NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tensei Shitara Dorei Shieki to Kaifuku no Sukiru o Motte Ita node ~ Asobi Hanbun de Dorei Dake no Himitsu Kessha o Tsukurute mita Volume 1 Chapter 5

Chapter 5

Ada Saatnya Seseorang Harus Maju Meski Itu Adalah Jebakan


Dua tahun telah berlalu, dan aku yang kini berusia sepuluh tahun merasa rencana slow life-ku mulai menampakkan hasil yang nyata.

Penjualan keju dan yoghurt sangat stabil. Ditambah lagi, tahun ini kami mulai memasarkan miso, kecap asin, mirin, dan sake yang ternyata mendapat sambutan sangat baik. Berkat bantuan Marianne, saat ini kami juga sedang dalam proses pembuatan katsuobushi (cakalang serut).

Strategiku cukup jitu; sebelum meluncurkan bumbu-bumbu tersebut, aku mengundang para pemilik kedai di wilayah kami untuk acara cicip makanan.

Aku menyuguhi mereka hidangan yang menggunakan bumbu-bumbu itu, lalu membekali mereka resep dan satu kilogram bumbu sebagai buah tangan.

Hidangan yang kusajikan pun sengaja kupilih yang "klasik" agar tidak terasa asing; mulai dari udon kuah kombu dan ikan, sup miso, ayam teriyaki, pasta basis mentega kecap, hingga nasi tim. Hasilnya? Sekarang ayam teriyaki sedang menjadi tren besar di Westgaff. Benar-benar kejutan yang menyenangkan.

Untuk bahan seperti kombu, rumput laut, dan hasil laut lainnya, aku mendapat pasokan murah karena wilayah Fran berbatasan langsung dengan laut.

Sebagai gantinya, aku mengajarkan cara pembuatan katsuobushi dan menjual bumbu kami dengan harga miring kepada mereka.

Berkat kerja sama itu, akhirnya aku bisa menikmati impianku: makan sashimi segar dengan kecap asin. Dan sekarang, hidangan itu sudah tersaji tepat di depanku.

Sudah berapa belas tahun ya, aku tidak melihat ini?

Daging ikan berwarna merah, putih, dan merah muda itu berkilau layaknya permata.

Setelah terpaku memandangnya selama lima menit, aku mengambil sepotong daging putih—sepertinya jenis ikan kakap—dengan sumpit, mencelupkannya ke kecap asin, lalu memasukkannya ke mulut.

Tekstur ikan mentah yang kenyal khas, rasa gurih, serta manisnya lemak ikan langsung meledak di dalam mulut, diikuti aroma kecap dan laut yang naik ke hidung.

Ah, ini dia... rasa kampung halamanku.

Rasa harunya mirip saat aku pertama kali mencoba sup miso atau tamago kake gohan, tapi sashimi memang berada di level yang berbeda.

Berikutnya, aku menambahkan sedikit horseradish sebagai pengganti wasabi asli. Meski warnanya putih, kombinasi sashimi dan sensasi pedas menyengat wasabi tetaplah yang terbaik.

"Tu-Tuan Muda... apa tidak apa-apa makan ikan mentah begitu?"

"Aku juga sedikit khawatir. Aku tahu Tuan Muda pasti sudah memperhitungkannya, tapi tetap saja, itu kan ikan mentah."

Flame dan Marianne bertanya dengan wajah cemas.

"Makan ikan air tawar mentah memang berbahaya, tapi ikan laut relatif lebih aman. Meski begitu, ada ikan laut yang mengandung racun mematikan, jadi tidak semua bisa dimakan mentah," jelasku.

"Kalian tidak sopan sekali. Kalau Tuan Muda bilang tidak apa-apa, ya berarti aman. Aku benar-benar tidak paham kenapa kalian mempertanyakannya," sahut Keith ketus kepada para gadis.

Selama dua tahun ini, dia digembleng habis-habisan oleh Sebas. Entah akan jadi seperti apa dia nanti, tapi melihat gerak-geriknya yang sangat elegan saat mengenakan pakaian formal pelayan, aku tahu Keith sudah berusaha sangat keras di tempat yang tidak kulihat.

Mari lupakan Keith sejenak. Soal budaya makan ikan mentah ini, sepertinya akan seru jika dikembangkan perlahan.

Aku dan Marianne bisa memastikan keamanannya; aku mencicipi setelah Marianne mengecek patogennya, lalu jika terjadi sesuatu, aku tinggal menggunakan Skill-ku untuk menyembuhkan diri. Kombo terkuat, bukan begitu, Dokter Watson?

Karena di dunia ini sudah ada cuka apel, mungkin tidak lama lagi aku bisa membuat nasi cuka untuk sushi. Namun, menanamkan budaya makan ikan mentah butuh waktu beberapa generasi.

Oh ya, keberadaan cuka apel juga membuat roti di dunia ini bertekstur empuk. Mengingat hal itu, aku jadi teringat impian konyolku saat baru lahir dulu tentang 'Operasi Raup Cuan dengan Roti Empuk' yang langsung hancur seketika.

"Padahal Anda sedang berkunjung ke wilayahku, kenapa malah makan makanan aneh begitu? Padahal aku bisa meminta koki hebat untuk memasakkan hidangan kebanggaan wilayah kami," ujar Fran sambil memutar-mutar rambut bornya yang khas.

Yah, bagi orang dunia ini, makan ikan mentah memang dianggap perilaku aneh bin ajaib, bahkan bagi penduduk pesisir sekalipun.

"Kamu bisa sakit perut kalau makan yang mentah begitu, lho?"

"Aku sudah punya antisipasinya. Kalaupun ada parasit, Skill Healing-ku bisa membunuh mereka di dalam tubuh. Bisa dibilang, ini cara makan yang hanya bisa dilakukan olehku," jawabku menenangkan Fran yang mengkhawatirkanku.

Awalnya aku ragu apakah Skill Healing bisa membunuh organisme seperti parasit Anisakis.

Namun setelah kucoba pada ikan yang sudah dikonfirmasi Marianne mengandung parasit, ternyata parasitnya langsung mati.

Jika Skill ini bisa menyembuhkan flu atau wabah yang disebabkan bakteri dan virus, berarti parasit pun bisa dimusnahkan.

Benar-benar terlalu serba bisa. Kalau levelnya terus naik, aku takut Skill ini bahkan bisa mengatasi penuaan...

"Ya... kalau Lawrence-sama bilang begitu, baiklah..."

"Terima kasih sudah mencemaskanku, Fran."

"Bu-bukan begitu! Mengkhawatirkan kondisi tunangan sendiri itu kan hal yang wajar!!"

"Iya, kamu benar. Tapi hal yang terlihat wajar itu sebenarnya sulit dilakukan, lho. Aku rasa perhatianmu itu sangat mempesona. Kamu wanita yang hebat, Fran."

Begitu kupuji, wajahnya memerah dan rambut bornya berputar kencang dengan riang. Fran memang sangat mudah dibaca.

"Ya, ka-kalau soal cantik sih memang benar! Tapi tolong perhatikan kesehatanmu. Jangan terlalu percaya diri meski punya Skill hebat. Kalau kamu mati seketika, Skill itu tidak akan berguna lagi..."

Fran menatapku dengan tatapan sedikit mendongak yang cemas. Bor di kepalanya juga berputar lesu.

Sosoknya mengingatkan aku pada Pes, anjing peliharaanku dulu yang selalu mendekat dengan gelisah saat ada petir. Maaf ya Fran, tapi kamu imut sekali kalau sedang serius begitu.

"Terima kasih. Kamu benar, aku tidak boleh terlalu jemawa. Aku akan berhati-hati."

"Ba-baguslah kalau mengerti! Nah, sekarang aku mau minta Flame-san mengajariku tips terbang! Ayo, Flame-san! Kita ke pantai!"

Aku mengelus kepala Fran sebagai tanda terima kasih, yang membuatnya semakin merah padam.

Rambut bornya berputar sangat kencang saat dia menarik Flame menuju pantai pribadi di belakang kediaman keluarga Kvist.

Aku sedang berada di kediaman keluarga Fran. Karena sudah sering berkunjung sejak bertunangan, aku sudah merasa seperti di rumah sendiri.

Ikan yang kupancing kemarin dibersihkan di sudut taman setelah Marianne memastikan tidak ada bakteri berbahaya.

Aku melakukannya di sini agar sisik ikan yang beterbangan tidak mengotori dalam rumah. Limbah ikannya pun sudah kusiapkan untuk dibuang dengan rapi.

Ngomong-ngomong, aku pernah melihat video di internet tentang memancing menggunakan jeroan ikan sebagai umpan.

Ternyata di dunia ini pun cara itu sangat efektif. Meski agak kurang sopan, aku menganggapnya sebagai bentuk menghargai nyawa makhluk hidup dengan tidak menyisakan bagian apa pun.

Untuk ikan berukuran besar, aku minta tolong Flame. Caranya agak curang; dia menggunakan sihir api untuk meledakkan air hingga ikan-ikannya pingsan, lalu kami menyimpannya di Storage.

Tak terasa sudah empat tahun sejak aku bertemu Fran. Empat tahun bagi anak-anak membawa perubahan fisik yang sangat besar. Fran tumbuh semakin cantik. Di usia yang harusnya masuk SD kelas 4 atau 5 ini, wajahnya sudah sangat proporsional.

Dia pasti akan menjadi salah satu wanita tercantik di Kekaisaran. Meski punya banyak pilihan tunangan lain, dia tetap memilihku.

Ini membuatku mulai berpikir serius; mungkin aku memang akan menikahinya nanti. Itu berarti, rencana slow life-ku harus disesuaikan untuk kehidupan berdua, bukan lagi sendiri. Aku tidak mau Fran hidup susah.

"Jadi, Lawrence-kun, kamu sudah sepuluh tahun. Kapan mau melangsungkan pernikahan?"

Penyebab utama aku sering memikirkan masa depan bersama Fran adalah Daniel-san, ayah Fran, yang selalu muncul setiap kali Fran tidak ada di dekatku. Pertanyaannya selalu langsung ke inti tanpa basa-basi.

"Yah, saya masih sepuluh tahun. Saya rasa kami harus tumbuh sedikit lagi sebelum menikah."

"Begitu ya. Tapi ada juga yang menikah di usia tiga belas tahun. Jadi, rencananya umur berapa? Kalau mau, aku bisa mengatur tanggal dan lokasinya sekarang juga, bagaimana?"

"Tidak perlu seserius itu, Tuan. Dan soal biaya, saya akan bertanggung jawab membayar setengahnya."

Aku sengaja menyebut soal biaya sebagai kode agar dia tidak memutuskan semuanya sepihak. Di kalangan bangsawan, membayar setengah adalah bentuk etika untuk menunjukkan bahwa kedua belah pihak setara secara finansial.

"Hm, sayang sekali. Tapi setidaknya kamu tidak berniat membatalkan pertunangan, jadi aku akan menunggu dengan sabar."

Daniel-san selalu mendesakku setiap kali bertemu. Sebenarnya aku ingin bertanya kenapa dia begitu terobsesi, tapi kutahan.

"Lagipula, kamu jauh lebih dewasa dibanding anak seusiamu. Kamu punya pemikiran fleksibel yang tidak terbayangkan oleh kami. Bahkan jika bukan bangsawan lagi, kamu sepertinya sudah punya cara untuk menghidupi putriku. Kakakmu mungkin disebut anak jenius, tapi menurut instingku, kamulah yang akan menjadi sosok luar biasa di masa depan. Sebagai ayah, tentu aku ingin menikahkan putriku dengan pria yang menjamin masa depannya—"

"Sayang!! Kamu mendesak Lawrence-kun soal pernikahan lagi, ya!? Kalau terus begini, aku akan lapor pada Fran, lho!!"

Ibu Fran muncul tepat waktu, menjewer telinga Daniel-san, dan menyeretnya pergi sambil meminta maaf padaku. Aku hanya bisa mendoakan agar Daniel-san bisa bertahan hidup setelah ini.

Meski Daniel-san agak berlebihan kalau menyangkut Fran, dia sebenarnya orang yang hebat. Itu hanya bentuk rasa sayangnya yang besar pada putrinya.

Di kejauhan, kulihat Fran sedang berlatih di bawah bimbingan Flame, melayang sekitar tiga puluh sentimeter dari tanah sambil memutar rambut bornya dengan serius. Oke, mari anggap aku tidak melihat apa-apa.

"Anu, Tuan Muda..."

"Ada apa, Marianne?"

Marianne mendekat dengan wajah sedikit merona dan tampak malu-malu.

"A-aku juga ingin mencoba memancing. Apakah boleh? Apa tidak terlihat tidak sopan jika seorang wanita melakukan hal seperti itu?"

"Memancing? Tentu saja boleh. Aku cuma kaget karena tidak menyangka kamu tertarik."

"Iya! Dulu pasti akan dibilang 'itu bukan hal yang pantas dilakukan permaisuri'. Karena sekarang aku berada di lingkungan yang bebas, aku ingin mencoba hal-hal yang dulu dilarang."

Aku mengerti perasaannya. Sesuatu yang dilarang memang biasanya terasa lebih menggoda. Rasa ingin tahu dan keberanian Marianne inilah yang membuatnya terkadang bertingkah agak nakal.

"Baiklah, ayo kita memancing bersama."

"Asyik!!"

Kami berjalan menuju bebatuan tempatku memancing tadi pagi.

"Ngomong-ngomong, Marianne, kamu berani memegang kepiting atau serangga kecil yang banyak di sana untuk dijadikan umpan?"

Inilah alasan utama kenapa memancing lebih identik dengan pria; umpannya seringkali menjijikkan bagi sebagian orang.

"A-aku akan coba. Karena kepiting dan serangga larinya cepat, untuk awal kita pakai kerang yang dihancurkan saja—"

"Tuan Muda!! Aku tangkap serangganya!! Bagaimana cara memasangnya ke kail!? Tolong beri contoh!!"

"Hiiih!? ...Ehem, Marianne, kurasa tidak sopan mengarahkan bagian perut serangga ke wajah orang lain."

"Eh? Tapi ini lucu—"

"Pokoknya jangan!"

"Apa Tuan Muda takut serangga—"

"Ma-ma-mana mungkin!! Aku cuma tidak suka bagian perutnya yang terlihat... aneh itu, ya!!"

"Fufu, baiklah, aku anggap begitu saja."

Fiuh, sepertinya wibawaku sebagai majikan masih aman. Tapi tunggu, tadi dia bilang kutu laut itu lucu? Sepertinya aku berhalusinasi karena panik tadi. Tidak mungkin gadis seusia dia bilang begitu. Pasti cuma khayalan.

"Nah, kita pakai kerang saja dulu. Kerang apa saja boleh, pecahkan dengan batu, pasang di kail, lalu lempar ke tempat yang ada ikannya... Lihat, langsung dapat!"

Aku mendemonstrasikan cara memancing yang mudah. Ikannya kecil, tapi bagi pemula, yang penting adalah sensasi 'langsung dapat'.

"Wah! Hebat, Tuan Muda!! Aku juga tidak mau kalah!!"

Marianne meniru gerakanku. Meski kaku, dia berhasil memasang umpan dan melempar kailnya ke laut.

"Wawa!! Ada tarikannya!! Tuan Muda, aku harus bagaimana!?"

Ujung joran bambunya melengkung tajam.

"Tenang, Marianne. Hentakkan sedikit jorannya agar kailnya menancap, lalu angkat pelan-pelan. Aku akan menyerok ikannya dengan jaring."

"Ba-baik!!"

Joran kami sangat sederhana, hanya bambu dengan senar dari kelenjar sutra ulat yang diikat di ujungnya. Marianne berhasil menarik seekor ikan kakap hitam (atau yang mirip itu) ke permukaan.

"Tuan Muda!! Aku dapat!!"

Ukurannya lebih besar dari semua ikan yang kudapat hari ini. Mungkin ini hadiah dari Tuhan untuk Marianne yang sudah menderita selama ini. Ya, ini pasti beginner's luck, bukan karena aku kalah mahir darinya.

Setelah Marianne mendapat sekitar sepuluh ekor ikan lagi, kami memutuskan untuk berhenti. Meski dia tampak masih ingin lanjut, aku mengingatkannya agar tidak memancing lebih dari yang bisa dimakan.

Ikannya akan kami olah; yang kecil dibuat tempura, kakap hitamnya dibakar garam, dan sisanya dibuat kaldu untuk udon.

Sore itu, kami meminjam dapur keluarga Kvist. Alasan utamaku datang ke sini bukan hanya karena undangan Fran, tapi karena suratnya menyebutkan bahwa 'prototipe katsuobushi sudah jadi'.

Sekarang bumbuku sudah lengkap: kecap asin, mirin, sake, kombu, dan katsuobushi. Meski ini jebakan pun, aku pasti akan datang.

Di dapur, sudah ada kepala koki dan dua batang katsuobushi utuh. Dengan tangan gemetar karena haru, aku membenturkan kedua batang itu dan terdengar bunyi 'ting' yang nyaring. Teksturnya sempurna. Terima kasih Marianne, terima kasih Daniel-san!

Aku mulai menyerutnya. Meski hasilnya tidak serapi serutan profesional, aromanya sangat otentik. Bau ini... ya, bau inilah yang kurindukan!

Aku hampir menangis, tapi kutahan. Akhirnya aku bisa membuat masakan Jepang yang sesungguhnya. Aku mulai membuat kuah tempura dari campuran kecap, mirin, dan kaldu katsuobushi.

Aromanya memenuhi dapur. Jika aku memejamkan mata, aku merasa sedang tidak berada di dunia lain. Aku mencicipinya sedikit. Sempurna. Aku jadi tidak sabar ingin segera makan, tapi aku harus menyelesaikan masakannya dulu.

"Anu, adonan ini... apa tidak terlalu banyak air?"

Mary, adik Keith, membantuku di dapur. Karena dia bisa memasak, dia langsung menyadari perbedaan adonan tempuraku. Untung aku mengajak Mary, karena kalau mengajak Flame atau Marianne, dapur ini pasti sudah meledak.

"Ini bukan gorengan ikan biasa, ini namanya Tempura. Teksturnya akan sangat berbeda, nanti kamu coba saja sendiri bedanya."

"Ooh... begitu ya."

Mary manggut-manggut sambil mencatat. Sementara itu, air di panci besar mulai mendidih. Aku memasukkan mi udon yang sudah kusiapkan sejak kemarin.

Aku meminta Mary untuk mendinginkan mi yang sudah matang dengan air es sihir.

Di sisi lain, aku mulai menggoreng ikan yang sudah dibersihkan tadi dengan minyak wijen. Aroma gurihnya sangat menggugah selera. Aku juga membuat bakwan sayur (kakiage) sebagai pendamping.

"Su-sudah jadi...!!"

Setelah puluhan menit berkutat di dapur, semuanya selesai. Udon, tempura, dan bakwan sayur sudah siap saji.

Akhirnya... akhirnya aku bisa makan. Aku sudah menahan diri untuk tidak mencicipi terlalu banyak agar sensasi suapan pertamanya tidak berkurang. Mari kita makan!

Setelah memastikan Tempura, Kakiage, dan Zaru Udon terhidang sempurna untuk semua orang, aku pun duduk di kursiku.

Di meja makan malam itu, orang tua Fran juga sudah hadir. Mereka memandangi Tempura dan Zaru Udon dengan tatapan penasaran, tampak gelisah seolah tidak sabar ingin segera mencicipinya.

"Baiklah, karena semuanya sudah siap, mari kita makan. Celupkan Tempura, Kakiage, dan Udon ke dalam kaldu hitam ini. Untuk Tempura, dimakan dengan garam juga enak, jadi silakan nikmati sesuai selera masing-masing. Kalian juga bisa menambahkan irisan daun bawang, wijen, parutan jahe, atau cabai bubuk sesuai selera. Kalau begitu, selamat makan."

Setelah memberikan penjelasan singkat dan melihat Daniel-san—ayah Fran—mulai menyantapnya, kami semua pun ikut mulai makan.

Target pertamaku tentu saja Tempura ikan bera.

Aku menjepitnya dengan sumpit, mencelupkannya ke dalam kaldu, lalu menggigitnya.

Sak!

Seketika, bunyi renyah terdengar bersamaan dengan rasa gurih ikan yang berpadu dengan aroma katsuobushi, meledak di dalam mulut dan aromanya menggelitik hidung.

"Hm, enak ban—"

Baru saja aku hendak memuji masakanku sendiri, Fran yang duduk di sebelahku tiba-tiba berteriak penuh semangat layaknya karakter di manga kuliner.

"Enak sekali!? Apa-apaan ini!? Ini bukan sekadar ikan goreng biasa, kan!? Tekstur tepung dan rasanya sangat berbeda dari ikan goreng yang biasa kumakan, ikannya juga sangat lembut! Sausnya pun sangat cocok dengan makanan bernama 'Tempura' ini. Ini adalah makanan terenak yang pernah kumakan seumur hidup! Aku rela makan ini setiap hari!"

Aku mengerti perasaannya, tapi kalau makan ini setiap hari, kurasa bakal enek juga. Saat SD dulu, aku pun pernah bermimpi ingin makan makanan favoritku sampai kenyang setiap hari.

Namun setelah hidup sendiri dan mencoba melakukan hal itu, aku baru sadar kalau makanan itu terasa enak justru karena porsinya yang pas.

Jika dimakan berlebihan, tubuh malah akan menolak mentah-mentah sampai tidak mau melihatnya lagi seumur hidup. Intinya, segala sesuatu yang secukupnya itu adalah yang terbaik.

Tapi percuma mengatakannya sekarang, dia tidak akan paham kalau belum gagal sendiri. Melihat antusiasme Fran, dia pasti akan minta makan ini setiap hari mulai besok, jadi biarlah dia merasakannya sendiri nanti.

"Bukan hanya 'Tempura', tapi 'Zaru Udon' ini juga sangat luar biasa... Sausnya sendiri sudah enak, tapi setelah ditambah bumbu pelengkap, kesegaran jahe, kerenyahan daun bawang, dan aroma wijen benar-benar mengangkat level hidangan ini. Rasanya ringan dan bersih, sepertinya tidak perlu khawatir perut akan terasa begah. Anak muda mungkin merasa kurang mantap, tapi mereka bisa memakannya bersama Tempura. Ini adalah makanan yang sempurna!!"

Melihat Daniel-san yang mendadak puitis setelah makan Zaru Udon, aku menyadari bahwa sifat hiperbola Fran ternyata turunan ayahnya.

Di sisi lain, Lisha-san—sang ibu—tampaknya ketagihan dengan Kakiage. Beliau tidak berkomentar dramatis seperti suami dan anaknya, tapi melihat gundukan Kakiage yang menggunung di piringnya, jelas sekali beliau sangat menyukainya.

Mary makan dengan ekspresi serius bak juri lomba masak; setiap satu suapan, dia langsung mencatat di bukunya. Bakat memasaknya memang bukan main. Sepertinya kegemarannya memasak bermula dari kebiasaannya menyiapkan makanan untuk kakaknya dulu.

Keith dan Marianne makan dengan tenang dan perlahan. Sebaliknya, setiap suapan Flame sangat besar—daya hisapnya bahkan mungkin membuat vakum merek D*yson minder.

Petualang aktif memang beda, ya. Tapi cara makannya yang lahap itu justru terlihat mengagumkan. Benar-benar khas Dragonoid.

Ngomong-ngomong, Keith tadi sempat menolak dengan alasan, "Mana mungkin hamba duduk semeja dengan Tuan Muda, hamba akan makan nanti saja."

Namun aku memaksanya dengan alasan, "Makan bersama-sama itu lebih nikmat. Kalau aku tahu ada satu orang yang tidak makan, hidangan seenak apa pun bakal terasa hambar."

Lalu ada Marianne yang cara makannya perlahan dengan suapan-suapan kecil, mengingatkanku pada hewan mungil yang lucu. (Sumpah, imut sekali.

Kalau aku punya smartphone, aku pasti sudah merekamnya berkali-kali). Meski terlihat pelan, sebenarnya dia sudah makan lebih cepat dari biasanya.

Syukurlah semua orang puas dengan hidangan hari ini. Selesai makan, aku langsung lanjut berdiskusi dengan Daniel-san mengenai transaksi resep masakan tadi.

Daniel-san ingin menyebarkan resep ini di wilayah kekuasaannya dan restoran-restoran yang dia kelola. Beliau bersikeras ingin membayar royaltinya.

Awalnya aku menolak karena merasa kami sudah akrab, tapi dia bilang, "Justru karena kita akrab, urusan seperti ini harus jelas. Yang benar harus tetap benar."

Akhirnya aku mengalah dan menerima uangnya. Nominalnya cukup untuk membangun satu rumah baru yang megah! Aku sampai melongo menatap Daniel-san, tapi dia hanya bilang, "Ini bahkan termasuk murah. Uang segini bakal balik modal dalam sekejap."

Katanya, hidangan ini akan disajikan di restoran kelas atas di Ibu Kota yang menyasar para bangsawan.

Walaupun Tempura seafood mungkin sulit didapat di sana, Tempura sayuran saja sudah cukup enak, apalagi ditambah Udon. Biaya bahannya relatif murah dibanding masakan lain, tapi karena kelangkaannya, harganya bisa dipasang cukup tinggi.

Tentu saja, para koki yang diajarkan resep ini harus terikat kontrak sihir untuk tidak membocorkannya.

Hal-hal seperti ini memang jauh lebih praktis di dunia ini. Aku jadi penasaran ingin mampir ke restorannya saat berkunjung ke Ibu Kota nanti.

Setelah itu, kami mengatur detail pembagian keuntungan.

Aku sempat bingung, kenapa aku masih dapat bagi hasil padahal sudah dibayar di awal?

Daniel-san mengajariku bahwa biaya izin penggunaan itu berbeda dengan bagi hasil penjualan. Intinya, jangan sia-siakan peluang untuk meraup untung.

Transaksi keuangan adalah "pertempuran" bagi bangsawan. Jika kontrak tidak diperiksa sampai ke detail terkecil, orang lain bisa dengan mudah menjatuhkanmu.

Misalnya, jika aku hanya menerima biaya izin di awal lalu makanan itu meledak di pasaran, pasti akan terjadi sengketa di kemudian hari.

Beliau juga mengajariku cara menetapkan sistem royalti bulanan. "Penting untuk menemukan alasan agar bisa terus memeras keuntungan dalam jangka panjang," katanya.

Justru dengan orang yang tidak ingin kita khianati, kontrak harus dibuat sejelas mungkin agar tidak ada masalah nantinya.

Akhirnya kami sepakat: biaya izin adalah uang yang kuterima hari ini, ditambah sepuluh persen dari total penjualan.

Waktu diskusi ini benar-benar sangat berharga bagiku.

Di akhir pembicaraan, Daniel-san berkata, "Kamu adalah pria yang akan menjadi suami Fran. Mulai sekarang, berpikirlah bahwa kerugianmu adalah kerugian Fran dan para budakmu juga. Dengan pola pikir itu, kamu tidak akan hanya menerima biaya izin lalu menganggapnya selesai."

Aku tersentak. Itu adalah kata-kata emas bagiku. Aku berkali-kali berterima kasih pada Daniel-san sebelum mengakhiri diskusi.

Dengan ini, aku resmi mendapatkan pendapatan pasif (passive income). Artinya, impianku untuk hidup santai tanpa bekerja sudah bukan sekadar mimpi lagi. Aku benar-benar berutang budi besar pada Daniel-san.

Aku menutup hari ini dengan tekad baru yang membara.

Keesokan paginya, aku terbangun karena merasa sesak saat tidur.

Ada sensasi lembut di sebelahku, dibarengi aroma manis yang harum. Dengan keringat dingin dan firasat buruk, aku menoleh perlahan sambil tetap berbaring.

Di sana, Fran dengan rambut bornya yang terurai dan mengenakan pakaian tidur, sedang memeluk lenganku erat-erat sambil mendengkur halus dengan wajah bahagia.

Sambil berusaha selembut mungkin agar tidak membangunkannya, aku perlahan melepaskan lenganku dan berhasil meloloskan diri dari tempat tidur.

Satu hal yang bisa kukatakan: untuk ukuran sepuluh tahun, pertumbuhan Fran sangat pesat.

Namun, karena dia masih sepuluh tahun, aku sama sekali tidak merasa nafsu—yang mana adalah hal yang bagus. Tapi kalau hal ini terjadi lima atau enam tahun lagi, kurasa mental laki-lakiku bakal terancam bahaya.

Aku membuka gorden dan jendela. Cuaca hari ini sangat cerah, dan angin yang masuk membawa sedikit aroma laut yang payau.

Sambil menikmati udara pagi yang berbeda dari rumahku atau duniaku dulu, aku mengambil handuk dan keluar ke lorong untuk melakukan latihan rutin harian.

"Selamat pagi, Lawrence-kun. Tidur nyenyak semalam?"

"Se-selamat pagi, Earl Kvist."

Begitu membuka pintu, Daniel-san sudah berdiri di sana dengan senyum lebar.

Tatapannya seolah berkata 'kau tidak bisa lari'. Karena aku tidak tahu bagian mana yang bisa memicu kemarahannya, aku menjawab sapaannya dengan sangat formal menggunakan gelar bangsawannya. Biar bagaimanapun, aku hanyalah anak sepuluh tahun dan putra kedua, jadi menghormati orang lain tidak ada ruginya.

"Aduh? Kenapa kaku sekali, Lawrence-kun? Paman jadi sedih, lho. Panggil saja seperti biasa, 'Daniel-san'. Kita kan sudah seperti keluarga."

Daniel-san menjawab dengan senyum lebar, tapi senyum itu terasa sangat mengerikan.

"Atau jangan-jangan... setelah menghabiskan malam bersama putriku, kamu malah bersikap kaku begini karena hanya menganggapnya main-main?"

"Ti-tidak begitu! Saya menjalin hubungan dengan Fran-san dengan sangat serius sebagai tunangannya!!"

Lagipula, aku yakin sudah mengunci pintu kamar sebelum tidur. Kenapa Fran bisa ada di sebelahku?

Ini pasti jebakan yang direncanakan Daniel-san dan Fran di belakangku.

"Yah, jangan salah paham, ini demi putriku. Fran bertanya padaku, 'Ayah, bagaimana caranya agar aku bisa lebih dekat dengan Lawrence-sama? Aku ingin segera bersamanya'. Jadi aku jawab, 'Tidurlah di kasur yang sama dengannya semalam. Ayah punya kunci cadangannya, serahkan sisanya pada Ayah'. Jadi ini adalah inisiatifku sebagai ayah yang ingin membantu putrinya, bukan berarti Fran yang genit ingin tidur bersamamu, ya? Jangan sampai salah sangka. Putriku harus menahan keinginannya tidur bersama ayahnya demi tidur denganmu, jadi jangan sampai kamu membuatnya malu karena salah mengerti."

"Ba-baik, saya mengerti..."

"Hahaha! Tapi jangan sedih, kamu tetap nomor dua! Ayahnya tetaplah yang nomor satu di hatinya, sedangkan kamu nomor dua!!"

Ada apa sih dengan orang ini? Kenapa sepagi ini dia malah pamer tentang siapa yang paling ingin ditemani tidur oleh Fran? Mana adu argumennya dilakukan saat embun pagi bahkan belum kering.

Saat itulah, Fran yang sepertinya baru bangun berjalan ke arahku dan langsung menempel.

"Selamat pagi, Lawrence-sama, Ayah. Berisik sekali sampai aku terbangun. Tentu saja, aku jauh lebih ingin tidur dengan Lawrence-sama daripada dengan Ayah. Lawrence-sama nomor satu, Ayah nomor dua!!"

"M-mana mungkiiinnn!?"

Kalimat pertama Fran langsung menghantam Daniel-san dengan telak. Serangan kritikal yang mematikan.

"Aduh, maafkan suamiku ya, Lawrence-kun. Nanti akan aku beri 'pelajaran' yang sangat, sangat tegas, jadi tolong maafkan dia, ya?"

Daniel-san yang sudah berlutut sambil menangis tersedu-sedu langsung diseret pergi oleh istrinya, Lisha-san, yang entah sejak kapan sudah ada di sana. Melihat pemandangan itu, aku berjanji dalam hati untuk tidak pernah mencari masalah dengan Lisha-san.

"Ya, maaf soal yang tadi, ya."

"Tidak apa-apa, Tuan."

Setelah latihan dan menuju ruang makan untuk sarapan, Daniel-san meminta maaf kepadaku.

Ekspresinya terlihat biasa saja, tapi aura di sekitarnya bukan lagi aura pria hebat, melainkan seperti anak anjing yang kehujanan.

Sepertinya dia baru saja dihajar habis-habisan oleh istrinya. Aku penasaran apa yang dikatakan Lisha-san padanya, tapi aku tahu itu adalah Kotak Pandora yang tidak boleh dibuka.

"Jadi Lawrence-kun, apa rencanamu hari ini?"

"Hari ini aku berencana mengajak para budakku berkeliling wilayah ini. Aku sudah beberapa kali berkunjung, tapi masih banyak tempat yang belum sempat kulihat."

"Kalau begitu, aku akan—"

"Biar aku saja yang memandu Anda!!" potong Fran.

"Begitu ya. Kalau begitu Ayah juga ikut—"

"Ayah kan sedang libur setelah sekian lama, lebih baik beristirahat saja bersama Ibu!!"

"A-ah... baiklah, Fran. Terima kasih..."

"Kenapa? Kamu keberatan menghabiskan waktu libur bersamaku?" tanya Lisha-san.

"Te-tentu saja tidak!?"

"Baguslah. Kalau begitu hari libur berikutnya juga kita habiskan berdua saja. Masih banyak hal yang ingin kubicarakan padamu."

Sebenarnya hari ini aku ingin mencoba berbagai hal yang hanya bisa dilakukan di Dungeon wilayah ini.

Aku berencana grinding seharian karena jika menyelesaikan Dungeon, kita bisa mendapatkan item Skill Remover dan Skill Granter. Sekalian juga untuk menaikkan level para budak.

Tapi karena tidak ada urusan mendesak, rencana itu bisa ditunda. Lagipula, dari pengalamanku selama ini, Skill pasti memiliki level.

Aku tidak tahu apakah membunuh monster meningkatkan status fisik, tapi untuk urusan menambah pengalaman, itu pasti berguna.

Akhirnya, kami berangkat bersama Fran, diantar oleh lambaian tangan Daniel-san yang tampak ingin menangis dan Lisha-san yang tersenyum manis.

Tujuan kami adalah sebuah kota terbesar ketiga di wilayah Kvist, terletak di kaki gunung dekat sungai, sekitar dua jam perjalanan kereta kuda ke arah utara. Selama ini aku hanya melihat daerah pesisir, jadi ini pertama kalinya aku ke arah utara.

Setelah satu jam perjalanan, suasana mulai berubah. Pemandangan kota di sini sangat berbeda dengan daerah pantai.

Tidak ada hutan pelindung angin atau pagar batu tinggi yang biasanya menahan badai laut. Aromanya pun berubah dari bau garam menjadi aroma segar pegunungan dan sungai.

Tentu saja kuliner khasnya pun berbeda total. Di pesisir banyak hasil laut segar dan awetan, sementara di sini lebih banyak sayur-sayuran, tanaman herbal, dan daging buruan yang dikeringkan.

Deretan kedai di pinggir jalan pun banyak yang menyajikan menu-menu tersebut.

Meski begitu, harga ikan kering di sini masih jauh lebih murah dibanding wilayahku, mungkin karena lokasinya yang masih tergolong dekat dengan laut. Aku jadi bersemangat memikirkan apa yang akan diperkenalkan Fran hari ini.

"Nah, kita sampai!!"

Fran mengumumkan dengan suara lantang penuh kebanggaan.

"Kota ini punya cita rasa masakan yang berbeda dari pusat kota maupun daerah pesisir. Aku yakin Lawrence-sama akan menyukainya!!"

Fran terlihat sangat bangga dengan wilayahnya, benar-benar menunjukkan betapa dia mencintai tempat tinggalnya.

Di bawah panduan Fran, kami menyusuri kota. Ternyata banyak sekali pedagang kaki lima di sini. Kita bisa membeli berbagai macam makanan sedikit demi sedikit sambil berjalan.

Ada makanan yang mirip crepe, berupa adonan tepung tipis yang dibakar lalu diisi berbagai bahan. Ada juga sate daging ayam atau daging buruan yang dibakar di atas plat besi atau digoreng. Semuanya tercium sangat lezat.

Daging buruan biasanya punya bau yang khas, tapi di sini aromanya tertutupi oleh bumbu yang nendang. Sepertinya mereka menggunakan semacam kecap ikan lokal dan bumbu rahasia lainnya.

Menurut Fran, semua gerobak kaki lima di sini sebenarnya dikelola oleh kedai-kedai di belakangnya. Ternyata Daniel-san dan bawahannya sangat disiplin dalam mengatur izin usaha, sehingga kota ini sangat tertib dan aman bagi Fran untuk berjalan-jalan di siang bolong.

"Lawrence-sama! Tumis sayur di sini enak sekali! Toko itu juga enak, apalagi yang di sana!"

Melihat antusiasme warga dan beragamnya makanan di kota ini, aku jadi paham kenapa Daniel-san sangat menghargai resepku. Ternyata keluarga Kvist memang sudah turun-temurun menjaga budaya kuliner mereka.

"Baiklah, mari kita beli rekomendasi Fran. Untuk porsi besar, kita beli satu saja lalu kita bagi-bagi agar semuanya bisa mencicipi."

Aku membeli berbagai masakan dari gerobak yang direkomendasikan Fran.

Saat kami membawa makanan itu ke tepi sungai, Keith tiba-tiba entah dari mana sudah menyiapkan meja dan kursi, lengkap dengan piring-piring kecil untuk membagi makanan.

Lama-lama Keith semakin mirip Sebas. Aku penasaran bagaimana cara dia mengeluarkan meja kursi itu secepat kilat. Baik Sebas maupun Keith selalu menolak memberitahuku dengan alasan 'rahasia pelayan'.

Keith kemudian menuangkan teh hijau dingin ke gelas untuk kami semua dengan sangat cekatan. Serius, kalau dia tidak jadi pelayan, dia bisa sukses jadi pesulap.

Di sisi lain, Flame dan Marianne tampak gelisah karena ingin berguna tapi tidak tahu harus melakukan apa. Melihat mereka yang bingung begitu sebenarnya imut juga sih, tapi aku diam saja.

Sedangkan Mary—adik Keith—masih dalam tahap pelatihan sebagai pelayan pribadi Marianne, jadi kemampuannya belum selevel kakaknya.

Maklum, dia masih remaja yang ingin bermain, berbeda dengan kakaknya yang sudah memohon langsung pada Sebas untuk dididik keras agar bisa mandiri demi adiknya.

Bagi Mary, menjadi teman bermain Marianne saja sudah cukup bagus menurutku.

"Mari kita makan. Selamat makan."

Setelah semuanya siap, kami pun mulai menyantap hidangan di depan mata.

Target pertamaku adalah sate daging misterius. Aku mencoba menebak apakah ini daging umum atau daging langka. Aku menggigitnya perlahan, mencoba berakting layaknya kritikus kuliner.

Seketika, rasa daging yang belum pernah kurasakan bahkan di duniaku dulu meledak di dalam mulut. Enak sekali! Rasanya ingin berteriak 'E-N-A-K B-A-N-G-E-T!' ala acara TV.

Kosa kataku rasanya tidak cukup untuk mendeskripsikan kelezatan ini. A

ku pernah dengar kalau luwak yang hanya makan buah-buahan dagingnya sangat enak, mungkin ini mirip itu. Entahlah, aku tidak pernah makan luwak, tapi saking enaknya, yang penting pesan itu tersampaikan.

Berikutnya adalah tumis sayuran. Dari aromanya saja sudah terbayang rasanya.

Dan benar saja, rasanya tidak mengkhianati ekspektasiku. Bumbunya unik, mungkin seperti masakan Asia Tenggara di duniaku dulu. Padahal aku belum pernah keluar dari Jepang, tapi mari tidak usah terlalu detail.

Selama hati kita terhubung, itu sudah cukup. Alibi 'pernah makan' atau 'pernah ke sana' itu cuma senjata terakhir bagi orang yang tidak punya ikatan batin.

"Benar... rasanya punya kelezatan yang berbeda dengan kota pesisir," ujar Flame yang tampak sangat puas. Dia sudah memegang banyak makanan di kedua tangannya.

Ternyata dia menggunakan uang sakunya sendiri untuk membeli porsi tambahan.

Padahal aku bersedia mentraktirnya, tapi dia bilang, "Ini sudah jadi hobiku. Kalau Tuan Muda yang bayar, aku malah akan merasa sungkan dan tidak bisa menikmati rasanya. Jadi izinkan aku membayar sendiri."

Aku bisa mengerti perasaannya. Tapi tetap saja, melihat cara makannya yang begitu lahap dengan tubuh sekecil itu, aku benar-benar kagum. Itulah kekuatan Dragonoid yang lapar.

Semua orang memuji masakannya, dan rekomendasi Flame terbukti jitu. Aku sangat puas.

Mengetahui bahwa dalam satu negara saja cita rasanya bisa berbeda sejauh ini adalah penemuan besar bagiku.

Kelak, jika rencana slow life-ku sudah benar-benar stabil, aku akan mengajak Fran keliling Kekaisaran—bahkan kalau bisa ke negara lain—hanya untuk wisata kuliner.

Aku pun menambahkan 'Tur Kuliner' ke dalam daftar rencana masa depanku.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close