NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Naze ka S-kyuu Bijotachi no Wadai ni Ore ga Agaru Ken V2 Chapter 1

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


Chapter 1

Para Gadis S-Class Beauty dan Kegiatan Club

Panas yang dipancarkan matahari yang bersinar terik menguasai seluruh ruang kelas. Meskipun jendela-jendela sudah dibuka untuk sirkulasi udara, banyak siswa yang menjadikan tangan mereka sebagai kipas dan mengibas-ngibaskannya. Di antara para siswi, bahkan ada yang terlihat dengan telaten mengipasi diri mereka menggunakan alas buku.


──Juni.


Musim yang mulai dipenuhi tanda-tanda hujan, namun hari ini terasa sangat panas. Akasaki Haruya menampakkan sedikit keringat di dahinya sambil berpura-pura tidur di atas meja.


Saat ia hampir memegangi kepalanya karena gerah yang lembap dan tidak nyaman, tiga suara ceria tiba-tiba menggema dari dekat tempat duduknya.


"──Panas banget. Yunarin, kasih angin dong."


"Ribet sih sebenarnya……tapi ya sudahlah. Sara, kamu nggak kepanasan?"


"Terima kasih atas perhatiannya, Yuna-san. Umm… aku nggak apa-apa, kok."


Meski berkata begitu, Sara tetap mengibas-ngibaskan tangannya pelan untuk mengirimkan angin ke arah dirinya sendiri.


Melihat hal itu, Rin akhirnya membuka mulut.


"Sarachin, nggak usah sungkan. …Eh iya, Yunarin. Gimana kalau kita saling kipasin aja?"


"Benar juga, itu lebih enak."


"…Baik!"


Yuna mengipasi Sara, Sara mengipasi Rin, dan Rin mengipasi Yuna.


Tiga gadis itu—para “S-Class Beauty” yang menjadi bunga tertinggi di kelas—terlihat seperti lukisan hanya dengan saling mengipasi.


Faktanya, beberapa teman sekelas, baik laki-laki maupun perempuan, tampak memancarkan cahaya di mata mereka saat melihat pemandangan sepele tersebut. Dari berbagai arah dekat kursi Haruya, terdengar suara siswa yang bersorak pelan.


"Keren banget hari ini juga."

"Body-nya mantep."

"Nggak tembus kan? Nggak tembus kan?"


Sambil merasa sedikit muak dengan suara-suara itu, Haruya memejamkan mata. Namun tiba-tiba, bahunya ditepuk pelan dari belakang, membuatnya menoleh.


"Kenapa sih kamu melototin mereka bertiga, Akasaki?"


Pemilik suara itu adalah Kazamiya Yuuki dari bangku belakang, yang memperlihatkan senyum dengan gigi putihnya.


"Aku nggak melototin siapa pun. Tadi cuma mau tidur."


"Ah, bohong banget. Tuh, Himekawa-san barusan nengok ke sini."


"Eh?!"


Tanpa sadar, Haruya mengeluarkan suara terkejut.


──Himekawa Sara. 


Akhir-akhir ini, Haruya menjadi terlalu sensitif terhadap nama itu. Karena suatu alasan, Haruya berusaha berperan sebagai ‘udara’ di kelas, namun tanpa ia kehendaki, hubungannya dengan Sara justru semakin dekat. Lebih parahnya lagi, identitas aslinya pun sudah ketahuan olehnya, membuat kehidupan sekolah Haruya dipenuhi rasa deg-degan.


Bagi Haruya, keberadaan Sara benar-benar merepotkan pikirannya. Haruya buru-buru melirik ke arah Sara, tetapi pandangannya tidak tertuju ke sini. Ia tampak sedang tertawa dan mengobrol seru dengan para S-Class Beauty lainnya. Sepertinya ia hanya sedang dipancing.


"Kazamiya…"


"Hahaha, kena jebak. Akasaki, kamu memang perhatian banget sama Himekawa-san, kan."


"……"


Melihat senyum licik yang sama sekali tak merasa bersalah itu, Haruya tanpa sadar merasa kesal. Meski berkali-kali ia bilang “bukan begitu”, insting Kazamiya terlalu tajam. 


Merasa percakapan ini berbahaya jika diteruskan, Haruya memalingkan wajah ke depan. Tepat saat itu, wali kelas mereka, Tokoyami Meika, melangkah masuk ke ruang kelas. Seorang guru bertubuh tinggi dengan sorot mata tajam yang memancarkan ketegasan.


Para siswa langsung terdiam, menahan napas. Meika membuka mulut setelah memastikan semua perhatian tertuju padanya.


"Selamat pagi. Hari ini kita mulai homeroom lebih awal."


Melihat jam, waktunya memang sekitar sepuluh menit lebih cepat dari biasanya. Pasti ada pengumuman.


Mendengar ucapannya, para siswa kembali ke tempat duduk masing-masing. Sementara itu, Haruya menekan dadanya, merasakan jantungnya berdebar kencang, keringat dingin mengalir di dalam hatinya.


(…Setiap kali topiknya Himekawa-san, aku jadi nggak bisa tenang. Tadi itu bahaya banget…)


Rasa kantuknya langsung lenyap. Topik itu terlalu sensitif baginya—sesuatu yang sama sekali tidak ingin ia bahas.


Lagipula, kenapa Kazamiya selalu saja mengganggunya?


Haruya bukan tipe orang yang ramah di sekolah. Ia selalu bersikap dingin saat diajak bicara, bahkan bisa dibilang tidak menyenangkan. Ia berusaha menghapus keberadaannya, memancarkan aura negatif seolah berkata “biarkan aku sendiri”. Poni rambutnya menutupi pandangan, dan ia jarang menatap mata orang lain. Namun, ada satu siswa yang tetap menyapanya setiap hari—Kazamiya Yuuki dari bangku belakang.


(Kazamiya nggak terasing di kelas, tapi mungkin dia memang aneh… Kalau nggak, mana mungkin dia sebegitu seringnya ngajak aku bicara. Jangan-jangan dia suka sama aku? Eh, masa sih?)


Mana mungkin. 


Sambil menertawakan pikiran bodoh itu dalam hati, Haruya melirik ke arah papan tulis. Tokoyami-sensei sedang menyampaikan pengumuman.

Ia mendengarkan setengah hati.


"…Katanya, jumlah anggota baru di hampir semua klub lebih sedikit dibanding tahun-tahun sebelumnya. Tapi masih Juni, belum terlambat. Siswa yang belum ikut klub, usahakan untuk bergabung. Memang tidak wajib, tapi masa muda itu cuma sekali, tahu? Bisa saja kalau dulu aku ikut klub, aku dapat pertemuan indah. Kalian nggak mau menyesal, kan? Kalau aku bisa kembali ke masa itu… ha, haha."


Dengan nada agak suram, Meika bergumam sinis. Sepertinya wali kelas mereka cukup iri dengan kata “masa muda”.


Intinya, sebagian besar klub sedang kekurangan anggota baru. Itulah sebabnya para siswa kelas satu didorong untuk bergabung.


Karena SMA Eiga adalah sekolah unggulan, hampir tidak ada klub dengan prestasi mencolok, tapi pihak sekolah tampaknya ingin para siswa tetap aktif berklub.


(…Sensei ini auranya gelap banget.)

(Pasti lagi panik karena kelewat umur nikah… jelas kelihatan iri sama masa muda.)


Mungkin menyadari suasana itu, Meika berdeham agak keras lalu melanjutkan.


"…Pokoknya, yang belum ikut klub, silakan dipertimbangkan. Sekarang masih belum terlambat. Itu saja. Siapkan diri untuk jam pelajaran pertama."


Dengan bunyi sepatu haknya yang beradu, Meika meninggalkan kelas.


Begitu sosoknya menghilang, kelas langsung ramai.


"…Klub ya. Kalau olahraga sih aku nggak sanggup."


"Eh, kamu kan anak tenis. Murid barunya berapa?"


"Kalau aku sih paling masuk klub budaya."


Obrolan soal klub memenuhi ruang kelas.


Sambil menyiapkan pelajaran pertama, para siswa mengobrol santai. Di tengah itu, suara jernih seperti lonceng terdengar dari dekat kursi Haruya.


"──Klub, ya. Sarachin sama Yunarin tertarik nggak?"


"Aku belum pernah memikirkannya. Kalau Yuna-san?"


"…Nggak. Aku juga kayaknya nggak tertarik."


Kohinata Rin, Himekawa Sara, dan Takamori Yuna, tiga gadis berparas luar biasa yang oleh sebagian kelas dijuluki S-Class beauty.


Haruya menelungkupkan wajahnya di meja sambil mendengarkan obrolan mereka dengan samar. Bukannya ingin menguping, tapi suara mereka memang masuk ke telinganya.


(…Klub, ya.)


Ia tidak berniat bergabung ke klub mana pun.


Jawabannya sudah jelas sejak awal. Kenangan pahit dari masa SMP terlintas di kepalanya, membuat Haruya menggigit bibir bawahnya. Ia menggelengkan kepala untuk mengusir ingatan itu, namun pembicaraan para S-Class beauty terus berlanjut.


"──Kayaknya nggak ada yang mau ikut klub, ya. Aku sendiri sibuk kerja part-time, nggak ada waktu. Terus Sarachin juga lagi jatuh cinta, jadi nggak ada waktu juga♡"


Dengan wajah puas, Rin menggoda Sara.


Sara sedikit memerah pipinya, lalu seolah mengalihkan pembicaraan dengan melempar pertanyaan ke Yuna.


"…B-bukan begitu, kok. Yuna-san sendiri pernah ikut klub atau semacamnya?"


"Ah, itu jelas mengalihkan pembicaraan. Kamu memang tetap imut ya, Sarachin!"


Sambil memeluk Sara, Rin mengalihkan perhatiannya ke Yuna. Tatapan Sara dan Rin tertuju pada Yuna, namun sikapnya terlihat agak berbeda dari biasanya.


Sejak tadi, Yuna memasang ekspresi murung dan tampak kurang bersemangat ikut dalam percakapan. Ia menarik napas pelan sebelum akhirnya berkata,


"Waktu SMP aku sempat main basket sebentar. Tapi sekarang sudah nggak tertarik lagi… dan berhenti begitu saja."


Dengan senyum kecil yang terasa hampa, Yuna menampilkan ekspresi pasrah dan kesepian.


(…Sepertinya ini topik yang sebaiknya nggak disentuh.)


(Iya, jelas banget Yunarin lagi goyah.)


Sara dan Rin saling bertukar pandang lalu mengangguk.


Dari ucapan Yuna, mereka berdua menangkap bahwa ada bagian sensitif dalam diri Yuna yang berkaitan langsung dengan klub. Melihat sikap Yuna sekarang, jelas bagi mereka bahwa ada sesuatu yang terjadi di masa lalunya saat ikut klub.


Sementara Haruya mendengarkan semua itu setengah sadar, bahunya kembali ditepuk pelan dari belakang. Tak perlu dicek siapa pelakunya. Ia mengangkat tubuhnya yang terasa berat dan menoleh.


"Wah, ekspresi kamu kelihatan super nggak suka ya, Akasaki."


Kazamiya Yuuki, teman sekelas yang duduk di bangku belakang.


"Kalau gitu, nggak usah ngajak ngomong aku."


"Nggak bisa. Soalnya menyenangkan."


"Harusnya dibilang menyedihkan, kan?"


"Haha. Ngomong-ngomong, Akasaki nggak kepikiran masuk klub?"


Haruya sempat mengira ia akan kembali dicurigai soal Himekawa-san atau ditanyai soal para S-Class beauty, jadi ia tanpa sadar menghela napas lega.


"…Kalau klub, aku nggak tertarik."


"Waktu SMP kamu nggak ikut apa-apa?"


Nada bicaranya yang seolah mengandung maksud membuat Haruya refleks tercekat.


"…Nggak ada."


Ia menjawab samar, mengaburkan pembicaraan. Melihat reaksinya, Kazamiya hanya bergumam, "Ya sudah lah."


Sejujurnya, topik klub adalah hal yang paling tidak ingin disentuh oleh Haruya. Karena klub itulah alasan yang membentuk dirinya menjadi seperti sekarang. Keluarga, teman, dan sesuatu yang memisahkan semuanya—semuanya terhubung langsung dengan klub. Kata “klub” dipenuhi kenangan buruk baginya.


Saat wajahnya menegang dan keringat dingin mengalir, Kazamiya melanjutkan dengan senyum licik.


"Eh, Himekawa-san lagi lihat ke sini."


"Eh?"


Kesadarannya langsung tersentak, tapi pasti ini cuma lelucon biasa. Pasti begitu.


"Aku nggak bakal ketipu lagi."


"Beneran, dia lihat ke sini kok."


"Nggak mungkin—"


Namun saat Haruya menoleh ke arah kursi Sara, mata mereka benar-benar bertemu.


(…Ternyata mungkin.)


Meski bagi Sara, yang terlihat mungkin hanya poni panjang Haruya saja….


"……"


Begitu menyadari tatapan mereka bertemu, Sara langsung memalingkan wajah.


"Akasaki, aku dukung kamu, ya."


"Bukan......ini salah paham."


Sambil menyangkal, Haruya kembali menghadap ke depan.


Itu adalah bentuk mundur strategis. Jika ia mencoba mati-matian menutupi sesuatu, justru akan ketahuan. Kazamiya punya insting yang tajam—lawan yang tak boleh diremehkan.


Sambil meyakinkan diri sendiri, Haruya kembali menelungkupkan wajah di meja. Tepat saat ia hendak melanjutkan pura-pura tidur, suara seperti lonceng kembali terdengar.


"──Ngomong-ngomong, Sarachin. Barusan wajahmu kayak gadis yang lagi jatuh cinta. Gimana perkembangan cintanya?"


"…E-eh, topik itu dilarang!!"


"Eh~, Yunarin, kamu juga dong, bilang sesuatu."


"Ah, iya. Sara, kalau ada perkembangan, bilang ya."


"I-itu… b-baiklah."


Sara menjawab sambil menyatukan ujung jari telunjuknya, menatap ke atas dengan malu.


Setelah itu, para S-Class beauty kembali mengobrol santai, namun Yuna terlihat ceria secara dipaksakan.


***


Aspal di atap sekolah terasa panas. Udara lembap yang gerah menyelimuti seluruh tubuh. Saat jam makan siang tiba, Haruya dengan hati-hati menuju ke atap sekolah.


Pada dasarnya, atap dilarang dimasuki, tetapi karena kuncinya rusak, ia sering ke sana untuk menikmati pemandangan dan udara terbaik. 


Meski begitu, hari ini ia datang karena alasan lain.


"──Akasaki-san, aku sudah menunggu."


"…A-ah, iya."


Sara—salah satu S-Class beauty di kelas—sudah lebih dulu berada di sana. Sejak identitas Haruya ketahuan olehnya, mereka jadi rutin bertemu di atap seperti ini.


Sambil menghela napas dalam hati, Haruya duduk di samping Sara.


(Aku berusaha nggak terlalu sadar sih, tapi… aku susah menatap Himekawa-san langsung.)


Sedikit demi sedikit, Haruya mulai menyadari Sara sebagai lawan jenis. Apalagi setelah insiden menyelesaikan masalah perjodohan Sara, di mana ia dicium di pipi olehnya. Hal se-stimulan itu mana mungkin bisa dilupakan. Katanya sih itu hanya sebagai tanda terima kasih, tapi Haruya tahu itu tidak sepenuhnya benar.


Sambil menenangkan diri dengan tangan di dada, Haruya membuka kotak bekalnya.


"──Eh? Kamu bawa bekal?"


"I-iya. Selama ini aku selalu dapat lauk dari Himekawa-san, jadi rasanya nggak enak kalau terus-terusan begitu."


"T-tidak perlu sampai begitu… nggak usah repot-repot memikirkan hal seperti itu…"


Selama ini, Haruya selalu mendapatkan lauk dari bekal Sara.


Sejak mereka mulai berkumpul di atap saat makan siang, Sara—mungkin karena tak tega melihat pola makan Haruya yang berantakan—sering ikut campur dengan caranya sendiri. Kali ini, Haruya berpikir untuk membalas kebaikan itu dengan membagikan bekalnya sendiri.


(Ya… selama ini aku selalu dibagiin bekal. Masa cuma begini aja nggak dibalas…)


Saat melihat isi bekalnya, mata Sara berbinar dan ia pun membuka mulut.


"…Ini buatan sendiri?"


"Y-ya. Sebagian sih pakai makanan beku. Kalau kamu nggak suka dibalas pakai bekal, bilang aja. Aku bisa ganti yang lain."


"…Ti-tidak. Ini sudah bagus…"


Dengan wajah menunduk, Sara menjawab pelan.


"Kalau begitu, silakan ambil lauk yang kamu suka."


Bekal yang dibuat hari ini memang untuk Sara. Bukan untuk dimakan Haruya sendiri. Menu utamanya untuk dirinya hanyalah sandwich—yang ia beli di minimarket pagi ini.


"Kalau begitu… aku ambil sedikit saja."


"Kamu nggak perlu sungkan—"


"Bukan itu maksudnya… Akasaki-san, jangan-jangan kamu mau mengenyangkan diri cuma dengan makanan minimarket lagi?"


Sara menatap Haruya dengan pandangan datar. Rupanya semuanya sudah ketahuan.


Mendengar nada bicaranya yang penuh keyakinan, Haruya pun menyerah.


"Akasaki-san itu mudah terbaca. Jadi, bagaimana kalau kita tukar bekal dan makan bersama?"


"…Tapi kalau begitu, maksudku membalas jadi—"


"Aku sudah bilang, aku nggak perlu balasan. Aku melakukannya karena aku mau."


"Tapi…"


Walaupun begitu tetap saja, hatinya jadi nggak tenang.


Seolah mengerti perasaannya, Sara berkata, "Kalau begitu," sambil mengangkat jari telunjuknya.


"Kalau mau balas budi, tetaplah jadi temanku ke depannya. Ya, Akasaki-san?"


"……K-kalau cuma begitu sih, ya boleh."


Dihadapkan pada senyum cerah itu, Haruya tak sanggup mengatakan tidak.


(Sial… senyum gadis cantik memang curang. Jangan menatapku dengan mata sepolos itu!)


Sara adalah gadis yang penuh mimpi, dan ketika jatuh cinta, ia jadi buta. Karena itu pula, tanpa sedikit pun keraguan, ia menatap Haruya dengan kepercayaan penuh. Justru itulah yang paling menusuk hati Haruya.


"…Oh iya, Akasaki-san."


"I-iya!"


Nada suara Sara yang berbeda dari biasanya membuat Haruya refleks menegakkan punggung.


"E-ehm… di kelas kamu kelihatannya selalu tidur, itu cuma pura-pura atau benar-benar tidur?"


Saat homeroom atau waktu istirahat, di luar jam pelajaran, Haruya memang selalu menelungkupkan wajahnya di meja.


Sara menanyakan itu dengan ekspresi sangat serius.


(Wajahnya… terlalu dekat, Himekawa-san…)


Karena gugup saat Sara mendekat, Haruya hampir saja menjawab jujur, “pura-pura tidur”.


(Tunggu. Kalau aku bilang pura-pura tidur, artinya aku tahu Himekawa-san pernah membicarakanku dengan teman-teman sekelas…)


Di detik-detik terakhir, Haruya berhasil menenangkan diri dan melihat situasi dengan jernih. Selama ini, dalam obrolannya dengan para S-Class beauty lainnya, Sara sering menyebut Haruya sebagai “pasangan takdir”, “ideal”, atau “keren”.


Kalau Sara tahu bahwa semua itu sudah terdengar oleh orangnya sendiri…hanya membayangkannya saja sudah membuat bulu kuduk berdiri.


(Kalau aku di posisi Himekawa-san… aku bakal mati karena malu. Pasti.)


Itu sama saja seperti pengakuan cinta secara tidak langsung.


Dengan panik, Haruya pun menutupinya.


"T-tentu saja aku benar-benar tidur."


"Kenapa kamu malah kelihatan bangga begitu…"


Entah kenapa, Haruya menjawab sambil membusungkan dada. Padahal ia sendiri juga tidak tahu apa arti “benar-benar tidur” yang ia ucapkan.


Terbawa suasana, Haruya melanjutkan.


"Aku tidur sungguhan kalau di luar jam pelajaran. Tidur itu penting."


"I-iya… tidur memang penting."


Dengan mata membulat, Sara berbisik, "…Syukurlah," sambil meletakkan tangan di dadanya.


Melihat Sara tampak lega, Haruya pun menatapnya dengan perasaan tenang.


(Syukurlah… aku berhasil lolos dari situasi berbahaya. Mulai sekarang, aku cuma bisa berdoa supaya namaku nggak muncul lagi dalam obrolan di kelas.)


Begitulah Haruya berdoa dalam hati.


Sebagai siswa figuran yang ingin tetap tidak menonjol, ia benar-benar ingin menghindari menjadi topik pembicaraan para S-Class beauty yang selalu jadi pusat perhatian. Namun, berlawanan dengan harapannya, di dalam hati Sara justru terlintas pikiran ini—


(Syukurlah. Sepertinya Akasaki-san tidak mendengar obrolan cinta kami. Aku sempat khawatir, tapi sampai dia memasang wajah bangga dan bilang benar-benar tidur, berarti dia memang tidak tahu. Kalau begitu, aku bisa lebih jauh membahas kisah cintaku dengan Rin-san dan Yuna-san… ah, rasanya menyenangkan bisa membicarakan orang yang kusukai.)


Haruya tidak tahu. Bahwa ke depannya, ia akan menjalani kehidupan sekolah yang jauh lebih menegangkan dan mendebarkan dari sebelumnya.


Tanpa menyadari itu sama sekali, Haruya hanya bisa berharap Sara segera menyadari bahwa ia terlalu melebih-lebihkan dirinya.


(Ya… setidaknya aku sudah dapat janji dari Himekawa-san bahwa dia nggak akan membocorkan jati diriku ke kelas. Kalau aku sampai terang-terangan dijauhi atau dibenci olehnya sekarang, itu justru bakal jadi bahan omongan para S-Class beauty dan bikin aku makin susah hidup di kelas.)


"Eh, katanya laki-laki yang disukai Himekawa-san itu PHP dan ternyata brengsek."

"Parah banget. Nggak bakal aku maafin…"

"Padahal Himekawa-san sudah melirik dia! Kita cari dan bunuh saja…!"

"Bikin perempuan nangis, benar-benar bajingan."


Begitulah kira-kira. Percakapan seperti itu di dalam kelas terbayang dengan sangat jelas di kepalanya. Kalau sampai terjadi, suasana kelas pasti bakal jadi neraka baginya. Kalau cuma disebut “ideal” atau “keren”, rasa malunya masih bisa ditahan. Tapi kalau sudah sampai “rendahan” atau “brengsek”, itu sudah level bahaya—bahkan terasa mengancam nyawa. Lagipula, mental seorang figuran tidaklah sekuat itu.


──Maka dari itu.


(Ke depannya, bersikap biasa saja ke Himekawa-san sudah cukup.)


Bersikap alami, sewajarnya. Dengan begitu, penilaian Sara terhadap dirinya pasti akan membaik—begitu pikir Haruya dengan santainya.



Mereka pun menghabiskan waktu makan siang sambil saling menukar lauk bekal. Sambil mengunyah telur dadar dengan lahap, Sara menoleh ke arah Haruya dan membuka mulut.


"Ngomong-ngomong, Akasaki-san ikut klub apa?"


Kata “klub” yang terlontar begitu tiba-tiba membuat Haruya sempat tersedak.


"Nggak, aku nggak ikut apa pun. Dan nggak ada rencana buat masuk juga. Kalau Himekawa-san?"


"Aku juga nggak ikut dan nggak berencana masuk. Tapi… aku punya sedikit rasa kagum."


Menatap langit biru cerah, Sara melanjutkan.


"Soalnya, seperti yang guru bilang, klub itu menurutku adalah satu halaman masa muda. Persahabatan, cinta yang goyah… menjalaninya sambil menyeimbangkan semuanya, baik klub olahraga maupun budaya, kelihatannya menyenangkan. Kamu nggak berpikir begitu, Akasaki-san?"


Diterpa sinar matahari, Sara tersenyum lembut seperti cahaya yang menembus dedaunan. Namun, Haruya menjawab dengan suara yang menekan emosinya.


"Persahabatan dan cinta bisa berjalan bersamaan di klub? Itu mustahil."


"Eh…"


Mungkin karena suasana Haruya tiba-tiba menggelap. Sara membelalakkan mata dan terdiam.


"A-ah, maaf…"


"T-tidak…"


Haruya merasa bersalah karena menciptakan suasana canggung. Namun lebih dari itu, ia tak bisa menyingkirkan rasa tidak nyaman karena kenangan lama yang kembali menguasai pikirannya.


(Tenang… aku sudah nggak ikut klub lagi. Tenang.)


Ia terus mengulanginya dalam hati.


Di sampingnya, Sara menatap profil wajah Haruya dengan tenang.


(…Apa yang dipendam Akasaki-san ternyata ada hubungannya dengan kegiatan klub. Mungkin Yuna-san juga sama. Andai aku bisa membantu…)


Menyesali ucapannya sendiri, Sara mengepalkan tangannya erat.


***


Selain kesalahan kecil di jam makan siang, hari itu berlalu tanpa kejadian lain sampai pulang sekolah. Mungkin karena topik klub terlalu sering muncul, kenangan-kenangan buruk terus saja bermunculan.


Saat berjalan menuju loker sepatu sambil melirik ke luar jendela, terlihat salah satu klub olahraga sedang giat berlari.


──Satu, dua, satu, dua.


Suara terkoordinasi itu menggema di telinga Haruya.


(Hah… pulang saja tanpa mikir apa-apa, lalu menenangkan diri dengan manga shoujo…)


Poni panjang yang menutupi pandangannya justru membuat hatinya lebih tenang di lingkungan sekolah.


Saat tiba di lantai satu, ia melihat dua siswa sedang berbincang serius di depan loker sepatunya.


(…Kalau mereka nggak minggir, aku nggak bisa pulang.)


Begitu gumamnya dalam hati, tapi keduanya tampak sedang beradu argumen dan sulit untuk didekati.


Haruya pun mengamati dari kejauhan.


"──Takamori, aku mau nanya… kamu sudah nggak main basket lagi?"


"Onoi… kenapa kamu ada di sini…"


Siswa bernama Onoi itu sepertinya berasal dari sekolah lain. Seragamnya berbeda, jadi jelas bukan dari sekolah ini.


"Kebetulan sekolah kami bakal tanding lawan Eiga. Aku habis ikut guru pembina buat salam. Aku datang naik sepeda, tapi sensei pulangnya naik mobil duluan."


"O-oh… begitu…"


"Terus kebetulan ketemu kamu. Jadi aku tanya lagi—Takamori benar-benar berhenti basket?"


"………Berisik."


Meski kini bersekolah di tempat berbeda, jelas mereka saling mengenal sejak lama. Pertemuan tak terduga, lalu suasana tegang. Kalau diringkas, kira-kira begitulah situasinya.


(…Berat. Ini bukan suasana yang bisa dimasuki.)


Tak mungkin baginya menyela dengan, “Maaf, itu loker sepatuku.”

Tatapan tajam pasti akan langsung meluncur ke arahnya. Membayangkannya saja sudah menyeramkan.


(Tolong jangan bertengkar tepat di depan loker sepatuku…)


Sambil berteriak dalam hati, Haruya hanya bisa tersenyum kecut.


Tak lama kemudian, siswa Eiga bernama Takamori berkata dengan nada keras, "Minggir," lalu melewati siswa sekolah lain itu.


"………Takamori, aku ingin bertanding denganmu."


"Telat. Mulutmu nggak pantas bilang itu sekarang."


Hanya itu yang mereka ucapkan sebelum Takamori pergi.


Siswa sekolah lain yang tertinggal mengepalkan tangannya erat, wajahnya penuh penyesalan, lalu pergi menyusul.


(…Sebenarnya apa tadi itu?)


Ia ingin berkomentar, tapi mendengar kata “basket” justru menimbulkan rasa nostalgia.


Seketika, kenangan masa lalu berputar ulang. Gerakan yang lentur. Teknik yang matang. Karisma yang menyatukan tim.


Haruya teringat seorang pemain yang bersinar paling terang saat ia menonton pertandingan basket di masa SMP. Pemain yang memberinya kembali “api” saat ia hampir kehilangan semangat terhadap klub. Karena panas itulah, dulu ia bisa berjuang mati-matian di kegiatan klub.


Tenggelam dalam nostalgia yang sendu, Haruya melangkah pulang. Saat itu, ponsel di saku kanan celananya bergetar. Ia mengeluarkannya dan melihat notifikasi. Ada pesan baru masuk.


Nayu: Maaf mendadak banget, tapi besok kamu ada waktu nggak? Aku jadi ingin bertemu secara offline.


Haru: Benar-benar mendadak ya. Aku sih kosong, jadi nggak masalah.

Hari ini hari Jumat, artinya besok Sabtu.


Sekolah libur, dan tidak ada urusan khusus yang harus dilakukan. Karena itu, ajakan dari Nayu justru terasa menyenangkan.


(…Nayu-san pasti nemu manga shoujo yang super menarik. Aku juga harus siapin rekomendasi manga shoujo sebelum besok.)


Berkat Nayu, suasana muram akibat topik klub tadi jadi terasa lebih ringan. Haruya pun diam-diam berterima kasih padanya.


***


Malam harinya. Haruya pergi sendirian ke kafe langganannya.


Saat berangkat ke sekolah, ia tampil dengan sosok suram dan apa adanya. Namun kalau keluar rumah, ia selalu berdandan rapi terlebih dulu.


Dengan “wajah belakang”-nya yang modis itu, Haruya memasuki kafe.

Begitu membuka pintu kayu tua dan masuk, seorang pelayan yang dikenalnya dengan sopan menyapa, “Selamat datang♪” dengan suara jernih seperti bunyi lonceng kecil.


Sebagai pelanggan tetap, Haruya sudah cukup dikenal oleh banyak pegawai di sana. Di dalam kafe suasananya agak sepi, hanya ada beberapa pelanggan selain dirinya.


“……Maaf menunggu. Mau pesan apa?”


“Seperti biasa saja.”


“Baik, dimengerti.”


Sebagai catatan, menu “seperti biasa” milik Haruya adalah set carbonara dan kopi. Aroma kopi di kafe ini sangat khas, dan Haruya datang ke sini demi menikmati kedalaman rasanya. Tentu saja, itu bukan satu-satunya alasan ia sering mampir.


Ada satu pegawai di sini yang usianya dekat dengannya dan menjadi salah satu dari sedikit orang yang akrab dengannya.


“Na~ah, ja . di… kamu ke sini buat ketemu aku, kan, Onii-san?”


Saat jam istirahat, saat sepi, atau setelah selesai kerja—kalau Haruya ada di kafe, pegawai itu akan menghampiri mejanya dan mengobrol santai seperti ini.


Tubuh ramping nan anggun, wajah cantik bak boneka. Dan seragam maid hitam-putih yang membungkus tubuhnya. Pegawai yang paling sering melayani Haruya di kafe ini—Kohinata.


Demi menjaga jarak yang wajar… Haruya sebenarnya tidak tahu nama depannya. Yang ia tahu hanya nama keluarganya. Dan karena dia selalu memanggil Haruya dengan sebutan “Onii-san”, ia pun tidak tahu nama Haruya sama sekali.


Meski sering mengobrol, hubungan mereka bisa dibilang cukup unik. Namun justru hubungan yang tidak saling mencampuri urusan pribadi itulah yang terasa nyaman bagi Haruya.


“Eh? Kenapa, Onii-san? Jangan-jangan kamu lagi terpukau sama aku?”


“……Kalau aku salah, maaf. Tapi Kohinata-san, ada apa?”


Ia tidak benar-benar yakin. 


Hanya saja, entah kenapa hari ini dia terlihat kurang bersemangat.


“……Eh, padahal Master dan yang lain nggak ada yang sadar. Kamu memang hebat ya, Onii-san♪”


Setelah menyunggingkan senyum licik ala iblis kecil, ia melanjutkan,


“Suka sama aku, ya?”


“Jangan bilang yang aneh-aneh. Kalau aku bisa membantu, bilang saja. Mungkin aku nggak bisa menyelesaikannya, tapi setidaknya cerita bisa bikin lebih lega.”


Haruya menyeruput kopinya. Sementara itu, Kohinata sedikit menggembungkan pipinya, seolah tidak puas.


“Harusnya bilang ‘aku bakal menyelesaikannya’, dong. Bukan ‘kayaknya nggak bisa’.”


“Menurutku, janji yang nggak bertanggung jawab itu malah lebih buruk.”


“Yah, Onii-san memang tipe orang kayak gitu sih. Tapi kenapa kamu mau dengerin curhatanku?”


Dengan mata terbelalak polos, Kohinata bertanya.


“Karena aku biasanya yang sering curhat ke kamu. Anggap saja balas budi.”


“……Ah, begitu ya. Kalau begitu, aku senang kalau kamu mau dengerin!”


Biasanya Haruya-lah yang berada di posisi curhat. Terutama saran Kohinata soal masalah perjodohan Sara sebelumnya—itu sangat membantunya. Kali ini, giliran dia yang mendengarkan.


Haruya pun berusaha bersikap tulus dan menyimak cerita Kohinata.

Masalahnya, kalau diringkas dalam satu kalimat, adalah penyesalan karena tanpa sengaja menyentuh bagian sensitif yang seharusnya tidak ia singgung pada temannya.


Katanya, hari ini di sekolah guru membahas soal kegiatan klub. Saat ia membicarakannya dengan teman sekelas, temannya itu sempat menunjukkan ekspresi tidak suka. Padahal biasanya mereka pulang bersama, tapi hari ini ia ditolak.


Meski terdengar sepele, Haruya merasakan ada yang janggal.


(…Topik klub di kelas, ya. Eh, rasanya aku punya sedikit gambaran… tapi mungkin cuma perasaanku saja.)


“Kalau temanmu kelihatannya nggak ingin disentuh soal itu, menurutku lebih baik jangan dibahas lagi dan bersikap seperti biasa.”


“……Iya, benar juga. Semua orang pasti punya bagian yang nggak ingin disentuh.”


Dengan nada agak menyindir diri sendiri, Kohinata mengangguk.


“Kohinata-san juga ternyata punya banyak beban, ya.”


Pasti ada kegelisahan dan konflik yang tidak bisa ia ceritakan pada siapa pun. Itu terlihat jelas dari ekspresinya tadi.


“Onii-san, itu… kenapa hari ini kamu baik banget sih? Aku kan cuma kasih tahu nama keluargaku doang, Kohinata. Eh, tapi serius, sekarang giliran Onii-san dong. Ceritain sedikit soal dirimu.”


Ia tertawa nakal.


Tak mau membuka diri tapi ingin tahu urusan orang lain—benar-benar egois. Namun, Haruya justru sangat menyukai sifat Kohinata yang tahu batas dan tidak terlalu mencampuri.


“Nggak. Lebih baik kita sama-sama nggak tahu.”


“Hehe, iya sih. Tapi… Teman curhat yang kemarin kamu ceritain itu, kalau nanti kamu punya pacar, kasih tahu aku ya?”


“Teman curhat yang kemarin” itu maksudnya adalah Sara.


“Iya, iya.”


Haruya menjawab seadanya.


Begitulah, ia menghabiskan waktu santai bersama Kohinata tanpa hal berarti terjadi.


***


──Ia sedang melihat potongan kenangan lama. Ini tentang masa SMP… kejadian dua tahun lalu. Kenangan buruk saat masih aktif di klub. Para anggota klub sedang membicarakan Haruya di ruang klub. Dan tanpa sengaja, Haruya mendengarnya dari depan pintu.


『…Ini gara-gara dia, kan』

『Kita kalah karena dia』

『…Beneran nggak ada gunanya』

『Maksudku, Akasaki itu cuma lihat orang berbakat aja. Dia nggak bakal ngerti perasaan orang yang nggak punya bakat』

『…Sekarang mah cuma orang sok bersemangat doang』


Bukan begitu.


Haruya hanya ingin berusaha sebaik mungkin di atletik. Tanpa maksud tersembunyi, hanya dengan ketulusan… semata-mata dengan lurus hati.


『Aku cuma……』


Dengan suara bergetar, Haruya hendak masuk ke ruang klub—


ZAAAAAA—


Tiba-tiba noise keras menyambar, dan pemandangan pun berganti. Tempatnya… mungkin lapangan.


Dengan wajah ceria, tiga orang berlari mengelilingi lapangan, berpusat pada Haruya. Di belakang mereka, anggota lain mengikuti, mengejar punggung mereka.…Saat itu menyenangkan.


Ia benar-benar berpikir, bersama mereka, ia bisa meraih puncak. Sosok dirinya di masa lalu—berlari sambil saling mengasah kemampuan dengan dua orang di sampingnya—masih tampak bersinar hingga kini.…Namun, seiring waktu, dua orang di sisinya perlahan menghilang dari dekat Haruya.


Sejak saat itu, anggota lain mulai memandangnya dengan tatapan dingin. Haruya pun terlempar sendirian ke dunia yang sunyi. Tatapan penuh kecaman dan hujan kata-kata hinaan menghujaninya.


(Hentikan… hentikan… jangan lanjutkan lagiiiiiiii!)


***


Dengan gerakan kasar, Haruya menendang selimut dan terbangun. Napasnya terengah-engah, jelas menandakan betapa parah ia bermimpi buruk barusan.


“Mi-mimpi, ya…”


Ia menarik napas dalam beberapa kali untuk menenangkan diri. Lalu, sambil menghela napas, ia berpikir,


(Kenapa kenangan seburuk itu muncul lagi sih… gara-gara kemarin kebanyakan bahas klub, ya)


Piyamanya sedikit lembap oleh keringat.


Melirik jam, ternyata sudah lewat pukul sebelas. Mungkin karena semalam terlalu asyik membaca manga shoujo, ia bangun cukup siang. Di ponselnya, ada pesan dari Nayu—sesama penggemar manga shoujo.

Hari ini Sabtu. Hari diadakannya off-kai dengan Nayu.


(Suasana hatiku juga lagi agak turun. Mending segarkan pikiran dengan ngobrol soal manga shoujo bareng Nayu-san!)


Haruya pun segera bersiap-siap.


***


Haruya datang ke sebuah kafe & restoran yang tampilannya cukup stylish, dengan pakaian yang relatif santai. Konsep tempat ini adalah kafe yang juga bisa menikmati makanan berat.


Biasanya, karena sama-sama masih pelajar, lokasi off-kai mereka sering di restoran keluarga. Namun, sepertinya akhir-akhir ini Nayu menemukan tempat tersembunyi yang ramah di kantong tapi tetap modis. Karena itulah, hari ini kafe rekomendasi Nayu menjadi tempat janjian.


Haruya tiba lebih dulu, tetapi belum beberapa menit berlalu, Nayu pun muncul. Sepatu hak, baret, dan kardigan hijau muda. Rambut hitamnya tergerai hingga pinggang, dan bahkan dengan kacamata hitam pun ia terlihat sangat menawan. Aura wanita dewasa yang sensual—cukup untuk menghiasi sampul majalah model—terpancar jelas dari diri Nayu.


“…Maaf, nunggu lama.”


“Baru sampai juga kok.”


“Oh? Hari ini Haru pakai baju kasual ya. Sama kayak aku waktu itu.”


Saat off-kai sebelumnya, Nayu memang datang dengan hoodie santai.


Pasti itu yang ia maksud.


“Iya juga sih. Tapi hari ini Nayu-san kelihatan niat banget, cocok.”


“Hm? Hari ini saja?”


“Jangan nekan gitu dong. Maaf—hari ini juga kelihatan cocok.”


“Hm, bagus.”


“Tapi serius, hari ini kamu kelihatan ekstra niat. Ada apa?”


“Ah… kemarin ada hal yang bikin nggak enak. Jadi aku niat dandan buat nutupin itu.”


“O-oh, begitu ya.”


“Makanya, hari ini maaf ya, tapi kamu harus dengerin curhatanku.”


“Nayu-san biasanya nggak pernah bahas masalah pribadi. Agak seram, tau. Lagian bukannya aturan kita nggak boleh bahas urusan pribadi?”


Dalam off-kai mereka, ada dua aturan.


Pertama, membahas manga shoujo.

Kedua, tidak mencampuri urusan pribadi.


Haruya menyinggung aturan yang kedua.


“Ugh… tapi kan aku udah sering dengerin curhatan Haru-san. Sedikit doang nggak apa-apa, kan.”


“Yah, aku juga selalu dibantu Nayu-san. Mau curhat atau apa pun, aku dengerin kok.”


Sebenarnya, alasan Nayu mengajaknya hari ini pasti karena ingin didengarkan. Dan mengingat soal Sara, Haruya juga merasa sangat berutang budi padanya.


“Beneran?”


Dengan suara sedikit bergetar, Nayu bertanya.


Haruya mengangguk. 


Sudut bibir Nayu terangkat, dan ia tersenyum pelan.


“Kalau gitu, kita masuk ke dalam, ya.”


“Iya.”


Begitulah, mereka pun melangkah masuk ke dalam kafe.



Hal pertama yang Haruya rasakan begitu masuk adalah kesan, “Eh… dompetku aman nggak nih? Seriusan?”


Singkatnya, tempat ini terlihat mahal. Banyak tanaman hias, interior artistik, dan menu dengan font elegan. Tempat yang jelas cocok untuk kencan. Itulah kafe & restoran tempat mereka berada sekarang.


Haruya dan Nayu duduk berhadapan di sebuah bilik di bagian dalam yang modern.


“Ini kelihatannya mahal, beneran aman buat kantong?”


“Tenang. Tempat ini ramah buat pelajar. Pancakenya enak.”


“Kalau gitu aku pesan pancake sama kopi.”


“Hitam?”


“Iya. Kalau Nayu-san?”


“Aku… k-kopi pakai gula.”


Sambil mengalihkan pandangan, Nayu menjawab dengan nada sedikit malu.


Pilihan yang manis berlebihan, sama sekali tak terduga.


Haruya tanpa sadar mengerutkan alisnya, dan Nayu dengan sengaja menyandarkan siku di atas meja.


"Aku kan sudah bilang nggak mau bilang."


"B-bukan berarti aku bilang itu buruk, kok."


"Kelihatan jelas di wajahmu kalau kamu mikir itu buruk. Hah… mulai sekarang jangan pernah lagi ngajak bahas kopi. Toh aku memang lidah anak-anak, ya."


Bibir Nayu tampak cemberut dengan tatapan sebal.


(Jadi dia kepikiran soal itu ya…)


Sambil bertukar percakapan seperti itu, Haruya dan Nayu pun masing-masing memesan. Selama menunggu, sebelum masuk ke topik utama, mereka saling melempar topik tentang manga shoujo.


"Akhir-akhir ini nemu karya yang menarik nggak? Haru-san."


"Ada sih, termasuk hidden gem tapi—"


Begitu katanya, Haruya merekomendasikan beberapa manga shoujo yang cukup minor. Namun ternyata Nayu sudah mengenal hampir semua judul yang disebutkan, sampai-sampai dia dengan ringan menyangkalnya sambil berkata, "Masih kurang jauh tuh." Haruya pun bertekad, di kesempatan berikutnya dia akan membuat Nayu sampai melongo.


Pada akhirnya, usaha “membujuk” itu tak membuahkan hasil, dan mereka hanya saling menyebutkan adegan favorit dari karya-karya yang mereka sebutkan.


"Aku suka bagian waktu tokohnya sadar kalau perasaannya ternyata saling berbalas."

"Aku justru paling suka adegan waktu dia benar-benar yakin kalau mereka itu saling cinta."


Jawaban mereka keluar hampir bersamaan. Mereka saling menatap, lalu Nayu bergumam pelan.


"Kamu niru."


"Eh, kenapa!? Adegan itu memang yang paling bagus, kan."


"Hehe, bohong. Cuma bercanda. Tapi memang, di situ jantungku benar-benar berdebar."


"Iya, aku ngerti. Apalagi karena sebelumnya dia lama banget ragu apakah itu cinta berbalas atau nggak."


Saat mereka masih bercakap-cakap dengan penuh antusias, pesanan mereka pun diantar. Yang dipesan Haruya adalah set pancake dan kopi hitam. Sedangkan Nayu memesan set pancake dan kopi manis.


Ketika Haruya menuangkan sirup maple lalu hendak memotong pancake dan membawanya ke mulut, Nayu menghentikannya.


"Kalau caranya gitu, sirupnya nggak bakal merata."


Sambil berkata begitu, dia dengan elegan menyebarkan sirup ke permukaan pancake menggunakan pisau. Haruya menirunya, memotong pancake lalu menyuapkannya ke mulut.


"Enak."


Matanya membelalak, dan kesan itu tanpa sadar keluar dari mulutnya.


"Syukurlah. Tempat ini enak, harganya juga terjangkau, dan jarang ketemu orang kenalan. Tempat rahasia, pokoknya."


"Kamu nemu tempat yang bagus, ya."


Soal rasa kopi sendiri, memang masih kalah dibanding kafe yang biasa dia datangi, tapi kopi di sini tetap cukup enak. Senang rasanya bisa tahu tempat yang bagus, pikir Haruya dari lubuk hatinya.


"Baiklah. Nah, mulai dari sini ini sebenarnya topik utamanya—"


Masalah yang dipikirkan Nayu. Mungkin ini yang dia maksud sebelum masuk ke dalam toko. 


Karena sudah cukup lama mengenalnya, Haruya bisa paham. Dia yang selama ini tak pernah mengeluh, kini meminta ingin curhat, ingin didengarkan. Pasti ini topik yang cukup serius. Haruya menelan ludah, dan suasana pun menegang—lalu.


"Eh? Kenapa kamu ada di tempat seperti ini, Takamori?"


Arah pandangan Nayu. Tamu yang baru saja masuk itu tampaknya seseorang yang dia kenal. Mereka saling menatap dan membeku di tempat.


"…Hah!? Parah banget."


Sambil menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, Nayu bergumam pelan.


"A-anu, Takamori… soal kejadian dua tahun lalu, aku… aku rasa aku salah. Aku pikir aku ingin kamu mulai basket lagi—!?"


"Onoi, maaf tapi aku nggak akan kembali. Kamu sadar nggak sih, ucapanmu itu nggak bertanggung jawab dan seenaknya sendiri? Kamu mau bertanding denganku? Sekarang, setelah semua ini? Berani-beraninya kamu bilang begitu…!"


"…!?"


Mendengar kata-kata Nayu, perempuan bernama Onoi itu membelalakkan mata dan terdiam tak bisa berkata apa-apa. Aura amarah yang tenang dan sikap jijik dari Nayu bahkan membuat Haruya ikut tertekan.


(Maksudku… apa ini? Kok jadi suasana kayak gini. Ngomong-ngomong, kemarin juga kejadian mirip, ya. Jelas-jelas aku salah tempat… dan udara di sini parah banget.)


Faktanya, dari berbagai arah, pandangan tamu lain tertuju ke meja mereka.


"…Maaf, tapi Haru-san, hari ini aku pulang duluan."


"Enggak, aku juga pulang."


Bagaimanapun, berada di tempat yang sama dengan perempuan bernama Onoi ini jelas canggung. Selain itu, kalau menghabiskan waktu bersama, aturan untuk tidak saling membuka kehidupan pribadi pasti akan runtuh. Padahal dia sudah tanpa sengaja tahu nama belakangnya…


(Tapi ini susah banget buat pergi…)


Saat dia menoleh ke arah Onoi, bahunya tampak bergetar dan air mata menggenang di sudut matanya. Ditambah lagi tatapan para tamu lain yang terasa menusuk.


(Apa-apaan ini… dari sudut pandang orang lain, kelihatannya kayak aku ketahuan selingkuh dan lagi ribut, kan.)


Haruya merasakan darah di tubuhnya seperti tersedot habis.


"…Beneran maaf, tapi aku pulang duluan, ya."


Melihat wajah Nayu yang pucat, mungkin kondisi badannya memburuk.


Dengan ekspresi penuh rasa bersalah, dia tak bisa ditahan lagi. Cardigan-nya berkibar ringan saat dia menuju kasir lebih dulu.


(…T-terus aku harus ngapain di situasi kayak gini?)


Meski kebingungan, Haruya dengan hati-hati menyapa Onoi.


"Ehm… gimana kalau kita duduk dulu?"


***


Di kursi box, seorang perempuan setengah menangis duduk sendirian, dan seorang pria duduk dengan punggung terlalu tegak, jelas-jelas canggung. Pelayan dengan wajah serba salah menyerahkan segelas air pada Onoi lalu cepat-cepat pergi.


(Inilah medan perang… kenapa off-kai bisa berakhir begini.)


Sambil menyeruput kopi yang terasa hambar, Haruya kembali memperhatikan perempuan di hadapannya.


Pakainya seperti siswi SMA masa kini, dengan mata yang bulat dan bening. Gaya rambutnya adalah bob cut khas dengan rambut cokelat, tubuhnya berpostur biasa, dan kalau dibilang terus terang, penampilannya adalah tipe siswi SMA yang manis pada umumnya. Ia mengusap mata yang berkaca-kaca, lalu perlahan membuka mulut.


"…E-ehm… maaf ya. Sepertinya aku sudah mengganggu kencan kalian. Umm, aku boleh panggil Haru-san?"


"Iya, aku Haru. Dan… umm, ini bukan kencan kok… Onoi-san."


"Oh, begitu ya. Aku kira kalian sedang kencan. Aku sama sekali nggak nyangka bakal ketemu Takamori di sini… sampai rasanya aku nggak bisa diam di tempat. Umm… maaf sudah bikin suasananya jadi nggak enak."


"A-ah, tolong angkat wajahmu."


Takamori.


Sedikit kilas balik, sepertinya itu adalah nama keluarga Nayu-san. Dan perempuan yang ada di hadapannya ini bermarga Onoi.


Entah kenapa, Haruya merasakan semacam rasa déjà vu yang aneh.


"Aku sekarang sekolah di SMA Miyaza, dan Takamori itu… teman dari SMP, dulu kami satu klub."


Setelah menarik kembali air matanya, Onoi mulai bercerita dengan ragu-ragu.


"Sampai kelas dua SMP kami berdua berjuang bersama di klub basket, tapi… kami—tidak, aku… akulah yang merebut basket dari Takamori…"


Masalahnya tampak jauh lebih serius dari yang dibayangkan.


Ekspresi Onoi menceritakan semuanya. Wajahnya yang terlihat begitu pedih itu…


"Takamori bilang dia sudah nggak mau main basket lagi, tapi… aku yakin itu bohong. Soalnya, dari dirinya sekarang aku sama sekali nggak merasakan ‘kilau’ itu lagi…"


Menghadapi gumaman lirih itu, Haruya tak bisa menyembunyikan rasa tak nyamannya.


"B-begitu ya… ehm… k-kalau begitu… untuk sementara… mau pesan sesuatu lagi?"


"Iya, boleh."


Melihat ekspresinya sedikit melunak, Haruya menghela napas lega—namun.


"E-eh, bukannya ini kebanyakan?"


Apa dia berniat menghabiskan semua ini sendirian?


Sepiring besar kentang goreng, ayam panggang, ditambah satu set hamburger steak. Saat memesan tadi pun dia sudah agak terkejut dalam hati, tapi begitu hidangannya benar-benar tersaji di depan mata, rasanya tak bisa tidak berkomentar.


"Aku kan anak klub basket, tipe anak olahraga, jadi makannya lumayan banyak. Aku datang sendirian ke sini juga ya… buat makan banyak, sih. Hahaha."


Begitu mulai makan, ekspresinya berubah total, jadi cerah dan hidup.


Melihat itu, Haruya akhirnya benar-benar menghela napas lega. Kalau dia terus memasang wajah penuh kepedihan, tatapan orang-orang sekitar terasa menyakitkan. Karena itu, melihat Onoi yang kelihatannya sudah agak tenang, bahu Haruya pun ikut rileks.


"Takamori itu hebat. Standarnya tinggi sekali, dan dia terus mengejar itu. Dia keren… dan menyilaukan."


Onoi mengunyah kentang sambil tenggelam dalam kenangan.


"Tapi Takamori membuang semua itu. Makanya aku ingin dia mengambil kembali basketnya. Lagipula, sekolahku dan sekolah Takamori bakal mengadakan pertandingan latihan, lho? Kesempatan seperti ini mungkin nggak akan datang dua kali lagi… Aku tahu ini egois sih…"


Haruya tidak menyela sedikit pun, hanya terus mengangguk pelan. Karena ia bisa merasakan keinginan Onoi—ingin membagikan isi hatinya, ingin didengarkan. Lagipula, ikut campur tanpa tahu situasi sepenuhnya jelas bukan hal yang bijak.


Namun setelah mendengarkan ceritanya, ada satu hal yang ia rasakan dengan jelas. Gadis di hadapannya ini sangat menyukai Nayu. Meski berbicara dengan wajah penuh kepedihan, entah kenapa di matanya ada cahaya yang tersisa—itulah yang membuat Haruya menyadarinya.


"Na… eh, maksudku, kamu benar-benar menyukai Takamori-san, ya."


"Eh… b-bukan berarti aku suka atau semacam itu sih… Tapi kalau ditolak sampai sejauh itu, rasanya aku jadi bisa menyerah dan menata perasaan. Terima kasih. Setelah didengarkan, hatiku jadi terasa lebih ringan."


Onoi tersenyum kaku dengan ekspresi pasrah. Meski tahu ini cuma ikut campur, Haruya tetap membuka mulut.


"…Mungkin memang berat, tapi kalau kamu benar-benar menghadapinya dengan sungguh-sungguh, perasaanmu pasti akan sampai."


"…………"


Onoi tidak berkata apa-apa lagi. Setelah menyelesaikan makanannya, ia pun pergi dari tempat itu. Namun tak lama kemudian, ia berlari kecil kembali. "Ah! Aku lupa ngasih uangnya!"


"Lalu ini juga, kontakku. Kalau ada apa-apa soal Takamori, silakan hubungi aku kapan saja. Kalau Takamori mulai main basket lagi, tolong langsung kabari aku ya. Malam pun nggak masalah sama sekali!"


Sambil berkata begitu, ia menyerahkan selembar kertas berisi nomor kontaknya.


(Badai lewat saja rasanya…)


Dengan kesan itu di benaknya, Haruya menatap tumpukan piring di atas meja dan tersenyum kecut.


(…Mudah-mudahan kasir nggak mengira semua ini aku yang makan.)


***


Dua hari setelah kejadian itu.


Pagi hari Senin. Haruya berlari menuju kelas bersama seorang gadis cantik berambut hitam yang berkibar tertiup angin.


Alasannya sederhana. Pagi ini Haruya tanpa sadar bangun kesiangan, dan sekarang hampir terlambat—itulah sebabnya dia berlari sekuat tenaga. Siswi di sampingnya juga jelas berada di situasi yang sama. Tanpa saling menyapa, mereka hanya berlari sekuat mungkin menuju tujuan. Mungkin karena hampir semua murid sudah berada di kelas, lorong sekolah terasa sepi tanpa tanda-tanda kehadiran orang.


Begitu tiba di depan kelas—eh? Haruya tanpa sadar memiringkan kepalanya. Soalnya, siswi yang tadi berlari di sampingnya… sekarang berdiri tepat di sebelahnya.


Apa mereka sekelas? Kalau dia berdiri di sini, berarti memang begitu.


Haruya melirik dari balik rambut panjang yang menutupi pandangannya, menatap gadis di sampingnya.


(Rasanya aku pernah melihat dia… oh iya, dia yang sempat sedikit berinteraksi denganku waktu kejadian dengan Himekawa-san.)


Seingatnya, mereka sempat berbincang di depan kios crêpe. Itu waktu dia pulang bersama Sara. Singkatnya, gadis yang sekarang ada di hadapannya ini adalah—


(S-Class Beauty itu, ya…)


Keberadaannya begitu tinggi hingga sebagian murid laki-laki menyebutnya sebagai takane no hana—bunga di puncak yang tak terjangkau.


Entah takdir atau kejahilan Tuhan, Haruya tampaknya selalu saja punya titik temu aneh dengan para S-Class Beauty.


Bagi kebanyakan siswa laki-laki biasa, itu mungkin terasa seperti keberuntungan. Namun bagi Haruya, yang ingin menjalani hidup sekolah tanpa menarik perhatian, hal itu justru membuat perutnya terasa nyeri karena cemas.


Sambil berdoa agar tidak jadi pusat perhatian, Haruya meraih pintu kelas—dan saat itu juga…


"Kalian berdua terlambat… nanti setelah ini datang ke ruang guru."


Ketika menoleh ke belakang, wali kelas mereka sudah berdiri di sana dengan senyum menakutkan menempel di wajahnya.


"Masih nggak sempat juga ya… huff, parah."


"B-baik, Bu."


"Sudah, masuk saja dulu. Sudah waktunya homeroom."


Begitu masuk kelas bersama wali kelas, tentu saja mereka langsung jadi pusat perhatian teman-teman sekelas.


(Sial… seharusnya kemarin malam aku nggak begadang baca manga shoujo. Soalnya aku kepikiran Nayu-san terus.)


Padahal mereka berpisah dengan cara seperti itu, tapi setelahnya tak ada satu pun pesan dari Nayu. Mustahil rasanya untuk tidak memikirkannya. Namun Haruya sendiri juga tak tahu harus melangkah sejauh apa setelah kejadian kemarin.


Akhirnya dia berpikir, “kalau begitu aku panggil dia dengan alasan manga shoujo,” dan malah tenggelam membaca manga sampai larut malam.


Hasilnya: kurang tidur, dan kini terlambat seperti ini.


"Baik, kita mulai homeroom. Soal klub yang sempat kita bahas tempo hari—"


Topik tentang kegiatan klub keluar dari mulut wali kelas, tapi Haruya sama sekali tak punya ruang di kepalanya untuk memikirkan hal itu.


Apa yang dibicarakan selama homeroom pun tak masuk ke telinganya sama sekali. Soalnya dia menyadari ada aura tidak menyenangkan yang terpancar dari bangku belakang.


(Kazamiya… pasti bakal nyari ribut. Paling-paling ngomel karena aku telat bareng S-Class Beauty dan katanya iri atau apa lah.)


Saat ia menghela napas dengan perasaan malas, wali kelas Tokoyami justru melontarkan pernyataan yang tak perlu.


"—Kalau begitu, homeroom kita akhiri. Takamori, lalu—"


Ia melirik daftar nama sekali, lalu memanggil, "Akasaki."


(…Sensei, jangan panggil nama saya dong… nanti makin kelihatan. Dan tolong jangan nambah omongan aneh lagi ya? Tolong, jangan.)


Doa Haruya sia-sia. 


Dengan kejam, Tokoyami menyatakan,


"Kalian berdua nanti datang ke ruang guru. Homeroom selesai."


Dengan bunyi katsukatsu khas sepatu haknya, wali kelas pun meninggalkan kelas.


Saat Haruya hanya bisa tertawa kecut, Kazamiya menepuk pundaknya, seolah berkata jelaskan.


"Akasaki, kayaknya ada hal menarik yang terjadi tanpa sepengetahuanku, ya."


"Cuma telat bareng doang, kok bisa heboh segitunya sih… Aku harus ke ruang guru."


"Eh, hei, ceritanya belum—"


Untuk menghindari interogasi Kazamiya, Haruya buru-buru berdiri. Sambil berdoa kuat-kuat agar tak ada masalah tambahan, ia pun meninggalkan kelas. 



Di depan pintu ruang guru, wali kelas sudah menunggu. Mungkin karena masih harus menyiapkan pelajaran jam pertama, dia ingin cepat selesai.


Haruya merasa sudah datang tergesa-gesa, tapi tampaknya gadis cantik S-Class itu tiba lebih dulu darinya.


Setelah memastikan mereka berdua lengkap, wali kelas membuka mulut dengan tenang.


"Kalian berdua bukan tipe yang biasanya terlambat… pasti ada alasannya. Tapi tetap saja, terlambat ya terlambat. Aku ingin memberi penalti. Hmm… bagaimana kalau sepulang sekolah kalian lari mengelilingi area luar sekolah satu putaran?"


(Yang bener aja… kayak zaman Showa.)


Haruya spontan mengomentari dalam hati.


Zaman sekarang, hukuman berdiri di lorong atau disuruh lari di luar sekolah rasanya sudah jarang terdengar. Mungkin setengah bercanda, wali kelas menambahkan, "…ya, tentu saja aku tidak bisa memaksa."


Sementara Haruya hanya tersenyum kecut,


"Berarti cukup satu putaran keliling sekolah sepulang sekolah, ya?"


Dengan nada tenang tanpa ragu sedikit pun, Yuna bertanya.


(Eh, serius… dia beneran mau lari?)


Ketika wali kelas mengangguk, Yuna pergi begitu saja tanpa melirik Haruya sedikit pun.


Haruya yang ditinggal hanya bisa tertegun.


"Kamu dan dia mirip, lho…"


Sambil menatap punggung Yuna yang menjauh, wali kelas bergumam.


"E-eh… mirip di bagian mana, Sensei?"


Kesamaan antara dirinya dan S-Class Beauty itu?


Dia adalah bunga puncak kelas, sedangkan dirinya hanyalah sosok tak terlihat yang terpinggirkan. Dilihat dari mana pun, Haruya sama sekali tak bisa menemukan kesamaannya.


"Kalian sama-sama menyembunyikan diri kalian yang sebenarnya. Dan juga sama-sama bertindak setengah-setengah. Makanya, lari keliling sekolah mungkin bisa bantu mereset perasaan."


"…!"


Jantungnya terasa seperti dicengkeram.


Haruya refleks menoleh ke arah wali kelas, tapi perempuan itu justru terkekeh pelan.


"Cuma perasaan saja. Ocehan orang dewasa. Jangan dipikirkan."


"…………"


Sampai sejauh apa sebenarnya orang ini memahami dirinya?


Saat Haruya membeku karena aura yang sulit ditebak itu, pundaknya ditepuk pelan.


"Sudah waktunya jam pertama. Lebih baik kamu kembali ke kelas dan bersiap."


"I-iya."


Meski menyimpan rasa curiga, Haruya segera kembali ke kelas.


Sebagai catatan tambahan, seperti yang sudah diduga, begitu kembali ke kelas, Kazamiya langsung mencecarnya dengan pertanyaan seperti,

"Jadi kamu sama Takamori-san ngapain? Guru bilang apa ke kalian?"—berulang kali.


***


Saat jam istirahat siang hari itu, Haruya disergap Sara di rooftop. Tatapan matanya penuh kecemasan, alisnya sedikit berkerut.


"Nggak terjadi apa-apa antara kamu dan Yuna-san, kan?"


"Cuma kebetulan sama-sama telat aja."


"K-kalau begitu syukurlah. Ah—ini punya Akasaki-san enak, ya."


Beberapa hari lalu, saat menggigit kakuni yang dimasak lama itu, wajah Sara langsung terlihat meleleh senang.


Sejak mereka mulai diam-diam bertemu di rooftop seperti ini, akhir-akhir ini Haruya dan Sara sering saling menukar lauk bekal untuk dimakan bersama.


Setelah meneguk teh, Sara membuka mulut dengan ragu.


"Akasaki-san, waktu SMP dulu… kamu ikut klub apa?"


"…… klub pulang."


Topik yang tak terduga itu membuat Haruya sesaat terdiam. Ia merasa bersalah karena telah berbohong.


Saat melirik ke arah Sara, gadis itu menatapnya dengan ekspresi serius.


"Aku yakin Akasaki-san dulu waktu SMP pernah ikut suatu klub. Dan aku juga yakin kamu sengaja menyembunyikannya… dan bahwa itu adalah sesuatu yang kamu tidak ingin disentuh orang lain."


"…………"


Meski Haruya terdiam, Sara tak mengalihkan pandangannya dan melanjutkan,


"Aku ingin Akasaki-san berbagi sedikit beban yang kamu pikul denganku. Aku tahu ini lancang, serius tahu."


Perasaan rumit menyerbu, tapi tekad Sara tampak kuat.


Kalau sudah begini, menutupinya terus terasa melelahkan. Daripada terus ditanya soal klub dan harus mengingat kenangan pahit itu berulang kali…rasanya tak masalah jika sekadar memberi tahu pernah ikut klub apa.


Seakan menghindari kenangan pahit itu, Haruya menjawab dengan nada bercanda ringan.


"…Aku dulu di klub atletik, nomor jarak jauh. Ya, ada macam-macam hal, jadi aku berhenti di tengah jalan."


"Begitu ya…"


Sepertinya ia tak menyangka Haruya akan bicara sejujurnya, wajah Sara tampak terkejut.


Ia menggeleng kecil sekali, lalu melanjutkan,


"…Aku ingin melihat Akasaki-san berlari."


"Aku bukan berhenti lari kok… kalau hampir terlambat aku lari, kalau dikejar orang pun aku lari."


Mendengar itu, Sara menggeleng pelan dan menatapnya dengan senyum lembut.


"Bukan itu yang ingin aku tanyakan."


Dia tahu. Justru karena tahu itulah dada Haruya terasa sesak oleh rasa tak berdaya. Yang ingin ditanyakan Sara adalah: apakah kamu berlari dengan sungguh-sungguh? Apakah ia berlari dengan perasaan yang sama seperti saat masih di klub. Sekadar berlari dan berlari dengan tekad kuat—meski sama-sama berlari, maknanya jelas berbeda.


Saat Haruya menggigit bibir bawahnya pelan, Sara menyodorkan sebutir stroberi kepadanya.


"…Maaf. Ini sebagai permintaan maaf karena sudah menyentuh luka lama."


"…Kalau sudah tahu, aku sebenarnya nggak ingin topik ini dibahas lagi."


"Itu tidak bisa. Aku benar-benar berterima kasih pada Akasaki-san, karena sudah menunjukkan caramu menjalani hidup."


Sambil menatap langit biru, Sara tersenyum lembut.


"…Terakhir, cuma satu hal."


Ia menoleh ke arahnya.


Pada saat itu, angin sejuk berhembus dan rambut Sara pun berkibar.


"Apa pun yang pernah terjadi, dan apa pun yang nanti kudengar, aku akan selalu berada di pihak Akasaki-san."


Tatapan lurus dan polos seperti itu benar-benar ingin ia hindari.


Haruya menggigit stroberi pemberian Sara. Entah kenapa, rasanya asam lebih kuat daripada manisnya.


***


Sepulang sekolah, setelah memastikan jumlah siswa sudah berkurang, Haruya dan Yuna menuju ruang guru.


Takamori Yuna. Berjalan berdampingan di lorong bersama S-Class Beauty yang memiliki aura anggun berbeda dari Sara, Haruya membuka suara.


"…Soal lari satu putaran itu, kalau kita pura-pura sudah lari, nggak bakal ketahuan, kan?"


Mungkin karena sedang masuk mode murung, suaranya tanpa sadar jadi lebih rendah dari biasanya. Bukan karena orang di sebelahnya adalah S-Class Beauty. Sama sekali bukan.


"…Aku nggak suka hal yang nggak serius. Jadi aku akan lari."


"Kamu serius banget ya."


"Aku sih akan lari. Tapi kalau kamu nggak mau lari, menurutku kamu juga nggak harus."


Dia lebih serius dari yang dibayangkan.


Dengan sikap tenang tapi ada kesan sedikit gyaru, Haruya sampai terdiam keheranan. Menyadari betapa dangkal pikirannya sendiri, akhirnya ia berkata,


"…Tidak, aku juga lari."


"Bagus. Kalau gitu, kita sama-sama berusaha."


Setelah pertukaran ringan seperti itu, tak lama kemudian mereka sampai di ruang guru. Yuna menyampaikan kepada wali kelas bahwa mereka akan mulai lari keliling sekolah.


"—Sensei, kalau begitu kami berangkat lari dulu."


"Kalian berdua sopan juga, lapor dulu segala. Baiklah, silakan lari satu putaran."


Yuna yang berdiri di samping Haruya mengangguk. Namun tepat saat ia berbalik, seolah teringat sesuatu, wali kelas memanggilnya pelan.


"…Oh iya. Takamori, kamu nggak tertarik masuk klub basket?"


"Eh?"


Topik yang tak terduga membuat bahu Yuna bergetar.


"K-kenapa Sensei menanyakan itu ke saya?"


"Soalnya aku kebetulan pembina klub basket. Dalam waktu dekat kami akan mengadakan pertandingan latihan dengan sekolah lain, tapi jumlah pemain berpengalaman kami sedikit…"


Sambil menggaruk belakang kepalanya, wali kelas melanjutkan,


"Aku ingat di kartu perkenalan Takamori tertulis kalau waktu SMP kamu ikut klub basket. Jadi aku cuma mau tanya, kamu berminat atau tidak."


Di kelas ini, tepat setelah masuk sekolah, semua murid diminta menulis kartu perkenalan singkat agar wali kelas bisa mengenal mereka.


Di salah satu kolomnya ada pertanyaan: klub apa yang diikuti saat SMP?—itulah yang dimaksud sensei.


Sebagai catatan, di kartu perkenalan itu, Haruya menulis bahwa dirinya dulu anggota klub atletik.


"Maaf, tapi aku… tidak berniat masuk klub basket."


"Begitu ya. Yah… aku juga tidak bisa memaksa. Sayang sekali. Kalau sewaktu-waktu kamu berubah pikiran, datang saja."


Haruya menangkap penolakan Yuna yang jelas. Bagi dirinya, kata basket tampaknya adalah kata pemicu—semacam ranjau.


Meski begitu, wali kelas sama sekali tidak terlihat terguncang, bahkan sikapnya seolah sejak awal sudah tahu akan ditolak. Itulah yang membuat Haruya merasa ada yang janggal. Tiba-tiba, pandangan wali kelas beralih ke arah Haruya.


"…Akasaki, bagaimana kalau kamu masuk klub basket juga?"


"Memangnya saya keliatan kayak anak olahraga?"


"Nggak kelihatan."


Jawaban cepat itu langsung menghantam.


Sedih, tapi memang begitulah kenyataannya, batin Haruya.


"Aku ulangi lagi, Takamori… kalau berubah pikiran, pintu klub basket selalu terbuka. Dan Akasaki juga."


Aku ini cuma bonus, ya? 


Sambil tersenyum pahit dalam hati, Haruya mengejar Yuna yang pergi dengan wajah agak kesal. Saat itulah—


"Akasaki, waktu SMP kamu di klub atletik, kan. Coba lari dengan sungguh-sungguh. Mungkin kamu bisa mendapatkan sesuatu."


Wali kelas menahan Haruya dan berkata demikian.


"…Jangan-jangan hukuman lari keliling sekolah ini memang disiapkan buat menarikku kembali ke klub atletik?"


"Tidak sampai sejauh itu. Aku cuma merasa kamu dan Takamori itu mirip. Jelas kalau Takamori punya sesuatu yang dia pendam soal basket. Jadi wajar kalau aku berpikir kamu yang mirip dengannya juga punya sesuatu yang kamu pendam soal atletik, bukan?"


"………………"


Saat Haruya terdiam, wali kelas melanjutkan,


"Anggap saja ini cuma pemicu. Dari aura saja kalian sudah mirip. Akasaki… mungkin kamu bisa menolong Takamori."


"Menolong? Hal seperti itu biasanya… tugas guru, kan? Lagipula, Takamori-san kelihatannya juga nggak sedang kesusahan."


"Mungkin benar… tapi ada hal yang cuma bisa dipahami oleh orang yang mirip satu sama lain. Dan Takamori memang sedang kesusahan… seharusnya. Pasti. Mungkin."


(Waduh, tiba-tiba guru ini jadi asal ngomong…)


Meski begitu, Haruya justru terkesan dengan ketajaman pandangan wali kelas.


(Orang yang susah ditebak. Dan memang benar, aku juga masih membawa masa lalu dari atletik…)


Menghela napas, Haruya hendak menuju lari keliling sekolah, ketika wali kelas menambahkan dengan suara pelan ke arah punggungnya,


"Yang Akasaki pendam itu… mungkin justru Takamori yang bisa menguraikannya."


"…Eh?"


Saat Haruya menoleh, wali kelas itu sudah berbalik menuju mejanya. Sekali lagi, Haruya berpikir: orang ini benar-benar tak terduga.



Setelah meninggalkan ruang guru, Haruya mengganti sepatu di loker dan keluar sekolah. Sekarang ia harus membayar hukuman keterlambatannya dengan satu putaran lari mengelilingi sekolah.


Luas area SMA Eiga tergolong besar dibanding sekolah lain, jadi meski hanya satu putaran, jaraknya tidak bisa diremehkan.


Saat tiba di gerbang utama, Yuna sedang melakukan pemanasan. Begitu menyadari kehadiran Haruya, tanpa menoleh dia bertanya,


"Akasaki-kun, ya… kenapa kamu sampai terlambat?"


"Eh?"


Karena sebelumnya dia selalu bersikap dingin, Haruya refleks mengeluarkan suara bingung saat diajak bicara.


"Kamu kan biasanya nggak pernah telat? Aku juga, dan semua murid di sekolah ini."


SMA Eiga adalah sekolah bergengsi dengan sejarah panjang di tingkat provinsi. Prestasinya dalam meloloskan siswa ke universitas ternama pun banyak, sehingga mayoritas muridnya serius dan disiplin.

Keterlambatan hanya terjadi kalau benar-benar ada alasan besar.


"…Makanya aku penasaran."


"Kalau kamu nggak ketawa, aku bakal cerita."


"Aku nggak ketawa kok."


Saat tersenyum malu, Yuna entah kenapa terlihat mirip Nayu.

Mungkin karena itulah—Haruya pun menjawab dengan jujur.


"Aku kebablasan baca manga semalaman dan bangun kesiangan."


"…Pfft. Ah, aku ketawa. Maaf. Tapi rasanya nggak nyangka aja."


"E-eh… nggak nyangka?"


"Iya. Soalnya kelihatannya kamu dekat sama Sara. Karena Sara itu serius, aku kira kamu juga orang yang serius. Oh, tapi tadi kamu sempat mau bolos lari keliling, jadi mungkin nggak serius juga ya…"


Deg! Jantungnya berdebar keras.


Ia sama sekali tak menyangka hubungannya dengan Sara sudah disadari sejauh itu.


(…Dan kalau aku dibilang nggak serius sih nggak apa-apa, tapi apa Himekawa-san benar-benar serius ya?)


Padahal mereka diam-diam menggunakan rooftop yang sebenarnya terlarang saat jam istirahat.


Yuna menatap langit dengan pandangan jauh.


"—Aku terlambat karena di jalan aku diajak gabung klub basket."


Ia mulai bercerita pelan.


"Kayaknya ada senior yang tahu aku dulu anggota klub basket. Aku kebetulan ketemu dia di jalan, lalu dia mulai membujukku."


"O-oh, begitu."


"Ah, maaf ya tiba-tiba curhat. Dan juga soal sikapku yang dingin tadi. Sejak pagi aku lagi sensitif."


Sepertinya dia sadar akan sikapnya sendiri. Sekarang sikap itu sudah jauh melunak dan suasananya jadi lebih mudah diajak bicara.


"Kembali ke soal tadi, begitu dengar pembicaraan tentang klub basket, perasaanku langsung jadi gelap. Tanpa sadar langkah kakiku jadi berat. Pas sadar, waktunya sudah mepet dan akhirnya telat. Parah banget…"


"Itu memang sial."


"Iya, jadi…"


Dengan bahunya bergetar kecil, Yuna berkata,


“Semua orang, basket basket basket… apa nggak menurutmu itu aneh?”


Sepertinya ada sakelar aneh yang menyala dalam dirinya.


“Aku ingin meluapkan kejengkelan ini. Jadi kalau aku ninggalin kamu, maaf ya.”


Itu saja yang ingin dia sampaikan, katanya.


Padahal sebenarnya dia bisa saja langsung berlari tanpa peduli, tapi sampai sejauh itu pun dia masih memikirkan orang lain. Dia memang orang yang sangat baik.


“…Kamu memang serius ya.”


Sikapnya yang seperti itu terlihat imut, sampai tanpa sadar aku tersenyum.


“Ngapain senyum. Maksudku, soalnya… rasanya nggak sopan kalau tiba-tiba lari sekencang itu tanpa bilang apa-apa.”


Sambil mengalihkan pandangan, Yuna melangkah keluar gerbang sekolah. Lalu dengan gerakan yang sudah terbiasa, dia mengikat rambut panjangnya yang menjuntai sampai pinggang dengan karet rambut. Aku pun mengikutinya keluar.


Saat tanpa sengaja menatap langit, ujungnya sudah mulai ternoda warna merah senja. Sudah lama rasanya aku tidak berlari di suasana seperti ini, pikirku dengan perasaan nostalgia.


Sesuai dengan ucapannya “kalau aku ninggalin kamu, maaf ya”, kecepatan Yuna ternyata jauh di luar dugaan.


Dengan form yang indah, ekor kuda di belakang kepalanya bergoyang lentur ke kiri dan kanan, dan punggungnya perlahan semakin menjauh.


…Sebenarnya tidak ada keharusan untuk berlari dengan serius. Ini bukan perlombaan atau pertandingan. Bahkan, berlari pun sebenarnya tidak wajib. Ini cuma hukuman karena terlambat, hanya satu putaran saja….


Sambil meyakinkan diri sendiri demikian, aku menatap punggung Yuna yang makin menjauh.


…Terserah. Santai saja. Aku sudah keluar dari klub atletik. 


Seharusnya aku berpikir begitu, tapi entah kenapa—aku menggigit bibir bawahku kuat-kuat, sambil menjaga kecepatan agar tidak tertinggal terlalu jauh dari Yuna.


Dengan berlari seperti ini, aku merasakan jelas penurunan stamina dan kekuatan ototku. Kekuatan kakiku yang menapak tanah, tatata, jelas jauh melemah dibanding dulu.


Wajar saja. Aku sudah lama tidak melakukan latihan lari….namun entah kenapa, itu membuatku kesal setengah mati, sampai aku berlari dengan sungguh-sungguh. Bahkan aku sendiri merasa heran.


──Aku tidak boleh tertinggal. Aku tidak mau kalah.


Di suatu sudut hatiku, ada diriku yang berteriak seperti itu dan memaksaku terus berlari. Tanpa kusadari, jarakku dengan Yuna semakin menyempit. Namun napasku sudah berantakan, dan poni panjangku menempel di dahi karena keringat, membuat pandanganku buruk. Kondisiku benar-benar payah.


“…Hah… hah…”


Rasanya memalukan sampai hampir kehabisan napas hanya karena jarak segini. Tidak ada alasan apa pun untuk berlari serius.


Kalaupun aku menyalip Yuna, mungkin tidak ada artinya sama sekali. Tapi meski begitu, entah sejak kapan aku benar-benar berlari dengan sepenuh tenaga. Kenapa aku berlari sekeras ini?


Sambil mengabaikan diriku yang dingin dan rasional yang merasa heran, aku terus mendekati Yuna.


“Eh…?”


Tiba-tiba Yuna menoleh dan membelalakkan matanya.


Wajar saja. Dia pasti mengira aku sudah benar-benar tertinggal, tapi tanpa sadar aku sudah hampir menyusulnya. Saat satu putaran hampir selesai dan Yuna belum bisa menyembunyikan kebingungannya, aku menyalipnya—dan tepat saat itu, kami menyelesaikan satu putaran.


Aku menaruh kedua tangan di lutut, berusaha menenangkan napasku yang kacau.


“…Aku kaget. Aku tadi lari serius, tapi ternyata kamu cukup cepat ya, Akasaki-kun.”


“………”


Aku sendiri juga heran. Meski tubuhku seperti mau berteriak kesakitan karena napas terengah-engah, dadaku terasa sangat lega.


“Kamu ternyata cukup nggak mau kalah, ya?”


“Aku nggak tahu. Tiba-tiba aja aku lari serius.”


Saat aku mengepalkan tanganku erat-erat, Yuna bergumam dengan nada geli,


“Keliatannya kamu sendiri juga bingung. Bahkan bahasamu udah nggak pakai sopan santun lagi.”


“Eh— ah, maaf.”


Aku benar-benar menjawab dengan polos tanpa sadar.


Aku buru-buru memperbaiki sikap.


“Ah, nggak apa-apa. Kita kan seumuran… Tapi kalau kamu sampai lari serius tanpa sadar, berarti kamu memang tipe yang nggak mau kalah.”


“…!”


Memang benar. 


Saat aku berusaha mengejar Yuna, ingatan tentang masa SMP-ku yang penuh perjuangan ikut muncul. Kenangan saat aku dikejar, disalip, atau hampir kalah—dan aku berlari mati-matian saat itu….


“M-mungkin iya.”


“Rasanya kayak ada sesuatu yang lepas dari dirimu juga. Kamu suka lari?”


“Eh… nggak, bukan begitu—”


Seharusnya tidak. Karena klub itu penuh dengan kenangan pahit bagiku….Cinta dan kegiatan klub—keduanya dipenuhi kenangan pahit.


“Nggak mungkin nggak. Kamu sampai ngos-ngosan seperti itu karena lari sungguh-sungguh. Aku rasa kamu memang suka berlari. Demi nama Takamori Yuna, aku berani bersumpah.”


“…!”


Saat aku tanpa sadar menahan napas, Yuna berkata dengan nada datar,


“…Ngomong begitu sendiri rasanya malu juga ya. Y-ya sudahlah… ayo kita lapor ke guru.”


“A-ah, um…”


Ke punggung Yuna yang mulai berjalan menuju pintu masuk, aku memanggilnya.


Apa yang hendak Haruya katakan setelah ini mungkin hanyalah ikut campur yang tidak perlu. Namun, kepada gadis yang telah mengingatkannya kembali pada perasaan bahwa ia suka berlari, Haruya ingin membalasnya. Ia ingin menyampaikannya.


Hanya sebatas, “Akasaki-kun itu suka berlari,” diucapkan dengan penuh keyakinan. Namun justru karena mereka berdua sama-sama berlari dengan sungguh-sungguh, kata-kata Yuna itu terasa begitu menggema di telinga Haruya.


…Meski sebenarnya Yuna mungkin tidak bermaksud sejauh itu, tetap saja tak bisa disangkal bahwa dia telah meringankan hati Haruya.


“Kalian berdua itu sangat mirip.”


Ucapan wali kelas itu terlintas di benaknya.


Mungkin karena itulah—meski tanpa keyakinan, Haruya merasa harus bertanya.


“…Basket… sebenarnya kamu suka, kan?”


Yuna berhenti melangkah dan perlahan menoleh ke arahnya.


“…Nggak. Kalau yang itu, jelas bukan.”


Wajah Yuna saat menjawab entah kenapa terlihat sedikit sedih di mata Haruya.


***


Perasaan Takamori Yuna tenggelam sedalam-dalamnya. Penyebabnya hampir seluruhnya adalah ajakan masuk klub basket. Akhir-akhir ini, yang sampai ke telinganya hanyalah pembicaraan soal klub.


(…Serius deh, tolonglah)


Setelah menyelesaikan satu putaran lari dan pulang ke rumah—dengan perasaan murung, Yuna mengeluarkan sesuatu yang selama ini ia simpan di dalam lemari.


Saat membuka pintu geser, benda yang ia ambil adalah sebuah bola basket. Bola itu penuh noda, jelas menunjukkan bahwa ia telah digunakan dalam waktu yang lama. Sambil menelusuri permukaannya, Yuna menghela napas panjang.


(…Haa. Padahal aku sudah memutuskan untuk nggak punya penyesalan lagi, ngapain sih aku begini)


Karena itulah, partner yang telah lama menemaninya pun ia simpan di dalam lemari. Mengeluarkannya lagi membuat Yuna tanpa sadar mencibir dirinya sendiri.


“Mungkin karena aku terus-terusan dengar omongan soal basket.”


Kalau dipikir-pikir, beberapa hari terakhir tak ada satu hari pun tanpa mendengar kata “basket” atau “klub”.


Hari demi hari, kata-kata itu memenuhi kepalanya, sampai terasa seperti pelecehan.


“Pagi ini aku telat juga gara-gara diajak senior basket… eh, atau sebenarnya karena aku sendiri yang goyah ya.”


Dan selain itu, Yuna menambahkan dalam hati,


(Sensei… Onoi… lalu…)


Bukan cuma wali kelas atau mantan teman klub saja yang membicarakan basket.


“…Basket, sebenarnya kamu suka, kan?”


Ucapan seorang teman sekelas laki-laki yang bahkan tidak tahu situasi sebenarnya itu terlintas di benaknya.


“…Kenapa sih aku kepikiran hal beginian. Sudahlah, sudahlah. Konyol.”


Mengacak rambutnya dengan kasar, Yuna kembali menyimpan bola basket itu jauh ke dalam lemari. 


Saat itulah—tiba-tiba ponselnya berbunyi menandakan pesan masuk.


Saat dicek, ternyata pesan itu dari Sara.


(…Eh, jarang banget)


Mereka jarang bertukar pesan pribadi; biasanya Yuna dan para S-Class beauty berkomunikasi lewat grup chat khusus mereka. Apalagi Sara yang cenderung pemalu—bagi Yuna, menerima pesan pribadi darinya seperti ini adalah hal yang langka.


『Yuna-san, kalau ada apa-apa soal klub, aku selalu siap mendengarkan ya.』


Pesan itu dikirim bersama stiker kelinci yang menggemaskan.


Yuna jujur merasa bahwa Sara telah menjadi lebih berani. Saat topik klub muncul, Yuna sadar dirinya sempat memperlihatkan ekspresi menolak, seolah berkata “jangan bahas itu” kepada Sara dan Rin. Ia memang berniat minta maaf nanti. Namun ia tak pernah menyangka bahwa Sara yang pasif itu justru akan lebih dulu menyentuh topik sensitif seperti ini. Tak heran jika Yuna tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.


『Maaf ya, aku sempat bersikap aneh. Tapi sekarang aku sudah baik-baik saja. Maaf sudah bikin kamu khawatir.』


Yuna segera membalas. Lalu ia teringat Sara beberapa waktu lalu.


(Kalau nggak salah, Sara juga sempat mengalami masa mental yang nggak stabil)


Detailnya memang dihindari oleh Sara sendiri, tapi saat perjodohan diputuskan, jelas sekali dia terlihat murung. Meski begitu, Sara segera bangkit kembali, dan bahkan terlihat berkembang secara mental seperti sekarang.


Tanpa sadar, Yuna pun bertanya padanya.


『Aku merasa kamu berubah ke arah yang baik, Sara. Ada pemicunya?』


Di kepalanya, Rin yang suka gosip cinta muncul sambil tersenyum, “Ya jelas karena cinta dong! Yunarin!” Namun Yuna ingin mendengar jawabannya langsung dari Sara.


Balasan pun segera datang.


『Eh, aku berubah?』


『Kamu nggak sadar ya… Sara yang dulu pasti bakal sungkan dan nggak bakal ikut campur urusan pribadi orang.』


『B-benarkah… kalau aku berubah, itu karena—』


『Karena?』


『Kencan!』


Jari Yuna yang sedang mengetik tiba-tiba berhenti.


Di kepalanya, Rin muncul lagi dengan wajah puas, seolah berkata, “Tuh kan, benar.”


(Kencan… jadi memang cinta yang mengubah Sara)


Katanya, kalau jatuh cinta, perempuan akan jadi lebih imut dan berubah. Sara terlihat seperti tipe yang akan mencurahkan segalanya pada orang yang ia sukai, dan mudah terpengaruh.…Meski sisi polosnya itu agak mengkhawatirkan. Namun tetap saja, di mata Yuna, Sara kini lebih sering tersenyum dan ekspresinya jauh lebih kaya dibanding sebelumnya. Artinya, kekuatan cinta memang luar biasa.


(…Kalau aku punya orang yang kusukai, apa perasaan nggak enak dan mengganjal ini juga bakal hilang ya. Tapi aku nggak punya siapa-siapa)


Lagipula, Yuna sendiri sulit membayangkan dirinya jatuh cinta. Kalau soal “kencan”, sebenarnya ada lawan jenis yang bisa dibilang berhubungan dengannya seperti itu, tapi… Namun, di sana tidak ada perasaan cinta. Meski ia merasa senang saat bersama dengannya, Yuna tidak pernah merasakan perasaan “suka”.


(Ya, tapi dengan Haru-san keadaannya masih canggung gara-gara urusan Onoi, jadi sekalian minta maaf, mungkin nggak ada salahnya mengadakan off-kai lagi dalam waktu dekat)


Itu memang di luar dugaan, tetapi saat off-kai terakhir, Yuna tanpa sengaja bertemu dengan Onoi—mantan teman klubnya—dan ia pun jadi panik. Padahal itu seharusnya off-kai yang menyenangkan, namun suasana hatinya jadi buruk dan Yuna memilih pergi di tengah jalan. Akibatnya, ia merasa telah membuat Haru merasa tidak enak… dan rasa bersalah itu masih tersisa.


『Ah, anu… kalau soal ‘kencan’ itu, kami sama sekali nggak melakukan hal-hal seperti ciuman, kok!』


Mungkin karena pesannya lama hanya terbaca tanpa balasan, Sara buru-buru mengirim pesan tambahan.


Yuna segera mengetuk layar dan mulai mengetik.


『Ma-maaf. Aku lagi mikir, jadi telat bales.』


『Kalau begitu syukurlah.』


『Ngomong-ngomong, ternyata kamu cukup berani juga ya, Sara. Sampai ciuman segala.』


Kali ini, balasan datang beberapa detik lebih lambat dari biasanya. Kemungkinan besar Sara gugup karena kata “ciuman”. Yuna bisa membayangkan dengan jelas wajah Sara yang memerah sambil mengetik di balik layar.


『Aku nggak pernah bilang kalau kami ciuman.』


『Maaf ya, tapi kelihatan banget kok, Sara.』


『Yuna-san, jangan asal ngomong dong.』


『Kalau kamu bisa video call sekarang tanpa muka merah atau pandangan ke sana kemari, mungkin aku bisa percaya.』


Kalau wajahnya tidak memerah atau matanya tidak gelisah, mungkin Yuna bisa percaya. Namun Sara memang sangat mudah terbaca saat berurusan dengan cinta.


Itulah yang jadi daya tarik sekaligus sisi imutnya.


『A-aku menyerah. Jadi tolong… soal ciuman itu, jangan sampai Rin-san tahu…』


Sara menambahkan stiker beruang yang bikin merinding.


Dengan senyum lembut di wajahnya, Yuna mengetik balasan.


『Kalau Rin tahu,pasti dia bakal menggodamu terus.Aku rahasiakan.』


『I-iya. Tolong ya.』


Mungkin berkat Sara juga… suasana hati Yuna jadi jauh lebih ringan.


Dengan perasaan itu, ia pun mengirim pesan kepada sesama pencinta manga shoujo—Haru.


『Haru-san, sebagai ganti permintaan maaf soal kemarin… mau keluar sebentar nggak?』


Ini bukan kencan. Dan mengajak Haru dengan alasan selain diskusi manga shoujo seperti biasa adalah hal yang pertama kali Yuna lakukan.


Sepertinya ucapan “kencan” dari Sara tadi lebih mengganggu pikirannya daripada yang ia kira.


(…Lagipula, selama ini aku sering dengerin curhatan dan keluhan Haru-san. Sesekali dia nemenin buat pelepas stresku juga nggak masalah, kan)


Di dalam hatinya, Yuna terus mengulang-ulang bahwa ini bukan kencan.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close