NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Shujinkou no Osananajimi ga, Wakiyaku no Ore ni Guigui Kuru V3 Prologue

 Penerjemah: Flykitty

Proffreader: Flykitty


Prologue

Sahabat yang Memiliki Banyak Teman, Tidak Memiliki Satu Pun Teman Sejati (I)


Aku ingin sekali terlahir sebagai pria seperti Amada Teruhito.


Bukan hanya aku—Ishii Kazuki—pasti ada banyak pria lain di SMA Hirasaka yang memikirkan hal yang sama.


Terutama di kelas 1-C, tempat aku dan Amada berada.


Dia bukan murid yang sangat pintar, bukan atlet hebat, dan juga bukan tipe yang luar biasa tampan. Namun demikian, entah kenapa dia dicintai oleh banyak gadis cantik.


Melihat pemandangan itu, para figuran yang berharap keberuntungan jatuh dari langit pun berpikir: "Kalau begitu, mungkin aku juga punya peluang tanpa harus berusaha apa-apa."


Padahal, kami semua tahu betul bahwa kenyataan tidaklah semanis itu. Namun, kejadian-kejadian tidak realistis yang terus berlangsung dalam keseharian justru memberi secercah harapan bagi para figuran.


Karena SMA Hirasaka adalah panggung dari komedi romantis milik Amada Teruhito.


Meski hubungan Amada dengan heroine utama, Hidaka Mikoto, belum juga berkembang, komedi romantis lainnya berjalan mulus.


Tanpa disadari, banyak gadis cantik telah menaruh perasaan pada Amada Teruhito.


Ushimaki Fuuka, yang berhasil mengatasi masa down-nya berkat nasihat Amada.


Iba Kouki, yang berhasil mengatasi rasa gugupnya berkat nasihat Amada.


Kanie Kokoro, yang berhasil mengatasi sifat pemalunya berkat nasihat Amada.


Hitsujitani Miwa, yang diselamatkan Amada dari seorang penguntit.


Julukan mereka: "Empat Bintang Langit". Pencetus nama: aku. Kubuat dengan gaya, memakai bahasa Yunani.


Dalam waktu tiga bulan sejak masuk sekolah, Amada berhasil menaklukkan empat gadis cantik yang bahkan bertemu satu saja seharusnya sudah seperti keajaiban.


Sejujurnya, aku sangat iri—tapi di saat yang sama, aku juga bisa memahaminya.


Amada adalah seseorang dengan kepribadian yang luar biasa.

Ia menolong keempat gadis itu bukan karena motif tersembunyi, melainkan karena ia tak tega melihat orang lain kesusahan.


Kalau aku yang berada di posisinya, pasti akan menolong dengan niat tersembunyi.


Yah, mungkin karena mereka juga paham soal itu, makanya mereka tidak akan pernah mengandalkan figuran sepertiku.


Semester pertama yang dipenuhi "Amada tak terkalahkan" pun tinggal sebentar lagi. 


Akankah Amada berhasil memperdalam ikatannya dengan heroine utama, Hidaka Mikoto?


Harapan itu memang ada, tapi kali ini mari kita ubah sudut pandang.


Tahukah kalian bahwa dalam komedi romantis ada yang disebut "episode sahabat karib"?


Bukan kisah sang protagonis yang dicintai banyak heroine, melainkan kisah sahabatnya dan seorang gadis.


Waktu kemunculannya bermacam-macam, tapi biasanya terjadi ketika jumlah heroine yang mencintai protagonis sudah cukup lengkap, dan belum ada event besar seperti festival budaya atau festival olahraga.


Event besar itu harus disimpan untuk protagonis, soalnya.


Justru episode ini sering dijadikan penghubung untuk menunda sampai waktunya tiba—semacam selingan ringan. Anehnya, episode seperti ini sering mendapat penilaian bagus.


Dibanding protagonis yang bersikap plin-plan dan memberi harapan ke banyak heroine, sahabat yang bersikap lurus dan fokus pada satu gadis sering kali lebih dihargai.

Itu masuk akal.


Alasan kenapa figuran sepertiku bisa sampai memikirkan hal ini adalah karena masa itu akhirnya tiba juga di SMA Hirasaka.


Tsukiyama Ouji. Sahabat Amada Teruhito.


Hubunganku dengannya? Hanya teman sekelas. Hampir tidak pernah berinteraksi.


Dia tampan, pintar, atletis, dan tambahan lagi—anak direktur perusahaan. Pria dengan empat keunggulan sempurna… sayangnya, ada satu yang kurang.


Kepribadiannya yang bermasalah.


Dia memang punya rasa keadilan yang kuat dan lurus, tapi tidak peka suasana, suka bercanda berlebihan, tidak punya empati, sombong, dan bersikap menekan orang lain—lima kekurangan yang sudah ia lengkapi lebih dulu.


Di awal masuk sekolah, berkat penampilannya, Tsukiyama sangat populer di kalangan siswi. Namun setelah tiga bulan berlalu, situasinya mulai berubah.


"Jangan-jangan Tsukiyama-kun itu… mengecewakan?"


Para gadis itu realistis. 


Berbeda dengan cowok bodoh yang merasa "tenang saja, aku paham" hanya karena tampang bagus, para gadis akan langsung kehilangan perasaan jika kepribadian seseorang bermasalah, tak peduli setinggi apa pun spesifikasinya.


Tanpa disadari oleh dirinya sendiri, Tsukiyama akhirnya dijuluki "Pangeran Mengecewakan", dan dibandingkan masa awal, popularitasnya merosot tajam.


Tatapan penuh gairah dari para gadis pun menghilang. Para cowok yang dulu berharap sisa popularitasnya juga menjauh—kalau tidak populer di kalangan cewek, tak ada alasan untuk mendekat.


Selain Amada, ia tidak punya lagi yang bisa disebut teman.


Namun itu hanya berlaku di kelas 1-C.


Di kelas lain, terutama yang jarang berinteraksi dengannya, popularitasnya masih sedikit bertahan.


Dan hari ini, tepat di saat ini, seorang gadis akhirnya bergerak.


Koshimizu Yukari dari kelas 1-B.

Seorang gadis pendiam dan tenang.


Saat jam istirahat makan siang, Koshimizu datang sendirian ke kelas 1-C dan menyapa Tsukiyama.


"Tsukiyama-kun… kalau tidak keberatan, mau makan bersama?"


Pipinya memerah. Suaranya bergetar, seolah memeras perasaan yang ia simpan rapat-rapat.


Di kedua tangannya, ia memeluk dua kotak bekal dengan penuh kehati-hatian. Tak diragukan lagi, itu buatan sendiri.


Bukankah ini episode sahabat karib!? Awal kisah cinta murni antara Pangeran Mengecewakan dan gadis pendiam!?


Emosi kami pun memuncak.


Ayo! Apa yang akan terjadi!?


"Eh? Kamu… suka sama aku?"


Gawat… orang ini parah.


Emosi kami langsung terjun bebas ke titik terendah.


Tatapan penuh harapan berubah menjadi hinaan dan rasa iba. Yang pertama diarahkan para gadis kepada Tsukiyama, yang kedua diarahkan para cowok kepada Koshimizu.


"E-eto… anu…"


"Maaf… sekarang aku merasa waktu bersama teman itu penting, jadi aku belum bisa memikirkan soal cinta. Karena itu, aku tidak bisa membalas perasaanmu. …Maaf, sungguh!"


Catatan 1: Dia sebenarnya belum ditembak.

Catatan 2: Lokasinya adalah ruang kelas saat jam makan siang dengan banyak siswa di dalamnya.


"Tsuki… kamu benar-benar nggak punya empati."


Biasanya Amada dikuasai oleh sifat cueknya, tapi entah kenapa di saat seperti ini dia justru tajam tanpa guna.


"Kalau memang nggak bisa, bilang saja terus terang."


Kamu tahu TPO? Waktu, tempat, dan situasi.


"Sebelum itu… ah, sudahlah. Percuma juga kalau dibilang."


"Tsuki, kamu benar-benar sudah tamat."


"Kejam."


"Ya ampun… ini sih keterlaluan."


Bahkan dari Empat Bintang Langit pun keluar komentar yang sepantasnya—namun bagi Tsukiyama sendiri, dampaknya nol besar.


Dengan ekspresi tidak puas, sambil menggerutu, "Kan aku sudah minta maaf dengan benar," dia justru terus menciptakan hal-hal baru yang sebenarnya masih perlu dimintai maaf—memperlihatkan betapa liarnya dia.


Jujur saja, situasi ini tidak bisa dibiarkan begitu saja.


Kalimat yang seharusnya kukatakan adalah,

"Koshimizu, kalau mau, bagaimana kalau makan bareng denganku?"


Oke, persiapan selesai.


Ayo maju, niat tersembunyi. Dari sini pun pasti bisa dimulai sebuah cinta. Kalau sudah akrab nanti, mari kupanggil Koshimizu Yukari dengan sebutan "Yukaritchi."


"Ko—"


"Koshimizu, kalau mau, bagaimana kalau makan bareng denganku?"


Kobayakawaaa-kun! Cepat banget! Terlalu cepat, Kobayakawa-kun!


Bukannya kamu itu cowok yang mengincar Kanie!?


Kenapa sih kamu juga coba-coba mendekati cewek lain? Apa semua cewek oke buatmu!?


Kalau aku sih, siapa saja tidak masalah.


Tolonglah, ada yang jatuh cinta padaku. Aku tidak mau terluka, jadi tolong dari pihak sana saja.


"Terima kasih. Umm…"


"Aku Kobayakawa. Senang bertemu denganmu, Yukaritchi."


Hei, setidaknya minta izin dariku dulu sebelum pakai nama "Yukaritchi."


"Kalau tidak keberatan, lain kali ajari aku belajar juga, ya. Ujian akhir sudah dekat."


"……Iya."


Dengan mata berkaca-kaca, Koshimizu pun meninggalkan kelas bersama Kobayakawa, dan firasat cintaku pun musnah dalam tujuh detik.


Tidak apa-apa sih. Aku juga sebenarnya tidak tertarik sama Yukaritchi! Lagipula, jatuh cinta pada Tsukiyama itu seleranya aneh! Aku yang menolak! Hiks.


"Belajar, ya… ah, benar juga!"


Saat aku masih merana memikirkan niat tersembunyiku yang kehilangan arah, si pembuat onar yang mengecewakan itu berseru ceria, seolah-olah kejadian dengan Koshimizu tak pernah ada.


"Ujian akhir sudah dekat, kan? Bagaimana kalau akhir pekan ini kita belajar bareng?"


"""""Belajar bareng?"""""


Suara Amada dan Empat Bintang Langit pun tumpang tindih.


"Iya. Gagal ujian lalu harus ikut kelas tambahan saat liburan musim panas itu mimpi buruk, kan?"


Padahal barusan kamu melakukan kesalahan yang jauh lebih buruk dari itu.


Sana ikut remedial otak dan perbaikan hati.


Tatapan seperti itu datang dari segala arah, tapi sepertinya dia sama sekali tidak menyadarinya.


"Rumahku kan luas, cocok buat kumpul-kumpul."


Oh, jadi event belajar bareng, ya.


Sekilas mungkin terlihat seperti akan bersenang-senang bersama Amada dan Empat Bintang Langit—tapi Tsukiyama itu beda.


"Bagaimana kalau kalian semua datang ke rumahku untuk belajar bareng?"


Ini salah satu ciri khas Tsukiyama: dia sering sekali mengajak orang-orang datang ke rumahnya. Bukan cuma Amada dan Empat Bintang Langit, tapi seluruh kelas.


Namun, barusan dia (tanpa menyadarinya) sudah mempermalukan diri sendiri dan mulai dianggap mengecewakan.


Yang tertarik ikut hampir tidak ada—atau lebih tepatnya, mungkin tidak ada sama sekali.


"Yang datang duluan maksimal lima belas orang… tapi karena Teru dan yang lain datang, jadi sepuluh orang saja. Lebih dari itu bakal repot."


Haruskah kami kagum karena rumahnya cukup besar untuk menampung lima belas orang, atau justru heran dengan kesombongannya yang mengira semua orang pasti mau datang?


Apa pun itu, isi hati para siswa sudah bulat. Kalau menolak, suasananya jadi canggung.


Ayo, siapa saja, cepat jadi korban.


"Tsuki, aku juga mau mengajak beberapa orang dulu."


"Oke!"


Dan Amada pun bergerak dengan caranya sendiri.


Menganggap usulan Tsukiyama sebagai kesempatan, dia mendekati Hidaka untuk memperkecil jarak dengan heroine utama.


"Mikoto. Rencana akhir pekanmu bagaimana? Kalau mau, ikut belajar bareng, yuk?"


"Tidak kuberitahu."


Kata-katanya dingin, ekspresinya pun kejam.


Hari ini pun Sang Ratu Es tampak sepenuhnya menolak Amada—tapi sebenarnya sedikit berbeda.


Sebagai penonton yang sudah terasah, aku tidak melewatkan sisi dere dari Hidaka. Kalau memang tidak mau datang, dia cukup menjawab, "Tidak mau."


Tapi yang dia katakan justru, "Tidak kuberitahu."


Artinya, tergantung syaratnya, dia bersedia ikut.


Syaratnya apa, ya? Mungkin Empat Bintang Langit tidak ikut?


Saat aku memikirkan itu dengan setengah sadar, tiba-tiba Tsukiyama mendatangiku.


"Hei, Ishii. Kamu juga bagaimana?"


"Hah? Aku? Kenapa aku?"


"Soalnya aku dan kamu kan jarang ngobrol. Jadi kupikir ingin sedikit berbincang. Lagipula, Teru juga bilang kalau ada acara begini, dia ingin aku mengajakmu."


Amada, sebaik apa sih kamu sebenarnya? Sampai-sampai mendorong figuran sepertiku.


Mungkin ada niat mencurigakan di balik ini—tapi meskipun begitu, aku akan ikut dengan sepenuh hati. Kalau bisa bahagia di atas telapak tangan orang lain, itu pun satu jawaban yang sah.


"Bagaimana? Aku juga ingin memperkenalkanmu pada ayahku."


"Ah… begitu ya…"


Ini undangan langsung dari protagonis komedi romantis itu sendiri. Kalau ikut, mungkin aku bisa bergabung dalam kelompok romcom Amada dan kawan-kawan.


Aku tidak mau menjalani masa SMA hanya sebagai figuran. Meski tidak bisa jadi pemeran utama, kalau ada peluang untuk menjadi salah satu karakter dalam komedi romantis, aku tidak ingin melewatkannya.


Bahkan posisi Tsukiyama saja bagiku sudah sangat membuat iri. Memikirkan itu, aku hampir membuka mulut untuk berkata,


"Kalau begitu, aku ikut,"


tapi…


"……!"


Seram banget! Hidaka sedang menatapku dengan wajah mengerikan!


Apa jangan-jangan syarat keikutsertaan Hidaka adalah "aku tidak ikut"?


Oke, aku mengerti. Aku tidak akan mengganggu komedi romantismu…


"Undangannya memang menggoda, tapi aku tidak ikut. Akhir pekan aku sudah ada rencana lain."


Tatapan tajam dari teman-teman sekelas pun tertuju padaku—


"Kalau sudah diajak, pergilah, gantikan aku"—tapi dibandingkan tatapan Hidaka, itu masih imut. Padahal aku juga sebenarnya ingin ikut, dasar bodoh.


"Oh begitu! Kalau begitu tidak apa-apa!"


Setelah mendengar jawabanku, Tsukiyama pun pergi mengajak siswa lain.


Saat Golden Week dia pernah mengajak barbeku, sebelumnya juga sempat mengajak festival kembang api lebih awal—


Tsukiyama memang sering mengundang orang ke rumahnya.


Apa orang kaya punya semacam kompetisi tentang siapa yang bisa mengundang paling banyak orang ke rumah?


Ah, tapi itu bukan urusanku. Tsukiyama adalah tipe orang yang menikmati komedi romantis dari posisi sahabat dekat. Interaksiku dengannya sebagai figuran paling-paling hanya obrolan ringan di kelas.


Saat aku melirik Hidaka, entah kenapa dia tampak sangat kecewa, sambil berkata pada Amada,


"Aku tidak akan datang."


Padahal aku sudah memutuskan untuk tidak ikut sesuai keinginanmu, jadi kenapa kamu malah menolak?


◆ ◆ ◆


Tahun kedua SMA, semester ketiga. 


Duniaku berubah drastis.


"Hei, bagaimana kalau kita adakan pesta Tahun Baru?"


"Tsuki, pesta Tahun Baru? Ini sudah pertengahan Januari, tahu?"


"Tidak apa-apa! Aku ingin merayakan Tahun Baru bersama semua orang!"


Suara riuh dan hangat terdengar dari balik pintu—sepotong kehidupan sehari-hari yang ramai. Namun, suasana itu berubah total begitu aku masuk ke kelas.


"Timing-nya jelek."


"Masih punya muka buat datang ke sini?"


"Menjijikkan."


Tatapan penuh kebencian dan suara ejekan pun menghujaniku dari teman-teman sekelas.


Saat aku menuju ke mejaku sendiri, tercium bau aneh yang menusuk hidung; tampaknya seseorang telah memasukkan sisa makanan atau semacamnya ke sana.


Karena baunya menyebar ke seluruh kelas, kalau memang mau melakukan perundungan, setidaknya pilih cara lain yang tidak merepotkan semua orang.


Sambil menggerutu seperti itu dalam hati, aku berjalan mengambil tempat sampah kelas.


Upacara penutupan semester dua.


Sejak aku dijatuhi hukuman oleh Amada atas tuduhan yang sama sekali tidak kuingat, duniaku berubah drastis.


Aku bukan lagi figuran—melainkan penjahat.


Ishii Kazuki kini menjadi sosok yang harus disingkirkan di SMA Hirasaka, dan perundungan terhadapku terjadi seolah itu hal yang wajar.


Sebenarnya, aku tidak ingin datang ke sekolah. Namun, jika aku tidak masuk, keluargaku pasti akan khawatir. Karena itulah aku tetap berangkat setiap hari, meskipun aku tahu persis apa yang akan menimpaku.


"Ee… ya sudah, untuk sementara kita coba ajak semua orang saja?"


"Iya! Aku juga akan coba mengajak beberapa orang!"


Mungkin untuk mencairkan suasana yang berat, Amada tetap melanjutkan percakapannya dengan Tsukiyama seolah tidak terjadi apa-apa.


Meskipun dialah pria yang menjatuhkanku ke neraka ini, Amada sendiri tidak sepenuhnya salah; dia juga korban yang tertipu.


"Busuk banget."


Suara salah satu teman sekelas terdengar. Kalau begitu, pakailah bentuk perundungan yang lain saja.


Aku melanjutkan pekerjaanku sambil merasa jengkel pada diriku sendiri yang hanya bisa mengeluh dalam hati.


Setelah memasukkan sisa makanan itu ke tempat sampah, aku mengelap bagian dalamnya dengan lap yang sudah kusiapkan.


Rasa lengket yang menjijikkan menempel di tanganku; sepertinya mulai besok aku harus membawa sarung tangan karet.


Mataku bertemu dengan mata Hidaka. Dia tampak hendak berdiri dengan ekspresi tidak senang, tetapi—


"Mikoto, jangan."


Amada menghentikannya.


"Aku tahu kamu tidak suka Ishii, tapi justru karena itu, kamu tidak perlu repot-repot melibatkan diri, kan?"


"Jangan mengaturku."


"Aku hanya khawatir. Kamu tidak seharusnya berurusan dengan Ishii. Kamu mengerti, kan?"


"…………"


Dengan tatapan yang lebih mirip kebencian daripada kemarahan, Hidaka kembali duduk di kursinya.


Hubungan antara Amada dan Hidaka mungkin tampak tidak baik, namun kenyataannya hubungan mereka jelas membaik.


Sebelumnya, Hidaka bahkan tidak mengizinkan Amada mendekat, tetapi sejak memasuki semester tiga, meski masih menolaknya, dia tidak lagi memprotes keberadaannya di dekatnya.


Apa mungkin semua ini dipicu oleh kasusku?

Kalau begitu, secara ironis aku ini seperti Cupid.


Saat aku memikirkan hal itu, seseorang menyapaku; itu Tsukiyama.


"Hei. Hari Sabtu aku mau mengadakan pesta Tahun Baru, kamu juga datang."


"Disuruh Amada lagi, ya?"


"Mana mungkin. Aku cuma ingin memperkenalkan teman sekelas ke ayahku."


Sungguh, kebiasaan mengajaknya ini sudah di luar nalar.

Apa gunanya mengundangku sekarang?


Kalau aku menyatakan ikut, bisa dipastikan semua orang—termasuk Amada—tidak akan datang.


"Aku tidak ikut."


"Datanglah… tidak, tolong datang. Kalau perlu aku minta maaf sambil menunduk pun akan kulakukan…"


Apa yang dia bicarakan? Kenapa dia sampai segitunya ingin mengajakku? Aku menatap Tsukiyama dengan mata yang keruh, lalu dia sedikit mendekat dan berbisik pelan.


"Aku ingin menciptakan kesempatan supaya kamu bisa minta maaf pada Iba. Ini benar-benar layak untuk kamu datangi, kan?"


Omong kosong. Kenapa aku yang harus minta maaf?


Aku dijebak olehnya. Dia yang memintaku membantu urusan cintanya, dan ketika aku menolong, balasannya justru pengkhianatan yang keterlaluan.


"Mengundang dia… benar-benar sesuai julukan Pangeran Mengecewakan."


"Jelas nggak masuk akal. Bodoh banget."


Dan buatmu sendiri, ini penuh kerugian. Penilaian orang terhadapmu yang sudah rendah akan semakin jatuh.


"…Hei, bagaimana?"


Meski jelas mendengar bisik-bisik kelas, Tsukiyama berpura-pura tidak mendengarnya dan tetap mengajakku.


"Aku tidak akan minta maaf. Aku tidak salah."


Mungkin kalau aku minta maaf, situasi bisa berubah.


Namun tidak. Aku juga punya harga diri, dan bagian itu tidak akan pernah kuturunkan.


"Ini bukan saatnya keras kepala soal harga diri murahan! Kalau kamu tidak datang—"


"Berhenti menggangguku, Pangeran Mengecewakan."


"…………!"


Aku sengaja mengucapkannya untuk memancing reaksi, tetapi Tsukiyama hanya menunjukkan kekesalan tanpa melakukan apa pun.


Dia memang orang dengan rasa keadilan yang kuat; kekerasan bukan pilihannya. Kemungkinan besar, dia juga tidak terlibat dalam perundungan ini—meski aku tahu itu, tidak ada gunanya.


"Untuk hari ini aku menyerah. Tapi aku akan mengajakmu lagi…"


Hanya itu yang dia katakan sebelum kembali ke sisi Amada, dengan senyum ceria seolah tidak terjadi apa-apa.


Amada dan Tsukiyama berbincang akrab; duo sahabat kelas kami. Namun, selain Hidaka, tidak ada satu pun heroine lain di sana. Biasanya, setidaknya tiga orang selalu berada di sekitar Amada—aneh juga rasanya.


◆ ◆ ◆


Ayahku meninggal dunia.


Penyebabnya adalah dia dipecat dari perusahaan tempatnya bekerja, lalu mendapatkan pekerjaan baru di perusahaan hitam yang kejam.


Penyebab kematiannya adalah kecelakaan lalu lintas akibat mengemudi sambil mengantuk, dan tragisnya, seorang gadis di dekatnya ikut menjadi korban.


Sejak itu, media massa mendatangi rumah kami hampir setiap hari, dan begitu aku melangkah keluar, pertanyaan tanpa ampun langsung menghujaniku.


—Apakah kamu tidak merasa bertanggung jawab?


—Bagaimana kamu akan menebusnya?


—Apakah kamu tidak merasa malu ayahmu melakukan hal seperti ini?


Omong kosong.


Ayahku adalah orang yang baik… sangat baik.


Dia memang sering bercanda, tapi dia orang yang lembut.

Meski dia dipecat karena ulahku, dia tidak pernah menyalahkanku dan justru memelukku.


Dia bahkan meminta maaf karena telah membuatku menderita, padahal dia sama sekali tidak perlu melakukannya.


Semua ini salah mereka.


Mereka yang membuat ayahku—


Bel pintu berbunyi.


Pukul dua puluh dua malam.


Seharusnya para wartawan sudah pulang.


Saat aku mengangkat interkom, terdengar suara, "Ini Tsukiyama."


"…Untuk apa kamu datang?"


Ketika pintu dibuka, yang pertama terdengar adalah suara hujan deras.


Di hadapanku berdiri Tsukiyama dengan seragam sekolah, memegang bingkisan kue mahal. Biasanya dia menatapku lurus, tapi hari ini dia sama sekali tidak berani menatap mataku.


"Maaf… Ini bukan sesuatu yang bisa ditebus dengan permintaan maaf. Tapi… maaf…"


Aku langsung tahu apa yang dia minta maafkan—tentang ayahku.


Sebelum dipecat, ayahku bekerja di perusahaan tempat ayah Tsukiyama menjabat sebagai direktur utama. Dan setelah mengetahui kasusku, ayah Tsukiyama murka dan memecat ayahku.


Kemungkinan besar, dialah yang menceritakan semuanya pada ayahnya—dan akibatnya…


"A-aku tidak pernah menyangka akan jadi seperti ini… Kalau saja aku bisa menghentikannya dengan benar… maaf! Maafkan aku!!"


"Kalau begitu, kembalikan ayahku. Hidupkan dia lagi."


"…Maaf…"


Permintaan maaf itu tidak berarti apa-apa.


"Hei, Ishii. Datanglah ke sekolah. Justru di saat seperti ini, kamu harus mengandalkan teman—"


"Untuk apa kembali ke tempat yang ingin menyingkirkanku?"


Teman? Yang ada di sana hanyalah para sampah yang terus menyiksaku.


"Tidak, itu tidak benar!"


"Itu benar. Untuk apa aku kembali? Supaya diperlakukan seperti itu lagi?"


"Aku tidak akan membiarkan siapa pun mengganggumu lagi! Aku akan melindungimu!"


Yang ingin kamu lindungi bukan aku, tapi hatimu sendiri. Kamu tahu bahwa akibat tindakanmu, ayahku kehilangan nyawanya.


Karena itulah kamu mengibarkan dalih ‘melindungiku’ demi menghapus rasa bersalahmu sendiri—lelucon yang keji.


"Kata-kata dari orang yang membunuh ayahku tidak akan pernah sampai kepadaku."


"…………!"


Tsukiyama menjatuhkan payung dan bingkisan kuenya, lalu bersujud di tanah dalam keadaan basah kuyup.


"Apa pun yang bisa kulakukan, akan kulakukan! Kali ini, aku pasti akan menyelamatkanmu!"


"Minggir. Munafik."


Hanya itu yang kukatakan sebelum menutup pintu.


Tidak ada yang bisa kembali seperti semula.


Ayahku… tidak akan pernah pulang lagi.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close