NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Monogatari no Kuromaku Volume 5 Chapter 8

Chapter 8

Mahkota Putih dan Black Priestess


Suatu hari, di sebuah pulau terpencil yang terapung di suatu wilayah perairan Leomel.

Samudra diselimuti keheningan, hanya suara ombak yang menyapu pantai pasir yang terdengar memecah sunyi.

"Tentu saja tidak ada di sembarang tempat…… Wajar saja, sih."

Itu adalah suara seorang gadis.

Gadis yang mengenakan jubah hitam pekat itu menghela napas di pulau terpencil di lepas pantai tersebut.

Bagian dalam kuil itu sebenarnya dilindungi oleh segel pertahanan kuat yang bahkan masih berlaku di zaman modern, namun gadis itu telah menghancurkannya tanpa ragu sedikit pun.

"Hah——kupikir akan ada sesuatu yang hebat, ternyata cuma barang membosankan seperti ini. Mengecewakan."

Di dalam kuil itu.

Gadis itu menggenggam harta karun yang dipersembahkan di lubang dalam yang ia bongkar dengan sihir, lalu bergumam saat menyadari benda itu hanyalah sebuah Magic Stone.

"Apa anak-anak pendeta itu juga sedang mencarinya? ……Yah, bukan urusanku juga, sih."

Gadis itu melompat keluar dari lubang kuil, lalu berjalan sendirian menyusuri pulau.

Sebuah perahu kayu kecil yang ia kendarai sendiri tadi sudah tertambat di pinggir pantai.

Ukurannya terlalu kecil dan ringkih untuk menyeberangi lautan, namun gadis itu tidak peduli dan naik ke dalam perahu seperti saat dia datang.

Begitu dia menjejakkan kaki dengan ringan, riak air menyebar tipis dari dasar perahu. Perahu kecil itu pun terbawa perlahan menuju lepas pantai oleh aliran air yang tenang.

Setelah beberapa menit menggerakkan perahu dengan sihir.

Sebuah bayangan raksasa terpantul di bawah perahu kecilnya, dan gadis itu tersenyum.

Rasa takut sama sekali tidak ada dalam kamus hidupnya. Dia menjulurkan ujung jarinya ke permukaan laut, menyentuh air seolah sedang mengelus bayangan itu, lalu berbicara padanya.

"Akan merepotkan jika Sword King dan si Penyihir menyadarinya, jadi aku harus segera pulang."

————

Bayangan raksasa yang muncul di dalam laut itu menggoyangkan tubuhnya sedikit setiap kali mendengar suara si gadis.

Mereka seolah saling memahami layaknya sedang berbincang.

Tak lama kemudian, gadis itu melepas tudung jubahnya, membiarkan rambutnya berkibar tertiup angin laut. Rambut perak dengan highlight hitam di beberapa bagian. Kecantikannya yang luar biasa presisi tampak seperti sebuah pahatan patung. Mata odd-eye-nya yang bagaikan permata memantulkan sinar matahari dari langit, berkilau dengan aura misterius.

"Ini untukmu. Mengamuklah sesukamu nanti."

Gadis itu melemparkan Magic Stone yang ia dapatkan di dalam kuil ke arah bayangan raksasa di bawah air.

Sesaat setelah cahaya biru kehijauan berpendar terang dari Magic Stone yang tenggelam perlahan, batu itu langsung ditelan oleh bayangan raksasa yang berenang di bawah laut.

Melihat itu, sang gadis tersenyum puas.

"Istirahatlah sejenak——di dasar laut yang kau cintai."

Bayangan di dalam air itu pun menghilang menuju dasar laut.

Perahu yang membawa gadis itu juga sudah tidak ada lagi di perairan tersebut.

◇◇◇

"Bagaimana baiknya, ya."

Di dalam kapal sihir yang melayang di langit, Estelle melipat tangan sambil termenung dalam.

Waktu kedatangan yang direncanakan di area perburuan sudah lewat lama, dan sekarang kapal sihir ini berhenti dengan menancapkan pasak pada sebuah gunung yang mereka lalui.

Cuaca sangat buruk, namun hal sekecil ini tidak berpengaruh pada kapal sihir keluarga Drake. Kapal itu melayang gagah di angkasa, mirip dengan sosok pemiliknya, Estelle.

Jadi, masalahnya ada pada hal lain.

"Bertarung dalam cuaca buruk memang ada seninya, tapi dengan cuaca seperti ini, monster tidak akan muncul."

"Kalau begitu, meskipun kita keluar, itu cuma akan jadi latihan baris-berbaris di tengah salju."

"Tapi itu tidak ada gunanya. Percuma saja bersusah payah latihan baris-berbaris di tengah salju…… aku tidak bilang manfaatnya nol, tapi aku sama sekali tidak berselera."

Karena sudah jauh-jauh pergi, mereka ingin menghabiskan waktu dengan produktif, namun situasi ini sungguh menyulitkan.

"Lagipula kalau cuma latihan baris-berbaris di tengah salju, aku tinggal membuang Ren telanjang bulat di gunung dekat Erendil juga beres."

"Mungkin aku bisa bertahan, tapi tolong jangan lakukan itu."

Terlepas dari apakah dia benar-benar akan dibuang telanjang bulat atau tidak, sekadar baris-berbaris di tengah salju tidak cukup menantang bagi Ren yang sekarang. Mengayunkan pedang di Tahta Suci Singa jauh lebih baik daripada itu.

"Tapi, rasanya tidak enak juga kalau cuma langsung pulang setelah sejauh ini."

"Hm…… kalau begitu, Kak."

Sambil duduk di kursi depan kemudi, Velrich yang menguap lebar memberikan usul kepada mereka berdua.

"Bagaimana kalau kita ke Eupheim saja? Terbang beberapa jam lagi juga sampai."

"Hm? Mau apa ke sana?"

"Ada yang harus kubicarakan dengan si bocah tengik——maksudku Ulysses Ignart. Aku butuh berkonsultasi soal material untuk Lemuria yang sedang kuperbaiki. Lebih baik bicara langsung daripada lewat surat."

"Ho, begitu ya."

Sepertinya Estelle juga tidak punya alasan untuk menolak, jadi dia menatap Ren untuk meminta pendapat.

"Aku rasa itu ide bagus. Daripada menginap di sini, lebih baik prioritaskan urusan Velrich-san."

"Umu. Lagipula tidak banyak yang bisa kita lakukan di sini. Mari kita menginap di Eupheim malam ini. Menghabiskan musim dingin di Mahkota Putih tidak buruk juga."

Karena toh mereka tidak bisa melakukan latihan yang memadai.

"Kalau begitu kalian berdua, tunggu sebentar."

Begitu rencana selanjutnya diputuskan, Estelle segera meninggalkan ruang kemudi dan keluar ke geladak di tengah badai salju. Dia kembali beberapa menit kemudian sambil membersihkan salju dari pakaiannya dan tertawa.

"Pasaknya sudah kutarik. Kita sudah bisa terbang."

Sepertinya dia melompat turun ke gunung dari geladak, lalu melompat kembali dengan memanfaatkan momentum tendangan pada lereng gunung.

"Kalau begitu kalian berdua, berangkat!"

Tungku kapal segera menyala, dan mereka pun membubung menuju langit.

Goncangan sesekali melanda kapal sihir akibat angin yang mengamuk di sekitar gunung dan tekanan udara yang berubah seiring bertambahnya ketinggian.

Setelah mencapai posisi stabil di mana kemudi tidak perlu dipegang terus-menerus, mereka bertiga menghabiskan waktu di ruang kemudi sambil menyantap makan malam ringan.

"Musim 'Glasier Crossing' memang sering begini, ya."

Ren menatap Velrich yang berbicara sambil mengunyah makanannya. Dia merasa tertarik dengan istilah yang baru didengarnya lagi setelah sebulan.

"Benarkah begitu?"

"Iya. Katanya karena benua langit melayang di atas langit utara benua Elfen pada musim ini, muncul gelombang dingin dan angin yang biasanya tidak ada. Aku tidak tahu prinsipnya bagaimana. Pokoknya memang begitu kenyataannya."

"Heh…… Jadi karena itu cuacanya seperti ini."

"Sulit untuk memprediksi hal seperti ini sebelumnya. Bisa dibilang kita cuma sedang tidak beruntung saja."

Monster menjadi lebih aktif, dan cuaca pun memburuk.

Musim 'Glasier Crossing' yang menyebabkan musim dingin seperti itu datang sekali dalam belasan tahun.

Mungkin fenomena ini juga ada di Legend of Seven Heroes. Namun karena informasi semacam itu tidak muncul, mungkin hanya dianggap sebagai salah satu jenis cuaca biasa.

"Tapi yah, keputusan tepat untuk tidak bertahan di sana. Cuaca seperti itu membuat perasaan tidak tenang."

"Benar juga. Usul Velrich-san tadi sepertinya memang keputusan yang tepat."

"Gahahaha! Nah, santai saja sampai kita sampai di Eupheim! Tidak banyak yang bisa dilakukan di dalam kapal sihir selain itu."

Mereka baru bisa keluar dari zona cuaca badai salju setelah terbang beberapa saat lagi.

Sekitar lewat jam delapan malam, Ren menginjakkan kaki di pelabuhan kapal sihir Eupheim.

Pelabuhan kapal sihir Eupheim berbeda dengan taman gantung di Erendil; pusatnya adalah bangunan berbentuk kipas setinggi beberapa lantai, dengan lorong-lorong menuju dermaga kapal sihir yang juga membentang menyerupai kipas.

Ren dan dua orang lainnya berjalan menyusuri salah satu lorong. Ruangan itu terlihat futuristik dengan dinding yang hampir seluruhnya terbuat dari kaca dan lantai ubin batu besar yang mengilat.

Saat langkah kaki Ren bergema, sebuah suara yang familiar terdengar dari arah depan.

"Ren-kun! Ternyata kamu benar-benar datang!"

Fiona yang sedang pulang kampung berlari mendekat sambil berseru. Mengikuti di belakangnya, Ulysses juga melangkah maju ke arah mereka.

"Kak, aku mau konsultasi soal besok sebentar."

"Umu. Kalau begitu Ren, kamu boleh bicara dulu dengan Fiona dan anak-anak itu."

"Baiklah. Aku akan menunggu di tempat Nona Fiona."

Ren tidak menghentikan langkahnya dan menghampiri Fiona serta yang lainnya.

"Selamat malam. Rasanya agak aneh ya menyapa dengan normal seperti ini."

"Fufu, benar juga. Tapi, aku senang bisa bertemu lagi denganmu di Eupheim."

Fiona yang tersenyum bahagia bercerita bahwa tak lama sebelumnya mereka menerima laporan bahwa kapal sihir keluarga Drake sedang menuju ke sini.

Dia kemudian segera naik kereta kuda bersama Ulysses menuju pelabuhan kapal sihir.

"Karena sebelum liburan Ren-kun sudah menceritakan rencanamu, aku berpikir mungkin saja kamu datang. Tapi, kedatangan yang tiba-tiba ini membuatku bertanya-tanya apakah terjadi sesuatu…… aku jadi khawatir."

"Ti-tidak kok! Sama sekali tidak ada insiden atau kecelakaan! Hanya saja, kami jadi tidak bisa latihan!"

"Ah…… jangan-jangan, karena badai salju yang terlalu kuat?"

"Tepat sekali, situasinya sudah bukan lagi waktu yang tepat bagi monster untuk muncul."

Ulysses yang mendengar penjelasan itu pun menyahut.

"Pantas saja mendadak sekali. Sepertinya aku juga harus bicara dengan dua orang di sana."

"Baiklah. Kalau begitu aku setelah ini————"

"Mau mencari penginapan untuk malam ini, kan?"

"————Memang itu rencananya."

Ren yang niatnya terbaca dalam sekejap hanya bisa membalas dengan suara pasrah.

"Kalau begitu, menginaplah di kediaman Marquis Ignart, rumah kami. Ada kereta kuda yang kami pakai tadi di luar, kamu bisa naik itu."

Begitu santainya, seolah orang tua seorang teman yang mengajak menginap karena hari sudah larut.

Mengingat hubungannya dengan Fiona, hal itu tidaklah mengherankan, tapi lawan bicaranya adalah seorang Marquis. Bebannya terasa sangat berbeda, namun Ren menjawab tanpa terlalu sungkan.

"Mohon bantuannya."

"Jangan sungkan di antara kita. Tapi, ini waktu yang tepat. Pekerjaan kami juga baru saja mulai stabil."

"Pekerjaan…… karena pengaruh kapal Gardy Knight, jumlah kapal yang merapat jadi meningkat ya."

"Benar. Lihat, kamu bisa melihatnya dari sini juga, kan?"

Atas dorongan Ulysses, Ren menoleh ke arah pelabuhan melalui jendela besar pelabuhan kapal sihir.

Eupheim di musim dingin menyambut Ren dengan pemandangan malam yang berbeda dari sebelumnya. Meski sudah malam, pelabuhan masih dipenuhi cahaya, dan keramaian pun terasa sampai ke sini.

Cahaya jingga terpantul pada salju yang turun, menyinari kota dengan lembut. Kilauan seperti permata yang disinari memenuhi setiap sudut Eupheim.

"Kalau begitu, aku akan bicara dengan dua orang di sana…… ah, mereka sudah datang."

Estelle membawa Velrich menghampiri Ren dan yang lainnya. Velrich tampak kelelahan dan menguap berkali-kali.

"Hari ini aku mau tidur pulas di penginapan. Besok aku harus mengemudi lagi."

"Penginapan? Kalian berdua menginap saja di rumahku."

"Aku menginap di rumah bangsawan? Mana mungkin aku bisa tidur nyenyak di tempat seperti itu."

"Aku berterima kasih atas ajakan Marquis Ignart, tapi kami memutuskan untuk menginap di penginapan. Aku teringat penginapan yang punya koleksi minuman alkohol kebanggaan mereka. Tidak mungkin aku melewatkannya."

Begitulah penjelasan Estelle.

Mendengar alasan yang sangat khas bagi dua orang pecinta alkohol itu, Ulysses tidak bisa memaksa lagi.

"Kalau begitu, silakan hubungi saya jika ada yang bisa saya bantu. —Lalu, Ren Ashton, berapa hari kamu akan menginap?"

"Bolehkah aku menginap satu malam saja?"

"Dingin sekali. Bukankah tadi kubilang kita sudah akrab? Kamu boleh menginap lebih lama kalau mau."

"Tidak, tidak, beberapa hari lagi aku ada pekerjaan di Erendil."

Ada pekerjaan kecil yang harus ia lakukan sebagai pengganti Lezard.

Mendengar itu, Ulysses berkata dengan nada suara yang terdengar seperti pemenang.

"Berarti, kamu hanya perlu pulang sebelum hari itu, kan? Terima kasih sudah memberi tahu."

(……Sial, aku malah menggali lubang sendiri.)

Estelle yang mendengarkan percakapan itu mendekatkan wajahnya ke Ren dan berbisik.

"Kukuku…… ternyata kamu lebih disukai daripada rumor yang kudengar, ya."

Menerima kata-kata yang setengah kagum dan setengah menggoda itu, Ren mengangguk penuh terima kasih lalu berjalan menuju kereta kuda yang telah disiapkan.

Setibanya di kediaman Marquis Ignart yang ia kunjungi lagi sejak musim gugur, Ren meletakkan barang-barangnya di kamar tamu, lalu membantu Fiona.

Membantu di sini hanyalah sebatas membawakan dokumen dan berkas-berkas berat. Fiona masih punya pekerjaan yang harus diselesaikan, jadi Ren membantunya.

"Maaf! Seharusnya ada satu lagi yang harus kuambil!"

Begitu keluar dari perpustakaan, Fiona baru sadar ada berkas yang ketinggalan dan kembali masuk ke dalam.

Saat itulah, seorang pelayan yang kebetulan lewat melihat Ren yang sedang menunggu sendirian di lorong dan menyapanya. Dia adalah wanita yang pernah berbicara dengannya saat dia datang di musim gugur lalu.

Sama seperti sebelumnya, dia menyapa Ren dengan gerakan tubuh yang anggun.

"Selamat datang kembali. Silakan habiskan waktu Anda dengan santai selama libur musim dingin."

"Iya. Aku akan menumpang sebentar——eh?"

Karena percakapannya mengalir begitu alami, Ren hampir melewatkannya, namun ia menyadari kejanggalan di detik-detik terakhir.

"Ada yang salah?"

"Iya. Kupikir aku salah dengar, tapi sepertinya tidak."

"Salah dengar…… apa maksudnya?"

Ren berusaha tetap tenang menghadapi kata-kata mengejutkan tadi. Pelayan yang mengucapkan hal yang lebih dari apa yang dikatakan Ulysses dengan wajah datar itu tampak sangat tenang.

Sambil tersenyum kecut, Ren menggerakkan bibirnya untuk memperbaiki kesalahan pelayan itu.

"Aku hanya menumpang satu malam saja."

"……Aduh, sayang sekali."

Sambil menghela napas tanda kecewa, pelayan itu membungkuk dengan sopan lalu meninggalkan tempat itu. Ren melepas kepergiannya dengan perasaan yang sulit diungkapkan.

Beberapa detik kemudian, pintu perpustakaan terbuka dan Fiona kembali. Dia memiringkan kepalanya saat melihat Ren sedang tersenyum kecut.

"Terjadi sesuatu?"

"Tidak, aku cuma berpikir apakah pelayan itu biasanya mirip dengan tuannya."

"……Pelayan?"

"Jangan dipikirkan. Cuma pemikiran sekilas saja."

Ren memberikan jawaban ambigu pada Fiona yang tampak bingung dengan manisnya, lalu ia mengambil berkas-berkas yang baru saja dibawa Fiona. Berkas dan dokumen yang dipeluknya dengan kedua tangan itu terasa cukup berat saat ditumpuk.

"Aku juga akan membawanya!"

"Sama sekali tidak berat, jadi tidak apa-apa. Lagipula, aku sudah menumpang di sini, jadi biarkan aku melakukan setidaknya segini."

"Aduh…… padahal tidak perlu dipikirkan juga tidak apa-apa……"

Ren tidak menyerah dan tersenyum lembut, lalu bertanya, "Ke mana aku harus membawanya?" untuk melanjutkan pembicaraan.

Suara Fiona terdengar riang karena bisa menghabiskan waktu berdua dalam situasi yang tidak terduga ini.

"Kalau begitu, tolong bawa ke ruang kerjaku."

Saat Fiona berada di Eupheim, dia bekerja di ruang kerja pribadinya, bukan di kamarnya. Dia bilang dia juga menggunakan ruang kerja itu saat belajar.

Ruang kerja itu tidak jauh dari perpustakaan.

Meja kerja diletakkan di depan jendela. Api menari-nari di perapian yang ada di sudut ruangan. Ren meletakkan dokumen-dokumen itu di atas meja yang biasa digunakan Fiona.

Dia kemudian teralihkan oleh pemandangan musim dingin di luar jendela di mana salju turun dengan perlahan.

Taman yang tertutup salju putih murni, berbeda dengan saat dia datang sebelumnya, diterangi oleh lampu di sana-sini. Itu adalah ekspresi baru dari taman yang juga indah di musim gugur.

"Jika kamu mau, maukah kamu duduk sambil melihat pemandangan?"

Fiona menunjuk ke arah kursi yang diletakkan di depan perapian.

Di dekat perapian juga ada jendela teras besar di mana mereka bisa melihat ke luar, dan dia mengusulkan bagaimana jika mereka duduk di sana.

Bagi Ren, tidak ada alasan untuk menolak, bahkan dia sangat ingin melakukannya. Dia melangkah mengikuti Fiona dan duduk di kursi kayu di depan perapian.

Dunia perak yang terlihat di luar jendela teras, dan cahaya jingga yang dipancarkan oleh api yang menari di perapian.

Dari perapian, sesekali terdengar suara kayu bakar yang meletup. Ada kehangatan yang meresap perlahan ke inti tubuh.

Saat Ren duduk di kursi, dia bertatapan dengan Fiona yang ada di dekatnya.

Diterangi oleh cahaya api yang bergoyang, mereka berdua memikirkan hal yang sama di saat yang bersamaan.

"Berada bersama di dekat perapian itu————"

Keduanya yang mengucapkan kata-kata yang muncul di kepala secara bersamaan langsung tertegun sejenak sebelum akhirnya tertawa lepas.

Keduanya kemudian berkata serempak, "Seperti saat itu, ya."

Di dada Fiona, gantungan star agate yang tidak dia kenakan saat itu memantulkan cahaya perapian.

"Waktu itu, aku masih dipanggil Petualang-san ya."

"Ahaha…… itu kenangan yang sangat menggelitik."

Itu terjadi di dalam benteng Pegunungan Baldor. Kejadian malam itu ketika mereka berdua tidak sengaja bertemu di malam hari, lalu menuju ke depan perapian dengan teh yang baru diseduh di tangan.

"Tapi…… ternyata sudah bertahun-tahun berlalu sejak kita menghabiskan waktu di benteng itu ya."

Pemandangan perapian yang mereka lihat sekarang tumpang tindih dengan waktu yang mereka habiskan di benteng itu.

Namun rasanya jarak mereka sekarang sudah jauh lebih dekat, baik secara fisik maupun mental. Setelah beberapa tahun, raut wajah dan bentuk tubuh mereka juga sudah lebih dewasa, terlihat mirip namun ada yang berbeda.

Sambil tetap menangkap pemandangan salju di sudut mata mereka, pembicaraan beralih ke soal salju hari ini. Hal yang ingin Fiona tanyakan pada Ren.

"Salju waktu itu juga luar biasa, tapi bagaimana dengan tempat yang Ren-kun datangi hari ini?"

"Badai saljunya di luar dugaan dan anginnya sangat kuat. ……Tapi yah, tidak separah waktu di Pegunungan Baldor, sih."

"Fufu, kalau salju turun sebanyak itu, Eupheim pasti kewalahan mengatasinya."

"Aku tidak tahu besok akan bagaimana ya~…… Velrich-san juga bilang jangan terlalu berharap."

"……Salju itu kalau sudah turun terus-menerus memang bisa sangat lama ya."

"Benar sekali…… padahal aku pikir aku bisa berlatih agar bisa menjadi Sword Saint."

Namun, jika hasil latihan tidak bisa diharapkan, tidak perlu memaksakan diri.

"Kalau tidak salah kalau sudah jadi Sword Saint, bisa menggunakan teknik bertarung baru ya."

Di sisi lain, Fiona tampak sedikit condong ke depan saat mendengar tentang Sword Saint.

Ren mengangguk dan berkata, "Itu adalah teknik bertarung yang cukup langka."

Selain daya hancur dasar, warna gelombangnya berbeda tergantung penggunanya, dan menunjukkan efek yang unik.

Hal yang membuat Fiona sangat tertarik adalah, jika Ren menjadi Sword Saint dan menggunakan teknik itu, akan jadi warna apa gelombangnya————

"Kalau Ren-kun jadi Sword Saint ya……"

Suara Fiona terdengar mirip seperti embusan napas yang tidak menggetarkan pita suara.

"Aku sangat penasaran akan jadi warna apa gelombangnya."

"Aku juga sudah memikirkannya beberapa kali, tapi sama sekali tidak bisa membayangkan."

Fiona yang menatap Ren yang tersenyum kecut sambil berkata "Aku harus berusaha lebih keras sekarang", memberikan empati pada perasaannya.

"Aku————tahu kalau selama ini Ren-kun sudah berjuang sangat keras."

Dengan suara yang lembut.

Ren bertatapan mata dengan Fiona, dan secara alami membuka mulutnya menghadapi kelembutan gadis itu.

"Jika suatu saat nanti aku berhasil menjadi Sword Saint, bolehkah aku memberi tahu warna gelombangnya padamu?"

Melihat Ren yang mencoba membicarakan hal penting padanya, Fiona menunjukkan senyum paling manis hari ini dan menjawab "Iya!"

Tanpa sadar, jantungnya berdebar kencang.

"Aku juga ingin melihat akan jadi warna apa gelombang milik Ren-kun!"

Di depan perapian, seperti beberapa tahun yang lalu.

Waktu mereka berdua mengalir dengan tenang.

◇◇◇

Saat Ren terbangun, di luar sudah mulai terang.

Dia bangkit di atas tempat tidur, menyadari sekali lagi bahwa ini bukan di dalam kapal sihir, melainkan di kediaman Marquis Ignart.

Malam tadi dia tidur lebih larut dari biasanya, namun saat bangun dia merasa segar dan dalam kondisi prima.

Ren menuju wastafel untuk merapikan diri, lalu melihat ke luar jendela karena penasaran dengan cuaca hari ini. Saat itulah dia melihat sosok Fiona yang sedang berjalan di taman.

Ren yang ingin menyapanya di pagi hari keluar dari kamar dan melangkah menuju taman.

Di perjalanan, dia menyapa setiap pelayan keluarga Ignart yang berpapasan dengannya, menanyakan jalan pintas menuju taman dari salah satu pelayan, lalu bergegas maju.

Begitu keluar dari rumah, angin dingin yang menusuk menyentuh pipi Ren.

"Ren-kun?"

Fiona yang berada di taman melihat Ren dan memanggil namanya.

Di taman yang berhiaskan salju, kontras antara rambut hitamnya yang bergoyang setiap kali dia melangkah membuatnya terlihat semakin manis dan cantik.

Dia menghampiri Ren sambil berkata dengan uap putih yang keluar dari mulutnya.

"Selamat pagi. Tapi, apakah tidak apa-apa bangun sepagi ini? Kamu pasti lelah, lebih baik istirahat lebih lama……"

"Tidak kok, tempat ini sangat nyaman jadi aku sudah merasa seperti biasa."

Tidak ada salju yang turun di taman pagi ini. Bahkan butiran kecil pun tidak ada, hanya angin dingin yang berembus sedikit.

"Nona Fiona bangun sepagi ini bukannya karena sedang bekerja, kan?"

"Ahaha, hampir tidak pernah ada pekerjaan di jam segini."

"Kalau begitu…… sedang jalan-jalan?"

"Iya. Aku selalu jalan-jalan pagi kalau sedang di sini. Musim dingin memang agak dingin, tapi pas sekali untuk mengusir rasa kantuk."

Bagi Fiona, tidak ada pagi yang lebih baik dari ini. Jika dia tidak sedang di depan Ren…… misalnya di kamarnya sendiri, dia pasti sudah melompat ke tempat tidur sambil bergoyang kegirangan.

Waktu yang dihabiskan di taman pagi hari mengalir dengan tenang dan damai.

Sekarang kehangatan sinar matahari mulai terasa dibandingkan saat Ren baru pertama kali keluar ke taman. Taman yang berhiaskan salju diterangi oleh matahari pagi, mewarnai dunia perak ini dengan aura misterius.

Salju memantulkan matahari pagi, menciptakan pemandangan yang menyilaukan.

"Kalau begini, aku jadi benar-benar merasa kalau ini sedang libur musim dingin."

"Padahal liburan sudah lewat beberapa hari tapi————ah, jangan-jangan karena Ren-kun selalu mengayunkan pedang seperti biasa…… ya?"

"Benar sekali. Berkat itu liburanku terasa berkualitas."

Namun, dia tidak bisa bilang kalau bersantai seperti ini akan jadi sia-sia.

Apa yang diperlukan untuk menjadi Sword Saint…… bagi Ren yang sedang memikirkan hal itu, waktu yang ia habiskan seperti sekarang mungkin juga merupakan hal penting.

"……Lalu, aku juga harus mengerjakan tugas libur musim dingin."

"……Ah, aku juga."

"Omong-omong, apakah Nona Fiona sudah mengerjakannya cukup banyak?"

"Belum. Tahun ini sibuk sekali, jadi aku belum menyentuhnya sama sekali."

Keduanya menghabiskan libur musim dingin hingga hari ini dengan latihan atau bekerja. Keduanya sama-sama penting, namun sebagai pelajar, tugas liburan panjang juga tetap ada.

Keduanya menyadari hal itu secara bersamaan, lalu saling memandang dan tertawa lepas.

"Aku lega karena sepertinya aku masih bisa melakukan hal-hal khas liburan musim dingin."

"Iya. Benar sekali."

Beberapa pelayan di kediaman menyaksikan sosok mereka berdua.

Melihat Fiona yang mereka kenal sejak kecil sekarang sudah sehat, dan berjalan bersama pujaan hatinya, Ren Ashton, beberapa dari mereka tenggelam dalam kegembiraan yang tak terlukiskan.

Ren dan Fiona tidak mengetahui hal itu dan menghabiskan sedikit waktu lagi di taman.

Tak lama kemudian, pelayan yang kemarin datang memanggil mereka berdua, "Sarapan sudah siap," yang menandakan berakhirnya waktu mereka di taman.

Di meja makan, Ulysses yang baru saja menyelesaikan pekerjaan paginya juga hadir. Waktu sarapan yang dinikmati bertiga berlalu, dan barulah setelah teh setelah makan dihidangkan.

"……Benar-benar tidak mengerti alasannya."

Ulysses menggumamkan monolog yang penuh teka-teki.

Di tangannya ada sebuah laporan yang baru saja sampai pagi ini.

"Terjadi sesuatu?"

"Ya, sejak saat kamu datang sebelumnya, kondisi saluran air sedang tidak baik. Ini adalah laporannya."

"Waktu aku datang sebelumnya, distrik bangsawan juga sempat ditutup ya."

"Benar. Jumlah air yang mengalir di saluran air tiba-tiba bertambah atau berkurang…… begitu juga sungai yang terhubung ke luar kota. Sempat pulih sekali, tapi sering kambuh lagi."

"Ayah, bukankah waktu itu penyelidikan di luar juga tidak membuahkan jawaban yang jelas?"

Ulysses mengangguk, lalu tersenyum dengan wajah yang jarang-jarang terlihat bingung.

"Ini juga berpengaruh pada kapal yang melewati saluran air di dalam kota. Jadi entah bagaimana aku mengaturnya secara paksa dengan alat sihir, tapi itu bukan solusi yang mendasar."

"Apakah ada hubungannya dengan 'Glasier Crossing'?" tanya Ren.

Ulysses menggelengkan kepala.

"Tidak ada fenomena serupa di masa lalu. Kalaupun ada, biasanya sembuh dalam beberapa hari, jadi sejauh ini tidak ada kemiripan."

"Kalau begitu, memang tidak mengerti ya."

"Ya. Benar-benar tidak mengerti. Aku ingin sebisa mungkin menemukan penyebabnya."

Ren juga tidak terpikir apa pun, jadi dia tidak bisa membantu.

"Kalau sudah begini, kita cuma bisa berdoa saja ya," ucap Fiona sambil tersenyum kecut.

Ulysses memiringkan kepalanya.

"Berdoa?"

"Maksudku kuil yang ada di pulau terpencil lepas pantai. Kudengar di sana memuja Dewa Air, jadi kupikir mungkin bisa mempersembahkan doa atau semacamnya."

"Ah, jadi kamu sedang membicarakan pulau itu."

"……Tapi tidak boleh ya. Kita harus berusaha sendiri sebelum bergantung pada Tuhan."

Mendengar tentang pulau terpencil, Ren ikut dalam percakapan.

"Pulau terpencil itu, apakah tempat yang pernah Nona Fiona bicarakan sebelumnya?"

"Iya," Fiona mengangguk.

Dia mendengarnya saat pergi ke kota tua bersama Licia dan Fiona bertiga. Kalau tidak salah, Fiona sempat menyinggungnya sedikit di dermaga yang runtuh……

Fiona menjelaskan pada Ren, termasuk soal pembicaraan tadi.

"Pulau terpencil itu juga merupakan tempat yang punya hubungan dengan Lion King. Itu adalah tempat suci yang jarang dikunjungi orang, jadi aku pun belum pernah ke sana tapi……"

Di sana mereka memuja Dewa Air seperti yang dikatakan Fiona tadi. Jika kejanggalan saluran air terus berlanjut seperti sekarang, rasanya jadi ingin mengandalkan hal itu.

"Katanya itu adalah pulau tempat terdamparnya kapal yang dinaiki Lion King karena karam. Lion King percaya itu adalah perlindungan dari Dewa Air, lalu membangun kuil di sana."

Mendengar ceritanya, Ren langsung paham bahwa itu bukan tempat yang bisa dikunjungi sembarangan.

Setelah sarapan, Edgar datang ke ruang makan dan mengumumkan.

"Tuan Drake dan Tuan Velrich sudah datang."

Sepuluh menit kemudian semua orang berkumpul di aula luas, dan setelah bertukar sapa ringan, mereka semua duduk di sofa.

"Cuacanya sepertinya sesuai perkiraan. Di Eupheim tidak masalah, tapi di tempat tujuan sepertinya tidak ada tanda-tanda cuaca akan membaik hari ini. Malah sepertinya ada aura kuat kalau badai salju akan jadi lebih dahsyat daripada kemarin."

"……Ternyata benar jadi begitu ya."

"Percuma saja kalau pergi lalu pulang lagi, jadi sepertinya lebih baik santai di sini hari ini."

Mendengar itu, Ulysses yang tersenyum riang berkata, "Silakan santai saja di sini."

"Aku harus keluar dari kediaman sekarang untuk menyelidiki saluran air, tapi jangan sungkan dan nikmatilah libur musim dingin kalian."

Mendengar itu, Estelle menggerakkan alisnya.

"Oya, Marquis Ignart, apakah gangguan saluran airnya kambuh lagi?"

"Ya, sesekali."

"Jarang sekali ada masalah yang butuh waktu lama untuk ditangani oleh pria sepertimu. Ah tidak! Ini bukan sindiran, aku benar-benar penasaran!"

"Saya mengerti. Hanya saja, saya sendiri pun sama sekali tidak tahu penyebabnya."

Setelah ini, Ulysses berencana pergi bersama Edgar untuk memeriksa saluran air. Bukan hanya di dalam kota, rencananya mereka juga akan keluar kota untuk melihat situasi.

"Fiona, tetaplah di sisi semuanya."

Fiona mengangguk setelah diperintahkan untuk menjamu Ren dan yang lainnya. Tak lama kemudian, Ulysses meninggalkan aula dengan wajah sibuk.

"Kita mau bagaimana?"

"Aku punya tempat yang ingin dikunjungi, bagaimana kalau kalian berdua ikut?"

"Maksud Anda ke mana?"

"Pasar Musim Dingin."

"……Ke sana ya."

Pasar Musim Dingin adalah pasar yang buka hampir setiap hari selama musim dingin di pelabuhan Eupheim.

Mulai dari hasil laut yang dipanggang di atas plat besi, hingga deretan kedai yang menyajikan rasa yang populer. Berkat pengaruh kapal Gardy Knight yang membuat tempat itu ramai, pasar itu menunjukkan gairah yang lebih dari tahun-tahun biasanya.

Di Pasar Musim Dingin, orang-orang bahkan bisa minum alkohol di luar sejak pagi hari, jadi……

"Tolong secukupnya saja ya?"

Tujuan Estelle sudah terlalu jelas.

Estelle yang ditegur oleh Ren menatapnya, lalu suaranya meninggi dengan nada pasrah yang memalukan karena panik.

"A-aku mengerti!"

"Benarkah?"

"Benar! Fiona Ignart juga ada di sini! Delapan gelas…… ti-tidak! Aku akan menahan diri dengan tujuh gelas! Kalau segitu tidak apa-apa, kan!?"

(Padahal sudah berkompromi tapi masih banyak juga.)

Ren bertanya-tanya apakah itu benar-benar menahan diri, tapi dia memutuskan untuk tidak banyak komentar.

Estelle sepertinya merasa sedikit tidak nyaman sebagai orang yang lebih tua, dia berdiri lalu mendekati jendela teras dan mulai memandangi taman kediaman.

Fiona yang duduk di samping Ren mendekatkan wajahnya.

"Apakah beliau selalu minum alkohol sebanyak itu?"

"……Sampai-sampai tidak bisa digambarkan dengan kata 'banyak' lagi."

"Be…… beliau sangat menikmatinya ya."

Setelah pertanyaan rahasia itu selesai, Fiona berdiri, diikuti oleh Ren.

"Tahun ini aku juga belum sempat pergi melihatnya, jadi aku tidak sabar!"

Ren berharap ini akan menjadi salah satu kenangan libur musim dingin bagi Fiona juga. Sambil berpikir demikian, ia mendengarkan suara riang gadis itu.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close