Chapter 8
Saintess Lebih Suka Dipanggil
Tanpa Gelar
Seleksi
perwakilan untuk setiap cabang olahraga hampir berakhir seiring dengan
mendekatnya bulan Juli.
Menjelang
pelaksanaan Festival Lion King, para murid mulai tampak lebih gelisah dan
antusias dari sebelumnya.
Bahkan
di akademi bergengsi ini pun, suara bisik-bisik saat jam pelajaran terdengar
mencolok.
Melihat
kumpulan remaja yang sedang bersemangat, para profesor hanya bisa memaklumkan
dan berpura-pura tidak melihat hal tersebut karena banyaknya kaum bangsawan di
sini.
...Kelihatannya
seru sekali, ya.
Saat
jam istirahat makan siang, Ren berjalan di koridor sambil memperhatikan suasana
itu.
Ke
mana pun dia memandang, para murid hanya membicarakan tentang Festival Lion
King.
Murid
yang tidak berpartisipasi dalam kompetisi pun sibuk berjanji untuk menonton
pertandingan tertentu atau berkeliling melihat stan makanan pada hari H nanti.
Tiba-tiba,
sebuah ingatan terlintas di benaknya.
Pemandangan
itu tumpang tindih dengan koridor akademi yang sedang dilihat Ren saat ini.
"Vane,
semangat ya. Soalnya aku sudah kalah."
"……Tapi,
selanjutnya ayo kita ikut bersama lagi. Di kualifikasi kali ini pun Ren bisa
bertahan sampai akhir, jadi selanjutnya kamu pasti bisa jadi perwakilan."
"Terima
kasih. Mungkin aku akan berjuang lagi nanti."
Ren
Ashton dan Vane bercakap-cakap sambil berjalan di koridor saat jam istirahat.
Dalam
Legend of the Seven Heroes, mereka berdua adalah sahabat yang memiliki
hubungan pertemanan yang sangat dalam dan sering berbincang seperti ini.
"Oi,
Vane!"
"Ah,
Kak Kaito."
"Aku
mencari kalian, lho. Padahal aku berniat mengajak makan siang bareng──── Oh? Yang di sana itu kalau tidak salah... Ashton, yang
bertarung di seleksi perwakilan juga, kan?"
Kaito berujar dengan lantang sambil merangkul pundak Ren
Ashton.
Ren Ashton yang dirangkul mendadak itu berbeda dengan Ren
yang sekarang; meski tidak bisa disebut penakut, dia memberikan kesan sebagai
pemuda yang pendiam.
"Kamu sangat kuat! Aku tadi berpikir ingin bertemu lagi
denganmu! Bagaimana?
Kalau mau, ayo kita bertiga makan siang bareng!"
"Ren,
bagaimana menurutmu?"
"Aku juga tidak keberatan. Tuan Leonard, dengan senang
hati."
"Nggah-hahahaha!
Terlalu kaku, tahu! Panggil saja kakak tingkat!"
"Ka-kalau
begitu, Kak Leonard!"
"Begitu dong! Kalau begitu ayo pergi, kalian
berdua!"
Ingatan
itu menghilang dan kembali pada realitas Ren yang sekarang, bukan lagi Ren
Ashton dari masa lalu.
Ren
memang telah membangun pertemanan dengan Vane, namun hubungan mereka tidak
sedalam di Legend of the Seven Heroes.
Ren
tidak berpartisipasi dalam seleksi perwakilan Festival Lion King, sehingga ada
banyak perbedaan yang terjadi.
Seseorang tiba-tiba menepuk pundak Ren dari belakang.
"Ren."
Yang memanggilnya adalah Vane, orang yang baru saja
dipikirkan oleh Ren.
"Ada
apa?"
"Kebetulan
aku melihatmu jadi aku menyapa. Kalau belum makan siang, mau pergi bareng?"
Keduanya mulai berjalan sambil membicarakan Festival Lion
King.
Mereka menikmati keriuhan murid-murid di sekitar sambil asyik
mengobrol tentang persiapan hari H.
"Oiii!"
Sebuah
suara terdengar dari arah tujuan mereka berjalan.
Saat
mereka menoleh, di sana ada Kaito Leonard, siswa tahun kedua.
"Aku
mencari kalian, lho! Padahal aku berniat mengajak kalian berdua makan siang
bareng!"
"Aku
dan Vane juga baru mau ke kantin, bagaimana kalau kita pergi bertiga?"
"Oh! Kalau begitu ayo pergi, kalian berdua!"
Meski terasa berbeda, pemandangan yang serupa terkadang
muncul juga.
Ren
merasa hal itu sangat menarik hingga tanpa sadar ia tersenyum tipis.
Sesampainya
di kantin, Kaito melahap makanan dengan porsi yang jauh melampaui gabungan
porsi Ren dan Vane.
Melihatnya makan dengan begitu lahap memberikan perasaan yang
melegakan.
Namun,
setelah selesai makan, Kaito tiba-tiba berhenti bergerak.
Di depan Ren dan Vane yang kebingungan, Kaito bersandar lemas
di kursi sambil menatap langit-langit kantin yang tinggi.
Di tengah ruangan luas yang terlalu mewah untuk ukuran kantin
sekolah, dia menunjukkan tampang yang menyedihkan.
"Ada
apa, Kak?" tanya Vane.
"Aku
lupa soal pelajaran siang ini. Ada tugas yang belum aku kerjakan."
"Ah,
uuh... itu gawat ya."
"Aku tidak mengerti soal ilmu tanaman obat... Berapa takaran yang
dibutuhkan, kenapa kalau kurang jadi tidak boleh... Kepalaku mau meledak karena
penuh dengan rumus yang tidak masuk akal..."
Di
samping Vane yang tersenyum pahit, Ren mengingat kembali materi pelajaran ilmu
tanaman obat tahun kedua.
Memang
pelajaran di akademi ini tingkatnya tinggi, namun dalam kasus Kaito, sepertinya
karena dia memang dasarnya tidak suka belajar.
"Kak
Leonard."
"Nggo?
Ada apa, Ashton? Apa kamu ingin menertawakan tampang menyedihkanku ini?"
"Tidak,
jam istirahat masih ada sekitar tiga puluh menit, bagaimana kalau kita kerjakan
semampunya?"
Mendengar
itu, Kaito malah menyerah.
"Haha!
Bukannya sombong ya, tapi Ren, kamu meremehkan betapa buruknya nilaiku?"
"Tidak,
saya sangat menyadari──── maksud saya, tidak apa-apa kok."
"Oh?
Aku abaikan dulu apa yang tadi hampir kamu katakan, tapi apanya yang tidak
apa-apa?"
"Aku
akan membantumu."
"……Serius?"
Kaito
mencondongkan tubuhnya di atas meja.
Dia
mendekatkan wajahnya ke arah Ren sambil membelalakkan mata dan berkedip
berkali-kali.
"……Seriusan
nih!?"
Dia
mengulanginya sekali lagi dengan mulut menganga lebar.
Ren
yang mendengar suara keras itu dari jarak dekat menjawab dengan tenang,
"Karena itu, mari kita bergegas," lalu berdiri dari kursinya.
Ren berniat mengembalikan piring kotornya, namun...
"Kumpul
di depan perpustakaan, ya! Piring kalian berdua biar aku yang bereskan!"
Kaito mengumpulkan piring mereka bertiga dan langsung berlari
tanpa menunggu jawaban.
Ren dan Vane hanya bisa mengangkat bahu melihat tingkahnya.
"Maaf,
aku tidak bisa ikut karena ada janji dengan Sera. Lagipula, aku juga tidak
terlalu paham ilmu tanaman obat, jadi aku tidak bisa membantu."
Ren
memberitahu Vane untuk tidak memikirkannya, lalu bergegas menuju perpustakaan.
Tak
lama setelah mulai berjalan, Kaito menyalip di sampingnya bagaikan angin sambil
berteriak, "Aku segera ke sana!"
Melihatnya
ditegur oleh profesor yang lewat dengan teriakan "Jangan lari di
koridor!", Ren hanya bisa membatin bahwa Kak Kaito memang tidak tertolong.
Sesaat
sebelum jam istirahat berakhir, Kaito keluar dari perpustakaan setelah berhasil
menyelesaikan tugasnya.
Saat
berpisah, dia mengucapkan terima kasih dengan suara kecil agar tidak mengganggu
ketenangan perpustakaan.
"Ternyata
bisa selesai juga, ya."
Ren
sedikit terkejut sekaligus senang karena pengetahuan pribadinya ternyata cukup
untuk mengerjakan tugas tahun kedua.
Rencananya
siang ini dia akan mengerjakan tugas komite pelaksana.
Namun
karena tubuhnya terasa kaku setelah duduk terus selama puluhan menit, dia
memutuskan keluar dari perpustakaan dan menuju taman akademi.
Niatnya
ingin berjalan-jalan santai, namun dia melihat Radius sedang duduk di salah
satu kursi teras taman.
"Radius."
"Hm?
Oh, Ren ya."
Radius tampak sedang tenggelam dalam pikirannya.
"Sedang memikirkan sesuatu?"
"Ya. Ada sedikit hal yang mengusik pikiranku."
Sepertinya Radius tidak berniat menjelaskan apa hal yang
mengusiknya itu.
Sesaat dia menatap Ren dan hendak mengatakan sesuatu, namun
ia kembali menutup mulutnya.
"Aku akan menemui Mirei dulu sebelum ke sana. Maaf,
bisakah tolong beritahu mereka berdua untuk menunggu sebentar?"
"Oke, mengerti."
Ren pergi meninggalkan Radius dan berbalik menuju ruang
komite pelaksana.
Radius
sendiri masih berada di sana sambil terus memikirkan sesuatu, sebelum akhirnya
mulai melangkah beberapa menit kemudian.
Di
sudut taman, tepat sebelum sampai di tempat yang dikelilingi pagar tanaman...
"Ini
aku, Nya."
Mendengar
suara dari balik bayangan pagar tanaman, Radius membalas "Aku sudah
menunggumu" lalu bergabung dengan Mirei.
Mirei
menyerahkan secarik kertas berisi informasi yang telah ia selidiki kepada
Radius.
◇◇◇
Di
ruangan kecil di bagian dalam perpustakaan, Licia dan Fiona sudah tiba lebih
dulu.
Saat
Ren sedang berbincang dengan mereka, pintu ruangan terbuka dan Radius bersama
Mirei menampakkan diri.
Radius
meminta Mirei meletakkan setumpuk kertas tebal di atas meja kerja mereka.
"Mirei-san,
ini kalau tidak salah..."
"Bukankah
ini pekerjaan yang seharusnya kita selesaikan hari ini bersama-sama...?"
Setelah
pertanyaan Fiona mengikuti pertanyaan Licia, Mirei melirik ke arah Radius.
"Seperti
yang kalian katakan, ini pekerjaan yang seharusnya dilakukan hari ini."
Kali
ini Licia dan Fiona mengalihkan pandangan mereka kepada Ren, memintanya untuk
bertanya lebih lanjut.
"Sepertinya
semuanya sudah selesai, ya?"
"Aku
sudah menyelesaikannya di istana. Untuk saat ini, tolong perhatikan ke
sini."
Radius
berjalan menuju papan tulis di ruangan itu dan mulai menuliskan jadwal untuk ke
depannya.
Dia
tidak melihat catatan sama sekali, sepertinya semua sudah ada di dalam
kepalanya.
"Festival
Lion King akan segera dimulai. Pekerjaan kita sebagai komite pelaksana adalah
sebagai berikut. Seperti yang kalian lihat, jadwal kita sangat padat dengan
pekerjaan merepotkan sampai hari H nanti. Terlepas dari itu────"
Satu
per satu tanda silang dibuat pada jadwal tersebut.
Tanda
itu menunjukkan hari-hari yang menurut Radius akan sangat sibuk.
Terlihat
jelas bahwa mulai hari ini sampai hari H Festival Lion King, mereka tidak akan
punya waktu luang.
Namun,
hari ini tampak berbeda karena ada tanda lingkaran yang ditambahkan.
Saat
mereka bertiga terpesona melihat apa yang dilakukan Radius, dia menuliskan
'Berkeliling Perusahaan Dagang' pada jadwal hari ini.
Pekerjaan
seperti itu memang sudah direncanakan sejak lama, tapi...
"Pihak
akademi akan menyiapkan makanan, minuman, dan perlengkapan lainnya untuk para
perwakilan kita. Tentu saja pihak akademi akan melakukan pengecekan, namun kita
sebagai komite pelaksana juga harus memastikannya."
"Pengecekan ganda supaya lebih aman, Nya!"
"Aku
penasaran, kenapa pekerjaan itu baru dilakukan hari ini?"
Karena
jadwal berubah mendadak, Ren yakin pasti ada alasan yang masuk akal.
Radius
menoleh ke arah Ren, lalu menjawab dengan tatapan tenang tanpa keraguan seperti
biasanya.
"Hanya
hari ini saja kita bisa bekerja dengan santai. Jika bukan hari ini, kita tidak
akan bisa menikmati suasana kota bawah benteng."
"Ah,
begitu rupanya."
Ren
yang paling mengenal Radius langsung menyadarinya, lalu memberitahu Licia dan
Fiona yang masih kebingungan.
"Sepertinya
dia memikirkan agar kita, para anggota komite pelaksana, bisa sedikit
bersantai."
"Kita
sudah tenggelam dalam pekerjaan sampai hari ini. Tidak ada salahnya kan kalau
kita beristirahat sejenak? Lagipula, selama periode Festival Lion King pun
pasti akan ada beberapa pekerjaan."
"Jadi
maksudnya, asalkan kita sudah menyelesaikan pekerjaan hari ini, tidak apa-apa
kalau kita bersenang-senang lebih awal, ya."
Radius
mengangguk setuju pada perkataan Ren.
"Stan-stan
makanan untuk Festival Lion King mulai dibuka sore ini. Bukan hanya murid
Akademi Militer Kekaisaran, tapi murid-murid dari sekolah lain pun pasti akan
datang."
Radius
mulai berjalan pergi bersama Mirei.
"Lalu
Ren, untuk pemandu jalannya tolong percayakan pada mereka berdua. Aku dan Mirei
akan melakukan pekerjaan lain. Dokumen-dokumennya sudah aku rangkum di sana,
tolong diperiksa."
"Anu────
eeii..."
Ren
hanya bisa menatap kepergian Radius yang berlalu begitu saja dengan suara yang
terdengar pasrah.
Begitu
sampai di luar dan hanya berdua dengan Mirei, Radius menghela napas pendek.
"Kita
juga punya pekerjaan. Bukan cuma tugas komite pelaksana, tapi kita harus
mengerjakan 'tugas itu'. ────Aku tidak berniat membiarkan apa pun yang
dilakukan di belakangku."
"Saya
mengerti, Nya."
Setelah
percakapan rahasia itu, keduanya pun meninggalkan akademi.
Tanpa
mengetahui apa yang dibicarakan oleh mereka yang sudah di luar, Ren menatap Licia
dan Fiona.
"Jadi,
apa yang harus kita lakukan?"
Berdasarkan
kata-kata Radius tadi, rute berkeliling perusahaan dagang sepertinya diserahkan
sepenuhnya kepada mereka.
Mendengar
suara Ren, kedua gadis bangsawan itu mulai berdiskusi.
"Bagaimana
kalau kita mulai dari sini? Lalu ke arah sini──── setelah itu selanjutnya ke
tempat ini────"
"Licia-sama,
lewat sini sepertinya kita bisa melihat-lihat toko di jalan besar juga."
"Ah,
benar juga ya!"
Bukannya
mereka mengabaikan pekerjaan.
Mereka
memprioritaskan berkeliling ke perusahaan dagang, dan usulan Licia adalah
rencana terbaik yang juga mempertimbangkan hal tersebut.
Keduanya
bertanya kepada Ren.
"Ren-kun,
apa begini saja cukup?"
"Ren,
begini tidak apa-apa?"
Pada
akhirnya, sebelum Ren sempat ikut bicara, mereka berdua sudah menyusun rute
perjalanannya.
Karena
di kertas itu tertulis nama-nama perusahaan dagang dan fasilitas yang belum
pernah Ren dengar, dia memang berniat menyerahkan semuanya pada mereka sejak
awal.
Dalam
waktu kurang dari puluhan menit, mereka sudah sampai di kota bawah benteng.
Sambil
berkeliling ke perusahaan dagang, mereka mampir ke stan makanan seperti hal
yang lumrah dilakukan.
Karena
haus dan sedikit lapar, Ren membawa mereka berkeliling ke beberapa stan sebelum
akhirnya duduk di bangku yang kosong.
Licia
dan Fiona memakan manisan yang mereka beli dengan wajah yang tampak sangat
bahagia.
"Ini
manis dan enak sekali...!"
"Yang
ini juga sangat lezat!"
Ren
memperhatikan betapa bahagianya mereka berdua sambil memandang suasana kota
bawah benteng.
Kota
ini memang selalu ramai setiap harinya, namun hari ini terasa jauh lebih padat.
Dia
bahkan bisa melihat murid-murid dari sekolah lain yang sepertinya membolos
pelajaran demi bisa main ke kota.
"Jalan
besar ini langsung terasa seperti suasana sebelum festival ya," ujar Ren
sambil memegang makanan yang ia beli di kedai.
Licia
yang duduk di sampingnya, serta Fiona yang duduk di sebelah Licia, mengangguk
setuju.
"Iya.
Mungkin masih terlalu awal, tapi aku merasa sedikit lega dan bangga."
"Aku
juga. Memikirkan kalau hari H sudah dekat, rasanya perjuangan kita sampai hari
ini tidak sia-sia."
Mungkin
memang terlalu awal seperti yang mereka katakan.
Ren
pun merasakan hal yang sama. Kesempatan untuk bersantai seperti ini membuat
perasaan itu semakin nyata, apalagi melihat senyum bahagia kedua gadis di
sampingnya.
"────Syukurlah."
Melihat
mereka yang sekarang, Ren kembali berpikir bahwa menerima tugas komite
pelaksana adalah keputusan yang tepat.
Gumamannya
barusan tidak terdengar oleh mereka, namun mereka menyadari tatapan yang Ren
berikan.
"Duh,
kenapa kamu terus menatap kami begitu?"
"Kalian
berdua terlihat sangat senang, jadi tanpa sadar aku memperhatikan."
"Fufu,
apa Ren-kun sendiri tidak merasa senang?"
Dengan
cahaya matahari sore yang mengenai sisi wajahnya, Fiona menatap Ren sambil
memiringkan kepalanya sedikit.
Mendapat
tatapan dari keduanya, Ren bangkit dari bangku dan langsung menoleh ke arah
mereka.
"Tentu
saja aku senang. Makanya setelah ini pun, aku berpikir ingin mengajak kalian
berkeliling sedikit lagi sebelum pulang."
Licia dan Fiona terkekeh mendengar perkataan Ren.
"────Aku juga mau!"
Suara mereka berdua terdengar ceria secara bersamaan.
Waktu sore itu berlalu begitu cepat, dan mereka bertiga
kembali ke akademi sesaat sebelum matahari terbenam.
Sambil berterima kasih dalam hati atas kebaikan Radius, Ren
baru saja duduk di kursinya saat ia menemukan dokumen yang memerlukan tanda
tangan Chronoa.
"Aku akan pergi ke tempat Bu Chronoa sebentar."
"Iya, baiklah."
"Kami akan mengerjakan sedikit tugas di sini ya."
Setelah berpisah dari mereka, Ren melihat suasana akademi
dalam perjalanannya menuju ruang kepala sekolah.
Seleksi perwakilan memang sudah tidak dilakukan di sebagian
besar cabang olahraga, namun sebagai gantinya, terlihat para murid yang
terpilih sedang berlatih dengan giat.
Tidak sedikit pula murid yang menonton latihan tersebut,
membuat suasana setelah pulang sekolah tetap ramai seperti biasanya.
Ren
terus berjalan membelah keramaian para murid.
Beberapa
menit kemudian ia sampai di depan ruang kepala sekolah. Begitu ia mengetuk
pintu, sebuah suara ceria segera menyahut, "Silakan masuk~!".
"Permisi."
Saat
ia masuk setelah memberi salam singkat, terlihat Chronoa sedang bersantai duduk
di sofa.
Diterangi
oleh cahaya matahari terbenam, ia tersenyum lebar saat melihat Ren.
"Ren-kun,
selamat datang. Ada perlu apa hari ini?"
"Ada dokumen yang memerlukan tanda tangan Anda, apakah
sekarang Anda sedang senggang?"
"Tentu
saja! Kalau untuk Ren-kun, kapan pun aku pasti bersemangat!"
Begitu Ren menyerahkan dokumen itu, Chronoa mulai
memeriksanya sambil bergumam "Hm hm".
Suaranya kembali terdengar saat Ren sedang menunggu.
"Aku tidak bisa terlalu sering berada di lapangan selama
Festival Lion King, jadi kalau ada kesulitan, tanya pada guru-guru yang lain,
ya."
Meski terdengar mendadak, sepertinya ia ingin segera
menyampaikannya pada Ren yang terus mengerjakan tugas komite pelaksana.
Chronoa sempat berhenti sejenak untuk menatap Ren dan
mengatakannya dengan nada menyesal sebelum kembali bekerja.
Ren ingat Chronoa memang pernah bilang kalau dia akan sangat
sibuk selama periode Festival Lion King.
"Kalau
ada pekerjaan yang bisa kami bantu, kami para anggota komite pelaksana siap
sedia kok."
"Pekerjaannya
berhubungan dengan pertemuan raja atau bangsawan negara lain, apa kamu mau
membantu?"
Ren
perlahan mengalihkan pandangannya.
Chronoa
segera bergerak mengikuti arah pandangan Ren agar mata mereka tetap bertemu.
"Ahahaha! Bercanda kok! Tenang saja, tenang! Kami orang
dewasa juga harus bekerja keras, kalau tidak rasanya tidak enak pada Ren-kun
dan yang lain yang sudah berusaha sampai hari ini! Jangan khawatir, kalian
nikmati saja festivalnya ya!"
"Maaf. Tapi kalau ada hal yang bisa aku lakukan, tolong
beritahu saja!"
Mendengar itu, Chronoa bangkit dari kursinya.
Saat ia menghampiri Ren, cahaya matahari berwarna jingga
menerangi sisi wajahnya.
Di depan kecantikannya yang sangat mudah disebut sebagai
sosok yang misterius, Ren menahan napas saat matanya bertatapan langsung dengan
wanita di depannya.
"Nyufufu~"
Chronoa tiba-tiba mengulurkan tangan dan mengusap kepala Ren.
"A-apa
yang Anda lakukan tiba-tiba!?"
"Hanya
ingin saja. Soalnya wajah serius Ren-kun tadi terlihat manis, jadi tanpa sadar
tanganku bergerak sendiri."
"Tanpa
sadar katanya..."
"Tahaha!
Tapi Ren-kun, tidak boleh begitu, lho!"
Chronoa
menjulurkan jari telunjuknya dan menyentuh ujung hidung Ren. Ia terus bicara
tanpa memedulikan keterkejutan Ren.
"Jangan
terlalu mengkhawatirkan orang dewasa! Jangan cemaskan pekerjaanku. Jangan
remehkan kekuatan orang dewasa, oke?"
"Tidak,
bukan bermaksud begitu, aku cuma berpikir siapa tahu benar-benar ada yang bisa
kubantu."
"Wah... Ren-kun
benar-benar manis ya... Padahal sekarang tinggi badanmu sudah melampauiku,
tidak seperti saat pertama kita bertemu, tapi rasanya aku tetap ingin membawamu
pulang ke ibukota saja..."
"Aku kan sudah tinggal
di dekat ibukota," jawab Ren.
Chronoa terkekeh sambil
menandatangani dokumen yang dibawa Ren, lalu ia mengubah topik pembicaraan.
"Ren-kun,
Ren-kun."
"Iya
iya, ada apa lagi?"
"Tiba-tiba
sih, tapi bagaimana perkembangan teknik pedang Great Sword milikmu
setelah itu?"
Pertanyaan
itu membuat Ren bingung harus menjawab apa, karena perkembangannya tidak
terlalu bagus. Tidak berlebihan jika dikatakan ia sedang benar-benar
menabrak tembok penghalang.
Apalagi teknik orisinalnya sendiri belum membuahkan hasil
yang memuaskan.
Chronoa menatap dalam ke arah manik mata Ren yang sedang
kebingungan.
Sangat dalam... seolah bukan manik matanya yang ia tatap,
melainkan sesuatu yang tersembunyi jauh di dalamnya; sebuah tatapan lembut yang
seolah melihat hakikat dari sosok Ren.
"Hm hm. Sepertinya
'kekuatan misterius' itu malah berkembang pesat ya."
"!?────"
Ren ingat Chronoa pernah
mengatakan hal yang sama saat di Clausel.
Dengan sedikit panik, Ren balik bertanya.
"Bu
Chronoa, apa yang Anda maksud dengan kekuatan misterius itu?"
"Eh?
Maksudku ya kekuatan yang kamu sembunyikan itu, lho?"
Chronoa
menjawab dengan santai.
"Tenang
saja. Aku tidak memberitahukannya pada siapa pun."
"……Itu!"
"Kamu
penasaran kenapa aku bisa menyadarinya, kan? Jawabannya mudah, aku memang peka
terhadap hal-hal seperti itu. Meski aku tidak tahu detail kekuatannya
sih."
"……Bukannya
Anda sebenarnya bisa membaca pikiran orang, kan?"
"Ahaha,
tentu saja tidak."
Lawan
bicaranya adalah Chronoa Highland, yang dianggap sebagai salah satu penyihir
terbaik di dunia.
Tidak aneh jika dia bisa melakukan hal-hal yang berada di
luar nalar Ren.
"Apakah Licia-chan dan Fiona-chan sudah kamu beri tahu
tentang kekuatanmu itu?"
"Tidak,
karena menurutku ini kekuatan yang aneh, jadi sulit untuk mengatakannya... Aku
pernah memakainya saat bertarung di Menara Jam Besar, tapi aku belum
memberitahu siapa pun tentang wujud aslinya."
"Hmm... Ternyata benar begitu ya."
Wanita cantik yang rambut pirang keemasannya bergoyang pelan
itu berkata tanpa banyak berpikir.
"Kalau
begitu, kenapa tidak kamu beritahu saja?"
Saran yang begitu enteng itu membuat Ren tertegun.
"Sampai
sekarang kamu merahasiakannya karena alasanmu sendiri, kan?"
"Itu...
benar."
Awalnya
ia merahasiakannya karena berpikir itu adalah kekuatan milik Ren Ashton yang
asli.
Lalu
setelah tinggal di Clausel, ia beralasan bahwa membeberkan Skill sama
saja dengan menunjukkan kelemahan.
Itu
bukan kebohongan, dan karena ada sisi benarnya jugalah orang-orang bisa
memakluminya.
"Memang
benar keputusanmu untuk merahasiakannya demi berbagai pertimbangan. Tapi,
mencoba memikirkannya kembali juga akan berguna untuk masa depanmu nanti."
"……Apa
maksudnya?"
"Bukankah
tidak apa-apa jika kamu mengatakannya pada orang yang memang pantas untuk
mengetahui kelemahanmu?"
Sekali
lagi, ia mengatakannya dengan sangat santai.
Kata-kata
Chronoa secara ajaib meresap ke dalam hati Ren. Mengingat Ren yang sekarang
bukanlah dirinya yang dulu, perubahan perasaan dan pikirannya membuatnya
mendengarkan dengan seksama.
"Menjalani
hidup ke depannya dengan terus menyimpan rahasia dari orang-orang tersayang itu
pasti jauh lebih berat dari yang kamu bayangkan."
Sisi
wajah Chronoa yang diterangi cahaya senja.
Sosoknya
yang misterius, serta suaranya itu...
"Setelah
tugas komite pelaksana dan Festival Lion King selesai dan suasana sudah tenang,
bagaimana kalau kamu coba pikirkan lagi?"
"……Akan
kucoba."
"Tapi
kalau kamu bingung, datang saja ke tempatku lagi. Aku siap jadi teman curhat
kapan saja."
Mendengar
jawaban Ren, Chronoa tersenyum lembut.
Lalu
ia mengeluarkan tongkat sihirnya dan mengayunkannya berputar-putar di atas
kepala Ren.
Ren
merasa dikelilingi oleh kenyamanan yang membuat hatinya seketika menjadi
tenang.
◇◇◇
Pada
malam harinya, ada cahaya putih di taman.
"Bagaimana
menurutmu?"
Licia,
yang mengeluarkan cahaya putih dari tangannya, bertanya kepada Ren tentang efek
dari sihir sucinya.
Mereka
berdua duduk berhadapan di kursi teras taman.
"Rasanya
jauh lebih hebat daripada saat musim semi lalu."
Sihir
sucinya sudah jelas berbeda jauh dibanding saat pertama kali mereka bertemu.
Bahkan dibandingkan saat melawan Jelkuqu pun, sihir sucinya yang sekarang sudah
tidak bisa dibandingkan lagi.
"Aku
senang mendengarnya... tapi, ada hal yang membuatku tidak puas."
Licia menatap Ren dengan lekat.
"Dari sudut pandangmu, sihir suciku ini benar-benar jadi
lebih hebat dan itu bukan bohong, kan?"
"Tentu saja tidak. Aku tidak sedang berbasa-basi atau
memujimu berlebihan kok."
"Kalau begitu, berarti perasaanku tadi benar."
Licia sedikit mengerucutkan bibirnya.
Ekspresi alami yang sesuai dengan usianya itu tidak pernah ia
perlihatkan di akademi, namun sering kali ia tunjukkan saat berada di depan Ren
sebagai bentuk rasa nyamannya.
"Meski aku sudah menggunakan sihir suci pada diriku
sendiri, aku masih belum bisa menang melawan Ren."
"……Akhir-akhir ini kita memang jarang berlatih tanding
seperti itu, ya."
"Iya, soalnya perhatianku tersita untuk melatih teknik
pedang Great Sword. Lagipula, karena ada tugas komite pelaksana, aku
tidak boleh bertindak gegabah sampai terluka."
Jika menggunakan sihir suci dan teknik penguatan tubuh secara
bersamaan, kemampuan Licia akan melonjak drastis. Kecepatan pedang dan
kelincahannya meningkat jauh di atas rata-rata—itulah keunggulannya.
Namun
yang membuatnya tidak puas adalah kenyataan bahwa sejak dulu, ia tetap tidak
bisa menang melawan Ren.
Pertama
kali mereka bertanding menggunakan sihir suci adalah di kediaman keluarga
Ashton.
Berikutnya
di kediaman Clausel, dan bahkan setelah datang ke Erendil, ada banyak
kesempatan serupa, namun hasilnya selalu sama.
Licia
yang teringat akan masa lalu itu pun bergumam,
"…………Muuu."
Sambil
tetap duduk di depan Ren, ia sekali lagi mengerucutkan bibirnya.
Ia
tidak tampak sedang menatap Ren dengan benci, melainkan lebih seperti rasa
kesal pada diri sendiri yang terpancar di wajahnya.
Meski
begitu, ia tetap terlihat manis, mungkin karena memang itulah pesona seorang Licia.
"Mau
mencoba bertanding setelah sekian lama?"
"Tidak.
Aku akan menahannya. Sebentar lagi ada Festival Lion King, akan gawat kalau aku
memaksakan diri lalu terluka, kan?"
Licia
berujar sambil tertawa ringan.
Tanpa
terasa, cukup banyak waktu telah berlalu sejak mereka berdua datang ke taman.
Ren
yang berdiri lebih dulu menghampiri Licia dan mengulurkan tangannya. Licia pun
tersenyum senang dan menyambut uluran tangan itu.
"Lain
kali kita tanding, aku tidak akan kalah."
"Aku
juga, lho."
Keduanya
mengakhiri latihan malam itu dan kembali ke dalam kediaman.
Mereka
menghabiskan waktu sebelum tidur di kamar masing-masing untuk belajar atau
mengistirahatkan tubuh.
Setelah mandi dan menghela napas lega di kamar, Yuno datang
memanggil. Lezard yang berada di ruang kerja memanggil mereka berdua.
Ren tiba lebih dulu di ruang kerja, disusul oleh Licia tak
lama kemudian.
Lezard yang menyambut mereka membagikan informasi mengenai
pelayanan tamu selama Festival Lion King. Ia juga menjelaskan bagaimana kondisi
Erendil yang akan berubah dari biasanya.
Lezard melanjutkan pekerjaannya.
"Lalu, persiapan untuk transportasi tambahan yang menuju
ke dekat Roses Kaitas juga akhirnya selesai."
Ini adalah topik yang sempat muncul pada hari di mana Licia
dan Fiona memamerkan pakaian etnik mereka kepada Ren.
"Roses Kaitas saat ini sebagian besar gunungnya telah
disegel, namun kaki gunungnya adalah pengecualian. Jika kalian mencoba mendaki,
kalian akan tertahan oleh segel di tengah jalan. Dan jika mencoba melihat ke
bagian dalamnya, pandangan akan terhalang oleh kabut tebal. Tapi, kalian tetap
bisa pergi hingga ke dekat sana."
Tidak
ada pelabuhan kapal sihir di dekat Roses Kaitas, sehingga pelabuhan darurat
akan dibangun di tanah lapang di sekitarnya.
"Ada
jalan raya yang menuju ke sana dari Erendil, tapi sudah sangat tua. Bahkan
banyak jalan batunya yang sudah retak. Karena itu, saat perbaikan dilakukan,
muncul usul untuk membangun tempat persinggahan di antara Erendil dan Roses
Kaitas."
"Tempat
persinggahan? Apa maksudnya membangun sesuatu seperti kota?" tanya Ren.
"Tidak, skalanya tidak sampai sebesar itu."
Sepertinya tempat itu akan menjadi titik transit yang berguna
untuk manajemen keamanan jalan raya, dimulai dengan pos penjagaan ksatria.
Karena akan dibangun penginapan dan fasilitas lainnya, ini adalah proyek yang
cukup serius.
Dalam benaknya, Ren membayangkan sesuatu yang sedikit lebih
berkembang daripada desa asalnya saat ia pulang kampung tempo hari.
"Karena adanya pembicaraan tersebut, selain para
peziarah, setiap harinya akan ada banyak pejabat sipil dan bangsawan yang
berkunjung ke sana. Ini saat yang tepat karena selama periode Festival Lion
King, para bangsawan dan pedagang yang biasanya tidak ada di ibu kota juga akan
berdatangan."
Alasan
adanya kapal sihir tambahan sebenarnya lebih kuat karena hal ini. Selain itu,
dari sisi keamanan juga dipertimbangkan.
Jika
menempuh jalur darat, mereka harus melewati jalan raya yang cukup panjang, dan
bisa dibayangkan akan ada beberapa monster yang muncul. Namun Lezard menegaskan
dengan yakin, "Tidak masalah."
"Roses
Kaitas dikelola oleh Leomel yang bekerja sama dengan Gereja Elfen, sehingga di
hutan sekitarnya pun tidak ada satu ekor monster pun. Segel yang mengelilingi
Roses Kaitas memiliki kekuatan yang luar biasa, dan kabarnya tidak berubah
meski sudah ratusan tahun berlalu."
Apalagi
Roses Kaitas dipenuhi oleh kekuatan suci, sehingga keamanannya semakin
terjamin. Ren pun terkagum-kagum mendengar kekuatan segel tersebut.
Dalam
perjalanan kembali ke kamar, Ren dan Licia memikirkan tentang Roses Kaitas.
"Kira-kira
tempat seperti apa ya? Ren mau mencoba pergi ke sana?"
"Aku
ingin pergi, tapi mungkin nanti setelah Festival Lion King selesai."
Mereka
berdua hanya berpikir untuk pergi jika ada kesempatan di masa mendatang.
"Kalau
begitu, bagaimana kalau kita pergi bersama-sama?"
"Iya.
Aku menantikannya."
Licia
mengangguk dengan suara yang terdengar ceria.
Tak
lama kemudian, keduanya berpisah di depan kamar Licia dan kembali menghabiskan
waktu dengan santai. Malam indah dengan langit tanpa awan dan bintang-bintang
yang terlihat jelas itu pun berlanjut untuk beberapa saat lagi.
◇◇◇
"Dulu
saat pasukan Raja Iblis mendekati ibu kota, Leomel dan Gereja Elfen bekerja
sama untuk memukul mundur mereka. Sejak saat itu, Roses Kaitas yang menjadi medan perang
pun disegel."
Keesokan
harinya, saat jam istirahat pelajaran pagi, Sera bercerita kepada Licia yang
bertanya padanya.
Ia
melanjutkan penjelasannya kepada Licia sambil berjalan di koridor.
"Karena
bercampur dengan misteri Gereja Elfen, kabarnya mustahil untuk memasang segel
yang sama di masa sekarang. Aku juga pernah pergi ke dekat Roses Kaitas
sebelumnya, dan menurutku itu adalah segel luar biasa yang kehebatannya bisa
langsung terlihat bahkan dari luar."
Alasan
digunakannya segel sekuat itu adalah untuk melenyapkan kekuatan yang diberikan
Raja Iblis kepada bawahannya.
Karena
kekuatan Gereja Elfen pun tidak mampu memurnikannya secara instan, maka metode
pemurnian yang memakan waktu lama dipilih.
Pada
saat itu, ceritanya mungkin akan berbeda jika Tujuh Pahlawan ada di sana, namun
mereka sedang meninggalkan Leomel untuk bertarung melawan Raja Iblis.
"Kenapa
tiba-tiba membicarakan Roses Kaitas? Apa kamu dipanggil oleh Kuil Agung?"
"Tidak.
Hanya saja kemarin hal ini menjadi topik pembicaraan dengan Ayah."
Licia
menceritakan apa yang ia dengar di ruang kerja bersama Ren semalam. Sera sepertinya
juga pernah mendengar informasi tersebut, ia langsung mengangguk setelah
mendengarnya.
"……Kalau tidak salah, jumlah jadwal kapal sihir akan
ditambah secara khusus, ya?"
"Benar. Aku belum pernah ke Roses Kaitas, jadi kupikir
mungkin Sera pernah melihatnya."
"Mumpung
ada kesempatan, kenapa Licia tidak pergi saja ke sana?"
"Mustahil.
Jadwalku sudah penuh, dan tidak ada alasan bagiku untuk pergi di masa sibuk
seperti ini."
"Aah...
karena tugas komite pelaksana dan tugas keluarga Clausel pasti sangat berat,
ya."
Berbeda
dengan dulu, keluarga Clausel sekarang tidak lagi mudah ditekan oleh bangsawan
tingkat atas.
Bahkan
jika ada, mereka sudah memiliki kekuatan yang cukup untuk membalas argumen.
Sekarang, mereka sudah bisa bekerja tanpa terlalu memusingkan perbedaan gelar
kebangsawanan.
Kedua
gadis yang sedang berjalan di koridor itu menyadari sosok Ren yang berjalan
sendirian dari arah berlawanan. Sera memperhatikan Licia yang menatap Ren dengan lekat
dari samping.
Tiba-tiba, bibir Licia bergerak dan berkata,
"Anu────"
Tidak seperti biasanya, bicaranya terdengar ragu-ragu.
Entah kenapa, sosoknya pun tampak tidak percaya diri, berbeda
dari biasanya.
"Apakah Sera... sudah dipanggil hanya dengan nama saja
sejak dulu?"
"Nama? Apa maksudmu────"
Melihat Licia yang terus mengikuti Ren dengan matanya, Sera
langsung mengerti maksudnya.
"Aaah, begitu rupanya..."
Karena ditanya oleh Licia, Sera pun mencoba mengingat kembali
masa lalunya.
Tanpa menanyakan detail permasalahannya, ia mulai bercerita
sambil memikirkan keseharian Licia dan Ren biasanya.
"Vane pun awalnya memanggilku 'Tuan Putri Riohard' dan
menggunakan bahasa formal yang kaku, lho."
"Lalu,
sejak kapan jadi seperti sekarang!?"
"Apa
kamu ingat cerita saat aku ditolong oleh Vane? Sejak saat itu."
Seingat
Licia, ia pernah mendengar cerita itu dari Sera saat mereka bertemu kembali di
Erendil. Licia terkejut menyadari bahwa perubahan itu terjadi cukup cepat.
"Apa
dia tiba-tiba berhenti memanggilmu dengan gelar?"
"Bukan
tiba-tiba, tapi karena aku yang memintanya berhenti."
Licia
terkejut hingga matanya membulat dan berkedip berkali-kali.
Melihat
reaksi itu, Sera langsung tertawa. Sosok Licia yang biasanya terlihat gagah
kini tampak sangat manis, hingga Sera tidak bisa menahan senyumnya.
Licia
mempertanyakan jawaban yang baru saja ia dengar.
"Benar-benar
cuma itu saja?"
"Iya."
"……Bohong."
"Serius,
lho."
Sera
sadar penjelasannya agak kasar, tapi karena memang begitulah kenyataannya,
tidak ada cara lain untuk menjelaskannya.
Hanya
saja, ia tahu Licia sedang berkonsultasi dengan serius.
"Hubungan antarmanusia itu berbeda-beda bagi setiap
orang. Apa yang kulakukan mungkin tidak terlalu berpengaruh padamu, kan? Licia
adalah Licia, menurutku begitu saja sudah cukup."
Itu bukan sekadar penghiburan, melainkan tulus dari hatinya.
Tanpa mengatakan bahwa contoh darinya adalah yang paling benar, ia menyatakan
bahwa hubungan antara Licia dan Ren adalah milik mereka berdua saja.
Itu
adalah kata-kata yang diucapkan Sera setelah memahami perasaan Licia.
"Begitu...
ya."
"Bagaimana
kalau kamu coba minta sekali lagi pada Ren? Untuk sementara, cobalah mengobrol santai saat Festival Lion King sudah
berakhir nanti."
"……Iya. Akan
kucoba────"
Tiba-tiba Licia tersadar dan
menatap Sera.
"A-aku kan tidak bilang kalau ini soal Ren!"
"Lalu,
apa soal orang lain?"
"……Itu
tidak mungkin, sih……"
Sera
berpikir Licia tidak perlu menyembunyikannya, tapi ia merasa Licia yang seperti
ini sangat manis.
Sera mengusap kepala Licia yang mengangguk jujur.
"Ngomong-ngomong, soal Roses Kaitas tadi juga mendadak,
tapi soal panggilan ini pun tiba-tiba sekali. Apa terjadi sesuatu?"
Kejadian
itu terjadi saat libur panjang kemarin, ketika ia berkeliling Erendil bersama
Ren.
Licia
menceritakan pertemuannya dan percakapannya dengan Nem Altia kepada Sera.
Mendengar
apa yang mereka bicarakan, Sera menepukkan tangan ke dahi dan menghela napas,
"Nem itu, masih tetap sama seperti biasanya ya."
Lalu,
"Hmm!? Ada yang memanggil Nem!?"
Entah sejak kapan ia berada di dekat sana, tiba-tiba Nem
sudah muncul di samping mereka berdua.
Sera yang dipanggil dari belakang buru-buru menoleh, namun
tidak dengan Licia. Setidaknya, ia sudah merasakan kehadiran Nem di dekat
mereka.
"Kapan kamu datang! Nem!"
"Sera, aku sudah di sini sejak tadi, lho."
"Pin
pon pin pon! Licia-chan benar sekali! Jadi, ada apa dengan Nem?"
"Aku
baru saja bicara dengan Sera kalau Magic Tool buatan Nem itu sangat
hebat."
"Fufufuuun!
Begitu ya! Jadi kalian sedang memuji Nem ya! Aku senang sekali!"
Nem merasa senang secara jujur dan langsung pergi dari
samping mereka berdua. Ia menautkan kedua tangannya di belakang punggung dan
berjalan ringan entah ke mana.
Sepertinya ia menyapa hanya karena kebetulan melihat sosok
mereka berdua.
Setelah mengantar kepergian Nem dengan pandangannya, Sera
menatap wajah Licia.
"Seperti yang kubilang tadi, bagaimana kalau coba bicara
pada Ren setelah Festival Lion King selesai?"
Sebenarnya ia merasa soal panggilan nama bisa dibicarakan
kapan saja, tapi saat ini menjelang Festival Lion King, Ren dan Licia sedang
sangat sibuk.
Licia
pun pasti tidak bisa melakukannya dalam waktu dekat.
Licia
menjawab singkat, "Iya. Akan kulakukan," lalu mengucapkan terima
kasih kepada Sera.
◇◇◇
Ren,
Licia, dan Fiona sedang berada di ruang kepala sekolah.
Ini
adalah bentuk kebaikan Chronoa yang ingin menjamu para anggota komite pelaksana
saat jam istirahat makan siang, namun sayangnya Radius sedang absen dari
akademi karena urusan kenegaraan.
Mirei yang mengikutinya pun tidak datang ke akademi hari ini.
Sekitar
tiga puluh menit setelah mereka mulai menikmati makan siang bersama.
Saat
semuanya sedang menikmati obrolan setelah makan.
Licia
mengutarakan apa yang ia bicarakan dengan Sera. Tentu saja, bukan soal Ren
yang memanggilnya dengan imbuhan gelar.
Soal itu akan ia simpan untuk waktu yang tepat nanti.
"Seberapa kuat intensitas segel di Roses Kaitas?"
Mendengar pertanyaan Licia tentang Roses Kaitas, Chronoa
tampak mengerti arah pembicaraannya.
Karena
Ren dan Fiona juga tampak ingin tahu, Chronoa mengeluarkan tongkat sihir dari
balik jubahnya.
Saat
ia mengayunkan tongkat itu di atas meja, beberapa bola air tercipta dan segera
menyatu menjadi satu. Ia mengayunkan tongkatnya sekali lagi, dan air itu
berubah bentuk membentuk replika gunung di atas meja.
Tampak seperti sebuah miniatur yang terbuat dari air.
"Coba lihat ini, ya."
Bagian gunung dari miniatur air itu terkikis, membentuk
sebuah area terbuka yang luas. Saat banyak benda yang menyerupai patung-patung
berjejer, jalan setapak gunung yang menuju ke sana pun terpampang di depan mata
mereka semua.
Gunung
di mana Roses Kaitas berada dipresentasikan secara tiga dimensi oleh sihir
Chronoa.
"Tempat
di mana patung-patung dewa raksasa berjejer ini adalah tempat suci yang dulu
dituju oleh para peziarah. Seperti yang kalian bertiga tahu, sebagian besar
patung itu hancur karena serangan pasukan Raja Iblis."
Gumpalan
air yang menyerupai Roses Kaitas dan patung-patung yang berjejer itu mulai
runtuh satu per satu.
Pada
saat itu, meski pasukan Leomel dan Gereja Elfen bekerja sama melawan pasukan
Raja Iblis, pasukan musuh yang sudah merangsek hingga dekat ibu kota sangatlah
kuat.
Leomel,
negara militer terbesar di dunia, dipaksa bertarung dengan susah payah hingga
pasukan yang dikirim pun berada dalam kondisi hancur lebur.
Sebaliknya,
pasukan Raja Iblis juga kehilangan banyak personil dalam pertarungan maut itu,
yang akhirnya berakhir dengan penyegelan seluruh area Roses Kaitas.
"Seperti ini."
Saat Chronoa mengayunkan
tongkatnya, dinding air muncul menutupi miniatur air tersebut.
Permukaan dinding air itu bergelombang halus, menyembunyikan
sebagian besar Roses Kaitas.
Persis seperti kabut tebal yang sering dirumorkan.
"Penyegelan ini dilakukan di bawah kepemimpinan Gereja
Elfen. Mereka menyiapkan relik suci yang bersemayam kekuatan Dewi Waktu."
Dibutuhkan waktu yang tidak sedikit untuk menyegel Roses
Kaitas menggunakan relik suci.
Saat memasang lingkaran sihir di lokasi, tentu saja banyak
anggota Gereja Elfen maupun orang-orang Leomel yang melindungi mereka harus
kehilangan nyawa.
Namun berkat pengorbanan itu, segel yang mengelilingi Roses
Kaitas pun selesai.
Kabarnya, sebagian besar pasukan Raja Iblis ikut tersegel di
dalamnya.
"Apakah
itu berarti jika segelnya lepas, pasukan Raja Iblis akan bangkit kembali?"
"Aku
juga penasaran soal itu. Jika mereka hanya tersegel di dalam, rasanya berbahaya
jika suatu saat segelnya lepas karena suatu alasan."
Fiona
dan Licia bertanya.
Wajar
jika mereka merasa cemas mendengar penjelasan tadi, namun Chronoa segera
menggelengkan kepalanya.
Pertanyaan
mereka berdua masuk akal, tapi...
"Menurut
Gereja Elfen, hal itu tidak mungkin terjadi. Segel itu disebut sebagai 'Sangkar
Waktu', dan karena efeknya terlalu kuat, pasukan Raja Iblis mustahil bisa
bertahan hidup di dalamnya."
Segel
itu, sesuai dengan namanya, mengisolasi waktu antara bagian dalam dan luar.
Di dalam segel, terbentang ruang misterius di mana waktu
berhenti dan dipenuhi oleh energi sihir suci.
Karena menggunakan relik suci yang bersemayam kekuatan Dewi
Waktu, kekuatan Tuhan benar-benar bekerja di sana.
Oleh
karena itu, seperti yang dikatakan Chronoa, efeknya sangat dahsyat. Meski di
dalam sana waktu berhenti, hanya energi sihir suci yang terus bekerja dan
memurnikan bagian dalam segel.
Sudah
pasti, pasukan Raja Iblis tidak menyisakan tulang belulang sekalipun, apalagi
perlengkapan perang mereka.
Semuanya
tanpa pengecualian pasti telah dimurnikan oleh kekuatan suci──── begitulah
katanya.
"Aku
juga penasaran soal Sangkar Waktu itu, jadi aku sempat mencoba menyelidikinya
saat masih di Istana Suci Perak."
"Anda
kan memang pergi ke Tanah Suci sampai tahun lalu ya," ujar Ren teringat
sesuatu.
Chronoa
menyahut dengan nada sedikit tidak puas.
"Benar!
Tapi meski aku sudah bekerja sangat keras, mereka tidak mengizinkanku membaca
satu buku pun di perpustakaan mereka, lho!"
"Apa
karena itu buku langka?"
"Kurasa
itu salah satu alasannya... tapi lebih tepatnya, mungkin karena aku bukan
anggota Gereja Elfen, jadi alasannya lebih ke arah sana. Aku sudah bisa
menduganya, jadi aku cuma bisa berpikir 'yah, mau bagaimana lagi' sih."
Tanpa
mengucapkan satu kata benci pun, Chronoa memahami situasi di Tanah Suci maupun
Gereja Elfen. Relik suci maupun buku-buku berharga pasti dikelola dengan sangat
ketat di sana.
...Ternyata itu benar-benar pekerjaan yang berat.
Ren
teringat kembali ekspresi yang ditunjukkan Chronoa saat ia membersihkan ruang
komite pelaksana tempo hari. Ia menatap Chronoa sambil memikirkan kerja keras
yang wanita itu tunjukkan saat itu.
Menyadari
tatapan Ren, Chronoa berkata dengan nada sedikit bingung.
"Kenapa
tiba-tiba menatapku dengan mata lembut seperti itu?"
"Tidak,
aku hanya berpikir kalau Bu Chronoa sepertinya sangat sibuk setiap hari."
"Memang
begituuu! Makanya waktu seperti ini, saat aku bisa mengobrol dengan kalian
semua, sangatlah berharga bagiku...!"
Saat
Ren menuangkan teh tambahan untuk Chronoa yang pekerja keras itu, ia tersenyum
tersipu malu.
Saat ia mengayunkan tongkatnya, air yang membentuk replika Roses Kaitas itu berubah menjadi kabut mulai dari ujungnya, dan menghilang dalam sekejap.



Post a Comment