NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Naze ka S-kyuu Bijotachi no Wadai ni Ore ga Agaru Ken V2 Chapter 3

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


Chapter 3

Meraih Kembali Kejayaan Itu

Haru: Mendadak sih, tapi… hari ini sepulang sekolah aku bakal nunggu di taman tempat kita berpisah kemarin.

Nayu: Aku nggak akan datang.

Haru: Aku tunggu.

Nayu: Terserah, aku nggak peduli.


Haruya sedang membaca ulang pesan yang ia kirim tadi malam.


Berdasarkan nasihat yang ia terima, Haruya akhirnya memantapkan tekad dan mengirim pesan itu pada Nayu. Tanpa trik murahan apa pun—ia sudah memutuskan untuk menghadapinya secara langsung.


Mengirim pesan sepihak yang terkesan memaksa seperti ini adalah hal pertama baginya, dan sekarang jantung Haruya berdetak kencang tanpa henti. Namun, satu-satunya cara yang bisa ia ambil memang hanya cara yang memaksa.


Soalnya, waktu menuju pertandingan latihan antara SMA Eiga dan SMA Miyaza sudah hampir habis. Lawan yang punya konflik dengan Nayu—Onoi. Mengingat kembali cerita Nayu… SMA Miyaza dan SMA Eiga memang akan menjalani pertandingan latihan.


Kalau begitu, Haruya ingin mengembalikan Nayu ke dunia basket sebelum hari itu tiba. Dan karena itulah, tidak ada jalan lain selain memanggilnya secara paksa lewat pesan.


Kalau ia mengusulkan “off-kai” secara normal, besar kemungkinan Nayu akan langsung menolaknya, mengingat kejadian di pertemuan sebelumnya. Karena itu, meski hatinya terasa perih, Haruya memilih memanfaatkan kebaikan hati Nayu.


Beberapa jam sejak pesan pertama dikirim, tidak ada balasan, dan itu sempat membuatnya panik. Namun pada akhirnya, Nayu tetap membalas. Dia memang orang yang baik…


Lagipula, dia membalas dengan kata “tidak mau pergi”, bukan “tidak bisa pergi”. Di sanalah Haruya melihat secercah kemungkinan.


(Baiklah… saatnya menyiapkan langkah terakhir.)


Haruya pun mulai melakukan persiapan.


***


Pagi hari. Pukul tujuh lewat tiga puluh lima menit. Datang lebih awal dari biasanya, Haruya menuju ruang guru.


Ia berjalan ke meja wali kelasnya sekaligus pembina klub basket, Tokoyami Meika.


“──Selamat pagi, Akasaki. Ada apa? Pagi-pagi begini.”


Sepertinya ia tidak menyangka kedatangan Haruya, karena ekspresi terkejut langsung terlihat di wajahnya.…Namun itu hanya sesaat, dan segera berubah menjadi senyum penuh percaya diri.


Menyeramkan. Tidak ada kata lain selain menyeramkan. Padahal seorang murid yang biasanya tidak mencolok datang sepagi ini, tapi sama sekali tidak terlihat kebingungan. Bahkan, rasanya seperti ia sudah menunggu Haruya datang.


Beberapa waktu lalu Haruya juga sempat berpikir hal yang sama…

Wali kelas ini benar-benar sulit ditebak.


Dengan kaki disilangkan dan sikap santai, tekanan yang ia berikan membuat Haruya refleks mundur selangkah. Ingin segera meninggalkan tempat itu, Haruya langsung ke inti pembicaraan.


“Takamori-san kemungkinan akan segera masuk klub basket. Kalau begitu… tolong izinkan dia bermain di pertandingan latihan.”


Sambil menunduk dalam-dalam, Haruya memohon.


“…Itu serius?”


“I-iya.”


Saat Haruya menatapnya dengan sorot mata sungguh-sungguh, sensei tersenyum pelan.


“…Sepertinya bukan kebohongan. Syukurlah. Jadi kamu sudah memantapkan diri untuk menolong Takamori. Kamu percaya omongan sembaranganku.”


Dengan nada lega, ia menghela napas dan melanjutkan.


“Takamori… dia pernah menolongmu, ya?”


Napas Haruya tercekat. Seolah semuanya sudah terbaca, tepat mengenai inti persoalan. 


Sejauh apa sebenarnya orang ini tahu? Jangan-jangan… bahkan masa laluku juga?


Rasa takut menjalar. Dengan sisa keberanian, Haruya memaksa suaranya keluar.


“Aku tidak tahu maksud Sensei…”


“Tidak apa-apa. Kalau kamu sudah menemukan jawabannya… itu sudah cukup.”


Ia menyeruput kopi, lalu melanjutkan.


“Kembali ke pembicaraan tadi. Kamu ingin Takamori dimainkan di pertandingan latihan kalau dia masuk klub, kan?”


“Iya. Tolong, kalau Takamori-san masuk klub, mohon mainkan dia di pertandingan latihan. Dia… harus menghadapi pertandingan melawan Miyaza.”


“Baik… sekarang kita bahas ‘kalau dia masuk klub’ itu.”


Sensei menyilangkan kaki ke arah sebaliknya dan menutup mata sejenak.


“Memainkan anggota baru—apalagi yang baru bergabung—di pertandingan terdekat tentu akan mengundang protes dari anggota lain. Sebagai pembina, keputusan yang tepat adalah menolak.”


Itu argumen yang masuk akal. Sekalipun dia masuk hari ini, waktu menuju pertandingan melawan Miyaza sudah sangat singkat. Tapi justru karena itulah Haruya datang memohon.


“Tolong lakukan sesuatu. Cukup pertandingan itu saja. Pertandingan yang harus dihadapi Takamori-san adalah melawan Miyaza… jadi mohon, aku minta!”


Sekali lagi, Haruya menunduk dalam-dalam.


Melihat itu, sensei menghela napas pendek.


“Sepertinya ada alasan besar di balik ini. Tapi meski begitu, aku tidak bisa memainkannya satu pertandingan penuh.”


“Satu pertandingan penuh?”


Merasa ada kejanggalan, Haruya terdiam, dan sensei mengangguk.


“Ya… set terakhir saja. Kalau hanya itu, aku bisa mempertimbangkannya.”


Tentu saja, itu kalau dia benar-benar masuk klub, tambahnya.


“Tolong, aku mohon!”


Sekali lagi Haruya menunduk sopan.


“…Kalau Akasaki memang berniat ‘menunjukkan sisi laki-lakimu’, sebagai guru aku juga harus turun tangan. Urusan formulir pendaftaran dan prosedurnya akan kuurus, jadi tenang saja.”


“…T-terima kasih.”


Menunjukkan sisi laki-laki. Ucapan itu terasa memalukan, membuat Haruya mengalihkan pandangan.


Saat ia berbalik hendak kembali ke kelas, sensei menambahkan satu kalimat lagi.


“Maaf, tapi… mohon rahasiakan hal ini. Terutama, aku akan sangat terbantu kalau Takamori-san tidak diberi tahu.”


“Ya, benar juga. Sepertinya kamu punya alasan dan tidak ingin menonjol, ya, Akasaki.”


Dengan wajah sok tahu, sensei memperlihatkan senyum yang tidak menyenangkan.


“Ah, haha…”


Haruya tertawa kecut untuk menutupinya, dan sensei hanya berkata, “Baiklah.”


“Kita tunggu saja Takamori masuk klub. Lalu Akasaki, kamu sendiri akan masuk klub atletik—”


“Tidak, saya tidak perlu.”


“Ck, dingin sekali.”


Menjawab seketika, Haruya pun meninggalkan ruang guru.


(Dengan ini… aku benar-benar tidak bisa mundur lagi.)


Haruya menghela napas dalam hati.


***


Waktu berlalu, memasuki jam istirahat. Di luar, langit mendung. Awan kelabu menutupi birunya langit sepenuhnya.


Suasana itu seolah selaras dengan keadaan di dalam kelas—udara muram menyelimuti ruangan.


(…Takamori-san kelihatannya gampang tersulut akhir-akhir ini.)

(Iya. Belakangan juga begitu, tapi sekarang rasanya lebih parah.)

(Auranya susah didekati. Apa dia sedang tidak enak badan…?)


Perhatian para siswa tertuju pada salah satu S-rank beauty, Takamori Yuna. Ia duduk di bangkunya dan—seperti Haruya biasanya—berpura-pura tidur.


“Eh, Yunarin. Kamu nggak apa-apa?”


“Apa kamu kurang enak badan?”


Rin dan Sara mendekatinya dengan wajah khawatir. Yuna berusaha tetap tenang saat menjawab mereka.


“Maaf ya… berkali-kali. Aku nggak ingin bicara dengan siapa pun sekarang… biarkan aku sendiri. Maaf.”


“B-baik… Yunarin.”


“O-oh… begitu ya.”


Sebagai teman, seharusnya mereka tetap mendekat dan tidak mundur begitu saja? Rin dan Sara ragu, namun akhirnya menjauh dari bangku Yuna.


(Pasti gara-gara basket, kan…)


(Iya. Apalagi setelah diumumkan pelajaran olahraga bakal basket.)


Keduanya yakin penyebab kondisi Yuna adalah basket. Pasalnya, barusan diumumkan bahwa bulan depan pelajaran olahraga akan diisi basket. Sejak itu, sikap Yuna langsung berubah, dan mereka pun yakin. Sebenarnya, Yuna sedang tertekan secara mental.


(Kenapa sih, akhir-akhir ini isinya cuma soal basket terus… Dan pelajaran basket juga? Tolonglah… di saat seperti ini lagi. Lagian, kenapa nggak sistem pilihan?)


Saat SMP dulu, pelajaran olahraga membolehkan memilih cabang, jadi Yuna mengira itu hal yang wajar.


Belakangan ini, ia sudah sering dipaksa memikirkan basket—itu saja sudah cukup berat. Dan pukulan terakhirnya adalah… pelajaran basket akan dimulai. Tak heran kondisi Yuna memburuk.


Merasa bersalah pada Rin dan Sara, Yuna menelungkupkan wajahnya di meja.


(Haru-san juga ngirim pesan aneh… serius, tolong berhenti.)


Yuna setengah menyerah.



Sementara itu, Kazamiya—yang mengamati para S-rank beauty—menepuk bahu Haruya.


“Akasaki. Kayaknya Takamori-san lagi memendam sesuatu. Alurnya… mirip sama situasi Himekawa-san, nggak?”


“…Hm?”


Dengan sengaja berpura-pura mengantuk, Haruya menoleh sambil menguap. Kazamiya mulai bicara penuh percaya diri.


“Himekawa-san juga dulu emosinya nggak stabil, kan? Sama seperti Takamori-san sekarang.”


“Terus?”


“Kalau Himekawa-san, dia cepat pulih dan jadi makin menarik. Itu karena kekuatan cinta. Nah, sekarang kasusnya Takamori-san. Kalau—kalau saja dia tiba-tiba jadi ceria lagi?”


“…Kamu mau ngomong apa?”


Dengan nada sebal, Haruya bertanya, dan Kazamiya mengacungkan jempol.


“Artinya, kali ini juga mungkin kekuatan cinta yang bekerja.”


“Cara mikirmu kebanyakan otak cinta, sampai bikin aku ilfeel…”


“Dan lagi,” lanjut Haruya sambil mendekat ke telinga Kazamiya,

“kalau sampai terdengar sama orangnya, itu bakal nggak sopan banget.”


Kazamiya membelalakkan mata, lalu menjawab,


“Itu benar juga. Tapi Akasaki… kamu bilang begitu cuma karena nggak mau topiknya diarahkan ke kamu, kan?”


(Iya… ketahuan.)


Haruya tak menjawab, menghadap ke depan, dan kembali berpura-pura tidur.


***


Sepulang sekolah, setelah bersiap-siap, Haruya menuju tujuannya.


Tujuan itu adalah sebuah taman besar dekat pusat perbelanjaan—

tempat di mana beberapa hari lalu ia berpisah dengan Nayu dengan cara yang buruk.


“Jangan ikut campur yang tidak perlu…”


Mengingat suara dan ekspresi dingin itu saja sudah cukup membuat bulu kuduknya meremang.


(Ah… menakutkan. Aku jadi makin tegang.)


Haruya duduk di bangku taman sambil menunggu Nayu. Ia mengeluarkan ponselnya dan mengecek isi pesan.


Haru: Mendadak sih, tapi… hari ini sepulang sekolah aku bakal nunggu di taman tempat kita berpisah kemarin.

Nayu: Aku nggak akan datang.

Haru: Aku tunggu.

Nayu: Terserah, aku nggak peduli.


Melihat isi pesan itu, kecil kemungkinan Nayu akan datang. Namun, kemungkinannya tidak nol.


Haruya menggantungkan seutas harapan pada fakta bahwa balasan Nayu bukan “tidak bisa datang”, melainkan “tidak akan datang”. 


Langit masih tertutup awan kelabu, dan tak ada tanda-tanda orang lain di sekitar. Sendirian. Taman itu kini sepenuhnya menjadi ruang milik Haruya seorang diri. Ia menghembuskan napas ringan, lalu membaca manga shoujo versi e-book.


Baiklah, mulai dari sini ini jadi adu ketahanan!

Perlahan, langit semakin gelap.


Sambil menoleh ke sekeliling, Haruya menghela napas.


(Nggak datang ya…)


Ia terus menunggu Nayu, tapi tak ada tanda-tanda ia akan muncul.


Bukan cuma Nayu—tak satu pun orang datang ke taman ini. Sendirian. Haruya meregangkan punggungnya, lalu menatap langit.


(Masih bisa nunggu sih… segini mah gampang.)


Atau jangan-jangan dia benar-benar tidak akan datang…?


Seolah ingin mengusir kegelisahan itu, Haruya menendang kerikil kecil di dekat kakinya. Langit yang tadi berwarna jingga kini telah berubah sepenuhnya menjadi hitam. Cahaya yang tersisa hanya dari lampu jalan dan sinar bulan. Perutnya berkali-kali berbunyi… dan Haruya mulai ingin pulang. Udara terasa dingin, perut pun lapar.


Wajar saja jika ingin pulang.


(Nayu-san memang nggak bakal datang, ya…)


Apa sebaiknya pulang saja? Menyerah untuk hari ini? Waktunya sudah cukup malam. Tidak mungkin dia datang. Lagipula, aku memaksanya datang—normal kalau dia tidak muncul.


Sambil menenangkan diri dengan pikiran itu, Haruya bergumam pelan,


“Aku cuma ingin Nayu-san bisa menatap ke depan…”


“Itu yang namanya ikut campur berlebihan.”


Tiba-tiba suara itu menyela dari belakang. Tanpa perlu menoleh pun, Haruya tahu siapa pemilik suara itu. Tak mungkin ia salah mendengar suara yang dingin dan datar itu.


“……”


Saat ia perlahan menoleh, orang yang selama ini ia tunggu berdiri di sana.


“Selamat malam, Haru-san.”


“K-kenapa…”


Padahal ia sendiri yang memanggil, namun Haruya membelalakkan mata.


“Aku sih sesekali ke sini buat lihat situasinya. Tapi kamu sama sekali nggak ada niat pulang, jadi ya terpaksa.”


Sambil menggeser kacamata hitamnya, Nayu berkata demikian.


“Jujur aja, aku nggak nyangka kamu bakal sebegitu nekatnya, Haru-san.”


“…Kamu datang.”


“Hah… kalau aku nggak datang, kamu sebenarnya mau nunggu sampai kapan sih?”


Sambil melihat jam, ia memperlihatkan ekspresi heran.


“Berapa jam kamu duduk di sini, coba…”


“A-ahaha.”


“Percuma ketawa buat ngeles… aku dari awal terus mantau, tahu.”


“Hah!? …Oh, jadi begitu ya. Tapi syukurlah kamu datang.”


Syukurlah aku nggak pulang di tengah jalan. Haruya menghela napas lega.


“…!”


Melihat sikap Haruya, Nayu mengepalkan tangannya erat.


“…Aku yakin alasan kamu manggil aku itu soal basket.”


Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan.


“Pertama-tama—”


Sambil berkata begitu, Nayu mengulurkan sesuatu yang ia bawa.


Saat dilihat, di dalamnya ada beberapa kotak makanan berisi masakan yang dibagi kecil-kecil.


“Grrr~”


Perut Haruya kembali berbunyi, dan Nayu melanjutkan,


“Makan dulu, yuk?”


***


Tenaga kembali mengalir. Perut Haruya kini sudah terisi.


Benar kata orang—lapar adalah bumbu terbaik.


“Enak?”


“…(angguk, angguk)”


Sambil mengangguk kuat-kuat, Haruya menikmati masakan itu.


Surga.


Satu kata itu sudah cukup.


“Makannya lahap banget… jadi malu sendiri.”


Nayu menggaruk pipinya pelan.


Semua makanan yang Haruya santap saat ini adalah masakan buatan tangan Nayu. Katanya, melihat Haruya terus duduk di taman itu menyedihkan dan tak tega, jadi ia membawa sisa masakan dari rumah.


(…Ah, Nayu-san baik banget.)


Dengan rasa terima kasih atas kebaikannya, Haruya terus menyantap makanan itu. Setelah selesai, pandangan Nayu tertuju padanya.


“Terima kasih, Nayu-san. Makanannya enak.”


“I-iya. Kamu makannya senikmat itu, jadi rasanya nggak sia-sia aku bawa ke sini.”


Haruya menghabiskan semuanya tanpa sisa.


Saat ia menikmati sisa rasa setelah makan, Nayu membuka pembicaraan.mUdara di antara mereka berubah.


“…E-eh. Aku kan sempat menolakmu, kan, Haru-san?”


Mungkin yang Nayu maksud adalah sikap dinginnya saat off-kai sebelumnya.


“Padahal sudah bersikap sedingin itu… tapi kenapa kamu nggak mau menyerah?”


“Kamu masih ingat waktu pertama kali kita ketemu?”


Tentang saat mereka menetapkan aturan untuk off-kai itu…


Nayu terdiam, seolah menyuruhnya melanjutkan, dan Haruya pun berkata,


“Aturan soal tidak mencampuri urusan pribadi masing-masing itu. Tapi ada satu pengecualian, kan?”


Itu adalah kata-kata yang dulu Nayu ucapkan saat mengkhawatirkan Haruya yang sedang terpuruk.


Haruya mengulanginya tanpa salah satu kata pun.


“Kalau salah satu dari kita punya masalah yang sudah nggak bisa ditanggung sendiri, maka boleh mencampuri urusan pribadinya.”


“……!”


Ia tertegun. Lalu menghembuskan napas kecil.


“Jadi… kamu masih ingat…”


“Lebih tepatnya, aku baru ingat lagi. Tapi Nayu-san sekarang jelas bukan dalam kondisi bisa menikmati ngobrol soal manga shoujo, kan?”


“…Nggak juga.”


“Ada kok.”


Karena Haruya sudah cukup lama mengenal Nayu, ia tahu. 


Ia tahu apakah Nayu benar-benar menikmati obrolan shoujo manga atau tidak. 


Entah kenapa, dari ekspresinya saja ia bisa mengerti. Dan mungkin, Nayu pun sama. Itulah sebabnya bibirnya mengatup rapat. Ia sadar bahwa pada sesama rekan seperjuangan seperti Haruya, kebohongan atau sekadar pencitraan tidak akan berhasil.


“Aku ingin bisa ngobrol shoujo manga dengan Nayu-san dengan senang lagi. Makanya, hal yang selama ini kamu pendam… soal basket itu, aku ingin kamu ceritakan ke aku.”


Sambil menatap lurus ke arah mata Nayu di balik kacamata hitamnya, Haruya berkata dengan lembut.


“Aku sudah berkali-kali dibantu Nayu-san. Aku berutang banyak. Jadi kali ini, tolong beri aku kesempatan untuk membalasnya.”


“…T-tapi…”


Sambil mengepalkan tangan di atas pahanya, suaranya bergetar.


Jika ia melangkah lebih jauh, mungkin ia akan kembali menginjak ranjau. Menyentuh luka lama, lalu dijauhi lagi. Kali ini, mungkin benar-benar tak bisa diperbaiki. Meski begitu—


“Nggak apa-apa. Percayalah padaku, dan ceritakan.”


Haruya tetap melangkah maju. Itu adalah kata-kata yang hanya bisa ia ucapkan karena ia sudah menerima saran dari Sara dan Kohinata, dan memutuskan untuk benar-benar menghadapi ini dengan tulus. Ia berusaha mendekatkan hati pada Nayu, tanpa mengalihkan pandangan darinya.


Nayu menghembuskan napas ringan, lalu tersenyum kecil.


“Hah… serius deh… Haru-san ini maksa banget.”


Dengan nada pasrah, ia pun mulai bercerita, perlahan-lahan.


***


Ini adalah cerita tentang saat aku membuang diriku sendiri.


Itu terjadi dua tahun lalu.


Aku selalu mengincar posisi nomor satu, dan bersama para anggota klub, aku terus berjuang, saling mengasah diri, dan berkembang. Saat aku baru masuk sekolah, klub basket ini hanyalah klub lemah. Namun ketika tiba giliran angkatanku, semua orang mulai mengikutiku, seolah mengejar punggungku. Terutama keberadaan Onoi, yang memiliki rasa rivalitas kuat terhadapku—itu sangat berarti.


Untuk mengubah klub lemah menjadi tim kuat, memperketat menu latihan adalah syarat mutlak. Bukan hanya aku, Onoi yang juga berperan sebagai pembawa suasana, aktif menyemangati anggota lain, sehingga reformasi latihan berhasil. Latihan yang menyakitkan pun semuanya demi menjadi lebih kuat.


Basket adalah olahraga tim. Jika hanya individu yang kuat, cepat atau lambat akan menemui batas. Yang harus kuat adalah tim secara keseluruhan. Aku menunjukkan permainan terbaikku untuk membangkitkan semangat para anggota.


『Kalau kalian ikut aku, kita pasti menang. Jadi ikutlah aku.』


Dengan keyakinan itu, aku terus melaju ke depan. Dan kenyataannya, hasil sesuai dengan ucapanku.


Dari tim yang selalu gugur di babak pertama, dalam waktu singkat kami menjadi tak terkalahkan di laga uji coba. Di turnamen resmi pun kami melaju hingga juara dua tingkat daerah, empat besar provinsi, dan delapan besar wilayah. Kalau terus begini, kami bisa sampai ke tingkat nasional.


Aku menyimpan ambisi itu—tapi tanpa kusadari, orang-orang di sekitarku mulai berubah.


“──Kita buat latihannya lebih keras lagi, dan targetkan nasional berikutnya! Ayo, semuanya!”


Saat aku mengatakan itu, jawaban yang kudapat justru dingin.


“Eh, nasional? Kita sudah dapat hasil bagus di tingkat wilayah, kan? Nggak perlu terlalu memaksakan diri, deh.”


“Kalau latihannya makin berat, aku nggak yakin bisa ngikutin~”


“N-nasional? Sebenarnya sampai sejauh apa sih Takamori mau melangkah… aku nggak sanggup ngikutin.”


Saat belum ada hasil, semua orang mengikutiku. Tapi begitu mendapat hasil setengah-setengah, entah kenapa mereka justru merasa puas. Mereka berhenti mengejar puncak. Padahal di awal, saat mereka mengikutiku, semua dengan senang berkata, “Mungkin kita bisa sampai nasional.” Di situlah, untuk pertama kalinya, aku merasakan adanya perbedaan arah.


──Eh? Kalian bilang akan percaya padaku dan mengikutiku, kan? Kenapa kalian bisa berhenti di tempat seperti ini? Bukannya selain maju, nggak ada pilihan lain…?


Aku cukup terpukul. Tapi kalau aku menunjukkan permainan yang luar biasa, pasti mereka akan kembali mengejar punggungku. 


Aku mati-matian.


“Hei, Onoi… kamu kan rivalku. Kamu pasti mau mengikutiku, kan? Kita tambah lagi porsi latihan, lalu tunjukkan betapa kuatnya kita sekarang. Ke semua orang!”


“Eh… a-ah, maksudku… iya.”


“Bagus. Kalau begitu sudah diputuskan. Kita latihan khusus.”


Kalau aku terus berjuang bersama Onoi lagi, semuanya pasti akan kembali seperti semula. Aku terus percaya pada jalanku sendiri.


Kalau ingin menargetkan nasional, usaha segini jelas belum cukup. Menambah porsi latihan—latihan khusus, latihan khusus, latihan khusus setiap hari. Onoi percaya padaku dan mau mengikutiku. Memang pantas disebut rival terbaikku.


Tentu saja, dalam pelajaran pun aku menargetkan peringkat satu, menjalankan prinsip unggul di akademik dan olahraga. Faktanya, aku benar-benar meraih nilai peringkat satu seangkatan dalam ujian.


Kalau begini terus, kegiatan klub pun—!


Kalau mereka melihat aku dan Onoi yang semakin kuat, pasti semua akan ikut menargetkan nasional bersama kami.


──Tapi kenyataannya berbeda. Realitas tidak seindah itu.


Para anggota klub yang dulu percaya padaku kini memandangku seolah melihat sesuatu yang menakutkan.


“Eh, apa ini? Jadi selama ini kamu disuruh ikut menu latihan seberat ini, Onoi?”


“E-eh, menu ini sudah keterlaluan, kan?”


“Takamori itu… nggak normal ya……”


Suara-suara yang menyudutkanku bergema di telingaku.


──Padahal dulu mereka mengagumiku, tapi tatapan apa itu sekarang?


Aku dan Onoi sudah berusaha keras dan meningkatkan level kami. Operan kami juga semakin cepat. Kalau mereka maju bersamaku, seharusnya di akhir kita semua bisa tersenyum……


Aku merasa, sedikit demi sedikit, ada sesuatu yang runtuh.


Bagaimana caranya agar semua orang kembali termotivasi…? Demi Onoi—satu-satunya yang masih mau mengikutiku—aku ingin terus berjuang. Namun, pada suatu hari saat aku dan Onoi terus menjalani latihan khusus, semua anggota klub memanggilku.


Akhirnya mereka mau menargetkan nasional bersama— aku sempat bersukacita… tapi itu hanya sesaat.


Dengan wajah tertunduk, para anggota klub berkata kepadaku,


“““Kami sudah tidak bisa mengikuti Takamori lagi. Jadi kami ingin kamu keluar dari klub.”””


Dan di antara mereka… ada Onoi.


“Aku juga… setuju dengan anggota yang lain. Sebenarnya aku sudah lama menahannya, tapi… Takamori, sebaiknya kamu istirahat dulu.”


Bahkan Onoi menolakku, dengan tatapan dingin.


Oh, begitu…aku merasakan hatiku perlahan menjadi dingin.


Ngomong-ngomong, di festival budaya kemarin juga, saat aku menargetkan peringkat satu, orang-orang memandangku dengan aneh. Seolah menambah pukulan terakhir, salah satu anggota berkata,


“Onoi itu sudah kelelahan dan kakinya cedera! Kamu nggak tahu, kan? Mulutmu isinya nasional, nasional, nasional terus—jangan libatkan kami! Kalau kamu berusaha keras, justru bikin orang di sekitarmu sengsara. Lagian, serius berlebihan itu norak… dengan cara Takamori, nggak akan ada yang mau ikut. Faktanya, kami sudah menyerah padamu.”


“I-itu keterlaluan…”


Onoi berkata sambil menyikut, tapi—


“Tapi maaf. Kami benar-benar sudah nggak bisa mengikuti Takamori lagi. Jadi aku akan mengatakannya dengan jelas.”


Setelah jeda sejenak, Onoi berkata dengan ekspresi menyakitkan,


“Aku ingin Takamori menjauh dari kegiatan klub.”


Saat itu… semuanya terasa tak berarti bagiku.


『Berusaha dengan sungguh-sungguh itu norak.』


『Usahaku hanya membuat orang di sekitarku tidak bahagia.』


Tiba-tiba terbayang diriku di dalam gedung olahraga, memegang bola.

Aku berlari dan mengoper, tapi tak ada yang menerima.


Menunjukkan permainan? Konyol. Karena sejak awal, itu bahkan tidak pernah sampai ke mereka.


Aku pikir aku sedang berjalan menuju cahaya. Tapi itu bukan cahaya—melainkan jalan menuju kesendirian. Dari awal aku diberi harapan, hanya untuk dikhianati.


──Ah… aku benci basket.


Saat aku tak lagi bisa mempercayai jalanku sendiri, di situlah aku membuang diriku yang dulu.


***


Yuna menyelesaikan ceritanya dengan nada datar. Wajahnya tampak kosong, diselimuti keputusasaan. Seolah ingin berkata bahwa ia sendirian di dunia ini.


Itu bukan Nayu yang biasanya. Bukan sosok pemain basket yang dulu begitu ia kagumi. Dan kisah Yuna ini sangat mirip dengan masa lalu Haruya. Dengan kisah Haruya yang pernah mendapat tatapan penuh kecaman di klub atletik…….


Mungkin karena itu. Ia ingin Yuna bangkit—karena Yuna sama-sama menghindari masa lalunya seperti dirinya dulu. Ia tidak bisa menerima bahwa gadis yang mengagumi jalan yang sama dengannya kini menempuh jalan yang sama kelam.


Sesaat, dorongan yang menyerupai amarah memenuhi dada Haruya. Bahu Haruya bergetar, air mata menggenang di sudut matanya.


“…Jadi itu alasanmu berhenti basket? Itu alasanmu meninggalkan basket?”


“Kamu sudah dengar masa laluku, kan? Kalau aku bermain basket, aku cuma akan membuat orang-orang di sekitarku tidak bahagia……”


Sambil tersenyum sepi, Yuna berkata demikian. Haruya mendekat dan mencengkeram kedua bahunya.


“Membuat orang lain tidak bahagia…? Sendirian? Mana mungkin begitu…!”


Yuna menoleh ke arahnya dan membeku. Top of FormBottom of FormIni adalah pertama kalinya aku meluapkan emosi sejauh ini lewat suaraku sendiri, sampai-sampai aku pun terkejut.


Terbawa oleh dorongan itu, Haruya pun melanjutkan.


“Nayu-san, waktu itu sudut pandangmu saja yang terlalu sempit sampai kamu tidak bisa melihat sekelilingmu. Setidaknya… aku tertarik pada permainanmu! Jadi… jangan bilang hal-hal sesedih itu, dong……”


Haruya menunduk, nyaris menangis.


“…Hah. Haru-san tertarik pada permainanku? Sekarang bilang begitu—itu cuma omong kosong—”


Menghadapi Yuna yang bahunya bergetar karena amarah, Haruya menegaskan,


“──Turnamen musim panas tiga tahun lalu. Baru-baru ini aku sadar… kebetulan aku menonton pertandinganmu sebagai penonton. Gaya bertarung agresif dari sekolah lemah. Nayu-san yang menggerakkan tim, bersinar lebih dari siapa pun, dan bermain dengan wajah yang benar-benar menikmati basket.”


“…Jangan mengarang cerita—”


Wajahnya mengernyit, tapi Haruya menyela dan terus berbicara.


“Nomor punggung 11. Waktu itu aku sendiri tidak berjalan mulus di klubku… aku bilang pada diriku sendiri bahwa berusaha keras itu norak, bahwa secukupnya saja sudah cukup. Tapi aku terpesona oleh permainanmu yang mengangkat semangat tim. Itu mengubah caraku berpikir. Aku ingin berusaha juga… aku sadar bahwa berjuang dengan sungguh-sungguh sama sekali tidak norak. Nomor punggung 11 itu menjadi tujuanku—aku ingin suatu hari bisa menyusulnya.”


“Itu cuma kebohongan—”


Yuna ingin berkata begitu, tapi saat nomor punggung disebutkan, ia tak bisa berkata apa-apa. Dan keseriusan Haruya membuatnya sadar—ini bukan kebohongan.


Haruya mengguncang kedua bahu Yuna dengan kuat dan berkata,


“Dengar. Nayu-san yang membuatku berpikir bahwa orang yang berusaha dengan sepenuh hati itu keren… Nayu-san yang menjadi tujuanku—”


Ia berhenti sejenak, lalu dengan air mata menggenang di sudut matanya, Haruya menegurnya.


“Jangan sampai kamu merosot hanya karena membohongi dirimu sendiri………”


Bersamaan dengan itu, di dalam hatinya Haruya berteriak,

Jangan menempuh jalan yang sama denganku…… Yuna membelalakkan matanya mendengar kata-kata Haruya selanjutnya.


“…Dengan cara apa pun, bahkan kalau harus meneguk air berlumpur, tetaplah berpegang pada basket. Tidak ada satu pun alasan bagimu, Nayu-san, untuk membenci basket sampai harus membohongi dirimu sendiri, kan?”


Nayu terdiam cukup lama.


Awalnya ia tampak kebingungan oleh argumen Haruya, tapi kemudian wajahnya terdistorsi.


“──Itu cuma ego Haru-san yang dipaksakan! Lagipula aku memang membenci baske—”


“Aku tidak akan membiarkanmu bilang ‘benci’.”


Haruya memotong ucapannya dengan nada tegas. Takamori Yuna-lah yang dulu mengingatkan Haruya pada perasaannya yang suka berlari. Tak mungkin sekarang Haruya tidak membalas kesadaran itu.


Perlawanan dalam kata-kata Yuna terdengar lemah. Kini justru Haruya yang mampu menyuarakan pendapatnya dengan lebih kuat. Ia tidak takut akan penolakan Yuna—karena sejak Yuna datang ke tempat ini hari ini, Haruya sudah yakin dalam hatinya bahwa ia sebenarnya sedang meminta tolong.


Menatap Nayu dengan lurus, Haruya melanjutkan dengan lembut,


“Apa pun alasannya, kamu dulu bersinar begitu terang. Kamu tertawa sebahagia itu. Basket yang kamu cintai sedalam itu—kamu tidak boleh berbohong dengan mengatakan bahwa kamu membencinya.”


“………!”


Ia terperanjat dan menahan napas.


Apa yang terlintas di benaknya karena kata-kata Haruya adalah kenangan saat ia berlatih dengan giat di klub basket—hari-hari yang menyenangkan itu.


Memang benar, ia sering mengalami hal-hal tidak menyenangkan di kegiatan klub. Namun, bukan berarti semuanya hanya berisi kenangan pahit. Ada begitu banyak momen yang membuatnya bahagia dan bersenang-senang.


"Bukankah sebenarnya kamu suka basket?"


Entah kenapa, kata-kata seseorang itu kembali terngiang dan mempertanyakannya. Di lubuk hatinya, ia sebenarnya sudah tahu jawabannya. Namun setelah benar-benar menghadapi basket… ia takut akan kembali sendirian. Takut kehilangan segalanya lagi. Karena itu, ia hanya bisa menumpuk kebohongan di atas kebohongan.


"…Apa nggak apa-apa ya? Setelah aku terus berusaha, semua teman akhirnya menjauh. Kalau aku berusaha lagi, mungkin aku akan membuat orang lain tidak bahagia… dan itu menakutkan sekali. Orang sepertiku, yang sudah membuat teman-temannya tidak bahagia… apa pantas masih bisa menikmati basket…?"


"…Hari itu, yang membuatku tertarik adalah seorang pemain basket yang benar-benar terlihat menikmati permainannya. Membuat orang lain tidak bahagia? Sama sekali tidak. Nayu-san waktu itu membuat seluruh tim tersenyum. Di gedung olahraga itu, Nayu-san adalah yang paling bersinar."


"…!"


Mata Nayu berkaca-kaca dan tubuhnya membeku.


Saat ia menatap Haruya, pria itu menatapnya kembali dengan sungguh-sungguh. Ia adalah salah satu orang yang menjadi penggemarnya.


Semangat yang Nayu curahkan ke dalam basket bukanlah sesuatu yang palsu—itu nyata, dan perasaan itu pasti telah sampai kepada Haruya. Dari kata-katanya, sama sekali tidak tercium bau kebohongan. Baru sekarang, dadanya terasa panas dan air mata hampir menetes.


"Maaf… aku mau nangis sebentar, jadi tolong hadap sana."


"Mau kupinjamin dadaku?"


Haruya membuka kedua lengannya, namun Nayu langsung memalingkan wajah.


"Nggak boleh. Nanti suasananya jadi aneh."


Setelah itu, ia menangis sedikit. Di sisi lain, mata Haruya juga tampak berkaca-kaca.


"…Hei, menurutmu aku harus bagaimana ke depannya?"


Setelah suasana sendu itu mereda dan keduanya sedikit tenang, Nayu melemparkan pertanyaan itu pada Haruya.


"…Kalau mau menghadapi masa lalu, menurutku satu-satunya cara adalah masuk klub basket lagi. Tapi ya, yang memutuskan tetap Nayu-san."


"…Ah, katanya pertandingan latihan dengan Miyaza juga sudah dekat ya… berarti bakal tanding lawan Onoi. Jadi begitu… Haru-san ternyata memang sudah mengincar itu dari awal."


"………"


Seolah menganggap diamnya sebagai jawaban, Yuna melanjutkan.


"Nggak ada celah sama sekali ya… Oh iya, sekarang aku masih kebawa suasana jadi nggak terlalu mikirin, tapi Haru-san yang tadi itu cukup ‘bau’ lho. Kamu bilang hal-hal yang super memalukan. Kayak ‘bersinar’ segala. Ini gara-gara kebanyakan baca manga shoujo, ya? Fufufu…"


"…B-berisik. Nayu-san, menurutku nggak tepat kalau kamu menggoda di saat kayak gini, tahu? Lihat, kalau di manga shoujo, balasanmu itu biasanya nggak begitu, kan?!"


Pipi Haruya memerah saat ia panik, dan Nayu diam-diam merasa sikapnya itu lucu.


(Haru-san yang malu-malu… imut…)


Sambil memikirkannya, ia pun menambah serangan.


"Kalau di manga shoujo, sekarang aku pasti lagi nangis di dalam pelukan Haru-san."


"Y-ya…"


Memang, itu perkembangan yang klise dalam manga shoujo.


"Mesum banget. Tapi perlu aku bilangin ya, aku ini tipe perempuan yang nggak suka terikat pakem."


"E-eh, mesum itu kejam banget nggak sih cara ngomongnya?!"


"Soalnya kamu kan ngebayangin lagi meluk aku, kan? Kalau mengikuti alur manga shoujo. Nah, ada bantahan nggak, Haru-san?"


"…Aku menyerah, jadi tolong ampuni aku."


"Ah—nggak, maaf juga ya, aku tadi cuma menggoda. Tapi… yang ini beneran kok."


Sambil berkata begitu, Nayu menatap wajah Haruya dengan serius. Lalu dengan suara pelan ia berbisik, "…terima kasih." Karena sudah malam dan gelap, ekspresinya tak terlihat. Namun kata-kata yang tulus itu membuat jantung Haruya berdegup kencang tanpa sadar.


Saat Haruya masih terpaku, seolah menyembunyikan rasa malunya, Nayu tiba-tiba mengganti topik.


"…Hei."


"Hm?"


"Aku bakal masuk klub basket. Tapi kalau aku sampai terisolasi lagi, kamu harus tanggung jawab, ya?"


"…Kalau ngomong soal tanggung jawab, versi manga shoujo sih jawabannya jelas—nikah?"


"Padahal kamu ngerti, tapi tiap saat genting malah bercanda.…bodoh."


"Itu balasan karena tadi kamu menggoda aku. Maaf."


"Nggak apa-apa. Tapi kesalnya, aku malah paham banget bagian ‘kalau di manga shoujo’ itu."


Ia berbisik pelan sambil memalingkan wajah. Ada satu hal yang harus ia sampaikan, dan Haruya pun membuka mulut.


"Kalau kamu sampai ikut bertanding, aku pasti datang nonton…"


"Iya. Aku senang kalau kamu datang… tapi kalau sudah pertandingan, wajahku bakal ketahuan ya… ah, ya sudahlah… mungkin nggak apa-apa…"


Bagian akhirnya ia gumamkan pelan, sehingga Haruya tidak bisa mendengarnya dengan jelas. Lalu, seolah mendapat ide, Nayu mengangkat jari telunjuk dan bertanya padanya.


"Haru-san, ngomong-ngomong, besok sepulang sekolah kamu ada waktu?"


"Ada sih, tapi…"


Ada angin apa tiba-tiba?


Menjawab kebingungan Haruya, Nayu pun berkata,


"Aku mau beli wristband… buat doa dan jimat supaya aku bisa masuk klub basket."


"Oh, bagus tuh. Ayo, kita pergi."


Sebelum wajahnya dikenal saat pertandingan nanti, Nayu sangat ingin melihat ekspresi dan reaksi Haruya saat akhirnya melihat wajah aslinya.


Saat SMP dulu, di turnamen basket, wajahnya memang sudah ketahuan olehnya. Namun sudah lama sekali sejak saat itu. Ia juga sudah belajar berdandan, dan kemampuan make-up-nya jauh meningkat. Selama ini, ia keras kepala menolak memperlihatkan wajahnya dan selalu memakai kacamata hitam.


Menurut Nayu, akan terlalu sayang jika wajahnya diketahui dengan begitu saja lewat pertandingan. Karena itu, alasan pergi membeli wristband hanyalah kedok belaka. Perasaan sebenarnya hanyalah satu—ia ingin melihat secara langsung bagaimana Haruya kebingungan dan panik. Namun, tanpa mengetahui sedikit pun isi hati Yuna itu, Haruya justru dipenuhi rasa pencapaian yang luar biasa.


(Syukurlah… Nayu-san mau mengambil kembali basketnya)


***


Malam pun semakin larut.


Setelah berjanji akan pergi membeli wristband bersama Yuna besok sore, mereka pun berpisah tak lama kemudian karena waktu sudah malam. Usai mandi dan menenangkan diri, Haruya menelepon Onoi untuk memberi tahu bagaimana semuanya berjalan.


Sambil melihat secarik kertas berisi nomor kontak, ia menekan tombol satu per satu. Nomor ini adalah kontak yang dulu diberikan Onoi secara sepihak. Ia teringat percakapan mereka saat itu.


“Kalau Takamori mulai basket lagi, tolong segera hubungi saya! Walaupun malam tidak apa-apa!”


Karena itulah Haruya tetap menelepon meski sudah larut. Hanya satu kali dering—telepon langsung diangkat.


(Cepat banget!)


Sambil bergumam dalam hati, Haruya mendekatkan ponsel ke telinganya.


『Maaf mengganggu malam-malam. Selamat malam, ini Haru.』


『Ah, iya. Selamat malam, Haru-san. Tidak apa-apa kok. Saya sendiri yang bilang boleh dihubungi kapan saja… Jadi, ada kabar soal Takamori?』


『Iya. Setelah kami bicara, Takamori-san memutuskan untuk masuk klub basket.』


Beberapa detik berlalu dalam keheningan───


『EEEEEEEEEEEEHHHHHHH?!』


Suaranya begitu keras sampai Haruya refleks menjauhkan ponsel dari telinganya.


『Itu beneran?!』


『Iya. Karena Onoi-san sebelumnya sangat memerhatikan pergerakan Takamori-san, jadi saya pikir sebaiknya saya lapor.』


『Ahaha…sebenarnya akhir-akhir ini aku terus kepikiran Takamori sampai latihan jadi nggak fokus.Jadi laporan ini benar-benar membantu.Terima kasih banyak.Ada banyak hal yang ingin kutanya, seperti bagaimana caranya kamu membujuknya kembali… tapi, apa Takamori bisa turun di pertandingan melawan kami nanti?』


Kekhawatiran itu wajar. Namun, semuanya sudah dipersiapkan. Haruya sudah membicarakan hal itu dengan guru sebelumnya.


『Bisa! Jadi tolong Onoi-san berlatih dengan sungguh-sungguh sampai saat itu. Dan saat pertandingan nanti, hadapilah Takamori-san secara langsung.』


『Jangan-jangan… kamu bahkan sudah mengatur semuanya sampai ke pelatih di sana…?』


“…………”


Karena memang benar, Haruya terdiam tanpa sadar.


Keheningan itu tampaknya dianggap sebagai jawaban, dan Onoi langsung membanjirinya dengan pujian. Mengembalikan Takamori ke dunia basket… bahkan sampai mendapatkan persetujuan pelatih…

Pujian demi pujian mengalir tanpa henti.


Itu menunjukkan betapa membahagiakannya kabar ini bagi Onoi. Meski merasa malu, Haruya tetap melanjutkan pembicaraan lewat telepon untuk beberapa saat.


***


Tubuh yang kedinginan ia hangatkan dengan berendam di bak mandi. Namun berbanding terbalik dengan tubuhnya, hatinya justru menyala panas, seakan terbakar.


(…Haru-san. Dia benar-benar mau menghadapi “aku” dengan sungguh-sungguh)


Ia menatap langit-langit, mengulurkan tangan ke arah lampu.

Takamori Yuna menutup mata dan menelusuri kembali seluruh kejadian hari ini.


Seharusnya, hari ini…ia yakin, jika ia menceritakan alasannya, Haru-san pasti akan memahaminya. Dan saat mereka bertemu lagi… Haru-san pasti akan menyinggung soal basket. Pasti akan mengorek luka lamanya. Itu sudah pasti. Yuna yakin akan hal itu. Dari tatapan dan kata-katanya saat perpisahan dulu, jelas terlihat bahwa ia ingin membawanya kembali ke jalan basket.


“Bukankah sebenarnya kamu suka basket?”


Kata-kata itu terus menggerogoti pikirannya.


Sejak ia mendengarnya… apa pun yang ia lakukan terasa hambar. Karena itulah aku ingin menyangkal kata-kata itu, dan kembali menyentuh basket.


Aku mengambil bola basket yang tertidur jauh di dalam lemari…


Saat bermain basket sendirian di taman malam hari, rasa nostalgia menyelimuti, dan untuk sesaat euforia memenuhi dadaku. Namun kegelisahan di hati tak juga sirna. …Aku bukan siapa-siapa.


Walau ada seseorang yang berjalan di belakangku, orang itu pasti akan menoleh ke tempat lain dan pergi. Dan pada akhirnya… aku akan sendirian lagi. Memberi harapan, lalu dikhianati. Tapi… mungkin itu memang tak terhindarkan.


Aku bahkan pernah dibilang bahwa caraku hidup hanya akan membuat orang lain tidak bahagia—oleh teman-teman yang kupercaya.


Kalau begitu… satu-satunya pilihan adalah membuang diriku sendiri. Menjadi “aku” yang biasa saja, seperti yang diinginkan semua orang.

Bukan lagi mengejar kesempurnaan…Hanya gadis biasa yang berusaha secukupnya.


Ya. Aku membuang diriku sendiri. Namun…


(───Tidak. Kalau terus main basket, aku jadi aneh…)


Aku tak boleh merasakan kebahagiaan lewat basket. Karena “aku” yang sudah kubuang akan muncul kembali.


Agar aku tetap menjadi diriku yang sekarang. Agar tak goyah lagi. Aku harus menyangkalnya sepenuhnya. Aku akan meluapkan semua ketidakpuasan yang menumpuk di dadaku pada Haru-san.


Karena itulah…aku menceritakan masa laluku padanya, seolah memuntahkannya keluar. Alasan mengapa aku menjadi “aku” seperti sekarang…dengan itu, kupikir dia pasti akan menyerah. Namun kenyataannya, dia justru mulai menasihatiku. Mulai memarahiku. Dengan ekspresi yang sangat sedih di wajahnya…


Sakit. Sesak. Perih. Tapi saat aku saling berbenturan dengannya… entah kenapa aku justru merasakan hatiku perlahan menjadi lebih ringan.


Aku menatap matanya—mata yang selama ini tak sanggup kutatap secara langsung. Tatapan itu lurus tanpa ragu, sepenuhnya tertuju padaku.


───Ah, begitu ya.


Aku sebenarnya tidak ingin menyangkal diriku sendiri. Aku hanya ingin seseorang menemukan “aku” yang selama ini mengira dirinya sendirian. Sudut mataku dan bagian terdalam dadaku terasa panas dan perih.


──Ayo hadapi. Hadapi diriku yang telah dia hadapi dengan sungguh-sungguh. Dan dengan begitu… aku mendapatkan kembali diriku sendiri.


Bluk… bluk.


Merasa agak malu, Yuna menempelkan mulutnya ke air bak mandi dan menghembuskan napas. Mungkin ia terlalu lama berendam untuk menghangatkan badan.


Ia berpikir, kelamaan mandi, ya. Namun, untuk hari ini saja… rasanya tidak buruk. Keluar dari kamar mandi, sambil mengeringkan rambut dengan handuk, Yuna berpikir dengan tenang,


(Sebelum pergi beli wristband bareng Haru-san besok, aku harus mengurus pendaftaran masuk klub basket dulu…)


Kalau begitu, besok sebaiknya ia berangkat sekolah lebih awal dari biasanya. Dengan perasaan berdebar yang tak bisa ia redam sepenuhnya, Yuna pun terlelap.


***


Dan keesokan paginya. Pukul tujuh lewat tiga puluh menit. Datang lebih awal dari biasanya, Yuna mengunjungi ruang guru.


Orang yang ingin ia temui adalah wali kelasnya sekaligus pembina klub basket, Tokoyami Meika.


"…Oh. Selamat pagi. …Hehe, nggak nyangka dia benar-benar berhasil membujuknya."


"………?"


Tak mengerti maksudnya, Yuna memiringkan kepala.


Begitu menyadari kehadirannya, sang guru malah tersenyum geli.


"Ah, maaf. Itu cuma urusanku sendiri."


Sambil berdehem, guru itu menyilangkan kakinya. 


Saat Yuna hendak membuka mulut untuk mengatakan bahwa ia ingin masuk klub basket, sang guru justru lebih dulu mengatakannya.


"Kamu datang ke sini untuk mendaftar ke klub basket, kan, Takamori?"


"………!"


Yuna membelalakkan mata dan terdiam kehabisan napas.


Kenapa… sensei tahu soal itu?


Ia benar-benar tercengang.


"Yah, hari ini cukup beri salam ke anggota klub saja dulu. Latihannya mulai besok. Nih, formulir pendaftaran. Isi saja, soal uang kas klub bisa dibayar belakangan."


Sambil berkata begitu, guru itu mengeluarkan formulir dari laci dan menyerahkannya pada Yuna.


"E-eh… terima kasih, sampai segitunya…"


Meski terbawa suasana, kepalanya dipenuhi tanda tanya.


(Kenapa sensei kelihatannya siap banget? Seolah-olah sudah tahu aku bakal datang buat konsultasi…)


Apa ada seseorang yang lebih dulu berbicara dengan sensei? 


Tentang kemungkinan aku masuk klub basket…kalau dipikir begitu, semuanya terasa masuk akal—namun Yuna segera menepis kemungkinan itu.


(Nggak mungkin, kan… siapa juga yang bakal repot-repot ngelakuin hal kayak gitu, dan buat apa…)


Meski terasa konyol, rasa penasaran tetap ada, jadi Yuna pun bertanya.


"Sensei, sebelum aku datang… ada nggak seseorang yang sempat konsultasi ke sensei soal klub basket?"


"Entahlah."


Sensei menyeruput kopinya untuk mengelak. Yuna sempat merasakan kejanggalan sesaat dari respons itu, namun tetap meninggalkan ruang guru.


(Ya… nggak mungkin, lah. Soal aku masuk klub basket, nanti malam saja aku kabari Sara dan Rin lewat chat…)


Kalau tidak, kelas pasti akan kembali ribut gara-gara dirinya—begitu yang ia perkirakan.


(Ngomong-ngomong… orang-orang di klub basket itu seperti apa ya… agak deg-degan juga)


Dengan secuil kecemasan itu di hatinya, Yuna menjalani hari sekolahnya. Dan akhirnya… tibalah waktu sepulang sekolah. Saat untuk memberi salam kepada para anggota klub basket. Ia memang sudah berjanji akan pergi membeli wristband bersama Haruya, tapi salam perkenalan harus didahulukan. Tempatnya di gedung olahraga.


Didorong oleh sensei, Yuna berdiri di depan para anggota klub basket yang telah berbaris rapi.


"Ini anggota baru. Hari ini hanya akan perkenalan. Kita percepat pertemuan pertama."


Pandangan sensei beralih ke Yuna.


Mengikuti itu, pandangan para anggota klub pun tertuju padanya. Maksudnya jelas—ia diminta memperkenalkan diri. Yuna menghembuskan napas pelan, lalu menatap mereka semua.


"Aku Takamori Yuna, siswa kelas satu. Mulai hari ini aku bergabung dengan klub basket. Senang bertemu dengan kalian. Oh iya… waktu SMP dulu, posisiku point guard."


Setelah membungkuk dengan tegas—tepuk tangan pun langsung bergema dari semua orang. Gedung olahraga dipenuhi suara sambutan.


(Mulai dari sini… aku nggak boleh gagal lagi)


Sedikit menekan dirinya sendiri, Yuna pun menguatkan tekad. Mulai besok, ia akan kembali ikut latihan basket.


Yuna mengepalkan tangannya erat-erat, membuat ekspresinya sedikit menegang.


***


Setelah sekolah usai dan selesai bersiap-siap, Haruya sudah berada di stasiun.


Hari ini ia berjanji akan pergi membeli wristband bersama rekan seperjuangannya, Nayu. Tempat bertemu mereka—air mancur di depan stasiun. Sambil mendengarkan suara air yang mengalir deras, Haruya mencoba menenangkan pikirannya.


Hari ini sekolah terasa melelahkan. Soalnya, sejak pagi ia terus diganggu oleh Kazamiya yang bersemangat berlebihan.


“Lihat tuh, Takamori-san kelihatan lebih ceria! Jangan-jangan ini cinta? Gimana menurutmu, Akasaki?”


Padahal, yang berubah hanyalah Yuna kembali seperti biasanya. Bukannya jadi jauh lebih ceria dari sebelumnya.


Setidaknya, begitulah menurut pandangan Haruya. Namun, reaksi orang-orang di sekitarnya ternyata berbeda. Bukan cuma Kazamiya—hampir seluruh teman sekelas terkejut melihat perubahan Yuna.


Dasar teman sekelas yang terlalu banyak waktu luang, pikirnya.


Di saat yang sama, Haruya juga sedikit bersimpati pada para gadis cantik kelas atas. Menonjol di sekolah memang melelahkan.


“Maaf nunggu…”


Saat ia menunggu di titik pertemuan, Yuna berlari kecil menghampirinya dengan sikap anggun.


“Eh…”


Begitu menyadari penampilannya, Haruya tanpa sadar terdiam. Karena ciri khasnya sudah tidak ada.


Pakainya tetap sama—anggun, dewasa, dan indah seperti biasa. Namun kali ini, bagian matanya yang biasanya tertutup terlihat jelas.

Karena──ia tidak memakai kacamata hitam.


“K-kacamata hitammu ke mana?”


“Eh… oh, itu. Kalau Haru-san datang nonton pertandingan, kupikir… nggak perlu lagi nutup wajah.”


Sambil memutar-mutar rambut dengan jarinya, Yuna terlihat agak gelisah.


“Oh begitu. Ya, menurutku cocok kok… kalau begitu, ayo kita pergi beli wristband.”


“Eh… i-iya.”


Dengan bibir sedikit manyun, Yuna berjalan di belakang Haruya.


Sebenarnya, ia ingin melihat Haruya jauh lebih panik. Namun reaksi Haruya justru santai, seolah berkata, ‘Oh, bagus kok.’


Hal itu membuatnya sedikit kecewa. Tapi bagi Haruya sendiri, ini bukan pertama kalinya ia melihat wajah asli Nayu. Jadi wajar saja kalau keterkejutannya tidak terlalu besar.


“…Mouu, Haru-san bodoh.”


“Hah? Kenapa aku tiba-tiba dimaki?”


“Nggak tahu.”


Saat Haruya menoleh, Yuna memalingkan wajahnya dengan kesal.


Kenapa, ya…? Kayaknya Nayu-san lagi bad mood…


Dari belakang, Haruya benar-benar bisa merasakan aura negatifnya. Tak jauh dari stasiun, mereka menemukan sebuah toko olahraga. Karena sore hari cukup ramai, beberapa pelanggan terlihat di dalam toko. Sepertinya toko itu cukup laris.


“Rasanya nostalgik ya…”


Di depan toko, Yuna terlihat larut dalam pikirannya. Mungkin saat SMP dulu, ia sering berurusan dengan toko olahraga seperti ini. Mereka pun segera masuk ke dalam.


“Wah, ternyata wristband banyak banget jenisnya.”


“Haru-san belum pernah pakai wristband?”


“Belum.”


Mereka melihat-lihat rak wristband, namun jumlahnya begitu banyak sampai membingungkan.


“Hm… ini bikin bingung juga.”


“Ada apa?”


Pertanyaan Haruya tak langsung dijawab. Yuna tampak tenggelam dalam dunianya sendiri, menimbang dua produk di tangannya. Haruya berdiri di sampingnya dan bertanya lagi dengan nada santai.


“Yang mana kelihatannya lebih bagus?”


“Hmm… dua-duanya versi terbaru, makanya jadi bingung.”


Dugaannya benar.


Wristband yang dipegang Yuna berwarna hitam dan biru. Soal performa atau detail lainnya, Haruya tidak begitu paham. Tanpa banyak pikir, ia mengambil kedua wristband itu dari tangan Yuna, lalu mengambil satu lagi secara acak dan menuju kasir.


“Eh, Haru-san… tunggu, kamu ngapain?”


“Kali ini, biar aku yang traktir dua-duanya. Dan yang ini, aku mau beli buat diriku sendiri.”


“E-eh, tapi itu kebanyakan…”


“Nayu-san sudah sering nolong aku. Lagipula, aku juga mau balas yang semalam.”


Mendengar itu, Nayu terdiam sejenak lalu mengangguk pelan.


“K-kalau begitu… aku terima ya… makasih.”


Haruya membawa tiga wristband ke kasir. Total harganya sekitar 3.000 yen. Sedikit lebih mahal dari yang ia kira.


***


Mereka berpindah ke taman dekat situ dan duduk santai di bangku.


Begitu wristband dikeluarkan, Yuna kembali menatap yang biru dan hitam dengan saksama. Apa wristband itu punya efek hipnosis, ya?


Haruya tak bisa menahan senyum kecil.


“Nayu-san, sekalian aja dicoba dipakai.”


“…Ah. Maaf, aku jarang beli wristband kelas begini, jadi kebablasan sampai lupa diri…”


Setelah sempat memegangi kepalanya, ia akhirnya mengangguk.


“Ahaha… berarti sebagus itu ya, wristband ini…”


“Iya. Soalnya mahal, kan? Katanya daya serap keringatnya bagus, pasti teksturnya juga enak…”


“Ah—Nayu-san. Sini, kasih.”


Karena kelihatannya ia bakal mulai bimbang lagi, Haruya pun kehabisan kesabaran dan langsung membuka kemasan wristband biru. Teksturnya lembut dan nyaman—pantas saja harganya mahal.


“Keluarin pergelangan tanganmu.”


“Eh…?”


Yuna berseru pelan sambil menatap Haruya.


“Bukannya aku nggak bisa pasang sendiri, tapi…”


“Nggak, Nayu-san. Aku yakin kamu bakal mikir dulu mau pakai yang hitam atau biru, terus malah bimbang lagi.”


“…S-sampai segitunya.”


Namun ia tak bisa sepenuhnya menyangkal. Itulah sebabnya Haruya tak bisa tinggal diam dan memutuskan memasangkan wristband itu sendiri.


Saat Haruya menatapnya tanpa berkedip, Yuna akhirnya menyerah dan menghela napas.


“…Ya sudahlah.”


Meski memalingkan wajah, ia dengan patuh mengulurkan pergelangan tangannya. Lengan Yuna putih bersih dan tampak anggun. Haruya membuka wristband biru lalu memakaikannya ke pergelangan tangannya.


“…Ngh.”


Mungkin karena geli, suara lembut yang agak menggoda itu sesaat terdengar di telinganya. Karena ditahan, suaranya justru terdengar makin sensual, membuat Haruya refleks memalingkan pandangan.


“L-lihat, cocok kok. Yang hitam juga pasti cocok, tapi entah kenapa menurutku kamu lebih cocok biru.”


Bahaya. Ekspresinya mungkin masih normal, tapi suaranya terdengar agak tergesa.


“K-kenapa kamu kelihatan santai banget sih…”


Dengan suara pelan yang hampir tak terdengar, Yuna bergumam sambil telinganya memerah. Ia merasa kesal. Karena Haruya terlihat terlalu tenang.


(…Nggak seru. Dia sama sekali nggak kelihatan gugup meski melihat wajah asliku… dan bisa-bisanya dengan santai memasangkan wristband ke perempuan. Hal memalukan kayak gitu malah dilakuin tanpa ragu… Haru-san.)


Mengingat kejadian barusan saja sudah cukup membuat wajahnya panas. Ia ingin Haruya merasakan hal yang sama.


Dengan senyum miring, sudut bibirnya terangkat.


“…Ngomong-ngomong, Haru-san. Kamu tadi bilang beli buat dirimu sendiri, kan? Wristband biru. Sama kayak punyaku.”


“Ah—iya juga, ya.”


Bukan disengaja. Haruya cuma mengambil wristband yang paling dekat. Ternyata malah jadi sepasang.


“Sebagai balasan karena tadi kamu memakaikanku, sekarang gantian aku yang memakaikan punyamu.”


“I-itu nggak usah, deh…”


Entah kenapa wajahnya terasa agak menyeramkan, membuat Haruya ingin menolak.


“Nggak apa-apa. Jangan sungkan, Haru-san.”


Tekanan yang tak memberi pilihan. 


Ia tersenyum, tapi senyumnya tak sampai ke mata.


Menghadapi itu, Haruya tak mampu mengucapkan penolakan.


“…B-baiklah.”


“Nah, gitu dong.”


Yuna membuka wristband biru dan memakaikannya ke pergelangan tangan Haruya. Teksturnya pas di kulit, terasa cukup nyaman.


(Nah, sekarang kamu juga merasakan hal yang sama denganku, kan?)


Namun saat Yuna mengangkat wajahnya dengan ekspresi dingin—wajah Haruya tepat berada di depan matanya.


Terlalu dekat. Jarak mereka nyaris tak ada.


Yuna refleks memalingkan wajah dengan cepat, lalu membelakanginya.


(Kenapa adegan klise kayak gini muncul di saat begini… ini jadinya kayak aku dan Haru-san pasangan yang lagi pacaran aja…)


Lalu pandangannya jatuh ke pergelangan tangannya sendiri dan pergelangan tangan Haruya.


Di sanalah ia menyadarinya—terlambat.


Barang kembar.


Kalau laki-laki dan perempuan memakai benda yang sama, apalagi saling memakaikan…itu sudah persis seperti sepasang kekasih.


Panas menjalar ke wajahnya. Ia membeku karena malu. Haruya tak tahu harus berkata apa, lalu tanpa pikir panjang berkata,


“E-eh… kita kembar, ya, Nayu-san.”


Mendengarnya, Yuna langsung berkata cepat,


“A-aku pulang… nanti aku hubungi lagi!”


Dan ia pun bergegas pergi dari tempat itu.


“Eh, kenapa tiba-tiba begitu?!”


“Mana aku tahu… Haru-san bodoh.”


Sambil menjulurkan lidahnya, ia pun pergi begitu saja, seperti badai.


(Gawat… jangan-jangan aku melakukan sesuatu yang bikin dia benci lagi.)


Dengan bahu terkulai, Haruya pulang ke rumah.


Malam itu, sebuah pesan masuk darinya berisi alamat SMA Eiga. Ternyata itu adalah lokasi pertandingan basket.


(Yah… itu sih sekolah tempat aku belajar.)


Melihat balasan darinya, Haruya akhirnya bisa bernapas lega.


Sepertinya… ia belum dibenci.


***


(Hah… Haru-san itu kadang terlalu nggak sadar diri. Bukan berarti aku suka, tapi dia sama sekali nggak peka sama perasaan perempuan.)


Padahal dia suka baca manga shoujo… aneh juga.


Memikirkan itu, Yuna terkekeh pelan.


Malam hari. Setelah selesai bersiap untuk tidur, Yuna memainkan ponselnya sambil mengirim pesan ke Sara dan Rin. Ia memberitahu bahwa ia sudah masuk klub basket. Dan juga bahwa akan ada pertandingan dalam waktu dekat, dan ia ingin mereka datang menonton.


(…Eh, langsung dibaca.)


Padahal pesannya sudah terbaca, balasan tak kunjung datang. Padahal topiknya seharusnya bikin mereka langsung bereaksi.


Yuna pun memiringkan kepala, bingung.


Namun, wajar saja. Sara teringat kejadian belum lama ini.


(Eh, aku baru dengar soal basket dari Akasaki-san… terus Yuna-san langsung masuk klub basket… jangan-jangan… ah, nggak mungkin. Pasti cuma kebetulan.)


Sementara Rin juga berpikir—


(Lho? Seorang Onii-san juga tadi ngomongin basket… masa sih… ah, kebetulan kayak gitu terlalu dibuat-buat.)


Keduanya sama-sama teringat wajah Haruya, sehingga butuh waktu untuk membalas pesan.


Beberapa menit kemudian, pesan dari Sara dan Rin akhirnya masuk—keduanya bilang akan datang menonton pertandingan.


Ekspresi Yuna langsung melunak. Namun tepat di saat itu—


(Eh? Walaupun aku sudah masuk klub basket… aku kan masih anggota baru. Jangan-jangan aku nggak bisa main di pertandingan?)


Menyadari hal itu, Yuna langsung panik. Ia sudah mengundang Haruya, Sara, dan Rin. Sekarang tak mungkin mundur.


Kalau sampai ternyata ia tidak bisa main… itu bakal jadi yang terburuk. Dan kemungkinan itu cukup besar.


(Ah—jangan-jangan aku ceroboh…)


Di tempat itu juga, Yuna hanya bisa tersenyum pahit.


Keesokan harinya, ia segera menemui wali kelas untuk memastikan soal itu. Ternyata ia diizinkan bermain—meski hanya di set terakhir.


Kenapa sang guru bisa secepat itu memahami keadaannya, Yuna sendiri tak habis pikir.


(Yah, yang penting aku sudah dapat kepastian bisa main. Onoi… kali ini aku benar-benar akan menghadapimu juga.)


Dalam hati, Yuna berbicara pada Onoi yang tak ada di sana.


Waktu menuju pertandingan Eiga vs Miyaza tinggal sedikit lagi.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close