NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Naze ka S-kyuu Bijotachi no Wadai ni Ore ga Agaru Ken V1 Chapter 1

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader:-Miru-chan


Chapter 1

Para S-kyuu Beauty dan Akasaki Haruya

“Baik, segini cukup kali ya……”


Awal bulan Mei. Hari itu adalah hari terakhir Golden Week.


Sebelum keluar rumah, Akasaki Haruya berdiri di depan cermin untuk memastikan penampilannya sudah rapi. Rambutnya ditata acak dengan wax. Aksesori dari merek yang tidak terlalu terkenal, tapi cukup populer. Pakaian bernuansa hitam dan putih yang bersih—tidak terlalu mencolok, tapi juga tidak terkesan membosankan.


Ia menggerakkan tangan dan kaki, meregangkan otot wajah, memastikan tak ada rasa janggal.


(Postur oke, ekspresi oke, pakaian oke…)


Dengan wajah segar setelah selesai bersiap, Haruya pun keluar rumah sendirian.



Sekitar 10 menit berjalan kaki dari apartemen tempatnya tinggal sendiri, terlihatlah sebuah pusat perbelanjaan besar di depan mata. 


Hari ini ia punya barang yang ingin dibeli, dan di situlah tujuan Haruya. Semakin mendekat ke gedung tinggi itu, Haruya menyadari langkah kakinya melambat.


(…Hari ini ramai sekali.)


Karena hari libur—bahkan hari terakhir Golden Week—jumlah pengunjung pusat perbelanjaan jelas tidak sedikit. Maka, kerumunan orang di depan itu kemungkinan besar adalah para pengunjung seperti dirinya.


Begitulah kesimpulan Haruya.


Terkejut oleh banyaknya orang, ia tanpa sadar tersenyum kecut. Setelah mengamati orang-orang di depannya dari kejauhan, Haruya mengubah arah.


(Ini… lebih baik lewat jalur belakang.)


Ia berbelok ke gang samping dan masuk ke jalan kecil yang sepi. Jalan sempit itu adalah rute yang pernah ia temukan sebelumnya saat menuju pusat perbelanjaan ini, dan ia menamainya “jalur belakang”.


Karena sempit dan agak gelap, Haruya melangkah dengan waspada. Mungkin karena belum terbiasa, kesunyian khas gang itu membuat tubuhnya belum bisa menyesuaikan diri. Ia merasa gelisah, dan menyadari wajahnya menegang tanpa sadar.


Dengan langkah berat, ia terus berjalan hingga mendekati pintu keluar gang, saat Haruya merasakan sesuatu yang tidak beres di udara.


“…Jou-chan, serius deh, kamu cocok banget jadi model. Beneran, serius.”


“…T-tidak. Maaf, tapi… s-saya tidak tertarik.”


Di depan sana, terlihat seorang perempuan yang seumuran dengannya, dan seorang pria yang terus-menerus mendesaknya. 


Haruya menatap pemandangan itu dari kejauhan dengan rasa penasaran.


(Scout model? Tapi kok maksa banget. Atau… modus baru buat ngerayu?)


Tanpa sadar, Haruya merasa berdebar—seperti adegan yang biasanya cuma ia lihat di manga. Dalam 16 tahun hidupnya, ini adalah pertama kalinya ia menyaksikan langsung seorang perempuan sedang dirayu di depan matanya.


“Ah, jangan bilang gitu dong… nih, kalau dengar penjelasannya pasti berubah pikiran! Makanya, ayo ke kafe terdekat aja—”


“…S-saya benar-benar tidak tertarik.”


“Ah, ayolah—”


Siapa pun bisa melihat kalau pria itu jelas terlalu memaksa. Dari situasi ini, hampir tidak ada kemungkinan pria itu akan mundur.


Entah itu benar-benar scout atau bukan, niat pria itu memang sulit ditebak, tapi dari sudut pandang Haruya, perasaan si pria bukan sesuatu yang sama sekali tak bisa ia pahami.


(…Tapi perempuan itu memang levelnya tinggi.)


Gadis yang masuk dalam pandangan Haruya jelas adalah seorang gadis cantik. Usianya mungkin sekitar 16 atau 17 tahun—seumuran dengannya. Rambutnya yang berkilau tampak bersinar bahkan di gang gelap ini. Wajahnya masih menyisakan kesan kekanak-kanakan, namun jelas memancarkan daya tarik dewasa. Dan seolah menjadi buktinya, lekuk tubuhnya—terutama dadanya—terlihat matang bahkan dari balik pakaian. 


Meski begitu, Haruya memiringkan kepalanya.


(…Rasanya aku pernah melihatnya di suatu tempat.)


Semakin lama ia menatap gadis itu, semakin kuat rasa familiar yang ia rasakan. Ia ingin mengungkap sumber perasaan itu, tapi sayangnya sekarang bukan situasi yang memungkinkan.


Haruya menggeleng pelan, lalu melangkah menuju mereka. Sepertinya ia sudah memutuskan untuk turun tangan.


(Setidaknya… aku bukan tipe orang yang bisa pura-pura nggak lihat begitu saja.)


Lagipula, mengabaikan gadis cantik yang jelas sedang kesulitan terasa terlalu kejam bagi hati nuraninya.


“…E-eh, permisi.”


“Hm? Apa lagi kamu ini?”


Begitu ia mendekat dan berbicara, wajah kasar itu muncul tepat di depan matanya. Rambut pirang disisir ke belakang, mata sipit dan tajam. Kalau boleh jujur, dalam hati Haruya menilai pria itu benar-benar terlihat seperti berandalan kelas teri.


(…Ya, ini memang menakutkan.)


Saat perhatian pria itu tertuju padanya, Haruya baru benar-benar memahami alasan gadis itu gemetar. Setelah berhadapan langsung, ia menyadari betapa kuat aura intimidasi pria itu—tatapan tajam yang seolah tak memberi ruang untuk membantah.


Haruya ingin lari dari tempat itu, tapi ia menahannya, memaksa diri untuk tetap menatap mata pria itu. Sayangnya, karena rasa takut, hanya itu yang bisa ia lakukan.


—Seandainya ia adalah pangeran berkuda putih.

—Seandainya ia adalah pahlawan pembela keadilan.

Pasti ia akan dengan berani menghadapi lawan dan mengusirnya. Tapi Haruya hanyalah seorang siswa SMA biasa-biasa saja. Yang bisa ia lakukan paling banter hanyalah menatap balik seperti ini.


Merasakan betapa menyedihkannya dirinya sendiri, Haruya mengutuk kelemahannya dalam hati.


“…………”


“…………”


Beberapa detik berlalu dengan saling menatap. Entah kenapa, pandangan gadis itu hanya tertuju pada Haruya, namun ia tetap tidak mengalihkan pandangannya dari pria di hadapannya.


(Ah… gawat. Sudah nekat maju, tapi kepalaku kosong melompong. Dalam situasi kayak gini seharusnya bilang apa sih…)


Meski wajahnya tidak menunjukkannya, di dalam hati Haruya benar-benar panik sampai rasanya ingin memegangi kepala sendiri—bahkan hampir mengompol. Tubuhnya mulai gemetar hebat tanpa sadar, membuatnya buru-buru cemas, namun di luar dugaan, justru si pria yang lebih dulu membuka mulut. Dan itu pun dengan nada yang entah kenapa terdengar gemetar dan ketakutan.


“…Hii!?”


Tiba-tiba pria itu mengeluarkan suara bodoh.


“Eh…?”


Tak mengerti maksud ucapan itu, Haruya tanpa sadar mengeluarkan suara linglung.


“Cih. Punya pria, ya…”


Entah kenapa pria itu mulai gemetar ketakutan, lalu mundur dan kabur dari tempat itu seolah melarikan diri.


Sementara itu, Haruya—yang menyedihkan karena sama sekali tidak melakukan apa-apa—hanya berdiri terpaku, tak bisa memahami apa yang sebenarnya baru saja terjadi.


(…Apa maksudnya barusan? Hah, apaan itu. Jangan-jangan prank?)


Kalau dibilang itu bagian dari acara TV, ia mungkin akan percaya. Namun kemungkinan itu langsung terpatahkan oleh gadis tersebut.


“A-ah… terima kasih banyak!”


“…Eh. Oh, hahaha. Nggak kok, aku sama sekali nggak ngapa-ngapain.”


Kalau bisa, Haruya sebenarnya ingin terlihat keren, tapi kenyataannya ia hanya mampu menatap balik. Namun, mungkin karena gadis itu bersikap perhatian pada Haruya yang begitu tak berdaya, ia dengan sungguh-sungguh membantah ucapannya.


“Bukan begitu! Ehm… Anda menghadapi orang menakutkan itu tanpa gentar dan berhasil mengusirnya… menurut saya, itu keren.”


“E-eh… haha. Makasih.”


Sambil tertawa kering, Haruya mengalihkan pandangan darinya. Padahal kenyataannya, ia benar-benar ketakutan dan panik setengah mati. Tapi saat dipuji dengan tatapan penuh kekaguman seperti itu, ia tak bisa jujur begitu saja. Karena canggung, yang bisa ia lakukan hanyalah tersenyum sopan.


Gadis cantik yang berdiri di depannya sama sekali tidak mengalihkan pandangan, membuat Haruya semakin merasa tidak nyaman. Karena gagal tampil keren, setidaknya ia memutuskan untuk sedikit ikut campur—meski mungkin berlebihan.


“Gang sempit seperti ini berbahaya kalau dilewati sendirian oleh perempuan… jadi, tolong hati-hati ya.”


“…I-iya.”


Gadis cantik itu mengangguk besar, lalu menundukkan kepala.


Haruya tersenyum kecut melihatnya, lalu meninggalkan tempat itu. Mungkin ia tak akan pernah berurusan lagi dengan gadis itu, tapi entah kenapa rasa malu justru tertinggal.


(…Tapi tetap saja, rasanya aku pernah melihat gadis itu di suatu tempat.)


Dihantam lagi oleh perasaan déjà vu itu, Haruya kembali melangkah menuju pusat perbelanjaan besar. 


Namun, kelak Haruya akan mengetahuinya. Bahwa gadis yang ia tolong secara kebetulan itu adalah teman sekelasnya—seorang gadis cantik tingkat S yang dijuluki S-Class Beauty (S-kyuu Bijou).


***


Keesokan harinya, pagi hari.


Hangatnya sinar matahari dan kicauan burung berpadu serasi, menciptakan pagi yang benar-benar cerah dan damai. 


Begitu tiba di ruang kelas SMA Eiga—sekolah yang ia tempati—Haruya segera duduk di bangkunya.


—Waktu menunjukkan pukul 8.15 pagi.


Di kelas Haruya, yang sebentar lagi akan memulai homeroom pagi, para siswa tampak ramai bercakap-cakap, membuat suasana kelas lebih ribut dari biasanya.


Maklum saja, hari ini adalah hari pertama masuk sekolah setelah libur Golden Week yang panjang. Bagaimana mereka menghabiskan liburan tentu menjadi topik yang membuat obrolan para siswa semakin hidup. Keheningan penuh kecanggungan dan ketegangan saat masa-masa awal masuk sekolah kini terasa seperti kenangan lama. 


Saat itu, semua siswa masih saling mengamati sekitar, sehingga hampir tidak ada yang terlihat sudah punya teman. Namun sekarang, semua orang sudah punya lingkaran pertemanan dan bebas mengembangkan berbagai obrolan.


Singkatnya, setelah satu bulan berlalu sejak masuk sekolah, kelompok teman sekelas pun mulai menetap, dan siswa yang sendirian hampir tak terlihat lagi.


Nah, di tengah hiruk-pikuk itu, Haruya sendiri…


“……, ………”


Tanpa berbincang dengan siapa pun, ia sendirian menelungkupkan wajah di atas meja, pura-pura tidur.


Pemandangan itu tak bisa dibilang rapi, dan hal tersebut juga dipengaruhi oleh penampilannya saat ini. Poni acak-acakan yang menutupi matanya, kacamata berbingkai hitam, dasi yang longgar, serta seragam yang dikenakan asal-asalan. Posturnya pun sedikit membungkuk, dan semua unsur itu berpadu membuat keberadaannya nyaris tak terasa.


Penampilan Haruya hari ini benar-benar bertolak belakang dengan dirinya saat keluar rumah kemarin—seolah dua orang yang berbeda. Kalau ia duduk di bangku ini dengan penampilan kemarin, pasti banyak siswa yang akan terbelalak kaget.


Sekarang, penampilan Haruya bisa dibilang—dengan halus—adalah tipikal laki-laki pendiam dan muram. Tentu saja, alasannya karena Haruya berpikir bahwa menonjol di sekolah hanya akan membawa masalah, jadi ia berusaha sebisa mungkin untuk tidak menarik perhatian.


(…Ngomong-ngomong, shoujo manga yang kubeli kemarin memang seru banget.)


Duduk di bangku belakang dekat jendela, Haruya tetap menelungkup tanpa sedikit pun memikirkan reputasinya di kelas, sambil melamun seperti itu. Ada satu rahasia kecil tentang Haruya yang tak pernah ia ceritakan pada siapa pun. 


Yaitu—ia mengoleksi shoujo manga.


Setiap kali judul baru terbit, ia akan diam-diam membelinya lalu menikmatinya di rumah sambil tersenyum-senyum sendiri. Kemarin pun, alasan ia pergi ke pusat perbelanjaan besar tidak lain adalah untuk membeli manga shoujo edisi terbaru.


(…Plot klasik memang nggak pernah gagal. Apalagi adegan di mana tokoh utama diselamatkan dari laki-laki playboy—itu benar-benar bikin hati meleleh.)


Haruya mati-matian menahan senyum yang hampir terlepas. Sepertinya manga shoujo itu benar-benar sangat menarik. 


Saat ia sedang meronta-ronta sendiri dalam hati, tiba-tiba terdengar suara yang cerah dan lantang.


“Pagi~ Sarachin sama Yunarinn!”


Suara ceria dan manis itu bergema di seluruh kelas.


Pemilik suara itu adalah Kohinata Rin, gadis imut yang menjadi pusat dari kelompok paling populer di kelas. Posisinya di kelas benar-benar berlawanan dengan Haruya, yang saat ini sedang menelungkup di meja —Figuran tak berbahaya yang nyaris tak dianggap ada.


Meski sudah sebulan berlalu sejak masuk SMA Eiga, posisi Haruya yang bahkan diragukan apakah teman sekelasnya ingat namanya atau tidak, jelas merupakan kebalikan total dari Rin.


Roknya pendek dan bagian kerahnya longgar—tipikal gaya gyaru. Namun karena tubuhnya kecil dan wajahnya agak kekanak-kanakan, ia tidak memberi kesan mengintimidasi; justru lebih menonjolkan sisi imutnya.


Begitu Kohinata Rin masuk ke kelas—tepatnya, begitu ia bergabung dengan kelompok “kelas atas” yang berkumpul dekat bangku Haruya—suasana kelas langsung riuh.


“Kalau para S-Class Beauty ngumpul, bener-bener enak dilihat ya.”


“Iya. Walaupun sudah terbiasa, trio itu tetap terasa kayak idol—nggak bisa nggak kagum…”


“Kalau secantik itu, rasanya malah nggak ada niat buat iri.”


Para siswa yang tadinya membicarakan berbagai hal langsung memusatkan topik mereka begitu tiga siswi itu berkumpul, melontarkan decak kagum satu demi satu.


Jika ketiga siswi ini bersama, mereka pasti akan menarik tatapan penuh kekaguman—baik dari siswa laki-laki maupun perempuan.


“…Ah, pagi, Rin.”


Menanggapi suara ceria Rin dengan nada sedikit jengah namun jernih dan tegas adalah Takamori Yuna. Rambut hitam panjangnya berkilau, memancarkan aura anggun dan bersih. Di kedua telinganya terpasang anting, dan seragamnya dikenakan longgar. Wajahnya yang tegas memancarkan kesan bosan sekaligus daya tarik dewasa—tanpa perlu dikatakan, ia jelas seorang gadis yang sangat cantik.


“…Selamat pagi, Rin-san.”


Menyusul Yuna, Himekawa Sara menoleh ke arah Rin dengan agak ragu dan sedikit terlambat. Rambutnya yang berkilau dan raut wajahnya yang penuh keanggunan memperlihatkan latar belakang keluarga yang baik. Ia menggunakan bahasa sopan bahkan kepada teman sekelasnya, dan sikapnya yang anggun dan berkelas telah mencuri hati tak sedikit siswa laki-laki.


Ketika tiga orang—Rin, Yuna, dan Sara—yang memiliki paras cantik dan berkilau itu berkumpul, para siswa laki-laki langsung heboh, sementara para siswi pun membicarakan mereka di kelas dengan penuh rasa kagum.


Faktanya, karena kecantikan mereka yang luar biasa, sebagian siswa menjuluki mereka S-Class Beauty.


“Selama Golden Week ini, Sarachin sama Yunarin, ada kejadian seru nggak?”


“Selama periode itu sih nggak ada yang khusus… Justru kamu sendiri gimana, Rin?”


“Aku kerja part-time terus sih~ Kupikir bakal ada gosip cinta atau apa gitu, tapi nggak ada ya~”


Dengan nada sedikit kecewa, Rin mengangkat bahunya. Rin memang tidak bisa menahan diri kalau sudah menyangkut urusan cinta dan gosip romantis. Melihat sikap Rin, Yuna memutar rambutnya dengan jari sambil menjawab dengan nada bosan.


“Kan? Memang nggak gampang dapat pertemuan yang bagus begitu. Iya kan, Sarachin?”


Saat Yuna meminta persetujuan Sara yang sedari tadi diam, bahu Sara tersentak kaget. Reaksi Sara yang tak terduga membuat Yuna dan Rin sama-sama membelalakkan mata. Jika diperhatikan lebih dekat, pipi Sara tampak sedikit memerah dan gerak-geriknya terlihat gelisah. Sara menunduk, wajahnya semakin merah.


“Eh, serius? Sarachin…”


Yang pertama menyelidik dengan penuh semangat adalah Rin.

Matanya berbinar, menatap Sara dengan tatapan penuh harapan.


“Jangan-jangan, selama Golden Week kamu ketemu seseorang yang spesial!?”


“Eh, serius…?”


Bahkan Yuna yang biasanya dingin ikut menghela napas kagum.


“…E-ehm…”


Pipi Sara kini memerah seperti kelopak mawar, dan ia mengalihkan pandangan dari mereka berdua. 


Awalnya ia ingin mengelak, tetapi sepertinya ia sadar tak bisa menghindar, sehingga akhirnya ia membuka mulut dengan ragu-ragu.


“—Sebenarnya, aku mengalami sebuah pertemuan yang terasa seperti takdir.”


Dengan sikap malu-malu, pengakuan Sara pun dimulai.



—Itu terjadi kemarin.


Saat aku keluar untuk membeli pakaian, aku kebetulan dihentikan oleh seseorang yang mengaku sebagai pencari model. Awalnya aku memang mengira itu benar-benar tawaran menjadi model, tapi karena dia mendesak dengan sangat berlebihan, aku akhirnya menyimpulkan bahwa itu penipuan.


Aku berniat segera melarikan diri, tapi wajahnya sangat menakutkan—atau lebih tepatnya, auranya begitu mengintimidasi—hingga kakiku gemetar dan aku tak bisa bergerak.


Aku menoleh ke sekeliling, namun mungkin karena tempat itu sepi, tak ada satu pun orang yang mencoba menolongku. Sesekali pandanganku bertemu dengan beberapa orang, tapi semuanya pura-pura tidak melihat.


Aku merasa sangat menyedihkan karena sempat berharap pada sekitar. Meski begitu, saat itu aku benar-benar ketakutan dan tak bisa berbuat apa-apa selain berharap—tanpa tujuan yang jelas—agar ada yang menolongku.


Setelah melihat reaksi orang-orang di sekeliling, sebenarnya aku sudah tak punya harapan lagi. Namun, tepat saat itu—


Orang itu muncul untuk menolongku, dengan begitu sigap. Berdiri di gang yang remang-remang, sosoknya terlihat seolah bersinar dan menonjol dari sekitarnya. Padahal seharusnya itu bukan urusannya, tapi dia menunjukkan kemarahan demi diriku. Seakan menjawab teriakan “tolong” di dalam hatiku, meski pasti merasa takut. 


Meski mengusir orang itu pasti merepotkan dan berisiko, dia mengalahkannya hanya dengan satu tatapan tajam. Setelah itu, sikapnya juga sangat lembut. Tapi sayangnya, aku tidak sempat mengucapkan terima kasih dengan layak.


Itulah yang masih aku sesalkan sampai sekarang…



“—Itulah pertemuan yang terasa seperti takdir bagiku. Kalau saja aku bisa bertemu dengannya lagi, aku ingin mengucapkan terima kasih dengan sungguh-sungguh.”


Seolah mengatakan bahwa itu satu-satunya penyesalan, Sara menutup ceritanya.


Saat itu, Rin yang tak mampu menahan diri langsung memeluk Sara dengan kuat. Matanya tampak berkaca-kaca.


“…Rin-san, ada apa?”


“Pasti kamu takut banget, Sarachin. Kalau aku ada di sana, pasti sudah kuusir orang itu. Nggak bisa dimaafkan, orang yang bikin Sarachin ketakutan.”


“Benar… aku juga mengerti perasaan Rin.”


Sambil menatap Rin yang masih memeluk Sara dengan tatapan agak jengkel, Yuna tetap mengangguk setuju.


Setelah beberapa saat memeluk Sara, Rin akhirnya melepaskannya, lalu membuka mulut dengan mata berbinar.


“Lagipula, laki-laki yang nolongin kamu itu… keren banget, ya. Kayak di shoujo manga aja…!”


Situasi seperti itu pasti pernah diimpikan oleh para gadis. Diselamatkan oleh seorang pria yang datang bak pahlawan dari lelaki yang sembrono.


Rin mengerucutkan bibir dengan ekspresi iri, namun wajahnya tampak senang.


“Kamu nggak nanya kontaknya? Kesempatan kayak gitu jarang banget, lho… itu kan jodohmu!”


“…Rin-san. Bukan begitu maksudnya.”


Sara menampilkan ekspresi pasrah, lalu berkata dengan nada tegas, hampir seperti penolakan.


“…Karena alasan keluarga, masa depanku sudah ditentukan lewat perjodohan.”


Dengan senyum lembut, Sara mengatakannya. Rin pun menunduk, sepertinya menyadari bahwa ia telah salah bicara.


Sebenarnya, latar belakang keluarga Sara—keluarga Himekawa—adalah keluarga lama yang konservatif dan sangat ketat. Di keluarga Himekawa, pernikahan melalui perjodohan masih dianggap wajar, meski sudah tidak sesuai dengan zaman sekarang.


Karena itu, mereka yang terlahir sebagai bagian dari keluarga Himekawa telah ditentukan masa depannya, dan diajarkan untuk merasa bangga akan hal tersebut.


Di antara teman sekelas, banyak yang merasa kasihan pada keadaan Sara, tetapi Sara sendiri justru bangga dengan nasibnya. Meski begitu, saat mendengar gosip cinta Rin dan Yuna, ia kadang merasa sedikit kesepian—seolah tertinggal sendirian.


“…Begitu ya. Sarachin memang dewasa.”


“Iya.” 


Kata Rin pelan dan Yuna menambahkan sambil mengangguk kecil.


Menyadari suasana, Rin dan Yuna pun memutuskan untuk menghentikan pembicaraan soal cinta untuk sementara.


“Eh, ngomong-ngomong, aku lagi punya rekomendasi kosmetik bagus banget, lho~”


—Begitulah, demi melonggarkan suasana yang sedikit menegang, Rin mulai mengalihkan pembicaraan ke topik lain. Namun, meskipun Rin sudah berusaha menghindari obrolan cinta demi menjaga perasaan Sara, para siswa di sekitar sama sekali tidak tahu cara membaca suasana. Mungkin karena cerita Sara terlalu mengejutkan.


(…Kalian dengar cerita Himekawa-san nggak… itu beneran kayak takdir jodoh, kan?)


(Laki-laki yang nolongin itu keren banget… kayak manga shoujo.)


(Situasi kayak gitu beneran bisa kejadian di dunia nyata, ya…)


Bisik-bisik para siswa memenuhi ruang kelas.


Para siswa yang sejak tadi tanpa sadar menguping gosip cinta para S-Class Beauty itu—hari ini Haruya juga termasuk salah satunya.


Pasalnya, isi cerita Sara terasa terlalu akrab baginya. Biasanya, Haruya yang tidak peduli dengan urusan kelas akan membiarkan cerita para S-Class Beauty itu masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Namun—


(Hah? Tunggu dulu. Cerita itu… aku merasa pernah mengalaminya. Katanya ditolong dari godaan laki-laki. Aku juga mengalami hal mirip, tapi jelas aku nggak sekeren laki-laki yang diceritakannya.)


Ia terkesan—dengan perbandingan yang sangat jauh dari dirinya sendiri. Sosok pria yang diceritakan Sara terdengar seperti pahlawan sejati, sementara tingkah Haruya kemarin lebih mirip hewan kecil lemah yang gemetar di hadapan binatang buas.


Kakinya gemetar hebat, wajahnya kaku, dan ia bahkan nyaris tak bisa bernapas dengan tenang.


(Makin dengar, makin sadar betapa menyedihkannya diriku… sudahlah, mending nggak usah dengar lagi.)


Menyadari sisi menyedihkan dirinya, Haruya pun kembali melamun tentang manga shoujo di dalam hatinya.



Beberapa saat kemudian, saat ia tenggelam dalam khayalan manga shoujo, waktu menuju dimulainya homeroom pagi tinggal kurang dari sepuluh menit. Banyak siswa mulai kembali ke bangku masing-masing.


Di tengah suasana itu, entah karena masih ingin mengobrol atau hanya butuh teman bicara, tiba-tiba seorang siswa laki-laki di bangku belakang menepuk bahu Haruya.


“Nih, nih, Akasaki, kamu dengar nggak?”


“…Hm?”


Haruya mengangkat tubuhnya yang terasa berat dan menoleh. Di sana ada seorang siswa laki-laki yang berbicara dengan nada bersemangat sambil memperlihatkan gigi taring kecilnya.


Meski terkejut karena namanya diingat di kelas tempat ia nyaris tak terlihat, Haruya justru merasa bersalah.


(…Aku senang sih dia ingat namaku, tapi… siapa dia ya?)


Melihat ekspresi bingung Haruya, sepertinya lawan bicaranya mengerti dan langsung memperkenalkan diri.


“…Ah, aku Kazamiya Yuuki. Maaf tiba-tiba ngajak ngomong. Aku cuma nggak bisa nahan rasa excited ini.”


Dari nada suaranya saja sudah jelas. Kazamiya Yuuki tampak seperti orang yang sangat ingin berbicara dengan siapa saja. Kebetulan saja Haruya duduk di depannya, jadi ia yang diajak bicara. Mungkin rasa malas Haruya sedikit terpancar di wajahnya.


Sesaat, suasana canggung menyelimuti mereka, tapi karena tak suka keheningan, Kazamiya membuka topik baru.


“Ngomong-ngomong, Akasaki, kamu dengar kan? Percakapan barusan.”


“…Percakapan siapa?”


“Para S-Class Beauty itu.”


“Oh—yang lagi jadi pusat perhatian di kelas itu, ya…”


“Kenapa nadanya kayak bukan urusanmu sih.”


“Memang bukan urusanku. Aku juga nggak tertarik.”


“Eh, serius…?”


Kazamiya menyipitkan mata, bukan karena kesal, melainkan setengah tak percaya.


Sebagai laki-laki, wajar kalau ingin dekat dengan gadis cantik. Biasanya, orang yang bilang “nggak tertarik” justru yang paling penasaran. Namun, dari nada suara Haruya yang datar dan tanpa emosi, Kazamiya yakin ia bicara serius.


“…Sekarang aku paham kenapa kamu kelihatan nggak ada ‘aura’ dan selalu sendirian, Akasaki.”


Sambil menghela napas, Kazamiya memegangi kepalanya.


Sengaja bersikap seperti itu, maka wajar kalau hasilnya juga begitu. Memang benar, tapi Haruya mengalihkan topik agar isi hatinya tidak terbaca.


“Tapi, aku memang dengar kok. Katanya Himekawa-san mengalami pertemuan yang terasa seperti takdir, kan?”


“Iya, iya. Cerita tentang Himekawa-san yang dapat pertemuan romantis. Aduh~ laki-lakinya itu benar-benar bikin iri.”


Setelah tertawa kecil dengan suasana hati yang cerah, Kazamiya berdeham.


“Tapi, katanya keluarga Himekawa-san itu ketat banget. Makanya aku penasaran, ke depannya bakal jadi gimana.”


“Oh, begitu.”


Haruya memang sempat mendengar soal perjodohan dan semacamnya, tapi karena merasa itu tidak ada hubungannya dengan dirinya, ia menanggapinya setengah hati. Namun—


“Haha, padahal ini berita besar sampai bikin banyak laki-laki termasuk aku yang syok. Tapi kamu bisa-bisanya kelihatan nggak peduli gitu, Akasaki.”


Meski Haruya berusaha menyembunyikannya, rupanya ia sudah ketahuan. Alasan Haruya mendengarkan cerita para S-Class Beauty bukan karena tertarik pada mereka, melainkan karena ceritanya sangat mirip dengan pengalamannya sendiri.


“…Tapi ya, setidaknya kamu harus tahu sedikit soal para S-Class Beauty itu.”


“Memangnya perlu?”


Dengan wajah heran, Kazamiya menyilangkan tangan dan mengangguk-angguk berulang kali.


“Perlu. Kalau nggak, kamu nggak bakal punya teman. Ya, mungkin kamu memang terlalu polos dan ‘kering’, Akasaki, tapi sebaiknya sedikit tertariklah.”


“…Kalau begitu, kenapa kamu sendiri nggak coba mendekati mereka secara aktif?”


Pendapat Haruya terdengar sangat masuk akal, tapi Kazamiya hanya tersenyum pahit sambil melambaikan tangan.


“Mana mungkin… mendekat aja rasanya udah nggak pantas.”


“Lagipula,” lanjutnya,


“Katanya selain Himekawa-san, Takamori-san dan Kohinata-san juga punya laki-laki yang mereka perhatikan. Ya, cuma rumor sih, belum tentu benar.”


Memang, menurut gosip kelas, Yuna dan Rin sama-sama pernah menyebut bahwa ada ‘laki-laki yang mereka perhatikan’. Namun, karena mereka pasti sering ditembak, banyak yang menduga itu cuma alasan untuk menolak para laki-laki—sehingga kebenarannya masih simpang siur.


“Pokoknya begitu. Intinya, kamu sebaiknya sedikit lebih peduli sama kelas ini.”


“Akan kuingat.”


“Oke, bagus.”


Setelah Kazamiya sedikit ikut campur, Haruya kembali menelungkupkan wajahnya di atas meja.


(…Lagian, mana mungkin aku punya hubungan apa pun dengan orang yang sampai dijuluki S-Class Beauty.)


Dengan gumaman itu di dalam hati, Haruya pun menyerah untuk berpikir lebih jauh.


***


Sore hari itu, sepulang sekolah. Setelah menyelesaikan pelajaran tanpa kendala, Haruya pulang sendirian dan akhirnya tiba di rumahnya.


“Aku pulang…”


Sambil membuka pintu, ia menggumamkan kata itu ke dalam rumah yang kosong.


Sejak tahun ini, Haruya yang masih duduk di kelas satu SMA mulai hidup sendirian, jadi memang tidak ada siapa pun selain dirinya di rumah. Meski begitu, entah kenapa menyapa rumah sudah menjadi kebiasaan baginya.


Tak mendengar balasan seadanya dari adik perempuannya—“selamat datang~” seperti yang biasa ia dengar di rumah orang tuanya—sedikit membuat hatinya terasa sepi.


Haruya punya seorang adik perempuan yang usianya setahun lebih muda. Meski adiknya itu usil dan menyebalkan, ketika ia tak ada, tetap saja muncul rasa hampa. Namun, itu soal lain.


Setelah berganti pakaian dan bersantai, Haruya mengecek akun media sosialnya. Di sana, ada satu pesan baru masuk, lalu Haruya pun membalasnya.


Nayu: Manga shoujo yang aku rekomendasikan, Haru-san sudah dibaca?


Haru: Sudah. Seru banget.


Setelah mengirim balasan itu, senyum kecil mengembang di wajah Haruya.


Di sekolah, Haruya selalu sendirian. Namun lewat media sosial, ia punya teman sehobi—orang-orang yang bisa berbagi kesukaan yang sama. Tiba-tiba, Haruya teringat bagaimana ia bisa bertemu dengan sesama penggemar manga shoujo yang memakai nama “Nayu” itu.


TLN : Gw tebak, Nayu ini pasti Yuna (w belum baca nih series samsek btw)


***


Pertemuan antara Nayu dan Haruya bermula sekitar dua bulan yang lalu.


Saat itu, Haruya baru saja menyelesaikan ujian masuk SMA. Sebagai hadiah karena berhasil melewati masa belajar yang berat, ia kembali menekuni salah satu dari sedikit hobinya: membaca manga shoujo.


Membaca setelah berakhirnya masa belajar panjang untuk ujian benar-benar menjadi pelepas penat terbaik. Bagi kebanyakan orang, keinginan yang lama dipendam akan meledak begitu dilepaskan. Haruya pun tak terkecuali.


Dengan prinsip “tahan dulu sampai ujian selesai”, Haruya mulai menghabiskan tumpukan manga shoujo yang selama ini ia simpan, lalu mengunggah kesannya ke media sosial.


Sejak saat itu, ia menjalani rutinitas tersebut. Alasan Haruya menulis kesan di media sosial sederhana saja: ia ingin punya teman untuk berbagi pendapat.


Sejak masa itu, Haruya memang tidak terlalu pandai bergaul. Meskipun membaca manga shoujo yang menurutnya menarik, ia tidak punya siapa pun untuk diajak berbagi atau berdiskusi. 


Karena rasa frustrasi tak bisa berbagi itulah, Haruya membuat akun media sosial khusus untuk mengunggah kesannya.


Nama pengguna yang ia pilih adalah “Haru”, diambil dari sebagian nama aslinya, Haruya.


Sebenarnya, ia tidak terlalu berharap akan ada balasan atas unggahan-unggahannya. Niatnya lebih kepada meluapkan perasaan yang sudah tak bisa ia pendam lagi. Namun, titik balik memang sering datang secara tiba-tiba. Membaca manga shoujo yang menarik, lalu mengunggah kesan—itulah rutinitasnya. Suatu hari, kolom balasan unggahan Haruya tiba-tiba “berwarna”.


“Maaf baru pertama kali membalas. Manga shoujo itu memang seru, ya. Aku benar-benar paham rasanya. Temanya memang agak minor, tapi justru di situlah daya tariknya. Haru-san… pilihanmu bagus sekali.”


Seorang rekan sehobi yang benar-benar memahami perasaannya akhirnya muncul.


Nama akun itu adalah “Nayu”.


Diliputi rasa terharu dan gembira karena menemukan sesama penggemar, Haruya segera membalas. Sejak itu, Nayu pun mulai sering menanggapi unggahan-unggahan Haruya yang lain dengan komentar penuh empati.


Seiring seringnya mereka bertukar pesan, mereka menyadari bahwa selera cerita dan genre manga shoujo yang mereka sukai sangat cocok.


Melalui media sosial, jarak antara Haru dan Nayu pun semakin dekat.

Perlahan, mereka mulai saling berbincang tentang hal-hal pribadi, hingga akhirnya tahu bahwa mereka tinggal tidak terlalu jauh satu sama lain.


Sekarang, mereka menjaga obrolan pribadi tetap secukupnya, sambil saling merekomendasikan manga shoujo favorit. Sesekali, mereka juga bertemu langsung dalam pertemuan kecil untuk berdiskusi dan berbagi kesan.


Begitulah hubungan yang akhirnya terjalin di antara mereka.


***


Nayu: Hei, dengar nggak? Haru-san

Nayu: Halo, aku tahu sudah dibaca, lho

Haru: …maaf, tadi lagi mikir


Begitu menyadari bahwa Nayu sudah menagih balasan, Haruya buru-buru membalas pesannya.


Tentu saja ia tak mungkin mengatakan bahwa ia sedang mengingat kembali bagaimana dirinya bisa bertemu dengannya, jadi ia hanya bisa mengaburkan jawabannya.


Meski hanya lewat layar, Haruya bisa membayangkan Nayu sedang manyun sambil menggembungkan pipinya. Tanpa sadar, Haruya tersenyum kecut, lalu mengalihkan topik seolah untuk menutupinya.


Haru: Ngomong-ngomong, hari ini ada kejadian gila. Mau dengar?

Nayu: Kejadian gila? Emang apa?

Haru: Jadi gini, hari ini di kelas ada cerita yang heboh

Nayu: Oh ya? Cerita apa?


Setelah memastikan Nayu tertarik, Haruya langsung mulai menceritakannya.


Ia bercerita tentang seorang siswi di kelasnya yang ditolong dari kejadian pelecehan jalanan. Karena sehari sebelumnya Haruya sendiri, secara kebetulan, juga sempat menolong seorang gadis cantik dari kejadian serupa, cerita tentang siswi itu terasa sangat membekas baginya. Lagipula, selama ini Haruya mengira hal-hal seperti pelecehan jalanan hanya ada di fiksi. Fakta bahwa ia mengalaminya langsung membuat kesan itu semakin kuat tertanam di benaknya.


Begitu Haruya selesai bercerita, balasan darinya langsung datang.


Nayu: Pelecehan jalanan itu sih sebenarnya cukup sering, tapi ini tetap bikin kaget…

Haru: Hm? Bagian mana yang bikin kaget?

Nayu: Soalnya hari ini aku juga dengar cerita yang mirip dari temanku

Haru: Oh, begitu ya

Nayu: Iya, jadi rasanya kebetulan banget

Haru: Mungkin hal begitu memang lebih dekat dari yang kita kira

Nayu: Sepertinya begitu


──Setelah pembicaraan itu terasa selesai, Haruya memberi tanda “like” pada pesan terakhir Nayu.


Merasa obrolan sudah berakhir, ia pun hendak menyimpan ponselnya. Namun, notifikasi baru langsung masuk.


Pengirimnya sudah pasti—Nayu.


Nayu: Jangan tiba-tiba nutup obrolan dong

Haru: Maaf, masih ada yang mau dibahas?

Nayu: …kamu pikir aku menghubungimu hari ini buat apa?


Haruya terdiam, dibalas pertanyaan dengan pertanyaan. Dari balik layar pun ia bisa merasakan ekspresi kesal Nayu. 


Dengan ragu-ragu, ia membalas dengan nada penuh penyesalan.


Haru: Buat bahas manga shoujo… kan?

Nayu: Iya. Makanya, itu lho. Yang itu

Haru: Yang itu?

Nayu: Iya, yang itu


Meski dibilang “yang itu”, Haruya sama sekali tidak menangkap maksudnya. Karena balasannya terlalu lama, Nayu sepertinya kehilangan kesabaran dan langsung mengirim pesan lagi.


Nayu: …ketemuan, ketemuan langsung

Haru: Oh, off meeting ya

Nayu: Iya. Jangan bikin aku yang ngomong dulu dong. Aku malu, tahu


Sepertinya merasa canggung untuk bertemu langsung, Nayu membalas demikian.


Haruya mengirimkan satu kata permintaan maaf, lalu mulai membahas jadwal pertemuan secara lebih konkret.


Nayu: Kalau akhir pekan depan gimana? Kamu kosong?

Haru: Kosong, bisa

Nayu: Oke. Berarti minggu depan ya. Haru-san, selama itu cari manga shoujo yang seru ya

Haru: Siap


Sambil menghela napas pelan, Haruya menyandarkan tubuhnya ke sofa. Lalu ia mengingat kembali percakapan barusan.


(…jadi Nayu-san pakai kacamata hitam karena malu kalau ketemu langsung, ya)


Haruya sudah beberapa kali bertemu Nayu dalam off meeting sebelumnya, dan setiap kali itu pula Nayu selalu datang mengenakan kacamata hitam. Karena itu, setelah mengetahui sisi pemalunya lewat percakapan barusan, Haruya tanpa sadar tersenyum.


(Kalau aku bilang, pasti dia bakal marah… tapi Nayu-san punya sisi yang lucu juga, ya)


***


Malam hari itu.


Di bawah cahaya bulan yang bersinar seolah menegaskan keberadaannya di langit malam, Haruya mengunjungi sebuah tempat langganannya untuk makan malam.


Tempat itu adalah sebuah kafe kecil.


Menu makanan dan minumannya beragam, porsinya besar, harganya terjangkau—sebuah tempat tersembunyi yang menjadi sekutu terbaik para remaja laki-laki di masa pubertas.


Dalam minggu yang ramai, Haruya bisa datang sampai tiga kali. Bisa dibilang, ia sudah termasuk pelanggan tetap.


Mungkin karena lokasinya berada di pinggiran kawasan pusat kota, suasana kafe ini selalu tenang, baik di hari kerja maupun akhir pekan, dibandingkan toko-toko lain.


Alih-alih bergaya modern dan trendi, interior maupun eksteriornya justru memancarkan nuansa retro khas kedai lama. Atmosfernya seperti kafe yang sudah berdiri sejak lama, sehingga mungkin tanpa sadar memilih pelanggannya sendiri.


Haruya sangat menyukai kopi yang disajikan di tempat ini. Katanya, kopi diseduh dari biji pilihan khusus, sehingga aroma dan rasanya sama-sama kuat dan kaya.


Hal pertama yang ia rasakan begitu masuk ke dalam kafe adalah sedikitnya jumlah pelanggan. Mungkin karena jam ramai sudah lewat, suasana tenang dan hening menyelimuti seluruh ruangan.


Setelah duduk di kursi dekat jendela bagian belakang, Haruya bahkan tak perlu melihat buku menu dan langsung memanggil pelayan.


“Permisi…”


Begitu ia memanggil, terdengar langkah kaki ringan—tototo—dan seorang pegawai perempuan yang seusia dengannya, sekaligus sudah ia kenal, mendekat.


“Baik, mohon tunggu sebentar.”


Suara jernih seperti bunyi lonceng kecil sampai ke telinga Haruya.


──Katsukatsu, katsukatsu.


Langkah kaki ringan itu makin mendekat, membuat Haruya tanpa sadar menoleh ke arah suara. Padahal sudah sering melihatnya, entah kenapa hatinya tetap terasa berdebar. Mungkin karena penampilannya.


Busana monokrom dengan hiasan renda yang mengembang—sekilas bisa disangka pakaian maid—dipadukan dengan kacamata yang memberi kesan dewasa. Rambutnya, yang sepertinya sepanjang bahu, diikat rapi ke belakang. Tubuhnya kecil dan ramping, wajahnya kekanak-kanakan. Karena kombinasi itu, hampir tak terasa aura sensual darinya.


Sekilas memang terlihat sederhana, tapi menyebutnya gadis cantik sama sekali tidak berlebihan. Sudut bibir pegawai perempuan itu membentuk setengah lengkungan, menampilkan senyum lembut.


“Onii-san… halo.”


“…Halo, Kohinata-san.”


Mereka saling menyapa singkat.


Setelah berdeham kecil, pegawai perempuan itu—dengan sikap sopan yang agak dibuat-buat—bertanya, “Pesanannya mau apa?”


Dari percakapan barusan, jelas bahwa Haruya dan pegawai perempuan itu sudah saling mengenal.


“Seperti biasa saja?”


“Iya. Paket carbonara, minumnya kopi panas.”


“Baik, mohon tunggu sebentar.”


Ia melayani sesuai buku panduan, membungkuk kecil, lalu berbalik pergi. Tepat saat itu, ia berbisik pelan ke telinga Haruya.


“Sebentar lagi jam istirahatku, jadi tunggu ya.”


Tubuh Haruya refleks tersentak kaget, namun ia segera mengangguk kecil. Pegawai itu pun pergi dengan ekspresi puas.


Sekitar sepuluh menit kemudian, makanannya datang. Setelah mengucapkan “selamat makan”, Haruya mulai menikmati hidangannya. Tak lama berselang, pegawai perempuan itu—yang sepertinya sudah memasuki jam istirahat—duduk di kursi seberangnya.


“Sekali lagi, halo, Onii-san.”


“Halo, Kohinata-san.”


“Onii-san kenapa lihat sekeliling terus?”


Melihat ekspresi Haruya yang agak canggung, Kohinata membuka matanya lebar-lebar.


“Aku cuma mikir, apa nggak apa-apa kamu duduk di sini begitu saja. Walaupun lagi jam istirahat…”


“Sekarang kafenya sepi kok. Aku juga sudah dapat izin dari manajer, jadi aman. Ini kan sudah biasa, ya?”


Dengan suara tenang, Kohinata menyipitkan matanya, menatapnya dengan kesan sedikit menyelidik. Seolah berkata, ‘kenapa sekarang baru dipermasalahkan?’


Memang benar, berbincang dengannya saat jam istirahat sudah jadi kebiasaan. Tapi tetap saja, itu bukan sesuatu yang mudah dibiasakan.


Sambil tersenyum kecut dan menyuapkan carbonara ke mulut, Kohinata tiba-tiba membuka topik.


“…Onii-san, nggak ada cerita cinta atau semacamnya?”


“…Hah? Tiba-tiba banget.”


Ucapan mendadak itu membuat Haruya hampir tersedak.


“Soalnya, Onii-san jarang banget cerita soal dirinya sendiri, kan. Kupikir Onii-san pasti populer di sekolah, jadi aku penasaran dengan kabar terkinimu.”


Haruya selalu memisahkan dengan jelas dirinya dalam kehidupan pribadi dan yang lain. Dirinya yang tampil rapi saat keluar rumah, dan dirinya di sekolah yang berusaha tidak menonjol, adalah dua hal yang benar-benar berbeda. Ditambah lagi—


(Aku nggak mungkin bilang kalau aku sengaja nggak mau menonjol karena sekolah itu ribet, jadi aku pura-pura nggak kelihatan…)


Apalagi karena ia disangka populer, semakin sulit baginya untuk berkata jujur. Karena itulah, bahkan kepada Kohinata—dan juga kepada Nayu yang ia kenal lewat SNS—Haruya tidak pernah menceritakan dirinya di sekolah.


“Kabar terbaru… ya, susah juga jelasinnya. …Oh.”


Saat berpikir tak ada cerita cinta apa pun, Haruya tiba-tiba teringat sesuatu. Tentang siswi di kelasnya yang katanya ditolong dari kejadian pelecehan jalanan.


“Kelihatannya menarik. Kalau tidak keberatan, ceritakan dong.”


“Kalau dipikir-pikir, ada satu sih…”


Lalu Haruya menceritakan kepada Kohinata tentang kabar bahwa seorang siswi di kelasnya pernah ditolong saat sedang diganggu.

Mendengarnya, Kohinata mengangguk kecil dengan ekspresi penuh minat.


“──Begitu ya. Gadis cantik memang sering jadi sasaran godaan, ya.”


Mungkin ia juga punya pengalaman serupa, karena ia memperlihatkan ekspresi seperti sedang menggigit rasa pahit.


“Temanku juga katanya pernah digoda. Aku dengar ceritanya hari ini di sekolah.”


“B-begitu ya…”


Haruya membelalakkan mata dan sempat terdiam.


Soalnya, setelah Nayu, kini dia juga mengatakan hal yang sama: mendengar cerita tentang teman yang digoda.


“Ada apa? Kenapa Onii-san kelihatan begitu kaget?”


“Bukan apa-apa. Soalnya, aku nggak pernah kepikiran kalau godaan di jalan itu benar-benar ada di dunia nyata.”


Kalau di karya fiksi bertema romansa, termasuk manga shoujo, godaan di jalan adalah trope yang sering muncul. Tapi bagi Haruya, kejadian seperti itu baru pertama kali ia saksikan dengan mata kepalanya sendiri—yaitu kemarin.


Karena itu, fakta bahwa godaan semacam itu hanyalah bagian dari keseharian terasa cukup mengejutkan baginya. Sambil menatap mata Haruya, ia merapatkan bibirnya dengan ragu.


“…Sebenarnya agak susah mengatakannya, Onii-san. Tapi aku ingin dengar cerita cinta yang ada hubungannya dengan Onii-san sendiri.”


Sepertinya cerita Haruya barusan belum memuaskannya.


Haruya refleks menampilkan ekspresi jelas tidak suka, tetapi gadis itu terus menatapnya dengan mata bulat tanpa mengalihkan pandangan.


Mata ungu yang mengingatkan pada bunga kikyou itu seakan berkata bahwa ia tidak akan membiarkannya lolos.


(Aku sebenarnya nggak ingin membicarakan ini, tapi… ya sudahlah.)


Haruya mengangkat bahu, lalu memutuskan untuk menceritakan bahwa ia pernah menolong seorang gadis yang sedang digoda. Namun, jika ia menceritakan semuanya apa adanya, kesannya akan terlalu memalukan. Jadi ia hanya menyampaikan fakta bahwa ia menolong, tanpa detail lain.


“──Onii-san, itu keren banget!”


Begitu Haruya selesai bercerita, gadis itu tampak puas. Ia condong ke depan, bibirnya melengkung longgar.


Entah kenapa, mata gadis itu tampak berbinar.


“Menolong orang dari godaan seperti itu butuh keberanian, lho. Dan kenyataannya, tidak banyak orang yang benar-benar bisa maju membantu. Nah, itu! Itu yang ingin kudengar. Semoga Onii-san bisa bertemu lagi dengan gadis yang kau tolong itu…!”


Tak bisa menyembunyikan antusiasmenya, namun tetap dengan sikap tenang, ia mengangguk berkali-kali.


“Y-ya, mungkin. Tapi… kurasa sudah tidak mungkin bertemu lagi.”


(…Lagi pula, meski bertemu, pasti Cuma jadi memalukan, jadi aku juga nggak ingin bertemu lagi.)


Sambil tersenyum kecut, Haruya memalingkan wajahnya dari Kohinata.


“Bukan begitu! Orang itu pasti ingin mengucapkan terima kasih langsung pada Onii-san.”


Justru itulah yang paling tidak diinginkan Haruya… tapi saat itu, ia belum tahu. Bahwa akhir pekan ini, ia akan bertemu kembali dengan gadis tersebut—dan benar-benar menerima ucapan terima kasih darinya.


***


Malam semakin larut, waktu sudah lewat pukul sepuluh malam. Himekawa Sara yang telah selesai bersiap untuk tidur tak juga bisa terlelap. Di dalam ranjang, ia gelisah, bolak-balik tak menentu.Dengan mata terbuka, Sara menatap lampu tidur selama beberapa saat.


Sara memiliki sebuah rahasia kecil. Ia tidak bisa tidur tanpa lampu tidur menyala. Namun, meski lampu tidur sudah menyala, ada alasan lain mengapa malam ini ia tetap tidak bisa tidur…


(Sepertinya aku masih terus memikirkan soal belum sempat mengucapkan terima kasih…)


Benar. Pikiran Sara saat ini dipenuhi oleh satu orang pria. Pria yang kemarin menolongnya dari orang menakutkan itu—ia ingin sekali bisa mengucapkan terima kasih dengan benar. Pikiran itulah yang terus menghantuinya.


Sara menyesali kenyataan bahwa saat itu ia tidak bisa menyampaikan rasa terima kasihnya dengan layak kepada pria yang telah menyelamatkannya dari godaan.


Dengan kepribadiannya yang begitu sopan dan bertanggung jawab, penyesalan itu pun wajar. Namun, wajar pula jika ia tak mampu bersikap tenang dan santun saat itu.


Bagaimanapun juga, sebelumnya ia terus ditekan secara agresif oleh pria berwajah sangar, hingga hatinya dipenuhi rasa takut.


(Lagi pula… pria itu memang keren.)


Bukan hanya sikap dan tindakannya—kalau jujur, wajahnya pun sesuai dengan selera Sara. Sampai-sampai ia hampir merasa seperti sedang diselamatkan oleh pangeran berkuda putih—


“A-apa yang sedang kupikirkan sih…”


Sara menyadari seluruh tubuhnya terasa panas. Ia membenamkan wajahnya yang memerah ke bantal, lalu menendang-nendangkan kakinya di atas ranjang.


(Hanya karena pernah diselamatkan dari situasi tak terduga bukan berarti aku langsung jatuh cinta. Aku tidak segampang itu.)


Ia menegaskan hal itu pada dirinya sendiri.


Bagaimanapun juga, ia adalah putri keluarga Himekawa. Ia hanya terus memikirkan pria itu karena belum sempat mengucapkan terima kasih—tidak lebih dari itu.


Menghela napas pelan, Sara menyalakan aplikasi chat di ponselnya untuk menenangkan diri. Saat melihat layar, ternyata sudah ada banyak notifikasi masuk. Semuanya berasal dari satu grup chat. 

Grup yang beranggotakan Sara, Yuna, dan Rin—yang biasa disebut sebagai grup khusus “S-Class Beauty”. Begitu membaca isi pesan-pesan itu, mata Sara membelalak.


“…Eh?”


Dengan suara bingung, Sara refleks bersuara.


Tak heran ia terkejut—Rin dan Yuna, yang biasanya jarang membicarakan urusan cinta mereka sendiri, kini justru sedang membahasnya dengan serius. Di layar ponsel Sara, percakapan berikut terpampang:


『Dengarin nih, kalian berdua! Di tempat kerjaku ada pelanggan tetap, dan dari dulu aku sudah merasa dia itu menarik. Terus, sesuai dugaanku, nilai plus dia naik lagi hari ini~』


『Oh ya? Rin, memangnya ada kejadian apa?』


『Mirip dengan cerita Sarachin, sih. Katanya dia menolong gadis cantik yang sedang digoda』


『…Eh? Digoda?』


『Kenapa kaget gitu, Yunarin?』


『Soalnya kebetulan, orang yang lagi aku perhatikan juga cerita soal godaan hari ini』


『Eh~ Yunarin juga!? Kebetulan banget ya!』


Dari balik layar, terasa jelas betapa ceria dan bersemangatnya percakapan mereka berdua.


Entah kenapa, Sara merasa seolah hanya dirinya yang tertinggal sendirian, membuat dadanya terasa sesak. 

Mungkin karena mereka melihat tanda “dibaca”, Rin pun mengirim pesan khusus untuk Sara.


『Sarachin juga semoga bisa ketemu lagi sama orang itu dan mengucapkan terima kasih dengan benar ya…!』


『Iya』


Tak lama kemudian, balasan dari Yuna juga menyusul.


Sara membalas dengan, “Terima kasih,” lalu menyimpan ponselnya dan memutuskan untuk tidur malam itu.


(…Kalau saja aku bisa bertemu lagi dengan pria itu.)


Meski setengah pasrah soal kemungkinan tersebut, Sara belum tahu.

Bahwa akhir pekan ini, ia akan bertemu kembali dengan pria itu.


***


Baiklah, setelah itu berlalu beberapa waktu. Waktu memang berjalan cepat, dan akhirnya akhir pekan pun tiba.


Saat itu, Haruya berada di sebuah toko pakaian yang menempel pada pusat perbelanjaan besar. Dengan penampilan yang lebih rapi dan modis, Haruya datang ke tempat itu untuk menambah koleksi pakaiannya.


(…Hari ini kan hari diskon. Aku tahu dari iklan, tapi syukurlah jumlah pengunjungnya tidak sebanyak yang kubayangkan.)


Ketika hidup sendiri, meskipun masih mendapat dukungan dari orang tua, penghematan tetaplah penting. Karena itu, bagi Haruya, tidak mungkin melewatkan kesempatan di hari diskon ini.


Ia berkeliling melihat-lihat barang yang masuk dalam promo, lalu mengambil beberapa potong pakaian yang disukainya.


Sambil menimbang isi dompetnya, ia menyeleksi mana saja yang bisa dibeli, lalu hendak menuju kasir. Namun tepat saat itu—seorang wanita yang melewati sisi Haruya tampak terhuyung-huyung, mungkin karena memeluk terlalu banyak pakaian. Langkah kakinya tidak stabil, terlihat seperti bisa terjatuh kapan saja.


Merasa khawatir, Haruya tak bisa mengalihkan pandangan, dan benar saja, wanita itu hampir terjatuh. Haruya segera berlari menghampirinya—


“Anda baik-baik saja?”


Ia menopang wanita itu dengan menahan bahunya yang ramping. Bukan karena maksud tertentu—hanya karena ia tak tega membiarkannya terjatuh tepat di depan mata.


Dilihat sekilas dari punggungnya saja, sudah jelas bahwa wanita itu tampak manis. Blus putih yang dipadukan dengan rompi hitam di luarnya terlihat serasi, dan karena dadanya cukup besar, kancing-kancingnya tampak sedikit tertarik hingga terlihat melengkung.


“…A-ah, terima kasih.”


Dengan suara sedikit bergetar, wanita itu berkata demikian sambil menatap wajah Haruya.


“…Eh.”


Beberapa detik berlalu. Haruya tanpa sadar meragukan penglihatannya sendiri. Tampaknya pihak lawan pun sama—ia berkedip beberapa kali lalu membeku di tempat.


(Wanita ini sepertinya… tidak mungkin, kan?)


Yang terlintas di benak Haruya adalah gadis yang digoda seminggu lalu. Meski pakaiannya berbeda dari saat itu, wajahnya yang masih menyisakan kesan polos, sepasang mata yang berkilau, serta rambutnya yang berkilau, tak mungkin ia salah kenali.


Gadis yang berdiri di hadapan Haruya sekarang tidak diragukan lagi adalah gadis itu.


“Kamu… yang waktu itu…”


Yang lebih dulu membuka mulut adalah gadis waktu itu.


Dalam hati Haruya ingin berkomentar, “Ini kebetulan macam apa,” tetapi apakah pihak lawan akan menganggapnya sebagai kebetulan adalah hal lain.


Karena takut dicurigai sebagai penguntit akibat kejadian yang terlalu kebetulan ini, Haruya justru berpikir berlebihan dan berniat menjauh dari tempat itu.


(…Baiklah, anggap saja aku tidak melihat apa-apa.)


Sambil tersenyum kecut, ia memutar badan dan hendak pergi. Namun, ujung pakaiannya ditarik oleh gadis itu.


“T-tunggu sebentar. Tolong biarkan aku mengucapkan terima kasih… termasuk untuk yang sebelumnya.”


“E-eh, sepertinya Anda salah orang.”


Haruya berkata demikian dengan senyum lembut. Dia itu sempat terlihat bingung sejenak, tetapi segera memasang ekspresi serius dan melanjutkan,


“…Tolong biarkan aku mengucapkan terima kasih.”


(…Serius diabaikan begitu saja!?)


Meski begitu, Haruya menghela napas pelan dan akhirnya pasrah.


“Tidak perlu sampai berterima kasih segala… aku tidak melakukan hal besar kok.”


Baik soal kejadian digoda sebelumnya maupun yang barusan, Haruya sebenarnya tidak merasa telah melakukan sesuatu yang istimewa. Kali ini pun ia hanya kebetulan menopangnya karena hampir terjatuh. Bahkan, bisa saja sebenarnya wanita itu mampu menahan diri sendiri, dan Haruya hanya terlalu cepat bereaksi.


Namun, gadis cantik yang berdiri di depannya kini menatapnya dengan mata yang bergetar penuh kecemasan, seolah tak berniat mengalihkan pandangannya.


Di situlah Haruya akhirnya mengerti.


(…Dia khawatir merasa berutang budi, ya.)


Padahal, ia sendiri tidak merasa pantas menerima rasa terima kasih sebesar itu…namun bagaimanapun juga, gadis ini adalah seorang gadis cantik. Dan tak mengherankan bila ada orang-orang yang, dengan niat tak murni, ingin mendekatinya memanfaatkan kesempatan.


Karena itu, mungkin inilah cara dia sendiri untuk memberi penutup yang jelas.


“…Tidak boleh?”


Dengan mata yang berkaca-kaca, ditambah tekanan yang seakan tak memberinya ruang untuk menolak, Haruya akhirnya menyerah.


“Ba-baiklah…”


“Terima kasih banyak!”


Begitu Haruya mengangguk, wajah Sara langsung berseri cerah dan ia menampilkan senyum yang begitu menawan.


“Kalau begitu, bagaimana kalau kita masing-masing menyelesaikan belanja pakaian dulu, baru setelah itu kita pergi?”


“Tidak perlu sungkan berlebihan, tidak apa-apa kok.”


Akhirnya, setelah membeli pakaiannya, Haruya pun—meski hanya sebentar—akan menghabiskan waktu bersama seorang gadis cantik.


***


Dia baru menyesal karena tidak menolak permintaan gadis itu—setelah mereka mampir ke sebuah restoran keluarga di dekat situ.


(Canggung banget… dan perutku sakit.)


Tempat yang didatangi Haruya dan dia adalah restoran keluarga dari jaringan besar bernama Kokomi. Dengan harga yang terjangkau dan pilihan menu yang melimpah, restoran ini populer dan disukai semua kalangan usia.


Terlepas dari itu. Di depan mata Haruya terhidang doria, pizza, kentang goreng, dan salad, sementara suasana canggung dan ketegangan aneh menguasai sekitar mereka.


Jika dilihat dari luar, Haruya dan gadis itu mungkin tampak seperti pasangan muda yang masih kikuk.


"A-a-anu… sekali lagi, untuk minggu lalu dan juga hari ini, terima kasih banyak!"


Yang memecah keheningan canggung justru gadis itu. 


Dengan punggung ditegakkan dan ekspresi yang sedikit kaku, dia menundukkan kepala dengan sopan. Dari sikap dan nada suaranya, jelas sekali betapa gugupnya dia.


(Kalau kamu segugup itu… aku jadi makin gugup juga. Tolonglah…)


Mungkin karena merasa malu, Haruya mulai memainkan ujung rambutnya dengan jari. Dia tidak ingin wajahnya yang memerah itu terlihat.


"Ah, i-iya, sama-sama?"


Sejujurnya, Haruya tetap merasa tidak melakukan sesuatu yang istimewa. Namun, jika dia mengatakan itu, kemungkinan besar gadis itu akan kembali menyangkal dengan, "Tidak, itu tidak benar." Dan akhirnya pembicaraan akan berjalan di tempat. Karena itu, Haruya memutuskan untuk menerima rasa terima kasihnya dengan jujur. 


Meski begitu, mungkin karena tidak terbiasa diberi ucapan terima kasih, jawabannya jadi terdengar ragu-ragu.


Melihat Haruya seperti itu, gadis tersebut terkekeh kecil.


"Fufu… jawabannya malah jadi seperti pertanyaan. Tapi, tolong terima rasa terima kasihku dengan baik, ya. U-untuk hari ini, sebagai ucapan terima kasih, silakan makan sepuasnya."


"Tidak, ini saja sudah lebih dari cukup kok."


Tadi, Haruya sebenarnya berniat memesan satu porsi doria saja, tapi dia berkata, "Tolong jangan sungkan," dan akhirnya Haruya juga memesan pizza dan kentang goreng.


Sementara salad dipesan karena gadis itu—mungkin karena terlalu perhatian—mengkhawatirkan kesehatan Haruya. Menu yang dia pesan sendiri adalah pasta genovese udang dan alpukat.


Benar-benar kelihatan seperti menu yang populer di kalangan perempuan, pikir Haruya sambil tersenyum kecut.


"Hmm, begitu ya. Kalau begitu tidak apa-apa sih."


Dia tampak agak tidak puas, tapi setelah melihat senyum kecut Haruya, entah kenapa ekspresinya sedikit melunak.


Setelah mengucapkan selamat makan, saat Haruya hendak menyuapkan makanan ke mulutnya, dia menyadari ada tatapan yang tertuju padanya. Sepertinya gadis yang duduk tepat di depannya sedang menunggu Haruya mulai makan. Tak tega mengecewakan harapan di balik tatapan itu, Haruya pun mulai dengan doria.


"…Enak."


"Syukurlah, senang mendengarnya."


Rasa doria itu creamy dan pas di lidah. Menu klasik memang jarang mengecewakan. Namun, karena Sara terus menatapnya, Haruya jadi makin tegang.


(Dipandangi sambil makan oleh gadis secantik ini… rasanya hampir seperti siksaan.)


Haruya sendiri tidak punya ketahanan terhadap perempuan. Apalagi gadis yang duduk di hadapannya adalah seorang gadis cantik dengan tubuh yang sangat menarik. Tak heran jika terus ditatap oleh kecantikan dan tubuhnya yang menggoda membuat Haruya gugup.


"…E-ehm, mungkin agak aneh kalau aku yang bilang, tapi silakan makan tanpa sungkan juga. M-makanannya nanti keburu dingin soalnya."


Tentu saja dia tidak bisa mengungkapkan isi hatinya yang sebenarnya—“Tolong makan juga! Suasananya canggung!”—itulah kejujuran Haruya.


"Benar juga. Kalau begitu, aku juga mulai makan."


Nada suaranya membuat Haruya merasa seolah-olah dia memang menunggu sampai Haruya yang mengatakan itu, dan hal itu menimbulkan sedikit rasa janggal. Namun, rasa janggal itu langsung lenyap begitu dia mulai menyantap pastanya. Mungkin karena menikmati rasanya, ekspresi Sara menjadi cerah dan pipinya mengendur. Haruya sempat tanpa sadar menatapnya, tapi segera menggelengkan kepala kecil, lalu kembali menyuapkan makanan ke mulutnya.


Setelah makan, tepat saat Haruya berpikir untuk segera menuju kasir—dia menyadari bahwa gadis itu sesekali melirik menu pajangan dessert edisi terbatas.


Iklan chiffon cake lemon.


Mungkin karena produk musiman, menu itu dipajang mencolok di setiap meja. Dari gerak-geriknya, sepertinya dia ingin memesan.

Kemungkinan besar memang begitu, tapi dia melirik Haruya dengan pandangan sungkan, seolah sedang menunggu reaksinya.


(…Kalau mau, tinggal pesan saja sebenarnya.)


Meski begitu, sepertinya dia sedang berusaha bersikap perhatian.


Sejujurnya, perut Haruya sudah cukup penuh, tapi tampaknya dia memutuskan untuk sedikit peka terhadap situasi.


"…Maaf. Aku ingin memesan produk edisi terbatas itu di akhir, boleh?"


"Eh…"


Mungkin karena tidak menyangka, mata besarnya terbelalak sejenak.

…Namun hanya sesaat, sorot matanya langsung kembali seperti semula.


"Tidak masalah kok… k-kalau begitu aku juga pesan."


Dengan sudut bibir sedikit terangkat, dia menjawab begitu. 


Akhirnya mereka berdua memesan dessert edisi terbatas itu—chiffon cake lemon. Setelah menunggu sebentar, yang datang adalah chiffon cake dengan saus putih dan hiasan daun mint, tampilannya sekilas memberi kesan mewah.


Bagi Haruya, ini adalah pertama kalinya dia memesan dessert di restoran keluarga, tapi… kualitasnya terasa serius dan cukup tinggi, sampai-sampai dia terkesan.


Sepertinya gadis itu juga merasakan hal yang sama. Meski tidak terlalu terlihat dari ekspresinya, entah kenapa mata itu tampak sedikit berbinar.

Tanpa menunggu lama, mereka berdua menyuapkan chiffon cake lemon itu ke mulut. Aroma segar lemon dan manisnya adonan menyebar di dalam mulut—rasa yang benar-benar memanjakan.


Tanpa sadar, Haruya menoleh ke arahnya sambil mengecap, dan melihat pipinya tampak meleleh bahagia, menampilkan ekspresi yang begitu memikat. Bukan berarti Haruya memiliki perasaan khusus padanya, tapi senyuman seorang gadis cantik memang tidak pernah membosankan untuk dipandang. Benar-benar menyejukkan mata.


…Namun begitu mata mereka bertemu, senyum itu sedikit meredup.

Entah kenapa, hal itu membuat Haruya merasa sedikit kecewa.


"E-ehm, ada apa?"


Menyadari tatapan Haruya, dia memiringkan kepala dengan gerakan kecil.


"T-tidak, cuma berpikir kuenya enak sekali."


Tentu saja Haruya tidak mungkin mengatakan, “Aku sedang melihat senyummu,” jadi dia mengelak dengan alasan seadanya.


Sejenak gadis itu mengernyitkan alis, mungkin merasa heran dengan sikap Haruya yang tiba-tiba gugup. Tapi seolah teringat sesuatu, dia tersentak kecil dan menarik napas.


"A-ah, anu… terima kasih banyak. Karena sudah begitu perhatian."


"……"


Mengabaikan Haruya yang terdiam, dia melanjutkan dengan sungguh-sungguh.


"Agar aku mudah memesan chiffon cake ini, kamu sengaja bilang ingin chiffon cake, kan…?"


"A-apa maksudmu…"


"Terima kasih…!"


Haruya mencoba berpura-pura tidak tahu, tapi tampaknya semuanya sudah ketahuan.


(…Padahal perhatian seperti ini seharusnya dilakukan tanpa disadari lawan bicara. Tapi malah ketahuan. Aku memang masih payah ya…)


Menghindari tatapan gadis itu yang entah kenapa terasa panas, Haruya memalingkan wajah. 


Untuk mengusir rasa malu, dia buru-buru mengganti topik.


"Ngomong-ngomong, kue ini enak sekali ya."


"Iya. Aku juga kaget karena jauh di atas ekspektasi. Soalnya dessert itu sering banyak yang zonk, tapi yang ini benar-benar kena."


"Oh, gitu ya. Tidak menyangka."


"Tidak menyangka…?"


Dia bertanya balik, seolah tidak mengerti maksudnya.


"Eh… mungkin terdengar tidak sopan, tapi kamu kelihatan seperti tipe yang tidak punya makanan yang tidak disukai."


Di mata Haruya, dia terlihat seperti gadis yang dibesarkan dengan baik. Bukan berarti apa-apa, tapi karena itu Haruya merasa agak terkejut mendengar dia punya makanan yang tidak disukai. Mendengar itu, dia tertawa kecil sambil menutup mulut dengan tangan.


"Fufu… maksudnya ‘kelihatan tidak punya pantangan’ itu apa, sih?"


Ekspresinya seakan berkata, “Memangnya ada orang seperti itu?”


"Panna cotta atau anmitsu itu, tergantung toko, sering banget ada yang enak dan ada yang tidak. Lagipula aku juga tidak suka hati ayam atau kopi—hal-hal yang pahit."


Dia mengatakannya dengan sedikit semangat. Kalau diperhatikan, sudut matanya agak turun dan ekspresinya terlihat alami. 


Merasa ketegangan perlahan menghilang, tanpa sadar pipi Haruya pun mengendur.


"E-eh, kenapa?"


"Soalnya begitu topik makanan yang tidak disukai muncul, kamu langsung bersemangat, jadi kelihatan menggemaskan."


"A-ah, e-eto… m-maaf."


Mungkin karena merasa malu setelah ditunjukkan begitu, dia menunduk, lalu melirik ke atas dengan pandangan mencuri-curi.


"Tidak, itu bukan hal yang perlu diminta maaf. Menurutku, bisa menyampaikan pendapat sendiri dengan jelas itu hal yang penting."


"…!"


Seolah tidak menyangka akan mendengar kata-kata itu, matanya menunjukkan kilatan keguncangan.


"…Begitu, ya."


Dengan nada yang terdengar seperti mengejek dirinya sendiri, dia bergumam pelan, entah kepada siapa. Lalu, dia kembali menundukkan wajah. Seakan ingin berkata bahwa dirinya tidak pantas untuk itu.

Melihat sikapnya, Haruya tanpa sadar berkeringat dingin.


(…Hei, ini rasanya seperti aku menginjak ranjau, kan? Aduh, jadi canggung banget… Ngapain sih aku.)


Merasa telah menyentuh bagian dirinya yang seharusnya tidak disentuh, Haruya dipenuhi rasa bersalah.


Karena perasaan minta maaf, canggung, dan tanggung jawab bercampur jadi satu, Haruya akhirnya membawa barang bawaannya, sengaja berdiri di sisi jalan raya, dan terus berusaha menyenangkan hatinya… sampai mereka akhirnya berpisah hari itu.


“Aku bawakan barangnya ya.”


“Kalau mau, aku antar sampai separuh jalan.”


Mengingat kembali sikapnya yang seperti menjilat itu, Haruya sampai bergidik sendiri.


(Sumpah, aku ini ngapain sih? Pasti dia mikir aku menjijikkan. Haa… pengin nangis rasanya.)


***


Keesokan harinya, pada waktu bebas sebelum homeroom pagi dimulai. Begitu tiga S-Class Beauty di kelas itu berkumpul, mereka langsung mengobrol seru tentang cinta dan suasana pun jadi ramai.


Seperti biasa, di antara para murid ada juga yang diam-diam memasang telinga, berbisik-bisik pelan sambil mendengarkan.


Itu pun bisa dimaklumi. Soalnya, isi pembicaraan salah satu S-Class Beauty—Himekawa Sara—terdengar begitu romantis……


Apa yang Sara bagikan kepada dua S-Class Beauty lainnya—Yuna dan Rin—adalah cerita bahwa “aku bertemu lagi dengan orang yang menolongku dari godaan minggu lalu, yang waktu itu belum sempat kuucapkan terima kasih, lalu kami makan bersama.”


"Sarachin… itu benar-benar terasa seperti pertemuan takdir, deh! Keren banget!"


"Aku juga pikir begitu."


Minggu lalu, Sara sempat menyesal karena tidak sempat berterima kasih pada orang yang menolongnya dari godaan. 


Yuna dan Rin pun waktu itu menyemangatinya dengan berkata, “Semoga bisa ketemu lagi.” Namun mereka sama sekali tidak menyangka bahwa Sara benar-benar akan bertemu lagi secepat itu—tak heran mereka terkejut.


"Aku juga benar-benar kaget, tapi aku senang akhirnya bisa mengucapkan terima kasih!"


"Syukurlah ya, Sarachin."


"…Iya, Sara. Beneran lega kamu bisa bilang terima kasih."


Mendengar respons dari Rin dan Yuna, Sara mengangguk dengan wajah senang.


"Tapi tetap saja, orang itu kedengarannya baik banget~ Bisa perhatian, menciptakan suasana yang nyaman, dan sopan pula."


"Iya sih…tapi Sara juga berani banget, lho, sampai ngajak makan. Tapi makin denger ceritanya, aku jadi penasaran pengin ketemu orang itu."


"Iya kan! Aku jadi kepo banget, dibanding orang yang aku dan Yunarin lagi perhatiin, kira-kira yang mana yang lebih oke!"


Begitu, Rin dan Yuna mulai menggali lebih dalam cerita Sara.


Merasa malu, pipi Sara pun sedikit memerah. Melihat itu, Rin menyipitkan mata dengan tatapan usil.


"Kalau bisa, ketemu lagi ya, Sarachin. Sama orang yang kamu sukai itu."


"…! B-bukan, aku nggak bilang suka atau apa pun kok!"


Sara langsung membantah sambil mengerucutkan bibir, tapi wajahnya sudah merah menyala.


Ucapan Rin jelas membuat Sara jadi sadar akan keberadaan pria itu. Meskipun Sara sendiri mungkin tidak menyadarinya, dari sudut pandang orang lain, reaksinya jelas terlihat seperti seseorang yang memiliki perasaan khusus pada seseorang. Mungkin Sara ingin pembicaraan ini dihentikan, tapi reaksinya yang terlalu imut justru membuat Rin semakin ingin menggoda. 


Dengan senyum jahil, Rin pun berkata:


"Sarachin sekarang imut banget! Kalau aku nanti nemu orang yang bisa bikin aku mikir sejauh itu, kita double date aja, ya! Eh, kalau sama Yunarin berarti jadi triple date dong."


"…B-bukan begitu maksudnya."


"Kalau gitu, kamu sama sekali nggak ngerasa apa-apa?"


"…I-itu…"


Sara mengerucutkan bibir, lalu menunduk.


"…Aku sih pikir dia orang yang menarik."


Suaranya begitu pelan. 


Sepertinya dia tidak ingin wajahnya yang memerah terlihat, jadi dia menghindari tatapan, tapi telinganya yang merah sampai ke ujung tetap tak bisa disembunyikan.


Melihat Sara seperti itu, Rin makin gatal ingin menggoda. Namun, Yuna—yang sejak tadi hanya mengamati—akhirnya angkat bicara.


"…Rin, Sara kelihatan kesulitan. Sampai sini saja."


Rin mengangkat bahu sambil berkata, "Eh~" dengan nada dibuat-buat, tapi segera mengganti ekspresinya menjadi ceria.


"Ya, bener juga. Maaf ya, Sarachin."


"T-tidak, kalau kamu mengerti sih nggak apa-apa…"


"Tapi, satu hal saja boleh aku tanya? Kamu sempat tukar kontak sama dia?"


"…Eh, anu…"


Mendengar pertanyaan itu, Sara tampak bingung. Namun dari caranya menggenggam lengannya erat dan matanya yang bergetar, Rin langsung paham.


Sara belum bertukar kontak dengannya.


"Yah, meskipun belum tukeran, pasti nanti ketemu lagi kok~. Kalau itu terjadi, kali ini tukar kontak yang bener ya, Sarachin."


"………B-bukan begitu maksudnya…"


Suka atau tidak suka. Kalau harus memilih salah satu, mungkin Sara akan memilih suka. Tapi bukan berarti dia bisa dengan tegas mengatakan bahwa itu adalah perasaan suka sebagai lawan jenis.


Itulah yang ingin dikatakan Sara—namun sebelum sempat, Yuna menyela.


"──Kalau dariku cuma satu. Perasaan suka itu nggak sering datang, tahu… jadi Sara, jangan sampai menyesal, ya."


"Iya, Sarachin. Aku juga dukung kamu."


Ucapan Rin dan Yuna ini mungkin dilontarkan sambil mengingat soal perjodohan yang ada di balik Sara.


Mendengar kata-kata itu, Sara mengatupkan bibir rapat───


"B-bukan begitu kok… serius."


Dan hanya bisa menyangkal pelan sambil memalingkan wajah.



Sementara itu, sebagian murid di kelas sebenarnya mendengarkan pembicaraan para S-Class Beauty tersebut—dan kali ini, Haruya pun tidak terkecuali.


Hari ini pun, sambil pura-pura tidur di bangkunya, Haruya tanpa sadar mendengarkan cerita Sara. Dan untuk kali ini, itu juga bisa dimaklumi. Soalnya, setelah kejadian minggu lalu, sekarang lagi-lagi dari dekat bangkunya terdengar cerita yang terasa seperti pengalaman yang sama persis dengan yang ia alami. Mustahil untuk tidak menyimaknya.


(Bertemu lagi dengan orang yang menolong dari godaan… beneran kayak takdir ya.)


Lalu Haruya menambahkan dalam hati.


(Terus habis itu makan bersama lalu berpisah… makin lama makin mirip pengalamanku…)


Minggu lalu, lalu minggu ini juga……di titik itu, Haruya sempat bertanya-tanya—jangan-jangan orang yang dibicarakan itu adalah dirinya.…Namun ia langsung menepis kemungkinan itu. Terlalu narsis.

Walaupun ceritanya mirip dengan pengalamannya, sosok pria yang digambarkan Sara terlalu jauh dari dirinya sendiri.


(Aku malah nginjak ranjau perasaan orang, terus habis itu terang-terangan berusaha menyenangkan dia lagi…)


Mengingat kembali tindakannya kemarin, Haruya merasa mual.


Sudahlah, tak perlu dipikirkan lagi. Semakin dipikirkan, semakin terasa menyedihkan—begitu Haruya mengutuk ketidakbecusannya sendiri.


Menurut cerita Sara, pria itu menciptakan suasana yang ramah dan nyaman. Di titik ini saja, kemungkinan itu dirinya langsung gugur.

Semakin Haruya mendengarkan cerita Sara, semakin ia menyadari betapa menyedihkannya dirinya sebagai seorang pria.


(…Tunggu, tunggu. Bukannya aku ini kelihatan norak banget? Aku kebalikan total dari laki-laki keren yang dia ceritakan.)


Walaupun situasinya mirip, perbedaan sosoknya terlalu jauh sampai-sampai terasa seperti lelucon. Haruya pun diliputi rasa rendah diri dan tak bisa menyembunyikan kekecewaannya.


(Udahlah, berhenti mikir. Cuma bikin harga diri turun doang.)


Begitulah Haruya memaksakan diri untuk berpikir positif—namun pada saat itu, dia masih belum menyadari bahwa laki-laki keren yang dibicarakan Himekawa Sara sebenarnya adalah dirinya sendiri.


***


Dan kemudian, sepulang sekolah. Setelah satu hari lagi menjalani kehidupan sekolah yang membosankan, para siswa pun berpencar sesuai dengan tujuan masing-masing—ada yang pergi mengikuti kegiatan klub, ada yang tetap tinggal untuk belajar lebih giat, dan ada pula yang langsung pulang secepatnya.


Biasanya, Haruya termasuk tipe yang langsung pulang begitu pelajaran selesai, namun hari ini berbeda. Arah langkah kakinya bukan menuju pintu keluar, melainkan ke atap sekolah.


Hari ini, cahaya matahari senja berwarna jingga kemerahan tampak sangat indah, dan Haruya pun berpikir untuk menikmati pemandangan itu dari atap.


Pada dasarnya, atap sekolah dilarang untuk dimasuki dan pintunya selalu terkunci. Namun entah karena pihak sekolah lalai melakukan pengecekan atau bagaimana, kuncinya rusak dan sekarang siapa pun bisa keluar masuk dengan bebas.


Tentu saja, bukan berarti itu jadi boleh dimasuki begitu saja…namun, sejak tak sengaja menemukan bahwa kunci atap rusak saat berkeliling sekolah, Haruya kerap menyempatkan diri naik ke sana sendirian setiap kali ingin menikmati senja yang indah.


Dan begitulah, atap sekolah.


Begitu membuka pintu yang sudah berkarat, Haruya langsung disambut angin hangat yang menyelimuti seluruh tubuhnya. Ia mendekat ke pagar untuk menikmati pemandangan di kejauhan, lalu melepas kacamatanya agar bisa melihat matahari terbenam dengan lebih jelas, dan menyibakkan rambutnya yang sudah menutupi mata.


Laut.


Di ujung pandangannya terbentang laut yang begitu indah tanpa batas. Seluruh kampus berkilau diterpa pantulan cahaya senja, dan Haruya pun terpaku oleh pemandangan itu.


Sambil menghirup udara segar, Haruya mulai menikmati panorama tersebut—namun, waktu menyendiri itu berakhir hanya beberapa menit kemudian.


"…I-indah sekali."


Tiba-tiba, dari belakang terdengar suara yang entah kenapa terasa familiar.


Refleks Haruya menoleh ke belakang… dan seketika ia kehilangan kata-kata. Ia berkedip beberapa kali, namun sepertinya ini bukan halusinasi.


Kaki yang jenjang, tubuh dengan lekuk yang berisi, serta rambut yang berkilau. Wajahnya masih menyisakan kesan polos, namun sekaligus memancarkan aura anggun dan berkelas.


Awalnya, Haruya bahkan meragukan penglihatannya sendiri. Karena gadis yang berdiri di sana adalah gadis cantik yang ia temui akhir pekan lalu—dan juga kemarin.


Di sisi lain, gadis itu pun tampak sama-sama membeku. Beberapa detik keheningan mengalir di antara mereka, sampai akhirnya gadis itulah yang lebih dulu memecahnya.


"…Aku kaget."


Sambil membuka mata besarnya beberapa kali, dia melanjutkan,


"Ternyata kita satu sekolah…"


Haruya pun sama terkejutnya. Namun, ada alasan lain yang membuatnya jauh lebih kebingungan.


Jika sampai diketahui bahwa mereka satu sekolah, maka Haruya hanya bisa sampai pada satu kesimpulan.


(Masa sih… ternyata kami seangkatan… ha, haha.)


Ia teringat pada siswi di kelas yang menceritakan pengalaman yang sangat mirip dengannya.


Godaan di jalan, pertemuan kembali… dan bahkan suaranya pun mirip. Dengan semua potongan informasi itu, rasanya mustahil untuk tidak sampai pada kesimpulan tersebut.


(…Nggak mungkin, kan. Seriusan.)


Ia memang terkejut dengan kebodohannya sendiri karena tidak menyadari hal itu sejak awal, tapi mengingat dirinya memang sangat cuek terhadap hal-hal yang tidak menarik perhatiannya, ia memutuskan untuk menerimanya saja. Namun, yang lebih ingin ia protes adalah hal lain.


(…Aku ini bukannya laki-laki sekeren itu, kan!? Aku juga nggak nolongin dengan cara keren, malah bikin suasana jadi canggung, tahu!?)


Sebenarnya, apa yang sedang terjadi ini?


Haruya tersenyum pahit. Sepertinya telah terjadi perbedaan persepsi antara dirinya dan gadis itu.


Setidaknya, ia sama sekali tidak bisa menilai dirinya sendiri sebagai sosok sekeren yang digambarkan gadis itu di kelas. Ia ingin langsung bertanya apa maksud semua ini, tapi tidak bisa.


Melakukan itu sama saja dengan mengungkapkan bahwa dirinya adalah teman sekelasnya. Lagipula, kalau tidak salah, gadis itu adalah salah satu yang disebut sebagai “S-Class Beauty” dan termasuk murid yang cukup menonjol di kelas.


Kalau ia tiba-tiba berkata, “Sebenarnya orang itu… teman sekelasmu, lho, hehe♡”, pasti bakal menimbulkan masalah. Membayangkannya saja sudah membuatnya merinding.


Pada saat ini, ada dua hal yang harus benar-benar diperhatikan oleh Haruya.


『Apa pun yang terjadi, identitasku tidak boleh ketahuan.』

『Penilaiannya yang terlalu berlebihan tentang diriku harus diturunkan.』


Dua hal itulah yang harus ia lakukan sekarang.


Yang pertama jelas—kalau sampai tersebar di kelas, dirinya pasti akan jadi pusat perhatian, dan itu harus dihindari.


Sedangkan yang kedua, ia harus menurunkan citra dirinya yang sudah dibumbui—tidak, bahkan bisa dibilang dipalsukan—agar ketertarikan gadis itu padanya perlahan menghilang.


Kalau tidak begitu, gadis itu tidak akan menyadari bahwa sosok Haruya yang ia bayangkan selama ini hanyalah kesalahpahaman. Haruya ingin gadis itu tahu bahwa dirinya tidak sekeren yang ia kira—kalau tidak, hatinya tidak akan tenang.


"──A-anu, aku memang bisa mengerti kalau kamu kaget, tapi… tolong jangan sampai melamun begitu."


Haruya tersadar dari pikirannya saat gadis itu memanggilnya.


"Eh… ah, maaf."


"T-tidak apa-apa… tapi memang benar-benar mengejutkan, ya…"


Menghindari tatapan matanya yang penuh rasa ingin tahu, gadis itu mengganti topik.


"Ngomong-ngomong, matahari terbenam di sini indah sekali."


Namun kemudian, ia menambahkan dengan nada serius,


"Tapi… tempat ini seharusnya dilarang masuk, kan?"


Sepertinya dia tipe yang patuh aturan—dia menyipitkan mata dengan tatapan tajam.


"Ah, itu… kuncinya rusak soalnya. H-haha."


"Ta-tapi, itu bukan berarti kita boleh masuk, kan?"


(Iya, benar sekali. Maaf.)


Sambil meminta maaf dalam hati, Haruya terdiam karena tidak bisa membantah logika itu. Namun di saat yang sama, ia juga berpikir, “Eh, bukannya kamu juga ada di sini?”


Mungkin ekspresinya terlihat jelas, karena gadis itu langsung panik dan mulai menjelaskan.


"Aku… anu, hari ini pikiranku agak kacau, jadi aku jalan-jalan di dalam sekolah. Terus kebetulan melihat pintu atap terbuka."


"O-oh, begitu."


"Kalau kunci atapnya rusak, sepertinya harus dilaporkan, ya."


Sambil meletakkan tangan di dagu, dia mulai berpikir. 


Yang dimaksud laporan tentu saja ke pihak sekolah. 


Sebagai seorang murid, sikapnya memang benar. Namun bagi Haruya, itu adalah masalah besar. Kalau sampai dilaporkan, dia tidak akan bisa naik ke atap lagi. Artinya, dia tidak akan bisa menikmati matahari terbenam yang indah dari tempat ini lagi.


Itu jelas tidak boleh terjadi—Haruya pun mulai panik.


Tanpa ia sadari, mulutnya sudah lebih dulu terbuka dan kata-kata pun keluar dengan sendirinya.


"…A-anu, tolong yang itu saja. Selama masih dalam batas yang bisa kulakukan, aku akan melakukan apa saja, jadi bisakah kamu merahasiakannya…?"


Sambil menyatukan kedua tangan, Haruya memohon dengan sungguh-sungguh. Kata-kata itu keluar sebagai ungkapan perasaannya—karena dia benar-benar tidak rela kehilangan pemandangan ini.


Mungkin karena bereaksi pada kata “apa saja akan kulakukan”, bahunya sedikit tersentak.


Beberapa saat kemudian, sorot matanya bergetar, dan sikapnya tampak agak malu. Setelah seolah menguatkan tekad, dia mengatupkan bibir, lalu dengan ragu membuka mulut.


"…K-kalau begitu, a-aku punya satu permintaan. Bolehkah?"


Dengan ekspresi yang terasa menyentuh naluri ingin melindungi, dia menatap Haruya seakan memohon.


Mencium aroma masalah, Haruya sebenarnya ingin langsung menolak, tapi tak ada pilihan lain. Pemandangan atap ini harus ia pertahankan apa pun yang terjadi.


"Permintaan apa?"


Meski terlihat canggung, dia pun mengatakannya dengan hati-hati.


"…B-bisakah kita bertukar kontak?"


"Eh…"


Haruya tanpa sadar mengeluarkan suara tercengang. Permintaan itu terasa terlalu ringan dibandingkan yang ia bayangkan. Lagipula, untuk meruntuhkan citra dirinya yang sudah terlanjur dilebih-lebihkan, bertukar kontak justru terasa menguntungkan baginya.


"Tentu saja boleh."


"…Syukurlah, terima kasih banyak!"


Begitu Haruya mengiyakan, dia menghela napas lega dan sudut matanya melunak. Mereka pun mengeluarkan ponsel untuk segera bertukar kontak, tapi tiba-tiba Haruya tersadar akan sesuatu dan buru-buru berkata, 


"T-tunggu sebentar!"


Alasannya sederhana. Nama pengguna aplikasi chat milik Haruya tertera sebagai nama aslinya, “Akasaki Haruya.”


Sekarang setelah diketahui mereka satu sekolah, kalau sampai nama aslinya ketahuan, itu bisa berujung pada terbongkarnya identitasnya.


Dengan panik, Haruya segera mengganti nama pengguna menjadi nama protagonis dari sebuah manga shoujo, “Asai Yuu.”


Melihat kepanikannya, gadis itu memiringkan kepala dengan heran, namun pada akhirnya pertukaran kontak pun selesai tanpa masalah.


"Asai Yuu-san, ya?"


"…I-iya…"


Saat Haruya masih merasa sedikit bersalah karena memakai nama palsu, ucapan berikutnya dari gadis itu membuat kepalanya seketika kosong.


"Bolehkah aku tahu juga kelasmu…?"


"E-eto, kelasku—"


Di situlah Haruya sadar.


(Kalau nama masih bisa disamarkan, tapi kelas jelas nggak bisa ya…)


Keringat dingin pun mengalir di dahinya. Kalaupun ia menjawab asal, karena mereka satu sekolah, kebenarannya bisa dengan mudah dicek. Karena itu, Haruya kembali memutar otak.


(…Tidak, justru demi menurunkan penilaiannya tentangku, mungkin menjawab asal adalah pilihan terbaik.)


Tujuan Haruya sejak awal adalah agar tidak menonjol dan agar dia menyadari bahwa dirinya bukan pria yang pantas jadi bahan gosip.

…Karena itulah, Haruya memutuskan untuk menjawab asal.


"Kelas 1-I."


"Kelas I… hah? fufu, kamu ngomong apa sih?"


Dia terkekeh pelan, terlihat menikmatinya.


Di SMA swasta Eiga, kelas tahun pertama hanya dibagi dari A sampai H—delapan kelas. Tidak ada kelas I, tentu saja. 


Itulah alasan Haruya menjawab begitu.


"Ahaha, serius banget ngomong kelas I… kamu orang yang unik ya."


Dengan senyum lembut di wajahnya—meski Haruya yakin itu cuma senyum basa-basi.


"Maaf ya… kamu nggak harus menjawab kalau memang nggak mau."


Dengan nada seolah berkata kalau tidak ingin bilang kelasnya, tidak apa-apa, dia menatap mata Haruya.


"…Iya, maaf. Ada sedikit alasan."


Karena rasa bersalah telah berbohong, Haruya pun menundukkan kepala dengan jujur.


Saat Haruya menggaruk bagian belakang kepalanya karena canggung, gadis itu tersenyum puas.


"Apa sih alasannya…? Tapi tidak apa-apa kok, kamu nggak perlu minta maaf sebanyak itu. Senang bisa mengenalmu, Asai-san."


"Ah, senang bertemu denganmu juga…"


Setelah saling menyapa, gadis itu—Himekawa Sara—tiba-tiba berkata, "Ah!" seolah baru menyadari sesuatu.


"Aku juga masih kelas satu, jadi… kamu nggak perlu pakai bahasa formal, kok…"


Sara menatapnya dengan pandangan ke atas, tapi Haruya justru meletakkan tangan di dagu dan berpikir keras.


(Apa yang sebaiknya kulakukan di sini? Tetap pakai bahasa sopan, atau pakai bahasa santai? Kalau mau membuatnya berpikir aku bukan orang yang ‘sempurna’, mungkin lebih baik menjaga jarak yang terlalu dekat.)


Dengan pikiran itu, Haruya pun berkata dengan wajah serius—


"Baik, kalau begitu… senang bertemu denganmu, S-Sara…"


Ia mencoba menciptakan kesan terlalu akrab. Namun karena tidak pernah memanggil seorang gadis dengan nama depannya, rasanya jadi canggung dan terasa tidak terbiasa.


Sialan… bodohnya aku.


(Tapi… ini lebih memalukan dari yang kukira.)


Sambil berpikir begitu, Haruya melirik ke arah Sara—dan… Sara menatap Haruya dengan mata bulatnya, sementara kedua tangannya mengepal erat di depan dada. Lalu, saat menyadari tatapan Haruya, Sara berkata,


"Iya, senang bertemu denganmu. …Asai-san."


Sambil berkata demikian, dia menundukkan wajahnya. Sepertinya efeknya benar-benar luar biasa.


(Dia jadi menjauh, menjauh… kelihatannya berhasil. Bagus. Ya, teruskan saja seperti ini, turunkan tingkat kesukaannya sedikit demi sedikit. Kalau dia sampai kehilangan minat, namaku pasti tidak akan jadi bahan obrolan di kelas!)


Di dalam hati, Haruya tersenyum licik. Namun, di sisi lain—Sara justru berpikir sebaliknya.


(Dia memanggilku dengan nama depan… dengan nama. Dan tidak mau memberitahuku kelasnya juga, pasti karena dia ingin mengajakku bermain permainan “tebak identitas” agar aku terhibur, kan…?)


Sambil menganggapnya sebagai orang yang benar-benar unik, tanpa sadar dadanya berdebar pelan.


Dia sampai memikirkan aku sejauh ini… begitu pikirnya.


Namun, begitulah—tanpa mereka sadari, telah terjadi kesalahpahaman di antara keduanya.


Haruya tidak tahu bahwa usahanya menurunkan tingkat kesukaan Sara justru……diterima Sara sebagai sesuatu yang penuh niat baik.


Keduanya sama-sama tidak menyadari hal itu.


***


Malam itu.


Setelah bertukar kontak dengan Haruya, Sara sendirian di atas tempat tidurnya di kamar, menatap layar ponsel sambil menggeliat gelisah.


Di hadapan pandangannya terpampang kontak bernama “Asai Yuu.”


"Aah… aku ini kenapa bisa melakukan hal sebegitu beraninya…"


Karena tak bisa tenang, sejak tadi Sara menekan wajahnya ke bantal lalu menggeliat dengan perasaan campur aduk. Namun begitu, pikirnya sambil mengenang kembali waktu yang ia habiskan bersama Haruya—


(Tak pernah terlintas di pikiranku kalau orang itu… Asai-san, ternyata satu sekolah denganku…)


Bertemu kembali dengan orang yang pernah menolongnya, dan ternyata orang itu berasal dari sekolah yang sama….


Ia memang belum menceritakan hal ini pada Rin dan Yuna, tapi reaksi mereka sudah bisa ia bayangkan dengan mudah.


(…I-ini seperti manga shoujo, kan.)


Meski bukan pembaca setia, Sara tetap merasakan hal itu. Dan ia yakin, Rin dan Yuna pun pasti akan berpikir hal yang sama.


Tanpa berlebihan, sampai-sampai ia bisa saja percaya jika ini disebut sebagai takdir.


Mungkin karena ia merasakan takdir itulah, ia jadi sepanas dan segelisah ini—padahal ini sama sekali bukan sifatnya.


Sara membuka chat pribadi Haruya dan mulai bimbang, apakah sebaiknya ia mengirim pesan atau tidak.


"…Setidaknya, aku harus memberi salam, kan?"


Ia mengetik pesan, lalu menghapusnya. Mengetik lagi, lalu menghapus lagi…mengulang hal yang sama berkali-kali, hingga akhirnya ia mengerang pelan, "Uuuh…"


"Kalau situasi seperti ini, salam yang terlalu formal pasti tidak disukai, kan… Tapi kalau terlalu singkat juga terasa hambar. Apa cukup pakai stiker saja ya? Tidak, tapi—"


Tak menemukan kesimpulan, Sara menghela napas panjang. Selama ini, ia tak pernah sampai memusingkan diri soal bertukar pesan lewat teks. Namun sekarang, ia benar-benar memutar otak dengan sungguh-sungguh. Menghembuskan napas dalam-dalam, seolah menenangkan diri sendiri, Sara bergumam pelan.


(…B-bukan karena aku suka atau apa. Aku hanya belum mengucapkan terima kasih dengan layak kepada Asai-san, itu saja.)


──Tidak apa-apa, tidak apa-apa.


Sambil berulang kali meyakinkan dirinya sendiri, Sara akhirnya mengirim satu pesan kepada Haruya.


Begitu pesan terkirim, karena malu dan agar dirinya tidak menghapus pesan itu sendiri, ia langsung mematikan ponselnya dengan satu gerakan cepat. Meski Sara menyangkal perasaan cintanya, di sana jelas terlihat sosok seorang gadis yang tengah dilanda kebingungan cinta.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close