NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Shujinkou no Osananajimi ga, Wakiyaku no Ore ni Guigui Kuru V3 Chapter 4

 Penerjemah: Flykitty

Proffreader: Flykitty


Chapter 4

Tokoh Pendukung di Dalam Sumur, Tidak Mengenal Sahabat


Pada kehidupan pertamaku, peristiwa yang menjadi pemicu kehancuran total keluargaku adalah satu kejadian.


Yaitu, pemecatan ayahku.


Setelah dipecat dari perusahaan tempatnya bekerja, ayah mendapatkan pekerjaan baru di sebuah perusahaan yang sangat kejam dan penuh eksploitasi. 


Ia dipaksa menangani berbagai pekerjaan hingga kelelahan, lalu mengalami kecelakaan lalu lintas dan meninggal dunia.


Dan yang terburuk, ia tidak sendirian—seorang gadis yang berada di dekatnya ikut terseret dalam kecelakaan itu.


Setelahnya, orang tua gadis tersebut mengamuk dan membunuh ibuku dengan pisau.


Aku dan Yuzu, yang kehilangan kedua orang tua sekaligus uang, terpaksa hidup di apartemen sewaan yang reyot. 


Aku berhenti sekolah di SMA Hirasaka dan menjalani hari-hari dengan kerja paruh waktu. Aku berpikir, setidaknya Yuzu masih bisa menjalani kehidupan yang normal—dan itulah kesalahan terbesarku.


Tuduhan palsu yang diarahkan padaku di SMA Hirasaka, serta insiden yang menimpa ayahku.


Yuzu, yang mengetahui semua itu, menjadi sasaran perundungan kejam di sekolah.


Tubuh dan jiwanya benar-benar terkuras. Tanpa menyadari lampu lalu lintas yang sudah merah, Yuzu melangkah ke jalan raya dan kehilangan nyawanya.


Kehilangan segalanya, aku pun hancur. Aku memilih jalan untuk mengakhiri hidupku sendiri.


Alasan aku mati-matian mencegah sandiwara penghakiman palsu yang dilakukan Amada adalah untuk menghentikan rantai tragedi ini.


Kalau hanya aku yang jadi korban mungkin masih bisa diterima. Tapi aku tidak boleh menyeret keluargaku ke dalamnya.


Dan begitu, di kehidupan keduaku, aku berhasil menghentikan sandiwara penghakiman palsu Amada.


Aku juga berhasil menggagalkan rencana Hitsujitani dan melindungi Yuzu.


Aku menghancurkan semua "event romansa" yang terjadi pada semester pertama di kehidupan pertamaku, dan mendapatkan teman-teman baru.


Karena itulah, mungkin aku jadi lengah.


Di semester pertama, Amada seharusnya tidak akan bergerak lagi. Untuk sementara, semuanya aman. Namun seolah memanfaatkan kelengahan itu, insiden baru pun terjadi.


Pelakunya adalah pria yang dijuluki "Pangeran Mengecewakan" dan berada di posisi serba tanggung di sekolah—Tsukiyama Ouji.


Ayahku bekerja di Tsukitachi Manufacturing.


Dan direktur perusahaan itu adalah ayah Tsukiyama.


Ayah Tsukiyama sangat menyayangi putranya.


Ia tidak akan menunjukkan belas kasihan kepada siapa pun yang membahayakan anaknya atau orang-orang di sekitarnya.


Pada kehidupan pertamaku, ayah Tsukiyama mempercayai sandiwara penghakimanku sebagai kebenaran. Ia murka dan memecat ayahku.


Dan sejak saat itu, keluargaku benar-benar hancur.


Itulah sebabnya, pemecatan ayahku tidak boleh terjadi lagi.


Begitu itu terjadi, keluargaku pasti akan runtuh sepenuhnya……


◇ ◇ ◇


Pagi hari, aku berangkat dari rumah bersama Yuzu, lalu berpisah di tengah jalan.


Saat aku melanjutkan perjalanan sendirian menuju SMA Hirasaka, aku melihat dua orang di jalan.


Tsukiyama dan Hidaka.


Keduanya berdiri berdampingan seperti sepasang kekasih, seolah menungguku.


"Selamat pagi, Ishii."


"Apa maumu, Tsukiyama?"


Kata-kata yang Tsukiyama ucapkan kemarin sepulang sekolah kembali terngiang.


── Ayahmu bekerja di perusahaan ayahku, ya.


Hanya dengan kalimat itu saja, aku tak lagi bisa melawan Tsukiyama.


Ayah Tsukiyama begitu memuja putranya. Jika itu permintaan anaknya, ia akan mengabulkan apa pun.


Bagaimana jika ayah Tsukiyama mempercayai informasi palsu dan memecat ayahku?


Hanya membayangkannya saja sudah cukup membuatku diliputi ketakutan dan tak bisa bergerak.


Tsukiyama pasti menyadarinya. Dengan senyum penuh kemenangan, ia berbicara.


"Aku ini orang populer, tahu."


"Terus kenapa?"


Senyumnya berubah makin menjijikkan.


"Bukankah orang populer seharusnya jadi sosok yang dikagumi semua orang? Kalau begitu, semuanya harus kelas satu. Misalnya…… pasangan juga."


"Lalu?"


Pandangan Tsukiyama beralih sekejap dari diriku ke Hidaka di belakangku.


"Aku boleh mengambilnya, kan?"


"Hidaka itu bukan barang."


"Ah, benar. Kau benar sekali. Kalau soal jadi pasangan, yang penting adalah kehendak kedua pihak."


Di kehidupan pertamaku pun, Hidaka tidak pernah menanggapi perasaan Amada.


Meski Tsukiyama mendekatinya, seharusnya dia tidak akan dengan mudah mengangguk setuju.


Namun aku tahu. Aku tahu momen ketika hati Hidaka hancur di kehidupan pertamaku.


Setelah sandiwara penghakimanku terjadi, saat aku masih bersekolah di SMA Hirasaka—(waktu itu aku belum menyadarinya) aku menerima perundungan kejam, dan Hidaka pernah mencoba menolongku. Tapi dia tidak bisa bergerak. Bahkan, dia justru berada di sisi Amada.


Kenapa?


"Aku tahu kau tidak suka Ishii, tapi justru karena itu, tidak perlu sampai ikut campur, kan?"


"Jangan mengaturku."


"Aku cuma khawatir. Kau seharusnya tidak berhubungan dengan Ishii. Kau mengerti, kan?"


Percakapan Hidaka dan Amada saat itu.


Pesan Amada jelas: kalau Hidaka terus berhubungan denganku, maka perundungan terhadapku akan makin parah.


Hidaka menyerah pada ancaman itu dan tak bisa berbuat apa-apa. Ia terpaksa menuruti Amada.


Kalau sekarang Tsukiyama menuntut sesuatu yang lebih parah lagi dari Hidaka……? Jika aku tidak melakukan apa-apa, Hidaka akan—jangan main-main!


Kalau ini perasaan timbal balik, tak masalah. Tapi ini berbeda. Ini ancaman yang mengabaikan kehendak Hidaka.


Kalau begitu, aku harus mencegahnya sepenuh tenaga.

Ingin sekali mencegahnya, tapi……


"Kalau kau tidak keberatan ayahmu kenapa-kenapa, silakan bertindak sesukamu."


Begitu ayahku dijadikan sandera, aku tidak bisa berbuat apa pun.


Kalau ayah Tsukiyama bergerak sekarang…… sial!


"…………"


Saat aku tak bisa membalas sepatah kata pun, Tsukiyama meletakkan tangannya di pundakku.


"Hei, jangan keras kepala. Ikut saja ke sesi belajar. Aku siapkan makanan kesukaanmu. Di sana, akan kutunjukkan betapa dekatnya aku dan Hidaka……"


"Aku nggak akan datang. Sama sekali nggak."


Kalau aku pergi ke rumah Tsukiyama, itu berarti kekalahan total. Karena itu, apa pun yang terjadi, aku tidak akan melakukannya.


"Oh ya? Kalau begitu, tonton saja sambil menggigit jari."


Nada suaranya sedikit mengandung kejengkelan.


Tsukiyama membelakangiku dan berjalan menuju SMA Hirasaka bersama Hidaka.


Tak bisa melakukan apa-apa terasa menyedihkan, dan hanya rasa frustrasi yang meluap. Sebagai perlawanan kecil, aku mengeluarkan ponsel dan mengirim pesan pada Tsukiyama:


[Masakan favoritku sup sirip hiu.]


Kalau kau benar-benar mengundangku ke rumahmu, bersiaplah keluar uang banyak.


"A-ah…… Ishii. Selamat pagi."


Suara dari belakang. Saat aku menoleh, itu Kobayakawa. Mungkin karena kejadian kemarin, dia terlihat lesu.


"Ishii, hari ini sendirian? Umm, Hidaka-nya?"


"Mana aku tahu."


"Ah! Tunggu dulu! Aku ikut! Kita berangkat bareng!"


◇ ◇ ◇


Begitu aku masuk ke kelas 1-C, suara riuh langsung terhenti, dan semua pandangan tertuju padaku. Meski menyadarinya, aku pura-pura tidak peduli dan menuju bangku sendiri.


Tsukiyama dikelilingi banyak orang di tengah kelas, sementara aku duduk di kursi paling pinggir.


Suasana kelas ini mengingatkanku pada hari-hari setelah aku dihakimi oleh Amada di kehidupan pertamaku.


Namun, ada perbedaan yang jelas.


"Ishii, kau baik-baik saja?"


"Tidak masalah. Tapi kenapa kau ada di sini?"


Itu Kobayakawa.


Di kehidupan pertamaku, aku benar-benar terisolasi di kelas. Tapi sekarang berbeda. Entah kenapa, Kobayakawa ada di sisiku.


"Ya, soalnya aku sudah tidak punya teman lain…… t-tapi ini salahmu juga, Ishii!"


Kalau dibilang begitu, aku jadi sedikit serba salah. Masalah Yoshikawa dan Oouchi memang bisa diselesaikan berkat Kobayakawa, tapi akibatnya Kobayakawa justru kehilangan teman-temannya.


Kalau pemicu Kobayakawa bertindak adalah kata-kataku… ya, bisa dibilang ini salahku juga. Setengahnya, sih.


Setelah mengalihkan pandangannya bolak-balik antara kelompok Tsukiyama dan aku, Kobayakawa bertanya padaku.


"Kenapa bisa jadi seperti ini?"


"Aku juga nggak tahu."


Aku memang selalu begitu.


Saat sesuatu yang kuanggap biasa saja menghilang, barulah aku menyadari betapa berharganya itu.


Hidaka, yang sampai kemarin masih berada di sisiku, kini tidak ada. Dia sudah masuk ke dalam kelompok Tsukiyama.


"Eh, semuanya. Kalau mau, bagaimana kalau liburan musim panas nanti kalian datang ke vila keluargaku?"


Meski aku ingin tidak mendengarnya, kami berada di kelas yang sama. Mau tak mau, suaranya masuk ke telingaku.


Tidak… mungkin dia sengaja bicara agar terdengar jelas. Untuk menekanku.


"Eh? Ke rumah Tsukiyama-kun? Kami boleh datang juga?"


Dengan nada agak sungkan, siswi pemimpin faksi Kanie bertanya.


"Tentu saja, kan? Aku bakal bicara baik-baik sama ayahku."


Itu adalah rencana liburan musim panas yang sebelumnya pernah Tsukiyama tawarkan kepada kami.


Pergi bermain bersama ke vila milik ayah Tsukiyama di Okinawa. Namun, fakta bahwa ia mengusulkannya di depan semua orang—tepatnya, di kelas tempat aku berada—jelas merupakan pernyataan sikap darinya.


Artinya: dia sudah tidak berniat pergi bersamaku lagi.


Aku sempat berpikir mungkin perjalanan itu akan dibatalkan, tapi ternyata terwujud dalam bentuk terburuk.


"Ka-kalau begitu… mungkin aku ikut deh. Umm, yang lain gimana?"


"Ka-kalau semua pergi, aku juga…"


Menyusul persetujuan si pemimpin, gadis-gadis lain pun ikut mengangguk ragu-ragu. Mendengar jawaban itu, Tsukiyama menampilkan senyum puas.


"Serius!? Kalau begitu, sudah diputuskan! Oh iya, kamu ikut wajib, ya?"


"……Iya."


Hidaka menuruti kata-kata tegas Tsukiyama tanpa sedikit pun melawan.


Begitu saja, janji kami lenyap dengan mudahnya.


Tepat saat itu, Iba dan Ushimaki masuk ke kelas 1-C.


Namun, alih-alih menghampiriku, mereka justru menuju kelompok Tsukiyama lebih dulu.


"Mikoto-san, ayo pergi."


"Oi, oi, Iba. Tiba-tiba apa ini? Hidaka jelas-jelas bareng aku, kan?"


Nada bicaranya seolah mengatakan bahwa hak kepemilikan atas Hidaka ada padanya. Sebelum Iba sempat membalas, Ushimaki lebih dulu bereaksi.


"Tsukiyama! Sudah cukup, deh! Aku nggak tahu apa yang ada di kepalamu, tapi—"


"Aku nggak apa-apa."


"Tapi ini jelas—!"


"Tolong… aku baik-baik saja."


Setelah Hidaka berkata demikian, Iba dan Ushimaki tak bisa lagi mengatakan apa pun.


"Baiklah… Tapi bukan berarti aku menyerah."


Ushimaki mendengus keras dan membelakangi Tsukiyama. Lalu, dengan ekspresi murung yang berbanding terbalik, Ushimaki datang ke arahku bersama Iba.


"Maaf, Ishii-san. Kami ingin berbuat sesuatu, tapi…"


"Aku nggak bakal maafin ini! Dasar Tsukiyama, apaan sih dia!"


Ushimaki tampak sangat kesal, sampai-sampai tanpa peduli didengar orang lain, ia meluapkan kekesalannya dengan suara keras. Namun, tak satu pun—termasuk Tsukiyama—bereaksi.


Dengan suara pelan, Iba memastikan kepadaku.


"Bolehkah kami mendengar situasinya?"


"Nanti saja waktu istirahat makan siang."


"Baik."


"A-anu… Iba, Ushimaki… selamat pagi!"


Hanya salam saja, tapi nadanya seperti pertaruhan hidup mati, Kobayakawa.


"Ya, selamat pagi, Kobayakawa-san. Terima kasih banyak atas bantuan kemarin ya."


"Pagi, Kobayakawa. Makasih ya kemarin."


"Eh!? Kalian berdua tahu namaku!? Hei, Ishii! Jangan-jangan ini ada peluang—"


"Nggak ada."


"Tidak."


"Mana mungkin."


"……Iya ya."


Kobayakawa langsung melambung, lalu seketika jatuh tersungkur.


Memang tampak konyol, tapi mungkin itu justru cocok untuk mencairkan suasana kelas yang tegang.


◇ ◇ ◇


Saat jam makan siang tiba, seperti biasa aku menuju meja luar di kantin.


Biasanya, begitu pelajaran selesai, Hidaka langsung datang ke mejaku. Lalu saat aku bilang, "Toh kita keluar kelas juga, bukannya jadi dua kali kerja?" dia akan menjawab dengan sedikit cemberut, "Aku mau bareng Kazupyon."


Tapi sekarang, Hidaka tidak ada. Dia makan siang bersama Tsukiyama dan yang lain.


Saat aku meninggalkan kelas sendirian, seperti pagi tadi, Kobayakawa buru-buru mengikutiku.


Setelah itu kami bertemu dengan Iba dan Ushimaki yang sudah lebih dulu datang, lalu aku memakan bekal yang dibuat hanya oleh ibuku—sudah lama rasanya. Seperti biasa, enak. Enak sih… tapi…


Setelah makan siang yang terasa kurang memuaskan itu, aku menjelaskan situasinya kepada Iba dan Ushimaki.


Perusahaan tempat ayahku bekerja adalah Tsukitachi Manufacturing, yang dipimpin oleh ayah Tsukiyama.


Jika aku melawan Tsukiyama, ada kemungkinan ayahku akan dipecat. Dan karena Hidaka tahu itu, dia tidak punya pilihan selain menuruti Tsukiyama.


"Begitu ya… ini memang masalah yang sulit," kata Iba dengan wajah serius.


"Tapi, emangnya bisa begitu? Cuma gara-gara anaknya bilang…."


Ushimaki terlihat ragu, berlawanan dengan Iba yang tampak memahami.


Sebenarnya, reaksi Ushimaki lebih masuk akal. Aku tidak paham betul soal dunia perusahaan, tapi rasanya mustahil seseorang dipecat secara sewenang-wenang hanya karena permintaan anak pemilik perusahaan.


Namun, di kehidupan pertamaku, itu benar-benar terjadi. Ayahku dipecat dari Tsukitachi Manufacturing… dan kemudian meninggal.


"Tidak bisa dibilang mustahil. Ayah Ouji-kun benar-benar sangat menyayangi putranya. Demi anaknya, dia tipe orang yang dengan mudah melanggar aturan."


"Tapi, kalau dipikir secara normal—!"


"Bukankah kita juga begitu?"


"……Ugh!"


Tepat sasaran. Ushimaki terdiam.


Dulu, Iba dan Ushimaki pernah melakukan tindakan yang jauh melampaui batas wajar seorang siswi SMA.


Jika mempertimbangkan perbuatan mereka sendiri, mungkin memang tidak mustahil—begitulah yang terpikirkan.


Iba berkata kepadaku,


"Kalau begitu, bagaimana kalau Ishii-san ikut dalam kelompok belajar Ouji-kun? Atau bukan Ishii-san pun tak masalah, aku atau Moka-san juga bisa. Lalu, di sana kita jelaskan situasinya kepada ayah Ouji-kun—"


"Kamu pikir itu bakal berhasil?"


Wajah Iba meredup.


"……Tidak. Kami justru akan dianggap musuh yang mencari-cari kesalahan pada putra kesayangannya."


Seperti para heroine yang dulu jatuh cinta pada Amada, bagi ayah Tsukiyama, kata-kata Tsukiyama adalah absolut. Bahkan jika Tsukiyama salah, ia tetap akan memihak putranya.


Dan tipe orang seperti itu adalah yang paling merepotkan. Karena rem bernama "niat baik" sama sekali tidak berfungsi.


"……Maaf."


Di situ, Kobayakawa meminta maaf dengan suara tertahan.


"Mungkin… ini salahku."


"Maksudmu?"


"Kamu ingat, beberapa waktu lalu hari Sabtu kita ketemu, kan? Waktu itu aku dengar cerita soal ayahmu dari adikmu. Terus…"


"Jangan-jangan…"


"Iya. Waktu aku ikut kelompok belajar hari Minggu, aku ceritain itu ke Tsukiyama…"


"……Begitu, ya."


Mendengar nada suara yang dipenuhi amarah, Kobayakawa panik dan buru-buru melanjutkan penjelasannya.


"Aku benar-benar nggak punya niat jahat! Aku cuma mikir, mungkin bisa jadi bahan obrolan ringan saja! Tapi… sekarang aku ingat, waktu itu Tsukiyama memang…."


Kobayakawa berhenti sejenak, menarik napas.


"Dia bilang, ‘Ini kelihatannya bisa dimanfaatkan.’ Aku sama sekali nggak ngerti maksudnya, tapi siapa sangka bakal jadi begini… maaf!"


Dengan kecepatan seolah kepalanya akan menancap ke meja, Kobayakawa membungkuk dalam-dalam kepadaku.


Aku sempat bertanya-tanya bagaimana Tsukiyama bisa tahu soal itu—jadi begini ceritanya.


"Tidak apa-apa. Lagipula, inti masalahnya bukan di situ."


"Maksudmu?"


Pemecatan ayahku.


Ini adalah peristiwa terburuk yang harus dihentikan apa pun yang terjadi.


Namun, yang paling penting bukanlah bagaimana cara menghentikannya.


Yang paling penting adalah…


"Pertanyaannya, kenapa dia sampai melakukan semua ini."


Mengancamku demi bisa menjadikan Hidaka sebagai pacarnya—mustahil rasanya itu satu-satunya tujuan.


Pasti ada tujuan lain.


Kalau itu bisa diketahui…


"Memang sih, dulu Ishii dan Tsukiyama cukup akrab… bahkan setelah Tsukiyama jadi populer, dia tetap nggak pernah berhenti mengajak Ishii…"


"Dan Ishii-san selalu menolaknya dengan cercaan tanpa ampun."


"…………"


Itu benar-benar mengenai sasaran.


"Mungkin dia kesal karena terus ditolak, jadi membalas dendam?"


"Bukankah sebaiknya kamu minta maaf dengan baik sekali saja?"


"……Tidak mau."


"Menurutku ini bukan saatnya keras kepala."


"Bukan itu maksudnya! Pokoknya, aku sama sekali nggak berniat minta maaf pada Tsukiyama!"


Kalau aku memang salah, tentu saja aku akan minta maaf.


Tapi soal terus menolak ajakan Tsukiyama, aku punya alasanku sendiri.


Memang, cara bicaraku waktu itu mungkin agak… tidak, sangat kasar, tapi tetap saja…


"Hah… baiklah. Tapi waktu kita tidak banyak, tahu? Kalau kita hanya diam di sini, orang yang benar-benar merepotkan bisa saja mulai bergerak."


"Aku tahu…"


"Eh? Ishii, orang merepotkan itu siapa?"


"Tidak usah dipikirkan."


"Mana bisa begitu! Rasanya aku jadi orang yang dikucilkan banget di sini!?"


Aku memang tidak berniat mengucilkannya, tapi untuk urusan itu, dia benar-benar orang luar. Rasanya terlalu merepotkan harus menjelaskan dari awal soal urusanku dengan Amada.


"Berisik. Intinya, kita harus cepat-cepat menebak tujuan sebenarnya."


"Ya… iya deh…"


Dengan wajah murung, Kobayakawa bergumam, "Suatu hari nanti ceritain ya."


Entah hari itu akan datang atau tidak, yang jelas sekarang membongkar tujuan Tsukiyama adalah prioritas utama.


Begitu itu ketahuan, cara kami menghadapi situasinya juga akan jelas.


◇ ◇ ◇


Pelajaran jam kelima berakhir, dan begitu jam istirahat dimulai, Hidaka langsung berdiri dan menuju Tsukiyama.


Aku hanya diam memperhatikannya, dengan perasaan yang sulit dijelaskan.


Mungkin, selama ini Amada selalu merasakan perasaan seperti ini?


Bukan berarti aku bersimpati hingga muncul persahabatan, tapi daya tahan mentalnya yang bisa terus menahan hal seperti ini mungkin layak dipuji—pemikiran itu langsung kusesali.


Karena Amada mulai bergerak.


"Tsuki, ini sudah keterlaluan, kan?"


Cara dia menatap lurus ke arah Tsukiyama seperti pangeran yang datang menyelamatkan putri yang terkurung. Namun, bagi diriku, tindakan Amada justru menguntungkan.


Aku jadi yakin bahwa dalam kegilaan Tsukiyama kali ini, Amada tidak terlibat.


Sejak awal, aku memang menduga kemungkinan itu kecil. Kalau Amada terlibat, dia pasti sudah sejak awal masuk ke kelompok Tsukiyama, dan tidak akan membiarkan Hidaka diperlakukan sesuka hati.


Seperti biasanya, Amada adalah tipe orang yang tidak bisa menahan diri.


Begitu ada kesempatan, dia langsung bertindak. Bagi Amada, bergerak di timing seperti ini justru terlalu lambat.


Selain itu, bersekongkol diam-diam dengan Tsukiyama lalu menyuruhnya berperan sebagai penjahat demi membuat dirinya terlihat sebagai pahlawan—Amada takkan pernah melakukan hal seperti itu.


Dia selalu memanipulasi keadaan secara halus, lalu berpura-pura tidak tahu apa-apa. Begitulah Amada Teruhito.


"Apa maksudmu, Teru?"


Dengan senyum licik seperti penjahat, Tsukiyama menatap Amada. Senyum itu jelas berbeda dari senyum ramah yang selama ini ia tunjukkan sebagai siswa populer.


"Ini soal Mikoto. Dia kelihatan kesulitan, kan?"


"Hidaka tidak pernah mengatakan itu sedikit pun."


Dalam situasi seburuk ini, apakah Amada sebagai protagonis akan tetap mengalahkan Tsukiyama?


Kalau itu terjadi, lalu Hidaka jatuh ke tangan Amada… kekhawatiran seperti itu sama sekali tidak ada.


"Walau dia nggak bilang, aku tahu. Kami teman masa kecil."


Kalimat yang menjengkelkan.


Hanya karena dia teman masa kecil, dia merasa paling tahu segalanya tentang Hidaka.


Mana mungkin. Yang dia lihat hanyalah Hidaka Mikoto versi yang menguntungkan dirinya sendiri.


"Mikoto, kamu boleh jujur. Aku pasti akan melindungimu."


Dengan senyum lembut, Amada berbicara kepada Hidaka.


Sungguh mengherankan betapa polosnya dia sampai berpikir itu akan berhasil.


Belajarlah sedikit, tentang bagaimana sebenarnya perasaan Hidaka terhadapmu.


"Kehadiranmu di dekatku bikin aku kesal."


"……! T-tidak mungkin…"


Penolakan yang jelas dari Hidaka. Tak ada kebohongan di sana. Namun, Amada tidak menerimanya begitu saja.


Dia pasti berpikir bahwa Hidaka hanya terpaksa menurut karena diancam Tsukiyama.


"Tuh, Teru. Gimana sekarang?"


Selain memang dibenci Hidaka, Amada yang tak bisa meminjam kekuatan heroine adalah sosok yang lemah.


Dalam kondisi sekarang, mustahil dia bisa mengalahkan Tsukiyama.


"……Untuk sekarang aku mundur. Tapi aku pasti akan menolongmu."


Setelah berkata demikian, Amada membalikkan badan dan kembali ke tempat duduknya.


Sayang sekali, Amada.


Kau pasti ingin berperan sebagai protagonis keadilan yang menyelamatkan heroine dari penjahat yang mengekangnya, tapi itu mustahil—meski begitu, kau masih jauh lebih baik dibanding aku yang sama sekali tak bisa berbuat apa-apa….


Percakapan Tsukiyama dan kawan-kawannya sampai ke telingaku.


"Hidaka, hari ini juga datang ke kelompok belajar, ya. Ayahku juga bilang ingin bertemu denganmu."


"……Baik."


Jawaban singkat dari Hidaka. Namun, kata-kata Tsukiyama entah kenapa terus menggangguku.


Kalau dipikir-pikir, di kehidupan pertamaku dulu dia juga…


── Gimana? Aku juga pengin ngenalin kamu ke ayahku.


── Mana mungkin. Aku cuma mau ngenalin teman sekelas ke ayahku saja.


Benar. Ayah Tsukiyama memang dikenal sangat memanjakan putranya secara berlebihan, tapi Tsukiyama sendiri juga punya perasaan yang sangat kuat terhadap ayahnya.


Perasaan itu mirip dengan perasaanku terhadap keluargaku sendiri….


"Makasih ya. Maaf sudah merepotkan."


"Oke."


Tsukiyama sangat menyayangi ayahnya. Itu fakta yang tak terbantahkan.


Kalau begitu, berarti dia…


◇ ◇ ◇


Sepulang sekolah, aku hanya berdiri memandangi Tsukiyama, Hidaka, dan anggota lainnya yang pergi bersama.


Biasanya aku akan berangkat ke tempat kerja paruh waktu bersama Hidaka, tapi hari ini—bahkan minggu ini—tidak ada satu pun hari di mana jadwal kerjaku dan Hidaka bertabrakan.


Karena menjelang ujian, kami memutuskan untuk mengurangi jam kerja paruh waktu. Namun, kalau kami berdua libur bersamaan, itu akan merepotkan manajer toko, jadi kami sepakat untuk bergantian mengambil libur. Sekarang, aku justru menyesali keputusan itu.


Untungnya, masih ada waktu luang sebelum jam masuk kerja, jadi aku memanggil seseorang tertentu.


"Maaf ya, Kanie. Sudah mau meluangkan waktu."


"Tidak apa-apa kok. Tapi dengan ini, kita impas, ya."


Saat jam istirahat siang, aku meminta Iba dan Ushimaki untuk menghubungi Kanie. Ada satu hal tentang Tsukiyama yang benar-benar ingin kutahu.


"Aku nggak bisa lama-lama. Aku juga harus ke kelompok belajar."


Di ruang kelas yang hampir kosong karena menjelang ujian,

aku berbincang dengan Iba, Ushimaki, dan Kanie.


Entah kenapa, aku merasa sangat muak menyadari bahwa aku mulai berada dalam situasi yang mirip dengan Amada.


"Kalau Hidaka-san sih, harusnya aman. Ayah Tsukiyama-kun memang kelihatannya sangat menyukainya, tapi cuma sebatas itu. Sejauh ini, Tsukiyama-kun sepertinya belum akan melakukan apa-apa. Lagipula, ada banyak orang juga."


"Ayah Tsukiyama?"


Hidaka memang cantik, jadi tak aneh kalau dia disukai, tapi sampai disebut-sebut begini rasanya berlebihan. Atau mungkin ada alasan lain…


"Ayah Tsukiyama-kun itu orangnya kekeluargaan. Kalau kami main ke sana, beliau yang masak. Rasanya lebih seperti ayah yang ramah daripada presiden direktur perusahaan besar."


"Terus, kenapa dia jadi menyukai Hidaka?"


"Mungkin karena dia membantu masak. Soalnya, kalau kami ke sana biasanya cuma belajar dan nggak pernah bantu apa-apa. …Ya, meski ada juga yang cuma pakai belajar sebagai alasan."


Kata terakhir itu diucapkan dengan suara pelan.


Begitu ya. Hidaka memang punya sisi kekeluargaan.


Waktu datang ke rumahku pun, dia membantu Ibu menyiapkan sarapan dan bekal. Tidak aneh kalau ayah Tsukiyama menyukainya. Tapi tetap saja, ada beberapa hal lain yang menggangguku.


"Ayahnya yang kekeluargaan itu cukup mengejutkan. Biasanya kan, ibu yang—"


"Apakah kalian belum pernah mendengar soal kondisi keluarga Tsukiyama-kun?"


Iba menyela.


"Eh? Yah, kalau dipikir-pikir…"


Dulu, setelah masalah penguntit Hitsujitani selesai, Tsukiyama pernah bilang bahwa ayah dan ibunya tidak akur dan hidup terpisah. Dia bahkan sudah hampir tiga tahun tidak benar-benar melihat wajah ibunya.


"Mungkin kurang pantas kalau aku yang mengatakan ini, tapi ibu Tsukiyama-kun bukanlah orang yang bisa dipuji. Dia tidak memedulikan keluarga, menghamburkan uang ayah Tsukiyama-kun untuk bersenang-senang…"


"Sudah sejak lama?"


"Iya. Setidaknya sejauh yang aku ketahui."


Iba dan Tsukiyama berasal dari SMP yang sama. Mungkin dari situlah Iba tahu soal kondisi keluarga Tsukiyama.


Ibu yang tidak peduli keluarga, ya…


Mungkin karena itulah ayah Tsukiyama begitu memanjakan Tsukiyama, agar anaknya tidak merasa kesepian karena kurangnya kasih sayang ibu.


"Sepertinya itu memang alasan ayah Tsukiyama-kun begitu memanjakan Tsukiyama-kun."


Sepertinya dia sampai pada kesimpulan yang sama denganku. Kanie melanjutkan.


"Selain itu, ayah Tsukiyama-kun itu sangat pencemas. Bahkan saat Tsukiyama-kun nggak ada, beliau suka bertanya ke kami, ‘Bagaimana Tsukiyama di sekolah? Dia nggak dibully, kan?’ Benar-benar kelihatan betapa beliau menyayangi dan menghargai Tsukiyama-kun."


Mencari tahu lewat teman, kalau-kalau ada hal yang tak bisa dikatakan langsung oleh anaknya, ya.


Kalau dipikir-pikir, ayahku juga pernah melakukan hal serupa pada Hidaka—meski akhirnya dimarahi Ibu.


Ushimaki ikut bicara.


"Tapi, bukannya dua-duanya sama saja? Tsukiyama juga sayang banget sama ayahnya."


"Benarkah?"


"Iya. Waktu kami main ke sana dulu, dia dengan bangga bilang ke ayahnya, ‘Lihat, aku punya banyak teman.’ Jadi mungkin waktu dia masih sedikit teman, Tsukiyama juga merasa berat. Karena nggak bisa dibanggakan ke ayahnya."


Ushimaki memakai kata "dibanggakan", tapi inti masalahnya bukan itu.


Kemungkinan besar, Tsukiyama sadar bahwa ayahnya sangat pencemas. Karena itu, dia tidak ingin membuat ayahnya khawatir—atau mungkin ingin memenuhi harapan ayahnya.


Di kehidupan pertamaku, aku tak mengerti kenapa Tsukiyama sering mengundang orang ke rumahnya. Rupanya, ada alasan seperti ini.


…Namun itu semua cerita di kehidupan pertama.


Di kehidupan kedua ini, dia terobsesi secara tidak wajar untuk terus mengundangku. Padahal, kalau hanya ingin mengundang orang, dia tak perlu terpaku padaku saja.


…Tidak, ini bukan poin terpenting. Mari bereskan hal lain yang mengganjal.


"Kanie, tadi kamu bilang ‘ada orang yang cuma menjadikan belajar sebagai alasan’. Kenapa pakai bentuk lampau?"


"Melihat Tsukiyama-kun hari ini, kamu belum paham?"


"Itu maksudnya… ah, jadi begitu…"


"Yup. Tsukiyama-kun bukan jadi populer cuma karena wajahnya saja."


Alasan bentuk lampau itu sederhana: para gadis mulai kecewa dengan sikap Tsukiyama.


Hari ini, Tsukiyama memang parah—bahkan lebih sombong dan menekan dibanding saat dia dulu dijuluki "Pangeran Mengecewakan" di kehidupan pertamaku.


Kalau dipikir-pikir, hari ini bukan orang lain yang mengusulkan, melainkan Tsukiyama sendiri yang mengajak semua orang.


Dan para gadis yang diajak pun menjawab dengan ragu, "Kalau semua pergi, aku ikut," padahal dulu mereka akan langsung antusias.


"Tapi ini baru kemarin, kan? Masa penilaian bisa berubah secepat itu?"


"Membangun kepercayaan itu susah, tapi runtuhnya cuma butuh sesaat, kan?"


Butuh waktu lama untuk disukai orang. Tapi untuk dibenci, cukup satu momen.


Hanya dengan satu kesalahan, semua yang telah dibangun bisa runtuh—itu cerita yang sering terdengar.


Apalagi, kepercayaan pada Tsukiyama baru dibangun belakangan ini. Bagi orang-orang yang mengenal Tsukiyama dulu, wajar kalau mereka berpikir, "Ah, akhirnya dia besar kepala lagi."


"Makanya, menurutku Ishii-kun bisa mengatasinya dengan mudah. Kamu jago, kan? Mengendalikan keadaan."


Cara ngomongmu nyebelin banget, hei.


"Benar. Tsukiyama-kun sekarang terlihat besar kepala, jadi sepertinya bisa dibereskan dengan cara yang sama seperti dulu. Dibandingkan kasus Koro-san, ini jauh lebih mudah."


"Dan Hime-chan waktu di kelompok belajar juga seru banget."


"Tolong jangan sebut itu."


Mungkin karena sedikit lebih lega, Iba tersenyum kecil sambil berbicara dengan Kanie.


"Kalau begitu, ayo cepat-cepat bereskan Tsukiyama! Nanti Miko-chan juga kembali lagi!"


Ushimaki benar. Sekilas memang terlihat tidak menguntungkan, tapi sebenarnya situasinya berpihak pada kami.


Tapi belum. Masih belum bisa bergerak. Masih ada satu kepingan yang kurang.


Pasti ada sesuatu yang terlewat olehku. Kalau itu belum kutemukan…


"Kalau begitu, aku juga harus ke kelompok belajar. Kalau tidak, nanti dikira aku satu-satunya yang kabur. Lagipula, sebaiknya aku tetap berada di dekat Hidaka-san."


"Ah, tunggu sebentar. Kanie, sebelum pergi, aku mau tanya satu hal terakhir—"


Setelah berbincang sebentar dengan Kanie, kami pun meninggalkan SMA Hirasaka.


◇ ◇ ◇


Pagi hari, saat kami berangkat sekolah, Yuzu bertanya kepadaku seolah-olah sudah memantapkan tekadnya.


"Hei, Kazu. Kamu bertengkar dengan Miko-chan?"


"Tidak, kami tidak bertengkar."


"Kalau begitu, kenapa Miko-chan tidak ada?"


Nada suaranya penuh ketidakpuasan. Sama sepertiku, bagi Yuzu juga, ketidakhadiran Hidaka terasa sangat sepi.


"Yah… ada berbagai hal yang terjadi."


Dua hari terakhir ini, rumah keluarga Ishii terasa kurang hidup dibanding biasanya. Penyebabnya cuma satu—karena Hidaka Mikoto tidak ada.


Tanpa kami sadari, Hidaka telah menjadi sosok yang bukan hanya penting bagiku, tetapi penting bagi kami semua.


Menyadari hal itu membuatku senang, namun sekaligus juga menimbulkan perasaan yang rumit.


Kalau aku benar-benar ingin menolong Hidaka, sejujurnya aku mungkin bisa melakukannya. 


Namun meski begitu, lingkungan seperti sebelumnya… tidak akan kembali begitu saja.


Kurang. Itu saja tidak cukup.


Di kehidupan pertamaku, aku direnggut dari segalanya. Karena itu, di kehidupan kedua ini, aku akan mendapatkan segalanya.


Untuk itu, hanya merebut kembali Hidaka saja tidak cukup.


"Maksudmu berbagai hal itu apa? Kazu melakukan sesuatu?"


"Tidak, aku tidak melakukan apa-apa, dan Hidaka juga tidak melakukan apa-apa."


Mengabaikan berbagai hal agresif yang biasa terjadi.


"Kalau begitu, cepat bereskan dong. Kubilang ya, ini keajaiban loh? Orang sebaik itu sampai sangat menyukai Kazu."


"Keajaiban terbesar bagiku adalah bisa menjadi kakak-adik denganmu, Yuzu."


"Ucapan begitu sekarang tidak perlu."


Padahal aku sudah mengatakan perasaanku yang sebenarnya, kejam sekali.


Tapi Yuzu benar. Saat di kehidupan pertama aku hidup sebagai figuran, aku memikirkan hal ini hampir setiap hari.


Aku tidak mau menjalani kehidupan SMA hanya sebagai figuran. Aku ingin seseorang jatuh cinta padaku, meski itu demi kenyamanan dirinya sendiri.


Hal yang sebegitu egoisnya… ternyata benar-benar terjadi.


Kalau diriku yang dulu tahu, pasti dia akan mengeluh,

"Kenapa kalian belum pacaran? Itu kesempatan untuk jadi pemeran utama!"


Aku tahu. Diriku yang dulu itu…


"Hm?"


"Ada apa?"


"Tidak… cuma ada sesuatu yang mengganjal."


"Mengganjal?"


Ada sesuatu yang terasa mengganjal. Tapi apa? Apa sebenarnya yang mengganjal pikiranku?


Tidak bisa kupahami. Tapi aku merasa, sedikit demi sedikit aku semakin mendekat.


Pada tujuan sebenarnya dari dia itu…


"Pokoknya, Kazu harus cepat-cepat berdamai dengan Miko-chan! Kalau tidak, aku memutuskan hubungan persaudaraan denganmu!"


"Yuzu, apa kau menyuruhku mati?"


"Kalau begitu, cepat lakukan sesuatu!"


Sambil menerima amarah Yuzu, kami pun berjalan berdua.


◇ ◇ ◇


Setelah berpisah dengan Yuzu, aku berangkat ke sekolah sendirian.


Padahal baru hari kedua, entah kenapa rasanya waktu sudah berlalu sangat lama.


Hari ini pun, ketika masuk ke kelas, mungkin Tsukiyama dan Hidaka akan menghabiskan waktu dengan mesra.


Memikirkan itu saja membuatku sedikit murung—


"Hei, Ishii. Boleh bicara sebentar?"


Sialan. Bukan cuma sedikit—perkembangan yang benar-benar menyebalkan terjadi.


Kenapa harus dia yang menyapaku pagi-pagi begini. Benar-benar kacau.


"Apa, Amada?"


Saat kutanya, dia memperlihatkan ekspresi jelas tidak senang.


Namun jika diperhatikan, sudut bibirnya bergetar.


Situasi ini tidak menyenangkan baginya, tapi melihatku menderita terasa menyenangkan.


Makanya dia sengaja menungguku, ya.


Sepertinya kami benar-benar saling membenci tanpa batas.


"Jangan pura-pura bodoh. Kamu tahu, kan?"


Tidak salah lagi, ini soal Hidaka.


Musuh yang saling berhadapan bekerja sama untuk mengalahkan musuh besar bersama? Jangan bercanda.


"Ini soal Mikoto. Kenapa Tsuki memonopoli Mikoto?"


"Aku tidak punya kewajiban untuk menjelaskannya padamu."


Tidak mungkin aku menjelaskan keadaan sebenarnya pada orang ini. Masalah antara Tsukiyama dan aku adalah kelemahan nyataku.


Kalau Amada tahu, dia pasti akan memanfaatkannya untuk kejahatan. Dia memang tipe orang seperti itu.


"Jangan main-main. Sebagai teman masa kecil, tidak mungkin aku membiarkan Mikoto seperti itu."


Kau tetap payah dalam berbohong, dasar penipu.


Kau bukan ingin menolong Hidaka.


Kau ingin disukai Hidaka dengan cara menolongnya, kan?


Itulah sebabnya kau berpura-pura menjadi pahlawan keadilan yang menyelamatkannya dari penjahat.


"Bagaimana kalau Hidaka justru ingin kau menjauh?"


"Itu tidak penting. Aku yang akan melindungi Mikoto."


Ya ya, hebat sekali. Bagi otak romcom sepertimu, aku ini musuh yang merepotkan, atau mungkin rival?


Wah, dibanding kehidupan pertamaku, aku benar-benar naik pangkat, ya.


Dulu, aku bahkan bukan figuran…


"……Ah."


"Kenapa kau bengong?"


Amada bertanya, tapi kata-katanya tidak masuk ke telingaku. Pikiranku tiba-tiba dipenuhi ingatan tentang diriku di masa lalu.


Benar… saat itu, di kehidupan pertama, sambil menatap Amada dan yang lain menjalani hari-hari penuh keceriaan, aku berpikir:


──Aku tidak mau menjalani kehidupan SMA hanya sebagai figuran. Meski tidak bisa jadi pemeran utama, kalau masih ada kemungkinan menjadi salah satu karakter dalam romcom, aku tidak mau melewatkan kesempatan itu.


Artinya…


"Heh. Hahaha!"


"Apa yang kau tertawakan?"


Amada menunjukkan kekesalan.


Hei hei, ini benar-benar perkembangan klise, bukan? Tak kusangka musuh bebuyutanku justru membantuku.


Tentu saja, Amada sendiri belum menyadarinya.


Bahwa dia telah memberiku informasi yang menentukan.


"Meski biasanya aku cuma berharap kau mati, ternyata kau juga bisa berguna."


"Hah?"


Ah, begitu rupanya. Jadi itu tujuannya.


Akhirnya aku mengerti kenapa Tsukiyama melakukan semua itu. Dia sejak awal bergerak dengan niat agar aku yang menghancurkannya.


Dia mengancamku dengan urusan ayahku, merebut Hidaka dariku, dan dengan sengaja memancing kemarahanku sampai batas maksimal.


Karena dia percaya, aku akan menghancurkannya sendiri…


"Payah sekali…"


Sungguh konyol. Dibandingkan dengan semua yang pernah terjadi sejauh ini, masalah ini terasa murahan, sama sekali tidak menegangkan.


"Amada, aku tidak akan mengucapkan terima kasih, tapi setidaknya akan kuapresiasi usahamu. Terima kasih sudah berguna untukku."


"Maksudmu apa?"


Tatapan matanya dipenuhi campuran amarah dan kebingungan. Namun, aku sama sekali tidak berniat memberinya jawaban.


Dan Amada pun tidak akan pernah sampai pada jawabannya.


Karena ada satu hal—yang hanya dia saja takkan pernah bisa pahami—yang justru menjadi inti dari masalah ini.


"Kalau ini soal Hidaka, kau bisa menyingkir. Aku yang akan menyelesaikannya."


"Padahal kau tidak melakukan apa pun sampai semuanya jadi seperti ini?"


"Itu menyentuh titik lemahku."


Akhir-akhir ini, aku terus-menerus ditusuk di bagian yang paling menyakitkan.


Yah, tidak apa-apa. Masalah sekonyol ini sebaiknya segera dibereskan.


Memang akan berakhir dengan rasa tak enak, tanpa keseruan ataupun kepuasan apa pun—tapi itu tidak masalah.


Tsukiyama, akan kuturuti keinginanmu.


Aku akan masuk ke dalam rencanamu… dan menghancurkanmu.


[POV Tsukiyama Ouji]


Pagi hari, di tengah perjalanan menuju sekolah. 


Aku menunggu Hidaka Mikoto di stasiun terdekat SMA Hirasaka.


Tak kusangka, aku akan sampai pada titik di mana aku janjian dengan Hidaka lalu berangkat sekolah bersamanya.


Jika itu aku di awal semester pertama, aku pasti akan melonjak kegirangan.


Jika itu aku di pertengahan semester pertama, aku pasti akan sangat kebingungan.


Lalu bagaimana dengan diriku sekarang?


Tak ada rasa berharap, juga tak ada kebingungan. Rasanya cuma… "ya begini saja".


Waktu janji tinggal dua menit lagi. Hidaka masih belum datang.


"Oh! Selamat pagi!"


"Ah… Tsukiyama-kun, pagi…"


Karena ini stasiun terdekat SMA Hirasaka, wajar saja kalau aku bertemu banyak wajah yang kukenal.


Yang tadi itu Inuma dari kelas B. Yang barusan itu Shimono dari kelas A.


──Ingat nama dan wajah sebanyak mungkin. Hanya dengan itu saja, tingkat kepercayaan yang kau dapatkan akan jauh berbeda.


Ayah pernah memberiku nasihat seperti itu, jadi aku berusaha menghafal nama dan wajah semua orang.


Yah… meski aku baru menghafal nama lengkap Kazuki cukup belakangan.


Saat aku memikirkan hal itu, aku melihat seseorang dari kelasku.


Hitsujitani. Namun, dia tidak menyapaku dan justru berbicara dengan orang lain.


Seseorang yang bersembunyi agak jauh sambil mengawasi keadaanku—Kobayakawa.


"Eh? Bukannya itu Kobayakawa-kun? Ngapain kamu di sini?"


"Wah! Ah… e-eh, Hitsujitani, pagi…"


"Iya! Pagi! Terus, kamu ngapain?"


"Umm… jangan terlalu keras suaranya…"


"Hah? Kenapa—oooh, begitu. Jangan-jangan ini demi Ishii-kun? Rajin banget sih~"


"Bukan begitu…"


Suara Kobayakawa makin lama makin mengecil, sementara Hitsujitani menepuk punggungnya sambil tersenyum cerah dan berkata, "Aduh, jangan malu-malu."


Hitsujitani memang benar-benar bisa akrab dengan siapa saja.


Yah, tidak masalah kalau aku dilihat. Silakan saja mengawasiku sesukamu.


Hitsujitani pergi sambil tersenyum, sementara Kobayakawa—meski sadar aku telah menyadarinya—sama sekali tidak berniat bersembunyi.


Setelah memastikan pemandangan itu, aku refleks menatap langit.


"Ternyata… butuh waktu juga, ya."


Komentar jujur tentang situasi sekarang itu pun keluar begitu saja.


Sejujurnya, aku mengira Hidaka akan segera direbut kembali dariku. Karena, ya jelas saja. Kazuki itu jauh lebih cerdas dibandingkan aku.


Memanfaatkan keadaan sekarang lalu menjebakku balik—itu pasti bisa dia lakukan dengan mudah.


Namun kenyataannya, Kazuki itu tak bisa berbuat apa-apa dan terus menuruti perkataanku.


Jujur saja, aku terkejut.


Tapi batasnya pasti sudah dekat. Mungkin hari ini atau besok, aku akan dihancurkan lagi oleh Kazuki.


"Ini sudah cukup…"


Aku bisa mengucapkan kata-kata itu dari lubuk hatiku yang terdalam.


Bagaimanapun juga, sejak awal tujuanku memang untuk kalah.


Kazuki akan merebut kembali Hidaka dariku—dan pada saat itulah, tujuan asliku akhirnya tercapai.


Hahaha. Sehebat apa pun Kazuki, pasti dia belum menyadari sejauh itu.


Selama ini, kau tidak pernah benar-benar melihat diriku yang berada di luar lingkaran itu.


Namun, aku tidak boleh lengah. Aku harus selalu bertindak dengan kewaspadaan penuh. Jika tujuanku sampai ketahuan, saat itulah semuanya benar-benar berakhir.


"…Aku tidak akan kalah."


Aku memeras suaraku, seolah menekan kecemasan yang membuncah.


Tak peduli seberapa sering aku meyakinkan diri bahwa semuanya akan baik-baik saja, hatiku sama sekali tidak mau menurut.


Aku bisa menang, kan? Aku bisa menipu Kazuki sampai akhir, kan?


"Kamu tidak apa-apa?"


Saat aku dilanda kecemasan seperti itu, sebuah suara terdengar dari depan. Itu Hidaka Mikoto.


Ekspresinya datar. Namun, meski begitu, dia langsung menarik perhatian semua orang di sekitarnya.


Kecantikan Hidaka memang berada di level yang berbeda.


"Tidak apa-apa. Maaf sudah membuatmu khawatir."


"Aku tidak terlalu memikirkannya."


"Oh, begitu…"


Sejujurnya, tingkah Hidaka sendiri juga terasa agak menyeramkan bagiku.


Memang, karena aku mengancam Kazuki, Hidaka terpaksa menuruti kemauanku. Tapi… apa dia tidak terlalu patuh?


Jangan-jangan, Hidaka sebenarnya…


"Hei, Hidaka."


"Apa?"


"……Tidak, tidak apa-apa."


Apa dia sudah menyadari tujuanku?


Apa sejak awal dia sudah tahu segalanya, lalu hanya berpura-pura menurutiku?


Aku tidak bisa bertanya. Kalau aku bertanya, itu sama saja dengan mengakuinya sendiri.


"Ayo pergi. Mari kita jalani hari ini dengan menyenangkan juga."


"Iya."


Tidak apa-apa. Pasti akan berjalan lancar. Aku pasti akan menyelesaikannya sampai akhir…


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close