Penerjemah: Miru-chan
Proffreader: Miru-chan
Chapter 12
Lanjutan: Tanaka-san Punya Pacar
Hari libur pengganti di hari berikutnya. Aku tergeletak di tempat tidur kamarku seperti mayat.
Sejujurnya, aku tidak punya semangat untuk melakukan apa pun. Sejak tadi malam aku tidak bisa tidur nyenyak, jadi aku merasa sangat mengantuk. Namun, perasaan tidak nyaman terus mengganjal di dadaku, membuatku bahkan tidak bisa memejamkan mata.
Aku melirik sekilas ke layar ponselku. Di sana terpampang kolom obrolan dengan Norimizu-san, teman Tanaka-san. Pesan bertuliskan "Apakah Tanaka-san punya pacar?" masih tertahan di sana, belum terkirim.
"Haaah~ benar-benar menyedihkan."
Sudah sekitar 10 jam aku terus menatap layar ini. Aku tahu lebih baik segera mengirimnya, tapi setiap kali hendak menekan tombol kirim, tanganku gemetar dan malah menekan bagian lain. Aku benar-benar ketakutan. Takut untuk memastikan apakah Tanaka-san punya pacar atau tidak.
Dulu, saat melihat perkembangan seperti ini di manga komedi romantis, aku selalu mengejek, "Cepat pastikan dong!". Tapi begitu berada di posisi yang sama, aku rasanya ingin memukul diriku yang dulu itu. Hanya memastikan satu kalimat saja, tapi satu kalimat itu terasa sejauh ujung dunia.
Aku benci diriku yang dulu, yang dengan sombongnya berpikir bahwa karena Tanaka-san adalah karakter figuran, aku bisa santai-santai saja.
Seandainya aku tahu akan secemas ini, lebih baik aku membangun hubungan yang cukup akrab agar bisa bertanya langsung padanya, atau hubungan di mana aku bisa mengklaim diriku sebagai pacarnya.
"Aku tidak bisa menertawakan Haruno atau Akitsuki-senpai lagi."
Mengingat para main heroine yang selalu kuremehkan karena payah dalam percintaan, aku tertawa pahit.
Sepertinya, aku pun sama payahnya dengan mereka.
(Benar-benar muak dengan diri sendiri. Lagipula, apa yang harus kulakukan sekarang?)
Aku berguling di atas tempat tidur. Menutupi kedua mataku dengan lengan, aku mulai memikirkan masa depan.
Pertama, hal yang paling utama adalah memastikan status hubungan Tanaka-san. Tapi jika ternyata dia punya pacar, "kehancuran otak" pasti akan terjadi, jadi untuk saat ini hal itu mustahil kulakukan.
Kalau begitu, bagaimana aku harus bersikap di depan Tanaka-san?
Pilihannya ada dua:
Bersikap seperti biasa, atau menjaga jarak demi menghormati pacarnya. Mungkin, jika aku tidak ingin menyerah pada Tanaka-san, pilihan pertama adalah yang paling benar. Lagipula, tiba-tiba menjauh hanya karena dia punya pacar itu tindakan yang tidak baik.
Sebab, jika aku menjauh sekarang, itu artinya aku mendekati Tanaka-san murni karena niat terselubung 100%.
Tentu saja, lebih dari 80% memang niat terselubung, tapi sisanya adalah rasa pertemanan sebagai teman sekelas. Mengakhirinya begitu saja demi kepentinganku sendiri adalah tindakan yang sangat tidak setia kawan. Jadi, mengobrol ringan di pagi hari dan sesekali saling mengajari pelajaran saat di kelas adalah jarak yang pas.
Tapi, mungkin aku harus berhenti mengajaknya pulang bersama seperti tempo hari.
"Baiklah, mari lakukan itu. Lalu suatu saat nanti, aku akan memastikan status pacarnya secara halus."
Mungkin aku akan disebut pengecut, tapi inilah batas kemampuanku saat ini. Demi melakukan itu, aku harus memulihkan tenaga.
Sambil meyakinkan diri sendiri, aku menutup kelopak mataku.
◇
Dua hari kemudian.
"Selamat pagi, Nakayama! Kantung matamu tebal sekali, lho. Kamu tidak apa-apa?"
"Oh, aku tidak apa-apa. Mungkin."
Aku berangkat sekolah masih dalam kondisi kurang tidur.
Bukannya aku tidak mencoba tidur sekuat tenaga, ya. Hanya saja, rasa cemas soal Tanaka-san ditambah suhu musim panas yang membuat tidur tidak nyaman meski sudah memakai AC, membuatku hanya bisa tidur satu atau dua jam saja.
Sejujurnya, aku merasa tidak akan sanggup menjalani hari ini.
Aku melambaikan tangan pelan pada temanku yang menatap cemas, lalu duduk di kursiku.
"Selamat pagi, Nakayama-kun."
Sesaat kemudian, Tanaka-san yang entah kenapa datang lebih awal menyapaku. Jantungku berdegup kencang secara tiba-tiba, dan keringat dingin mengalir di punggungku. Namun, aku tidak boleh membiarkan dia menyadari hal itu.
"......Pagi."
Aku membalas sapaannya sebisa mungkin, lalu menjadikan tas sebagai bantal dan menelungkup di meja.
Memang kesannya jadi kurang ramah, tapi untuk sementara sampai jam pelajaran pertama dimulai, aku akan pura-pura tidur saja. Dengan begitu, setidaknya aku tidak akan melakukan kesalahan bicara, dan dia pasti maklum karena aku terlihat mengantuk.
Namun, aku melupakan satu hal. Bahwa Tanaka Sumika adalah gadis yang sangat baik dan suka memperhatikan orang lain.
"Anu, apa kamu baik-baik saja? Wajahmu terlihat sangat pucat."
"............"
"Bukankah lebih baik kamu pulang lebih awal?"
"............"
"Anu, nanti catatannya biar aku yang tuliskan, jadi jangan memaksakan diri ya? Selamat tidur."
"..............."
(Rasa bersalahku luar biasa besarnya—!?)
Hanya pura-pura tidur selama puluhan detik saja, tapi indikator mentalku terkikis habis. Aku ingin segera bilang "Terima kasih" atau "Aku tidak apa-apa", tapi aku takut jika aku melakukannya, perasaan yang kupendam ini akan tumpah begitu saja. Aku berusaha menguatkan hati dan terus melanjutkan akting tidurku.
Aku berhasil melewati sesi wali kelas, dan saat pelajaran Bahasa Modern dimulai, sesi membaca bergiliran pun tiba.
Tepat saat giliranku tinggal dua orang lagi, aku menegakkan tubuhku.
"Nakayama-kun, kamu tidak apa-apa?"
Seketika, Tanaka-san yang berada di sampingku mencondongkan tubuh dengan wajah khawatir.
"Aku sudah agak mendingan setelah tidur tadi, jadi tidak masalah."
Padahal masalahnya tumpah ruah, tapi aku memaksakan senyum palsu dan membuka buku pelajaran.
"Baik, selanjutnya halaman 125. Nakayama."
"Hadir. Makrofag memiliki panjang keseluruhan—"
"Oi, Nakayama. Buku yang kamu baca salah."
"Eh!? Ma-maaf!"
Dan tepat saat giliranku tiba, aku melakukan kesalahan fatal. Kupikir aku membuka buku Bahasa Modern, ternyata aku membuka buku yang sama sekali berbeda. Melihat kebodohanku itu, teman-teman sekelas mulai terkikik geli.
Meski diserang rasa malu yang luar biasa, aku berusaha sekuat tenaga membuka buku yang benar dan melanjutkan membaca.
Jam pelajaran kedua.
"Kalau begitu, tolong Nakayama-kun terjemahkan bagian ini."
"Baik, 'Aku mencintai John, tetapi dia sudah punya pacar jadi aku menyerah'."
"Salah total!? Kenapa kamu malah membuat ceritanya jadi patah hati begini!?"
"Maaf!"
Jam pelajaran ketiga.
"Nakayama, bolanya ke arahmu!"
"Hah? Ghuakk!?"
"Oi, kamu tidak apa-apa!? Lihat, hidungmu berdarah. Seseorang, bantu aku membawanya ke UKS!?"
"Begini saja tidak masal—!?"
"Masalah banget, tahu! Sudah, diam saja!?"
Jam pelajaran keempat.
"Aku sudah bilang ke guru Sastra Kuno kalau kamu izin istirahat, jadi tidurlah yang nyenyak."
"Baik."
Setelah melewati hari ini, aku sadar bahwa sebelum memikirkan soal Tanaka-san dan sebagainya, aku bahkan sudah tidak bisa menjalani kehidupan sehari-hari dengan normal.
Yah, karena dua hari ini aku tidak tidur dengan benar, wajar saja jika daya pikirku menurun.
Awalnya aku mencoba memejamkan mata untuk tidur, tapi bayangan Tanaka-san yang sedang mengobrol asyik dengan si laki-laki tampan itu muncul di balik kelopak mataku, membuatku langsung membuka mata lagi. Aku mencoba memejamkan mata dengan kuat sekali lagi, tapi bayangan itu muncul lagi, dan aku terbangun lagi.
Aku tahu ini parah, tapi ternyata memang se-akut itu. Aku sudah muak mengulangi hal yang sama terus-menerus belakangan ini. Tapi, tidak ada cara untuk menyelesaikannya. Sebenarnya aku tahu caranya, tapi aku belum punya keberanian untuk melakukannya. Aku benar-benar muak dengan diriku sendiri yang masih saja gemetar ketakutan padahal sudah tersudut seperti ini.
Terpaksa, aku berbaring telentang dan menghitung noda di langit-langit untuk beberapa lama. Begitu hitunganku melewati angka seribu, bel berbunyi. Setelah mencobanya, aku tahu bahwa cara ini tidak membuatku mengantuk, tapi setidaknya berguna untuk mengalihkan pikiran dari hal-hal yang tidak penting.
(Kalau sedang kesulitan, aku akan melakukan ini saja untuk mengalihkan perhatian.)
Tepat saat aku bangun untuk kembali ke kelas setelah mendapatkan "pencerahan" tak terduga itu, pintu UKS terbuka lebar.
"Yossu, Nakayama-kun. Bagaimana keadaanmu?"
"Haruno. Kenapa kamu di sini?"
Aku membelalak melihat sang main heroine yang muncul sambil mengangkat satu tangannya dengan santai.
"Apa? Memangnya tidak boleh menjenguk teman yang sedang sakit?"
"Bukan tidak boleh, tapi nanti malah ada rumor aneh, lho?"
Apakah gadis ini sadar kalau tindakannya bisa membuat orang yang dia sukai salah paham?
Saat aku menatapnya dengan mata setengah tertutup, Haruno menanggapinya dengan sikap cuek.
"Hal sepele begini tidak akan jadi rumor. Lagipula Kaisei tahu kalau aku dan kamu berteman baik, jadi dia tidak akan salah paham. Lagipula, sebenarnya dia mau ikut ke sini, tapi tadi tertahan oleh Rino-chan jadi tidak bisa. Nah, ini untukmu."
Lalu, dia melemparkan sebotol Poca*i yang sepertinya dibeli dari mesin penjual otomatis. Aku berhasil menangkapnya, dan karena haus, aku langsung membuka tutupnya dan meminumnya.
Setelah aku menutup botolnya, Haruno menempelkan tangannya ke dahiku, lalu ke dahinya sendiri. Setelah mengerang sedikit dengan wajah yang sulit diartikan, dia menjauh dan berkata, "Sepertinya kamu tidak demam."
Anak ini benar-benar tidak punya batasan jarak, ya.
Yah, mungkin karena dia sangat percaya kalau aku tidak akan jatuh cinta padanya. Entahlah.
"Ah, kantung matamu parah banget!? Kenapa bisa begini?"
"Kamu baru sadar, ya. Yah, belakangan ini aku sulit tidur."
"Hmm. Kamu tahu penyebabnya?"
"Yah, begitulah."
"Kalau begitu, cepat sembuhkan. Kalau tidak, sesi konsultasi asmaraku lusa nanti bisa terganggu."
"Iya, iya."
Benar-benar ya, main heroine ini gampang sekali bicara. Kalau bisa cepat sembuh juga sudah kulakukan dari tadi. Tapi, sifat optimis Haruno anehnya membuat perasaanku sedikit lebih ringan. Tanpa sadar, aku menanyakan hal ini padanya.
"Hei, Haruno. Apa yang akan kamu lakukan kalau tiba-tiba tahu kalau Kaisei punya pacar?"
"Eh? Apa-apaan pertanyaan yang sangat menyebalkan itu. Jangan-jangan, Kaisei lapor padamu kalau dia sudah pacaran? Aku kok tidak dengar!"
"Bukan, bukan begitu. Ini cuma perumpamaan. Mana mungkin si payah itu bisa pacaran secepat itu."
"Be-benar juga ya. Haduh, Nakayama-kun jangan bicara yang aneh-aneh dong."
"Aduh, aduh! Maaf, maaf."
"Hmm. Yah, kalau dijawab serius, aku pasti bakal merasa sangat, sangat terpuruk. 'Kenapa bukan aku?', atau 'Apakah aku bahkan tidak layak untuk diberi tahu?', pikiran seperti itu pasti muncul, dan mungkin aku tidak akan bisa tidur selama sebulan."
"O-oh..."
Jawaban yang keluar ternyata sangat mirip dengan kondisiku sekarang, tapi terdengar jauh lebih menyedihkan dariku.
Memang, perasaan cinta bertepuk sebelah tangan selama belasan tahun itu bukan main-main. Kata-katanya memiliki bobot yang kuat, membuatku merasa jika situasi itu benar-benar terjadi, Haruno pasti akan menjadi seperti itu.
Saat aku menatap Haruno dengan senyum pahit, dia melanjutkan bicaranya.
"Tapi ya," lanjutnya.
"Kalau kabar itu bukan kudengar langsung dari mulutnya melainkan dari selentingan orang lain, aku sama sekali tidak akan percaya."
"っ!?"
"Aku akan menggunakan cara apa pun untuk menangkapnya secara paksa, memastikan kebenarannya, baru setelah itu aku menangis. Makanya, Nakayama-kun juga coba tanyakan dan pastikan langsung pada orangnya. Kalau hasilnya buruk, khusus untukmu, akan kupinjamkan sapu tanganku. Eh, atau jangan-jangan kamu sudah memastikannya langsung? Kalau begitu, nih, sapu tangannya."
Karena aku memberikan pancingan yang begitu jelas, wajar saja jika Haruno sudah menyadari semuanya sejak tadi.
Sosoknya yang menyodorkan sapu tangan dengan senyum ceria itu terasa sangat menyebalkan. Namun, di saat yang sama, entah kenapa terlihat sangat berkilau. Aku pun menepis sapu tangan yang disodorkan itu.
"Belum butuh, bodoh."
"Kalau begitu, baguslah. Sana, berjuanglah."
"Ya."
Memang menyedihkan karena baru bisa bergerak setelah disemangati oleh teman, tapi anehnya perasaanku tidak buruk.
Aku turun dari tempat tidur dan menandaskan Poca*i-ku dalam sekali teguk.
"Hari ini aku jadi suka banget sama kamu, Haruno. Sebagai teman."
"Aku juga hari ini jadi suka sama Nakayama-kun. Sebagai sesama kawan seperjuangan."
"Itu kedengarannya sangat tidak terhormat ya."
"Kenapa begitu!?"
Kami saling melontarkan gurauan, dan akhirnya tertawa bersamaan.
Ada Haruno sebagai kawan seperjuangan. Hanya dengan memikirkan itu, getaran kecil yang sedari tadi kurasakan entah bagaimana menghilang.
Kemudian, kami keluar dari UKS diiringi godaan guru UKS yang berkata, "Wah, masa muda yang luar biasa ya~". Namun, saat itu juga, kakiku membentur sesuatu. Ketika aku menundukkan kepala, sebuah kantong plastik berisi Poca*i dan makanan suplemen nutrisi tergeletak di sana.
"Lho, ini punya siapa ya?"
"Mana aku tahu kalau kamu tanya padaku."
Sambil membalas pertanyaan Haruno dengan nada jengah, aku memungut kantong plastik itu. Namun, tiba-tiba aku merasakan firasat buruk yang luar biasa.



Post a Comment