Penerjemah: Taksaka
Proffreader: Manahan
Chapter 3
Zona Layak Huni bagi Kita Berdua
1
Sebagian besar kegiatan klub astronomi adalah persiapan matang. Waktu yang kami habiskan untuk menatap ramalan cuaca, kalender fase bulan, dan peta bintang demi menentukan jadwal pengamatan jauh lebih lama daripada pengamatan itu sendiri.
Mengingat lingkungan pengamatan di kamp pinggiran kota jauh lebih baik daripada atap sekolah, kami sedang menyusun jadwal agar bisa mengadakan kamp pelatihan tepat saat hujan meteor terjadi.
Terlebih lagi, karena Mihare dan Kunitomo juga merangkap sebagai anggota klub atletik, aku harus melakukan berbagai penyesuaian agar tidak bentrok dengan jadwal mereka. Hasilnya, hari kamp pelatihan tersebut ternyata jatuh tepat di hari ulang tahun Mihare.
"Hei, Ryuuichi-kun, kegiatan klub hari ini adalah pembahasan untuk kamp bulan depan, kan? Kurasa pembicaraan penting sudah hampir selesai minggu lalu, apa ada hal lain yang harus dilakukan hari ini?"
Sepulang sekolah, Mihare datang menghampiriku. Seperti katanya, hari ini kami dijadwalkan melakukan penyesuaian akhir untuk acara besar klub astronomi bulan depan: kamp pelatihan pengamatan bintang di perkemahan pinggiran kota.
Tujuan utama kamp ini adalah memotret dan mengamati hujan meteor Gemini. Demi mengamankan anggaran klub untuk tahun depan, aku harus mengesampingkan sejenak pencarian komet baru yang belum membuahkan hasil, dan menunjukkan pencapaian nyata layaknya klub astronomi pada umumnya.
"Meski dibilang pembahasan, jadwal semua anggota termasuk Sensei sudah aman, dan reservasi perkemahan juga sudah beres. Jadi yang dilakukan hari ini hanyalah memeriksa perlengkapan dan jadwal waktu hari-H. Tidak ada yang spesial."
Begitu aku menjawab, Mihare menangkupkan kedua tangannya seolah meminta maaf.
"Kalau begitu, apakah tidak apa-apa jika hari ini Yuria absen lagi? Katanya karena perlombaan sudah dekat, dia ingin melakukan latihan mandiri."
"Ah, oke. Sensei juga tidak datang karena ada rapat staf, jadi tidak masalah sama sekali. Apa kamu sendiri tidak apa-apa jika tidak fokus di klub atletik, Mihare?"
"Iya. Aku tidak apa-apa."
Mihare menjawab sambil mengangguk tersenyum.
"Benarkah? Jangan memaksakan diri. Aku merasa tidak enak jika klub astronomi sampai memengaruhi kompetisi atau catatan waktumu."
Mihare selalu memikirkanku. Padahal mungkin sebenarnya dia ingin fokus pada atletik, tapi dia menekan perasaan itu demi menyesuaikan diri denganku. Aku punya firasat seperti itu.
"Beneran tidak apa-apa, kok. Jangan dipikirkan. Malah, bagiku ini keberuntungan karena bisa berduaan, ...ka-kayak gitu, deh."
Meskipun di akhir dia bersikap seolah bercanda, wajahnya yang memerah sudah cukup menjelaskan bahwa dia bersungguh-sungguh. Melihat senyum malunya, aku tidak sanggup bertanya lebih jauh.
"Kalau kamu bilang begitu, aku juga merasa terbantu."
"Hei, kalau Sensei juga tidak datang, bagaimana kalau kita membahasnya di tempat lain, bukan di ruang klub?"
Tentu saja, aku tidak keberatan dengan usulan itu.
"Boleh saja. Lagipula kita hanya akan mengobrol santai, mau ke restoran keluarga biasa? Atau lebih baik ke kafe saja? Di sana suasananya lebih tenang untuk bicara."
Mendengar usulanku, Mihare menggelengkan kepala dengan wajah memerah.
"Mumpung ada kesempatan, mau mampir ke rumahku lagi?"
Jawaban ini di luar dugaan, membuatku kehilangan kata-kata.
"Sepertinya Onee-chan juga ada rapat OSIS, jadi kali ini kita benar-benar bisa berduaan. Ayo kita lakukan 'balas dendam' atas kejadian sebelumnya."
Sepasang matanya yang besar menatapku dengan tatapan mendongak yang seolah menyedotku masuk. Lalu, Mihare perlahan mengulurkan kedua tangannya dan menggenggam tangan kiriku.
Suhu tubuhnya yang sedikit lebih tinggi dari orang normal tersalurkan padaku. Benar-benar berkebalikan dengan tangan Sayuki-san yang cenderung dingin.
"Mi-Mihare?"
Padahal tempo hari kami baru saja bisa berpegangan tangan. Aku tidak menyangka dia akan seaktif ini, apalagi di sekolah yang mudah terlihat oleh teman sekelas. Ini tidak seperti Mihare yang biasanya. Tindakan tak terduga ini membuatku sedikit terkejut. Namun, aku menyadari tangan kecilnya yang bersentuhan denganku itu sedikit gemetar. Ternyata dia sedang gugup. Mengetahui itu, aku merasa sedikit lega.
"Hei, bagaimana menurutmu?"
Tanyanya mendesak, dengan ekspresi yang seolah sedang dilanda demam. Mungkin, Mihare sedang berusaha untuk berubah.
Apakah itu pengaruh Sayuki-san? Jika benar begitu, berarti rencana Sayuki-san berhasil; sejarah mulai berubah sedikit demi sedikit, yang artinya kami mulai bergeser dari masa depan di mana hubungan kami berakhir.
Seharusnya, ini adalah perubahan yang baik bagiku juga. Selama ini kami terlalu penakut. Jika ingin membawa hubungan ini melangkah lebih jauh, aku pun punya kewajiban untuk membalas perasaan Mihare. Juga demi menghapus bayang-bayang 'gadis itu'.
"Ba-baiklah. Mari kita ke rumahmu."
"Syukurlah! Kalau begitu ayo, lebih cepat lebih baik!"
Mihare merangkulkan lengannya ke lenganku dengan gembira. Ia menatapku sambil tersenyum malu-malu.
"Begini saja tidak apa-apa, kan?"
"Tentu saja."
Aku mengangguk dengan suara yang agak melengking. Sambil merasakan tatapan penuh rasa ingin tahu dari orang-orang sekitar, kami meninggalkan gedung sekolah dengan perasaan yang tidak buruk.
2
Kunjungan kedua ke rumahnya terasa sedikit lebih santai daripada yang pertama. Hari ini, aku langsung diantar menuju kamar Mihare, lalu dia meninggalkanku di sana sembari bilang akan menyeduh teh.
Sepertinya benar-benar hanya ada kami berdua di rumah ini; tidak ada suara lain yang terdengar selain nyanyian kecil Mihare dari dapur. Karena itu, aku duduk bersila di atas karpet bulu berwarna merah muda dengan perasaan gelisah.
Kupikir aku sudah pernah ke kamar Mihare sebelumnya, tapi karena kesan Sayuki-san terlalu kuat saat itu, aku sama sekali tidak memiliki ingatan tentang kamar ini. Ada tempat tidur berukuran tunggal, meja belajar, meja rias, dan sebuah meja rendah di depanku. Di atas rak berjajar boneka dan pernak-pernik kecil, di antaranya terdapat randoseru berwarna biru muda yang sepertinya digunakan saat SD.
Melihat kilap di permukaannya, terlihat jelas bahwa dia masih merawatnya dengan sangat baik hingga sekarang. Seperti yang kupikirkan sebelumnya, Mihare adalah tipe orang yang menjaga barang-barangnya dengan baik.
"Maaf membuat menunggu."
Mihare meletakkan nampan berisi set perangkat teh dan kue berbentuk bintang di atas meja rendah. Aroma yang sedap seketika tercium. Kupikir itu adalah kue jahe seperti biasanya, tapi hari ini aroma jahenya jauh lebih kuat dan ditambah aroma panggangan yang harum. Mihare selama ini selalu salah paham; kue jahe bukanlah makanan favoritku karena rasanya lebih pedas dan tajam daripada manis, sehingga memiliki cita rasa yang unik. Namun, karena setiap kali Mihare membuatnya dengan wajah yang sangat bahagia, aku pun selalu menghargainya.
"Oh, wah, baunya enak sekali. Jangan-jangan kue ini baru saja matang?"
"Iya, kamu tahu?"
"Tentu saja tahu kalau aromanya sesedap ini."
"Ehehe~. Sebenarnya sejak dulu aku ingin Ryuuichi-kun mencicipinya saat baru matang. Rasanya sangat renyah dan jauh berbeda dari biasanya! Waktu kamu datang terakhir kali, akhirnya kita tidak sempat memakannya, kan? Jadi, hari ini adalah 'balas dendam' dariku."
Begitu rupanya, itu alasan dia mengundangku ke rumah.
"Waktu itu maaf ya. Aku malah keasyikan mengobrol dengan Sayuki-san."
Saat aku menundukkan kepala, Mihare buru-buru melambaikan kedua tangannya di depan wajah.
"Ti-tidak apa-apa! Aku tidak memikirkannya, kok! Lagipula Onee-chan juga suka astronomi, jadi sejak dulu aku sudah menduga kalau dia akan nyambung bicara dengan Ryuuichi-kun."
Meskipun dia berkata begitu, tidak mungkin rasanya menyenangkan jika seseorang yang sudah berniat menyuguhkan kue buatan sendiri malah diabaikan karena pacarnya asyik mengobrol dengan kakaknya.
"Soal itu, aku benar-benar minta maaf."
"Makanya, kalau kamu terus-menerus minta maaf begitu, aku jadi merasa tidak enak. Kalau begitu, aku juga punya hal yang harus aku minta maaf padamu."
Kemudian Mihare duduk di sampingku. Jaraknya sangat dekat hingga bahu kami bersentuhan. Aku bisa merasakan aroma sampo Mihare lebih kuat daripada aroma kue jahe. Cara dia memperkecil jarak ini pun menunjukkan keaktifan yang tidak pernah terlihat pada diri Mihare sebelumnya, membuat jantungku berdebar.
"Apa yang ingin kamu minta maafkan, Mihare?"
"Karena sudah merahasiakan kalau aku punya kakak kembar."
"Tidak, itu salahku karena tidak tahu. Sayuki-san itu orang terkenal di sekolah kita, kan. Padahal marganya sama dengan Mihare, tapi aku yang bodoh karena tidak menyadarinya."
Namun Mihare menundukkan kepalanya. Poninya menjuntai lemas, menyembunyikan sorot matanya.
"Sebenarnya... aku tidak ingin kalian berdua bertemu. Aku tahu kalau Onee-chan dan Ryuuichi-kun pasti akan sangat nyambung saat mengobrol. Kalau itu terjadi, aku akan tersisih. Aku takut akan hal itu."
Bahu Mihare sedikit bergetar. Kesedihan dan rasa bersalah yang coba ia pendam di dalam hati seolah merembes keluar.
"Jadi, aku juga... minta maaf."
Wajah Mihare yang akhirnya terangkat tampak seperti langit mendung yang tertutup kecemasan.
Tapi, itu berarti...
"Intinya kamu cemburu, kan?"
"Ugh... yah, kurasa bisa dibilang begitu."
Mendengar ucapanku, pipi Mihare seketika memerah padam.
"Kalau begitu, tidak ada yang perlu dimaafkan."
Justru karena dia mengkhawatirkan hal seperti itu, aku merasakan kebahagiaan yang menggelitik, seperti sedang digelitik di bagian pinggang.
"Ih! Aku sedang minta maaf dengan serius, kenapa kamu malah senyum-senyum begitu!"
Mihare memelototiku dengan wajah malu.
"Habisnya, aku merasa... Mihare yang memikirkan hal itu sampai seserius ini, sampai galau dan minta maaf padaku, itu... bagaimana ya, menurutku itu manis."
"Muuu..."
Wajah merah Mihare berubah menjadi cemberut yang menggemaskan.
Sebenarnya aku ingin bilang dia "imut", tapi levelku sebagai pacar belum cukup tinggi untuk bisa mengucapkannya dengan lantang di depan orangnya. Aku ingin mengumpulkan poin pengalaman agar suatu saat bisa mengatakannya.
Setelah itu, sikap Mihare sedikit melunak. Kami menyeruput teh ditemani kue yang masih hangat.
"Mihare, apa kamu punya pengalaman berkemah?"
Topik pembicaraan kami beralih secara alami ke kamp pelatihan pengamatan hujan meteor Gemini yang akan dilaksanakan dua minggu lagi.
"Hmm, karena Ayah dan Onee-chan suka kemah, kami sering pergi ke berbagai tempat. Tapi urusan pasang tenda dan persiapan lainnya hampir semuanya dilakukan mereka berdua. Jadi dalam hal itu, pengalamanku mungkin sedikit."
"Hee, Sayuki-san suka kemah juga ya. Aku punya bayangan dia tidak terlalu suka kegiatan yang kotor begitu."
"Mungkin mengejutkan, tapi Onee-chan yang dulu selalu mengajak kami ke sana-sini, dia yang menyetir keinginan keluarga. Karena dia cepat belajar, sebelum diajari Ayah pun dia sudah bisa melakukan semuanya sendiri, seperti pasang tenda atau persiapan barbeque. Ayah sampai terus merasa heran dari mana dia mempelajari itu semua."
Tentu saja, karena dia adalah Mihare dari "kehidupan kedua". Karena dia sudah menemani hobi ayahnya sejak kehidupan pertama, dia pasti sudah terbiasa dengan hal-hal semacam itu.
Yang membuatku penasaran adalah fakta bahwa Sayuki-san sering pergi ke berbagai tempat perkemahan, jangan-jangan...
"...Anu, saat SD dulu, apa kamu pernah ikut acara pengamatan bintang yang diadakan di perkemahan? Acara yang mengumpulkan sekitar 20 anak untuk mendengarkan penjelasan rasi bintang musim panas. Sebenarnya, aku mulai tertarik pada langit malam gara-gara acara seperti itu. Apakah Sayuki-san juga ikut?"
Mendengar pertanyaanku, Mihare mengernyitkan dahi sambil berpikir keras.
"Hmm, kurasa dia tidak pernah ikut. Onee-chan itu tipe yang lebih suka menatap langit sendirian dalam diam daripada harus mengamati bersama orang lain."
"...Begitu ya."
Jujur saja, selama ini aku sempat curiga kalau 'gadis itu' adalah Sayuki-san, tapi karena Mihare berkata begitu, sepertinya dia memang tidak ikut acara tersebut. Lagipula, untuk pergi ke perkemahan dibutuhkan mobil. Meskipun ini kehidupan keduanya, tidak mungkin Sayuki saat SD bisa pergi sendirian ke sana.
"Ya, begitulah. Walaupun kami sering kemah sekeluarga, aku cuma bisa mengekor di belakang Onee-chan. Jadi mungkin aku tidak akan banyak membantu di kamp pelatihan nanti, maaf ya."
Mihare kembali terlihat lesu.
"Pengamatan baru akan dimulai secara serius sekitar jam 7 malam, jadi waktunya masih banyak. Kita lakukan pelan-pelan saja. Lagipula Mihare kan mahir memasak, bukankah kamu bisa menunjukkan keahlianmu di sana?"
Aku mencoba menghiburnya, tapi dia hanya membalas dengan senyum getir.
"Di tempat kemah kita tidak bisa bikin masakan yang rumit. Dasarnya kan barbeque? Tidak ada kesempatan bagiku untuk unjuk gigi."
"Benar juga ya. Kan cuma tinggal bakar-bakar saja."
"Iya. Aku yang kemampuan memasaknya terkunci... cuma akan jadi pajangan saja."
Mihare tertunduk lesu.
"Jangan merendahkan diri begitu. Kamu kan lari cepat? Kalau ada barang yang ketinggalan, kamu punya keahlian khusus untuk pergi membelinya dengan cepat."
"Ah, benar juga ya, hehe!"
Setelah membusungkan dada dengan bangga selama beberapa detik, ia tiba-tiba membelalakkan matanya.
"Itu sih cuma jadi kurir saja!"
"Akhirnya sadar juga."
"Ih! Ryuuichi-kun jahat!"
Mihare mulai memukul-mukul dadaku berkali-kali. Tentu saja tidak sakit. Rasanya tidak lebih kuat dari gigitan manja seekor hamster.
Biasanya, candaan Mihare hanya sampai di sini.
"Mumu. Tidak mempan? Kalau begitu, rasakan ini!"
Tapi, Mihare yang belakangan ini menjadi lebih aktif tidak berhenti di situ. Ia membuka kepalan tangannya yang tadi memukulku, lalu menjulurkannya ke arah pinggangku. Gerakan yang benar-benar di luar dugaan.
"Tu-tunggu! Di situ, geli! Ku-kuku..."
"Hei, jangan lari!"
Jari-jari Mihare bergerak secara acak, merayap dari pinggang hingga ke punggungku.
"Bo-bodoh, hentikan!"
Selagi kami bergumul seperti itu, tanpa sadar aku terjatuh dalam posisi telentang, dan tubuh Mihare berada tepat di atasku.
"......"
"......"
Pandangan kami terkunci satu sama lain.
Jaraknya begitu dekat hingga aku tidak bisa melihat apa pun selain wajah Mihare. Pipinya yang memerah padam, matanya yang berkaca-kaca, dan bibirnya yang tampak kenyal. Aku bahkan bisa mendengar suara napas yang keluar masuk dari bibir yang sedikit terbuka itu. Muncul sebuah perasaan "indah" yang menghujam dadaku, berbeda dengan perasaan saat aku menatap langit berbintang. Mihare sedang bersikap agresif.
Kalau begitu, bukankah aku harus membalasnya?
Berkat Mihare, klub astronomi masih bisa bertahan. Berkat Mihare, kegiatan pengamatan bintang menjadi jauh lebih bermakna. Aku tidak bisa berhenti bersyukur padanya. Jika gadis seperti dia yang memintanya...
Panas dari bibir "gadis itu" yang terukir di pipi kiriku seolah bangkit kembali secara samar. Tapi, kali ini berbeda dengan waktu itu. Yang akan bersentuhan adalah bibir dengan bibir.
Bagiku, Mihare bukanlah pengganti "gadis itu". Aku harus menghadapinya dengan sungguh-sungguh. Dengan tangan gemetar, aku memegang bahu Mihare dan perlahan mendekatkan wajahku ke wajahnya.
"Tu-tu-tu-tunggu, time out!"
"Fugoh!"
Bofun! Pandanganku seketika berubah menjadi putih total. Beberapa detik berlalu, dan aku baru sadar bahwa sebuah bantal telah ditekan kuat ke wajahku. Sensasi bantal mahal dengan daya pantul yang pas membungkus seluruh mukaku.
Anak ini, kapan dia mengambil bantal yang ada di atas tempat tidur dan melemparkannya padaku?
"Ma-maaf ya. Anu, aku... belum selesai pemanasan."
"O-oke, aku mengerti. Aku juga minta maaf karena terlalu mendadak."
"Sekali lagi! Ayo kita coba sekali lagi dari awal? Anggap saja ini take two."
Kami memutuskan untuk mengulang kembali suasananya.
Mihare melompat turun dari atasku, lalu duduk bersimpuh di tempat yang agak jauh. Ia mengeluarkan lip cream dari entah mana, lalu dengan sibuk mengoleskannya ke bibirnya.
Aku yang tadinya telentang pun bangkit berdiri, lalu ikut duduk bersimpuh menghadap Mihare. Setelah itu, kami berdua membeku seperti patung perunggu. Suasananya persis seperti pertandingan final catur Jepang.
Satu detik, sepuluh detik, keheningan terus bertumpuk.
Sebelum terkubur dalam keheningan yang menyesakkan ini, aku memberanikan diri membuka suara.
"Anu, boleh aku tanya satu hal?"
"A-apa?"
"Daripada mengulang begini, bukankah jauh lebih baik jika kita lanjut yang tadi saja? Memulai kembali dengan suasana kaku seperti orang yang mau tanding catur begini benar-benar memalukan."
"Uuuh. Jangan dikatakan! Aku juga berpikiran hal yang sama persis!"
Mihare memegang kepalanya dengan frustrasi.
"Tapi aku ini bukan pelari cepat yang punya daya ledak spontan, aku ini tipe pelari jarak jauh yang butuh persiapan matang, jadi aku terlalu banyak berpikir!"
"Aku mengerti... tapi sebenarnya tidak terlalu mengerti juga sih."
"Makanya, maaf, biarkan aku latihan dulu!"
"Gimana caranya?"
"Le-lewat bantal."
Sambil berkata begitu, Mihare mengangkat bantal mewah yang tadi ia lemparkan padaku tepat di antara wajah kami.
Karena bantal itu cukup besar untuk menutupi kepala kecil Mihare, dari sudut pandangku, Mihare tampak seperti makhluk yang memiliki bantal yang tumbuh dari lehernya.
"Ayo latihan pakai ini."
Jadi aku harus melakukannya dengan Mihare yang dalam kondisi "Manusia Bantal" ini? Memang sih, karena wajah kami tidak saling terlihat, rasa tegangnya berkurang drastis.
"Baiklah. Kalau begitu, aku mulai ya."
"Oke, ayo!"
Kenapa nadanya jadi seperti semangat kompetisi olahraga begini?
Maka dari itu, aku perlahan mendekatkan wajahku ke arah bantal yang dipegang Mihare. Meski tidak terlihat, Mihare pasti juga mendekatkan wajahnya dari balik bantal itu. Porsi bantal yang menutupi pandanganku semakin meluas dengan cepat.
Saat ujung hidungku menyentuh kain bantal, sempat muncul sedikit pergulatan batin, namun akhirnya aku membulatkan tekad dan menempelkan wajahku ke sana.
"Mugu."
Pandanganku kini benar-benar terkubur di dalam bantal, tidak ada yang terlihat selain warna putih. Seluruh wajahku terbungkus oleh kain lembut yang terasa seperti sutra.
Meski katanya ini latihan, tapi membenamkan wajah ke bantal yang biasa dipakai Mihare sehari-hari sebenarnya adalah tindakan yang sangat memalukan, kan?
...Ya, ini benar-benar memalukan. Ini sama saja dengan mengendus bantal Mihare.
Menyadari hal itu, aku buru-buru menahan napas. Sekarang, dengan bantal sebagai penghalang, wajah kami berada dalam jarak yang sangat dekat. Pandangan tertutup, dan sensasi sentuhan terserap oleh bantalan kursi sehingga hanya tersampaikan sedikit, tapi entah bagaimana aku bisa merasakan keberadaannya tepat di depan mataku. Di balik pandangan putih total ini, ada wajah Mihare. Memikirkan hal itu membuat ketegangan yang muncul tidak terasa seperti sekadar latihan.
Entah berapa lama aku berada dalam posisi itu. Rasanya hanya beberapa detik, tapi mungkin juga sudah berlalu satu menit. Apapun itu, aku perlahan menjauhkan wajahku. Bekas lekukan kepalaku tertinggal di bantal tersebut.
"Puhah."
Di saat yang sama, Mihare juga menjauhkan wajahnya dari bantal. Bantal yang memisahkan kami diturunkan perlahan, dan wajah Mihare muncul seperti matahari yang terbit. Napasnya keluar masuk dengan agak kasar dari bibirnya, dan pipinya merona merah.
"......E-eh, gimana latihannya?"
Saat aku bertanya, Mihare mengangguk ragu-ragu.
"Iya. Sepertinya... simulasi mentalnya sudah cukup mantap?"
"Ka-kalau begitu, kali ini beneran ya."
Bahu Mihare tersentak mendengar kata-kataku. Namun kali ini dia tidak memalingkan muka, melainkan balas menatapku.
"B-boleh."
Kembali, wajah kami saling mendekat. Kali ini tidak ada bantal di antara kami. Hanya karena hal sekecil itu, ketegangannya berada di level yang jauh berbeda. Bulu mata panjang Mihare yang sedikit lentik, matanya yang besar dan berkaca-kaca di bawahnya, hidungnya yang mancung, pipinya yang merona lebih merah dari apel, dan bibir merah mudanya yang gemetar karena tegang. Seluruh bagian yang membentuk wajah imut Mihare kini terpampang nyata.
Menuju wajah itu, aku mendekat sedikit demi sedikit. Jantungku berdegup sangat kencang seolah hendak pecah. Rasanya tidak aneh jika jantungku robek kapan saja, persis seperti jaring kertas penciduk ikan mas yang sudah terendam air sekali.
Aku terus merangsek maju menembus jarak yang amat tipis itu, seakan membelah pergulatan batin di dalam diriku.
Sedikit lagi.
Tepat saat itu, terdengar suara pintu depan terbuka di seberang ruangan. Kemudian disusul oleh suara Sayuki-san.
"Aku pulang—! Mihare, kamu ada? Ada sepatu Ryuuichi-kun, apa dia sedang di sini?"
Seketika itu juga, wajah Mihare yang seharusnya berada tepat di depan mataku langsung menjauh dalam sekejap.
"D-duh, Onee-chan ini benar-benar tidak tahu waktu!"
Mihare menggembungkan pipinya dan melotot ke arah lorong, asal suara langkah kaki Sayuki-san.
"Terus, itu... gimana?"
Suasananya menjadi sangat canggung karena momennya sudah benar-benar hilang. Mihare berbalik menghadapku dan memasang senyum penuh penyesalan.
"Lain kali saja, ya. Pokoknya, kita harus pasang gaya seperti sedang belajar."
Seolah dikejar oleh suara langkah kaki Sayuki-san yang mendekat, kami terburu-buru mengeluarkan buku pelajaran dan buku catatan dari tas, lalu menjajarkannya di atas meja rendah.
Saat operasi penyamaran selesai, pintu kamar terbuka dan Sayuki-san masuk.
"Ah, ternyata benar sedang di sini. Selamat datang, Ryuuichi-kun."
"A-ah, iya. Maaf mengganggu."
"......"
Tatapan Sayuki-san bolak-balik antara aku dan Mihare seolah sedang menyelidiki sesuatu. Keheningannya terasa menakutkan. Aku ingin berharap dia tidak menyadari kalau kami hampir berciuman, tapi rasanya Sayuki-san bisa melihat segalanya.
"Kalian belajar sejak pulang sekolah tadi?"
"I-iya. Ujian akhir kan sudah dekat. Kalau tidak dapat nilai bagus, nanti berpengaruh ke kegiatan klub."
"Wah, tumben sekali pikiran Mihare sedang benar. Sini-sini, biar Onee-chan yang lihat."
Tangan Sayuki-san terulur ke buku catatan yang dibuka dengan sengaja itu, lalu membalik-balik halamannya.
"Ini buku catatan Matematika, kan? Tapi kenapa kamu membuka buku pelajaran Bahasa Inggris?"
Gawat. Karena tadi aku asal tarik dari tas, aku tidak memikirkan konsistensinya.
"Maksudku ingin mempelajari dua mata pelajaran sekaligus agar efisien!"
Pembelaan dari Mihare langsung meluncur seketika. Meski tahu itu alasan yang payah, aku tetap mengangguk-angguk setuju seperti boneka akabeko.
"......Hmm."
Sayuki-san menyipitkan matanya dengan penuh arti.
Ini... dia pasti sadar, kan?
Namun, Sayuki-san tidak bertanya lebih lanjut. Ia hanya menggelengkan kepala seolah heran.
"Melakukan hal seperti itu malah tidak efisien, tahu. Kalau ingin belajar untuk ujian, aku akan mengajari kalian berdua dengan benar. Mihare juga tahu kan kalau prediksiku sering tepat?"
"Itu sih, ya, aku tahu, tapi..."
Sayuki-san berada di kehidupan keduanya, jadi dia sudah pernah melewati ujian-ujian ini. Dia pasti bisa membatasi materi mana saja yang akan keluar.
"Kan? Serahkan saja pada Onee-chan di saat seperti ini. Kalau kalian mempelajari bagian yang kuprediksi, kalian akan mudah dapat nilai tinggi."
Sambil berkata begitu, Sayuki-san menyisipkan tubuhnya duduk di antara aku dan Mihare. Aroma segar jeruk dari Mihare yang tadi menggelitik hidungku kini tertimpa oleh aroma lavender milik Sayuki-san. Sentuhan bahunya terasa lebih lembut dibanding saat bersentuhan dengan Mihare. Seluruh tubuhku menegang kaku merasakan sensasi yang lebih "feminin" itu.
"H-hei, Onee-chan! Jangan masuk ke tengah-tengah begitu, dong!"
"Habisnya kalau tidak di tengah, aku tidak bisa melihat cara belajar kalian berdua, kan?"
"Kan bisa duduk di depan!"
"Kalau begitu, buku dan catatannya terlihat terbalik dari arahku, jadi susah mengajarinya."
Kepada Mihare yang memprotes, Sayuki-san membalas dengan nada yang terdengar senang.
"Ryuuichi-kun juga kelihatannya merasa risih, tuh. Menjauh sedikit, sana!"
"Eh—? Tidak begitu, kan, Ryuuichi-kun?"
Tekanan dari keduanya sangat kuat...
Saat pandanganku terombang-ambing di antara Mihare dan Sayuki-san, aku menemukan keselamatan pada cahaya matahari terbenam yang masuk dari jendela.
"M-maaf, sepertinya aku harus segera pulang. Malam ini cuacanya sepertinya bagus, jadi aku ingin memotret benda langit di rumah. Itu, lho, komet! Aku ingin mencari komet!"
Tentu saja, aku tidak punya rencana seperti itu. Aku buru-buru merapikan buku dan catatan lalu berdiri. Meski keduanya memasang ekspresi tidak puas, mereka tidak memaksaku untuk tinggal.
Begitulah, aku diantar sampai ke pintu depan.
"Sampai jumpa lagi, Ryuuichi-kun."
Mendengar suara itu, aku menoleh. Mihare yang pipinya merona sedang melambaikan tangan kecilnya di depan dada....kalau dipikir-pikir, tadi kami benar-benar sudah hampir berciuman, kan.
Uugh, canggung sekali.
Besok aku harus pasang muka seperti apa saat bertemu dengannya? Apa aku bisa bicara normal seperti dulu?
Pikiranku berkecamuk, sampai-sampai aku tidak bisa menatap mata Mihare. Sepertinya Mihare juga sama, pandangannya terus tertuju pada kakiku.
"......Iya. Sampai jumpa di sekolah."
Hanya itu yang sanggup kuucapkan sebelum aku melesat keluar dari pintu depan seolah melarikan diri dari mereka.
3
Persiapan untuk acara pengamatan bintang besok sudah sempurna.
Jadwal Inou-sensei selaku pembimbing dan dua anggota lainnya sudah diamankan sepenuhnya, persiapan peralatan dari sekolah pun sudah selesai. Reservasi perkemahan sudah beres, dan rute menuju lokasi juga sudah diperiksa. Semuanya sudah dalam posisi siap berangkat kapan saja. Namun, hanya ada satu hal yang persiapannya masih kurang. Hadiah ulang tahun untuk diberikan kepada Mihare pada hari pengamatan nanti.
Awalnya aku berniat membawa boneka beruang besar yang sering disebut "lucu" oleh Mihare, tapi karena Sayuki-san bilang itu tidak bagus, aku terus mencari penggantinya sejak saat itu. Namun pada akhirnya, aku tidak bisa memikirkan apa pun. Tapi hari ini juga, aku harus menemukan hadiah yang paling cocok. Hadiah luar biasa yang sebanding dengan waktu yang telah kuhabiskan untuk mencarinya.
Sore itu setelah pulang sekolah. Setelah menyelesaikan pemeriksaan terakhir peralatan yang akan dibawa untuk kamp, aku menuju pintu keluar gedung sekolah dengan perasaan terburu-buru dan penuh rasa tanggung jawab.
Sambil memikirkan apa yang harus dibeli, aku justru berpapasan dengan Mihare yang mengenakan seragam klub atletik. Seketika, kami berdua terdiam.
"A-ah, R-Ryuuichi-kun, mau pulang sekarang? Se-semangat, ya. Aku sangat menantikan kamp besok!"
Senyumnya terasa sedikit berjarak.
Semenjak kejadian gagal ciuman kemarin, kami berdua jadi saling sadar diri dan suasana canggung terus berlanjut. Bukan berarti saling menghindari. Hanya sedikit malu-malu dan sungkan, tapi jarak ini tidak terasa buruk. Namun bagi aku yang sekarang, ada alasan lain kenapa aku sulit menatap wajah Mihare.
"O-oh. Mihare mau latihan atletik sekarang?"
Melihat pakaiannya, sepertinya dia sedang dalam perjalanan menuju trek di lapangan sekolah. Kedua kakinya yang terlihat dari celana pendeknya tampak panjang, ramping, dan berwarna sehat.
Omong-omong, kegiatan klub astronomi hari ini sengaja diliburkan sebagai persiapan untuk besok.
"I-iya. Karena sudah tidak sabar menunggu besok, energiku meluap-luap. Mungkin hari ini aku bisa mencetak rekor waktu yang bagus!"
Ia melakukan gerakan lari di tempat dengan lutut diangkat tinggi, seolah ingin memamerkan energi yang meluap-luap. Dibandingkan Mihare yang biasanya, reaksinya terasa agak berlebihan. Pasti Mihare juga belum menemukan jawaban tentang bagaimana cara bersikap di depanku setelah kejadian itu. Namun, itu berarti dia sangat menyadariku, jadi aku merasa sedikit senang.
Meski begitu, aku—yang belum menyiapkan kado kejutan untuknya—merasa sangat tidak berguna.
"Sebagai ketua klub astronomi, aku senang kamu sangat menantikannya. Aku juga berharap banyak pada barbeque buatanmu nanti."
"Emm, aku tidak tahu bisa memenuhi ekspektasimu atau tidak, tapi aku akan berusaha."
Saat itu, terdengar suara memanggil Mihare dari arah lapangan.
"Ooi, Mihare! Cepat ke sini!"
Beberapa anggota klub atletik perempuan berseragam sedang melambai padanya.
"Maaf, Ryuuichi-kun! Aku harus pergi."
"Ah, aku juga minta maaf karena menahanmu. Semangat latihannya. Jangan dipaksakan, ya."
"Terima kasih. Dadah!"
Mihare pun berlari menuju kerumunan klub atletik itu.
Sambil menatap punggungnya, tiba-tiba aku teringat kembali. Kejadian sekitar akhir April, saat aku baru saja bergabung dengan klub astronomi. Kala itu, anggotanya hanya aku, ketua kelas tiga, dan seorang anggota "hantu" kelas tiga yang namanya dipinjam hanya agar klub tetap sah berdiri.
Sore itu, seperti biasa aku sedang menyiapkan alat pengamatan di atap. Karena ketua bilang akan terlambat, aku bekerja sendirian dalam diam.
Dari atap, aku bisa melihat suasana lapangan sekolah dengan jelas, jadi aku sering melamun menatap ke bawah untuk membunuh waktu sembari menunggu matahari terbenam. Banyak klub olahraga yang sedang beraktivitas di lapangan. Ada klub sepak bola, lalu klub tenis di sudut lapangan. Di tengah semua itu, klub atletik terus berlari berputar-putar di trek.
"Seperti satelit buatan saja," gumamku sendirian di atap yang sepi, yang suaranya langsung hilang tertiup angin.
Para pelari jarak jauh yang terus berlari di tempat yang sama itu, di mataku, terlihat seperti satelit buatan yang tidak pernah bisa lepas dari tarikan gravitasi bumi.
Kecepatan sekitar delapan kilometer per detik. Inilah yang disebut "Kecepatan Kosmik Pertama", kecepatan yang dibutuhkan untuk terus mengorbit bumi. Satelit buatan terpenjara dalam kecepatan ini. Bintang-bintang buatan yang malang; meski sudah terbang jauh ke angkasa, mereka tetap tidak bisa lepas dari bumi.
Aku membenci satelit buatan. Salah satu alasannya karena cahaya satelit sering mengganggu pemotretan benda langit. Namun, alasan terbesarnya adalah karena mereka sangat mirip dengan kami. Semua orang terikat oleh gravitasi dan berputar di tempat yang sama. Kita hanya merasa seolah sedang melangkah maju, padahal sebenarnya kita terus berputar-putar, tetap terperangkap oleh gravitasi bernama "akal sehat".
Akal sehat, citra publik, tekanan sosial. Meski ingin melepaskan diri dari gravitasi yang diciptakan dunia, akhirnya kita tidak bisa keluar. Orang-orang malang seperti satelit buatan itu... aku pun salah satunya. Aku terus terseret oleh gravitasi dari "gadis itu" di dalam kenanganku. Aku sadar betapa kekanak-kakakannya hal ini.
Kecepatan yang dibutuhkan untuk mencapai tempat yang cukup jauh hingga bisa lepas dari gravitasi bumi—yang disebut sebagai jarak tak terhingga—disebut "Kecepatan Kosmik Kedua".
Kecepatan Kosmik Kedua hanyalah sekitar 1,41 kali dari kecepatan pertama. Hanya dengan berusaha melampaui ambang batas 1,41 kali itu, siapa pun seharusnya bisa melepaskan ikatan dan pergi ke suatu tempat yang bukan di sini. Namun, itu tidak semudah itu. Bahkan teknik kedirgantaraan pun kesulitan menembus tembok itu.
Ya, begitu juga dengan anggota klub atletik yang sedang berlari di pandanganku sekarang. Saat aku melihat ke bawah dari atap, aku melihat salah satu orang yang tadinya berlari paling depan tiba-tiba keluar dari trek.
Kupikir dia sudah mencapai batas fisiknya dan gugur dari persaingan posisi depan. Namun, alih-alih beristirahat, orang itu justru menambah kecepatannya dan berlari menghampiri anggota paling belakang yang tertinggal setengah putaran. Ia menepuk pundak anggota paling belakang yang tampak kepayahan itu dan memintanya untuk berhenti. Ia seolah berkata, "Jangan dipaksakan."
Anggota yang tadinya di depan itu memapah temannya meninggalkan trek menuju tempat teduh. Pelatih pun datang menghampiri dengan panik. Jika dia terus dipaksa berlari, mungkin dia akan terkena heatstroke atau dehidrasi.
Di saat semua orang hanya sibuk berputar di tempat yang sama dan tidak ada yang menyadari, hanya dialah yang menyadari keanehan pada anggota paling belakang dan segera keluar dari orbit orbitnya untuk menolong.
Jika dipikir-pikir, mungkin hanya dialah yang berhasil mencapai "Kecepatan Kosmik Kedua".
Saat itu aku yang menatap dengan sok tahu dari atas, sama sekali tidak menyangka bahwa gadis itu nantinya akan menjadi penyelamat bagi klub astronomi, apalagi membayangkan kalau kami akan berpacaran.
Mihare tidak berubah sejak saat itu; dia selalu memikirkan orang lain. Dan sekarang, dia terus memperhatikanku yang merupakan pacarnya. Aku ingin membalas budi dan menghargai usahanya. Karena itulah, aku ingin memberikan hadiah ulang tahun yang benar-benar membuatnya bahagia dari lubuk hati yang paling dalam.
Seolah tahu aku telah membulatkan tekad, ponselku bergetar, menarik kesadaranku kembali ke masa kini. Di layar notifikasi, muncul nama yang sudah kuduga.
Begitu aku mengangkat telepon, suaranya terdengar menggelitik telingaku.
『Bagaimana? Sudah memutuskan hadiahnya?』
Nadanya seolah sudah tahu apa jawabanku.
"......Maaf. Bisakah Anda membantu saya sekarang?"
『Fufu, tentu saja.』
Sayuki-san yang menggumamkan itu terlihat seperti malaikat, sekaligus seperti iblis bagiku.
4
"Hei, bagaimana menurutmu?"
Sayuki-san membuka tirai ruang pas, mengenakan sweter high-neck berwarna abu-abu yang tampak sangat pas di tubuhnya. Dengan pose satu tangan di pinggang layaknya model profesional, aura dewasanya yang memikat membuat jantungku tak berhenti berdebar.
"......Sangat cocok untuk Anda, tapi... bukankah kita harus memilih hadiah untuk Mihare?"
"Ah, maaf. Tapi bukankah lebih mudah memilih pakaian kalau melihatnya langsung saat dipakai? Aku ini kakak kembarnya, jadi kupikir ini bisa jadi referensi."
"Kalau kembar yang mirip sih pasti bisa jadi referensi, tapi dalam kasus Mihare dan Sayuki-san, perbedaannya terlalu jauh..."
Sayuki-san yang mengenakan sweter itu membuat lekuk tubuhnya terlihat sangat menonjol dan menggoda, tapi jika Mihare memakai baju yang sama, hasilnya tidak akan seperti ini. Bentuk tubuh mereka terlalu berbeda.
"Hmm. Begitu ya? Pokoknya, bagaimana kalau kita coba dua potong baju lagi baru dipikirkan?"
"Itu sih Sayuki-san saja yang memang ingin mencoba bajunya, kan."
Saat aku menjawab dengan nada heran, Sayuki-san menjulurkan lidahnya sambil tertawa, "Ketahuan ya?"
"Kalau begitu mau bagaimana lagi. Selanjutnya, mau coba topi atau sarung tangan? Kalau itu tidak ada hubungannya dengan bentuk tubuh. Tunggu sebentar ya, aku ganti baju dulu."
Tirai yang tertutup kembali itu bergoyang pelan tertiup napas panjangku. Atas ajakan Sayuki-san, aku mengunjungi sebuah pusat perbelanjaan di dekat sini.
Pertama-tama, kami menginjakkan kaki ke area kosmetik—sebuah wilayah suci yang asing bagiku—di mana kami menimbang-nimbang antara produk murah meriah hingga produk bermerek.
"Mungkin krim tabir surya untuk penggunaan sehari-hari bagus juga? Yang ini mengandung pelembap jadi menguntungkan, sedangkan yang ini waterproof, jadi tidak perlu khawatir luntur karena keringat. Sepertinya cocok dipakai saat latihan di klub atletik."
Sayuki-san mengambil produk satu per satu dan memberikan penjelasan detail.
"Karena dia sering mengkhawatirkan keringat setelah latihan, body mist juga boleh dipertimbangkan. Wewangian jenis sitrus seperti ini aromanya tidak terlalu menyengat dan mudah digunakan. Atau, mungkin lebih baik memilih berdasarkan kelucuan kemasannya daripada isinya."
Setelah memeriksa semuanya, aku ditarik masuk ke toko busana wanita untuk memilih koleksi musim dingin terbaru. Meski sebenarnya, tanpa kusadari, ini sudah berubah menjadi peragaan busana pribadi di mana Sayuki-san hanya mencoba baju yang ingin ia pakai. Namun, baik kosmetik maupun pakaian, hadiah untuk perempuan benar-benar banyak jenisnya dan harganya pun cukup mahal hingga membuat kepalaku pening. Jika aku sendirian, aku pasti tidak akan bisa memilih.
"Sayuki-san, sudah bisa selesai belum?"
Panggilku ke arah tirai yang masih tertutup rapat.
"Duh, jangan terburu-buru, Ryuuichi-kun. Ganti baju perempuan itu memang memakan waktu tahu."
Terdengar jawaban dengan nada sedikit kesal.
Tolong pikirkan juga perasaan laki-laki yang ditinggal sendirian di area busana wanita ini. Pelayan dan pengunjung semuanya perempuan, aku merasa sangat risih dengan tatapan di sekitarku.
Sambil menunggu, lebih baik aku membaca kembali catatan di ponsel untuk memikirkan kado itu. Tepat saat aku berpikir demikian...
"Permisi. Saya Kunitomo yang sudah melakukan pemesanan."
"Baik, kami sudah menunggu Anda. Silakan lewat sini."
Suara yang sangat kukenal sedang berbicara dengan pelayan toko.
Begitu aku menoleh ke arah sumber suara, aku melihat Kunitomo yang masih berseragam sekolah sedang dipandu oleh pelayan.
"Apakah benar produknya yang ini?"
Pelayan yang keluar dari ruang belakang membentangkan syal merah dan memperlihatkannya kepada Kunitomo.
"Ah, iya. Benar."
Kunitomo itu rupanya datang untuk mengambil kado ulang tahun Mihare yang sudah dipesan sebelumnya. Sial sekali nasibku!
Seandainya aku memilih toko lain, kami pasti tidak akan berpapasan.
Gawat kalau aku terus berdiri mematung di depan ruang pas ini. Kalau ketahuan Kunitomo, dia pasti akan bertanya aku datang dengan siapa, dan kalau itu terjadi, aku tidak akan bisa menyembunyikan keberadaan Sayuki-san.
Aku celingukan mencari tempat bersembunyi. Namun, gerak-gerik mencurigakan itu justru membawa petaka; Kunitomo seolah merasakan kehadiranku dan hendak menoleh ke arah sini.
Situasi kritis! Tepat sebelum itu terjadi...
"Masuk!"
Lengan Sayuki-san terjulur dari ruang pas dan menarikku masuk ke dalam. Tirai segera tertutup rapat, dan dalam sekejap mata, aku terlindungi dari pandangan Kunitomo.
"A-ah, terima kasih. Anda menyelamat—"
Kata-kataku terhenti saat hendak berterima kasih. Yang tertangkap oleh mataku adalah kulit yang seputih salju. Memantulkan cahaya lampu ruang pas yang memang sudah terang, kulit itu tampak bercahaya putih.
Di hamparan salju yang menyilaukan itu, terdapat dua "bukit" besar yang puncaknya tertutup warna ungu violet. Butuh waktu sejenak bagiku untuk menyadari bahwa aku sedang menatap payudara Sayuki-san yang tampak penuh dan seolah sesak terbungkus bra.
"I-itu kan pakaian dalam!"
"Mau bagaimana lagi? Aku kan sedang di tengah-tengah ganti baju."
"Kenapa Anda bisa setenang itu?! Biasanya dalam situasi begini orang akan menutupi diri, kan?"
Karena tidak sopan jika terus menatap, aku membuang muka ke arah yang tidak jelas. Namun, karena ada cermin besar di dinding ruang pas, melalui pantulan cermin itu aku justru bisa melihat punggung cantik Sayuki-san, lengkap dengan tali bra dan pengait di bagian belakangnya.
Ini sih, semakin aku mencoba membuang muka, aku malah semakin menikmati pemandangan Sayuki-san dalam balutan pakaian dalam dari sudut 360 derajat.
"...Lagipula, kalau Ryuuichi-kun yang melihat tidak apa-apa kok. Malah, aku ingin kamu melihatnya lebih banyak lagi."
Ruang pas ini hanya cukup untuk satu orang berdiri dan berganti baju. Secara alami, posisi kami menjadi sangat dekat hingga bahu kami bersentuhan. Hanya dengan sedikit mendekat, aku bisa langsung merasakan kelembutan tubuh Sayuki-san.
Ti-tidak boleh. Di luar sana ada Kunitomo. Jangan berpikir yang macam-macam.
"Ada apa? Ryuuichi-kun juga tertarik, kan? Boleh kok kalau mau kamu rekam di ingatanmu."
Sayuki-san memasang senyum tipis di bibirnya, lalu menumpukkan dadanya di atas kedua telapak tangannya dan mengangkatnya perlahan dari bawah. Meskipun seharusnya sudah terfiksasi kuat oleh bra, bagian itu seolah berubah bentuk seperti meleleh, seakan hampir tumpah keluar dari tali dan cup bra yang menjepitnya.
"Menjaga ini itu cukup berat, tahu? Agar bisa menopang lemak yang berat ini, otot dada dan otot punggung harus dilatih dengan benar. Selain itu, bagian belahan dan bawah dada itu mudah lembap, jadi perawatan setiap hari agar tidak timbul biang keringat itu wajib."
"......"
Meskipun dia menceritakan keluh kesah perempuan, tidak ada satu pun yang masuk ke kepalaku.
"Tapi, kalau Ryuuichi-kun senang, aku sama sekali tidak keberatan. Lagipula, selama ini bukan cuma dilihat, aku bahkan sudah pernah kamu sentuh, kamu cium, bahkan kamu jilat..."
Ja-jadi aku di masa depan sudah sampai pada hubungan sejauh itu?
Di dalam ruang pas yang sempit ini, aku bisa merasakan napas kasarku dan suhu tubuh yang menguar dari Sayuki-san kehilangan arah, lalu saling membelit satu sama lain.
Saat kata-kata menghilang di antara kami, sebuah suara terdengar dari luar ruang pas.
"Untuk produk yang ini, bagaimana Anda ingin pengemasannya?"
Mendengar pertanyaan pelayan toko itu, terdengar suara Kunitomo membalas.
"Emm, karena ini hadiah ulang tahun untuk teman, tolong dibungkus yang cantik, ya. Ah, tapi, karena teman itu pasti dapat hadiah juga dari pacarnya, tolong buat bungkusan saya jangan terlalu mencolok."
"Baik, saya mengerti. Mohon tunggu sebentar."
Aku bisa tahu kalau pelayan toko itu menanggapi pesanan detail Kunitomo dengan senyuman.
Si bodoh itu, sampai memikirkan hal sejauh itu saat memilih kado untuk Mihare? Dia bahkan memedulikan keseimbangan dengan kado orang lain...
Dibandingkan dia, apa yang sedang kulakukan di tempat seperti ini? Kesadaranku yang tadi sempat dilanda "demam" seketika mendingin dengan cepat.
"Sa-Sayuki-san, maaf. Bisa tolong pakai kembali bajunya?"
Sayuki-san tersenyum kesepian, lalu memasukkan lengannya ke blus seragam yang tergantung di hanger.
"Hei, Ryuuichi-kun. Menjadi serius itu bagus, tapi terlalu pemalu juga tidak baik, lho. Kalau begini terus, seperti pengalamanku dulu, masa depan di mana kalian berdua putus bisa benar-benar terjadi."
Sayuki-san memecah keheningan yang sedikit canggung itu.
"I-itu tidak akan terjadi!"
"Benarkah? Kalau misalnya Mihare menyerangmu seperti yang aku lakukan tadi, apa yang akan kamu lakukan?"
"......Jujur, aku tidak bisa membayangkan Mihare bersikap seperti itu."
"Tapi itu mungkin saja terjadi. Aku tahu apa yang terjadi jika 'saklar'-nya sudah menyala."
"Karena Anda adalah Mihare dari kehidupan kedua?"
"Benar.......Makanya, agar kamu siap menghadapi apa pun yang terjadi nanti, kamu harus latihan banyak hal denganku."
Seketika itu juga, wajah Sayuki-san terpampang sangat dekat dalam pandanganku.
"La-latihan apa maksud Anda..."
"Misalnya, ciuman."
Sayuki-san menempelkan jari telunjuknya ke bibirnya sendiri. Ditatap dengan wajah yang sangat serius, tubuhku membeku seperti katak yang dipelototi ular.
Di luar ruang pas, masih terdengar percakapan Kunitomo dengan pelayan toko. Sepertinya dia sedang bingung memilih warna pita antara merah atau biru. Cepatlah putuskan hal seperti itu.
Selama Kunitomo masih ada di dalam toko, kami tidak bisa keluar dari ruang pas.
"A-apa yang Anda katakan? Aku tidak bisa melakukan hal semacam itu."
Melihat pergulatan batinku, Sayuki-san menghela napas panjang seolah heran.
"Huft, mau bagaimana lagi. Kalau begitu, kalau pakai cara yang sama dengan Mihare, tidak apa-apa kan?"
Cara yang sama?
Sayuki-san mengaduk-aduk tas yang diletakkan di sudut ruang pas dan mengeluarkan buku saku kosakata bahasa Inggris. Ia menarik keluar selembar plastik merah transparan yang terselip di sana—lembar filter merah yang biasa dipakai untuk menutupi tulisan berwarna merah saat menghafal kosakata.
Dengan lembaran tipis itu, Sayuki-san menutupi area mulutnya. Meski dibilang menutupi, karena bahannya semi-transparan, bagian bawah wajahnya hanya terlihat menjadi kemerahan, tapi masih terlihat sangat jelas.
"Mmh."
Sayuki-san menatapku. Sepertinya dia sedang mendesak sesuatu.
"Apa?"
"Nggak mau ciuman?"
"Hah?"
"Kamu latihan pakai bantal dengan Mihare, kan?"
Ternyata dia benar-benar tahu kejadian tempo hari. Apa hal yang sama juga terjadi di kehidupan pertama?
"Lihat, ini juga ada lembar merah sebagai pembatas, jadi harusnya tidak masalah."
"Tu-tunggu sebentar! Pakai benda setipis itu? Tebalnya jauh berbeda!"
"Tapi kalau terlalu tebal tidak akan jadi latihan, dan ini ketebalan yang paling pas. Kalau Ryuuichi-kun punya benda yang lebih tipis, pakai itu juga boleh."
"N-nggak ada. Maksudku, benda itu terlalu tipis..."
"Tapi kalau melakukannya secara langsung tidak boleh, pilihannya hanya memakai benda setipis ini, kan?"
...Jika percakapan ini didengar orang ketiga, aku merasa akan terjadi kesalahpahaman yang luar biasa.
"Ta-tapi..."
"......Ayo."
Sambil berkata begitu, Sayuki-san sedikit memajukan bibirnya dari balik lembar merah. Bibir Sayuki-san yang terlihat lewat filter merah itu tampak seolah sedang memakai lipstik, terlihat sangat dewasa. Bibir merah itu secara alami menarik pandanganku, layaknya setangkai mawar yang mekar di taman.
Seperti serangga yang tergoda nektar bunga, aku terbawa menuju wajah dan bibir Sayuki-san. Bulu matanya yang panjang dan lebat meski tanpa maskara, serta matanya yang besar di bawahnya perlahan-lahan mulai terpejam.
Ini benar-benar berbeda dengan saat latihan menggunakan bantal dengan Mihare. Waktu itu wajah Mihare tersembunyi oleh bantal, tapi sekarang sebagian besar wajah Sayuki-san berada dalam jangkauan pandanganku. Lagipula, karena lembar merah itu transparan, ini sama saja dengan tidak ada yang menutupi. Tapi, apakah ini benar-benar boleh?
Di saat aku ragu sekejap, Sayuki-san justru memperpendek jarak dalam satu gerakan cepat. Yang terasa di bibirku adalah sensasi plastik tipis yang terjepit di antara kami. Namun, aku bisa merasakan hangatnya suhu tubuh Sayuki-san.
Sensasi itu terasa lebih penuh dosa daripada ciuman langsung, seolah-olah aku sedang melanggar sebuah tabu.
"Ngh."
Suara manis yang lolos dari bibir Sayuki-san seolah meluluhkan rasa bersalahku. Entah berapa lama kami dalam posisi itu. Terasa seperti sekejap, namun terasa seperti selamanya. Namun satu hal yang pasti, momen ini telah terukir dalam diriku.
Wajah Sayuki-san perlahan menjauh. Aku tidak boleh merasa berat hati untuk berpisah. Meski tahu begitu, aku tidak bisa menyangkal adanya keinginan itu di sudut pikiranku. Bahkan sensasi bibir "gadis itu" yang seharusnya membekas di pipi kiriku, sekarang memudar hingga aku tidak bisa mengingatnya lagi.
Saat Sayuki-san hendak mengembalikan lembar merah itu ke buku kosakata, aku sempat melihat noda lip cream dari bibirnya tercetak seperti bekas ciuman di permukaan merah itu. Itu adalah bukti nyata bahwa kami telah menyatukan bibir di balik lembaran tipis tersebut.
"Sudah jadi latihan yang bagus?"
Sayuki-san menyipitkan matanya, tersenyum dengan nada menggoda yang memikat.
"Se-sejujurnya, aku melakukannya tanpa benar-benar mengerti apa yang terjadi, jadi aku merasa pengalaman ini tidak akan bisa diterapkan untuk kesempatan berikutnya."
"Fufu, jujur sekali ya. Kalau mau, mau coba sekali lagi?"
"Su-sudah cukup!"
Karena merasa dia benar-benar akan melakukannya lagi jika dibiarkan, aku segera mendekat ke tirai ruang pas dan memasang telinga.
Suara Kunitomo sudah tidak terdengar. Aku mengeluarkan kepala sedikit dan melihat sekeliling.
"Lihat, Sayuki-san. Sepertinya Kunitomo sudah tidak ada. Ayo cepat keluar."
"Ara-ra, aku ditolak ya."
Sayuki-san tertawa kecil seolah kecewa, lalu menyampirkan tas di bahunya.
5
"Kalau begitu, kerja bagus untuk hari ini. Syukurlah kita bisa memilih kado yang pas."
"Iya, aku sangat terbantu karena ada Sayuki-san. Aku tidak terlalu mengerti hadiah untuk perempuan. Mungkin kalau aku bertanya pada Kunitomo pun, dia tidak akan tahu sedetail Anda."
Akhirnya, kado yang kupilih adalah sepasang sarung tangan dengan lapisan bulu. Itu adalah barang esensial untuk pengamatan luar ruangan di cuaca dingin seperti sekarang, dan juga mudah digunakan sehari-hari.
Kami pun meninggalkan pusat perbelanjaan dan berjalan menuju stasiun terdekat. Hari sudah memasuki waktu gradasi antara sore menuju malam, sehingga jalanan dipadati oleh kerumunan orang yang berlalu-lalang.
"Jadi, apa kamu sudah sedikit lebih percaya diri?"
Sayuki-san yang berjalan di sampingku tertawa sambil sengaja menyenggol bahuku....Dia pasti sedang membicarakan soal ciuman tadi.
"Itu... aku akan berusaha."
"Fufu. Kalau kamu merasa butuh latihan lagi sebelum hari terjadinya, bilang saja kapan pun ya. Atau, kamu boleh kok menjadikan 'latihan' denganku tadi sebagai kejadian yang sebenarnya."
Sambil mengembuskan napas putih di udara dingin, ia membisikkan godaan dari bibir yang membuat pandanganku tersedot ke sana.
"Ti-tidak perlu, aku tidak apa-apa!"
Aku mempercepat langkah, mencoba mengabaikan godaan Sayuki-san.
Tepat saat itu, aku melihat punggung dengan rambut pendek yang familier di depanku.
"Lho, itu Kunitomo, kan?"
"......Iya."
Tidak salah lagi. Dia memakai seragam yang sama, dan yang paling jelas adalah kantong kertas yang dia dekap erat-erat di depannya berasal dari toko busana wanita tempat kami berada tadi. Aku juga membawa kantong yang sama berisi sarung tangan untuk Mihare.
"Dengan keramaian seperti ini, kurasa dia tidak akan menyadari kita, tapi lebih baik kita menjaga jarak sedikit, ya?"
Entah dia tidak mendengar usulanku atau apa, Sayuki-san hanya menatap diam ke arah Kunitomo yang berjalan di depan.
"......Yuria-chan sepertinya sedang tidak enak badan."
Mendengar itu, aku memperhatikan Kunitomo lebih saksama.
Benar juga, sedari tadi dia tampak terbatuk-batuk kecil, dan wajahnya pun terlihat agak merah. Padahal dia seorang pelari cepat, tapi langkah kakinya tampak goyah, bahkan sesekali ia menabrak orang lain dan meminta maaf.
"Benar juga. Anda jeli sekali menyadarinya. Padahal di sekolah tadi dia terlihat biasa saja."
"Dia itu tipe anak yang akan menahan diri agar tidak membuat orang lain khawatir. Apalagi besok ada acara kamp. Mungkin sebenarnya kondisinya sudah buruk sejak tadi, tapi dia memaksa diri untuk bersikap ceria."
Memang, Kunitomo punya sisi seperti itu.
"Anda tahu banyak soal Kunitomo, ya."
"Tentu saja. Karena Yuria-chan adalah sahabatku... dulu."
Saat menggumamkan kata terakhir, wajah Sayuki-san tampak sangat kesepian dan pedih. Seolah-olah dia ingin mengatakan bahwa sekarang segalanya sudah berbeda.
Kalau dipikir-pikir, Mihare memanggilnya "Yuria" tanpa embel-embel, sedangkan Sayuki-san memanggilnya dengan akhiran "-chan". Hal itu menunjukkan adanya jarak yang besar di antara mereka.
Begitu ya, bagi Sayuki-san, Kunitomo bukan lagi sahabatnya. Kunitomo juga pernah bilang kalau Sayuki-san adalah orang yang "berada di atas awan". Itu artinya, mereka tidak bisa lagi berdiri berdampingan...
Keheningan yang tak terduga datang menyelimuti kami, membuat langkah kaki terasa berat. Selagi begitu, sosok Kunitomo dalam sekejap hilang tertelan kerumunan dan lenyap dari pandangan kami.
Tiba-tiba, ada sentuhan dingin yang lembut di tanganku. Itu adalah tangan Sayuki-san. Sebuah tangan yang terulur agar tidak terpisah di tengah keramaian. Namun, tangan itu bergetar sedikit. Seperti anak kecil yang takut tersesat.
"......Hei, Ryuuichi-kun, teruslah berada di sisiku ya."
Sayuki-san menatapku dengan tatapan mata yang bening.
Di balik mata itu, aku merasa melihat rasa kesepian yang tak berdasar, seolah hendak menelanku. Jangan-jangan, inilah perasaan sejujurnya yang selama ini ia sembunyikan di balik senyum menggoda itu.
"Maaf ya, aku bicara yang aneh-aneh."
Perlahan, tangan Sayuki-san terlepas.
"Mari kita berpisah di sini untuk hari ini. Jangan sampai tertular flu seperti Yuria-chan, tidurlah yang hangat malam ini, ya? ......Kalau kamu mau, aku boleh kok masuk ke kasurmu dan menghangatkanmu."
"A-aku tidak perlu!"
Senyum yang biasa digunakannya untuk menggodaku telah kembali, dan aku merasa sedikit lega.
"Fufu, sampai ujung telingamu merah padam begitu. Apa yang sedang kamu bayangkan? Lucu sekali."
Tangan Sayuki-san terulur dan mulai menjepit serta memainkan daun telingaku. Panas dari telingaku yang membara karena malu seolah diserap oleh jari-jarinya yang sedingin wanita salju.
"He-hei, hentikan."
"Lho, bukannya Ryuuichi-kun suka kalau bagian ini dimainkan? Dulu kamu sering memintaku menggigitnya di atas tempat tidur, kan?"
Apa yang kamu lakukan, aku di masa depan?!
Gara-gara perkataannya, aku jadi membayangkan bibir kenyal Sayuki-san yang menggigit gemas daun telingaku.
"Go-godaan itu sudah cukup! Tolong pikirkan pandangan orang sekitar juga."
Aku buru-buru menepis tangan Sayuki-san.
"Ara-ra, sayang sekali. Padahal aku suka sensasi daun telinga Ryuuichi-kun."
Dia sudah benar-benar kembali ke sifat aslinya. Aku merasa lega, tapi entah kenapa juga merasa sedikit kecewa.
Setelah puas tertawa, Sayuki-san melambaikan tangan yang tadi menutupi mulutnya.
"Nah, aku sudah puas, sudah waktunya pulang. Sampai jumpa, Ryuuichi-kun. Sampai ketemu besok."
"Iya, terima kasih untuk hari ini."
Saat aku menundukkan kepala ke arah punggungnya yang menjauh, sebuah keraguan tiba-tiba melintas.
"Sampai ketemu besok"?
Besok adalah hari Sabtu dan sekolah libur. Memang ada kamp pelatihan klub astronomi, tapi anggotanya hanya tiga orang siswa dan Inou-sensei sebagai pembimbing. Tentu saja tidak ada kesempatan untuk bertemu Sayuki-san. Meski begitu, salam perpisahannya tadi terdengar seolah-olah pertemuan kami besok sudah pasti terjadi.
Saat aku mengangkat wajah, sosoknya sudah menghilang, dan aku kehilangan kesempatan untuk bertanya. Mungkin dia hanya salah bicara; Sayuki-san pun pasti bisa melakukannya. Meskipun berpikir demikian, ada sesuatu yang terasa seperti sebuah kepastian di dalam diriku.
Itu bukanlah salah bicara.
Aku merasa... aku pasti akan bertemu dengan Sayuki-san besok.





Post a Comment