Penerjemah: Flukitty
Proofreader: Flykitty
Siang Hari Para Saudari yang Akur
Suatu sore di akhir pekan.
Nukumizu
Kaju mengencangkan tali celemeknya di dapur rumahnya. Ia akan membuat camilan
pukul 15:00 sebelum Onii-sama pulang dari belanja.
Akhir-akhir
ini cuaca mulai menghangat, bagaimana kalau membuat jeli kopi──
Saat
memeriksa es di freezer, tiba-tiba bel rumah berbunyi nyaring.
Ketika
Kaju mengintip monitor interkom, di sana terlihat sosok gadis imut yang
mengenakan bando telinga binatang.
[Tanuki
Shiratama datang untuk mengerjai ketua klub~]
Tut.
Kaju dengan cepat mematikan interkom, lalu kembali ke dapur.
Baiklah,
jeli kopinya dibuat dengan espresso lalu diberi topping es krim vanila saja.
Onii-sama pasti akan senang.
Saat
Kaju sedang memilih biji kopi di rak bahan makanan, suara bel kembali
terdengar.
Menahan
napas panjang, ia berjalan ke depan monitor. Shiratama Riko terlihat tersenyum
lebar ke arah kamera.
[Mungkin
ini Kaju-chan ya? Aku datang main karena ada janji dengan ketua klub]
──Janji.
Mendengar
kata itu, jari Kaju yang hendak menekan tombol terhenti. Kalau memang ada janji
dengan Onii-sama, ia tidak bisa mengusirnya.
Malah,
daripada mereka bertemu diam-diam berdua, mungkin lebih baik membiarkan mereka
bertemu di tempat yang masih bisa dia awasi.
Setelah
membuat keputusan pahit, Kaju menekan tombol panggilan.
"Selamat
datang, Shiratama-san. Aku akan segera membukakan pintu."
◇
Duduk
rapi di sofa ruang tamu, Shiratama Riko menangkupkan kedua tangannya dengan
imut ke arah Kaju.
"Maaf
ya, Kaju-chan. Padahal hari Minggu begini."
"Kalau
tamu, aku selalu menyambut kapan saja kok. Kalau tamu."
Senyum,
senyum, senyum. Kaju meletakkan cangkir teh di depan Shiratama dengan wajah
ramah.
…Bahkan
dari sudut pandang Kaju, gadis ini memang sangat imut.
Gaun
one-piece biru muda segar yang ia kenakan sangat cocok padanya, mungkin
sebagian besar orang akan menoleh jika berpapasan dengannya.
Meski
begitu, hanya karena imut bukan berarti Onii-sama bisa diserahkan padanya.
Menurut
yang ia dengar, Shiratama Riko terus-menerus membidik kakak iparnya sendiri.
Perilaku
yang menyimpang dari norma seperti itu jelas tidak bisa dibiarkan, dan hanya
dengan itu saja sudah cukup untuk menyimpulkan dia tidak pantas untuk
Onii-sama.
"Maaf
ya, Onii-sama sampai lupa janji lalu pergi keluar. Kalau janji dengan Kaju,
pasti tidak akan seperti itu."
Dengan
wajah menyesal, Kaju duduk di sofa.
Shiratama
menggelengkan kepala seolah berkata tidak masalah.
"Tidak
kok, aku yang salah karena datang tanpa bilang apa-apa."
"Eh,
bukannya kamu punya janji dengan Onii-sama?!"
Terkejut,
Kaju menatapnya. Shiratama dengan tenang mengeluarkan sebuah bungkusan dari
tasnya.
"Aku
pernah janji dengan ketua klub, kalau aku membuat kue kering lagi, aku akan
memberikannya."
"Hah?"
…Tertipu.
Janjinya ternyata hanya soal memberikan kue kering, bukan soal datang
berkunjung ke rumah.
Saat
Kaju berpikir bagaimana cara memulangkannya, Shiratama menjulurkan lidah dengan
nakal.
"Hehe,
aku tidak sabar menunggu hari Senin, jadi langsung datang ke rumah."
"…Sudah
datang ya."
"Sudah."
Shiratama
membuka pita pada bungkusan itu dengan senyum cerah.
"Karena
sudah terlanjur, aku ingin Kaju-chan juga mencobanya. Aku membuatnya agak
serius, lho."
"Baiklah…"
Menjawab
dengan suara lemas, Kaju mengambil sepotong kue.
Kue
kecil bercampur irisan almond itu terlihat profesional dari segi penampilan.
Setelah
menghirup aromanya sebentar lalu memasukkannya ke mulut, aroma mentega yang
elegan menyebar, disusul wangi almond yang terasa di hidung.
…Kenapa
ya. Aroma mentega ini terasa familiar. Ia sendiri belum pernah menggunakannya,
tapi rasanya seperti pernah mencicipinya di suatu tempat baru-baru ini.
"Ini,
menteganya pakai apa?"
"Hmm,
kalau tidak salah tertulis Échiré dari Prancis. Harganya agak mahal sih, tapi
aku ingin ketua klub senang jadi aku sengaja beli."
"Memang
sengaja ya."
"Iya,
sengaja banget. Nih, Kaju-chan jangan sungkan."
Sambil
mengikuti sarannya, Kaju mengambil kue kedua lalu menatap permukaannya
lekat-lekat.
Kue
ini bukan hanya soal mentega. Tepung dan almond yang digunakan jelas
kualitasnya jauh berbeda dari bahan yang biasa Kaju pakai.
"Kalau
tepungnya pakai yang dari mana…?"
"Aku
pesan dari produsen luar negeri, katanya para profesional juga pakai. Aku tipe
yang mulai dari perlengkapan dulu."
Shiratama
menatap Kaju yang terdiam dengan pandangan penuh arti.
"──Mungkin
soal cinta juga begitu."
"Mulai
dari bentuknya dulu? Dalam cinta gitu?"
"Iya.
Aku mungkin tipe yang akan jadi suka setelah berpacaran."
"!?"
"Kamu
berpacaran dengan orang yang belum kamu sukai?!"
Tanpa
sadar Kaju berseru keras. Shiratama membalasnya dengan senyum dewasa.
"Cuma
urutannya saja yang berbeda, kan?"
Mengabaikan
Kaju yang kehilangan kata-kata, Shiratama mengambil cangkir teh.
"Aku
orangnya pemalu, jadi mungkin cocok dengan orang yang lebih tua dan lembut.
Menurut Kaju-chan bagaimana?"
"Shiratama-san
jago membuat kue, bagaimana kalau orang yang lebih muda saja! Pasti akan
berjalan baik!"
Shiratama
menatap langit-langit dengan wajah berpikir yang imut.
"Aku
tidak terlalu suka yang lebih muda sih. Tapi mungkin kalau sudah pacaran bisa
jadi suka ya."
"Iya!
Banyak orang yang lebih muda tapi tetap luar biasa!"
"Benar
juga. Baik lebih tua atau lebih muda, orang yang luar biasa tetap luar
biasa──seperti ketua klub."
Kaju
kembali membeku. Pura-pura tidak menyadarinya, Shiratama mengambil kue.
"Aku
senang bisa ngobrol soal cinta dengan Kaju-chan. Kuenya enak?"
"I-iya…"
Sejujurnya,
bahkan menurut Kaju hasilnya sangat bagus. Terlebih lagi bahan yang digunakan
memang berbeda.
Melihat
Kaju terdiam, Shiratama tersenyum lembut.
"Kalau
mau, kamu boleh makan semuanya kok?"
"!
Terima kasih!"
Strategi
balasan akan dipikirkan nanti. Yang penting sekarang makanan iblis ini harus
dihilangkan dari hadapan Onii-sama──
Sambil
meneguk teh, Kaju berusaha menghabiskan semua kue itu.
"Wah,
aku senang. Kaju-chan makan sebanyak ini."
"…E-enak
sekali sampai aku kebanyakan makan."
Kaju
menampilkan senyum kaku sambil melirik kotak kosong.
"Maaf
ya, jatah Onii-sama jadi habis."
"Tidak
kok, tidak masalah."
Dengan
senyum yang sama, Shiratama mengeluarkan bungkusan lain dari tasnya.
"──Aku
masih punya satu lagi."
"…………"
Kali
ini Kaju benar-benar membeku seperti es. Entah berapa lama berlalu, Shiratama
duduk kembali di samping Kaju.
"Hei,
Kaju-chan. Aku merasa kita bisa jadi akrab."
"…Sepertinya
begitu."
Tanpa
merusak senyum sempurnanya, Shiratama mengeluarkan ponselnya.
"Boleh
tukar kontak?"
"…………!"
──Shiratama
Riko. Perempuan ini tidak boleh dibiarkan bebas.
Nukumizu
Kaju, 15 tahun. Insting seorang perempuan berbicara.
"…………Ya,
dengan senang hati."
Kaju
juga menyodorkan ponselnya dengan senyum sempurna.
Saat
dua orang yang baru saja mencapai perdamaian bersejarah itu bertukar kontak
dalam diam, terdengar suara pintu depan dibuka. Onii-sama, yaitu Nukumizu
Kazuhiko, telah pulang.
Mereka
berdua segera berdiri dan berlari ke arah pintu masuk.
"Selamat
datang──"
"Onii-sama"
"Ketua
klub"



Post a Comment