NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Make Heroine ga Oosugiru Volume 8.5 Chapter 15

Penerjemah: Flukitty

Proofreader: Flykitty

Siang Hari Para Saudari yang Akur


Suatu sore di akhir pekan.

 

Nukumizu Kaju mengencangkan tali celemeknya di dapur rumahnya. Ia akan membuat camilan pukul 15:00 sebelum Onii-sama pulang dari belanja.

 

Akhir-akhir ini cuaca mulai menghangat, bagaimana kalau membuat jeli kopi──

 

Saat memeriksa es di freezer, tiba-tiba bel rumah berbunyi nyaring.

 

Ketika Kaju mengintip monitor interkom, di sana terlihat sosok gadis imut yang mengenakan bando telinga binatang.

 

[Tanuki Shiratama datang untuk mengerjai ketua klub~]

 

Tut. Kaju dengan cepat mematikan interkom, lalu kembali ke dapur.

 

Baiklah, jeli kopinya dibuat dengan espresso lalu diberi topping es krim vanila saja. Onii-sama pasti akan senang.

 

Saat Kaju sedang memilih biji kopi di rak bahan makanan, suara bel kembali terdengar.

 

Menahan napas panjang, ia berjalan ke depan monitor. Shiratama Riko terlihat tersenyum lebar ke arah kamera.

 

[Mungkin ini Kaju-chan ya? Aku datang main karena ada janji dengan ketua klub]

 

──Janji.

 

Mendengar kata itu, jari Kaju yang hendak menekan tombol terhenti. Kalau memang ada janji dengan Onii-sama, ia tidak bisa mengusirnya.

 

Malah, daripada mereka bertemu diam-diam berdua, mungkin lebih baik membiarkan mereka bertemu di tempat yang masih bisa dia awasi.

 

Setelah membuat keputusan pahit, Kaju menekan tombol panggilan.

 

"Selamat datang, Shiratama-san. Aku akan segera membukakan pintu."

 

 

Duduk rapi di sofa ruang tamu, Shiratama Riko menangkupkan kedua tangannya dengan imut ke arah Kaju.

 

"Maaf ya, Kaju-chan. Padahal hari Minggu begini."

 

"Kalau tamu, aku selalu menyambut kapan saja kok. Kalau tamu."

 

Senyum, senyum, senyum. Kaju meletakkan cangkir teh di depan Shiratama dengan wajah ramah.

 

…Bahkan dari sudut pandang Kaju, gadis ini memang sangat imut.

 

Gaun one-piece biru muda segar yang ia kenakan sangat cocok padanya, mungkin sebagian besar orang akan menoleh jika berpapasan dengannya.

 

Meski begitu, hanya karena imut bukan berarti Onii-sama bisa diserahkan padanya.

 

Menurut yang ia dengar, Shiratama Riko terus-menerus membidik kakak iparnya sendiri.

 

Perilaku yang menyimpang dari norma seperti itu jelas tidak bisa dibiarkan, dan hanya dengan itu saja sudah cukup untuk menyimpulkan dia tidak pantas untuk Onii-sama.

 

"Maaf ya, Onii-sama sampai lupa janji lalu pergi keluar. Kalau janji dengan Kaju, pasti tidak akan seperti itu."

 

Dengan wajah menyesal, Kaju duduk di sofa.

 

Shiratama menggelengkan kepala seolah berkata tidak masalah.

 

"Tidak kok, aku yang salah karena datang tanpa bilang apa-apa."

 

"Eh, bukannya kamu punya janji dengan Onii-sama?!"

 

Terkejut, Kaju menatapnya. Shiratama dengan tenang mengeluarkan sebuah bungkusan dari tasnya.

 

"Aku pernah janji dengan ketua klub, kalau aku membuat kue kering lagi, aku akan memberikannya."

 

"Hah?"

 

…Tertipu. Janjinya ternyata hanya soal memberikan kue kering, bukan soal datang berkunjung ke rumah.

 

Saat Kaju berpikir bagaimana cara memulangkannya, Shiratama menjulurkan lidah dengan nakal.

 

"Hehe, aku tidak sabar menunggu hari Senin, jadi langsung datang ke rumah."

 

"…Sudah datang ya."

 

"Sudah."

 

Shiratama membuka pita pada bungkusan itu dengan senyum cerah.

 

"Karena sudah terlanjur, aku ingin Kaju-chan juga mencobanya. Aku membuatnya agak serius, lho."

 

"Baiklah…"

 

Menjawab dengan suara lemas, Kaju mengambil sepotong kue.

 

Kue kecil bercampur irisan almond itu terlihat profesional dari segi penampilan.

 

Setelah menghirup aromanya sebentar lalu memasukkannya ke mulut, aroma mentega yang elegan menyebar, disusul wangi almond yang terasa di hidung.

 

…Kenapa ya. Aroma mentega ini terasa familiar. Ia sendiri belum pernah menggunakannya, tapi rasanya seperti pernah mencicipinya di suatu tempat baru-baru ini.

 

"Ini, menteganya pakai apa?"

 

"Hmm, kalau tidak salah tertulis Échiré dari Prancis. Harganya agak mahal sih, tapi aku ingin ketua klub senang jadi aku sengaja beli."

 

"Memang sengaja ya."

 

"Iya, sengaja banget. Nih, Kaju-chan jangan sungkan."

 

Sambil mengikuti sarannya, Kaju mengambil kue kedua lalu menatap permukaannya lekat-lekat.

 

Kue ini bukan hanya soal mentega. Tepung dan almond yang digunakan jelas kualitasnya jauh berbeda dari bahan yang biasa Kaju pakai.

 

"Kalau tepungnya pakai yang dari mana…?"

 

"Aku pesan dari produsen luar negeri, katanya para profesional juga pakai. Aku tipe yang mulai dari perlengkapan dulu."

 

Shiratama menatap Kaju yang terdiam dengan pandangan penuh arti.

 

"──Mungkin soal cinta juga begitu."

 

"Mulai dari bentuknya dulu? Dalam cinta gitu?"

 

"Iya. Aku mungkin tipe yang akan jadi suka setelah berpacaran."

 

"!?"

 

"Kamu berpacaran dengan orang yang belum kamu sukai?!"

 

Tanpa sadar Kaju berseru keras. Shiratama membalasnya dengan senyum dewasa.

 

"Cuma urutannya saja yang berbeda, kan?"

 

Mengabaikan Kaju yang kehilangan kata-kata, Shiratama mengambil cangkir teh.

 

"Aku orangnya pemalu, jadi mungkin cocok dengan orang yang lebih tua dan lembut. Menurut Kaju-chan bagaimana?"

 

"Shiratama-san jago membuat kue, bagaimana kalau orang yang lebih muda saja! Pasti akan berjalan baik!"

 

Shiratama menatap langit-langit dengan wajah berpikir yang imut.

 

"Aku tidak terlalu suka yang lebih muda sih. Tapi mungkin kalau sudah pacaran bisa jadi suka ya."

 

"Iya! Banyak orang yang lebih muda tapi tetap luar biasa!"

 

"Benar juga. Baik lebih tua atau lebih muda, orang yang luar biasa tetap luar biasa──seperti ketua klub."

 

Kaju kembali membeku. Pura-pura tidak menyadarinya, Shiratama mengambil kue.

 

"Aku senang bisa ngobrol soal cinta dengan Kaju-chan. Kuenya enak?"

 

"I-iya…"

 

Sejujurnya, bahkan menurut Kaju hasilnya sangat bagus. Terlebih lagi bahan yang digunakan memang berbeda.

 

Melihat Kaju terdiam, Shiratama tersenyum lembut.

 

"Kalau mau, kamu boleh makan semuanya kok?"

 

"! Terima kasih!"

 

Strategi balasan akan dipikirkan nanti. Yang penting sekarang makanan iblis ini harus dihilangkan dari hadapan Onii-sama──

 

Sambil meneguk teh, Kaju berusaha menghabiskan semua kue itu.

 

"Wah, aku senang. Kaju-chan makan sebanyak ini."

 

"…E-enak sekali sampai aku kebanyakan makan."

 

Kaju menampilkan senyum kaku sambil melirik kotak kosong.

 

"Maaf ya, jatah Onii-sama jadi habis."

 

"Tidak kok, tidak masalah."

 

Dengan senyum yang sama, Shiratama mengeluarkan bungkusan lain dari tasnya.

 

"──Aku masih punya satu lagi."




"…………"

 

Kali ini Kaju benar-benar membeku seperti es. Entah berapa lama berlalu, Shiratama duduk kembali di samping Kaju.

 

"Hei, Kaju-chan. Aku merasa kita bisa jadi akrab."

 

"…Sepertinya begitu."

 

Tanpa merusak senyum sempurnanya, Shiratama mengeluarkan ponselnya.

 

"Boleh tukar kontak?"

 

"…………!"

 

──Shiratama Riko. Perempuan ini tidak boleh dibiarkan bebas.

 

Nukumizu Kaju, 15 tahun. Insting seorang perempuan berbicara.

 

"…………Ya, dengan senang hati."

 

Kaju juga menyodorkan ponselnya dengan senyum sempurna.

 

Saat dua orang yang baru saja mencapai perdamaian bersejarah itu bertukar kontak dalam diam, terdengar suara pintu depan dibuka. Onii-sama, yaitu Nukumizu Kazuhiko, telah pulang.

 

Mereka berdua segera berdiri dan berlari ke arah pintu masuk.

 

"Selamat datang──"

 

"Onii-sama"

 

"Ketua klub"



Previous Chapter | Next Chapter

0

Post a Comment

close