NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Monogatari no Kuromaku Volume 4 Epilog

Epilog


Sore hari, di kediaman Erendil.

"Jadi, ke Eupeheim?"

"Rencananya begitu. Aku belum menentukan kapan tepatnya, tapi aku ingin pergi secepat mungkin."

"Nanti kita bicarakan detailnya bersamaku. Begitu jadwalnya sudah tetap, aku juga ingin menyampaikannya kepada Marquis Ignat."

Leisard tertawa setelah mendengar penjelasan itu, mengingat adanya surat undangan yang waktu itu.

"────Oya."

Dia menyadari sesuatu saat memperhatikan Ren.

"Ternyata, tinggi mata kita sudah hampir sejajar, ya."

"Kalau diperhatikan lagi, memang benar. Dulu rasanya aku harus mendongak jauh lebih tinggi untuk melihat Anda."

Perubahannya sangat mencolok jika dibandingkan dengan saat sebelum Ren masuk akademi, atau tepatnya sebelum Ren tinggal di Erendil.

Anak laki-laki yang memiliki paras netral mirip ibunya, Mireille, kini telah tumbuh sebesar ini. Saat Leisard sedang tenggelam dalam perasaan haru────

Liccia yang sedari tadi mencari Ren muncul dari tikungan koridor.

Senyumnya tampak manis.

Senyuman yang dia berikan kepada Ren terasa berbeda dari senyum yang dia tunjukkan kepada orang lain.

"Ren! Aku mencarimu tahu!"

Dia menghampiri dengan langkah kaki yang ringan.

"Ah, maaf.... Ternyata kamu sedang bicara dengan Ayah, ya."

"Tidak, ini baru saja selesai kok."

"Benarkah? Kalau begitu Ren, mau pergi ke kota bersamaku sekarang? Itu.... Kelanjutan buku yang ingin kubaca belum ada, jadi aku ingin pergi membelinya."

Ujung langit masih terlihat terang.

Terkadang mereka pulang dari Lion Holy See jauh lebih lambat dari ini, jadi waktu sekarang bukanlah masalah.

Begitu Ren menjawab, "Tentu saja boleh," dengan senang hati, Liccia langsung menyambar.

"Kalau begitu, bisa pergi sekarang juga?"

"Bisa saja sih────tapi, Liccia!?"

"Cepat, cepat! Kalau tidak buru-buru nanti keburu gelap!"

Liccia menarik tangan Ren dan setengah berlari menuju luar.

Weiss mendekat ke samping Leisard yang sedang memperhatikan pemandangan itu. Dia menyapa Leisard yang memandang mereka dengan senyum tenang.

"Tampaknya suasana hati Anda sedang sangat baik, Tuan Besar."

"Ya. Perasaanku sedang sangat enak."

Merasa tidak sopan jika bertanya alasannya, Weiss pun tidak bertanya lebih lanjut.

Keduanya yang sudah sampai di kota mendapatkan barang yang dicari di toko buku, lalu berjalan menyusuri kota di waktu senja yang mulai sejuk.

Akhir-akhir ini, jumlah ksatria di dalam kota terasa lebih banyak dari biasanya.

Hal ini dikarenakan kewaspadaan pasca insiden Roses Kaitas, serta meningkatnya tamu dari ajaran Elfen yang berkunjung setelah segelnya terlepas.

Liccia mengenang kembali kejadian di Roses Kaitas.

Tentu saja, setelah memastikan tidak ada orang lain yang mendengarnya.

"Rasanya sulit dipercaya kalau kita baru saja bertarung melawan monster yang merupakan jenderal pasukan Raja Iblis."

"Itu bukan bohong ataupun mimpi, lho."

Begitu Ren membalas tanpa jeda, Liccia yang berjalan di sampingnya mendongak menatap profil wajah Ren.

"Ini adalah buktinya."

Ren menunjukkan Pedang Iblis Mithril yang tergantung di pinggangnya.

Pedang itu tersimpan dalam sarung yang sesuai dengan ukurannya sehingga bilahnya tidak terlihat. Namun, bagian gagangnya menunjukkan wibawa yang berbeda dari Pedang Iblis Besi.

Sarung pedang baru buatan Werlich itu sedikit bergoyang setiap kali Ren melangkah.

Liccia berucap sambil tersenyum.

"Lalu, fakta bahwa Ren mulai memanggilku tanpa gelar juga terasa seperti bukti bahwa kejadian itu bukan mimpi."

"Anu, tolong jangan dibahas secara formal begitu karena rasanya memalukan, boleh tidak?"

"Tidak boleh? Aku rasa, aku tidak akan pernah lupa saat kamu tiba-tiba membangunkan aku dengan memanggil namaku langsung."

Ren menggaruk pipinya dan membuang muka. Itu adalah gestur kebiasaannya saat sedang menutupi rasa malu.

Bagi Liccia, bisa berjalan bersama seperti ini saja sudah membuatnya sangat senang hingga pipinya tak bisa berhenti menyunggingkan senyum.

Bahkan keheningan di antara mereka pun terasa nyaman, membuat langkah kakinya terasa ringan secara alami.

Setelah menikmati suasana senja Erendil sejenak seperti itu, Ren berkata.

"Agar kita bisa menghadapi situasi seperti itu lagi jika memang terjadi, aku harus menjadi jauh lebih kuat."

"Aku juga. Sebentar lagi aku akan menjadi Sword Expert, jadi Ren harus jadi Sword Saint, ya."

Ren menggelengkan kepalanya sambil menatap ke arah yang jauh.

"Aku sudah berhenti menjadikan Sword Saint sebagai tujuan."

Liccia yang mengintip wajah Ren dari samping bertanya dengan nada suara yang tidak berubah dari biasanya.

"Kamu tidak mungkin menyerah, kan?"

"Tentu saja tidak."

"────Kalau begitu, mungkinkah itu berarti...."

Ren memang belum menyampaikannya secara eksplisit.

Dulu, dia selalu bersikap seolah pedangnya memiliki batas, dan hanya berani berucap dengan rendah hati bahwa "akan bagus jika bisa menjadi itu".

Sekarang, tujuannya bukan lagi sekadar keinginan samar untuk menjadi kuat seperti "sosok itu".

Dirinya yang dulu hanya bisa mengagumi, kini sudah tidak ada lagi.

"Aku sudah memutuskan untuk menjadi Sword King."

Langkah mereka terhenti. Ren memutar tubuhnya dan menatap mata Liccia.

Sang White Saintess terpana melihat ketegasan Ren yang belum pernah sekuat ini sebelumnya.

"Karena itu, aku akan sangat senang jika kita bisa terus mengasah pedang bersama mulai sekarang."

Tak mungkin Liccia tidak merasa bahagia.

Dia meresapi kata-kata itu di dalam lubuk hatinya, lalu meletakkan tangan di dada. Ren pun dibuat terkejut oleh perkataan tegas yang keluar dari bibir gadis itu selanjutnya.

"────Kalau begitu, aku juga harus mengincar gelar Sword King."

"Li-Liccia juga!?"

"Jangan kaget begitu dong! Habisnya, aku kan────"

Liccia tahu betul bahwa itu adalah jalan yang terjal. Dia tidak mengucapkannya dengan main-main.

Hanya saja.... Dia ingin terus menjadi sosok yang bisa mengasah pedang bersama di tempat yang paling dekat dengan Ren.

"Aku kan....?"

Mendengar pertanyaan Ren, Liccia tertawa dengan raut wajah yang tampak sangat bahagia dan ceria.

Dia mengangkat jari telunjuk dan menempelkannya perlahan di bibir, terlihat begitu manis.... dan cantik.

"Masih rahasia!"

Karena suatu hari nanti, dia pasti akan menyampaikannya bersama dengan perasaan cintanya.

Musim gugur akan segera tiba. Dan tak lama kemudian, musim dingin akan berkunjung.

Saat Ren berhasil mencapai puncak ilmu pedang setelah melewati hari-hari di Ibu Kota, mungkin Sword King yang baru lahir bukan hanya satu orang, melainkan dua orang.

Jawabannya akan terungkap suatu saat nanti, di kelanjutan kisah ini.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close