Chapter 7
Wahyu sang
Saintess
Di wilayah Grand Duke Uebel, sang penguasa, Fried, baru saja
menerima kabar tentang kedatangan tamu dari kepala pelayannya.
"Tuan,
ada utusan dari Kruck yang datang berkunjung."
"Kruck?
Bukankah itu salah satu negara di Arcloy? Untuk apa negara sejauh itu datang ke
negeri kita?"
"Sepertinya
ini ada hubungannya dengan Tuan Noah."
"Noah?"
"Benar.
Mereka bilang Tuan Noah telah menginvasi wilayah mereka dan itu sangat
merepotkan. Mereka
memohon bantuan Grand Duke untuk menertibkan si anak bodoh itu."
Grand
Duke Uebel memegang dahi sambil mengembuskan napas panjang.
"Hah...
si bodoh itu lagi. Membuat masalah lagi, ya?"
(Padahal
aku sudah susah payah mengusir si pengganggu itu dari wilayahku. Begitu sampai
di pelosok pun tetap saja bikin onar. Tidak bisakah dia diam sedikit saja?)
"Apa boleh
buat. Akan kuhadapi. Suruh utusan itu masuk."
◆◇◆
Utusan Kruck
berdiri di depan pintu ruang audiensi dengan perasaan suram.
(Negosiasi ini
tidak mungkin berhasil.)
Mereka
dihancurkan Noah dalam sekejap. Wilayah dirampas, dan Duke Kruck terpaksa melarikan diri.
Sialnya,
sang Duke malah memerintahkan utusannya untuk mengadu kepada ayah Noah. Ia
berharap Grand Duke bisa membujuk Noah untuk mundur dan mengembalikan
wilayahnya.
(Tidak mungkin
dia mengembalikannya. Apalagi setelah kekalahan memalukan seperti itu.)
Semua orang
awalnya meremehkan si penguasa bodoh itu. Namun, begitu perang benar-benar
terjadi, kenyataannya jauh berbeda.
Itu
benar-benar pembantaian singkat. Sang utusan belum pernah melihat manuver
militer seindah dan secepat itu seumur hidupnya.
Arcloy
adalah tanah gersang, penduduknya tidak teratur, dan dipimpin oleh anak bodoh
yang dibuang keluarganya. Siapa pun di sekitar Arcloy selalu memandang rendah
tanah itu; para ksatria tetangga bahkan sering menjarah ke sana hanya untuk
bersenang-senang.
Namun,
dalam semalam, gerombolan penduduk lokal yang berantakan itu disatukan menjadi
legiun yang perkasa, dan Duke Kruck yang disebut-sebut sebagai penguasa terkuat
Arcloy tumbang seketika.
Penyebab
perang memang karena adu mulut, sulit menentukan siapa yang salah. Pihak Kruck
yang memprovokasi duluan salah, tapi Noah yang langsung menyatakan perang dan
melintasi perbatasan juga salah.
Tapi,
meminta wilayah kembali setelah kalah telak dan melarikan diri bahkan tanpa
sempat beradu pedang...
(Di
belahan dunia mana pun, tidak ada pemimpin yang mau mendengar omong kosong
seperti itu.)
Sang utusan hanya
bisa meratapi nasibnya yang dipaksa melakukan diplomasi nekat oleh mantan
majikannya. Meski tahu ini akan gagal, ia tetap harus melakukannya demi tugas.
"Maaf
menunggu lama. Persiapan Tuan sudah selesai. Silakan masuk."
Kepala pelayan
berbicara, dan pintu pun terbuka. Utusan Kruck melangkah masuk dengan perasaan berat.
Meskipun
sudah tua, Fried sang Grand Duke masih memancarkan wibawa yang luar biasa. Itu
adalah kharisma yang hanya dimiliki oleh mereka yang telah memimpin negara
besar selama bertahun-tahun. Utusan itu menelan ludah dan maju ke hadapan sang Duke.
"Kedatangan
saya ke hadapan Grand Duke tidak lain adalah mengenai pertikaian antara Tuan
Noah dan Duke Kruck. Apakah Grand Duke sudah mengetahui hal ini?"
"Umu. Aku
sudah mendengarnya."
"Akibat
serbuan putra Anda ke wilayah kami, kami mengalami kerugian besar. Ladang
rusak, kehidupan rakyat terancam, dan banyak pertumpahan darah sia-sia. Kami
mohon Grand Duke segera memerintahkan putra Anda untuk menghentikan invasi
ilegal ini."
Utusan itu sudah
bersiap untuk dimarahi atau diceramahi habis-habisan oleh sang Grand Duke
karena kegagalan mereka mempertahankan wilayah sendiri.
Namun,
kata-kata yang keluar dari mulut Grand Duke justru di luar dugaan.
"Umu.
Alasanmu masuk akal. Aku sendiri yang akan memperingatkan putra bodohku itu
untuk menghentikan tindakannya."
".......................................... Eh?"
"Maafkan
putraku yang sudah merepotkan kalian. Aku akan bertanggung jawab menangani
masalah ini. Sampaikan salamku kepada penguasa Kruck. Aku juga akan
membicarakan hal ini dengan Paus."
(Apa ini... bisa
berhasil?!)
"Aku tidak
perlu mendengar kronologinya secara detail. Sudah pasti putraku yang sepenuhnya
bersalah. Aku meminta maaf dengan tulus kepada tuanmu, Duke Kruck."
"Kalau
begitu, Grand Duke... putra Anda saat ini menduduki wilayah kami secara ilegal
setelah memanfaatkan kemenangan mendadak di awal perang. Kami mohon tekanan
Anda agar putra Anda segera menarik pasukannya."
(Kalau yang ini,
apa mungkin dikabulkan?)
Utusan itu
melirik ke arah bibir sang Grand Duke yang terkatup rapat.
"Umu. Memang
benar. Aku akan memberikan tekanan dari berbagai pihak agar putraku segera
menarik pasukannya dari wilayah Kruck."
(YEEESSSSSS!!!!)
Utusan itu
melakukan selebrasi di dalam hatinya atas keberhasilan yang tak disangka-sangka
ini.
"T-Tuan...
apa tidak apa-apa menjanjikan hal seperti itu?"
Sebastian, sang
kepala pelayan, tidak tahan untuk tidak menyela.
"Tuan Noah
bagaimanapun telah merebut wilayah itu dengan kekuatannya sendiri. Setidaknya,
periksalah dulu detail kejadiannya dan dengarkan penjelasan Tuan Noah..."
"Bodoh! Apa
yang kamu tahu soal perang?! Pelayan sepertimu jangan ikut campur!"
Grand Duke membentak Sebastian.
"Ba-baik. Mohon
maafkan kelancangan saya."
"Utusan. Aku mengerti maksud Duke Kruck. Kenapa dia tidak menumpas Noah padahal
Noah melakukan invasi ilegal? Dan kenapa dia meminta mediasi dariku padahal dia
bisa menyelesaikannya sendiri?"
"..."
"Ini
semata-mata demi menjaga kehormatanku. Benar, kan?"
"..."
"Dengan
kekuatan Duke Kruck, menghancurkan si bodoh itu tentu perkara mudah. Tapi, itu
akan mempermalukanku. Maka, Duke Kruck bersabar menahan amarah, meminta mediasi
padaku, dan membiarkan si bodoh itu menarik pasukannya sendiri agar wajah kedua
belah pihak tetap terjaga dan masalah selesai secara damai."
"..."
Sang utusan tetap
bungkam. Ia memasang wajah serius penuh beban, bersikap seolah-olah setuju
dengan logika sang Grand Duke tanpa mengatakannya secara eksplisit.
"Ja-jadi,
ternyata ada pemikiran mendalam di balik diplomasi ini. Saya, Sebastian,
benar-benar telah salah paham..."
"Hmph.
Pelayan sepertimu tidak akan paham strategi diplomasi tingkat tinggi ini.
Inilah kenapa pelayan yang tidak tahu diri itu merepotkan..."
"Baik. Saya
sangat malu atas ketidaktahuan saya ini."
"Utusan.
Tenanglah. Aku akan segera menulis surat untuk Noah agar dia menarik
pasukannya. Jika si bodoh itu tetap menolak, tidak perlu sungkan.
Silakan habisi dia. Bahkan, wilayah Grand Duke Uebel siap mengirim pasukan
untuk membantu memberi pelajaran pada anak durhaka itu."
Grand
Duke Fried menyusun dokumen resmi dan menyerahkannya kepada sang utusan.
Padahal
di Kruck, Ophelia sudah selesai melatih pasukan bekas Kruck dengan latihan
neraka dan membuat mereka bersumpah setia sampai mati kepada Noah.
◆◇◆
Di
kediaman Noah yang telah menguasai Kruck, utusan dari negara-negara tetangga
berdatangan silih berganti untuk memberi selamat.
Penguasa
baru yang langsung menghancurkan Duke Kruck dalam sekejap—dampak politik dari
peristiwa ini sangatlah besar. Di Arcloy, belum pernah ada contoh penaklukan
tetangga secepat dan sebersih ini.
Semua
orang di sekitar Arcloy merasa harus segera mendekati Noah. Ada yang bersikap
ramah, ada yang waspada sambil menyelidiki, ada yang mencoba mencari posisi
aman, dan ada pula yang ingin memanfaatkan Noah untuk menjatuhkan lawan politik
mereka.
Bahkan
ada ksatria yang nekat mengkhianati tuannya sendiri demi bisa menjalin hubungan
dengan Noah. Wilayah Arcloy benar-benar gempar dari atas sampai bawah karena
kemunculan penguasa baru yang bersinar seperti komet ini.
"Astaga.
Utusan lagi?"
Noah
meregangkan bahunya yang kaku karena harus menemui utusan yang tak
henti-hentinya datang. Karena
tidak mungkin menemui mereka satu per satu, Noah mengadakan sebuah pesta agar
bisa menyapa mereka sekaligus.
Saat ini, Noah
sedang berkeliling di aula pesta untuk menyapa para penguasa dan ksatria
berpengaruh. Mereka mengantre dengan tertib untuk memberi salam.
"Kemenangan
Tuan pasti sangat mengejutkan bagi mereka. Semua orang ketakutan jangan-jangan
mereka akan menjadi musuh Tuan berikutnya," ujar Ophelia.
"Tapi,
bertemu begitu banyak orang sekaligus benar-benar melelahkan."
Saat mereka
sedang berbincang, kegaduhan terjadi di sudut aula pesta.
"Hm? Ada
apa?"
"Sepertinya
ada tamu tak diundang yang datang."
Seorang wanita
suci mengenakan jubah keagamaan dan memegang tongkat khotbah muncul membelah
kerumunan. Para ksatria di aula terbelalak kaget.
"Itu... Saintess
Aemilia-sama."
"Bukankah
beliau adalah sosok yang mengepalai gereja-gereja di seluruh wilayah ini?"
"Kenapa
sosok sekaliber beliau bisa datang ke pelosok seperti ini..."
"Sudah
jelas, kan?"
"Masa...
untuk menemui Archduke Arcloy?"
Saat Saintess
Aemilia melangkah mendekati Noah, suasana aula menjadi tegang.
"Wah, wah,
Nona Santa. Untuk apa sosok agung sepertimu datang ke tempat terpencil
ini?"
"Sebagai
perwakilan Tuhan, aku datang untuk menyampaikan sabda-Nya."
Sang Saintessberucap
dengan khidmat.
"Wahai
penguasa baru tanah Arcloy."
Aula menjadi riuh
rendah.
"Atas nama
wilayah gerejawi Diara, aku mengucapkan selamat atas kemenangan Anda dalam
pertempuran ini."
Aemilia
memberikan berkat kepada Noah.
"Hoo. Jadi
Gereja Suci juga mengakui penaklukanku atas Kruck?"
"Dunia
tengah dilanda kekacauan. Ini adalah era di mana orang kuat sangat dibutuhkan.
Tuhan mencari pahlawan sejati seperti Anda. Tuhan akan mengampuni dosa-dosa
Anda."
Saintessmemberikan
doa kepada Noah. Semua orang yang hadir menahan napas melihat betapa besarnya
otoritas Archduke Arcloy sekarang.
"Tak
disangka Saintess Aemilia sendiri yang datang langsung..."
"Kalau
sudah begini, tidak akan ada yang bisa menghentikan Archduke Arcloy."
"Apakah
Archduke Arcloy akan menjadi pemimpin tunggal di wilayah ini?"
Saintess Aemilia kemudian duduk di samping Noah, seolah-olah ia telah menjadi pendukung kuat di belakangnya.
Kemudian, para
hadirin mulai mengantri untuk memberikan ucapan selamat kepada Noah.
Ophelia tampak
sedikit kesal.
(Siapa sih
perempuan ini? Datang-datang
langsung sok akrab. Wajahnya seolah-olah dia adalah orang paling berjasa yang
mendukung Noah-sama sejak awal.)
Melihat
Noah yang tampak tidak keberatan dengan kehadiran sang Santa, kekesalan Ophelia
semakin membuncah.
Sejujurnya,
rambut pirang Aemilia yang berkilau, tubuh ramping yang memicu insting untuk
melindungi, serta aura misteriusnya memancarkan pesona yang tidak dimiliki
Ophelia. Ophelia pun tidak
bisa menahan diri untuk tidak berpikiran sinis.
(Meski berstatus
pemuka agama, ternyata dia cukup duniawi juga ya. Di zaman perang begini,
pendeta pun terobsesi pada kekuasaan.)
"Mohon maaf
mengganggu kegembiraan Anda, Archduke Arcloy."
Seorang ksatria
maju ke hadapan Noah.
"Kami telah
menemukan tempat pelarian penguasa Kruck."
"Hoo. Ke
mana si pengecut itu lari?"
"Sepertinya dia mencari suaka ke wilayah Grand Duke
Neagle."
"Wilayah Grand Duke Neagle, ya? Itu tempat yang tidak bisa sembarangan kita
sentuh."
Noah berpikir
sejenak, lalu menoleh ke arah sang Santa.
"Aemilia,
bagaimana menurutmu?"
"Itu perkara
mudah," jawab sang Santa.
"Wilayah
Grand Duke Neagle memiliki hubungan yang sangat kuat dengan wilayah Grand Duke
Uebel. Mengingat
hubungan Anda dengan ayah Anda, permintaan ekstradisi pasti akan dikabulkan
dengan mudah."
Kata-kata
sang Saintessmembuat orang-orang yakin bahwa nasib penguasa Kruck sudah tamat.
Para hadirin semakin memandang Noah dengan penuh rasa gentar dan hormat.
Namun,
tiba-tiba seseorang masuk ke aula dengan tergesa-gesa. Ia membuka pintu dengan
kasar dan melangkah lebar menuju hadapan Noah.
"Siapa
itu?"
"Wajah yang
asing."
"Hei, siapa
kau?!"
"Berani-beraninya
kau ingin menyapa Archduke Arcloy sebelum kami! Tidak tahu sopan santun!"
Orang-orang yang
sudah merasa menjadi "lingkaran dalam" Noah mulai menyerang pria itu
demi mencari muka. Namun, pria yang baru datang itu tidak peduli dan hanya
melirik mereka dengan tajam.
"Aku adalah utusan Grand Duke Uebel, Ksatria
Vernon."
Mendengar
itu, orang-orang yang tadi membentak langsung pucat pasi.
"Utusan
Grand Duke Uebel..."
"A-ah,
mohon maaf atas kekurangajaran kami."
"Silakan,
silakan lewat."
Mereka
memaksakan senyum ramah dan buru-buru menyingkir memberi jalan.
"Hoo.
Utusan Ayah, ya?"
"Grand
Duke pasti sudah mengakui prestasi Anda," ujar sang Saintessdengan senyum
yang tampak menjilat.
Ksatria
Vernon maju ke depan Noah. Ia sempat melirik sang Saintessdengan canggung
sebelum menyampaikan urusannya.
"Ada
pesan dari Grand Duke Uebel untuk Archduke Arcloy mengenai perang yang baru
saja terjadi."
"Baiklah.
Sampaikan saja."
"Isinya
mungkin agak kurang pantas jika disampaikan di tempat seramai ini."
"Kurang
pantas? Mengenai perang ini?"
"Wahai utusan Grand Duke," Saintess Aemilia
menyela.
"Kami
sudah mengetahui detail perang ini dengan sangat baik. Tuhan akan mengampuni dosa-dosa kalian. Silakan
sampaikan pesan Grand Duke."
"Begitukah?
Baiklah, kalau begitu saya sampaikan pesan beliau. 'Mengenai perang di wilayah
Kruck ini, alasan Archduke Arcloy sulit diterima, dan tindakannya benar-benar
tidak bisa ditoleransi. Archduke Arcloy harus segera mengembalikan tanah kepada
Duke Kruck dan menarik seluruh pasukannya.'"
Seketika, suasana
di aula pesta menjadi sunyi senyap dan mencekam.
( ( ( ( (
.......................... Hah? Apa-apaan orang ini? ) ) ) ) )
"Ayah... maksudku, Grand Duke benar-benar berkata
begitu?"
"Benar. Beliau mengatakannya dengan tegas."
"Kamu tidak salah dengar?"
"Sama sekali
tidak salah, sepatah kata pun."
(Ayahandaaaaa!
Kenapa... kenapa Ayah selalu saja menjegal langkahku begini!)
Noah merasa ingin
menangis tersedu-sedu.
"Beliau juga
mengabarkan bahwa utusan telah dikirim untuk menemui Yang Mulia Paus."
Mendengar kata
"Paus", Aemilia terperanjat. Ia yang tadinya bersikap sangat tenang
tiba-tiba merasa kursi yang didudukinya menjadi sangat tidak stabil. Ia mulai
tampak gelisah.
"Cukup.
Pergilah. Terima kasih atas perjalanannya. Siapkan kamar untuknya."
Vernon membungkuk
hormat lalu meninggalkan ruangan. Aula pesta mulai riuh rendah oleh bisikan.
"Apa
maksudnya? Kenapa Grand Duke melakukan itu?"
"Benar-benar
tidak masuk akal. Pasti ada
kesalahpahaman."
Sang Saintessburu-buru
berbisik ke telinga Noah.
"Tunggu,
apa maksudnya ini?! Kenapa Grand Duke menentang perang ini? Sampai mengirim utusan ke Paus segala
pula!"
"Sepertinya
ada kesalahpahaman. Nona Santa, Anda tetap mengakui kemenanganku, kan?"
Aemilia berdehem
sekali, lalu tiba-tiba sikapnya berubah menjadi sangat dingin dan menjauh.
"Aku hanya
menyampaikan sabda Tuhan. Keputusan mengenai tindakan Anda akan ditentukan oleh
titah Yang Mulia Paus nantinya."
Noah
mengernyitkan dahi melihat betapa cepatnya sang Saintessberubah haluan. Ophelia
yang melihat itu hanya bisa tersenyum puas di dalam hati. Saat ia melihat Noah
menjauhkan kursinya sedikit dari sang Saintessdan mendekat ke arahnya, Ophelia
merasa sangat bahagia.
Bagi Ophelia,
pusat dunianya adalah Noah, bukan Grand Duke apalagi Paus. Ia ingin sekali
berteriak kepada orang-orang pengecut yang goyah karena perintah Grand Duke
itu. Bahwa pria di depan mereka ini sudah membuang Grand Duke dan memilih
jalannya sendiri!
Mendengar
perintah penarikan pasukan dari Grand Duke, beberapa tokoh berpengaruh di pesta
itu mulai saling berbisik licik.
"Jangan-jangan,
landasan kekuasaan Archduke Arcloy ini sebenarnya sangat rapuh?"
Meski Ophelia
sudah menguasai militer sehingga para menteri bekas Kruck tidak bisa melakukan
kudeta, bibit-bibit pemberontak mulai berkumpul untuk menjatuhkan Noah. Gejolak
baru akan segera melanda Arcloy.
◆◇◆
Setelah para tamu
pulang, Noah yang hanya berdua dengan Ophelia mulai menumpahkan isi hatinya.
"Hah... Ayah
benar-benar merepotkan. Kenapa dia harus ikut campur, sih? Padahal aku sudah
hampir menjadi pemimpin tunggal Arcloy. Aemilia juga sama saja. Mendekat saat
aku untung, dan langsung menjauh saat situasiku sulit."
Keluhan Noah
terus berlanjut.
"Kruck
sekarang berlindung di bawah Grand Duke Neagle, dan melihat gelagat para
penguasa di sini, sepertinya mereka tidak akan sudi mengakui perpindahan
wilayah ini. Ditambah lagi sang Saintessyang menjauh, Paus bisa saja memberikan
keputusan yang merugikan bagiku..."
"Jangan
berkecil hati. Apa pedulinya jika Grand Duke memberikan perintah yang tidak
masuk akal?"
Ophelia menatap
Noah dengan mantap.
"Pasukan
pertama yang dipimpin kakak tertua Anda, Albert, masih tertahan oleh Anglin.
Selain itu, Arcloy dan wilayah Grand Duke Uebel dipisahkan oleh banyak negara.
Sekuat apa pun kedaulatan Grand Duke Uebel, pengaruhnya tidak akan bisa
menjangkau pelosok ini."
Noah
tertegun mendengar itu.
(Benar
juga. Kalau dipikir-pikir, memang itu alasannya aku kabur ke pelosok Arcloy
ini.)
"Tidak
peduli seberapa keras Grand Duke menggonggong dari jauh, ini adalah zaman
perang. Kekuatan adalah segalanya. Grand Duke tidak punya kuasa apa pun atas
tentara Arcloy kita. Justru semakin beliau menggonggong, semakin beliau
menunjukkan ketidakberdayaannya. Mereka yang meragukan posisi Anda pada
akhirnya akan tunduk pada kekuatan kita. Sang Saintessitu juga pasti akan
menjilat kembali setelah sadar bahwa dia butuh perlindungan Anda. Saat itu
terjadi, bibit pemberontak akan bungkam dengan sendirinya."
"Umu.
Ophelia, kamu benar. Aku akan membantah Ayahanda dengan tegas. Wilayah ini
kudapatkan dengan kekuatanku sendiri, jadi Ayah tidak punya hak untuk
mengaturku. Aku akan
mengatakan hal yang sama pada Paus dan meminta pengakuan wilayah baru
ini."
"Luar biasa,
Tuanku."
"Ophelia,
hanya kamu yang bisa kuandalkan. Hanya kesetiaanmu yang menjadi
tumpuanku."
"Ah...
Tuanku."
Ophelia memeluk
kaki Noah dan mengusapkan pipinya di sana. Ini adalah gaya bermanja yang hanya
diizinkan bagi Ophelia sejak mereka masih menjadi pelayan.
Setiap kali
Ophelia mendapat perundungan dari sesama pelayan dulu, ia selalu membenamkan
wajahnya di pangkuan Noah sambil menangis sesenggukan untuk ditenangkan. Noah
mengusap kepala Ophelia.
Ophelia
memejamkan mata, menikmati usapan itu dengan nyaman. Meski tampak imut, bagi
Noah, rasanya seperti sedang dielus-elus oleh seekor harimau atau singa yang
sangat besar.
(Aku harus
melindungi Tuanku.)
Semakin Noah
terisolasi, semakin membara pula kesetiaan di dalam hati Ophelia.
◆◇◆
Ksatria Vernon
yang telah meninggalkan Arcloy kini tiba kembali di kediaman Grand Duke.
Grand Duke Fried
menyambutnya sembari duduk di singgasana. Hari itu, kebetulan Albert, Ian, dan
Rudolf juga hadir, berkumpul bersama para abdi dalem lainnya.
"Ksatria
Vernon, melapor. Saya baru saja kembali dari Arcloy."
"Ooh, kau
sudah kembali, Vernon. Jadi, bagaimana keadaan si bodoh itu? Apa dia sedikit
merenung dan menjadi penurut setelah mendengar pesanku?"
"Mengenai
hal itu, Tuan Grand Duke... Saat saya menginjakkan kaki di wilayah Tuan Noah,
situasinya terasa sangat berbeda dari laporan yang kita terima selama
ini."
"Apa?
Berbeda apanya?"
"Tuan
Grand Duke... mohon jangan terkejut. Tuan Noah tidak sekadar merebut sebagian
wilayah Kruck. Beliau telah menghancurkan pasukan Duke Kruck hingga tak
bersisa, menjatuhkan Kastilnya, dan menguasai seluruh wilayahnya."
Grand
Duke Fried tertegun. Laporan yang datang bagai petir di siang bolong itu
membuat otaknya sulit mencerna kenyataan.
"Ksatria
Vernon, apa kau juga tertular untuk bicara omong kosong? Si bodoh itu tidak
mungkin bisa melakukan hal semacam itu."
"Tidak,
ini adalah fakta yang nyata. Saya melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana
Tuan Noah bertakhta sebagai penguasa Kastil Kruck, memberikan berbagai perintah
kepada para mantan bawahan Duke Kruck, dan mengelola segalanya. Para menteri
senior dan rakyat Kruck hanya bisa bersujud rendah dan patuh pada perintah Tuan
Noah. Saya membawa salinan surat pernyataan bersama dari para menteri senior
yang mengakui Tuan Noah sebagai penguasa baru mereka."
"...Begitu
ya. Memang benar, di sini ada tanda tangan orang-orang Kruck."
"Benar.
Fakta bahwa Tuan Noah telah menundukkan wilayah Kruck tidak bisa dibantah
lagi."
Meski begitu,
Grand Duke tetap sulit menerima kenyataan. Benarkah Noah benar-benar menebas
musuh di medan perang, merebut Kastil, dan melipatgandakan wilayahnya lebih
dari dua kali lipat?
(…Aku tidak
percaya.)
Tiba-tiba,
diiringi denting lonceng dan embusan angin yang murni, sebuah suara yang
lantang dan berwibawa bergema di seluruh aula.
"Grand Duke Fried."
"A-anda... SaintessIris?"
"Aku
datang untuk menyampaikan titah Yang Mulia Paus. Dengarkan baik-baik."
Hanya dengan satu
kalimat dari SaintessIris, semua orang di ruangan itu seketika terbungkam.
"Aku telah
membaca permohonanmu kepada Yang Mulia Paus. Namun, Yang Mulia tidak dapat
mengabulkan tuntutanmu kali ini. Sebab, Kruck sudah tidak lagi berstatus
sebagai penguasa. Dengan demikian, tuntutanmu gugur. Selain itu, pertempuran
antara Archduke Arcloy dan mantan Duke Kruck adalah urusan duniawi, sehingga
Paus tidak akan menjatuhkan hukuman. Namun, karena tidak ada bukti bahwa
Archduke Arcloy menentang kehendak Tuhan, Yang Mulia Paus mau tidak mau
mengakui Archduke Arcloy sebagai penguasa baru wilayah tersebut.
Dunia tengah
dilanda kekacauan, dan ini adalah zaman di mana mereka yang kuatlah yang
menjadi penguasa. Sebaliknya, mereka yang lemah tidak layak menjadi pelindung
wilayah bagi Paus.
Karena itu, kau
harus mengakui wilayah baru penguasa Arcloy. Tuntutanmu resmi dibatalkan. Itu
saja."
Keheningan
menyelimuti ruangan. Grand Duke Fried merasa seolah dunianya jungkir balik.
(Benar-benar...
si bodoh itu benar-benar menaklukkan Kruck?)
"Tuan
Grand Duke. Anda sudah mendengar sendiri sabda Nona Santa. Apa yang saya
sampaikan tadi adalah kebenaran belaka."
"Begitu
ya... Tapi aku tetap tidak mengerti. Bagaimana bisa si bodoh itu menang perang
seefisien itu meskipun di daerah pelosok? Bukankah di Kruck ada Jenderal
Godolphin? Meski sudah tua, dia adalah veteran tangguh yang ikut serta dalam
kampanye militer Borda, kan?"
"Dalam
perang kali ini, tampaknya sosok yang memegang peran kunci adalah seorang
jenderal bernama Ophelia."
"Ophelia?"
"Ayah,
Ophelia itu pelayan yang ikut bersama Noah. Itu lho, gadis yang badannya sangat
tinggi," Albert ikut menyela.
Grand Duke
mencoba menggali ingatannya sejenak, lalu menepuk lututnya seolah baru saja
teringat.
"Ah, gadis
itu!"
"Tuan Noah
mengangkatnya menjadi jenderal, memberikan otoritas penuh, dan membiarkannya
memimpin pasukan."
"Apa?
Gadis itu menjadi jenderal perang?"
"Kemampuan
taktiknya dikatakan secepat kilat. Caranya menghancurkan musuh satu per satu
sebelum mereka sempat berkumpul disebut-sebut setara atau bahkan melampaui
jenderal legendaris masa lalu, Spimera."
"Tapi dalam
hal kecepatan, Godolphin seharusnya tidak kalah. Ketajamannya dalam melihat
titik vital strategis dan mobilitas pasukan elitnya adalah yang terbaik di
dunia."
"Ophelia
tiba lebih dulu di titik kunci dengan kekuatan lima kali lipat, lalu menghabisi
Godolphin yang datang terlambat dalam sekejap."
"..."
"Sudah
kubilang kan, Ayah. Gadis itu adalah ahli pedang yang langka. Sayang sekali
talenta hebat seperti dia dibuang dari kediaman ini," tambah Albert.
"Umu...
begitu ya."
Grand Duke
menunjukkan wajah masam, lalu berdiri.
"Ayah?"
"Ada sesuatu
yang harus kupikirkan. Sisanya kuserahkan pada kalian."
Dengan wajah yang
tampak berat, Grand Duke melangkah mundur ke kamar pribadinya.
"Ada apa
dengan Ayah? Wajahnya terlihat sangat serius."
"Mungkin
beliau merasa dilema. Duke Kruck dan Jenderal Godolphin adalah rekan
seperjuangan beliau saat kampanye Borda. Begitu tahu mereka dikalahkan oleh
putranya sendiri..."
"Begitu ya.
Kasihan Ayah..."
◆◇◆
Begitu sampai di
kamar pribadinya, wajah serius Grand Duke Fried seketika berubah. Ia menatap
tempat tidurnya dengan tajam.
"Sialan kau,
Noah! Si bodoh itu... mengalahkan penguasa Kruck dan merebut wilayahnya?
Betapa... betapa IRI-nya akuuuu!"
Grand Duke
membenamkan wajahnya ke bantal dan menangis tersedu-sedu.
"Aku
sendiri... seumur hidup aku bahkan belum pernah menjatuhkan satu Kastil pun
dengan tanganku sendiri! Sialaaannnn!"
Meskipun wilayah
Grand Duke Uebel terus meluas berkat jasa para leluhurnya, Fried—sang pemimpin
saat ini—hanya mampu mempertahankan wilayah yang ada dan belum pernah
memenangkan penaklukan Kastil secara mandiri. Malahan, wilayahnya sempat
berkurang sedikit.
Bagaimanapun,
Fried adalah pria yang lahir di zaman perang. Ia dididik untuk menjadi penguasa
yang mandiri, dan ia selalu bermimpi bisa menjatuhkan berbagai Kastil dan
bersinar di medan laga.
Namun, karena
keterbatasan bakat, ia tak pernah meraih kemenangan besar. Kini usianya sudah
senja, dan masa pensiun sudah di depan mata tanpa satu pun prestasi penaklukan
yang bisa dibanggakan.
Membayangkan Noah
sekarang sedang memerintah sesuka hati di Kastil hasil rampasan, bahkan mungkin
sedang merombak desain Kastilnya, membuat Fried merasa sangat kesal hingga
dadanya sesak.
"Padahal
kalau aku punya sedikit lebih banyak waktu, pasukan, dan uang, aku juga bisa
menjatuhkan satu atau dua Kastil! Aaaaaaargh! Sial! Dan gadis itu, kenapa dia
malah ikut dengan si bodoh itu?! Tahu begini, seharusnya dulu aku menahannya
lebih keras dan menjadikannya gundik saja! Sialaaaaaaaaan!"
Grand Duke Fried
terus meratapi masa lalu yang tak mungkin kembali sambil meneteskan air mata
kecemburuan.
Karena terlalu
sibuk tenggelam dalam rasa irinya terhadap sang anak, ia sama sekali lupa
untuk mencabut perintah penarikan pasukan yang telah ia kirimkan.
Akibatnya, Noah harus kerepotan membereskan kekacauan diplomatik yang masih
menggantung tersebut.



Post a Comment