Chapter 6
Para Budak yang Bergerak di Balik Layar
──Sisi
Flame──
Tengah
malam, saat serangga yang beberapa jam lalu bersahutan kini telah terlelap.
Saat ini kami berada di wilayah yang dikelola oleh keluarga Kvist, keluarga
dari Nona Fran, tunangan Tuan Muda.
"Akhirnya
tiba saatnya ya...."
"Ya,
benar. Dengan ini, akhirnya kita bisa bekerja untuk Tuan Muda dalam arti yang
sebenarnya...."
"Aku
sangat bersemangat karena sebelumnya belum pernah merasa berguna bagi orang
lain! Apalagi kalau membayangkan wajah gembira dan terkejut Tuan Muda
nanti...."
Saat aku berucap
demikian, Keith dan Marianne menyahut. Seperti kata Keith, kami akhirnya bisa
berguna bagi Tuan Muda.
Sebenarnya, Tuan
Muda tidak punya alasan kuat untuk membeli budak.
Apalagi dia tidak
memilih budak yang sempurna, melainkan memilih kami yang cacat atau hampir mati
di saat dia bisa memilih budak lain yang lebih baik.
Beliau tidak
hanya menyelamatkan nyawa kami, tapi juga membelokkan takdir kami yang
seharusnya hanya berakhir dengan kehancuran.
Menerima budi
yang tak terbalas itu membuat perasaan kami mengganjal di sudut hati selama
ini. Wajar saja jika kami merasa lebih bersemangat dari biasanya karena hari
ini ganjalan itu akhirnya bisa sirna.
Tugas yang akan
kami lakukan untuk Tuan Muda kali ini adalah membasmi organisasi bawah tanah
yang merajalela di wilayah keluarga Kvist.
"Kalau
begitu, mari kita mulai bertindak sesuai strategi yang sudah kita susun. Ingat,
prioritas utama adalah mundur jika merasa keadaan berbahaya, meskipun
operasinya gagal!"
"Ya, aku
mengerti!"
"Aku sudah
tidak sabar ingin tahu sejauh mana kemampuan kita sekarang!"
"Mari kita
mulai mengukir legenda Lawrence-sama dari hari ini!"
Kemudian, sesuai
rencana yang telah disusun sebelumnya, mereka menghilang tanpa suara dari
tempat itu menuju target masing-masing.
◆
──Sisi Marianne ──
Aku dibesarkan
untuk menjadi permaisuri raja berikutnya. Kalau dipikir-pikir sekarang, itu
adalah kehidupan yang menyesakkan, tapi saat itu aku bahkan tidak menyadarinya.
Seseorang tidak
akan tahu betapa asingnya lingkungan itu sampai dia keluar ke dunia luar. Tapi
jangankan keluar, aku bahkan tidak pernah berpikir bisa keluar, dan aku pun
tidak pernah mempertanyakannya.
Dulu, istana dan
kediaman keluargaku adalah seluruh duniaku. Siapa yang menyangka orang
sepertiku akan dijual sebagai budak, lalu dipungut oleh Tuan Muda Lawrence, dan
akhirnya bisa hidup jauh lebih bebas daripada sebelumnya?
Pihak Kerajaan
menyebut Skill-ku sebagai Cursed Skill lalu memenjarakanku.
Bahkan demi menyembunyikan identitasku, mereka menyiram wajahku dengan minyak
panas dan membuangku menjadi budak.
Sebaliknya, Tuan
Muda malah sangat gembira dan menyebut Skill-ku sebagai The Best
Life-Enriching Skill, bahkan menyembuhkan luka bakar di wajahku.
Sejujurnya, aku
tidak punya kenangan manis atau utang budi pada Kerajaan. Sebaliknya, aku
merasa memiliki utang budi yang tak terbalas pada Tuan Muda.
Karena itulah,
saat mendengar detail operasi ini, aku hanya merasakan kemarahan pada Kerajaan.
Sama sekali tidak ada niat untuk 'memberi ampun' pada mereka.
Target pertama
yang akan kami basmi adalah organisasi bawah tanah yang menyelundupkan
obat-obatan terlarang dari Kerajaan ke Kekaisaran melalui jalur laut. Obat itu
sangat adiktif dan bisa menghancurkan hidup pemakainya sampai tidak bisa
kembali ke kehidupan normal.
Bagi aku, ini
adalah kesempatan untuk membalas dendam secara tidak langsung kepada Kerajaan.
Memikirkan hal itu, semangatku berkobar dan napas duniaku sedikit memburu
karena antusias.
"Um, di sini
ya.... Selamat malam!"
Sambil memikirkan
hal itu, aku tiba di lokasi penyerangan yang sudah ditentukan. Aku mengetuk
pintu di gang belakang sebanyak tiga kali, lalu menyapa dengan sopan.
"Hah? Siapa kau? ....Hm, wajahmu tidak kelihatan karena
renda itu, tapi sepertinya kau barang bagus. Entah kau salah gedung atau apa,
tapi kalau sampai tersesat ke sini, itu artinya keberuntunganmu sudah habis. Tenang saja, kami tidak akan
melakukan hal buruk. Kami hanya ingin bersenang-senang sedikit denganmu!"
Pintu
besi itu terbuka dan seorang pria berotot dengan tampang penjahat muncul.
Melihat
pria ini, aku berpikir bahwa kemampuan intelijen Keith yang katanya diajarkan
langsung oleh Sebas-san memang luar biasa.
Pria
kekar itu memandang tubuhku dengan tatapan mesum (wajahku sengaja kututup renda
putih agar identitas tidak terbongkar), lalu melontarkan kata-kata rendah
layaknya sampah.
"Apa
yang sedang Anda bicarakan? Saya?
Jika lawannya adalah Tuan Muda saya, itu lain soal. Tapi mengapa saya harus
menjadi mainan untuk memuaskan nafsu Anda sekalian? Lagipula, jika Anda mengira
bisa melakukan sesuatu pada saya, itu benar-benar menggelikan...."
Aku membalasnya
dengan senyuman manis. Melihat reaksimu, wajah pria itu memerah, menunjukkan
bahwa dia sedang naik pitam.
Hanya karena
kata-kata seorang gadis kecil saja dia sudah tidak bisa mengontrol emosinya.
Itu artinya kemampuan pria ini sudah bisa ditebak.
Sebaliknya, aku
punya rasa percaya diri untuk tetap tenang menghadapi hinaan apa pun dari
gumpalan otot yang menjijikkan ini.
"Hah? Tuan
Muda? Kau... seorang budak ya? Tak kusangka tuanmu sebodoh itu sampai melakukan
kesalahan dasar seperti tersesat. Kau bodoh, tapi tuanmu juga sama
bodohnya!"
"Lho?
Barusan Anda bilang apa? Anda tidak sedang menghina Tuan Muda saya, kan...? Apakah Anda ingin
dibunuh? Anda ingin mati, ya? Kalau begitu akan saya bunuh."
"Gadis
sepertimu mau membunuhku? Sepertinya aku harus melatihmu agar tidak bisa bicara
lancang lagi... ya...?"
Kalau menghina
diriku, aku mungkin masih bisa maklum. Tapi jika Tuan Muda dihina, wajar saja
jika aku tidak bisa menahan diri.
Lagipula,
obat-obatan yang mereka selundupkan telah menghancurkan banyak nyawa, jadi
mereka tidak berhak mengeluh meski dibunuh sekalipun.
"A-apa yang
kau lakukan...!?"
Pria itu kini
bersandar di dinding, tampak kesulitan untuk sekadar berdiri. Bahwa dia
menyadari aku telah melakukan sesuatu menunjukkan dia mungkin punya sedikit
pengalaman, tapi sayangnya ini sudah terlambat.
"Apa yang
saya lakukan? Saya hanya menggunakan Skill saya untuk membuat racun
kuat, lalu mengoleskannya pada jarum kecil yang saya tusukkan ke beberapa
bagian tubuh Anda menggunakan sihir angin. Omong-omong, racun ini konon bisa
merenggut sepuluh juta nyawa hanya dengan satu gram saja."
Aku tersenyum
manis padanya. Aku pikir akan butuh waktu sampai efeknya terasa, tapi karena
aku menusukkannya langsung ke dekat saraf, gejalanya muncul lebih cepat
daripada jika tertelan.
"To-tolong
aku...!"
"Kenapa?
Jelas-jelas Anda berniat menyakiti saya, dan menganggap hidup saya tidak
berarti demi memuaskan nafsu Anda. Mengapa saya harus menolong pria seperti
itu? Lagipula, dari cara Anda merespons, sepertinya Anda sudah terbiasa
memangsa banyak wanita. Saya tidak habis pikir kenapa Anda merasa layak
ditolong saat giliran Anda yang tiba. Saya tidak butuh alasan untuk
menolong."
Aku mengabaikan
pria yang tumbang ke tanah itu dan terus melangkah masuk ke bagian dalam
gedung.
◆
──Sisi Flame──
Apakah yang
lain baik-baik saja...?
Aku sudah
terbiasa dengan pertempuran karena profesiku sebagai petualang, tapi ini adalah
pertempuran pertama bagi Marianne. Aku jadi khawatir.
"Oi, siapa
kau?"
Sambil memikirkan
itu, aku turun dari langit tepat di pusat markas musuh. Jika dari darat, banyak
barikade dan penjaga yang berkeliaran, itulah sebabnya aku mengambil peran
menyerang markas utama dari atas.
Tak disangka aku
bisa menyusup semudah ini. Meski diserang dari udara, ini benar-benar
menunjukkan kurangnya kewaspadaan mereka.
Entah mereka
terlalu sombong, bodoh, atau keduanya. Bagaimanapun, ini memudahkan
pekerjaanku.
Dua orang pria
menyambutku di tengah area markas, dan salah satu dari mereka menyapa.
Sepertinya meski sombong, organisasi bawah tanah skala besar ini masih punya
insting untuk menyadari penyusup sebelum aku benar-benar mendarat.
"Saya
adalah orang yang datang untuk menghancurkan organisasi kalian."
Bisa saja
aku langsung menghabisi mereka tanpa bicara, tapi itu akan membuatku terlihat
seperti budak tidak sopan yang tidak bisa memberi salam. Reputasi budak adalah
cerminan reputasi Tuannya.
Aku tidak
tahan jika Tuan Muda Lawrence dianggap tidak sopan bahkan oleh orang yang akan
kuhancurkan sekalipun. Namun, meski aku sudah menjawab dengan sopan, kedua pria
itu malah saling pandang dan mulai tertawa.
"Apanya
yang lucu?"
Sikap
mereka terlihat seolah meremehkan Tuan Muda Lawrence. Aku sempat ingin langsung
menghancurkan mereka, tapi aku menahan diri untuk mendengar alasan mereka
tertawa.
"Apanya?
Kau tidak mungkin berpikir bisa menghancurkan organisasi kami sendirian, kan,
Manis?"
"Bahkan
Kekaisaran saja gentar dengan kekuatan militer kami dan tidak berani
macam-macam!"
"Mohon maaf,
tapi saya tidak sendirian. Kami bertiga, jadi markas utama dan dua cabang
kalian akan berakhir hari ini."
Pria-pria itu
tertawa sampai hampir mengalami hiperventilasi. Memang, jika dipikir secara
normal, menyerang organisasi bawah tanah terbesar di Kekaisaran hanya dengan
tiga orang terdengar sangat nekad. Tapi kurasa mereka tertawa berlebihan.
"Gyahahaha!
Oi! Kau dengar itu!?"
"Dengar,
dengar! Bocah ini bilang mau menghancurkan organisasi kita cuma bertiga!
Padahal matanya itu terlihat serius seolah—Gyofuh!?"
Aku mengepalkan
tinju kanan dan menghantamkannya sekuat tenaga ke pipi salah satu dari mereka.
Hanya dengan itu, pria yang kupukul terpental sambil berputar-putar seperti
batu yang dipantulkan di atas air.
"Harus
kukatakan dengan jelas baru kalian paham? Kami menyerang bertiga karena kami
menilai organisasi kalian bisa dihancurkan oleh kami bertiga. Sudah
paham?"
"K-keparat kau... jangan berce—Gubufa!?"
Padahal aku sudah menunjukkan sedikit kekuatanku, tapi pria
yang tersisa sepertinya masih tidak paham dan malah menyerangku. Sama seperti
sebelumnya, aku memberinya pukulan right hook ke pipinya.
"Fuu, untunglah aku bisa menahan diri agar mereka tidak
meledak. Kalau meledak, baju maid yang disiapkan Tuan Muda untukku bisa kotor,
kan!"
Aku menepuk celemekku dua kali, lalu berjalan menuju gedung
di depan yang kemungkinan besar adalah tempat sang bos berada.
◆
──Sisi Keith ──
Astaga, daya aksi para wanita itu benar-benar luar biasa....
Mereka pergi untuk menghancurkan organisasi bawah tanah terbesar seolah-olah
pergi piknik ke lapangan bermain.
Apakah mereka
tidak berpikir bagaimana jika pemandangan ini terlihat oleh Tuan Muda? Yah,
mungkin karena tidak berpikir itulah mereka langsung melesat pergi.
Berbeda dengan
mereka, aku selalu mengingat pesan Sebas-san: "Bertindaklah seolah Tuan
Muda selalu mengawasimu." Jadi, aku tidak akan bertindak sembrono. Aku
akan bertindak elegan agar bisa dengan bangga menyebut diriku pelayan Tuan
Muda.
Menghancurkan
satu organisasi dalam semalam sepertinya akan menjadi kerja keras. Aku memantapkan hati dan berlari
dari atap ke atap di tengah malam.
Sesuai
saran Flame dan hasil penyelidikanku, cabang organisasi tersebut berada di
pesisir pantai. Awalnya aku pikir organisasi bawah tanah akan membuat cabang di
tempat tersembunyi, tapi itu akan menyulitkan pengangkutan barang dari
pelabuhan ke kota. Akhirnya mereka membangunnya di dekat kanal.
Itu
artinya ada kemungkinan mereka bekerja sama dengan penjaga kota. Karena aku
akan menghancurkan mereka, aku ingin membersihkan "nanah" itu
sekalian dengan mencari buku kas rahasia atau bukti suap.
Akhirnya
aku tiba di depan pintu masuk cabang di pesisir dekat muara sungai. Aku memberi
"ketukan" (pukulan keras) hingga pintunya terbang. Mendengar
keributan itu, anggota organisasi keluar berhamburan seperti kecoa.
"Siapa
kau—Gubehe!"
"Kau!!
Beraninya pada Kakak—Ogohaa!"
"Keparat,
kau pikir bisa melawan kami dan pulang selamat—Lubufuaj!"
Aku menendang
mereka semua tanpa ampun sebelum mereka sempat menyelesaikan kalimatnya.
"Oi, oi, oi,
bukankah ini sedikit tidak sopan? Masuk ke wilayah orang tanpa izin, lalu
menendang tanpa mau mendengarkan.... Apa kau ingin mati, hah?"
Saat aku terus
melangkah masuk sambil menendang siapa pun yang menghalangi, aku bertemu dengan
pria raksasa berotot yang tingginya lebih dari dua meter.
Jika ini aku yang
dulu sebelum dipungut Tuan Muda, aku pasti akan menilai 'tidak ada peluang
menang' dan mundur.
Namun sekarang,
aku bahkan tidak menganggapnya sebagai ancaman. Aku menyadari bahwa aku telah
tumbuh jauh lebih kuat dari yang kubayangkan.
"Begitu ya.
Tapi sayangnya itu tidak ada hubungannya denganku. Kau menghalangi jalan, jadi
kalau tidak ingin mati, bisa minggir?"
Jika dia
minggir, baguslah karena hemat tenaga. Jika tidak, tinggal kutendang.
"Hah? Kau
bicara pada siapa? Jangan-jangan kau bicara padaku?"
"Haaa,
apakah kau ini sejenis monster yang tidak paham bahasa manusia? Kalau kau
manusia, harusnya kau paham kata-kataku. Atau haruskah kukatakan begini: Apakah
makanan yang kau beli dengan uang dari obat-obatan terlarang itu rasanya
enak?"
Pria raksasa itu
langsung memerah wajahnya dan memukulku tanpa suara. Sepertinya dia terbiasa menang dengan
mengandalkan kekuatan fisiknya yang besar.
Pukulan
yang hanya mengandalkan tenaga itu, bagi aku yang sudah berlatih dengan
Sebas-san dan sekarang diajar langsung oleh Tuan Muda, gerakannya terlalu
besar.
Rasanya
seperti dia berkata dengan sopan, 'Aku akan memukul dengan tinju kanan, jadi
tolong dihindari'. Bahkan dengan mata tertutup pun aku bisa menghindarinya.
"Serangan
yang gerakannya sebesar itu tidak akan pernah mengenaku."
Karena
membuang waktu untuk orang seperti ini adalah kesia-siaan, aku segera masuk ke
celah pertahanannya dan menendang dagunya ke atas.
Prediksiku dia
akan langsung tumbang, tapi ternyata dia masih bisa bertahan meski kakinya
gemetar. Aku apresiasi keteguhannya. Namun jika hanya sekadar berdiri saja, itu
hanyalah harga diri yang sia-sia.
Padahal kalau dia
pingsan dan pura-pura mati, dia mungkin punya kesempatan hidup. Tapi karena
harga diri konyol itu, hidupnya akan berakhir. Atau mungkin baginya lebih baik
mati daripada membuang harga diri? Tetap saja bodoh. Kalau mati, kau tidak akan
bisa melayani Tuan Muda lagi.
Sambil memikirkan
itu, aku melepaskan tendangan pamungkas tepat ke wajahnya.
◆
──Sisi Pencuri ──
"Kali ini
aku titip lagi ya, Aggy Steng-san."
"Jangan
diulang-ulang terus, aku sudah tahu. Kau ingin aku menyebarkan ini untuk membusukkan Kekaisaran dari dalam, kan?
Aku sudah bosan mendengarnya. Yah, karena uangnya sepadan aku maafkan kali ini,
tapi kalau kau tanya lagi hal yang sama, kubunuh kau."
Tengah malam.
Setelah mendapat laporan bahwa kiriman dari Kerajaan telah tiba, aku, ketua Guild
Kegelapan 【Hell's Guardian】, keluar dari markas menuju cabang
pesisir. Aku mengayunkan tubuh besarku yang penuh otot menuju ruangan belakang
untuk memeriksa barang.
Ini merepotkan,
tapi jika kuserahkan pada anak buah, mereka pasti akan memalsukan jumlah barang
atau mencuri uang pembeliannya.
Bukannya aku
tidak percaya pada anak buah, tapi jika ada risiko sekecil apa pun, lebih baik
dicegah. Pada akhirnya, yang paling bisa dipercaya adalah diri sendiri.
Di dalam ruangan
belakang yang kubuka, beberapa wanita cantik dengan kain tipis sudah
menyambutku. "Padahal ada kemungkinan diserang atau dikepung,
tapi...."
Aku bergumam
sambil menarik dua wanita cantik ke sisiku dan menuju tempat tidur untuk
memuaskan nafsu. Ah, luar biasa. Memang ada hal merepotkan, tapi setidaknya aku
bisa memakai uang sebanyak apa pun dan membeli wanita cantik.
"Hah! Hah!
Hah!!"
"He-hentikan!
Tolong hentikan!!"
Belakangan ini
aku sedang hobi memukul wajah wanita tanpa ampun saat sedang memuaskan nafsu.
Hari ini pun
sama, aku memukul wanita itu sampai babak belur, lalu memerintahkan anak buahku
untuk membuangnya ke gang belakang di dalam karung.
Melihat bengkak
di wajahnya, dia pasti tidak akan selamat. Dia pasti senang karena bisa mati di
tanganku.
Setelah menyuruh
anak buah membuang sampah itu, aku mencengkeram lengan wanita lain dengan tipe
berbeda. Wanita yang tadi diam saja, tapi wanita yang kupilih kali ini
berteriak 'Tidak! Aku tidak mau mati!' dan melawan.
Terhadap wanita
seperti itu, aku berteriak "Diam!" sambil menamparnya sekuat tenaga.
Lihat hasilnya? Wanita yang tadinya berisik langsung terdiam seribu bahasa.
Jika pria-pria di kedai yang mengeluh 'tidak tahu cara menangani wanita' atau
'takut istri' melihat ini, aku ingin mengajarkan metode ini pada mereka.
Aku menyadari
lagi bahwa aku lebih suka wanita bodoh yang masih berpikir bisa melawan
daripada wanita yang sudah menyerah.
Ada kepuasan
tersendiri saat membuat wanita yang tidak tahu posisinya menjadi sadar akan
kedudukannya. Ekspresi mereka saat itu sangat kusukai.
Namun wanita itu
makhluk yang rapuh dan mudah hancur. Tidak semua wanita memberikan reaksi yang
kusukai, itulah sebabnya saat bertemu yang pas, aku jadi lebih bersemangat.
"Reaksi yang
sama setiap kali itu membosankan. Kau juga berpikir begitu, kan?"
"Eh?...
A... Apa maksudmu...?"
Wanita
itu bertanya dengan gemetar seolah tidak paham, jadi aku menamparnya sekali
lagi dengan keras.
Sepertinya
giginya patah, suara benda keras yang jatuh ke lantai menggema di ruangan.
"Kalau aku
minta persetujuan, setuju saja. Dasar wanita bodoh!!"
Aku menampar
pipinya yang lain dengan punggung tanganku.
"Maafkan
aku... maafkan aku... maafkan aku...."
Wanita itu mulai
bergumam terus-menerus. Sepertinya tiga tamparan sudah cukup membuatnya tunduk.
Padahal aku berharap dia melawan sedikit lebih lama agar lebih seru.
Karena sudah
begini, dia tidak akan kembali seperti semula, jadi aku memutuskan untuk
memuaskan nafsu saja.
Kemarin aku
menghancurkan wajah, kali ini haruskah aku mencekiknya sampai mati?
Atau memukul
perutnya?
Sambil memikirkan
cara menghancurkannya, aku melemparnya ke tempat tidur dan aku pun naik ke
atasnya.
Wanita seperti
ini kadang akan melawan dengan putus asa saat mereka yakin akan mati. Aku
sangat suka memuaskan nafsu sambil membuat wanita seperti itu paham melalui
berbagai kekerasan.
"Seperti
dugaan, ternyata benar-benar sampah."
Kira-kira wanita
ini tipe yang mana?
Apakah dia akan
melawan lagi?
Saat aku hendak
menindihnya, terdengar suara pria muda yang asing.
Bahkan dia
menyebutku 'sampah'. Sepertinya ada orang yang ingin kubuat "paham"
lebih dulu sebelum wanita di depanku ini.
Pria macam apa
yang ingin aku hajar?
Aku menoleh ke
arah suara dan melihat seorang pria mengenakan pakaian formal yang usianya
mungkin sekitar dua puluh tahun.
Kapan dia masuk?
Bagaimana pria
yang tidak kukenal dan bersikap tidak sopan ini bisa sampai ke sini? Aku
penasaran, tapi itu urusan nanti.
Hal pertama yang
harus kulakukan adalah membereskan orang yang baru saja menghinaku ini.
Lagipula, belum
pernah ada yang berani menyebutku 'sampah'. Ini membuatku bergairah.
Aku turun dari
tempat tidur dan berjalan ke arah pria berpakaian formal itu.
"Hah? Kau
tahu sedang bicara dengan siapa? Ludah yang sudah kau buang tidak bisa kau
telan kembali, tahu?"
Ah, aku ingin
segera menunjukkan padanya betapa mengerikannya dunia ini...! Aku akan
membuatnya menyesal karena telah melawanku. Aku sudah tidak sabar.
"Maaf,
aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan. Apa salahnya menyebut sampah kepada sampah?
Jangan-jangan kau menganggap dirimu manusia? Ah, pantas saja kau ini sampah.
Maaf ya, aku pikir sampah itu sadar kalau dirinya sampah...."
"Begitu ya.
Karena kau sepertinya tidak tahu, akan kuberitahu. Aku adalah Guild
Master dari Guild Kegelapan 【Hell's Guardian】—Agaaj!?"
"Guild Kegelapan lah, organisasi bawah tanah
lah, bisnis gelap lah, kelompok kriminal itu tidak punya keseragaman nama ya,
bisa tidak disatukan saja? ....Eh, tapi tidak ada gunanya bicara pada pemimpin
kelompok kriminal yang akan hancur hari ini."
Seharusnya aku yang memiliki perbedaan kekuatan mutlak ini
yang menekan dan membuatnya paham, lalu membunuhnya pelan-pelan. Namun entah
mengapa, pria itu malah menendang wajahku hingga aku terpental.
Akibat tendangan itu, sepertinya rahangku hancur. Darah
mengalir deras membasahi bajuku dan rasa sakit yang luar biasa menyerang.
Aku tidak
bisa bicara dengan benar. Meski
ingin membalas kata-katanya, aku tidak bisa, dan itu membuat stresku menumpuk.
Pria ini pasti
berpikir bahwa jika rahangku hancur, aku tidak akan bisa merapal mantra sihir.
Itulah sebabnya dia menyerang rahangku dengan serangan kejutan.
Pemikiran yang
sangat praktis. Aku akui itu hebat karena dia berhasil menghancurkan rahangku,
tapi sayangnya aku lebih unggul darinya.
Meskipun aku
tidak bisa merapal mantra, tato di sekujur tubuhku berfungsi sebagai lingkaran
sihir. Aku bisa menggunakan sekitar tiga puluh jenis sihir tanpa perlu merapal
sepatah kata pun.
Sebagai pemimpin
organisasi bawah tanah, hal seperti ini adalah persiapan yang wajar untuk
menghadapi kemungkinan terburuk.
"Ah, aku
lupa bilang. Kau bisa menjadi saksi penting, jadi aku berencana mematahkan
keempat anggota gerakmu agar tidak bisa kabur sebelum kuserahkan pada penjaga.
Mohon kerja samanya ya."
Tentu saja, aku
yang sudah terbiasa dengan kerasnya dunia hitam ini merasa kesabaranku sudah
habis mendengar ocehan konyol pemuda ini.
Dengan emosi yang
meluap-luap, aku mengaktifkan salah satu tato di tubuhku—Sihir Api Tingkat 3: Flame
Whip—dan menyerang pria itu.
Dia pasti tidak
menyangka bahwa meski rahangku sudah hancur, aku masih sanggup menggunakan
sihir tingkat tinggi seperti ini.
Namun, tepat di
saat aku mengira seranganku akan mengenainya, Flame Whip itu tiba-tiba
saja lenyap seketika.
Apa yang baru
saja terjadi?
"Astaga,
jika kau berniat melawanku dengan sihir semurah ini, aku merasa
tersinggung," ucap pria itu sembari melangkah maju perlahan.
Saat sihirku
menghilang tadi, pria itu sama sekali tidak meninggalkan jejak telah
menggunakan sihir apa pun.
Seharusnya, tidak
mungkin ada sihir yang bisa melenyapkan Flame Whip dalam sekejap tanpa
meninggalkan sisa-sisa energi atau dampak benturan.
Jujur saja,
selama aku hidup di dunia bawah, baru kali ini aku mengalami hal aneh seperti
ini.
Aku sudah
menghadapi berbagai macam musuh, dan bersiap menghadapi kematian bukanlah hal
baru bagiku.
Namun, dalam
semua pertarungan itu, aku selalu bisa menilai lawan melalui teknik, sihir,
atau pergerakan mereka. Dengan kata lain, aku bisa merespons karena aku 'bisa
melihatnya'.
Hal itu membuatku
selalu bisa menemukan jalan untuk selamat, sekecil apa pun kemungkinannya.
Tapi lawan yang
satu ini?
Aku bahkan tidak
tahu apa yang dia lakukan. Jika aku tidak tahu apa yang dia lakukan, aku tidak
tahu cara mengalahkannya, bahkan tidak bisa membayangkan cara untuk melarikan
diri.
"Ke-ke-fe-wa-wa-ma-ha-fi-ku-ku-ha-ha-re-ha-fe-fe-ba-he-uh-ha-fe..."
"Hah?
Barusan kau bilang apa? Kau
tidak sedang bilang 'orang sepertimu tidak pantas diperlakukan seperti budak'
kan? Jangan bilang kau sedang membandingkan Tuanku dengan bangsawan brengsek di
luar sana yang mempekerjakan budak sampai mati! Jangan pernah berharap bisa
pulang hidup-hidup setelah menghina Tuanku!!"
Kemudian,
melalui rentetan 'serangan tendangan' yang dilepaskan dengan kecepatan yang
bahkan tidak bisa tertangkap oleh mata, aku mendengar suara tulang-tulang di
sekujur tubuhku mulai patah satu per satu.
Ah,
begitu rupanya.... Yang melenyapkan sihirku tadi bukanlah sihir lain, melainkan
murni sebuah tendangan....
Tepat saat aku
menyadari bagaimana sihirku dipadamkan, kesadaranku pun terputus.
◆
──Sisi Flame ──
Meskipun
ini adalah pertempuran sungguhan pertama mereka sebagai budak Tuan Muda, aku
rasa semuanya telah berjuang dengan sangat baik.
Terutama
Marianne, dia hanyalah orang awam dalam hal bertarung. Pekerjaan utamanya
adalah budak yang ditugaskan untuk membuat bumbu masakan dan minuman keras oleh
Tuan Muda.
Memang, Tuan Muda
sempat mengajarkan teknik bela diri menggunakan jarum kepadanya, tapi hanya
sebatas itu.
Namun, karena
Tuan Muda merasa itu sudah cukup, beliau hanya mengajarkan penggunaan jarum itu
saja pada Marianne.
"Tak
disangka, Tuan Muda berhasil melatih Marianne sampai bisa menghancurkan satu
cabang sendirian. Benar-benar Tuan Muda, aku hanya bisa bilang kalau beliau
terlalu luar biasa...."
Apakah ada hal
yang tidak bisa dilakukan oleh Tuan Muda?
"Aku sangat
setuju!! Aku pun, sebelum bertemu Tuan Muda, tidak pernah melakukan latihan
tempur apalagi memegang pedang. Tapi siapa sangka aku bisa mengalahkan
pria-pria berotot itu dengan sangat mudah.... Sampai sekarang aku sendiri masih
sulit mempercayainya!!"
Marianne
mengatakan itu sambil menyerahkan orang-orang dari cabang yang dia tangani
kepada para penjaga untuk mendapatkan hadiah uang.
Kata Marianne,
dia menggunakan Skill-nya untuk membuat racun saraf, lalu menyebarkannya
dengan sihir angin di markas cabang tersebut. Setelah semuanya tidak bisa
bergerak, dia menangkap mereka semua.
Alasannya
bersusah payah menangkap mereka hidup-hidup adalah karena para petinggi
organisasi itu memiliki harga buruan yang tinggi.
Begitu Marianne
tahu bahwa menyerahkan anggota organisasi—bahkan kroconya sekalipun—bisa
menghasilkan uang yang lumayan, dia memutuskan untuk tidak membunuh mereka.
Uang yang didapat rencananya akan digunakan untuk membeli kado bagi Tuan Muda.
Andai saja aku
tahu ada cara seperti itu, tapi karena aku sudah menghabisi semua yang
melawanku, mau bagaimana lagi.
Lain kali, aku
akan memastikan apakah aku bisa mencari uang jajan tambahan sebelum mulai
membasmi musuh.
"Oh,
kalian bertiga pergi bersama ya. Saat di wilayah Fran, aku sudah bilang kalian
bebas berwisata atau melakukan apa pun yang kalian suka. Aku lega melihat
kalian bisa menikmati waktu libur dengan baik."
Kami kembali ke
kediaman Westgaph dengan perasaan puas setelah menyelesaikan pekerjaan. Kami
pun menuju ruang makan di mana Tuan Muda kemungkinan besar sedang sarapan.
"Iya! Sesuai perintah, kami bertiga pergi
bersama!!"
"Hm, hm. Aku senang melihat para budakku akrab satu
sama lain."
"Benar,
berkat Anda, hubungan kami sangat baik, bahkan sudah seperti saudara sendiri. Lalu,
anu... Tuan Muda... ada sesuatu yang kami pikirkan bersama. Jika Anda punya
waktu, bisakah kita bicara di tempat yang agak sepi?"
"....Baiklah. Mari kita bicara di tempat yang tidak ada
orang."
Ketika aku memohon kepada Tuan Muda untuk bicara di tempat
sepi karena 'ada hal penting yang ingin disampaikan', beliau mengabulkannya
dengan senang hati.
Biasanya, tidak mungkin bagi seorang budak untuk memberi
perintah atau meminta sesuatu kepada tuannya.
Namun, sikap Tuan Muda terhadap budak sangat berbeda dari
orang umum; beliau selalu memperlakukan kami secara setara.
Itulah sebabnya aku bisa mengajukan permohonan seperti ini,
dan hal itu membuatku merasa sedikit bangga.
Sambil memikirkan itu, aku meninggalkan dua lainnya dan
mengikuti Tuan Muda menuju sebuah ruangan yang sepi.
"Aku sudah memasang penghalang kedap suara untuk
jaga-jaga, jadi bicaralah tanpa perlu khawatir."
"Ba-baik!! Tuan Muda, jika diizinkan, bolehkah kami
para budak membentuk sebuah organisasi rahasia?"
"............Hah?"
Tuan Muda tampak
terkejut mendengar permintaanku, tapi itu wajar saja.
Sebab, rencana
'membentuk organisasi rahasia di antara budak' ini adalah sesuatu yang belum
pernah beliau bicarakan kepada kami.
Melihat Tuan Muda
yang jarang-jarang terlihat bengong begitu, aku yakin beliau pasti
bertanya-tanya, 'Kenapa mereka bisa tahu soal itu?'.
Melihat reaksi
Tuan Muda yang langka itu, aku merasa senang karena telah membawa topik ini
sebagai kejutan, sembari menunggu jawaban dari beliau.
◆
Pagi hari,
setelah terbangun, aku kembali mendapati Fran tidur di kasurku. Aku turun dari
ranjang tanpa membangunkannya, mengganti pakaian, lalu menikmati sarapan sambil
membaca koran setelah pulang dari rutinitas jalan pagi.
"Hm, hm,
begitu ya.... Sekitar dua hari yang lalu, di wilayah ini, sebuah organisasi
gelap raksasa yang menguasai dunia bawah tanah Kekaisaran dan memiliki koneksi
dengan Kerajaan, 【Hell's Guardian】, telah dihancurkan oleh
seseorang...."
Jika apa yang
tertulis di koran itu benar, aku harus bilang wilayah ini cukup berbahaya, atau
haruskah aku senang karena keamanan jadi lebih baik setelah mereka hancur?
Sulit diputuskan,
tapi jika ada pahlawan keadilan yang membasmi kejahatan, kurasa aku harus
merasa senang.
"A-anu... Tuan Muda...."
Saat sedang asyik membaca koran, Flame menyapa. Sepertinya
dia baru kembali dari bepergian. Dia terlihat sedikit tegang dengan ekspresi
wajah yang lebih kaku dari biasanya, membuatku refleks bersiaga.
Apakah aku tanpa sadar telah melakukan sesuatu yang membuat
Flame setegang itu?
Jika berhadapan denganku saja sudah membuatnya gugup,
jangan-jangan dia mulai terkena gejala semacam PTSD?
Aku sudah berusaha sangat hati-hati, tapi hubungan antara
budak dan majikan mungkin memberikan tekanan yang jauh lebih besar daripada
yang kubayangkan....
"Ada sesuatu yang kami pikirkan bersama. Jika Anda
punya waktu, bisakah kita bicara di tempat yang agak sepi?"
Ternyata dia punya sesuatu yang ingin dibicarakan denganku.
"....Baiklah. Mari kita bicara di tempat yang tidak ada
orang."
Mendengar
kata-kata Flame, aku merasa lega karena dia sepertinya tidak sedang menderita
PTSD. Tapi di sisi lain, aku jadi gugup memikirkan apa yang ingin dia bicarakan
sampai-sampai tidak boleh ada orang lain yang mendengar.
"Tuan
Muda, jika diizinkan, bolehkah kami para budak membentuk sebuah organisasi
rahasia?"
"............Hah?"
Sebenarnya,
aku memang berniat membentuk sebuah organisasi yang hanya terdiri dari para
budak (organisasi yang menjaga kerahasiaan pengetahuan karena status mereka
sebagai budak) untuk mencari uang.
Di dunia
ini, konsep paten tidak ada. Siapa pun yang tidak ingin teknologinya dicuri
atau ditiru biasanya menyembunyikan pengetahuan tersebut hanya di dalam
lingkungan keluarga sendiri.
Namun, cara itu
punya kelemahan. Seiring bergantinya generasi, pengetahuan yang tadinya hanya
dimiliki keluarga inti akan menyebar ke sanak saudara, lalu ke seluruh klan,
dan akhirnya bocor ke masyarakat luas.
Karena
pengetahuan yang akan kuajarkan kepada para budak ini tidak boleh bocor ke
dunia luar, tentu saja aku tidak berniat memasukkan orang yang bukan budak ke
dalam organisasi tersebut. Aku bahkan sempat bingung ingin membeli budak dalam
jumlah besar sekaligus untuk mengumpulkan anggota.
Tiba-tiba saja,
Flame memberikan usulan tersebut.
Benar-benar
seperti pucuk dicinta ulam tiba. Jika aku menyetujuinya, aku tidak perlu pusing
lagi memikirkan bagaimana cara meyakinkan para budak untuk membentuk organisasi
ini.
Tidak ada alasan
untuk menolak.
Namun, indra
keenamku tiba-tiba berteriak dengan kencang, memberikan peringatan: 'Jangan
setuju semudah itu!!'.
Setelah
mempertimbangkan sejenak peringatan dari indra keenam itu, aku memutuskan untuk
menyetujui permintaan Flame.
Alasannya, aku
rasa mereka tidak akan melakukan hal yang merugikan meskipun aku membentuk
organisasi rahasia sekarang. Lagipula, kalaupun mereka melakukan sesuatu,
dampaknya pasti tidak akan seberapa.
Meski begitu,
indra keenamku terus berteriak semakin keras di dalam kepala.
Aku tidak tahu
apa yang dianggap sangat berbahaya oleh instingku, tapi aku lebih memilih untuk
mempercayai para budakku daripada mempercayai indra keenam itu.
"Yah,
jarang-jarang Flame meminta sesuatu padaku. Kurasa sudah menjadi tugas majikan
untuk mendengarkan permintaan budaknya. Kecuali kalau permintaan itu merepotkan
orang lain atau butuh biaya sangat besar. Baiklah. Organisasi rahasia,
kedengarannya bagus, bukan?"
"Te-terima
kasih banyak!! Akan segera kusampaikan hal ini pada semuanya!!"
Mendengar
jawabanku, Flame langsung tersenyum lebar seperti bunga yang mekar dengan
indahnya. Dia membungkuk hormat lalu melesat pergi dengan kecepatan yang
seolah-olah mengeluarkan efek suara 'wusshh!' untuk memberitahu teman-temannya.
Melihat
kegembiraan Flame, aku merasa senang karena tidak mengikuti indra keenamku dan
memilih untuk mempedulikan perasaan budakku. Namun di saat yang sama, melihat
betapa senangnya Flame, ada sedikit rasa cemas yang merayap.
Kumohon, jangan
buat masalah ya.... Dan juga, jangan melakukan hal yang nekat, tetaplah
utamakan keselamatan....
Aku pun
berdoa demikian di dalam hati.
◆
Selingan
── Seorang Petualang Menjadi Botak Licin ──
Kabar angin mengatakan bahwa di Westgaph ini ada seorang petualang Dragonoid
wanita yang sangat cantik dan kuat. Aku sudah penasaran sejak lama.
Terlebih
lagi, petualang Dragonoid itu beraktivitas solo dan kabarnya dia adalah seorang
budak. Mendengar rumor itu, aku merasa harus menolongnya jika berita itu benar.
Sekuat
apa pun seorang Dragonoid, membiarkan seorang wanita bertualang solo adalah hal
yang kejam, dan dia sendiri pasti menyadarinya.
Fakta
bahwa dia masih solo sampai sekarang pasti karena statusnya sebagai budak; dia
pasti 'diperintahkan untuk beraktivitas solo' oleh majikannya.
Hal
semacam itu tidak bisa dimaafkan!
Aku
datang ke Westgaph dengan tekad membara untuk membebaskannya dari status budak.
Namun,
satu minggu telah berlalu dan petualang Dragonoid cantik yang digosipkan itu
tidak kunjung muncul di Guild Petualang Westgaph.
Apakah
rumor itu hanya sekadar isapan jempol belaka?
Tepat
saat aku mulai ragu, suasana di dalam Guild tiba-tiba menjadi riuh.
Saat aku
menoleh ke arah pintu masuk mengikuti pandangan semua orang, di sana berdirilah
seorang wanita Dragonoid yang kecantikannya persis seperti dalam rumor.
Namun,
penampilannya sama sekali tidak seperti petualang. Dia mengenakan seragam
pelayan (maid) dan di lehernya terpasang kerah yang menjadi bukti statusnya
sebagai budak.
Aku sampai
terpaku menatapnya. Kecantikan yang membuat orang menahan napas itu benar-benar
cocok untuk mendeskripsikan wanita itu.
Tapi aku
tidak boleh terpesona selamanya. Mengingat tujuanku datang jauh-jauh ke
Westgaph, aku berjalan menghampiri wanita Dragonoid yang sedang berbicara
dengan resepsionis wanita di konter Guild.
"Hei Nak,
mau ke mana? Jangan
bilang kau mau menghampiri Nona Flame?"
"Memangnya
kenapa?"
Langkahku
terhenti karena lenganku dicengkeram oleh seorang petualang pria tua yang
sepertinya sudah senior di sini.
Aku
sempat merasa kesal sejenak, tapi perasaan senang karena mengetahui namanya
adalah 'Flame' jauh lebih dominan, sehingga kekesalanku tadi langsung sirna.
"Pasti mau
menggodanya ya? Berhenti saja. Aku sudah melihat banyak orang dengan berbagai
alasan—seperti 'dia pasti dipaksa menjadi petualang!! Aku akan
menyelamatkannya!!'—tapi mereka semua berakhir dihajar habis-habisan."
"Apa
katamu!? Itu pasti karena bajingan yang menjadikannya budak memaksanya melalui
perintah, kan? Aku
bisa melihat Nona Flame sedang menangis di dalam hatinya karena ingin bebas!
Kau tahu, aku ini petualang solo peringkat C, lho. Tim lamaku bahkan hampir
mencapai peringkat S. Tentu saja aku punya julukan, 'Penyihir Api' Galk itu
adalah aku! Dengan kemampuanku, aku pasti bisa menyelamatkan Nona Flame!"
"Kalau
tidak mau dengar, ya sudah. Tapi
aku sudah memberimu peringatan, ya?"
"Oi, oi,
oi."
"Mati
dia."
Sepertinya namaku belum cukup terkenal di Guild ini. Meski aku menyebut nama dan julukanku,
tidak ada sorakan atau pujian. Suasana malah mendingin dan semua orang
memandangku seolah berkata, 'Apa-apaan orang ini'.
"Sialan! Apa
kalian tidak malu!? Membiarkan seorang gadis pergi menjalankan Quest sendirian,
dan membiarkan bajingan yang memberi perintah itu bebas berkeliaran!! Kalian
yang hanya menonton tanpa bertindak juga sama bersalahnya!! Terutama kalian yang
mencoba menghalangi niatku menyelamatkan Nona Flame, kalian lebih rendah dari
sampah!!"
Benar-benar
tidak masuk akal. Apakah
mereka tidak punya rasa keadilan?
Tidak ada yang
mencoba menghentikan seorang gadis menjalankan Quest tingkat tinggi sendirian,
dan tidak ada yang bergerak untuk memberi sanksi pada bajingan yang
menjadikannya budak. Benar-benar menjijikkan.
Namun, berkat
para sampah ini, keinginanku untuk menyelamatkan Nona Flame jadi semakin kuat.
Demi
menyelamatkannya dari neraka ini, aku berjalan menghampiri Flame yang masih
berbincang dengan staf Guild.
"Hei, Nona
Flame."
"....Begitu
ya, jadi laporannya hilang di sekitar sini?"
"Benar,
sepertinya begitu."
"Halo,
Nona Flame!!"
"Saya
mengerti. Saya akan mengambil Quest di area tersebut, bisakah tolong ambilkan
daftar Quest pembasmian yang bayarannya tinggi?"
"Te-terima
kasih banyak! Terima kasih!"
"Nona
Flame!!"
"Tidak
perlu, sesama petualang memang harus saling membantu."
"Terima
kasih banyak!! Lain kali jika ada permintaan, akan saya beri perlakuan
khusus!!"
"Nona
Fla—"
Aku terus
memanggilnya, tapi dia mengabaikan kehadiranku seolah aku tidak ada.
Namun aku tidak
menyerah. Mungkin saja dia diperintahkan untuk tidak menanggapi panggilan orang
asing.
"Sejak tadi
kau terus menyebut namaku dengan lancang, siapa yang memberimu izin untuk
memanggil namaku?"
Tepat saat aku
bergumam betapa brengseknya pemilik Flame, dia akhirnya menanggapi. Namun
tanggapannya sangat jauh dari bayanganku. Dia menatapku dengan permusuhan yang
sangat kentara.
"Ha-hanya
soal nama saja—"
"Hanya
soal nama? Kau tahu betapa sedihnya aku dengan nama Flame ini dulu? Berkat Tuan Muda, aku mulai bisa sedikit
menyukai namaku sendiri. Tapi tetap saja, jika dipanggil oleh orang lain selain
keluarga Tuan Muda, kenangan buruk di desa dulu selalu muncul kembali. Dan kau
bilang 'hanya soal nama'?"
"Ma-maaf,
aku tidak tahu.... Tapi ketahuilah, perasaanku yang ingin menyelamatkanmu ini
benar-benar tulus!!"
Sepertinya Nona
Flame punya kenangan buruk soal namanya, sampai-sampai menjadi trauma. Karena
itulah dia bereaksi begitu saat aku yang masih asing ini memanggil namanya.
Tapi mulai
sekarang, aku ingin mengubah nama itu menjadi kenangan indah dengan terus
memanggilnya.
"Menyelamatkan?
Siapa yang baru saja kau bilang ingin kau selamatkan?"
Tapi, Nona Flame
tampak jauh lebih marah saat aku bilang 'ingin menyelamatkannya' dibanding saat
namanya kupanggil. Orang-orang di sekitar bahkan langsung lari menjauh sambil
menutupi kepala mereka. Entah kenapa, suhu di sekitar sini juga mulai meningkat.
"Te-tentu
saja kau, Nona Flame!! Kau dipaksa pemilikmu untuk mengambil Quest tingkat
tinggi sendirian—"
"Maaf, ini
sebenarnya permintaan Nona Flame sendiri...."
"Resepsionis diam saja!! Kau juga bersalah!! ....Nona
Flame, kau bisa kehilangan nyawa jika begini terus. Aku akan menyelamatkanmu
dari pemilik kejam yang memberimu perintah mengerikan seperti ini!!"
".........Padahal dulu kau tidak datang saat aku sangat
butuh bantuan...."
"Eh? Kau bilang apa?"
"Lalu kenapa kau tidak datang menyelamatkanku saat aku
berada di masa paling sulit!? Yang menyelamatkanku dari ambang kematian adalah
Tuan Muda!! Dan sekarang aku sangat bahagia bisa menjadi budak Tuan Muda!! Jika
kau mencoba menghancurkan kebahagiaan yang susah payah kudapatkan ini, aku akan
menganggapmu musuh dan tidak akan memberi ampun!!"
Tepat setelah ledakan kemarahan Flame, pandanganku memerah.
Sedetik kemudian, rasanya seperti disiram air dingin, lalu aku terpental jauh
akibat hantaman ekor Flame.
Yah, tamparan
ekor Nona Flame sepertinya bisa bikin ketagihan.
Begitu pikirku
sebelum kesadaranku hilang. Saat terbangun, aku sudah terkapar di luar Guild
dengan pemandangan langit biru.
Orang-orang yang
lewat bergumam, "Oh, dia ya yang cari gara-gara sama Sang Putri Naga
Merah, Nona Flame", "Pasti dia panggil nama Nona Flame tanpa
izin", "Wajah baru ya, paling-paling petualang sombong berpangkat
tinggi yang cuma mau merayu". Mereka membicarakanku seolah itu pemandangan
sehari-hari.
Aku merasa kesal,
tapi perhatianku teralihkan karena semua orang melihat ke arah kepalaku, bukan
wajahku. Aku penasaran apakah kepalaku dicoret-coret, jadi aku mengintip
bayanganku di kaca jendela toko.
"............Hah?"
Di sana, rambut
yang tadinya sangat kubanggakan—rambut yang sering dikomentari orang tuaku
karena dianggap terlalu bergaya—kini sudah lenyap tak berbekas.
"Hahhhhhhhh!?
Kenapa rambutku hilang semua!?"
Aku tidak
mengerti. Karena orang-orang sepertinya tahu apa yang terjadi, aku menangkap
salah satu orang yang lewat.
"Hei kau!!
Jelaskan kenapa rambutku bisa begini!!"
"Eh? Apa
sih, lepasin! Menjijikkan! Kau pasti memanggil nama idola kami, Nona Flame,
tanpa izin dan bersikap sangat tidak sopan kan? Kau juga menghina Tuan Lawrence
yang merupakan penyelamat nyawa Nona Flame, kan? Makanya rambutmu dibakar
sampai botak licin begitu!!"
Pria itu
melepaskan tanganku dengan kasar. "Lain kali kalau tidak sopan lagi, bukan
cuma rambutmu yang hilang!" ancamnya sebelum pergi.
Apa salahku....
Meskipun perbuatanku pada Nona Flame mungkin sangat tidak sopan, tapi apakah
harus sampai kehilangan semua rambut?
Tapi anehnya, di
sudut hatiku, aku merasa lega. Mungkin karena rambut itu juga simbol
pembangkanganku pada orang tua, jadi ini momen yang pas untuk berubah.
Beberapa hari kemudian, setelah mengetahui ada Fanbase Putri Naga Merah Flame, aku pun bergabung sembari meratapi betapa tidak sopannya aku kepada Nona Flame saat itu.



Post a Comment