Chapter 3
Kencan Berkedok
"Bermain"
Dua tahun telah berlalu sejak saat itu, dan aku pun sudah
menginjak usia delapan tahun.
Berkat bantuan Marianne, produk-produk yang awalnya
membuatku cemas seperti kecap asin, miso, mirin, sake, yoghurt, hingga keju,
kini telah berhasil mencapai tahap prototipe kedua.
Sisanya, kami hanya perlu terus melakukan uji coba untuk
meningkatkan kapasitas produksi dan menyempurnakan rasanya hingga layak jual.
Selebihnya, hari-hariku berlalu dengan sangat damai, bahkan
saking tenangnya sampai tidak ada hal khusus yang patut diceritakan.
Kalau dipaksa mencari kejadian, paling-paling hanya soal
Kakak yang cintanya kandas bersamaan dengan rivalnya, yang membuat beliau
terpuruk dalam depresi selama sekitar satu minggu.
Namun, menurut pemikiran logisku, meminta seseorang membuat
keju di wilayah yang bukan sentra peternakan itu sebenarnya adalah cara halus
untuk menolak sebuah lamaran. Jadi bagiku, hasilnya sudah bisa ditebak.
Beginilah caranya seorang pria menjadi dewasa, Kak.
Berbanding terbalik dengan Kakak yang malang, aku sendiri
justru hidup dalam kemalasan yang hakiki.
Meski aku tidak pernah absen melatih kemampuan bela diri dan
sihir setiap hari, sisa waktuku hanya kuhabiskan dengan bermalas-malam di
rumah.
Hanya karena embel-embel pewaris takhta, setidaknya sebulan
dua kali Kakak harus ikut Ayah pergi ke pesta sana-sini untuk memperkenalkan
diri sekaligus mencari tunangan.
Memikirkannya
saja sudah membuat lambungku perih.
Kakak pun
sekarang sudah berusia tiga belas tahun. Sejak musim semi lalu, beliau sudah
pindah ke asrama untuk bersekolah di Akademi Sihir Kekaisaran yang terletak di
Ibu Kota.
Jadi, beliau
menghabiskan hari kerja untuk belajar dan hari libur untuk pesta tanpa ada
waktu untuk pulang. Benar-benar terlihat sangat merepotkan.
"Tuan Muda,
anginnya terasa sangat sejuk, ya."
"Tuan Muda!
Tuan Muda! Ayo cepat ke halaman!! Hari ini aku ingin mencoba permainan yang
namanya 'yakyu' itu!!"
Saat ini aku
sedang apa? Aku sedang duduk di sofa besar sambil dipeluk oleh Flame dari
belakang—merasakan kehangatan "aset berharga" miliknya—sambil
memandangi Marianne yang lincah dan enerjik dengan tatapan bak kakek yang
menyayangi cucunya.
Sebenarnya aku
harus segera menemani Marianne, tapi beratnya "kelembutan" khas
wanita yang kurasakan di bahu dan punggungku menciptakan gravitasi yang luar
biasa hingga aku sulit beranjak.
Inilah yang disebut Gravity Bind. Tidak heran jika jurus ini dilarang.
Inilah
dia, inilah keseharian yang kucari. Walau aku tahu slow life ini hanya
bersifat sementara sampai aku dewasa nanti, aku berpikir harus menambah jumlah
budak lagi untuk persiapan saat mandiri nanti.
Tapi ya,
hanya sebatas berpikir. Untuk urusan merepotkan seperti itu, besok-besok juga
bisa, begitu terus aku menundanya setiap hari.
Tentu
saja ada pengecualian dalam hidup santaiku, yaitu sebuah badai besar. Bukan,
lebih tepatnya level angin topan. Sosok ini memanfaatkan hubungan resmi antar
keluarga kami untuk datang tiba-tiba tanpa janji temu.
"Ternyata
kamu di sini, Lawrence!! Hari ini permainan apa—maksudku, kencan seperti apa
yang akan kamu berikan padaku!?"
Sejak saat itu,
tunanganku, Fran, tumbuh besar dengan sehat dan kini menjadi teman main yang
baik bagi Marianne.
Ngomong-ngomong,
dua bor yang terpasang di kepalanya juga ikut tumbuh subur.
"Ah, aku
baru mau main bisbol. Karena orangnya sedikit, jadi cuma bisbol-bisbolan saja
sih. Kalau Fran mau, bagaimana kalau ikut main juga?"
Begitu aku
menjelaskan aturan bisbol secara singkat kepada gadis yang sangat cocok dengan
kata ceria itu, dia langsung berseru, "Aku mau!!" dan berlari gagah
menuju halaman.
"Nah,
sepertinya kita juga harus segera ke halaman."
Melihat
Fran, aku pun menyeret tubuhku yang berat ini untuk bangkit dan pergi ke
halaman.
Sebenarnya
Fran tumbuh menjadi semakin cantik dalam dua tahun ini, jadi seandainya kami
membatalkan pertunangan pun, dia pasti tidak akan kesulitan mencari pasangan
baru. Namun, dia tetap mempertahankan pertunangan ini.
Tentu
saja, sebelum keju bisa diproduksi di wilayah ini, aku sudah menjelaskan
padanya secara mendalam.
"Aku
tidak akan mewarisi wilayah ini dan tidak berniat tetap menjadi bangsawan. Besar kemungkinan aku akan hidup sebagai
rakyat jelata di masa depan," kataku.
Aku bahkan bilang
padanya bahwa tidak perlu membayar denda pembatalan dan dia boleh segera
memutus hubungan ini jika menemukan pria hebat lain. Namun, Fran menolak
mentah-mentah.
Entah kenapa,
orang tuanya justru menyukaiku dan berkata, "Dia pria jujur yang langka di
kalangan bangsawan karena berani menunjukkan sisi minusnya." Mereka bahkan
berpesan pada Fran, "Pria seperti ini pasti sukses di masa depan, jangan
sampai dilepaskan."
Bukannya pria
jujur begini yang justru berisiko tertipu sampai jatuh miskin atau malah
terlilit utang?
Pikirku saat itu.
Namun ternyata, insting orang tuanya benar. Sekarang keju mulai menghasilkan
keuntungan lumayan, ditambah lagi yoghurt sedang laris manis belakangan ini.
Pada tahap ini,
aku sudah bisa hidup setara rakyat jelata yang cukup kaya.
Padahal aku masih
punya "peluru simpanan" berupa bumbu masak dan minuman keras. Potensi
penghasilanku akan terus melonjak, belum lagi pendapatan dari Flame yang
jumlahnya mulai tidak bisa diremehkan.
Kembali ke soal
Fran, setelah penolakan tegas itu, dia berkata, "Aku tidak bisa
membayangkan orang lain selain Lawrence! Biar miskin sedikit pun asal bersama
Lawrence, aku mau!!" Berkat itu, sampai sekarang dia tetap menjadi
tunanganku.
Aku sendiri tidak
tahu apa bagusnya diriku, tapi jujur saja, aku mulai menyukai Fran sampai pada
tahap berpikir, 'Mungkin tidak buruk juga berjuang demi mereka semua'.
Dalam permainan
bisbol, aku bertugas memunguti bola di belakang, Flame jadi catcher,
sementara Marianne dan Fran bergantian menjadi pitcher dan batter.
Di tengah
permainan, Marianne mulai menunjukkan sisi nakalnya dengan menggunakan sihir
angin untuk memaksa bola menjadi bola melengkung (breaking ball). Aku
sempat kaget, tapi yah, namanya juga dunia lain.
Melihat Marianne
menggunakan "bola ajaib", Fran pun tidak mau kalah dan menggunakan
sihir juga. Alhasil, terjadi adu taktik tingkat tinggi yang membuat waktu
berlalu begitu cepat hingga senja tiba.
Sepertinya mereka
sangat menikmatinya sampai tidak sadar hari sudah sore. Baru setelah aku
memanggil, "Ayo kita kembali," mereka tersadar.
Marianne dan Fran
segera meminta maaf karena menyadari aku dan Flame terus berada di posisi yang
sama dan tidak mendapat giliran menjadi pitcher atau batter yang
lebih seru.
Bagiku sendiri,
melihat mereka semua bermain dengan ceria di luar sudah cukup menghibur. Aku
menjelaskan hal itu dan meminta mereka untuk tidak memikirkannya.
Rasanya mirip
seperti paman-paman yang menonton anak-anak main bisbol di pinggir sungai.
Dulu saat masih
kecil di kehidupan sebelumnya, aku sering bingung melihat paman-paman yang
betah menonton latihan bisbol anak-anak. Sekarang, aku akhirnya mengerti
perasaan mereka.
Ngomong-ngomong,
alasan Flame memilih jadi catcher adalah karena dia takut salah mengatur
tenaganya.
Meskipun Flame
sendiri bilang, "Berkat menyerap dampak bola yang dilempar pitcher
dengan sihir angin, ini jadi latihan yang bagus untuk mengasah kontrol sihir
halusku," ada kemungkinan dia sebenarnya ingin mencoba jadi pitcher
atau batter. Jadi, aku berniat memanjakannya dengan cara lain suatu hari
nanti.
◆
Selingan──Flame
Menghabiskan Hari Libur bersama Marianne──
Hari ini, aku dan
Marianne akhirnya mengambil libur setelah sekian lama dan pergi ke kota.
Sebenarnya, aku
maupun Marianne merasa 'tidak butuh hari libur' karena 'ingin mengabdi lebih
lama kepada Tuan Muda'. Meski kami sudah memohon bahwa waktu yang kami habiskan
untuk mengabdi adalah waktu paling membahagiakan, Tuan Muda tetap bersikeras
memberikan libur.
Kata Tuan Muda,
"Aku tidak berniat menciptakan lingkungan kerja yang black."
Apa sebenarnya arti dari lingkungan black itu?
Dari alur
pembicaraan, mungkin maksudnya lingkungan yang kejam atau buruk... mungkin.
Terkadang Tuan
Muda menggunakan kata-kata yang tidak kami ketahui, dan dari percakapan santai
seperti itulah kecerdasan beliau semakin terpancar.
"Padahal
menurutku, mempelajari 'pembuatan makanan dan bumbu menggunakan mikroba atau
jamur' yang sedang diajarkan Tuan Muda jauh lebih menyenangkan dan bermanfaat
sebagai cara menghabiskan waktu..."
Marianne
menggembungkan pipinya dengan imut sambil menggerutu, mungkin teringat
percakapannya dengan Tuan Muda tadi.
Saat pertama kali
bertemu, dia masih memiliki wibawa sebagai mantan permaisuri.
Namun belakangan
ini, dia berubah menjadi gadis lincah berusia dua belas atau tiga belas tahun.
Mengingat ada darah Elf yang mengalir dalam dirinya, kurasa inilah jati diri
Marianne yang asli.
Menjadi
permaisuri pasti memberinya banyak tekanan dan belenggu.
"Benar juga,
aku setuju. Tapi jika Tuan Muda berkata begitu, pasti ada alasan baik di
baliknya."
"I-iya sih,
aku tahu itu, tapi hatiku belum bisa terima...!"
Marianne
tampaknya mengerti secara logika, namun secara emosional dia masih belum rela.
"Ah,
bagaimana kalau kita melakukan ini saja?"
"Ini...?"
"Memikirkan
tentang apa sebenarnya yang ingin dilakukan Tuan Muda dengan mengumpulkan budak
seperti kita."
"Ide yang
menarik!!"
Mendengar usulku,
Marianne tampak sangat tertarik. Kami pun memutuskan untuk masuk ke sebuah kafe
terdekat agar bisa mendiskusikannya dengan tenang.
"Sejak hari
itu Kak Flame mengatakannya padaku, aku terus memperhatikan perkataan dan
tindakan Tuan Muda dengan saksama...!"
"Oho...
lalu?"
"Tuan
Muda... pada dasarnya tidak melakukan hal yang mencurigakan. Tapi ada satu hal.
Beliau mengajariku tentang bakteri yang memiliki tingkat kematian sangat
tinggi, seolah beliau sedang bilang 'gunakan pengetahuan ini di saat darurat'.
Bukankah itu sangat mencurigakan!?"
"Hm...?"
Marianne bicara
dengan suara pelan yang hanya bisa kudengar. Jika apa yang dikatakannya benar,
mengajarkan tentang bakteri berbahaya memang menimbulkan tanda tanya.
"Mungkin ini
ada hubungannya dengan alasan beliau mengajariku bela diri dan sihir, meski
awalnya aku tidak tahu cara bertarung...!"
"...Begitu
ya. Jadi ada kemungkinan Tuan Muda bermaksud membangun organisasi tempur yang
beranggotakan para budak?"
"Mungkinkah... Tuan Muda ingin kita menjadi organisasi
bayangan yang menumpas orang-orang jahat di balik layar!?"
Marianne
mulai bicara dengan mata berbinar-binar menanggapi dugaanku.
Namun,
jika dipikir-pikir, semuanya jadi masuk akal. Jika Tuan Lawrence mengumpulkan
budak untuk mengalahkan orang jahat yang sulit disentuh, maka alasannya
mengajariku bela diri dan mengajari Marianne tentang bakteri berbahaya jadi
sangat logis.
Meskipun
alasan beliau tidak mau menerima uang dari budak masih belum kuketahui, mungkin
itu untuk modal membeli peralatan tempur, atau sekadar meningkatkan moral budak
agar risiko kalah saat melawan penjahat bisa berkurang.
Yah, suatu saat
nanti tujuan Tuan Lawrence pasti akan terungkap, jadi untuk sekarang biarkan
saja begitu.
Setelah itu, aku dan Marianne menikmati hari libur kami dengan berkeliling kota, jajan, dan melihat-lihat pernak-pernik menggunakan uang saku dari Tuan Lawrence (meskipun itu uang hasil kerja kami sendiri, bagi budak, harta miliknya adalah milik majikan, jadi kami menganggapnya sebagai uang saku pemberian beliau).



Post a Comment