NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Make Heroine ga Oosugiru Volume 8.5 Chapter 1

Penerjemah: Flykitty

Proffreader: Flykitty

Targetnya Kulit Sawo Matang

Festival olahraga sudah berakhir, dan event besar terakhir semester satu──ujian akhir semester sudah tinggal seminggu lagi.

 

Sepulang sekolah, aku berjalan menuju gedung barat sambil tenggelam dalam pikiran.

 

Nilai yang terus menurun, sikap Yanami yang entah kenapa terasa semakin ketus, Komari yang diam-diam sering menghubungi seseorang, Kaju yang setengah tidur dan menyelinap masuk ke dalam futon──belakangan ini, terlalu banyak hal yang mengganggu pikiranku.

 

Belum lagi soal pengakuan Tiara-san, bukankah dalam pandangan umum situasinya bisa disebut sebagai "cadangan".

 

…Tapi, yang menunda keputusan itu justru dari pihak sana, jadi aku tidak salah, kan. Iya.

 

Walaupun kekhawatiran tidak ada habisnya, aku menyingkirkannya sejenak dan mempercepat langkah.

 

Aku sudah berjanji akan belajar untuk ujian bersama Yanami dan Komari di ruang klub sastra.

 

"Nukumizu-san, apakah ini klub sastra?"

 

Yang menyapaku dengan nada suara agak melayang adalah ketua OSIS SMA Tsuwabuki, Basori Tiara.

 

Ia berlari kecil hingga sejajar denganku, lalu mulai berjalan menyesuaikan langkah.

 

Kemunculannya yang tiba-tiba membuatku sedikit terkejut, tapi aku berpura-pura tenang dan membuka mulut.

 

"Ah, aku berniat belajar untuk ujian sebentar di ruang klub. Basori-san mau ke OSIS?"

 

"Hari ini Hokobaru-senpai dan Shikiya-senpai akan membantu mengajariku belajar."

 

Tiara-san berkata dengan gembira sambil memeluk tas di depan dadanya.

 

"Kalau dua orang itu sih pasti meyakinkan. Sepertinya lebih bisa diandalkan daripada aku."

 

"Benar. Tidak seperti seseorang, mereka tidak akan menyuruhku memakai telinga kucing."

 

Itu kan dia sendiri yang melakukannya, dan kalau Shikiya-san, mungkin tidak berhenti hanya di telinga kucing.

 

Aku hendak membalas, tapi karena ada siswa yang berjalan dari arah depan, entah kenapa aku jadi terdiam.

 

"Ada apa? Tiba-tiba jadi diam."

 

"Bukan, cuma… ada siswa lain."

 

Mendengar jawabanku, Tiara-san sedikit membasahi bibirnya.

 

"──Apa kau berniat mengatakan sesuatu yang tidak boleh didengar orang lain?"

 

"…Basori-san, bukankah yang barusan kau katakan juga tidak pantas didengar orang lain?"

 

Sambil mendengar tawa kecil Tiara-san, aku menghentikan langkah. Untuk menuju gedung barat tempat ruang klub berada, dari sini harus melewati koridor penghubung.

 

"Kalau begitu, aku sampai sini saja."

 

"Kalau tidak keberatan, Nukumizu-san mau ikut bersama?"

 

Belajar bersama duo senior kelas tiga mantan OSIS, ya. Jujur saja, terdengar cukup menggoda.

 

"Eh, aku sudah ada janji."

 

"Ara, aku ditolak."

 

Dengan nada bercanda, Tiara-san tiba-tiba mendekatkan wajahnya.

 

"…Ngomong-ngomong, belakangan ini kau tidak memanggilku dengan nama depanku, ya."

 

"Hah?"

 

Saat aku terdiam, ia tertawa kecil di dekat telingaku lalu berbalik.

 

"Kalau begitu aku juga pamit. Mari sama-sama berusaha untuk ujian."

 

"Ah, iya."

 

Tiara-san melambaikan tangan kecil lalu berbalik pergi. Sambil membalas lambaian tangannya, aku memikirkan perubahan perasaanku belakangan ini.

 

──Pengakuan.

 

Meskipun masih tertunda, sebuah peristiwa yang sangat mengguncang hubungan antara aku dan Tiara-san sudah terjadi.

 

Sejak itu, dia sering mengajakku berbicara sebagai teman, tapi bahkan dalam percakapan biasa seperti sebelumnya, aku merasakan sedikit perubahan dalam hatiku.

 

──Bahwa orang itu menyukaiku.

 

Hanya fakta itu saja sudah membuat jarak perasaan kami terasa lebih dekat.

 

Singkatnya.

 

Berbicara dengan seseorang yang menyukaimu, ternyata cukup menyenangkan.

 

 

Saat membuka buku catatan di ruang klub sastra, aku menarik napas dalam-dalam untuk memompa semangat.

 

Aku sebenarnya tidak terlalu suka sistem belajar kelompok yang tidak efisien, tapi aku tidak boleh terlihat seperti kabur.

 

Terutama karena Komari mengalahkanku dalam peringkat ujian kemampuan beberapa waktu lalu, aku butuh alasan bahwa aku benar-benar sudah belajar untuk mengantisipasi kekalahan berikutnya──

 

Belum lama mulai belajar, Komari yang sedang mengobrak-abrik tasnya memanggilku.

 

"Nu, Nukumizu, kau bawa buku referensi sejarah dunia?"

 

"Ah, ada di sini. Tapi bukannya sejarah dunia jadwalnya di bagian akhir?"

 

Komari merebut buku referensiku sambil menatap dengan ekspresi seolah tak percaya.

 

"Ca, cakupan ujian kali ini bukan main. Kalau cuma sistem kebut semalam, tamat kita."

 

"Eh, separah itu?"

 

Saat aku mencoba mengambil kembali buku itu secara santai, Komari dengan cepat menjauhkannya.

 

"Yanami-san, kau bawa buku referensi sejarah dunia?"

 

Karena tidak ada pilihan lain, aku mencoba mengalihkan topik, tapi Yanami tidak ada di tempat duduknya tadi.

 

Ia membuka pintu kulkas yang ada di sudut ruang klub dan menatap isinya tanpa berkedip.

 

"Yanami-san. Jangan biarkan pintu kulkas terbuka."

 

"…Puding."

 

Setelah bergumam, Yanami kembali membeku.

 

Keberhasilan dietnya saat insiden Shiratama kini hanya tinggal kenangan, dan Yanami kembali memasuki periode diet entah yang keberapa tahun ini.

 

Diet kali ini berdasarkan teori bahwa melihat makanan akan menipu tubuh sehingga metabolisme meningkat. Setidaknya dia sudah berhenti bilang bisa kurus dengan makan, terasa ada sedikit perkembangan.

 

"Kalau sudah melihat sebanyak itu, mungkin malah tubuhmu tidak sadar walaupun dimakan, jadi tidak bikin gemuk."

 

"Tetap bikin gemuk. Sini, duduk."

 

Yanami ternyata tidak berkembang.BSambil menghela napas, Yanami menutup pintu kulkas.

 

"Nukumizu-kun, bukannya cakupan ujian kali ini terlalu luas? Waktu kelas satu kita sudah belajar segitu banyak, apa tidak mungkin keluar lagi soal yang sama?"

 

"Kalau keluar lagi, bukannya itu berarti kita tinggal kelas?"

 

Mungkin aku memang seharusnya pergi ke ruang OSIS saja.

 

Penyesalan memang datang belakangan, tapi memang benar cakupan ujian jadi lebih luas sejak naik ke kelas dua. Aku juga bisa mengerti kenapa Yanami menatap puding di kulkas seperti itu.

 

"Ngomong-ngomong, kamu tidak mengajak Shiratama-san?"

 

"Katanya ada sesi belajar di ruang OSIS."

 

Yanami menatapku tajam.

 

"…Jangan-jangan, kau sebenarnya ingin belajar bersama Shiratama-chan?"

 

"Bukan begitu, tapi Shiratama-san sering mengambilkan penghapusku."

 

"Tolong jangan mencampur urusan pribadi dan publik. Kau ingin mengajari adik kelas yang imut lalu memamerkan sisi kerenmu, kan?"

 

"Oh, jadi mengajari belajar terlihat keren, ya."

 

"…Nukumizu-kun, belakangan ini kau kurang punya kesadaran sebagai ketua klub, ya?"

 

Brak. Yanami duduk di kursi seberangku.

 

"Dengar ya, bersikap manja pada adik kelas perempuan, dikelilingi perempuan di ruang OSIS sambil bersikap manja, itu melanggar entah apa sebagai perwakilan klub sastra. Tidak bisa dibiarkan."

 

"Dua-duanya berhubungan dengan Shiratama-san, kan. Mengurus junior klub memang tugas senior."

 

"Ya, mungkin sih."

 

Tok tok tok. Yanami mulai mengetuk meja dengan ujung jarinya.

 

Setelah ragu sejenak, Yanami membuka mulut sambil memalingkan pandangan.

 

"Ngomong-ngomong… Nukumizu-kun, belakangan ini hubunganmu dengan Basori-san bagaimana?"

 

"Hah, bagaimana maksudnya?"

 

Kenapa tiba-tiba jadi ke situ…?

 

Seharusnya tidak ada yang tahu bahwa aku pernah menerima pengakuan dari Tiara-san. Area pengaruh Kolam Oike Mukaiyama saja bahkan tidak mencakup Kaju dan Asagumo-san, tidak mungkin Yanami tahu.

 

"Pemilihan OSIS juga sudah selesai, jadi paling cuma sesekali ngobrol sebentar."

 

Aku meminum teh dingin sambil berusaha menyembunyikan kegugupanku.

 

"Lagipula, belakangan ini kau tidak memanggil Basori-san dengan nama depannya, kan?"

 

"Entahlah."

 

Tok tok tok tok. Kecepatan jari yang mengetuk meja semakin meningkat.

 

Kenapa aku seperti sedang mendapat tekanan dari Yanami, dan kenapa aku jadi segugup ini?

 

Saat aku menatapnya untuk melawan ketidakadilan ini, tatapanku bertabrakan dengan mata Yanami yang terlihat kesal.

 

"Ada apa?"

 

"Bukan, teh ini enak sekali."

 

…Tidak bagus, aku benar-benar terintimidasi.

 

Saat aku menatap cangkir teh yang sudah kosong, terdengar suara buku ditutup dengan keras.

 

"Ka, kalian berdua, belajar."

 

"…Iya."

 

Kata-kata Komari yang masuk akal itu membuatku tanpa sadar ikut menyahut.

 

Memang benar, ini bukan saatnya melakukan hal seperti ini.

 

Baru saja aku kembali belajar sambil menghindari tatapan Komari, pintu ruang klub tiba-tiba terbuka dengan keras.

 

"Ada Lemon?!"

 

Bersamaan dengan teriakan itu, seorang siswi dengan rambut pendek ponytail masuk menyerbu.

 

Eh… orang ini siapa ya──ketua klub atletik putri, Kurata, bukan?

 

Setelah menyapu pandangan ke seluruh ruang klub, Ketua Kurata menurunkan bahunya dengan kecewa.

 

"Lho? Kupikir di sini, aneh ya."

 

"………………"

 

Sambil melirik kami yang terdiam, Ketua Kurata menempelkan tangan ke dahinya dan menatap langit-langit.

 

"Aduh, ke mana dia pergi ya…"

 

Lirik… lirik… Ketua Kurata menatap kami dengan sengaja.

 

…Ini tipe yang tidak bisa lanjut kalau tidak memilih perintah "ajak bicara".

 

"Eh, ada apa ya?"

 

Saat aku mewakili untuk bertanya, Ketua Kurata mengangkat bahu besar-besar.

 

"Ujian akhir sudah dekat, kan? Seluruh klub atletik putri lagi mengadakan persiapan ujian buat Lemon."

 

"…Dia kabur?"

 

Ketua Kurata mengangguk pelan.

 

"Yah, Yakishio memang selalu begitu sih. Kalau dapat nilai merah, bukannya ada kelas tambahan?"

 

"Iya, kalau nilainya seperti biasa, sudah dijadwalkan kelas tambahan khusus──selama liburan musim panas, intens sekali."

 

Kalau begitu syukurlah. Dengan begitu Yakishio bisa tenang mendapatkan nilai merah──

 

"…Eh, bukannya inter-high Yakishio itu…"

 

"Musim panas."

 

Berarti Yakishio tidak bisa ikut inter-high…?

 

Ketua Kurata, ini bukan waktunya memasang wajah bangga di tempat seperti ini.

 

"Aku sudah mengerti situasinya, tapi jangan-jangan kalian ingin kami…"

 

"Benar! Mau bantu menangkap Lemon tidak?!"

 

Ketua Kurata menepukkan kedua tangannya.

 

"Beberapa kali sudah ketemu, tapi dia selalu berhasil kabur. Kalau anak-anak klub sastra, mungkin dia lengah, ada peluang kan?"

 

Jangan bilang seperti sedang menangkap kucing liar begitu.

 

"Eh, aku harus tanya pendapat anggota lain juga…"

 

"Kalau bantu, aku kasih yokan (manisan), yang dari Kinuyo. Kalau berhasil menangkap, tambah satu lagi."

 

"Ya, aku bantu!"

 

Yanami mengangkat tangan dengan semangat. Kalau sudah begini, tidak bisa dihentikan.

 

Saat aku dan Komari menghela napas bersamaan, sesuatu berkilau di sudut pandangku.

 

Di balik pintu yang terbuka lebar, di lorong, yang dahinya berkilau mencurigakan adalah──wanita yang dilarang masuk klub sastra, Asagumo Chihaya.

 

"…Asagumo-san, kau dengar ya?"

 

"Iya, aku dengar."

 

Asagumo-san mengulurkan kartu nama ke arah Ketua Kurata dari luar pintu.

 

"Kurata-senpai dari klub atletik putri, ya."

 

"Penyelesai masalah yang berkilau, penasihat investigasi Tsuwabuki…?"

 

Wajar saja bingung. Siswi asing dengan mata dan dahi bersinar karena rasa penasaran tiba-tiba memberikan kartu nama aneh.

 

Aku berdehem lalu berdiri di antara Kurata-senpai dan Asagumo-san.

 

"Kurata-senpai, bagaimana kalau meminjam bantuan pihak luar untuk urusan pribadi seperti ini?"

 

"Tapi anak ini ada hubungan dengan klub sastra, kan?"

 

Eh, dari mana rumor hitam seperti itu muncul?

 

Melihat ekspresiku yang terkejut, Ketua Kurata menunjukkan kartu nama itu.

 

"Lihat, di sini tertulis klien utama OSIS dan klub sastra."

 

…Memang bukan kebohongan. Kalau terlibat dengan organisasi semi-abu-abu seperti itu, bekas lukanya akan terus menempel.

 

Melihatku kehabisan kata, Asagumo-san melangkahkan kaki kanannya masuk ke ruang klub.

 

"Lemon-san juga teman penting bagiku. Aku tidak akan memungut bayaran."

 

"Itu sangat membantu, tapi bagaimana cara mencarinya?"

 

Mendengar itu, Asagumo-san tersenyum lalu menarik kaki kirinya juga masuk ke ruang klub.

 

"Aku punya ide. Pertama, silakan lihat layar ini."

 

Smartphone yang dikeluarkan Asagumo-san menampilkan denah SMA Tsuwabuki.

 

Yanami yang sebelumnya pura-pura tidak peduli, kini mengintip layar dengan tertarik.

 

"Asagumo-san, dengan ini bisa tahu lokasi Lemon-chan?"

 

"Iya, kita bisa menghitung probabilitas dengan AI."

 

Asagumo-san mulai menjelaskan dengan penuh semangat.

 

"Setiap orang punya ritme dan gelombang langkah kaki yang berbeda. Berdasarkan itu, kita bisa memperkirakan Lemon-san berada di bagian mana dari gedung sekolah."

 

Aku penasaran kenapa dia bisa mendengar suara seluruh sekolah, tapi tidak kuucapkan. Aku juga menyayangi keselamatanku sendiri.

 

"Warna merah yang lebih pekat di peta menunjukkan lokasi dengan probabilitas keberadaan Lemon-san lebih tinggi."

 

"Kalau begini bukannya Lemon-chan jadi lima orang? Dia bertambah?"

 

Mendengar pertanyaan Yanami, Asagumo-san menempelkan ujung jarinya ke dagu dan memiringkan kepala dengan imut.

 

"Memang kalau hanya informasi suara, akurasinya sulit meningkat. Karena itu…"

 

Asagumo-san berbalik ke Ketua Kurata yang masih terdiam.

 

"Aku ingin seluruh anggota klub atletik putri mendaftarkan laporan penampakan Lemon-san."

 

"Cuma daftar saja sudah cukup?"

 

"Iya. Dengan itu probabilitasnya akan menyempit, dan kita bisa memperkirakan lokasi Lemon-san dengan akurasi tinggi. Ditambah lagi, analisis pola suara secara real-time oleh AI akan meningkatkan akurasi, sehingga kita bisa mempersempit pengepungan dan menangkap Lemon-san."

 

Ketua Kurata membelalakkan mata dengan kagum.

 

"Wah, hebat! Cara mendaftarnya bagaimana?"

 

Melihat reaksinya, dahi Asagumo-san berkilau tajam.

 

"Pertama, seluruh anggota klub atletik putri harus menginstal aplikasi ini!"

 

"Mengerti!"

 

Lebih baik tidak. Serius.

 

Aku berpikir begitu tapi tidak mengatakannya. Dan Yanami, jangan keluarkan ponselmu.

 

Saat aku dan Komari berusaha menghentikan Yanami, para korban terus terjerat.

 

"Eh, muncul tulisan ‘Aplikasi ini belum terverifikasi keamanannya’."

 

"Tidak perlu dipikirkan, tekan ‘ya’ saja."

 

"Diminta izin terhubung dengan banyak aplikasi lain."

 

"Tidak perlu dipikirkan, tekan ‘ya’ saja."

 

"Oh, begitu ya. Nanti aku bilang juga ke anak-anak klub atletik putri."

 

Aku hanya bisa menyaksikan tanpa daya saat klub atletik putri dijajah.

 

Walaupun begitu, setidaknya klub sastra berhasil selamat. Saat aku menghela napas lega, Yanami menunjukkan ponselnya dengan kagum.

 

"Nukumizu-kun, ini hebat. Katanya bisa tahu lokasi Lemon-chan secara real-time."

 

"Yanami-san, kau menginstalnya?!"

 

"A, aku sudah mencoba menghentikannya!"

 

Menghadapi kepanikan kami, Asagumo-san tersenyum manis.

 

"Ayo, semua juga mari menangkap Lemon-san bersama!"

 

 

Dengan Asagumo-san sebagai ahli strategi, serangan klub atletik putri dimulai.

 

Laporan penampakan Yakishio dari para anggota terus bermunculan di aplikasi, membuat lokasi persembunyiannya semakin terfokus.

 

Sementara itu, aku berjalan di lorong gedung barat sambil mengintip ponsel bersama Yanami.

 

Perintah dari ahli strategi Asagumo kepada kami adalah bergerak terpisah dari klub atletik putri. Mendekat dengan berpura-pura kebetulan, membuatnya lengah, lalu mengamankan target.

 

Sebagai catatan, Komari tetap di ruang klub untuk belajar ujian. Dia benar-benar mengambil jalan pintas.

 

"Aplikasi virus ini──eh, maksudku aplikasi ini, sepertinya benar-benar bisa melacak lokasi Yakishio."

 

"Kau ini curiga sekali. Nukumizu-kun tidak punya hati untuk percaya pada orang."

 

Yang merampas hatiku untuk percaya itu justru kau.

 

Aku mengalihkan pikiran lalu melihat peta di aplikasi. Lokasi dengan probabilitas tertinggi Yakishio berada di halaman tengah.

 

"Baiklah, mari kita coba menangkap Lemon-chan."

 

"Tidak mungkin, kan? Bahkan anak-anak klub atletik saja tidak bisa menangkapnya."

 

Mendengar pendapat masuk akalku, Yanami mengangkat bahu seolah menyerah.

 

"Kalau melawan kita Lemon-chan bakal lengah, dan aku punya strategi yang benar-benar matang."

 

──Strategi Yanami adalah seperti ini.

 

Pertama, Yanami akan menemukan Yakishio dan mengajaknya bicara. Karena Yakishio pasti tidak menyangka Yanami adalah penyergap, dia pasti akan lengah.

 

Setelah jarak cukup dekat, aku akan menyelinap dari belakang dan menjepitnya. Kurasa kemungkinan besar tidak akan berhasil.

 

"Bagaimana kalau strategi ini dipikirkan lagi? Yakishio itu seperti hewan liar, lho."

 

"Bisa kok, belakangan kondisi lututku juga bagus."

 

Yanami mulai melakukan peregangan di tempat.

 

"Lututmu bunyi krek-krek."

 

"Itu seperti getaran semangat sebelum bertarung. Ayo, saatnya dapat yokan!"

 

Dengan senyum penuh percaya diri, Yanami mengacungkan jempol ke arahku.

 

 

Yanami bersandar lemas pada mesin penjual otomatis dengan kaki yang goyah.

 

"Tu… tunggu sebentar…"

 

"Ah iya. Istirahat saja pelan-pelan."

 

Pengumuman hasil. Seperti dugaan, gagal total.

 

Kami sempat melihat Yakishio dua kali, tapi bahkan mendekatinya saja mustahil karena Yakishio bergerak dengan kecepatan tinggi.

 

Yanami sudah benar-benar menyerah, entah kenapa sekarang malah minum cola.

 

"Bukannya kau sedang diet ya?"

 

"Nukumizu-kun, ada teori bahwa mengkonsumsi kalori secukupnya saat berolahraga membantu pembakaran lemak. Artinya, satu tegukan ini adalah jalan menuju tubuh ideal."

 

Ia berkata begitu lalu meneguk cola dengan mantap. Begitu ya, zaman sekarang definisi tubuh ideal memang beragam.

 

Saat aku mengangguk sendirian, angin berkulit sawo matang berlari melewati depan mataku. Itu Yakishio dengan seragam sekolah.

 

"Tunggu!"

 

"Dia ke sana!"

 

"Anak kelas satu, hentikan dengan sekuat tenaga!"

 

Setelahnya, para elit klub atletik putri mengejarnya.

 

…Cepat sekali. Kami dari klub sastra sama sekali tidak bisa menandinginya.

 

"Yanami-san, sepertinya lebih baik kita menunggu di suatu tempat untuk menyergap."

 

"…Puding."

 

Yanami tiba-tiba mengucapkan kata misterius.

 

"Ada apa? Kau melihat halusinasi?"

 

"Tidak. Aku cuma berpikir sekarang adalah waktu yang tepat untuk makan puding di ruang klub."

 

"Bukannya bukan sekarang ya? Gula dalam tubuhmu sudah cukup, kan."

 

Yanami melempar kaleng cola kosong ke tempat sampah.

 

"Setelah berlari, metabolisme tubuh sedang dalam golden time. Kalau sekarang, tidak akan bikin gemuk, malah mungkin sekalian bisa sedikit kurus."

 

"Begitu ya…"

 

Kurasa Yanami bahkan belum berlari 50 meter, tapi dalam diet, motivasi memang penting.

 

Aku pun dengan senang hati melepas Yanami, lalu memandangi halaman tengah sambil berpikir.

 

Aku memang meminjam ponsel Yanami yang sudah terinfeksi virus, tapi Yakishio sepertinya berhasil lolos dari pengejaran klub atletik putri.

 

Yakishio di peta kembali berubah menjadi kabut probabilitas keberadaan, menyebar di sekitar tiga titik di dalam sekolah.

 

"Sepertinya kita lihat situasi dulu…"

 

"Oh, Nukumizu. Anak-anak yang lari-larian itu apa sih?"

 

Yang menyapaku dengan wajah heran adalah Amanatsu-sensei.

 

Aku terseret berurusan dengan orang yang merepotkan, tapi bagaimanapun dia wali kelasku. Tidak bisa kuabaikan begitu saja.

 

"Eh, Yakishio kabarnya kabur dari sesi belajar. Klub atletik putri sedang mengejarnya."

 

"Jadi itu penyebab keributan ini ya. Yakishio memang tidak berubah."

 

Sambil melihat para siswi berlari-larian, Amanatsu-sensei menghela napas kesal.

 

"Sensei, tidak bisa memberi pengecualian kelas tambahan setidaknya di hari inter-high?"

 

"…Hmm, Nukumizu. Kalian ini apa?"

 

Pertanyaan macam apa itu. Apa dia sedang mengalami krisis usia menikah lalu tenggelam dalam filosofi?

 

"Eh, maksudnya seperti manusia adalah makhluk yang berpikir, begitu?"

 

"Bukan. Kalian ini pelajar, kan? Paham tidak kalau tugas utama pelajar itu belajar?"

 

Jarang-jarang dia bicara masuk akal. Amanatsu-sensei melambaikan tangannya.

 

"Kalau dimanja di sini lalu malah tinggal kelas, itu lebih parah lagi. Lagi pula, dia bisa naik ke kelas dua saja sudah seperti keajaiban."

 

"Kalau begitu sensei, maukah mengajari Yakishio belajar?"

 

"Mengajari Yakishio… belajar ya…"

 

Tiba-tiba Amanatsu-sensei menatap jauh.

 

"Ya… kalau ada kesempatan. Aku sibuk dulu ya."

 

Amanatsu-sensei buru-buru hendak pergi.

 

"Eh, tidak mau mengajarinya?"

 

"Yah, dia kan bukan murid kelasku."

 

Memang benar sih, tapi beginikah orang dewasa…? Seolah menyadari isi hatiku, Amanatsu-sensei buru-buru menggeleng.

 

"Soalnya tahun lalu benar-benar melelahkan, tahu?! Dia pikir Kekaisaran Romawi masih ada!"

 

Pantas saja sensei menolak.

 

Tidak ada pilihan. Aku memasang ekspresi serius lalu mengangguk pelan.

 

"──Begitu ya. Kali ini sepertinya dia terutama bermasalah di sejarah dunia."

 

"Eh, serius?"

 

"Iya. Walaupun pelajaran lain aman, kalau gara-gara sejarah dunia sampai memengaruhi inter-high──itu akan merusak reputasi, bukan?"

 

"He, hei, jangan mengancam begitu."

 

Tanpa menghiraukan wajah gelisah Amanatsu-sensei, aku melanjutkan.

 

"Ngomong-ngomong, Tsuwabuki terkenal punya asosiasi alumni yang kuat, ya. Bukannya sekitar September ada rapat laporan kompetisi olahraga SMA?"

 

"…………"

 

Setelah berpikir sejenak, Amanatsu-sensei tiba-tiba menunjuk sekelompok siswa laki-laki yang berkumpul di halaman tengah.

 

"Hei, klub tenis meja di sana! Kumpulkan anggota kalian! Kita tangkap Yakishio!"

 

Amanatsu-sensei berlari pergi sambil melambaikan tangan dengan keras.

 

Perkembangannya sedikit berbeda dari yang kuharapkan, tapi setidaknya jaring pengepungan Yakishio semakin diperkuat.

 

Tapi itu klub tenis meja putra. Siswa laki-laki yang menangkap Yakishio… laki-laki…

 

"…Mungkin aku juga harus membantu sedikit."

 

Entah kenapa aku merasa gelisah, jadi aku mengambil ponsel Yanami dan menuju lokasi penampakan terbaru.

 

 

Di lantai satu gedung baru, klub atletik putri hampir menyelesaikan pengepungan Yakishio.

 

Di bawah arahan Ketua Kurata, tim berpasangan ditempatkan di titik-titik penting.

 

Yakishio kabarnya berada di lantai paling atas, lalu klub tenis meja putra akan mengusirnya turun ke bawah, dan klub atletik putri yang menunggu di lantai satu akan menangkapnya.

 

Singkatnya, seperti perburuan dengan cara menggiring mangsa. Kalau yang menangkap siswi, tidak perlu khawatir, malah enak dipandang.

 

Saat aku memandangi para anggota klub atletik putri yang berteriak memastikan posisi, Ketua Kurata berdiri di sampingku.

 

"Oh, Nukumizu-kun juga datang ke sini."

 

Ketua Kurata tidak mengenakan seragam sekolah, melainkan seragam atletik. Entah kenapa dia terlihat lebih dapat diandalkan dari biasanya.

 

"Halo. Dengan pakaian begitu, apakah akan berlari serius?"

 

"Ya, soalnya aku garis pertahanan terakhir. Aku harus benar-benar menangkap Lemon."

 

Tapi orang ini lebih lambat dari Yakishio, kan…?

 

Saat aku ragu apakah boleh mengatakannya, Ketua Kurata menggelengkan jari ke arahku.

 

"Lemon pakai seragam dan sepatu dalam ruangan, tahu? Lagi pula dia sudah kabur selama satu jam, pasti kelelahan di puncaknya. Maaf, tapi ini jelas bukan pertandingan seimbang."

 

Ketua Kurata terlihat sangat percaya diri. Mungkin dia sudah menerima perpindahan Yakishio ke nomor jarak menengah dan memulai langkah baru.

 

"Akhir-akhir ini bagaimana kegiatan klub senpai?"

 

"Aku ikut kompetisi SMA di nomor 800 meter. Yah, di Tsuwabuki sih, selain Lemon, aku tidak merasa akan kalah."

 

Melihat senyum cerah tanpa keraguan itu, pipiku pun ikut mengendur.

 

"Begitu ya. Karena aku tidak melihat senpai di turnamen, aku sempat bertanya-tanya."

 

"…Soalnya aku kalah di kualifikasi Higashi Mikawa."

 

Ah, aku menginjak ranjau.

 

Saat kami terdiam dalam suasana canggung, tangga di atas mulai ramai.

 

"Ketua! Lemon sudah turun!"

 

Ketua Kurata menepuk kedua pipinya.

 

"Baik, semuanya, kita selesaikan di sini!"

 

"Ooooh!"

 

Teriakan klub atletik putri menggema di lorong.

 

Pertarungan sia-sia ini akhirnya akan segera berakhir──

 

 

Lantai satu gedung baru kini sunyi senyap.

 

Yang ada di sini hanya aku dan──Ketua Kurata yang berjongkok sambil memeluk lutut di balik pilar.

 

"Kakiku terpeleset… sungguh…"

 

"Iya, masuk akal. Soalnya belum lama ini lantainya baru dipoles lilin."

 

Yakishio berhasil menghindari semua serangan bergelombang dari klub atletik putri dan berhasil mencapai lantai satu.

 

Lalu, setelah dengan santai melewati Ketua Klub Kurata yang sudah menunggunya di sana, dia kembali menghilang.

 

Singkatnya, kemenangan instan.

 

"Karena di lorong, sepatu spike-ku nggak cocok ya… aduh, salah perhitungan…"

 

"Benar juga. Mau makan Black Thunder?"

 

Saat aku menyodorkan camilan cadangan khusus untuk Yanami, Ketua Klub Kurata menerimanya sambil tetap menundukkan wajah.

 

"Terima kasih. Nukumizu-kun baik sekali."

 

Sudah lama aku tidak melihat kekalahan setelak ini. Mau tidak mau, aku jadi bersikap baik.

 

Saat aku mengawasi Ketua Klub Kurata yang memakan Black Thunder sambil memeluk lututnya, seorang siswi berlari mendekat tanpa suara langkah. Itu Asagumo-san.

 

"Eh, Nukumizu-san juga ada di sini ya. Pas sekali."

 

"Ada apa? Yakishio tidak ada di sini."

 

Asagumo-san mendekat sambil menyembunyikan sesuatu di belakang punggungnya.

 

"Tidak, meskipun kami sudah memasang jaringan pengepungan sebesar itu, dia tetap berhasil kabur, jadi──"

 

"Gehok!"

 

Ketua Klub Kurata tersedak.

 

"Aku sudah memikirkan rencana berikutnya. Ini, silakan Nukumizu-san."

 

Yang diberikan Asagumo-san adalah sebuah kotak serangga kecil. Di dalamnya──

 

"…Kumbang tanduk?"

 

"Ya, ini adalah kumbang tanduk besar kelas 80 mm. Aku cukup kesulitan mendapatkannya."

 

Benar saja, di dalam kotak itu bertengger kumbang tanduk besar yang berkilau hitam. Keren.

 

"Terus… aku harus melakukan apa dengan ini?"

 

"Gunakan ini sebagai umpan untuk memanggil Lemon-san ke belakang gedung sekolah. Lalu tangkap dia di sana."

 

Bahkan untuk Yakishio, kalau ada kumbang tanduk, dia sepertinya bakal datang begitu saja… ya, ide yang bagus.

 

Saat aku mengangguk setuju, Asagumo-san menepuk bahu Ketua Klub Kurata dengan ringan.

 

"Ayo, Kurata-senpai. Ini rencana berikutnya."

 

"Tapi aku benar-benar nggak bisa mengimbangi Lemon… aku juga kalah di kualifikasi Higashi Mikawa untuk kejuaraan SMA…"

 

Ketua Klub Kurata terus menggambar lingkaran di lantai lorong dengan jari secara murung. Benar-benar sudah seperti pecundang.

 

"Tidak begitu kok. Berkat karisma senpai, klub atletik putri bisa bersatu. Itu peran yang tidak bisa dilakukan orang lain."

 

"Eh… begitu ya?"

 

Ketua Klub Kurata perlahan mengangkat wajahnya. Orang ini gampang sekali dipengaruhi, jadi agak mengkhawatirkan.

 

Lalu, beberapa anggota klub atletik putri berlari mendekat.

 

"Ketua, lagi ngambek ya!"

 

"Semangat dong!"

 

"Kurachan, ayo lanjut!"

 

Para anggota klub atletik putri itu memaksa Ketua Klub Kurata yang sedang meringkuk untuk berdiri.

 

"Semuanya… ketua seperti aku tidak apa-apa, kan? Benarkah?"

 

"Tentu saja—meskipun sebenarnya kami juga kurang paham."

 

"Iya iya, kami juga kurang paham, tapi ayo jalan!"

 

Ketua Klub Kurata ditarik pergi dengan suasana ramai.

 

Asagumo-san mengambil ponsel dari sakuku, lalu tersenyum dan mengarahkannya ke arahku.

 

"Ayo, panggil Lemon-san."

 

Seharusnya klub atletik putri juga sekalian membawa Asagumo-san pergi. Sambil memikirkan itu, aku membuka kunci ponsel di depan Asagumo-san.

 

 

Lebih jauh lagi dari gedung sekolah lama, di belakang lapangan panahan terdapat sudut gelap yang dikelilingi pepohonan.

 

Aku berdiri di sana sambil memegang kotak serangga berisi kumbang tanduk.

 

Memanggil Yakishio ke sini memang sudah kulakukan, tapi apakah dia benar-benar akan datang?

 

Di sekelilingku, klub atletik putri dan klub tenis meja putra bersembunyi di balik bayangan pepohonan sambil menunggu Yakishio.

 

Kali ini bukan hanya mengepung, tetapi juga menutup jalur kabur dengan jaring yang dipinjam dari klub voli.

 

Aku jadi teringat adegan penangkapan monyet Jepang yang pernah kulihat di televisi.

 

…Entah kenapa, klub atletik putri dan klub tenis meja putra malah terlihat mengobrol dengan sangat senang. Tidak ada ketegangan sama sekali, benar-benar keterlaluan. Bahkan ada yang sampai bertukar kontak.

 

Kupikir klub tenis meja lebih dekat ke klub sastra, tapi rasanya seperti dikhianati…

 

Saat aku memperkuat prasangka terhadap anak klub olahraga, semak-semak di belakangku bergerak berdesir.

 

"…Nukkun, jangan bergerak."

 

"!"

 

──Tahu-tahu Yakishio sudah berada di belakangku.

 

Entah bagaimana dia bisa sampai ke sini, dan orang-orang yang mengepung sepertinya tidak menyadarinya.

 

"Jangan menoleh ke sini. Nanti ketahuan kalau aku ada di sini."

 

Hm? Jangan-jangan Yakishio tidak tahu alasan aku berada di sini.

 

"Aku juga termasuk pihak yang akan menangkapmu."

 

"Begitu ya? Nukkun, jadi kau mau menjualku."

 

Ugh… kalau dibilang begitu, hati nuraniku terasa sakit.

 

Orang-orang klub olahraga yang seharusnya menangkap Yakishio malah terlihat seperti sedang mini acara kencan massal, jadi rasanya bodoh kalau aku membantu mereka…

 

"Tapi kau tidak apa-apa kalau tidak belajar? Kalau sampai tidak bisa ikut Inter-High, aku tidak tanggung jawab."

 

"Soalnya, seberapa pun aku belajar, aku tetap tidak mengerti. Anak-anak klub atletik putri juga terlalu spartan."

 

Ya memang anak klub olahraga. Mungkin mereka menyelesaikan semuanya dengan stamina dan mental tanpa batas (prasangka).

 

"Spartan itu, mereka menyuruhmu apa?"

 

"Mereka bilang ulangi terus sampai paham."

 

Itu normal.

 

"Selain itu, mereka juga bilang harus mempelajari seluruh materi ujian."

 

Itu juga normal. Mungkin memang sebaiknya aku segera menyerahkannya ke klub atletik putri.

 

Saat aku masih ragu, Yakishio bergumam pelan.

 

"…Kira-kira ke depannya akan bagaimana ya."

 

"Bagaimana maksudnya?"

 

"Aku memaksakan diri masuk Tsuwabuki, tapi sama sekali tidak bisa mengikuti pelajaran. Kali ini juga jadi membuat keributan seperti ini dan merepotkan orang lain."

 

Aku menghela napas. Sambil ragu, aku memilih kata-kata yang sedikit tajam.

 

"…Apa kau berniat terus kabur seperti ini setiap kali, lalu dikejar orang?"

 

"Aku tahu itu tidak boleh. Tapi waktu belajar untuk ujian masuk dulu──"

 

Yakishio terdiam sebelum menyelesaikan kalimatnya.

 

──Saat ia berusaha masuk Tsuwabuki, di sampingnya ada Ayano.

 

Sekarang, tidak mungkin lagi dia meminta Ayano mengajarinya belajar.

 

Asagumo-san mungkin akan mengizinkannya, tapi Yakishio pasti tidak akan menerimanya. Itu setidaknya adalah harga diri Yakishio.

 

"…Nukkun. Untuk ujian kali ini, aku akan mencoba mengerjakannya sendiri."

 

"Tidak apa-apa kah? Padahal semua anggota klub atletik ingin membantumu."

 

"Aku juga tidak ingin mengganggu belajar mereka. Ketua klub juga sebenarnya tidak sepintar yang terlihat."

 

Begitu ya. Rasanya memang seperti itu.

 

"Lalu bagaimana? Menyerah dan menjelaskan bahwa kau akan belajar sendiri?"

 

"Hmm, tapi mereka sudah berkumpul sebanyak ini. Kalau langsung menyerah begitu saja── tidak seru, kan?"

 

"…Apa yang sedang kau pikirkan sih?"

 

"Sedikit saja. Nukkun, kau akan membantuku, kan?"

 

Dengan nada seperti anak usil, Yakishio membuatku menyerah sepenuhnya dan menghela napas.

 

 

"Semuanya jangan bergerak! Aku punya sandera!"

 

Yakishio melingkarkan lengannya di leherku dari belakang, lalu menatap tajam pasukan gabungan klub olahraga yang mengepung kami.

 

Aku tidak begitu paham, tapi sepertinya dia berniat menggunakan aku sebagai sandera untuk kabur dari pengepungan.

 

Orang-orang dalam pengepungan terlihat bingung dengan perkembangan aneh ini. Aku juga ikut bingung, lalu Yakishio memperkuat cekalan lengannya.

 

"Ayo, Nukkun juga bilang sesuatu yang terdengar seperti sandera."

 

Kalau tiba-tiba disuruh begitu… hmm, mungkin seperti ini…

 

"T-to-long…"

 

"Nukkun, aktingmu jelek sekali ya?"

 

Tidak juga, itu lumayan bagus. Buktinya, Ketua Klub Kurata melangkah keluar dari barisan pengepungan.

 

"Mengambil sandera itu tidak ada gunanya. Nukumizu-kun rela mengorbankan nyawanya demi membuat Lemon belajar."

 

"Aku tidak rela, tahu?"

 

Aku langsung membatalkannya. Maaf, aku tidak punya tekad sebesar itu.

 

Yakishio tersenyum tipis.

 

"Kalau kalian menyentuhku, sandera ini akan mengalami hal yang mengerikan."

 

"Oh… hal mengerikan seperti apa?"

 

"Senpai, jangan memancing, dong."

 

Orang ini benar-benar hanya menambah masalah.

 

Yakishio berdehem, lalu menyatakan dengan lantang kepada semua orang.

 

"Kalau kalian berani bergerak, leher Nukkun akan── kupatahkan!"




Berhenti. Jangan dipatahkan.

 

Tentu saja itu hanya ancaman, tapi mengingat ini Yakishio, mungkin saja leherku benar-benar dipatahkan setengah.

 

Melihat ekspresi ketakutanku, Ketua Klub Kurata akhirnya mundur juga.

 

Saat Ketua Klub Kurata memberi instruksi, orang-orang yang mengepung pun membuka jalan.

 

Yakishio tetap melingkarkan tangannya di leherku saat melewati pengepungan, lalu—

 

"Terima kasih ya, Nukkun."

 

Setelah meninggalkan kata-kata itu, dia merebut kotak serangga dari tanganku dan langsung berlari menjauh.

 

Meninggalkan bau keringat dan sedikit aroma parfum.

 

 

Ruang perpustakaan SMA Tsuwabuki dipenuhi siswa yang sedang belajar menghadapi ujian.

 

Seorang siswi yang masuk sambil membawa tas dan kotak serangga duduk di meja kosong, lalu meregangkan tubuhnya lebar-lebar.

 

"Nah, ayo berusaha."

 

Saat ia mengaduk-aduk isi tasnya, seseorang duduk di sebelahnya. Itu Komari.

 

"!"

 

Yakishio panik dan hendak berdiri, tetapi Komari menarik pakaiannya.

 

"D-duduklah."

 

"…Baik."

 

Yakishio yang duduk dengan patuh membuka mulutnya dengan ragu.

 

"…Komari-chan juga datang untuk menangkapku?"

 

"A-aku memang mencarimu, tapi bukan untuk menangkapmu."

 

Komari mulai memainkan ponselnya tanpa berkata apa-apa.

 

Yakishio melirik wajah Komari dengan canggung.

 

"Aku… berniat belajar untuk ujian dengan serius. Aku sudah menyesal, tahu?"

 

"A-aku tahu kok."

 

Terdengar bunyi notifikasi dari ponsel Yakishio.

 

"A-aku sudah mengirimkan materi persiapan untuk ujian kali ini."

 

"Hah? Komari-chan yang membuatnya?"

 

"A-aku sebenarnya ingin membuatnya sendiri. T-tapi aku tidak cukup mengerti untuk bisa mengajarimu. Jadi…"

 

Kali ini Komari mengalihkan pandangannya dengan canggung.

 

"A-aku meminta bantuan Ayano Mitsuki."

 

"──Ke Mitsuki?!"

 

Yakishio memegang bahu Komari yang masih menunduk, lalu memaksanya menatap wajahnya.

 

"Komari-chan, kau berteman dengan Mitsuki?! Sejak kapan?"

 

"T-tidak, hari ini juga pertama kalinya aku bicara dengannya."

 

Komari yang pemalu sampai meminta tolong kepada siswa laki-laki yang hanya sekadar dikenalnya wajahnya.

 

Yakishio kehilangan kata-kata karena terkejut, sementara Komari melanjutkan dengan suara pelan.

 

"K-kau dulu pernah dibantu belajar olehnya, kan."

 

"…Iya."

 

Hari-hari yang berat, tapi juga berharga.

 

Yakishio diam-diam memeriksa materi persiapan yang dikirim ke ponselnya. Mulai dari daftar pengecekan pemahaman, tabel progres, hingga metode belajar bertahap, semuanya dirangkum dengan rapi.

 

"Kau memintanya hari ini, kan? Kenapa materinya bisa sedetail ini?"

 

"D-dia bilang, sudah menyiapkannya kalau hal seperti ini terjadi."

 

Komari mengernyitkan alisnya dan berbisik pelan.

 

"L-laki-laki itu… tidak apa-apa, ya?"

 

Melihat ekspresi khawatir Komari, Yakishio tidak bisa menahan tawa.

 

"Mitsuki memang punya sisi seperti itu."

 

──Ya, Ayano Mitsuki memang pria seperti itu.

 

Suka mengurus orang lain, sering terlalu bersemangat, dan sangat baik hati.

 

Dia dulu menyukaiku──

 

Sambil menatap layar ponselnya dan tenggelam dalam pikirannya, Komari membuka buku pelajaran di sebelahnya.

 

"K-kalau ada yang tidak kau mengerti, aku akan mengajarimu."

 

"Tidak apa-apa kah? Komari-chan juga harus belajar untuk ujian, kan?"

 

Komari memalingkan wajahnya dengan malu-malu, lalu berkata.

 

"A-aku juga menantikan saat kau berlari di Inter-High."

 

"…Terima kasih, Komari-chan."

 

Kalau sudah dibantu sampai sejauh ini, aku tidak boleh menyerah.

 

Yakishio menepuk pipinya untuk menyemangati diri, lalu membuka buku pelajarannya.



Illustrasi | Next Chapter

0

Post a Comment

close