Chapter 8
Keseharian Itu Begitu Rapuh
──Sisi
Klan Hakurousu (Serigala Putih) ──
"Ayah! Hari
ini aku mau pergi ke sungai!!"
"Oh, jangan
pergi terlalu jauh, ya? Dan kalau hari mulai gelap, segera pulang!"
"Iya, aku
tahu! 'Gunung cepat gelap', kan! Sudah dengar itu ratusan kali!"
Setelah menjawab
begitu, putriku Meteor yang baru saja genap berusia sepuluh tahun langsung
melesat seperti angin menuju sungai tempatnya biasa mencari kepiting dan ikan
kecil.
Sementara itu,
aku dan istriku menyiangi rumput di ladang, memanen hasil bumi, lalu
menghabiskan waktu luang dengan minum teh sambil mengobrol bersama penduduk
desa lainnya.
Itulah keseharian
kami di desa klan Hakurousu.
Karena desa kami
terletak jauh di dalam gunung, musim dingin di sini tentu jauh lebih keras
dibandingkan di Ibu Kota Kekaisaran.
Dalam hal
logistik, kami harus turun ke kaki gunung jika membutuhkan produk besi seperti
panci dan pisau, atau garam. Sering kali aku merasa itu tidak praktis.
Namun, tidak
seperti di kota, di sini kami tidak perlu mengeluarkan uang untuk kayu bakar
dan air bersih bisa diminum sepanjang tahun.
Saat musim
dingin, kami memang harus mengecek setiap pagi apakah saluran air atau mata air
membeku.
Di musim lain pun
kami harus menyingkirkan dedaunan gugur atau bebatuan yang jatuh.
Melelahkan
memang, tapi bisa meminum air yang aman kapan saja adalah sebuah anugerah.
Kudengar air yang
diminum rakyat jelata di Ibu Kota berbau busuk sampai-sampai tidak bisa diminum
langsung, melainkan harus dicampur dengan anggur.
Ditambah lagi,
kekayaan alam di sini sangat melimpah. Meskipun lokasinya sulit untuk
ditinggali, aku merasa keuntungan yang didapat jauh lebih besar.
Mungkin
aku berpikir begitu karena aku lahir dan besar di desa ini.
Mungkin
kehidupan di Ibu Kota juga memiliki kelebihan tersendiri yang hanya diketahui
oleh mereka yang tinggal di sana.
Tak satu
pun penduduk desa, termasuk aku, menyadari bahwa keseharian itu akan hancur
berkeping-keping.
Dan pada hari
itu, putriku tidak pernah kembali.
◆
Keesokan harinya.
Ternyata bukan
hanya putriku, tapi separuh dari anak-anak yang pergi mencari tanaman liar dan
kayu bakar tadi malam juga belum kembali.
Seluruh penduduk
desa sudah mencari namun tidak menemukan hasil. Hari ini, kami membentuk unit
pencari formal untuk melakukan pencarian skala besar.
Sepertinya ini
memang kejahatan yang menargetkan anak-anak klan Hakurousu kami.
Di lokasi yang
sebelumnya diklaim anak-anak akan mereka kunjungi, aroma mereka telah ditutupi
oleh bau menyengat lainnya. Namun, metode itu sebenarnya adalah langkah yang
buruk.
Metode ini tidak
menghilangkan bau, melainkan hanya menyamarkannya. Jika kami berkonsentrasi,
kami tetap bisa melacak aroma dalam radius tiga kilometer.
"...Ketemu."
Yang
bergumam adalah Toza, pemuda dengan indra penciuman paling tajam di desa.
Dengan
memusatkan Magic Power ke hidungnya, dia bisa mendeteksi aroma dengan
lebih akurat dan dari jarak jauh. Dia berhasil menentukan lokasi kasar
keberadaan anak-anak.
Mendengar
itu, aku menahan gejolak emosiku dan berlari mengikuti Toza menembus hutan
selama tiga puluh menit.
Agar
tidak ketahuan oleh komplotan yang menculik putriku, kami berhenti berlari satu
kilometer sebelum target dan berjalan hati-hati tanpa menimbulkan suara.
Akhirnya,
sekelompok orang dan anak-anak klan Hakurousu yang terikat tali terlihat di
depan mata.
Jika aku
gegabah menyerbu sekarang, segalanya akan hancur, bahkan nyawa putriku bisa
terancam.
Aku
menekan kuat-kuat hasrat untuk membantai mereka, mematikan haus darahku, dan
menyelinap hingga ke posisi di mana aku bisa melancarkan serangan tunggal yang
pasti.
Empat
anggota lainnya yang bersamaku juga memahami betapa krusialnya momen ini. Udara
di sekitar terasa sangat tegang.
"Kalian
mengejar kami, kan? Aku tahu kalian ada di sana."
Namun,
musuh ternyata bukan penculik amatir. Mereka pasti memiliki semacam Magic
Item yang bisa mendeteksi kawan atau lawan dalam jangkauan luas.
"Wah,
wah, kali ini banyak ikan bodoh yang terpancing."
"Benar
juga. Tapi strategi pemimpin memang cerdas, ya."
Para
bandit itu tertawa. Di belakang mereka, anak-anak yang terikat tali—barang
dagangan mereka—tergeletak penuh luka.
"Apa
maksudnya ini..."
"Hah?"
"Kenapa
kalian melukai anak-anak? Jika mereka terluka, harga jualnya akan jatuh, kan?
Kenapa kalian malah menyakiti mereka!?"
Jika dilihat
lebih dekat, bahkan ada anak yang tangan atau kakinya sudah dipotong. Aku tidak
habis pikir kenapa mereka melakukan hal yang merugikan nilai jual mereka
sendiri.
"Itu sih
sudah jelas. Karena sejak awal kami tidak berniat menjual anak-anak ini."
Para bandit itu
mulai tertawa dengan suara yang menjijikkan.
"Yah, toh
memberitahu kalian juga tidak akan merugikan kami. Anak-anak ini hanyalah umpan
untuk memancing kalian. Dengan begitu, orang-orang hebat di desa, 'pohon uang'
yang sebenarnya, akan datang menyerahkan diri. Itulah sebabnya kami sengaja
meninggalkan jejak bau agar bisa dilacak tanpa menimbulkan kecurigaan. Dan
alasan kami melukai mereka... itu untuk berjaga-jaga jika hujan atau angin
menghilangkan bau aroma, maka bau darah mereka yang akan menuntun kalian ke
sini. Lagi pula, kalau bocah-bocah ini kembali ke desa dan menceritakan ini,
kami yang repot. Jadi mereka akan kami bunuh juga. Ini namanya pemanfaatan
sumber daya."
Setelah berkata
begitu, para bandit itu menatap kami dengan ekspresi menghina yang amat dalam.
Mereka menghina
kami, klan Hakurousu yang bangga.
Fakta bahwa hanya
segelintir manusia sombong mengira bisa mengalahkan kami membuat pandanganku
memutih karena amarah.
Pikiranku yang
sempat mengkhawatirkan putriku yang tertawan mendadak lenyap, digantikan
kemarahan murni yang mendorongku menerjang musuh.
Pada saat itu,
tiba-tiba kekuatanku hilang seketika. Tubuhku ambruk ke tanah dan terseret beberapa
meter.
Saat aku
mencoba mengangkat tubuh bagian atas dan menoleh ke arah rekan-rekanku, mereka
semua juga sudah jatuh terjungkal.
"Makanya
kubilang kalian itu bodoh!! Kalian pikir alasan kami bertindak mencolok hanya
untuk 'memancing elite desa'!? Kami sudah memasang Magic Circle yang
berisi sihir pelumpuh di area ini!! Dengan begini, kalian bisa ditangkap tanpa
perlu memberontak, tanpa luka, dan kerugian di pihak kami minimal! Sekali
dayung dua tiga pulau terlampaui!!"
Pemimpin
bandit itu tertawa girang saat mengatakannya.
Seketika,
aku menyadari bahwa kami telah masuk ke dalam jebakan.
Jika
dipikirkan sedikit saja, alasan mereka bergerak sejauh ini dan sengaja
membiarkan diri ditemukan adalah karena mereka telah menyiapkan jebakan.
Namun,
penculikan putriku, malam yang penuh kecemasan bagi anak-anak, luka-luka yang
mereka derita, serta penghinaan terhadap klan Hakurousu telah mempersempit
sudut pandang kami.
Betapa
bodohnya baru menyadari jebakan setelah terjerat di dalamnya.
Normalnya,
jika mereka percaya diri dengan kekuatan mereka, mereka cukup menyerang desa
secara langsung dan memilih siapa yang layak dijual.
Artinya,
bandit-bandit ini tidak punya kekuatan untuk menghadapi kami secara
terang-terangan.
Itulah
sebabnya mereka menggunakan jebakan dan berbagai cara untuk menghilangkan ruang
bagi kami untuk berpikir jernih. Begitu besarnya kesombongan kami sebagai klan
Hakurousu.
Dengan
ayah yang memalukan seperti ini—yang dibutakan oleh kekuatan sendiri hingga
tidak bisa melihat sekitar—wajah macam apa yang harus kutunjukkan pada putriku
jika aku berhasil menyelamatkannya nanti?
"Hei,
kalian! Cepat ikat mereka. Mereka ini barang dagangan, jangan sampai lecet!!"
"Siap!"
Atas
perintah pria yang sepertinya pemimpin itu, para anak buahnya mulai mengikat
kami dengan gerakan yang sangat terlatih. Mereka mulai memproses kami untuk
dijadikan budak.
Dilihat
dari cara kerja mereka yang rapi, sikap santai mereka tadi hanyalah untuk
membuat lawan lengah. Pria itu pastinya tipe pemikir yang licik.
Kami
bukan saja gagal menyelamatkan putriku dan anak-anak lain, tapi kami yang
datang menolong pun malah ikut tertangkap.
Kemarahan
yang kuat membuncah dalam dadaku, tapi jika perasaan saja bisa mengubah
keadaan, kami pasti sudah menyelamatkan anak-anak sejak tadi.
Jika kami
bertahan hidup setiap hari dengan memancing dan menjebak binatang buas, maka
para bandit ini pun hanya melakukan hal yang sama pada kami untuk menyambung
hidup mereka.
Dalam pertukaran
nyawa ini, mereka selangkah lebih maju. Hanya itu kenyataannya.
Biasanya aku
mungkin akan berpikir bijak seperti itu, tapi sekarang setelah menjadi pihak
yang diburu, meski otakku mengerti, hatiku tidak bisa menerimanya semudah itu.
Persetan
dengan harga diri klan Hakurousu. Aku rela memberikan apa pun asal putriku selamat. Mungkin aku sudah gagal
sebagai anggota Hakurousu.
"Bagaimana
kalau kita siksa bocah-bocah ini sampai mati di depan mata mereka?"
"Oho, ide
bagus!"
Para bandit itu
menjambak rambut seorang anak laki-laki hingga berdiri, memukul wajahnya, dan
menendang perutnya. Kemudian mereka menjambak rambut putriku, memaksanya
berdiri, dan menusukkan belati ke paha mungilnya.
Melihat
pemandangan itu, aku dan rekan-rekanku berteriak sekuat tenaga sampai
tenggorokan kami terasa mau pecah mengeluarkan darah, memohon agar mereka
berhenti. Namun semakin kami berteriak, para bandit itu justru semakin tertawa
terbahak-bahak dan melakukan kekerasan yang lebih keji.
Mereka mencungkil
mata, merobek perut, dan menarik keluar organ dalam. Pemandangan mengerikan itu
membuatku terpaksa memalingkan wajah, sementara teriakan tanpa suara dari
anak-anak terus menusuk telingaku.
"Kau ingin
menyelamatkan anak-anak itu?"
Setelah puas
menyiksa dan melihat reaksi kami mulai melemah, para bandit itu melempar tubuh
anak-anak yang mereka pegang seperti mainan rusak. Saat kami, yang sudah
dilemparkan ke dalam kereta kuda beratap terpal, sedang meratapi
ketidakberdayaan kami, tiba-tiba terdengar suara wanita entah dari mana.
Rekan-rekanku
yang juga tertawan di dalam kereta sepertinya mendengar suara itu. Aku bisa
melihat mereka mencari sumber suara sambil tetap waspada.
"Tenanglah.
Kami bukan musuh kalian. Dan
aku tanya sekali lagi. Apakah kau ingin menyelamatkan anak-anak itu? Jika
dibiarkan di sana, dalam hitungan jam aroma darah mereka akan mengundang
binatang buas atau monster. Nyawa yang mungkin masih bisa tertolong akan habis
dimangsa tanpa sisa, bersama dengan bukti kejahatan para bandit ini. Dan para
bandit ini akan melakukan penculikan serupa di tempat lain. Tentu saja, untuk
menyelamatkan anak-anak, kami akan menghancurkan bandit-bandit ini. Jadi,
bagaimana?"
Aku tidak tahu
dari mana suara itu berasal, tapi kata-katanya terdengar seperti perjanjian
dengan iblis.
Yang harus
dikorbankan adalah cara hidup dan harga diri klan Hakurousu. Sang iblis meminta
kami menyerahkan taring kami sebagai serigala putih.
Namun, iblis ini
salah paham.
Harga diri kami
sebagai klan Hakurousu sudah hancur berkeping-keping. Jika sisa-sisa kehancuran
itu yang dia inginkan, ambillah sebanyak yang kau mau.
Lagipula, hanya
pemilik suara ini yang bisa mengubah situasi sekarang. Aku yang sudah
kehilangan harga diri tidak perlu ragu lagi. Ini harga yang sangat murah
untuk menyelamatkan anak-anak.
"Tolong kami... Selamatkan anak-anak itu, selamatkan
putriku!!"
"Dimengerti."
Begitu aku menjawab, seorang wanita Dark Elf muncul dari
bayanganku.
Bukan hanya dari bayanganku. Dari bayangan rekan-rekanku
yang lain juga muncul pria dan wanita Dark Elf.
"Tenanglah.
Kami bukan musuh kalian. Kami hanya mengamati rangkaian kejadian tadi dan
merasa harus mengulurkan tangan. Dan jangan khawatir, kami tidak akan meminta
imbalan apa pun. Jika kami meminta imbalan, Tuan Muda sekaligus Guru kami bisa
marah besar. Aku menolong karena aku memang ingin menolong. Itu saja."
Setelah berkata
begitu, wanita Dark Elf itu masuk kembali ke dalam bayangan bersama Dark Elf
lainnya. Detik
berikutnya, leher bandit yang menjadi kusir kereta kuda tertebas, dan kereta
pun berhenti mendadak.
"Woi, ada
apa sih tiba-tiba berhenti!? Kita berpacu dengan waktu, tahu! Mengerti tidak, sih!?"
Pemimpin
bandit yang mengikuti dari kereta belakang berteriak marah. Kami yang terikat
tangan dan kaki tidak bisa membuka tirai kereta, jadi kami tidak bisa melihat
sosoknya, tapi amarahnya sangat terasa dari suaranya.
Namun, suara
pemimpin bandit itu pun mendadak hilang. Tak lama kemudian, para Dark Elf
muncul kembali dari bayangan kami.
"Semua
bandit sudah mati. Sekarang kita harus menyelamatkan anak-anak. Bisa
bergerak?"
".........Ya,
tidak masalah. Terima kasih."
Fakta bahwa
mereka menghabisi para bandit dalam kurang dari satu menit membuktikan
kebenaran rumor bahwa Dark Elf adalah ras ahli pembunuhan. Aku paham kenapa
mereka ditakuti sebagai ras yang paling tidak ingin dijadikan musuh.
Mungkin mereka
muncul dari bayangan para bandit dan menggorok leher mereka dari belakang.
Dengan kemampuan
muncul dari bayangan, pembunuhan bisa dilakukan dengan sangat mudah tanpa
disadari oleh target maupun orang di sekitarnya.
Dulu aku berpikir
klan Hakurousu adalah ras terbaik, tapi dalam sehari ini, harga diri itu telah
hancur tanpa sisa.
Kebanggaan yang
tadinya sudah remuk kini telah menjadi debu halus. Aku benar-benar mengagumi
kehebatan para Dark Elf ini dari lubuk hatiku yang terdalam.
Kami segera
mengevakuasi anak-anak dan memberikan ramuan pemulih kepada mereka yang lukanya
paling parah secara berurutan.
"Hei, apa
tidak apa-apa menggunakan ramuan pemulih sebanyak itu? Kami sangat berterima
kasih, tapi kami tidak akan sanggup membayarnya."
"Tenang
saja. Tuan Muda kami bukan orang pelit yang akan menagih uang untuk ramuan
pemulih seperti ini."
"......Tuan
Muda......?"
"Lagi pula,
ini hanya ramuan biasa yang tidak bisa menumbuhkan bagian tubuh yang hilang.
Ini hanya pertolongan pertama sampai Tuan Muda datang. Tuan Muda pasti tidak
akan suka jika kami memungut biaya untuk hal sekecil ini."
"...M-meskipun
begitu, kami yang tinggal di gunung tahu kalau ramuan ini sangat mahal.
Mendapat bantuan menyelamatkan anak-anak dan menggunakan ramuan semahal ini
secara gratis... meskipun aku tidak punya harga diri Hakurousu lagi, secara
pribadi aku tidak bisa menerimanya begitu saja. Cerita kalian sangat menarik,
tapi hatiku sakit jika tidak bisa memberikan balasan apa pun."
Ini bukan lagi
soal klan Hakurousu, tapi soal martabat sebagai manusia. Aku menyampaikan hal
itu langsung kepada si Dark Elf.
"Itu
terserah padamu. Tapi ketahuilah, ramuan tadi memiliki efektivitas dua kali
lipat dari biasanya. Jika dijual di pasar, harganya setidaknya tiga
puluh keping emas per botol. Jika kau tetap bersikeras ingin membayar,
sampaikan saja pada Tuan Muda yang akan datang sebentar lagi."
"Baiklah,
terima kasih. Aku akan melakukannya. Tapi sejak tadi aku penasaran, apa
hubungan kalian dengan 'Tuan Muda' itu?"
Karena kata 'Tuan
Muda' terus disebut oleh Dark Elf yang menyelamatkan kami, aku memberanikan
diri bertanya.
Jika diartikan
secara harfiah, berarti lima Dark Elf di sini adalah budak milik Tuan Muda
tersebut. Namun, aku sulit mempercayainya.
Dark Elf adalah
ras langka, apalagi mereka semua sangat tampan dan cantik, serta memiliki
kekuatan untuk membantai bandit dengan mudah. Memiliki satu saja sudah sulit,
memiliki lima orang sekaligus bahkan mustahil bagi keluarga kekaisaran
sekalipun—
"Tuan Muda?
Seperti sebutannya, beliau adalah majikan kami para Dark Elf. Kami berada dalam
hubungan tuan dan pelayan. Beliau juga Guru kami. Sebentar lagi rekan kami akan
membawa beliau ke sini. Bertindaklah sewajarnya, minimal jangan sampai tidak sopan."
—Dugaanku salah.
Ternyata memang benar bahwa Tuan Muda itu adalah majikan mereka dan terikat
hubungan tuan-pelayan.
Sosok seperti apa
yang bisa membuat para Dark Elf ini tunduk, bahkan sangat menghormati
majikannya?
Saat aku
memikirkan itu, aku merasakan atmosfer di sekitar berubah.
Ratusan Dark Elf tiba-tiba muncul entah dari mana. Termasuk
wanita Dark Elf yang mengobrol denganku tadi, mereka semua menundukkan kepala
ke satu arah.
Biasanya, dengan jumlah Dark Elf sebanyak ini, hidungku
pasti akan menangkap aroma mereka. Fakta
bahwa aku sama sekali tidak menyadari kehadiran mereka membuatku merasa ngeri.
Aku mengalihkan pandangan ke arah yang mereka tuju, namun di sana hanya ada
ruang kosong.
Kenapa mereka
menunduk ke arah ruang kosong? Dan dari mana datangnya ratusan Dark Elf ini?
Memikirkannya pun
tidak akan ada gunanya. Aku hanya bisa terpaku melihat pemandangan ini.
Lalu, perubahan
terjadi di titik yang dituju para Dark Elf.
Energi sihir yang
kasat mata mulai terkumpul, dan pemandangan di sana mulai terdistorsi. Detik berikutnya, seorang pemuda
berusia belasan tahun berdiri di sana.
"Hormat
kami. Kami di sini, wahai Tuan kami."
"Aku kaget
lho tiba-tiba dipanggil. Ada apa?"
"Bagi Tuan
kami yang cerdas, mungkin tidak perlu dijelaskan lagi... Ini adalah hasil dari
tindakan kami yang mencoba memahami kehendak Tuan Muda!!"
"Hah? ...Eh? ...Anu... O-oh, begitu ya. Iya. Aku mengerti, kok. Itu, kan? Yang itu. Bagus, kerja bagus. Teruslah
bekerja seperti ini."
"Terima
kasih banyak!!"
Setelah pemuda
yang dipanggil 'Tuan' oleh para Dark Elf itu berbicara, para Dark Elf yang
berada di dekat putriku bergeser ke samping membentuk satu jalan lurus.
Pria yang
dipanggil Tuan itu berjalan melewati jalan tersebut menuju putriku. Dia mulai
menyembuhkan luka-luka mereka, bahkan kaki dan tangan yang telah terpotong pun
tumbuh kembali seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Menurut Tuan para
Dark Elf itu, 'Jika organnya benar-benar hilang, butuh waktu berbulan-bulan
untuk menumbuhkannya kembali.
Tapi karena
bagian tubuh yang terpotong untungnya dibuang di dekat sini dan belum lama
berlalu, aku bisa menggunakannya sebagai media untuk menyembuhkannya seketika. Apa
pun metodenya, ini jelas berada di level keajaiban ilahi.
Apalagi dia
bilang tetap bisa menyembuhkannya meski bagian tubuhnya tidak ada, asalkan
diberi waktu. Itu benar-benar mukjizat.
Saat melihat mata
putriku yang tadinya hancur kini pulih kembali seperti kaki dan tangannya,
keteganganku langsung putus. Aku merasa sangat lega dari lubuk hatiku yang
terdalam.
Mulutku tadi
bicara besar soal 'harga diri klan Hakurousu', tapi harga diri macam apa yang
bahkan tidak bisa menyelamatkan seorang anak pun?
Namun, lihatlah
sosok di depanku yang sedang mengobati anak-anak ini.
Beliau tidak
memandang rendah kaum Beastman sebagai makhluk kotor. Beliau hanya menyembuhkan
luka anak-anak yang hampir mati, bahkan mempercayakan ramuan mahal kepada
budaknya untuk digunakan sesuka hati. Berkat itulah putriku terselamatkan di
detik-detik terakhir.
Jika aku berada
di posisi sebaliknya, aku tidak akan pernah memberikan ramuan mahal kepada
budak.
Jika aku melihat
manusia atau anak-anak mereka diserang, aku mungkin hanya akan berpikir,
'Baguslah manusia bau berkurang satu' atau 'Salah kalian sendiri karena lemah'.
Menggunakan
ramuan pemulih untuk mereka? Mustahil.
Harga diri
Hakurousu yang memiliki pola pikir picik seperti itu terasa seperti sampah di
depan sosok beliau.
Aku menyadari
betapa bodohnya aku selama ini yang selalu mendewakan 'harga diri lebih penting
daripada nyawa'.
Saat itu juga,
aku memantapkan tekad.
Aku melihat
rekan-rekanku yang lain juga memiliki ekspresi yang sama. Mereka pasti
merasakan hal yang sama setelah melihat keajaiban tadi. Kami berjalan menuju
pria itu dan menundukkan kepala.
"Terima
kasih telah menyelamatkan anak-anak klan Hakurousu kami. Jika bukan karena para
Dark Elf pengikut Anda, anak-anak kami pasti sudah tewas dan kami akan dijual
sebagai budak. Terlebih lagi, Anda bahkan menumbuhkan kembali bagian tubuh
anak-anak kami... kami tidak tahu harus membalas budi ini dengan cara
apa..."
"Eh,
tidak perlu seformal itu. Lagipula ini cuma hobi—maksudku, aku melakukannya
demi para Dark Elf ini (demi main pahlawan-pahlawanan). Kalau memang ingin berterima kasih, sampaikan saja
pada para Dark Elf di sini. Bagiku itu sudah cukup."
Saat kami
menyatakan keinginan untuk membalas budi, biasanya dalam norma umum, jasa budak
adalah jasa tuannya. Namun, pria ini justru bilang 'berterima kasihlah pada
para Dark Elf'.
Dari sini saja
terlihat betapa besar kapasitas jiwanya. Aku semakin yakin bahwa masa depan
yang kupilih ini bukanlah pilihan yang buruk.
"Benar-benar
luar biasa, sosok yang memimpin dan dihormati oleh begitu banyak Dark Elf
sehebat ini. Karena itulah kami memutuskan untuk menjadi budak Anda. Saat ini
kami hanyalah 'budak liar' tanpa majikan. Jika kami tetap menjadi budak liar,
orang-orang yang menyerang desa kami bisa memaksa kami tunduk dan menyerang
warga desa lainnya. Warga desa tidak akan bisa hidup tenang. Jadi, meski malu,
aku memohon... maukah Anda menjadikan kami budak Anda?"
Aku berlutut dan
menundukkan kepala memohon untuk dijadikan budak. Rekan-rekanku di belakang
mengikuti gerakanku.
"............Sicil,
apa kau tidak keberatan?"
"Ya. Aku
juga berharap Tuan Muda mau membuat kontrak dengan mereka."
"...B-begitu
ya. Baiklah kalau begitu."
Setelah
berdiskusi singkat dengan Dark Elf itu, aku merasa lega karena beliau setuju
untuk menjadikan kami budaknya.
"Ka-kalau
begitu—"
"Sebelum
itu, aku akan menjelaskan dulu pada penduduk desa. Jika mereka tidak keberatan,
baru kita buat kontrak. Bagaimana? (Maksudku, karena status budak liar itu
berbahaya, aku hanya akan membuat kontrak formal agar kalian aman, lalu kalian
bisa tetap tinggal di desa Hakurousu seperti biasa.)"
"Ba-baik,
saya mengerti!! (Kami akan menjadi budak Anda dan berlatih setiap hari agar
bisa berguna bagi Tuan Muda!!)"
"Hmm...?"
"...Eh?"
Rasanya ada yang
tidak nyambung, tapi mungkin itu cuma perasaanku saja.
"Kalau
begitu, mari kita kembali ke desa. Tuan Muda, meskipun perjalanannya agak jauh,
kami sangat berharap Anda sudi mampir ke desa kami!!"
Dan pada hari
itu, setelah mendapat izin dari warga desa, terutama dari para orang tua dan
anak-anak, aku resmi menjadi budak Tuan Lawrence.
◆
"Kalau
begitu, sebagai permulaan, mari kita hancurkan organisasi yang menyerang desa
ini."
Malam itu,
setelah resmi menjadi budak Tuan Lawrence, seorang Dark Elf bernama Sicil yang
memimpin mereka mengumpulkan kami dan mengatakan hal itu.
Namun,
musuh adalah organisasi kriminal yang bergerak di dalam kegelapan. Menemukan markas mereka saja sudah sulit,
apalagi jika kami malah dipukul balik.
Meskipun begitu,
jika bersama para Dark Elf, muncul harapan kecil bahwa kami bisa menghancurkan
organisasi yang menyerang kami.
"A-apakah
itu berarti kalian para Dark Elf akan ikut serta membantu kami menghancurkan
organisasi itu?"
"Tidak.
Karena ini adalah balas dendam kalian, aku ingin kalian berlima saja yang
menghancurkannya. Tapi, mencari markas mereka sendirian pasti mustahil, jadi
kami akan membantu mencari lokasi, memandu jalan, dan menangkap siapa pun yang
mencoba kabur. Balas
dendam itu paling lega jika dilakukan dengan tangan sendiri daripada lewat
orang lain. Kami tidak mau bersikap tidak sopan dengan mencampuri urusan
kalian."
Saat aku
bertanya bagaimana caranya, Sicil sang pemimpin Dark Elf justru berkata,
'Lakukanlah sendiri, wahai para Serigala Putih'.
Tentu aku
mengerti maksud Sicil. Jika
kami bisa melakukannya sendiri, tentu itu hal yang sangat bagus.
Namun, kami
sendiri yang paling sadar bahwa kami hanyalah pecundang yang dengan mudahnya
dikelabui hingga menjadi budak oleh bandit-bandit rendahan itu. Menghancurkan
markas mereka terdengar mustahil bagi kami sekarang.
"Jangan
pasang wajah cemas begitu. Dalam satu minggu ini, aku akan menempa kalian
dengan sungguh-sungguh. Akan kubuat kalian sanggup melumat markas bandit yang
menyerang kalian itu sendirian dengan mudah. Yah, meskipun ini metode yang
diajarkan Tuan Muda, jadi bukan kami para Dark Elf yang hebat, melainkan Tuan
Muda yang mengetahui cara inilah yang luar biasa. Tentu saja, aku tidak bisa
menceritakan cara ini kepada orang lain selain sesama budak."
Sepertinya Sicil
menangkap kecemasan kami. Dia bilang akan melatih kami sampai bisa
menghancurkan markas bandit itu dengan mudah. Dan itu dilakukan hanya dalam
waktu satu minggu.
Normalnya hal itu
mustahil, namun justru karena itulah kami jadi sangat penasaran dengan cara
melatihnya.
Meskipun kalau
ini benar, rasanya berapa pun nyawa yang kami miliki tidak akan pernah
cukup...?
"A-anu,
kalau boleh tahu, metode latihan seperti apa yang akan kami jalani? Apakah itu
sesuatu yang akan membahayakan nyawa kami?"
Aku mencoba
memberanikan diri bertanya pada Sicil.
"Awalnya
kami pun berpikir begitu, tapi setelah menjalaninya, ternyata bukan masalah
besar, kok. Kita hanya akan pergi ke sebuah dungeon tertentu, lalu di
ruangan tempat Jewel Slime muncul, kita akan terus-menerus memburu
mereka."
"J-Jewel Slime... Bukankah Jewel Slime itu ras langka
yang konon bisa melihatnya sekali saja sudah dianggap sangat beruntung? Jika
ada tempat di mana ras langka seperti itu muncul dalam jumlah banyak, bukankah
seharusnya itu sudah menjadi rumor?"
Sicil menjawab bahwa ada tempat di mana Jewel Slime terus
muncul, dan kami akan menaikkan Level di sana.
Jewel Slime adalah monster legendaris yang jika dikalahkan
sekali saja akan meningkatkan Level secara drastis, sebuah ras langka
yang pertemuannya dianggap sebagai keberuntungan murni.
Tak hanya itu, permata yang dijatuhkan (drop item) dalam
kesempatan yang sangat langka pun memiliki nilai tukar yang cukup untuk hidup
mewah seumur hidup.
Jika tempat seperti itu ada, aneh rasanya jika tidak ada
rumor yang beredar. Bukannya aku meragukan perkataan Sicil, tapi rasanya sulit
dipercaya begitu saja.
"Aku sangat paham perasaanmu. Awalnya aku juga setengah
percaya saat diberitahu Tuan Muda, tapi setelah melihatnya sendiri, aku sadar
kenapa ini tidak akan pernah menjadi rumor. Baiklah, kalau begitu ayo kita
langsung berangkat!"
"Hah? Tunggu—!? Uwaaa!? Tubuhku tenggelam ke dalam
bayangan!!"
"Diamlah sedikit kalau tidak mau lidahmu
tergigit."
Tanpa sempat menjawab, tengkukku dicengkeram oleh Sicil dan
aku diseret ke tempat di mana Jewel Slime berada.
Dan hanya dalam sekejap mata setelah tenggelam dalam
bayangan, pemandangan hutan pegunungan yang tadi kulihat berubah menjadi
pegunungan berbatu gersang tanpa sehelai pun tanaman hijau.
"D-di mana ini..."
"Ini adalah bagian terdalam dari Pegunungan Hiestro di
sisi timur Kekaisaran, yang terkenal sebagai sarang Fire Dragon."
"Hah? Kau
bilang apa tadi?"
"Ya, aku
mengerti perasaanmu. Aku pun dulu begitu. Akan kuulang sekali lagi. Ini adalah
bagian terdalam dari Pegunungan Hiestro di timur Kekaisaran. Itulah sebabnya
umat manusia tidak pernah bisa menemukan tempat Jewel Slime ini muncul."
Sicil menyebutkan
nama 'Pegunungan Hiestro'.
Pegunungan ini
terkenal sebagai sarang Fire Dragon, bahkan monster yang berkeliaran di
sekitarnya pun berada di level yang mustahil dikalahkan oleh manusia biasa.
Jika tujuannya
berada di pedalaman gunung di mana seseorang akan dianggap pahlawan hanya
dengan mengalahkan satu ekor monster saja, maka masuk akal jika tempat ini
tidak pernah menjadi rumor.
Lalu, Sicil
dengan mudahnya menebas monster seperti Salamander atau Griffin—yang konon
bahkan sulit dikalahkan oleh party petualang Rank S—menggunakan pedang
tipis di pinggangnya seolah sedang berburu kelinci liar.
Pemandangan yang
mustahil secara nalar, namun karena terjadi tepat di depan mataku, aku tidak
bisa membantahnya. Hal itu mulai merusak akal sehatku.
Aku bahkan mulai
merasa bahwa mungkin saja aku pun bisa mengalahkan Salamander atau Griffin
semudah Sicil. Mengerikan sekali.
Alasan kenapa
tidak ada satu pun rumor yang keluar adalah karena monster-monster ini berperan
sebagai sistem keamanan terbaik.
"Nah, kita
sampai. Di sini."
Setelah berjalan
beberapa puluh meter bersama Sicil, dia menunjuk ke sebuah tempat.
"Di sini?
Tapi di sini hanya ada batu..."
Tempat yang
ditunjuk Sicil tidak ada bedanya dengan pemandangan gunung batu yang kami
lewati tadi; hanya tumpukan batu kemerahan yang berserakan.
"Benar.
Sekilas memang terlihat seperti tidak ada apa-apa, tapi sebenarnya ini adalah hidden
dungeon."
Sicil memasang
wajah nakal seolah kejahilannya berhasil, lalu melangkah satu langkah ke depan.
Seketika tanah di depannya mencuat tinggi, menampakkan pintu masuk dungeon.
"Monster
dengan tingkat kesulitan tinggi berkeliaran di luar, dan dungeon-nya
sendiri tidak terlihat secara kasat mata. Pantas saja tidak pernah
ditemukan."
"Maaf
mengganggu kekagumanmu, tapi cepat masuk dan naikkan Level-mu di dungeon
ini."
"Owaaa!?"
Belum
sempat aku meresapi rasa haru itu, Sicil sudah mendorongku jatuh ke dalam dungeon.
◆
"Bagaimana
perasaanmu setelah satu minggu ini?"
"Yah...
awalnya aku bingung karena dipaksa masuk ke dungeon, tapi seperti yang
Sicil katakan, hanya ada Jewel Slime yang muncul. Rasanya malah antiklimaks.
Dan saat pertama kali melihat Jewel Slime aku sangat bersemangat, tapi karena
mereka muncul bergerombol, semangat itu cepat mendingin dan sisanya hanya pengulangan
pekerjaan rutin. Aku bahkan ragu apakah aku benar-benar sudah jadi kuat."
Jika slime itu
benar-benar Jewel Slime, maka pastinya kami sudah menjadi sangat kuat sekarang.
Namun karena seminggu ini hanya memburu slime, aku tidak merasakan dampak
nyatanya.
"Ah, aku
sangat mengerti perasaan itu. Aku pun begitu saat pertama kali dibawa ke sini
oleh Tuan Muda. Kalau begitu, sebagai permulaan, pergi dan kalahkan Salamander
di sana."
"Eh? Apa?
Tunggu—!? Mana mungkin aku tiba-tiba melawan Salamander!! Jangan
mendorongku!!"
"Apakah yang
ada di antara selangkanganmu itu cuma hiasan? Jangan banyak bicara,
cepat sana!!"
Begitu aku bilang 'tidak merasakan dampak kenaikan level',
Sicil langsung menendangku ke arah Salamander yang sedang memasang posisi
mengancam tepat di depanku.
Kalau sudah
begini, nekat saja. Aku harus percaya bahwa Level-ku sudah naik.
Dengan pemikiran
itu, aku mengayunkan pedang di pinggangku ke arah Salamander.
Seketika,
pedangku menebas Salamander semudah memotong mentega.
Aku berhasil
mengalahkan Salamander dengan sangat mudah hingga aku sendiri tidak percaya.
Sebagai
bayarannya, pedangku langsung rusak hanya dengan satu ayunan itu.
Sepertinya pedang
itu tidak sanggup menahan kekerasan kulit Salamander atau Level-ku yang
sekarang.
Padahal aku sudah
memilih pedang yang cukup bagus dan merawatnya dengan baik.
Melihat pedang
itu rusak hanya dalam satu serangan, aku yakin bahwa diriku yang dulu pasti
tidak akan bisa memberi goresan sedikit pun pada Salamander.
"Pedangmu
hancur, ya? Yah, sepertinya itu tidak cukup kuat untuk menampung Level-mu
yang sekarang. Kalau begitu, jual saja permata hasil buruan Jewel Slime kemarin
dan belilah senjata baru yang sesuai dengan levelmu."
Sicil menyarankan
untuk menjual hasil jarahan dan membeli senjata baru.
"A-apakah
itu berarti kami mencuri hasil jarahan yang seharusnya milik Tuan Muda?"
"Bukan. Tuan
Muda sudah memberi izin bahwa dua puluh persen dari hasil buruan kita
diserahkan kepada beliau, dan sisanya boleh kita gunakan sepenuhnya untuk
keperluan kita sendiri. Jadi tidak masalah."
"Hah?"
Sesaat aku tidak
mengerti maksud perkataan Sicil.
Aku belum pernah
mendengar ada majikan yang membiarkan budaknya menggunakan uang hasil kerja
mereka sesuka hati.
Kalau begini, aku
jadi tidak tahu untuk apa Tuan Muda menerima budak.
"Nah,
sekarang ayo kita hancurkan organisasi gelap yang menyerang desamu. Kalau tidak
salah namanya 【Snake's Head】, kan? Dengan kekuatanmu yang sekarang,
kamu bisa meratakan mereka sendirian."
Lalu Sicil,
dengan suasana santai seolah ingin pergi jalan-jalan, mengajakku menghancurkan
organisasi itu. Dia
mencengkeram tengkukku dan kami tenggelam ke dalam bayangan seperti saat
berangkat.
Malam itu, satu
organisasi gelap lenyap dari muka bumi.
◆
"Jadi
begitu, kemarin klan Hakurousu berhasil menghancurkan 【Snake's Head】, salah satu organisasi gelap, sendirian
lho!"
"Fumu...
fumu? Eh? Kenapa?"
"Karena kami
menemukan bahwa 【Snake's Head】 adalah organisasi yang menyerang desa
Hakurousu! Para Hakurousu sangat senang karena akhirnya bisa membalas
dendam!"
"............Begitu
ya. Tapi, pastikan kalian tidak merepotkan warga biasa, ya."
Saat aku sedang
bersantai di tengah cuaca yang hangat, pintu kamarku diketuk. Sicil masuk
dengan wajah bangga dan melaporkan bahwa dia telah menghancurkan 【Snake's Head】 menggunakan para Hakurousu.
Karena isinya
cukup ekstrem, aku sempat tidak bisa langsung mencerna laporannya.
Sementara itu,
Sicil menatap lurus ke arahku dengan ekspresi seperti anjing besar yang ingin
dipuji karena merasa telah melakukan hal baik.
Yah, memang itu
bukan hal buruk, bahkan bagi masyarakat umum itu adalah hal yang sangat bagus.
Tapi karena aku
tidak ingin budak-budakku melakukan hal berbahaya, aku memberikan kata-kata
apresiasi sambil tetap memperingatkan mereka.
Bagaimanapun,
keselamatan budak-budakku berkaitan langsung dengan penghasilanku.
"Kerja
bagus, Sicil. Jika kamu sudah melatih para Hakurousu sampai bisa menghancurkan
organisasi gelap, berarti mereka akan aman jika diserang lagi. Oh ya Sicil,
jika desa Hakurousu dalam bahaya, aku ingin kamu mengirim orang-orang yang
tidak bisa bertarung seperti anak-anak dan lansia ke kediaman ini melalui
bayangan sebagai tempat pengungsian. Bisa?"
"Kami para
Dark Elf juga akan ikut membantu!"
Baguslah kalau
dia bersemangat, tapi karena Sicil ini sepertinya tipe muscle-head, aku
harus menyampaikan poin utamanya dengan jelas.
"Itu sangat
membantu. Lalu, tolong sampaikan ini tidak hanya pada Dark Elf, tapi juga pada
Hakurousu dan budak lainnya; prioritaskan nyawa kalian sendiri. Jika merasa
sedikit saja berbahaya, segera mundur. Jangan pernah melawan musuh yang tidak
bisa kalian menangi."
"Siap!! Ah,
lalu... anu..."
"Hmm? Ada
apa?"
"Boleh...
bolehkah Anda mengelus kepalaku?"
"Ah, kalau
cuma itu sih gampang. Sicil, kamu sudah bekerja keras."
"Te-terima
kasih banyak! Terima kasih!!"
Sicil pun
tenggelam ke dalam bayangan dengan wajah kegirangan seperti anjing besar yang
baru saja dipuji.
"Anu, Tuan
Muda? Aku juga selalu bekerja keras setiap hari, jadi..."
"Flame juga
mau dielus? Sini, kemarilah."
"Iya!"
Karena Flame yang
berada di sampingku juga minta dielus, aku terus mengelus kepalanya sampai dia
merasa puas.
Bahwa di masa
depan nanti aku akan menyesal karena tidak menyelidiki lebih dalam apa yang
sedang direncanakan para budakku di balik layar, itu adalah cerita untuk lain
waktu.
◆
Selingan ──
Para Budak Berpikir ──
"Rekan
sesama budak yang bisa bergerak sebagai organisasi rahasia sudah semakin
banyak, ya."
Dulu budak Tuan
Muda hanya ada aku (Flame), Marianne, dan Keith. Namun dalam beberapa tahun
ini, jumlahnya melonjak menjadi ratusan Dark Elf ditambah beberapa orang
Hakurousu. Benar-benar menjadi kelompok besar.
"Benar.
Dengan ini, eksistensi kita di dunia bawah akan semakin besar. Kita mungkin
bisa menguasai dunia bawah tidak hanya di Kekaisaran, tapi juga di negara lain.
Jika bisa, aku ingin mewujudkannya secepat mungkin..."
Mendengar
perkataanku, Keith bilang dia ingin segera merombak peta kekuatan dunia bawah
demi Tuan Muda. Menyusul itu, Marianne, Sicil, serta Dals dan Toza (ayah Meteor
dan rekannya dari Hakurousu) juga mengangguk setuju dengan semangat.
Aku pun setuju
soal itu, tapi memperluas kekuasaan di dunia bawah secara membabi buta hanya
akan menjadi bumerang bagi kami.
Baik menyerang
maupun bertahan, semakin luas wilayah kekuasaan, semakin sulit pengelolaannya,
dan itu bisa memicu keruntuhan.
Dengan kata lain,
itu meningkatkan 'risiko kematian'. Dan itu berarti melanggar janji 'Utamakan
Keselamatan' yang selalu ditekankan oleh Tuan Lawrence.
Tentu saja,
bergerak sebagai organisasi rahasia memang berisiko, tapi 'memperluas kekuasaan
secara sembrono hingga menciptakan situasi berbahaya' adalah hal yang
berbeda...
"Benar...
aku mengerti perasaan kalian, tapi selama Tuan Muda mengutamakan keselamatan
kita, aku akan tetap pada rencana awal sampai kekuatan kita benar-benar cukup
untuk menjamin 'keamanan mutlak'. Sampai saat itu, lebih baik kita fokus
memperkuat diri masing-masing."
"Benar
juga."
"Aku tidak
ingin terjadi sesuatu yang membuat Tuan Muda sedih karena ada salah satu dari
kita yang mati gara-gara memaksakan diri memperluas kekuasaan...!"
Aku memutuskan
untuk tetap tenang dan mengumpulkan kekuatan sampai benar-benar aman untuk
melakukan ekspansi. Keith dan Marianne membalas setuju, dan yang lainnya pun
ikut mendukung.
Bagaimanapun,
organisasi rahasia ini dibentuk karena keinginan untuk 'melihat wajah gembira
Tuan Muda' dan 'ingin berguna bagi Tuan Muda', bukan semata-mata untuk
menguasai dunia bawah.
"Kalau
begitu, sampai organisasi rahasia ini benar-benar kokoh, kebijakan kita adalah
menghancurkan organisasi jahat yang beroperasi di dalam Kekaisaran. Jika ingin
menghancurkan organisasi di luar Kekaisaran, kita harus berkumpul dan
mendapatkan persetujuan semua orang dulu. Bagaimana?"
"Itu
bagus."
"Aku tidak
keberatan!"
"Ya,
setuju!!"
"Aku juga
setuju."
"Sama
denganku."
Setelah aku
menyampaikan rencana ke depan, Keith, Marianne, Sicil, Dals, dan Toza semua
setuju. Kami pun membubarkan diri untuk menjalankan tugas masing-masing dengan
kebijakan tersebut untuk sementara waktu.



Post a Comment