dalam yang ia hadapi selama ini.
"Bau khas ini, pasti Goblin."
Tidak ada perasaan khusus. Ryuto sudah sering berurusan
dengan mereka saat ia masih pemula dulu. Goblin adalah monster level ujian bagi
pemula.
Meski ukuran tubuh dan kemampuan fisiknya jauh di bawah
manusia, mereka cukup licik.
Selain itu, jika mereka berkumpul dalam kelompok, mereka
bisa bekerja sama dengan baik, sehingga bisa menjadi lawan yang berbahaya bagi
orang yang tidak mahir bersenjata atau tidak memiliki anugerah dari Sang Petapa
Agung.
—Tapi mereka
benar-benar tanpa pertahanan ya.
Ryuto berjongkok
dan menatap wajah Haruka. Dia benar-benar sangat cantik. Ingin rasanya ia
menciumnya. Menyentuhnya. Meremasnya. Melakukannya.
Wajar saja jika
mata Ryuto yang sehat itu tertuju pada sepasang gundukan kembar milik Haruka.
Tepat saat kabut nafsu mulai menyelimuti otak Ryuto, seolah merasakan gelombang
tersebut, Haruka mendadak bangun dan menegakkan tubuhnya.
"A-aku—"
"Uoah!"
Ryuto dengan
sigap menghindar agar tidak terkena sundulan kepala Haruka. Sepertinya Haruka
memiliki kemampuan deteksi bahaya yang cukup tinggi, karena ia langsung
menegang merasakan niat membunuh dan gelombang jahat yang memenuhi area
sekitar.
"Mengganggu
saja."
Ryuto melirik ke
arah bayangan batu yang jauh. Seekor Goblin sedang membidik dengan busur buatan
tangan. Jaraknya sekitar dua puluh meter.
Sambil tetap
berjongkok, Ryuto memungut sebuah kerikil, lalu tanpa menoleh ia melemparkan
kerikil itu ke belakang dengan satu tangan.
"Wah!"
Secara refleks
Haruka menutup kedua telinganya. Bersamaan dengan itu, suara tajam gyuuun
seperti pesawat jet yang meluncur menggema di dalam gua. Terdengar suara daging
yang hancur dari kejauhan.
Kerikil seukuran
bola pingpong yang dilempar Ryuto tepat mengenai Goblin itu. Kekuatan
penghancur batu yang dilempar dengan tambahan energi sihir itu bahkan melebihi
tembakan senapan rifle.
Haruka menoleh ke
arah Goblin yang tewas itu.
"Eh, ah, apa itu?"
"Cuma bersih-bersih sampah."
Ryuto berdiri dan mengacungkan jempol ke arah musuh yang
baru saja ia singkirkan. Kemudian, ia mengajak Haruka untuk mulai berjalan.
Ryuto menjentikkan jarinya, dan sebuah bola cahaya kecil
muncul di atas kepalanya. Area sekitar menjadi terang benderang. Di sana,
terlihat sosok iblis kecil malang yang tergeletak dengan kepala hancur.
"Ah, ini Goblin. Hebat..."
"Ehem."
Ryuto merasa malu dan menggosok bagian bawah hidungnya
dengan jari. Selama pertarungan maut yang panjang, tidak pernah ada satu orang
pun yang memujinya meski ia telah membunuh ribuan monster. Namun, Haruka
mengakui keberadaannya. Ryuto merasa sangat senang.
"Hebat! Hebat banget! Tadi Kakak sama sekali tidak melihat ke
belakang, kan! Tapi bisa
melakukannya hanya dengan satu kerikil...! Ryuto-san ternyata sangat kuat ya.
Aku benar-benar terkejut!"
Haruka melompat
kecil di tempat sambil bertepuk tangan memuji Ryuto. Jika ia punya ekor, ia
pasti sudah menggoyangkannya dengan sangat kencang. Pujiannya sangat
berlebihan. Bagi laki-laki yang sudah berpengalaman, kepolosan seperti ini
mungkin hanya akan ditertawakan.
Namun bagi Ryuto
yang tidak pernah dipuji oleh perempuan muda sejak dulu, reaksi Haruka sangat
memuaskan harga dirinya. Ia benar-benar bahagia.
Sebenarnya,
sebelum dan sesudah pembasmian Raja Iblis, pencapaian Ryuto memang dikenal
dunia, namun ia baru didewakan setelah ia dianggap tewas.
Jadi, ia hampir
tidak pernah merasakan dipuji secara langsung, apalagi oleh gadis muda yang
cantik.
"E-ehehe.
Dipuji begitu pun aku tidak bisa memberimu apa-apa lho."
"Tidak
kok! Ryuto-san benar-benar luar biasa!"
"O-oh."
Ryuto
merasa sangat puas dan nyaman karena keinginan untuk diakui telah terpenuhi
oleh Haruka yang memujinya dengan mata berbinar.
—Serius nih. Anak
ini pasti suka padaku. Tidak salah lagi. Apakah ini yang dinamakan cinta pada
pandangan pertama? Ternyata aku sangat populer ya. Dahaha. Repot juga. Jadi ini
ya? Hari-hari pertarungan di dungeon memberiku kekuatan dan aura liar. Atau mungkin
aura dandysm yang terpancar dariku? Repot juga ya, mufufu.
"A,
itu...!"
Saat Ryuto sedang
menari-nari kegirangan sendirian, Haruka menunjuk ke arah lorong di depan. Di
ujung lorong terdapat ruang persegi yang sangat luas.
Di sana,
diterangi oleh lumut cahaya yang tumbuh liar, berdirilah seekor Cerberus
raksasa.
Cerberus. Anjing
penjaga neraka dengan tiga kepala dan ekor ular raksasa. Surainya terdiri dari
ribuan ular, dan ukurannya—termasuk tinggi tubuhnya—dengan mudah melampaui
sebuah truk besar.
Tentu saja, jika
tempat Ryuto berada saat ini memang benar-benar lantai atas, monster sekuat itu
seharusnya tidak mungkin ada di sini. Dunia di dalam dungeon yang terlihat
kacau sebenarnya adalah ruang yang sangat tertib.
Artinya, semakin
jauh dari bagian terdalam atau semakin dekat dengan lantai atas, pengaruh dari
dunia lain semakin lemah, sehingga hanya monster lemah yang muncul.
"Ha-hawawa..."
Haruka jatuh
terduduk di tempat. Di tangannya terdapat tongkat sepanjang enam puluh
sentimeter dengan ponsel yang terpasang di ujungnya.
Itu adalah tongsis untuk streaming video. Bahkan
dalam situasi ini, lensa kamera tetap mengarah ke arah Cerberus.
Ryuto melirik sekilas ke arah Cerberus yang menggeram dari
jarak seratus meter, namun ia malah lebih tertarik pada ponsel milik Haruka.
"Hei,
Haruka. Aku ingin tanya sedikit. Apa ponsel itu terhubung ke internet atau
semacamnya?"
Ryuto memainkan
ponsel itu dengan asal hingga menyala.
"Bu-bukan waktunya untuk itu Ryuto-san! Pokoknya kita harus lari—"
"Heh, jadi
ini terhubung ke internet ya. Hoo, hoho. Zaman benar-benar sudah berubah
ya. Oh? Apa aku masuk di situ? Peace, peace."
"Bukan itu! Di belakangmu!"
Ryuto bereaksi lebih cepat dari teriakan Haruka. Kepala
tengah Cerberus membuka mulut lebarnya dan menyemburkan api neraka yang
dahsyat. Seketika kegelapan menghilang.
Api neraka yang dikeluarkan dengan energi panas yang luar
biasa itu menyapu dasar gua. Jika manusia terkena langsung, mungkin tulang pun
tidak akan bersisa. Buktinya, dinding batu gua yang terbakar langsung memerah
dan meleleh.
Namun, saat itu Ryuto sudah melompati kepala Cerberus sambil
menggendong Haruka. Ia
mendarat dengan ringan di sisi lain gua yang luas itu. Kemudian, Ryuto
mengambil ponsel yang hampir dijatuhkan Haruka. Tatapannya beralih ke layar.
Kamera depan sedang aktif dan menampilkan wajah Ryuto.
"Oh,
apa ini? Apa ini wajahku yang muncul? Anu, apa ini? Wah, apa-apaan ini. Tulisannya mengalir ke bawah dengan cepat
jadi tidak bisa kubaca. Cepat sekali ya. Hei, Haruka. Bagaimana cara
menghentikan ini?"
: Wah, apa-apaan
nih! Haru-chin, ada apa?
: Ada suara
laki-laki!
: Halah, paling
tipuan—eh SERIUS ADA SUARA LAKI-LAKI!
: Laki-laki-sama!
: Kalian ini
harusnya lebih khawatir sama Haru-chin, tapi itu LAKI-LAKI!
: Eh,
bohong kan? Bukan AI suara?
:
Bukannya CG?
: Tapi
tidak ada gambarnya. Apa bug
suara ya?
: Ini jebakan!
: Haru-chin punya
pangeran!
: Bukan, itu
pasti orang lain.
: Cuma suaranya
yang jadi laki-laki?
: Tenang
semuanya. Tenang dulu, ayo lempar koin persembahan.
: Clink clink
: Clink clink
: Tabungan all-in!
: Ngomong-ngomong, bukannya itu Cerberus di sana!?
: MATI KITA!
Ryuto mengabaikan serangan Cerberus dan terus menatap tajam
ke arah komentar yang mengalir tanpa henti.
Tiga puluh meter. Itulah jarak lompatan Ryuto. Kemampuan luar biasa ini tentu saja
dilakukan melalui sihir kuat yang menjadi kebanggaan Ryuto.
Melompat sambil
menggendong orang dewasa adalah hal yang mustahil bagi manusia biasa. Haruka
pun meski terlihat ringan, beratnya mungkin sekitar lima puluh kilogram.
Melompat puluhan
meter sambil memanggul beban seberat lima karung beras sepuluh kilo bukanlah
sesuatu yang bisa dilakukan manusia.
Itu adalah
kemampuan manusia super yang dihasilkan oleh otot yang diperkuat dengan energi
sihir yang dialirkan ke kedua kaki Ryuto. Faktanya, hanya ada sedikit praktisi
sihir sehebat ini di dalam Asosiasi Penjelajah yang ada saat ini.
"Awawa..."
Haruka yang
digendong merasa pening karena organ keseimbangannya tidak sanggup mengikuti
perpindahan posisi yang sangat cepat.
Ryuto telah
melompat ke ketinggian dan jarak yang mustahil bagi manusia normal. Akibatnya,
gaya G yang dirasakan Haruka saat itu melampaui apa yang dirasakan saat menaiki
roller coaster.
"Kyuu..."
"Ya ampun, Dia
pingsan lagi?"
Beban Haruka
dalam dekapannya terasa bertambah berat. Itu bukti kalau si gadis sudah
kehilangan kesadarannya.
Meski begitu,
bagi Ryuto, lebih mudah bergerak jika Haruka diam seperti patung daripada
bertindak ceroboh.
Cerberus itu
seolah tidak terima serangan mautnya baru saja dihindari. Ia kembali membuka
mulut lebarnya lebar-lebar.
"Apa? Masih
mau lanjut?"
Tenggorokan
Cerberus itu bersinar terang benderang.
Itu
adalah ancang-ancang umum yang dilakukan monster jenis ini sebelum melancarkan
serangan napas buatan.
Cerberus
itu memuntahkan peluru api pijar secara bertubi-tubi. Ukuran tiap bola apinya
sebesar pelukan orang dewasa.
Gumpalan
api itu melesat lurus ke arah Ryuto yang sedang membelakanginya. Energi padat
yang sangat mengerikan.
Ruang
gelap gulita itu seketika menjadi terang benderang seperti siang hari akibat
bola-bola api merah tersebut.
Ryuto
menjulurkan tangan kanannya, memasang pembatas sihir di depannya.
Yang
Ryuto bentuk dari sihirnya adalah sebuah perisai energi berbentuk persegi
panjang yang bercahaya terang.
Perisai cahaya
itu memantulkan peluru-peluru api dengan sangat mudah.
Api merah membara
itu terpental ke samping. Menghancurkan dinding batu dan menciptakan percikan
api jingga yang beterbangan.
Seolah tidak
tahan serangannya ditangkis semudah membalikkan telapak tangan, Cerberus itu
meraung keras dan membuka mulutnya lebar-lebar.
Di dalam
tenggorokannya, gumpalan bola api baru mulai terbentuk satu demi satu. Monster
itu memancarkan niat membunuh yang pekat, berniat membakar habis Ryuto dengan
serangan beruntun.
Di sisi lain,
Ryuto malah kembali sibuk mengutak-atik ponselnya.
"Berisik
banget sih. Aku lagi sibuk, tahu."
Sambil
berkata begitu, Ryuto yang masih mendekap Haruka di lengan kanan, mencabut
pedang panjang beserta sarungnya dengan tangan kiri.
Ia
memegang pedang itu dengan posisi terbalik dan mengarahkan bagian pangkal
gagangnya ke arah Cerberus. Permata yang tertanam di pangkal gagang itu
berwarna biru transparan.
Cerberus kemudian
memuntahkan peluru api dari tenggorokannya secara beruntun layaknya senapan
mesin.
"Waduh,
panas ya. Ayo kita hentikan pemanasan global demi keselamatan dunia."
Begitu Ryuto
memusatkan pikirannya, permata itu bersinar biru semakin terang. Cahayanya
begitu dahsyat hingga nyaris menelan seluruh isi gua besar tersebut. Cahaya
biru dan putih berkedip-kedip hebat.
"Sihir—Absolute
Zero."
Seketika, lambang
heksagon berbentuk kristal salju melesat dari permata itu ke udara kosong.
Peluru-peluru api yang ditembakkan Cerberus langsung menguap menjadi asap putih
dan lenyap tanpa sisa.
"Sampah yang
tidak bisa ramah pada bumi lebih baik mati saja."
Lalu, hawa dingin
yang luar biasa menyembur dari permata itu dan menyerang Cerberus.
Tanpa sempat
bereaksi, Cerberus itu membeku di tempatnya berdiri. Hanya dalam hitungan
detik, sihir hawa dingin itu telah mengubahnya menjadi patung es abadi.
◆◇◆
Thread Pujian
untuk Streamer Kelas Bawah Haru-chin PART 26
001 Penjelajah
Tanpa Nama Makasih buat
utamanya.
014 Penjelajah
Tanpa Nama Haru-chin
beneran gawat ya?
033 Penjelajah
Tanpa Nama Ummm, nggak
tahu juga.
042 Penjelajah
Tanpa Nama Tapi serius
deh, masa dia bakal jadi korban pertama tahun ini?
056 Penjelajah
Tanpa Nama Haru-chin,
kamu bakal mati kah?
059 Penjelajah
Tanpa Nama Nggak mau,
pokoknya nggak mau!
063 Penjelajah
Tanpa Nama Yah, meski
bilang nggak mau juga gimana ya. Kita nggak bisa ngapa-ngapain.
081 Penjelajah
Tanpa Nama Penghuni lama
utas ini kan dukung Haru-chin karena terpesona sama kegigihan dan
penjelajahannya yang jujur biarpun pelan.
087 Penjelajah
Tanpa Nama Setuju banget!
092 Penjelajah
Tanpa Nama Tapi
sebenernya kondisi aslinya gimana ya?
122
Orang yang Bangkit dari Abyss ◆61NRY564SJ Rangkuman sementara:
- Haru-chin
tersesat dan terpisah dari rekan streaming-nya.
- Nggak
lama setelah itu ketemu sama "Wagyu" Rank tinggi (kayaknya
Minotaur).
- Luka
parah di pinggang.
- Lari
pontang-panting makin masuk ke lantai bawah.
- Stream mati. Ya, kira-kira
begitulah.
125
Penjelajah Tanpa Nama Sejujurnya, begitu si Sapi Mino muncul di lantai tempat pemula
berkeliaran, Asosiasi juga salah karena nggak ngasih pengumuman buat berhenti
menjelajah.
126 Penjelajah
Tanpa Nama Bener.
Haru-chin nggak salah sama sekali.
127 Penjelajah
Tanpa Nama Duh, ini udah
korban keberapa sih tahun ini, ya ampuuun.
129 Penjelajah
Tanpa Nama Nasibnya lagi
bener-bener "apes" ya.
132 Penjelajah
Tanpa Nama Bukan waktunya
bercanda, woi.
134 Penjelajah
Tanpa Nama Parah ih.
Padahal satu-satunya pelipur laraku cuma nonton live stream kacau
Haru-chin dkk sambil minum.
138 Penjelajah
Tanpa Nama Gaya pemulanya
yang asyik berburu monster kroco sampai nggak sempat mikirin topik obrolan itu
justru yang paling seru.
140 Penjelajah
Tanpa Nama Berduka cita.
143 Penjelajah
Tanpa Nama Belum mati,
woi! Jangan ngomong sembarangan.
145 Penjelajah
Tanpa Nama Asosiasi
kerjanya apa sih. Cuma tahu narik iuran kerjasama doang tapi nggak berguna pas
dibutuhin.
148 Penjelajah
Tanpa Nama Oh, sesama
penjelajah ya?
154 Penjelajah
Tanpa Nama Takut kena doxxing,
tapi intinya iya. Meski aku sendiri juga baru aja lepas dari Rank E dan naik ke
D, jadi belum hebat-hebat amat. Tapi diem-diem aku selalu semangatin Haru-chin.
160 Penjelajah
Tanpa Nama Sama-sama. Gue
juga penjelajah. Buat kita yang nggak berbakat, nembus tembok Rank E itu emang
berat banget.
163 Penjelajah
Tanpa Nama Syarat naik ke
Rank D itu kan harus membasmi lima monster Rank D sendirian. Lumayan berat sih.
193 Penjelajah
Tanpa Nama Ada yang mau
coba turun buat ngecek? Paling
mentok juga cuma di sekitar lantai 3 kan.
201
Penjelajah Tanpa Nama Ah, denger-denger Asosiasi udah nutup rutenya. Ada penjelajah tipe streamer yang maksa mau
turun terus malah ribut di sana.
210 Penjelajah
Tanpa Nama Ribut terus.
211 Penjelajah
Tanpa Nama Ahaaan ufuuun.
214 Penjelajah
Tanpa Nama Makanya
berhenti dong, nggak sopan tahu.
223 Penjelajah
Tanpa Nama Pokoknya
percaya Haru-chin selamat. Umurnya seumuran sama anak perempuanku soalnyaー.
225 Penjelajah
Tanpa Nama Serius?
Berarti Anda sudah lumayan tua... ah, lupakan.
227 Penjelajah
Tanpa Nama Yah, kekacauan
Haru-chin emang selalu ngasih kita semangat buat hidup besok sih.
229 Penjelajah
Tanpa Nama Kuliner kacau
di dalam dungeon-nya juga udah selevel "teror makanan" kalau ditonton
tengah malem.
231 Penjelajah
Tanpa Nama
Ngomong-ngomong, gimana nasib temen Haru-chin yang logat Kansai sama yang
pendiem itu?
234 Penjelajah
Tanpa Nama Mereka
kayaknya nggak apa-apa. Tadi bilang di medsos!
237 Penjelajah
Tanpa Nama Wah, info di
sini kumpulnya cepet banget ya. Hebat.
241 Penjelajah
Tanpa Nama Bener atau
nggaknya terserah deh. Haru-chin, kumohon hiduplah. Kalau nggak, aku nggak mau
yaaan.
254 Penjelajah
Tanpa Nama Aduh, kayaknya
aku bakal depresi. Nggak konsentrasi kerja, mau pulang terus tidur aja.
257 Penjelajah
Tanpa Nama Woi, ini udah
jam dua pagi...
258 Penjelajah
Tanpa Nama Semangat ya
buat budak korporat!
259 Penjelajah
Tanpa Nama Tapi kita
semua yang masih melek juga sama aja sih.
289 Penjelajah
Tanpa Nama Gimana ya
kondisi Haru-chin. Belum ada kabar baru?
323 Penjelajah
Tanpa Nama Hah?
324 Penjelajah
Tanpa Nama Oh?
325 Penjelajah
Tanpa Nama Hmm?
326 Penjelajah
Tanpa Nama Ada apa?
328 Penjelajah Tanpa Nama Live stream-nya
nyala lagi!
331 Penjelajah
Tanpa Nama Haru-chin
sehat, woi!
332 Penjelajah
Tanpa Nama Haruka
Shimomura bangkit! Haruka Shimomura bangkit!
334 Penjelajah
Tanpa Nama Tapi tunggu,
kok ada suara laki-laki!?
336 Penjelajah
Tanpa Nama Kenapa ada
laki-laki-sama di dalam dungeon!
338 Penjelajah
Tanpa Nama Bukannya
labirin itu terlarang buat laki-laki!
339 Penjelajah
Tanpa Nama Gambarnya
goyang-goyang parah!
340 Penjelajah
Tanpa Nama Suaranya juga
pecah. Udah kayak film horor.
341 Penjelajah
Tanpa Nama Cuma
kedengeran suaranya dikit-dikit. Nggak paham ngomong apa.
343 Penjelajah
Tanpa Nama Tapi barusan
itu beneran suara laki-laki kan...
346 Penjelajah
Tanpa Nama Nggak mungkin
lah. Zaman sekarang jumlah laki-laki-sama itu sedikit banget. Mustahil mereka
bakal masuk ke dungeon yang bahaya begini. Nggak masuk akal.
347 Penjelajah
Tanpa Nama Kita ini kan
pejuang tanpa cinta yang udah menyerah buat berinteraksi sama laki-laki-sama.
348 Penjelajah Tanpa Nama Jangan disamain dong. Gue
belum menyerah ya.
349 Penjelajah
Tanpa Nama Suara di stream
emang sempet putus-putus. Tapi fix, yang nyelamatin Haru-chin itu
laki-laki-sama.
351 Penjelajah
Tanpa Nama Cuma sekilas
sih, tapi suaranya kedengeran masih muda ya.
354 Gadis Baja
◆0R00CIW871 Suaranya nggak terlalu tinggi atau rendah.
Usianya pasti sekitar akhir belasan atau awal dua puluh tahun. Gue yang udah
sepuluh tahun lebih jadiin suara cowok sebagai "bahan" berani jamin
itu.
357 Penjelajah
Tanpa Nama Woi, tiba-kira
muncul orang mesum.
363 Penjelajah
Tanpa Nama Sommelier
suara ya... boleh juga!
366 Penjelajah
Tanpa Nama Boleh dari
mananya!
367 Penjelajah
Tanpa Nama Tapi kalau
dipikir tenang, laki-laki-sama yang kedaftar jadi penjelajah resmi itu kan cuma
dua orang anggota Tim Penyelamat.
411 Penjelajah
Tanpa Nama Uwoooooh!
415 Penjelajah
Tanpa Nama Wah, apa nih.
Ngagetin aja.
421 Penjelajah
Tanpa Nama Kenapa kalian?
Saking jarang liat cowok akhirnya jadi gila ya?
423 Penjelajah
Tanpa Nama Bukan gitu! Ada cowok ganteng banget dateng,
uwooooh!
426 Penjelajah
Tanpa Nama Hah? Ngomong
apa sih... UWOOOOOH!
431 Penjelajah
Tanpa Nama Woi woi,
berisik banget... UWOOOOOH!
437 Penjelajah
Tanpa Nama Tenang
semuanya. Sebenarnya ada apa sih?
442 Penjelajah
Tanpa Nama [Kabar
Terkini] Alasan Haru-chin selamat. Dia diselamatin sama penjelajah ganteng yang
masih muda banget.
443 Penjelajah
Tanpa Nama Eh, serius?
Ternyata beneran, uwooooh!
445 Penjelajah
Tanpa Nama Eh, gila, muda
banget. Masih belasan tahun nggak sih?
446 Penjelajah
Tanpa Nama Keren keren
keren, ganteng banget ya ampun.
453 Penjelajah
Tanpa Nama Tipikal
ganteng cowok Jepang banget ya.
459 Penjelajah
Tanpa Nama Bener! Aku
juga mikir gitu. Masih muda, tapi nggak ada kesan "lembek". Aura
liarnya dapet banget.
461 Penjelajah
Tanpa Nama Senyumnya
imut.
464 Penjelajah
Tanpa Nama Haaah, haah...
ugh.
465 Penjelajah
Tanpa Nama Berhenti deh.
471 Penjelajah
Tanpa Nama Berisik lu,
dongo.
475 Penjelajah
Tanpa Nama Woi, tapi
tunggu, itu bukannya Cerberus!?
477 Penjelajah
Tanpa Nama Nggak mungkin
makhluk kayak gitu ada di lantai atasーEh ADA BENERAN, UWOOOOH!
479 Penjelajah
Tanpa Nama LARI WOI,
LARI!
482 Penjelajah
Tanpa Nama Haru-chin, Mas
Ganteng, lari cepetaaan!
484 Penjelajah
Tanpa Nama Hah!?
Cerberus? Fix mampus sih itu.
492 Penjelajah
Tanpa Nama Bahkan
Penjelajah Rank A aja bahaya kalau nggak bareng tim! Ini gimana ceritanya?
494 Penjelajah
Tanpa Nama Eh, tunggu
sebentar.
498 Penjelajah
Tanpa Nama [Kabar
Terkini] Mas Penjelajah Ganteng ngebunuh Cerberus pakai sihir cuma dalam
sekejap.
501 Penjelajah
Tanpa Nama Bohong. Nggak
mungkin.
502 Penjelajah
Tanpa Nama Eh, kayaknya
beneran Cerberus-nya mati seketika gara-gara sihir Mas Ganteng itu.
504 Penjelajah
Tanpa Nama Haaah!?
506 Penjelajah
Tanpa Nama Orang ini
jangan-jangan senjata rahasia Asosiasi ya?
509 Penjelajah
Tanpa Nama Berarti kita
yang tahu rahasia ini bakal dilenyapin dong?
511 Penjelajah
Tanpa Nama Heh... siapa
pun yang tahu rahasia organisasi hanya punya satu pilihan: mati.
513 Penjelajah
Tanpa Nama Nggak mauuu
yaaan.
514 Penjelajah
Tanpa Nama Nggak mungkin
lah.
516 Penjelajah
Tanpa Nama Iya juga sih.
Penonton stream-nya aja membeludak, terus utas ini juga masih jalan
biasa.
517 Penjelajah
Tanpa Nama Siapa sih
barusan yang tiba-tiba sok jadi dalang di balik layar gitu.
519 Penjelajah
Tanpa Nama Heh... cuma
mau coba ngomong gitu aja. Maafin ya.
520 Penjelajah
Tanpa Nama Heh...
dimaafkan.
521 Penjelajah
Tanpa Nama Heh...
dimaafkan. Tapi lepas celana sana.
522 Penjelajah
Tanpa Nama Heh...
hukumannya posting foto celana dalam yang habis dilepas.
534 Penjelajah
Tanpa Nama Nih.
536 Penjelajah
Tanpa Nama Uweeeek!
537 Penjelajah
Tanpa Nama Serius deh,
berhenti. Gue lagi makan nih.
539 Penjelajah
Tanpa Nama Tengah malem
begini jangan makan dong.
541 Penjelajah
Tanpa Nama Ini mah udah
pagi.
545 Penjelajah
Tanpa Nama Waktunya
sarapan!
552 Penjelajah
Tanpa Nama Bisa nggak sih
berhenti posting barang kotor?
565 Penjelajah
Tanpa Nama Siapa juga
yang bakal seneng liat celana dalam lu.
566 Penjelajah
Tanpa Nama Bener! Isinya
kan cuma gadis-gadis doang di sini.
568 Penjelajah
Tanpa Nama Masih anget
lho baru dilepas.
571 Penjelajah
Tanpa Nama Nggak butuh,
woi!
577 Penjelajah
Tanpa Nama Gue hajar lu
ya.
578 Penjelajah
Tanpa Nama Apalagi
modelnya kayak celana harian, jadi kerasa terlalu nyata sampai bikin ilfil.
579 Penjelajah
Tanpa Nama Agak menguning
tuh. Cuci yang bener dong.
583 Penjelajah
Tanpa Nama Tuh kan,
Mamanya sampe marah.
584 Penjelajah
Tanpa Nama Huhu, padahal
udah memberanikan diri.
585 Penjelajah
Tanpa Nama Bodo amat!
586 Penjelajah
Tanpa Nama Bekas
"anu"-nya nggak bisa ilang biarpun udah dicuci berkali-kali.
591 Penjelajah
Tanpa Nama Pake popok aja
sana.
593 Penjelajah
Tanpa Nama Manner Wear~ ♪
595 Penjelajah
Tanpa Nama Jangan nyanyi!
601 Penjelajah
Tanpa Nama Itu mah buat
hewan peliharaan.
605 Penjelajah
Tanpa Nama Udah selevel
anjing kucing ya.
609 Penjelajah
Tanpa Nama Orang ini
emang binatang.
610 Penjelajah
Tanpa Nama Guk guk!
611 Penjelajah
Tanpa Nama Utas ini sudah
ternoda...
621 Penjelajah
Tanpa Nama Woi, malah
melenceng lagi bahasannya.
689 Penjelajah
Tanpa Nama Tolong
sesekali inget nasib Haru-chin juga ya.
◆◇◆
Cerberus telah
menemui ajalnya di tangan sihir Ryuto. Patung es raksasa di hadapannya mulai
mengeluarkan suara retakan yang tajam, seolah akan pecah berkeping-keping, dan
ribuan retakan halus menjalar ke seluruh permukaannya.
Detik berikutnya,
dibarengi dengan dentuman ledakan yang dahsyat, tubuh Cerberus hancur
berkeping-keping.
Pecahan es kecil
berubah menjadi serpihan salju yang menari-nari dan jatuh memenuhi gua raksasa
itu. Suhu di dalam gua pun mendadak anjlok.
Meski Ryuto hanya
mengenakan cawat kulit binatang, tubuh kekarnya tidak bergeming sedikit pun dan
tidak merasakan dingin barang sedikit pun.
Serpihan salju
yang berjatuhan berubah menjadi kabut tipis yang menyelimuti sekeliling mereka.
"Aaah,
segarnya."
Rasanya seperti
ada mesin penyerut es raksasa yang diletakkan tepat di atas kepalanya. Ryuto
seketika memutih karena tertutup tumpukan pecahan es halus yang jatuh
menimpanya.
"Wuuuu."
Ryuto mengguncang
seluruh tubuhnya ke kiri dan ke kanan dengan sangat kencang, persis seperti
anjing yang baru saja basah kuyup.
Orang-orang
biasa menyebutnya "Shiba Drill". Karena Ryuto memutar tubuhnya dengan
kecepatan tinggi, bagi orang lain yang melihatnya, bayangannya pasti akan
tampak seperti bor raksasa.
—Rasanya lega
sekali.
Perasaannya kini
sangat segar.
"Ah, gawat.
Ngomong-ngomong, apa Haruka baik-baik saja?"
"Kyuu."
Ia menatap Haruka
yang sedang didekapnya. Sepertinya gadis itu kehilangan kesadaran karena tidak
sanggup mengikuti ritme pertempuran sengit barusan. Mungkin dia pening. Meski
Ryuto mencoba mencoleknya dengan ujung jari, tidak ada tanda-tanda dia akan bangun.
Kalau sekarang,
kira-kira dia bakal sadar tidak ya kalau dadanya kusentuh?
Saat bertarung
tadi ia tidak memikirkannya, tapi saat menggendongnya ala pengantin begini,
kehadiran sosok yang bernapas hangat di dalam dekapannya terasa begitu
menggoda. Terutama bagian dada dan pantatnya.
"Pencet
sedikit, ah."
"Ngh..."
Ryuto menekan
bagian yang tampak menonjol di dada Haruka dengan jari telunjuknya. Tentu saja,
itu dilakukan di atas kain tebal yang merupakan perlengkapan pelindungnya, tapi
Haruka memberikan reaksi kecil.
Ugh,
selangkangan Ryuto langsung membentuk "tenda" kecil. Belum saatnya.
Belum waktunya tidur. Masih belum jam istirahat, lho. Baik anak baik maupun
anak nakal, semuanya harus melek sampai pagi, ini waktunya pesta!
Tidak,
bukan begitu.
Bukan
saatnya memikirkan hal konyol seperti itu.
Ryuto
kembali sadar, lalu matanya tertuju pada tongsis yang masih ia genggam di
tangan kiri.
"Ah,
gawat. Aku benar-benar gagal. Apa benda ini rusak, ya?"
Ryuto
mengutak-atik ponsel yang terpasang di ujung tongsis tersebut. Ada banyak alasan mengapa ponsel itu mati,
tapi yang paling utama mungkin karena perubahan suhu yang drastis.
Akibat terkena
dampak langsung dari sihir es yang digunakan Ryuto, komponen sensitif di dalam
ponsel itu mengalami malfungsi. Sama halnya seperti alat elektronik yang
kinerjanya menurun di daerah yang sangat dingin.
Ryuto menatap
layar ponsel itu sejenak, namun lama-kelamaan ia kehilangan minat dan berhenti
mengutak-atiknya.
"Yah,
nanti juga bakal bener sendiri. Cuma kedinginan doang."
Karena
sudah terlalu lama jauh dari barang elektronik, Ryuto tidak menderita kecanduan
ponsel seperti penyakit kronis manusia modern.
Faktanya,
beberapa saat kemudian, fungsi ponsel itu kembali normal.
"Nah,
sekarang apa yang harus kulakukan?"
Sambil mengapit
Haruka di ketiaknya, Ryuto tenggelam dalam pikirannya. Bagi Ryuto yang
sekarang, musuh selevel Cerberus bukanlah tandingan yang berarti.
Namun, jika benar
apa yang dikatakan Haruka bahwa tempat ini adalah lantai atas yang dekat dengan
permukaan, maka jalan keluar sudah dekat.
"Permukaan,
ya."
Ia hampir saja
menyerah. Alasan Ryuto terus bertarung selama waktu yang telah melenyapkan
konsep waktu itu sendiri adalah karena ada orang-orang yang ingin ia temui di
dunia atas.
Keluarganya, juga
rekan-rekan yang terpisah darinya setelah mereka mengalahkan Raja Iblis.
Alasan ia bisa
kembali dari dasar terdalam hingga ke sini adalah karena Ryuto tidak pernah
sekalipun menyerah. Keinginannya akan terkabul. Akhirnya.
Tiba-tiba, wajah
seorang gadis terlintas di benak Ryuto.
Kalau
pertempuran ini berakhir, aku akan menembaknya.
Rasanya ia pernah
mengatakan hal semacam itu kepada sahabat baiknya yang seumuran, Genma Shogen.
Shogen tertawa dan bilang itu adalah "death flag", tapi sekarang
Ryuto bisa membuktikan bahwa hal itu tidak benar. Dan mereka telah bertaruh.
Tentu saja, Ryuto
bertaruh bahwa ia akan selamat. Itu hanyalah candaan konyol remaja sebelum
pertempuran terakhir, padahal probabilitas untuk mati jauh lebih tinggi.
"Heh,
dasar bodoh. Taruhan ini aku yang menang, Shogen."
◆◇◆
Munculnya
Cerberus yang merupakan monster Rank A di lantai atas.
Begitu
menerima laporan tersebut, petinggi Asosiasi Penjelajah Nasional awalnya
mencoba tetap tenang dan bertindak sesuai prosedur. Namun, begitu informasi
tersebut terbukti benar, suasana seketika berubah menjadi kacau balau.
Ancaman monster Rank A bukanlah main-main. Terlebih lagi,
selama lima tahun terakhir, bayangan monster Rank A bahkan tidak pernah
terlihat di lantai bawah sekalipun.
Jika monster
sekuat itu muncul di lantai tiga, kemungkinan besar ia bisa menerobos keluar ke
permukaan.
Wajar jika
petinggi Asosiasi yang kebingungan langsung menghubungi salah satu pahlawan
yang pernah membasmi Raja Iblis untuk meminta arahan.
"Cerberus?
Jangan bercanda. Zaman sekarang, informasi di medsos itu banyak yang
direkayasa. Baru
minggu lalu juga ada kan, informasi pemunculan massal monster Rank B? Ternyata
itu cuma video hoax dari streamer nakal yang mau pansos.
Eh?"
"Tunggu
sebentar. Ulangi sekali lagi. Nama penjelajah yang melakukan streaming
itu adalah... Haruka Shimomura. Kamu yakin tidak salah dengar?"
Ichihime
Genma, salah satu mantan anggota tim penyelamat yang kini menjadi tokoh penting
di Party Santo Rakyat, mengerutkan kening di atas tulang hidungnya yang indah.
Ia
kemudian mendengarkan detail laporan tersebut dengan teliti, lalu segera
memerintahkan Asosiasi untuk membentuk tim pembasmi.
"Baiklah.
Pokoknya, aku juga akan pergi ke lokasi. Ya, tidak masalah. Meskipun aku sangat
sibuk dengan urusan pemerintahan, aku tidak pernah melewatkan latihan sehari
pun. Sampai sekarang pun, aku yakin kemampuanku tidak kalah dari Penjelajah
Rank A mana pun."
—Cerberus, ya.
Ichihime segera
memerintahkan sekretarisnya untuk menyiapkan kendaraan. Ia berganti pakaian
dari setelan jas ke pakaian yang lebih leluasa untuk bergerak, lalu menggenggam
Wand pendek yang tadinya bersandar di atas meja.
"Anak itu
benar-benar. Sialnya sampai ke level yang bikin geleng-geleng kepala.
Duh."
Dua puluh tahun
adalah waktu yang lama.
Shimomura Haruka,
yang ia ambil dari seorang sahabat, ia besarkan di rumah yang sama hingga usia
lima belas tahun tanpa membeda-bedakannya dengan anak kandungnya sendiri.
Fakta bahwa
Haruka menempuh jalan yang sama dengan ibu kandungnya sebagai seorang
Penjelajah bisa dibilang sudah suratan takdir. Namun, jika memikirkan seberapa
besar kemungkinan bertemu Cerberus yang luar biasa kuat di tengah siaran
langsung...
"Ini sih
probabilitasnya sudah setara dengan kejatuhan meteor tepat di kepala saat
sedang jalan kaki."
Ichihime masuk ke
dalam mobil sedan mewah berwarna hitam legam itu dan menginstruksikan sopirnya
untuk bergegas.
"Ah, tapi
tetap utamakan keselamatan berkendara, ya."
Ichihime yang
tahun ini menginjak usia empat puluh empat tahun tidak pernah sekalipun
melewatkan latihan, meski ia sibuk dengan urusan pemerintahan serta mencurahkan
segenap hati untuk keluarga dan membesarkan anak sejak pembasmian Raja Iblis.
Berkat
kedisiplinannya, kadar lemak tubuhnya tidak pernah sekalipun melampaui sepuluh
persen. Kemampuan fisiknya pun setara dengan atlet profesional. Kecantikannya
yang memiliki garis wajah tegas—berbeda dari standar orang Jepang pada
umumnya—tampak meluap dengan pesona kedewasaan.
"Ibu, ini
data yang dikirimkan oleh Asosiasi hingga saat ini."
"Terima
kasih."
Ichihime menerima
tablet PC dari Yurina Tsukikage, sekretaris yang duduk di sampingnya, lalu
dengan cepat menggeser layar untuk memasukkan seluruh poin laporan ke dalam
kepalanya.
Sebagai pengasuh
sementara, Ichihime sangat memahami sifat Haruka. Haruka bukan tidak memiliki
bakat sebagai Penjelajah, hanya saja perkembangannya sedang mandek. Saat ini ia
berada di Rank E, namun Ichihime memprediksi bahwa tergantung usaha gadis itu, ia
bisa mencapai Rank B.
—Dia punya
potensi sebesar itu.
Para Penjelajah
yang unggul dalam menjelajahi dungeon, menggali sumber daya atau logam langka,
serta membasmi monster yang merupakan musuh kemanusiaan, biasanya sangat cepat
matang.
Bagi mereka yang
bakatnya mekar lebih awal, bukan hal aneh jika di usia awal belasan tahun
mereka sudah bisa menguasai Skill skala besar atau sihir tingkat tinggi
yang bahkan melampaui orang dewasa.
Ibu kandung
Haruka adalah salah satu pengguna sihir terkemuka di dunia. Darah itu mengalir
deras dalam nadi Haruka. Namun anehnya, Skill sihir tidak pernah muncul
pada diri Haruka.
Haruka yang sejak
lahir memiliki kemampuan motorik unggul dan kekuatan fisik, akhirnya
mendapatkan Job Warrior yang terspesialisasi dalam pertarungan jarak
dekat berkat anugerah roh di Kuil Agung.
Meski begitu,
Ichihime selalu menyesal karena tidak memiliki cukup waktu untuk menggali
potensi Haruka yang sebenarnya.
Walau begitu,
jika Haruka sudah memutuskan untuk hidup sebagai Penjelajah, Ichihime merasa
tidak punya hak untuk mencampuri urusannya meski ia adalah ibu angkatnya.
Menantang dungeon
demi meraih takhta kemuliaan atau tewas mengenaskan menjadi mayat di dalam
kegelapan adalah kebebasannya sendiri.
Tetap saja, ia
tidak bisa memutus kasih sayang yang telah terjalin sebagai keluarga sejak
Haruka masih bayi hingga usia lima belas tahun.
"Benar-benar
ya, jarang sekali memberi kabar, cuma bikin khawatir saja."
Bagi Ichihime
yang hanya memiliki satu anak laki-laki, Haruka sudah seperti putri kandungnya
sendiri. Wajar saja, karena ia membesarkannya sejak masih bayi, mengganti
popoknya, dan memberinya susu.
Meski sekarang
Haruka sudah keluar dari rumah dan jarak fisik memisahkan mereka hingga jarang
menghabiskan waktu bersama, kasih sayang Ichihime tidak berubah. Bahkan saat
ini pun, dadanya terasa nyeri berdenyut dan sulit baginya untuk tetap tenang.
Drone pengintai
milik tim penyelamat sangat efisien; mereka berhasil merekam data gambar dan
video yang cukup jernih bahkan sebelum personel sampai di lokasi.
"Ah,
astaga."
Tanpa sadar,
gumaman itu lolos dari bibirnya. Pemunculan Cerberus di lantai atas kini
menjadi kenyataan. Dengan ini, negara dan Asosiasi kemungkinan besar akan lebih
memprioritaskan pemusnahan monster daripada penyelamatan Penjelajah.
Apa pun
pilihannya, tingkat kelangsungan hidup Haruka pasti merosot tajam. Ekspresi
Ichihime berubah mendung.
"Ibu, mohon
jangan putus asa," ujar Yurina, sang sekretaris yang mengetahui
situasinya.
Yurina adalah
wanita yang sangat jarang menunjukkan emosi di wajahnya. Namun sebenarnya, ia
adalah wanita yang sangat perasa.
Karena ia tahu
betapa Ichihime sangat menghargai keluarganya di atas segalanya, ia ikut merasa
sangat sedih.
Meski ia memahami
hal itu, sebagai orang yang berkecimpung di dunia politik, ia tidak bisa
menunjukkan perasaan pribadinya secara terang-terangan. Ichihime terus
memeriksa data yang terkirim dalam keheningan.
Ichihime
menghentikan gerakan tangannya saat mencapai bagian audio dari data yang
dikirim ke tablet PC tersebut.
"Hei, suara
ini... apa bisa dibuat lebih jernih?"
"Mohon
tunggu sebentar."
Mendengar
instruksi Ichihime, Yurina mulai mengetik di keyboard yang terhubung ke
terminalnya dengan kecepatan yang luar biasa.
Hal yang mengusik
pikiran Ichihime adalah suara yang mengalir dari ponsel yang diduga dijatuhkan
oleh Haruka saat siaran.
Meski
kebenarannya belum pasti, Haruka yang menderita luka parah akibat serangan
Minotaur Rank C entah bagaimana bisa selamat, bahkan kemudian diserang oleh
Cerberus Rank A yang jauh lebih merepotkan.
—Ini aneh.
Padahal melarikan diri dari Minotaur dengan luka sebesar itu saja sudah hampir
mustahil.
Menurut informasi
yang diekstraksi dari media sosial, audio percakapan Haruka berasal dari
seorang laki-laki—sosok yang secara mutlak seharusnya tidak ada di dalam
dungeon.
Saat ini, dengan
populasi laki-laki yang jauh lebih sedikit dibandingkan perempuan, mustahil
bagi seorang laki-laki berharga untuk menyelam sendirian ke dalam dungeon yang
sangat berbahaya.
Lagipula, di
seluruh Jepang, hanya ada dua laki-laki yang memiliki lisensi resmi dari
Asosiasi Penjelajah: suami Ichihime dan seorang sahabat yang merupakan
penyintas dari tim penyelamat dulu.
Ya, hanya mereka
berdua. Kecuali anak itu.
"Tidak
mungkin, kan..."
Seketika, rasa
dingin menjalar di tulang belakang Ichihime.
Tanpa sadar,
keringat dingin mengalir di tengkuknya yang tersembunyi di balik rambut yang
disanggul ke atas.
Kemungkinan itu
benar-benar mustahil.
Dua puluh tahun
yang lalu, ia meneteskan air mata yang tak terhitung jumlahnya ke atas bantal.
Satu-satunya
keluarga inti Ichihime.
Satu-satunya adik
laki-laki kandungnya di muka bumi ini.
Demi membasmi
Raja Iblis, ia berangkat sendirian menuju dasar bumi yang meluap dengan magma.
Selama dua puluh
tahun ini, tidak ada satu hari pun ia melupakan adiknya.
Bahkan di hari ia
bersatu dengan orang yang dicintainya, mengandung buah hatinya, hingga
mendengar tangisan pertama anaknya yang baru lahir, ia selalu memimpikan
adiknya.
Di tengah
kebisingan suara yang meluap itu, Ichihime merasakan keganjilan yang kuat dan
perasaan deja vu.
"Ibu, sudah
selesai."
"Kirimkan
padaku."
Data audio yang
sudah dibersihkan dari kebisingan pun terkirim ke tablet PC-nya.
Ia segera
memutarnya.
Suara itu
mengalir.
Suara
seorang pemuda yang terdengar seperti berusia belasan tahun.
Ingatannya
bangkit dalam sekejap.
Seketika
itu juga, kepala Ichihime terasa memanas.
"Ka—
hah..."
"Ibu! Ada
apa!?"
Suara Yurina
terdengar menjauh. Di saat yang sama, kedua mata Ichihime terasa panas membara
dan pandangannya mengabur hingga ia tidak bisa melihat apa-apa, membuatnya
panik luar biasa. Napasnya terasa sesak. Ia terbatuk-batuk hebat. Kesadarannya
mulai menipis.
Mana mungkin ia
bisa lupa suara itu. Tidak ada satu hari pun ia tidak berdoa, meski hanya dalam
mimpi.
Ia bersumpah pada
Tuhan setiap malam. Hanya satu pandangan saja sudah cukup.
Jika saja ia bisa
melihat wajahnya, melihat sosoknya, ia rela menukarnya dengan nyawanya sendiri.
Begitu besar keinginan gila itu di dalam hatinya.
"Aaah—
ugh..."
Air mata tumpah
membanjiri pipinya. Ichihime menutupi wajah dengan kedua tangan dan terisak
keras di sana. Ia tidak bisa lagi menahan emosinya.
Sebab, suara itu tak salah lagi adalah suara adik kandungnya yang seharusnya sudah meninggal dua puluh tahun yang lalu—Sakazaki Ryuto.



Post a Comment