Prolog
Saat
terbangun, aku mendapati langit-langit yang asing. Kedengarannya memang seperti
klise yang biasa ada di buku-buku, tapi karena kenyataannya memang begitu, aku
rasa tidak ada gunanya mengeluh.
Aku mencoba
mengingat kembali kejadian kemarin untuk memahami situasi saat ini.
Seingatku, aku
sedang menenggak kaleng keempat Strong One demi melupakan stres
pekerjaan. Tepat setelah membuka kaleng itu, ingatanku terputus.
Bukannya sombong,
tapi tentu saja kadar alkoholnya sembilan persen. Melihat kondisiku sekarang,
aku bisa menyimpulkan kalau aku mabuk berat sampai-sampai kehilangan kesadaran.
Sial, aku
benar-benar mengacaukannya. Tapi ya mau bagaimana lagi, nasi sudah menjadi
bubur.
Semangatku
langsung anjlok saat membayangkan kemungkinan terburuk kalau aku harus bolos
kerja hari ini.
Aku
mencoba bangkit untuk memeriksa keadaan sekitar, namun saat itulah aku
merasakan ada sesuatu yang janggal.
Seberapa keras
pun aku mengerahkan tenaga, tubuhku sama sekali tidak bisa beranjak.
Apakah akhirnya
gaya hidup tidak sehatku selama ini mulai memicu kerusakan serius pada tubuh?
Namun, ada hal lain yang jauh lebih aneh.
Saat mencoba
bangun, aku melihat lenganku yang tampak sangat montok—begitu berisi
sampai-sampai bisa disalahartikan sebagai lengan bayi.
Anehnya, meski
terlihat bengkak begitu, aku tidak merasakan sakit atau gatal sedikit pun. Hal
itu justru membuatku merasa ngeri.
"Ini...
bukankah ini benar-benar gawat?"
Sejujurnya, ada
terlalu banyak alasan yang membuatku berpikir, Ah, sepertinya aku akan mati.
Jika aku bisa
terlahir kembali nanti, aku berjanji akan menjaga kesehatan agar tidak mati di
usia tiga puluhan seperti ini.
Lagi pula, aku
sadar kalau pun aku mulai hidup sehat sekarang, semuanya sudah terlambat.
Selama ini aku hanya menutup mata dan terus menjalani hidup berantakan, jadi
kurasa ini memang balasan yang setimpal.
"Oh, kau sudah bangun? Lawrence-ku yang manis."
"……………Au?"
Tunggu sebentar.
Siapa raksasa cantik ini?
Itulah ingatan
pertamaku saat bereinkarnasi ke dunia ini.



Post a Comment