Chapter 3
Masa Lalu, Masa Depan, dan Diriku yang
Sekarang
"Terus?"
"Terus...
apa maksudmu?"
Genma
Shogen tidak langsung menjawab. Dia tetap diam, menatap pemandangan kota Tokyo
yang terbentang luas di balik jendela kaca.
"Biar aku
perjelas saja. Ini soal Rinka. Apa kabarnya sekarang?"
"Kau tidak
menanyakan kabar Yorimitsu, ya."
Shogen menyebut
nama Satake Yorimitsu, mantan rekan mereka yang dulunya seorang prajurit berat.
Namun, berita yang paling ingin Ryuto ketahui saat ini adalah kabar tentang
Rinka.
Ryuto berdiri
dari sofa, lalu berkata kepada Shogen yang masih memunggunginya.
"Yorimitsu-chan
sehat? Jadi, Rinka bagaimana?"
"Tanyanya
buru-buru sekali, seperti cuma basa-basi saja."
"Berisik.
Dia bukan tipe yang gampang mampus. Sama seperti kau."
"Benar juga,
sih. Tapi kau ini keterlaluan sekali."
"Kumohon.
Beritahu aku tentang Rinka."
Shogen berbalik.
Ekspresinya tidak berubah, pikirannya sama sekali tidak terbaca. Sebagai orang
yang lahir di kuil dan memiliki ayah seorang biksu Zen, tidak ada yang bisa
mengalahkan ekspresi datar Shogen di saat-saat genting.
Namun, ketika
Ryuto menatap matanya dengan tajam, Shogen sedikit menurunkan pandangannya.
"Dia sudah
pergi."
"Hah?"
"Entah pergi
ke mana."
"Hoee..."
Wajah Ryuto
seketika menjadi kaku, terlihat kosong seperti patung tanah liat Haniwa.
"Maaf. Kau
pasti mengharapkan reuni yang mengharukan. Ryuto... Rinka menghilang
delapan belas tahun yang lalu, dan sampai sekarang keberadaannya tidak
diketahui."
"K-Kenapaaa?"
"Mungkin,
karena pria."
"Pria!?
Bohong!"
Mata Ryuto
berkedip-kedip, seolah-olah ada kilat yang menyambar tepat di depan wajahnya.
Hampir di saat yang bersamaan, dia merasa pening yang hebat, hingga lututnya
lemas dan dia jatuh tersungkur ke atas karpet.
Tepat saat
wajahnya hampir mencium lantai, kedua bahunya ditangkap oleh Shogen.
"I-itu...
mungkinkah?"
"Jangan
menyalahkannya. Rinka sudah menunggumu selama dua tahun. Kami pun tidak berani
mencarinya. Soal itu... ya, kumohon mengertilah."
Pandangan Ryuto
tampak kosong, matanya bergerak liar tak tentu arah. Senyum Rinka yang ada
dalam ingatannya kini perlahan tertutup kabut putih dan menghilang.
Ryuto
menepis tangan Shogen lalu berdiri. Sambil tetap membelakangi temannya, dia
mengepalkan tinju kanan dan tubuhnya gemetar hebat.
"Ryuto..."
"Kalau
begitu, aku cari wanita baru saja."
"Hei!"
"Bercanda,
kok."
Ryuto
berbalik menghadap Shogen dan memaksakan senyum. Penyesalan mendalam dan rasa
hampa menyerangnya secara bertubi-tubi, namun apa boleh buat. Waktu adalah
satu-satunya hal yang tidak bisa diputar kembali.
Beban dua
puluh tahun terasa sangat berat menghimpitnya. Masa kekosongan itu benar-benar
fatal.
"Kau
tidak apa-apa?"
"Yah.
Sejujurnya ini cukup menyakitkan."
"Hei,
Ryuto."
"Maaf. Bisa
tinggalkan aku sendiri sebentar? Aku ingin menjernihkan pikiranku."
"Ah, tentu
saja."
Shogen melangkah
keluar ruangan dengan kesedihan mendalam yang terpancar di wajahnya.
Begitu pintu
tertutup, Ryuto menutupi wajahnya dengan kedua tangan, lalu bahunya bergetar
dalam diam. Tubuhnya mulai menggigil.
Suara geraman
seperti binatang buas keluar begitu saja dari tenggorokannya. Dia pikir dia
akan menangis, namun tidak ada setetes pun air mata yang jatuh ke telapak
tangannya.
Dia tahu itu. Ini
bukan salah siapa-siapa.
Jika ditinggalkan
selama dua puluh tahun, tentu saja hal seperti ini akan terjadi. Namun, tetap
saja dia tidak bisa menerimanya begitu saja.
"Tenanglah,
tenanglah," sisi lain dari dirinya berbisik dalam hati seperti sebuah
mantra.
"Sialan."
Di saat yang
sama, ingatan tentang Rinka yang takkan pernah bisa diraihnya lagi terus
bermunculan dan menghilang di benaknya. Wajahnya yang cantik, dadanya yang
besar dan berbentuk indah, pinggangnya yang ramping, bokong mungilnya yang
lucu, hingga pahanya yang kencang.
Sial, memikirkan
tubuh itu telah dinikmati sesuka hati oleh pria lain selain dirinya, membuat
gigi Ryuto bergemeletuk karena terkatup rapat.
"Dada
Rinka..."
Sangat
menyedihkan, tapi nafsu seksualnya ternyata lebih besar daripada rasa kasih
sayang. Membayangkan pria lain menindih tubuh itu dan menjamahnya sesuka hati
dari belakang, membuat api menyambar hingga membakar sirkuit otaknya. Api
cemburu yang membara.
Ryuto duduk
kembali di sofa dan mengambil napas dalam-dalam. Menarik dan mengembuskannya
dengan kuat. Dia mengulanginya dua kali.
—Bagaimana cara
menyembuhkan kesedihan ini?
Ryuto
mengacak-acak rambutnya yang berantakan, lalu mengalihkan pandangannya ke arah
televisi model terbaru yang terpasang di dinding.
"Aku
mengacaukannya."
Begitu sampai di koridor hotel, Genma Shogen memegang tengkuknya dengan wajah yang masam. Secara refleks, dia memasukkan tangan ke saku dada, mengeluarkan korek api Dunhill, lalu menyipitkan mata kanannya. Padahal, dia tahu tidak ada tempat untuk merokok di sini.
Kini, para
perokok dibenci oleh kaum wanita bagaikan melihat ular atau kalajengking.
Shogen pun tak terkecuali; istrinya selalu menegurnya tanpa ampun setiap kali
dia ketahuan merokok.
Di hotel kelas
satu zaman sekarang, sangat sulit menemukan area merokok.
Demi melayani
segelintir tamu pria, Hotel Teio memang menyediakan ruang merokok, namun Shogen
harus berpindah cukup jauh dari posisinya saat ini.
Tapi itu
mustahil. Shogen, yang dikenal sebagai sosok yang sangat kaku dan setia kawan,
tidak mungkin meninggalkan Ryuto yang saat ini sedang mengalami syok berat
sendirian.
—Ini
memang tugas yang kuambil sendiri, tapi rasanya berat juga.
Apa yang
dikatakan Shogen kepada Ryuto adalah campuran antara kebenaran dan kebohongan.
Rinka
memang benar-benar menghilang, tapi bukan karena dia mencari pria lain dan
meninggalkan Ryuto.
Kenyataan
sebenarnya adalah, Rinka menghilang ke dalam dungeon demi mengejar
Ryuto.
Rinka
telah menghilang sebanyak dua kali dari hadapan Shogen dan yang lainnya.
Pertama, tepat
setelah status kepulangan Ryuto dinyatakan mustahil. Kedua, saat dia membawa
bayi yang baru lahir dan menitipkannya kepada Shogen dan Kazumi.
Bagi Shogen,
Ryuto adalah sahabat karibnya.
"Ya, dia
sangat berharga. Tentu saja."
Shogen sama
sekali tidak ingin menyakitinya atau berbohong padanya.
Namun, Shogen
memutuskan untuk mengatakan bahwa Rinka hidup dan melarikan diri bersama pria
lain.
Dia berpikir,
jika Ryuto percaya Rinka masih hidup dan berada di suatu tempat di permukaan
bumi, maka si bodoh yang nekat itu tidak akan berpikiran macam-macam, apalagi
sampai masuk kembali ke dungeon untuk mencarinya.
Jika ditanya
kenapa dia melakukan itu, alasannya hanya satu.
—Jika
Ryuto menghilang lagi, Kazumi akan sangat sedih.
Jika dia
jujur bahwa Rinka menghilang ke dalam dungeon demi mengejar Ryuto, maka
kali ini Ryuto pasti tidak akan pernah kembali ke permukaan sampai dia berhasil
menemukannya. Ryuto memang sebodoh dan sejujur itu.
Shogen
memilih untuk berbohong. Sejak Ryuto menghilang ke dasar jurang demi memberikan
penyelesaian akhir pada Raja Iblis, hati Kazumi telah terluka sangat dalam. Salah satu alasan Kazumi menerima lamaran
Shogen adalah karena dia telah kehilangan adik satu-satunya.
Jika bukan karena
kejadian itu, Shogen mungkin tidak akan pernah bisa mendapatkan Kazumi sebagai
istrinya. Meski harus menipu dan membohongi Ryuto, Shogen tidak ingin membuat
Kazumi—satu-satunya orang yang paling berharga baginya—merasa sedih lagi.
Delapan
belas tahun yang lalu—
Ini
adalah kisah tepat sebelum Rinka menghilang.
Tiba-tiba
dia muncul di hadapan Shogen dan Kazumi, menitipkan bayi perempuan bernama
Haruka yang baru lahir, lalu pergi menuju bagian terdalam dungeon yang
belum terjamah manusia.
Kala itu,
Shogen dan Kazumi yang baru saja menikah belum memiliki anak. Haruka kemudian
didaftarkan sebagai anak telantar sesuai dengan Undang-Undang Hukum Perdata
Pasal 57, dan mendapatkan marga Shimomura yang merupakan marga dari walikota
saat itu.
Sejak
saat itu, gadis yang tidak diketahui asal-usulnya ini dikenal sebagai Shimomura
Haruka.
Belum
bisa dipastikan apakah Haruka adalah anak kandung Rinka atau bukan. Jika benar,
itu akan menjadi pukulan ganda yang telak bagi Ryuto. Karena itulah, Shogen maupun Kazumi tidak
menceritakan hal ini kepada siapa pun kecuali sahabat mereka, Yorimitsu.
Kini, itu
hanyalah masa lalu. Lagi pula, Shogen sama sekali tidak mengira Ryuto masih
hidup.
Faktanya,
pencarian Sakazaki Ryuto telah resmi dihentikan lima belas tahun yang lalu. Di
antara Shogen dan Kazumi, nama Ryuto tidak pernah dibahas lagi kecuali pada
hari peringatan kematiannya—hari perpisahan terakhir mereka.
Namun, dunia
memiliki pandangan yang berbeda.
Di antara
Kelompok Penyelamat Dunia yang berjasa besar membasmi Raja Iblis, Ryuto
dihormati oleh masyarakat sebagai sosok "Pahlawan" sejati yang
mempertaruhkan nyawanya hingga akhir. Dia adalah pengecualian. Shogen, Kazumi,
dan Yorimitsu pun dianggap sebagai pahlawan di Jepang.
Bahkan ada agama
baru yang mendewakan Ryuto setelah pertarungan satu lawan satu melawan Raja
Iblis.
Perkumpulan
ajaran yang memuja Pahlawan Ryuto ini, yang dikenal sebagai "Agama
Pahlawan," memiliki lebih dari lima juta pengikut di seluruh negeri.
Organisasi ini menjadi lumbung suara yang sangat penting bagi Partai Minsei,
tempat Shogen dan Kazumi bernaung.
—Tapi, kali ini
aku datang sebagai teman Ryuto, terlepas dari segala kepentingan politik yang
kotor itu.
Dua puluh tahun
yang lalu, Shogen dan Ryuto berada di usia yang sama dan merupakan sahabat yang
paling dekat.
Alasannya
berbohong tentang Rinka murni berasal dari keinginannya untuk meredakan
ketakutan istrinya tercinta, Kazumi. Dia takut jika Ryuto yang baru saja
kembali ini mengetahui kebenaran, dia akan membuang segalanya dan kembali ke dungeon,
lalu takkan pernah pulang lagi.
"Dia butuh
waktu."
Bahkan di mata
Shogen, Ryuto dan Rinka jelas saling mencintai.
Jika Rinka ada di
sini, dia pasti akan membuang segalanya demi bertemu Ryuto.
Saat ini, Ryuto
seperti Urashima Taro yang tersesat di zaman modern.
Namun, cepat atau
lambat kebenaran pasti akan terungkap. Kisah tentang apa yang terjadi pada
Rinka bukanlah rahasia negara.
—Apa yang bisa
kulakukan untuknya?
Saat
sedang merenung, sebuah teriakan melengking terdengar dari dalam kamar. Shogen merasa ngeri, takut jika Ryuto
melakukan hal yang nekat karena terlalu terpukul. Dengan panik, dia membuka
kunci pintu dan bergegas masuk.
"Oi, Shogen!
Televisi ini aneh! Aku tidak bisa menonton saluran dewasa!"
"Kau
ini..."
Ryuto langsung
merasa goyah saat melihat wajah Shogen yang tampak lelah dan lesu.
"Oi,
jangan-jangan... itu, ya!? Uang!? Apa butuh biaya tambahan?"
"Bukan
begitu. Pokoknya, Ryuto, duduklah dulu."
"O-oh. Ngomong-ngomong, Shogen. Dulu soal DVD dewasa,
kau kan ahlinya yang tidak tertandingi! Beritahu aku trik rahasianya!"
"Pertama-tama... aku ini sudah lama menikah, dan aku
sudah bukan di usia untuk meributkan hal-hal seperti itu lagi. Bukan! Jangan
pasang wajah begitu! Jangan menjauh! Jangan memeluk tubuhmu sendiri! Aku tidak
tertarik padamu! Dengar, ya? Entah kau sadar atau tidak, jumlah pria di dunia
ini sangat sedikit. Jumlah wanita jauh lebih banyak."
"Why?"
"Secara konkret, rasio jenis kelamin di dunia sangatlah
timpang. Karena itulah, video dewasa semacam itu sudah hampir punah dari dunia
sejak lama. Alasannya banyak, tapi
intinya bisnis itu sudah mati. Kau tidak terima? Ya sudahlah. Pokoknya... ah,
sial, waktunya sudah tiba. Ryuto, maaf, ada panggilan mendadak. Kita bicara
lagi saat makan malam. Yorimitsu juga akan datang dari Kyushu nanti, kita bisa
bicara santai saat itu."
"Apa? Kau
sibuk sekali ya? Apa pekerjaanmu?"
"Yah, bisa
dibilang aku ini tukang bersih-bersih urusan dunia."
"Kerja paruh
waktu di minimarket?"
"Mana
mungkin! Sama seperti Kazumi, aku ini anggota parlemen—seorang politisi."
"Haha!"
"Kau sama
sekali tidak percaya, ya."
"Tidak juga,
kok."
"Dasar, kau
tidak berubah ya."
"Di usia
segini masih kerja paruh waktu, berat juga ya. Padahal kau punya anak."
"Kubilang
bukan begitu!"
Shogen
pergi sambil berpesan, "Istirahatlah di kamar." Begitu dia pergi,
Ryuto menyeringai sambil memainkan dompet kulit yang berhasil dicurinya dari
Shogen dalam sekejap mata.
—Dengan ini, dana operasional sudah cukup.
"Si Shogen itu. Apa maksudnya melarangku keluar hotel? Aku baru saja menghirup udara bebas
setelah sekian lama, tahu. Mana mungkin aku tahan tidak menghirup udara
luar."
Ryuto tidak
mengerti, tapi Shogen sudah mewanti-wanti bahwa segala kebutuhan akan
dikirimkan ke kamarnya, jadi dia dilarang keluar hari ini.
Tentu saja, Ryuto
yang merupakan gumpalan sifat pemberontak tidak mungkin menuruti perintah itu
begitu saja.
"Nah,
sekarang bagaimana ya."
Shogen tadi
bilang jumlah pria di dunia ini jauh lebih sedikit dibandingkan wanita. Memang,
kalau dipikir-pikir, para petualang yang datang menyelamatkannya di dungeon
maupun orang-orang asosiasi, tidak ada satu pun pria. Tapi Ryuto hanya
menganggap itu sebagai kebetulan belaka.
"Pokoknya
aku ingin keluar dan makan sesuatu. Sesuatu yang benar-benar berminyak."
Ryuto sangat
merindukan makanan sampah alias junk food.
Makan malam mewah
yang disajikan hotel tadi malam memang enak, tapi itu hanyalah rasa makanan
untuk acara formal.
Dua puluh tahun
yang lalu, setiap kali ada waktu luang di sela-sela penjelajahan, Ryuto akan
menggunakan uang sakunya yang pas-pasan untuk melahap junk food seolah
tidak ada hari esok. Masa muda dan perut yang kuat memungkinkan hal itu.
Dan setelah dua
puluh tahun...
Ryuto yang
kembali ke permukaan dengan kondisi waktu yang seolah terhenti bagi tubuhnya,
sangat mendambakan makanan cepat saji itu.
"Ah,
rindunya."
Sekarang setelah
dia bebas, dia ingin makan ramen dan burger yang selama ini hanya bisa dia
impikan di kegelapan sampai perutnya pecah.
Padahal saat
sarapan tadi dia sudah melahap porsi untuk sepuluh orang dengan mudah, tapi
semua itu sudah mulai dicerna di perutnya.
Apa yang dia
makan segera disalurkan ke seluruh tubuh dan diubah menjadi energi. Agar tidak
kalah oleh lingkungan yang kejam, tubuh Ryuto telah berubah menjadi sangat
tangguh, melebihi binatang buas dengan efisiensi energi yang luar biasa.
"Kalau
begitu, ayo kabur."
Dia sudah
memastikan bahwa di depan pintu masuk kamar ada lebih dari sepuluh penjaga yang
ditempatkan oleh Kazumi.
Semua penjaga itu
adalah wanita muda berusia dua puluhan di mata Ryuto. Sihir dan Skill
yang diberikan oleh Bijak Agung Sirius memang tidak bisa digunakan di luar dungeon.
Namun, bagi Ryuto
yang terbiasa bertarung di dungeon yang menuntut kemampuan memanjat
tebing terjal setinggi ratusan meter, turun dari jendela gedung bertingkat
bukanlah perkara sulit, meski tanpa teknik khusus.
Dia keluar ke
balkon. Di bawahnya, kota tampak dipenuhi oleh hiruk-pikuk suasana pagi.
"Gampang."
Sambil
bersenandung kecil, Ryuto mulai menuruni dinding vertikal yang sangat tinggi
itu. Sesekali angin gedung membelai pipinya. Dengan kekuatan lengan yang jauh
melampaui simpanse dan kekuatan cengkeraman ujung jari yang luar biasa, dia
merayap turun ke bagian belakang hotel. Dia menghirup dalam-dalam udara kota
yang kotor itu ke dalam paru-parunya.
"Hmm. Terasa
seperti di kota besar ya."
Rasa asing itu
sangat kuat.
Apakah dia
sengaja mengabaikannya selama ini? Kenyataannya, dia tidak bisa terus
mengabaikannya.
Semua orang yang
berjalan di kota adalah wanita, wanita, dan wanita.
Petugas kurir
dengan logo kucing hitam yang dia kenal, pekerja konstruksi, pengatur lalu
lintas, hingga tukang pipa, semuanya adalah wanita.
Seorang wanita
yang sedang mengoperasikan mesin perata jalan di proyek perbaikan jalan
menatapnya dengan mata terbelalak.
Dari balik kaus
dalam yang ketat, dadanya yang membusung tampak menonjol, membuat Ryuto secara
refleks langsung membuang muka.
Belum lagi,
mbak-mbak pekerja itu memiliki bentuk tubuh yang menawan seperti model majalah
dan wajah cantik khas wanita Jepang. Benar-benar tidak seimbang.
Dulu, dia mungkin
akan bersiul atau melontarkan satu-dua godaan verbal seperti pelajar nakal,
tapi melihat situasi seperti ini, dia malah merasa malu sendiri.
—Uugh, apa ini
cuma perasaanku, tapi kenapa semua orang melihat ke arahku?
Ada keanehan lain
juga. Pokoknya, dia hanya melihat wanita muda.
Apalagi, bahkan
tanpa standar longgar milik Ryuto pun, semuanya terlihat cantik seolah-olah
mereka adalah idola atau model.
—Apa-apaan ini?
Apa selagi aku tidak ada, Bumi sudah dijajah oleh alien cantik?
Intinya, ada
kejanggalan luar biasa seolah-olah seluruh wanita Jepang telah digantikan
dengan orang lain sejak ingatan terakhir Ryuto.
Biasanya, pasti
ada orang yang wajahnya biasa saja atau kurang menarik dalam jumlah tertentu.
Itu bukan kritik, melainkan kewajaran. Kenyataan memang pahit.
Termasuk para
ibu-ibu atau bapak-bapak yang sudah berumur hingga sulit dibedakan jenis
kelaminnya. Dunia itu berisi macam-macam orang; yang menyeramkan, yang keren,
semuanya ada. Tapi, ke mana pun dia memandang, hanya ada wanita cantik. Kepala
Ryuto terasa pusing.
—Rasanya
canggung. Pokoknya, aku harus mengungsi dulu sementara.
Ryuto bergegas
masuk ke dalam gedung judi Pachinko di depan stasiun untuk bersembunyi.
Namun, saat dia
dihujani pandangan serentak dari sekumpulan gadis yang duduk di depan
mesin-mesin judi yang berjajar luas, dia seketika mematung, lalu langsung
berbalik dan melarikan diri.
Ryuto tidak
menyadari bahwa saat itu, para betina di dalam toko yang mencium aroma pejantan
yang kuat langsung berdiri dan berteriak kegirangan secara bersamaan.
"P-pokoknya,
makan ramen dulu saja."
Ryuto menaruh
harapannya pada ramen.
"Pokoknya
sekarang aku ingin makan ramen."
Sup kental
berminyak dengan potongan Chashu yang tebal, ditambah telur dan rumput
laut. Dia akan memasukkan banyak bawang putih juga. Huh, lagipula tidak akan
ada yang peduli. Pandangan lawan jenis? Seumur hidup dia tidak pernah peduli
soal itu. Lagi pula, itu cuma mitos urban, kan?
◆◇◆
Sayama Akari,
seorang staf administrasi di Perusahaan Dekoboko, adalah wanita yang diakui
kecantikannya oleh semua orang.
Wajahnya
proporsional dengan mata yang tajam dan indah. Akari, yang memiliki tinggi
badan semampai dan jelas memiliki darah keturunan Eropa Utara, memiliki dada
besar dan bokong yang sangat menonjol.
Di zaman di mana
kecantikan bukanlah hal langka, dia tetap terlihat sangat istimewa. Rambut
hitamnya yang mencapai pinggang terawat sempurna hingga bisa memantulkan
pemandangan sekitar seperti cermin.
Akari, yang
kesempurnaannya bisa membuat orang mengira dia adalah titisan Aphrodite—sang
dewi cinta dan kecantikan—sedang dalam suasana hati yang buruk sejak pagi.
Alasannya hanya
satu. Tadi malam, dia gagal dalam undian bank sperma yang disubsidi pemerintah,
atau yang sering disebut sebagai "Data Bank Pembuahan."
Dia tidak meminta
banyak. Dia tidak punya keinginan muluk untuk mendapatkan pria yang seumuran.
Usia lima
puluhan, enam puluhan, atau bahkan tujuh puluhan pun tidak masalah baginya. Dia
hanya ingin dipasangkan dengan seorang pria dan dipeluk meski hanya satu malam,
agar dia merasa hidupnya ada artinya.
"Tapi malah
gagal. Haaaah."
Dia sudah
mempertaruhkan seluruh bonus musim panasnya untuk taruhan hidup dan mati ini,
tapi Akari tidak terpilih dalam undian tadi malam.
Apalagi,
jadwal undian berikutnya belum ditentukan. Hal ini membuat Akari terpaksa
menenggak anggur koleksinya dengan perasaan kalut, yang berujung pada mood
yang hancur total pagi ini.
Ditambah
lagi, dia berkali-kali melakukan kesalahan sepele yang tidak biasa di kantor,
membuat Akari merasa seperti mayat hidup saat ini. Jadi, jika dia tidak makan
ramen yang kental dan berminyak untuk makan siang demi memulihkan stamina, dia
tidak punya kepercayaan diri untuk terus hidup.
—Hmph.
Ah, benar juga. Aku akan pesan nasi goreng juga.
Itu
adalah tindakan yang luar biasa nekat. Saat Akari masuk ke kedai dengan suara
tumit sepatu yang mantap, seorang wanita berambut sangat panjang tampak sedang
berpikir keras di depan mesin tiket. Akari merasa sangat kesal, tapi karena
tidak mungkin menendangnya, dia pun menunggu dengan tidak sabar.
—Dasar
amatir. Cepat tentukan
pilihanmu. Aku ingin segera melahap karbohidrat, tahu.
"Hmm, aku
bingung mau pilih yang mana ya."
Akari bergumam
dalam hati, "Oh." Sepertinya orang di depannya ini sedang mengikuti
tren hobi berbusana pria atau crossdressing. Bahkan suaranya pun
dibuat-buat hingga terdengar rendah.
Dari belakang
hampir tidak terlihat, tapi Akari yang sedang kesal membatin jika wajahnya
ternyata tipe imut seperti binatang kecil, dia akan tertawa mengejek.
Bagaimanapun,
seorang wanita yang berpenampilan pria tetap membutuhkan aura liar sampai batas
tertentu.
Namun, karena
Akari pada dasarnya orang baik, dia pun memberikan bantuan karena melihat orang
di depannya terus-menerus kebingungan.
"Anu, di
sini menu yang paling direkomendasikan adalah Tonkotsu daripada menu
hidangan laut."
"Oh, maaf
ya, Mbak. Sangat membantu."
Orang yang
bingung itu berbalik. Seketika, Akari terbelalak dan merasa seperti tidak bisa
bernapas karena terkejut.
—I-ini, serius
cuma berpenampilan pria? Kualitasnya benar-benar seperti teknik special
effect kelas Hollywood, kan?
Alis yang tegas
dengan pancaran mata yang penuh kekuatan. Hanya dengan melihat bekas luka lama
di wajahnya yang memberikan kesan garang, Akari merasakan sensasi aneh yang
berdenyut di bagian pribadinya.
—G-g-gawat.
Sepertinya aku akan membangkitkan hobi yang aneh.
Sambil
menyembunyikan kegugupannya, Akari mencoba bicara.
"A-anu, apa
Anda sedang berpenampilan pria, Mbak? I-itu? Terlihat sangat nyata lho. Yahaha.
Luar biasa ya. Aku
sampai sempat merasa deg-degan tadi. Eh, ah, eh? Suaranya juga hebat ya. Rendah
banget, benar-benar seperti pria asli. Aku belum pernah dengar ada orang yang
menjiwai perannya sampai ke suara. Ah, benar juga! Apa suara asli Mbak memang
rendah—"
"Apa
yang kau bicarakan? Aku tidak sedang berpenampilan seperti siapa-siapa. Tapi,
panas sekali ya. Apa sekarang benar-benar sudah bulan Oktober? Apa musim gugur
memang sepanas ini?"
Sebuah
aroma unik mulai tercium.
Akari
merasa pusing, dia hampir pingsan karena mencium aroma feromon pria yang begitu
menyengat.
Pria!
Tidak salah lagi. Akari terpaku saat melihat jakun yang jelas terlihat ketika
pria itu menarik kemejanya untuk mencari kesegaran udara. Pamannya yang
meninggal di usia lima puluh empat tahun memiliki benda yang sama di
tenggorokannya.
—Persis seperti
yang diajarkan di pelajaran sekolah. Benar, ini adalah pria asli.
"Hei,
kau juga berpikir begitu, kan?"
"Ha,
ha-i..."
Karena terlalu
panik, hanya suara konyol itu yang keluar dari mulut Akari. Pria itu menatapnya
dengan heran seolah sedang memperhatikan sesuatu, namun tiba-tiba dia berbalik
kembali ke arah mesin tiket.
Setelah tahu dia
adalah seorang pria, perbedaannya terlihat sangat jelas dari punggungnya.
Bahunya lebar. Meski di awal Oktober yang udaranya lembap, pria itu hanya
mengenakan satu lapis kemeja putih.
Jika diperhatikan
dengan saksama, otot-otot yang berkembang tampak menonjol di balik kain tipis
itu seolah-olah pakaiannya kekecilan.
Ah, apa ini.
Kenapa dadaku berdebar kencang sekali. Nnghaaa. Sesuatu akan datang. Rasanya,
hanya dengan melihatnya saja aku bisa mencapai puncak. Gawat, ah. Aku sampai.
Sepertinya aku akan sampai. Sesuatu akan datang, datang, datang!
"Hing!"
"?"
Pria itu menoleh
sebentar, lalu berbalik lagi ke mesin tiket. Akari merasakan gairah yang penuh
rasa bersalah, bahkan melebihi saat pertama kali dia mencuri biskuit telur di
toko permen waktu masih kecil.
"Hmm.
Hidangan laut, ya hidangan laut. Rasanya kurang pas. Memang babi lebih mantap daripada ikan. Tonkotsu, ya Tonkotsu. Aku pilih itu saja. Ah,
apa-apaan ini!?"
"Eh?"
"Apa-apaan
ini, mainan? Si
Shogen sialan, dia memberiku uang palsu! Beraninya dia memberiku barang konyol
begini. Kalau aku pakai ini, kasihan orang tokonya, kan. Padahal aku sudah
susah payah mengambilnya diam-diam."
Pria itu
tampak sangat panik melihat uang kertas yang dia simpan begitu saja di sakunya.
Memang,
jika dilihat sekilas, uang kertas yang baru diganti tahun lalu itu menggunakan
angka Arab alih-alih angka kanji, jadi bisa membingungkan, tapi itu pun sudah
lama berlalu.
Sebagai
informasi, Ryuto memang sudah berencana kabur dari hotel sejak awal, jadi dia
mencuri dompet Shogen secara utuh. Sebuah pemikiran yang sangat tidak pantas
bagi seorang Pahlawan; dia pikir tinggal mengembalikannya saja nanti.
Mencuri itu tidak baik.
"A-anu. Itu bukan mainan kok. Uang kertasnya kan memang
baru saja diganti tahun lalu."
"Hah? Bukannya uang sepuluh ribu itu Fukuzawa Yukichi,
dan uang seribu itu Natsume Soseki?"
"Bukan lho.
Fufu, Anda bicara soal zaman kapan sih?"
Sejauh
pengetahuan Akari, uang-uang itu digunakan saat dia masih balita.
Pria itu
sepertinya masih tidak terima, tapi setidaknya dia sudah menentukan apa yang
ingin dia beli, dan mesin tiket terus mengeluarkan tiket pesanan satu demi
satu.
—Wah, wah, wah,
pesanannya banyak sekali ya.
"Hm? Kau
bukannya mau pesan Tonkotsu juga?"
"T-tidak.
Anu, sepertinya aku sedang ingin makan yang segar-segar saja," jawab
Akari.
"Ooh."
—Dia
bicara denganku. Aku bisa mengobrol normal dengan seorang pria! Hebat banget!
Pria itu
segera duduk di kursi konter dan memberikan setumpuk tiket pesanan kepada
pelayan.
"A-anu, apa
benar pesanan sebanyak ini tidak apa-apa?"
"Tentu saja
tidak masalah. Aku agak lapar. Aku sanggup menghabiskannya."
"Eh, ah, eh,
anu, apakah Anda mungkin seorang...?"
"Pokoknya,
cepat bawakan makanannya."
"B-baik,
mengerti!"
—Nafsu makan pria
itu sungguh luar biasa.
Pertama, dia
melahap habis dua porsi besar ramen Tonkotsu dalam sekejap, lalu
menyantap Nasi Goreng Porsi Maksimal (diperkirakan seberat tiga kilogram)
bersamaan dengan lima porsi Gyoza (dua puluh lima buah).
"Oh, beri
aku tulang muda goreng, lalu Nasi Chashu Spesial ini, dan Nasi Babi Daun
Bawang. Lalu berikan aku masing-masing lima porsi untuk menu Tsukemen
dan Mazesoba. Ah, kalau pakai tiket ribet, apa boleh aku bayar tunai
saja dari sini?"
Melihat nafsu
makannya saja sudah terasa memuaskan.
Bukan hanya
Akari, para wanita pekerja yang sedang makan siang di dalam kedai pun mulai
menyadari keanehan ini dan suasana menjadi gaduh. Siapa pun pasti akan
terbelalak jika melihat peserta lomba makan di televisi sedang beraksi tepat di
depan mata.
"Garuru!"
Pria itu
mengerang sambil melahap nasi mangkuk, dan saking semangatnya, dia sampai
mematahkan sumpit kayu yang dia pegang.
"A-anu,
ini."
"Oh, terima
kasih."
Secara alami
Akari memberikan sumpit baru. Seolah itu hal yang wajar, pria itu menerimanya
sambil menunjukkan senyum yang sangat lembut.
—Ya ampun,
apa-apaan ini. Jantungku berdebar-debar sekali...
Kepalanya terasa
pening. Di dalam pikirannya menjadi panas membara. Akari tidak bisa memikirkan
hal lain selain pria di depannya.
Dia merasa ingin
menyerahkan segalanya. Dia yakin jika disentuh dengan lembut di bagian tubuh
mana pun, dia pasti akan mencapai puncak kenikmatan.
Akari sebenarnya
berkepribadian keras. Dia selalu mengutarakan apa yang dia pikirkan, dan lebih
memilih bicara jujur daripada pusing memikirkan hubungan antarmanusia. Dia
punya sisi maskulin yang kuat; jika dibenci karena kejujurannya, dia tidak
keberatan.
Bahkan saat masih
sekolah dulu, dia sudah terbiasa dipuja oleh adik-adik kelasnya (yang tentu
saja semuanya wanita) dan sering dianggap sebagai sosok "pangeran."
Tapi itu terasa
hampa. Pada akhirnya, para wanita itu hanya menjadikan Akari sebagai sosok
pengganti pria, memintanya untuk selalu berada di garis depan, dan melimpahkan
semua keputusan penting kepadanya. Itulah kenyataannya.
Namun, saat
berhadapan dengan orang di depannya ini, dia menyadari ada sisi masokis dalam
dirinya yang ingin tunduk secara alami, dan itu malah terasa seperti sebuah
kebahagiaan.
Dia adalah
wanita. Dia akhirnya merasa yakin bahwa dirinya adalah seorang wanita.
"Daaaah.
Enak sekali. Aku kenyang. Puuh."
Karena efek panas
setelah makan, pria itu berkeringat deras dan secara sembarangan melepas
kemejanya.
Tentu saja,
suasana di dalam kedai langsung dipenuhi dengan teriakan dan suara kegirangan
dari para wanita.
"A-ada
apa?"
Tubuh bagian atas
pria itu sungguh luar biasa. Tubuhnya yang terlatih tanpa lemak sedikit pun
dipenuhi dengan bekas luka lama yang tak terhitung jumlahnya, yang mana hal itu
saja sudah cukup untuk mengintimidasi siapa pun yang melihatnya.
Semua orang di
sana berpikir hal yang sama. Bahwa inilah wujud nyata dari tubuh seorang pria.
Lengan yang
terlihat setelah kemejanya dilepas sangatlah tebal, dengan otot-otot yang
berkembang layaknya kumpulan kabel logam.
Otot dadanya pun
sangat mengagumkan. Sebagai mantan petualang, Akari menyadari bahwa tubuh pria
itu bukan hasil bentukan gym yang tidak alami, melainkan tubuh seorang
pejuang yang telah melewati berbagai pertempuran sengit.
Aroma yang tak
terlukiskan terpancar dari butiran-butiran keringat yang tak terhitung
jumlahnya.
Akari yang berada
tepat di sampingnya langsung menghirup feromon itu, dan tanpa sadar dia merasa
mabuk kepayang hingga secara refleks mencapai puncak.
—Ah, tidak,
bohong. Masa aku mencapai puncak di depan banyak orang seperti ini.
Seluruh tubuhnya
bergetar dan jari-jari kakinya menegang. Tak perlu dikatakan lagi, bagian
pribadinya langsung basah kuyup dalam sekejap.
"Pria!?"
"Bohong!"
"Kenapa ada
pria di kedai ramen pinggiran begini!?"
"Apa
salahnya dengan kedai ramen pinggiran, hah!?"
"Aku tidak
menyangka akan ada hari di mana aku merasa bersyukur sudah sering datang ke
kedai ini."
"Tunggu,
bohong. Pria? Kenapa!? Hing!"
"Tuhan,
terima kasih sudah memberkatiku karena tidak ikut makan siang di kafe mewah
bersama rekan kerjaku."
"Uwoh.
Apa-apaan ini!?"
Tentu saja,
beberapa detik kemudian pria yang dikelilingi oleh para wanita itu langsung
dikerubungi secara brutal. Jika Akari terlambat beberapa detik saja untuk
bertindak, upaya penyelamatan pasti akan sangat sulit.
"Dariyaaaaa!"
Mengandalkan
tubuhnya yang setinggi seratus tujuh puluh enam sentimeter, Akari merunduk dan
memberikan terjangan atau tackle kepada para wanita itu.
Dia menyilangkan
kedua lengannya untuk melakukan dorongan yang tepat.
"Kyaaa!"
"Yaah!"
"Hing!"
Kekuatan
terobosannya memiliki energi yang lebih dari cukup untuk mengusir para wanita
pekerja kantoran biasa dari tempat itu.
Rahasia di balik
kekuatannya adalah, Sayama Akari yang akan genap berusia dua puluh dua tahun di
bulan Oktober ini, merupakan mantan petualang aktif Rank B yang hingga
dua tahun lalu masih giat berburu monster di dalam dungeon.
Akari, seorang Heavy
Warrior yang dulunya aktif sebagai tameng dalam party, sekilas
memang tampak seperti model cantik semampai. Namun, jika bicara soal
pertarungan, dia tidak akan pernah kalah dari orang-orang biasa di permukaan.
"Berdiri!
Kita lari!"
"A-ah,
oke."
Akari menyambar
lengan pria itu dan menariknya berdiri. Dia melemparkan tumpukan uang sepuluh
ribu Yen beserta kartu namanya kepada manajer kedai ramen (seorang pria tampan
berusia 27 tahun) yang hanya bisa melongo.
"Kalau
kurang, tagih ke perusahaan di kartu itu nanti!" teriaknya.
Dari arah
belakang, suara geraman penuh dendam dari para "anjing kelaparan"
menggema, tapi Akari tidak peduli.
Namun, saking
paniknya melarikan diri, Akari tidak sadar untuk beberapa saat. Pria itu
bertelanjang dada. Coba bayangkan. Di pusat kota yang ramai, seorang
pria—makhluk yang selangka burung ibis atau macan dahan—mana mungkin tidak
menarik perhatian.
Saat itu tepat
jam istirahat makan siang. Sosok pria muda berotot yang berlari di tengah
keramaian warga kota adalah pemandangan yang mustahil, seolah-olah mereka
melihat hantu. Orang-orang membeku sejenak seperti melihat ular putih melintas,
lalu seketika jeritan pecah.
"A-ada apa
dengan keributan ini?"
"Lewat
sini!"
Seolah tidak
mengerti situasi, pria itu hanya berdiri bengong melihat para wanita di
sekitarnya yang mulai menggila.
—Duh, apa dia
tidak tahu apa yang akan terjadi kalau diam saja di sini!?
Sebagai mantan
petualang, insting Akari kembali tajam dalam sekejap. Untungnya, saat ini
orang-orang masih sebatas menodongkan ponsel untuk memotret atau berteriak
heboh, tapi entah kapan itu akan berubah menjadi tindakan anarkis. Massa itu
menakutkan.
"He-hei.
Jangan-jangan ini syuting film dewasa?"
"Kalau
begitu, boleh dong aku sentuh sedikit?"
"A-a-aku ingin lihat 'anu'-nya pria asli."
"Benar banget!"
"Boleh tidak
ya kalau aku jilat-jilat?"
"Boleh
bangetlah!"
"Kalau aku
tunggangi sedikit, tidak apa-apa kan?"
"Rodeo! Ayo
rodeo! Aku akan gunakan teknik yang sudah kulatih di mesin rodeo dewasa!"
—Jangan bercanda!
Jika dibiarkan,
hanya masalah waktu sebelum pria polos ini dijadikan tumbal nafsu para binatang
buas itu. Keputusan Akari sangat cepat.
"Mohon maaf,
ini bukan syuting! Ini evakuasi darurat medis! Tolong beri jalan!"
Suara Akari yang
terlatih di dalam dungeon menggema dalam radius ratusan meter. Ini
adalah Vocal Skill khas petualang yang diasah agar instruksi tetap
terdengar jelas di dalam gua yang luas.
"Eh, bukan
syuting?"
"Terus
jilat-jilatnya gimana?"
Wanita-wanita
bodoh yang sudah melepas jaket dan memamerkan dada yang hampir tumpah dari bra
mereka itu tampak bengong.
Tanpa membuang
waktu, Akari menarik tangan pria itu dan melesat pergi.
◆◇◆
Akari meminta
pria itu menunggu di gang sepi yang jarang dilewati orang, lalu dia kembali
setelah membeli sebuah hoodie dari toko pakaian terdekat.
—Ah, dia masih
ada. Syukurlah. Dia masih di sini... pria asli masih ada di hadapanku. Ini
bukan mimpi atau ilusi.
"Anu, tolong
pakai ini. Meski ini baju wanita, tapi karena ukurannya XL dan modelnya
longgar, kurasa akan muat."
"Ah, apa
ini? Kau sengaja membelikannya untukku ya. Makasih. Sangat membantu."
"T-tidak,
bukan apa-apa. Ehehe."
Pria itu
menyeringai, memperlihatkan deretan gigi putihnya yang kuat. Dia mengedipkan
sebelah matanya—mungkin itu kebiasaan—memberikan kesan jujur dan menyegarkan
yang tak terlukiskan. Akari tersenyum bodoh, merasa jantungnya tertembak. Dia
secara alami mulai bertingkah genit.
—Kyuuun. Apa ini,
apa!? Dia imut sekali. Duh, perasaan apa ini. Kepalaku jadi kacau. Berapa ya
umurnya? Masih remaja kan? Dilihat dari mana pun, dia lebih muda dariku... ya
kan?
Kemudian Akari
menyadari situasi mereka saat ini, dan pipinya langsung memerah hebat. Berduaan
dengan seorang pria di gang sepi adalah pemandangan yang sangat sering muncul
di video dewasa yang ditonton Akari tadi malam.
Setelah Virus
Satan merajalela, jumlah pria merosot tajam sementara jumlah aktris meningkat
drastis. Akibatnya,
aktor pria menghilang dan industri film dewasa hampir punah.
Jadi,
bagi wanita sehat yang merindukan pria, gang sepi seperti ini adalah salah satu
"utopia" yang bisa membuat dada berdebar kencang.
—D-di
video yang kulihat kemarin, mungkin karena durasi, si aktris melakukan 'anu' ke
si aktor dengan gerakan yang sangat alami...! P-hap. Jluuurb. B-bodoh! Apa yang
kupikirkan!
"Anu,
itu... apakah ada 'bolon'-nya...?"
"Aku
tidak begitu mengerti maksudmu? Ah, maaf, aku sedang tidak bawa uang. Semuanya
sudah habis di kedai ramen tadi. Tahaha. Oh, benar juga. Entah kenapa, sepertinya kau sudah menolongku. Aku
Sakazaki Ryuto."
"He? A-aaaa,
iya. Ryuto-san ya. N-nama saya
Sayama Akari. Dua puluh dua tahun, masih lajang. Masih perawan! Tentu saja
tidak punya suami, pacar, apalagi anak!"
"O-oh.
Begitu ya? Padahal kau cantik begini tapi tidak punya pacar, dunia ini
benar-benar tidak bisa dimengerti ya!"
—Benar sekali!
Tapi Ryuto-sama sudah menemukanku. Akari tidak sendirian lagi. T-terima kasih
Tuhan. Tuhan ternyata benar-benar ada di langit dan menjaga Akari, namu-namu.
Hari ini Tuhan memberiku bonus karena sudah menjadi anak baik.
"Entahlah,
aku ingin membalas budi dan mengganti uang hoodie-nya, tapi melihat
situasi ini sepertinya kita tidak bisa santai-santai di suatu tempat ya."
"Kenapa!?"
Mungkin karena
wajah Akari terlihat sangat putus asa, dia baru sadar kalau Ryuto tampak agak
risi. Telinganya langsung merah karena malu.
—Bodoh, bodoh,
bodoh! Kenapa aku malah memutus benang harapanku sendiri! Aku benar-benar
tolol. Aku ingin membunuh diriku sendiri yang lima menit lalu tidak menyusun
strategi percakapan dengan matang!
Akari mencubit
pipinya sendiri dengan kuat. Matanya berkaca-kaca. Tidak, aku hanya sedang
menghukum diriku yang bodoh ini, Tuhan. Jangan ambil keberuntunganku, serius
deh.
"Yah, di
jalanan sana pasti heboh sekali. Aku akan kabur lewat jalan lain. Oh, benar
juga. Kontrak—"
"Tolong
tukaran kontak LISO!"
Menganggap ini
adalah kesempatan terakhir, Akari menggenggam kedua tangan Ryuto dengan erat
dan menatap matanya dalam-dalam. Ah, kalau dipikir-pikir, semuanya berjalan
terlalu lancar.
Di dunia dengan
rasio pria dan wanita 1:1000, pertemuan kebetulan antara lawan jenis yang
berujung perkenalan adalah hal yang mustahil.
Jika naskah
seperti ini ditulis dalam komik atau drama zaman sekarang, bukan hanya akan
memicu kecaman di internet, tapi para wanita jomlo mungkin akan membakar kantor
penerbit atau stasiun televisi karena dianggap terlalu mengada-ada.
"Tidak...
boleh ya?"
Ryuto sempat
membelalakkan mata sejenak, lalu dia tersenyum malu-malu.
"Boleh
saja."
Dia menyerahkan
ponselnya kepada Akari.
Akari
menerima ponsel itu dengan tangan gemetar. Itu adalah ponsel model terbaru yang
baru rilis awal bulan ini.
"Tapi
memalukan sekali, aku tidak tahu cara pakai benda ini. Kalau tidak keberatan, bisakah kau ajarkan padaku,
Akari-chan?"
—Tuhan,
Ibu, dan Ayah biologis yang belum pernah kutemui. Baru saja, untuk pertama
kalinya dalam hidup, aku dipanggil 'Akari-chan' oleh seorang pria. Aku tidak
punya penyesalan lagi. Selamat tinggal dunia!
Akari
merasa jiwanya hampir melayang ke surga.
◆◇◆
"Dah!"
Dengan
suara aneh, Shimomura Haruka mendadak terbangun.
—Ini di
mana?
Insting
petualangnya membuat dia secara refleks ingin bangkit, namun seluruh tubuhnya
terasa kaku.
"Ugh."
Suara
yang tidak feminin keluar dari mulutnya. Betisnya kram. Rasa sakit yang hebat
membuatnya menyesal sejenak karena sudah terbangun.
Perlahan,
dia menyadari bahwa dia tidak berada di gua, melainkan di sebuah ruangan di
permukaan. Dia merasa lega.
Di sekitarnya terdengar suara orang dan percakapan.
—Ini, rumah
sakit?
Tenggorokannya
terasa gatal karena sudah lama tidak sadarkan diri. Tubuhnya terasa jauh lebih
ringan. Sepertinya saat diselamatkan dari dungeon, semua perlengkapannya
dilepas dan pakaiannya diganti. Dia mengenakan pakaian rumah sakit yang tipis
dan membosankan. Tiba-tiba, ingatannya kembali dengan jelas.
Ah,
benar. Dia bertemu pangeran di dalam dungeon. Seorang pria muda dan
gagah. Dia memiliki kehadiran yang kuat dan unik, dengan energi yang seolah
bisa meledak jika disentuh.
—Benar, Kerberos.
Aku diselamatkan oleh Ryuto-san, lalu setelah itu...
"Woi!
Haruka, kau sudah sadar!? Bilang-bilang dong!"
"Berisik,
Kyoka. Kau mengganggu orang lain."
Tirai
putih pembatas dibuka, dan dua orang wanita muncul.
"Rion,
Kyoka. Kalian masih hidup ya."
"Heh, kurang
ajar! Tentu saja kami selamat. Kau sendiri, tidak apa-apa?"
"Haruka,
setelah itu kami langsung bertemu party petualang lain dan diselamatkan.
Syukurlah kau tidak luka parah."
Wanita tinggi
dengan logat Kansai itu adalah Kujonji Kyoka. Sedangkan yang berponi rata ala
gadis Jepang adalah Nanami Rion. Keduanya adalah rekan party Haruka
dalam melakukan siaran langsung dungeon.
Kyoka memiliki
tinggi 172 cm, sementara Rion bertubuh mungil dengan tinggi 153 cm. Haruka
menyandarkan tubuhnya di tempat tidur, merasa lega bisa bertemu kembali dengan
rekan-rekannya.
"Iya,
sepertinya aku sedang beruntung."
"Maaf ya,
Haruka. Padahal aku bersamamu. Tapi bisa bertemu lagi dalam keadaan hidup
seperti ini adalah kehendak Tuhan. Syukurlah aku rajin berdoa pada leluhur
setiap pagi."
Kyoka menepukkan
kedua tangannya seolah sedang menyembah Haruka. Rion bergumam dengan tatapan
dingin.
"Jangan
campur adukkan Tuhan dan leluhur."
"Apa-apaan
kau ini, dari tadi cerewet sekali. Aku kan sedang meresapi reuni mengharukan ini. Apa kau tidak senang,
Rion?"
Kyoka
menggosok-gosokkan pipinya ke wajah Haruka.
"Kyoka,
cukup. Geli tahu."
"Kau
tidak senang ya, si muka datar ini. Ayo, tunjukkan ekspresimu secara jujur sepertiku!"
"......"
"Aduhdudu!
Jangan tarik rambutku tanpa suara! Kuncir kudaku yang jadi poin kecantikanku
bisa lepas nanti!"
"Biar
kulepaskan sekalian."
"Anu, kalian
berdua, ini di rumah sakit. Tolong tenang ya?"
"Pintu
keluar lewat sana."
Rion menunjuk ke
arah pintu.
"Aku baru
saja sampai tahu! Ah! Terlepas dari itu, ada masalah besar! Akun kita kena Banned!
Kenapa ya!?"
Mereka bertiga
hidup dengan menyiarkan adegan penjelajahan dungeon dan membagi imbalan
yang didapat. Akun yang dihapus biasanya berarti kiamat bagi karier mereka,
tapi Kyoka tampaknya tidak terlalu ambil pusing.
"Gara-gara
ada 'objek asusila berjalan' yang masuk dalam kamera."
"Heh, Rion.
Kau meremehkanku ya. Perlu kuberi pelajaran? Hah?"
"Kau itu
petualang, tapi bajumu terlalu terbuka, Kyoka."
"Ugh!"
Seperti yang
dikatakan Rion, Kyoka memang suka mengenakan pakaian yang sangat terbuka bahkan
saat keluar rumah. Terutama pakaian yang menonjolkan dada besarnya yang
membanggakan itu. Dia benar-benar bermain di batas tipis agar tidak terlihat
murahan.
"Lagipula,
pemeran utamanya kan Haruka, kita cuma kru."
"Tidak
apa-apa kan! Siapa tahu ada pria yang menonton siaran kita. Di saat itulah,
kalau tubuh seksi milikku ini terlihat sedikit saja, mungkin akan berlanjut ke
kencan, penyatuan, pembuahan, hingga pernikahan, kan!"
Kyoka
menggeliat sambil mendesah dengan suara yang menggoda.
"Tidak
mungkin."
"Khayalanmu
terlalu parah, Kyoka."
"Jahat!
Bukan cuma si kokeishi ini, tapi sahabat sejatiku Haruka pun jahat! Biarkanlah
aku bermimpi sedikit!"
"Kyoka.
Kalau kau mengincar dokter pria di sini, itu mustahil. Semua dokter yang
bekerja di rumah sakit milik Asosiasi Petualang adalah wanita. Sebagian besar
dokter pria hanya ada di lembaga penelitian milik negara, peluang orang biasa
untuk bertemu mereka adalah nol."
"Cih.
Peluang sekecil itu pun tidak berpihak padaku ya."
Kyoka
berdecak kesal sambil bergumam. Haruka tidak berkomentar karena dia mengerti
perasaan yang ingin mencari jodoh dalam situasi seperti ini.
Rion
duduk di kursi samping tempat tidur, meletakkan kantong berisi bingkisan
makanan, lalu menatap Haruka dengan serius.
"Haruka. Aku
juga menonton siarannya meski terputus-putus. Bagaimana kau bisa selamat dari
Minotaur dan Kerberos? Aku benar-benar tidak mengerti. Apa tim penyelamat
Asosiasi sampai tepat waktu?"
"A-anu,
bukan. Bukan begitu. Mungkin ini sulit dipercaya, tapi maukah kalian
mendengarkanku?"
"Iya, cerita
saja."
"Oke, aku
dengarkan."
"Begini,
di dalam dungeon, aku bertemu seorang pangeran."
"......Oke, ayo bubar."
"Kerja bagus hari ini."
Keduanya bergerak cepat menuju pintu keluar sambil
melambaikan tangan.
"Tunggu
duluuuuu! Ini cerita beneran tahu! Aku benar-benar diselamatkan oleh petualang
pria di dalam dungeon!"
"Haruka, kau
cuma kelelahan."
"Haha,
Haruka sudah pintar melucu ya. Lucu sih, tapi kurang nendang. Paling nilainya tiga puluh poin.
Lagipula, mana ada pangeran yang datang menolong di saat genting seperti itu,
naskah drama basi pun sudah tidak pakai cerita begitu. Kalau ada yang menyiarkannya, aku pasti sudah
menelepon stasiun TV untuk protes."
"Tapi
ini sungguhan!"
"Dengar,
Haruka. Bukannya kami ingin
tidak percaya. Tapi 'pangeran'? Kau mengatakannya dengan mata melotot begitu.
Ya kan?"
"Kali ini
aku setuju dengan si muka datar. Oh iya, ini ada barang-barangmu yang
dititipkan dari Asosiasi. Satu, dua, tiga..."
Saat Kyoka
menyerahkan ponselnya, wajah Haruka langsung cerah.
"Ah, benar! Ponsel! Mungkin di ponsel ada foto
Ryuto-san atau semacamnya!"
"Ryuto-san?"
Rion mengerjapkan matanya yang besar mendengar nama yang
asing itu.
"Hah,
Haruka-chin masih kekanak-kanakan ya. Tidak perlu sampai mengarang cerita
'pacar imajiner' karena kesepian tidur sendiri. Membuat pacar imajiner itu
tidak normal lho. Ngomong-ngomong, baru kemarin aku mengandung anak ketiga
belas dari 'suami imajiner' kesayanganku. Traktir aku ya."
"Kau juga
sudah sakit parah."
"H-hmph!
Pokoknya kalau aku periksa pasti segera—eeeeh! Apa-apaan ini!?"
"Ada apa? Wah!"
"Apa
si—buset! Ngeri banget. Apa-apaan
jumlah notifikasi LISO ini. Sudah mentok!"
"He-hei.
Rion, Kyoka. Banyak sekali notifikasi dari orang tidak dikenal!"
"Mungkin
ponselmu kena virus."
"Hmm. Duh.
Semuanya wanita. Lagipula, berani-beraninya mereka mengirim foto diri yang
sangat vulgar begini. Lihat deh. Areola wanita ini besarnya sudah seperti tutup
poci. Aku jadi jijik dan tidak nafsu makan malam nanti. Haruka, sepertinya kau
sedang diincar kawanan lesbian misterius. Turut berduka ya."
Kyoka melambaikan
saputangannya seolah sedang berpamitan.
"Aku
tidak tahu! Orang-orang ini menakutkan!"
"Blokir
saja?"
"Matikan
saja notifikasinya dulu."
"Iya,
seram sekali, aku matikan saja."
Haruka
tidak mengerti. Ini adalah tragedi yang terjadi karena Ryuto menggunakan ponsel
Haruka untuk bertukar LISO dengan tim penyelamat wanita...
"Jadi,
Ryuto-san itu benar ada?"
"I-iya.
Kupikir ada videonya, tapi ternyata sudah hilang."
"Tapi
di internet ada rumor kalau terdengar suara pria di tengah siaran."
"Paling
cuma kabar burung."
"Entahlah."
Haruka
mulai ragu dengan ingatannya sendiri, dia memegang dahi sambil merenung.
"Sudahlah,
Haruka jangan terlalu dipikirkan. Nanti pasti ada hal baik yang terjadi!"
"Haruka,
kalau tidak ada kejanggalan, kau bisa pulang hari ini kan. Soal siaran itu
juga, nanti kita kumpul dan minum-minum di rumah."
"Oh, ide bagus! Sudah lama ya. Aku akan masak untuk kalian."
"I-iya.
Meski ada yang belum bisa kuterima, tapi terima kasih ya, kalian berdua."
"Persahabatan
kita abadi!"
Saat mata Haruka
mulai berkaca-kaca karena semangat dan persahabatan mereka, tiba-tiba ponselnya
bergetar ada panggilan masuk. Dia sempat ragu, tapi Kyoka dan Rion memberi
isyarat agar dia mengangkatnya. Dengan ragu, Haruka menempelkan ponsel ke
telinganya.
"Halo,
dengan Shimomura di sini—"
"Ryuto. Aku
kan sudah bilang untuk diam saja di hotel. Gara-gara kau keluar sembarangan, jadi heboh
begini kan!"
"Jangan
marah-marah sampai urat lehermu keluar begitu dong. Aduh!"
Setibanya
di hotel, Ryuto langsung dipukul kepalanya menggunakan sandal oleh Kazumi
sampai jatuh dari kursi. Ryuto berguling di lantai, kepalanya membentur kulkas,
dan dia malah kentut dengan keras.
Seketika, wajah
Kazumi memerah sampai ke telinga karena marah.
"A-aku
tidak bermaksud melucu, Kak."
"Kau
sedang menghinaku ya!"
Sifat
pemarahnya benar-benar tidak berubah—pikir Ryuto.
"Sudah, sudah."
"Yorimitsu, jangan membelanya. Ryuto kalau sekali dimaafkan bakal makin
melunjak."
Yang menengahi
Ryuto dan Kazumi adalah Satake Yorimitsu, mantan Heavy Warrior dari party
penyelamat yang baru saja tiba di hotel.
Pria yang
dijuluki "Beruang Lembut" ini bertubuh sangat besar.
"Hanya
Yorimitsu yang memihakku ya."
Mendengar ucapan
Ryuto, Yorimitsu hanya tersenyum tipis di balik janggutnya yang lebat.
Raksasa
ramah setinggi 220 cm dan berat 180 kg ini mengenakan setelan jas gelap
berukuran khusus, berdiri tegak seperti dinding di antara mereka berdua.
"Hei,
Kazumi-san. Jangan terlalu galak pada adikmu, nanti hantu Ayah dan Ibu bisa
muncul lho."
Ryuto
memprovokasi Kazumi sambil bersembunyi di balik tubuh besar Yorimitsu.
"Kau ini!
Mau kupukul sekali lagi baru sadar, ya?"
"Tolak
kekerasan!"
"Grrr!"
"Hii!
Aku diserang binatang buas!"
Kazumi
menyambar sandalnya, bergerak cepat memutar, lalu memukul kepala Ryuto. Shogen
tertawa lebar sambil memegang dagunya.
"Hahaha."
"Jangan
tertawa!"
"E-eeh?
Ma-maaf."
Kazumi
membentak Shogen yang tertawa di sampingnya. Shogen yang sama sekali tidak
berkutik di depan istrinya itu langsung terlihat ketakutan dan mencoba
menenangkan.
"Dahaha!"
Ryuto tertawa
lepas melihat interaksi mereka berdua.
"Apa yang
lucu?"
"Enggak,
cuma merasa suasana seperti ini tidak berubah dari dulu."
"Ryuto."
Kazumi menatap
Ryuto dengan tatapan yang seolah ingin menangis. Shogen dan Yorimitsu pun
tampak mengenang masa lalu dengan tatapan jauh.
"Yah, meski
Kakak dan yang lain sudah jadi tua sekali, sih!"
"Oke, aku
pukul sekali lagi ya."
"Jangan
bilang gitu setelah memukul!"
"Ya ampun,
menurutmu gara-gara siapa obrolan kita jadi melantur? Makan malam kita jadi
telat kan!"
"Ini semua
salahmu, tahu!"
"Berani
sekali kau memanggil kakakmu dengan sebutan 'kau'!"
"A-aduh!
Jangan tarik pipikuuu!"
Di ruang VIP
hotel tersebut, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, keempat anggota party
penyelamat duduk bersama dan menikmati hidangan.
Kecuali Ryuto,
ketiga orang lainnya kini adalah politisi penting yang memegang peran krusial
di partai penguasa.
—Mereka semua
jadi politisi ya...
Ryuto mengerti
bahwa meski mereka sangat sibuk, mereka sengaja meluangkan waktu berharga demi
dirinya.
Untuk hal itu—
Dia hanya bisa
merasa bersyukur.
Laporan mengenai
keadaan saat ini disampaikan secara singkat untuk mengisi kekosongan selama dua
puluh tahun terakhir. Dengan mendengar sejarah mereka masing-masing, Ryuto
merasa lega karena kebaikan teman-temannya tidak pernah berubah.
"Begitu ya,
kalian semua sekarang sudah jadi politisi."
"Ryuto."
Kazumi menatap
adiknya dengan tatapan melankolis, memikirkan perasaan adiknya itu.
"Padahal
sama sekali tidak cocok lho! Uhaha!"
"Kau
ini..."
"Apa kalian
bagi-bagi kupon makan hasil korupsi?"
"......Mau
coba mati sekali lagi?"
"Tenanglah,
Kazumi. Dia sengaja menggodamu."
"Ngomong-ngomong,
Kak. Apa Haruka, anak yang kuselamatkan itu, baik-baik saja? Dia masih dirawat
di rumah sakit, kan?"
"Oh, kalau
anak itu—"
Tsukikage Yurina,
sekretaris Kazumi yang sedari tadi berdiri diam di depan pintu ruang VIP,
mendekat tanpa suara. Yurina membisikkan sesuatu ke telinga Kazumi, lalu
kembali ke posisinya semula.
Saat itu, mata
Yurina dan Ryuto sempat bertemu, dan sang sekretaris memberikan kerlingan mata
tipis. Kazumi sempat menunjukkan ekspresi sedikit terkejut melihat tingkah
sekretarisnya, namun dia tidak mengomentarinya lebih jauh.
"Ya. Suruh
dia masuk."
Yurina membuka
pintu perlahan. Di sana, Shimomura Haruka—yang seharusnya sudah berpisah di dungeon—berdiri
dengan wajah penuh kejutan.
"Kazumi-san? Ah, Paman Shogen, dan Paman Yorimitsu.
Ah—! Ryuto-san! Kenapa Anda bisa ada di sini—?"
Haruka mengenakan setelan jas warna navy, namun aura
canggung karena tidak terbiasa memakai pakaian formal terpancar jelas darinya.
Penampilannya benar-benar terlihat seperti mahasiswa yang
sedang mencari kerja.
Haruka melangkah cepat menghampiri Ryuto, menggenggam kedua
tangannya dengan pipi yang memerah.
"Tidak
menyangka bisa bertemu di tempat seperti ini—! Ah, Ryuto-san tidak terluka,
kan? Aku baru saja keluar dari rumah sakit, lho! Tapi, tapi... lihat, aku
baik-baik saja. Sehat walafiat!"
"Haruka—Haruka-chan?
Maaf memotong kegembiraanmu, tapi bisakah biarkan Tante menjelaskan situasinya
dulu?"
"Eh,
e-eeeeh. Ah, maaf, maafkan aku! Aku malah tidak tahu tempat begini, maafkan
aku."
"Ha,
haha. Yorimitsu, kita hampir tidak pernah melihat Haruka-chan seantusias ini,
ya."
Mendengar
kata-kata Shogen, Yorimitsu mengangguk pelan dengan tatapan lembut di matanya
yang bulat seperti kacang.
"Kak, ini
sebenarnya ada apa, sih?"
"Hmm.
Singkatnya, aku dan Shogen adalah orang tua asuh Haruka. Dia kami besarkan di
rumah sampai akhirnya masuk ke Sekolah Petualang Nasional. Bisa dibilang dia
sudah seperti putri kami sendiri. Jadi kalau menurutmu hubungannya adalah...
ya, anggap saja dia seperti adik perempuanmu."
"Ryuto-san...
jadi kakakku?"
Haruka menatap
Ryuto dengan mata berbinar-binar.
"Mulai
sekarang, bolehkah aku memanggilmu Kakak Ryuto?"
"Enggak, aku
menolak."
"Kenapa!"
"Singkat
saja, itu bukan gayaku."
"Su..."
"Su?"
"Sempurna!
Ryuto-san yang bisa menolak dengan tegas juga sangat sempurna!"
Mata Haruka
tampak membentuk simbol hati, dan dia terlihat seperti akan memeluk Ryuto kapan
saja.
"Yah, terima
kasih kalau begitu."
"Anu...
bolehkah aku minta waktu sebentar saja untuk bicara? Begitu."
Setelah mendengar
penjelasan Kazumi tentang latar belakang Ryuto, Haruka mencerna semuanya, lalu
meminum teh yang sudah disediakan hingga habis.
"Begitulah
ceritanya. Ryuto baru saja diselamatkan setelah tersesat di dalam dungeon
selama dua puluh tahun."
"Tapi tetap
saja, ini sulit dipercaya. Si Ryuto ini benar-benar tidak berubah sedikit pun
sejak dua puluh tahun lalu."
Shogen
bergumam sambil menggoyang-goyangkan gelas berisi scotch.
"Soal itu,
ada penjelasan sementaranya. Ini baru diketahui belakangan, tapi ternyata waktu
terhenti di dalam dungeon."
"Hah?"
"Itu baru
pertama kali kudengar."
Yorimitsu
juga mengangguk-angguk dengan mata membulat heran.
"Berdasarkan
hasil penelitian terbaru, ada pasien kanker stadium akhir yang sisa umurnya
tinggal beberapa bulan lagi, tapi kankernya tidak berkembang sama sekali selama
lebih dari setahun saat dia berada di dalam dungeon. Begitu dia keluar
atas keinginannya sendiri setelah menyelesaikan urusannya, kankernya langsung
memburuk dan dia meninggal tak lama kemudian. Mempertimbangkan hal itu dan
beberapa hasil eksperimen lainnya, waktu di dalam dungeon—setelah
kedalaman tertentu—mengalir berbeda dengan di permukaan."
"Sepertinya
itu benar."
"Hampir
mustahil bagi orang biasa untuk tinggal di lantai yang dalam. Masalah sandang,
pangan, dan papan adalah satu hal, tapi tidak ada petualang—bahkan yang kelas
atas sekalipun—yang bisa bertahan lama di sarang monster kuat yang bisa muncul
kapan saja. Dalam hal ini, Ryuto adalah pengecualian. Fakta bahwa dia
membuktikan teori para peneliti labirin dengan tubuhnya sendiri benar-benar
patut dikagumi."
"Ehehe."
"Dan
fakta bahwa kau benar-benar mengalahkan Raja Iblis... Ryuto, sebagai kakak, aku
bangga padamu."
"Apaan
sih, jangan memujiku berlebihan begitu. Jadi geli, tahu."
Ryuto
merasa malu dipuji oleh kakaknya yang biasanya jarang memuji orang, lalu
mengusap bawah hidungnya dengan telunjuk seperti anak kecil.
"Su..."
"Su?"
Ryuto bertanya balik secara refleks.
"Sungguh
luar biasa! Ryuto-san adalah Pahlawan yang mengalahkan Raja Iblis itu! Orang
sehebat itu ternyata adik dari Kazumi-san, dan bahkan menyelamatkanku saat aku
dalam bahaya...! Apa ini bukan lagi kebetulan, melainkan takdir?"
Dengan
mata yang seolah memancarkan hujan meteor, Haruka menangkupkan kedua tangannya
di depan wajah, mengirimkan tatapan yang jauh lebih membara ke arah Ryuto.
"O-oi.
Apa anak ini memang punya karakter sekuat ini?"
"Yah,
aku tahu dia memang tipe yang punya imajinasi liar. Pokoknya, berusahalah untuk
tidak menghancurkan imej Haruka tentangmu."
"Bisa
enggak, ya."
"Dengar,
Haruka. Bahwa Ryuto mengalahkan Raja Iblis dua puluh tahun lalu adalah fakta,
dan dia memang seorang Pahlawan dalam arti yang sebenarnya. Tapi untuk
sementara, aku berniat merahasiakan hal ini."
"Kenapa?
Kita harus segera memberitahu dunia tentang jasa Ryuto-san dan menyebarkan
kehebatannya ke seluruh dunia—"
"Hmm.
Konferensi pers akan dilakukan secara resmi nanti. Tapi, setidaknya untuk waktu
yang singkat ini, aku ingin membiarkan Ryuto menikmati waktu yang tenang dan
damai."
"Kak..."
"Hampir
semua orang, termasuk aku, sudah mulai melupakan kejadian dua puluh tahun lalu
dan menikmati kedamaian dunia. Tapi Ryuto, yang terus bertarung di dalam dungeon,
tidak pernah merasakan masa muda untuk menikmati hal semacam itu. Siaran
langsung saat kau diselamatkan memang sudah dihapus dengan kekuatan pemerintah,
tapi berita kepulangan Ryuto dari dungeon pasti akan segera tersebar.
Karena sudah banyak orang yang melihat sosoknya, tidak peduli seberapa ketat
perintah tutup mulut dijalankan, rahasia tidak akan bisa disimpan selamanya.
Cepat atau lambat akan ketahuan. Sebelum itu terjadi, aku ingin membebaskan
Ryuto selama sebulan, atau setidaknya satu minggu saja. Kau mau membantu,
kan?"
"Iya,
tentu saja! Aku juga ingin membantu Ryuto-san mendapatkan kembali masa mudanya
yang hilang!"
"Hei, aku
ini masih di puncak masa muda, lho..."
"Diamlah,
kau itu sudah tiga puluh delapan tahun, sama denganku."
"Berisik
banget, Shogen!"
"Heh.
Dengar, Haruka-chan. Ryuto ini om-om seusiaku, lho. Dia dua puluh tahun lebih tua darimu. Aku tidak
bermaksud buruk, tapi lebih baik jangan terlalu dekat dengannya."
"Jangan
bicara yang aneh-aneh!"
"Kenapa? Aku
tidak peduli soal perbedaan usia. Lagipula, Ryuto-san terasa seperti pria
dewasa yang sangat mengayomi."
"Wah, sudah
tidak tertolong lagi."
Shogen menutupi
wajahnya dengan telapak tangan sambil menjulurkan lidah. Dilihat dari sudut
mana pun, Haruka jelas-jelas sedang jatuh cinta pada Ryuto. Namun, Ryuto yang
merupakan perjaka dan sangat tidak peka sepertinya belum menyadari perasaan
Haruka yang menggebu-gebu itu.
"Aku akan
membantu, Ryuto-san. Untuk itu, aku akan melakukan apa saja!"
"Hah?"
"Dengar ya,
Haruka. Tolong jangan lupakan kalau aku adalah kakaknya."
◆◇◆
Shogen dan
Yorimitsu yang masih memiliki tugas pemerintah segera meninggalkan hotel dengan
mobil mewah berwarna hitam.
"Dalam waktu
dekat, pasti. Pasti ya!"
"O-oh. Aku
pasti akan mampir nanti."
Ryuto
dipaksa bertukar kontak LISO dan nomor telepon dengan Haruka. Kazumi menatap interaksi mereka dengan
ekspresi yang sulit dijelaskan, namun tidak mengatakan apa pun.
"Apaan sih,
Kak. Kalau ada yang
mau diomongkan, bilang saja."
"Entahlah.
Rasanya sedikit rumit melihat adik kandungku dan putri yang kubesarkan sendiri
mulai menjalin hubungan."
"B-b-bodoh
ya? Aku kan cuma tukaran kontak dengan Haruka-chan!"
"Meskipun
adikku sendiri, tapi reaksimu benar-benar seperti anak SMP. Kalau begini terus,
kau benar-benar akan tetap perjaka sampai mati."
"A-a-aku
bukan perjaka, tahu!"
Ryuto menuangkan
air dari teko di sofa ke dalam gelas, lalu meminumnya sekali teguk.
"Jadi, Kak.
Kau menyuruh yang lain pulang dan sengaja tetap di sini, pasti ada hal lain
yang ingin kau bicarakan denganku, kan?"
"Iya.
Sebenarnya ada orang yang ingin kuperkenalkan pada Ryuto. Masuklah."
Mendengar
kata-kata Kazumi, Yurina sang sekretaris membuka pintu dan mempersilakan
seorang wanita masuk. Ryuto ternganga dan tanpa sadar langsung berdiri.
Betapa tidak,
kecantikan wanita itu memancarkan keanggunan dan daya tarik yang jauh lebih
luar biasa dibandingkan wanita mana pun yang pernah Ryuto temui selama ini.
"Dia adalah
Tsukimi Sayaka. Mulai hari ini, dia akan menjadi pengawal pribadimu."
"Baru saja diperkenalkan oleh Anggota Dewan Genma, saya Tsukimi dari Divisi Intelijen Khusus Pasukan Pertahanan Nasional. Mulai hari ini, saya akan mendampingi Ryuto-sama dan bertekad melindungi keselamatan Anda sebagai pengawal pria khusus dengan segenap jiwa dan raga saya."
"Namaku
Sakazaki Ryuto! Umurku katanya sekitar tiga puluh delapan tahun. Hobiku
membantai monster di dungeon. Jenis anjing Shiba kesukaanku adalah yang
bulunya empuk!
...Yah, kira-kira
begitu. Mohon bantuannya."
Kazumi
memalingkan wajah sambil menahan tawa. Yurina pun tampak tersenyum kecut.
"Saya masih
kurang berpengalaman, namun mohon bimbingannya."
Mungkin itu hanya
perasaan Ryuto saja, tapi ketakutan di mata yang mengintip dari balik topi
seragam itu tampak sedikit mereda. Sebagai orang Jepang, Ryuto tidak punya
kebiasaan berjabat tangan, namun dia tidak melewatkan gerakan kecil dari tangan
kanan Sayaka yang berkedut.
—Hmm, karena dia
blasteran, apa ini soal adat budayanya?
"Pokoknya
mohon bantuannya ya, eh, Tsukimi-san."
Begitu Ryuto
mengulurkan tangan kanannya, kali ini terlihat reaksi yang jelas pada ekspresi
Sayaka. Dia tampak terkejut. Ryuto sempat berpikir, apa aku terlalu menjijikkan
sampai dia menolak bersalaman?
Namun sebelum
pikiran itu selesai, Sayaka langsung menyelimuti tangan kanan Ryuto dengan
kedua tangannya.
"Ehehe,
salaman, salaman. Tanganmu lembut, ya."
"Ryuto, kau
menjijikkan."
Ucap Kazumi yang
sedari tadi bersedekap dengan nada jengah.
"Uuuh."
"Tidak,
bukan begitu..."
"Lihat!
Dia bilang aku tidak menjijikkan! Tidak apa-apa, ini kan tanda kalau kami sudah akrab. Ngomong-ngomong, Kak.
Apa maksudnya Pengawal Pria Khusus?"
"Ah,
sepertinya aku harus menjelaskan dari bagian itu, ya..."
Kazumi meletakkan jari telunjuk di bibirnya yang berbentuk indah, lalu mulai berbicara perlahan.



Post a Comment