Chapter 6
Dia Itu Tidak Peka
Sehari sebelum libur panjang berakhir, Licia bertolak dari
Erendil menggunakan kapal sihir untuk urusan resmi.
Malam harinya, Ren baru saja pulang setelah menyelesaikan
latihan teknik baru dan rutinitasnya di Markas Besar Ksatria Suci (Shishi
Seitou).
Tak lama setelah ia selesai mandi, suara Licia terdengar dari
balik jendela kamarnya.
Begitu Ren menuju aula utama, ia melihat sosok Licia yang
baru saja tiba. Gadis itu langsung berlari kecil menghampirinya begitu melihat
keberadaan Ren.
"Aku
pulang. Aku bawa oleh-oleh, nanti dimakan ya."
"Selamat
datang kembali. Terima kasih, Anda pasti lelah karena pekerjaan mendadak
ini."
"Tidak kok, aku tidak apa-apa. Lalu, apa saja yang kau lakukan,
Ren?"
"Seperti biasa, berburu dan mengayunkan pedang."
Mendengar itu, Licia tertawa. "Itu benar-benar gaya
khasmu."
"Hei, hei."
Suara
Licia terdengar riang.
"Besok
mau jalan-jalan ke kota setelah sekian lama? Ayah bilang besok aku bebas
melakukan apa saja."
"Tentu
saja boleh. Kalau dipikir-pikir, belakangan ini kita memang tidak sempat
berjalan-jalan santai di Erendil."
"Iya!
Sepertinya banyak toko baru yang buka, jadi mari kita pergi menyegarkan diri
bersama!"
Licia
tersenyum lebar. "Aku sangat menantikannya!" ucapnya sebelum beranjak
pergi.
Bertepatan dengan kepergiannya, Lezard datang menghampiri
Ren. Di belakangnya, Weiss tampak berjaga dengan jarak yang sedikit agak jauh.
"Aku menerima laporan di dalam kapal sihir saat
perjalanan pulang tadi. Ini mengenai kabar terbaru dari desa keluarga
Ashton."
Lezard mengeluarkan sepucuk surat dari balik saku jaketnya
dan menyerahkannya kepada Ren. Merasakan suasana yang mengizinkannya untuk
segera memeriksa, Ren membuka segel surat itu di hadapan Lezard.
Mungkin karena sengaja meminta bantuan pelukis, di dalam
surat itu terdapat gambar keadaan desa. Sebuah fasilitas yang menjadi pusat
bagi para pedagang telah dibangun di sana.
Perbaikan
jalan pun terus berjalan, membuat desa dan wilayah sekitarnya mulai semakin
ramai.
Keesokan
paginya, Ren dan Licia berkumpul di aula utama yang sama saat waktu sudah
menunjukkan lewat jam sembilan pagi.
Tidak ada pengawal di sekitar mereka. Ada Ren di samping Licia,
dan Licia sendiri yang seharusnya dilindungi kini sudah menjadi pengguna Great
Sword yang hebat di level Swordman.
"Sudah bisa berangkat?" tanya Licia yang mengenakan
pakaian kasual.
Blus putih polos yang ia kenakan di tubuh bagian atas
menonjolkan pesona keanggunannya.
Di rambutnya yang indah, tersemat hiasan rambut berbentuk
sayap berbahan platina.
Setiap kali ia melangkah, ujung roknya bergoyang dengan
ringan.
"Bahkan rasanya aku ingin berangkat lebih awal."
"Dasar kau ini. Kau sedang lapar, kan?"
"Ah,
ketahuan ya."
"Tentu
saja. Kalau begitu, mari kita pergi."
Sebelum
mereka meninggalkan kediaman, Lezard kebetulan lewat di dekat mereka.
"Hati-hati
di jalan. Ren, maaf merepotkan, tapi aku titip Licia ya."
Ren
tidak bisa begitu saja menjawab 'serahkan padaku', ia hanya membalasnya dengan
senyum kecut. Sementara itu, Licia tampak cemberut.
"Muu……"
Meski
tampak tidak puas, Licia segera menarik tangan Ren dengan paksa untuk keluar
dari kediaman.
Begitu
keluar, sinar matahari di pertengahan bulan Juni terasa menyilaukan.
Sesaat
setelah meninggalkan kediaman, Licia melepaskan tangan Ren.
Ia
sempat berpikir betapa bahagianya jika bisa terus bergandengan tangan seperti
itu di tempat umum, namun ia tahu hal itu masih sulit dilakukan.
Di
pinggang Licia yang berpakaian kasual, hari ini pun tersemat sebuah pedang.
Pedang
ternama yang menjadi simbol dirinya, Hakuen. Sedangkan Ren membawa
pedang sihir besi di pinggangnya.
Sarung
pedangnya adalah barang pesanan khusus yang dibuatkan oleh Wellrich tempo hari.
Karena
pedang sihir itu ukurannya berubah mengikuti pertumbuhan fisik Ren, sarung
pedang itu baru bisa disiapkan belakangan ini setelah ukurannya mulai stabil.
"……?"
Licia
menyadari tatapan Ren.
"Kau
penasaran dengan pedangku?"
"Aku
hanya berpikir, Nona Licia tetap terlihat seperti lukisan yang indah meski
membawa pedang dengan pakaian kasual."
"Apa-apaan?
Tiba-tiba sekali memberiku pujian setinggi langit."
"Tidak, tidak! Itu bukan pujian kosong kok!"
Keduanya tertawa, lalu membuka gerbang dan keluar menuju
jalan besar. Berbeda dengan kediaman di Clausel, rumah di sini terletak di
pinggir jalan besar sehingga sangat mencolok.
Karena mereka hampir setiap hari berjalan bersama saat pergi
ke akademi, pemandangan mereka berdua yang bersama sudah menjadi hal biasa bagi
penduduk Erendil yang tinggal di sekitar sana.
Tujuan mereka adalah sebuah kafe di pinggir jalan besar.
Mereka menuju meja bundar putih yang membelakangi tanaman pagar, lalu memesan
paket menu favorit setelah mengamati daftar menu selama beberapa menit.
Sambil menunggu pesanan datang—
"Aku ingin bertanya untuk berjaga-jaga."
"? Apa?"
"Jika terjadi sesuatu, Anda akan mencabut pedang,
kan?"
"Aku menyiapkannya memang untuk itu. Ren juga sama, kan?
Meski berpakaian kasual, kau tetap membawa pedang di pinggangmu."
"Kalau aku, kan sekalian berperan sebagai pengawal Nona Licia."
Mereka membicarakan hal-hal ringan sambil menikmati makanan
yang dihidangkan. Setelah selesai makan, mereka beristirahat sejenak.
"Suasana
di Erendil sini juga mulai berubah ya."
"Katanya
karena pengaruh Festival Lion King, pesanan penginapan hampir semuanya
penuh."
Di
Erendil pun persiapan Festival Lion King sedang berjalan di mana-mana.
Sebagai
kota yang dekat dengan ibukota, Erendil dipadati oleh tamu penginapan maupun
pengunjung yang datang menggunakan kapal sihir.
Di antara pejalan kaki, banyak juga yang terlihat seperti
datang dari luar negeri. Ada yang berpenampilan seperti hewan, ada yang
menyerupai reptil, hingga kaum bersayap (Winged Human).
Sambil memandangi pemandangan itu dengan cangkir teh di
tangan, Licia berkata.
"Setelah ini, bagaimana kalau ke toko buku? Ren, kau
bilang ada buku yang membuatmu penasaran, kan?"
"Tapi,
tidak apa-apa jika kita pergi ke tempat yang ingin Nona Licia kunjungi
dulu?"
"Fufu,
tidak apa-apa kok."
Licia
melanjutkan tanpa jeda.
"Jika
tempat yang ingin kukunjungi semuanya adalah tempat di mana aku bersama Ren,
maka dari mana pun kita mulai, hasilnya akan sama saja."
Ren
tertawa mendengar kata-kata yang sangat khas Licia itu.
"Jika
memang benar begitu, sepertinya akan sangat praktis ya."
"Kan?"
Licia
ikut tertawa. Ia menumpukan kedua tangannya yang saling bertaut di atas meja
sambil memiringkan kepala dengan riang.
"Sudah
diputuskan ya. Setelah istirahat sebentar, kita akan pergi ke toko buku
dulu."
Suaranya
terdengar sangat bersemangat. Setelah meninggalkan toko, mereka menikmati hari
libur sambil melihat-lihat suasana kota yang ramai.
Saat
sedang berjalan, tiba-tiba Ren berkata.
"Lho."
"Ada
apa?"
"Aku
melihat teman seangkatan yang tidak biasa terlihat di sini."
"Teman
seangkatan yang tidak biasa?"
Licia
mengikuti arah pandangan Ren dan menyadari siapa orang itu.
Nona
muda dari keluarga Althea, salah satu dari Seven Great Archdukes, sedang
berjalan di jalan besar Erendil bersama orang-orang dewasa yang mengenakan
pakaian kerja. Menyadari keberadaan mereka berdua, Nemu berlari kecil
menghampiri.
"Ya,
ya! Selamat pagi, kalian berdua!"
Ren
baru pertama kali berbincang dengan Nemu beberapa hari yang lalu, namun Licia
sudah jauh lebih akrab dengannya karena sudah beberapa kali mengobrol sejak
masuk akademi.
"Ini
pertama kalinya aku bertemu Nemu di Erendil."
"Iya
ya. Nemu mau pergi ke Menara Jam sekarang. Kalian sedang belanja?"
Menara
Jam yang dikelilingi taman alam di pinggiran kota itu adalah tempat yang pernah
dikunjungi Ren bersama Radius dulu.
Menurut
Nemu, ia beberapa kali datang memantau keadaan sejak insiden tahun lalu.
Sebelumnya,
pelayan sekaligus teknisi keluarga Althea yang melakukannya, namun kali ini
Nemu yang memegang tanggung jawab itu.
Mendengar
hal itu, Ren dan Licia menundukkan kepala sebagai tanda terima kasih, namun
Nemu tertawa. "Tidak apa-apa, tidak apa-apa!"
"Lagipula
ini kan buatan leluhurku. Jadi aku harus mengelolanya dengan baik!"
"……Nemu
ternyata hebat juga ya."
"Hmm?
Apanya, apanya?"
"Kau
sudah bisa mengelola fasilitas sekaligus Magic Tool sebesar itu."
"Ahaha!
Nemu sudah utak-atik Magic Tool sejak umur satu tahun lho. Aku juga
punya tujuan untuk membuat penemuan yang melampaui leluhurku, jadi serahkan
saja padaku!"
Mendengar
percakapan mereka, Ren yang melihat ada ksatria di pinggir jalan pun melangkah
menjauh sedikit dari kedua gadis itu.
"Ada
pesan yang dititipkan Tuan Lezard, aku pergi sebentar ya."
Ren
menjauh sekitar belasan meter. Dengan jarak seperti itu, ia bisa kembali dalam
sekejap jika terjadi sesuatu. Setelah Ren menjauh, Nemu mendekatkan wajahnya ke
arah Licia.
"Ada
hal yang sangat membuatku penasaran, boleh aku tanya?"
"Apa
itu?"
"Anu,"
ucap Nemu.
"Kencan?"
Kata-kata
ringan yang rasanya tidak mungkin keluar dari mulut seorang bangsawan itu
justru diucapkan oleh putri keluarga Althea. Mendengar pertanyaan itu, Licia
merenungkan kata-kata barusan.
(……Kencan?)
Jika
Nemu yang ada di depannya bertanya seperti itu, maka pasangan kencan yang
dimaksud pastilah orang yang baru saja berada di samping Licia. Setelah
mencerna jawaban yang sudah jelas itu selama belasan detik, Licia langsung
kaku.
"Ugh~~!?"
Mulai
dari pipi, daun telinga, hingga lehernya memerah dalam sekejap dan ia
mengerjap-ngerjap dengan cepat.
Licia
mengambil jarak setengah langkah dari Nemu, melipat tangan, dan membuang muka
ke arah lain sambil berusaha bersikap tenang. Ia menyibakkan rambut sutranya
dengan tangan.
"Bisa
tidak jangan bertanya hal-hal yang tidak jelas?"
Ia
mencoba berlagak kuat. Namun kepura-puraan yang ia paksakan itu langsung
terbongkar oleh putri keluarga Althea.
"Waduh,
jadi ternyata bukan ya."
Memang kenyataannya bukan……
namun saat dikatakan dengan nada kecewa yang sejelas itu, perasaan Licia pun
mulai keluar dari mulutnya. Ketenangannya yang tadi langsung lenyap.
"A-apa tidak boleh kalau
bukan!? Lagipula, apa maksudmu dengan 'waduh' tadi! Apa ada masalah bagi
Nemu!?"
"Tidak ada kok~ Tapi
kalian terlihat sangat akrab saat bermain di hari libur begini, jadi dari jarak
kalian saja aku merasa seperti itu. Ren-kun juga akrab dengan nona muda keluarga Ignart, kan~?
Makanya aku penasaran situasinya bagaimana."
"Uuuh~~……!"
"Ma-maaf
deh! Jangan menatapku dengan wajah imut seperti itu!"
Mata
Licia mulai berkaca-kaca, ia menatap tajam ke arah Nemu dengan wajah yang merah
padam.
Rasa
malunya sudah hampir mencapai batas, ia bisa saja mencubit pipi Nemu kapan
saja.
"Sebagai
gantinya, Nemu akan memberimu panduan asmara, jadi jangan menatapku seperti itu
lagi…… bagaimana?"
Mendengar
kata-kata Nemu, Licia kembali tenang dan teringat informasi tertentu untuk
menyerang balik Nemu.
"Nemu
yang dulu bilang kalau tidak punya pengalaman cinta dan hanya berhubungan
dengan lawan jenis seperti teman biasa itu?"
"Akh!
Kau mengatakannya ya!? Kau mengatakan hal yang tidak boleh dikatakan pada gadis
seusiaku ya!?"
"Ya.
Makanya renungkan dulu ucapanmu tadi."
"Kalau
itu sih beda cerita. Tapi coba dengarkan dulu, siapa tahu ini informasi yang
berguna untuk Licia-chan!"
Dengan
suara riang, Nemu memamerkan pengetahuan yang entah didapat dari mana.
Yang
keluar dari mulut gadis yang biasanya memberi pengetahuan berguna soal Magic
Tool itu ternyata adalah kata-kata yang bisa dipahami oleh Licia.
"Dengar
ya? Pertama-tama adalah gaya bicara!"
"Gaya bicara…… maksudmu
gaya bicaraku dan Ren sekarang?"
"Iya!
Jarak antara kalian itu sangat penting, tapi untuk kalian berdua seharusnya
bisa lebih santai lagi! Misalnya, minta Ren-kun berhenti pakai bahasa formal,
atau minta dia mengubah cara memanggil Licia-chan!"
"……Aku
sudah pernah mengatakannya soal gaya bicara dulu, tapi dia bilang tidak bisa
karena dia anak seorang ksatria. Lagipula, sekarang pun dia sudah memanggil
namaku, kan?"
"Tapi
Ren-kun memanggil Licia-chan pakai tambahan '-sama' (Nona), kan?"
"Kalau begitu…… maksudmu
minta dipanggil 'Licia' saja tanpa sebutan?"
"Betul, betul! Seperti Vane-kun dan Sera-chan!"
Nemu mengacungkan jempolnya dengan kuat untuk memberi
penegasan.
"Ren memanggilku 'Licia'……"
Hanya dengan membayangkan Ren memanggil namanya seperti itu, Licia
langsung menutupi pipinya dengan kedua tangan dan menggeliat malu.
Berbagai perasaan berkecamuk di hatinya, namun semuanya
didasari oleh rasa senang.
"Tapi ya, antara minta dipanggil nama saja atau minta
berhenti pakai bahasa formal, mana yang lebih sulit itu tidak tahu ya~"
"Iya! Dua-duanya kan sulit!"
"Ngomong-ngomong," ucap Licia.
"Nemu, dari mana kau dengar hal-hal seperti itu?"
"Biar
kuberitahu, dari novel romantis!"
"Haa……
sudah kuduga pasti begitu."
"Tapi,
itu informasi yang bagus, kan?"
Licia
tidak bisa membantah dan mengangguk malu sambil berucap "Iya".
Masalahnya
adalah kemungkinan Ren setuju pada keduanya sangatlah rendah, namun Licia
memutar otak bagaimana cara mempraktikkannya.
Nemu
melihat jam dan berkata sudah waktunya pergi. Mendengar itu, Ren yang tadi
menunggu waktu yang tepat pun kembali menghampiri Licia.
Melihat
wajah Licia yang masih memerah, Ren memiringkan kepala dengan heran, namun Licia
tidak menjawab. Nemu juga tidak menjelaskan apa yang terjadi dan hanya
tertawa.
"Sampai jumpa kalian berdua! Ketemu lagi di
akademi!"
Nemu pun pergi meninggalkan mereka, dan Ren kehilangan
kesempatan untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
"Apa Anda…… demam?"
"…………"
"Nona Licia?"
"……Peka sedikit
dong."
Meski berkata begitu, Licia
sadar ada bagian yang tidak tersampaikan karena kurangnya sifat agresif dari
dirinya sendiri. Licia mengatakannya dengan nada sedikit tidak puas, lalu
segera tersenyum malu-malu yang menggemaskan.



Post a Comment