Chapter 2
Apel Beracun dan Sang Penyihir
Ada
sebuah malam yang membuatku berpikir, bahwa aku hidup hanya demi malam itu
saja.
Ada
sebuah tengah malam yang membuatku tenggelam dalam perasaan, bahwa malam
seperti ini mungkin takkan terulang dua kali.
Bagiku, itu
adalah malam ketika kamu berada di sisiku.
Malam ketika
aku membasahi bantal dengan air mata, berulang kali tersentak karena mimpi
buruk, ketakutan saat sendiri namun merasa lega saat menyendiri, lalu saat
hampir melupakannya segalanya terulang kembali, hingga akhirnya aku bisa
terlelap dalam balutan selimut yang hangat.
Aku
berharap pagi tak perlu datang.
Aku
haus akan hujan yang tak kunjung reda.
Aku
berdoa agar rembulan tak pernah tenggelam.
Seandainya
aku tidak terbangun saat itu, apakah aku bisa menjadi Putri Salju?
Seandainya
aku tidak terbangun saat itu, apakah Sang Pangeran akan memberiku kecupan yang
lembut?
Lalu,
aku terpikirkan sesuatu.
Ada
senja yang memaksa aku menyadari, bahwa malam itu mungkin saja akan direnggut
dariku.
Ada
keremangan malam yang membuatku bimbang, bahwa mungkin ada orang lain yang
berulang kali tenggelam dalam malam yang serupa.
──Seseorang
tetap menjadi seseorang, ada sebuah keinginan yang membangkitkan malam yang
belum sempat diberi nama.
Aku
tak ingin memberikannya, tak ingin menyerahkannya, tak ingin memercayakannya
pada siapa pun.
Baik
suhu tubuhmu yang lebih tinggi dariku saat disentuh.
Maupun wajah
tidurmu yang tanpa pertahanan seperti anak laki-laki.
Suara
deru napas yang saling bertumpuk. Alasanku didekap olehmu.
Serta
alasanku mendekapmu.
Malam itu
tertutup rapat.
Tak peduli
berapa banyak percakapan elegan yang kita jalin di bawah terik surya, seberapa
sering tatapan polos kita bertemu, atau saat aku berpura-pura menjadi kekasih
dan mengecup pipimu──.
Semua itu
takkan bisa membuatku memahami setiap sudut dirimu.
Karena itu,
dalam dunia rahasia yang hanya milik kita berdua, aku ingin kamu menelanjangi
segalanya.
Keluh kesah
yang kamu sembunyikan di balik ketangguhanmu. Impuls yang kamu kendalikan dengan rasio.
Hasrat
yang kamu bunuh demi estetika.
Kesepian yang
tak bisa kamu perdengarkan pada siapa pun. Wajah asli di balik topengmu.
Dirimu
yang telanjang tanpa hiasan. Serta hatimu yang sesungguhnya.
Kelupaslah,
benturkan, gesekkan, raba, menyatu, dan tumpahkanlah semuanya.
Tak peduli
seberapa buruknya itu, seberapa keruh dan pekatnya itu, aku ingin menerima,
menelan, dan membiarkannya larut di dalam diriku.
Agar setelah
terlelap dalam dekapan, kamu bisa kembali menjadi pahlawan di dunia yang terang
dengan wajah tanpa dosa.
──Karena
itulah, aku ingin menjadi malam tempatmu menenggelamkan diri.
◆◇◆
Sepulang
sekolah di hari Senin minggu berikutnya.
Aku, Chitose
Saku, bersama anggota pemandu sorak tim biru kelas dua, Asu-nee sebagai
perwakilan kelas tiga, dan Kureha sebagai perwakilan kelas satu, berkumpul di
Taman Ikuhisa yang terletak tepat di sebelah Museum Sejarah Prefektur Fukui.
Taman ini
memiliki lapangan rumput luas yang sangat cocok untuk latihan, dikelilingi oleh
lintasan lari tanah.
Selain itu
ada lapangan tenis, area gateball, dan wahana permainan ketangkasan untuk
anak-anak, menjadikannya salah satu taman besar di kota ini.
Karena gedung
olahraga kedua dan Taman Higashi sudah lebih dulu dipakai oleh tim pemandu
sorak warna lain, kami memutuskan untuk melangkah sedikit lebih jauh dari
biasanya.
Memasuki
bulan Oktober di mana festival sekolah akan segera dilaksanakan, para murid
mulai tampak bersemangat. Dari tiga hari pelaksanaan, hari pertama adalah
"Festival Luar Sekolah" yang diadakan di aula besar kompleks
"Phoenix Plaza", berisi pertunjukan dari klub-klub seni.
Hari kedua
adalah "Festival Olahraga", yang menjadi panggung utama bagi kami
para pemandu sorak dan pameran replika raksasa. Lalu hari ketiga adalah
"Festival Budaya", di mana kelas 2-5 akan mempersembahkan sebuah
pertunjukan drama. Berbagai komite pelaksana, klub, dan kelas sedang
mempercepat persiapan mereka menuju hari H.
Tentu saja,
kami tim pemandu sorak Biru juga tidak terkecuali. Waktu pertunjukan pada hari
H adalah tujuh menit. Pemandu sorak dari setiap warna mengenakan kostum buatan
tangan dan menampilkan tarian kreasi orisinal yang mereka susun dari nol di
lapangan.
Tema tim Biru
kami adalah "Bajak Laut". Pada kamp Pelatihan bulan lalu, kami sudah
menetapkan alur besar yang terdiri dari empat bagian:
"Keberangkatan/Pelayaran", "Pertemuan/Pertempuran dengan
Musuh", "Tarian Perdamaian", dan "Perjamuan". Dari
bagian Keberangkatan hingga Tarian Perdamaian, kami bahkan sudah menentukan
lagu dan koreografinya.
Berkat itu,
latihan gabungan yang melibatkan anggota kelas tiga dan kelas satu lainnya
sudah bisa dimulai lebih awal, dan tingkat penyelesaiannya pun sudah cukup
tinggi. Lantas, mengapa hari ini hanya anggota inti ini saja yang berkumpul?
Itu karena koreografi untuk bagian terakhir, "Perjamuan", akhirnya
telah rampung.
Meski masih
ada waktu sampai hari H, kami tidak punya kemewahan untuk bersantai. Akan lebih
efisien jika kami menghafalnya terlebih dahulu sebelum mengajarkannya kepada
yang lain, itulah sebabnya kami sudah mulai berlatih lebih dulu sejak tadi.
Haru
berseru dengan nada kesal.
"Kaito!
Kenapa juga kamu baru malu-malu sekarang, sih!"
"Ta-tapi
kan..."
Kureha ikut
menimpali sambil memiringkan kepalanya dengan sengaja.
"Kazuki-san
juga, lho."
"I-ini
sih, bahkan aku pun..."
Nanase
tiba-tiba tertawa geli dan berucap dengan suara yang terdengar manis.
"Chitose,
manis banget."
"Berhenti
dong, itu lebih menyakitkan daripada dimarahi tahu!"
Begitulah
keadaannya sekarang, tim cowok yang terdiri dari aku, Kazuki, dan Kaito sedang
dalam proses menghafal koreografi sambil dipantau oleh para gadis.
"Oke
oke, berhenti dulu!"
Nanase
menepukkan tangannya. Tumben sekali aku, Kazuki, dan Kaito sampai
terengah-engah kehabisan napas sambil mengeluh bergantian.
"Ini,
ternyata lebih dari yang kukira."
"Benar-benar
menguras fisik, ya."
"Kenapa
juga Kenta bisa melakukannya dengan wajah sedatar itu..."
Ngomong-ngomong,
alasan kenapa Kenta tidak ikut dalam kelompok latihan adalah—
"Ah~
nggak bisa, sama sekali nggak bisa!"
Karena
dialah orang yang menciptakan koreografi ini.
"Ugh..."
Melihat
reaksi kami bertiga, dia mendengus pelan sambil menengadahkan kedua telapak
tangannya ke langit.
"Kalian
bertiga ini beneran pemain inti klub olahraga, nggak sih? Ketajaman, groove,
dan yang paling penting, kalian benar-benar kurang jiwa chuunibyou. Kalau kalian nggak tampil dengan
keyakinan penuh kalau ini tuh keren, perasaan kalian nggak bakal sampai ke hati
penonton, tahu."
"Guh..."
Aku ingin
protes dan menyuruhnya jangan belagu, tapi karena tadi dia sudah memamerkan
contoh yang sangat tajam dan sempurna di depan kami semua, aku tidak bisa
membantah.
Terlebih
lagi, gerakannya memang terasa keren sampai-sampai aku refleks bertepuk tangan
dan berseru "Ooh!".
Meski kami
sendiri yang meminta dibuatkan koreografi, aku tidak menyangka akan tertinggal
dari Kenta dalam latihan pemandu sorak.
Padahal
awalnya dia sangat menolak, tapi sekarang dia malah terlihat sangat
bersemangat. Benar-benar sebuah miskalkulasi yang menyenangkan.
Kenta
membetulkan letak kacamata pada pangkal hidungnya lalu membuka suara.
"Masing-masing
dari kalian, janganlah lalai dalam berlatih."
"SIAP,
MASTER!!!!!!"
Setelah
kami berteriak putus asa, Nanase mengambil alih.
"Kalau
begitu Haru, Kureha, kalau ada yang kalian sadari, tolong beri tahu
mereka."
"Sip."
"Baik!"
Aku
mengembuskan napas pendek lalu mengedikkan bahu. Hari ini Haru memantau Kaito,
Kureha memantau Kazuki, dan Nanase memantau gerakanku masing-masing.
Kenta sendiri
sepertinya tipe yang sulit memberi instruksi spesifik karena koreografinya
sudah menyatu dengan tubuhnya. "Silakan lihat dan pelajari sendiri,"
katanya—apa jangan-jangan jiwa dasarnya itu memang atlet?
Sebagai
informasi, para gadis di sini memiliki peran lain dalam bagian
"Perjamuan", jadi mereka tidak perlu menghafal koreografinya.
Karena
itulah, tiga orang yang jago olahraga ini beralih menjadi pendukung kami,
sementara Yua dan Asu-nee pergi berbelanja ke supermarket terdekat, dan Yuko
sedang bergumam menyanyikan lagu untuk bagian ini dengan ekspresi senang.
"Chitose."
Nanase
mendekat ke arahku.
"Soal
bagian yang memutar kedua lengan bergantian itu."
"Sori,
apa ada yang salah?"
"Mungkin
karena kamu terlalu fokus memutarnya dengan cepat, gerakan lenganmu jadi terasa
ciut. Terus, seperti kata Yamazaki, aku ingin aura 'lepas'-nya lebih terasa.
Kayak waktu kita tarung handstand nggak jelas pas belajar bareng di
musim panas, atau kayak waktu anak cowok main pedang-pedangan pas kamp
kemarin."
"Begitu
ya."
Kenta juga
bilang kalau aku kurang jiwa chuunibyou. Kalau dibilang harus
menggunakan vibe seperti itu, aku jadi lebih mudah mengerti. Aku mencoba
menari sekali lagi sambil memperhatikan poin yang disebutkan.
"Kayak
begini?"
Nanase
menyipitkan matanya, tampak merasa sedikit geli.
"Hmm,
sebentar ya?"
Sambil
berucap, dia berpindah ke belakangku. Tangan kanan Nanase memegang lengan kananku, dan
tangan kirinya menempel dengan mantap di sekitar pinggangku. Sentuhan itu
membuat ujung kausku sedikit tersingkap.
Sret.
Ujung
jari yang dingin mengusap lembut bagian pinggang sampingku.
Sensasi
halus itu hampir membuatku tersentak kaget, tapi jika melihat betapa kasualnya
dia menaruh tangan di pinggangku, sepertinya tidak ada maksud lain.
Mungkin ini
sama seperti saat aku mengajarkan posisi melempar bola pada Haru, pikirku
mencoba meredam gejolak di hati. Namun tepat saat itu—
"Chitose,
jangan kaku begitu."
Puk.
Dada Nanase
menempel tepat di punggungku.
──...!!!
Melalui
lapisan kaus tipis kami, aku bisa merasakan tekstur lembut nan detail dari bra
yang ia kenakan. Berlawanan dengan kata-kata Nanase, tubuhku justru semakin
menegang.
"Bodoh,
ini terlalu dekat."
Huu...
Embusan napas
hangat menggelitik cuping telingaku.
"Sudah,
lemaskan saja tenaganya."
Tangan
Nanase yang berada di pinggang bergeser pelan ke atas.
"Di
sini, dadamu harus lebih dibusungkan."
Saat
lenganku ditarik ke belakang, dada lembut itu ikut terhimpit kuat di punggungku
dan berubah bentuk.
"W-woi,
hei."
"Lalu
pinggulnya juga didorong ke depan."
Mengabaikan
reaksiku, Nanase menempelkan bagian perut bawahnya ke bokongku. Seketika, suhu
tubuhnya yang terasa panas membuatku—
"Tunggu—"
Aku
refleks menyentak lenganku dan menjauhkan diri. Merasa bersalah yang tak
terkira, aku segera melirik ke sekeliling. Haru sedang sibuk membimbing Kaito,
dan Yuko juga terlihat sedang mengecek lirik lagu di ponselnya.
Hanya
Kureha yang sedikit menoleh ke arah sini sambil menyunggingkan senyum dewasa,
sebelum kembali ke wajah polosnya dan berbicara ceria dengan Kazuki.
Saat aku
menoleh perlahan untuk mencari tahu niat aslinya—
"Nanti
lebih konsentrasi lagi, ya."
Nanase
mengucapkan kalimat yang bisa ditafsirkan macam-macam itu dengan wajah tenang
dan senyum tipis.
Kalau dipikir
secara normal, maksudnya adalah soal saran tarian tadi, tapi.... Apa aku yang
terlalu berlebihan menanggapinya? Tidak, tidak mungkin.
Dia bukan
Yuko atau Haru yang dulu, mustahil Nanase tidak sadar akan daya tariknya
sendiri sebagai wanita.
Tapi jika ini
hanya sekadar godaan biasa, tindakannya sudah terlalu jauh, dan terasa aneh
karena dia tidak menyertainya dengan tatapan atau nada suara provokatif yang
berlebihan.
"Astaga,
apa-apaan sih..."
Sambil
bergumam pelan, aku tiba-tiba teringat sesuatu. Kalau dipikir-pikir, Nanase
hari ini memang agak aneh.
──Kejadiannya
adalah saat kami menentukan pasangan cowok-cewek untuk mengecek koreografi
"Perjamuan".
Sudah menjadi
alur yang biasa ketika Kureha langsung mengangkat tangannya paling awal.
『Siap! Aku yang akan membimbing
Senp—』
Seolah
memotong kalimat itu, Nanase menyela.
『──Aku yang akan berpasangan dengan
Chitose.』
Tanpa
menjelaskan alasannya, dia melanjutkan bicara kepada juniornya itu.
『Boleh, kan, Kureha?』
Kureha sempat
tertegun sejenak, sebelum akhirnya bahunya berguncang pelan karena tertawa
geli.
『Tentu! Kalau Yuzuki-san sendiri yang
bilang ingin mengurus Senpai, maka aku akan dengan senang hati mendaftarkan
diri sebagai pasangan Kazuki-san!』
『Woi.』
『Lalu aku gimana!?』
Waktu itu aku
dan Kaito sempat memprotesnya lalu membiarkannya berlalu begitu saja, tapi....
Baru sekarang aku terpikir, jika itu Nanase yang biasanya, dia pasti akan
mengalah di situasi seperti itu.
Dug,
dug, dug, dug, dug.
Meskipun
aku berusaha bersikap setenang mungkin──.
Tubuh dan
hatiku masih menyimpan sisa panasnya.
Perasaan
sentimental saat aku berlatih tarian pasangan dengan Kureha waktu kamp kembali
bangkit.
『Ah, begitu ya. Ternyata sambil menari
dengan gadis juniorku ini,』
『Aku terus mengejar bayangan
seseorang.』
Kelembutan
dada Nanase dan panas perut bawah yang ditempelkan tadi seolah memberi tekstur
nyata pada bayangan yang tadinya samar, membuatku refleks menggelengkan kepala.
Bukan begitu, kan—ucapku pada diri sendiri sambil mengembuskan napas panjang.
──Bukan
sebagai Pahlawan Chitose Saku, tapi sebagai satu pria bernama Chitose Saku, ya.
Hari
itu, sambil memantulkan hatiku pada permukaan air senja, aku memang telah
bersumpah demikian. Karena itulah belakangan ini aku merasa bimbang.
Sebelum
bertemu Nanase, Asu-nee, Haru, Yuko, dan Yua, aku tidak pernah merasa bingung,
terhenti, atau berbalik arah seperti ini. Sebab sebagai Chitose Saku, aku hanya
perlu setia pada estetika pribadiku yang rumit.
Namun,
ketika aku mencoba menggulirkan isi hati yang selama ini kusembunyikan untuk
menghadapi seseorang, ternyata rasanya sangat rapuh dan menyedihkan sampai aku
sendiri pun terkejut.
Sambil
menyentuh dada kiriku yang panasnya mulai mereda, aku berpikir. Bahkan untuk
kejadian tadi pun, kalau aku yang dulu, meski bohong jika dibilang tidak goyah,
setidaknya aku masih bisa menutupinya dengan candaan sebelum hatiku sempat
bergejolak.
Merasa
tertarik pada wajah atau tubuh seseorang mungkin sulit untuk diucapkan secara
terang-terangan, tapi aku tidak menganggapnya sebagai alasan yang kotor untuk
menyukai seseorang.
Justru
jika ada yang bilang dia sama sekali mengabaikan hal itu dan hanya melihat
hati, menurutku pribadi itu malah terdengar jauh lebih palsu.
Jadi,
meskipun secara logika aku paham bahwa wajar untuk goyah di situasi seperti
itu, rasa bersalah dan perasaan berdosa justru terasa lebih kuat. Tak peduli
jika orang bilang aku masih menyeret estetika atau terlalu memedulikan citra
diri.
──Demi
bisa menghadapi orang-orang yang ada di dalam hatiku, setidaknya aku ingin apa
yang kusodorkan adalah hati.
Tapi, aku
terus memikirkannya sejak senja itu.
Ketika aku
bukan lagi Chitose Saku, melainkan hanya seorang pria biasa.
──Tanda apa
yang harus kugunakan untuk memberi nama pada perasaan ini?
◆◇◆
Aku, Uchida Yua,
melangkah keluar dari supermarket "Crandale" yang berada di dekat
Taman Ikuhisa.
Selagi
Saku-kun dan yang lainnya berlatih koreografi "Perjamuan" dengan
dukungan Yuzuki-chan dan yang lain, aku berpikir untuk membeli minuman dan
makanan ringan.
Sebenarnya
aku berniat pergi sendiri, tapi aku mencuri pandang ke arah profil wajah cantik
di sampingku. Asuka-senpai melangkah dengan kantong plastik di tangannya, suara
langkah kakinya terdengar begitu ceria.
Aku tanpa
sadar menutup mulut dan tertawa kecil.
"Yua-san...?"
Menyadari hal
itu, Asuka-senpai menengok ke arahku dengan wajah penasaran.
"Maaf,
itu, aku cuma teringat betapa senangnya Asuka-senpai saat memilih jajanan
tadi."
Saat aku
mengatakannya, dia menunduk dengan wajah sedikit tersipu.
"Aku
suka jajanan jadul sejak dulu. Rasanya seperti suasana sebelum pergi piknik
sekolah."
Mendengar
pengakuan yang tak terduga itu, bahuku kembali berguncang karena tawa.
"Saku-kun
juga pernah bilang hal yang mirip."
"Ah,
Saku-nii memang suka juga, sih. Dulu nenek sering diam-diam memberi kami uang
saku, lalu saat libur musim panas kami berdua pergi membelinya."
Saku-nii. Aku mencoba mengulang panggilan yang
masih terasa asing itu di dalam hati.
Aku sudah
mengetahuinya karena diceritakan saat kamp, tapi malam itu terasa seperti
potongan adegan film yang sunyi, hanyut dalam romansa, sedikit tenggelam dalam
sentimentalitas, sehingga rasanya sulit dipercaya kalau itu adalah bagian dari
kehidupan sehari-hari.
Namun saat
mendengarnya kembali sambil membawa kantong belanjaan begini, muncul sebuah
perasaan nyata yang aneh bahwa orang ini benar-benar bertemu Saku-kun saat
masih kecil, dan menyayanginya seperti seorang kakak.
Hal itu
terasa lucu, geli, sekaligus menyenangkan, tapi di sisi lain tetap ada sedikit
rasa sesak. Aku membuka suara sekali lagi untuk memastikan.
"Jangan-jangan,
sejak saat itu Umai-bo-nya..."
"Rasa
mentai, kan?"
"Benar!"
"Padahal
Saku-nii biasanya baik, tapi kalau soal itu dia tidak pernah mau
mengalah."
"Apa
kalian sampai main suit?"
"Adu
tiga kali!"
Tak tahan
lagi, bayangan kami berdua pun bergoyang seiring tawa yang pecah. Setelah puas
tertawa, Asuka-senpai bergumam pelan.
"Tapi
belakangan ini, toko jajanan kecil di lingkungan sekitar sudah banyak yang
tutup, rasanya jadi sepi."
Aku sempat
ragu sejenak, dan gara-gara itu, luka di lututku yang seharusnya sudah
mengering terasa berdenyut nyeri. Aku pun mengembuskan napas pelan agar tidak
ketahuan.
Aku
menenangkan hati agar tidak tersandung lagi, lalu membuka suara.
"Asuka-senpai,
apa Kakak pernah pergi ke Ameyoko?"
"Ameyoko?
Yang di Tokyo...?"
Aku
terkekeh sambil menggelengkan kepala.
Tempat itu
adalah lokasi di mana aku pertama kali mengajak Saku-kun berkencan di akhir
musim panas. Itu memang kenangan berharga, tapi bukan berarti kenangan itu akan
luntur hanya karena aku membagikannya kepada orang lain.
"Bukan,
tapi di dekat Elpa, tepat di sebelah Pasar Grosir Pusat, ada toko yang seperti
pasar camilan. Ukurannya tidak kecil—malah bisa dibilang cukup besar—dan di
sana banyak sekali jajanan jadul yang bikin kangen."
"Benarkah!?"
"Iya,
Saku-kun juga sangat bersemangat waktu itu, jadi aku yakin Asuka-senpai pasti
akan menyukainya."
Wajah
Asuka-senpai mendadak cerah, lalu ia menunduk sambil memainkan jari-jarinya
dengan malu-malu.
"Itu, Yua-san.
Kalau kamu tidak keberatan, kapan-kapan ayo kita..."
Tawaran yang
agak canggung dan tidak biasa darinya itu terasa menggemaskan, membuatku
tersenyum lembut.
"Tentu
saja. Sekalian saja kita makan siang di Fukui Sen-ichiba."
"Iya!"
Benar juga,
pikirku.
Hal-hal
seperti ini jauh lebih cocok dengan kepribadianku.
Sambil
saling bertukar senyum, aku tiba-tiba teringat sesuatu.
"Ngomong-ngomong,
Asuka-senpai, apakah latihannya berjalan lancar?"
Pertanyaanku
sedikit kurang jelas, tapi sepertinya dia langsung paham. Asuka-senpai
mengernyitkan alis dengan ekspresi kesal yang tampak kekanak-kanakan.
"Duh,
Ayahku jadi semangat sekali soal ini."
"Beliau
pasti merasa senang."
"Aku
tahu itu, tapi beliau terlalu bersemangat sampai-sampai aku merasa malu."
"Apa
beliau akan datang menonton di hari H nanti?"
"Aku
sudah bilang jangan datang, tapi beliau pasti datang. Mengingat semangatnya
sekarang, aku tidak akan kaget kalau beliau sampai meneriakkan namaku dengan
lantang."
Ekspresi saat
menceritakan hal itu tampak malu-malu, kesal, tapi juga sedikit bahagia.
Asuka-senpai ternyata akrab juga dengan ayahnya.
Kalau kasus
keluargaku, meskipun mereka datang, sepertinya mereka akan menonton secara
sembunyi-sembunyi agar benar-benar tidak ketahuan.
Yah, apalagi
setelah kejadian di libur musim panas itu. Pasti akan canggung jika mereka
berpapasan dengan Saku-kun....
Saat aku
sedang memikirkan hal-hal damai seperti itu, Asuka-senpai berucap dengan nada
santai.
"Setidaknya
aku harus mencegah beliau menyapa Saku-kun kali ini."
"Eh...?"
Saat aku
refleks bersuara, ia melanjutkan dengan senyum geli.
"Ayahku
itu, awalnya saja bersikap memusuhi, tapi entah kenapa sekarang sepertinya
beliau menyukainya. Bahkan saat aku bergabung dengan tim pemandu sorak, beliau
bertanya, 'Apakah Chitose-kun ada di sana?'."
Begitu ya,
batinku merenung sedih.
Kalau
dipikir-pikir, itu hal yang wajar. Aku sudah menduga kalau Saku-kun membantu
Asuka-senpai saat ia bimbang menentukan pilihan masa depannya, jadi tidak aneh
jika ayahnya mengenal Saku-kun.
Dilihat dari
caranya bicara, sepertinya hubungan mereka bukan sekadar bertemu sekali seperti
orang tuaku. Kasusku hanyalah kebetulan belaka, dan mungkin Asuka-senpai juga
tidak jauh berbeda, tapi tetap saja.
──Seorang
gadis memperkenalkan seorang lelaki kepada ayahnya.
Aku tidak
sedang bermimpi muluk bahwa itu hanya terjadi sekali seumur hidup, tapi bagi
anak SMA, hal seperti itu pasti bukan kejadian biasa.
Aku hanya
asal menyimpulkan kalau itu adalah keistimewaan yang hanya kumiliki.
Lagi-lagi
begini, aku menunduk menyesali diri. Aku sudah berulang kali menyadarinya, tapi
tetap tidak ada yang berubah. Aku kembali merenungkan hal itu.
Tak
peduli seberapa cocok hal ini dengan kepribadianku, tidak, justru karena
itulah. Aku tidak boleh terus seperti ini, kan?
"Yua-san...?"
Saat
mendengar suara itu, aku mendongak dan melihat Asuka-senpai menatapku dengan
cemas.
"Anu,
Asuka-senpai."
Aku meremas
pegangan kantong plastik di tanganku, lalu berucap perlahan.
"...Sebelum
kembali, bolehkah kita bicara sebentar?"
Asuka-senpai
mengangguk tanpa berkata apa-apa, lalu kami duduk berdampingan di tangga pendek
yang lebar yang menghubungkan Museum Sejarah Prefektur Fukui dengan Taman
Ikuhisa.
Dari
arah lapangan rumput, suara teman-teman yang sedang berlatih terdengar
menggema. Sambil merasa sedikit tidak enak hati, aku mencoba menajamkan
pendengaran, lalu—
"Ini, Yua-san."
Asuka-senpai
menyodorkan Hojicha Latte dingin. Aku menerimanya sambil memiringkan
kepala dengan heran. Aku memang memasukkannya ke keranjang untuk kuminum
sendiri, tapi....
"Lho,
apa aku pernah meminum ini di depan Asuka-senpai?"
Mendengar
pertanyaanku, Asuka-senpai menggoyang rambutnya yang indah.
"Saku-kun
sering menceritakan tentang kalian semua di depanku."
Begitu ya,
hatiku sedikit melunak hanya dengan mendengar hal itu. Aku sempat mengira kalau
saat bersama Asuka-senpai, mereka berada di dunia yang hanya milik berdua dan
hanya membicarakan tentang mereka berdua.
"Asuka-senpai
mau minum apa?"
"Hmm,
aku mau minum Sayaka saja setelah sekian lama."
"Ini,"
kataku sambil mengeluarkan Royal Sayaka dari kantong plastik.
Asuka-senpai
menerimanya, lalu meneguknya hingga tenggorokannya yang putih dan halus seperti
sabun batangan bergerak-gerak dengan nikmat. Aku pun mengikuti jejaknya dengan
meminum Hojicha Latte-ku, dan baru menyadari kalau mulutku ternyata
terasa sangat kering.
Padahal sudah
bulan Oktober, tapi saat siang hari masih banyak waktu yang terasa panas. Namun
kalau lengah, suhu di malam hari bisa turun drastis, jadi ini adalah masa yang
sulit untuk menyesuaikan pakaian.
Aku sendiri
termasuk orang yang mudah kedinginan, jadi mungkin tidak lama lagi aku akan
mulai memakai syal atau mantel. Tiba-tiba, aku mencuri pandang ke profil wajah
cantik senior di sampingku ini.
──Bagaimana
orang ini menyambut musim dingin?
Aku merasa
dia akan tetap berdiri di bantaran sungai itu dengan seragam blazer yang
sama meski salju mulai turun. Dengan aura misterius yang tidak menunjukkan rasa
dingin sama sekali, persis seperti peri musim dingin yang keluar dari dongeng.
Tapi kalau
dia memakai pakaian tebal sampai menggembung dengan penutup telinga yang empuk,
itu pun akan terasa sangat cocok dengannya. Jarak di antara kami sepertinya
sudah mulai menyempit. Karena itulah, aku ingin bertanya.
──Bagaimana
orang ini menyambung benang cintanya?
Saat aku
sedang memikirkan hal itu tanpa arah, tiba-tiba Asuka-senpai membuka suara.
"Sebenarnya
aku pun berpikir ingin bicara dengan Yua-san."
"Dengan...
aku?"
Tanpa sadar
aku memiringkan kepala, lalu ia melanjutkan dengan tatapan yang sayu.
"Membicarakan
hal yang mustahil kukatakan padamu, dengan orang yang mustahil menyampaikan hal
itu padamu."
Sebuah
ungkapan yang sangat khas Asuka-senpai, seperti bumbu rahasia yang diteteskan
di bagian akhir. Aku meresapi kata-katanya dalam diam. Sesaat kemudian, aku
tersentak saat menyadari makna halus di baliknya.
Kalau
dipikir-pikir, itu benar. Aku punya Yuko-chan, Yuzuki-chan, Haru-chan, dan
tentu saja Mizushino-kun, Asano-kun, serta Yamazaki-kun—banyak teman di
sekelilingku yang bisa kuajak berbagi cerita tentang Saku-kun.
Tapi
Asuka-senpai, sejak tahun lalu, atau mungkin sejak ia masih menjadi gadis di
musim panas itu, pastilah selalu—
──Sendirian.
Dulu aku,
bahkan mungkin sampai sekarang, merasa iri pada hubungan mereka yang tidak bisa
dimasuki orang lain. Saat mereka bicara, dunia seolah hanya ada untuk mereka
berdua, terbungkus tirai biru pucat yang bahkan membuat orang merasa segan
untuk sekadar mengintipnya.
Aku sempat
mengira kalau Asuka-senpai bisa bernapas dengan lega justru karena berada di
dalam atmosfer seperti itu, tapi.... Ternyata itu adalah dua sisi dari koin
yang sama.
Saat
Asuka-senpai merasa bimbang, bingung, menderita, atau sedih karena Saku-kun,
apakah ada orang yang bisa berbagi perasaan dengannya dalam suhu yang sama?
Tidak, aku menggelengkan kepala pada pertanyaan yang jawabannya sudah jelas
itu.
Kejujuran
yang ia gumamkan dengan nada kesepian di malam itu.
『Bukankah karena itu bantaran sungai itu
menjadi tempat kita. Bagiku, hanya di bantaran sungai itulah tempatku berada.』
Asuka-senpai
pastilah memendam semua emosi yang tidak tahu harus disalurkan ke mana,
sentimentalitas yang tak bertujuan, dan cerita yang tak mungkin ia katakan pada
Saku-kun, seorang diri selama ini.
Dia
orang yang kuat, aku lagi-lagi mengagumi harga dirinya yang tinggi seperti
kucing liar itu. Aku sempat iri pada posisinya sebagai senior yang bisa
mendapatkan senyum polos Saku-kun, tapi orang ini terus berdiri menjadi
satu-satunya cahaya bagi Saku-kun meski harus melangkah di tempat dengan
perasaan gusar di sisi lain waktu yang tak bisa diputar kembali.
Punggung
mereka yang selalu kulihat berduaan dari jauh. Jika aku boleh menjadi bagian dari mereka meski hanya
sejenak──.
Aku
mengangguk mantap lalu menatap Asuka-senpai.
"Jika
Kakak tidak keberatan denganku, tolong ceritakan padaku."
"Iya,
kita gantian ya."
"Siapa
yang mau bicara duluan?"
"Ayo
suit adu tiga kali."
"Baik!"
Setelah aku
memenangkan suit tersebut, aku mulai bercerita seolah sedang mencabut tulang
kecil yang tersangkut di hati dengan pinset secara perlahan—tulang yang selama
ini terus kuabaikan.
Tentang
bagaimana aku mengajak Kureha-chan ke rumah Saku-kun.
Tentang
tawaran Kureha untuk memasak sebagai gantinya.
Tentang
persetujuanku yang tulus saat itu.
Tentang
bagaimana Saku-kun menyingsingkan lengan kemejanya.
Tentang
betapa mahirnya Kureha memasak.
Tentang
bagaimana masakannya terasa sangat dekat dengan keseharian.
Tentang
bagaimana aku salah sangka mengira itu adalah keistimewaan milikku sendiri.
Tentang
tawarannya untuk menggantikanku memasak saat aku sibuk.
Tentang
bagaimana Saku-kun menolaknya dengan santai.
Tentang kursi
yang Saku-kun hadiahkan untukku musim panas ini.
Tentang
Kureha-chan yang tidak tahu apa-apa dan dengan polosnya hendak menduduki kursi
itu.
Tentang
bagaimana Saku-kun pasti berniat menghentikannya.
Tentang
teriakanku yang refleks.
Tentang
gadis yang kubuat menangis.
Tentang
malam ketika aku melarikan diri.
Setelah
ceritaku selesai, Asuka-senpai menyipitkan matanya dengan lembut, lalu berucap
"Sentuh" sambil mengangkat telapak tangannya ke arahku.
Setelah
aku menepuknya pelan, ia mulai bercerita seolah sedang memungut halaman buku
harian yang sudah robek dan diremas, lalu menyetrika kerutannya satu per satu.
Tentang
betapa berharganya waktu yang dihabiskan bersama saat kamp pemandu sorak.
Tentang
bagaimana sisa mimpi itu belum hilang bahkan di hari berikutnya.
Tentang
pemikiran bahwa mungkin ia bisa bertemu denganku.
Tentang
bagaimana ia merasa senang karena berpikir untuk bermanja-manja seperti saat
masih kecil dulu.
Tentang
Saku-kun dan Kureha-chan yang berlatih tarian pasangan di bantaran sungai itu.
Tentang
bagaimana ia merasa tempat berharganya sedang diinjak-injak.
Tentang
bagaimana gadis yang ia kira hanya junior biasa tampak seperti wanita yang akan
membawa Saku-kun pergi ke tempat yang tidak ia ketahui.
Tentang
kata-kata "Saku-bou" yang menusuk dadanya.
Tentang
bagaimana mereka berdua mengatakan bahwa mereka sedang menunggunya.
Tentang
pertanyaan polos Kureha-chan apakah ia boleh datang lagi ke sana.
Tentang
teriakannya yang refleks.
Tentang
gadis yang ia buat sedih.
Tentang
dirimu yang memasang wajah seperti hendak menangis.
Tentang
senja ketika ia melarikan diri.
Begitu
Asuka-senpai selesai bercerita seolah sedang merekatkan kembali buku harian itu
dengan selotip, kami saling menatap dengan wajah serius, lalu—
──Pffft,
kami berdua tertawa terpingkal-pingkal.
Kekeh
kami terus berlanjut, rasanya mendadak semuanya jadi sangat lucu. Hal yang sama sepertinya dirasakan oleh
Asuka-senpai, ia sampai memegangi perutnya karena tertawa. Asuka-senpai
mendongak dan menatapku.
"Ternyata,
kita ini..."
Aku menjawab
sambil berusaha keras menahan tawa.
"Mungkin
kita memang mirip di beberapa hal."
Setelah agak
tenang, Asuka-senpai berkata dengan tatapan mata yang jauh.
"Ini
konyol sekali, ya."
"Benar-benar
konyol."
"Menurutmu
siapa yang salah?"
"Apa
kita perlu mencocokkan jawaban untuk itu?"
"Ada
maknanya jika kita saling memperlihatkan lembar jawaban kita."
"Ayo
katakan bersama dalam hitungan ketiga."
"Satu,
dua, tiga—"
"──Aku."
"Tuh
kan," Asuka-senpai tersenyum pahit lalu menyandarkan kedua tangannya ke
belakang.
Ia
memanjangkan kakinya dengan santai dan menatap langit. Aku pun mengikutinya,
melihat awan yang berarak tenang seperti gerombolan domba di langit sebelum
senja.
"Yua-san,"
panggil Asuka-senpai dengan nada suara yang terdengar lebih lega.
"Maukah
kamu mengutarakan apa yang kamu pikirkan setelah mendengar ceritaku?"
"Tapi..."
Saat aku
ragu, ia melanjutkan seolah sudah tahu alasanku.
"Aku
ingin mendengarnya langsung dari Yua-san, orang yang paling baik di antara
semuanya."
"Apa
Kakak akan membalasku nanti?"
"Kalau
'balasan budi' sih, iya."
Huu... aku
mengembuskan napas.
Hal semacam
ini memang bukan kepribadianku, tapi Asuka-senpai mungkin sudah lama ingin
membicarakan hal ini dengan seseorang.
Jika ia
memilihku sebagai lawan bicaranya, maka sebagai teman baru—dan sebagai junior
yang akhirnya bisa memanggil namanya tanpa ragu—aku ingin mengabulkan
permintaan kecilnya.
Aku menggigit
bibir sejenak, lalu membuka suara seolah sedang menasihati diriku sendiri.
"──Asuka-senpai,
bantaran sungai itu bukan milik siapa pun."
"Aduh,
langsung kena di bagian yang sakit, ya."
"Aku pun
pernah sekali mengajak Saku-kun ke sana pada suatu senja di bulan
Agustus."
"...Begitu
ya, dia tidak menceritakan kisah itu padaku."
"Saku-kun
memang orang yang seperti itu."
"Iya,
aku tahu."
"Dia
akan menjaga rahasia yang hanya diketahui berdua dengan baik."
"Hehe,
kata-kata yang manis."
"Karena
itu aku tidak berniat meminta maaf pada Asuka-senpai."
"Aku pun
tidak punya hak untuk itu."
"Aku
tidak bisa memastikan perasaan Kureha-chan yang sebenarnya, tapi setidaknya
Saku-kun tidak sedang menunggu di sana tanpa memikirkan apa pun."
"Kalau
bagian itu, kamu berani menjamin ya."
"Pasti
Kureha-chan yang mengajak, dan Saku-kun setidaknya pasti sempat mencoba untuk
mengelak."
"Aku pun
berpikir begitu."
"Tapi
karena Kureha-chan ternyata anak yang peka, dia jadi merasa tersakiti lebih
dari yang seharusnya."
"Merasa
dikucilkan, ya..."
"Saku-kun
adalah orang yang tidak bisa mengabaikan hal seperti itu."
"Karena
Saku-nii adalah pahlawan."
"Jadi
dia bukan sedang menghabiskan waktu bersama Kureha-chan di sana, melainkan
sedang menunggu Asuka-senpai di sana."
"──!"
"Aku
rasa, begitulah cara dia berdamai dengan situasinya."
Setelah aku
selesai bicara, Asuka-senpai tertawa pelan dengan suara yang rapuh.
"Kalau
dipikir dengan kepala dingin, sebenarnya semuanya sudah jelas, ya."
Aku
merasa sedikit tidak enak dan menunduk.
"Maafkan
aku, aku terlalu banyak bicara karena bermaksud menasihati diriku
sendiri."
Asuka-senpai
menatapku, matanya melembut seolah beban di hatinya baru saja terangkat.
"Tidak,
aku sendiri yang memintanya, kok."
Ia melakukan
peregangan badan, lalu memiringkan kepalanya sambil tersenyum geli.
"Terima
kasih, Yua-san."
Aku
bergeser di tangga untuk sedikit memperpendek jarak kami. Sambil menarik-narik pelan lengan kaus Asuka-senpai, aku
berkata.
"Asuka-senpai,
sekarang giliran Kakak."
Sepertinya ia
langsung paham maksudku, ia mengerjapkan bulu matanya yang indah seolah merasa
tertarik.
"Boleh?"
"Aku
ingin mendengarnya dari Asuka-senpai, orang yang paling netral di antara
semuanya."
"Begitu
ya," Asuka-senpai memejamkan mata seolah setuju.
Setelah
hening sejenak karena ia tampak berpikir, ia mengernyitkan alis dengan jahil
seolah sedang menggoda anak kecil.
"Begini
ya, Yua-san. Kamu itu bukan istrinya Saku-kun."
"Aduh,
Asuka-senpai! Cara bicaranya itu lho!"
Kata-katanya
menusuk jauh lebih dalam dari yang kubayangkan sampai-sampai aku refleks
memprotesnya. Asuka-senpai pun tidak tahan lagi dan tertawa hingga rambutnya
bergoyang.
"Maaf,
maaf, aku cuma ingin sedikit menjahilimu."
Aku
mengerucutkan bibir dengan sengaja.
"Tuh kan, ini namanya pembalasan!"
Entah kenapa,
aku mulai bisa memahami perasaan Saku-kun yang terkadang jadi sedikit
kekanak-kanakan di depan orang ini.
Dia
benar-benar orang yang misterius. Asuka-senpai berdeham pelan, lalu berkata dengan tatapan mata yang dewasa.
"Kalau
begitu, sekarang giliranku memberi balasan, ya."
Aku
mengangguk mantap, dan ia pun mulai berbicara seolah sedang melantunkan bait
puisi yang menyedihkan.
"Aku
tahu Yua-san mendukung keseharian Saku-kun yang hidup sendirian."
"Tidak
sampai sehebat itu, sih..."
"Tapi
itu baru sebatas mendampingi, belum sampai pada tahap melebur menjadi
satu."
"Maksud
Kakak... keseharian Saku-kun bukanlah keseharianku, begitu ya?"
"Benar.
Karena itulah, meski kamu punya hak untuk masuk, kamu tidak punya wewenang
untuk mengusir."
"Aku...
merasa sudah memahaminya, tapi ternyata belum, ya."
"Aku,
Nanase-san, Aomi-san, Hiiragi-san, bahkan Nozomi-san sekalipun, pada dasarnya
tidak butuh izin Yua-san hanya untuk berdiri di dapur rumah Saku-kun."
"Itu,
tentu saja."
"Terlebih
dalam kejadian kemarin. Yang mengundang Nozomi-san dan menyetujui tawarannya
untuk memasak bukanlah Saku-kun, melainkan Yua-san."
"……Iya."
"Lalu,
apakah tidak keterlaluan jika kamu malah menjadi emosional hanya karena dia
ternyata semahir dirimu dalam memasak?"
"──!
Kakak benar sekali."
"Soal
kursi yang dia hadiahkan pun, Saku-kun menyiapkannya untuk Yua-san, kan?"
"Karena
kami sudah berjanji soal stok masakan mingguan, awalnya memang aku yang duduk
di sana. Kurasa Saku-kun juga tidak menyangka kalau Kureha-chan bakal
memasak."
"Dan
tentu saja, Nozomi-san tidak tahu soal itu."
"Tentu
saja."
"Jika
begitu, dari sudut pandang Nozomi-san, dia hanya merasa dimarahi tanpa alasan
jelas oleh senior yang biasanya tenang dan baik hati."
"Benar-benar...
aku tidak punya pembelaan apa pun."
"Lalu,"
Asuka-senpai menjeda sejenak, kemudian melanjutkan dengan suara yang sedikit
lebih lembut.
"Apa
kamu tahu alasan kenapa Saku-kun tidak mengejar kita saat itu?"
Mendengar
pertanyaan itu, aku menjawab seketika tanpa ragu sedikit pun.
"Karena
jika dia mengejar, Kureha-chan yang tidak melakukan kesalahan apa pun akan
menjadi pihak yang bersalah."
Asuka-senpai
mengangguk perlahan dengan ekspresi tenang. Sebenarnya tanpa perlu mencocokkan
jawaban begini pun, akulah yang bersalah.
Tapi
jika di saat itu Saku-kun mengejar Asuka-senpai atau aku, Kureha-chan yang
tertinggal sendirian pasti akan menyalahkan dirinya sendiri.
Meskipun
secara fakta kamilah yang terluka karena keegoisan sendiri, setidaknya Saku-kun
pada saat itu mengambil keputusan instan untuk──.
Memihak pada
sisi yang membuat kami menangis.
Satu, agar
tanggung jawab tidak ditimpakan pada gadis junior yang tidak bersalah.
Dua, pasti
agar dengan begitu, dia meninggalkan celah bagi kami untuk berpikir bahwa yang
salah bukanlah kami, melainkan dirinya sendiri.
Entah itu
dilakukan secara sadar atau tidak, Saku-kun memang punya sisi seperti itu.
Bahkan kelemahan kami pun, tanpa sadar coba ia pikul sendiri.
Saat aku
sedang memikirkan hal itu, Asuka-senpai bergumam dengan nada sedikit mencela
diri.
"Mungkin
hanya itu satu-satunya pelipur lara kecil bagi kita yang sekarang."
"Apa...
maksudnya?"
Saat aku
bertanya balik, ia mengernyitkan alis seolah sedikit bingung mencari kata.
"──Saku-nii
selalu memprioritaskan urusan orang lain daripada urusannya sendiri."
Ia
mengatakannya dengan tatapan mata seperti gadis kecil yang mengagumi pahlawan.
"Urusan
sendiri, dan urusan orang lain..."
Saat aku
mengulangi kata-katanya dengan suara lirih, ia buru-buru menambahkan.
"Urusan
orang lain itu cuma kiasan, lho. Aku tidak bermaksud bilang kalau Nozomi-san
itu cuma orang lain baginya, ya, untuk jaga-jaga saja."
"Iya,
aku mengerti kok."
Singkatnya,
yang ingin dikatakan Asuka-senpai adalah bagi Saku-kun yang sekarang,
kesalahpahaman dengan kami termasuk dalam cakupan "urusannya
sendiri".
Karena itulah
ia menomorduakannya, dan terlebih dahulu memikirkan posisi serta perasaan
Kureha-chan.
Aku tidak
boleh senang secara sembarangan karena sudah merepotkan Saku-kun dan menyakiti
junior, tapi jika memang benar begitu, itu memang sebuah pelipur lara yang
nyata.
"Fiuh,"
aku mengembuskan napas panjang dan melemaskan bahu. Rasanya kekalutan yang
menghantui sejak hari itu akhirnya bisa terurai.
Saat aku
menoleh, profil wajah Asuka-senpai juga tampak segar dan lega. Benar-benar
pilihan tepat untuk bicara dengannya, pikirku sambil memanggilnya.
"Terima
kasih banyak, Asuka-senpai."
"Sekarang
kita impas, kan?"
"Iya!"
"Nah,"
Asuka-senpai pun berdiri.
"Sepertinya
kita harus segera kembali."
Aku pun
mengikutinya.
"Benar
juga."
Kami
masing-masing membawa satu kantong plastik. Tepat saat hendak menuruni tangga,
Asuka-senpai membuka suara seolah baru teringat sesuatu.
"Terakhir,
bolehkah aku menanyakan satu hal yang sedikit memalukan?"
Aku terkekeh
pelan sebelum menjawab.
"Aku
sudah menceritakan hal-hal memalukan sepanjang tadi, jadi tidak masalah
sekarang."
"Benar
juga," Asuka-senpai menggaruk pipinya, lalu—
"Hei, Yua-san."
Ia berucap
dengan suara yang terdengar dewasa, namun di saat yang sama juga terdengar
seperti siswi SMA biasa di mana pun.
"Apa
Nozomi-san... menyukainya?"
Aku tidak
bertanya siapa yang dimaksud. Tanpa perlu memastikan pun, hal itu sudah
tersampaikan dengan sangat jelas.
"Entahlah,
aku tidak tahu."
"Iya ya,
maaf."
Hanya satu
hal, pikirku sambil menatap punggung ramping Asuka-senpai yang mulai berjalan.
Kira-kira,
apakah Asuka-senpai selama ini terus memendam perasaan yang tak tersalurkan,
sentimentalitas yang tak bertujuan, dan cerita yang mustahil dikatakan padanya,
seorang diri?
Jika
gadis ini pun begitu,
──Pasti,
ia menyembunyikan hati yang kuat dan mulia di dalam dadanya.
◆◇◆
Aku lega bisa
bercerita pada Yua-san. Aku, Nishino Asuka, berpikir demikian sambil berjalan
menuju Taman Ikuhisa.
Di
belakangku, langkah kaki yang anggun terdengar mengikutiku dengan sopan. Sampai
sekarang, tidak ada orang yang bisa kuajak berbagi kegundahan tentangmu seperti
ini.
Yua-san, Hiiragi-san, Nanase-san,
Aomi-san────.
Mungkinkah
kalian selama ini terus menjalin percakapan seperti ini?
Misalnya,
latihan bisbol di mana hanya aku yang tidak diajak. Misalnya, malam kamp
belajar di mana hanya aku yang tidak bisa tidur bersama kalian. Bahkan bulan
Agustus itu, di mana hanya aku yang merasa terasing.
Sejujurnya,
aku iri. Hubungan di mana teman-teman yang menyukai laki-laki yang sama bisa
saling menelanjangi isi dada.
Itu seperti
bisik-bisik rahasia di kotak pasir taman bermain. Seperti diam-diam berpegangan tangan di dalam
terowongan yang digali dari kedua sisi.
Ada
campuran antara rasa bersalah karena menyembunyikannya dari siapa pun, dan
euforia yang tercipta karenanya.
Tiba-tiba,
kenangan masa lalu saat kegiatan menginap di sekolah muncul dari dasar ingatan.
Waktu aku masih kelas lima SD, di Rumah Alam Pemuda yang pernah kuceritakan
padamu.
Kalau
tidak salah, kami menginap di ruangan dengan empat tempat tidur tingkat yang
saling berhadapan. Satu kelompok empat orang, tiga gadis selain aku.
Kami
ribut bercanda menentukan siapa yang tidur di atas atau di bawah. Dulu aku
tidak paham, tapi sekarang aku sadar kalau itu mungkin pengaturan agar
anak-anak yang mulai puber tidak berbuat nakal.
Ada
aturan bahwa pintu kamar harus tetap terbuka selama waktu bebas, kecuali saat
tidur.
Aku
ingat, saat kami duduk di ranjang bawah sambil mengobrol, terkadang ada momen
di mana ketiga gadis itu tiba-tiba menjadi heboh.
Itu selalu
terjadi saat "sang bintang kelas" lewat di depan kamar.
──Mereka
semua menyukai laki-laki yang sama.
Jago
lari, segar, baik, dan lucu. Persis seperti Saku-nii saat kecil dulu, dia
adalah tipe yang memenuhi semua syarat untuk menjadi populer di SD.
Aku
masih ingat bagaimana aku merasa heran melihat mereka bertiga saling merapat
dan menahan jeritan senang setiap kali anak laki-laki itu lewat.
Apa
sih yang begitu menyenangkan?
Biar
kujelaskan, aku bukan bermaksud meremehkan atau mengejek mereka. Karena aku
sudah bertemu Saku-nii, aku sangat paham rasanya jadi heboh saat melihat orang
yang disukai.
Hanya
saja, aku tidak mengerti tindakan berbagi perasaan itu di antara teman akrab.
Bagi
mataku, mereka justru terlihat seperti mempererat ikatan dengan mengalungkan
"paspor" bertuliskan 'menyukai laki-laki yang sama'.
Padahal yang
bisa saling mencintai hanya satu orang, pikirku berulang kali saat itu. Yang
paling aneh adalah fakta bahwa hampir seluruh kelas tahu kalau anak laki-laki
itu sebenarnya menyukai salah satu dari tiga gadis di kamar itu.
Tapi, kenapa
ya.... Padahal mereka menyukai laki-laki yang sama, dan siapa yang akan dipilih
sudah hampir pasti,
"Barusan
dia pasti melihat ke sini!"
"Ah,
masa sih."
"Dia
sengaja lewat depan kamar kita terus dari tadi tahu!"
"Kenapa
nggak tembak saja sekalian."
"Tapi
kan belum tentu dia beneran suka..."
"Semua
orang bilang itu sudah kelihatan banget!"
──Meski
begitu, mereka bertiga tetap bersama-sama dan terus bersenang-senang selamanya.
Waktu macam
apa itu sebenarnya?
Aku
menyipitkan mata, meresapi sisa memori masa lalu yang tiba-tiba datang
berkunjung.
Masa di mana
semua orang masih menjadi gadis kecil. Mungkin mereka semua hanya sedang jatuh
cinta pada konsep jatuh cinta. Atau jatuh cinta pada diri mereka sendiri yang
sedang menyukai laki-laki yang sama.
Sekarang,
setelah aku melewati masa gadis kecil itu, aku mulai sedikit memahami perasaan
itu. Seolah terbungkus selimut berwarna merah muda pucat sambil saling
merapatkan bahu.
──Rahasia
khusus perempuan, yang tidak boleh didengar oleh anak laki-laki.
Tapi, tetap
saja, pikirku sambil merasakan kehadiran Yua-san yang hangat di belakangku.
Tangan yang tertaut di dalam terowongan pasir suatu saat harus dilepaskan.
Selama ini
tidak apa-apa. Aku selalu berada di luar lingkaran, dan karena itulah, aku
tidak perlu memikirkan gadis lain saat memikirkanmu.
Dengan kata
lain, aku diizinkan berperilaku bebas seperti kucing liar, dan──.
──Aku tidak
sadar bahwa aku akan melukai seseorang saat cintaku terwujud.
Tentu saja,
secara logika aku paham. Bahwa di balik cinta yang terwujud, ada cinta yang
gagal yang tergeletak begitu saja—itu adalah dasar dari setiap cerita.
Tapi karena
aku tidak berada di lingkaran kalian, aku bisa tetap tidak bertanggung jawab
sekaligus tidak sadar akan hal itu.
Meski aku
mulai merasakan semacam kasih sayang seiring seringnya mendengar cerita atau
memberi saran, aku tidak cukup baik hati sampai mau menarik mundur hatiku
sendiri.
Tapi
sekarang, sudah tidak bisa lagi────.
'Akhirnya,
namaku bisa berjejer dalam cerita kalian.'
Aku pun telah
menjadi salah satu tokoh di dalamnya. Itulah yang selama ini kuinginkan.
Betapa
indahnya jika aku seangkatan dengan kalian, berada di kelas dan kelompok yang
sama, lalu merajut cerita yang sama.
Meskipun itu
hanya terwujud sesaat, hubungan yang lahir di sini pasti tidak akan hilang
bahkan setelah festival sekolah berakhir.
Karena itulah
aku mau tidak mau harus menghadapinya. Ini bukan lagi sekadar cerita milik
Nishino Asuka seorang.
Padahal
selama ini aku selalu menulisnya dengan sudut pandang orang pertama. Tokoh
utamanya adalah Nishino Asuka, dan jika cintanya terwujud, maka itu adalah
akhir bahagia yang mutlak.
Meskipun di
baliknya ada seseorang yang menangis, selama tidak digambarkan, maka itu
dianggap tidak ada.
Tapi sekarang
setelah aku menjadi tokoh dalam drama kelompok yang kalian rajut,
──Aku jadi
membayangkan air mata Yua-san.
Mungkin saja,
pikirku. Yua-san, Nanase-san, Aomi-san, bahkan Hiiragi-san yang sudah
menyatakan perasaannya sekalipun.
──Telah
menyadarinya sejak lama, namun tetap menghadapi cinta dan gadis-gadis di
samping mereka.
Jika
benar begitu, berarti hanya aku sendiri yang tertinggal jauh di belakang. Ini
adalah langkah yang kuambil atas keinginanku sendiri.
Aku
tidak bisa membatalkannya sekarang, dan aku pun tidak ingin melakukannya.
Waktu
yang kuhabiskan bersama semua orang di kamp pemandu sorak, juga hubungan yang
terjalin dengan Yua-san ini, pasti akan menjadi kenangan manis sepuluh tahun
mendatang.
Namun, aku
menyentuh dadaku perlahan. Mungkin aku terlalu naif dan murni.
Seandainya
hari itu aku tidak terbawa suasana oleh ajakanmu dan tidak masuk ke tim pemandu
sorak.
Seandainya
malam itu aku tidak menjadi Asuka-senpai, dan menghilang sebagai Nishino-senpai
yang merupakan sebuah ilusi.
──Maka aku
pasti bisa tetap setia pada cintaku dengan sepenuh hati.
Tiba-tiba,
kata-kata yang sempat terucap tadi kembali terngiang.
"Apa
Nozomi-san menyukainya?"
Meskipun aku
tahu tidak akan ada jawaban yang kembali, kenapa aku menanyakan hal itu pada Yua-san?
Bukannya aku
benar-benar berpikir begitu, apalagi bermaksud waspada dengan cara yang licik.
Mungkin,
secara tidak sadar aku mendambakannya. Posisi Nozomi-san yang sekarang, yang
masih bisa bertindak sesuka hati di luar lingkaran.
Garis
start di mana dia bisa berlari menuju cinta yang mungkin sudah atau akan
dimulai, tanpa perlu memedulikan orang lain. Senior dan junior, junior dan
senior.
Bentuknya
sedikit berbeda, tapi Nozomi-san masih memegang erat hak untuk berpura-pura
tidak melihat—hak yang seharusnya juga kumiliki hingga beberapa saat yang lalu.
Ah, kalau tahu bakal begini.
Harusnya
kutanyakan baik-baik selagi aku masih bisa menjadi gadis kecil.
──Bagaimana
gadis itu, bagaimana gadis-gadis itu, menyatukan simpul cinta mereka?
◆◇◆
Setelah
menenggak habis minuman yang dibelikan Yua dan Asu-nee dalam hitungan detik,
aku, Chitose Saku, berdiri di depan mesin penjual otomatis di area taman.
Aku
mengambil koin dari kantong kiri, memasukkannya sambil bergemerincing, lalu
setelah ragu sejenak, aku menekan tombol Calpis.
Di
sini, tiga mesin penjual otomatis dan tempat sampah berjejer rapi di bawah
naungan gubuk seng sederhana, memberikan kesan seperti halte bus di desa.
Pemandangan
itu dan sinar matahari yang mulai condong ke barat membuatku teringat kembali
pada senja musim panas yang telah lama berakhir dengan penuh kerinduan.
Aku
meminum Calpis-ku sedikit dengan nada mencela diri.
Setelah
merasa sedikit tenang, aku duduk di bangku di depanku. Saat aku meremas pelan lengan dan pinggangku, ada sensasi
kaku di berbagai bagian tubuh atasku.
Padahal aku
terus berlatih meski sudah berhenti dari klub bisbol, tapi sepertinya besok aku
bakal kena nyeri otot setelah sekian lama, pikirku sambil tanpa sadar tersenyum
tipis.
Aku
tidak menyangka Kenta bakal membuat koreografi seberat ini.
Merasa
senang karena nyeri otot adalah semacam insting anak klub olahraga.
Berbeda
dengan teknik bisbol atau stamina yang meningkat secara perlahan, hasil latihan
langsung memberikan umpan balik pada hari berikutnya.
Mengabaikan
urusan teknis seperti cedera dan luka, pada dasarnya semakin sakit rasanya,
semakin terasa pertumbuhannya—kesederhanaan itulah yang kusuka. Saat aku sedang
melamunkan hal itu,
"Saku,
boleh aku duduk di sampingmu?"
Tanpa sadar
Yuko sudah berdiri di dekatku dan menatapku.
"Oh,
kerja bagus."
"Aku
cuma menyanyi saja, sih—"
Aku
mengibaskan dedaunan kering yang ada di atas bangku. Melihat itu, Yuko menyipitkan matanya dengan lembut.
"Terima
kasih, Saku."
Sambil
berkata demikian, ia duduk dengan anggun di sampingku. Aku sempat mengira sudah
mulai terbiasa melihatnya, tapi aku tanpa sadar memalingkan wajah dari Yuko.
Profil wajah
yang sudah kulihat berkali-kali selama satu setengah tahun terakhir.
Rambut
panjangnya yang lembap hingga ke ujung mengalir di atas kausnya setiap kali ia
tertawa, dan di hari yang cerah, rambut itu akan mengembang lembut menjatuhkan
bayangan seperti sayap.
Setiap kali
melihatnya, aku seolah sedang melihat gelembung sabun tujuh warna yang muncul
silih berganti, mengajariku pemandangan asing dan perasaan-perasaan baru.
Tapi
sekarang, aku kembali mencuri pandang ke profil wajah Yuko.
Rambut sebahu
yang dipotong pendek itu berkibar lembut seperti aliran sungai yang jernih, dan
di bawah cahaya senja, rambut itu berkilauan menjatuhkan bayangan seperti
bintang pertama yang berkedip.
Setiap kali
merasakannya, aku seolah sedang terlelap dengan nyaman di tepi danau sunyi yang
hanya menyisakan suara air.
"Saku...?"
Saat aku
sedang melamunkan hal itu, Yuko menoleh ke arahku dan memiringkan kepalanya
dengan heran.
Menyadari
kalau aku baru saja terpesona padanya, aku tertawa kecil untuk menutupinya lalu
membuka suara.
"Jadi,
ada perlu apa?"
Mendengar
pertanyaanku, ia menyipitkan mata dengan geli.
"Ehm.
Urusanku adalah... ingin mengobrol dengan Saku."
"Begitu
ya."
Setelah aku
menjawab singkat, Yuko melanjutkan pembicaraan sambil menatap ke arah lapangan.
"Sudah
bulan Oktober, ya."
"Waktu
berlalu cepat, ya."
"Rasanya
festival sekolah sudah benar-benar dekat."
"Bagian
'Perjamuan' di sini sepertinya bakal aman, tapi bagaimana dengan
bagianmu?"
"Beres!
Yuzuki dan yang lainnya juga terlihat senang kok."
"Syukurlah
kalau begitu."
"Drama
kelas juga harus kita usahakan, ya."
"Kamu
bakal baik-baik saja, kan, Putri Salju?"
"Tentu
saja. Bagaimana denganmu, Pangeran yang plin-plan?"
"Sudahlah,
jangan bahas itu."
"Tapi
aku suka lho, pangeran yang satu ini."
"Kalau
baca naskahnya, bukankah dia terlihat cukup menyedihkan?"
"Aku
suka bagian menyedihkannya itu."
"Kamu
bahkan tidak membantahnya, ya..."
"Karena
itu adalah sisi lain dari kebaikan dan ketulusanmu."
"Aku
tahu naskahnya ditulis dengan niat seperti itu, tapi tetap saja..."
Aku menjeda
kalimatku sejenak, lalu menatap ke samping dengan nada sedikit manja. Yuko juga
menoleh ke arahku, memantulkan sosokku pada permukaan matanya yang bening.
Rambut
sebahunya berkibar lembut seolah sedang mengusap kepalaku dengan penuh kasih
sayang. Aku menyerahkan diri pada kenyamanan itu sambil membuka suara.
"Apa
tersampaikan?"
"Tersampaikan,
kok."
"Apa aku
bisa memilih?"
"Kamu
bisa memilih."
"Karena
ini cuma akting."
"Aku
tidak akan terluka."
"Seandainya
saja."
"Boleh
saja."
"Karena
ini berbeda."
"Aku
tahu."
"Kita
sedang saling berhadapan."
"Perasaannya
sampai, kok."
"Apa aku
terlihat menyedihkan?"
"Mungkin
sedikit menyedihkan."
"Kamu
benci aku?"
"Aku
suka."
"Untuk
obrolan barusan."
"Bagiku,
itu boleh saja."
"Sepertinya
aku memaksamu mengatakannya."
"Kamulah
yang membiarkanku mengatakannya."
"Yuko."
"Saku."
"Maaf,
aku cuma ingin memanggil namamu."
"Iya,
aku juga."
Rasanya
seperti kelinci di bulan, pikirku.
Pettan,
pettan, hanya kami
berdua. Pattan, pattan, hanya kami berdua.
Saat aku
menumbuk hatiku yang putih bersih, Yuko dengan cekatan membolak-balik dan
merapikan bentuknya.
Dulu di jalan
pulang, ia pernah mengatakannya padaku.
"Kalau
kamu sudah benar-benar membuka hati, aku ingin membicarakan banyak hal. Hal-hal
yang ingin kukatakan, hal-hal yang ingin kudengar, bahkan keluhan sekalipun...
masih banyak sekali yang ingin kusampaikan."
Begitu ya.
Aku tanpa sadar menyipitkan mata karena merasa rindu. Waktu itu aku mengalihkan
pembicaraan dengan menyebut-nyebut soal Kenta untuk menyembunyikan perasaanku,
tapi mungkin Yuko memang sudah lama ingin mengobrol seperti ini.
Namun, ini
sungguh aneh.
──Saat hati
sudah benar-benar terbuka, ternyata kata-kata tidak lagi begitu dibutuhkan.
Yuko
melanjutkan pembicaraan seolah baru teringat sesuatu.
"Tapi,
aku merasa sedikit kesepian."
"Kesepian...?"
"Habisnya,
bukankah festival seperti ini bagian paling menyenangkannya adalah saat masa
persiapan?"
"Aku
paham perasaan itu."
"Tahun
depan, apa kita semua akan melakukannya lagi?"
"Entahlah."
"Kamu
tidak tahu, ya."
"Aku
tidak tahu."
"Saku,
boleh aku mengatakan hal yang sedikit lebih menyedihkan?"
"Asal
itu bukan hal yang mendukakan."
"Bukankah
muara dari kesepian adalah kedukaan?"
"Mungkin
kesepian adalah sisa-sisa dari kedukaan."
"Kamu
aneh, Saku."
"Kamu
juga aneh, Yuko."
"Tapi
perasaan ini, aku yakin ini adalah kesepian."
"Kalau
begitu, aku dengarkan."
"Bukankah
ini akan menjadi yang terakhir?"
"Terakhir..."
"Iya.
Festival sekolah kita."
Ah, itu
memang benar-benar obrolan yang menyepikan. Namun, aku bisa memahami apa yang
ingin Yuko sampaikan hingga rasanya menyesakkan.
Karena
Asu-nee akan lulus, dan karena Kureha mungkin tidak bisa berada di warna yang
sama dengan kami. Aku sudah menyadari hal-hal itu sejak lama, tapi bukan hanya
itu.
──Tahun
depan, kita pasti tidak akan bisa menjadi diri kita yang sekarang lagi.
Aku tidak
tahu akan berakhir seperti apa, tapi setidaknya, hubungan di mana hati semua
orang terikat oleh satu benang biru yang sama sudah mencapai batasnya.
Karena kami
harus memilih. Karena kami harus memberikan jawaban.
──Karena kami
harus mengurai benang biru itu, dan mengikat kembali benang merah yang baru.
Sebab itulah,
ini yang terakhir.
Aku membuka
suara agar tidak terlarut dalam kesepian, atau terkejar dan ditinggalkan oleh
kedukaan.
"Aku
juga berpikir begitu."
Yuko berucap
seolah sedang melipat kesepian itu rapi-rapi untuk disimpan di dalam sakunya.
"Ayo
kita nikmati ya, Saku."
"Ayo
kita nikmati, Yuko."
Setidaknya,
pikirku. Sampai festival sekolah pertama dan terakhir bagi kami semua ini usai,
biarlah kami tetap berada di warna biru yang sama. Meskipun langkah kaki warna
merah yang akan mewarnai musim sudah terdengar mendekat tepat di hadapan kami.
◆◇◆
Karena kami
mengambil waktu istirahat yang agak lama, aku pun pindah ke area lapangan athletic
sambil jalan-jalan bersama Yuko.
Meski mungkin
tidak sampai disebut ikon Taman Ikuhisa, di sana ada wahana permainan yang
menggabungkan perosotan, tali, dan jaring. Aku ingat terkadang datang ke sini
saat masih kecil.
Lalu kami
kembali duduk di bangku, asyik mengobrol santai saat tiba-tiba—
"Senpai!
Yuko-san!"
Kureha
berlari mendekat dari belakang dengan ceria. Aku dan Yuko saling bertukar
pandang, lalu membalasnya dengan lambaian tangan kecil.
"Yo,
kerja bagus."
"Kerja
bagus, Kureha."
Kureha
langsung berdiri di depan kami, melakukan gerakan seolah menyeka keringat di
dahi secara berlebihan dengan punggung tangan, lalu mengembuskan napas.
"Perutku
sudah kenyang bicara dengan Kazuki-san, jadi aku datang ke sini sebentar untuk
menjadikan Senpai sebagai pencuci mulut!"
"Heh."
Saat aku
refleks menyahut, Yuko di sampingku menggoyangkan rambut semi-panjangnya dengan
geli. Melihat itu, Kureha buru-buru bersuara seolah sedang membela diri.
"Jangan tertawa dong, Yuko-san!
Habisnya aku gugup sekali!"
Yuko menaruh tangan di depan bibir,
menahan tawa sambil berkata.
"Bukan,
bukan begitu."
Kureha
memiringkan kepalanya dengan bingung.
"Terus
kenapa?"
Mendengar
itu, tatapan Yuko melunak dengan lembut.
"Maksudku,
padahal Kureha sebenarnya jauh lebih gugup kalau mengobrol dengan Saku,
ya."
““Eh...?””
Suaraku dan
Kureha tumpang tindih secara bersamaan.
"Nggak
mungkin, lah."
"Nggak
mungkin begitu."
Melihat kami
berdua menunjukkan reaksi yang mirip, Yuko terkekeh dan tanpa menjelaskan lebih
lanjut, ia menepuk-nepuk bagian kosong di bangku sampingnya.
"Kureha
mau duduk juga?"
"……Iya!"
Kureha duduk
sesuai ajakan dan langsung membuka suara.
"Apa
kalian sedang mengobrol berdua?"
Yuko yang
menjawab pertanyaan itu.
"Iya.
Akhirnya kami bisa punya waktu seperti ini lagi setelah sekian lama."
"Maaf,
apa aku jadi mengganggu?"
"Nggak
sama sekali, kok. Kami sudah bicara banyak tadi."
"Kalau
begitu syukurlah!"
Kalau
dipikir-pikir, itu benar. Dulu aku sering mengantar Yuko pulang dan mengobrol
tak tentu arah di taman tengah jalan, tapi sejak kejadian di bulan Agustus itu,
kami berdua seolah tidak enak untuk memulainya lagi.
Latihan tim
pemandu sorak selalu dilakukan bersama semua orang, jadi mungkin ini memang
pertama kalinya kami bisa bicara santai berdua lagi.
Namun,
rasanya kami justru lebih saling memahami dibanding sebelumnya. Sungguh aneh.
Setelah menatap Yuko dan aku secara bergantian, Kureha bertanya dengan nada
ragu seolah sedang menyelidiki.
"Anu,
apa kalian berdua merasa suasananya agak beda dibandingkan sebelum libur musim
panas...?"
Karena
pertanyaan itu terlalu tepat sasaran, aku refleks menjawab dengan kalimat yang
mengalihkan pembicaraan.
"Memangnya
Kureha tahu bagaimana kami sebelum libur musim panas?"
Kureha
menjawab tanpa ragu, seolah hal itu tidak perlu dijelaskan lagi.
"Kan
sudah kubilang, aku selalu memperhatikan kalian!"
Saat aku
kesulitan bereaksi, ia melanjutkan kata-katanya.
"Dulu
Yuko-san itu rasanya benar-benar seperti istri sah Senpai yang diakui semua
orang, kan? Baik di sekolah maupun di jalan pulang, kalian selalu jalan berdua,
dan di antara anak kelas satu pun kalian jadi bahan pembicaraan karena dianggap
terlalu serasi."
Bukannya aku
tidak sadar, tapi apa di mata orang lain terlihat seperti itu?
Mendengarnya
langsung dari mulut adik kelas begini rasanya canggung sekali.
Saat aku
melirik Yuko, dia pun tampak tersipu sambil menggaruk pipinya.
Aku
mengembuskan napas pendek lalu bertanya.
"Terus,
apa kami yang sekarang terasa berbeda?"
"Iya,"
jawab Kureha seketika.
"Aku
benar-benar minta maaf kalau kalian tersinggung, tapi karena aku sendiri yang
memulai, aku akan memberikan kesan yang jujur."
Ia menggaruk
pipinya dengan wajah yang agak tidak enak hati, lalu melanjutkan.
"Maksudku,
dulu kalian itu terlihat terlalu sempurna dan serasi, sampai-sampai aku sempat
berpikir kalau itu cuma akting atau terasa agak palsu..."
Ia
mendadak menjeda kalimatnya dan buru-buru menambahkan.
"Ah,
tentu saja dalam arti yang positif! Maksudku itu saking sempurnanya sampai
terasa seperti fiksi, entah itu drama atau film!"
Begitu
ya, aku tanpa sadar tertawa kecut.
"Mukka-chin...
apa aku harus marah?"
Saat aku
menoleh ke arah Yuko dengan nada menggoda, dia menatapku balik.
"Sa-ku?"
"Maafkan
aku."
Karena sudah
lama tidak dimarahi, aku minta maaf dalam sekejap. Entah kenapa hal seperti ini
malah membuatku tenang.
Saat aku
memberi kode lewat tatapan mata untuk melanjutkan, Kureha mengangguk dan
menyambung ceritanya.
"Belakangan
ini, rasanya kalian mendampingi satu sama lain secara alami. Seperti...
meskipun tidak dipaksakan untuk bersama pun, kalian tetap terlihat selalu
bersama..."
Aku sedikit
membelalakkan mata menyadari betapa jeli dia memperhatikan. Terlepas dari apa
yang Yuko pikirkan, itu persis dengan apa yang kurasakan.
Terasa lebih
jauh dari sebelumnya, namun di saat yang sama terasa lebih dekat dari
sebelumnya. Jika bahkan adik kelas yang hanya melihat dari jauh pun
menyadarinya, berarti memang ada sesuatu yang telah berubah di antara kami.
Apakah itu
"akhirnya benar-benar berubah" atau "akhirnya bisa
berubah", aku masih belum tahu.
"Sebenarnya
aku penasaran dari dulu," Kureha memberikan pengantar sebelum melanjutkan.
"Apa
terjadi sesuatu selama libur musim panas kemarin?"
Yah, melihat
alurnya, wajar saja kalau pertanyaan itu muncul. Sambil berpikir begitu, aku
menggaruk belakang leherku untuk mengulur waktu.
Terlepas dari
teman-teman yang akhirnya ikut terlibat, seberapa pun lucunya dia sebagai adik
kelas di tim pemandu sorak, ini bukanlah hal yang bisa diceritakan begitu saja
kepada orang lain.
Saat aku
bimbang harus menjawab apa, Yuko menatapku dan menyipitkan matanya dengan
tatapan yang sayu.
"Saku,
boleh aku menceritakannya?"
Mendengar
kata-kata yang berbeda dari dugaan—atau mungkin sesuai dugaan itu—aku
mengangguk tanpa ragu.
"Iya,
kalau Yuko tidak keberatan."
Memang
ini bukan cerita yang bisa disebarkan ke sembarang orang di depan stasiun.
Namun,
jika Yuko sudah memutuskan bahwa Kureha boleh tahu, aku pun tidak berniat
menghentikannya.
Pasti Yua
yang tidak ada di sini pun merasakan hal yang sama.
Kureha
memperhatikan interaksi kami dengan tatapan yang tampak sangat tertarik. Yuko
menoleh ke arahku seolah ingin memastikan sekali lagi, lalu mengerjapkan
matanya perlahan.
"Terima
kasih, Saku."
"Terima
kasih, Yuko."
Setelah itu,
aku menyerahkan kelanjutan cerita padanya. Aku menyandarkan punggung ke
sandaran bangku dan memejamkan mata, seolah sedang menghanyutkan pikiran pada
bulan Agustus yang telah berlalu.
Anak-anak
kecil yang tadi bermain di wahana athletic menghentakkan kaki di atas
lantai kayu saat hendak pulang, dan mainan pegas di dekat kami berderit pelan
seolah sedang tertawa ditiup angin. Sesekali, suara dedaunan kering yang bergesekan ikut menimpali.
"Aku,
ya..." Yuko menoleh
ke arah Kureha sambil memiringkan kepala sedikit.
"Musim
panas ini, aku menyatakan cinta pada Saku, tapi ditolak."
"Eh...?"
Itu adalah
kejadian di tengah libur musim panas. Tentu saja, yang lain tidak akan
menyebarkan berita itu sembarangan, jadi Kureha yang jeli sekalipun baru
pertama kali mendengarnya.
Ia memainkan
jemarinya di atas rok dengan perasaan bersalah yang tampak jelas.
"Anu,
maaf aku bertanya tanpa pikir panjang..."
"Nggak
apa-apa, kok," sahut Yuko sambil menggoyangkan ujung rambut sebahu
miliknya dengan lembut.
"Karena
kami sudah bisa saling berpegangan tangan dengan benar, rasanya sudah tidak
sakit lagi."
"Berpegangan...
tangan..."
Yuko
mengangguk kecil, lalu mulai bercerita dengan perlahan.
Tentang rasa
tidak puasnya karena selalu diperlakukan istimewa sejak kecil. Tentang
keinginannya saat SMA untuk bertemu sahabat yang tulus dan orang yang
disukainya.
Tentang
keributan saat pemilihan ketua kelas tepat setelah masuk sekolah, momen ketika
ia pertama kali dimarahi dengan sungguh-sungguh. Tentang momen itu yang
membuatnya jatuh cinta padaku.
Bahwa ia
pertama kali menyatakan cinta saat kelas satu. Bahwa ia sempat meminta agar
jawabannya ditunda saja.
Bahwa ia
sebenarnya merasa cemas terhadap Yua yang menjadi akrab dengannya di semester
kedua. Bahwa ia terus-menerus menyesali hal itu.
Bahwa setelah
masuk kelas dua, ia juga berteman baik dengan Nanase dan Haru, sehingga merasa
harus segera menyelesaikannya. Tentang perasaannya yang menganggap gara-gara
dirinyalah, orang-orang berharganya jadi tidak bisa mementingkan perasaan
"istimewa" mereka sendiri.
Bahwa
pernyataan cinta itu bukan untuk memulai sesuatu, melainkan untuk
mengakhirinya. Dan terakhir, tentang Yua yang menggenggam tangannya.
Yuko
mengakhiri seluruh ceritanya, lalu perlahan membuka mata.
"Itulah
Agustus kami."
Kureha yang
mendengarkan cerita itu dengan ekspresi seolah hendak menangis sejak di tengah
cerita, akhirnya tidak tahan lagi.
"Begitu...
ya..."
Air mata
jatuh membasahi pipinya.
"Eh, ah,
aku..."
Ia mungkin
tidak sadar kalau sedang menangis. Tepat saat air mata jatuh dari ujung
dagunya, Kureha membelalakkan mata.
Yuko
menyodorkan saputangan berwarna bunga matahari dengan ekspresi sedikit bingung.
"Aduh,
kenapa malah Kureha yang menangis?"
"Bukan
begitu, ini bukan air mata yang indah seperti itu, hiks──"
Kureha hendak
mengatakan sesuatu tapi kemudian terdiam, jemarinya mengepal kuat di atas rok.
Selama ia terdiam, tetesan air mata terus jatuh membasahi punggung tangannya.
"Maaf,"
ucap Kureha sambil menerima saputangan itu.
"Nanti
akan kucuci dulu sebelum kukembalikan."
"Tidak
usah, tidak apa-apa kok."
Melihat
Kureha menyeka air mata dengan sangat hati-hati agar tidak mengotori saputangan
itu, Yuko menyahut dengan nada suara yang lembut.
"Anu,
apa ini namanya menangis karena simpati...?"
Kureha
menggelengkan kepalanya kuat-kuat seolah menolak sesuatu.
"──Meski
akan lebih baik jika aku menganggapnya begitu, tapi aku tidak ingin
menganggapnya begitu."
Yuko mengelus
punggung juniornya dengan lembut, seolah sedang mencoba menyeka air mata yang
ada di dalam hati gadis itu.
"Bisa
beri tahu aku sedikit lagi?"
Kureha
mengendus napas pendek. Ia memalingkan wajah karena malu, lalu memeras suaranya
yang hampir gemetar dengan kedua tangan, seolah sedang mencoba membuang
sisa-sisa air di sana.
"...Aku
merasa, bahkan musim panas pun kubiarkan berlalu begitu saja."
Sentimentalitas
musim panas yang kehilangan arah itu menabrak pintu masuk musim gugur dan
terjatuh dengan bunyi berdenting. Kejernihan yang tak tersentuh meluap layaknya kelereng di dalam botol
Ramune.
Bergoyang,
meletup, dan menghilang seperti buih Ramune. Sejujurnya, aku tidak tahu makna
apa yang terkandung dalam kata-kata itu.
Meskipun
baru sebentar mengenalnya, Kureha terkadang menunjukkan ekspresi dewasa yang
mengejutkan. Namun, ini
pertama kalinya ia memperlihatkan sisi hatinya yang rapuh tanpa pertahanan
seperti ini.
Wajah
tangisnya itu benar-benar terlihat seperti seorang junior, entah kenapa terasa
seperti musim semi yang belum tersentuh, tampak seperti seorang gadis yang
sendirian.
"Hei,
Kureha?"
Tanpa
menunjukkan keraguan sedikit pun, Yuko membuka suara.
"Kamu
bisa memulainya lagi, kok."
Mendengar
itu, mata Kureha membelalak.
"Eh...?"
Yuko
menyipitkan mata seolah sedang menarik garis start baru dengan bubuk
putih salju.
"──Sama
seperti aku, yang cintanya berakhir di musim panas ini, lalu jatuh cinta lagi
dengan cara yang baru."
Ia
tersenyum lebar dengan sepasang mata yang sangat murni.
"Yuko-san..."
Kureha
menggigit bibirnya kuat-kuat dengan wajah yang seolah akan kembali meneteskan
air mata yang tadi sempat berhenti. Entah kenapa, aku pun merasa ikut ingin menangis.
Karena itu,
mari mulai melangkah lagi. Karena itu, mari mulai berlari lagi. Rasanya ia
sedang mengatakan hal semacam itu.
"Satu
hal saja," Kureha berdiri.
Ia melangkah
satu kaki ke depan, lalu memutar tubuhnya hingga roknya mengembang dan menoleh
ke arah kami. Di matanya yang baru saja menghalau air mata, tersimpan tekad
yang tampak seperti sebuah tantangan.
Mungkin, itu
adalah ekspresi yang sama dengan yang ia tunjukkan di garis start lari
jarak pendek.
"Yuko-san,
bolehkah aku menanyakan satu hal saja?"
Yuko
tersenyum lembut sambil memiringkan kepalanya.
"Boleh,
apa itu?"
Kureha
meremas saputangannya kuat-kuat sampai kusut, lalu berkata.
"Kalau
sudah berpegangan tangan, bukankah nanti jadi sulit untuk melepaskannya?"
"Ini
bukan soal melepaskan, tapi soal mempersembahkan."
Yuko
melanjutkan dengan suara hangat tanpa sedikit pun keraguan.
"Semua
perasaan yang meluap di dada ini, hari-hari yang telah kita lalui, warna-warna
yang terpantul di mata, tatapan yang kuberikan, suara yang tertinggal di
telinga, kehangatan tangan yang kusentuh, aroma jalan pulang, air mata yang
tumpah, hingga hati yang tak pernah sampai."
Ia menjeda
kalimatnya sejenak, lalu menyentuh dadanya perlahan dengan kedua tangan.
"──Aku
memercayakan semuanya padamu, jadi berbahagialah, ya."
Ia
mengatakannya dengan senyuman yang mekar seindah buket bunga.
““──!””
"Yuko,"
aku refleks hampir berdiri, namun mengurungkan niat di detik terakhir.
Mana
mungkin aku bisa melarangnya tersenyum seolah sedang mengucapkan selamat
tinggal. Mana mungkin aku punya muka untuk memohon padanya agar tidak berdoa
dengan wajah seperti orang yang hendak menangis.
Padahal
kaulah penyebab utama yang membuatnya memasang ekspresi seperti itu.
Kureha
berkali-kali hendak bicara namun terdiam kembali, lalu ia mengangkat bahu
seolah sedikit takjub, dan tiba-tiba tertawa geli dengan ekspresi jenaka.
"Yuko-san,
bukankah itu sedikit terlalu berat?!"
Yuko
memiringkan kepalanya dengan polos.
"Masa,
sih?"
Kureha
berkata dengan nada yang sangat lepas.
"Meski
akhirnya cintanya sendiri terwujud, apa mungkin dia bisa dititipkan hati gadis
lain?"
"Mungkin
saja," sahut Yuko sekali lagi dengan kalimat yang sama.
"Setidaknya
bagi gadis-gadis yang ingin kupanjatkan doanya, dia pasti akan membawa mereka
bersamanya."
Kureha tanpa
sadar membisikkan suara yang lirih.
"Apa di
antara mereka..."
Lalu ia
menggeleng seolah menarik ucapannya.
"Yah,
mereka semua memang orang-orang yang hebat, sih!"
"Iya!"
"Hubungan
di mana kalian saling peduli seperti itu... aku jadi iri!"
"Kureha
juga harus jadi teman seperti itu bagi kami, ya!"
"Ehehe~"
Tepat di saat
itu,
"Ketemu
juga. Ayo, sudah waktunya latihan lagi!"
Nanase
berlari mendekat dari arah belakang. Melihat jam, waktu istirahat kami memang sudah lama terlewat. Obrolan yang
melenceng ke arah yang tak terduga tadi membuatku terlalu terpaku
mendengarkannya.
Nanase
berkata dengan nada jengkel, "Astaga, kalian bertiga malah kumpul di
tempat seperti ini."
Aku
dan Yuko saling bertukar pandang dengan perasaan tidak enak. Kureha pun
buru-buru membela diri.
"Maaf!
Tadi aku yang meminta Yuko-san menceritakan tentang kejadian bulan
Agustus."
Alis
Nanase sedikit terangkat. "Hoo?"
Kureha
menyambung dengan suara polos, "Ceritanya sangat indah!"
Nanase
mengangkat bahu sedikit, lalu tersenyum dengan ketenangan khas seorang senior.
"Begitu
ya."
Saat
kami berempat mulai berjalan berjejer menuju lapangan,
"──────♫"
Tiba-tiba
Yuko menggumamkan melodi lagu yang akan diputar pada bagian Uta-ge.
"Aku
suka sekali lagu ini!"
Aku
dan Nanase refleks saling pandang, lalu terkekeh pelan.
"Aku
juga suka."
"Aku pun
suka."
Kureha
menyahut mengikuti suara Yuko, dan tak lama kemudian Nanase pun ikut bergabung.
Melodi yang sedikit kikuk itu pun melebur ke langit yang tanpa sadar telah
memasuki senja.
Rasanya
seperti sebuah impian jujur yang berpijak di bumi, dan itu terasa sangat tidak
buruk.
◆◇◆
Setelah
menyelesaikan latihan tim pemandu sorak dan berpisah dengan yang lain di Taman
Ikuhisa, aku, Nanase Yuzuki, menghentikan sepeda cross milikku di
alun-alun Stasiun Tawaramachi dalam perjalanan kembali ke arah SMA Fujishi,
lalu berdiri di atas jembatan penyeberangan orang (JPO) di dekat sana.
Sekelilingku
sudah benar-benar diselimuti kegelapan tipis sewarna bunga kikyō. Malam sudah
mulai terasa panjang, pikirku.
Seolah ada
seseorang yang menggosok garis batas siang yang ditarik pensil dengan penghapus
mainan. Semakin lama dibiarkan, berlawanan dengan keinginan pemiliknya, pita
hitam itu perlahan-lahan merembes dan meluas.
Pasti saat
kusadari, semuanya sudah terwarnai sampai tak bisa diperbaiki lagi.
Mungkin,
itu mirip dengan diriku yang sekarang. Saat aku sedang hanyut dalam pikiran
yang tak tentu arah itu,
"Aku
suka pemandangan dari atas jembatan penyeberangan," ucap Kureha yang
berdiri di sampingku.
"Kurasa
aku paham maksudmu," jawabku sambil menatap pemandangan malam yang
terbentang di depanku.
Jalan
Phoenix yang lebar di bawah jembatan ini dipenuhi mobil dengan lampu depan
menyala yang mengalir teratur seperti gerombolan ikan migrasi.
Di
tengahnya, rel kereta yang menuju Stasiun Tawaramachi membentang, dan trem yang
lebih tinggi dari sekitarnya menjauh perlahan seperti kapal penumpang yang
mengarungi lautan.
Lampu
jalan dan mesin penjual otomatis terpantul pada sekat transparan halte bus,
berkerlap-kerlip indah.
Lampu
lalu lintas yang berjejer di sepanjang jalan lurus itu berganti warna
bergantian antara merah, biru, dan kuning.
Atap
segitiga khas GOR Fukui yang samar-samar terlihat di sebelah kiri seolah
menyatu dengan deretan pegunungan di kejauhan.
"Sudah
lama ya," ucapku begitu saja sambil menyandarkan berat tubuh pada pagar
jembatan.
"Apanya?"
"Jembatan
penyeberangan."
"Kalau
tidak ada niat untuk naik, kita memang tidak akan ke sini, kan?"
"Mungkin
terakhir kali aku naik saat SD."
"Aku
jadi membayangkannya sebentar."
"Pasti
imut, kan?"
"Iya,
sangat imut."
Sambil
melontarkan obrolan santai dengan Kureha, aku tiba-tiba teringat masa lalu
dengan rasa rindu.
Sekolah SD-ku
dulu menggunakan sistem berangkat berkelompok, jadi aku berangkat bersama
anak-anak tetangga yang bersekolah di tempat yang sama.
Tingkatan
kelas kami berbeda-beda. Biasanya kelas enam, atau jika tidak ada, kelas lima
yang menjadi ketua dan wakil ketua regu untuk memimpin di depan dan menjaga di
belakang.
Anak-anak
yang di depan memakai ban lengan, dan aku masih ingat betapa benda itu terlihat
seperti tanda jasa orang dewasa saat aku masih kelas bawah dulu.
Di jalan
besar dalam rute sekolah, ada jembatan penyeberangan klasik seperti ini, dan
kami berenam dengan tinggi badan yang tidak rata akan menyeberang dalam satu
barisan.
Karena ada
penyeberangan jalan di tempat yang agak jauh, orang dewasa lebih memilih lewat
sana, sehingga jembatan itu selalu hanya diisi oleh anak-anak.
Ngomong-ngomong,
dulu aku selalu merasa bersemangat setiap kali lewat jembatan penyeberangan.
Saat jam
sibuk pagi hari di mana mobil cukup padat, aku merasa memiliki rasa bersalah
sekaligus keunggulan yang aneh karena bisa melintas dengan lancar di atas
mereka.
Jika ada truk
besar lewat di bawah tepat waktu, getarannya akan terasa sampai ke kaki.
Aku sering
berkhayal, andai aku berani melompat dari sini sekarang, apa aku bisa sampai ke
kota antah berantah dengan menumpang punggungnya yang lebar itu?
Saat jalan
pulang bersama teman, jembatan penyeberangan bagi kami tidak ada bedanya dengan
wahana di taman.
Kami bermain
gunting-batu-kertas, menjadikannya arena petak umpet sambil berlarian ceria,
atau sekadar duduk di anak tangga untuk mengobrol.
Kami juga
pernah duduk berjejer diam melihat matahari terbenam di balik gunung.
Aneh ya,
kenapa aku bisa melupakannya?
Dulu,
jembatan penyeberangan benar-benar tempat yang istimewa. Bagi kami yang masih
kecil, rasanya seperti sedang mengintip kota lewat sela-sela pagar.
Sebuah
perasaan misterius di mana kami berpikir bahwa mobil-mobil dan orang-orang yang
lewat tidak akan sadar kalau mereka sedang diperhatikan dari tempat tinggi.
Mungkin, itu
adalah pemandangan luar biasa yang paling dekat dengan keseharian, sebuah
markas rahasia anak-anak yang tak akan ditemukan orang dewasa. Tanpa sadar aku
sudah lama melewatinya, pikirku sambil mengusap pagar di depan mataku. Terasa
dingin, dan tingginya jauh lebih rendah dari tubuhku sekarang.
Ah, benar
juga.
──Tempat ini
juga sangat cocok untuk percakapan rahasia sesama perempuan.
Aku
bergumam sambil menatap aliran mobil yang tak kunjung putus.
"Apa
tempat seperti ini suatu saat akan menghilang, ya?"
"Tempat
seperti ini...?"
"Jembatan
penyeberangan, atau hal-hal lain yang tugasnya sudah selesai."
"Apa
tugasnya sudah selesai?"
"Cuma
sentimentalitas malam saja, jangan dipikirkan."
Aku tidak
sedang ingin membicarakan dunia di siang hari—soal fungsinya untuk keamanan
pejalan kaki, atau soal anak SD yang masih menggunakannya, atau sebaliknya,
soal betapa tidak ramahnya tempat ini bagi lansia dan orang berkebutuhan
khusus.
Ada hal-hal
yang sudah berakhir secara konseptual.
Misalnya,
telepon umum yang merana di sudut jalan. Misalnya,
perangkat audio mini yang terjepit di antara speaker Bluetooth dan
sistem audio profesional. Misalnya, surat cinta yang dimasukkan ke loker
sepatu.
Lalu, aku bergumam pelan sekali lagi.
"Atau pemandangan yang dulu
istimewa, atau hal-hal yang telah terlupakan."
"Atau mungkin,"
Di luar dugaan, Kureha menyambung
kalimatku.
"──Cinta yang selama ini
membelenggu diri sendiri, atau hal-hal yang selama ini sengaja dihindari."
Aku
tidak terkejut lagi dengan ketajamannya. Saat di Taman Ikuhisa tadi, ketika ia mengajakku pulang bersama, aku
menerima ajakan itu tanpa ragu.
Karena itulah
saat kami sedang mengayuh sepeda dan Kureha tiba-tiba ingin naik ke jembatan
penyeberangan, aku tidak menanyakan alasannya lebih jauh.
Pasti ada
sesuatu yang ingin ia bicarakan, atau meski tidak ada pun, malam ini terasa pas
untuk itu. "Aku sudah dengar, lho, Nana-san," ucap Kureha mengubah
topik tanpa menarik kembali kata-katanya barusan.
"Di
pertandingan latihan, kamu mengalahkan tim kuat dari luar prefektur, kan?"
"Yah,
begitulah."
"Teman
klub basketku heboh sekali, katanya Nana-san hebat banget."
"Apa
kamu ingin aku bilang kalau aku 'terbangun' gara-gara dipicu oleh
seseorang?"
"Mana
mungkin! Apa pun pemicunya, performa yang kamu tunjukkan di pertandingan adalah
murni kemampuan Nana-san sendiri."
Mendengar
itu, aku refleks tertawa kecil. "Ternyata kamu tipe atletis, ya."
"Memang
atletis, kok!"
Andai
saja itu palsu,
pikirku sambil mengembuskan napas panjang penuh penyesalan karena hasil yang
kudapat persis seperti dugaan. Lalu aku membuka suara dengan nada mencela diri
sekaligus memprovokasi.
"Meskipun
untuk saat ini, dia masih lebih hebat dariku."
"Karena
cabangnya berbeda, tidak bisa dibandingkan secara langsung, sih. Tapi kalau bicara soal prestasi saja,
untuk saat ini memang iya."
"Benar-benar
ya, mulutmu itu tajam sekali."
Aku
sejujurnya terkejut saat mendengar Kureha masuk Inter-High di nomor 100 meter.
Itu adalah nomor bergengsi di atletik.
Karena
itu adalah olahraga lari yang sederhana, aku tahu itu bukan dunia yang bisa
ditaklukkan hanya dengan keberuntungan atau momentum saja. Bisa meraih hasil di
sana berarti dia murni kuat.
Berbeda
dengan olahraga tim seperti basket, tidak ada ruang untuk alasan soal
kekompakan tim, cedera anggota lain, atau penurunan performa.
Kureha
bertarung sendirian tanpa mengandalkan siapa pun, dan menang. Hanya dari
reaksinya barusan, sudah tersampaikan betapa seriusnya ia menghadapi dunianya.
Aku tidak punya pilihan selain mengakui fakta itu.
"Hehe,"
Kureha berucap seolah ada sesuatu yang lucu. "Nana-san sendiri sudah tidak
bisa bicara soal orang lain lagi, kan?"
"Hee,
apa maksudmu?"
Saat
aku bertanya balik, Kureha berputar dan menyandarkan punggungnya pada pagar
jembatan. Sambil menatap langit, ia berbicara dengan nada yang terdengar
senang.
"Temanku
bilang, gaya bermainmu kemarin berbeda dari biasanya."
"Lalu?"
"Katanya,
biasanya Nana-san memberikan umpan untuk menghidupkan Haru-san atau anggota
lain untuk mencetak skor, tapi hari itu kamu seperti bertukar peran menjadi
seorang scorer."
"……Itu
cuma cara penyampaiannya saja."
Kureha
sepertinya menyadari sedikit keraguanku dan berkata dengan lugas.
"Apa
kamu mencampakkan Haru-san demi mencapai tujuanmu?"
"Kalau
dilihat dari bentuknya saja, mungkin iya."
Aku
tidak ingin goyah hanya karena hal sepele semacam ini. Baik demi diriku
sendiri, maupun demi pasanganku. Kureha melanjutkan seolah itu bukan masalah
besar.
"Bagus,
kan? Karena kamu sudah memberikan hasil yang nyata."
"Aku
juga berpikir begitu."
"Teman
satu timmu juga senang, kan?"
"Kecuali
pasanganku, ya."
"Itu
masalah Haru-san, bukan masalah Nana-san."
"Apa dia
bisa melampauinya?"
"Padahal
sebenarnya kamu percaya padanya."
"Astaga,"
aku tertawa kecut. Aku ikut berbalik dan menyandarkan punggung pada pagar
jembatan, menatap langit bersama dengan bahu kami yang tingginya hampir
sejajar. Meskipun ini di tengah kota Fukui, kerlip gugusan bintang di atas sana
terlihat sangat indah sampai membuatku jenuh. Kecuali mobil yang lalu lalang,
tidak ada sosok manusia lain selain kami.
Di tempat
yang lebih dekat dengan langit berbintang dari biasanya, hanya berdua saja.
Hanya berdua
dengan junior kurang ajar yang tak bisa kubenci namun juga tak sepenuhnya
kusukai.
Kalimat-kalimat
klise seperti fiksi, seperti 'andai kita bertemu dengan cara yang berbeda',
hampir saja terlontar dari mulutku. Namun sekali lagi aku mencelanya sebagai
sentimentalitas malam.
Seandainya
kita teman sekelas. Seandainya kita teman satu tim. Seandainya kita tidak
menyukai laki-laki yang sama.
Mungkin kita
bisa menjadi pasangan yang hebat. Memang percuma menyesali hal-hal yang tidak
terjadi, namun tetap saja. Saat aku berpikir sampai di sana, tiba-tiba
kata-kata yang tumpah hari itu menghujaniku kembali.
『Pernahkah kalian berpikir, andai urutan
pertemuannya berbeda?』
『Misalnya seandainya aku sudah sekelas
sejak kelas satu, atau seandainya aku teman masa kecilnya...』
『Saat aku jatuh cinta, di hatinya sudah
ada gadis lain. Rasanya seperti berandai-andai, bagaimana jika akulah yang
bertemu dengannya lebih dulu.』
『Padahal aku hanyalah diriku sendiri,
tapi aku tidak bisa menyerah begitu saja hanya karena alasan kebetulan, kan?』
『Aku ingin memutar balik musim semi.』
Ah, begitu
rupanya, Kureha────. Pemicu sekecil apa pun membuatku menyadarinya dengan
sangat nyata. Baginya, "seandainya" itu kebetulan adalah orang yang
dia sukai, dan ia tidak bisa menyerah begitu saja hanya dengan kalimat
"memang sudah takdirnya tidak begitu".
Jadi, memutar
balik, ya.
Mungkin hanya
Kureha yang benar-benar paham arti dari kata-kata itu, tapi setidaknya aku bisa
meraba garis besarnya. Singkatnya, jika memang di dunia ini ada yang namanya
takdir, ia berniat melakukan one-on-one langsung dengannya dan
menundukkannya dengan paksa. Sama seperti yang kulakukan terhadap Todo di GOR
waktu itu.
──Bukan di
wilayahnya sendiri seperti lintasan lari atau lapangan basket, melainkan di
panggung utama bernama cinta.
Karena itu,
aku pun harus membulatkan tekad untuk naik ke sana. Untuk membuktikan diri
sebagai pahlawan wanita dalam cerita ini di bawah sorot lampu. Seolah bisa
membaca hatiku, Kureha berkata.
"Kamu
lebih memilih menjadi Nana daripada terus menjadi Nanase Yuzuki, ya?"
Aku menjawab
dengan senyum yang dipaksakan agar terlihat tenang.
"Tidak
ada aktor yang naik ke atas panggung dengan nama aslinya, kan?"
Mendengar
itu, Kureha sedikit menggoyangkan bahunya sambil terkekeh. "Meskipun aku
sendiri yang memicu ini, tapi Nana-san yang sekarang sepertinya akan sedikit
sulit dihadapi."
"Cuma
sedikit, ya?"
"Soalnya
kamu belum setangguh Yuko-san."
"Bisa
saja kamu bicaranya. Jadi, topik utamanya adalah itu?"
"Iya!"
Astaga.
Kejujurannya membuatku merasa takjub sekaligus jengkel sampai ingin tertawa.
Jadi semua obrolan tadi cuma pembukaan saja, ya? Kureha berkata tanpa rasa
bersalah.
"Malam
ini, tolong temani aku ya. Sejauh ini, hanya Yuzuki-san satu-satunya orang yang
bisa kuajak bicara jujur seperti ini."
Memang sudah
niatku begitu, sih, jawabku dalam hati.
"Apa ada
perasaan yang bahkan Kureha tidak bisa tanggung sendirian?"
"Mana
mungkin. Ini adalah perasaan yang selama ini aku peluk erat seorang diri,
lho."
Kureha
menggelengkan kepala dengan ekspresi geli, lalu melanjutkan.
"Kemampuan
untuk bisa sendirian adalah salah satu dari sedikit keunggulanku. Mana mungkin
aku melepaskannya begitu saja, kan?"
"Benar
juga. Bodohnya aku sampai bertanya begitu."
"Iya!"
"Balasanmu
itu salah, tahu."
Aku refleks
menyahutinya, lalu kami saling bertukar pandang dan tertawa geli. Setelah puas
tertawa, aku bertanya.
"Kalau
begitu, kenapa kamu mengajakku?"
"Entahlah?"
Kureha
memiringkan kepalanya dengan raut yang sedikit sentimental.
"Mungkin
ini yang dinamakan sentimentalitas malam?"
"Kalau
begitu, mau bagaimana lagi."
Aku yang
menjawab pun pasti sedang memasang wajah sentimental. Mungkin saja ini adalah
malam sebelum pertempuran. Panggung kami yang akan dimulai sedikit lebih awal
daripada festival budaya.
Begitu tirai
diangkat, kami harus memerankannya sampai akhir. Jadi, ini adalah saat-saat
singkat sebelum itu terjadi. Apakah ia ingin bertukar kata denganku hanya
sebagai Nanase Yuzuki dan Nozomi Kureha yang biasa?
Aku sedikit
menyipitkan mata, lalu membuka suara.
"Soal
kejadian bulan Agustus, kan?"
"Iya."
Kureha
mengangguk pelan dan melanjutkan.
"Apa
Kakak masih ingat apa yang aku katakan soal Yuko-san?"
"Tentu
saja."
Tebasan
pertama yang kuterima di atap sekolah waktu itu.
『──Apa yang ingin Kakak lakukan pada
kami?』
『Kami, katamu?』
『Ketidakmampuan Kakak untuk menyebut
nama "Chitose" di sana... menurutku itulah jarak antara Yuzuki-san
dan yang lainnya dengan Yuko-san saat ini.』
Mana mungkin
aku bisa lupa meski aku ingin melupakannya. Sebab hal itu adalah sesuatu yang
paling kusadari sendiri lebih dari siapa pun.
"Aku
merasa aneh," gumam Kureha.
"Sebelum
libur musim panas, aku tidak pernah berpikir seperti itu terhadap Yuko-san yang
kulihat dari jauh. Malahan, dia terlihat seperti sosok yang posisinya paling
berbahaya di antara kalian semua..."
"Aku
tidak bermaksud merendahkan Yuko yang dulu, tapi aku paham maksudmu."
Jika
ditanya apakah pemikiran serupa tidak pernah terlintas di sudut kepalaku, aku
pun akan sulit menjawabnya. Yuko yang dulu terlihat terlalu polos—atau jika
ingin lebih jujur, ia terlihat terlalu memaksakan perasaan cinta
kekanak-kanakan yang baru lahir.
Jika
dibiarkan, kata "suka" akan menjadi rutinitas yang sama dengan
"selamat pagi" atau "selamat tidur". Aku takut hal itu
hanya akan melahirkan rasa sayang, namun tidak berubah menjadi cinta.
Tentu saja
aku tidak menganalisisnya dengan cara yang licik, tapi jika harus
menyimpulkannya sekarang, mungkin aku memang berpikir begitu di suatu tempat
dalam hatiku.
Itulah
sebabnya aku lebih merasa terusik saat jarak antara Nishino-senpai, Haru, atau
Ucchi dengan Chitose semakin dekat.
Namun, Kureha
menyilangkan kaki kanannya di depan kaki kiri.
"Tapi
begitu masuk ke tim pemandu sorak, suasananya benar-benar berbeda. Tentu saja
ini bukan soal gaya rambutnya yang berubah, tapi bagaimana ya
menyebitnya..."
"Dia
terlihat lebih dewasa?"
Saat aku
mengatakannya, ia mengangguk mantap.
"Secara
singkat, kata-kata itu yang paling pas. Dulu dia tampak hanya memikirkan
perasaannya sendiri dan merepotkan Senpai, tapi sekarang dia terlihat tulus
memikirkan Senpai. Aku merasa... dia sudah pantas berada di sisinya."
"──Memikirkannya."
Kureha
membelalakkan matanya dengan bingung. "Eh...?"
Aku teringat
akan senyum indah yang tampak damai seperti sedang tertidur, lalu berkata.
"Itu
adalah jawabannya saat aku bertanya apa yang akan ia lakukan selanjutnya di
akhir musim panas itu."
"Begitu
ya..."
Kureha
menyipitkan mata dengan sendu, lalu melanjutkan.
"Karena
itulah aku ingin bertanya. Kepada Yuko-san, tentang apa yang sebenarnya terjadi
antara dia dan Senpai."
"Apa
ceritanya memuaskan?"
"Sangat!"
Lalu, aku
mengembuskan napas pendek.
"Karena
sudah telanjur begini, sekadar basa-basi saja, apa yang akan kamu lakukan
selanjutnya?"
Meskipun aku
tidak berharap akan dijawab, Kureha justru membuka suaranya dengan santai.
"Nana-san,
apa Kakak ingat isi provokasiku di atap waktu itu?"
"Apa
kamu pikir jumlahnya sesedikit itu sampai aku bisa langsung menebaknya?"
"Itu
lho, yang soal aku tidak kalah cantik dibanding Yuzuki-san."
"Ah."
Aku ingat
betul karena itu adalah kalimat yang sangat menggambarkan sosok di depanku ini.
『Aku ini cantik, tidak kalah dari
Yuzuki-san. Aku bisa memasak seperti Yua-san, dan kemampuan olahragaku tidak
kalah dari Haru-san. Kalau aku mau, aku juga bisa menjadi tempat curhat seperti
Asukaze-san.』
Ia
mengatakannya dengan nada suara seolah hanya sedang merinci fakta. Kureha menaruh kepalan tangan
kecilnya di depan bibir sambil terkekeh.
"Apa
Kakak pikir itu hanya gertakan?"
"Tidak,
kurasa itu memang kenyataannya."
"Hee?"
"Kan
sudah kubilang, aku mengakuimu."
"Jangan
menggodaku dengan tulus di malam bertabur bintang begini, dong."
"Boleh
saja kalau kamu sampai tidak sengaja jatuh cinta padaku."
"Seandainya
aku bertemu Nana-san lebih dulu, mungkin saja."
"Bukannya
kamu benci menjadikan urutan pertemuan sebagai alasan?"
"Karena
itulah aku mengatakannya."
"Begitu
ya."
Aku menjeda
kata-kataku sejenak, lalu kembali ke topik awal.
"Jadi,
ada apa dengan provokasi itu?"
"Kakak
tidak tahu?"
"Aku
bisa menebaknya, sih."
"Karena
itulah aku..."
Sambil
berbicara, Kureha melepaskan pegangannya dari pagar dan berbalik menghadapku.
Ia menyelipkan rambut yang tertiup angin malam ke belakang telinga, lalu
mengerjapkan mata perlahan. Dengan tatapan dewasa layaknya seorang gadis yang
telah melewati musim panas,
"──Aku
pun bisa memikirkan Senpai seperti yang dilakukan Yuko-san."
Ia tersenyum
lembut seperti salju murni yang belum terjamah.
"Aku
mengakuinya."
Sesuai
dugaan, melihat Kureha yang bersikap persis seperti Yuko, aku menjawab dengan
jujur.
"Memang
benar, kamu bisa bersikap seperti Yuko, Ucchi, Haru, Nishino-senpai, bahkan
sepertiku."
Namun, aku
melepaskan pagar dan menyelipkan rambut ke telinga kiriku.
"Boleh
aku mengatakan satu hal?"
"Iya!
Apa itu?!"
Aku melangkah
satu, dua langkah mendekati gadis yang sengaja bersikap seperti junior ini────.
Lalu dengan
perlahan, aku menyentuhkan kelima ujung jariku ke arah paha kirinya dari atas
rok.
"E-eh,
Yu-yuzuki-san...?"
Melihat
Kureha yang menunjukkan kegugupan murni—hal yang jarang terjadi—aku membasahi
bibir dengan ujung lidah. Dari paha, aku menggerakkan ujung jariku secara
melingkar kecil menuju ke arah bokong, dengan gerakan yang lebih halus dari
sentuhan dan lebih samar dari belaian.
"Hiuh──"
Aku
mengabaikan reaksi Kureha dan terus merayapkan ujung jariku ke atas. Aku meraba
tulang pinggul kirinya, naik setingkat demi setingkat dari pinggang menuju
tulang rusuk, menelusuri tepat di samping dadanya, mengitari tulang selangka
perlahan, lalu mengikuti garis leher hingga membungkai dagunya.
"Ngh."
Kureha
mendesah manis tanpa sadar.
"Mulut
nakal."
Sambil
berkata begitu, aku menggunakan ibu jari untuk membungkam bibir murninya
perlahan. Saat aku mengusap permukaannya, ia menjadi kaku karena gelisah. Aku
bisa merasakan hawa lidahnya yang bergidik di bagian dalam.
"Jangan
terlalu meremehkanku."
Hidung kami
bersentuhan lembut saat kami saling menatap dalam kerjapan mata. Napas pendek
Kureha yang memburu membelai bibirku. Aku menggesekkan pipiku dengan lembut ke
pipinya, lalu berbisik pelan di jarak yang seolah akan menyentuh daun
telinganya.
"Karena
yang bisa bersikap seperti itu... bukan cuma kamu saja."
"──!"
Kureha
menggeliat seolah sudah tidak tahan lagi. Merasa puas dengan reaksinya, aku
menyipitkan mata dan terkekeh.
"Manisnya."
Aku
melanjutkan dengan suara manis yang menggoda ke arah junior yang sedang
menutupi telinga kirinya sambil memalingkan wajah.
"Padahal
tadi sok hebat, tapi ternyata reaksimu masih sangat polos, ya."
Suara napas
yang tersengal-sengal tak bisa disembunyikan lagi, menggema di jembatan
penyeberangan yang hanya diisi kami berdua.
"Yuzuki-san...!"
"──Panggil
aku Nana untuk saat ini."
Kureha
menatapku dengan kaget. Pipinya yang tak bisa menyembunyikan keguncangan itu
masih sedikit memerah.
"Akhirnya
aku bisa mendaratkan satu tebasan, ya."
Mendengar
kata-kataku, ia mengembuskan napas panjang seolah menyerah.
"Aku
tarik kembali kata-kataku."
Kureha
menurunkan sudut matanya dengan ekspresi yang sangat mirip seorang junior.
"Nana-san
yang sekarang... sepertinya cukup tangguh."
"Terima
kasih sanjungannya."
Aku
mengangkat bahu dan tersenyum, lalu ia menggaruk pipinya dengan malu-malu
sambil melanjutkan.
"Sebagai
sesama perempuan, tanpa sadar aku merasa merinding tadi."
"Mau
pindah haluan sekarang selagi sempat?"
"Sepertinya
akan sangat melelahkan untuk menaklukkanmu."
Lalu, Kureha
bersuara dengan nada yang ceria.
"Berarti,
Kakak sudah benar-benar serius sekarang, kan?"
"Kamu
kelihatan senang sekali."
"Tentu
saja! Kalau
harus menang, aku ingin menang melawan Nana-san yang serius."
Aku
membasahi bibirku dengan provokatif dan berkata.
"Sudah
terlambat kalau mau menyesal sekarang."
"Aku
sudah terbiasa dengan penyesalan yang tak bisa diperbaiki."
"Maaf
membuatmu menunggu."
"Aku
sudah menantinya!"
Lalu
kami berdua saling bertukar pandang dan tertawa geli. Pasti kami berdua sudah paham.
Basa-basi
sebelum tirai dibuka berakhir di sini. Kureha pasti akan berlari kencang kali
ini tanpa keraguan. Seperti cara ia membelah stagnasi kami dengan mudah, ia
akan mencoba menembak hati laki-laki itu dengan keinginannya yang gigih.
Aku berterima
kasih padamu, Kureha. Tanpa sosok sepertimu, aku tidak akan pernah punya
keberanian untuk menemui Nanase Yuzuki yang sebenarnya, dan tidak akan punya
tekad untuk membuang segalanya demi pria yang kucintai.
Sebagai
balasannya, akan kutunjukkan padamu. Kepadamu yang telah menyembunyikan
bulanku────.
Malam sang
penyihir bernama Nana, yang menyembunyikan apel merah beracun.
◆◇◆
Cermin, oh cermin.
──Seandainya saja aku adalah danau di kala senja.
◆◇◆
Sepulang
sekolah keesokan harinya, aku, Chitose Saku, tetap tinggal di kelas meski wali
kelas sudah keluar.
Di
sekelilingku ada Yuko, Yua, Nanase, Haru, Kazuki, Kaito, dan Kenta yang
mengenakan kaus kelas atau lebih tepatnya "Kura-T" (Kaus Klub
Gudang). Mereka semua adalah anggota tim pemandu sorak, ditambah Nazuna, yang
duduk melingkar.
Hari ini
adalah latihan perdana, atau lebih tepatnya pembacaan naskah untuk drama
festival budaya berjudul Putri Salju, Putri Awan Gelap, dan Pangeran yang
Plin-plan. Omong-omong, selain aku, Yuko, dan Nanase, anggota tim pemandu
sorak lainnya baru pertama kali melihat naskah ini.
Tanpa akting
terlebih dahulu, semuanya mencoba membaca dialog masing-masing dengan lantang
sampai akhir. Setelah selesai, Nazuna bertepuk tangan sekali.
"Kira-kira
begitu suasananya!"
Ia menatap
semuanya, lalu menyipitkan matanya dengan jahil.
"Ngomong-ngomong,
bagian akhirnya kuserahkan pada improvisasi Chitose-kun dan yang lainnya,
ya."
Mendengar
itu, Kazuki refleks tertawa kecut.
"Ini
sih..."
Kaito entah
kenapa menggertakkan gigi dengan kesal.
"Sial,
harusnya aku tidak menyerahkan peran utamanya."
Kenta
mengeluarkan suara yang terdengar hampa.
"Tapi
ini sih murni dewa banget."
Haru
langsung menyambung.
"Wah,
laki-laki paling payah."
Terakhir,
Yua mengucapkan dialog yang sudah tidak asing lagi.
"Yah,
Saku-kun memang punya sisi seperti itu, sih."
"──Ini
kan cuma fiksi!"
Setelah
candaan rutin itu selesai dan semua orang tertawa, Nazuna bertanya.
"Jadi,
ada pertanyaan?"
Grup yang
baru pertama kali membaca naskah saling bertukar pandang lalu mengangguk
mantap. Yah, peran kurcaci yang dipangkas menjadi enam orang memang tidak punya
banyak dialog, jadi harusnya tidak ada masalah.
Narasi akan
dilakukan secara bergantian oleh anggota tim pemandu sorak, dan suara Cermin
Ajaib diambil alih oleh Nazuna. Sepertinya naskah itu memang dibuat dengan
mempertimbangkan hal itu, dan kepribadian Nazuna tercermin cukup kuat di sana.
Omong-omong,
peran kurcaci juga disesuaikan dengan kepribadian masing-masing, jadi mereka
bisa berakting dengan cukup natural.
Awalnya aku
terkejut, tapi setelah membacanya ulang dengan tenang, aku sadar banyak bagian
yang dipikirkan dengan matang, termasuk keterbatasan waktu latihan.
Tentu saja
ini berkat anak-anak klub sastra yang menulis naskahnya, tapi aku bisa
merasakan betapa Nazuna sangat mempertimbangkan kami semua. Aku sangat paham
kenapa Yuko, dan bahkan Nanase yang dulu sering bersitegang dengannya, bisa
membuka hati padanya.
Saat aku
memikirkan itu, Nazuna kembali bicara.
"Sepertinya
tidak ada masalah, oke. Kalau begitu, kita coba latihan akting sambil melihat
naskah saja dulu, ya?"
Saat
semua orang mengangguk dan hendak berdiri────.
"Aku!
Aku! Aku!"
Yuko
mengangkat tangannya dengan penuh semangat.
"Iya,
Yuko?"
Begitu
Nazuna menanggapi, Yuko bersuara dengan nada ceria.
"Boleh
tidak coba tunjukkan adegan pembuka antara Putri Awan Gelap dan Cermin Ajaib?!
Aku kurang paham soal akting, jadi kalau aku lihat Yuzuki dan Nazuna
melakukannya, mungkin aku bisa mendapat gambaran."
““Ah...””
Suara
kedua orang yang namanya dipanggil itu tumpang tindih. Benar juga, pikirku.
Nazuna
pasti sudah sangat mendalami naskahnya, dan Nanase pun pasti sudah
memasukkannya ke dalam kepala. Mereka pasti bisa menanganinya meski secara
improvisasi.
Dengan
ragu, Yua mengangkat tangannya.
"Anu,
aku juga ingin melihatnya."
Kenta
langsung menyusul dengan cepat.
"A-aku
juga!"
Mendengar
itu, Nazuna menatap Yuzuki. Itu pasti tanda kepercayaan di antara mereka. Dengan nada santai seolah
sedang mengajak pergi ke kantin saat jam istirahat, ia bertanya.
"Bisa?"
Tanpa
kusadari, kelas mendadak hening seketika. Suara Yuko tadi cukup lantang
sehingga teman-teman di sekitar pasti mendengarnya.
Teman sekelas
yang sedang menyiapkan properti dan dekorasi pun menghentikan aktivitas mereka
dan menahan napas untuk melihat apa yang akan terjadi. Karena aku saja
menyadarinya, mereka berdua pun pasti tahu.
Nanase tidak
merendah, ia langsung berdiri dengan anggun.
"Jika
itu keinginan para penonton..."
Ia
menjepit ujung roknya sedikit dan memberikan hormat yang elegan.
“““““Wooooooohhhhh!!!!!!!!”””””
Sorakan
teman sekelas yang sudah tidak tahan lagi akhirnya meledak.
"Aku
rela mengerjakan tugas-tugas merepotkan demi hari ini!"
"Aku
juga setuju!"
"Aduh,
melihat hormatnya saja aku sudah tidak kuat."
"Mata
dan telingaku terlalu bahagia, ini gila!"
Itulah
Nanase. Selain menjadi contoh bagi grup pemeran seperti Yuko, Yua, dan Kenta,
ia pasti berpikir bahwa jika mereka bisa mendapatkan gambaran yang jelas, hal
itu akan memotivasi teman-teman sekelas yang terus bekerja keras di balik
layar.
Tentu saja,
ia sangat sadar akan arti dari seorang Nanase Yuzuki yang menunjukkan
aktingnya.
Entah kenapa
aku merasa lega karena sikapnya yang sangat khas itu, namun aku juga tersentak
karena merasa lega.
Perasaan
tenang itu seolah akan berganti menjadi sentimentalitas yang menyesakkan dada,
dan tanpa sadar aku mencari penyebab dari rasa sesak itu.
Tiba-tiba,
aku menyadari Nanase sedang mengarahkan pandangan yang tenang dan sunyi ke
arahku.
Isyarat kecil
itu terasa begitu menyayat hati, hingga aku refleks mengangkat sudut kiri
bibirku seolah ingin menyembunyikan sesuatu.
Nanase
mengembangkan senyum putih murni, sedingin tengah malam di negeri salju.
"Perhatikan
aku terus ya, Saku."
"Aku
melihatmu, Yuzuki."
Seolah
tersedot ke dalam netranya, aku menjawab begitu saja sebelum sempat
menyadarinya.
◆◇◆
Nanase yang
entah kapan sudah berganti kembali ke seragam sekolah, kini berdiri di atas
podium kelas yang menjadi pengganti panggung.
Meskipun ini
hanya sekadar hiburan improvisasi, ia pasti berpikir kalau tetap memakai
Kura-T, aura pertunjukannya tidak akan keluar.
Ketelitian
seperti ini benar-benar khas dirinya.
Cermin
ajaib berukuran besar yang mampu memantulkan seluruh tubuh Nanase sepertinya
sudah disiapkan dan diletakkan di atas podium.
Entah
dari mana mereka mendapatkannya, bingkai antik yang penuh atmosfer itu
memberikan kesan yang sangat pas.
Nanase
menatap cermin sambil menyelipkan rambut ke telinga kirinya, lalu mengangguk
kecil sebagai tanda bahwa ia sudah siap. Kazuki yang merangkap sebagai narator
membuka suara dengan senyum tenang.
"Baiklah,
sekarang kami persembahkan bagian pembuka dari drama kelas 2-5, Putri Salju,
Putri Awan Gelap, dan Pangeran yang Plin-plan."
“““““Oooooohhhh!”””””
Tepuk
tangan yang meriah pecah dan bergema di dalam kelas.
"Dahulu
kala, di suatu tempat, hiduplah seorang putri yang sangat cantik jelita bernama
Putri Awan Gelap."
Kazuki
melafalkan narasi pembuka yang sudah akrab di telinga.
"Namun,
sang Putri sangat menyombongkan kecantikannya. Ia sangat yakin bahwa dirinyalah
yang paling cantik di dunia tanpa keraguan sedikit pun. Singkat kata, dia punya harga diri
setinggi langit dan cenderung memandang rendah orang lain."
"Bukankah
itu agak berlebihan?"
Nanase
menyela narasi tersebut, membuat seisi kelas tertawa riuh. Omong-omong, itu
adalah improvisasi yang tidak tertulis di naskah.
Hebat juga
dia, pikirku sambil ikut terkekeh pelan. Kazuki melanjutkan dengan pipi yang
sedikit melunak, seolah merasa senang.
"Putri
Awan Gelap memiliki sebuah cermin ajaib."
Nanase
melangkah maju dengan anggun. Ia memastikan posisi agar pantulan dirinya di
cermin bisa terlihat oleh penonton, lalu menumpukan berat badan pada kaki kanan
dan menyilangkan kaki kirinya yang sedikit berjinjit.
Tangan
kirinya bertumpu di pinggang, berpose ala model sebelum membuka suara.
"──Cermin,
oh cermin."
Begitu
dialog itu diucapkan, sebuah panel perlahan turun dari atas cermin. Di panel
itu terdapat lubang untuk wajah, yang dihiasi ilustrasi Nazuna versi deformasi.
Intinya, itu
merepresentasikan roh cermin. Nazuna dalam ilustrasi itu memakai baju yang
mirip penyihir.
Sentuhan
buatan tangan ini benar-benar memberikan nuansa festival sekolah. Saat panel
Nazuna menutupi cermin, Nanase menempelkan tangan kanannya ke bibir dengan
ekspresi yang tampak terbuai.
"Siapakah
yang paling cantik di dunia ini?"
Ia menjeda
kalimatnya sejenak, menjilat bibirnya dengan cara yang sedikit menggoda, lalu
melanjutkan.
"Yah,
tentu saja aku, sih."
"Heh,
dengerin dulu dong!"
Suara Nazuna
sebagai cermin ajaib langsung menyambar, membuat teman-teman sekelas tertawa
terbahak-bahak. Bagian ini sukses membuatku tertawa saat pertama kali membaca
naskahnya.
Kepribadian
asli mereka yang dimasukkan ke dalam peran membuat penonton merasa sangat
akrab. Nanase memasang senyum bahagia yang dibuat-buat.
"Lalu,
aku yang paling cantik di dunia hidup bahagia selamanya bersama pangeran paling
tampan di dunia. Ya, tamat..."
"Jangan
ditamatin sekarang!"
Mungkin
karena mereka sudah sangat akrab, chemistry keduanya benar-benar pas.
Bukan hanya akting Nanase, tapi tempo penyalutan dari Nazuna juga sangat
akurat.
"Jawaban
sudah jelas, buat apa dikonfirmasi terus?"
"Itulah
arti eksistensiku!"
Nanase
sedikit merenggangkan posisinya, melipat tangan, lalu menatap cermin dengan
tatapan malas yang tidak senang.
"Iya,
iya. Jadi siapa yang paling cantik di dunia ini?"
"Hei
tunggu, kenapa perlakuannya kasar banget? Aku ini cermin ajaib, lho!"
"Cepat
lakukan, jangan lambat."
Nazuna
berdeham dengan sengaja sebelum bicara.
"Wahai
Putri Awan Gelap, jika sifatmu yang angkuh dan tidak imut itu diabaikan, kau
memang cantik."
"...Apa
perlu aku menguburmu di gunung?"
"Tunggu
dulu! Bagian intinya baru mau mulai!"
Seisi kelas,
termasuk aku, tertawa tiada henti. Yua bahkan terlihat kesulitan bernapas
sambil memukul-mukul lantai karena kegelian.
Setelah
menenangkan diri, Nazuna melanjutkan.
"Namun
sayangnya, yang paling cantik di dunia ini adalah Putri Salju. Bukan cuma
penampilan luar, kemurnian hatinya saja sudah beda jauh—ibarat langit dan bumi,
bulan dan kerikil, tas Hermes dan tas kulit imitasi. Lagipula, dia namanya
Putri Salju, sedangkan kau Putri Awan Gelap. Dari namanya saja rasanya kau
sudah kalah telak."
"Kayaknya
mending kuhancurkan saja sekarang."
"Maaf,
maaf, aku kebablasan! Luarnya mungkin kalian setara!"
"Hooo?"
"Lalu,
karena dia tidak terlalu kaya, pakaianmu jauh lebih bagus."
"Cuma
bajunya?!"
"Cukup!"
teriak Nanase ke arah penonton dengan suara lantang.
"Panggil
si Jangkung!"
"Si
Jangkung" di sini adalah salah satu dari enam kurcaci, yang merujuk pada
Kaito. Tentu saja alasannya karena dia yang paling tinggi.
Sama halnya
dengan Yua yang dipanggil "Si Anggun", Haru "Si Mungil",
Kazuki "Si Kalem", Kenta "Si Kacamata", dan Nazuna sendiri
saat memerankan kurcaci dipanggil "Si Gaul". Dalam drama kami, enam
kurcaci ini diceritakan mengabdi pada Putri Awan Gelap.
Nazuna
tertawa lepas.
"Keluar
juga deh sifatnya. Mengirim pembunuh untuk menghabisi Putri Salju yang
mengganggu. Benar-benar licik!"
"Kamu
waras?"
"Eh,
bukannya alurnya memang begitu?"
"Kalau
aku melakukan itu, aku tidak akan bisa membuktikan bahwa akulah yang lebih
cantik."
"Terus
mau apa?"
"Tentu
saja, mengundang Putri Salju ke kastil ini."
"Hah?
Buat apa?"
"Sebentar
lagi akan ada pesta dansa."
"Ah,
pesta di mana pangeran cinta pertamamu itu akan datang, ya."
"Kenapa
makhluk sepertimu bisa tahu hal itu?"
"Namanya
juga cermin ajaib."
"Berhenti
menjadi berguna secara tidak berguna di saat seperti ini."
"Tapi,
bukannya lebih baik jangan panggil Putri Salju? Kalau aku jadi pangerannya, aku
bakal langsung pilih dia dalam sekejap dan tamat dengan bahagia."
"Heh."
"Aku
tahu! Kau sengaja mau mempermalukannya di depan pangeran, ya!"
"Dengar
ya..."
Setelah
bergumam seolah lelah menghadapi cerminnya, Nanase menghentakkan tumit
sepatunya ke panggung. Kontras dengan sosoknya yang luwes, matanya tiba-tiba
menyipit dengan dingin.
Seketika,
suasana menjadi tegang. Seolah-olah suara sekecil apa pun akan menyinggung
perasaan sang putri cantik di atas sana, muncul ketegangan yang membuat siapa
pun tidak berani bergerak.
Semua orang
menahan napas. Semua orang menajamkan telinga untuk dialog selanjutnya. Saat
keheningan mulai terasa menyengat kulit, Nanase menyuntikkan daya pikat ke
dalam tatapannya.
Ia menyapu
pandangan ke seluruh kelas seolah sedang memanjakan penonton setelah memarahi
mereka, atau seolah sedang memberikan kode rahasia kepada tiap orang secara
pribadi. Begitu melihat penonton yang sudah menunggu dengan manis, ia
mengangguk perlahan.
Nanase
mengembuskan napas panjang sedalam tengah malam, lalu akhirnya membuka suara.
"Aku
akan memberinya gaun dengan potongan terbaik, meriasnya dengan cantik, dan
mengajarinya tata krama di perjamuan sosial."
Ia melipat
tangan secara sensual, mempertegas garis dada dan pinggangnya sambil
melanjutkan.
"Lalu di
pesta dansa, aku akan bertanya dengan penuh percaya diri kepada sang
pangeran."
Ia
menempelkan tangan kanan ke pipi, menggerakkan bibir seolah ingin menggigit
jari kelingkingnya dengan manja, lalu berkata.
"──Siapakah
yang paling cantik di dunia ini?"
Sudut matanya
turun dengan sangat menggoda.
Hening. Kelas
dilanda kesunian sesaat. Aku pun tanpa sadar terpesona.
Sikap dan
gerak-geriknya benar-benar terlihat seperti putri tercantik di dunia, sekaligus
penyihir yang memikat. Seolah ia adalah sekuntum bunga beracun yang sanggup
menawan siapa pun yang melihatnya.
Seseorang
menelan ludah dengan pelan. Suara itu pun terasa seolah bisa mengganggu suasana, membuat semua orang
buru-buru menahan napas lagi.
Podium tua di
kelas yang usang itu terasa sangat jauh, seperti panggung yang disinari lampu
sorot. Cermin yang panelnya sudah ditarik ke atas memantulkan cahaya langit
sore dengan berkilau.
Nanase mundur
selangkah dan memiringkan tubuhnya, membuat siluet tubuhnya yang indah
terpantul sempurna. Seketika, aku merasa seolah lupa cara bernapas saat
terjebak oleh lirikan matanya lewat cermin.
Hatiku
bergetar manis, sekaligus terasa nyeri.
"Wuidih."
Suara
blak-blakan Nazuna-lah yang akhirnya memecah atmosfer yang seolah terputus dari
aliran waktu itu.
"Tadi
itu kupikir bakal gimana, ternyata dibilang dengan wajah bangga gitu. Ribet
banget! Sumpah, berat banget cintanya!"
"Hei,
jangan bilang berat dong."
Nanase
langsung menyambar balik, dan saat itulah sihirnya seolah luntur, membuat semua
orang tertawa lepas. Di cermin, panel Nazuna entah kapan sudah terpasang
kembali.
"Sok
tenang padahal tipe yang bakal posesif berat kalau sudah pacaran. Sumpah nggak
sanggup."
"Mending
aku ikat cermin nggak berguna ini pakai tali rami dulu, ya?"
"Tapi
ya sudahlah."
Roh
cermin ajaib itu tertawa seolah ingin menutup percakapan.
"Akan
kupastikan untuk melihat sendiri bagaimana akhir dari cerita ini."
"Aku
tidak menjamin kau masih akan tergantung di sini sampai hari itu tiba,
ya?"
Prolog
naskahnya berakhir sampai di situ. Nazuna muncul dari balik cermin.
Ia
melakukan high-five ringan dengan Nanase, lalu keduanya membungkuk ke
arah kami.
““Terima
kasih banyak!””
──PROK
PROK PROK PROK PROK PROK.
──Prok,
prok, prok prok prok prok.
Tepuk
tangan yang dimulai oleh Yuko dalam sekejap merambat dan menelan seisi kelas.
Semua orang memberikan standing ovation seolah-olah baru saja selesai
menonton film blockbuster Hollywood.
Wajah
mereka dipenuhi dengan keterkejutan dan kegembiraan yang jujur.
"Eh, ini
sih kelas lima sudah pasti juara, kan?"
"Paham
sih, tapi festival budaya kan tidak ada juaranya."
"Tapi
biasanya ada pemungutan suara semacam itu, kan? Aku bakal kasih semua
suaraku."
"Omong-omong,
apa cerita Putri Salju memang sekeren ini ya?"
"Karakter
cerminnya Nazuna-chan terlalu unik, aku jadi nge-fans."
"Wah,
aku bisa mati karena overdosis Nanase-san."
"Apalagi
nanti pas hari-H dia pakai gaun, lho!"
"Kalau nanti Hiiragi-san juga muncul,
bakal jadi segila apa ya?"
Sejalan,
pikirku sambil refleks mengangkat bahu. Selain naskah buatan Nazuna dan yang
lain yang menarik, aura Nanase di atas panggung benar-benar luar biasa.
Jika
melihat kesehariannya, aku sudah mengira dia bisa berakting dengan baik. Tapi
yang barusan benar-benar melampaui standar dugaanku.
Aku
memang belum pernah serius menonton drama teater, tapi caranya mengatur volume
suara dan intonasi, tatapan mata hingga gerak-geriknya sudah diperhitungkan
dengan matang untuk menarik mata penonton.
Aku
tidak akan terkejut jika ada yang bilang dia pernah mempelajarinya secara
formal.
Dulu
aku pernah menyebut Nanase sebagai tipe aktris. Ternyata aku tidak salah,
pikirku sambil mengenang masa sekitar setengah tahun lalu dengan perasaan
rindu.
Waktu itu kami masih sering melakukan drama
kecil yang konyol lewat telepon, ya.
Saat aku
melirik ke sekitar, teman-teman sekelas masih terlihat sangat antusias.
"Tapi
apa serius pangerannya Chitose?!"
"Tidak masalah sih, tapi apa kau bisa
menggantikannya?"
"Mana
mungkin, aku bakal langsung kaku begitu bertatapan mata."
"Lagipula
Chitose-kun orangnya santai, apa dia tidak akan kebanting dengan akting
Nanase?"
"Karena
dia pangeran yang plin-plan, jadi malah pas, kan?"
"Padahal
kalau diam saja, wajahnya sudah mirip pangeran, ya."
"Aku
dengar semuanya lho, woi."
Sambil
membalas candaan mereka, aku tertawa kecut karena memang ada benarnya. Karena
ini acara festival budaya, aku pikir sedikit kekurangan akting masih bisa
dianggap lucu.
Tapi jika
Nanase sudah tampil sehebat itu tanpa menahan diri, aku juga harus berlatih
serius supaya tidak tertinggal. Yah, jika dibandingkan dengan dua putri yang
menjadi wajah utama cerita ini, peranku tidak terlalu banyak, jadi aku tidak
boleh sampai merusak suasana.
Hari ini
latihannya baru sampai prolog, tapi nanti para kurcaci yang diperintah Putri
Awan Gelap akan pergi menjemput Putri Salju sambil menyanyikan 'Heigh-Ho'. Alur setelah diundang ke kastil
adalah seperti yang dikatakan dalam dialog Nanase tadi.
Sejujurnya,
giliran pangeran baru akan muncul di bagian akhir cerita.
Aku
sempat mencoba membaca versi terjemahan bahasa Jepang maupun menonton film
animasinya agar bisa sedikit membantu naskah Nazuna.
Namun,
jika harus jujur, peran pangeran itu seperti hiasan yang baru muncul tiba-tiba.
Meskipun
di naskah kali ini peranku diberi tanggung jawab yang cukup penting di bagian
akhir berkat aransemen ceritanya.
Tetap saja, pemeran utama kisah ini adalah
Putri Salju dan sang Ratu—atau dalam drama kami, Putri Awan Gelap.
Rasanya
agak campur aduk antara lega sekaligus sedikit kesepian.
Saat
aku memikirkan itu, Nanase yang tadinya mengobrol dengan Nazuna dan Yuko di
atas podium teringat sesuatu dan berlari kecil ke arahku.
Aura
sensual tadi sudah lenyap, berganti dengan senyum dewasa yang terasa jernih di
bibirnya.
Begitu
sampai di depanku, ia menangkupkan kedua tangan di depan tubuh dan sedikit
memiringkan kepala.
"Chitose,
kamu lihat?"
"Aku
lihat kok, Nanase."
Mendengar
jawabanku, ia menurunkan sudut matanya dengan lembut dan melanjutkan.
"Terima
kasih, Chitose."
"Kenapa,
Nanase?"
"Karena
sudah benar-benar memperhatikan."
"Mataku
cuma tidak bisa berpaling saja."
"Benarkah?"
"Benar."
Ritme
percakapan yang terasa bukan seperti gaya kami berdua ini membuatku sedikit
tersipu.
Biasanya
kami selalu bertukar kata dengan cara yang berlebihan dan dramatis.
Tapi mungkin
karena baru saja turun panggung, ia terlihat jauh lebih santai dari biasanya.
Berhadapan
dengan gadis yang baru saja menyedot perhatian penonton dengan daya pikat yang
mengerikan, aku sendiri mungkin jadi sedikit kaku.
Nanase
menyelipkan rambut yang menempel di pipinya ke belakang telinga sambil
menatapku secara natural.
"Bagaimana
menurutmu?"
"Hebat."
"Apa aku
seperti tuan putri?"
"Kamu
putri yang sangat khas Nanase."
"Cuma
itu?"
"Menarik
dalam banyak arti."
"Chi,
to, se?"
"Maafkan
aku."
"Lalu?"
"Kamu
manis."
"Terus?"
"Sangat
cantik."
Benar-benar
bukan gaya kami, pikirku. Saat aku baru akan melontarkan candaan seperti biasa—
"Nn."
Seolah sudah
menebaknya, Nanase menempelkan jari telunjuknya di bibirku. Setelah sensasi
lembut itu, aroma krim tangan yang lembut menyapa indra penciumanku.
Aku yang
panik refleks hendak membuka mulut, tapi tekanan jarinya menguat seolah
melarangku bicara.
Nanase
mendekatkan wajahnya sedikit, menatap lurus ke mataku seolah ingin mengintip ke
dalam.
Sambil
memantulkan bayanganku di dalam matanya yang jernih seperti permukaan air yang
bergetar,
"Tetaplah
perhatikan aku seperti itu ya."
Ia tersenyum
lebar hingga matanya menyipit manis.
◆◇◆
Setelah puas
bersorak-sorai, teman-teman kelas 2-5 yang motivasinya sudah melambung tinggi
kembali ke tugas masing-masing untuk persiapan hari-H.
Pembuatan
properti dan dekorasi sudah sangat maju, membuat dunia dongeng mulai terlihat
di berbagai sudut kelas.
Pemandangan
Kura-T berwarna biru langit yang bergerak kesana-kemari terlihat lucu sekaligus
tidak biasa, membuatku mau tidak mau menyadari bahwa festival sekolah sudah
semakin dekat.
Haru, Kazuki,
Kaito, dan Kenta langsung memulai latihan akting di bawah bimbingan Nazuna dan
anak klub sastra yang bertanggung jawab menulis naskah.
Sementara
itu, Aku, Yuko, dan Nanase melangkah menuju ruang tata busana untuk melakukan fitting
kostum yang kabarnya sudah selesai lebih awal.
Sebagai
catatan, karena ada kemungkinan dibutuhkannya bantuan untuk mengganti gaun atau
menyentuh bagian tubuh tertentu untuk pengukuran ulang, bukan anak-anak pembuat
kostum yang ikut, melainkan Yua—yang sesekali membantu proses pembuatannya—yang
menemani kami.
Bagi Yuko dan
Nanase, mungkin lebih nyaman jika didampingi orang yang sudah mereka kenal
akrab.
Ruang tata
busana yang kupijaki setelah sekian lama itu memiliki barisan meja besar yang
tertata rapi untuk kerja kelompok, sama seperti ruang kelas khusus lainnya.
Di salah satu
sudut, sebuah torso yang tampak sangat berumur berdiri kesepian, sementara di
dekat dinding berjejer beberapa mesin jahit yang juga terlihat sudah sering
digunakan.
Aroma
ruang kelas khusus,
pikirku.
Ruang
musik, ruang seni, ruang biologi, ruang masak, dan ruang tata busana ini...
Setiap
ruang kelas khusus selalu memiliki aroma unik yang hanya bisa tercium di sana. Mungkin itu aroma cat yang meresap
selama bertahun-tahun, bahan kimia, atau sisa-sisa masakan dari praktikum.
Secara objektif mungkin bukan bau yang wangi, tapi entah kenapa aku tidak
membencinya.
Misalnya saja
saat aku dewasa nanti dan tiba-tiba teringat masa SMA, meski isi pelajarannya
sudah menguap habis dari kepala, aku merasa suasana di ruang kelas khusus ini
akan langsung muncul kembali dengan penuh kerinduan.
Saat aku
sedang melamunkan hal itu, Yua yang sedari tadi sibuk menyiapkan sesuatu
berkata.
"Kalau
begitu, ayo kita mulai dari kostum Saku-kun dulu."
"Siap."
Begitu aku
menjawab singkat, dia menyerahkan sebuah kantong kertas besar.
"Kurasa
kamu bisa memakainya sendiri, tapi..."
Kalau
dipikir-pikir, aku sama sekali belum diberi tahu akan seperti apa kostumnya
nanti.
Karena
peranku adalah pangeran, aku membayangkan kostum yang mudah dikenali seperti
memakai jubah atau mahkota, lalu aku pun memeriksa isinya.
"……Eh,
serius?"
Melihat
kostum yang jauh dari bayanganku itu, aku refleks bergumam. Yua pun memiringkan
kepalanya dengan heran.
"Maaf,
aku tidak mendiskusikannya dulu, apa kamu tidak suka?"
"Bukannya
tidak suka, sih..."
"Saku-kun
punya postur yang bagus, jadi pasti cocok, kok."
"Bukan
itu masalahnya."
"Sudah,
tidak apa-apa."
Yah,
sudahlah, aku mengangkat bahu.
"Karena
semuanya sudah susah payah menyiapkannya, aku akan coba pakai."
"Sip!"
Wajah Yua
seketika berseri. Dia dengan cekatan mengambil kain hitam dan melanjutkan.
"Tunggu
sebentar ya, aku mau menutupi kaca di pintu dulu."
"Kamu
teliti juga, ya."
Karena ruang
tata busana berada di lantai satu, cukup banyak orang yang lalu lalang.
Memang tirai
jendela sudah ditutup, tapi kalau kaca di pintu tidak ditutupi, aku sedikit
khawatir Yuko dan Nanase tidak bisa berganti baju dengan tenang—meski kalau aku
sendiri sih tidak terlalu masalah.
Setelah
persiapan selesai dengan bantuan kami berempat, Yua membuka suara.
"Kalau
begitu, kami keluar sebentar ya. Beri tahu kalau sudah selesai ganti
baju."
"Aku
gantinya cepat, kok. Tidak perlu sampai keluar segala."
"Begitu?"
"Memangnya
kenapa? Kalau kalian tidak keberatan, aku sih santai saja."
Sambil
bicara, aku langsung melepas blazer dan mulai membuka kancing kemeja. Setelah
hanya mengenakan satu lapis kaus dalam dan tangan baru saja memegang sabuk, aku
refleks menoleh.
Yua terlihat
tenang karena sudah terbiasa, Yuko tampak sedikit malu-malu, Nanase tampak
sedang mengamati dengan saksama.
Mereka
bertiga berbaris dan menatapku lekat-lekat.
"Anu,
maaf... kayaknya kalian keluar saja dulu, deh……"
Setelah
selesai berganti pakaian, aku melongokkan kepala dari pintu ruang tata busana
dan berkata.
"Sudah
selesai."
Yua, Yuko,
dan Nanase masuk secara berurutan, lalu mereka seketika terpaku.
Beberapa saat
kemudian, Yua menurunkan sudut matanya dengan lembut.
"Seperti dugaanku, ini benar-benar
cocok untukmu."
Yuko
menyusul dengan senyum manis.
"Saku,
kamu benar-benar terlihat seperti pangeran."
Nanase pun
memiringkan kepala tanpa maksud terselubung.
"Iya,
kamu keren, Chitose."
Pujian yang
begitu jujur itu membuatku merasa malu. Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal dengan kasar.
"Apa
aku tidak kelihatan seperti host klub malam?"
Kostum
pangeran yang disiapkan untukku adalah—singkatnya—setelan tuxedo putih. Karena biasanya aku hanya memakai
pakaian kasual yang santai, memakai pakaian seformal ini terasa sangat aneh.
Mungkin tidak
jauh beda dengan blazer sekolah, tapi memakai pakaian serba putih begini
membuatku merasa geli sendiri.
Yua tertawa kecil hingga bahunya
berguncang.
"Anak-anak bagian kostum bilang,
kalau kalian bertiga yang memerankannya, pangeran dan tuan putrinya justru
jangan terlalu terlihat seperti cosplay."
"Begitu ya?"
"Ukurannya pas?"
Mendengar itu, aku mencoba menggerakkan
lengan dan kakiku ringan.
"Iya, sepertinya tidak ada
masalah."
Yua mengangguk puas.
"Kalau begitu, sekarang giliran
Saku-kun yang menunggu di luar sebentar?"
"Oke. Kostumnya jangan dilepas
dulu?"
"Iya,
karena aku ingin melihat keseimbangan saat kalian berdiri berdampingan nanti.
Mungkin Yuko-chan dan yang lain akan butuh waktu sedikit lama untuk ganti
baju..."
"Paham.
Aku akan cari cara buat membunuh waktu di sekitar sini."
◆◇◆
Aku membeli
sebotol air mineral dari mesin penjual otomatis terdekat dan pergi ke halaman
tengah. Sebenarnya aku ingin kopi, tapi kalau sampai tumpah ke kostum ini,
tamatlah riwayatku.
Aku duduk di
bangku terdekat untuk membasahi tenggorokan, dan akhirnya bisa bernapas lega.
Kolam kosong berbentuk persegi yang dikelilingi gedung sekolah dan selasar itu
dinaungi langit musim gugur yang cerah dengan awan-awan cirrocumulus yang
berenang indah.
Saat aku
menarik kerah kemejaku sedikit, angin sejuk pun masuk ke dalam.
Aku pikir
akan terlihat aneh keluar dengan pakaian begini, tapi ternyata di sana-sini
banyak anak memakai kaos kelas warna-warni yang berlarian, anggota klub upacara
minum teh dan klub koto yang memakai yukata berlalu-lalang, hingga klub sulap
yang berlatih dengan setelan warna-warni mereka. Seluruh sekolah penuh dengan
hiruk-pikuk yang luar biasa.
Tetap saja,
aku menjulurkan kakiku.
Sama seperti
percakapanku dengan Yuko di Taman Ikuhisa, saat aroma festival mulai mendekat,
rasa gembira selalu datang bersama setitik kesepian. Tidak lama lagi, tempat
ini akan kembali menjadi halaman tengah yang sepi seperti biasanya.
Tiba-tiba aku
melihat ke arah kaki dan refleks terkekeh.
Memakai
sepatu dalam ruangan dengan tuxedo... mungkin hanya saat fitting kostum
festival budaya begini aku akan merasakannya. Aku jadi merasa konyol sendiri.
Pasti ada
momen-momen dalam hidup kita yang tidak akan pernah bisa dirasakan untuk kedua
kalinya. Berlatih tari pemandu sorak, menghafal naskah drama, memerankan
pangeran, dan mungkin juga────.
Waktu
menunggu dengan berdebar seperti ini selagi teman perempuan sekelas mencoba
gaun pengantin... eh, maksudku gaun drama.
Saat aku
sedang memikirkan hal itu, "Senpai!?" Sebuah suara yang sudah sangat
kukenal menusuk telingaku.
"Kureha,
ya."
Sambil
berkata begitu aku menoleh, dan sesuai dugaan, sosok itu berlari menghampiriku.
"Tunggu,
ada apa ini? Apa Senpai akhirnya berhenti sekolah dan mau jadi host?!"
"Terima
kasih atas sindiran yang memang kucari-cari itu."
Aku menepuk
ruang kosong di bangku, lalu Kureha duduk dengan jarak yang pas di sampingku.
"Bercanda,
kok. Apa itu kostum buat festival budaya?"
"Apa,
kamu sudah tahu?"
"Iya!
Yuko-san bilang dia mau main jadi Putri Salju."
Aku
mengangguk kecil dan menjawab.
"Sekarang
aku sedang menunggu Yuko dan Nanase mencoba kostum mereka."
"Tapi
tetap saja," Kureha menatapku lekat-lekat. "Pangerannya kelihatan
berandalan sekali, ya."
"Berisik."
"Ceritanya
diaransemen ulang, kan? Apa judulnya?"
"Putri
Salju, Putri Awan Gelap, dan Pangeran yang Plin-plan."
Belum sempat
aku menyelesaikan kalimatku, dia sudah tertawa di sampingku. Sambil memegangi
perutnya yang tampak sakit karena menahan tawa, Kureha berkata.
"Berarti
Putri Awan Gelap itu Yuzuki-san, dan pangeran yang plin-plan itu Senpai,
kan?"
"Omong-omong,
sifatnya juga disesuaikan dengan kami, lho."
"Wah,
aku jadi ingin lihat, deh."
Mendengar
reaksi yang tak terduga itu, aku mencuri pandang ke wajahnya dari samping.
Kureha menumpukan tangannya di bangku dengan ekspresi santai yang terlihat
senang, namun matanya yang menatap langit jauh seolah menyiratkan sedikit
kecemasan dan kesepian.
Mengingat
betapa bersemangatnya dia saat masuk tim pemandu sorak, aku pikir dia akan
langsung memesan kursi paling depan tanpa perlu diajak.
"Kenapa?
Kamu tidak akan menonton?"
Saat aku
bertanya begitu, Kureha menundukkan pandangannya. Ekspresinya tersembunyi di balik rambutnya.
"Tentu
saja, kalau bisa aku ingin pergi menonton."
"Itu
gaya bicara orang yang sudah pasti tidak akan datang."
Karena
nadanya terdengar cemas, kesepian, dan lebih lemah dari biasanya, aku membalas
dengan nada seringan mungkin.
"Apa
jadwal acara kelasmu bentrok?"
Kureha
akhirnya mengangkat wajahnya dan menatapku.
"Bukan,
acaraku diadakan sebelum acara Senpai!"
Kegamangan
sesaat itu lenyap, dan dia kembali ke gaya biasanya yang sangat khas 'adik
kelas'. Mungkin itu hanya perasaanku saja, atau mungkin gadis di depanku ini
juga sedang merasakan melankolis karena festival yang akan segera berakhir.
Aku
merilekskan bahuku dan bertanya.
"Kalau
begitu, apa itu pertunjukan panggung?"
"Bukan
pertunjukan sih, lebih seperti acara panggung yang melibatkan penonton?"
"Heh, memangnya mau buat
apa?"
"Sepertinya konsepnya diambil dari
acara TV populer zaman dulu, tapi detailnya rahasia sampai hari-H nanti. Senpai
harus datang, ya!"
"Sekarang malah kamu yang
menuntut, ya."
"Kalau Senpai naik ke panggung,
pasti bakal ramai!"
"Padahal setelah itu aku harus
naik panggung lagi buat drama."
"Sambil
promosi drama kan bisa. Penonton pasti bakal langsung menetap di gimnasium
kalau begitu."
Yah, aku juga
tidak punya alasan untuk menolak. Tanpa diminta pun, aku memang berniat
mendatangi acara kelas Kureha, Asu-nee, atau teman-teman tim pemandu sorak
sejauh yang kubisa.
Aku
mengangkat bahu kecil dan mengembuskan napas.
"Baiklah,
nanti kusampaikan ke yang lain."
"Sip!
Kalau bisa kalian harus datang lengkap!"
"Iya,
iya, paham."
Setelah
aku menjawab santai, tiba-tiba Kureha menatapku dengan tatapan serius.
"Senpai,
janji ya?"
"Berlebihan
sekali."
"Aku
ingin Senpai berjanji."
"Iya,
aku janji. Aku pasti pergi menonton."
"Bagus!
Aku pegang janjinya!"
"Lalu,"
kataku.
Aku
mengeluarkan secarik kertas dari saku yang tadi kumasukkan bersama uang receh
saat keluar dari ruang tata busana. Aku menyodorkannya, dan Kureha menerimanya
dengan wajah bingung.
"Senpai,
sejak kapan Senpai suka padaku?"
"Dari
sisi mana pun itu tidak terlihat seperti surat cinta, tahu."
Sambil
menunjukkan senyum jahil yang polos, dia membuka lipatan kertas itu.
"Eh, ini
kan..."
Mata Kureha
membelalak terkejut. Di sana tertulis lebar bahuku, tinggi badan, lingkar
pinggang, dan semua informasi yang diperlukan untuk membuat baju.
Setelah
Kureha memeriksanya, aku menambahkan penjelasan.
"Yua
yang mengukurnya tadi saat membuat kostum drama."
Bukan
hanya drama, kostum tim pemandu sorak pun harus dibuat sendiri oleh
masing-masing anggota. Sebenarnya aku berniat minta tolong Yua, tapi saat kamp
pelatihan bulan lalu, Kureha sudah menawarkan diri untuk membuatkan bagianku.
Karena
itu aku pikir dia akan butuh data ini dalam waktu dekat, jadi aku minta
dicatatkan tadi. Yah, aku tidak menyangka akan bertemu dengannya sekarang, tadi
aku cuma asal merogoh saku untuk mengambil koin dan kertas ini ikut terbawa.
Setelah
menunggu beberapa saat tanpa reaksi, aku menoleh ke samping.
"Aku
keduluan lagi ya..."
Gumamannya
terdengar seperti bicara pada diri sendiri sambil menggenggam erat kertas memo
itu dengan kedua tangan.
"Kureha...?"
"Tidak
ada apa-apa."
Seolah tidak
terjadi apa-apa, Kureha melipat kertas memo itu dengan rapi dan memasukkannya
ke saku. Lalu dia berkata dengan senyum nakal yang ceria.
"Padahal
aku berniat mampir ke rumah Senpai dan mengukur seluruh tubuh Senpai sendiri,
lho."
"Tolong
jangan lakukan itu."
Saat aku
mengembuskan napas yang dibuat-buat, Kureha pun terkekeh.
"Bercanda,
kok. Aku akan berusaha membuatkan kostum yang keren buat Senpai!"
"Maaf ya
sudah merepotkan, aku titip ya."
Tepat pada
saat itu, Yua melongokkan kepala dari arah ruang tata busana.
"Saku-kun—eh,
ada Kureha-chan juga...?"
Sepertinya
Yuko dan Nanase sudah selesai berganti baju. Aku berdiri dari bangku dan
berkata.
"Mau
ikut melihatnya sekalian?"
Kureha
sempat bimbang sejenak, lalu menggelengkan kepalanya pelan.
"Tidak,
aku ingin menyimpannya sebagai kejutan saat hari-H saja."
"Begitu
ya."
Aku tidak
mencoba untuk memaksakan logika pada ucapannya yang terasa sedikit tidak
konsisten dengan percakapan kami tadi. Saat ini, aku tidak butuh alasan atau
dalih untuk melangkah lebih jauh ke sana.
Aku berkata
pada Kureha yang sedang melambai-lambaikan tangan dengan ceria ke arah Yua.
"Datanglah
kalau kamu bisa, Adik Kelas."
"Aku
akan datang kalau bisa, Senpai."
Kami pun
saling bertatapan, lalu tertawa kecil dengan jarak yang pas.
◆◇◆
Setelah
berpisah dengan Kureha dan berdiri di depan ruang tata busana, Yua yang berada
di sampingku berkata sambil terkekeh.
"Saku-kun,
kamu pasti bakal terkejut. Mereka berdua cantik sekali."
"Aku
tahu, aku sudah menyiapkan mental."
"Atas
usul Yuko-chan, kamu harus melihat mereka satu per satu secara
bergantian."
"Maksudnya?"
"Pertama,
gaun milik Yuko-chan dulu."
"Boleh
saja, tapi apa Nanase belum selesai ganti baju?"
"Sudah,
kok. Yuzuki-chan sedang menunggu di balik tirai, jadi jangan coba-coba
mencarinya, ya."
"Begitu
ya, oke."
"Kalau
begitu, aku buka ya?"
Aku
mengangguk kecil. Yua menarik diri agar tidak menghalangi pandangan dan membuka
pintu pelan-pelan dengan kedua tangannya.
"───!!"
Yuko yang
mengenakan gaun putih bersih berdiri di sana dengan senyum malu-malu yang
tipis.
"Bagaimana,
Saku?"
Tanpa sempat
memikirkan jawaban yang puitis,
"Seperti
salju pertama."
Aku hanya
bisa bergumam jujur seperti itu. Bagian atas gaun yang didominasi renda dengan
kerah tinggi berhiaskan pita putih, serta lengan panjang transparan yang
mengembang, memberikan kesan desain yang tidak terlalu terbuka.
Namun, justru
itulah yang membuatnya sangat cocok dengan aura Putri Salju—bukan, aura Yuko
yang saat ini terasa mistis dan anggun. Roknya yang mengembang seperti riak air
tampak bagaikan serpihan salju di tepi danau yang tertiup angin.
Dia pasti
sudah menyiapkannya khusus untuk hari ini. Anting bermotif kristal salju bergoyang dengan
indahnya di telinganya.
Yua
tertawa kecil.
"Saku-kun,
coba berdiri di sampingnya."
Tersadar oleh
kata-kata itu, aku menggelengkan kepala sedikit. Aku melangkah dengan sangat
hati-hati agar tidak sampai menginjak roknya, lalu berdiri di samping Yuko.
Yua mendorong
cermin setinggi tubuh yang memiliki roda ke depan kami. Bayangan kami yang
terpantul di sana terlihat seperti………….
Yuko yang
pipinya sedikit merona berkata dengan polos.
"Wah,
rasanya seperti di upacara pernikahan, ya."
"──!"
Situasi yang
sebenarnya sudah kucoba abaikan sejak menunggu di luar tadi tiba-tiba
diungkapkan dengan begitu gamblang, membuatku tak bisa menyembunyikan
keterkejutan.
Aku tahu Yuko
tidak punya maksud terselubung. Siapa pun yang berada dalam situasi ini pasti
akan memikirkan hal yang sama. Harusnya aku bisa menanggapinya dengan candaan
ringan—seharusnya aku bisa melakukannya seperti biasa.
Tapi entah
kenapa, saat ini aku tidak bisa tertawa dengan baik. Benar saja, Yuko menatapku
dengan wajah cemas.
"Eh,
maaf ya Saku? Aku
tidak bermaksud yang aneh-aneh, kok."
"Aku
tahu," kataku seolah meyakinkan diriku sendiri. Aku memaksakan sudut kiri
bibirku terangkat.
"Anda
terlihat sangat serasi, wahai Pengantin Wanita."
Aku
menyodorkan lelucon garing sebagai ganti permintaan maaf. Aku yakin akting ini
akan langsung terbongkar, tapi...
"Ih, aku
ingin dengar kesan sebagai Pengantin Pria, bukan dari sudut pandang pegawai
toko."
Yuko tertawa
kecil melalui pantulan cermin dan menerimanya dengan baik. Akhirnya, aku pun
menutup kotak melankolis itu dan berkata dengan jujur.
"Kamu
benar-benar cocok memakainya, Yuko."
"Iya,
Saku juga."
"Seperti
tuan putri."
"Seperti
pangeran."
"Yuko
sepertinya akan butuh waktu lama buat dandan saat hari-H nanti."
"Pasti
kamu mau menungguku, kan?"
"Ehem,
sepertinya cukup sampai di sini, ya."
Yua yang
sedari tadi memperhatikan percakapan kami akhirnya mengerutkan alisnya dengan
lembut seolah merasa jengah.
"Yuko-chan,
Saku-kun, kalian membuat Yuzuki-chan menunggu terlalu lama."
Mendengar
itu, kami berdua saling berpandangan dan menggaruk pipi sambil tertawa kecil.
"Saku,
Yuzuki juga cantik sekali, lho."
"Iya,
aku tahu."
Atas
kata-kataku itu, Yuko tersenyum lembut dan memanggil ke arah jendela.
"Yuzuki,
maaf menunggu lama."
──Srak.
Bersamaan
dengan kata-kata itu, tirai terbuka dan berkibar tertiup angin. Di bawah sorot
cahaya dari arah belakang, siluet berwarna hitam pekat pun muncul.
Langkah
kakinya yang mantap terdengar seperti malam yang sedang mendekat. Sosoknya yang
bergerak anggun seolah malam yang sedang menari diikuti bayang-bayangnya.
Begitu
Yuzuki berdiri di depanku, dia berputar sekali dengan elegan.
"Bagaimana,
Chitose?"
Bibirnya
yang tampak lebih merah dari biasanya bergerak dengan sensual.
"───!!"
Padahal
aku pikir aku sudah tenang setelah dibuat berdebar habis-habisan oleh Yuko
tadi, tapi ternyata serangan kedua ini langsung menembus pertahananku. Aku mencoba mengumpulkan sisa-sisa
kewarasanku yang tinggal sedikit.
"Seperti
malam itu sendiri."
Lagi-lagi
aku hanya bisa bergumam jujur. Gaun Yuzuki yang seluruhnya terbuat dari kain
hitam pekat sangat kontras dengan milik Yuko; bahunya dibiarkan terbuka tanpa
ragu.
Aku
tidak tahu apakah istilah off-shoulder bisa digunakan untuk gaun, tapi
punggungnya terbuka hampir separuh, dan bagian dadanya memperlihatkan belahan
yang cukup dalam. Desain yang hampir tanpa hiasan itu justru seolah menegaskan
bahwa tubuh indah Nanase sendiri adalah karya seni yang paling utama.
"Hei,
lihat aku dengan benar, dong."
Mendengar
kata-katanya, aku mengembalikan pandanganku yang tanpa sadar sempat teralih.
Aura kewanitaan Nanase yang terpancar dari kulitnya yang terekspos terasa
begitu menyesakkan hingga aku sulit bernapas.
Yua berkata
lagi sama seperti sebelumnya.
"Saku-kun,
bisa berdiri di sampingnya?"
Rok milik
Nanase sedikit lebih pendek daripada milik Yuko, panjangnya pas menyentuh
lantai dengan ayunan yang terasa sensual. Karena tidak perlu khawatir menginjak
ujung gaunnya, jarak kami berdua pun menjadi lebih dekat.
Saat kami
kembali berdiri berdampingan di depan cermin...
"Benar
juga, rasanya seperti di upacara pernikahan."
Nanase
merapikan rambutku dengan jari-jarinya secara santai, lalu secara alami
menautkan tangannya ke sikuku. Aku refleks menegang dan membuka suara.
"Hei,
Nanase."
"Mengawal
pasangan adalah etiket seorang pengantin pria, kan?"
Aku
akhirnya menyerah mendengar kata-katanya. Aku mengepalkan tangan ringan dan
menekuk sikuku. Nanase menurunkan sudut matanya dengan lembut melalui cermin.
Aura sensual tadi menghilang, berganti dengan rona merah di pipinya yang
menunjukkan kepolosan yang tidak biasa darinya.
"Aku
senang."
Nanase
bergumam pelan, lalu dia sedikit memperkuat genggaman tangannya dan berkata.
"Apa
kami serasi?"
"Kalian
serasi."
"Setidaknya."
"Kalau
hanya dilihat dari tampang."
"Mana
kesan yang benarnya?"
"Kamu
pasti sudah tahu, kan."
"Iya."
"Karena
kita adalah orang yang serupa."
"Karena
kita adalah cerminan satu sama lain."
Ah, benar
juga, tiba-tiba aku menyadarinya.
Hitam dan
putih. Bulan dan danau.
Perasaan
tenang ini, hubungan yang tidak butuh banyak kata ini, adalah waktu yang sama
dengan yang mengalir di antara aku dan Yuko setelah melewati bulan Agustus itu
bersama-sama.
Terasa sangat
jauh, namun selalu bersandar di sisi yang paling dekat.
Seperti sisi
putih yang menyembunyikan hitam di baliknya.
Seperti
bulan dan danau yang memantulkan bayangan seseorang.
Ternyata, Aku
pun bisa menjalin percakapan seperti ini dengan Nanase.
Namun, di
saat yang sama, sebuah pikiran melintas.
Apakah Nanase
yang berubah, atau Aku?
Apakah Nanase
yang mencoba berubah, atau Aku?
Apakah Nanase sudah
terlanjur berubah, atau justru Aku?
Atau jangan-jangan...
──Hanya Aku yang masih belum bisa
berubah.
Di sudut musim gugur yang kian bersolek
dan berganti rupa, aku merasa seolah sendirian, mendekam di dalam stagnasi yang
tertinggal.
◆◇◆
Setelah menyelesaikan fitting
kostum, kami kembali ke kelas dan bergabung dalam latihan drama. Entah karena
terpacu oleh simulasi akting Nanase dan Nazuna, atau karena mode festival
sekolah mereka sudah aktif sejak latihan pemandu sorak, semua orang tampak
sangat fokus.
Kami berlatih di atas podium, sementara
teman-teman yang lain sesekali menonton sambil melanjutkan tugas masing-masing.
Atmosfer seperti ini benar-benar tidak buruk.
Kami terus bertahan hingga batas waktu
jam pulang sekolah hampir habis sebelum akhirnya menyudahi latihan dan
pekerjaan.
Properti yang belum jadi dibereskan,
meja-meja dikembalikan ke posisi semula, dan tanggal di sudut papan tulis
diganti menjadi tanggal hari esok.
Bukan karena aku ketua kelas atau apa,
tapi rasa enggan untuk berpisah membuatku tetap di sana sampai menjadi orang
terakhir yang menjaga kelas.
Pengumuman
lewat pengeras suara yang meminta murid untuk segera pulang terus mengalir
dengan tenang.
Di
luar jendela, kesunyian memenuhi suasana seolah seseorang baru saja menarik
tirai hitam dengan terburu-buru.
Alih-alih
lapangan yang sudah biasa kulihat, bayangan ruang kelas yang serupa justru
terpantul berdampingan, memperlihatkan diriku yang berdiri bengong sedang
menatap ke arah sini dari sana.
Begitu lampu
kupadamkan, siluet malam pun semakin tegas. Sekolah di jam-jam seperti ini
terasa ambigu, pikirku sambil mulai berjalan di koridor.
Tempat yang
biasanya menjadi simbol dunia siang hari ini mulai terlelap setelah cahayanya
dipadamkan, membuat batasan-batasannya menjadi samar.
Ruang kelas
khusus yang terkunci, selasar yang sudah kosong, gimnasium yang tanpa suara.
Sekolah di
malam hari memang identik dengan cerita hantu, tapi aku benar-benar mengerti
perasaan seolah kita akan tersesat dan keluar dari jalur keseharian yang biasa
jika tidak berhati-hati. Sambil memikirkan hal itu, aku melangkah keluar dari
pintu masuk sekolah.
"Ya."
"Ya."
Nanase, yang
sedang menyandarkan punggungnya di gerbang sekolah, mengangkat tangan ringan.
"Selamat
malam, mau pulang?"
"Selamat
malam, mau pulang bareng?"
Kami
tidak janjian. Tidak
ada janji, pun tidak ada alasan khusus. Kurasa, anggap saja ini semua karena
pengaruh malam.
Siang dan
malam. Perayaan dan keseharian. Panggung dan kursi penonton. Kepalsuan dan
keaslian.
Sesekali,
tidak ada salahnya tidur sambil menutup rapat segala hal dalam keadaan yang
masih ambigu.
◆◇◆
Kami berjalan
dalam diam untuk beberapa saat. Begitu sampai di tepian sungai Asuwa, Nanase
tiba-tiba berucap.
"Hei,
Chitose?"
"Apa,
Nanase?"
"Bagaimana
penampilanku hari ini?"
"Penampilan
'Aku' yang mana maksudmu?"
"Misalnya,
'Aku' sebagai mempelai wanita."
"Misalnya,
Nanase sebagai penyihir."
"Apa
kamu benci 'Aku' yang hitam?"
"Aku
benci pertanyaan yang tidak punya pilihan jawaban."
Mendengar
jawabanku, ia menjulurkan tangannya di depanku.
"Sudah
kubilang, kan? Ini bakal bikin ketagihan."
"Jangan
dipaksa bilang, aku ingin kamu sendiri yang ketagihan."
Seketika,
entah dari siapa duluan, senyum samar tersungging dari kami berdua.
"Karena
kamu adalah malam."
"Karena
ini malam milikmu."
Aku
mengembalikan tangan Nanase perlahan sambil berkata.
"Mari
kita cukupkan sampai di sini."
"Ya,
cukup sampai di sini untuk malam ini."
Dengan makna
dialog yang tetap dibiarkan ambigu, kami terus berkelana tanpa tujuan di dalam
pekatnya malam.
Perlahan kami
terus berkedip, seolah ingin menyembunyikan perasaan melankolis di sela-sela
debu bintang.
Sesekali kami
menatap langit, seolah sedang mencari rasi bintang yang belum bernama.
"Saku."
"Yuzuki."
Kebohongan
sementara yang dahulu begitu akrab di bibir.
"Chitose."
"Nanase."
Waktu lampau
yang suatu saat nanti mungkin takkan bisa lagi disentuh.
Di samping
gadis yang bagaikan cermin pantul ini, dua orang yang serupa saling bersandar.
──Dan di
ujung sana, akhir cerita seperti apa yang akan kami rajut nanti?
◆◇◆
Sore hari di
minggu berikutnya, aku membuka kunci atap sekolah setelah sekian lama.
Dulu aku
adalah pengunjung tetap setelah berhenti dari klub, tapi akhir-akhir ini aku
sangat sibuk dengan urusan pemandu sorak dan drama kelas sampai jarang sekali
kemari.
Hari ini,
karena kedua kegiatan itu sedang libur, aku berniat membaca novel Blue atau
Blue karya Fumio Yamamoto yang sangat pas dengan suasana musim gugur, atau
sekadar berbaring sambil mendengarkan musik. Lagipula... aku tanpa sadar
mengangkat sudut kiri bibirku.
Sudah saatnya
aku butuh waktu untuk menghadapi hatiku sendiri. Sambil memikirkan hal itu, aku
membuka pintu dan aroma yang terasa sangat akrab menyengat hidungku.
Begitu
melangkah ke atap dan mendongak, aku melihat asap tipis seperti awan cirrus
melayang dengan santainya dari sekitar tangki air. Kalau diingat-ingat, aku
refleks tertawa kecut.
Mencium aroma
Lucky Strike seperti ini juga baru pertama kali lagi sejak belajar bersama di
musim panas.
Orang bilang
aroma itu terhubung langsung dengan ingatan, tapi rasanya agak menyebalkan
kalau sepuluh tahun lagi aku tiba-tiba teringat Kura-sen saat sedang berada di
kedai minum.
Atau mungkin,
pada saat itu aku justru akan merindukannya dengan tulus?
Membayangkannya
saja sudah terasa seperti adegan yang melankolis.
Sambil
memikirkan hal-hal random itu, aku menaiki tangga seperti biasa.
"Yo,
anak SMA biasa."
Kura-sen
yang sedang menjulurkan kakinya dengan santai mengangkat tangan tanpa
melepaskan rokok dari jarinya.
"Panggilan
macam apa itu?"
Aku
tertawa pelan dan duduk di sampingnya.
"Lagipula,
seberapa suka sih kamu dengan Kura-T itu?"
Mendengar
itu, Kura-sen menjumput bagian dada Kura-T yang dipakainya sambil menyeringai.
"Kamu
juga sudah mulai mengerti apa itu gaya yang berkelas, ya."
"Kenapa
aku tidak bisa merasa senang secara tulus ya mendengar itu."
Mendengar
jawabanku, ia menyipitkan mata dan mengembuskan asap rokok seolah sedang
mengenang masa lalu yang jauh.
"Aku
suka baju kelas, baunya seperti masa muda."
"Heh?"
Karena
kalimatnya yang tak terduga, aku refleks memberikan reaksi jujur tanpa
memasukkan unsur sarkasme maupun humor. Kura-sen mengangkat sudut bibirnya dengan gaya
mengejek diri sendiri.
"Bisa
memakai baju ini setahun sekali adalah salah satu momen langka yang membuatku
merasa menjadi guru itu tidak buruk-buruk amat."
"Seperti
sedang mengenang masa muda begitu?"
"Kalau
sudah lewat usia tiga puluh, kamu bakal mengerti dengan sendirinya."
"Masa,
sih."
Lalu, aku
mengembuskan napas pendek.
"Yang
tadi itu apa?"
Mendengar
pertanyaanku, Kura-sen menjawab dengan wajah jahil yang terlihat senang.
"Bicara
soal apa?"
Sudah kuduga
dia sengaja, aku hanya bisa mengangkat bahu.
"Soal
'anak SMA biasa' itu."
Kura-sen
tidak akan menggunakan kata-kata seperti itu tanpa sadar. Selama dia
mengucapkannya, pasti ada makna tersembunyi di baliknya. Melihat ekspresinya,
dugaanku memang tepat sasaran.
Kura-sen
meniupkan asap berbentuk cincin berkali-kali.
"Belakangan
ini kamu terlihat sangat rajin, ya?"
"Karena
festival sekolah sudah dekat, jadi aku sedang menikmati masa muda dengan
sopan."
Saat aku
mengatakannya, ia melanjutkan dengan nada datar yang agak sarkastis.
"Bukan
karena kamu sudah berubah jadi lebih dewasa?"
"Kalau
Kura-sen yang bilang, itu malah terdengar seperti lelucon dewasa."
Sepertinya ia
tidak berniat menanggapi candaanku. Keheningan yang terasa mengambang tercipta
sesaat, lalu sebuah cincin asap yang sangat besar melayang. Ia melanjutkan
kata-katanya seolah sedang menusuk lubang di tengah cincin asap itu.
"──Atau
mungkin, karena kamu sudah melewati satu musim panas?"
"T-tunggu,
apa maksud—"
"Begitu
ya," Kura-sen menurunkan sudut matanya seolah merasa iba.
"Apa
kamu sudah tidak bisa lagi menjadi pahlawan bagi semua orang?"
"───!!"
Kalimat yang
seolah bisa melihat segalanya itu membuat lambungku terasa mencelos.
Tentu saja
aku tidak pernah melaporkan rincian kejadian musim panas itu kepada wali
kelasku.
Jadi
seharusnya ia tidak tahu apa pun soal urusan internal kami, namun kata-kata itu
menusuk ganjalan di hatiku dengan sangat telak.
Tanpa
memberiku kesempatan untuk membela diri atau mengalihkan pembicaraan, Kura-sen
membuka suara.
"Aku
bisa tahu hanya dengan melihat kalian."
Ia mematikan
puntung Lucky Strike-nya yang sudah pendek ke asbak portabel sambil
melanjutkan.
"Musim
panas di usia tujuh belas tahun memang seperti itu."
Tiba-tiba,
sebuah pertanyaan jujur meluncur dari mulutku.
"Apa
Kura-sen juga pernah punya musim panas usia tujuh belas tahun yang seperti
itu?"
"Entahlah,
bagaimana ya."
Reaksi yang
hampir sama dengan jawaban 'iya' itu entah kenapa membuatku merasa sedikit
geli.
Kura-sen yang
kutemui pertama kali sudah sebagai orang dewasa dan guru sekolah, ternyata juga
punya masa-masa saat ia berusia tujuh belas tahun.
Apakah langit
musim panas yang ia lihat saat itu sama birunya dengan milik kami? Apakah
langit musim gugur yang ia lihat saat itu juga kian berganti rupa seperti milik
kami?
"……Mungkin,
aku merasa takut."
Entah karena
terpengaruh oleh melankolis antara orang dewasa dan anak-anak ini, aku tersadar
sudah mengucapkannya.
"Bahwa
semua orang akan terus berubah dan meninggalkanku sendirian."
Yuko, Yua,
Nanase, Haru, Asu-nee────. Gadis-gadis yang dulu seharusnya berjalan
berdampingan di sisiku, entah sejak kapan telah melewatiku dan semakin terlihat
dewasa.
Bahkan saat
mereka menoleh dan mengulurkan tangan, hati ini tetap berputar di tempat.
Seberapa
keras pun aku mengayuh, hanya rasa cemas yang menumpuk dan segalanya tak
kunjung berjalan selaras.
"Aduh,
aduh."
Kura-sen
menyalakan rokok keduanya dengan wajah jengah.
"Kupikir
kamu sudah sedikit jadi pria, ternyata isi kepalamu masih tetap bocah
ingusan."
"He-hei,
dengar ya..."
Ia menghisap
rokoknya dengan nikmat untuk kedua kalinya, lalu mengembuskannya kuat-kuat.
"──Yang
paling banyak berubah itu ya dirimu sendiri, tahu."
"Hei,"
Kura-sen menatapku seolah sedang memprovokasi.
"Bukankah
kamu sudah tidak bisa lagi menjadi pahlawan bagi semua orang, wahai anak SMA
biasa bernama Chitose-kun?"
Ah, begitu
rupanya. Berkat kata-kata Kura-sen, jariku akhirnya menyentuh sumber
ketidaknyamanan yang selama ini mengganjal di lubuk hatiku.
──Bukan
sebagai Chitose Saku si pahlawan, tapi sebagai Chitose Saku seorang pria biasa.
Bukan mereka
yang berubah. Bukan, memang benar mereka berubah, tapi sebagai premis dasarnya.
Orang yang pertama kali mengkhianati dirinya sendiri adalah Aku.
Jangan-jangan... pikirku.
Aku bukannya
sedang jalan di tempat, tapi justru sedang berjalan mundur sendirian dengan
bodohnya di saat semua orang maju ke depan.
"Aku
tidak sedang menyalahkanmu."
Kura-sen
bergumam seolah sudah mendahului pikiranku.
"Terkadang,
hal itu juga disebut sebagai pertumbuhan."
Pertumbuhan.
Aku mencoba memutar kata yang terasa asing itu di atas lidah. Meski sudah
kukunyah berkali-kali, rasanya tetap hambar seperti permen karet yang sudah
kehilangan rasa. Seolah sedang diberitahu bahwa aku yang sekarang tidak akan
mengerti, rasanya aku ingin meludahkannya saja.
Tiba-tiba,
sebuah percakapan lama yang pernah kulakukan dengan Kura-sen di sini terlintas
kembali. Soal apakah aku bisa mempercayai apa yang dianggap benar, atau tidak. Mungkin aku... aku bergumam pelan
seperti bicara pada diri sendiri.
"Mungkin
aku menjatuhkan kompasku di musim panas itu."
Kura-sen
mengangkat sudut bibirnya.
"Gara-gara
perempuan, ya?"
"Zaman
sekarang, istilah itu bisa bikin orang marah, lho."
"Aku
memilih waktu dan tempat, kok. Pakai kata wanita atau gadis rasanya kurang
pas."
"Aku
paham maksudmu, sih."
"Ada
perasaan melankolis yang hanya bisa lahir saat seorang pria menyebut lawan
jenisnya dengan sebutan itu."
Aku
mengembuskan napas panjang yang dibuat-buat dan bertanya.
"Aku
akan mengikuti alurmu kali ini, tapi apa Kura-sen tidak pernah merasa tersesat
gara-gara perempuan?"
Kura-sen
menyipitkan mata dengan wajah yang terlihat rindu.
"──Memilih
perempuan itu, mungkin mirip dengan memilih jalan hidupmu sendiri."
Jalan hidup.
Meskipun kata itu terasa mengganjal, untuk saat ini aku hanya bisa menertawakan
diri sendiri.
"Padahal
aku baru saja dimarahi karena salah paham dan merasa akulah satu-satunya pihak
yang memilih."
"Itu
cuma kiasan, perempuan pun memilih pria."
Aku tahu
tidak ada gunanya membicarakan hal ini dengan wali kelas. Masalahku selamanya
adalah masalahku sendiri, dan aku tidak sedang meminta jawaban yang benar. Tapi
aku ingin bertanya pada pria di depanku ini, yang dulu juga pernah berusia
tujuh belas tahun.
"Lalu,
bagaimana menurutmu cara terbaik untuk memantapkan hati?"
"Entahlah,"
Kura-sen menurunkan pandangannya sedikit, lalu bergumam seperti sedang
mengingat sesuatu.
"Mungkin
kau hanya perlu mengumpulkannya."
Setelah
mengatakan itu dengan singkat, ia menatap rokoknya yang perlahan memendek
seperti kembang api pijar.
"Kata-kata
yang kau ucapkan, dan kata-kata yang diucapkan padamu. Senyuman yang kau
berikan, dan senyuman yang diberikan padamu. Air mata yang kau teteskan, dan
air mata yang diteteskan untukmu. Hal-hal yang membuat kalian mirip, dan hal-hal yang membuat kalian
tidak mirip. Saat kau
memperhatikan, dan saat kau diperhatikan. Hal yang kau sadari, dan hal yang
disadari darimu. Saat kau menemani, dan saat kau ditemani. Saat kau memarahi,
dan saat kau dimarahi. Saat kau dimaafkan, dan saat kau tidak dimaafkan. Saat
kau memaafkan, dan saat kau tidak bisa memaafkan."
Rangkaian
kata-katanya yang jarang-jarang sefasih ini terdengar seolah ia sedang
mengatakannya kepada dirinya sendiri.
"Kumpulkan
kenangan semacam itu, jajarkan satu per satu sambil berpikir."
Sambil
mematikan rokok ke asbak portabel, ia menatap langit dengan pandangan kosong.
"Saat
bersama siapa, kamu bisa menjadi dirimu yang seperti apa."
Bukan,
Kura-sen berkata seolah ingin menutup pembicaraan.
"──Di
samping siapa kamu ingin berdiri, dan ingin menjadi diri yang seperti apa
selamanya."
Seketika,
aku terbelalak.
Memilih
seseorang berarti memilih jalan hidup sendiri. Bersama siapa, dan ingin terus
menjadi diri yang seperti apa.
──Klang.
Di
lubuk hatiku, terdengar suara yang familier.
Aku
merasa seolah bisa mengingat sesuatu yang penting. Atau mungkin, aku merasa
seolah sedang melupakan sesuatu yang penting.
Misalnya,
seperti bulan yang kulihat hari itu. Misalnya, seperti kelereng yang tenggelam
di dasar botol ramune.
Kura-sen—aku
baru saja akan membuka mulut tanpa tahu apa yang ingin kukatakan, seolah ingin
meraih sesuatu yang hampir tergapai, namun—
──Kriet,
pintu atap terbuka dengan suara derit yang usang.
"Chitose...?"
Berikutnya,
suara Nanase yang sedang mencariku menggema. Kura-sen memasukkan rokok dan
asbaknya ke saku, lalu berdiri sambil mengerang kecil.
"Pelajaran
tambahan yang menyesakkan antara sesama lelaki cukup sampai di sini."
Ia
melirik Nanase sekilas, lalu mengangkat sudut bibirnya.
"Kehilangan
karena perempuan sebaiknya diobati oleh perempuan juga, itulah etiket pria
sejati."
◆◇◆
Cermin, oh cermin.
──Seandainya saja aku adalah angin hari esok.
◆◇◆
Aku
mengantar kepergian Kura-sen dari atap dengan pandangan mata, lalu setelah dia
turun dari rumah tangga, aku membuka suara.
"Ada
perlu sesuatu?"
"Tidak
juga," jawab Nanase sambil menggelengkan kepala, tersenyum tipis selembut
bunga sakura yang hampir gugur.
"Hanya
saja, entah kenapa aku merasa hari ini kalau aku datang kemari, aku bisa
bertemu denganmu."
"Begitu
ya," aku mengangguk pelan mendengar kalimat yang terasa sudah sangat akrab
di telinga itu. "Bagaimana dengan klub?"
"Hari
ini Misaki-chan sepertinya harus mengurus kelas yang dia pegang sebagai wali
kelas. Jadi aku hanya latihan ringan dan menyudahinya lebih awal."
"Turnamen
sudah dekat, kan?"
"Iya."
"Bagaimana
kondisimu?"
"Aku
yang sekarang, mungkin bisa dibilang agak luar biasa."
"Kalau
Nanase yang bilang begitu, berarti memang benar adanya."
Ingatan
tentang gedung olahraga di bulan Mei kembali muncul di kepalaku. Hari itu, saat
si brengsek itu menyembunyikan sepatu basket Nanase sebelum pertandingan
latihan.
Aku ingat apa
yang dikatakan Misaki-sensei waktu itu.
『Tapi tahu tidak, terkadang...
kendalinya lepas.』
Kenyataannya,
permainannya setelah itu benar-benar sangat tajam hingga membuatku yang awam
ini merasa merinding.
Aku teringat
saat pertama kali melihat Todo Mai, aku langsung merasa bahwa dia adalah tipe
pemain yang 'punya bakat'.
Mulai dari
cara lari santai, pemanasan, hingga cara menangani bola yang bahkan bukan dribble,
ada atmosfer unik yang hanya dimiliki oleh orang-orang hebat.
Sejujurnya,
aku memiliki kesan yang sama persis terhadap Nanase sejak kelas satu.
Itulah
sebabnya saat melihat rentetan tembakan tiga angka darinya waktu itu, aku
merasa sangat maklum.
Aku merasa
itu adalah hal yang wajar dilakukan oleh seorang Nanase Yuzuki.
Aku sempat
mengira itu hanyalah kondisi zone yang terjadi secara spontan, tapi jika
ia sudah bisa melepaskan kendali itu kapan saja secara stabil, tidak heran jika
ia menjadi pemain yang setara dengan Todo.
Sambil
memikirkan hal itu, kami mendekati pagar atap dan menyandarkan tangan di sana.
Di jalur yang
membelah lapangan dan gedung sekolah serta di area parkir, persiapan pembuatan
lengkungan gerbang sekolah dan properti untuk festival olahraga sedang
berlangsung dengan pesat.
Tanpa sadar,
sepertinya aku sudah mengobrol cukup lama dengan Kura-sen. Langit yang
membentang di depan mata kini sudah sepenuhnya dipenuhi nuansa senja.
Jajaran
pegunungan di kejauhan tampak samar dalam warna peony yang lembut, menciptakan
gradasi indah menuju warna violet yang menandakan awal dari malam.
Seolah-olah
udara itu sendiri sedang diwarnai dengan warna merah muda pucat yang
menyelimuti seluruh kota.
Mungkin kami
sedang memikirkan hal yang sama. Nanase yang berdiri berdampingan denganku
bergumam pelan.
"Aku
suka senja di musim gugur. Yang paling indah di antara keempat musim."
"Aku
paham. Mungkin karena udaranya sedang jernih."
"Atau
mungkin, karena hati kita yang sedang jernih."
"Sepertinya
tidak begitu."
"Kenapa?"
"Karena
di mataku pun, pemandangan ini terlihat indah."
"Kamu
bicara sesuatu yang tidak mirip dirimu ya."
"Mungkin
ini sisa-sisa dari percakapan yang juga tidak mirip diriku tadi."
Aku
mengangkat bahu sedikit dengan gaya mengejek diri sendiri.
Mungkin
aku sedang terpengaruh oleh udara yang sewarna dengan rona merah di pipi ini.
Kalimat
terakhir yang ditinggalkan Kura-sen saat pergi tadi juga masih mengganjal di
sudut kepalaku.
Saat aku baru
saja ingin melontarkan candaan ringan untuk mencairkan suasana, aku menyadari
Nanase sedang memperhatikanku sambil menopang dagu di atas pagar.
Begitu mata
kami bertemu, ia menyipitkan mata dengan ekspresi yang tampak dewasa, lalu
berucap dengan suara yang terdengar seperti angin musim gugur yang akan
menerbangkan dedaunan kering di saat berikutnya.
"Hatimu
itu jernih, kok."
"Eh...?"
"Justru
karena hatimu lebih jernih dari siapa pun, sedikit saja endapan yang mengendap
di sana akan terlihat sangat mencolok."
"Nana,
se...?"
Sambil
memantulkan warna merah muda senja di matanya yang bagaikan cermin, ia
melanjutkan.
"Mungkin
orang lain yang melihatnya akan mengejekmu tanpa tanggung jawab."
Pemilihan
kata itu, nada bicara itu, tanpa sadar membuatku seolah melihat bayangan
seseorang pada dirinya.
"Mereka
bilang ada endapan di hatimu yang jernih, padahal mereka sendiri mengabaikan
hati mereka yang keruh."
Lalu,
Nanase tersenyum dengan sangat lembut.
"Tapi
mungkin, orang yang paling mengkhawatirkan endapan itu adalah dirimu sendiri,
ya?"
"Hatiku
tidak sehebat itu, kok."
"Tapi
aku tahu."
Sambil
berkata begitu, Nanase mendekat perlahan dan menempelkan tangannya di dadaku.
"Bahwa
yang mengendap di sana sebenarnya adalah kelereng dari botol ramune."
"──!"
Rasanya
seolah jantungku disentuh secara langsung, membuat detak jantungku berdegup
kencang.
Nanase
kemudian berputar dan menyandarkan punggungnya pada pagar pembatas.
"Hei,
lihatlah."
Ia
berucap sambil mendongak menatap langit yang kian berganti warna. Saat aku
mengikuti arah pandangnya, ia dengan jahil menyandarkan bahunya ke bahuku.
"Rasanya
seperti kita sedang terhubung dengan langit."
Seketika, aku
merasa seolah diselimuti oleh sesuatu yang lembut. Gradasi warna yang mewarnai
pandangan berubah menjadi tirai tipis transparan yang menutupi sekeliling kami.
Angin yang
terasa seperti cinta pertama menerbangkan rambut Nanase, menggelitik leherku
dengan nakal.
Aroma sampo
yang elegan meresap perlahan seperti suara siaran radio di tengah malam.
Lalu di dasar
langit tempat kami berdua terapung, seolah sedang menyendok endapan itu dengan
lembut, Nanase berkata.
"Boleh
aku bertanya apa yang tadi kalian bicarakan?"
Aku membuka
suara, berusaha agar tidak sampai ikut bersandar pada teman sekelasku ini.
"Itu
bukan cerita yang pantas didengar oleh Nanase."
"Nana."
"Eh...?"
"Sekarang
aku bukan Nanase, bukan Yuzuki, dan bukan Nanase Yuzuki. Aku hanyalah Nana.
Kalau begitu, bagaimana?"
Mungkin,
pikirku. Ini adalah semacam alasan atau dalih yang sengaja disiapkan oleh
Nanase.
Sama seperti
saat kami menjadi pangeran dan tuan putri sesaat di atas panggung.
Cerita yang
tidak bisa kudengar untuk Nanase, Yuzuki, maupun Nanase Yuzuki, kini ditujukan
hanya untuk Nana.
"……Nana."
Seolah sedang memanggil orang itu di tepi sungai, tanpa sadar nama itu meluncur dari bibirku.
◆◇◆
Begitu
hati-hati, aku memotong detail tentang diriku menggunakan gunting imajiner,
lalu menyampaikan cerita yang Kura-sen bagikan kepada Nanase dengan nada yang
seolah-olah itu hanyalah urusan orang lain.
Meski aku
tahu prosedur yang berbelit-belit ini pada akhirnya hanyalah sebuah sandiwara,
dan meski lawanku saat ini adalah "Nana" yang dimunculkan oleh senja,
aku tetap ingin menarik garis tegas dalam diriku sendiri.
Setelah aku
selesai menceritakan semuanya, Nanase bergumam seolah bicara pada dirinya
sendiri.
"Memilih
jalan hidup, ya……"
Nada suaranya
terdengar agak mengejek diri sendiri, reflektif, bahkan mungkin terdengar
seperti sedang menghukum diri sendiri.
Sebelum aku
sempat terjerat oleh rasa penyesalan, Nanase tersenyum rapuh seolah ingin
menyembunyikan bulan dengan satu tangan.
"Aku
mengerti apa yang dikatakan Kura-sen."
Ia mulai
berjalan menyusuri pagar pembatas atap sambil melanjutkan.
"Ingin
berdiri di samping siapa dan ingin menjadi seperti apa... kurasa itu adalah
alasan cinta yang sangat indah."
"Alasan...
benarkah begitu?"
Aku balas
bertanya sambil berjalan berdampingan di dekatnya.
"Maaf
ya, tadi mulut Nana agak jahat."
Nanase
memiringkan kepalanya, tampak sedikit bingung.
"Kalau
aku adalah Nanase Yuzuki, aku pasti akan bersimpati."
Sedikit demi
sedikit, cahaya senja mulai memudar dan malam pun merayap mendekat.
"Tapi
bagi diriku yang sekarang, kurasa tidak apa-apa jika ada alasan yang sedikit
lebih manusiawi."
"Itu
adalah……"
Saat aku baru
saja ingin menyela, ia menghentikan langkahnya dan berkata dengan suara yang
seolah membelai pipiku dengan lembut.
"──Memilih
seseorang yang kepadanya kita bahkan bisa memperlihatkan diri kita yang sangat
tidak kita inginkan."
Jawaban itu
seolah menjadi antitesis dari ucapan Kura-sen tadi.
"Siapa
pun tidak akan bisa terus tampil cantik setiap saat, tidak bisa terus menjadi
pahlawan."
Nanase
berucap dengan nada kesepian, lalu ia menatapku dan menurunkan sudut matanya
perlahan.
"Contohnya,
seperti hatimu yang sangat jernih pun, sesekali pasti ada endapan yang turun ke
dasar."
Karena
itulah, kali ini ia benar-benar menyentuhkan tangannya di pipiku.
"Setidaknya
di depan orang yang sudah kau pilih, aku ingin kau menunjukkannya."
Ujung jarinya
menyentuh bibirku dengan lembut.
"Dirimu
yang pengecut, dirimu yang plin-plan, bahkan dirimu yang tidak sanggup menjadi
Chitose Saku sekalipun."
"Nana……"
Nanase
menutup mulutku yang hampir terbuka, lalu ia mengakhiri kalimatnya.
"──Agar
baik raga maupun jiwa, kita bisa tenggelam dan terlelap di dalam malam
ini."
Setelah itu
kami saling menatap dalam diam, sampai gradasi warna yang kami rindukan berubah
menjadi blue hour yang penuh kepalsuan.
◆◇◆
Sore hari di
hari Jumat, satu minggu sebelum festival sekolah dimulai.
Latihan
pemandu sorak dan drama kelas akhirnya mencapai puncaknya. Hari ini sebagai
penyelesaian akhir, kami baru saja meminjam panggung di Gedung Olahraga Pertama
untuk melakukan geladi bersih layaknya pertunjukan sungguhan.
Kami memoles
semuanya hingga puas, dan baru menyudahi latihan saat pengumuman batas jam
pulang sekolah berkumandang. Bukan hanya Nanase, tapi juga Yuko, Aku, dan semua
orang.
Dalam periode
latihan yang singkat, akting kami sudah terlihat meyakinkan. Aku jadi berpikir,
padahal dulu aku sangat menyayangkannya, tapi setelah dijalani ternyata waktu
berlalu begitu cepat.
Sambil
berjalan di koridor menuju kelas bersama teman-teman kelas 5, Yuko membuka
suara.
"Aku
jadi sangat tidak sabar menantikan festival sekolah!"
Haru
tertawa singkat dan menimpali.
"Aku
tidak terlalu khawatir sih, tapi sepertinya drama kelas kita akan baik-baik
saja."
Mendengar
itu, Yua menurunkan sudut matanya dengan tenang.
"Aku
juga lega bagian 'Utage' tim pemandu sorak kita sudah selesai."
Entah kenapa
Kenta mendengus bangga.
"Mizushino
dan yang lainnya juga akhirnya menguasai koreografi 'Utage'."
Kazuki yang
diajak bicara tertawa kecil seolah merasa geli.
"Saya
sangat kagum, Guru."
Kaito berkata
sambil menautkan kedua tangan di belakang kepalanya.
"Tapi
rasanya agak sepi ya, keramaian festival ini hanya sampai minggu depan."
Nazuna
menutupi mulutnya dengan tangan dan tertawa renyah.
"Tapi,
bukankah hal seperti ini jadi spesial justru karena ada akhirnya?"
Nanase
mengangguk kecil dengan pandangan yang menerawang jauh.
"Setuju."
Setelah
menunggu kelanjutan percakapan sejenak, aku bergumam pelan.
"……Atomu-kun
juga tidak mau bilang sesuatu?"
"Diamlah."
Mendengar
interaksi itu, semua orang sontak tertawa terpingkal-pingkal. Kazuki
melanjutkan dengan menggoda Atomu, Kaito menimpali dengan semangat, sementara
Kenta memperhatikan dari jauh meski ia tidak terlihat keberatan.
Tinggal
berapa malam lagi, ya.
Saat aku
memikirkan hal itu, tiba-tiba Yua mendekat. Sambil menggaruk pipi, ia bicara dengan nada yang
agak tidak enak hati.
"Saku-kun
maaf ya, akhir pekan ini sepertinya aku tidak bisa datang untuk membuat stok
makanan."
"Paham,
urusan klub musik?"
"Iya,
karena sudah dekat penampilan festival luar sekolah, latihannya jadi lebih lama
dari biasanya."
"Semangat
ya, aku menantikan penampilanmu di panggung."
Saat
kami sedang mengobrol, Nanase yang berjalan di dekat kami menyela.
"Ucchi,
kalau boleh, apa minggu ini saja aku yang menggantikanmu?"
Sepertinya ia
tadi mendengar isi percakapan kami. Aku refleks tertawa kecil mendengar
kata-katanya dan melontarkan candaan.
"Kenapa
kamu bertanya pada Yua?"
Nanase
menjawab seolah itu adalah hal yang sangat wajar.
"Begitu
aturannya, lagipula kalau bertanya pada Chitose, dia pasti cuma bilang 'tidak
apa-apa, nanti aku masak sendiri seadanya'."
"Itu
memang benar, sih."
"Tapi
bagaimana menurut Ucchi?"
Sambil
berkata begitu, Nanase mengalihkan pandangan untuk meminta pendapat. Yua
tersenyum maklum.
"Soalnya
masakan Saku-kun kalau masak sendiri cuma fokus ke karbohidrat dan daging, ikan
dan sayurnya jadi tidak diperhatikan……"
"Tuh
kan," Nanase mengangkat bahunya.
"Aku
memang tidak pandai memasak banyak jenis lauk dalam porsi kecil……"
Setelah
aku menjawab begitu, Nanase kembali menatap Yua.
"Aku
juga ingin latihan membuat hidangan pendamping dan stok makanan,
bagaimana?"
Sesaat,
bayangan Kureha melintas di benakku. Meminta izin pada Yua lalu memasak di dapur rumahku. Alurnya persis sama
dengan waktu itu, dan aku tidak yakin Nanase yang saat itu ada bersamanya tidak
menyadari hal tersebut……
Namun Yua
menjawab dengan santai tanpa merasa terganggu sedikit pun.
"Ya
sudah, kalau begitu maaf ya, aku titipkan pada Yuzuki-chan saja."
Nanase
menangkupkan kedua tangan di depan dada, lalu menurunkan sudut matanya dengan
lembut.
"Siap,
serahkan padaku."
"Eh, apa
jangan-jangan itu meniru gayaku……?"
Mereka berdua
saling berpandangan dan tertawa kecil hingga bahu mereka berguncang.
Kurasa aku
saja yang terlalu khawatir, pikirku sambil mengembuskan napas.
Tanpa
kusadari, sepertinya sudah terbentuk hubungan yang tidak akan goyah hanya
karena hal sekecil ini.
Nanase pasti
mengusulkannya karena ia pun menyadari hal itu. Yua menutupi mulutnya dengan tangan dan tersenyum
simpul.
"Sebagai
gantinya, kalau boleh, nanti bekal untuk festival olahraga biar aku yang
siapkan untuk Saku-kun dan Yuzuki-chan juga ya."
"Benarkah?
Terima kasih, aku menantikannya."
"Iya!"
Dan
begitulah, aku hanya bisa memperhatikan dalam diam saat gadis-gadis itu terus
melangkah maju, sementara aku sendiri merasa masih tertinggal di belakang.
◆◇◆
Cermin, oh cermin.
──Seandainya saja aku adalah langit yang lembut.
◆◇◆
Keesokan
harinya, hari Sabtu sebelum senja.
Setelah
selesai membersihkan kamar, mencuci baju, lari rutin, serta latihan ayunan dan training,
aku sedang tertidur ayam di sofa saat bel pintu depan berbunyi dengan tenang.
"Pintunya
tidak dikunci—"
Kataku sambil
menggeliat bangun.
"Selamat
malam, aku bertamu ya."
Nanase
melongokkan kepalanya setelah membuka pintu dengan hati-hati.
"Ada
apa sih, kenapa mendadak formal begitu?"
Melihat tawa
heranku, ia membalas dengan senyuman yang terasa sangat sopan.
Nanase yang
masuk ke dalam rumah mengenakan kardigan warna ice blue dan rok panjang pleated
berwarna blue-green.
Pakaiannya
memberikan kesan yang sedikit berbeda dari biasanya. Secara keseluruhan
pakaiannya tidak terlalu terbuka, memancarkan atmosfer yang tenang dan anggun.
Tanpa sadar
aku terpesona melihatnya, dan menyadari hal itu, Nanase memiringkan kepalanya
dengan heran.
"Ada
apa?"
"Tidak,
cuma merasa pakaianmu hari ini jarang kulihat."
"Masa?"
"Biasanya
kan kamu sedikit lebih boyish."
"Sesekali
tidak apa-apa kan? Kamu tidak suka?"
"Mana
mungkin," aku mengangkat bahu lebar-lebar. "Aku cuma berpikir pakaian
seperti itu pun ternyata sangat cocok untukmu."
Nanase
menurunkan sudut matanya dengan ekspresi yang sangat tenang, lalu...
"Terima
kasih, Chitose."
Ia tersenyum lembut seperti bunga dandelion yang tertiup angin.
Astaga, aku
hanya bisa tertawa kecut melihat reaksinya.
Entah kenapa,
akhir-akhir ini Nanase sering membuatku kehilangan ritme.
Satu demi
satu sisi dirinya yang tidak kukenal mulai menampakkan diri, dan setiap kali
itu terjadi, hatiku dibuat goyah.
Padahal aku
masih belum sepenuhnya mencerna maknanya; mulai dari Nanase yang tampil memikat
saat latihan drama, sosok polosnya dalam balutan gaun, hingga kedewasaannya
yang kian berubah di atap sekolah saat senja—bahkan arti dari percakapan yang
kami lalui setelahnya. Saat aku sedang memikirkan hal-hal itu,
──Kasari,
tiba-tiba suara keseharian yang tenang menggema.
Barulah aku
menyadari keberadaan kantong plastik yang ditenteng Nanase di kedua tangannya.
Padahal aku
berniat pergi bersamanya, tapi sepertinya dia sudah menyelesaikan belanjaan
lebih dulu.
Batang daun
bawang dan kucai tampak menyembul sedikit dari kantong itu, memberikan kesan
feminin yang menetralisir citra Nanase dengan sangat pas.
Aku merasa
lega melihat sosoknya yang terlihat sedikit kontras itu, namun aku segera
membuka suara dengan panik.
"Maaf,
aku tidak peka."
"Tidak
apa-apa, boleh aku minta tolong?"
Begitu
menerima kantong plastik dari Nanase, jari-jariku terasa tertekan karena isinya
jauh lebih berat dari yang kubayangkan, membuatku merasa bersalah. Aku segera
meletakkannya di atas meja.
"Padahal
kalau bilang, aku bakal menemanimu."
Nanase yang
sedang berjongkok merapikan sepatunya dengan teliti hanya menolehkan wajah ke
arahku.
"Tidak
apa-apa, aku cuma ingin bisa bersantai begitu sampai di sini."
Ia
mengatakannya dengan ekspresi sangat tenang, seolah-olah ia baru saja pulang ke
rumahnya sendiri.
"Begitu
ya."
Aku merasa
geli dengan atmosfer yang terasa seperti akhir pekan biasanya ini, lalu sedikit
mengangkat sudut kiri bibirku untuk menyembunyikan perasaanku.
"Nanase,
bagaimana klubmu?"
"Aku
latihan sejak pagi."
"Kalau
begitu, mau mandi dulu?"
"Tidak,
aku tidak langsung datang ke sini setelah latihan, jadi mungkin nanti saja
setelah makan."
"Yah,
kamu sudah ganti baju juga sih. Tapi, apa itu berarti kamu akan mandi lagi
padahal sudah mandi di rumah?"
"Tadi
itu mandi siang, kalau di sini mandi malam."
Sambil
berkata begitu, Nanase mengeluarkan botol mungil yang terlihat modis dari tas
besarnya, lalu mengangkatnya dengan riang ke dekat wajahnya.
"Aku
bawa garam mandi, lho."
Kalau
dipikir-pikir, kami pernah membicarakan hal itu saat dia datang sendirian
sebelumnya. Ternyata sudah sebulan berlalu sejak saat itu. Akhir-akhir ini
udara benar-benar mulai terasa seperti musim gugur.
Sudah
waktunya memasuki musim di mana berendam di bak mandi terasa lebih menggoda
daripada sekadar mandi di bawah pancuran. Sambil menerima garam mandi dari
Nanase, aku membuka suara.
"Kalau
begitu, sekalian saja aku siapkan air panasnya."
"Iya!"
"Tapi
garam mandi ini bukannya seperti Bathclin atau Bab yang biasa, ya? Rasanya sayang kalau dipakai
sendirian."
"Masa?
Kalau begitu, pakainya saat kita sedang bersama saja."
Duh, aku
mengembuskan napas panjang dalam hati agar tidak ketahuan.
Setidaknya
berikanlah sedikit nada menggoda atau provokasi; kalau kamu mengatakannya
dengan begitu polos dan natural, aku jadi bingung harus bereaksi bagaimana.
Ini beda
urusannya dengan saat Yua membeli bumbu atau rempah-rempah aneh.
Tanpa
menyadari keguncanganku, Nanase masuk ke kamar mandi dan mulai mencuci tangan.
Aku tertawa
kecil karena heran, lalu menyalakan pemutar audio Tivoli milikku.
Begitu aku
memutar musik secara acak dari ponsel, lagu Small World milik BUMP OF
CHICKEN mulai mengalir.
◆◇◆
Beberapa saat
kemudian, Nanase kembali ke ruang tengah dan mengenakan celemek bermotif garis
vertikal biru yang sama saat ia membuatkan katsudon sebelumnya.
Waktu itu ia
tampak sangat kaku, namun entah sejak kapan gerak-geriknya kini memancarkan
kewajaran seolah itu adalah bagian dari rutinitas harian.
Nanase
menggigit ikat rambut di mulutnya, lalu menguncir rambut sambil membelakangiku.
Tengkuknya
yang mulus tiba-tiba tertangkap mataku, membuatku refleks membuang muka.
Justru karena
ia memakai pakaian yang lebih tertutup dari biasanya, pandanganku malah
tersedot ke arah kulitnya yang terekspos secara samar itu.
Begitu
persiapannya selesai, Nanase mulai memilah bahan makanan yang ia beli dengan
cekatan. Bahan yang harus masuk kulkas, yang tahan di suhu ruang, hingga yang
akan segera dimasak...
Mengingat
sifat Nanase, ia pasti telah belajar banyak dari cara Yua bekerja selama ini.
Kecekatan
tangannya benar-benar terlihat seperti pemandangan akhir pekan yang biasa
kulihat. Setelah selesai memilah, Nanase mengeluarkan pisau dan talenan.
"Chitose,
aku tanya dulu ya, apa ada yang ingin kamu makan?"
"Hmm,
aku lapar, jadi daging."
"Lalu apa gunanya aku yang
diserahi tugas ini..."
"Tapi
aku ingin makan katsudon buatan Nanase lagi."
"Fufu,
terima kasih. Tapi hari ini menunya ikan, ya."
"Cih."
"Tenang
saja, aku sudah memberikan resepnya kepada Ucchi, kok."
"Eh...?"
Itu adalah
kalimat yang sedikit tak terduga bagiku. Kenyataan bahwa Yua menanyakan resep
katsudon pada Nanase, dan Nanase memberitahukannya pada Yua. Pantas saja, aku
pun langsung merasa maklum.
Pantas saja
Nanase mengusulkan hal ini dengan begitu santai meski ia menyaksikan sendiri
kejadian dengan Kureha waktu itu. Lalu, sedikit rasa sepi membelai batin ini.
Sesuatu yang
sangat wajar, namun di balik sisi Nanase dan Yua yang aku tahu—dan hanya aku
yang tahu—ternyata ada sosok Yua yang hanya diketahui Nanase, dan sosok Nanase
yang hanya diketahui Yua.
Karena
itulah, jika saatnya tiba untuk mengubah hubungan antara seseorang, berbagai
hubungan lain yang saling terpaut pun akan ikut berubah.
Tiba-tiba,
percakapan kami di Taman Ikuhisa terlintas kembali.
"Bukankah
ini yang terakhir?"
"Terakhir...?"
"Iya,
festival sekolah kita."
Mungkin
justru karena Yuko melangkah lebih awal dari siapa pun—bukan, karena ia menarik
garis tegas pada hubungan yang ambigu dan tidak stabil lebih awal dari siapa
pun────.
Mungkin ia
sudah memantapkan tekadnya akan akhir dari semua ini.
Memilih
seseorang berarti tidak memilih orang lain.
Memilih suatu
jalan hidup berarti tidak memilih jalan hidup yang lain.
Bahkan jika
Nanase belakangan ini...
Tanpa sadar,
ekspresiku mungkin menjadi muram saat aku tenggelam dalam pikiran itu.
"Chitose...?"
Nanase menatapku dengan cemas. Ini
tidak baik, aku segera menggelengkan kepala pelan. Untuk saat ini, aku harus
beralih suasana hati demi menghadapi gadis di depanku ini.
"Ngomong-ngomong,
ikan apa yang kamu beli?"
"Ikan
Sanma dan Buri."
"Karena
ini musimnya, mari kita masak Sanma hari ini."
"Bisa
dimasak nasi campur atau carpaccio juga, lho."
"Tidak,
aku ingin yang simpel saja; dibakar dengan garam, parutan lobak, saus ponzu,
dan nasi putih."
"Aduh,
tidak ada tantangannya ya..."
Nanase
tertawa kecut karena heran, lalu melanjutkan.
"Sepertinya
akan memakan waktu lama karena aku juga akan membuat stok makanan. Chitose,
mandi saja duluan."
"Boleh?"
"Iya,
silakan nikmati waktumu."
"Kalau
begitu, aku terima tawarannya."
"Jangan
lupa pakai garam mandinya, ya."
"Sip.
Kalau ada yang bisa kubantu, sisakan saja untukku nanti."
"Terima
kasih. Kalau begitu, bisa tolong cuci berasnya dulu sebelum air mandinya
siap?"
"Siap."
"Aku
beli gandum juga, boleh aku campurkan?"
"Oh, aku
suka nasi gandum."
"Hari
ini rencananya aku mau buat nasi rumput laut ala menu sekolah."
"Wah,
itu yang paling bikin semangat."
Interaksi
yang begitu alami itu terasa menggelitik, dan aku pun mengejek diriku sendiri
dalam hati.
Saat Yua ada
dalam keseharianku, Nanase tidak ada. Saat Nanase ada dalam akhir pekanku, Yua
tidak ada.
Ternyata
memang seperti itu, pikirku sekali lagi. Melihat punggung Nanase yang berdiri
di dapur, entah kenapa perasaanku menjadi sedikit sesak.
◆◇◆
Begitu aku
keluar dari kamar mandi, aroma yang menggugah selera telah memenuhi ruang
tengah.
Rasanya aku
tidak berendam terlalu lama, tapi di atas meja sudah berjejer beberapa kotak
bekal dan kantong plastik klip berisi stok makanan yang telah selesai dimasak.
Ada tahu
daging, tumis jahe, semur ikan Buri, Bansansuu, seledri campur tuna mayones,
hingga asinan timun, sawi putih, dan sawi hijau... Kecepatan memasaknya dalam
waktu singkat ini benar-benar membuatku kagum.
"Luar
biasa mewahnya."
"Masa?
Yang agak merepotkan cuma membuat telur dadar tipis untuk Bansansuu, sisanya
cuma masakan simpel yang direbus, dibakar, atau dicampur saja. Asinannya juga
curang karena aku pakai bumbu instan. Ah, khusus yang ini tidak tahan lama,
jadi harus habis besok ya."
"Paham.
Tapi tetap saja hebat kamu bisa masak sebanyak ini."
"Yah,
tidak seperti Ucchi, kalau aku kan semuanya pakai resep."
"Lalu
ini apa?"
Sambil
bertanya, aku mengambil salah satu kotak plastik. Di dalamnya terdapat sesuatu
yang tampak seperti irisan lobak tipis dengan warna kemerahan samar.
"Karena
lobaknya murah, jadi aku buat lobak campur plum dan mayones. Maaf ya, temanya
jadi serba mayones."
"Heh,
lobak ya."
"Mau
coba?"
Aku
menerima sumpit dan piring kecil yang diberikan Nanase, lalu mengambil potongan
lobak itu.
Saat
kucoba satu suapan, rasa manis alami sayuran dan sedikit rasa asam dari plum
berpadu sempurna dengan mayones, rasanya benar-benar membangkitkan selera
makan.
"Enak
banget."
"Fufu,
syukurlah kalau begitu."
Lobak
adalah jenis sayuran yang hampir tidak pernah kusentuh jika memasak sendiri.
Karena
aku tipe orang yang tidak keberatan makan menu yang sama setiap hari, biasanya
dari musim gugur hingga musim dingin aku selalu mengandalkan menu nabe
(rebusan) jika bingung mau makan apa.
Meski
nabe itu praktis karena ada daging dan sayurnya, namun saat Nanase atau Yua
menyiapkan hidangan yang biasanya tidak kumakan seperti ini, aku kembali
menyadari betapa berharganya makanan buatan orang lain.
Saat
aku sedang merenungkan hal itu, Nanase yang sedang mengecek gorengannya berkata
dengan nada kurang percaya diri.
"Aku
masih akan buat beberapa hidangan pendamping lagi, tapi untuk hidangan utamanya
rencananya tinggal sayap ayam goreng dan salad ayam. Apa itu cukup?"
"Lebih
dari cukup, sangat membantu malah."
Mendengar
jawabanku, ia tampak lega dan melemaskan bahunya.
"Soalnya
aku tidak tahu seberapa banyak biasanya Ucchi masak..."
"Tidak
perlu dipikirkan sampai sejauh itu."
Sepertinya ia
belum merasa puas, ia terus menatapku dengan pandangan dari bawah seolah ingin
membaca raut wajahku.
"Tapi,
aku tidak terbiasa seperti Ucchi."
"Nanti
juga terbiasa."
"Apa
kamu benar-benar bisa puas denganku?"
"Sudah
kubilang, bisa."
"Habisnya,
aku tidak mau dianggap kurang memuaskan dibandingkan Nanase yang
biasanya."
"……Eh,
anu, ini kita masih membicarakan soal stok makanan, kan?"
Karena tidak
tahan lagi, aku refleks melontarkan candaan, membuat Nanase tertegun dengan
mulut terbuka.
Beberapa saat
kemudian, ia sepertinya baru menyadari maksud perkataanku, lalu dengan wajah
sedikit memerah ia memukul dadaku pelan.
"Ih!
Padahal aku sedang bicara serius!"
"Eh,
maaf?! Kupikir kamu memang sengaja memancing agar aku berkomentar begitu."
Posun.
"Tadi
itu murni tidak sengaja!"
"Tunggu
dulu, aku juga jadi ikut malu, nih."
Posun.
"Aku
jadi tahu persis kamu menganggapku wanita seperti apa."
"Tapi
biasanya kan memang suasananya seperti itu?!"
"Kyui!"
Lalu
kami saling berpandangan dan tertawa terpingkal-pingkal. Saat bersama Nanase,
selalu ada semacam ketegangan tertentu.
Bukan
berarti masih ada dinding di antara kami, tapi justru karena ia sangat mirip
denganku, aku merasa harus menjaga sikap.
Entah
itu dalam percakapan, penampilan, hingga tingkah laku, aku merasa harus bisa
berakting dengan sama baik dan anggunnya agar bisa setara berdiri di
sampingnya.
Tapi
sesekali bertukar candaan santai seolah sudah menjadi bagian dari keluarga
seperti ini juga tidak buruk. Nanase memanyunkan bibirnya seolah sedang
merajuk.
"Sudah,
padahal tadi aku mau memberimu sayap ayam yang baru matang untuk dicicipi, tapi
sekarang dibatalkan!"
"Maaf,
maaf!"
"Chitose
itu benar-benar menyebalkan di bagian seperti ini."
"Aku
akan turuti permintaanmu apa saja, jadi tolong maafkan aku."
"Hmm,
gimana ya..."
Meski
berkata begitu, ia tersenyum geli.
Nanase
meniriskan minyak dari sayap ayam di nampan kawat, lalu memasukkannya satu per
satu ke wajan lain yang sudah disiapkan bumbunya.
Setelah
mengaduknya dengan penjepit hingga bumbunya meresap sempurna, ia mengambil satu
potong.
Ia
meniupnya beberapa kali agar tidak terlalu panas, lalu menyodorkannya ke
arahku.
"Ini,
hati-hati panas ya."
"Terima
kasih."
Aku
menerimanya dan langsung menggigitnya tanpa ragu.
"Panassssss!"
Aku pun
melakukan adegan klise itu dengan sempurna.
"Tuh
kan, sudah kubilang."
Nanase
tertawa karena heran, lalu menyodorkan segelas air.
"Nih."
Aku
menerimanya dan mendinginkan bibirku. Nanase berucap dengan nada seolah sedang
menasihati adik kecilnya.
"Harus
ditiup dulu pelan-pelan, tahu?"
"Iya,
iya, fuu fuu."
Lalu aku
kembali menggigit sayap ayam itu sekali lagi.
"Enak
banget!"
Aku
berseru dengan jujur.
Bumbu
manis berbahan dasar kecap asin dan mirin dengan sedikit aroma bawang putih ini
rasanya sangat pas, aku bisa menghabiskan berapa pun potong sekaligus.
Terlebih
lagi, sepertinya ia melapisinya dengan sedikit tepung kentang, karena kulitnya
terasa sangat renyah.
Saat
aku mendekati wajan dan ingin mengambil potong kedua, Nanase menggaruk pipinya
dengan bingung.
"Aku
senang sih kamu suka, tapi..." ia membuka suara dengan senyum ambigu.
"Padahal
itu rencananya untuk stok makanan..."
"Satu
lagi, eh, dua lagi saja."
"Duh,
sisakan ruang di perutmu untuk makan malam nanti ya."
"Tenang
saja. Daripada itu, kenapa Nanase tidak ikut makan selagi masih hangat?"
"Hmm,
sepertinya tidak untuk hari ini."
"Kenapa?"
"Anu,
soalnya tadi aku pakai bawang putih..."
"Ini
kan cuma bumbu rahasia sedikit saja, kalau tidak dekat-dekat sekali juga tidak
akan ketahuan."
Mendengar
kata-kataku, sosok Nanase Yuzuki yang biasa kulihat kembali menampakkan diri.
"──Yah,
anggap saja ini sebagai bagian dari etiket seorang wanita."
Kalimat yang
sangat khas dirinya, namun entah kenapa terasa mengandung makna tersembunyi.
"Begitu
ya."
Tanpa
bertanya lebih jauh, aku pun melahap potongan sayap ayam yang kedua.
◆◇◆
Begitu Nanase
menyelesaikan semua stok makanannya, langit yang terlihat dari sofa tempatku
berbaring sudah sepenuhnya memasuki waktu senja.
Hari ini pun,
langit menggambarkan gradasi melankolis seolah warna merah muda persik dan ungu
iris dipulaskan perlahan di atas dasar warna biru wisteria.
Cahaya senja
yang hangat menembus jendela, membuat suasana di ruang tengah terasa sedikit
merona.
"Boleh
aku duduk di sampingmu?"
Suara Nanase
memanggilku saat ia memegang dua cangkir mug, membuatku bangkit duduk.
"Kopinya
bukan untuk setelah makan?"
Aku
melontarkan candaan sambil tertawa kecil, namun ia membalas dengan suara yang
terdengar lebih lemas dari dugaanku.
"Maaf
ya, sebenarnya tinggal membakar Sanma saja, tapi boleh aku istirahat
sebentar?"
Pantas saja,
aku merasa menyesal dan menepuk kursi di sampingku.
"Aku
cuma bercanda, silakan istirahat."
Latihan klub
sejak pagi, lalu dilanjutkan dengan memasak stok makanan dalam jumlah banyak
yang tidak terbiasa dilakukannya.
Nanase yang
hebat sekalipun pasti merasa lelah.
Aku merasa
bersalah karena sempat menggodanya.
Nanase
meletakkan mug di meja tamu, lalu duduk di sampingku.
──Kotori,
ia menyandarkan kepalanya padaku.
Sebelum aku
sempat berkata apa-apa,
"Boleh
pinjam bahumu sebentar?"
Ia bergumam
pelan tanpa maksud terselubung. Mendengar desah napasnya yang terasa sangat
lega, aku tidak tega untuk menolaknya.
Aroma masakan
yang melayang di ruang tengah dan wangi sampo saling tumpang tindih,
kejanggalan itu justru terasa sangat nyaman.
Aku perlahan
melemaskan bahuku agar ia tidak merasa sungkan, lalu berkata.
"Kenapa?"
"Hmm, pengisian daya dan pelepasan
daya."
"Apa-apaan
itu?"
"Mungkin
seperti napas panjang di antara babak pertunjukan."
"Begitu
ya."
Nanase
menggeliat sedikit seolah merasa geli, lalu membuka suara.
"Hal
seperti ini tidak buruk juga, ya."
"Hal
seperti ini?"
"Momen
di kala senja, saat-saat singkat sebelum makan malam, waktu di mana kita minum
kopi sambil duduk berdampingan."
"Bukannya
berdampingan, bahuku malah kau jadikan bantal, tahu."
"Jangan
selalu bercanda, dasar bodoh."
Kotsun. Ia memberikan sundulan ringan yang
jenaka ke kepalaku.
"Seandainya
aku bertemu denganmu lebih dulu daripada Ucchi, apa keseharian seperti ini
mungkin terjadi?"
"Hentikanlah,
jangan bahas yang seperti itu."
"Kalau
suatu saat nanti kita kuliah di tempat yang sama dan tinggal bersama, apa
keseharian seperti ini mungkin terjadi?"
"Seseorang
pernah bilang, kalau tinggal bersama, kita mungkin jadi malas memasak."
"Aku
akan tetap memasak, asal kau mau tidur di sampingku."
"Haruskah
aku membacakan dongeng di malam saat kau tidak bisa tidur?"
"Aku
lebih suka cerita pengantar tidur yang hanya untuk kita berdua."
Begitulah
kami, saling bertukar percakapan layaknya twilight di batas antara siang
dan malam.
Waktu yang
ambigu. Hubungan
yang ambigu. Jarak yang ambigu. Kata-kata yang ambigu. Masa depan yang ambigu.
Hati yang ambigu.
Seolah
kami berpura-pura tidak melihat semua itu dan mencoba meninggalkannya diam-diam
di celah ini. Seolah kami mengunci rapat sebuah kotak yang tak boleh disentuh
siapa pun sampai besok pagi tiba.
Lalu, di saat
sekeliling mulai diwarnai kegelapan hingga siluet satu sama lain pun menjadi
tak pasti,
"Sudah
malam."
Nanase
mengakhirinya dengan suara sayu, seolah memang telah lama menantikannya.
◆◇◆
Cermin, oh cermin.
──Seandainya saja aku adalah penyihir dengan apel
beracun.
◆◇◆
Setelah itu,
kami menyantap hidangan yang dibuat Nanase: ikan Sanma bakar garam, asinan
timun, sawi putih, dan sawi hijau, tumis kubis dan udang rebon dengan klobot
asin, nasi gandum rumput laut ala menu sekolah, serta sup bola ikan sarden.
Menu
yang sederhana dan tidak neko-neko justru terasa sangat meresap di hati.
Semuanya
lezat, tapi nasi rumput lautnya memiliki rasa asin yang pas dan entah kenapa
terasa sangat bernostalgia hingga aku menambah dua kali.
Katanya
cara membuatnya cukup mudah, jadi nanti dia akan mengajariku resepnya.
Tentu
saja urusan mencuci piring aku yang ambil alih. Nanase sudah selesai menyikat
gigi di wastafel dan sekarang sedang mandi.
Aku
sempat mengira wastafel bakal penuh dengan panci dan penggorengan karena dia
membuat stok makanan sebanyak itu, tapi aku terkejut karena yang tersisa hampir
hanya peralatan makan yang kami gunakan tadi.
Saat
dulu dia membuatkan katsudon, setidaknya masih ada baskom atau talenan yang
tersisa.
Aku
jadi merasa sedikit geli menyadari betapa cepatnya Nanase belajar dan
beradaptasi.
Selesai
mencuci piring, aku merebahkan diri di sofa.
Jika
ini akhir pekan biasanya, ini adalah waktu di mana aku minum kopi setelah makan
bersama Yua lalu mengantarnya pulang, jadi ritmeku terasa agak berantakan.
Meski
begitu, karena Nanase sudah bilang ingin mandi di rumahku, aku tidak mungkin
mengusirnya begitu saja setelah dia memberiku makan.
Saat
sedang memikirkan hal itu, terdengar suara pintu kamar mandi terbuka dari arah
ruang ganti, dan aku sedikit menaikkan volume audio Tivoli-ku.
Padahal
saat pertama kali dia menginap di bulan Mei, suara air saja sudah membuatku
sangat panik, tapi tanpa sadar alur seperti ini sudah menjadi rutinitas
keseharian yang biasa. Mungkin karena memang dia orangnya.
Kecuali
pengecualian saat Yua menginap di kelas satu dan bulan Agustus tahun ini,
satu-satunya lawan jenis yang mandi atau berendam di rumahku hanyalah Nanase.
Dulu saat aku
diminta menjadi pacar pura-puranya, aku pernah mengatakannya.
"Dengan
kata lain, Nanase memilihku karena aku adalah orang yang tidak akan salah paham
lalu jatuh cinta padamu."
Mungkin hal
yang sama juga berlaku untuk situasi saat ini.
──Karena dia
adalah orang yang tidak akan salah paham lalu melangkah melewati batas, aku
bisa menerima tingkah laku Nanase.
Bahkan jika
ia membawa handuknya sendiri ke dalam lemariku. Bahkan jika ia tidak lagi
membutuhkan alasan khusus untuk datang ke kamar ini.
Bahkan jika
ia menebarkan aroma sampo yang sama denganku. Bahkan jika ada garam mandi yang
hanya digunakan saat kami bersama. Bahkan jika kami saling bertukar janji
tentang masa depan yang entah kapan.
──Semua itu
bukan menjadi alasan bagi kami untuk saling berpelukan di malam ini.
Justru karena
memahami hal itulah, kurasa kami bisa menjaga ruang kosong dan menarik garis
tegas. Aku sampai di sini, dan ia sampai di sini.
Sebuah jarak
di mana hanya ujung jari yang bersentuhan saat kami saling mengulurkan tangan,
sembari membiarkan sisa ruang untuk interpretasi masing-masing.
Aku dan
Nanase pasti memanfaatkan dengan baik kenyamanan ambigu yang membuat kami bisa
berpura-pura tidak tahu jika salah satu dari kami sedang tidak berminat.
Suara hair
dryer mulai berdengung.
Saat aku
memejamkan mata dengan kedua tangan di belakang kepala sebagai bantal,
tiba-tiba tercium aroma yang hanya bisa digambarkan sebagai suasana seseorang
yang baru selesai mandi di rumah.
Bukan hanya
saat aku masih tinggal bersama keluarga, tapi terkadang aku juga diselimuti
udara seperti ini saat berjalan di tengah kota di kala senja.
Aroma sampo,
kondisioner, sabun mandi, hingga garam mandi yang terbawa uap hangat, sebuah
momen yang tanpa sadar membuat ekspresiku melunak.
Mungkin, jauh
di dalam lubuk hati, aku merasa lega mengetahui ada seseorang yang begitu dekat
hingga bisa merasa rileks seperti itu.
Saat aku
sedang memikirkan hal itu dan tanpa sadar mulai terkantuk-kantuk,
Terdengar
suara tirai wastafel yang terbuka,
──Pachin,
lampu ruang tengah dimatikan.
Cahaya dari
lampu berbentuk bulan sabit yang dibawa Nanase dari kamar tidur saat makan
malam tadi mulai menyebar samar-samar.
"Chitose,
maaf membuatmu menunggu."
Mendengar
nada suaranya yang seolah menggoda, aku tertawa kecut, mengira ini adalah
permainan isengnya yang biasa.
"Sayang
sekali, sepertinya tidak ada sesi slow dance di pesta dansa kita kali
ini."
Sambil
berkata santai begitu, aku bangkit dari sofa dan berdiri,
"──!!!"
Seketika
aku menahan napas.
Berbanding
terbalik dengan pakaian tertutup yang ia kenakan tadi, kini Nanase memakai gaun
one-shoulder berwarna merah anggur dengan bahan sehalus sutra.
Satu
sisi tulang selangka dan dadanya terekspos tanpa perlindungan, bahkan warna
kulit di bagian pinggangnya pun terlihat samar.
Rok
panjang hitamnya yang memiliki ciri khas pita panjang menjuntai dari pinggang
kiri memiliki belahan tinggi hingga ke paha, memamerkan kaki indahnya yang
jenjang tanpa ragu.
Gelang
emas ramping di pergelangan tangannya dan anting yang bergoyang di sela rambut
yang diikat setengah itu berkilau misterius.
Nanase
menggerakkan bibirnya yang tampak lebih merah dari biasanya secara perlahan.
"Hei,
Chitose?"
"Nanase..."
Aku tidak
bisa menemukan kata-kata, hanya bisa memanggil namanya tanpa arti.
Saat ia
mencoba gaun pengantin dulu, aku memang terpesona, tapi itu hanyalah kostum
panggung untuk situasi non-keseharian sehingga aku masih bisa menoleransinya.
Namun di
malam akhir pekan, di kamarku sendiri, melihat Nanase yang baru selesai mandi
mengenakan pakaian seperti ini, rasa bersalah yang tak terlukiskan muncul di
benakku.
Tubuh yang
terpapar cahaya samar di kegelapan itu terlihat sangat nyata dan menggoda
hingga membuat bulu kuduk berdiri. Aku tahu Nanase itu cantik, tapi yang ini
berbeda.
Tiba-tiba,
kata-katanya saat kami masih menjadi kekasih pura-pura terlintas kembali.
"Wah,
kupikir Chitose bukan tipe orang yang suka gadis yang berdandan berlebihan demi
kencan dengan pria tampan."
"Lagipula,
bukankah yang seperti ini malah lebih mendebarkan? Penampilan boyish tapi garis
tubuh yang terlihat saat melakukan gerakan spontan, atau paha yang mengintip
saat menyilangkan kaki, ya kan?"
Kalimat itu
sangat khas dirinya sehingga aku menerimanya begitu saja, tapi jika dipikirkan
dengan tenang, itu adalah cerita sebelum kami saling menunjukkan sisi dalam
kami.
Tidak aneh
jika Nanase melakukan pertahanan diri, dan itu pasti berlaku bukan hanya
kepadaku, tapi kepada semua lawan jenis.
Karena
penampilan boyish-nya saja sudah sangat mempesona, aku jadi tidak
menyadarinya.
Artinya,
selama ini Nanase selalu mengenakan estetikanya sendiri seolah sebagai baju
zirah,
──Dan
menyembunyikan sisi "wanita" yang ada di dalam dirinya.
Aku refleks
menelan ludah. Seolah menikmati reaksiku, Nanase sedikit mengangkat sudut
bibirnya. Bahkan gerakan sekecil itu pun membuat hatiku mencari-cari maknanya.
Kalau begitu,
kenapa Nanase...
Di malam ini,
ia melepas cadarnya? Di malam ini, ia menunjukkan pesona wanitanya?
Berbanding
terbalik dengan kebingunganku, Nanase seolah sengaja memancing keheningan,
menggoda dan memperlambat waktu.
Ia berkedip
perlahan, menyempitkan matanya dengan penuh arti, dan sesekali menggerakkan
bibirnya dengan manja. Setelah membiarkan suasana mengendap sepenuhnya,
"Hei,
Chitose?"
Nanase sekali
lagi mengucapkan kalimat yang sama sambil melangkah maju satu demi satu.
Di ujung jari
kakinya, cat kuku berwarna merah anggur yang sama dengan gaunnya berkilau
lembap.
Belahan
roknya terbuka lebar, memperlihatkan lutut dan paha yang masih merona setelah
mandi dengan lebih jelas.
"Sudah
malam."
"Iya,
sudah malam."
Jawabanku
yang berusaha terdengar tenang malah terdengar payah dan menghilang ke luar
jendela.
Saat Nanase
mendekat, aku mundur seolah merasa terintimidasi hingga betisku membentur sofa
dan tak punya tempat untuk lari lagi.
Apa yang
membuatku goyah begini, pikirku sambil menggelengkan kepala pelan.
Permainan
seperti ini sudah kami lakukan berkali-kali, bukan?
Malam
ini pun, aku hanya perlu berakting dengan baik lagi. Cukup melakukan sandiwara
ambigu di mana kami hanya saling menyentuhkan ujung jari dari dalam garis yang
telah kami tarik masing-masing.
"Fufu,"
ia seolah sedang mempermainkan hatiku yang goyah di telapak tangannya.
"Aku
suka malam."
Nanase
berucap dengan suara yang seolah membelai lembut daun telingaku.
"Karena
malam tertutup, karena malam belum memiliki nama."
Satu langkah,
selangkah lagi ia memperpendek jarak.
"Aku
suka malam."
Ia
melanjutkan seolah sedang merapalkan puisi yang tintanya belum sepenuhnya
kering.
"Karena
malam adalah dunia hanya untuk kita berdua, karena kita bisa membicarakan
rahasia yang tidak boleh didengar siapa pun."
Lalu, Nanase
yang berdiri di depanku mengambil tangan kananku dengan tangan kirinya, dan
tangan lainnya ia letakkan perlahan di bahuku.
Seolah
terpikat dan terpesona, tanpa kusadari aku telah memeluk pinggangnya.
Karena ia
mengangkat lenganku, ujung bajunya tersingkap ke atas, membuat tanganku
menyentuh langsung kulit polosnya.
Sentuhan yang
mulus itu ditambah suhu tubuh yang terasa seolah bisa membuatku pingsan,
membuat otakku berdenyut mati rasa dan rasanya hampir gila.
Seolah
menyadari bahwa aku mencoba melepaskan tanganku, ia malah menggesekkan seluruh
tubuhnya secara lekat ke arahku, seolah ingin menjeratku.
Dada Nanase
menekan dadaku, bagian perut bawahnya menekan bagian perut bawahku.
Srat, sebuah firasat yang membuat darah
berdesir hebat menjalar di sekujur tubuhku.
"Nanase,
cukup—"
Seolah ingin
membungkam kata-kataku, Nanase merapatkan pipinya yang merona ke arahku. Hafuu,
embusan napas hangat yang menggoda membelai pinggiran telingaku.
Di sudut
kesadaranku yang mulai menjauh dan mengabur, aku sempat-sempatnya berpikir hal
yang tak masuk akal—untunglah tadi aku sudah menyikat gigi. T
angan kirinya
yang tadi menggenggam tangan kananku, juga tangan lainnya yang tadi bersandar
di bahu, perlahan merayap turun menyusuri punggung hingga ke pinggang.
Sambil
memelukku erat seolah ingin menyatukan tubuh kami yang sudah saling tumpang
tindih ini menjadi satu────.
Makanya,
untuk saat ini saja, Nanase berucap seolah membisikkan sebuah janji rahasia.
"Kamu
boleh tenggelam di dalam diriku... di dalam malam ini."
Lalu, ia
perlahan menjauhkan pipinya sambil menggeseknya pelan. Kupikir hanya sampai di
sini, dan aku hampir merasa lega karena ia menarik garis batas yang lebih
berbahaya dari biasanya, tapi itu hanya sesaat.
──Chupuri.
Bibir yang
terasa manis dan menggoda menyentuh pipi kiriku dengan lembap. Itu adalah
ciuman yang provokatif dan beracun, layaknya bunga Manjushage di musim
gugur.
"Ja—"
Sebelum aku
sempat mendorongnya menjauh dengan panik,
──Gishi.
Nanase
menjatuhkan seluruh berat badannya padaku. Tubuhku yang sudah kaku ditambah
betis yang terpentok ujung sofa membuat lututku lemas, dan aku pun ditindih
begitu saja tanpa perlawanan.
──Dokun,
dokun, dokun.
Dada Nanase
yang menindihku terasa menekan dadaku dengan kuat hingga terasa sakit. Detak
jantung yang tak bisa kubedakan lagi mana milikku dan mana miliknya beresonansi
ke seluruh tubuh.
──Hah,
hah, hah-aa.
Napas yang
memburu panas, namun terasa lembap dan sensual, menerpa daun telingaku berulang
kali. Pangkal paha kananku terbungkus dalam dekapan paha Nanase, membuatku tak
berani bergerak sedikit pun karena takut memicu reaksi yang tak bisa ditarik
kembali.
──Gishi,
gishi.
Pegas sofa
yang sudah cukup lama kupakai berderit pelan mengikuti irama napas kami. Bahkan
suara keseharian yang biasanya terdengar biasa saja, kini terdengar begitu
mesum dan menggoda.
Bantalan
sofa tempat kami berbaring melesak dalam menerima beban dua orang.
──Gishi.
Nanase
yang berada di atasku menumpukan tangannya di kedua bahuku untuk mengangkat
tubuhnya.
"Hei,
Chitose?"
Tanpa
ragu, ia membuka kakinya dan duduk mengangkang di atas perut bawahku seolah
ingin menjepitku. Rasa hangat yang berasal dari balik roknya serta sensasi
lembut yang seolah meleleh tersampaikan bahkan melalui lapisan kain tipis,
membuat kedua sisi leherku menegang kaku.
"──"
Aku
menggigit bibir dan menahan napas, berusaha menekan suara dan debaran hatiku
sekaligus.
"Sudah
malam."
Rok
dengan belahan tinggi itu tersingkap, memperlihatkan kakinya hingga ke bagian
pangkal.
"Waktu
rahasia yang tertutup, hanya untuk kita berdua."
Nichiri, Nanase menggerakkan pinggulnya seolah
sedang merasa tidak sabar.
"Meski
Chitose Saku dan Nanase Yuzuki kembali menjadi pria dan wanita biasa."
Sisi perut
yang mengintip dari balik gaun one-shoulder miliknya tampak basah oleh
keringat.
"Meski
kita tidak bisa membuat alasan yang masuk akal."
Tali bahunya
merosot ke lengan atas, membuat bagian dadanya tersingkap lebar.
"Meski
malam ini kita tidak bisa lagi bersikap anggun."
Anting di
telinganya bergoyang misterius, layaknya bandul hipnotis yang memikat.
"Tidak
ada yang melihat, tidak ada yang mendengar, jadi tidak ada yang tahu."
Kari,
kari, Nanase
menancapkan kukunya dan membelai tulang selangkaku seolah sedang memprovokasi.
"Pagi,
siang, maupun senja."
Jin,
jin, setiap
kali ia melakukannya, sensasi yang membuatku ingin menggeliat menusuk hingga ke
punggung. Di balik lengannya yang terbuka, ketiaknya yang mulus tertangkap
mataku; rasa bersalah karena telah mengintip berubah menjadi rasa malu yang
menggelitik di sekitar pusar.
"Dunia
siang yang penuh dengan peran masing-masing, biarkan saja diambil oleh orang
lain."
Karena
itu, Nanase yang menatapku dari atas dengan mata yang sayu berkata,
"──Berikan
malammu yang belum bernama itu kepadaku?"
Suaranya
terdengar begitu serak dan manja, sementara tatapannya terlihat sangat menggoda
hingga seolah akan menelanku.
"Hei,
Chitose. Tidakkah menurutmu kita itu mirip?"
Nanase
mengeluarkan kalimat yang seolah dibawanya dari awal bulan Mei lalu.
"Lihat,
kita selalu pandai dalam menarik garis."
Ia
menggerakkan ujung jarinya di sepanjang tulang selangkaku, seolah sedang
mempertegas kata-katanya.
"Mulai
dari sini adalah malam, sampai di sini adalah malam."
Ia
mengerjapkan matanya yang tampak sensual secara perlahan.
"Tidakkah
menurutmu, kita juga bisa menarik garis dengan cara seperti itu?"
"Hah, Aku..."
Aku tidak
ingin ia mengatakan lebih banyak lagi dan mencoba memutar tubuhku dengan paksa.
"Nngh."
Bagian bawah
tubuh kami saling bergesekan, membuat pinggul Nanase tersentak sensitif.
Embusan napas yang terdengar sangat manis dan manja keluar dari mulutnya,
sesuatu yang tak terbayangkan dari suaranya yang biasanya selalu tenang.
"──Hah, Ma-maaf!"
Rasa bersalah
yang membuat kecanduan, seolah otakku baru saja ditusuk dan diaduk oleh jarum,
merayap dari ujung kaki.
"……Boleh,
kok."
Nanase
menunjukkan ekspresi yang mencampurkan rasa malu transparan dan perasaan
ekstasi.
"Kamu
boleh bergerak sesukamu."
Sambil
berkata begitu, ia menggesekkan pahanya dengan tidak sabar. Udara hangat yang
tersembunyi di balik roknya menguar, membangkitkan gairah.
"Hei,
Pangeran?"
Lalu
ia menangkup kedua pipiku seolah memegang kelopak bunga yang lembut.
"Ini
adalah panggung yang bernama malam."
Tangan
kanan Nanase perlahan merayap di sepanjang leherku.
"Kita
hanya sedang berakting, semuanya akan kembali seperti semula begitu tirai
diturunkan."
Tangannya
melewati tulang selangka, dan ujung jarinya mulai menggambar lingkaran secara
intens di sekitar dadaku. Melalui kain kaus, ia menggerakkannya melebar,
mengecil, searah jarum jam, lalu berlawanan arah.
Sengaja
menggoda, sengaja menunda, sengaja berputar-putar. Zoku, zoku, rasa
tidak sabar yang membuatku ingin mencakar dada sendiri menyesak di tenggorokan.
Hingga akhirnya, Nanase menghentikan tangannya di satu titik.
──Karit,
ia menancapkan kukunya seolah sedang mencakar.
"──"
Rangsangan
yang mirip rasa sakit sekaligus kenikmatan menusuk hingga ke pusat tubuh,
membuatku mati-matian menahan suara agar tidak keluar.
"Jadi,
makanlah aku?"
Lalu,
ia memeluk kepalaku seolah sedang memohon dan menindihkan tubuhnya padaku.
"──Sisi
'wanita penyihir apel beracun' yang selama ini kusembunyikan."
Nanase
membisikkan kata-kata itu di telingaku seperti madu yang menetes.
"Nanase, benar-benar, sudah
cukup—"
"Sekarang aku adalah Nana."
Chupuri,
sekali lagi bibir yang menggoda itu menyentuh pipiku.
◆◇◆
"Sekarang aku adalah Nana."
Chupuri,
aku mencium pipi kiri Chitose.
Hadiah ulang tahun untukmu yang
kuberikan pada bulan Mei yang penuh kepalsuan. Serta persembahan terakhir
untukku yang memilih mati di bulan Oktober sebagai penyihir apel beracun.
Bikut, tubuh yang kutindih itu menegang.
Mencampurkan sisa rasionalitas dan etiket sebagai rasa hormat kepada pria yang
kucintai, aku sedikit mengangkat pinggulku agar perut bawah kami tidak lagi
bersentuhan.
Chu,
chu.
Aku
terus menggeser bibirku dan mendekat ke arah mulut Chitose.
"──"
Melihatnya
yang mati-matian memalingkan wajah ke arah berlawanan terasa begitu manis
bagiku.
Chu.
Sekali lagi,
aku kembali ke tempat semula dan menciumnya.
Apakah ia
merasa tegang?
Apakah ia
masih memikirkan hal-hal yang rumit?
Ataukah ia juga merasakan panas yang sama sepertiku?
Aku ingin
kamu lebih merasakanku.
Aku ingin
kamu begitu terbuai hingga tidak bisa memikirkan hal lain.
Aku ingin
memenuhi dirimu dengan keberadaanku.
Tsuuu, setetes keringat mengalir di pelipis
Chitose, lalu—
Chiro.
Aku
menyesapnya dengan ujung lidah secara perlahan. Rasa asin yang tajam menyebar di dalam mulutku.
"Ini
rasa Chitose."
Aku
mengatakannya sambil benar-benar meresapi rasa itu.
"──ngh…!"
Chu,
chu, chu.
Dari pelipis,
aku turun dan menelusuri garis rahang bawahmu dengan saksama.
Chu,
chu, chu.
Begitu sampai
di ujung dagu, aku menjulurkan lidah dan mencoba menjilat bagian bawah dagumu
dengan sensual.
"Nana── Nngh…!"
Aku segera
membungkam bibir Chitose yang panik dengan ujung jariku. Padahal laki-laki,
tapi bibirnya terasa penuh dan kenyal menggoda.
Aku
menyelipkan jari telunjukku ke dalam mulutnya, menelusuri bagian dalam
bibirnya. Sensasi saat selaput lendir yang basah itu bergesekan dengan barisan
giginya yang rapi saja sudah cukup membuat bagian bawah pusarku berdenyut
panas.
Terkejut,
lidah Chitose secara refleks menjulur dan menyentuh permukaan jariku.
"Nngh."
Rasa
kesemutan yang menjalar hingga ke bahu membuatku refleks menarik tangan, dan—
──Toron.
Cairan bening
membentuk benang tipis yang menghubungkan bibirnya dengan jariku.
"Maaf."
Chitose
memalingkan wajah sambil menatapku dari sudut mata dengan ekspresi yang tampak
merasa bersalah.
"Tidak
kotor, kok."
Chupo. Aku meraup cairan itu dari bibirku
dengan jari, lalu memasukkannya ke dalam mulutku sendiri.
"Dasar──"
Bibirmu,
ujung lidahmu, yang berkali-kali kubayangkan di dalam tempat tidur. Mungkin
karena ia menyikat gigi setelah makan, ada sedikit rasa mint yang pahit.
Seolah ingin
menahan kata-kata yang hendak ia ucapkan,
Chu,
chu, chu.
Aku
melanjutkan ciumanku dari bawah dagu terus turun ke bawah.
"Haa,
hah-aa."
Padahal aku
berniat memantapkan tekad dan melakukannya dengan tenang, tapi tanpa sadar
suara desah yang tinggi karena gairah lolos dari mulutku sendiri.
Rasa malu itu
malah berubah menjadi perasaan ingin menyakiti diri sendiri atau menyakiti
orang lain, membuat tubuhku semakin merona panas.
Napas terasa
sesak, pinggangku lemas, dan rasanya kepalaku hampir gila. Aku baru tahu kalau
aku bisa mengeluarkan suara seperti ini di depanmu.
"Nngh,
fuuh."
Padahal aku
yang sedang menyerang, tapi dadaku terasa sesak karena rasa cinta yang begitu
dalam. Aku mengulang napas-napas pendek untuk mengisi paru-paru, dan setiap
kali melakukannya, kabut gairah semakin menyelimuti pikiranku.
Tubuh
Chitose, suhu tubuh Chitose, deru napas Chitose, suara Chitose.
Sejak hari
itu, berkali-kali aku membayangkanmu sambil menghibur diri di malam hari. Aku
selalu ingin menciummu seperti ini. Aku ingin mempersembahkan seluruh diriku.
Aku ingin menyentuh seluruh bagian darimu.
Rahasia
berdua saja yang selama ini hanya bisa terwujud dalam mimpi. Bahagia, sedih,
dan membuatku gila.
Chu,
chu, chu.
Begitu aku
mendaratkan bibir di sekitar jakunnya yang menonjol,
──Bikut.
Reaksi Chitose menjadi jauh lebih besar.
"Di
sini?"
Aku bertanya
sambil membelai lembut area sekitar jakunnya dengan ujung jari seolah
menggambar lingkaran.
"Terasa
enak?"
"Bukan,
ini bukan soal itu—"
"Hoo..."
Caranya
bicara yang tiba-tiba lancar, sikapnya yang panik untuk mengelak, serta sikap
dingin seolah ia baru saja sadar sepenuhnya itu membuatku merasa kesal.
──Pi, chu.
Aku sekali
lagi mendaratkan ciuman di area jakun Chitose. Aku menghisapnya dengan kuat
seolah ingin meninggalkan bekas di sana.
Setelah
melakukannya dengan gigih, aku melepaskan bibirku. Kupastikan tanda dariku
telah terukir merah di sana, lalu aku menjilatnya dengan lembut dari bawah ke
atas seolah sedang memuji ketahanannya.
"ngh…!, nngh!."
Untuk pertama
kalinya, Chitose mendesah. Pada saat itu, bagian bawah pusarku langsung terasa
kesemutan hebat.
Padahal
biasanya ia bersikap santai dan agak sembrono, atau tiba-tiba bersikap jantan,
namun suara yang keluar tadi—suara yang lirih dan hampir terdengar
menyedihkan—seolah menunjukkan betapa ia sedang mati-matian melawan nafsunya,
menekan impulsnya, dan merasa malu akan dirinya sendiri yang tidak tahan lagi.
"Manisnya."
Aku ingin
mendengar lebih banyak lagi, ingin melihatmu lepas kendali lebih banyak lagi,
ingin melihatmu mengungkap semuanya.
Aku
mendekatkan bibirku ke telinganya.
"Suaramu,
jangan ditahan ya?"
Aku
membisikkannya seolah meniupkan napas langsung ke sana.
"ngh…!"
Chitose
sepertinya masih bersikap keras kepala dengan mengatupkan bibirnya rapat-rapat.
"Tidak
boleh."
Kapuri. Aku menggigit kecil daun telinganya.
Aku menggerakkan gigi dengan lembut seolah membelai permukaannya, lalu
menghisapnya cukup kuat dengan bibirku.
"Nngh."
Kali ini aku
menjulurkan lidah perlahan mengikuti garis tepi telinganya, dan—
──Nupuri.
Tiba-tiba aku
memasukkan ujung lidahku ke dalam lubang telinganya.
"Ngh-kuuhhh—"
Suara desahan
yang tertahan keluar dari mulutnya, membuatku sendiri pun merasa seolah akan
meleleh.
"Biarkan
aku mendengarnya lagi."
Chupi,
karit, rerori, chupu.
Menghisap,
menggigit kecil, menjilat, dan mencium.
"Ngh,
kuh."
"Ngh,
hah-aa."
"Aa,
hah."
"Fuh,
nngh."
Di
tengah kegelapan yang remang, embusan napas yang entah milik siapa lagi sudah
saling menyatu.
Aku
terus mencintai telinga kiri Chitose dengan mulutku, sementara tangan kiriku
terus membelai kepalanya dengan lembut.
"Tidak
apa-apa, keluarkan saja semuanya."
Sambil
berkata begitu, tangan kananku yang bebas aku susupkan dari ujung kaus ke
dalamnya. Mungkin karena ia sedang menahan diri dengan sekuat tenaga, otot
perutnya yang terlatih terasa menegang keras bahkan melalui ujung jariku.
"Chitose,
kamu jadi keras ya."
Aku
membisikkan kalimat bermakna ganda itu dengan sengaja di telinganya sambil
menggerakkan tanganku perlahan.
Chu,
chu, chupa.
Perlahan,
dengan sentuhan samar yang antara menyentuh dan tidak, aku membelai lekuk otot
perutnya, pinggangnya, tulang rusuknya, hingga bagian bawah dadanya, seolah
sedang mencurahkan kasih sayang. Di tengah jalan, kelingkingku tersangkut di
lubang pusarnya, dan aku mencoba menggodanya dengan mengorek bagian dalamnya
sedikit.
"ngh…!, berhenti—"
Gashit. Chitose mencengkeram lengan kananku
dan menariknya keluar dari kausnya.
"Geli?
Atau kamu merasa tidak sabar?"
"Tolonglah,
Nanase."
"Maksudmu,
minta aku lanjutkan?"
"Kamu
tahu kan maksudku."
"Maaf
ya, aku tahu kok."
Ia masih
memalingkan wajah, dan ekspresinya tidak terlihat karena tertutup oleh
rambutnya yang berantakan. "Fuuu," aku mengembuskan napas panjang dan
melemaskan kekuatanku.
Mungkin
merasa sedikit lega karena itu, Chitose juga melonggarkan cengkeraman pada
lenganku.
Maaf ya, aku
tahu kok.
──Bahkan di
saat seperti ini pun, kebaikanmu selalu muncul lebih dulu.
Kapu,
churi.
Aku menggigit
kecil tulang selangkanya, lalu menjilatnya dengan basah.
"Ken-apa,
kkhh—"
Mengabaikan
keguncangan Chitose, aku menjulurkan tanganku ke bagian bawah tubuhnya.
Padahal
belakangan ini malam sudah mulai dingin, tapi suhu tubuhmu yang tinggi
membuatmu masih memakai celana pendek sebagai baju rumah.
Aku mengusap
pahanya dari atas kain, lalu mengumpulkan lima ujung jariku tepat di tengah
tempurung lututnya yang terbuka dan menggerakkannya dengan licin.
Chupu,
kari, retori.
Sembari
melakukannya, bibir dan lidahku sedikit demi sedikit merekam bentuk tulang
selangkamu.
Maaf karena
aku mengambil kesempatan ini. Maaf karena aku memanfaatkanmu.
Tapi karena
inilah warna merah yang telah menghancurkanku.
Karena malam
ini, aku adalah Nana yang menyembunyikan bulan.
Chu.
Aku mencium
lehernya, lalu menyelipkan tangan kananku dengan mulus dari ujung celana
pendeknya.
Bagian dalam
paha yang menegang itu terasa lembap oleh keringat, dan udara di sana terasa
merona panas karena suhu tubuh Chitose.
Kulit yang
disentuh ujung jariku terasa jauh lebih mulus dan murni daripada yang
kubayangkan.
Sambil
membelai sedikit di atas lututnya, aku menempelkan hidungku di belakang
telinganya, aroma Chitose yang menguar membuat kepalaku terasa pening.
"Haa,
hah, nngh, fuuh."
Kontrol
diriku sudah lama hilang, dan aku menjulurkan lidah ke lehernya seolah sedang
memohon.
"Nngh,
Chitose..."
Lalu aku
merayapkan jariku sedikit demi sedikit ke atas dari lutut, dan tepat saat
menyentuh kain halus celana boxer-nya—
"──Tidak
boleh!"
Sekali lagi,
Chitose mencengkeram lenganku. Ia memaksakan diri untuk bangun dan duduk, lalu
berkata dengan mata yang seolah hampir menangis.
"Sampai
di sini saja, Nanase."
Aku mengambil
tangan yang menyentuh pipiku dengan lemah itu, seolah ia sedang memohon padaku,
lalu—
Jupo.
Aku
memasukkan jari telunjuk Chitose dalam-dalam ke mulutku.
"──ngh…!"
Aku
berhati-hati agar gigi tidak mengenai jarinya, lalu mengisapnya dengan bibir
sambil menggerakkannya naik turun secara perlahan. Setelah mengulanginya
beberapa kali, aku melepaskannya, lalu menjilatnya dengan teliti dari pangkal
hingga ke ujung jari.
Chu,
chupi, chupu.
Setelah
menciumnya tanpa ada bagian yang terlewat, aku hanya memasukkan ujung jarinya
saja, lalu menjilat sela-sela antara kuku dan jarinya dengan ujung lidah.
"Nngh,
Chitose, Chitose."
Meski aku
memanggil namamu dengan suara yang hampir gila, kamu masih belum mau menatapku.
Karena itu,
aku──.
"Boleh?"
Aku bertanya
sambil menyentuh dada kiri Chitose.
──Dok,
dok, dok, dok, dokun.
Aku
sengaja menyalahartikan detak jantung yang berdebar kencang hingga membuatku
sendiri malu itu sebagai persetujuan bisu, lalu aku merayapkan tanganku ke
bawah.
Menelusuri
tulang rusuk, membelai perut, lalu menyangkutkan jari di pinggang celana
pendeknya. Tepat saat
aku hendak memastikan jawaban yang selama ini kutakuti dan kuhindari—
"──NANASE!!!"
Chitose
memanggil namaku seolah sedang memarahiku.
Ia
mencengkeram kedua bahuku dengan kekuatan yang seolah ingin mendorongku
menjauh, lalu—
──Gyut.
Tanpa sadar,
aku ditarik ke dalam pelukannya yang begitu erat hingga terasa sakit, namun
terasa lembut hingga membuat hatiku perih.
"Chito,
se...?"
"Salah,
ini salah. Bukan begini caranya."
Chitose terus
bergumam sambil menggesekkan pipinya seolah sedang berdoa.
"Maaf.
Maaf aku membiarkan Nanase melakukan hal seperti ini."
"Kenapa
Chitose yang minta maaf?"
Pertanyaan
itu tidak dijawab, hanya kekuatan lengannya yang memelukku semakin erat.
Aku
menjulurkan lidah dan menjilat ujung tengkuknya sedikit, seolah sedang meminta
kelanjutannya.
"Tubuhku
bagus, lho?"
"Aku
tahu."
Chu.
"Apa pun
yang Chitose ingin aku lakukan, akan kulakukan."
"Kalau
begitu, aku ingin kamu tidak melakukan apa-apa lagi hari ini."
Chupu.
"Kamu
tidak ingin memelukku?"
"Bukan
tidak ingin, tapi tidak bisa."
Kapu.
"Untuk
saat ini, kamu tidak perlu mencintai hatiku dulu, kok."
"……Berhentilah."
Chu,
chiru.
"Setidaknya
di malam ini, cintailah tubuhku saja."
"Aku
akan marah. Nanase tidak boleh mengatakan hal itu."
"──Nngh…!"
Merasa tidak
sabar, aku mendorong kedua bahu Chitose dengan sekuat tenaga.
"Hanya
untuk saat ini, aku tidak mau mendengar kata-kata sok suci yang sok sopan
itu!"
Aku menangkup
kedua pipinya dengan tanganku, lalu mengembuskan napas yang manis dan gila.
"Hei
Chitose, ayo kita berciuman dengan benar. Cintailah tubuhku juga. Jilatlah aku
sebanyak-banyaknya, sentuhlah aku sebanyak-banyaknya. Berikan dirimu ke dalam
diriku."
Sambil
berkata begitu, aku mengambil tangan Chitose dan menuntunnya ke dadaku sendiri.
"Anak
perempuan sudah melakukan sampai sejauh ini, lho. Tolong, jangan buat aku
merasa malu."
Tinggal
beberapa sentimeter lagi ujung jarimu akan menyentuhku, namun—
"Tidak."
Ia
mengatakannya dengan jelas, dan tangannya mengepal kuat.
Seolah
itu adalah kehendak Chitose sendiri, sekeras apa pun aku mencoba menariknya, ia
tidak bergeming sedikit pun.
Padahal
tinggal sedikit lagi, padahal aku sudah tidak bisa menarik diri lagi.
Padahal hati
dan tubuhku sudah sangat siap untuk menerima semuanya.
Perlahan dan
hati-hati, namun dengan sikap yang tidak menerima penolakan, Chitose melepaskan
jemariku satu per satu.
Setiap kali
ia melakukannya, jarak di antara kami terasa kian menjauh, membuat dadaku
seolah akan meledak karena rasa perih dan cemas.
……Satu jari,
dua jari, tiga jari, empat jari. Setelah melepaskan tanganku sepenuhnya, ia
menangkup pipiku dan menatapku lurus-lurus.
"Bukan
begitu," gumamnya, seolah ingin menegaskan sesuatu.
Dengan
tatapan mata yang sejernih kelereng yang pernah kita intip bersama di malam
festival itu, ia berkata.
"──Kalau
aku menerimamu di sini sekarang, itu hanya akan membuat Nanase Yuzuki merasa
malu."
Ia
mengatakannya dengan gaya yang sangat khas seorang Chitose Saku, sang Hero.
"Eh,
ah……"
Detik itu
juga────.
Hari-hari
yang kuhabiskan bersamamu, percakapan yang kita pertukarkan, malam-malam saat
kau berada di sisiku, nama yang kini telah menjadi masa lalu, cinta kepalsuan
yang entah sejak kapan berubah menjadi cinta sejati, sekeping hati di dalam vas
bunga, corak bulan Mei yang hanya milikku, serta rembulan yang begitu tenang
yang kita tatap malam itu.
──Sosokmu
yang menyentuh hatiku tanpa menyentuh tubuhku sedikit pun.
Semua
itu berputar di dalam benakku layaknya lentera berputar, dan──
──Aku
pun benar-benar merasa malu pada diriku sendiri.
Polori, tetesan air mata yang besar
mengalir menuruni pipiku.
"Aku
akan marah. Nanase tidak boleh mengatakan hal itu."
Tadi
aku sempat menganggapnya sebagai kalimat sok suci yang sok sopan, tapi aku
salah.
Nada
suara Chitose mengandung kemarahan dan rasa sesak yang sungguh-sungguh. Persis
seperti saat ia menceramahiku di atas sofa di ruangan ini dulu.
Kini
aku akhirnya menyadari alasannya.
──Hubungan
tanpa hati, yang hanya mengandalkan tubuh.
──Pemaksaan
nafsu sepihak tanpa memerlukan persetujuan.
Apa yang
kulakukan dengan memanfaatkan hubungan dan kebaikan yang telah kita bangun ini
adalah──
──Bukankah
aku sama saja dengan pria yang sangat kubenci hingga membuatku bermimpi buruk
itu?
Ah, begitu
rupanya. Aku pun menyadari segalanya.
Apanya yang
sungguh-sungguh.
Apanya yang ingin mempesonamu.
Apanya yang Nana.
Apanya yang cermin, oh cermin.
Apanya yang penyihir apel beracun.
Diriku yang sekarang tak lebih dari
sang Permaisuri yang gila karena cemburu hingga melakukan tindakan keji.
Jika
tidak bisa hidup dengan indah, maka tidak ada bedanya dengan mati.
Wanita
bernama Nanase Yuzuki yang sangat kucintai hingga membuatku gila ini──
──Telah
mati di malam ini.
"Ah,
ah……"
"Menjijikkan,"
gumamku sambil memeluk tubuhku sendiri yang gemetar.
Hatiku yang
tadi begitu merona panas, kini mendingin hingga terasa membeku.
Polopolo,
polopolo.
Air mata
egois terus mengalir tanpa henti.
Di dalam
penglihatan yang mengabur, aku menangkap sosokmu yang sedang menurunkan sudut
matamu dengan begitu lembut.
Di lehermu,
noda merah beracun yang kutinggalkan telah berubah warna menjadi ungu semu yang
menyedihkan.
Pipimu,
telingamu, semuanya basah dan lengket oleh air liurku.
"……Kotor."
Tanpa sadar
kata itu lolos dari bibirku, dan tanganku meraba-raba sekitar secara tidak
sadar.
Bagaimana
ini, aku harus segera mengelapnya.
Dengan tangan
yang gemetar, aku mengusap pipi Chitose, lehernya, dan telinganya dengan ujung
jariku.
"Kotor,
kotor."
Aku berusaha
keras menghapus jejak diriku, seolah sedang mencoba menebus dosa.
"Nanase……"
Namun semakin
kuusap, diriku yang kotor ini seolah semakin menyebar dan melekat kuat.
"Ugh,
hiks, maafkan aku."
Aku
tidak sanggup menatap wajahmu dengan benar.
"Maafkan
aku karena telah mengotori dirimu yang begitu indah."
Zubi,
zubi. Sambil
mengendus, aku menggerakkan tanganku dan terisak layaknya seorang anak kecil.
"Geho,
eho."
"Nanase."
Aku
menggelengkan kepala dengan kuat karena takut mendengar kata-kata yang akan ia
ucapkan selanjutnya.
"Aku
akan membersihkannya sampai benar-benar bersih."
"Nanase."
Pota,
pota, pota. Noda hitam menyebar di atas rok
yang tidak biasa kupakai ini.
"Hei
Chitose, ayo kita mandi sekali lagi."
"Nanase."
Aku merasa
segalanya akan berakhir tepat saat Chitose mengucapkan sesuatu lebih dari itu.
"Setelah
itu, aku akan mencucinya sampai bersih."
"Nanase."
Aku takut,
takut, sungguh takut──.
"Maaf,
kamu pasti jijik ya, bukan itu maksudku."
"Nanase."
Aku terus
meracau tanpa arah.
"Aku
akan melakukan apa saja."
"Nanase."
Sambil
mengusap pipi Chitose dengan ujung jari yang gemetar hebat.
"Kalau
kamu menyuruhku jangan mengajakmu bicara untuk sementara, aku tidak akan
bicara."
"Nanase."
Aku
memeras suara tangis yang penuh permohonan.
"Peran
di klub teater juga akan aku ganti. Aku akan menundukkan kepalaku pada Haruka dan Ucchi."
"Nanase."
Aku tahu aku
telah membuang hak dan kualifikasiku untuk mengatakan hal-hal seperti ini.
"Sampai
hari di mana kamu memaafkanku, aku tidak akan pernah datang ke rumah ini
lagi."
"Nanase."
Namun,
keberadaanmu terlalu besar bagiku untuk bisa mundur dengan begitu saja.
"Jadi,
kumohon."
Gugh,
hih. Sambil terisak
seolah ingin muntah, aku tetap menggantungkan secercah harapan terakhir──.
"Tolong,
jangan benci aku."
Tanpa
mempedulikan rasa malu atau apa pun, aku membenamkan wajahku di dadamu dan
bergantung padamu.
"Tolong
jangan hapus aku dari hidupmu."
Aku memohon,
mengerang, sambil melepaskan isak tangis yang menyesakkan.
"……Jangan,
benci aku."
"──NANASE
YUZUKI!!!"
Chitose
membentakku, seolah-olah suaranya menampar pipiku.
Ah, sampai di
sini rupanya. Mendengar
suara yang terdengar seperti penolakan itu, aku memantapkan hati.
Aku
bukanlah orang yang sudah lama menghabiskan waktu bersamamu sejak kelas satu.
Aku
bukan orang yang selalu mendampingi keseharianmu.
Aku
bukan orang yang terikat ikatan kuat melalui olahraga, bukan pula teman masa
kecil yang kau kagumi.
Alasan
kenapa aku bisa berada di sisi Chitose selama ini adalah karena kau
menganggapku sebagai orang yang serupa dengamu.
Alasan
kenapa kau membiarkanku masuk ke rumah ini adalah karena kau percaya bahwa aku
adalah orang yang tidak akan salah paham dan melampaui batas.
──Dua
orang yang serupa.
Bahkan
satu-satunya alasan agar aku bisa berada di sisimu itu pun telah kulepaskan di
malam ini.
Diriku
yang sekarang hanyalah "orang asing" tak bernama yang tidak memiliki
hubungan istimewa maupun sesuatu yang bisa kuberikan sebagai balasan, namun
malah merasa tinggi hati hanya karena sedikit kebaikan dan mengonsumsi sang Hero,
Chitose Saku, tanpa tahu diri.
Pasti
aku adalah salah satu dari sekian banyak orang yang muncul di hidupmu, lalu
berlalu begitu saja, dan segera dilupakan.
Di mana letak
kesalahanku?
Padahal aku
hanya ingin jatuh cinta dengan tulus.
Apakah saat
aku hancur di atap sekolah itu?
Apakah saat
aku memutuskan untuk menggunakan sisi "wanita" yang kusembunyikan
ini?
Apakah saat
aku memalingkan mata dari keindahan?
Atau saat aku
salah mengartikan keindahan itu sendiri?
Sebenarnya di
suatu tempat aku sudah menyadarinya.
Pada
akhirnya, ini pun hanyalah sebuah kepalsuan.
Setelah
dihadapkan pada tekadmu yang begitu tajam, aku hanya berakting seadanya dengan
teknik murahan karena merasa terdesak.
Warna merah
pinjaman ternyata tidak mampu mewarnai hatimu, ya.
Namun──aku
memejamkan mata, dan air mata yang besar kembali mengalir di pipiku.
──Aku tidak mau berakhir seperti ini.
Aku
mencintai dirimu yang indah.
Aku
ingin menjadi sosok yang cukup indah agar pantas berada di sisimu.
Aku merasa
bangga karena kita bisa menjadi cerminan satu sama lain.
Aku
tidak ingin kau menganggapku kotor.
Aku
tidak ingin itu menjadi sosok terakhirku yang tertinggal di ingatanmu.
"Aku
tidak mau, hiks..."
"Kau
tidak kotor, kok."
Perlahan,
ujung jari Chitose yang hangat menyentuh pipiku.
"Eh...?"
Aku
mendongak dengan ragu seolah mencari makna di balik kata-katanya.
Chitose
mengulanginya sekali lagi dengan tatapan mata yang begitu lembut, meski ia
tersenyum dengan raut sedikit bingung.
"Kau
tidak kotor."
"Jadi,
jangan katakan hal yang menyedihkan seperti itu."
Seolah
sedang menelusuri garis takdir, Chitose mengusap air mataku dengan ibu jarinya.
Lalu, tanpa diduga ia menyentuh bibir bawahku.
"Nngh."
Ia
membelai bagian dalamnya dengan lembut.
Aku
segera membuka mulut karena malu dengan suaraku yang lagi-lagi terdengar manja
di saat yang tidak tepat.
"Ma-maafkan
ak—"
──Chupo.
Tanpa
ragu, Chitose memasukkan ibu jarinya yang masih basah itu ke dalam mulutnya
sendiri.
"──Nngh…!"
Sontak
aku menahan napas dan mencengkeram tangannya. Terlepas dari air mataku, itu
adalah jari yang masih terkena air liurku.
Meski ia baru
saja menghapusnya, rasa sedih kembali meluap dari sudut mataku.
"Hentikan,
Chitose!"
Meski aku
berusaha menarik tangannya dengan sekuat tenaga, ia tetap bergeming seolah itu
adalah perwujudan dari tekad Chitose sendiri.
"Kumohon,
itu kotor!"
──Chiu,
chuu.
Lalu, dengan
santai seolah sedang menikmati es krim batangan, ia melepas jari yang baru saja
diisapnya itu.
"Dasar
bodoh."
Ia tertawa
kecil seolah sedang menutupi rasa malunya.
"Sudah
kubilang, kan? Kau tidak kotor."
Chitose
menurunkan sudut matanya tipis-tipis dan melanjutkan dengan suara tenang.
"Aku
tidak pernah sekalipun menganggap Nanase kotor."
Sambil
menyeka air mataku lagi dengan ibu jari tangannya yang lain, ia berkata
seolah-olah bisa melihat menembus segalanya.
"──Baik
tubuhmu, maupun hatimu."
"Ah, aa,
hiks..."
Lagi-lagi,
pikirku.
Lagi-lagi kau
mengabaikan perasaanmu sendiri demi menjadi sang Hero, Chitose Saku. Kau
mencoba memikul kelemahanku dan menganggap segalanya tidak pernah terjadi.
Padahal saat
itu, aku seharusnya merasa sangat kesal pada diriku sendiri yang hanya bisa
dilindungi. Namun yang terjadi justru sebaliknya, aku malah melukaimu.
──Dengan cara
yang sama seperti pria yang tidak akan pernah bisa kuterima itu.
Karena
itulah, kebaikanmu saat ini terasa begitu pedih, hingga membuatku ingin lenyap
saja di malam ini.
"Maafkan
aku."
Sekali lagi
aku menundukkan kepala sedalam-dalamnya, lalu aku merosot jatuh dari sofa.
Lututku terantuk lantai dengan keras hingga rasa kebas menjalar ke betis dan
pahaku.
Tanpa
sadar, rok dengan belahan tinggi itu tersingkap dengan berantakan. Tali gaun one-shoulder-ku
merosot sampai ke bahu, mengekspos bagian dadaku yang pada akhirnya tidak kau
sentuh sedikit pun.
Baru
sekarang rasa malu menyergapku saat menyadari betapa buruknya penampilanku di
depan pria yang kucintai.
Setelah
merapikan rok dan menaikkan kembali tali gaun, aku berdiri; rasa perih kembali
menyayat hati karena menyadari betapa menyedihkannya diriku yang tak punya
tempat tujuan.
──Aku
benar-benar seperti orang bodoh.
Lalu
tiba-tiba, sebuah kejujuran lain dari dalam hatiku menangis kesepian. Ah,
begitu ya, aku menggigit bibirku.
──Sebenarnya,
aku sempat sedikit berharap.
Sambil
berdalih ingin menyentuh hatimu, sambil berpura-pura bahwa menggunakan sisi
wanitaku hanyalah sekadar sarana belaka. Sambil beralasan bahwa membuatmu
menyadariku saja sudah cukup bermakna meski berakhir dengan kegagalan, sambil
berbisik bahwa saat ini aku adalah Nana.
──Di suatu
tempat di hatiku, aku merasa tinggi hati dan berpikir mungkin saja kau akan
menerimaku.
Karena itulah
aku membeli pakaian dalam baru berwarna biru kesukaanmu, merapikan kuku tangan
dan kaki, serta membersihkan bulu hingga ke tengkuk tanpa terlewat.
Aku mencuci
seluruh bagian tubuh dengan teliti, menghabiskan waktu lama untuk menyikat
gigi, dan membagi aroma parfum di pinggang ke pergelangan tangan serta leher.
Aku memakai
pemulas bibir yang lebih mahal dari biasanya, bahkan bersiap untuk menginap.
Aku membayangkan akan membuatkanmu kopi serta menggoreng bakon dan telur mata
sapi yang renyah jika aku bangun lebih dulu.
──Aku ingin
mencakar dadaku sendiri karena segalanya tidak berjalan sesuai rencana.
Meski aku
datang hari ini memang dengan niat itu, seharusnya masih ada banyak cara
menggoda yang lebih elegan. Aku bisa saja menarik diri dalam batas permainan iseng sambil mengamati
reaksimu.
Provokasi
yang menggoda pun seharusnya punya etiket tersendiri. Namun, begitu aku
melampaui batas, aku malah dikendalikan oleh hawa nafsu dan menjadi begitu
agresif seperti binatang, menjadi begitu liar, dan—
──Secara
harfiah, aku hanya memuaskan diri sendiri.
Apakah
kau menganggapku sebagai wanita rendahan? Apakah kau merasa jemu padaku sebagai
wanita yang tidak bisa mengendalikan nafsu rendahnya?
Sambil
mendengarkan suaraku yang tinggi dan manis, mungkinkah selama ini ekspresi
wajahmu terus mengeras? Mungkinkah selama ini matamu terus menatapku dengan
dingin?
──Aku
benar-benar seperti orang bodoh.
Aku
memejamkan mata rapat-rapat sambil mengepalkan tangan hingga terasa sakit.
Meski ada
sedikit harapan layaknya mimpi, akal sehatku sebenarnya tahu bahwa peluang
untuk kita bisa bersatu malam ini hampir nol.
Sekeras apa
pun aku menggunakan sisi wanitaku, pria rumit sepertimu tidak akan semudah itu
terbawa suasana tanpa memberi nama pada perasaanmu sendiri.
Karena itu,
entah karena kau akan menceramahiku atau memarahiku, aku seharusnya sudah siap
jika kau tidak menerimaku sampai akhir.
──Tapi aku
tidak menyangka bahwa ditolak oleh pria yang kucintai akan terasa sesesak ini.
Seolah-olah
kau sedang mengatakanku tidak menarik. Seolah-olah kau sedang menasihatiku
bahwa kau tidak bisa melihatku sebagai wanita. Seolah-olah kau sedang meminta
maaf karena tidak bisa bereaksi padaku.
──Harga
diriku sebagai wanita yang telah kupupuk selama ini rasanya runtuh seketika
dari bawah kakiku.
Aku pun
merasa muak pada diriku sendiri yang masih saja memikirkan perasaanku sendiri
alih-alih perasaanmu setelah melakukan kesalahan besar.
Nanase Yuzuki
telah mati di malam ini. Di sinilah tirai panggungku diturunkan.
"──Nngh…!"
Aku berlari
menuju pintu depan seolah ingin melarikan diri dari kesunyian yang tak
tertahankan ini, namun—
"──Nanase!"
Lenganku
ditarik dengan kuat, dan—
"Jangan
pergi dulu."
Kau
memelukku erat dengan kedua lenganmu dari belakang.
Hanya sesaat,
aku merasa lega karena kau mengejarku. Itu membuatku merasa seperti wanita
murahan yang sengaja berpamitan padahal tahu akan ditahan.
"Lepaskan!"
Aku berteriak
sambil berusaha meronta sekuat tenaga.
"Tenanglah,
Nanase."
Chitose
mengeluarkan suara lembut di telingaku.
"Tidak
mau!"
Aku
menggelengkan kepala dengan kasar seolah ingin menolaknya.
"Kenapa?
Padahal aku sudah melakukan hal seburuk ini padamu!"
Meski aku
tahu aku tidak punya hak untuk meninggikan suara, meski aku sadar bahwa
seharusnya aku bersyukur atas kebaikan ini, namun emosi yang meluap ini tidak
bisa dibendung.
"Kalau
kau bahkan tidak mau memelukku, jangan sentuh aku dengan kebaikan setengah
matangmu itu!"
Aku
melontarkan kalimat yang seharusnya tidak boleh kuucapkan, dan lengan yang
melingkariku itu tersentak kaku.
"Maaf,
tapi..."
Chitose
kembali mengeratkan pelukannya sekali lagi.
"──Aku
memang tidak bisa memeluk Nana, tapi setidaknya aku bisa mendekap Nanase
Yuzuki."
Ia
mengatakannya dengan suara yang seolah mengampuni segalanya.
"Hiks,
Chitose..."
Berkat itu,
akhirnya aku kembali tersadar akan rasa bersalahku. Meskipun aku merasa seperti wanita yang merepotkan
dengan emosi yang tidak stabil begini.
"……Maafkan
aku, maaf."
Aku
menggenggam lengan yang mendekapku itu dengan kedua tangan yang gemetar, dan
menempelkan dahi seolah sedang menyesal.
"Maafkan
aku karena telah menodaimu dengan cara yang paling rendah."
Tiba-tiba,
tawa kecil Chitose menyentuh telingaku.
"Kau
tidak menodaiku, mau aku buktikan sekali lagi?"
Melihat
jarinya yang mendekat ke bibirku, aku segera menggelengkan kepala dengan panik
dan bergantung pada lenganmu.
"……Tapi
aku, hiks, aku sudah menjadi sama seperti pria itu."
Chitose
meletakkan salah satu tangannya di kepalaku dengan lembut.
"Kalian
tidak sama."
Sambil
menyisir rambutku dengan ujung jarinya seolah sedang mencurahkan kasih sayang,
ia berkata seolah sedang menempatkan kembali rembulan yang kusembunyikan ke
langit malam.
"──Selama
ini, bukankah Nanase selalu menyentuh hatiku?"
Dada bagian
dalamku terasa sesak hingga membuatku sulit bernapas.
"Benarkah?
Kita tidak sama? Apa
aku benar-benar tidak melukaimu?"
"Dasar
bodoh, kau ini kenapa sih hari ini."
Chitose
berkata begitu, lalu perlahan menyandarkan dagunya di bahuku.
"Tidak
ada pria yang akan terluka karena dipancing oleh wanita yang ia sukai."
" Nngh…, Chito, se..."
Jika aku
menerimanya mentah-mentah, itu adalah kalimat yang bisa membuatku salah paham.
Tapi aku
yakin, itu karena dia adalah aku. Karena ia percaya bahwa aku akan menangkap
maksud di balik kata-katanya itu dengan benar.
──Demi
diriku, ia sengaja memilih gaya bicara seperti itu.
Kepercayaan
yang masih tersisa itu terasa begitu hangat saat ini.
Seluruh
kekuatanku rasanya hilang, dan aku terduduk lemas di sana. Chitose mematikan
lampu bulan sabit, lalu ikut duduk di sampingku sambil menyandarkan punggungnya
ke dinding.
Karena ia
masih memelukku dari belakang, posisiku jadi seolah bersandar di dadanya. Ujung
hidungmu sesekali menyentuh bagian belakang kepalaku, rasanya sedikit geli.
Kakimu yang
ditekuk sedikit terjulur seolah sedang mengurungku. Kehangatan lenganmu yang
menyelimutiku layaknya syal terasa meresap perlahan ke dalam hati.
Tok,
tok, tok.
Detak jantungku mulai tenang dan teratur.
Di
ruang tengah yang hanya diterangi cahaya bulan, lagu Norah Jones yang berjudul 'Shoot
The Moon' terus mengalir sunyi dari pengeras suara.
"Ah..."
Aku mengeluarkan suara lemah diiringi desah napas.
"Besok,
apa aku sanggup menatap wajahmu dan teman-teman yang lain?"
Napas Chitose
yang tertawa pelan sedikit menggelitik rambutku.
"Bukankah
malam itu tertutup?"
Kalimat saat
aku sedang dikuasai gairah tadi terasa sedikit memalukan, dan aku mengangguk
pelan.
"……Iya."
"Kalau
begitu," lanjut Chitose dengan nada sedikit mencela diri sendiri.
"Ini
adalah rahasia kita berdua."
"Begitu
ya," jawabku sambil ikut mencela diri sendiri.
"Si
wanita tidak tahu malu ini."
"Dan
si pria yang menyedihkan ini."
Beginilah
dia, pikirku, dan tanpa sadar kekakuan di hatiku mulai mencair. Lagi-lagi kau
melakukannya, tanpa kusadari kau telah mengubah masalahku menjadi masalah kita.
Chitose
sedikit mengeratkan pelukannya.
"Boleh
aku bertanya sesuatu?"
Tentu saja
aku tidak perlu mengonfirmasi apa pertanyaannya. Aku mendekatkan pipiku ke
lengan Chitose seolah sedang menutup mulutku dengan syal.
"Wanita
pun punya malam di mana mereka ingin memeluk."
"Sama
seperti pria yang punya malam di mana mereka ingin dipeluk, ya."
Apakah kita
masih bisa menjadi dua orang yang serupa? Aku menyipitkan mata, merasa lega
karena jawaban yang ia berikan tanpa ragu.
Lalu kami
kembali menjadi Chitose Saku dan Nanase Yuzuki, sambil tertawa kecil. Setiap
kali bahu kami berguncang, aroma kami berdua bercampur dan melayang di udara
malam.
Detak
jantung yang tumpang tindih secara perlahan terasa seperti jarum detik yang
saling berdampingan. "Hei," ucapku hampir tanpa sadar.
"Boleh
aku mengajukan pertanyaan jahil juga?"
"Jangan
susah-susah ya."
Aku
membelai lengan Chitose dengan lembut dan melanjutkan.
"Kenapa
kau tidak menolakku lebih awal?"
Bikut. Dari punggungku, aku bisa
merasakan tanda-tanda keguncangan darinya.
"……Itu
benar-benar pertanyaan yang jahil."
"Fufu,"
aku menjawab dengan tawa jenaka.
"Lagipula,
jawabannya akan kutinggalkan di malam ini."
Mendengar
itu, sebuah desah napas pasrah lolos dari bibirnya.
"Nanase,
pakaian ini sangat cocok untukmu."
"Baru
bilang sekarang?"
"Habisnya,
tadi aku terus memalingkan muka."
"Aku
membelinya sambil memikirkanmu, tahu."
"Karena
itulah..."
Chitose
sedikit melonggarkan pelukannya, lalu menyandarkan pipinya ke tengkukku seolah
sedang bermanja.
"Aku
juga pria, apalagi lawannya adalah Nanase."
Ujung
hidungmu yang mancung menyentuh kulitku, dan aku sempat-sempatnya
berpikir—untunglah tadi aku sudah membersihkan bulu di sini.
"Bohong
kalau aku bilang aku tidak goyah."
Ia melanjutkan dengan datar, seolah sedang berbicara pada dirinya sendiri.
"Mana
mungkin aku bisa tetap tenang dalam situasi seperti itu?"
Sejenak,
Chitose sempat kelu sebelum akhirnya mendengus pelan.
"……Bahkan
ada saat di mana aku hampir melepaskan rasionalitasku."
"Begitu
ya," gumamku, merasa sedikit terselamatkan mendengarnya.
"Aku
sempat berpikir untuk membiarkan diri ini tenggelam saja di malam ini."
Chitose
membisikkan hal itu seolah ia merasa malu pada dirinya sendiri.
"Seperti
yang kau katakan, mungkin saja jika itu kita, kita bisa menarik garis pembatas
dengan cara seperti itu."
Garis
pembatas antara siang dan malam, antara hati dan tubuh.
"Aku
sempat berpikir, mungkin itu akan terasa lebih melegakan."
Namun, ia
mengembuskan napas panjang. Dadanya yang menempel di punggungku naik-turun dengan drastis.
"Tapi
itu justru akan membuat kita semakin menderita. Baik aku, maupun kau."
Lalu, ia
bergumam dengan suara rapuh yang terdengar begitu ketakutan.
"Setiap
kali tubuh kita bersatu, aku yakin cinta kita akan kian terkikis habis."
Sasu, suara gesekan kain terdengar sunyi di
ruangan itu.
"Lagipula,
sebenarnya kau sendiri terlihat tidak menginginkan hal seperti ini."
"Eh……?"
Saat aku
merespons tanpa sadar, ia mengatakannya seolah itu adalah hal yang lumrah.
"Karena
itulah kau menyisakan jalan keluar sampai detik terakhir, kan? Meski hal itu
hanyalah sisi lain dari rasa cemasmu akan sebuah jawaban."
" Nngh………"
"Dan
yang terpenting," lanjut Chitose dengan nada yang kian pilu.
"Aku
merasa jika aku menerima malam ini, Nanase Yuzuki yang sangat kucintai tidak
akan bisa kembali lagi dari sosok Nana."
Seolah ingin
menahan kepergianku, Chitose memelukku erat-erat agar aku tidak terlepas
darinya.
"──Padahal,
sosok yang ada di dalam hatiku sejak hari itu adalah Nanase Yuzuki."
"Chito,
se……?"
Saat aku
hampir menoleh ke arahnya, ia menempelkan pipinya dengan lembut seolah ingin
menghentikanku. Seakan-akan ia sedang memohon agar aku tidak melihat wajahnya
saat ini.
Aku tahu ada
Yuko di dalam hati Chitose. Ada juga Ucchi, Haru, Nishino-senpai, dan tentu
saja diriku──.
Aku
mempercayainya layaknya sebuah permohonan. Aku menyadarinya layaknya sebuah
doa. Aku mengetahuinya layaknya sebuah harapan.
Namun, kau
mengatakannya dengan cara seperti ini.
──Kau bilang,
kau sangat mencintaiku.
──Kau
bilang, aku ada di dalam hatimu.
Polori, air mata yang jauh lebih hangat
dari sebelumnya kini menetes. Di tempat pipi kita bersentuhan, sebuah genangan
kecil tercipta, lalu meluap dan mengalir di antara kita berdua.
Seberapa
kuat pun aku berpura-pura tegar, sebenarnya aku selalu merasa cemas. Aku merasa
wanita sepertiku—yang tidak punya ikatan istimewa atau sesuatu untuk diberikan
sebagai balasan, yang hanya diselamatkan secara sepihak—mungkin tidak punya
tempat di hatimu.
Karena
itulah,
──Kata-kata
yang menyentuh bibirmu itu terasa jauh lebih membahagiakan daripada ciuman mana
pun.
Ternyata aku
ada di sana. Ternyata tempatku benar-benar ada. Kau menyampaikannya dengan
jujur padaku. Aku pun ingin memberi nama pada perasaan ini bersamamu.
"Hei,
Nanase?"
"──I-iya."
Suaraku
meninggi tanpa sadar saat kau tiba-tiba memanggil namaku. Chitose melepaskan
pelukannya, lalu menangkup kedua pipiku dengan tangannya.
"Kau
adalah wanita hebat, kan? Kau adalah Nanase Yuzuki, kan?"
"── Nngh…!"
Itu adalah
kata-kata yang dulu kurangkai untuk mendorong punggungmu saat kau sedang
bimbang.
"Tidak
peduli seberapa miripnya kau dengan Yuko belakangan ini, atau semirip Asu-nee,
atau semirip Yua."
Ah, dugaanku
benar. Ternyata kau memang sudah menyadarinya sejauh itu. Chitose terus menyeka
air mataku yang tak kunjung berhenti dengan kedua tangannya.
"Nanase
bukan Yuko, bukan Asu-nee, dan bukan Yua. Tentu saja kau bukan Haru, dan bukan
pula Nana."
Seberapa jauh
pun melangkah, cermin tetaplah cermin.
"Jadi
kumohon, jangan mencoba menjadi orang lain."
"Tapi,"
gumamku sambil menggigit bibir tanpa sadar. Suara senggukan yang memalukan
terdengar saat aku menghirup napas. Dengan suara tangis yang masih tertahan,
aku melanjutkan.
"Aku
tahu itu, tapi──"
Aku
mencengkeram lenganmu dengan erat.
"Kalau
aku tetap menjadi Nanase Yuzuki, perasaanku tidak akan pernah sampai padamu.
Selama aku berusaha hidup dengan indah, aku tidak akan bisa membuang segalanya
demi dirimu."
"Kebenaran
Nanase Yuzuki bukanlah kebenaranku. Aku pasti akan menyesal. Seharusnya aku
tidak peduli pada pandangan orang lain, seharusnya aku tidak takut untuk
melukai siapapun. Seharusnya aku tidak ragu untuk menusuk dari belakang.
Seharusnya aku tidak menyisakan jalan keluar dan memelukmu saja saat itu."
Begitu
diucapkan, penyesalan tentang apa yang telah menghancurkanku, apa yang
kupikirkan, dan tekad apa yang membawaku ke sini hari ini kembali meluap.
Padahal aku
sudah bersumpah untuk meninggalkan persahabatan, rasa simpati, kebaikan,
kepedihan, bahkan sosok Nanase Yuzuki.
Jika aku
menarik kembali langkah yang sudah kuambil ini, bukankah segalanya akan
terulang kembali?
Bukankah aku
tidak akan bisa melawan nasib dengan kekuatanku sendiri?
"Nanase……"
"Hei,
Chitose?"
Suaraku
parau, meninggalkan jejak air mata di lengan Chitose.
"Jika
kau bilang aku yang sekarang ini salah. Jika kau, Chitose Saku, tetap mau
mendekap Nanase Yuzuki. Jika kau berharap aku tidak berubah."
Aku
menjeda kalimatku sejenak, menelan ludah sebelum melanjutkan.
"Tolong
beri aku petunjuk jalan, ya?"
"Maaf,"
gumamnya pelan.
"Aku
tidak tahu apakah Nanase yang sekarang benar atau salah. Aku yakin itu pun
merupakan sebuah bentuk keindahan bagi seseorang. Karena itulah, aku hanya bisa
menyampaikan apa yang ada di hatiku."
Sambil
terisak kecil, aku mengulang kata-katanya.
"Hatimu..."
"Satu
hal yang pasti."
Chitose
kembali melingkarkan lengannya dengan lembut.
"──Aku
jatuh cinta pada Nanase Yuzuki yang terus berusaha untuk tetap menjadi Nanase
Yuzuki."
Ia
memelukku erat-erat, seolah tidak ingin kami terpisah di tengah lautan malam
yang luas ini.
Shinshin, shinshin,
air mata yang putih bersih kian menumpuk.
Ah, perasaan
itu, hati itu...
──Adalah
petunjuk jalan dari cahaya bulan yang paling nyata bagiku.
Jika kau
menginginkanku,
──Maka itulah
alasan keberadaan Nanase Yuzuki.
"Karena
itulah," ucap Chitose dengan suara yang seolah akan menangis.
"……Akulah
yang harus berubah."
Saat aku
menumpangkan tanganku di atas tangannya, ia menggenggamnya balik dengan erat
seolah sedang bergantung padaku.
"Maaf
aku membuat Nanase melakukan hal ini, maaf aku menyudutkan cara hidupmu yang
indah. Aku tahu semuanya adalah salahku."
Dalam setiap
desah napasnya yang terdengar sesak dan pilu, terkandung perasaan tulus
darinya.
"Tapi,
aku ingin memberi nama pada perasaan ini hanya di saat-saat terakhir
nanti."
Setetes
cairan mengalir di tengkukku.
"Aku
ingin menelusuri waktu yang kita lalui dengan saksama, mencocokkannya dengan
hatiku berulang kali, membayangkan masa depan yang akan kita sambut berdua,
mengunci satu per satu kemungkinan jika kita tidak bisa bersama,
mengeluarkannya lagi karena merasa ada yang salah, menghadapinya setiap kali
malam tiba, dan memulainya lagi setiap pagi menjelang."
Suaranya
mengandung ketulusan yang murni.
"Setelah
bimbang dan berpikir sedalam mungkin, aku ingin meraupnya perlahan dengan kedua
tanganku seolah sedang mengucap janji setia selamanya."
"Agar
sekali nama itu diberikan, aku tidak akan pernah mengubahnya lagi."
Layaknya
sedang melepas kelopak bunga yang berguguran, Chitose berkata seolah-olah ini
adalah latihan untuk sebuah perpisahan.
"──Aku
akan memberikan jawabannya sebelum bunga sakura berikutnya mekar."
"Tolong
tunggu aku, sebentar lagi saja."
Karena
itulah, seolah sedang menebalkan kembali nama yang diberikan untuk perasaan
ini, aku pun menjawab.
"Iya."
Seolah-olah
ini adalah awal dari cinta terakhirku.
Karan, sekeping hati milik kita berdua
bergulir jatuh.
Shuwaa, udara malam yang menyesakkan
seolah menguap pergi, layaknya kelereng yang baru saja ditenggelamkan ke dalam
botol ramune.
Ketegangan
di tubuh Chitose lenyap, dan tanpa sadar air mataku pun sudah berhenti
mengalir.
Puku-puku, tawa yang meletup seperti buih
kecil lolos dari bibir kami entah dari siapa duluan.
Lalu,
seolah ingin sedikit melangkahi garis yang baru saja kami tarik bersama dengan
susah payah, aku pun membuka suara dengan nada jahil.
"Hei,
Chitose?"
Chitose
tersentak, bahunya menegang kaku.
"A-ano,
itu... lama-lama aku jadi takut mendengarnya..."
Hebat juga,
sepertinya ia menyadari kalau aku sengaja menggunakan cara memulai percakapan
yang sama dengan tadi.
Karena
posisiku membelakanginya, aku tidak bisa melihat wajahnya, tapi aku yakin sudut
bibirnya pasti sedang berkedut.
Demi memenuhi
ekspektasi itu, aku pun melanjutkan.
"Boleh
aku bertanya satu hal terakhir?"
Chitose
tertawa pelan, suaranya terdengar seperti embusan napas pendek yang pasrah.
"Kumohon,
jangan susah-susah ya."
Dengan
suara yang sengaja dibuat tinggi dan manis serta nada yang menggoda, aku
berbisik.
"──Hei,
apa kau tadi sempat... bereaksi padaku?"
Tsutsuu, jemariku mengusap lututnya yang
terjulur begitu saja dengan gerakan menggoda.
"Oi!"
Chitose
langsung membalas dengan suara datar yang menusuk.
"Tadi
Nana kan sudah dibuat malu habis-habisan. Tidak ada salahnya kan, kau
memberitahuku setidaknya soal itu?"
"Kalau
begitu, minimal bisakah kau ganti dulu perannya, jangan jadi Nana?"
Ini adalah
permainan kata-kata yang biasa dilakukan oleh Chitose Saku dan Nanase Yuzuki.
Meski ada
setetes kejujuran yang meresap di sana, atau justru karena kejujuran itu selalu
meresap ke dalamnya────.
"Astaga..."
Dari balik punggungku, aku merasakan Chitose sedang menggaruk-garuk kepalanya
dengan frustrasi.
Lihat kan,
akhirnya kau menerima godaanku juga.
Setelah jeda
yang terasa seperti ia sedang mencoba memikirkan kata-kata yang tepat, Chitose
membuka suara dengan nada yang sangat serius.
"Nanase,
kalau begitu aku juga punya satu permintaan. Maukah kau...
mendengarkannya?"
"Tentu
saja, aku akan mendengarkan apa pun permintaanmu."
Saat aku
menyahut untuk menyesuaikan suasana, ia menarik napas dalam-dalam seolah akan
membocorkan rahasia negara yang sangat besar.
"──Dengar
ya, kau jangan pernah memundurkan pinggulmu lebih dari itu, atau harga diri
Chitose Saku akan hancur lebur!!!"
Ia
mengucapkannya dengan sangat cepat dan terdengar sangat konyol.
Aku
yang menangkap maksud ucapannya itu berusaha sekuat tenaga menahan tawa dan
memutuskan untuk tetap diam.
Satu
detik, dua detik, tiga detik...
Chitose
yang akhirnya tidak tahan lagi menepuk-nepuk bahuku berkali-kali.
"……A-ano,
bisakah kau katakan sesuatu?"
Setelah
memberinya waktu yang cukup untuk merasakan rasa cemas yang sama seperti yang
kurasakan tadi, aku pun menjawab.
"……Fufu,
kerja bagus."
Tanpa
menoleh, aku hanya mengulurkan tangan ke belakang dan mengusap-usap kepalamu
dengan lembut.
Puhah, Chitose mengembuskan napas lega
seolah baru saja mendapatkan nilai sempurna di kertas ujiannya.
"Sial,
semuanya jadi berantakan kan."
"Untuk
mengakhiri malam seperti ini, kita butuh lelucon yang tidak garing, kan?"
"Itu
namanya lelucon mesum yang tidak sopan, tahu."
Mungkin saja,
pikirku sambil mengangkat sudut bibirku sedikit.
Lagi-lagi kau
mengkhawatirkanku dan memilih untuk menjadi badut sesaat. Lagi-lagi kau
merendahkan dirimu demi mengangkat perasaanku.
Namun untuk
saat ini saja, aku merasa itu tidak masalah.
Jika kau
adalah aku. Jika Chitose Saku dan Nanase Yuzuki adalah cerminan dari satu sama
lain.
Kau pasti
tidak akan bisa berbohong jika kebenaran itu akan melukaiku dengan sangat
dalam.
Dan kau pasti
sudah menyisipkan setidaknya setetes kejujuran di dalam sana.
"Hup,"
aku menggeliat dan mengubah posisiku. Chitose sontak membuka mulutnya dengan
kaget.
"Oi,
bodoh! Apa kau tidak dengar apa yang kukatakan tadi?"
"Aku
kan cuma memiringkan tubuh saja."
"Jangan
cari-cari alasan."
"Lagipula
gairahnya kan sudah mulai mendingin."
"Masih
ada sisa baranya, tahu!"
"Bagaimana
kalau aku pakai batang kayu lalu kutiup-tiup supaya baranya menyala lagi?"
"Jangan
bicara dengan nada yang ambigu begitu!"
"Biarkan
baranya menyulut api kembali!"
"Sudah
cukup, sudah selesai!"
Melihatnya
yang seolah menyerah, kami berdua pun tertawa terbahak-bahak.
Hira-hira,
kuru-kuru, bayangan
kami menari-nari dan bergoyang saling bertumpuk di sudut malam.
Napas yang
indah, suara yang indah, senyum yang indah, dan dirimu yang begitu indah.
Aku
memastikan kembali garis luar dari sesuatu yang hampir saja menghilang, dan
menyimpannya di dalam hati agar kali ini benar-benar tidak ternoda.
Setelah puas
melakukannya, aku menyandarkan tubuhku di dada Chitose dengan lembut. Aku
bergerak sedikit untuk mencari posisi yang nyaman, seolah sedang beradu pipi
dengannya.
Chitose pun
tidak mengatakan hal-hal yang merusak suasana lagi, ia melingkarkan lengannya
dengan lembut seolah sedang menyelimutiku alih-alih memelukku.
Bagaimanapun
juga, ini adalah malam di mana kami tidak bisa kembali menjadi sekadar pria dan
wanita biasa.
Aku
mendengarkan detak jantung yang sudah kembali tenang sambil membuka suara.
"Akan
segera dimulai ya, festival sekolah kita."
"Festival
sekolah kita yang pertama, sekaligus yang terakhir."
"Maukah
kau berkeliling festival bersamaku?"
"Tentu
saja. Mari kita cari apel karamel yang tidak ada racunnya."
Perlahan, aku
meletakkan tanganku di dada Chitose.
"Sebelum
memberi nama."
"Demi
memberi sebuah nama."
Sambil
merasakan suhu tubuh yang menyentuh ujung jariku, tiba-tiba aku teringat cerita
tentang Kura-sen yang kudengar dari Chitose.
Memilih
cara hidup, ya...
Menurutku
itu adalah sebuah alasan jatuh cinta yang sangat indah—memilih ingin berada di
samping siapa dan ingin menjadi sosok seperti apa.
Sekarang
setelah aku kembali menjadi Nanase Yuzuki, aku benar-benar bisa meresapi
kata-kata itu.
Jika memilih
seorang pria adalah cara untuk memilih jalan hidupku sendiri, maka──
──Nanase
Yuzuki ingin menjadi sosok seperti apa saat berada di samping Chitose Saku?
Lalu, aku
meremas pelan kemeja Chitose, memikirkan sisi lainnya.
──Sosok
seperti apakah yang bisa ditunjukkan Chitose Saku saat berada di samping Nanase
Yuzuki?
Shin-shin, malam yang tertutup ini semakin
larut.
Cahaya bulan
yang masuk dari jendela memantulkan bayangan kami yang saling bersandar
layaknya sebuah layar perak di bioskop.
Kedipan mata
kami yang serupa seolah saling bertemu dan menyatu.
Saat kau
menyisir rambutku dengan lembut, kesunyian di kegelapan ini terasa mengalir
pelan. Dada yang naik-turun seiring dengan helaan napas yang selaras terasa
bergoyang layaknya buaian bayi.
Warna ungu
semu yang kutinggalkan di lehermu telah memudar menjadi warna futaai—perpaduan
pilu antara biru milikmu dan merah milikku yang saling mewarnai.
Tanpa sadar,
jemari kita yang saling bertautan terus saling mencari dengan rasa gelisah,
layaknya ciuman rahasia di balik tirai, namun tetap tanpa mengikat sebuah
janji.
Sambil
memunggungi malam yang tidak membiarkanku tenggelam, sambil didekap oleh malam
yang telah membuatku tenggelam.
Layaknya
mengupas kulit apel beracun menjadi satu helaian panjang tanpa terputus,
layaknya melepas kepergian bintang jatuh, layaknya mewarnai garis takdir yang
kau telusuri dengan warna merah, aku pun berpikir.
Cermin,
oh cermin.
──Seandainya saja aku adalah rembulan yang tenang itu.
Uploader: Gua Salut ama orang yang habis baca nih chapter, padahal 200 halaman jir wkwk. Selemat membaca.



Post a Comment