Epilog
Sore
hari, di kediaman Erendil.
"Jadi,
ke Eupeheim?"
"Rencananya
begitu. Aku belum menentukan kapan tepatnya, tapi aku ingin pergi secepat
mungkin."
"Nanti
kita bicarakan detailnya bersamaku. Begitu jadwalnya sudah tetap, aku juga
ingin menyampaikannya kepada Marquis Ignat."
Leisard
tertawa setelah mendengar penjelasan itu, mengingat adanya surat undangan yang
waktu itu.
"────Oya."
Dia
menyadari sesuatu saat memperhatikan Ren.
"Ternyata,
tinggi mata kita sudah hampir sejajar, ya."
"Kalau diperhatikan lagi, memang benar. Dulu rasanya aku
harus mendongak jauh lebih tinggi untuk melihat Anda."
Perubahannya sangat mencolok jika dibandingkan dengan saat
sebelum Ren masuk akademi, atau tepatnya sebelum Ren tinggal di Erendil.
Anak laki-laki yang memiliki paras netral mirip ibunya,
Mireille, kini telah tumbuh sebesar ini. Saat Leisard sedang tenggelam dalam
perasaan haru────
Liccia yang sedari tadi mencari Ren muncul dari tikungan
koridor.
Senyumnya tampak manis.
Senyuman yang dia berikan kepada Ren terasa berbeda dari
senyum yang dia tunjukkan kepada orang lain.
"Ren! Aku mencarimu tahu!"
Dia menghampiri dengan langkah kaki yang ringan.
"Ah, maaf.... Ternyata kamu sedang bicara dengan Ayah,
ya."
"Tidak,
ini baru saja selesai kok."
"Benarkah?
Kalau begitu Ren, mau pergi ke kota bersamaku sekarang? Itu.... Kelanjutan buku
yang ingin kubaca belum ada, jadi aku ingin pergi membelinya."
Ujung
langit masih terlihat terang.
Terkadang
mereka pulang dari Lion Holy See jauh lebih lambat dari ini, jadi waktu
sekarang bukanlah masalah.
Begitu
Ren menjawab, "Tentu saja boleh," dengan senang hati, Liccia langsung
menyambar.
"Kalau
begitu, bisa pergi sekarang juga?"
"Bisa
saja sih────tapi, Liccia!?"
"Cepat,
cepat! Kalau tidak buru-buru nanti keburu gelap!"
Liccia menarik tangan Ren dan setengah berlari menuju luar.
Weiss mendekat ke samping Leisard yang sedang memperhatikan
pemandangan itu. Dia menyapa Leisard yang memandang mereka dengan senyum
tenang.
"Tampaknya suasana hati Anda sedang sangat baik, Tuan
Besar."
"Ya.
Perasaanku sedang sangat enak."
Merasa
tidak sopan jika bertanya alasannya, Weiss pun tidak bertanya lebih lanjut.
Keduanya
yang sudah sampai di kota mendapatkan barang yang dicari di toko buku, lalu
berjalan menyusuri kota di waktu senja yang mulai sejuk.
Akhir-akhir
ini, jumlah ksatria di dalam kota terasa lebih banyak dari biasanya.
Hal
ini dikarenakan kewaspadaan pasca insiden Roses Kaitas, serta meningkatnya tamu
dari ajaran Elfen yang berkunjung setelah segelnya terlepas.
Liccia
mengenang kembali kejadian di Roses Kaitas.
Tentu saja, setelah memastikan tidak ada orang lain yang
mendengarnya.
"Rasanya sulit dipercaya kalau kita baru saja bertarung
melawan monster yang merupakan jenderal pasukan Raja Iblis."
"Itu
bukan bohong ataupun mimpi, lho."
Begitu
Ren membalas tanpa jeda, Liccia yang berjalan di sampingnya mendongak menatap
profil wajah Ren.
"Ini
adalah buktinya."
Ren
menunjukkan Pedang Iblis Mithril yang tergantung di pinggangnya.
Pedang
itu tersimpan dalam sarung yang sesuai dengan ukurannya sehingga bilahnya tidak
terlihat. Namun, bagian gagangnya menunjukkan wibawa yang berbeda dari Pedang
Iblis Besi.
Sarung
pedang baru buatan Werlich itu sedikit bergoyang setiap kali Ren melangkah.
Liccia
berucap sambil tersenyum.
"Lalu,
fakta bahwa Ren mulai memanggilku tanpa gelar juga terasa seperti bukti bahwa
kejadian itu bukan mimpi."
"Anu,
tolong jangan dibahas secara formal begitu karena rasanya memalukan, boleh
tidak?"
"Tidak
boleh? Aku rasa, aku tidak akan pernah lupa saat kamu tiba-tiba membangunkan
aku dengan memanggil namaku langsung."
Ren menggaruk pipinya dan membuang muka. Itu adalah gestur
kebiasaannya saat sedang menutupi rasa malu.
Bagi
Liccia, bisa berjalan bersama seperti ini saja sudah membuatnya sangat senang
hingga pipinya tak bisa berhenti menyunggingkan senyum.
Bahkan
keheningan di antara mereka pun terasa nyaman, membuat langkah kakinya terasa
ringan secara alami.
Setelah
menikmati suasana senja Erendil sejenak seperti itu, Ren berkata.
"Agar
kita bisa menghadapi situasi seperti itu lagi jika memang terjadi, aku harus
menjadi jauh lebih kuat."
"Aku
juga. Sebentar lagi aku akan menjadi Sword Expert, jadi Ren harus jadi Sword
Saint, ya."
Ren menggelengkan kepalanya sambil menatap ke arah yang jauh.
"Aku sudah berhenti menjadikan Sword Saint
sebagai tujuan."
Liccia yang mengintip wajah Ren dari samping bertanya dengan
nada suara yang tidak berubah dari biasanya.
"Kamu tidak mungkin menyerah, kan?"
"Tentu saja tidak."
"────Kalau begitu, mungkinkah itu berarti...."
Ren memang belum menyampaikannya secara eksplisit.
Dulu, dia selalu bersikap seolah pedangnya memiliki batas,
dan hanya berani berucap dengan rendah hati bahwa "akan bagus jika bisa
menjadi itu".
Sekarang, tujuannya bukan lagi sekadar keinginan samar untuk
menjadi kuat seperti "sosok itu".
Dirinya yang dulu hanya bisa mengagumi, kini sudah tidak ada
lagi.
"Aku
sudah memutuskan untuk menjadi Sword King."
Langkah
mereka terhenti. Ren memutar tubuhnya dan menatap mata Liccia.
Sang
White Saintess terpana melihat ketegasan Ren yang belum pernah sekuat ini
sebelumnya.
"Karena
itu, aku akan sangat senang jika kita bisa terus mengasah pedang bersama mulai
sekarang."
Tak
mungkin Liccia tidak merasa bahagia.
Dia
meresapi kata-kata itu di dalam lubuk hatinya, lalu meletakkan tangan di dada.
Ren pun dibuat terkejut oleh perkataan tegas yang keluar dari bibir gadis itu
selanjutnya.
"────Kalau
begitu, aku juga harus mengincar gelar Sword King."
"Li-Liccia juga!?"
"Jangan kaget begitu dong! Habisnya, aku kan────"
Liccia tahu betul bahwa itu adalah jalan yang terjal. Dia tidak mengucapkannya dengan main-main.
Hanya saja.... Dia ingin
terus menjadi sosok yang bisa mengasah pedang bersama di tempat yang paling
dekat dengan Ren.
"Aku kan....?"
Mendengar pertanyaan Ren,
Liccia tertawa dengan raut wajah yang tampak sangat bahagia dan ceria.
Dia mengangkat jari telunjuk dan menempelkannya perlahan di
bibir, terlihat begitu manis.... dan cantik.
"Masih
rahasia!"
Karena
suatu hari nanti, dia pasti akan menyampaikannya bersama dengan perasaan
cintanya.
Musim gugur akan segera tiba. Dan tak lama kemudian, musim
dingin akan berkunjung.
Saat
Ren berhasil mencapai puncak ilmu pedang setelah melewati hari-hari di Ibu
Kota, mungkin Sword King yang baru lahir bukan hanya satu orang,
melainkan dua orang.
Jawabannya
akan terungkap suatu saat nanti, di kelanjutan kisah ini.



Post a Comment