Penerjemah: Flykitty
Proffreader: Flykitty
Targetnya Kulit Sawo Matang
Festival olahraga sudah berakhir, dan event besar terakhir semester satu──ujian akhir semester sudah tinggal seminggu lagi.
Sepulang
sekolah, aku berjalan menuju gedung barat sambil tenggelam dalam pikiran.
Nilai
yang terus menurun, sikap Yanami yang entah kenapa terasa semakin ketus, Komari
yang diam-diam sering menghubungi seseorang, Kaju yang setengah tidur dan
menyelinap masuk ke dalam futon──belakangan ini, terlalu banyak hal yang
mengganggu pikiranku.
Belum
lagi soal pengakuan Tiara-san, bukankah dalam pandangan umum situasinya bisa
disebut sebagai "cadangan".
…Tapi,
yang menunda keputusan itu justru dari pihak sana, jadi aku tidak salah, kan.
Iya.
Walaupun
kekhawatiran tidak ada habisnya, aku menyingkirkannya sejenak dan mempercepat
langkah.
Aku
sudah berjanji akan belajar untuk ujian bersama Yanami dan Komari di ruang klub
sastra.
"Nukumizu-san,
apakah ini klub sastra?"
Yang
menyapaku dengan nada suara agak melayang adalah ketua OSIS SMA Tsuwabuki,
Basori Tiara.
Ia
berlari kecil hingga sejajar denganku, lalu mulai berjalan menyesuaikan
langkah.
Kemunculannya
yang tiba-tiba membuatku sedikit terkejut, tapi aku berpura-pura tenang dan
membuka mulut.
"Ah,
aku berniat belajar untuk ujian sebentar di ruang klub. Basori-san mau ke
OSIS?"
"Hari
ini Hokobaru-senpai dan Shikiya-senpai akan membantu mengajariku belajar."
Tiara-san
berkata dengan gembira sambil memeluk tas di depan dadanya.
"Kalau
dua orang itu sih pasti meyakinkan. Sepertinya lebih bisa diandalkan daripada
aku."
"Benar.
Tidak seperti seseorang, mereka tidak akan menyuruhku memakai telinga
kucing."
Itu
kan dia sendiri yang melakukannya, dan kalau Shikiya-san, mungkin tidak
berhenti hanya di telinga kucing.
Aku
hendak membalas, tapi karena ada siswa yang berjalan dari arah depan, entah
kenapa aku jadi terdiam.
"Ada
apa? Tiba-tiba jadi diam."
"Bukan,
cuma… ada siswa lain."
Mendengar
jawabanku, Tiara-san sedikit membasahi bibirnya.
"──Apa
kau berniat mengatakan sesuatu yang tidak boleh didengar orang lain?"
"…Basori-san,
bukankah yang barusan kau katakan juga tidak pantas didengar orang lain?"
Sambil
mendengar tawa kecil Tiara-san, aku menghentikan langkah. Untuk menuju gedung
barat tempat ruang klub berada, dari sini harus melewati koridor penghubung.
"Kalau
begitu, aku sampai sini saja."
"Kalau
tidak keberatan, Nukumizu-san mau ikut bersama?"
Belajar
bersama duo senior kelas tiga mantan OSIS, ya. Jujur saja, terdengar cukup
menggoda.
"Eh,
aku sudah ada janji."
"Ara,
aku ditolak."
Dengan
nada bercanda, Tiara-san tiba-tiba mendekatkan wajahnya.
"…Ngomong-ngomong,
belakangan ini kau tidak memanggilku dengan nama depanku, ya."
"Hah?"
Saat
aku terdiam, ia tertawa kecil di dekat telingaku lalu berbalik.
"Kalau
begitu aku juga pamit. Mari sama-sama berusaha untuk ujian."
"Ah,
iya."
Tiara-san
melambaikan tangan kecil lalu berbalik pergi. Sambil membalas lambaian
tangannya, aku memikirkan perubahan perasaanku belakangan ini.
──Pengakuan.
Meskipun
masih tertunda, sebuah peristiwa yang sangat mengguncang hubungan antara aku
dan Tiara-san sudah terjadi.
Sejak
itu, dia sering mengajakku berbicara sebagai teman, tapi bahkan dalam
percakapan biasa seperti sebelumnya, aku merasakan sedikit perubahan dalam
hatiku.
──Bahwa
orang itu menyukaiku.
Hanya
fakta itu saja sudah membuat jarak perasaan kami terasa lebih dekat.
Singkatnya.
Berbicara
dengan seseorang yang menyukaimu, ternyata cukup menyenangkan.
◇
Saat
membuka buku catatan di ruang klub sastra, aku menarik napas dalam-dalam untuk
memompa semangat.
Aku
sebenarnya tidak terlalu suka sistem belajar kelompok yang tidak efisien, tapi
aku tidak boleh terlihat seperti kabur.
Terutama
karena Komari mengalahkanku dalam peringkat ujian kemampuan beberapa waktu
lalu, aku butuh alasan bahwa aku benar-benar sudah belajar untuk mengantisipasi
kekalahan berikutnya──
Belum
lama mulai belajar, Komari yang sedang mengobrak-abrik tasnya memanggilku.
"Nu,
Nukumizu, kau bawa buku referensi sejarah dunia?"
"Ah,
ada di sini. Tapi bukannya sejarah dunia jadwalnya di bagian akhir?"
Komari
merebut buku referensiku sambil menatap dengan ekspresi seolah tak percaya.
"Ca,
cakupan ujian kali ini bukan main. Kalau cuma sistem kebut semalam, tamat
kita."
"Eh,
separah itu?"
Saat
aku mencoba mengambil kembali buku itu secara santai, Komari dengan cepat
menjauhkannya.
"Yanami-san,
kau bawa buku referensi sejarah dunia?"
Karena
tidak ada pilihan lain, aku mencoba mengalihkan topik, tapi Yanami tidak ada di
tempat duduknya tadi.
Ia
membuka pintu kulkas yang ada di sudut ruang klub dan menatap isinya tanpa
berkedip.
"Yanami-san.
Jangan biarkan pintu kulkas terbuka."
"…Puding."
Setelah
bergumam, Yanami kembali membeku.
Keberhasilan
dietnya saat insiden Shiratama kini hanya tinggal kenangan, dan Yanami kembali
memasuki periode diet entah yang keberapa tahun ini.
Diet
kali ini berdasarkan teori bahwa melihat makanan akan menipu tubuh sehingga
metabolisme meningkat. Setidaknya dia sudah berhenti bilang bisa kurus dengan
makan, terasa ada sedikit perkembangan.
"Kalau
sudah melihat sebanyak itu, mungkin malah tubuhmu tidak sadar walaupun dimakan,
jadi tidak bikin gemuk."
"Tetap
bikin gemuk. Sini, duduk."
Yanami
ternyata tidak berkembang.BSambil menghela napas, Yanami menutup pintu kulkas.
"Nukumizu-kun,
bukannya cakupan ujian kali ini terlalu luas? Waktu kelas satu kita sudah
belajar segitu banyak, apa tidak mungkin keluar lagi soal yang sama?"
"Kalau
keluar lagi, bukannya itu berarti kita tinggal kelas?"
Mungkin
aku memang seharusnya pergi ke ruang OSIS saja.
Penyesalan
memang datang belakangan, tapi memang benar cakupan ujian jadi lebih luas sejak
naik ke kelas dua. Aku juga bisa mengerti kenapa Yanami menatap puding di
kulkas seperti itu.
"Ngomong-ngomong,
kamu tidak mengajak Shiratama-san?"
"Katanya
ada sesi belajar di ruang OSIS."
Yanami
menatapku tajam.
"…Jangan-jangan,
kau sebenarnya ingin belajar bersama Shiratama-chan?"
"Bukan
begitu, tapi Shiratama-san sering mengambilkan penghapusku."
"Tolong
jangan mencampur urusan pribadi dan publik. Kau ingin mengajari adik kelas yang
imut lalu memamerkan sisi kerenmu, kan?"
"Oh,
jadi mengajari belajar terlihat keren, ya."
"…Nukumizu-kun,
belakangan ini kau kurang punya kesadaran sebagai ketua klub, ya?"
Brak.
Yanami duduk di kursi seberangku.
"Dengar
ya, bersikap manja pada adik kelas perempuan, dikelilingi perempuan di ruang
OSIS sambil bersikap manja, itu melanggar entah apa sebagai perwakilan klub
sastra. Tidak bisa dibiarkan."
"Dua-duanya
berhubungan dengan Shiratama-san, kan. Mengurus junior klub memang tugas
senior."
"Ya,
mungkin sih."
Tok
tok tok. Yanami mulai mengetuk meja dengan ujung jarinya.
Setelah
ragu sejenak, Yanami membuka mulut sambil memalingkan pandangan.
"Ngomong-ngomong…
Nukumizu-kun, belakangan ini hubunganmu dengan Basori-san bagaimana?"
"Hah,
bagaimana maksudnya?"
Kenapa
tiba-tiba jadi ke situ…?
Seharusnya
tidak ada yang tahu bahwa aku pernah menerima pengakuan dari Tiara-san. Area
pengaruh Kolam Oike Mukaiyama saja bahkan tidak mencakup Kaju dan Asagumo-san,
tidak mungkin Yanami tahu.
"Pemilihan
OSIS juga sudah selesai, jadi paling cuma sesekali ngobrol sebentar."
Aku
meminum teh dingin sambil berusaha menyembunyikan kegugupanku.
"Lagipula,
belakangan ini kau tidak memanggil Basori-san dengan nama depannya, kan?"
"Entahlah."
Tok
tok tok tok. Kecepatan jari yang mengetuk meja semakin meningkat.
Kenapa
aku seperti sedang mendapat tekanan dari Yanami, dan kenapa aku jadi segugup
ini?
Saat
aku menatapnya untuk melawan ketidakadilan ini, tatapanku bertabrakan dengan
mata Yanami yang terlihat kesal.
"Ada
apa?"
"Bukan,
teh ini enak sekali."
…Tidak
bagus, aku benar-benar terintimidasi.
Saat
aku menatap cangkir teh yang sudah kosong, terdengar suara buku ditutup dengan
keras.
"Ka,
kalian berdua, belajar."
"…Iya."
Kata-kata
Komari yang masuk akal itu membuatku tanpa sadar ikut menyahut.
Memang
benar, ini bukan saatnya melakukan hal seperti ini.
Baru
saja aku kembali belajar sambil menghindari tatapan Komari, pintu ruang klub
tiba-tiba terbuka dengan keras.
"Ada
Lemon?!"
Bersamaan
dengan teriakan itu, seorang siswi dengan rambut pendek ponytail masuk
menyerbu.
Eh…
orang ini siapa ya──ketua klub atletik putri, Kurata, bukan?
Setelah
menyapu pandangan ke seluruh ruang klub, Ketua Kurata menurunkan bahunya dengan
kecewa.
"Lho?
Kupikir di sini, aneh ya."
"………………"
Sambil
melirik kami yang terdiam, Ketua Kurata menempelkan tangan ke dahinya dan
menatap langit-langit.
"Aduh,
ke mana dia pergi ya…"
Lirik…
lirik… Ketua Kurata menatap kami dengan sengaja.
…Ini
tipe yang tidak bisa lanjut kalau tidak memilih perintah "ajak
bicara".
"Eh,
ada apa ya?"
Saat
aku mewakili untuk bertanya, Ketua Kurata mengangkat bahu besar-besar.
"Ujian
akhir sudah dekat, kan? Seluruh klub atletik putri lagi mengadakan persiapan
ujian buat Lemon."
"…Dia
kabur?"
Ketua
Kurata mengangguk pelan.
"Yah,
Yakishio memang selalu begitu sih. Kalau dapat nilai merah, bukannya ada kelas
tambahan?"
"Iya,
kalau nilainya seperti biasa, sudah dijadwalkan kelas tambahan khusus──selama
liburan musim panas, intens sekali."
Kalau
begitu syukurlah. Dengan begitu Yakishio bisa tenang mendapatkan nilai merah──
"…Eh,
bukannya inter-high Yakishio itu…"
"Musim
panas."
Berarti
Yakishio tidak bisa ikut inter-high…?
Ketua
Kurata, ini bukan waktunya memasang wajah bangga di tempat seperti ini.
"Aku
sudah mengerti situasinya, tapi jangan-jangan kalian ingin kami…"
"Benar!
Mau bantu menangkap Lemon tidak?!"
Ketua
Kurata menepukkan kedua tangannya.
"Beberapa
kali sudah ketemu, tapi dia selalu berhasil kabur. Kalau anak-anak klub sastra,
mungkin dia lengah, ada peluang kan?"
Jangan
bilang seperti sedang menangkap kucing liar begitu.
"Eh,
aku harus tanya pendapat anggota lain juga…"
"Kalau
bantu, aku kasih yokan (manisan), yang dari Kinuyo. Kalau berhasil menangkap,
tambah satu lagi."
"Ya,
aku bantu!"
Yanami
mengangkat tangan dengan semangat. Kalau sudah begini, tidak bisa dihentikan.
Saat
aku dan Komari menghela napas bersamaan, sesuatu berkilau di sudut pandangku.
Di
balik pintu yang terbuka lebar, di lorong, yang dahinya berkilau mencurigakan
adalah──wanita yang dilarang masuk klub sastra, Asagumo Chihaya.
"…Asagumo-san,
kau dengar ya?"
"Iya,
aku dengar."
Asagumo-san
mengulurkan kartu nama ke arah Ketua Kurata dari luar pintu.
"Kurata-senpai
dari klub atletik putri, ya."
"Penyelesai
masalah yang berkilau, penasihat investigasi Tsuwabuki…?"
Wajar
saja bingung. Siswi asing dengan mata dan dahi bersinar karena rasa penasaran
tiba-tiba memberikan kartu nama aneh.
Aku
berdehem lalu berdiri di antara Kurata-senpai dan Asagumo-san.
"Kurata-senpai,
bagaimana kalau meminjam bantuan pihak luar untuk urusan pribadi seperti
ini?"
"Tapi
anak ini ada hubungan dengan klub sastra, kan?"
Eh,
dari mana rumor hitam seperti itu muncul?
Melihat
ekspresiku yang terkejut, Ketua Kurata menunjukkan kartu nama itu.
"Lihat,
di sini tertulis klien utama OSIS dan klub sastra."
…Memang
bukan kebohongan. Kalau terlibat dengan organisasi semi-abu-abu seperti itu,
bekas lukanya akan terus menempel.
Melihatku
kehabisan kata, Asagumo-san melangkahkan kaki kanannya masuk ke ruang klub.
"Lemon-san
juga teman penting bagiku. Aku tidak akan memungut bayaran."
"Itu
sangat membantu, tapi bagaimana cara mencarinya?"
Mendengar
itu, Asagumo-san tersenyum lalu menarik kaki kirinya juga masuk ke ruang klub.
"Aku
punya ide. Pertama, silakan lihat layar ini."
Smartphone
yang dikeluarkan Asagumo-san menampilkan denah SMA Tsuwabuki.
Yanami
yang sebelumnya pura-pura tidak peduli, kini mengintip layar dengan tertarik.
"Asagumo-san,
dengan ini bisa tahu lokasi Lemon-chan?"
"Iya,
kita bisa menghitung probabilitas dengan AI."
Asagumo-san
mulai menjelaskan dengan penuh semangat.
"Setiap
orang punya ritme dan gelombang langkah kaki yang berbeda. Berdasarkan itu,
kita bisa memperkirakan Lemon-san berada di bagian mana dari gedung
sekolah."
Aku
penasaran kenapa dia bisa mendengar suara seluruh sekolah, tapi tidak
kuucapkan. Aku juga menyayangi keselamatanku sendiri.
"Warna
merah yang lebih pekat di peta menunjukkan lokasi dengan probabilitas
keberadaan Lemon-san lebih tinggi."
"Kalau
begini bukannya Lemon-chan jadi lima orang? Dia bertambah?"
Mendengar
pertanyaan Yanami, Asagumo-san menempelkan ujung jarinya ke dagu dan
memiringkan kepala dengan imut.
"Memang
kalau hanya informasi suara, akurasinya sulit meningkat. Karena itu…"
Asagumo-san
berbalik ke Ketua Kurata yang masih terdiam.
"Aku
ingin seluruh anggota klub atletik putri mendaftarkan laporan penampakan
Lemon-san."
"Cuma
daftar saja sudah cukup?"
"Iya.
Dengan itu probabilitasnya akan menyempit, dan kita bisa memperkirakan lokasi
Lemon-san dengan akurasi tinggi. Ditambah lagi, analisis pola suara secara
real-time oleh AI akan meningkatkan akurasi, sehingga kita bisa mempersempit
pengepungan dan menangkap Lemon-san."
Ketua
Kurata membelalakkan mata dengan kagum.
"Wah,
hebat! Cara mendaftarnya bagaimana?"
Melihat
reaksinya, dahi Asagumo-san berkilau tajam.
"Pertama,
seluruh anggota klub atletik putri harus menginstal aplikasi ini!"
"Mengerti!"
Lebih
baik tidak. Serius.
Aku
berpikir begitu tapi tidak mengatakannya. Dan Yanami, jangan keluarkan
ponselmu.
Saat
aku dan Komari berusaha menghentikan Yanami, para korban terus terjerat.
"Eh,
muncul tulisan ‘Aplikasi ini belum terverifikasi keamanannya’."
"Tidak
perlu dipikirkan, tekan ‘ya’ saja."
"Diminta
izin terhubung dengan banyak aplikasi lain."
"Tidak
perlu dipikirkan, tekan ‘ya’ saja."
"Oh,
begitu ya. Nanti aku bilang juga ke anak-anak klub atletik putri."
Aku
hanya bisa menyaksikan tanpa daya saat klub atletik putri dijajah.
Walaupun
begitu, setidaknya klub sastra berhasil selamat. Saat aku menghela napas lega,
Yanami menunjukkan ponselnya dengan kagum.
"Nukumizu-kun,
ini hebat. Katanya bisa tahu lokasi Lemon-chan secara real-time."
"Yanami-san,
kau menginstalnya?!"
"A,
aku sudah mencoba menghentikannya!"
Menghadapi
kepanikan kami, Asagumo-san tersenyum manis.
"Ayo,
semua juga mari menangkap Lemon-san bersama!"
◇
Dengan
Asagumo-san sebagai ahli strategi, serangan klub atletik putri dimulai.
Laporan
penampakan Yakishio dari para anggota terus bermunculan di aplikasi, membuat
lokasi persembunyiannya semakin terfokus.
Sementara
itu, aku berjalan di lorong gedung barat sambil mengintip ponsel bersama
Yanami.
Perintah
dari ahli strategi Asagumo kepada kami adalah bergerak terpisah dari klub
atletik putri. Mendekat dengan berpura-pura kebetulan, membuatnya lengah, lalu
mengamankan target.
Sebagai
catatan, Komari tetap di ruang klub untuk belajar ujian. Dia benar-benar
mengambil jalan pintas.
"Aplikasi
virus ini──eh, maksudku aplikasi ini, sepertinya benar-benar bisa melacak
lokasi Yakishio."
"Kau
ini curiga sekali. Nukumizu-kun tidak punya hati untuk percaya pada
orang."
Yang
merampas hatiku untuk percaya itu justru kau.
Aku
mengalihkan pikiran lalu melihat peta di aplikasi. Lokasi dengan probabilitas
tertinggi Yakishio berada di halaman tengah.
"Baiklah,
mari kita coba menangkap Lemon-chan."
"Tidak
mungkin, kan? Bahkan anak-anak klub atletik saja tidak bisa menangkapnya."
Mendengar
pendapat masuk akalku, Yanami mengangkat bahu seolah menyerah.
"Kalau
melawan kita Lemon-chan bakal lengah, dan aku punya strategi yang benar-benar
matang."
──Strategi
Yanami adalah seperti ini.
Pertama,
Yanami akan menemukan Yakishio dan mengajaknya bicara. Karena Yakishio pasti
tidak menyangka Yanami adalah penyergap, dia pasti akan lengah.
Setelah
jarak cukup dekat, aku akan menyelinap dari belakang dan menjepitnya. Kurasa
kemungkinan besar tidak akan berhasil.
"Bagaimana
kalau strategi ini dipikirkan lagi? Yakishio itu seperti hewan liar, lho."
"Bisa
kok, belakangan kondisi lututku juga bagus."
Yanami
mulai melakukan peregangan di tempat.
"Lututmu
bunyi krek-krek."
"Itu
seperti getaran semangat sebelum bertarung. Ayo, saatnya dapat yokan!"
Dengan
senyum penuh percaya diri, Yanami mengacungkan jempol ke arahku.
◇
Yanami
bersandar lemas pada mesin penjual otomatis dengan kaki yang goyah.
"Tu…
tunggu sebentar…"
"Ah
iya. Istirahat saja pelan-pelan."
Pengumuman
hasil. Seperti dugaan, gagal total.
Kami
sempat melihat Yakishio dua kali, tapi bahkan mendekatinya saja mustahil karena
Yakishio bergerak dengan kecepatan tinggi.
Yanami
sudah benar-benar menyerah, entah kenapa sekarang malah minum cola.
"Bukannya
kau sedang diet ya?"
"Nukumizu-kun,
ada teori bahwa mengkonsumsi kalori secukupnya saat berolahraga membantu
pembakaran lemak. Artinya, satu tegukan ini adalah jalan menuju tubuh
ideal."
Ia
berkata begitu lalu meneguk cola dengan mantap. Begitu ya, zaman sekarang
definisi tubuh ideal memang beragam.
Saat
aku mengangguk sendirian, angin berkulit sawo matang berlari melewati depan
mataku. Itu Yakishio dengan seragam sekolah.
"Tunggu!"
"Dia
ke sana!"
"Anak
kelas satu, hentikan dengan sekuat tenaga!"
Setelahnya,
para elit klub atletik putri mengejarnya.
…Cepat
sekali. Kami dari klub sastra sama sekali tidak bisa menandinginya.
"Yanami-san,
sepertinya lebih baik kita menunggu di suatu tempat untuk menyergap."
"…Puding."
Yanami
tiba-tiba mengucapkan kata misterius.
"Ada
apa? Kau melihat halusinasi?"
"Tidak.
Aku cuma berpikir sekarang adalah waktu yang tepat untuk makan puding di ruang
klub."
"Bukannya
bukan sekarang ya? Gula dalam tubuhmu sudah cukup, kan."
Yanami
melempar kaleng cola kosong ke tempat sampah.
"Setelah
berlari, metabolisme tubuh sedang dalam golden time. Kalau sekarang, tidak akan
bikin gemuk, malah mungkin sekalian bisa sedikit kurus."
"Begitu
ya…"
Kurasa
Yanami bahkan belum berlari 50 meter, tapi dalam diet, motivasi memang penting.
Aku
pun dengan senang hati melepas Yanami, lalu memandangi halaman tengah sambil
berpikir.
Aku
memang meminjam ponsel Yanami yang sudah terinfeksi virus, tapi Yakishio
sepertinya berhasil lolos dari pengejaran klub atletik putri.
Yakishio
di peta kembali berubah menjadi kabut probabilitas keberadaan, menyebar di
sekitar tiga titik di dalam sekolah.
"Sepertinya
kita lihat situasi dulu…"
"Oh,
Nukumizu. Anak-anak yang lari-larian itu apa sih?"
Yang
menyapaku dengan wajah heran adalah Amanatsu-sensei.
Aku
terseret berurusan dengan orang yang merepotkan, tapi bagaimanapun dia wali
kelasku. Tidak bisa kuabaikan begitu saja.
"Eh,
Yakishio kabarnya kabur dari sesi belajar. Klub atletik putri sedang
mengejarnya."
"Jadi
itu penyebab keributan ini ya. Yakishio memang tidak berubah."
Sambil
melihat para siswi berlari-larian, Amanatsu-sensei menghela napas kesal.
"Sensei,
tidak bisa memberi pengecualian kelas tambahan setidaknya di hari
inter-high?"
"…Hmm,
Nukumizu. Kalian ini apa?"
Pertanyaan
macam apa itu. Apa dia sedang mengalami krisis usia menikah lalu tenggelam
dalam filosofi?
"Eh,
maksudnya seperti manusia adalah makhluk yang berpikir, begitu?"
"Bukan.
Kalian ini pelajar, kan? Paham tidak kalau tugas utama pelajar itu
belajar?"
Jarang-jarang
dia bicara masuk akal. Amanatsu-sensei melambaikan tangannya.
"Kalau
dimanja di sini lalu malah tinggal kelas, itu lebih parah lagi. Lagi pula, dia
bisa naik ke kelas dua saja sudah seperti keajaiban."
"Kalau
begitu sensei, maukah mengajari Yakishio belajar?"
"Mengajari
Yakishio… belajar ya…"
Tiba-tiba
Amanatsu-sensei menatap jauh.
"Ya…
kalau ada kesempatan. Aku sibuk dulu ya."
Amanatsu-sensei
buru-buru hendak pergi.
"Eh,
tidak mau mengajarinya?"
"Yah,
dia kan bukan murid kelasku."
Memang
benar sih, tapi beginikah orang dewasa…? Seolah menyadari isi hatiku,
Amanatsu-sensei buru-buru menggeleng.
"Soalnya
tahun lalu benar-benar melelahkan, tahu?! Dia pikir Kekaisaran Romawi masih
ada!"
Pantas
saja sensei menolak.
Tidak
ada pilihan. Aku memasang ekspresi serius lalu mengangguk pelan.
"──Begitu
ya. Kali ini sepertinya dia terutama bermasalah di sejarah dunia."
"Eh,
serius?"
"Iya.
Walaupun pelajaran lain aman, kalau gara-gara sejarah dunia sampai memengaruhi
inter-high──itu akan merusak reputasi, bukan?"
"He,
hei, jangan mengancam begitu."
Tanpa
menghiraukan wajah gelisah Amanatsu-sensei, aku melanjutkan.
"Ngomong-ngomong,
Tsuwabuki terkenal punya asosiasi alumni yang kuat, ya. Bukannya sekitar
September ada rapat laporan kompetisi olahraga SMA?"
"…………"
Setelah
berpikir sejenak, Amanatsu-sensei tiba-tiba menunjuk sekelompok siswa laki-laki
yang berkumpul di halaman tengah.
"Hei,
klub tenis meja di sana! Kumpulkan anggota kalian! Kita tangkap Yakishio!"
Amanatsu-sensei
berlari pergi sambil melambaikan tangan dengan keras.
Perkembangannya
sedikit berbeda dari yang kuharapkan, tapi setidaknya jaring pengepungan
Yakishio semakin diperkuat.
Tapi
itu klub tenis meja putra. Siswa laki-laki yang menangkap Yakishio… laki-laki…
"…Mungkin
aku juga harus membantu sedikit."
Entah
kenapa aku merasa gelisah, jadi aku mengambil ponsel Yanami dan menuju lokasi
penampakan terbaru.
◇
Di
lantai satu gedung baru, klub atletik putri hampir menyelesaikan pengepungan
Yakishio.
Di
bawah arahan Ketua Kurata, tim berpasangan ditempatkan di titik-titik penting.
Yakishio
kabarnya berada di lantai paling atas, lalu klub tenis meja putra akan
mengusirnya turun ke bawah, dan klub atletik putri yang menunggu di lantai satu
akan menangkapnya.
Singkatnya,
seperti perburuan dengan cara menggiring mangsa. Kalau yang menangkap siswi,
tidak perlu khawatir, malah enak dipandang.
Saat
aku memandangi para anggota klub atletik putri yang berteriak memastikan
posisi, Ketua Kurata berdiri di sampingku.
"Oh,
Nukumizu-kun juga datang ke sini."
Ketua
Kurata tidak mengenakan seragam sekolah, melainkan seragam atletik. Entah
kenapa dia terlihat lebih dapat diandalkan dari biasanya.
"Halo.
Dengan pakaian begitu, apakah akan berlari serius?"
"Ya,
soalnya aku garis pertahanan terakhir. Aku harus benar-benar menangkap
Lemon."
Tapi
orang ini lebih lambat dari Yakishio, kan…?
Saat
aku ragu apakah boleh mengatakannya, Ketua Kurata menggelengkan jari ke arahku.
"Lemon
pakai seragam dan sepatu dalam ruangan, tahu? Lagi pula dia sudah kabur selama
satu jam, pasti kelelahan di puncaknya. Maaf, tapi ini jelas bukan pertandingan
seimbang."
Ketua
Kurata terlihat sangat percaya diri. Mungkin dia sudah menerima perpindahan
Yakishio ke nomor jarak menengah dan memulai langkah baru.
"Akhir-akhir
ini bagaimana kegiatan klub senpai?"
"Aku
ikut kompetisi SMA di nomor 800 meter. Yah, di Tsuwabuki sih, selain Lemon, aku
tidak merasa akan kalah."
Melihat
senyum cerah tanpa keraguan itu, pipiku pun ikut mengendur.
"Begitu
ya. Karena aku tidak melihat senpai di turnamen, aku sempat
bertanya-tanya."
"…Soalnya
aku kalah di kualifikasi Higashi Mikawa."
Ah,
aku menginjak ranjau.
Saat
kami terdiam dalam suasana canggung, tangga di atas mulai ramai.
"Ketua!
Lemon sudah turun!"
Ketua
Kurata menepuk kedua pipinya.
"Baik,
semuanya, kita selesaikan di sini!"
"Ooooh!"
Teriakan
klub atletik putri menggema di lorong.
Pertarungan
sia-sia ini akhirnya akan segera berakhir──
◇
Lantai
satu gedung baru kini sunyi senyap.
Yang
ada di sini hanya aku dan──Ketua Kurata yang berjongkok sambil memeluk lutut di
balik pilar.
"Kakiku
terpeleset… sungguh…"
"Iya,
masuk akal. Soalnya belum lama ini lantainya baru dipoles lilin."
Yakishio
berhasil menghindari semua serangan bergelombang dari klub atletik putri dan
berhasil mencapai lantai satu.
Lalu,
setelah dengan santai melewati Ketua Klub Kurata yang sudah menunggunya di
sana, dia kembali menghilang.
Singkatnya,
kemenangan instan.
"Karena
di lorong, sepatu spike-ku nggak cocok ya… aduh, salah perhitungan…"
"Benar
juga. Mau makan Black Thunder?"
Saat
aku menyodorkan camilan cadangan khusus untuk Yanami, Ketua Klub Kurata
menerimanya sambil tetap menundukkan wajah.
"Terima
kasih. Nukumizu-kun baik sekali."
Sudah
lama aku tidak melihat kekalahan setelak ini. Mau tidak mau, aku jadi bersikap
baik.
Saat
aku mengawasi Ketua Klub Kurata yang memakan Black Thunder sambil memeluk
lututnya, seorang siswi berlari mendekat tanpa suara langkah. Itu Asagumo-san.
"Eh,
Nukumizu-san juga ada di sini ya. Pas sekali."
"Ada
apa? Yakishio tidak ada di sini."
Asagumo-san
mendekat sambil menyembunyikan sesuatu di belakang punggungnya.
"Tidak,
meskipun kami sudah memasang jaringan pengepungan sebesar itu, dia tetap
berhasil kabur, jadi──"
"Gehok!"
Ketua
Klub Kurata tersedak.
"Aku
sudah memikirkan rencana berikutnya. Ini, silakan Nukumizu-san."
Yang
diberikan Asagumo-san adalah sebuah kotak serangga kecil. Di dalamnya──
"…Kumbang
tanduk?"
"Ya,
ini adalah kumbang tanduk besar kelas 80 mm. Aku cukup kesulitan
mendapatkannya."
Benar
saja, di dalam kotak itu bertengger kumbang tanduk besar yang berkilau hitam.
Keren.
"Terus…
aku harus melakukan apa dengan ini?"
"Gunakan
ini sebagai umpan untuk memanggil Lemon-san ke belakang gedung sekolah. Lalu
tangkap dia di sana."
Bahkan
untuk Yakishio, kalau ada kumbang tanduk, dia sepertinya bakal datang begitu
saja… ya, ide yang bagus.
Saat
aku mengangguk setuju, Asagumo-san menepuk bahu Ketua Klub Kurata dengan
ringan.
"Ayo,
Kurata-senpai. Ini rencana berikutnya."
"Tapi
aku benar-benar nggak bisa mengimbangi Lemon… aku juga kalah di kualifikasi
Higashi Mikawa untuk kejuaraan SMA…"
Ketua
Klub Kurata terus menggambar lingkaran di lantai lorong dengan jari secara
murung. Benar-benar sudah seperti pecundang.
"Tidak
begitu kok. Berkat karisma senpai, klub atletik putri bisa bersatu. Itu peran
yang tidak bisa dilakukan orang lain."
"Eh…
begitu ya?"
Ketua
Klub Kurata perlahan mengangkat wajahnya. Orang ini gampang sekali dipengaruhi,
jadi agak mengkhawatirkan.
Lalu,
beberapa anggota klub atletik putri berlari mendekat.
"Ketua,
lagi ngambek ya!"
"Semangat
dong!"
"Kurachan,
ayo lanjut!"
Para
anggota klub atletik putri itu memaksa Ketua Klub Kurata yang sedang meringkuk
untuk berdiri.
"Semuanya…
ketua seperti aku tidak apa-apa, kan? Benarkah?"
"Tentu
saja—meskipun sebenarnya kami juga kurang paham."
"Iya
iya, kami juga kurang paham, tapi ayo jalan!"
Ketua
Klub Kurata ditarik pergi dengan suasana ramai.
Asagumo-san
mengambil ponsel dari sakuku, lalu tersenyum dan mengarahkannya ke arahku.
"Ayo,
panggil Lemon-san."
Seharusnya
klub atletik putri juga sekalian membawa Asagumo-san pergi. Sambil memikirkan
itu, aku membuka kunci ponsel di depan Asagumo-san.
◇
Lebih
jauh lagi dari gedung sekolah lama, di belakang lapangan panahan terdapat sudut
gelap yang dikelilingi pepohonan.
Aku
berdiri di sana sambil memegang kotak serangga berisi kumbang tanduk.
Memanggil
Yakishio ke sini memang sudah kulakukan, tapi apakah dia benar-benar akan
datang?
Di
sekelilingku, klub atletik putri dan klub tenis meja putra bersembunyi di balik
bayangan pepohonan sambil menunggu Yakishio.
Kali
ini bukan hanya mengepung, tetapi juga menutup jalur kabur dengan jaring yang
dipinjam dari klub voli.
Aku
jadi teringat adegan penangkapan monyet Jepang yang pernah kulihat di televisi.
…Entah
kenapa, klub atletik putri dan klub tenis meja putra malah terlihat mengobrol
dengan sangat senang. Tidak ada ketegangan sama sekali, benar-benar
keterlaluan. Bahkan ada yang sampai bertukar kontak.
Kupikir
klub tenis meja lebih dekat ke klub sastra, tapi rasanya seperti dikhianati…
Saat
aku memperkuat prasangka terhadap anak klub olahraga, semak-semak di belakangku
bergerak berdesir.
"…Nukkun,
jangan bergerak."
"!"
──Tahu-tahu
Yakishio sudah berada di belakangku.
Entah
bagaimana dia bisa sampai ke sini, dan orang-orang yang mengepung sepertinya
tidak menyadarinya.
"Jangan
menoleh ke sini. Nanti ketahuan kalau aku ada di sini."
Hm?
Jangan-jangan Yakishio tidak tahu alasan aku berada di sini.
"Aku
juga termasuk pihak yang akan menangkapmu."
"Begitu
ya? Nukkun, jadi kau mau menjualku."
Ugh…
kalau dibilang begitu, hati nuraniku terasa sakit.
Orang-orang
klub olahraga yang seharusnya menangkap Yakishio malah terlihat seperti sedang
mini acara kencan massal, jadi rasanya bodoh kalau aku membantu mereka…
"Tapi
kau tidak apa-apa kalau tidak belajar? Kalau sampai tidak bisa ikut Inter-High,
aku tidak tanggung jawab."
"Soalnya,
seberapa pun aku belajar, aku tetap tidak mengerti. Anak-anak klub atletik
putri juga terlalu spartan."
Ya
memang anak klub olahraga. Mungkin mereka menyelesaikan semuanya dengan stamina
dan mental tanpa batas (prasangka).
"Spartan
itu, mereka menyuruhmu apa?"
"Mereka
bilang ulangi terus sampai paham."
Itu
normal.
"Selain
itu, mereka juga bilang harus mempelajari seluruh materi ujian."
Itu
juga normal. Mungkin memang sebaiknya aku segera menyerahkannya ke klub atletik
putri.
Saat
aku masih ragu, Yakishio bergumam pelan.
"…Kira-kira
ke depannya akan bagaimana ya."
"Bagaimana
maksudnya?"
"Aku
memaksakan diri masuk Tsuwabuki, tapi sama sekali tidak bisa mengikuti
pelajaran. Kali ini juga jadi membuat keributan seperti ini dan merepotkan
orang lain."
Aku
menghela napas. Sambil ragu, aku memilih kata-kata yang sedikit tajam.
"…Apa
kau berniat terus kabur seperti ini setiap kali, lalu dikejar orang?"
"Aku
tahu itu tidak boleh. Tapi waktu belajar untuk ujian masuk dulu──"
Yakishio
terdiam sebelum menyelesaikan kalimatnya.
──Saat
ia berusaha masuk Tsuwabuki, di sampingnya ada Ayano.
Sekarang,
tidak mungkin lagi dia meminta Ayano mengajarinya belajar.
Asagumo-san
mungkin akan mengizinkannya, tapi Yakishio pasti tidak akan menerimanya. Itu
setidaknya adalah harga diri Yakishio.
"…Nukkun.
Untuk ujian kali ini, aku akan mencoba mengerjakannya sendiri."
"Tidak
apa-apa kah? Padahal semua anggota klub atletik ingin membantumu."
"Aku
juga tidak ingin mengganggu belajar mereka. Ketua klub juga sebenarnya tidak
sepintar yang terlihat."
Begitu
ya. Rasanya memang seperti itu.
"Lalu
bagaimana? Menyerah dan menjelaskan bahwa kau akan belajar sendiri?"
"Hmm,
tapi mereka sudah berkumpul sebanyak ini. Kalau langsung menyerah begitu saja──
tidak seru, kan?"
"…Apa
yang sedang kau pikirkan sih?"
"Sedikit
saja. Nukkun, kau akan membantuku, kan?"
Dengan
nada seperti anak usil, Yakishio membuatku menyerah sepenuhnya dan menghela
napas.
◇
"Semuanya
jangan bergerak! Aku punya sandera!"
Yakishio
melingkarkan lengannya di leherku dari belakang, lalu menatap tajam pasukan
gabungan klub olahraga yang mengepung kami.
Aku
tidak begitu paham, tapi sepertinya dia berniat menggunakan aku sebagai sandera
untuk kabur dari pengepungan.
Orang-orang
dalam pengepungan terlihat bingung dengan perkembangan aneh ini. Aku juga ikut
bingung, lalu Yakishio memperkuat cekalan lengannya.
"Ayo,
Nukkun juga bilang sesuatu yang terdengar seperti sandera."
Kalau
tiba-tiba disuruh begitu… hmm, mungkin seperti ini…
"T-to-long…"
"Nukkun,
aktingmu jelek sekali ya?"
Tidak
juga, itu lumayan bagus. Buktinya, Ketua Klub Kurata melangkah keluar dari
barisan pengepungan.
"Mengambil
sandera itu tidak ada gunanya. Nukumizu-kun rela mengorbankan nyawanya demi
membuat Lemon belajar."
"Aku
tidak rela, tahu?"
Aku
langsung membatalkannya. Maaf, aku tidak punya tekad sebesar itu.
Yakishio
tersenyum tipis.
"Kalau
kalian menyentuhku, sandera ini akan mengalami hal yang mengerikan."
"Oh…
hal mengerikan seperti apa?"
"Senpai,
jangan memancing, dong."
Orang
ini benar-benar hanya menambah masalah.
Yakishio
berdehem, lalu menyatakan dengan lantang kepada semua orang.
"Kalau kalian berani bergerak, leher Nukkun akan── kupatahkan!"
Berhenti.
Jangan dipatahkan.
Tentu
saja itu hanya ancaman, tapi mengingat ini Yakishio, mungkin saja leherku
benar-benar dipatahkan setengah.
Melihat
ekspresi ketakutanku, Ketua Klub Kurata akhirnya mundur juga.
Saat
Ketua Klub Kurata memberi instruksi, orang-orang yang mengepung pun membuka
jalan.
Yakishio
tetap melingkarkan tangannya di leherku saat melewati pengepungan, lalu—
"Terima
kasih ya, Nukkun."
Setelah
meninggalkan kata-kata itu, dia merebut kotak serangga dari tanganku dan
langsung berlari menjauh.
Meninggalkan
bau keringat dan sedikit aroma parfum.
◇
Ruang
perpustakaan SMA Tsuwabuki dipenuhi siswa yang sedang belajar menghadapi ujian.
Seorang
siswi yang masuk sambil membawa tas dan kotak serangga duduk di meja kosong,
lalu meregangkan tubuhnya lebar-lebar.
"Nah,
ayo berusaha."
Saat
ia mengaduk-aduk isi tasnya, seseorang duduk di sebelahnya. Itu Komari.
"!"
Yakishio
panik dan hendak berdiri, tetapi Komari menarik pakaiannya.
"D-duduklah."
"…Baik."
Yakishio
yang duduk dengan patuh membuka mulutnya dengan ragu.
"…Komari-chan
juga datang untuk menangkapku?"
"A-aku
memang mencarimu, tapi bukan untuk menangkapmu."
Komari
mulai memainkan ponselnya tanpa berkata apa-apa.
Yakishio
melirik wajah Komari dengan canggung.
"Aku…
berniat belajar untuk ujian dengan serius. Aku sudah menyesal, tahu?"
"A-aku
tahu kok."
Terdengar
bunyi notifikasi dari ponsel Yakishio.
"A-aku
sudah mengirimkan materi persiapan untuk ujian kali ini."
"Hah?
Komari-chan yang membuatnya?"
"A-aku
sebenarnya ingin membuatnya sendiri. T-tapi aku tidak cukup mengerti untuk bisa
mengajarimu. Jadi…"
Kali
ini Komari mengalihkan pandangannya dengan canggung.
"A-aku
meminta bantuan Ayano Mitsuki."
"──Ke
Mitsuki?!"
Yakishio
memegang bahu Komari yang masih menunduk, lalu memaksanya menatap wajahnya.
"Komari-chan,
kau berteman dengan Mitsuki?! Sejak kapan?"
"T-tidak,
hari ini juga pertama kalinya aku bicara dengannya."
Komari
yang pemalu sampai meminta tolong kepada siswa laki-laki yang hanya sekadar
dikenalnya wajahnya.
Yakishio
kehilangan kata-kata karena terkejut, sementara Komari melanjutkan dengan suara
pelan.
"K-kau
dulu pernah dibantu belajar olehnya, kan."
"…Iya."
Hari-hari
yang berat, tapi juga berharga.
Yakishio
diam-diam memeriksa materi persiapan yang dikirim ke ponselnya. Mulai dari
daftar pengecekan pemahaman, tabel progres, hingga metode belajar bertahap,
semuanya dirangkum dengan rapi.
"Kau
memintanya hari ini, kan? Kenapa materinya bisa sedetail ini?"
"D-dia
bilang, sudah menyiapkannya kalau hal seperti ini terjadi."
Komari
mengernyitkan alisnya dan berbisik pelan.
"L-laki-laki
itu… tidak apa-apa, ya?"
Melihat
ekspresi khawatir Komari, Yakishio tidak bisa menahan tawa.
"Mitsuki
memang punya sisi seperti itu."
──Ya,
Ayano Mitsuki memang pria seperti itu.
Suka
mengurus orang lain, sering terlalu bersemangat, dan sangat baik hati.
Dia
dulu menyukaiku──
Sambil
menatap layar ponselnya dan tenggelam dalam pikirannya, Komari membuka buku
pelajaran di sebelahnya.
"K-kalau
ada yang tidak kau mengerti, aku akan mengajarimu."
"Tidak
apa-apa kah? Komari-chan juga harus belajar untuk ujian, kan?"
Komari
memalingkan wajahnya dengan malu-malu, lalu berkata.
"A-aku
juga menantikan saat kau berlari di Inter-High."
"…Terima
kasih, Komari-chan."
Kalau
sudah dibantu sampai sejauh ini, aku tidak boleh menyerah.
Yakishio
menepuk pipinya untuk menyemangati diri, lalu membuka buku pelajarannya.



Post a Comment