NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Munou to Iware Tsuzuketa Madoushi, Jitsu wa Sekai Saikyou Nanoni Yuuhei Sareteita node Jikaku Nashi V4 Chapter 2

 Penerjemah: Nels

Proffreader: Nels


Chapter 2

White Wolf Fenrir

Menara Babel——tempat yang didambakan para penyihir yang menjulang di pusat Kota Sihir.


Hanya guild yang disebut "Numbers" yang bisa membuka toko di lantainya, dan hanya mereka juga yang diberi hak tempat tinggal.


Artinya, hanya mereka yang berada di dekat puncak Kota Sihir yang diizinkan tinggal di Menara Babel.


Di lantai satu terdapat resepsionis Asosiasi Sihir, yang menerbitkan permintaan penaklukan monster dan sebagainya.


"Ramai seperti biasanya, ya."


Wajah orang-orang yang berlalu-lalang sangat beragam.


Ada yang berwajah muram entah karena gagal dalam permintaan, ada pula penyihir yang berlumuran lumpur entah karena berhasil lolos dari situasi sulit. Selain itu, mungkin karena ada berbagai penyewa tempat usaha, banyak juga keluarga yang berkunjung. Karena itu, jika seseorang yang baru pertama kali mengunjungi Menara Babel melihat pemandangan ini, kondisinya tampak kacau balau, dan tak diragukan lagi mereka akan pusing karena banyaknya informasi yang diterima.


"Selain itu, karena demi-human dari Kota Naga juga datang bermain ke sini, tempat ini ramai selama 24 jam meski orangnya berkurang saat malam. Justru, mungkin saat malam pun orangnya lebih banyak daripada di Distrik Hiburan."


"Hee..."


Mendengar penjelasan Karen, Ars kembali mengamati keadaan sekitar.


Lantai satu berbentuk seperti aula besar, dan berkat langit-langitnya yang tinggi terbuka, tidak terasa sesak meski dipenuhi banyak orang.


Jika melihat ke sisi timur yang paling padat, terdapat resepsionis Asosiasi Sihir yang dipenuhi berbagai ras, dan pakaian mereka semua memberikan kesan kasar.


Sisi utara adalah tempat di mana paling banyak orang berlalu-lalang. Itu karena di sana terdapat Gerbang Teleportasi yang terhubung ke Kota Naga. Di sisi barat terdapat berbagai toko, dan terlihat banyak keluarga di sana.


"Kalau begitu, kita berpisah di sini ya."


"Saya rasa tidak akan terjadi apa-apa, tetapi jika muncul masalah, silakan andalkan Shion-san."


"Karen dan Elsa juga, terima kasih sudah mengantar sampai sini. Sampai jumpa lagi di <Villeut Sisters Lampfire>."


Ia hendak mengantar kepergian mereka dengan pandangan, tetapi punggung mereka segera menghilang di tengah kerumunan.


"Mereka sudah pergi ya... buru-buru sekali."


Karena disapa dari belakang, Ars menoleh dan mendapati Shion berdiri memegang sate yang entah kapan dibelinya.


"Nih, mau makan?"


"Tidak... aku tidak usah. Ngomong-ngomong, kapan kau membelinya?"


"Saat Karen sedang mengoceh tadi. Baunya enak jadi kubeli."


Padahal dia sudah makan enam porsi saat sarapan, tapi entah lari ke mana semua makanan itu di tubuh rampingnya, apalagi karena dia sangat suka sate, dia pasti membelinya saat sedang jalan-jalan.


"Yah, sinilah. Aku antar ke resepsionis."


Meski hanya sekali, dia pernah ke sini sebelumnya, jadi dia tahu di mana letak resepsionis, tapi sebelum sempat mengatakannya, Shion sudah berjalan duluan sambil melahap satenya.


Ars berlari kecil menyusulnya lalu berjalan di sampingnya.


"Oi oi, aku juga tahu di mana tempat resepsionisnya, tahu?"


"Mungkin saja, tapi kalau diserahkan pada Ars, kau pasti tidak akan langsung pergi ke resepsionis kan. Karena tidak tahu ada godaan apa, makanya aku yang antar. Aku juga sudah diserahi tugas oleh Yulia dan yang lain."


Tentu saja tidak begitu——ia hendak menyangkalnya, tapi karena memang ada kemungkinan dia akan mampir-mampir dulu, dia tidak bisa membantah.


Tapi, dia tidak ingin dikatakan begitu oleh Shion yang baru saja membeli sate.


Meski merasa tidak terima, Ars tetap berjalan dengan tenang di samping Shion.


Diantar oleh Shion, Ars sampai di resepsionis, namun kelima loket yang ada semuanya memiliki antrean panjang. Para petualang di barisan depan menyeringai lebar dengan wajah tidak karuan di hadapan senyum para resepsionis yang cantik jelita.


Saat Shion selesai menghabiskan semua satenya, giliran Ars dan Shion pun tiba.


『Ara, selamat datang. Ada perlu apa hari ini?』


"Aku ingin meminta pembaruan Peringkat untuk anak ini."


Sebelum Ars sempat membuka mulut, Shion sudah menjawab.


『Baik. Bisakah tolong letakkan aksesori yang diberikan oleh Asosiasi Sihir di sini?』


Ars mengikuti instruksi, melepas cincin dari jari manis kirinya dan menyerahkannya kepada kakak resepsionis.


『Saya terima ya.』


Resepsionis yang menundukkan kepala itu menerima cincin, lalu mengeluarkan sebuah alat berbentuk bulat.


Itu adalah alat penilai, dengan meletakkan permata yang terpasang pada cincin ke alat itu, poin pengalaman yang telah terkumpul selama ini akan dihitung, dan Peringkat pun akan ditentukan.


Namun, saat permata yang dilepas dari cincin dipasang pada alat bulat itu, tidak ada reaksi apa pun.


Mungkin karena baru pertama kali mengalaminya, kakak resepsionis itu pun memiringkan kepala dan senyumnya menghilang.


『Ara...? Hah... mohon tunggu sebentar.』


Tampak panik, resepsionis itu mulai mengintip ke dalam alat, bahkan mengetuk-ngetuknya.


"Ada masalah?"


Meski ditanya, resepsionis itu hanya bergumam dan tidak memberikan reaksi.


『Sebentar, Valen, bisa ke sini?』


Kakak resepsionis itu memanggil resepsionis bernama Valen yang sedang melayani petualang di sebelahnya.


『Ada apa, Riolan?』


『Etto, bisa tolong lihat alat penilai ini? Sepertinya rusak deh.』


Para kakak resepsionis itu berbisik-bisik dengan ekspresi yang tampak serius.


"Oi, sebenarnya ada apa tiba-tiba begini?"


Saat Shion bertanya sambil mengetuk meja resepsionis, para kakak resepsionis itu mendekat dengan senyum kaku di wajah mereka.


『Ada sedikit hal yang ingin kami konfirmasi... Ars-san, Anda mendaftar sebagai penyihir di Asosiasi Sihir satu bulan yang lalu, benar begitu?』


Sementara resepsionis bernama Riolan melayani Ars, di belakangnya resepsionis lain berduyun-duyun berkumpul mengelilingi mesin sambil memiringkan kepala. Gara-gara itu, para penyihir dan petualang di sekitar pun mulai memperhatikan mereka.


"Aa, kira-kira segitu. Tapi, memangnya ada apa?"


『Itu... setelah kami menilai permata yang telah menyimpan poin pengalaman, hasilnya menunjukkan Peringkat Keempat.』


Resepsionis Riolan mengatakannya dengan suara gemetar, namun Ars dan Shion saling pandang lalu memiringkan kepala.


"Maaf. Aku tidak mengerti maksudmu, apakah ada masalah dengan itu?"


Ars menatap Shion seolah meminta bantuan, tapi wanita itu juga menggelengkan kepala, tampaknya tidak mengerti.


"Aku juga tidak begitu paham situasinya. Nona Riolan, kan... maaf, tapi bisakah kau jelaskan apa masalahnya?"


"Ma, maafkan kelancangan saya."


Resepsionis Valen mendekat dan berbisik pada resepsionis Riolan yang sedang menundukkan kepala.


"Ba, barusan konfirmasinya sudah keluar. Ars-san diperbarui dari Peringkat Kedua Belas menjadi Peringkat Keempat Ophanim Rank. Seiring dengan kenaikan peringkat, permatanya juga berubah menjadi Chrysoberyl."


Cincin yang diserahkan itu dikembalikan bersama penjelasannya dengan permata Chrysoberyl yang sudah terpasang.


Saat Ars memasangnya di jari manis kiri, ia menyadari suasana di sekitarnya yang seolah menahan napas.


"Begitu ya... terima kasih?"


Ia tidak begitu paham alasan kenapa sekelilingnya menjadi sunyi senyap.


Juga tatapan penuh rasa ingin tahu yang diarahkan oleh para resepsionis lain yang berkumpul di sekitar resepsionis Riolan.


"Aah~, begitu ya... Nona Riolan, jangan-jangan ini rekor baru?"


Saat Shion bertanya seolah menyadari sesuatu, resepsionis Riolan mengangguk berkali-kali dengan semangat.


"I, iya. Naik pangkat sampai Peringkat Keempat dalam sekali pembaruan, dan mencapainya hanya dalam satu bulan, ini adalah hal yang pertama kali terjadi..."


Mendengar penjelasan resepsionis Riolan, ia paham alasan kenapa orang-orang di sekitar merasa bingung. Seharusnya suaranya tidak terlalu keras, tapi karena telinga mereka tajam, para penyihir di sekitarnya serentak terkejut.


"Satu bulan ya... Child Prodigy——bukan, rekor Demon Lord Grimm berapa lama?"


"Seingatku tiga bulan. Rekor tertinggi dalam sekali pembaruan itu Peringkat Keenam kalau tidak salah. Seingatku Prodigy yang memegangnya, tapi sepertinya sudah disalip ya."


"...Bukankah yang ada di sebelah bocah itu adalah si Prodigy?"


"Tidak mungkin, kudengar dia hilang sejak guild-nya hancur."


Keheningan pecah saat seseorang bergumam, dan perlahan sekeliling menjadi ribut.


"Fumu, Ars, karena sudah mulai ribut, sebaiknya kita segera pergi."


Shion memelototi para penyihir yang mendekati Ars seolah mengintimidasi mereka.


"Ada apa?"


Ars memiringkan kepala melihat Shion yang tiba-tiba mulai memancarkan tatapan tajam ke sekeliling.


Namun, tanpa menjawab pertanyaan Ars, Shion mencengkeram lengan pemuda itu dan menjauh sambil membelah kerumunan.


"Ah, kami tunggu kedatangannya kembali!"


Suara resepsionis Riolan menepuk punggung mereka, tapi segera lenyap tertelan hiruk-pikuk.


"Shion, sebenarnya ada apa?"


"Hmm, kalau sudah sampai sini sepertinya aman."


Shion memastikan keadaan sekitar lalu akhirnya melepaskan lengannya.


"Kalau diributkan seperti itu, gerombolan yang mau merekrut akan bermunculan. Kita harus kabur sebelum itu terjadi."


"Merekrutku? Tidak mungkin, statusku kan cuma penumpang lho."


"Hah? Kurasa penumpang atau bukan tidak ada hubungannya... Ars sudah mencapai Peringkat Keempat dalam waktu tersingkat lho. Jangan-jangan kau tidak sadar?"


Shion menatap Ars yang penilaian dirinya masih rendah seperti biasa dengan mata menyipit.


"Tidak, habisnya aku tidak mengerti apa hebatnya. Lagipula Karen juga Peringkat Keempat, kan."


Dilihat dari ekspresi Ars, sepertinya dia mengatakannya dengan sungguh-sungguh.


Shion hanya bisa menghela napas melihat Ars yang tidak sadar seperti biasa.


Untuk mencapai Peringkat Keempat hanya dalam sekali pembaruan, seseorang harus memburu monster dalam jumlah yang luar biasa. Bahkan Karen yang tergolong jenius pun butuh waktu tiga tahun untuk mencapai Peringkat Keempat. Mengingat kau mencapainya hanya dengan berburu selama satu bulan, keanehan Ars jadi sangat jelas.


"Kalau dipikir-pikir, hari-hari neraka itu memang tidak waras ya..."


Shion menatap jauh sambil mengingat kembali. Hari-hari saat dia terus berburu monster bersama Ars.


Sudah tak terhitung berapa kali dia nyaris mati.


Ars punya penilaian yang luar biasa tinggi terhadap orang lain. Gara-gara itu, Shion terseret ritme Ars yang tidak sadar akan kemampuannya sendiri dan mengalami hal-hal mengerikan. Melihat hal itu membuahkan hasil seperti ini, dan mengingat betapa nekatnya tindakan mereka, isi hati Shion terasa rumit, entah harus senang atau marah.


"...Untuk sekarang mari kita bersyukur saja dengan kenaikan pangkat Ars dengan jujur. Lagipula pengetahuan soal peringkat, dan rekan seangkatan yang jadi perbandingannya adalah Yulia. Wajar saja kalau Ars tidak merasa itu hal wah."


Yulia sudah naik ke Peringkat Kelima.


Karena selama ini dia selalu menemani Ars berburu, itu hal yang wajar. Namun alasan kenapa peringkat mereka berbeda adalah karena Ars sering berburu solo——karena dia bertualang di "Lost Land" tanpa diketahui, mungkin itulah penyebab perbedaan tersebut muncul.


"Daripada itu, mumpung sudah sampai Menara Babel. Sekalian mau bikin guild?"


"Aa... yang dibilang Grimm ya?"


"Benar. Muncul tiba-tiba dari pagi, dasar Demon Lord yang selalu bikin ribut."


Kunjungan Demon Lord Grimm pagi-pagi sekali juga mengejutkan Shion.


Dia sama sekali tidak menyangka akan mendapatkan permintaan maaf, meski begitu dia belum berniat memaafkannya.


Di luar pengetahuan Grimm, iblis buatan diciptakan untuk membuat Grimm menjadi kuat. Akibat kegagalan eksperimen yang berturut-turut, banyak anggota guild menjadi korban, dan segelintir yang berhasil telah dimusnahkan oleh tangan Grimm sebagai iblis. Sebagai salah satu dari mereka, Shion juga nyaris dibunuh layaknya ternak sebagai tumbal bagi pertumbuhan Grimm.


Yang menjadi dalangnya adalah Christof, dan Grimm memusnahkan mereka yang telah diubah menjadi iblis buatan karena terus ditipu. Meski begitu seharusnya ada rasa janggal, dan ada banyak poin yang semestinya disadari, namun hasil dari pembiaran itu adalah jumlah korban yang sangat banyak.


Itulah sebabnya Shion menerima permintaan maaf, tetapi tidak memaafkan Grimm.


"Guild ya... apa memang perlu?"


"Aku juga tidak tahu cara menjadi Magic Emperor. Biasanya orang mengincar jadi Demon Lord. Tapi seperti kata Grimm, sudah pasti kau harus lebih kuat dari semua Demon Lord, dan untuk menantang mereka, guild pasti diperlukan."


Untuk mengincar posisi Magic Emperor, sudah pasti perlu mengalahkan semua Demon Lord.


Namun, yang bisa menantang Demon Lord hanyalah penyihir Peringkat Kedua, dan mereka yang memimpin guild.


"Apa ada prosedur merepotkan atau semacamnya?"


"Tidak, ada sedikit pemeriksaan tapi tidak perlu dipikirkan. Pengajuannya mudah. Cuma tulis nama orang yang bakal jadi Lehrer guild di dokumen lalu serahkan ke resepsionis."


Di Kota Sihir terdapat banyak guild yang diragukan apakah benar-benar aktif atau tidak.


Ada guild yang hanya beranggotakan satu orang, dan banyak juga yang hanya membuatnya lalu membiarkannya begitu saja.


"Bagaimana?"


"Kalau pengajuannya mudah, nanti saja deh. Aku mau pikirkan setelah diskusi sama Karen dan Yulia."


"Itu lebih baik."


Pengajuan pendirian guild bisa dilakukan kapan saja jadi tidak perlu terburu-buru.


Namun, jika ingin mewujudkan impian Ars, guild pasti akan diperlukan.


"Kalau begitu, mumpung sudah sampai Menara Babel. Ini tempat yang pas untuk cari info soal guild, dan tempat yang asyik juga. Mari keliling sambil makan sate, bagaimana?"



Nama <Kota Naga> adalah Altarl, dan nama negara yang memerintah kota itu adalah Schreier.


Sebagai skala negara, ini adalah yang terkecil di dunia karena hanya memerintah satu kota, namun letaknya berada di pintu masuk "Lost Land".


Skala kotanya dua kali lipat Kota Sihir, sesuai dengan sebutannya sebagai tempat tinggal naga.


Yang memerintah kota raksasa itu adalah naga purba yang sudah ada sejak dunia ini lahir.


Naga agung itu mulai mendapatkan rasa hormat dari orang-orang, namun entah sejak kapan mereka mulai memujanya hingga patung tembaga dibangun di tengah alun-alun.


Lama-kelamaan kaum naga mewajibkan doa tiga kali sehari—pagi, siang, dan malam, sehingga jika berkunjung ke alun-alun pada jam-jam tersebut, orang bisa melihat pemandangan menakjubkan di mana banyak kaum naga bersujud.


Karena letak kotanya yang berada di pintu masuk "Lost Land", Schreier kini tumbuh menjadi negara yang dikunjungi banyak ras dari seluruh dunia. Jalanan kota Altarl dibuat dengan lebar sekitar tiga kali lipat jalan biasa agar bisa mengakomodasi berbagai ras. Jika melihat orang-orang yang berlalu-lalang di jalan itu, banyak yang memiliki tanduk atau kulit bersisik——menunjukkan ciri khas kaum naga.


Selain itu, terlihat juga sosok ras Beast yang sering disalahartikan sebagai ras Iblis, ras Dwarf yang menyukai bawah tanah, dan jika bicara soal kelangkaan, ada Elf yang jarang keluar dari Hutan Besar.


Kota Sihir memiliki banyak ras Manusia. Namun, di sini banyak ditinggali ras lain yang disebut Demi-human.


Karen dan Elsa sedang mengunjungi kota seperti itu.


Setelah berpisah dengan Ars dan yang lainnya, Karen dan Elsa mengunjungi toko yang dikelola oleh guild kenalan mereka. Toko yang dituju berada di blok yang disebut Jalan Utama di mana berbagai toko berjejer, tempat yang akan sampai dengan sendirinya jika terus berjalan.


Papan nama bergambar luak. Dinding kaca yang memperlihatkan keadaan di dalam dari luar toko, di dalam toko terpajang baju zirah dan pedang yang gagah, serta pernak-pernik berjejer di rak.


Itulah Badger's Nest yang dikelola oleh guild yang bekerja sama dengan Guild Villeut yang dipimpin Karen.


"Yahhoo, ada orang?"


Pertama-tama mereka disambut oleh aroma floral yang sangat disukai pemilik toko.


Hal lain yang terlihat adalah pintu masuk yang dihiasi perlengkapan dengan dekorasi yang imut.


Ada rak tiga tingkat yang diletakkan mengapit lorong, rak atas berisi cincin dan kalung, rak tengah berisi botol kecil berisi cairan, dan rak bawah berisi kosmetik.


Semuanya adalah alat sihir yang menyimpan sedikit kekuatan sihir.


Saat Karen dengan mata berbinar menikmati rak aksesori yang membuatnya bingung memilih, mencari apakah ada produk baru yang masuk, dari sudut matanya ia menangkap sosok pegawai toko yang berlari mendekat.


『Selamat datang! Karen-san, sudah lama tidak bertemu. Ada perlu apa hari ini?』


"Acacia, apa Legi dan Shigi datang hari ini?"


Legi dan Shigi adalah kakak beradik kembar Dwarf, pengelola Badger's Nest sekaligus Lehrer.


Selain itu karena bekerja sama dengan guild Karen, mereka sering melakukan ekspedisi gabungan, dan karena secara pribadi juga akrab, terkadang mereka pergi bermain bersama.


『Kalau para Lehrer, hari ini mereka masuk kerja kok.』


"Syukurlah. Bisakah tolong panggilkan mereka? Aku ingin berkonsultasi soal logistik yang kupesan sebelumnya."


『Baik. Mohon tunggu sebentar.』


Setelah mengantar kepergian pegawai toko, Karen menyadari bahwa Elsa yang seharusnya ada di belakangnya tadi sudah tidak ada. Ke mana dia pergi saat datang ke toko ini, menemukan Elsa ternyata cukup mudah.


"Benar dugaanku, kau ada di sini rupanya."


Belakangan ini jika mengunjungi Badger's Nest, tempat yang paling pertama dituju Elsa adalah pojok tempat boneka diletakkan. Di sana, Elsa berdiri dengan ekspresi datar seperti biasa, punggung tegak, dan postur tubuh yang benar sambil menatap boneka-boneka itu.


Elsa menyadari kedatangan Karen, segera memutar tubuhnya dan memiringkan kepala.


"Apakah Legi-san dan Shigi-san sedang tidak ada?"


"Enggak. Sepertinya ada, jadi aku minta panggilkan barusan. Daripada itu, ada boneka yang menarik perhatianmu?"


Tampaknya Elsa pernah datang beberapa kali ke Badger's Nest bersama Ars di hari libur, dan sepertinya mereka memeriksa bersama apakah ada boneka model baru.


Belakangan ini Elsa mulai membuat boneka sendiri, tapi kabarnya dia tetap membeli jika ada model baru yang rilis sesekali. Karena itu, kamarnya yang dulunya suram dan tak ada apa-apa selain meja dan tempat tidur, kini menjadi ruangan yang fancy, sungguh menarik.


"Tidak, model baru berikutnya baru akan rilis enam hari lagi, jadi hari ini saya sedang memeriksa variasi warna dari boneka yang saya beli sebelumnya. Selain itu, saya mencari bagian yang bisa dijadikan referensi saat membuatnya nanti, semacam inspeksi musuh."


Kata-kata Elsa yang terdengar berat, digumamkan dengan datar sehingga tidak tahu apakah itu bercanda atau serius.


Karen tersenyum pahit sambil mengambil satu boneka.


"Inspeksi musuh katamu, padahal bukan saingan bisnis... ngomong-ngomong, kau masih berniat menambah boneka? Bukannya sudah cukup? Karena kau juga membuatnya sendiri, pasti sudah mulai bingung mau ditaruh di mana, kan."


"Tetapi, jika memikirkan sampai buyut, rasanya masih kurang."


"Buyut... Elsa, kau bahkan belum menikah. Bukankah cukup untuk anak-anak dulu?"


"Tidak, katanya ada kalanya kita membutuhkannya secara mendadak, jadi di buku tertulis harus disiapkan sejak dini."


"Bukan, bukan, mungkin barang yang harus disiapkan itu berbeda. Menyiapkan boneka untuk keadaan darurat itu aneh, dan prioritasnya rendah. Lagipula, jika memang benar tertulis harus menyiapkan boneka untuk buyut yang baru akan lahir puluhan tahun lagi, buang saja buku seperti itu."


"Begitu ya... jadi itu yang namanya salah tafsir ya."


Bisa jadi referensi——melihat Elsa yang mengangguk dalam seolah kagum, sudut mulut Karen berkedut.


"Bukan, bukan, itu bukan salah tafsir atau apa pun. Kenapa sih Elsa kalau memikirkan masa depan jadi oon begini?"


"Lancang sekali. Saya sudah membayangkan masa depan dengan rapi dan sempurna kok. Ngomong-ngomong, rencananya anak saya ada lima ratus orang."


"Dari jumlahnya saja sudah tidak realistis! Jangan berkhayal seperti anak kecil, berpikirlah dengan lebih mantap!"


"Makanya, saya sudah memikirkannya dengan benar."


"Kalau begitu dibilang memikirkan, aku malah jadi ilfeel..."


"Apa apa~? Sepertinya lagi ngobrol seru nih."


Ada seseorang yang menyela di antara Karen dan Elsa yang sedang berdebat karena alasan yang tidak jelas.


Seorang gadis Dwarf dengan kacamata pelindung besar di kepalanya.


Tingginya tiga kepala lebih rendah dari Karen, sekilas penampilannya bisa dianggap sebagai anak kecil.


"Ara, Shigi rupanya. Sudah lama ya~!"


"Ya, aku lega Karen juga kelihatannya sehat seperti biasa."


Setelah berpelukan ringan dan melepaskan diri, Shigi mengarahkan pandangannya pada Elsa.


"Ada Elsa-san juga rupanya. Hari ini tidak ada boneka model baru lho, ada apa?"


"Hari ini kami datang untuk memeriksa logistik yang dipesan untuk persiapan ekspedisi minggu depan, dan memesan tambahan barang yang kurang. Elsa menemaniku sekaligus jadi pengawas."


"Aah... kalau begitu tidak enak kalau ngobrol sambil berdiri, biar aku antar ke ruang tamu."


Ruang tamu Badger's Nest ada di ujung lorong di belakang meja resepsionis tempat pembayaran barang.


Jika masuk lebih dalam lagi, ada bengkel kerja Shigi dan saudarinya.


"Kudengar Legi juga ada, apa dia masih tidak keluar dari tempat penempaan seperti biasa?"


Karen bergumam sambil melihat ke ujung lorong sebelum masuk ke ruang tamu.


Legi adalah kakak kembar Shigi dan mereka sangat mirip.


Sifatnya pemalu, berbanding terbalik dengan Shigi.


"Sepertinya dia bakal mengurung diri untuk sementara waktu deh——ah, silakan duduk di tempat yang kalian suka."


Sambil berkata begitu, Shigi masuk ke ruang tamu dan mulai menyiapkan teh.


Sambil melihat Shigi yang menyiapkan teh dengan cekatan, Karen dan Elsa duduk di sofa.


"Cukup sibuk ya... kalau begitu, ada beberapa barang tambahan yang ingin kami minta dibuatkan, kira-kira sulit tidak ya?"


Karen meletakkan surat pesanan yang diserahkan Elsa yang duduk di sebelahnya ke atas meja.


"Hmm, tergantung barangnya sih... coba kulihat dulu."


"Kalau begitu, biar saya saja yang menyeduh tehnya."


"Ya, makasih. Kuserahkan pada Elsa-san ya."


Shigi menyerahkan nampan berisi teko dan lainnya kepada Elsa, lalu mengambil surat pesanan.


Hanya suara Elsa yang membagikan teh kepada masing-masing orang yang bergema di ruangan.


Tak lama kemudian, Shigi melipat dan menyimpan surat pesanan itu, lalu menatap Karen.


"Ya, sepertinya tidak ada masalah, pesanan diterima. Semuanya tidak sulit disiapkan jadi aman kok. Disesuaikan dengan ekspedisi minggu depan, kan?"


"Tolong ya. Tapi, syukurlah. Karena kudengar Legi sedang sibuk, kupikir bakal ditolak."


"Pekerjaan yang kami terima sekarang tidak ada yang sulit kok... kalau dibandingkan dengan pesanan Ars sih ya."


"Aa, ternyata barang Ars yang 'itu' memang cukup mustahil ya?"


Saat Ars baru saja mengunjungi Kota Sihir, dia bertarung melawan Fifth Seat dari Five Imperial Swords, Albert, demi menyelamatkan Yulia. Dalam pertarungan itu, dua bilah belati perunggu yang dipegang Ars patah dari pangkalnya karena tidak kuat menahan sihirnya yang berkepadatan tinggi.


"Aku tidak menyangka akan diminta memperbaiki perunggu. Soalnya, itu kan tingkatan paling bawah, lho? Memang sih, karena itu senjata buatan Onee-chan, performanya tidak perlu diragukan. Tapi perunggu tetaplah perunggu, jadi saat diminta memperbaikinya, aku sempat curiga ini lelucon macam apa."


Sambil minum teh, Shigi diam sejenak sebelum kembali membuka mulut.


"Biaya perbaikannya saja bisa buat beli banyak belati besi, tahu. Untuk sementara aku sudah meningkatkan daya tahannya dengan 'Enchantment', tapi kalau dipakai seperti itu pasti akan rusak lagi. Uangnya juga bakal terbuang sia-sia, bisakah Karen sampaikan pada Ars untuk membeli senjata dengan tingkatan yang lebih tinggi?"


"Hmm... sepertinya bakal sulit membujuknya..."


"Ars-san berkata bahwa tujuannya adalah bisa memotong apa pun dengan perunggu."


Ars bertarung dengan batasan yang tidak jelas maknanya, yaitu tidak akan merusak apa pun yang ditebasnya.


Saat Elsa menjelaskan dengan nada heran, Shigi memasang ekspresi seolah itu merepotkan.


"Bohong, kan. Jangan-jangan dia berniat mengalahkan Platinum atau Hihirokane dengan perunggu?"


"Setidaknya Ars berniat menang meski beradu senjata. Dia mengatakan hal yang tidak masuk akal seperti akan berusaha keras dalam manipulasi sihir demi hal itu."


"...Tidak bisa dipercaya. Apa dia bodoh? Meski daya tahan bisa ditingkatkan dengan membalutkan sihir pada senjata, tetap saja akan kalah mudah jika beradu dengan senjata yang tingkatannya lebih tinggi. Sebaiknya hentikan dia sebelum terluka, lho?"


Pendapat Shigi sangat bisa dimengerti. Dia adalah ahli dalam hal senjata. Karena itu, Karen juga sangat paham bahwa pemikiran Ars saat ini sangatlah berbahaya. Namun, karena dia merasa tidak akan bisa membujuknya, dia menempelkan tangan di pipi dengan wajah susah sambil menurunkan alisnya.


"Benar juga. Aku akan berdiskusi dengan Onee-sama, dan mencoba membujuk Ars sekali lagi."


"Lakukanlah. Mengadu perunggu dengan Hihirokane itu sama saja seperti goblin yang menantang naga."


Sambil tersenyum pahit dan mengangkat bahu, Shigi bertepuk tangan seolah ingin mengubah suasana.


"Ah benar, ada hal yang harus kusampaikan juga pada Karen."


"Apa itu?"


Saat Karen memiringkan kepala, Shigi menunjukkan gelagat seolah memperhatikan keadaan sekitar.


Karen memasang ekspresi curiga melihat tingkah laku yang aneh itu.


"Kudengar tempat Karen juga sudah merambah ke Area Tinggi. Sebaiknya kalian berhati-hati."


"Ada kejadian apa?"


"Sepertinya beberapa guild termasuk guild milik 24 Council Keryukeion hancur lebur di Area Tinggi."


"Hah? Ke, kenapa? Apa ada iblis yang mengamuk?"


Wajar jika Karen terkejut. Meski 24 Council Keryukeion adalah keberadaan yang tak henti-hentinya diterpa rumor gelap, banyak dari mereka yang memiliki kemampuan mumpuni termasuk kekuatan guild-nya. Orang-orang seperti mereka terkadang melakukan petualangan di Area Tengah, jadi mereka bukanlah kekuatan tempur yang bisa dihancurkan di Area Tinggi.


"Bukan, sepertinya serigala yang 'itu' turun dari Gunung Kembar."


Hanya dengan kata-kata itu, siapa pun yang hidup di dunia ini pasti paham apa yang terjadi.


Gunung Kembar hanya ada satu di dunia, dan jika bicara soal serigala yang tinggal di sana, hanya ada satu ekor.


"Monster Istimewa No. 3 'White Wolf Fenrir' mengamuk? Di tempat seperti Area Tinggi? Sebenarnya apa yang terjadi?"


"Alasannya tidak diketahui. Awalnya ada pembicaraan bahwa mungkin 24 Council Keryukeion sembarangan masuk ke wilayah kekuasaannya, tapi sepertinya tidak begitu, dan katanya guild lain juga diserang tanpa pandang bulu. Jadi dugaannya mungkin dia cuma lagi bad mood aja."


"...Begitu ya. Kalau alasannya tidak diketahui, itu repot. Kudengar dia punya kecerdasan... apakah bisa diajak bicara? Tapi, kalau bertemu sepertinya dia tidak akan melepaskan kita ya."


Kepada Karen yang menghela napas panjang karena galau, Shigi memberitahu dengan wajah serius.


"Karen, keberanian untuk membatalkan ekspedisi minggu depan juga perlu, lho. Bagaimana kalau kau fokus mengurus kedai saja sampai dia pergi?"


"Tidak, aku tidak berniat membatalkannya. Selain itu, apakah cerita itu diberlakukan perintah tutup mulut?"


"Enggak, katanya dalam waktu dekat akan dikeluarkan peringatan."


"Kalau begitu, aku makin tidak bisa membatalkannya. Soalnya kalau Ars mendengar hal itu, sepertinya dia bakal menerjang ke sana dengan senang hati."


Saat itu tiba, seseorang harus menghentikannya. Ars bukanlah pria yang akan menurut begitu saja, namun demi keselamatannya dan mencegah kerugian di sekitarnya, Karen membulatkan tekad untuk mati-matian menghentikannya, bahkan dengan melibatkan Yulia dan yang lainnya.


"Aah... aku memang baru sebentar mengenal Ars, tapi sepertinya memang begitu ya. Bisa dibilang kurang rasa waspada, atau tindakannya sangat aneh sampai-sampai aku curiga ada sekrup yang longgar di kepalanya."


"Benar sekali."


Akibat dikurung dalam waktu lama, akal sehatnya pun hilang, dan dia cenderung tidak peka terhadap kekuatannya sendiri.


Seandainya saja dia bisa menjelaskan hal itu pada Shigi, betapa leganya Karen.


Akan tetapi, kelahiran Ars adalah rahasia.


Setidaknya itu adalah masalah sensitif yang tidak boleh diungkapkan oleh Karen.


Orang-orang yang mengunjungi Kota Sihir, baik besar maupun kecil, pasti menyimpan rahasia.


Karena itu, jika orang yang bersangkutan yang mengatakannya sih tidak apa-apa, tapi Karen yang merupakan orang lain tidak boleh sembarangan mengucapkannya. Karenanya, dia merasa gregetan karena tidak bisa menceritakan detailnya, dan hanya bisa mengangguk pada tatapan simpati Shigi.


"Yah, pasti ada banyak hal yang terjadi. Tapi untuk jaga-jaga, minggu depan guild kami juga akan melakukan ekspedisi ke Area Tinggi, jadi kalau ada apa-apa hubungi saja. Kalau bisa, aku akan bantu. Misalnya saat harus menahan Ars secara paksa."


Saat Shigi melontarkan lelucon di akhir kalimatnya, Karen tersenyum.


"Aku meminta bantuanmu saat Ars mengamuk ya. Tapi, Shigi dan yang lain juga pergi ekspedisi? Padahal menyuruhku untuk jangan pergi."


"Ya iyalah, pengalamannya kan beda. Kami merasa tahu kapan harus mundur, tapi di tempat Karen kan banyak orang yang otot semua isinya. Michiruda-san yang bagian dapur saja padahal bukan pengguna Gift tipe tempur, tapi kalau dilihat dari penampilan dan tindakannya dia itu tipe petarung, dan entah kenapa 'Guild Villeut' itu punya kesan kuat suka menerjang tanpa pikir panjang."


"Ka, kami memikirkannya dengan benar kok... lagipula, a, aku pikir kami tipe otak lho, se, sebenarnya. Selain itu, kami bukan tidak memikirkan konsekuensinya, tapi lebih tepatnya tidak ingin melewatkan kesempatan emas."


Karena Karen juga merasa ada benarnya, dia merasa sakit hati karena tidak bisa menyangkal sepenuhnya.


"Iya iya, kalian memikirkannya dengan benar, ya. Oke, oke."


Kata-kata Karen yang diucapkan dengan putus asa itu diterima oleh tatapan hangat Shigi.



Distrik Bobrok berada di ujung jalan gang belakang Distrik Hiburan.


Di ujung gang sempit itu terdapat jalan yang berlumuran lumpur dan debu.


Dunia yang bertolak belakang dengan kemewahan Distrik Hiburan.


Di sanalah Yulia melangkahkan kakinya.


"Hari ini... aku tidak terlalu merasakan tatapan mata."


Yulia yang berjalan menuju tujuan sambil mengamati keadaan sekitar mengerutkan alisnya dengan curiga.


Belakangan ini orang-orang yang tinggal di Distrik Bobrok juga sudah belajar tentang betapa mengerikannya Yulia sehingga frekuensi penyerangan berkurang, namun seharusnya tetap ada satu atau dua orang bodoh yang terpikat oleh kecantikannya.


Padahal begitu, khusus hari ini, jangankan tatapan yang menjijikkan, bahkan kehadiran orang pun tidak terasa.


"Selain itu, ada sedikit bau darah yang bercampur di udara. Kalau cuma satu atau dua orang yang dibunuh, kurasa tidak akan mengalahkan bau busuk di sini, entah berapa banyak yang sudah dibunuh... nah, apakah ini perbuatan Verg-san?"


Yulia membayangkan wajah Elf yang hidup bersembunyi di Distrik Bobrok itu di benaknya.


Namun, jika itu dia, dia pasti akan membereskannya tanpa menyebarkan bau darah, tanpa diketahui siapa pun.


Lagipula, Yulia tidak berpikir bahwa pria yang diutus oleh Gereja Hukum Suci itu akan melakukan tindakan sia-sia yang bisa membuat identitasnya terbongkar.


"Kalau tanya langsung pada orangnya, aku akan tahu."


Setelah mencapai kesimpulan, Yulia menghentikan langkahnya.


Di hadapannya berdiri sebuah gubuk yang tampak seperti bangunan baru.


Gubuk itu sangat mencolok untuk ukuran tempat persembunyian, tapi anehnya tidak ada seorang pun yang mendekat.


Alasannya baru diketahui Yulia belakangan ini.


Yang membuat orang tidak mendekat adalah kekuatan Gift yang dimiliki Verg.


Dia mengetahui sebagian dari kekuatan Gift pria itu saat bertarung melawan "Guild Marizia".


"Meski hanya sebentar, kekuatan yang menyembunyikan Ars dari pandangan orang lain itu sungguh luar biasa."


Gift macam apa yang dimilikinya, Yulia memiliki jawaban yang mendekati keyakinan.


Dia pernah beberapa kali memikirkan apa yang akan terjadi jika mereka bertarung, tapi dia tidak akan kalah.


Aku sudah menyiapkan langkah antisipasi agar siap kapan pun dia berbalik menjadi musuh.


Sejauh ini dia belum menunjukkan tanda-tanda akan berkhianat, tapi,


"Suatu saat aku harus memaksanya melakukan tes kesetiaan."


Yulia memutus alur pikirannya, lalu mengetuk pintu gubuk, dan hanya perlu menunggu sebentar hingga pintu terbuka.


Yang menampakkan wajah bukanlah pria yang biasanya——bukan Verg.


"Oya oya, Saint-sama, terima kasih sudah bersusah payah datang kemari."


Wajahnya tidak bisa dipastikan karena tertutup tudung.


Jenis suaranya juga androgini sehingga jenis kelaminnya tidak diketahui. Namun, ini bukan pertama kalinya ia bertemu dengan orang ini. Sebab Verg pernah memperkenalkannya sebelumnya. Pertemuan pertama dengan orang ini terjadi beberapa hari setelah perang dengan "Guild Marizia" berakhir.


"Shelf-san rupanya, sudah lama tidak bertemu."


Sama seperti Verg, dia adalah salah satu Sacred Heaven yang menerima misi dari Gereja Hukum Suci dan menyusup ke Asosiasi Sihir.


"Oh... saya sangat terharu Saint-sama mengingat nama saya."


Dengan suara riang gembira, Shelf membalikkan badan dan mulai berjalan.


Yulia mengikuti punggung itu dan diantar ke ruang tamu.


Lalu, Verg yang sedang duduk di sofa bangkit berdiri.


"Saint-sama. Terima kasih sudah bersusah payah datang."


Yulia mengarahkan tangan pada Verg yang menundukkan kepala untuk mempersilakannya duduk, sementara Shelf menuju sudut ruangan dan mulai menyiapkan teh.


Tanpa berkata apa-apa, Yulia duduk di sofa di seberang Verg.


"Ngomong-ngomong, hari ini keadaan Distrik Bobrok berbeda dari biasanya, apa Anda melakukan sesuatu?"


"Sepertinya ada banyak korban jiwa."


Verg menjawab sambil mengangkat bahu, lalu dia melirik Shelf dengan matanya.


"Biar saya yang jelaskan."


Shelf meletakkan teh di depan Yulia lalu menyunggingkan senyum di bibirnya.


"Kejadiannya pagi ini, kabarnya Demon Lord Grimm mengamuk dan menyebabkan banyak kematian."


"Grimm? Apa alasannya?"


"Itu berhubungan dengan masa lalu Grimm. Guild tempatnya tumbuh dulu adalah 'Nomor Buangan Antitesis'——yang dihancurkan oleh tangan iblis, namun dia yang selamat terdampar di Distrik Bobrok."


"Kalau itu cerita terkenal, jadi saya tahu. Dia yang menetap di Distrik Bobrok menguasai tempat itu layaknya raja, kan."


"Benar sekali. Sasuga Saint-sama, Anda sangat berwawasan luas."


Shelf mendengus senang sambil membasahi tenggorokannya yang kering dengan teh.


"Lalu kelanjutan ceritanya, dia mendirikan guild dan meninggalkan Distrik Bobrok. Namun, saat dia muncul kembali setelah sekian lama, gerombolan yang kurang ajar bertambah banyak, jadi mungkin dia merasa wilayah kekuasaannya telah dikotori. Sepertinya kebenarannya adalah dia membunuh gerombolan yang mengganggu pemandangan itu."


"Begitu ya. Karena itulah penduduk lain jadi waspada dan tempat ini jadi sepi."


Dia jadi tahu alasan kenapa Demon Lord Grimm yang datang ke <Villeut Sisters Lampfire> sejak pagi diselimuti bau darah. Gara-gara itu dia jadi waspada akan berbagai hal dan bahkan mengintimidasi dengan memancarkan hawa membunuh, tapi apakah orangnya sadar akan hal itu?


(Kalau di sana Grimm jadi bad mood dan menyerang, aku bisa saja memenggal lehernya. Tidak, kalau begitu tidak bisa jadi hukuman karena memukul Karen ya... soalnya aku ingin Grimm lebih menderita lagi.)


Sambil menyunggingkan senyum yang tajam, Yulia menyelesaikan konflik batin dalam hatinya.


"Lalu, apakah ada perubahan pada hati Ars-sama?"


Yang bertanya adalah Verg.


"Tidak, justru saya rasa keinginan untuk mengincar Magic Emperor menjadi lebih kuat dari sebelumnya."


"Apakah sulit untuk mendorongnya berubah pikiran?"


"Untuk saat ini tidak ada——tetapi, di masa depan saya tidak tahu."


"Apakah Anda punya cara yang bagus?"


Verg memajukan tubuhnya dan menujukan ekspresi serius.


Senyum meremehkan yang biasa cengengesan itu tidak ada di sana.


"Dalam waktu dekat, Saint-sama akan diminta bergerak secara langsung. Apakah persiapannya sudah siap?"


"Fufufu, kapan saja sudah siap kok."


Yulia yang tersenyum memikat meminum tehnya dengan tenang.



Grimm telah kembali ke markasnya <Kota Bintang Hancur, Especial>——<Istana Putih Bersih>.


Melihat kondisinya yang tampak sedang dalam suasana hati baik, Kirisha melompat ke punggungnya.


Meski sempat terhuyung karena terlalu bersemangat, Grimm menyeimbangkan tubuhnya dan mulai berjalan seolah tidak terjadi apa-apa.


"Grimm-chan semangat ya! Ada hal bagus?"


"Aa, aku bertemu sesuatu yang menarik."


Melihat Grimm yang tampak senang, Kirisha yang ikut senang juga menunjukkan senyum polos yang ceria.


"Di sini juga aku mendengar berbagai cerita menarik lho."


Kirisha memanjat punggung Grimm, menaruh dagunya di sekitar bahu, lalu menyampaikan keadaan pertemuan dengan para Demon Lord. Dimulai dari nama peserta, hingga akhirnya cerita tentang kemunculan White Wolf Fenrir di Area Tinggi.


"Hee... dia muncul ya."


Saat dia mengatakannya dengan kesal, Kirisha tampaknya menyadari itu dengan tajam dan menyunggingkan senyum jahil.


"Oya oya, jangan-jangan trauma Grimm-chan terpicu?"


"Berisik, kalau sekarang aku tidak akan memperlihatkan sosok yang memalukan kok."


Dulu Grimm pernah mencoba menantang White Wolf Fenrir. Tapi, hanya dengan melihat sosoknya, hatinya hancur.


Mungkin karena baru menjadi Demon Lord, dia jadi besar kepala.


Dia pikir dirinya bisa menang melawan Enam Monster Besar.


Namun, hanya sekali lihat dia sadar tidak bisa menang.


Tiga tahun menjadi Demon Lord, sampai sekarang pun dia tidak merasa jarak kekuatannya menipis.


Kekuatan White Wolf Fenrir memang semutlak itu.


"Ngomong-ngomong, Guild Villeut bilang mau ekspedisi sekitar minggu depan ya."


Saat mengunjungi markas mereka <Villeut Sisters Lampfire>, rasanya dia mendengarnya dalam percakapan.


Apa yang terjadi jika Ars bertemu White Wolf Fenrir...


Di saat jawaban hampir muncul dalam benak Grimm, kepalanya dipukul.


"Hah? Tiba-tiba memukul, apa-apaan sih?"


Di punggung Grimm, Kirisha yang memukul kepala bagian belakangnya menggembungkan pipi dengan tidak puas.


"Itu karena kau tidak mendengarkan omongan Kirisha!"


Diteriaki tepat di telinga, Grimm hendak meluapkan amarahnya, tapi dia ingat itu tidak terlalu mempan pada Kirisha, jadi dia memutuskan untuk menyerah.


"Iya iya... aduh, maaf. Apa tadi?"


"Cerita tentang Ars-chan juga jadi topik lho. Lilith-chan penasaran."


"...Hou, dia bilang apa?"


"Etto, sepertinya Kirisha pikir Lilith-chan ikut Pertemuan Demon Lord karena memang berniat memancing topik soal Ars-chan sejak awal."


Saat Kirisha menjelaskan percakapan macam apa yang terjadi, Grimm kembali menunduk dan berpikir.


Srikandi yang bertakhta di Mahkota Kedua, Lilith.


Dia menjadi Demon Lord sudah lama sekali.


Sejak kapan tepatnya tidak tahu, tapi yang pasti dia tercatat sebagai Demon Lord tertua.


Dan——sejak saat itu dia adalah "Mahkota Kedua".


Sudah pasti dia adalah Demon Lord yang misterius, dan ketertarikannya pada Ars terasa menyeramkan.


Semoga saja dia tidak merencanakan sesuatu.


"Yah... kita juga bersiap-siap saja."


"Hue, persiapan apa?"


"Sekarang jangan dipikirkan."


"Kenapa!? Kirisha kan Sub-master lho!?"


"Berisik, jangan teriak-teriak terus di telingaku! Kuseret turun kau nanti!"


Saat mereka bertengkar dengan akrab, terlihat kenalan berjalan dari arah depan.


Mereka adalah eksekutif "Guild Marizia", kakak beradik Nomie dan Galm.


Pakaian mereka robek di sana-sini, rambut kotor oleh tanah, langkah kaki terasa berat, dan wajah mereka tampak sangat kelelahan. Penampilan mereka begitu lusuh hingga sekilas pandang pun orang tahu telah terjadi sesuatu.


"...Ou, ada apa?"


Saat Grimm menyapa, dua orang itu berlari mendekat dengan ekspresi kesal.


"Grimm, kau ini ya! Kau limpahkan semuanya pada kami terus pergi ke mana, hah!?"


"Benar tuh! Sub-master juga tidak ada, kau tahu tidak berapa banyak serangan yang kami terima hari ini saja!?"


"Apa, kalian kalah?"


Saat Grimm menatap curiga, wajah mereka berdua memerah karena sangat marah.


"Mana mungkin kalah. Kami hajar balik semuanya!"


"Tapi, mereka itu benar-benar kurang ajar, nyerang terus-menerus tanpa henti! Pasti ada 24 Council Keryukeion di balik ini!"


"Anggap saja bagus bisa menumpuk pengalaman bertarung lawan manusia."


Grimm juga diserang jika berjalan sendirian di kota.


Bukan cuma sekali atau dua kali. Hari ini saja dia pasti sudah diserang lima kali.


Dia pikir mereka pantang menyerah, tapi banyak juga dari mereka yang menyerang dengan enggan hanya karena tidak bisa menentang perintah atasan.


"Dingin banget sih!?"


"Grimm! Kau ini ya! Aku ini cewek lemah, tahu!"


"Aah... berisik, berisik, kalian kelihatan sehat begitu padahal tampangnya lusuh."


Sambil melihat pemandangan tiga orang yang berdebat itu dengan senyum simpul, Kirisha menguap sekali sambil tetap menempel di punggung Grimm.


"Huaaah... damai yaa."



Di suatu tempat di Area Tinggi "Lost Land", White Wolf Fenrir sedang bersantai.


Di dalam hutan yang rimbun dan lebat, sinar matahari hanya masuk sedikit.


Tidak ada tanda-tanda makhluk hidup sama sekali di sekitarnya, bahkan suara serangga pun tak terdengar.


Benar-benar surga yang sunyi.


Setiap dahan dan daun pohon besar menjulang tinggi ke langit, dan bisikan burung terdengar bocor saat angin sejuk menggoyangkannya.


Udara segar dan bunga-bunga harum bermekaran dengan anggun, dan karena banyaknya tanaman yang tumbuh, hutan dipenuhi dengan beragam warna dan aroma.


Di tempat yang nyaman itu, White Wolf Fenrir menikmati alam itu sendiri dengan elegan.


Namun, alasan hutan itu begitu sunyi adalah karena takut memancing amarah sang raja.


Hanya ada satu orang yang melangkahkan kaki ke tempat itu.


Karena orang itu mengenakan tudung, wajahnya tersembunyi dalam bayangan dan sama sekali tidak terlihat.


Hanya bibirnya yang samar-samar terlihat, dan karena memancarkan daya tarik luar biasa yang tak bisa disembunyikan, bisa diduga dia adalah seorang wanita.


Merasakan aroma wanita itu, White Wolf Fenrir mengangkat kepalanya yang besar.


"Akhirnya kau datang."


"Wahai Serigala Putih yang Agung. Terima kasih sudah datang jauh-jauh ke sini."


"Tak kusangka kau repot-repot datang berkunjung... apakah terjadi masalah gara-gara aku menghajar gerombolan tidak berguna itu?"


Dengusan napas bercampur rasa heran keluar dari White Wolf Fenrir. Hembusannya membuat bunga dan rumput di sekitar berhamburan.


"Tidak ada masalah. Meski hasilnya jadi menarik perhatian, mungkin itu justru bagus."


Sosok bertudung itu menjawab dengan datar, tapi di tengah kalimat dia memiringkan kepalanya sedikit.


"Apakah sosok yang dicari sudah ketemu?"


Alasan Serigala Putih tiba-tiba turun ke dunia bawah dan mengamuk.


"Tidak, aku hanya merasakan kekuatannya sekali saja. Sejak saat itu tidak ada kabar apa pun."


"Kami juga sedang mencarinya semampu kami di sini, tapi saya harap Anda bersabar sedikit lagi."


"Aku akan menunggu dengan sabar sambil menghancurkan guild-guild yang datang ke Area Tinggi."


White Wolf Fenrir menguap dengan bosan, lalu menghembuskan napas yang dalam dari hidung, namun di dalamnya bercampur sedikit rasa kecewa.


"Tuan White Wolf Fenrir, mohon maaf, tapi bolehkah saya mengajukan satu permintaan?"


"Apa itu?"


"Ada seseorang yang disebut 'Essence of Magic, Mimir', saya ingin Anda menilainya."


"Apa dia ada di Area Tinggi?"


"Dalam waktu dekat, rencananya dia akan datang."


"Ciri-cirinya?"


"Seorang pemuda berpakaian hitam——Mata Iblis Merah Hitam, Odd Eye, namanya Ars."


"Apakah dia orang yang kau cari-cari itu?"


Sosok bertudung itu mengangguk menanggapi pertanyaan White Wolf Fenrir.


"Kemungkinan besar."


Sosok bertudung itu memutus kata-katanya, menarik napas, lalu menjawab perlahan.


"Alasannya karena——kabarnya pendengarannya bagus."


Mendengar kata-kata itu, atmosfer yang dipancarkan White Wolf Fenrir jelas berubah.


Dia mendengus senang, dan menyipitkan mata dengan gembira.


"Kukuku hahaha, begitu ya. Itu mungkin memang orang yang tepat."


"Karena itulah, saya ingin Anda memastikannya."


"Begitu ya... baiklah. Aku akan bekerja sama."


White Wolf Fenrir bangkit berdiri sambil menggoyangkan tubuh raksasanya.


"Gift yang menjadi tujuan itu——biar kupastikan dengan mataku sendiri."


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close