NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Danjon de Tatakai Tsudzukete Nijuu-nen no Doutei Yuusha ⁓ Chijou ni Modottara Danjo-hi 1:1000 no Sekai datta Volume 1 Chapter 1

Chapter 1

Sesuatu yang Datang dari Abyss


"Berbau, ya."

Laki-laki itu mengendus dengan ujung hidungnya yang tersembunyi di balik timbunan rambut dan janggut. Begitu menangkap aroma pekat yang melayang dari kegelapan, senyum lebar langsung mengembang di wajahnya.

"Sudah berapa bulan ya, sejak terakhir kali aku makan daging?"

Dia suka daging. Dia suka daging ikan. Dia suka daging babi. Dia suka daging domba. Dan—dia sangat suka daging sapi.

"Aku berpikir, maka aku ada. Manusia dilahirkan ke dunia ini untuk makan daging."

Terutama daging sapi, rasanya sangat lezat. Hal itu tidak berubah, bahkan untuk monster sekalipun.

Monster yang mendekati spesies aslinya terkadang memiliki cita rasa yang bahkan melampaui sapi biasa. Berdasarkan pengalaman hidupnya yang panjang di dalam dungeon, laki-laki itu tahu benar akan hal itu.

Demi menyelamatkan dunia, laki-laki ini telah mencapai lantai terdalam dungeon dan menumbangkan Raja Iblis yang merupakan akar dari segala kejahatan.

Dia adalah seorang pahlawan.

Namun, Sang Raja Iblis memilih untuk menyeret laki-laki itu bersamanya. Di ambang kematian, Raja Iblis mengerahkan sisa tenaga terakhirnya untuk menarik sang pahlawan ke dasar yang lebih dalam lagi.

Sebuah tempat bernama Labirin Tanpa Batas di Dunia Iblis, di mana monster-monster setingkat Raja Iblis atau bahkan lebih kuat berkeliaran. Namun, laki-laki itu tidak membuang harapannya dan terus menaklukkan dungeon tersebut.

Hingga akhirnya, dia sampai di lantai atas, tempat di mana jejak manusia mulai terlihat.

"Ketemu."

Penglihatan laki-laki itu telah terasah tajam akibat hidup dalam kegelapan. Tidak, lebih tepat jika dikatakan penglihatannya telah berevolusi.

Dia memangkas jarak dengan targetnya. Di balik kegelapan yang membentang luas, dia memastikan keberadaan seekor Minotaur.

Minotaur adalah monster raksasa berkepala banteng dengan tubuh yang mampu berjalan tegak di atas dua kaki. Tingginya melebihi tiga meter, dan tidak jarang ada individu yang beratnya mencapai delapan ratus kilogram.

Kedua tangannya menggenggam kapak perang yang sanggup membelah manusia menjadi dua dalam sekali tebas. Meski wajahnya adalah binatang, kecerdasannya cukup tinggi dan jemarinya sangat cekatan.

Selain itu, dia ahli dalam menggunakan senjata. Singkatnya, dia adalah musuh yang kuat.

Penjelajah biasa pasti akan langsung lari tunggang langgang begitu melihat sosok Minotaur. Namun, laki-laki itu justru menjilat bibirnya tanpa ada niat untuk lari sedikit pun.

Sebaliknya, semangat bertarungnya meluap-luap layaknya pemburu yang baru saja menemukan mangsa. Matanya bersinar terang penuh rasa lapar, seperti binatang buas.

"Unique SkillInvisibility."

Seketika itu juga, keberadaan sang laki-laki menjadi samar dan menghilang bagaikan fatamorgana. Ini adalah kemampuan khusus yang ia peroleh untuk mendekati musuh tanpa disadari.

Selama tidak menimbulkan suara gaduh, target tidak akan menyadari keberadaannya meski ia berdiri tepat di sampingnya. Bisa dibilang, ini adalah Skill yang melampaui nalar manusia.

Jaraknya tiga puluh meter. Normalnya, tidak ada musuh yang gagal menyadari kehadirannya dari jarak sedekat ini.

Indra penciuman dan pendengaran Minotaur jauh lebih tajam daripada anjing. Jika monster yang bersarang di dungeon dikategorikan, Minotaur masuk ke dalam kelompok musuh yang sangat tangguh.

Namun, Skill kuat milik laki-laki itu memutus eksistensinya dari persepsi indra si Minotaur.

—Tunggulah sebentar, ya. Anak sapi manis.

Bagi sang laki-laki, Minotaur yang merupakan monster kuat itu hanyalah seekor sapi yang terlihat sangat menggiurkan untuk disantap.

Jarak pun semakin menyempit. Aroma khas yang dipancarkan oleh Minotaur menjadi semakin pekat.

Laki-laki itu tidak bisa lagi menahan ekspresi penuh kegembiraan di wajahnya.

—Sudah tidak tahan lagi.

Gerakan laki-laki itu sangat gesit. Ia melesat melewati sisi tubuh lawan. Bahkan sampai di titik ini pun, si Minotaur belum menyadari kehadirannya.

Laki-laki itu menyelinap ke punggung Minotaur yang tanpa pertahanan, lalu dengan cepat menusukkan pedang panjang yang baru dicabutnya ke area pinggang.

Minotaur itu menjerit histeris. Pedang panjang laki-laki itu tertancap dalam hingga ke pangkalnya sebelum berhenti bergerak. Bilah pedang yang menembus tubuh monster itu masuk dari pinggang kiri dan tembus hingga dada kanan. Ujung pedangnya mengintip keluar.

"Bakarlah."

Bersamaan dengan itu, ia merapalkan mantra panas api. Energi mahabesar yang muncul dari ujung pedang seketika memanggang bagian dalam tubuh Minotaur.

Terkubur dalam kobaran api merah, Minotaur itu jatuh bergulingan. Sang laki-laki melompat mundur untuk menjaga jarak.

"Ups, jangan sampai terlalu gosong."

Namun, ia tidak boleh terburu-buru. Ini adalah daging yang sangat berharga. Pengaturan apinya harus pas. Jika dibakar sampai ke tulang, dagingnya akan berubah jadi arang.

Ia melangkah mendekat, lalu mencabut pedangnya dari pinggang monster tersebut. Memanggang daging yang setara dengan kualitas Rank A5 secara berlebihan adalah sebuah penistaan terhadap Tuhan.

Ia pun memotong urat pada kedua kaki Minotaur agar monster itu tidak bisa bergerak. Meski begitu, Minotaur tersebut masih menggelepar di atas tanah.

Laki-laki itu menginjak punggung si Minotaur yang mengamuk dengan kedua kakinya, mengunci posisinya ke tanah. Kemudian, ia kembali menghunjamkan pedang panjangnya dari punggung dan mengalirkan api sihir sekali lagi.

Padahal ada perbedaan berat badan yang sangat besar, namun Minotaur itu tidak sanggup melempar tubuh si laki-laki. Entah teknik rahasia apa yang digunakannya, laki-laki itu unggul dalam segala hal, baik kekuatan maupun teknik.

"Segar juga ya, kamu."

Lama-kelamaan, gerakan Minotaur mulai melemah. Namun, seolah melakukan perlawanan terakhir, ia melolong keras saat laki-laki itu mendekat.

"Sst, tenanglah. Jangan mengamuk. Aku akan membuatmu jadi lezat sekarang."

Laki-laki itu memenggal kepala Minotaur dengan pedang panjangnya. Tanah bergetar saat kepala banteng itu menggelinding kencang, baru berhenti setelah menabrak dinding.

Laki-laki itu gemetaran seperti serigala konyol yang lapar, air liur menetes hingga ke janggutnya. Matanya berkilat-kilat. Hidungnya kembang kempis saat menghirup aroma daging yang terpanggang dengan pas.

"Sip! Satu porsi sirloin steak sudah jadi!"

Laki-laki itu mulai memutilasi tubuh Minotaur yang masih mengepulkan asap. Dia sudah sangat terbiasa dengan hal semacam ini.

Meski bentuk tubuhnya mirip manusia, pada akhirnya ini tetaplah sapi. Daging sapi adalah yang terbaik. Laki-laki itu sudah terbiasa memakan daging monster; baginya, semua ini adalah keseharian.

"Kalau begitu, terima kasih atas berkat dari bumi dan labirin. Selamat makan."

Laki-laki itu menempatkan kepala Minotaur yang sudah terpenggal di depannya, lalu duduk bersila dan mulai melahap daging hasil buruannya. Daging yang masih meneteskan darah, tingkat kematangan rare. Steak kelas tertinggi.

"Grrrhh... nyam nyam."

Laki-laki itu menggunakan giginya yang tebal dan kuat untuk mengunyah bagian lemak dan daging merah, lalu menghancurkan tulang yang tersisa dengan teliti. Seperti serigala yang mengunyah tulang kecil mangsanya, ia melumat tulang itu dan menghisap sumsum yang gurih di dalamnya.

Sesi makannya selesai dengan cepat. Padahal bagian yang bisa dimakan saja mencapai hampir tujuh puluh kilogram, tapi laki-laki itu sudah melahap sekitar sepuluh kilogram—sebagian kecil dari total daging tersebut.

Laki-laki itu bertelanjang dada. Tubuh bagian atasnya hanya ditutupi oleh kulit binatang atau monster hasil buruannya. Tinggi badannya hampir mencapai seratus delapan puluh sentimeter, namun tubuhnya kurus kering.

Hanya perutnya saja yang membuncit kencang karena baru saja dijejali daging. Ini adalah hasil dari mempraktikkan aturan "makanlah selagi bisa" demi bertahan hidup di dungeon yang minim makanan.

Sisa dagingnya ia keringkan menggunakan sihir api untuk menghilangkan kadar airnya agar bisa menjadi stok makanan. Daging asap, atau dendeng.

Bekerja setelah kenyang sebenarnya terasa malas, namun penyimpanan bahan pangan berkaitan langsung dengan hidup dan mati. Laki-laki itu pun menyelesaikan pekerjaannya dengan sigap.

"Fuuuh, kenyangnya."

Saat sedang duduk santai dengan kaki selonjoran, hidung laki-laki itu tiba-tiba bergerak. Ada aroma manis yang terasa familier.

"A-apa ini?"

Hampir secara refleks, ia langsung berdiri. Rambut panjangnya yang menjuntai hingga ke bawah pinggang mengeluarkan suara srek saat bergesekan dengan lantai.

Wajah laki-laki itu sulit dikenali karena tertutup rambut dan janggut yang dibiarkan tumbuh liar. Namun, jika dilihat dari binar mata dan hidung yang mengintip di balik rambut panjangnya, laki-laki itu masih muda.

Laki-laki itu menyarungkan pedangnya, lalu menggerakkan pandangannya ke sekitar dengan gelisah. Karena menghabiskan hampir seluruh waktunya dalam kegelapan, mata laki-laki itu telah berevolusi agar tidak melewatkan cahaya sekecil apa pun.

Ia pun mulai bergerak mencari sumber aroma tersebut. Di sekitar sini, jumlah lumut bercahaya sangat banyak. Lumut-lumut aneh yang memancarkan cahaya alami ini sangat membantu pergerakan sang laki-laki.

Penerangan sudah cukup memadai.

Laki-laki itu telah menghabiskan waktu yang sangat lama di bagian terdalam dungeon, sampai-sampai konsep waktu pun menghilang dari benaknya. Dia tidak berada di sana karena keinginan sendiri, melainkan karena ada hal yang harus ia selesaikan.

Setelah semuanya berakhir, yang menantinya hanyalah kegelapan abadi dan monster yang tak terhitung jumlahnya. Pakaian yang ia kenakan dahulu sudah habis terkikis oleh pertempuran yang berulang-ulang dan berlalunya waktu.

Apa yang ia kenakan sekarang hanyalah pakaian—jika bisa disebut begitu—yang terbuat dari kulit monster, yang setidaknya masih bisa menjaga martabatnya sebagai manusia.

Tapi dia tidak peduli. Karena dia tidak pernah bertemu manusia lain di dalam dungeon ini.

"Ada."

Laki-laki itu menemukannya. Sebuah benda yang memancarkan cahaya kuat di tengah kegelapan. Sebuah produk peradaban yang sudah lama tidak ia lihat.

Namun, ada yang lebih penting dari itu.

"Manusia. Apalagi, dia seorang perempuan..."

Tanpa sadar suaranya bergetar. Sudah berapa lama ya, sejak terakhir kali ia melihat manusia selain dirinya sendiri? Kini, ia bahkan tidak bisa mengingatnya dengan jelas.

"Uuuugh... Serius?"

Seorang gadis tergeletak telentang dengan mata terpejam. Bau darah yang sangat menyengat menusuk hidung sang laki-laki. Namun, ia tidak peduli.

Pakaian gadis itu tampak modis, dan perlengkapan perlindungan tubuhnya pun terlihat sangat canggih.




"O-o-oh... Se-Seorang Pe-perempuan!"

Laki-laki itu melangkah terhuyung-huyung mendekat seolah sedang mabuk berat. Ia mengangkat jari telunjuknya ke udara dan memusatkan konsentrasinya.

"Light."

Seketika, bola cahaya muncul dan menerangi seluruh area di sekitar mereka. Itu adalah sihir penerangan yang biasanya tidak ia butuhkan. Di kegelapan total sekalipun, ia bisa membaca gerakan lawan hanya dari aroma atau getaran udara. Sihir ini sudah lama sekali tidak ia gunakan, namun saat ini, ia yakin inilah saat yang tepat untuk merapalkannya.

Gadis itu benar-benar cantik. Rambutnya lembut sebahu, bulu matanya lentik, dan tulang hidungnya tampak sempurna. Bibirnya yang mungil menyerupai kuncup bunga yang indah. Bagi si laki-laki, sosok itu sudah lebih dari cukup untuk disebut sebagai seorang dewi.

Dilihat dari penampilannya, usianya mungkin masih belasan tahun. Ia sangat berharap gadis itu memang masih remaja. Ya, dia seorang gadis. Pasti seorang gadis. Ia benar-benar menolak kenyataan jika wanita cantik yang baru ditemuinya setelah sekian lama ini ternyata adalah seorang nenek-nenek yang awet muda.

"Tapi tunggu, gawat. Darahnya banyak sekali. Kalau dibiarkan, dia bisa mati. Gawat! Aku harus segera menolongnya!"

Laki-laki itu berjongkok di depan sang gadis dan memeriksa denyut nadinya. Terasa sangat lemah dan halus. Pendarahan hebat di bagian pinggang telah membasahi tubuh gadis itu.

"Tunggu ya. Aku akan segera menyembuhkanmu."

Laki-laki ini adalah seorang penyihir. Meski ia tidak terlalu ahli dalam sihir pemulihan tipe penyembuhan, ia masih bisa menggunakan mantra untuk menyambung nyawa selama lukanya tidak terlalu fatal. Ia meletakkan tangannya di bagian yang terluka dan merapalkan sihir.

Heal milik laki-laki itu seketika melenyapkan luka sang gadis tanpa bekas. Ia memeriksa denyut nadinya sekali lagi.

"Sip, sudah baikan."

Detak jantung yang kuat telah kembali. Mata laki-laki itu kini menatap sang gadis dengan liar. Gadis itu masih tertidur lelap dengan napas yang teratur, persis seperti putri tidur.

"Ti-tidak boleh."

Tanpa sadar, tangan laki-laki itu terulur menuju dada sang gadis.

"Nggak boleh, jangan disentuh. Itu nggak sopan, kan?"

Meski dalam posisi telentang, dadanya terlihat menonjol. Ukurannya cukup besar. Kini, bagian selangkangan si laki-laki sudah membengkak kencang, seolah nyaris merobek pakaian kulit binatang yang ia kenakan.

"A-apa yang sedang dilakukan pria budiman sepertiku ini—"

Tiba-tiba, ia tersadar. Terlepas dari penampilannya, sekujur tubuh laki-laki itu dipenuhi bau yang tidak sedap. Ia sudah terlalu lama tinggal di dalam dungeon dan hampir tidak pernah mandi.

"Ini gawat. Bauku sekarang seratus kali lebih busuk daripada anjing liar yang basah."

Bahkan binatang buas pun biasanya bersolek atau mandi pasir, tetapi laki-laki ini sudah lama sekali tidak terpikir untuk sekadar membasuh kulitnya.

Itu karena tidak ada orang lain di sini. Yang ia temui hanyalah musuh. Akibatnya, kebiasaan untuk menjaga kebersihan diri lenyap seketika. Namun, setelah melihat seorang perempuan setelah sekian lama, rasa malu yang seharusnya sudah hilang itu kini muncul kembali.

Kalau tidak salah, dalam perjalanan menuju ke sini, ia menemukan sebuah danau bawah tanah yang langka. Ia hanya mampir untuk mengisi persediaan air, karena konsep "mandi" sudah benar-benar hilang dari kepalanya. Laki-laki itu segera mengaduk bagian dasar tas ransel yang ia panggul.

"A-ada! Syukurlah!"

Sabun. Ternyata benda itu masih tersisa di dalam set perlengkapan yang ia siapkan sebelum terjun ke dungeon dulu. Ia menggenggam kotak kecil berisi sabun itu dan mensyukuri keberuntungannya saat itu juga.

"Kesan pertama itu sangat penting, kan?"

Ia kemudian berbalik dan berseru ke arah sang "putri tidur".

"Tu-tunggu sebentar ya. Ja-jangan bangun dulu, oke?"

Setelah mengatakan itu, ia segera berlari kembali ke jalan yang ia lalui tadi dengan gerakan secepat angin.

Sesampainya di danau, laki-laki itu menanggalkan pakaiannya, mengambil kain lap, dan langsung menceburkan diri ke dalam air. Dinginnya air yang murni membuat kesadarannya pulih sepenuhnya.

Lalu, ia mulai menggosok seluruh daki di tubuhnya menggunakan sabun dan kain lap. Ia benar-benar mengikisnya. Sebenarnya, tidak mandi itu memiliki fungsi tersendiri; daki yang menempel di kulit seperti lapisan tanah bisa menjadi dinding pelindung dari kutu atau tungau.

Namun sekarang, hal semacam itu sudah tidak ada artinya lagi. Di depan lawan jenis, aturan yang selama ini ia jaga dengan ketat kini nilainya tidak lebih dari kotoran.

"Heh, aku pun kalau begini... masih lumayan oke juga, kan?"

Ia mengeluarkan satu-satunya cermin tangan yang ia miliki dan memeriksa penampilannya setelah mandi. Harusnya tidak ada masalah.

"He... hehe. Fuhehe."

Seringai di wajahnya tidak bisa berhenti. Bertemu manusia—apalagi gadis muda—memang membahagiakan, tetapi yang paling penting adalah kenyataan bahwa saat ini ia sudah kembali ke lantai atas yang bisa dicapai oleh umat manusia.

—Aku bisa pulang. Kembali ke dunia manusia.

◆◇◆

Gadis itu perlahan membuka matanya. Di hadapannya, sebuah ponsel disandarkan pada gundukan tanah yang landai. Tatapan gadis itu tertuju pada cahaya yang berkedip-kedip.

: Live streaming-nya balik lagi!

: Eh, bohong kan?!

: Dia masih hidup?!

: Lukanya gimana? Apa yang terjadi, Haru-chin?

: Keajaiban, kita beneran lagi liat keajaiban sekarang.

: Udah ketemu sama temen-temennya?

: Apa diselamatin sama tim penyelamat resmi?

"E-anu. Aku nggak tahu apa yang terjadi, tapi... aku selamat."

Saat gadis itu membalas komentar para penonton, tiba-tiba terdengar suara laki-laki.

"Oh, kau sudah sadar?"

"Kyaaaaaaa!"

Begitu laki-laki itu menyapa, sang gadis yang baru saja memulai kembali streaming dungeon-nya langsung menjerit histeris dan memundurkan pantatnya seperti udang yang melompat.

"Siapa! Siapa, siapa, siapa, eh, ah? Eh! Laki-laki!?"

"O-oi. Setidaknya, akulah yang menyelamatkanmu."

"Laki-laki... menyelamatkanku?"

"Benar. Yah, kebetulan saja, sih. Hal biasa, biasa saja."

Sambil tetap menggenggam pedang pendeknya, gadis itu terduduk lemas di tempat dengan mata yang terbuka lebar.

"Oi, kau baik-baik saja?"

"Ah, I-iyaaaa. Tidak apa-apa,

Saat sang laki-laki mencoba membantu membangunkannya, wajah gadis itu memerah padam dan ia menolak dengan keras. Laki-laki itu hanya bisa mengalihkan pandangannya dengan ekspresi bingung.

"Anu, tadi aku diserang monster. Terus, ada luka besar di sini—mungkin ini..."

Gadis itu menyingkap kausnya yang sobek sedikit. Di sana, tidak ada bekas luka sama sekali, yang terlihat hanyalah perut putih mulus tanpa lemak.

Bagi laki-laki yang telah dipaksa hidup terisolasi dari masyarakat dan menjalani hidup pantang duniawi, pemandangan itu terlalu mengejutkan. Ia merasakan aura erotis yang samar dari sikap tanpa pertahanan itu, hingga tanpa sadar ia membungkukkan badannya ke depan.

"O-oh. Sudah kusembuhkan dengan sihir pemulihanku."

Setelah mengatakan itu, si laki-laki terdiam.

Ia hanya tidak ingin ketahuan kalau bagian selangkangannya sudah mengeras seperti batu. Laki-laki ini masih perjaka. Karena itulah, ia sama sekali tidak tahu cara menghadapi perempuan.

—Gawat! Bagaimana ini! Harus diapakan keheningan ini!

Namun, justru sang gadislah yang bergerak lebih dulu.

"A-anu. Anda sudah menolongku, kan. Terima kasih banyak! Nama saya Haruka Shimomura, seorang Penjelajah. Kalau boleh, bi-bisakah saya tahu nama Kakak?"

Gadis bernama Haruka itu memindahkan tongsis ke tangan kirinya, lalu membungkukkan tubuhnya dengan sudut yang tajam sambil menjulurkan tangan kanannya dengan sigap.

"Ah, aku Ryuto Sakazaki. Salam kenal."

"Ryuto Sakazaki-san..."

Haruka mengulangi nama itu seolah sedang meresapinya. Ryuto menelan ludah melihat ekspresi Haruka yang tampak berkilau saat memejamkan matanya sejenak.

Meski dalam situasi begini, pikiran perjaka Ryuto mulai berfantasi liar; "Eh? Jangan-jangan, suasana berdua saja di tempat gelap ini cukup romantis?"

"A-anu, bolehkah saya memanggil Anda Ryuto-san!?"

"Uooh. A, ah, boleh saja. Kalau begitu... Fuhihi."

Ia tidak bisa menahan tawa mesum yang keluar secara refleks. Rendahnya Skill interaksi sosial Ryuto terhadap perempuan membuat segala gerak-geriknya terasa menjijikkan.

"Ya, kalau begitu ayo pergi. Shimomura-san."

Ryuto memanggil Haruka dengan nama keluarganya, berpikir bahwa memanggil nama kecil secara tiba-tiba akan terdengar terlalu akrab.

"Haruka! Panggil saja Haruka!"

Haruka mendekat hingga hidungnya hampir bersentuhan dengan wajah Ryuto dan berteriak. Ryuto yang terkejut sekaligus pening karena aroma manis yang tercium dari tubuh Haruka, mundur setengah langkah dan menjawab.

"Haruka-san."

"Ah, Haruka saja sudah cukup!"

"O-oh. Kalau begitu, Haruka. Begitu saja ya?"

"Iya!"

"Nah, karena kita sudah saling kenal, bagaimana kalau kita bertukar informasi?"

Inilah hal yang paling diinginkan oleh Ryuto.

"Asosiasi Penjelajah? Lisensi? Sistem Rank? Maaf, aku sama sekali tidak tahu soal itu."

"Eeeh! Tidak tahu itu gawat lho, Kak. Benar-benar gawat."

"Begitukah?"

"Iya, secara hukum, menjelajah atau membasmi monster tanpa lisensi itu dilarang. Begitu ketahuan pihak Asosiasi, Kakak bisa kena pasal pelanggaran Undang-Undang Senjata Api dan Tajam yang baru, hukumannya bisa lima belas tahun penjara atau denda maksimal tiga juta yen."

"Serius... aku tidak tahu. Sejak kapan aturannya begitu?"

"Ah, tapi, tapi, karena Ryuto-san adalah laki-laki, dari sudut pandang hukum perlindungan, mungkin ada pengecualian yang bisa diusahakan."

Setelah berkata demikian, Haruka terdiam di tempat sambil mengerang "uuum" dan tenggelam dalam pikirannya.

—Laki-laki? Hukum perlindungan?

Tanda tanya besar muncul di kepala Ryuto. Tanpa ia sadari, Haruka mendekatkan wajahnya dan mengendus-endus Ryuto. Ryuto yang sarafnya sudah terkikis karena hidup lama di dungeon pun merasa sangat malu dan menjaga jarak sedikit.

"A-apa aku bau? Padahal aku merasa sudah mandi."

"Ah! Maaf! Bukan bermaksud begitu! Tolong jangan tersinggung! Ryuto-san sama sekali tidak bau kok. Malah terasa sangat liar!"

"Liar? A, ahaha. Begitu ya."

—Sepertinya perempuan ini tidak normal. Meskipun dia imut sih.

Namun, Ryuto tidak mengatakannya. Sebaliknya, ia malah mengumpat pada Tuhan karena tidak memberinya pertanda untuk menjaga kebersihan diri setiap hari jika memang akan ada pertemuan seperti ini.

"Ngomong-ngomong, Ryuto-san. Kenapa Anda bisa ada di sini? Penjelajah dungeon laki-laki itu secara teknis seharusnya tidak ada, kan?"

"Penjelajah tidak ada yang laki-laki?"

"Anu, sebenarnya bagaimana cara Kakak masuk ke dungeon ini? Masuk lewat rute mana pun, pengawasan Asosiasi sangat ketat, jadi tidak mungkin bisa menyelinap masuk secara diam-diam. Ah, maaf. Streaming-nya sudah kumatikan, jadi ini rahasia di antara kita saja. Kakak boleh bicara jujur."

"Tu-tunggu sebentar. Pertanyaannya terlalu banyak. Maaf ya, aku sudah terlalu lama tinggal di dungeon jadi baru kali ini bicara dengan orang lagi. Biarkan aku memastikan satu per satu."

"Boleh kok. Maaf ya, aku juga terlalu banyak tanya. Ehe."

"Begini, singkatnya aku berhadapan dengan monster super kuat di bagian terdalam dungeon ini, lalu aku hampir mati dan terpisah dari rekan-rekanku."

"Ah, aku juga sama! Aku juga dikejar Minotaur dan terpisah dari teman-temanku!"

"A, ah. Iya. Lalu, entah bagaimana aku bisa bertahan hidup, tapi hidupku penuh penderitaan. Sudah sangat lama aku tersesat di dungeon ini."

"Begitu, ya..."

"Uooh!"

Ryuto terkejut. Mata besar Haruka berkaca-kaca, lalu tetesan air mata besar mulai jatuh membasahi pipinya. Gadis itu maju seolah hendak memeluk Ryuto dan menggenggam tangan laki-laki itu dengan kedua tangannya. Ryuto langsung ereksi.

"Pasti berat sekali ya, Ryuto-san."

—Oi, serius nih. Jangan-jangan, gadis ini suka padaku?

Ryuto adalah perjaka tulen. Dan seorang perjaka tidak tahu apa-apa soal perempuan. Ibaratnya, mereka adalah makhluk menyedihkan yang merasa "dia pasti jatuh cinta padaku" hanya karena seorang gadis memungut dan mengembalikan penghapusnya yang jatuh sambil tersenyum di kelas.

"Be-berat? He, itu sih masalah kecil buatku."

—Gawat, anak ini pasti sudah jatuh cinta padaku. Repot juga ya.

Karena hidup di dungeon seperti binatang buas dan melupakan moralitas, indra Ryuto mengenai rasa suka dan benci manusia sudah benar-benar kacau. Apalagi sejak dulu ia tidak populer, jadi ia tidak punya kekebalan terhadap perempuan.

"Kasihan sekali. Ryuto-san pasti sudah berjuang keras sendirian di tempat gelap seperti ini."

"Ti-tidak kok, tidak seberapa. Biasa saja, hal biasa. Dahaha."

Laki-laki adalah makhluk yang akan berpura-pura kuat secara berlebihan di depan perempuan. Meski terasa perih dan berat, sebagian besar laki-laki benci menunjukkan kelemahan di depan orang lain. Mungkin ini juga bagian dari insting sebagai makhluk hidup.

"Anu, kalau boleh tahu, sudah berapa lama Ryuto-san tersesat?"

"Aku tidak tahu pastinya, tapi let me see. Bagaimana ya. Awalnya aku menghitung hari, tapi mungkin sudah beberapa bulan atau beberapa tahun. Ngomong-ngomong, kau tahu sekarang tahun berapa dan bulan berapa?"

"Anu, sekarang Mei tahun 2025. Tahun Reiwa 7."

"Eh, apa itu? Bukannya tahun 2005? Terus, Reiwa itu apa? Bukannya sekarang zaman Heisei?"

Zaman Ryuto telah berhenti di Heisei.

"Anu, Heisei sudah berakhir di tahun ke-31... Ryuto-san, candaan itu tidak lucu lho. Haha."

Haruka tertawa hambar dengan pipi yang berkedut.

"Eh, tu-tunggu. Bohong, kan? Sejak kapan aku naik mesin waktu—maksudku! Kalau begitu, aku sudah tersesat di dungeon selama dua puluh tahun? Kau bercanda, kan! Oi! He-hei, apa aku terlihat seperti kakek-kakek tua bagi kalian!?"

"U-uh, anu. Karena rambut dan janggut Kakak panjang, aku kurang tahu pasti. Tapi setidaknya, Ryuto-san tidak terlihat setua itu kok."

"Tu-tunggu. Haruka, kau punya pisau atau semacamnya?"

"Ah, iya."

Ryuto meminjam pisau dari Haruka, lalu menggunakan sisa sabun dan air yang berharga untuk mulai mencukur janggut di wajahnya. Janggut Ryuto sudah tumbuh memanjang hingga ke dada.

—Bohong, bohong, bohong! Kalau dua puluh tahun berlalu, berarti umurku sudah tiga puluh delapan tahun? Aku? Sudah jadi paman-paman! Padahal aku masih perjaka dan belum pernah sekalipun bermesraan dengan perempuan!

Jika menyangkut penggunaan senjata tajam, tidak ada yang bisa mengalahkan Ryuto. Gerakan pisaunya sangat lincah. Setelah mencukur bersih janggutnya, Ryuto mengintip ke cermin. Di sana terpantul wajah dirinya saat berusia delapan belas tahun, wajah yang dulu sering diejek kakak perempuannya sebagai "bocah brengsek bermata galak".

"He-hei! Lihat! Aku sama sekali tidak kelihatan seperti paman-paman, kan!"

Saat Ryuto berbalik dengan penuh semangat, Haruka hanya bisa melongo dengan mulut terbuka seperti patung Haniwa, tubuhnya membeku di tempat.

"Haruka?"

Ryuto memanggilnya. Seketika wajah Haruka memerah padam, keringat dingin muncul di dahinya, dan wajahnya berubah seperti gurita yang baru diangkat dari panci mendidih.

"...Bohong, ganteng banget."

"Hah?"

"Kyuu."

Hanya mengatakan itu, Haruka pingsan dengan tangan mendekap dada dan jatuh terjungkal ke belakang. Jika Ryuto tidak dengan sigap menangkapnya, kepala Haruka mungkin sudah terbentur batu dan nyawa yang baru saja diselamatkan itu bisa melayang kembali.

Ada alasan mengapa Haruka menunjukkan ketertarikan yang begitu sepihak pada Ryuto.

Selama Ryuto mengalahkan Raja Iblis dan tersesat di dungeon, dua puluh tahun telah berlalu di permukaan bumi. Selama periode itu, kutukan yang dilepaskan Raja Iblis saat kematiannya berubah menjadi penyakit menular yang sangat ganas.

Penyakit yang menyerang laki-laki di permukaan bumi itu disebut Virus Satan. Akibatnya, populasi laki-laki di dunia menurun drastis. Perbandingan laki-laki dan perempuan di dunia kini kira-kira adalah 1:1000.

Laki-laki telah menjadi kaum yang sangat langka. Bisa dibilang, spesies yang terancam punah.

Tentu saja bagi Haruka, ini adalah pertama kalinya seumur hidup ia melihat laki-laki yang seumuran dengannya. Dan Ryuto, secara objektif, memiliki wajah yang tampan.

Dia benar-benar berbeda dari laki-laki di kota yang dipingit dan dilindungi karena kelangkaannya. Aura liarnya sangat menarik insting dasar Haruka.

Ditambah lagi, ada nilai tambah sebagai "pahlawan penyelamat nyawa". Wajar saja jika rasa suka Haruka terhadap Ryuto melonjak drastis.

Tentu saja, Ryuto saat ini sama sekali tidak tahu soal kondisi langka tersebut. Sungguh malang nasibmu, wahai sang perjaka.

Namun, Ryuto segera ditarik kembali ke kenyataan.

"Lagi enak-enak ngobrol, eh lawannya tiba-tiba pingsan."

—Situasi macam apa ini.

Ryuto merasa bingung luar biasa sambil memeluk Haruka yang pingsan karena syok. Sebagai perjaka tulen, ia tidak tahu cara menangani perempuan. Tepat saat ia hendak membaringkan Haruka di tanah dan memikirkan langkah selanjutnya, sensor Ryuto bereaksi keras.

Ada niat membunuh yang sangat kuat sedang mendekat. Monster.

"Umm, ini sih... cuma kroco, kan!"

Indra pendengaran Ryuto yang melampaui batas manusia bahkan lebih tajam dari kelelawar. Ia merasakan sekumpulan monster yang mendekat dengan langkah mengendap-endap dari balik lorong.

Ryuto merasa lega setelah menyadari bahwa kekuatan mereka tidak ada apa-apanya dibandingkan para penguasa lantai dalam yang ia hadapi selama ini.

"Bau khas ini, pasti Goblin."

Tidak ada perasaan khusus. Ryuto sudah sering berurusan dengan mereka saat ia masih pemula dulu. Goblin adalah monster level ujian bagi pemula.

Meski ukuran tubuh dan kemampuan fisiknya jauh di bawah manusia, mereka cukup licik.

Selain itu, jika mereka berkumpul dalam kelompok, mereka bisa bekerja sama dengan baik, sehingga bisa menjadi lawan yang berbahaya bagi orang yang tidak mahir bersenjata atau tidak memiliki anugerah dari Sang Petapa Agung.

—Tapi mereka benar-benar tanpa pertahanan ya.

Ryuto berjongkok dan menatap wajah Haruka. Dia benar-benar sangat cantik. Ingin rasanya ia menciumnya. Menyentuhnya. Meremasnya. Melakukannya.

Wajar saja jika mata Ryuto yang sehat itu tertuju pada sepasang gundukan kembar milik Haruka. Tepat saat kabut nafsu mulai menyelimuti otak Ryuto, seolah merasakan gelombang tersebut, Haruka mendadak bangun dan menegakkan tubuhnya.

"A-aku—"

"Uoah!"

Ryuto dengan sigap menghindar agar tidak terkena sundulan kepala Haruka. Sepertinya Haruka memiliki kemampuan deteksi bahaya yang cukup tinggi, karena ia langsung menegang merasakan niat membunuh dan gelombang jahat yang memenuhi area sekitar.

"Mengganggu saja."

Ryuto melirik ke arah bayangan batu yang jauh. Seekor Goblin sedang membidik dengan busur buatan tangan. Jaraknya sekitar dua puluh meter.

Sambil tetap berjongkok, Ryuto memungut sebuah kerikil, lalu tanpa menoleh ia melemparkan kerikil itu ke belakang dengan satu tangan.

"Wah!"

Secara refleks Haruka menutup kedua telinganya. Bersamaan dengan itu, suara tajam gyuuun seperti pesawat jet yang meluncur menggema di dalam gua. Terdengar suara daging yang hancur dari kejauhan.

Kerikil seukuran bola pingpong yang dilempar Ryuto tepat mengenai Goblin itu. Kekuatan penghancur batu yang dilempar dengan tambahan energi sihir itu bahkan melebihi tembakan senapan rifle.

Haruka menoleh ke arah Goblin yang tewas itu.

"Eh, ah, apa itu?"

"Cuma bersih-bersih sampah."

Ryuto berdiri dan mengacungkan jempol ke arah musuh yang baru saja ia singkirkan. Kemudian, ia mengajak Haruka untuk mulai berjalan.

Ryuto menjentikkan jarinya, dan sebuah bola cahaya kecil muncul di atas kepalanya. Area sekitar menjadi terang benderang. Di sana, terlihat sosok iblis kecil malang yang tergeletak dengan kepala hancur.

"Ah, ini Goblin. Hebat..."

"Ehem."

Ryuto merasa malu dan menggosok bagian bawah hidungnya dengan jari. Selama pertarungan maut yang panjang, tidak pernah ada satu orang pun yang memujinya meski ia telah membunuh ribuan monster. Namun, Haruka mengakui keberadaannya. Ryuto merasa sangat senang.

"Hebat! Hebat banget! Tadi Kakak sama sekali tidak melihat ke belakang, kan! Tapi bisa melakukannya hanya dengan satu kerikil...! Ryuto-san ternyata sangat kuat ya. Aku benar-benar terkejut!"

Haruka melompat kecil di tempat sambil bertepuk tangan memuji Ryuto. Jika ia punya ekor, ia pasti sudah menggoyangkannya dengan sangat kencang. Pujiannya sangat berlebihan. Bagi laki-laki yang sudah berpengalaman, kepolosan seperti ini mungkin hanya akan ditertawakan.

Namun bagi Ryuto yang tidak pernah dipuji oleh perempuan muda sejak dulu, reaksi Haruka sangat memuaskan harga dirinya. Ia benar-benar bahagia.

Sebenarnya, sebelum dan sesudah pembasmian Raja Iblis, pencapaian Ryuto memang dikenal dunia, namun ia baru didewakan setelah ia dianggap tewas.

Jadi, ia hampir tidak pernah merasakan dipuji secara langsung, apalagi oleh gadis muda yang cantik.

"E-ehehe. Dipuji begitu pun aku tidak bisa memberimu apa-apa lho."

"Tidak kok! Ryuto-san benar-benar luar biasa!"

"O-oh."

Ryuto merasa sangat puas dan nyaman karena keinginan untuk diakui telah terpenuhi oleh Haruka yang memujinya dengan mata berbinar.

—Serius nih. Anak ini pasti suka padaku. Tidak salah lagi. Apakah ini yang dinamakan cinta pada pandangan pertama? Ternyata aku sangat populer ya. Dahaha. Repot juga. Jadi ini ya? Hari-hari pertarungan di dungeon memberiku kekuatan dan aura liar. Atau mungkin aura dandysm yang terpancar dariku? Repot juga ya, mufufu.

"A, itu...!"

Saat Ryuto sedang menari-nari kegirangan sendirian, Haruka menunjuk ke arah lorong di depan. Di ujung lorong terdapat ruang persegi yang sangat luas.

Di sana, diterangi oleh lumut cahaya yang tumbuh liar, berdirilah seekor Cerberus raksasa.

Cerberus. Anjing penjaga neraka dengan tiga kepala dan ekor ular raksasa. Surainya terdiri dari ribuan ular, dan ukurannya—termasuk tinggi tubuhnya—dengan mudah melampaui sebuah truk besar.

Tentu saja, jika tempat Ryuto berada saat ini memang benar-benar lantai atas, monster sekuat itu seharusnya tidak mungkin ada di sini. Dunia di dalam dungeon yang terlihat kacau sebenarnya adalah ruang yang sangat tertib.

Artinya, semakin jauh dari bagian terdalam atau semakin dekat dengan lantai atas, pengaruh dari dunia lain semakin lemah, sehingga hanya monster lemah yang muncul.

"Ha-hawawa..."

Haruka jatuh terduduk di tempat. Di tangannya terdapat tongkat sepanjang enam puluh sentimeter dengan ponsel yang terpasang di ujungnya.

Itu adalah tongsis untuk streaming video. Bahkan dalam situasi ini, lensa kamera tetap mengarah ke arah Cerberus.

Ryuto melirik sekilas ke arah Cerberus yang menggeram dari jarak seratus meter, namun ia malah lebih tertarik pada ponsel milik Haruka.

"Hei, Haruka. Aku ingin tanya sedikit. Apa ponsel itu terhubung ke internet atau semacamnya?"

Ryuto memainkan ponsel itu dengan asal hingga menyala.

"Bu-bukan waktunya untuk itu Ryuto-san! Pokoknya kita harus lari—"

"Heh, jadi ini terhubung ke internet ya. Hoo, hoho. Zaman benar-benar sudah berubah ya. Oh? Apa aku masuk di situ? Peace, peace."

"Bukan itu! Di belakangmu!"

Ryuto bereaksi lebih cepat dari teriakan Haruka. Kepala tengah Cerberus membuka mulut lebarnya dan menyemburkan api neraka yang dahsyat. Seketika kegelapan menghilang.

Api neraka yang dikeluarkan dengan energi panas yang luar biasa itu menyapu dasar gua. Jika manusia terkena langsung, mungkin tulang pun tidak akan bersisa. Buktinya, dinding batu gua yang terbakar langsung memerah dan meleleh.

Namun, saat itu Ryuto sudah melompati kepala Cerberus sambil menggendong Haruka. Ia mendarat dengan ringan di sisi lain gua yang luas itu. Kemudian, Ryuto mengambil ponsel yang hampir dijatuhkan Haruka. Tatapannya beralih ke layar. Kamera depan sedang aktif dan menampilkan wajah Ryuto.

"Oh, apa ini? Apa ini wajahku yang muncul? Anu, apa ini? Wah, apa-apaan ini. Tulisannya mengalir ke bawah dengan cepat jadi tidak bisa kubaca. Cepat sekali ya. Hei, Haruka. Bagaimana cara menghentikan ini?"

: Wah, apa-apaan nih! Haru-chin, ada apa?

: Ada suara laki-laki!

: Halah, paling tipuan—eh SERIUS ADA SUARA LAKI-LAKI!

: Laki-laki-sama!

: Kalian ini harusnya lebih khawatir sama Haru-chin, tapi itu LAKI-LAKI!

: Eh, bohong kan? Bukan AI suara?

: Bukannya CG?

: Tapi tidak ada gambarnya. Apa bug suara ya?

: Ini jebakan!

: Haru-chin punya pangeran!

: Bukan, itu pasti orang lain.

: Cuma suaranya yang jadi laki-laki?

: Tenang semuanya. Tenang dulu, ayo lempar koin persembahan.

: Clink clink

: Clink clink

: Tabungan all-in!

: Ngomong-ngomong, bukannya itu Cerberus di sana!?

: MATI KITA!

Ryuto mengabaikan serangan Cerberus dan terus menatap tajam ke arah komentar yang mengalir tanpa henti.

Tiga puluh meter. Itulah jarak lompatan Ryuto. Kemampuan luar biasa ini tentu saja dilakukan melalui sihir kuat yang menjadi kebanggaan Ryuto.

Melompat sambil menggendong orang dewasa adalah hal yang mustahil bagi manusia biasa. Haruka pun meski terlihat ringan, beratnya mungkin sekitar lima puluh kilogram.

Melompat puluhan meter sambil memanggul beban seberat lima karung beras sepuluh kilo bukanlah sesuatu yang bisa dilakukan manusia.

Itu adalah kemampuan manusia super yang dihasilkan oleh otot yang diperkuat dengan energi sihir yang dialirkan ke kedua kaki Ryuto. Faktanya, hanya ada sedikit praktisi sihir sehebat ini di dalam Asosiasi Penjelajah yang ada saat ini.

"Awawa..."

Haruka yang digendong merasa pening karena organ keseimbangannya tidak sanggup mengikuti perpindahan posisi yang sangat cepat.

Ryuto telah melompat ke ketinggian dan jarak yang mustahil bagi manusia normal. Akibatnya, gaya G yang dirasakan Haruka saat itu melampaui apa yang dirasakan saat menaiki roller coaster.

"Kyuu..."

"Ya ampun, Dia pingsan lagi?"

Beban Haruka dalam dekapannya terasa bertambah berat. Itu bukti kalau si gadis sudah kehilangan kesadarannya.

Meski begitu, bagi Ryuto, lebih mudah bergerak jika Haruka diam seperti patung daripada bertindak ceroboh.

Cerberus itu seolah tidak terima serangan mautnya baru saja dihindari. Ia kembali membuka mulut lebarnya lebar-lebar.

"Apa? Masih mau lanjut?"

Tenggorokan Cerberus itu bersinar terang benderang.

Itu adalah ancang-ancang umum yang dilakukan monster jenis ini sebelum melancarkan serangan napas buatan.

Cerberus itu memuntahkan peluru api pijar secara bertubi-tubi. Ukuran tiap bola apinya sebesar pelukan orang dewasa.

Gumpalan api itu melesat lurus ke arah Ryuto yang sedang membelakanginya. Energi padat yang sangat mengerikan.

Ruang gelap gulita itu seketika menjadi terang benderang seperti siang hari akibat bola-bola api merah tersebut.

Ryuto menjulurkan tangan kanannya, memasang pembatas sihir di depannya.

Yang Ryuto bentuk dari sihirnya adalah sebuah perisai energi berbentuk persegi panjang yang bercahaya terang.

Perisai cahaya itu memantulkan peluru-peluru api dengan sangat mudah.

Api merah membara itu terpental ke samping. Menghancurkan dinding batu dan menciptakan percikan api jingga yang beterbangan.

Seolah tidak tahan serangannya ditangkis semudah membalikkan telapak tangan, Cerberus itu meraung keras dan membuka mulutnya lebar-lebar.

Di dalam tenggorokannya, gumpalan bola api baru mulai terbentuk satu demi satu. Monster itu memancarkan niat membunuh yang pekat, berniat membakar habis Ryuto dengan serangan beruntun.

Di sisi lain, Ryuto malah kembali sibuk mengutak-atik ponselnya.

"Berisik banget sih. Aku lagi sibuk, tahu."

Sambil berkata begitu, Ryuto yang masih mendekap Haruka di lengan kanan, mencabut pedang panjang beserta sarungnya dengan tangan kiri.

Ia memegang pedang itu dengan posisi terbalik dan mengarahkan bagian pangkal gagangnya ke arah Cerberus. Permata yang tertanam di pangkal gagang itu berwarna biru transparan.

Cerberus kemudian memuntahkan peluru api dari tenggorokannya secara beruntun layaknya senapan mesin.

"Waduh, panas ya. Ayo kita hentikan pemanasan global demi keselamatan dunia."

Begitu Ryuto memusatkan pikirannya, permata itu bersinar biru semakin terang. Cahayanya begitu dahsyat hingga nyaris menelan seluruh isi gua besar tersebut. Cahaya biru dan putih berkedip-kedip hebat.

"Sihir—Absolute Zero."

Seketika, lambang heksagon berbentuk kristal salju melesat dari permata itu ke udara kosong. Peluru-peluru api yang ditembakkan Cerberus langsung menguap menjadi asap putih dan lenyap tanpa sisa.

"Sampah yang tidak bisa ramah pada bumi lebih baik mati saja."

Lalu, hawa dingin yang luar biasa menyembur dari permata itu dan menyerang Cerberus.

Tanpa sempat bereaksi, Cerberus itu membeku di tempatnya berdiri. Hanya dalam hitungan detik, sihir hawa dingin itu telah mengubahnya menjadi patung es abadi.

◆◇◆

Thread Pujian untuk Streamer Kelas Bawah Haru-chin PART 26

001 Penjelajah Tanpa Nama Makasih buat utamanya.

014 Penjelajah Tanpa Nama Haru-chin beneran gawat ya?

033 Penjelajah Tanpa Nama Ummm, nggak tahu juga.

042 Penjelajah Tanpa Nama Tapi serius deh, masa dia bakal jadi korban pertama tahun ini?

056 Penjelajah Tanpa Nama Haru-chin, kamu bakal mati kah?

059 Penjelajah Tanpa Nama Nggak mau, pokoknya nggak mau!

063 Penjelajah Tanpa Nama Yah, meski bilang nggak mau juga gimana ya. Kita nggak bisa ngapa-ngapain.

081 Penjelajah Tanpa Nama Penghuni lama utas ini kan dukung Haru-chin karena terpesona sama kegigihan dan penjelajahannya yang jujur biarpun pelan.

087 Penjelajah Tanpa Nama Setuju banget!

092 Penjelajah Tanpa Nama Tapi sebenernya kondisi aslinya gimana ya?

122 Orang yang Bangkit dari Abyss 61NRY564SJ Rangkuman sementara:

  • Haru-chin tersesat dan terpisah dari rekan streaming-nya.
  • Nggak lama setelah itu ketemu sama "Wagyu" Rank tinggi (kayaknya Minotaur).
  • Luka parah di pinggang.
  • Lari pontang-panting makin masuk ke lantai bawah.
  • Stream mati. Ya, kira-kira begitulah.

125 Penjelajah Tanpa Nama Sejujurnya, begitu si Sapi Mino muncul di lantai tempat pemula berkeliaran, Asosiasi juga salah karena nggak ngasih pengumuman buat berhenti menjelajah.

126 Penjelajah Tanpa Nama Bener. Haru-chin nggak salah sama sekali.

127 Penjelajah Tanpa Nama Duh, ini udah korban keberapa sih tahun ini, ya ampuuun.

129 Penjelajah Tanpa Nama Nasibnya lagi bener-bener "apes" ya.

132 Penjelajah Tanpa Nama Bukan waktunya bercanda, woi.

134 Penjelajah Tanpa Nama Parah ih. Padahal satu-satunya pelipur laraku cuma nonton live stream kacau Haru-chin dkk sambil minum.

138 Penjelajah Tanpa Nama Gaya pemulanya yang asyik berburu monster kroco sampai nggak sempat mikirin topik obrolan itu justru yang paling seru.

140 Penjelajah Tanpa Nama Berduka cita.

143 Penjelajah Tanpa Nama Belum mati, woi! Jangan ngomong sembarangan.

145 Penjelajah Tanpa Nama Asosiasi kerjanya apa sih. Cuma tahu narik iuran kerjasama doang tapi nggak berguna pas dibutuhin.

148 Penjelajah Tanpa Nama Oh, sesama penjelajah ya?

154 Penjelajah Tanpa Nama Takut kena doxxing, tapi intinya iya. Meski aku sendiri juga baru aja lepas dari Rank E dan naik ke D, jadi belum hebat-hebat amat. Tapi diem-diem aku selalu semangatin Haru-chin.

160 Penjelajah Tanpa Nama Sama-sama. Gue juga penjelajah. Buat kita yang nggak berbakat, nembus tembok Rank E itu emang berat banget.

163 Penjelajah Tanpa Nama Syarat naik ke Rank D itu kan harus membasmi lima monster Rank D sendirian. Lumayan berat sih.

193 Penjelajah Tanpa Nama Ada yang mau coba turun buat ngecek? Paling mentok juga cuma di sekitar lantai 3 kan.

201 Penjelajah Tanpa Nama Ah, denger-denger Asosiasi udah nutup rutenya. Ada penjelajah tipe streamer yang maksa mau turun terus malah ribut di sana.

210 Penjelajah Tanpa Nama Ribut terus.

211 Penjelajah Tanpa Nama Ahaaan ufuuun.

214 Penjelajah Tanpa Nama Makanya berhenti dong, nggak sopan tahu.

223 Penjelajah Tanpa Nama Pokoknya percaya Haru-chin selamat. Umurnya seumuran sama anak perempuanku soalnya.

225 Penjelajah Tanpa Nama Serius? Berarti Anda sudah lumayan tua... ah, lupakan.

227 Penjelajah Tanpa Nama Yah, kekacauan Haru-chin emang selalu ngasih kita semangat buat hidup besok sih.

229 Penjelajah Tanpa Nama Kuliner kacau di dalam dungeon-nya juga udah selevel "teror makanan" kalau ditonton tengah malem.

231 Penjelajah Tanpa Nama Ngomong-ngomong, gimana nasib temen Haru-chin yang logat Kansai sama yang pendiem itu?

234 Penjelajah Tanpa Nama Mereka kayaknya nggak apa-apa. Tadi bilang di medsos!

237 Penjelajah Tanpa Nama Wah, info di sini kumpulnya cepet banget ya. Hebat.

241 Penjelajah Tanpa Nama Bener atau nggaknya terserah deh. Haru-chin, kumohon hiduplah. Kalau nggak, aku nggak mau yaaan.

254 Penjelajah Tanpa Nama Aduh, kayaknya aku bakal depresi. Nggak konsentrasi kerja, mau pulang terus tidur aja.

257 Penjelajah Tanpa Nama Woi, ini udah jam dua pagi...

258 Penjelajah Tanpa Nama Semangat ya buat budak korporat!

259 Penjelajah Tanpa Nama Tapi kita semua yang masih melek juga sama aja sih.

289 Penjelajah Tanpa Nama Gimana ya kondisi Haru-chin. Belum ada kabar baru?

323 Penjelajah Tanpa Nama Hah?

324 Penjelajah Tanpa Nama Oh?

325 Penjelajah Tanpa Nama Hmm?

326 Penjelajah Tanpa Nama Ada apa?

328 Penjelajah Tanpa Nama Live stream-nya nyala lagi!

331 Penjelajah Tanpa Nama Haru-chin sehat, woi!

332 Penjelajah Tanpa Nama Haruka Shimomura bangkit! Haruka Shimomura bangkit!

334 Penjelajah Tanpa Nama Tapi tunggu, kok ada suara laki-laki!?

336 Penjelajah Tanpa Nama Kenapa ada laki-laki-sama di dalam dungeon!

338 Penjelajah Tanpa Nama Bukannya labirin itu terlarang buat laki-laki!

339 Penjelajah Tanpa Nama Gambarnya goyang-goyang parah!

340 Penjelajah Tanpa Nama Suaranya juga pecah. Udah kayak film horor.

341 Penjelajah Tanpa Nama Cuma kedengeran suaranya dikit-dikit. Nggak paham ngomong apa.

343 Penjelajah Tanpa Nama Tapi barusan itu beneran suara laki-laki kan...

346 Penjelajah Tanpa Nama Nggak mungkin lah. Zaman sekarang jumlah laki-laki-sama itu sedikit banget. Mustahil mereka bakal masuk ke dungeon yang bahaya begini. Nggak masuk akal.

347 Penjelajah Tanpa Nama Kita ini kan pejuang tanpa cinta yang udah menyerah buat berinteraksi sama laki-laki-sama.

348 Penjelajah Tanpa Nama Jangan disamain dong. Gue belum menyerah ya.

349 Penjelajah Tanpa Nama Suara di stream emang sempet putus-putus. Tapi fix, yang nyelamatin Haru-chin itu laki-laki-sama.

351 Penjelajah Tanpa Nama Cuma sekilas sih, tapi suaranya kedengeran masih muda ya.

354 Gadis Baja 0R00CIW871 Suaranya nggak terlalu tinggi atau rendah. Usianya pasti sekitar akhir belasan atau awal dua puluh tahun. Gue yang udah sepuluh tahun lebih jadiin suara cowok sebagai "bahan" berani jamin itu.

357 Penjelajah Tanpa Nama Woi, tiba-kira muncul orang mesum.

363 Penjelajah Tanpa Nama Sommelier suara ya... boleh juga!

366 Penjelajah Tanpa Nama Boleh dari mananya!

367 Penjelajah Tanpa Nama Tapi kalau dipikir tenang, laki-laki-sama yang kedaftar jadi penjelajah resmi itu kan cuma dua orang anggota Tim Penyelamat.

411 Penjelajah Tanpa Nama Uwoooooh!

415 Penjelajah Tanpa Nama Wah, apa nih. Ngagetin aja.

421 Penjelajah Tanpa Nama Kenapa kalian? Saking jarang liat cowok akhirnya jadi gila ya?

423 Penjelajah Tanpa Nama Bukan gitu! Ada cowok ganteng banget dateng, uwooooh!

426 Penjelajah Tanpa Nama Hah? Ngomong apa sih... UWOOOOOH!

431 Penjelajah Tanpa Nama Woi woi, berisik banget... UWOOOOOH!

437 Penjelajah Tanpa Nama Tenang semuanya. Sebenarnya ada apa sih?

442 Penjelajah Tanpa Nama [Kabar Terkini] Alasan Haru-chin selamat. Dia diselamatin sama penjelajah ganteng yang masih muda banget.

443 Penjelajah Tanpa Nama Eh, serius? Ternyata beneran, uwooooh!

445 Penjelajah Tanpa Nama Eh, gila, muda banget. Masih belasan tahun nggak sih?

446 Penjelajah Tanpa Nama Keren keren keren, ganteng banget ya ampun.

453 Penjelajah Tanpa Nama Tipikal ganteng cowok Jepang banget ya.

459 Penjelajah Tanpa Nama Bener! Aku juga mikir gitu. Masih muda, tapi nggak ada kesan "lembek". Aura liarnya dapet banget.

461 Penjelajah Tanpa Nama Senyumnya imut.

464 Penjelajah Tanpa Nama Haaah, haah... ugh.

465 Penjelajah Tanpa Nama Berhenti deh.

471 Penjelajah Tanpa Nama Berisik lu, dongo.

475 Penjelajah Tanpa Nama Woi, tapi tunggu, itu bukannya Cerberus!?

477 Penjelajah Tanpa Nama Nggak mungkin makhluk kayak gitu ada di lantai atasEh ADA BENERAN, UWOOOOH!

479 Penjelajah Tanpa Nama LARI WOI, LARI!

482 Penjelajah Tanpa Nama Haru-chin, Mas Ganteng, lari cepetaaan!

484 Penjelajah Tanpa Nama Hah!? Cerberus? Fix mampus sih itu.

492 Penjelajah Tanpa Nama Bahkan Penjelajah Rank A aja bahaya kalau nggak bareng tim! Ini gimana ceritanya?

494 Penjelajah Tanpa Nama Eh, tunggu sebentar.

498 Penjelajah Tanpa Nama [Kabar Terkini] Mas Penjelajah Ganteng ngebunuh Cerberus pakai sihir cuma dalam sekejap.

501 Penjelajah Tanpa Nama Bohong. Nggak mungkin.

502 Penjelajah Tanpa Nama Eh, kayaknya beneran Cerberus-nya mati seketika gara-gara sihir Mas Ganteng itu.

504 Penjelajah Tanpa Nama Haaah!?

506 Penjelajah Tanpa Nama Orang ini jangan-jangan senjata rahasia Asosiasi ya?

509 Penjelajah Tanpa Nama Berarti kita yang tahu rahasia ini bakal dilenyapin dong?

511 Penjelajah Tanpa Nama Heh... siapa pun yang tahu rahasia organisasi hanya punya satu pilihan: mati.

513 Penjelajah Tanpa Nama Nggak mauuu yaaan.

514 Penjelajah Tanpa Nama Nggak mungkin lah.

516 Penjelajah Tanpa Nama Iya juga sih. Penonton stream-nya aja membeludak, terus utas ini juga masih jalan biasa.

517 Penjelajah Tanpa Nama Siapa sih barusan yang tiba-tiba sok jadi dalang di balik layar gitu.

519 Penjelajah Tanpa Nama Heh... cuma mau coba ngomong gitu aja. Maafin ya.

520 Penjelajah Tanpa Nama Heh... dimaafkan.

521 Penjelajah Tanpa Nama Heh... dimaafkan. Tapi lepas celana sana.

522 Penjelajah Tanpa Nama Heh... hukumannya posting foto celana dalam yang habis dilepas.

534 Penjelajah Tanpa Nama Nih.

536 Penjelajah Tanpa Nama Uweeeek!

537 Penjelajah Tanpa Nama Serius deh, berhenti. Gue lagi makan nih.

539 Penjelajah Tanpa Nama Tengah malem begini jangan makan dong.

541 Penjelajah Tanpa Nama Ini mah udah pagi.

545 Penjelajah Tanpa Nama Waktunya sarapan!

552 Penjelajah Tanpa Nama Bisa nggak sih berhenti posting barang kotor?

565 Penjelajah Tanpa Nama Siapa juga yang bakal seneng liat celana dalam lu.

566 Penjelajah Tanpa Nama Bener! Isinya kan cuma gadis-gadis doang di sini.

568 Penjelajah Tanpa Nama Masih anget lho baru dilepas.

571 Penjelajah Tanpa Nama Nggak butuh, woi!

577 Penjelajah Tanpa Nama Gue hajar lu ya.

578 Penjelajah Tanpa Nama Apalagi modelnya kayak celana harian, jadi kerasa terlalu nyata sampai bikin ilfil.

579 Penjelajah Tanpa Nama Agak menguning tuh. Cuci yang bener dong.

583 Penjelajah Tanpa Nama Tuh kan, Mamanya sampe marah.

584 Penjelajah Tanpa Nama Huhu, padahal udah memberanikan diri.

585 Penjelajah Tanpa Nama Bodo amat!

586 Penjelajah Tanpa Nama Bekas "anu"-nya nggak bisa ilang biarpun udah dicuci berkali-kali.

591 Penjelajah Tanpa Nama Pake popok aja sana.

593 Penjelajah Tanpa Nama Manner Wear~ ♪

595 Penjelajah Tanpa Nama Jangan nyanyi!

601 Penjelajah Tanpa Nama Itu mah buat hewan peliharaan.

605 Penjelajah Tanpa Nama Udah selevel anjing kucing ya.

609 Penjelajah Tanpa Nama Orang ini emang binatang.

610 Penjelajah Tanpa Nama Guk guk!

611 Penjelajah Tanpa Nama Utas ini sudah ternoda...

621 Penjelajah Tanpa Nama Woi, malah melenceng lagi bahasannya.

689 Penjelajah Tanpa Nama Tolong sesekali inget nasib Haru-chin juga ya.

◆◇◆

Cerberus telah menemui ajalnya di tangan sihir Ryuto. Patung es raksasa di hadapannya mulai mengeluarkan suara retakan yang tajam, seolah akan pecah berkeping-keping, dan ribuan retakan halus menjalar ke seluruh permukaannya.

Detik berikutnya, dibarengi dengan dentuman ledakan yang dahsyat, tubuh Cerberus hancur berkeping-keping.

Pecahan es kecil berubah menjadi serpihan salju yang menari-nari dan jatuh memenuhi gua raksasa itu. Suhu di dalam gua pun mendadak anjlok.

Meski Ryuto hanya mengenakan cawat kulit binatang, tubuh kekarnya tidak bergeming sedikit pun dan tidak merasakan dingin barang sedikit pun.

Serpihan salju yang berjatuhan berubah menjadi kabut tipis yang menyelimuti sekeliling mereka.

"Aaah, segarnya."

Rasanya seperti ada mesin penyerut es raksasa yang diletakkan tepat di atas kepalanya. Ryuto seketika memutih karena tertutup tumpukan pecahan es halus yang jatuh menimpanya.

"Wuuuu."

Ryuto mengguncang seluruh tubuhnya ke kiri dan ke kanan dengan sangat kencang, persis seperti anjing yang baru saja basah kuyup.

Orang-orang biasa menyebutnya "Shiba Drill". Karena Ryuto memutar tubuhnya dengan kecepatan tinggi, bagi orang lain yang melihatnya, bayangannya pasti akan tampak seperti bor raksasa.

—Rasanya lega sekali.

Perasaannya kini sangat segar.

"Ah, gawat. Ngomong-ngomong, apa Haruka baik-baik saja?"

"Kyuu."

Ia menatap Haruka yang sedang didekapnya. Sepertinya gadis itu kehilangan kesadaran karena tidak sanggup mengikuti ritme pertempuran sengit barusan. Mungkin dia pening. Meski Ryuto mencoba mencoleknya dengan ujung jari, tidak ada tanda-tanda dia akan bangun.

Kalau sekarang, kira-kira dia bakal sadar tidak ya kalau dadanya kusentuh?

Saat bertarung tadi ia tidak memikirkannya, tapi saat menggendongnya ala pengantin begini, kehadiran sosok yang bernapas hangat di dalam dekapannya terasa begitu menggoda. Terutama bagian dada dan pantatnya.

"Pencet sedikit, ah."

"Ngh..."

Ryuto menekan bagian yang tampak menonjol di dada Haruka dengan jari telunjuknya. Tentu saja, itu dilakukan di atas kain tebal yang merupakan perlengkapan pelindungnya, tapi Haruka memberikan reaksi kecil.

Ugh, selangkangan Ryuto langsung membentuk "tenda" kecil. Belum saatnya. Belum waktunya tidur. Masih belum jam istirahat, lho. Baik anak baik maupun anak nakal, semuanya harus melek sampai pagi, ini waktunya pesta!

Tidak, bukan begitu.

Bukan saatnya memikirkan hal konyol seperti itu.

Ryuto kembali sadar, lalu matanya tertuju pada tongsis yang masih ia genggam di tangan kiri.

"Ah, gawat. Aku benar-benar gagal. Apa benda ini rusak, ya?"

Ryuto mengutak-atik ponsel yang terpasang di ujung tongsis tersebut. Ada banyak alasan mengapa ponsel itu mati, tapi yang paling utama mungkin karena perubahan suhu yang drastis.

Akibat terkena dampak langsung dari sihir es yang digunakan Ryuto, komponen sensitif di dalam ponsel itu mengalami malfungsi. Sama halnya seperti alat elektronik yang kinerjanya menurun di daerah yang sangat dingin.

Ryuto menatap layar ponsel itu sejenak, namun lama-kelamaan ia kehilangan minat dan berhenti mengutak-atiknya.

"Yah, nanti juga bakal bener sendiri. Cuma kedinginan doang."

Karena sudah terlalu lama jauh dari barang elektronik, Ryuto tidak menderita kecanduan ponsel seperti penyakit kronis manusia modern.

Faktanya, beberapa saat kemudian, fungsi ponsel itu kembali normal.

"Nah, sekarang apa yang harus kulakukan?"

Sambil mengapit Haruka di ketiaknya, Ryuto tenggelam dalam pikirannya. Bagi Ryuto yang sekarang, musuh selevel Cerberus bukanlah tandingan yang berarti.

Namun, jika benar apa yang dikatakan Haruka bahwa tempat ini adalah lantai atas yang dekat dengan permukaan, maka jalan keluar sudah dekat.

"Permukaan, ya."

Ia hampir saja menyerah. Alasan Ryuto terus bertarung selama waktu yang telah melenyapkan konsep waktu itu sendiri adalah karena ada orang-orang yang ingin ia temui di dunia atas.

Keluarganya, juga rekan-rekan yang terpisah darinya setelah mereka mengalahkan Raja Iblis.

Alasan ia bisa kembali dari dasar terdalam hingga ke sini adalah karena Ryuto tidak pernah sekalipun menyerah. Keinginannya akan terkabul. Akhirnya.

Tiba-tiba, wajah seorang gadis terlintas di benak Ryuto.

Kalau pertempuran ini berakhir, aku akan menembaknya.

Rasanya ia pernah mengatakan hal semacam itu kepada sahabat baiknya yang seumuran, Genma Shogen. Shogen tertawa dan bilang itu adalah "death flag", tapi sekarang Ryuto bisa membuktikan bahwa hal itu tidak benar. Dan mereka telah bertaruh.

Tentu saja, Ryuto bertaruh bahwa ia akan selamat. Itu hanyalah candaan konyol remaja sebelum pertempuran terakhir, padahal probabilitas untuk mati jauh lebih tinggi.

"Heh, dasar bodoh. Taruhan ini aku yang menang, Shogen."

◆◇◆

Munculnya Cerberus yang merupakan monster Rank A di lantai atas.

Begitu menerima laporan tersebut, petinggi Asosiasi Penjelajah Nasional awalnya mencoba tetap tenang dan bertindak sesuai prosedur. Namun, begitu informasi tersebut terbukti benar, suasana seketika berubah menjadi kacau balau.

Ancaman monster Rank A bukanlah main-main. Terlebih lagi, selama lima tahun terakhir, bayangan monster Rank A bahkan tidak pernah terlihat di lantai bawah sekalipun.

Jika monster sekuat itu muncul di lantai tiga, kemungkinan besar ia bisa menerobos keluar ke permukaan.

Wajar jika petinggi Asosiasi yang kebingungan langsung menghubungi salah satu pahlawan yang pernah membasmi Raja Iblis untuk meminta arahan.

"Cerberus? Jangan bercanda. Zaman sekarang, informasi di medsos itu banyak yang direkayasa. Baru minggu lalu juga ada kan, informasi pemunculan massal monster Rank B? Ternyata itu cuma video hoax dari streamer nakal yang mau pansos. Eh?"

"Tunggu sebentar. Ulangi sekali lagi. Nama penjelajah yang melakukan streaming itu adalah... Haruka Shimomura. Kamu yakin tidak salah dengar?"

Ichihime Genma, salah satu mantan anggota tim penyelamat yang kini menjadi tokoh penting di Party Santo Rakyat, mengerutkan kening di atas tulang hidungnya yang indah.

Ia kemudian mendengarkan detail laporan tersebut dengan teliti, lalu segera memerintahkan Asosiasi untuk membentuk tim pembasmi.

"Baiklah. Pokoknya, aku juga akan pergi ke lokasi. Ya, tidak masalah. Meskipun aku sangat sibuk dengan urusan pemerintahan, aku tidak pernah melewatkan latihan sehari pun. Sampai sekarang pun, aku yakin kemampuanku tidak kalah dari Penjelajah Rank A mana pun."




—Cerberus, ya.

Ichihime segera memerintahkan sekretarisnya untuk menyiapkan kendaraan. Ia berganti pakaian dari setelan jas ke pakaian yang lebih leluasa untuk bergerak, lalu menggenggam Wand pendek yang tadinya bersandar di atas meja.

"Anak itu benar-benar. Sialnya sampai ke level yang bikin geleng-geleng kepala. Duh."

Dua puluh tahun adalah waktu yang lama.

Shimomura Haruka, yang ia ambil dari seorang sahabat, ia besarkan di rumah yang sama hingga usia lima belas tahun tanpa membeda-bedakannya dengan anak kandungnya sendiri.

Fakta bahwa Haruka menempuh jalan yang sama dengan ibu kandungnya sebagai seorang Penjelajah bisa dibilang sudah suratan takdir. Namun, jika memikirkan seberapa besar kemungkinan bertemu Cerberus yang luar biasa kuat di tengah siaran langsung...

"Ini sih probabilitasnya sudah setara dengan kejatuhan meteor tepat di kepala saat sedang jalan kaki."

Ichihime masuk ke dalam mobil sedan mewah berwarna hitam legam itu dan menginstruksikan sopirnya untuk bergegas.

"Ah, tapi tetap utamakan keselamatan berkendara, ya."

Ichihime yang tahun ini menginjak usia empat puluh empat tahun tidak pernah sekalipun melewatkan latihan, meski ia sibuk dengan urusan pemerintahan serta mencurahkan segenap hati untuk keluarga dan membesarkan anak sejak pembasmian Raja Iblis.

Berkat kedisiplinannya, kadar lemak tubuhnya tidak pernah sekalipun melampaui sepuluh persen. Kemampuan fisiknya pun setara dengan atlet profesional. Kecantikannya yang memiliki garis wajah tegas—berbeda dari standar orang Jepang pada umumnya—tampak meluap dengan pesona kedewasaan.

"Ibu, ini data yang dikirimkan oleh Asosiasi hingga saat ini."

"Terima kasih."

Ichihime menerima tablet PC dari Yurina Tsukikage, sekretaris yang duduk di sampingnya, lalu dengan cepat menggeser layar untuk memasukkan seluruh poin laporan ke dalam kepalanya.

Sebagai pengasuh sementara, Ichihime sangat memahami sifat Haruka. Haruka bukan tidak memiliki bakat sebagai Penjelajah, hanya saja perkembangannya sedang mandek. Saat ini ia berada di Rank E, namun Ichihime memprediksi bahwa tergantung usaha gadis itu, ia bisa mencapai Rank B.

—Dia punya potensi sebesar itu.

Para Penjelajah yang unggul dalam menjelajahi dungeon, menggali sumber daya atau logam langka, serta membasmi monster yang merupakan musuh kemanusiaan, biasanya sangat cepat matang.

Bagi mereka yang bakatnya mekar lebih awal, bukan hal aneh jika di usia awal belasan tahun mereka sudah bisa menguasai Skill skala besar atau sihir tingkat tinggi yang bahkan melampaui orang dewasa.

Ibu kandung Haruka adalah salah satu pengguna sihir terkemuka di dunia. Darah itu mengalir deras dalam nadi Haruka. Namun anehnya, Skill sihir tidak pernah muncul pada diri Haruka.

Haruka yang sejak lahir memiliki kemampuan motorik unggul dan kekuatan fisik, akhirnya mendapatkan Job Warrior yang terspesialisasi dalam pertarungan jarak dekat berkat anugerah roh di Kuil Agung.

Meski begitu, Ichihime selalu menyesal karena tidak memiliki cukup waktu untuk menggali potensi Haruka yang sebenarnya.

Walau begitu, jika Haruka sudah memutuskan untuk hidup sebagai Penjelajah, Ichihime merasa tidak punya hak untuk mencampuri urusannya meski ia adalah ibu angkatnya.

Menantang dungeon demi meraih takhta kemuliaan atau tewas mengenaskan menjadi mayat di dalam kegelapan adalah kebebasannya sendiri.

Tetap saja, ia tidak bisa memutus kasih sayang yang telah terjalin sebagai keluarga sejak Haruka masih bayi hingga usia lima belas tahun.

"Benar-benar ya, jarang sekali memberi kabar, cuma bikin khawatir saja."

Bagi Ichihime yang hanya memiliki satu anak laki-laki, Haruka sudah seperti putri kandungnya sendiri. Wajar saja, karena ia membesarkannya sejak masih bayi, mengganti popoknya, dan memberinya susu.

Meski sekarang Haruka sudah keluar dari rumah dan jarak fisik memisahkan mereka hingga jarang menghabiskan waktu bersama, kasih sayang Ichihime tidak berubah. Bahkan saat ini pun, dadanya terasa nyeri berdenyut dan sulit baginya untuk tetap tenang.

Drone pengintai milik tim penyelamat sangat efisien; mereka berhasil merekam data gambar dan video yang cukup jernih bahkan sebelum personel sampai di lokasi.

"Ah, astaga."

Tanpa sadar, gumaman itu lolos dari bibirnya. Pemunculan Cerberus di lantai atas kini menjadi kenyataan. Dengan ini, negara dan Asosiasi kemungkinan besar akan lebih memprioritaskan pemusnahan monster daripada penyelamatan Penjelajah.

Apa pun pilihannya, tingkat kelangsungan hidup Haruka pasti merosot tajam. Ekspresi Ichihime berubah mendung.

"Ibu, mohon jangan putus asa," ujar Yurina, sang sekretaris yang mengetahui situasinya.

Yurina adalah wanita yang sangat jarang menunjukkan emosi di wajahnya. Namun sebenarnya, ia adalah wanita yang sangat perasa.

Karena ia tahu betapa Ichihime sangat menghargai keluarganya di atas segalanya, ia ikut merasa sangat sedih.

Meski ia memahami hal itu, sebagai orang yang berkecimpung di dunia politik, ia tidak bisa menunjukkan perasaan pribadinya secara terang-terangan. Ichihime terus memeriksa data yang terkirim dalam keheningan.

Ichihime menghentikan gerakan tangannya saat mencapai bagian audio dari data yang dikirim ke tablet PC tersebut.

"Hei, suara ini... apa bisa dibuat lebih jernih?"

"Mohon tunggu sebentar."

Mendengar instruksi Ichihime, Yurina mulai mengetik di keyboard yang terhubung ke terminalnya dengan kecepatan yang luar biasa.

Hal yang mengusik pikiran Ichihime adalah suara yang mengalir dari ponsel yang diduga dijatuhkan oleh Haruka saat siaran.

Meski kebenarannya belum pasti, Haruka yang menderita luka parah akibat serangan Minotaur Rank C entah bagaimana bisa selamat, bahkan kemudian diserang oleh Cerberus Rank A yang jauh lebih merepotkan.

—Ini aneh. Padahal melarikan diri dari Minotaur dengan luka sebesar itu saja sudah hampir mustahil.

Menurut informasi yang diekstraksi dari media sosial, audio percakapan Haruka berasal dari seorang laki-laki—sosok yang secara mutlak seharusnya tidak ada di dalam dungeon.

Saat ini, dengan populasi laki-laki yang jauh lebih sedikit dibandingkan perempuan, mustahil bagi seorang laki-laki berharga untuk menyelam sendirian ke dalam dungeon yang sangat berbahaya.

Lagipula, di seluruh Jepang, hanya ada dua laki-laki yang memiliki lisensi resmi dari Asosiasi Penjelajah: suami Ichihime dan seorang sahabat yang merupakan penyintas dari tim penyelamat dulu.

Ya, hanya mereka berdua. Kecuali anak itu.

"Tidak mungkin, kan..."

Seketika, rasa dingin menjalar di tulang belakang Ichihime.

Tanpa sadar, keringat dingin mengalir di tengkuknya yang tersembunyi di balik rambut yang disanggul ke atas.

Kemungkinan itu benar-benar mustahil.

Dua puluh tahun yang lalu, ia meneteskan air mata yang tak terhitung jumlahnya ke atas bantal.

Satu-satunya keluarga inti Ichihime.

Satu-satunya adik laki-laki kandungnya di muka bumi ini.

Demi membasmi Raja Iblis, ia berangkat sendirian menuju dasar bumi yang meluap dengan magma.

Selama dua puluh tahun ini, tidak ada satu hari pun ia melupakan adiknya.

Bahkan di hari ia bersatu dengan orang yang dicintainya, mengandung buah hatinya, hingga mendengar tangisan pertama anaknya yang baru lahir, ia selalu memimpikan adiknya.

Di tengah kebisingan suara yang meluap itu, Ichihime merasakan keganjilan yang kuat dan perasaan deja vu.

"Ibu, sudah selesai."

"Kirimkan padaku."

Data audio yang sudah dibersihkan dari kebisingan pun terkirim ke tablet PC-nya.

Ia segera memutarnya.

Suara itu mengalir.

Suara seorang pemuda yang terdengar seperti berusia belasan tahun.

Ingatannya bangkit dalam sekejap.

Seketika itu juga, kepala Ichihime terasa memanas.

"Ka— hah..."

"Ibu! Ada apa!?"

Suara Yurina terdengar menjauh. Di saat yang sama, kedua mata Ichihime terasa panas membara dan pandangannya mengabur hingga ia tidak bisa melihat apa-apa, membuatnya panik luar biasa. Napasnya terasa sesak. Ia terbatuk-batuk hebat. Kesadarannya mulai menipis.

Mana mungkin ia bisa lupa suara itu. Tidak ada satu hari pun ia tidak berdoa, meski hanya dalam mimpi.

Ia bersumpah pada Tuhan setiap malam. Hanya satu pandangan saja sudah cukup.

Jika saja ia bisa melihat wajahnya, melihat sosoknya, ia rela menukarnya dengan nyawanya sendiri. Begitu besar keinginan gila itu di dalam hatinya.

"Aaah— ugh..."

Air mata tumpah membanjiri pipinya. Ichihime menutupi wajah dengan kedua tangan dan terisak keras di sana. Ia tidak bisa lagi menahan emosinya.

Sebab, suara itu tak salah lagi adalah suara adik kandungnya yang seharusnya sudah meninggal dua puluh tahun yang lalu—Sakazaki Ryuto.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close