NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Monogatari no Kuromaku Volume 4 Chapter 8

Chapter 8

Saintess Lebih Suka Dipanggil Tanpa Gelar


Seleksi perwakilan untuk setiap cabang olahraga hampir berakhir seiring dengan mendekatnya bulan Juli.

Menjelang pelaksanaan Festival Lion King, para murid mulai tampak lebih gelisah dan antusias dari sebelumnya.

Bahkan di akademi bergengsi ini pun, suara bisik-bisik saat jam pelajaran terdengar mencolok.

Melihat kumpulan remaja yang sedang bersemangat, para profesor hanya bisa memaklumkan dan berpura-pura tidak melihat hal tersebut karena banyaknya kaum bangsawan di sini.

...Kelihatannya seru sekali, ya.

Saat jam istirahat makan siang, Ren berjalan di koridor sambil memperhatikan suasana itu.

Ke mana pun dia memandang, para murid hanya membicarakan tentang Festival Lion King.

Murid yang tidak berpartisipasi dalam kompetisi pun sibuk berjanji untuk menonton pertandingan tertentu atau berkeliling melihat stan makanan pada hari H nanti.

Tiba-tiba, sebuah ingatan terlintas di benaknya.

Pemandangan itu tumpang tindih dengan koridor akademi yang sedang dilihat Ren saat ini.

"Vane, semangat ya. Soalnya aku sudah kalah."

"……Tapi, selanjutnya ayo kita ikut bersama lagi. Di kualifikasi kali ini pun Ren bisa bertahan sampai akhir, jadi selanjutnya kamu pasti bisa jadi perwakilan."

"Terima kasih. Mungkin aku akan berjuang lagi nanti."

Ren Ashton dan Vane bercakap-cakap sambil berjalan di koridor saat jam istirahat.

Dalam Legend of the Seven Heroes, mereka berdua adalah sahabat yang memiliki hubungan pertemanan yang sangat dalam dan sering berbincang seperti ini.

"Oi, Vane!"

"Ah, Kak Kaito."

"Aku mencari kalian, lho. Padahal aku berniat mengajak makan siang bareng──── Oh? Yang di sana itu kalau tidak salah... Ashton, yang bertarung di seleksi perwakilan juga, kan?"

Kaito berujar dengan lantang sambil merangkul pundak Ren Ashton.

Ren Ashton yang dirangkul mendadak itu berbeda dengan Ren yang sekarang; meski tidak bisa disebut penakut, dia memberikan kesan sebagai pemuda yang pendiam.

"Kamu sangat kuat! Aku tadi berpikir ingin bertemu lagi denganmu! Bagaimana? Kalau mau, ayo kita bertiga makan siang bareng!"

"Ren, bagaimana menurutmu?"

"Aku juga tidak keberatan. Tuan Leonard, dengan senang hati."

"Nggah-hahahaha! Terlalu kaku, tahu! Panggil saja kakak tingkat!"

"Ka-kalau begitu, Kak Leonard!"

"Begitu dong! Kalau begitu ayo pergi, kalian berdua!"

Ingatan itu menghilang dan kembali pada realitas Ren yang sekarang, bukan lagi Ren Ashton dari masa lalu.

Ren memang telah membangun pertemanan dengan Vane, namun hubungan mereka tidak sedalam di Legend of the Seven Heroes.

Ren tidak berpartisipasi dalam seleksi perwakilan Festival Lion King, sehingga ada banyak perbedaan yang terjadi.

Seseorang tiba-tiba menepuk pundak Ren dari belakang.

"Ren."

Yang memanggilnya adalah Vane, orang yang baru saja dipikirkan oleh Ren.

"Ada apa?"

"Kebetulan aku melihatmu jadi aku menyapa. Kalau belum makan siang, mau pergi bareng?"

Keduanya mulai berjalan sambil membicarakan Festival Lion King.

Mereka menikmati keriuhan murid-murid di sekitar sambil asyik mengobrol tentang persiapan hari H.

"Oiii!"

Sebuah suara terdengar dari arah tujuan mereka berjalan.

Saat mereka menoleh, di sana ada Kaito Leonard, siswa tahun kedua.

"Aku mencari kalian, lho! Padahal aku berniat mengajak kalian berdua makan siang bareng!"

"Aku dan Vane juga baru mau ke kantin, bagaimana kalau kita pergi bertiga?"

"Oh! Kalau begitu ayo pergi, kalian berdua!"

Meski terasa berbeda, pemandangan yang serupa terkadang muncul juga.

Ren merasa hal itu sangat menarik hingga tanpa sadar ia tersenyum tipis.

Sesampainya di kantin, Kaito melahap makanan dengan porsi yang jauh melampaui gabungan porsi Ren dan Vane.

Melihatnya makan dengan begitu lahap memberikan perasaan yang melegakan.

Namun, setelah selesai makan, Kaito tiba-tiba berhenti bergerak.

Di depan Ren dan Vane yang kebingungan, Kaito bersandar lemas di kursi sambil menatap langit-langit kantin yang tinggi.

Di tengah ruangan luas yang terlalu mewah untuk ukuran kantin sekolah, dia menunjukkan tampang yang menyedihkan.

"Ada apa, Kak?" tanya Vane.

"Aku lupa soal pelajaran siang ini. Ada tugas yang belum aku kerjakan."

"Ah, uuh... itu gawat ya."

"Aku tidak mengerti soal ilmu tanaman obat... Berapa takaran yang dibutuhkan, kenapa kalau kurang jadi tidak boleh... Kepalaku mau meledak karena penuh dengan rumus yang tidak masuk akal..."

Di samping Vane yang tersenyum pahit, Ren mengingat kembali materi pelajaran ilmu tanaman obat tahun kedua.

Memang pelajaran di akademi ini tingkatnya tinggi, namun dalam kasus Kaito, sepertinya karena dia memang dasarnya tidak suka belajar.

"Kak Leonard."

"Nggo? Ada apa, Ashton? Apa kamu ingin menertawakan tampang menyedihkanku ini?"

"Tidak, jam istirahat masih ada sekitar tiga puluh menit, bagaimana kalau kita kerjakan semampunya?"

Mendengar itu, Kaito malah menyerah.

"Haha! Bukannya sombong ya, tapi Ren, kamu meremehkan betapa buruknya nilaiku?"

"Tidak, saya sangat menyadari──── maksud saya, tidak apa-apa kok."

"Oh? Aku abaikan dulu apa yang tadi hampir kamu katakan, tapi apanya yang tidak apa-apa?"

"Aku akan membantumu."

"……Serius?"

Kaito mencondongkan tubuhnya di atas meja.

Dia mendekatkan wajahnya ke arah Ren sambil membelalakkan mata dan berkedip berkali-kali.

"……Seriusan nih!?"

Dia mengulanginya sekali lagi dengan mulut menganga lebar.

Ren yang mendengar suara keras itu dari jarak dekat menjawab dengan tenang, "Karena itu, mari kita bergegas," lalu berdiri dari kursinya.

Ren berniat mengembalikan piring kotornya, namun...

"Kumpul di depan perpustakaan, ya! Piring kalian berdua biar aku yang bereskan!"

Kaito mengumpulkan piring mereka bertiga dan langsung berlari tanpa menunggu jawaban.

Ren dan Vane hanya bisa mengangkat bahu melihat tingkahnya.

"Maaf, aku tidak bisa ikut karena ada janji dengan Sera. Lagipula, aku juga tidak terlalu paham ilmu tanaman obat, jadi aku tidak bisa membantu."

Ren memberitahu Vane untuk tidak memikirkannya, lalu bergegas menuju perpustakaan.

Tak lama setelah mulai berjalan, Kaito menyalip di sampingnya bagaikan angin sambil berteriak, "Aku segera ke sana!"

Melihatnya ditegur oleh profesor yang lewat dengan teriakan "Jangan lari di koridor!", Ren hanya bisa membatin bahwa Kak Kaito memang tidak tertolong.

Sesaat sebelum jam istirahat berakhir, Kaito keluar dari perpustakaan setelah berhasil menyelesaikan tugasnya.

Saat berpisah, dia mengucapkan terima kasih dengan suara kecil agar tidak mengganggu ketenangan perpustakaan.

"Ternyata bisa selesai juga, ya."

Ren sedikit terkejut sekaligus senang karena pengetahuan pribadinya ternyata cukup untuk mengerjakan tugas tahun kedua.

Rencananya siang ini dia akan mengerjakan tugas komite pelaksana.

Namun karena tubuhnya terasa kaku setelah duduk terus selama puluhan menit, dia memutuskan keluar dari perpustakaan dan menuju taman akademi.

Niatnya ingin berjalan-jalan santai, namun dia melihat Radius sedang duduk di salah satu kursi teras taman.

"Radius."

"Hm? Oh, Ren ya."

Radius tampak sedang tenggelam dalam pikirannya.

"Sedang memikirkan sesuatu?"

"Ya. Ada sedikit hal yang mengusik pikiranku."

Sepertinya Radius tidak berniat menjelaskan apa hal yang mengusiknya itu.

Sesaat dia menatap Ren dan hendak mengatakan sesuatu, namun ia kembali menutup mulutnya.

"Aku akan menemui Mirei dulu sebelum ke sana. Maaf, bisakah tolong beritahu mereka berdua untuk menunggu sebentar?"

"Oke, mengerti."

Ren pergi meninggalkan Radius dan berbalik menuju ruang komite pelaksana.

Radius sendiri masih berada di sana sambil terus memikirkan sesuatu, sebelum akhirnya mulai melangkah beberapa menit kemudian.

Di sudut taman, tepat sebelum sampai di tempat yang dikelilingi pagar tanaman...

"Ini aku, Nya."

Mendengar suara dari balik bayangan pagar tanaman, Radius membalas "Aku sudah menunggumu" lalu bergabung dengan Mirei.

Mirei menyerahkan secarik kertas berisi informasi yang telah ia selidiki kepada Radius.

◇◇◇

Di ruangan kecil di bagian dalam perpustakaan, Licia dan Fiona sudah tiba lebih dulu.

Saat Ren sedang berbincang dengan mereka, pintu ruangan terbuka dan Radius bersama Mirei menampakkan diri.

Radius meminta Mirei meletakkan setumpuk kertas tebal di atas meja kerja mereka.

"Mirei-san, ini kalau tidak salah..."

"Bukankah ini pekerjaan yang seharusnya kita selesaikan hari ini bersama-sama...?"

Setelah pertanyaan Fiona mengikuti pertanyaan Licia, Mirei melirik ke arah Radius.

"Seperti yang kalian katakan, ini pekerjaan yang seharusnya dilakukan hari ini."

Kali ini Licia dan Fiona mengalihkan pandangan mereka kepada Ren, memintanya untuk bertanya lebih lanjut.

"Sepertinya semuanya sudah selesai, ya?"

"Aku sudah menyelesaikannya di istana. Untuk saat ini, tolong perhatikan ke sini."

Radius berjalan menuju papan tulis di ruangan itu dan mulai menuliskan jadwal untuk ke depannya.

Dia tidak melihat catatan sama sekali, sepertinya semua sudah ada di dalam kepalanya.

"Festival Lion King akan segera dimulai. Pekerjaan kita sebagai komite pelaksana adalah sebagai berikut. Seperti yang kalian lihat, jadwal kita sangat padat dengan pekerjaan merepotkan sampai hari H nanti. Terlepas dari itu────"

Satu per satu tanda silang dibuat pada jadwal tersebut.

Tanda itu menunjukkan hari-hari yang menurut Radius akan sangat sibuk.

Terlihat jelas bahwa mulai hari ini sampai hari H Festival Lion King, mereka tidak akan punya waktu luang.

Namun, hari ini tampak berbeda karena ada tanda lingkaran yang ditambahkan.

Saat mereka bertiga terpesona melihat apa yang dilakukan Radius, dia menuliskan 'Berkeliling Perusahaan Dagang' pada jadwal hari ini.

Pekerjaan seperti itu memang sudah direncanakan sejak lama, tapi...

"Pihak akademi akan menyiapkan makanan, minuman, dan perlengkapan lainnya untuk para perwakilan kita. Tentu saja pihak akademi akan melakukan pengecekan, namun kita sebagai komite pelaksana juga harus memastikannya."

"Pengecekan ganda supaya lebih aman, Nya!"

"Aku penasaran, kenapa pekerjaan itu baru dilakukan hari ini?"

Karena jadwal berubah mendadak, Ren yakin pasti ada alasan yang masuk akal.

Radius menoleh ke arah Ren, lalu menjawab dengan tatapan tenang tanpa keraguan seperti biasanya.

"Hanya hari ini saja kita bisa bekerja dengan santai. Jika bukan hari ini, kita tidak akan bisa menikmati suasana kota bawah benteng."

"Ah, begitu rupanya."

Ren yang paling mengenal Radius langsung menyadarinya, lalu memberitahu Licia dan Fiona yang masih kebingungan.

"Sepertinya dia memikirkan agar kita, para anggota komite pelaksana, bisa sedikit bersantai."

"Kita sudah tenggelam dalam pekerjaan sampai hari ini. Tidak ada salahnya kan kalau kita beristirahat sejenak? Lagipula, selama periode Festival Lion King pun pasti akan ada beberapa pekerjaan."

"Jadi maksudnya, asalkan kita sudah menyelesaikan pekerjaan hari ini, tidak apa-apa kalau kita bersenang-senang lebih awal, ya."

Radius mengangguk setuju pada perkataan Ren.

"Stan-stan makanan untuk Festival Lion King mulai dibuka sore ini. Bukan hanya murid Akademi Militer Kekaisaran, tapi murid-murid dari sekolah lain pun pasti akan datang."

Radius mulai berjalan pergi bersama Mirei.

"Lalu Ren, untuk pemandu jalannya tolong percayakan pada mereka berdua. Aku dan Mirei akan melakukan pekerjaan lain. Dokumen-dokumennya sudah aku rangkum di sana, tolong diperiksa."

"Anu──── eeii..."

Ren hanya bisa menatap kepergian Radius yang berlalu begitu saja dengan suara yang terdengar pasrah.

Begitu sampai di luar dan hanya berdua dengan Mirei, Radius menghela napas pendek.

"Kita juga punya pekerjaan. Bukan cuma tugas komite pelaksana, tapi kita harus mengerjakan 'tugas itu'. ────Aku tidak berniat membiarkan apa pun yang dilakukan di belakangku."

"Saya mengerti, Nya."

Setelah percakapan rahasia itu, keduanya pun meninggalkan akademi.

Tanpa mengetahui apa yang dibicarakan oleh mereka yang sudah di luar, Ren menatap Licia dan Fiona.

"Jadi, apa yang harus kita lakukan?"

Berdasarkan kata-kata Radius tadi, rute berkeliling perusahaan dagang sepertinya diserahkan sepenuhnya kepada mereka.

Mendengar suara Ren, kedua gadis bangsawan itu mulai berdiskusi.

"Bagaimana kalau kita mulai dari sini? Lalu ke arah sini──── setelah itu selanjutnya ke tempat ini────"

"Licia-sama, lewat sini sepertinya kita bisa melihat-lihat toko di jalan besar juga."

"Ah, benar juga ya!"

Bukannya mereka mengabaikan pekerjaan.

Mereka memprioritaskan berkeliling ke perusahaan dagang, dan usulan Licia adalah rencana terbaik yang juga mempertimbangkan hal tersebut.

Keduanya bertanya kepada Ren.

"Ren-kun, apa begini saja cukup?"

"Ren, begini tidak apa-apa?"

Pada akhirnya, sebelum Ren sempat ikut bicara, mereka berdua sudah menyusun rute perjalanannya.

Karena di kertas itu tertulis nama-nama perusahaan dagang dan fasilitas yang belum pernah Ren dengar, dia memang berniat menyerahkan semuanya pada mereka sejak awal.

Dalam waktu kurang dari puluhan menit, mereka sudah sampai di kota bawah benteng.

Sambil berkeliling ke perusahaan dagang, mereka mampir ke stan makanan seperti hal yang lumrah dilakukan.

Karena haus dan sedikit lapar, Ren membawa mereka berkeliling ke beberapa stan sebelum akhirnya duduk di bangku yang kosong.

Licia dan Fiona memakan manisan yang mereka beli dengan wajah yang tampak sangat bahagia.

"Ini manis dan enak sekali...!"

"Yang ini juga sangat lezat!"

Ren memperhatikan betapa bahagianya mereka berdua sambil memandang suasana kota bawah benteng.

Kota ini memang selalu ramai setiap harinya, namun hari ini terasa jauh lebih padat.

Dia bahkan bisa melihat murid-murid dari sekolah lain yang sepertinya membolos pelajaran demi bisa main ke kota.

"Jalan besar ini langsung terasa seperti suasana sebelum festival ya," ujar Ren sambil memegang makanan yang ia beli di kedai.

Licia yang duduk di sampingnya, serta Fiona yang duduk di sebelah Licia, mengangguk setuju.

"Iya. Mungkin masih terlalu awal, tapi aku merasa sedikit lega dan bangga."

"Aku juga. Memikirkan kalau hari H sudah dekat, rasanya perjuangan kita sampai hari ini tidak sia-sia."

Mungkin memang terlalu awal seperti yang mereka katakan.

Ren pun merasakan hal yang sama. Kesempatan untuk bersantai seperti ini membuat perasaan itu semakin nyata, apalagi melihat senyum bahagia kedua gadis di sampingnya.

"────Syukurlah."

Melihat mereka yang sekarang, Ren kembali berpikir bahwa menerima tugas komite pelaksana adalah keputusan yang tepat.

Gumamannya barusan tidak terdengar oleh mereka, namun mereka menyadari tatapan yang Ren berikan.

"Duh, kenapa kamu terus menatap kami begitu?"

"Kalian berdua terlihat sangat senang, jadi tanpa sadar aku memperhatikan."

"Fufu, apa Ren-kun sendiri tidak merasa senang?"

Dengan cahaya matahari sore yang mengenai sisi wajahnya, Fiona menatap Ren sambil memiringkan kepalanya sedikit.

Mendapat tatapan dari keduanya, Ren bangkit dari bangku dan langsung menoleh ke arah mereka.

"Tentu saja aku senang. Makanya setelah ini pun, aku berpikir ingin mengajak kalian berkeliling sedikit lagi sebelum pulang."

Licia dan Fiona terkekeh mendengar perkataan Ren.

"────Aku juga mau!"

Suara mereka berdua terdengar ceria secara bersamaan.

Waktu sore itu berlalu begitu cepat, dan mereka bertiga kembali ke akademi sesaat sebelum matahari terbenam.

Sambil berterima kasih dalam hati atas kebaikan Radius, Ren baru saja duduk di kursinya saat ia menemukan dokumen yang memerlukan tanda tangan Chronoa.

"Aku akan pergi ke tempat Bu Chronoa sebentar."

"Iya, baiklah."

"Kami akan mengerjakan sedikit tugas di sini ya."

Setelah berpisah dari mereka, Ren melihat suasana akademi dalam perjalanannya menuju ruang kepala sekolah.

Seleksi perwakilan memang sudah tidak dilakukan di sebagian besar cabang olahraga, namun sebagai gantinya, terlihat para murid yang terpilih sedang berlatih dengan giat.

Tidak sedikit pula murid yang menonton latihan tersebut, membuat suasana setelah pulang sekolah tetap ramai seperti biasanya.

Ren terus berjalan membelah keramaian para murid.

Beberapa menit kemudian ia sampai di depan ruang kepala sekolah. Begitu ia mengetuk pintu, sebuah suara ceria segera menyahut, "Silakan masuk~!".

"Permisi."

Saat ia masuk setelah memberi salam singkat, terlihat Chronoa sedang bersantai duduk di sofa.

Diterangi oleh cahaya matahari terbenam, ia tersenyum lebar saat melihat Ren.

"Ren-kun, selamat datang. Ada perlu apa hari ini?"

"Ada dokumen yang memerlukan tanda tangan Anda, apakah sekarang Anda sedang senggang?"

"Tentu saja! Kalau untuk Ren-kun, kapan pun aku pasti bersemangat!"

Begitu Ren menyerahkan dokumen itu, Chronoa mulai memeriksanya sambil bergumam "Hm hm".

Suaranya kembali terdengar saat Ren sedang menunggu.

"Aku tidak bisa terlalu sering berada di lapangan selama Festival Lion King, jadi kalau ada kesulitan, tanya pada guru-guru yang lain, ya."

Meski terdengar mendadak, sepertinya ia ingin segera menyampaikannya pada Ren yang terus mengerjakan tugas komite pelaksana.

Chronoa sempat berhenti sejenak untuk menatap Ren dan mengatakannya dengan nada menyesal sebelum kembali bekerja.

Ren ingat Chronoa memang pernah bilang kalau dia akan sangat sibuk selama periode Festival Lion King.

"Kalau ada pekerjaan yang bisa kami bantu, kami para anggota komite pelaksana siap sedia kok."

"Pekerjaannya berhubungan dengan pertemuan raja atau bangsawan negara lain, apa kamu mau membantu?"

Ren perlahan mengalihkan pandangannya.

Chronoa segera bergerak mengikuti arah pandangan Ren agar mata mereka tetap bertemu.

"Ahahaha! Bercanda kok! Tenang saja, tenang! Kami orang dewasa juga harus bekerja keras, kalau tidak rasanya tidak enak pada Ren-kun dan yang lain yang sudah berusaha sampai hari ini! Jangan khawatir, kalian nikmati saja festivalnya ya!"

"Maaf. Tapi kalau ada hal yang bisa aku lakukan, tolong beritahu saja!"

Mendengar itu, Chronoa bangkit dari kursinya.

Saat ia menghampiri Ren, cahaya matahari berwarna jingga menerangi sisi wajahnya.

Di depan kecantikannya yang sangat mudah disebut sebagai sosok yang misterius, Ren menahan napas saat matanya bertatapan langsung dengan wanita di depannya.

"Nyufufu~"

Chronoa tiba-tiba mengulurkan tangan dan mengusap kepala Ren.

"A-apa yang Anda lakukan tiba-tiba!?"

"Hanya ingin saja. Soalnya wajah serius Ren-kun tadi terlihat manis, jadi tanpa sadar tanganku bergerak sendiri."

"Tanpa sadar katanya..."

"Tahaha! Tapi Ren-kun, tidak boleh begitu, lho!"

Chronoa menjulurkan jari telunjuknya dan menyentuh ujung hidung Ren. Ia terus bicara tanpa memedulikan keterkejutan Ren.

"Jangan terlalu mengkhawatirkan orang dewasa! Jangan cemaskan pekerjaanku. Jangan remehkan kekuatan orang dewasa, oke?"

"Tidak, bukan bermaksud begitu, aku cuma berpikir siapa tahu benar-benar ada yang bisa kubantu."

"Wah... Ren-kun benar-benar manis ya... Padahal sekarang tinggi badanmu sudah melampauiku, tidak seperti saat pertama kita bertemu, tapi rasanya aku tetap ingin membawamu pulang ke ibukota saja..."

"Aku kan sudah tinggal di dekat ibukota," jawab Ren.

Chronoa terkekeh sambil menandatangani dokumen yang dibawa Ren, lalu ia mengubah topik pembicaraan.

"Ren-kun, Ren-kun."

"Iya iya, ada apa lagi?"

"Tiba-tiba sih, tapi bagaimana perkembangan teknik pedang Great Sword milikmu setelah itu?"

Pertanyaan itu membuat Ren bingung harus menjawab apa, karena perkembangannya tidak terlalu bagus. Tidak berlebihan jika dikatakan ia sedang benar-benar menabrak tembok penghalang.

Apalagi teknik orisinalnya sendiri belum membuahkan hasil yang memuaskan.

Chronoa menatap dalam ke arah manik mata Ren yang sedang kebingungan.

Sangat dalam... seolah bukan manik matanya yang ia tatap, melainkan sesuatu yang tersembunyi jauh di dalamnya; sebuah tatapan lembut yang seolah melihat hakikat dari sosok Ren.

"Hm hm. Sepertinya 'kekuatan misterius' itu malah berkembang pesat ya."

"!?────"

Ren ingat Chronoa pernah mengatakan hal yang sama saat di Clausel.

Dengan sedikit panik, Ren balik bertanya.

"Bu Chronoa, apa yang Anda maksud dengan kekuatan misterius itu?"

"Eh? Maksudku ya kekuatan yang kamu sembunyikan itu, lho?"

Chronoa menjawab dengan santai.

"Tenang saja. Aku tidak memberitahukannya pada siapa pun."

"……Itu!"

"Kamu penasaran kenapa aku bisa menyadarinya, kan? Jawabannya mudah, aku memang peka terhadap hal-hal seperti itu. Meski aku tidak tahu detail kekuatannya sih."

"……Bukannya Anda sebenarnya bisa membaca pikiran orang, kan?"

"Ahaha, tentu saja tidak."

Lawan bicaranya adalah Chronoa Highland, yang dianggap sebagai salah satu penyihir terbaik di dunia.

Tidak aneh jika dia bisa melakukan hal-hal yang berada di luar nalar Ren.

"Apakah Licia-chan dan Fiona-chan sudah kamu beri tahu tentang kekuatanmu itu?"

"Tidak, karena menurutku ini kekuatan yang aneh, jadi sulit untuk mengatakannya... Aku pernah memakainya saat bertarung di Menara Jam Besar, tapi aku belum memberitahu siapa pun tentang wujud aslinya."

"Hmm... Ternyata benar begitu ya."

Wanita cantik yang rambut pirang keemasannya bergoyang pelan itu berkata tanpa banyak berpikir.

"Kalau begitu, kenapa tidak kamu beritahu saja?"

Saran yang begitu enteng itu membuat Ren tertegun.

"Sampai sekarang kamu merahasiakannya karena alasanmu sendiri, kan?"

"Itu... benar."

Awalnya ia merahasiakannya karena berpikir itu adalah kekuatan milik Ren Ashton yang asli.

Lalu setelah tinggal di Clausel, ia beralasan bahwa membeberkan Skill sama saja dengan menunjukkan kelemahan.

Itu bukan kebohongan, dan karena ada sisi benarnya jugalah orang-orang bisa memakluminya.

"Memang benar keputusanmu untuk merahasiakannya demi berbagai pertimbangan. Tapi, mencoba memikirkannya kembali juga akan berguna untuk masa depanmu nanti."

"……Apa maksudnya?"

"Bukankah tidak apa-apa jika kamu mengatakannya pada orang yang memang pantas untuk mengetahui kelemahanmu?"

Sekali lagi, ia mengatakannya dengan sangat santai.

Kata-kata Chronoa secara ajaib meresap ke dalam hati Ren. Mengingat Ren yang sekarang bukanlah dirinya yang dulu, perubahan perasaan dan pikirannya membuatnya mendengarkan dengan seksama.

"Menjalani hidup ke depannya dengan terus menyimpan rahasia dari orang-orang tersayang itu pasti jauh lebih berat dari yang kamu bayangkan."

Sisi wajah Chronoa yang diterangi cahaya senja.

Sosoknya yang misterius, serta suaranya itu...

"Setelah tugas komite pelaksana dan Festival Lion King selesai dan suasana sudah tenang, bagaimana kalau kamu coba pikirkan lagi?"

"……Akan kucoba."

"Tapi kalau kamu bingung, datang saja ke tempatku lagi. Aku siap jadi teman curhat kapan saja."

Mendengar jawaban Ren, Chronoa tersenyum lembut.

Lalu ia mengeluarkan tongkat sihirnya dan mengayunkannya berputar-putar di atas kepala Ren.

Ren merasa dikelilingi oleh kenyamanan yang membuat hatinya seketika menjadi tenang.

◇◇◇

Pada malam harinya, ada cahaya putih di taman.

"Bagaimana menurutmu?"

Licia, yang mengeluarkan cahaya putih dari tangannya, bertanya kepada Ren tentang efek dari sihir sucinya.

Mereka berdua duduk berhadapan di kursi teras taman.

"Rasanya jauh lebih hebat daripada saat musim semi lalu."

Sihir sucinya sudah jelas berbeda jauh dibanding saat pertama kali mereka bertemu. Bahkan dibandingkan saat melawan Jelkuqu pun, sihir sucinya yang sekarang sudah tidak bisa dibandingkan lagi.

"Aku senang mendengarnya... tapi, ada hal yang membuatku tidak puas."

Licia menatap Ren dengan lekat.

"Dari sudut pandangmu, sihir suciku ini benar-benar jadi lebih hebat dan itu bukan bohong, kan?"

"Tentu saja tidak. Aku tidak sedang berbasa-basi atau memujimu berlebihan kok."

"Kalau begitu, berarti perasaanku tadi benar."

Licia sedikit mengerucutkan bibirnya.

Ekspresi alami yang sesuai dengan usianya itu tidak pernah ia perlihatkan di akademi, namun sering kali ia tunjukkan saat berada di depan Ren sebagai bentuk rasa nyamannya.

"Meski aku sudah menggunakan sihir suci pada diriku sendiri, aku masih belum bisa menang melawan Ren."

"……Akhir-akhir ini kita memang jarang berlatih tanding seperti itu, ya."

"Iya, soalnya perhatianku tersita untuk melatih teknik pedang Great Sword. Lagipula, karena ada tugas komite pelaksana, aku tidak boleh bertindak gegabah sampai terluka."

Jika menggunakan sihir suci dan teknik penguatan tubuh secara bersamaan, kemampuan Licia akan melonjak drastis. Kecepatan pedang dan kelincahannya meningkat jauh di atas rata-rata—itulah keunggulannya.

Namun yang membuatnya tidak puas adalah kenyataan bahwa sejak dulu, ia tetap tidak bisa menang melawan Ren.

Pertama kali mereka bertanding menggunakan sihir suci adalah di kediaman keluarga Ashton.

Berikutnya di kediaman Clausel, dan bahkan setelah datang ke Erendil, ada banyak kesempatan serupa, namun hasilnya selalu sama.

Licia yang teringat akan masa lalu itu pun bergumam,

"…………Muuu."

Sambil tetap duduk di depan Ren, ia sekali lagi mengerucutkan bibirnya.

Ia tidak tampak sedang menatap Ren dengan benci, melainkan lebih seperti rasa kesal pada diri sendiri yang terpancar di wajahnya.

Meski begitu, ia tetap terlihat manis, mungkin karena memang itulah pesona seorang Licia.

"Mau mencoba bertanding setelah sekian lama?"

"Tidak. Aku akan menahannya. Sebentar lagi ada Festival Lion King, akan gawat kalau aku memaksakan diri lalu terluka, kan?"

Licia berujar sambil tertawa ringan.

Tanpa terasa, cukup banyak waktu telah berlalu sejak mereka berdua datang ke taman.

Ren yang berdiri lebih dulu menghampiri Licia dan mengulurkan tangannya. Licia pun tersenyum senang dan menyambut uluran tangan itu.

"Lain kali kita tanding, aku tidak akan kalah."

"Aku juga, lho."

Keduanya mengakhiri latihan malam itu dan kembali ke dalam kediaman.

Mereka menghabiskan waktu sebelum tidur di kamar masing-masing untuk belajar atau mengistirahatkan tubuh.

 

Setelah mandi dan menghela napas lega di kamar, Yuno datang memanggil. Lezard yang berada di ruang kerja memanggil mereka berdua.

Ren tiba lebih dulu di ruang kerja, disusul oleh Licia tak lama kemudian.

Lezard yang menyambut mereka membagikan informasi mengenai pelayanan tamu selama Festival Lion King. Ia juga menjelaskan bagaimana kondisi Erendil yang akan berubah dari biasanya.

Lezard melanjutkan pekerjaannya.

"Lalu, persiapan untuk transportasi tambahan yang menuju ke dekat Roses Kaitas juga akhirnya selesai."

Ini adalah topik yang sempat muncul pada hari di mana Licia dan Fiona memamerkan pakaian etnik mereka kepada Ren.

"Roses Kaitas saat ini sebagian besar gunungnya telah disegel, namun kaki gunungnya adalah pengecualian. Jika kalian mencoba mendaki, kalian akan tertahan oleh segel di tengah jalan. Dan jika mencoba melihat ke bagian dalamnya, pandangan akan terhalang oleh kabut tebal. Tapi, kalian tetap bisa pergi hingga ke dekat sana."

Tidak ada pelabuhan kapal sihir di dekat Roses Kaitas, sehingga pelabuhan darurat akan dibangun di tanah lapang di sekitarnya.

"Ada jalan raya yang menuju ke sana dari Erendil, tapi sudah sangat tua. Bahkan banyak jalan batunya yang sudah retak. Karena itu, saat perbaikan dilakukan, muncul usul untuk membangun tempat persinggahan di antara Erendil dan Roses Kaitas."

"Tempat persinggahan? Apa maksudnya membangun sesuatu seperti kota?" tanya Ren.

"Tidak, skalanya tidak sampai sebesar itu."

Sepertinya tempat itu akan menjadi titik transit yang berguna untuk manajemen keamanan jalan raya, dimulai dengan pos penjagaan ksatria. Karena akan dibangun penginapan dan fasilitas lainnya, ini adalah proyek yang cukup serius.

Dalam benaknya, Ren membayangkan sesuatu yang sedikit lebih berkembang daripada desa asalnya saat ia pulang kampung tempo hari.

"Karena adanya pembicaraan tersebut, selain para peziarah, setiap harinya akan ada banyak pejabat sipil dan bangsawan yang berkunjung ke sana. Ini saat yang tepat karena selama periode Festival Lion King, para bangsawan dan pedagang yang biasanya tidak ada di ibu kota juga akan berdatangan."

Alasan adanya kapal sihir tambahan sebenarnya lebih kuat karena hal ini. Selain itu, dari sisi keamanan juga dipertimbangkan.

Jika menempuh jalur darat, mereka harus melewati jalan raya yang cukup panjang, dan bisa dibayangkan akan ada beberapa monster yang muncul. Namun Lezard menegaskan dengan yakin, "Tidak masalah."

"Roses Kaitas dikelola oleh Leomel yang bekerja sama dengan Gereja Elfen, sehingga di hutan sekitarnya pun tidak ada satu ekor monster pun. Segel yang mengelilingi Roses Kaitas memiliki kekuatan yang luar biasa, dan kabarnya tidak berubah meski sudah ratusan tahun berlalu."

Apalagi Roses Kaitas dipenuhi oleh kekuatan suci, sehingga keamanannya semakin terjamin. Ren pun terkagum-kagum mendengar kekuatan segel tersebut.

 

Dalam perjalanan kembali ke kamar, Ren dan Licia memikirkan tentang Roses Kaitas.

"Kira-kira tempat seperti apa ya? Ren mau mencoba pergi ke sana?"

"Aku ingin pergi, tapi mungkin nanti setelah Festival Lion King selesai."

Mereka berdua hanya berpikir untuk pergi jika ada kesempatan di masa mendatang.

"Kalau begitu, bagaimana kalau kita pergi bersama-sama?"

"Iya. Aku menantikannya."

Licia mengangguk dengan suara yang terdengar ceria.

Tak lama kemudian, keduanya berpisah di depan kamar Licia dan kembali menghabiskan waktu dengan santai. Malam indah dengan langit tanpa awan dan bintang-bintang yang terlihat jelas itu pun berlanjut untuk beberapa saat lagi.

◇◇◇

"Dulu saat pasukan Raja Iblis mendekati ibu kota, Leomel dan Gereja Elfen bekerja sama untuk memukul mundur mereka. Sejak saat itu, Roses Kaitas yang menjadi medan perang pun disegel."

Keesokan harinya, saat jam istirahat pelajaran pagi, Sera bercerita kepada Licia yang bertanya padanya.

Ia melanjutkan penjelasannya kepada Licia sambil berjalan di koridor.

"Karena bercampur dengan misteri Gereja Elfen, kabarnya mustahil untuk memasang segel yang sama di masa sekarang. Aku juga pernah pergi ke dekat Roses Kaitas sebelumnya, dan menurutku itu adalah segel luar biasa yang kehebatannya bisa langsung terlihat bahkan dari luar."

Alasan digunakannya segel sekuat itu adalah untuk melenyapkan kekuatan yang diberikan Raja Iblis kepada bawahannya.

Karena kekuatan Gereja Elfen pun tidak mampu memurnikannya secara instan, maka metode pemurnian yang memakan waktu lama dipilih.

Pada saat itu, ceritanya mungkin akan berbeda jika Tujuh Pahlawan ada di sana, namun mereka sedang meninggalkan Leomel untuk bertarung melawan Raja Iblis.

"Kenapa tiba-tiba membicarakan Roses Kaitas? Apa kamu dipanggil oleh Kuil Agung?"

"Tidak. Hanya saja kemarin hal ini menjadi topik pembicaraan dengan Ayah."

Licia menceritakan apa yang ia dengar di ruang kerja bersama Ren semalam. Sera sepertinya juga pernah mendengar informasi tersebut, ia langsung mengangguk setelah mendengarnya.

"……Kalau tidak salah, jumlah jadwal kapal sihir akan ditambah secara khusus, ya?"

"Benar. Aku belum pernah ke Roses Kaitas, jadi kupikir mungkin Sera pernah melihatnya."

"Mumpung ada kesempatan, kenapa Licia tidak pergi saja ke sana?"

"Mustahil. Jadwalku sudah penuh, dan tidak ada alasan bagiku untuk pergi di masa sibuk seperti ini."

"Aah... karena tugas komite pelaksana dan tugas keluarga Clausel pasti sangat berat, ya."

Berbeda dengan dulu, keluarga Clausel sekarang tidak lagi mudah ditekan oleh bangsawan tingkat atas.

Bahkan jika ada, mereka sudah memiliki kekuatan yang cukup untuk membalas argumen. Sekarang, mereka sudah bisa bekerja tanpa terlalu memusingkan perbedaan gelar kebangsawanan.

 

Kedua gadis yang sedang berjalan di koridor itu menyadari sosok Ren yang berjalan sendirian dari arah berlawanan. Sera memperhatikan Licia yang menatap Ren dengan lekat dari samping.

Tiba-tiba, bibir Licia bergerak dan berkata,

"Anu────"

Tidak seperti biasanya, bicaranya terdengar ragu-ragu.

Entah kenapa, sosoknya pun tampak tidak percaya diri, berbeda dari biasanya.

"Apakah Sera... sudah dipanggil hanya dengan nama saja sejak dulu?"

"Nama? Apa maksudmu────"

Melihat Licia yang terus mengikuti Ren dengan matanya, Sera langsung mengerti maksudnya.

"Aaah, begitu rupanya..."

Karena ditanya oleh Licia, Sera pun mencoba mengingat kembali masa lalunya.

Tanpa menanyakan detail permasalahannya, ia mulai bercerita sambil memikirkan keseharian Licia dan Ren biasanya.

"Vane pun awalnya memanggilku 'Tuan Putri Riohard' dan menggunakan bahasa formal yang kaku, lho."

"Lalu, sejak kapan jadi seperti sekarang!?"

"Apa kamu ingat cerita saat aku ditolong oleh Vane? Sejak saat itu."

Seingat Licia, ia pernah mendengar cerita itu dari Sera saat mereka bertemu kembali di Erendil. Licia terkejut menyadari bahwa perubahan itu terjadi cukup cepat.

"Apa dia tiba-tiba berhenti memanggilmu dengan gelar?"

"Bukan tiba-tiba, tapi karena aku yang memintanya berhenti."

Licia terkejut hingga matanya membulat dan berkedip berkali-kali.

Melihat reaksi itu, Sera langsung tertawa. Sosok Licia yang biasanya terlihat gagah kini tampak sangat manis, hingga Sera tidak bisa menahan senyumnya.

Licia mempertanyakan jawaban yang baru saja ia dengar.

"Benar-benar cuma itu saja?"

"Iya."

"……Bohong."

"Serius, lho."

Sera sadar penjelasannya agak kasar, tapi karena memang begitulah kenyataannya, tidak ada cara lain untuk menjelaskannya.

Hanya saja, ia tahu Licia sedang berkonsultasi dengan serius.

"Hubungan antarmanusia itu berbeda-beda bagi setiap orang. Apa yang kulakukan mungkin tidak terlalu berpengaruh padamu, kan? Licia adalah Licia, menurutku begitu saja sudah cukup."

Itu bukan sekadar penghiburan, melainkan tulus dari hatinya. Tanpa mengatakan bahwa contoh darinya adalah yang paling benar, ia menyatakan bahwa hubungan antara Licia dan Ren adalah milik mereka berdua saja.

Itu adalah kata-kata yang diucapkan Sera setelah memahami perasaan Licia.

"Begitu... ya."

"Bagaimana kalau kamu coba minta sekali lagi pada Ren? Untuk sementara, cobalah mengobrol santai saat Festival Lion King sudah berakhir nanti."

"……Iya. Akan kucoba────"

Tiba-tiba Licia tersadar dan menatap Sera.

"A-aku kan tidak bilang kalau ini soal Ren!"

"Lalu, apa soal orang lain?"

"……Itu tidak mungkin, sih……"

Sera berpikir Licia tidak perlu menyembunyikannya, tapi ia merasa Licia yang seperti ini sangat manis.

Sera mengusap kepala Licia yang mengangguk jujur.

"Ngomong-ngomong, soal Roses Kaitas tadi juga mendadak, tapi soal panggilan ini pun tiba-tiba sekali. Apa terjadi sesuatu?"

Kejadian itu terjadi saat libur panjang kemarin, ketika ia berkeliling Erendil bersama Ren.

Licia menceritakan pertemuannya dan percakapannya dengan Nem Altia kepada Sera.

Mendengar apa yang mereka bicarakan, Sera menepukkan tangan ke dahi dan menghela napas, "Nem itu, masih tetap sama seperti biasanya ya."

Lalu,

"Hmm!? Ada yang memanggil Nem!?"

Entah sejak kapan ia berada di dekat sana, tiba-tiba Nem sudah muncul di samping mereka berdua.

Sera yang dipanggil dari belakang buru-buru menoleh, namun tidak dengan Licia. Setidaknya, ia sudah merasakan kehadiran Nem di dekat mereka.

"Kapan kamu datang! Nem!"

"Sera, aku sudah di sini sejak tadi, lho."

"Pin pon pin pon! Licia-chan benar sekali! Jadi, ada apa dengan Nem?"

"Aku baru saja bicara dengan Sera kalau Magic Tool buatan Nem itu sangat hebat."

"Fufufuuun! Begitu ya! Jadi kalian sedang memuji Nem ya! Aku senang sekali!"

Nem merasa senang secara jujur dan langsung pergi dari samping mereka berdua. Ia menautkan kedua tangannya di belakang punggung dan berjalan ringan entah ke mana.

Sepertinya ia menyapa hanya karena kebetulan melihat sosok mereka berdua.

Setelah mengantar kepergian Nem dengan pandangannya, Sera menatap wajah Licia.

"Seperti yang kubilang tadi, bagaimana kalau coba bicara pada Ren setelah Festival Lion King selesai?"

Sebenarnya ia merasa soal panggilan nama bisa dibicarakan kapan saja, tapi saat ini menjelang Festival Lion King, Ren dan Licia sedang sangat sibuk.

Licia pun pasti tidak bisa melakukannya dalam waktu dekat.

Licia menjawab singkat, "Iya. Akan kulakukan," lalu mengucapkan terima kasih kepada Sera.

◇◇◇

Ren, Licia, dan Fiona sedang berada di ruang kepala sekolah.

Ini adalah bentuk kebaikan Chronoa yang ingin menjamu para anggota komite pelaksana saat jam istirahat makan siang, namun sayangnya Radius sedang absen dari akademi karena urusan kenegaraan.

Mirei yang mengikutinya pun tidak datang ke akademi hari ini.

Sekitar tiga puluh menit setelah mereka mulai menikmati makan siang bersama.

Saat semuanya sedang menikmati obrolan setelah makan.

Licia mengutarakan apa yang ia bicarakan dengan Sera. Tentu saja, bukan soal Ren yang memanggilnya dengan imbuhan gelar.

Soal itu akan ia simpan untuk waktu yang tepat nanti.

"Seberapa kuat intensitas segel di Roses Kaitas?"

Mendengar pertanyaan Licia tentang Roses Kaitas, Chronoa tampak mengerti arah pembicaraannya.

Karena Ren dan Fiona juga tampak ingin tahu, Chronoa mengeluarkan tongkat sihir dari balik jubahnya.

Saat ia mengayunkan tongkat itu di atas meja, beberapa bola air tercipta dan segera menyatu menjadi satu. Ia mengayunkan tongkatnya sekali lagi, dan air itu berubah bentuk membentuk replika gunung di atas meja.

Tampak seperti sebuah miniatur yang terbuat dari air.

"Coba lihat ini, ya."

Bagian gunung dari miniatur air itu terkikis, membentuk sebuah area terbuka yang luas. Saat banyak benda yang menyerupai patung-patung berjejer, jalan setapak gunung yang menuju ke sana pun terpampang di depan mata mereka semua.

Gunung di mana Roses Kaitas berada dipresentasikan secara tiga dimensi oleh sihir Chronoa.

"Tempat di mana patung-patung dewa raksasa berjejer ini adalah tempat suci yang dulu dituju oleh para peziarah. Seperti yang kalian bertiga tahu, sebagian besar patung itu hancur karena serangan pasukan Raja Iblis."

Gumpalan air yang menyerupai Roses Kaitas dan patung-patung yang berjejer itu mulai runtuh satu per satu.

Pada saat itu, meski pasukan Leomel dan Gereja Elfen bekerja sama melawan pasukan Raja Iblis, pasukan musuh yang sudah merangsek hingga dekat ibu kota sangatlah kuat.

Leomel, negara militer terbesar di dunia, dipaksa bertarung dengan susah payah hingga pasukan yang dikirim pun berada dalam kondisi hancur lebur.

Sebaliknya, pasukan Raja Iblis juga kehilangan banyak personil dalam pertarungan maut itu, yang akhirnya berakhir dengan penyegelan seluruh area Roses Kaitas.

"Seperti ini."

Saat Chronoa mengayunkan tongkatnya, dinding air muncul menutupi miniatur air tersebut.

Permukaan dinding air itu bergelombang halus, menyembunyikan sebagian besar Roses Kaitas.

Persis seperti kabut tebal yang sering dirumorkan.

"Penyegelan ini dilakukan di bawah kepemimpinan Gereja Elfen. Mereka menyiapkan relik suci yang bersemayam kekuatan Dewi Waktu."

Dibutuhkan waktu yang tidak sedikit untuk menyegel Roses Kaitas menggunakan relik suci.

Saat memasang lingkaran sihir di lokasi, tentu saja banyak anggota Gereja Elfen maupun orang-orang Leomel yang melindungi mereka harus kehilangan nyawa.

Namun berkat pengorbanan itu, segel yang mengelilingi Roses Kaitas pun selesai.

Kabarnya, sebagian besar pasukan Raja Iblis ikut tersegel di dalamnya.

"Apakah itu berarti jika segelnya lepas, pasukan Raja Iblis akan bangkit kembali?"

"Aku juga penasaran soal itu. Jika mereka hanya tersegel di dalam, rasanya berbahaya jika suatu saat segelnya lepas karena suatu alasan."

Fiona dan Licia bertanya.

Wajar jika mereka merasa cemas mendengar penjelasan tadi, namun Chronoa segera menggelengkan kepalanya.

Pertanyaan mereka berdua masuk akal, tapi...

"Menurut Gereja Elfen, hal itu tidak mungkin terjadi. Segel itu disebut sebagai 'Sangkar Waktu', dan karena efeknya terlalu kuat, pasukan Raja Iblis mustahil bisa bertahan hidup di dalamnya."

Segel itu, sesuai dengan namanya, mengisolasi waktu antara bagian dalam dan luar.

Di dalam segel, terbentang ruang misterius di mana waktu berhenti dan dipenuhi oleh energi sihir suci.

Karena menggunakan relik suci yang bersemayam kekuatan Dewi Waktu, kekuatan Tuhan benar-benar bekerja di sana.

Oleh karena itu, seperti yang dikatakan Chronoa, efeknya sangat dahsyat. Meski di dalam sana waktu berhenti, hanya energi sihir suci yang terus bekerja dan memurnikan bagian dalam segel.

Sudah pasti, pasukan Raja Iblis tidak menyisakan tulang belulang sekalipun, apalagi perlengkapan perang mereka.

Semuanya tanpa pengecualian pasti telah dimurnikan oleh kekuatan suci──── begitulah katanya.

"Aku juga penasaran soal Sangkar Waktu itu, jadi aku sempat mencoba menyelidikinya saat masih di Istana Suci Perak."

"Anda kan memang pergi ke Tanah Suci sampai tahun lalu ya," ujar Ren teringat sesuatu.

Chronoa menyahut dengan nada sedikit tidak puas.

"Benar! Tapi meski aku sudah bekerja sangat keras, mereka tidak mengizinkanku membaca satu buku pun di perpustakaan mereka, lho!"

"Apa karena itu buku langka?"

"Kurasa itu salah satu alasannya... tapi lebih tepatnya, mungkin karena aku bukan anggota Gereja Elfen, jadi alasannya lebih ke arah sana. Aku sudah bisa menduganya, jadi aku cuma bisa berpikir 'yah, mau bagaimana lagi' sih."

Tanpa mengucapkan satu kata benci pun, Chronoa memahami situasi di Tanah Suci maupun Gereja Elfen. Relik suci maupun buku-buku berharga pasti dikelola dengan sangat ketat di sana.

...Ternyata itu benar-benar pekerjaan yang berat.

Ren teringat kembali ekspresi yang ditunjukkan Chronoa saat ia membersihkan ruang komite pelaksana tempo hari. Ia menatap Chronoa sambil memikirkan kerja keras yang wanita itu tunjukkan saat itu.

Menyadari tatapan Ren, Chronoa berkata dengan nada sedikit bingung.

"Kenapa tiba-tiba menatapku dengan mata lembut seperti itu?"

"Tidak, aku hanya berpikir kalau Bu Chronoa sepertinya sangat sibuk setiap hari."

"Memang begituuu! Makanya waktu seperti ini, saat aku bisa mengobrol dengan kalian semua, sangatlah berharga bagiku...!"

Saat Ren menuangkan teh tambahan untuk Chronoa yang pekerja keras itu, ia tersenyum tersipu malu.

Saat ia mengayunkan tongkatnya, air yang membentuk replika Roses Kaitas itu berubah menjadi kabut mulai dari ujungnya, dan menghilang dalam sekejap.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close