Chapter 2
Tempat
Persembunyian Mudie
Langit biru tanpa awan hari ini tampak lebih cerah
dibandingkan kemarin.
Melihat warnanya, aku tak bisa tidak berpikir bahwa hari
ini akan menjadi hari yang jauh lebih panas.
Di saat biasanya mereka naik kereta magis untuk berangkat
sekolah, hari ini Ren dan kawan-kawan menaiki kereta magis menuju arah yang
jarang mereka lalui.
Biasanya gerbong akan dipenuhi penumpang, namun hari ini
hanya terlihat beberapa ksatria dan pegawai sipil saja.
Sembari menikmati keheningan itu, waktu berlalu dengan
tenang.
Sesekali ia bertukar kata dengan Licia dan Fiona yang
duduk di depannya, sambil menikmati pemandangan di luar, hingga...
"Ren, apa belum ada kabar dari Tuan Ragna?"
Licia tiba-tiba mengubah topik pembicaraan.
"Belum. Mengingat sudah cukup lama sejak kunci itu
diperbaiki, kurasa sebentar lagi dia akan menghubungi."
Kunci yang dimaksud adalah alat magis yang menunjukkan
lokasi persembunyian sang penyair legendaris, Mudie.
Berawal dari Ren yang menerima Emblem milik Ragna,
melalui berbagai rintangan, kunci tersebut akhirnya berhasil dipulihkan.
"Fakta bahwa kunci itu ada di panti asuhan mungkin
berarti kunci itu menyanyikan tentang Cecil Ashton."
Itulah kata-kata Ragna saat Ren menerima Emblem
tersebut.
Pasti akan ada kontak untuk berbagi informasi di titik
tertentu, termasuk apakah Ren akan ikut serta dalam penyelidikan selanjutnya.
Meski belum bisa dipastikan memiliki hubungan dengan sang
petualang Ashton, hal ini tetap layak untuk diselidiki.
Bagi Ren yang mencemaskan kata "Priestess" yang
diucapkan Kenma (Sword Demon) di Roses Kaitas, hal ini sama pentingnya
dengan masalah Eve dan tidak bisa diabaikan begitu saja.
"Mungkin beliau sedang dalam tahap persiapan,"
ujar Fiona sembari menyentuhkan satu ujung jari ke bibirnya yang merona.
"Jika itu tempat persembunyian Mudie, mungkin saja
ada alat magis pertahanan buatan Mirim Althea di sana. Itulah sebabnya kontak
darinya belum sampai."
"Kalau dipikir-pikir, benar juga."
Fiona bilang "mungkin", tapi kenyataannya itu
hampir pasti benar.
Meski Ren sempat berpikir alangkah baiknya jika Ragna
memberitahu hal itu, tapi mengingat kepribadian pria itu, tidak aneh jika belum
ada kabar sama sekali.
Belum sampai beberapa jam kemudian, kereta magis berhenti
di atas rel yang bersisian dengan dataran luas.
Di sana tidak ada peron stasiun, dan yang terbentang di
luar hanyalah pemandangan yang persis seperti yang terlihat dari jendela
kereta.
Di atas rel tempat mereka bertiga turun, terdapat pijakan
darurat yang biasanya tidak ada.
Turun ke dataran luas melalui tangga sederhana dan
melihat sekeliling, mereka melihat tenda-tenda yang digunakan oleh penjaga
jalan, ksatria resmi, dan para pegawai sipil.
Melihat kehadiran mereka bertiga, beberapa orang
mulai melangkah mendekat.
"Kami telah menunggu kedatangan Anda."
Seorang pegawai sipil wanita yang masih muda, yang
memimpin orang-orang di sini, angkat bicara.
Ia tersenyum menatap Licia dan Fiona, lalu membungkuk
setelah menatap Ren.
"Kudengar dalam insiden sebelumnya, Anda telah
menyelamatkan rakyat dengan kekuatan Anda. Saya sangat menantikan kedatangan
kalian berdua."
Para pegawai sipil di sekitar juga mulai
berbisik-bisik tentang bagaimana aksi heroik mereka berdua menjadi topik hangat
di dalam kastel.
Saat serangan Olfide dan kawan-kawannya, memang ada
pengepungan dan kekuatan militer Leomel yang dikerahkan di sekitar ibu kota.
Namun, tidak perlu diragukan lagi bahwa aksi mereka
yang turun dari kereta magis dan menunjukkan kekuatan pada hari itu memberikan
dampak yang sangat besar.
"Ya, terima kasih."
"Waktu itu, kami hanya bertindak nekat saja..."
Melihat sisi remaja dari para gadis ini, orang-orang
dewasa di sana tersenyum hangat, dan semua orang mulai melangkah. Ren yang
berjalan mendampingi mereka berdua, tanpa sadar menarik lebih banyak perhatian
daripada kedua gadis itu.
…Dia yang katanya bertarung di Windea itu?
…Dia
memegang Lencana Saint Grimdor Sword. Tidak heran kalau dia bisa berdiri
sejajar dengan anak-anak dari keluarga bangsawan agung.
Beberapa
suara yang membicarakan Ren terdengar, namun semuanya berasal dari rasa ingin
tahu yang murni, bukan untuk merendahkan.
Suara-suara
itu tidak sampai ke telinga Ren, karena ia sendiri terlalu sibuk memperhatikan
situasi di sekelilingnya.
(Sepertinya
tidak ada hal yang aneh.)
Tujuan
mereka bertiga mengunjungi tempat ini adalah untuk meninjau dampak dari
serangan tersebut.
Ada
bagian rel yang belum pulih, dan ada daratan yang berlubang seperti bekas
ledakan atau sesuatu yang serupa. Itu semua adalah dampak sisa dari serangan
yang dilakukan Ordo Raja Iblis di sekitar ibu kota selama insiden Olfide.
Fakta
bahwa kereta magis yang dinaiki Ren dan kawan-kawan berhenti di tempat seperti
ini juga merupakan akibat dari hal tersebut.
『Eh? Ulysses-sama juga ikut?』
『Tentu saja. Keluarga Ignat kita juga punya kepentingan
dengan Guardian Knight, kan?』
『…Kalau dipikir-pikir, benar juga. Ada rel kereta baru juga.』
『Begitulah. Pada hari pelaksanaannya, kemungkinan besar
aku akan meminta Fiona untuk menggantikanku.』
Percakapan seperti itu terjadi beberapa waktu lalu,
sehingga bukan hanya Licia sebagai putri penguasa Erendil, tapi Fiona juga
mengunjungi tempat ini.
"Mungkin tidak separah yang dibayangkan Ayah dan
yang lainnya ya."
"Iya, kalau begini pemulihannya tidak akan memakan
waktu lama."
Licia dan Fiona mengeluarkan buku catatan dan mulai
menulis memo sambil mengamati sekeliling.
Di samping White Saintess dan Black Priestess yang sedang
giat menjalankan tugas perwakilan mereka, Ren juga turut memperhatikan sekitar
seperti mereka.
Karena tidak ada tugas khusus yang harus ia lakukan, ia
berharap setidaknya bisa membantu mereka berdua.
"Saya akan memandu Anda. Selain itu, terima kasih
banyak karena sudah bersedia datang jauh-jauh ke sini hari ini."
"Tidak perlu sungkan. Ini juga demi Guardian Knight
yang memiliki hubungan erat dengan keluarga kami."
"Aku juga. Meskipun tempat ini jauh dari Erendil,
tapi jalanan di sini termasuk dalam pengelolaan keluarga kami."
Sambil mendengarkan percakapan wanita itu dengan mereka
berdua, Ren terus memperhatikan situasi sekitar, namun diam-diam ia sedang
memikirkan sesuatu.
(Sepertinya area di sekitar sini tidak bisa dikunjungi di
Legend of Seven Heroes.)
Ia merasa kurang percaya diri karena waktu yang telah
berlalu sejak ia memainkan gim tersebut.
Namun sambil berpikir, ia mulai mengingat. Memang benar
ia bisa datang ke sini, tapi seharusnya tidak bisa masuk lebih jauh ke dalam.
Itu hanyalah bagian yang sama sekali tidak menarik karena tidak ada pencarian
atau elemen eksplorasi apa pun.
"────Ren-kun?"
Sadar-sadar, Fiona sudah mencondongkan wajahnya ke arah
Ren, merasa cemas padanya.
"…Maaf, aku melamun. Ada apa?"
"Sepertinya ada ngarai di depan sana. Saya
ingin memastikan kondisi kerusakannya juga... apakah tidak apa-apa?"
"Baiklah. Mari kita segera ke sana."
Mengingat topografi tempat yang berjarak belasan menit
berjalan kaki dari sini, Ren menjawab dan berjalan melintasi dataran luas
bersama mereka berdua dan para pegawai sipil.
Ngarai yang menjadi tujuan mereka berada tepat setelah
memasuki hutan di ujung dataran luas.
Untuk mencapai ngarai, mereka semua berjalan di atas rel
yang belum sepenuhnya pulih.
Berjalan dengan leluasa di tempat yang biasanya tidak
bisa dilewati memberikan sensasi yang aneh. Perasaan itu semakin kuat saat
mereka mendekati ngarai yang menunggu tak lama setelah memasuki hutan.
Dalam sekejap pemandangan berubah total, dan mereka
bertiga melihat jembatan logam serta rel yang terpasang di ngarai.
Jembatan yang cukup lebar itu dikelilingi oleh pijakan
darurat, dan proses pemulihan berjalan dengan sangat cepat.
Setelah menyelesaikan hampir semua hal yang harus
dipastikan, mata Ren beralih ke dasar ngarai.
Pemandangan yang luas, alam megah yang diselimuti kabut
tipis.
Kabut itu bergerak lebih lambat daripada aliran sungai di
sampingnya. Suara air yang tenang. Gesekan dedaunan. Mendengarkan suara-suara
ini membuat pertarungan beberapa hari lalu terasa seperti mimpi belaka.
Karena pengaruh kabut, air yang mengalir tampak berwarna
biru kusam, menyajikan pemandangan yang jarang terlihat. Mereka bertiga, dengan
pikiran yang sama, menginjak kerikil bulat di bawah kaki mereka.
"Katanya mereka sempat bersembunyi di gua itu."
Licia menunjuk ke arah gua kecil di sepanjang tebing.
Katanya kedalaman gua itu tidak sampai empat puluh meil,
dan di sekitarnya terlihat para ksatria yang sedang mencari apakah ada jejak
yang tertinggal.
Ren bertanya kepada ksatria yang sedang bertugas di sana,
"Apakah orang awam sudah boleh datang ke sini?"
"Siap. Bagian dalam maupun area yang luas di
baliknya sudah aman, apakah Anda ingin melihatnya?"
"Ya. Kalau begitu──── Licia, Fiona-sama."
Keduanya mengangguk dan mengikuti Ren melangkah masuk
ke dalam gua.
Sesuai yang didengar, gua itu tidak terlalu luas.
Seharusnya bagian dalamnya buntu, namun ada bekas-bekas kehancuran akibat ulah
para pengikut Ordo Raja Iblis.
Tak lama kemudian, cahaya masuk dari bagian yang
paling dalam di gua tersebut.
Apa yang dilihat Ren adalah dunia luar di balik
dinding batu. Sebuah lubang melingkar terlihat di atas, dikelilingi oleh dahan
pepohonan yang memanjang dengan dedaunan hijau yang rimbun.
Di tempat yang bisa disebut sebagai miniatur taman
yang besar ini, terdapat sebuah bangunan batu kuno yang berdiri kokoh.
Setelah keluar dari gua, Licia menatap pemandangan
itu dan berucap.
"Sepertinya mereka sengaja menjebol bagian dalam
gua ini secara paksa."
Lalu, ia membicarakan tentang pemandangan yang menanti
mereka di sana.
"Katanya ratusan tahun lalu, tempat ini adalah titik
peristirahatan bagi orang-orang yang melewati jalan lama. Seiring dengan
ditinggalkannya jalan lama, tempat ini tertelan oleh alam dan menjadi seperti
ini."
"Di peta, setidaknya kita bisa keluar menuju jalan
baru juga ya."
"Bisa, tapi mungkin akan jadi petualangan
kecil."
Fiona mengatakannya sembari tersenyum, karena tempat ini
sudah begitu tererosi oleh alam sehingga tidak mudah untuk keluar menuju jalan
biasa.
Alam yang tak tersentuh itu tumbuh subur mengelilingi
bangunan batu kuno tersebut.
Meskipun tempat ini sudah pernah dilihat orang sebelum
gua tersebut dijebol, namun orang yang datang sampai ke sini pasti sangat
jarang.
Ren berusaha keras menggali ingatan tentang Legend of
Seven Heroes, namun...
(Sepertinya area ini berada di luar jangkauan yang bisa
dijelajahi.)
Ingatannya hanya terbatas pada fakta bahwa ini adalah
wilayah di luar jangkauan pemain.
Hanya karena gua ini telah tembus maka mereka bisa
berdiri di sini, jika tidak, bahkan para petualang pun tidak akan sudi datang
ke tempat ini jika tidak ada urusan.
Karena itulah, keindahan alam yang masih murni ini
meninggalkan kesan mendalam bagi mereka bertiga.
Selain itu, angin segar yang berembus terasa sangat
nyaman.
Ren menghirup udara itu dalam-dalam hingga memenuhi
seluruh tubuhnya. Mengira peninjauan berakhir di sini, ia merasa hatinya bisa
sedikit beristirahat.
Mari mulai peninjauan di sini juga. Tepat saat mereka
bertiga berpikir demikian.
Tiba-tiba────.
Ren merasa suara Licia dan Fiona perlahan menjauh.
Tak disangka-sangka...
"…Uggh."
Lagi-lagi, sakit kepala yang dahsyat menyerangnya secara
mendadak seperti waktu itu.
Ren hendak mengulurkan tangan ke dahinya untuk meredakan
rasa sakit, namun penglihatan itu datang lebih cepat sebelum tangannya sampai
ke dahi.
Saat ia memejamkan mata sejenak karena rasa sakit, yang
ia lihat adalah tempat di mana Licia dan Fiona berdiri tadi.
"…Kalian berdua!?"
Kedua gadis yang seharusnya berada beberapa langkah di
depannya sudah tidak ada.
Sebagai gantinya, ia mendengar suara seseorang yang
sangat ia kenal.
『Maaf membuatmu menunggu, Ren.』
"R-Ragna-san!? Kenapa Anda ada di sini!?"
Meski mata mereka seharusnya bertemu, Ren merasa aneh
dengan tatapan Ragna yang seolah melihat ke arah yang jauh. Wajar jika Ren
merasa demikian.
Karena Ragna yang ada di sini tidak sedang melihat ke
arah Ren.
"…Eh?"
Ragna yang berjalan melewat begitu saja justru menyapa
seseorang yang berdiri di balik dinding batu yang telah lapuk, tepat di
belakang posisi Ren tadi.
『Tidak, aku tidak menunggu lama kok.』
Ren Ashton.
Pemuda yang telah merenggut nyawa White Saintess, dan
selanjutnya merenggut nyawa Chronoa Highland.
Ren, yang diundang ke sini sebagai penonton, menyadari
bahwa ia tetap tidak bisa berbuat apa-apa di depan pemandangan yang
diperlihatkan secara tiba-tiba ini dan hanya bisa berdiri mematung di sana.
Menyusul percakapan singkat itu, seorang pria tua
bangsawan muncul dari hutan. Dia adalah Edgar, ajudan terdekat Ulysses Ignat.
『Tuan Ren, syukurlah kita berdua sama-sama tidak terluka.』
『Iya, benar-benar syukurlah.』
Setelah sapaan ringan, Ragna tersenyum sinis dan
menatap pria tua jangkung itu.
Ia yang mengenakan jubah sebagai Penjelajah Tas,
memperlihatkan sorot mata yang tenang dari balik tudungnya.
『Bahkan bagi pelayan keluarga Ignat, sepertinya Anda
belum pernah berpengalaman dalam perjalanan yang penuh persembunyian seperti
ini.』
『Tuan Ragna, saya adalah mantan pelayan. Lagipula,
sebelum bertemu Tuan Ren, saya pun────』
『Terserah saja, tapi beraninya kau bilang
"mantan" setelah menunjukkan kesetiaan sebesar itu.』
『T-tapi saya────』
Tanpa menoleh ke arah Edgar yang terdiam, Ragna berkata
sembari mendekati Ren.
『Bukankah kau bilang akan melayani tuan yang sama meskipun
sudah mati? Jika ingin bilang "mantan", lakukanlah setelah kau
mendapatkan waktu luang di akhirat nanti.』
『…Aduh, aduh. Anda ini sebenarnya baik hati, hanya saja
mulut Anda itu kasar sekali.』
『Aku hanya jujur. Itulah sebabnya jika perlu aku akan
mengeluh pada dewa, dan aku membakar kitab suci kuno di api unggun. Benda itu
terbakar dengan sangat baik, jadi teman yang bagus dalam perjalanan.』
『…Tuh, kan. Percuma saja bicara pada Tuan Ragna. Aku juga
sudah menyerah.』
『Aku senang, sepertinya aku dan Ren sudah sangat akrab ya.』
『────Kan? Dia memang orang yang seperti ini.』
Edgar, yang membalas senyum kecut Ren Ashton yang
mengangkat bahu, sepertinya tidak merasa keberatan.
Tatapan Edgar tertuju pada Ren Ashton.
『Memang benar, Anda sangat mirip.』
『Hmm? Mirip apa?』
『Senyum barusan. Nona Fiona juga sering tersenyum
dengan wajah kebingungan seperti Tuan Ren.』
『Nama itu… putri dari Marquis Ignat?』
『Benar──── Beliau adalah sosok yang sangat cantik dan
murni. Saya terus berpikir betapa saya ingin Tuan Ren bisa bertemu dengannya.』
『Entahlah. Kudengar Marquis Ignat sangat mencintainya,
mungkin beliau tidak akan membiarkannya bertemu dengan lawan jenis.』
Mereka mulai mengobrol santai sembari berjalan.
Seolah meninggalkan taman miniatur yang disinari cahaya
matahari yang tenang, mereka bertiga perlahan menuju ke suatu tempat.
『Jika Tuan saya, beliau pasti akan menyukai Tuan Ren juga.』
『…Aku tidak yakin orang sehebat itu akan menyukaiku dengan
mudah.』
『Yah, biasanya prediksiku jarang meleset.』
『Eh? Begitukah?』
Pria tua yang tertawa ramah itu seolah sedang mengenang
masa lalu.
Langkah kaki mereka bertiga yang mulai berjalan sambil
tertawa menuju ke bagian dalam alun-alun ini.
Mereka melewati bagian dalam bangunan batu yang setengah
hancur, berjalan di atas ubin batu yang retak di sana-sini.
Ren Ashton, pendosa besar yang mengukir namanya dalam
sejarah Leomel, berucap.
『Kesampingkan dulu prediksinya, Anda terlalu berlebihan
menilai anak dari seorang ksatria biasa.』
Ia mengatakannya dengan tawa ceria khas remaja.
Seketika, pria tua itu langsung membantah.
『Wah, Anda tiba-tiba bicara hal yang aneh ya.』
『────Tidak boleh, Tuan Edgar.』
Saat Ren Ashton menegur dengan cepat, pria tua itu
berucap "Maaf" dan menyimpan segalanya jauh di dalam dadanya.
Seolah percakapan tadi tidak pernah ada, pemuda itu
bicara pada mereka berdua.
『Mari kita berangkat dari sini hari ini juga. Kita harus
mengejar Vein dan yang lainnya.』
Punggung dan suaranya kini tampak gagah berani, berbeda
dengan sebelumnya.
Sosok mulia yang memancarkan aura dan wibawa yang sama
sekali tidak terlihat seperti remaja biasa itu membuat orang-orang dewasa di
sana merasa segan.
『Apa aku harus ikut juga?』
『Tuan Ragna cukup sampai di tengah jalan saja. Sisanya,
tolong lakukan seperti biasa.』
『Kalau begitu aku akan tenggelam dalam penelitianku
seperti biasa, jadi silakan kalian lakukan sesuka hati.』
『Kalau begitu, saya akan menjadi pengawal Tuan Ren.』
Mendengar itu, Ren Ashton menggelengkan kepala.
『Tuan Edgar juga cukup sampai di tengah jalan.
Daripada mengawalku, aku ingin Anda mengawasi pergerakan Ordo Raja Iblis.』
『Oya, jadi Anda akan bertarung sendirian? Tanpa
didampingi oleh Nona itu?』
『Dia ikut denganku tapi tidak masalah kok. Seandainya aku
harus bertarung dengan Vein dan kawan-kawan yang mengejarku, aku sudah bilang
akan mengatasinya sendirian. Aku sudah meminta tugas lain padanya.』
『Apakah tidak apa-apa? Anak-anak dari Tujuh Pahlawan itu
memiliki kemampuan untuk mengalahkan seorang Pendeta, lho.』
『Tetap saja, tidak apa-apa.』
Pemuda yang tidak bisa dikalahkan meski ketujuh keturunan
pahlawan berkumpul.
Terhadap ucapan tegas dan kemampuan Ren Ashton yang
disebut sebagai dalang cerita, baik Edgar maupun Ragna tidak menaruh keraguan
sedikit pun.
『Kalau aku, aku bisa mengatasinya sendiri.』
Entah seberapa banyak pengalaman dan tekad yang
dibutuhkan untuk bisa mengatakan hal itu, aura yang bahkan tak terbayangkan itu
tersembunyi di balik suaranya yang tenang.
Edgar bahkan tidak berniat membantah suara itu.
『Tetaplah berhati-hati. Yang kemungkinan akan dihadapi
oleh keturunan Tujuh Pahlawan adalah seorang Uskup. Mereka adalah keberadaan
yang berbeda kelas dari seorang Pendeta.』
『Itulah sebabnya Ren berniat membantu mereka, kan. Memang terlalu berat bagi mereka bertujuh saja.』
『Saya tahu itu. Yang saya khawatirkan adalah ketujuh
orang itu sedang mengejar Tuan Ren. Saya hanya takut hal itu akan menjadi
masalah yang merepotkan.』
『Kalau begitu sudah cukup, kan. Ren sudah bilang dia
akan pergi. Dia pasti akan membereskannya.』
Saat orang dari Benua Langit Shelghard itu tersenyum
sinis dan melirik, pelayan yang melayani sang pemilik tangan kuat yang kini
telah tiada itu pun mengembuskan napas panjang.
Kisah yang diperlihatkan dunia itu pun berakhir.
Tak lama kemudian, di tengah pemandangan yang kembali
seperti semula.
Ren baru menyadari bahwa dirinya sudah terbiasa
dengan perkembangan di mana pemandangan sebelumnya menghilang begitu saja
seolah-olah itu bohong.
Di sisi lain, bagi Licia dan Fiona yang berjalan di
depan Ren, ia hanya tampak seperti tiba-tiba terdiam.
Mereka mendongak menatap Ren dan berucap.
"Ren?"
"Ren-kun?"
Mereka berbicara hampir bersamaan dengan nada suara
yang mencemaskan.
Keduanya teringat saat Ren terserang sakit kepala
dalam perjalanan pulang dari ibu kota ke Erendil selama insiden Olfide.
Waktu itu adalah saat Ren melihat tentang Eve.
Meski itu terjadi sebelum pertarungan melawan Olfide...
"Ja-jangan-jangan ini karena sisa kutukan────!"
"B-benar! Apakah Anda baik-baik saja!?"
"Bukan begitu! Lagipula Licia! Tidak perlu
tiba-tiba mau pakai sihir suci begitu────!"
Ren menegaskan dengan kuat bahwa ia benar-benar
baik-baik saja sambil tersenyum kecut.
Mereka berdua pun merasa lega karena yakin itu bukan
disebabkan oleh kutukan.
Sembari melanjutkan langkah, Ren menggali ingatannya.
(Saat pertarungan terakhir di II, apakah di balik layar
kedatangan Ren Ashton itu seperti tadi ya?)
Di samping itu...
Ia merasa seolah baru teringat kembali betapa kuatnya Ren
Ashton dari Legend of Seven Heroes, dan senyum kecut kembali tersungging
di wajahnya untuk kesekian kalinya hari ini.
(Nona itu, "dia"... siapa yang mereka bicarakan
ya?)
Siapakah orang lain yang dibicarakan Edgar dan Ren Ashton
dalam penglihatan tadi?
Ren mulai penasaran dengan identitas wanita yang menjalin
hubungan kerja sama dengan mereka bertiga.
Namun sebelum menemukan jawabannya, sebuah suara
terdengar dari belakangnya... dari arah gua.
Di sana terdengar suara para ksatria dan pegawai sipil,
serta suara seseorang yang sangat dikenal Ren.
Benar saja, sosok yang muncul adalah orang yang Ren
duga. Orang yang juga muncul dalam penglihatan tadi, sang Penjelajah Tas...
"Kukira siapa, ternyata Ren dan yang lainnya. Kenapa kalian di sini?"
Itu adalah Ragna, seorang peneliti yang tergabung
dalam Departemen Misteri.
Tas raksasa yang menjadi simbolnya hari ini pun
memancarkan aura unik kontras dengan tubuh kecilnya.
Sosoknya hampir tidak berubah dari apa yang dilihat
Ren dalam penglihatan tadi, membuat Ren sempat merasa bingung sejenak.
Namun Ren segera mengalihkan perasaannya dan bertukar
kata dengan Ragna yang keluar dari gua dan mendekat.
"Aku sedang mendampingi pekerjaan mereka berdua.
Justru Tuan Ragna sendiri kenapa ada di sini?"
"Setengah hobi, setengah pekerjaan. Aku sudah
mendapat izin dari Radius untuk beraktivitas di sekitar sini, tapi pegawai
sipil dan ksatria sepertinya mengkhawatirkanku sehingga mereka ikut
bersamaku."
Sambil ia mengembuskan napas, seorang ksatria wanita yang
mendampinginya sampai ke gua memasang senyum meminta maaf.
"Mengingat situasinya, kurasa wajar jika mereka
ingin bertindak ekstra hati-hati."
"Yah,
aku mengerti maksudmu. …Begitulah. Bisakah kalian memaafkan kata-kataku
tadi? Bukannya aku membenci kalian semua."
"S-sama sekali tidak masalah!"
Mendengar jawaban ksatria wanita itu, Ragna diam-diam
memberikan isyarat mata kepada Ren.
Seolah-olah ia ingin menyampaikan sesuatu. Karena Licia
dan Fiona pun melihat hal yang sama, mereka bertiga bertindak seolah sudah
direncanakan.
"Tuan Ragna. Bisakah kami meminta pendapat Anda
mengenai situasi di sini?"
"Mencari kebijaksanaan dari Penjelajah Tas ya.
Karena ini permintaan Ren, apa boleh buat."
"Kalau begitu semuanya, kami akan berada di dekat
sini, jadi silakan panggil jika ada apa-apa," ujar pegawai sipil itu
sebelum menjauh. Ragna pun mengamati alam di sekitarnya dan tersenyum senang.
"Tak disangka jalan ini terhubung ke sini."
"Anda sudah tahu tentang tempat ini ya."
"Jika menyangkut jalan lama atau tempat
peristirahatan kuno, aku pasti pernah ingin melihatnya sekali. Hanya saja
selama ini aku belum sempat mampir."
Setelah itu, Ren berdiri di antara Licia, Fiona, dan
Ragna untuk memperkenalkan mereka bertiga yang baru pertama kali bertemu.
Terutama Licia, karena ia pernah dibantu dalam fenomena
yang disebut sementara sebagai "Malaikatisasi" (Angelization),
ia mengucapkan terima kasih dengan sopan.
Ragna membalas seperti biasa, "Jangan
dipikirkan," dengan santai.
"Jadi Tuan Ragna, apa alasan Anda datang ke
sini?"
"Ah. Aku akan menjelaskannya."
Ragna melepas tudungnya, memperlihatkan wajahnya, lalu
mulai berjalan yang diikuti oleh mereka bertiga.
Sambil berjalan, Ragna berkata dengan suara yang hanya
bisa didengar oleh mereka bertiga.
"────Ini soal kunci yang itu."
Kunci yang itu. Maksudnya adalah benda penting untuk
mencapai tempat persembunyian penyair legendaris, Mudie, yang penyelesaiannya
telah dinantikan Ren.
Mendengar kata-kata itu, Ren dan kedua gadis lainnya
terkejut.
"Benar-benar mendadak ya. Tadinya kupikir Anda akan
memberitahu kami secara lebih formal."
"Tadinya aku juga berniat begitu. Mengingat ini
ada hubungannya dengan Mudie itu."
Nama penyair legendaris Mudie belakangan ini memang
sering terdengar. Dia adalah sosok hebat yang berkelana di dunia pada zaman
Tujuh Pahlawan.
Lagu-lagu yang ia tinggalkan di dunia ini sendiri
sudah cukup memikat banyak orang, namun alasan mengapa namanya begitu dikenal
bukan hanya itu saja.
Konon, sekali ia bernyanyi, ia bisa menyembuhkan
mereka yang mendengarnya, dan terkadang membangkitkan semangat. Beberapa lagu
dikatakan bisa merenggut stamina monster, bahkan mengendalikan cuaca sesuka
hati.
"Karena sudah cukup lama sejak kunci itu
diperbaiki, aku sempat berpikir mungkin terjadi sesuatu."
"────Yah, begitulah. Memang bagus kuncinya bisa
diperbaiki, tapi responnya buruk sehingga aku terpaksa menghabiskan waktu untuk
melakukan penyesuaian."
Ragna berkata dengan nada suara seolah sedang memilih
kata-kata.
"Jadi, apakah Anda sudah tahu di mana lokasi
persembunyian Mudie?"
"Tentu saja. Perjalanan kita jauh-jauh ke Windea
tidak sia-sia."
Baru pada musim semi ini diketahui bahwa Mudie
kemungkinan memiliki hubungan dengan leluhur Ren, Cecil Ashton.
Petunjuknya ditemukan dari sebuah panti asuhan bernama
Institut Geno, di mana penyelidikan dimulai setelah Ren membuka pintu yang
tidak bisa dibuka di sebuah kota tua yang terletak di dekat Eupeheim.
"Waktu itu, kita pergi mencari Cincin Dewi Air untuk
memperbaiki kunci, tapi malah harus menghadapi situasi merepotkan karena
pendeta Ordo Raja Iblis juga bergerak ya."
Ren yang teringat masa itu berpikir, Oh iya...
Ia teringat saat ia menemukan permintaan khusus bernama Emblem
bertanda khusus, yang menjadi alasan ia pergi ke Windea bersama Ragna.
…Waktu itu, berkat Lutreche aku bisa menemukan Emblem
milik Tuan Ragna.
Ren teringat kembali bagaimana pertemuannya dengan Lutreche,
sang pemilik gelar Putri Naga Putih yang berada di peringkat kelima jajaran
King of Swords, juga menuntunnya pada kisah dari musim semi menuju awal musim
panas itu.
"Cerita tentang kunci yang sudah diperbaiki dan Anda
datang ke sini, ada hubungannya ya?"
"Jika tidak, mana mungkin aku datang ke tempat
seperti ini di musim sekarang."
Ragna kembali berucap santai, lalu mengeluarkan gulungan
perkamen yang terlipat dari balik bajunya dan menyerahkannya kepada Ren.
"Kalian bertiga boleh melihatnya."
Mendengar itu, Ren membuka perkamen tersebut, sementara
Licia dan Fiona mengintip dari kiri dan kanannya dengan rasa ingin tahu yang
besar.
"Itu terlihat seperti peta ya."
"Tempat yang digambarkan di sini, rasanya aku pernah
melihatnya..."
"Bukan cuma pernah melihat, ini dekat dengan tempat
kita berada sekarang."
Ren menunjuk topografi di sudut peta, dan Licia berucap
"Benar juga."
Fiona segera mengalihkan pandangannya ke tanda merah
di tengah peta. Sepertinya Ragna berniat mengirimkannya dalam surat kepada Ren.
Di sana tertulis catatan dalam tulisan tangan Ragna bahwa tempat itu adalah
persembunyian Mudie.
"Aku tidak menyangka tempat persembunyian Mudie
sedekat ini."
Ren mengucapkannya, namun bukan berarti ia merasa
aneh. Lagipula, Ragna tidak mungkin berbohong soal hal semacam ini.
"Tapi Ren, pada zaman Tujuh Pahlawan belum ada
kereta magis, jadi mungkin tidak aneh."
"Selain itu, mungkin tempat yang terlalu
terpencil malah tidak praktis. Katanya dulu perjalanan antara ibu kota
dan Erendil saja memakan waktu sangat lama."
Bahkan tempat di mana Ren dan kawan-kawan berada sekarang
pun memakan waktu beberapa jam dengan kereta magis. Jika berpindah di zaman
tanpa kereta magis, bahkan menempuhnya dalam beberapa hari pun akan sulit.
"Benar juga. Mungkin memang begitu."
Ragna yang berjalan di depan mereka bertiga yang
sedang memeriksa peta mengangguk.
"Seperti yang mereka berdua katakan. Menurut
akal sehat zaman itu, tempat ini tidak dekat dengan ibu kota. Justru jika hanya
berjalan kaki, ini adalah jarak yang memakan waktu berhari-hari."
"────Tapi Tuan Ragna, apakah Anda berniat pergi
ke tempat persembunyian Mudie sekarang juga?"
"Ya. Seharusnya memang harus bersiap lebih
matang lagi sebelum berangkat."
Terdengar nada suara yang tidak biasa dari Ragna,
seolah ia merasa bersalah atau menyesal.
"Kuncinya memang sudah diperbaiki, tapi mungkin
karena kondisi penyimpanan aslinya buruk, respon peta pasangannya sangat
lamban. Karena ada kemungkinan peta ini tidak akan bisa aktif
lagi, aku terpaksa datang untuk memastikannya sekarang."
Karena kondisinya berubah drastis segera setelah
perbaikan selesai, ia sibuk mempersiapkan diri tanpa istirahat sejak tadi malam
hingga sekarang.
"Pantas saja Anda terburu-buru."
Ren mengajukan satu pertanyaan lagi.
"Bukankah lebih baik menyalinnya ke kertas lain,
seperti peta yang Anda berikan padaku ini?"
"Lokasinya memang ketahuan, tapi itu saja tidak
cukup. Ada kemungkinan besar kunci juga diperlukan untuk masuk ke dalam
persembunyian Mudie itu sendiri, jadi lebih baik mencobanya."
"…Masuk akal juga."
"Begitulah, tujuannya ada di depan sana."
Lokasi yang ditandai di peta Ragna sudah dekat. Setelah
menyeberangi ngarai ini, mereka seharusnya sampai dalam waktu kurang dari
sepuluh menit berjalan kaki.
Akar pepohonan yang memanjang di ngarai ini mengingatkan
Ren pada pemandangan yang ia lihat di Windea.
"Bagaimana, Ren? Mau ikut?"
Pikiran tentang hubungan antara darah Ashton dan tragedi Legend
of Seven Heroes yang diucapkan Eve terlintas di benaknya.
Mengingat kemungkinan mendapatkan petunjuk apa pun
tentang masa lalu keluarga Ashton, Ren merasa harus ikut kali ini juga.
Lagipula bagi Ren, ia sudah terlanjur basah setelah sebelumnya pergi ke Windea.
Tepat saat Ren hendak menjawab, sebuah suara menggema
dari jalan yang mereka lalui.
"Nona Clausel────!"
Pegawai sipil wanita yang pertama kali berbicara dengan
mereka mencari mereka dan berteriak.
Sepertinya para ksatria dan pegawai sipil juga datang ke
sisi ini untuk menyelidiki lebih lanjut area di balik gua, suara mereka
perlahan mendekat.
Licia dan Fiona yang sebenarnya ingin ikut bersama Ren
berbicara dengan nada pasrah.
"Sayang sekali, tapi kami harus lanjut bekerja di
sini."
"…Benar. Kami harus memastikan area sekitar
juga."
"Jadi, jangan cemaskan kami. Apalagi ini adalah
kunci yang berhasil diperbaiki setelah jauh-jauh pergi ke Windea."
Hanya pergi memastikan sebentar di dekat sini.
Karena hanya itu, tidak mungkin mereka mengabaikan
pekerjaan mereka untuk ikut serta.
Melanjutkan langkah melewati ngarai────.
Terdapat sebuah tempat datar yang cukup luas untuk
dijadikan tempat berkemah bagi rombongan sekitar sepuluh orang, atau cukup
untuk membangun beberapa rumah biasa.
Ragna menghentikan langkahnya di sini dan meletakkan tas
raksasanya di tanah.
"Aku akan bersiap."
Saat ia menjentikkan jari, peta dan kunci persembunyian Mudie
melompat keluar dari tasnya.
Selanjutnya ia menjajajarkan beberapa alat magis yang ia
bawa untuk penyelidikan. Katanya itu semua adalah persiapan untuk menghadapi
alat magis buatan Mirim Althea yang kemungkinan ada di tempat persembunyian Mudie.
"Katanya ada tempat persembunyian, tapi di sekitar
sini cuma ada rumput saja ya."
"Jangan khawatir. Pasti ada di sini."
"Kalau begitu, mari kita coba cari dulu."
Ren yang mengamati sekeliling dengan waspada
bergumam.
"…Sepertinya tidak terlihat seperti sedang
digunakan Vision Barrier atau semacamnya."
Vision Barrier
menyamarkan segala sesuatu yang terlihat. Misalnya, meskipun ada rumah di sana,
efek penghalang akan memalsukannya menjadi alam sekitar.
Namun, itu hanyalah ilusi. Karena masih bisa disentuh
jika dicoba, efeknya hanya cukup untuk menipu lawan yang baru pertama kali
melihatnya.
Jika panca indera tajam, bahkan orang biasa pun bisa
menyadarinya, apalagi Ren dan yang lainnya.
"Tapi sepertinya juga tidak ada jejak ruang yang
terdistorsi."
Ragna memegang sesuatu yang menyerupai jam saku.
Penutupnya dibuka, memperlihatkan ukiran pola rumit dengan jarum jam yang
bergerak sangat cepat dan luas.
"Ini adalah jejak pengendalian sihir tingkat
ultra-tinggi. Aku pun baru pertama kali melihat reaksi sekuat
ini."
"Jadi, memang benar ada tempat persembunyian Mudie
di suatu tempat di sini…"
"Tidak ada jalan lain selain mencari petunjuk. Apa
saja boleh. Beritahu aku jika ada sesuatu yang menarik perhatianmu."
"Tapi meski dicari, kalau begini sepertinya cuma ada
kemungkinan di bawah tanah."
Sesuai ucapannya, Ren memusatkan perhatiannya ke arah
kakinya.
Rumput hijau yang rimbun, dahan pohon kecil yang patah.
Serta dedaunan.
Ada buah pohon kecil yang jatuh, yang sepertinya tidak
cukup untuk dimakan manusia.
Selain itu ada kupu-kupu yang terbang rendah di permukaan
tanah.
(Apakah Ren Ashton dan kawan-kawan juga berniat datang ke
tempat persembunyian Mudie di sini ya?)
Ia mencoba memikirkan kelanjutan dari penglihatan yang ia
lihat sebelum bertemu kembali dengan Ragna, namun Ren kesulitan karena tidak
menemukan petunjuk apa pun.
Ia menatap langit dan mendesah, lalu tanpa sadar berucap.
"Di langit pun tidak ada ya."
Jika ada sesuatu yang melayang, setidaknya akan ada
bayangan yang jatuh.
Pada akhirnya, di langit ia hanya melihat beberapa ekor
burung yang kebetulan terbang lewat. Di sekitar Ren yang mendesah, seekor
kupu-kupu terbang seolah sedang mengejeknya.
"…"
Meski merasa dipermainkan, tidak mungkin serangga biasa
yang bukan monster punya niat seperti itu.
Ren kembali melakukan pencarian di sekitar, mengamati
tanah dengan teliti.
Ragna yang juga berjalan sambil mengamati sekitar
berhenti melangkah, lalu menatap punggung Ren yang sedang membungkuk mengamati
tanah.
Kupu-kupu tadi kini hinggap di bahu Ren.
"Sepertinya kamu disukai ya."
"Bukannya disukai, aku merasa seperti sedang
dikerjai."
"Kalau begitu, dia kupu-kupu yang cerdas. Bertemanlah dengannya."
"…Anda bicara aneh lagi."
Begitu Ren meluruskan punggung dan berdiri, kupu-kupu
itu meninggalkan bahunya dan mulai terbang di sekitar wajahnya.
"Kamu tidak sedang mencoba menggangguku,
kan?"
Saat ia mengulurkan ujung jarinya, kupu-kupu yang
tadinya terbang itu kini hinggap di sana.
Kupu-kupu itu berwarna biru pekat dengan kilau seperti
mutiara. Melihat keindahannya yang bersinar memantulkan cahaya matahari, entah
mengapa, Ren merasa benda ini bukan sekadar serangga biasa.
Meski terdengar tidak realistis, kupu-kupu itu seolah
sedang menatap langsung ke dalam mata Ren…
Mana mungkin, itu tidak mungkin.
Tepat saat Ren terjebak dalam prasangka itu, ia mencoba
bertanya.
"Kamu, apa kamu tahu di mana tempat persembunyian Mudie?"
Kupu-kupu itu tetap hinggap di ujung jari Ren sambil
menggerakkan sungutnya beberapa kali. Setiap kali sungut itu bergerak, kilau
birunya semakin pekat dan menawan.
"Sepertinya, tebakanmu tepat," ujar Ragna.
Begitu Ren bergumam "Eh?", kupu-kupu itu
tiba-tiba terbang tinggi. Saat ia mengepakkan sayap, serbuk sisik yang
berjatuhan bersinar layaknya taburan berlian.
Seketika, tanah bergetar.
Serbuk sisik yang dilepaskan seekor kupu-kupu itu terlalu
banyak untuk ukuran serangga biasa, menyebar ke sekeliling dan mulai membentuk
bayangan bangunan seperti pilar-pilar.
Awalnya terlihat seperti bangunan yang tercipta dari
partikel cahaya, namun seiring memudarnya cahaya tersebut, wujudnya berubah
menjadi bangunan sungguhan.
Akhirnya, sebuah rumah bata kecil yang manis berdiri di
sana.
"Hoo."
Ragna mengeluarkan suara kagum melihat pemandangan itu.
"Ternyata benar keputusanku membawamu, Ren. Semangat belajarmu memang luar biasa."
"Apa hubungannya dengan semangat belajar?
Kejadian tadi kan tidak sengaja."
"Apa? Kupikir kamu sudah tahu tentang teknik
pemanggilan kuno."
"Jadi yang barusan itu teknik pemanggilan?"
"Itu adalah Gem Familiar. Aku tidak menyangka
kupu-kupu itu adalah salah satunya."
Itu adalah keberadaan yang diciptakan melalui media
permata khusus yang menyimpan kekuatan sihir. Mereka adalah familiar unggul
yang terus menjalankan perintah sederhana tanpa henti.
Selama ada alat magis yang menyuplai kekuatan sihir,
mereka bisa bergerak semi-permanen di sekitar area tersebut.
Di sisi lain, tampaknya kunci yang diperbaiki Ragna
terhubung dengan Gem Familiar ini. Meski telah menjalankan perannya,
respon kunci tersebut kini terasa semakin melemah.
"Persis seperti dugaan Tuan Ragna ya."
"Melihat situasi ini, meski kita menghabiskan waktu
lebih lama untuk bersiap, pada akhirnya kunci ini akan berhenti berfungsi
juga."
"Kalau begitu, mari kita segera masuk. Akan jadi
masalah kalau pintunya hilang sebelum kita sempat masuk."
Ren mengalihkan pandangannya ke pintu tempat
persembunyian itu.
"Barusan, aku hampir saja ingin mencoba merekrutmu
lagi."
"Maksud Anda, menjadi asisten Tuan Ragna?"
"Ya. Aku selalu menyambutmu kapan saja."
"…Untuk sementara, jawabanku masih sama seperti
sebelumnya ya."
Tidak ada lubang kunci pada gagang pintu yang muncul,
namun kemungkinan besar Gem Familiar tadi telah menjalankan peran
kuncinya. Saat Ren menggenggam gagang pintu dan memutarnya, pintu kayu kuno itu
terbuka perlahan.
"Permisi. Aku masuk."
Ren melangkah masuk ke dalam persembunyian sang
legenda dengan ragu. Ternyata, bagian dalamnya terlihat seperti rumah biasa.
Di dalam rumah bata yang mungil itu, terdapat dapur
kecil di sisi dinding, dan di baliknya terlihat jendela bundar.
Di tengah ruangan terdapat meja bundar dari potongan
batang pohon, dikelilingi oleh beberapa kursi kayu kecil.
Struktur interiornya sendiri berbentuk bulat dengan
langit-langit kubah yang luas, di mana sebuah lampu besar tergantung tepat di
tengahnya.
Beberapa lukisan tergantung di dinding, memicu rasa
ingin tahu Ren.
"Ini gambar apa ya?"
"Itu adalah gambaran upacara di sebuah negara di
Benua Barat. Tidak salah lagi karena ada ras Beastman yang digambarkan di sana.
Lukisan di sebelahnya… gletser raksasa itu pasti menggambarkan Laut Tanpa
Manusia."
Itu adalah wilayah perairan di utara Benua Elfen. Sesuai
namanya, itu adalah laut yang tidak didekati manusia karena monster-monster
kuat saling berebut kekuasaan setiap hari di sana.
Meski tidak separah wilayah Selachia di Benua Iblis,
tempat itu diselimuti kedinginan ekstrem sepanjang tahun.
Lukisan berikutnya memperlihatkan dua orang pria.
Salah satunya adalah sosok pria dari tampak belakang yang
sedang menatap sebuah bangunan, yang Ren yakini sebagai Cecil Ashton—sama
seperti lukisan yang ia temukan di Institut Geno.
Di sampingnya berdiri seseorang yang juga membelakangi
pelukis.
"Ini Institut Geno, kan?"
"Benar. Sepertinya ini pemandangan saat Institut
Geno baru saja berdiri."
"Kalau begitu… yang ada di samping Cecil Ashton
adalah…"
Dilihat dari pakaiannya, mungkin dia adalah sang kepala
panti.
Pria itu tinggi dengan rambut perak. Meski
tujuan utama mereka bukan mencari kepala panti, tetap saja ini bukan hal yang
tidak berkaitan.
Alasan keberadaan tempat persembunyian Mudie terungkap
adalah karena peta dan kuncinya ditemukan di Institut Geno.
Dari sanalah muncul dugaan bahwa akan ada informasi
mengenai Cecil Ashton, yang membuat Ren bersedia membantu Ragna.
…Ternyata memang ada hubungannya.
Sosok wanita yang merupakan penyair legendaris Mudie, dan
kepala panti Institut Geno.
Serta misteri terbesar: Cecil Ashton sang petualang, dan
sosok Putri Korosi (Corrosion Princess) yang berkelana bersamanya.
Dengan menyelidiki hal-hal ini, mungkin ia juga bisa
memahami makna "Priestess" yang diucapkan oleh Kenma, jenderal
pasukan Raja Iblis yang tersegel di Roses Kaitas.
Fakta bahwa jenderal pasukan Raja Iblis menyebut nama
Ashton masih belum bisa ia lupakan hingga kini.
Ren mencoba mencari lagi di dalam rumah, namun meski ada
barang-barang unik seperti lukisan, ia tidak menemukan informasi krusial apa
pun.
Rumah ini minim perabot, bahkan tidak ada satu pun rak
buku.
Namun, saat menuju ruangan di bagian dalam, Ragna tampak
mengernyitkan alisnya.
"Ternyata disembunyikan di sini ya."
Di atas meja di samping tempat tidur sederhana, terdapat
sebuah lampu berwarna kuningan.
Begitu Ragna menemukan ukiran kecil di sana, ia
memastikan beberapa hal, lalu menelusurinya dengan pena yang ia keluarkan dari
balik jubah.
Seketika, garis cahaya mengalir di dinding membentuk pola
pintu, dan di baliknya muncul tangga menuju bawah tanah.
"Tuan Ragna, bagaimana Anda bisa tahu?"
"Karena ini adalah salah satu teknik dari Mirim
Althea yang sudah berhasil dianalisis. Ini adalah satu dari sedikit hal yang
berhasil dipecahkan Departemen Misteri setelah memakan waktu
bertahun-tahun."
Di depan mereka terbentang tangga yang sangat panjang
hingga bagian bawahnya tampak samar.
Saat Ren menuruni satu anak tangga, lampu alat magis yang
terpasang di dinding kiri dan kanan mulai menyinari jalan.
Butuh waktu sekitar sepuluh menit untuk menuruni tangga
hingga mereka sampai di sebuah koridor persegi panjang yang sangat luas.
Beberapa rak buku berjajar, dan di bagian terdalam
terdapat meja besar serta sebuah perapian. Langit-langitnya pun cukup tinggi,
dengan luas yang tidak kalah dari tempat latihan di Aula Suci Singa.
Sambil berjalan di atas karpet empuk yang membentang
lurus ke dalam, Ren memandang rak-rak buku yang berjejer di kiri dan kanannya.
"Kamu penasaran?"
"Sebaliknya, apa Tuan Ragna tidak penasaran?"
"Tentu saja aku penasaran. Jika aku lengah sedikit
saja, jiwa pencari romansaku akan mengamuk, dan aku akan membawa pulang semua
dokumen yang bisa kupinjam."
"Tapi, Anda tidak melakukannya ya."
"Kuku, kau paham kan?"
Ren mengangguk dan menajamkan konsentrasinya.
Ruangan ini sunyi senyap hingga terasa mengerikan.
Mengingat proses untuk menemukan tempat ini, ia tidak percaya jika di sini
tidak ada apa-apa.
"Aku sudah merasakan reaksi dari alat magis yang
tidak dikenal."
Entah itu untuk pertahanan atau untuk menyembunyikan
sesuatu. Selain itu, mungkin ada juga alat magis yang tidak memberikan reaksi.
"Mungkin sudah agak terlambat, tapi apa kamu tahu
alasan kenapa aku datang sendirian meski terburu-buru?"
"Karena Anda berpikir hal seperti ini mungkin
terjadi, jadi Anda tidak ingin bertindak sembarangan… begitu? Melihat situasi
ini, sepertinya memang lebih baik bergerak dengan kelompok kecil yang
ahli."
"Tepat sekali. Sebagai gantinya, aku sudah
menyiapkan alat magis yang merupakan kristal kebijaksanaan Departemen Misteri.
Barang-barang yang harganya saja bisa membuat kepala pusing."
Ragna berdiri di depan meja besar, lalu mengamati
sekeliling.
Ia mengaktifkan alat magis berbentuk jam tangan, lalu
menggunakan alat magis lain yang dikeluarkan dari tas besarnya untuk memeriksa
situasi sekitar dengan lebih teliti.
Tidak ada tanda-tanda alat magis pertahanan yang
aktif, namun…
"Lebih baik waspada daripada menyesal."
Ragna berjalan ke sisi dalam meja, menatap kursi yang
diletakkan berhadapan.
Di sandaran kursi itu tersampir kardigan putih yang
terasa lembut. Tidak salah lagi, itu milik Mudie.
Di atas meja ada pena yang masih tertancap, dengan tinta
di ujungnya yang sudah mengeras.
Ragna mengambil secarik kertas yang tergeletak
sembarangan dan terkekeh, "Ini tulisan dari orang yang cerdas."
Ren mencoba mengambil kertas lain secara acak, namun ia
sama sekali tidak mengerti apa yang tertulis di sana.
"S-sama sekali tidak bisa kubaca…"
"Itu huruf Elf. Isinya… sepertinya senandung tentang
perjalanan di Benua Barat."
Selain itu, ada banyak kertas yang ditulis dalam berbagai
bahasa, semuanya dipenuhi dengan tulisan.
Menurut Ragna, semua yang tertulis di sana adalah
potongan-potongan keseharian, persis seperti buku harian.
Yang mereka cari adalah tentang Cecil Ashton──── dan
ternyata ada.
Sebuah surat yang ditulis dalam bahasa yang masih
digunakan hingga kini tergeletak di atas meja. Terlebih lagi, sepertinya itu
ditulis oleh Cecil Ashton sendiri.
『Kemarin, waktu aku mengirim benih
Dragon Eater ke Geno, dia bilang jangan dikirim lagi. Karena benihnya sebesar
yang harus diangkat beberapa orang dewasa, mungkin memang mengganggu ya.』
Hanya itu yang tertulis di surat, namun di sampingnya ada
secarik kertas balasan yang belum selesai ditulis.
『Lain kali kirim benih yang lebih kecil.
Jangan mempermalukan aku sebagai gurumu.』
Gaya tulisannya sama dengan huruf Elf yang dibaca Ragna
tadi. Tulisan ini menggunakan bahasa Leomel yang bisa dibaca Ren, namun kalimat
di bagian akhir sangat menarik perhatiannya.
"Mudie
adalah guru Cecil Ashton?"
"Jika diartikan secara harfiah, memang begitu.
Luar biasa, bukan? Bagaimana rasanya mengetahui kalau guru leluhurmu adalah
orang hebat yang namanya abadi di dunia?"
"Aku sempat terkejut, tapi ya… mengingat banyak
hal lainnya, aku sudah mulai terbiasa."
Kalau soal Cecil Ashton sang petualang, Ren sudah
dibuat terkejut berkali-kali sejak mengetahui sejarah pertarungannya melawan
Asval.
"Tapi, kurasa alasannya bukan karena ukuran benihnya…"
Setelah bergumam pada surat yang ditulis leluhur dan sang
legenda itu, ia kembali melakukan pencarian.
Sebelum memeriksa rak buku secara menyeluruh, mata Ragna
tertuju pada laci meja, dan ia segera mengulurkan tangan.
Tentu saja, sebelum itu Ragna sudah memeriksanya dengan
teliti untuk memastikan tidak ada jebakan.
Laci itu terbuka tanpa hambatan. Di dalamnya terdapat
kotak kayu berhias dengan lubang kunci berwarna perak.
Di sampingnya ada perkamen yang terlipat sembarangan.
Ragna mengambilnya terlebih dahulu dan membukanya.
"Wah, ini benar-benar langka."
"Lambang itu, dan tulisan yang menyertainya
ya?"
"Ya. Ini adalah lambang Misel, Dewa Permainan. Di
sampingnya tertulis 'Berharaplah, senandungkanlah, permainan Misel', dalam
bahasa Naga."
"…Begitu ya?"
"Ren, wajahmu itu menunjukkan kalau kamu sama sekali
tidak paham."
Melihat Ren yang tersenyum kecut karena tidak
mengerti, Ragna menjelaskan dengan sabar.
"Misel, sesuai namanya, adalah dewa yang
menguasai permainan. Dikatakan bahwa ia memberikan ujian bagi mereka yang
berharap, dan memberikan anugerah bagi yang berhasil melaluinya, tapi itu
hanyalah bagian dari mitologi."
"Heh… ada dewa seperti itu ya…"
"Lalu, bahasa Naga adalah bahasa yang digunakan oleh
ras Naga yang hidup sangat lama. Bahasa itu sendiri mengandung kekuatan sihir
yang berbahaya, jadi tidak ada ruginya untuk mengingatnya."
"Apa tidak apa-apa? Tuan Ragna baru saja membaca
bahasa Naga itu."
"Kalau diterjemahkan ke bahasa modern tidak masalah.
Itu sudah menjadi bahasa umum."
Selesai bicara, Ragna menyimpan perkamen itu ke balik
jubahnya.
"Tapi aku tidak mengerti. Kenapa lambang Misel
disertai dengan kalimat seperti ini…"
Berpikir di sini pun tidak akan memberikan jawaban,
Ragna kemudian mengulurkan tangan ke kotak kayu berhias itu.
Tanpa keraguan. Seolah ia baru saja menemukan benda
yang dicarinya.
"Kudengar Mudie adalah sosok yang menguasai
berbagai ilmu. Pemahamannya tentang teologi pasti sangat dalam, mungkin
ia menemukannya di tengah perjalanannya."
"Katanya dia berkelana ke seluruh dunia, kan.
Mungkin dia melihatnya di suatu tempat dan mencatatnya."
"Mungkin saja. Bagaimanapun, ini bisa jadi dokumen
penting. Akan kupinjam."
…Dan saat itu juga.
Tepat saat Ragna menyentuh kotak itu.
Ruangan di dalam ruang bawah tanah raksasa itu
bergetar secara tidak beraturan.
"A────"
"Tuan Ragna, ini…!?"
Jalan tempat mereka datang menjauh. Bahkan tangga untuk
kembali ke atas pun kini terasa sangat jauh.
Seolah-olah permen lunak yang ditarik sambil dipelintir,
pemandangan sekitar berubah total secara acak.
『────Tapi sepertinya juga tidak ada
jejak ruang yang terdistorsi.』
Kata-kata yang diucapkan Ragna di luar tadi terlintas
di benak Ren.
Teknik kuno yang tidak lagi tersisa di zaman modern.
Itu adalah hasil dari formula sihir yang membutuhkan teknologi sangat tinggi
yang hanya bisa disusun oleh segelintir orang. Sebuah karya langka ciptaan
manusia yang tidak kalah dari sihir tingkat tertinggi yang memengaruhi ruang.
"Jangan──── bercanda!"
Sang Penjelajah Tas tampak sangat marah menghadapi
situasi ini, sebuah pemandangan yang langka.
"Padahal aku sudah bersiap dan menyelidiki
dengan sangat hati-hati, tapi masih saja melampaui kebijaksanaan zaman modern…!
Mirim Althea!"
Meskipun ia sudah waspada dan mengerahkan segala
teknologi serta kebijaksanaan maksimal yang bisa disiapkan, seluruh
persiapannya hancur dalam sekejap.
Pelakunya adalah teknologi milik sang pahlawan, Mirim
Althea.
Detik demi detik berlalu, jalan pulang semakin
menyempit. Ruang itu sendiri terpelintir, seolah hendak menelan mereka berdua.
Dari dinding ruang bawah tanah yang terpelintir, muncul banyak Magic Sword yang
bersinar ungu pekat, menyerang dari segala arah.
Merasakan bahaya, Ren mencabut Mithril Magic Sword
yang tergantung di pinggangnya.
Ia menangkis satu pedang yang menyerang, lalu
berseru.
"Tuan Ragna!"
"Aku tahu! Mundur!"
Menyadari mereka tidak bisa berlama-lama di sini, ia
memberi aba-aba dengan suara lantang.
Jumlah pedang yang dilepaskan semakin bertambah. Jika Ren
menjatuhkan satu, muncul dua. Menjatuhkan dua, muncul empat. Dan itu tidak
berakhir, jumlahnya terus bertambah.
"Kekuatan apa… ini!?"
Bahkan bagi Ren yang memiliki kemampuan Sword Saint,
serangan itu terasa berat, tajam, dan cepat.
Tidak ada akhirnya, dan jika ada, itu hanya akan berakhir
dengan kematian penyusup. Jalan keluar semakin menjauh seiring ruang yang kian
terdistorsi.
Perangkat pertahanan yang ditinggalkan oleh legenda agung
itu juga dicampuri oleh kekuatan sang pahlawan, Mirim Althea.
Sword Wind────.
Sihir yang diciptakan oleh salah satu dari Tujuh
Pahlawan, Lino Arkay.
Lino
Arkay adalah penyihir hebat. Ren yang pernah melihat sekilas kemampuan
keturunannya di Windea memahami hal itu, namun Sword Wind ini jelas
merupakan versi yang sudah melemah.
Bagaimanapun,
ini hanyalah barang tiruan yang bahkan tidak layak untuk dibandingkan.
"Ini
juga pasti ulah Mirim Althea!"
"Alat
magis yang bisa menyegel sihir semacam ini, kalau bukan dia yang buat, pasti
sudah tidak waras!"
"Benar-benar…! Adalah suatu kehormatan bisa melihat
sihir Tujuh Pahlawan di tempat seperti ini!"
Ragna yang tertawa sambil berkeringat menciptakan
rantai sihir di sekelilingnya.
"Meskipun itu hanyalah barang tiruan yang sudah
melemah!"
Ia menangkis Magic Sword seperti yang dilakukan Ren,
namun tekanan dahsyat terus mendominasi tempat ini, mengacaukan langkah mereka
berdua.
Namun────.
Ren menundukkan mereka semua.
Ia menghirup napas dalam-dalam dan menajamkan panca
inderanya. Sesaat ia menghentikan langkah, lalu menangkap seluruh pergerakan
pedang yang mendekat dalam jangkauan pandangannya.
"Haaaaaaaaaaaaa!"
Sambil berteriak, ia menebaskan Mithril Magic Sword-nya
secara horizontal dengan tajam.
Sihir yang dihasilkan oleh alat magis tetaplah sihir.
Setelah selesai menilai situasi──── ia bisa memangkasnya.
Tekanan pedang dari tebasan horizontal itu melampaui
angin yang mendekat. Mengembalikan segala yang disentuhnya menjadi butiran
kekuatan sihir yang bersinar, dan dalam sekejap, seluruh pedang yang mendekat
menghilang.
Namun… teknik Star Cleaver tadi memiliki efek yang
sedikit lebih lemah dari yang dibayangkan Ren.
Ia sempat berpikir apakah sisa pengaruh kutukan masih
ada, namun sekarang bukan waktunya untuk berpikir. Karena jalan yang
terdistorsi tidak kunjung kembali dan terus menghalangi mereka, ia harus
memusatkan perhatian ke sana.
"Ayo cepat!"
Setelah lepas dari Sword Wind, mereka terus
menggerakkan kaki sekuat tenaga.
Begitu keluar dari ruangan dan sampai di tangga, situasi
di depan mereka kembali tenang seperti biasa.
Sebagai tindakan pencegahan ekstra, mereka berlari
sekaligus menuju rumah di lantai atas, disambut oleh sinar matahari tenang yang
masuk melalui jendela.
"Fuu──── sepertinya ruang bawah tanah itu memiliki
sistem penyegelan otomatis."
"…Benar. Suasananya berbeda dari saat kita masuk
tadi."
Saat Ren menajamkan penglihatannya ke arah tangga, ia
melihat dinding seperti kabut bercahaya yang bergetar.
"Rasanya mirip dengan kabut yang dulu menyelimuti
Roses Kaitas. Jika kita sembarangan menyentuhnya, jebakan yang lebih hebat dari
tadi mungkin akan aktif."
"Padahal aku ingin menyelidiki lebih lanjut, tapi
sepertinya mustahil ya."
"Ya. Melihat ini, sepertinya menghabiskan lebih
banyak waktu untuk bersiap pun akan sia-sia."
Dari kejadian tadi sudah jelas, namun Ren merasa heran
karena Ragna tidak terlihat terlalu menyesal.
(Mungkin dia menyerah karena memang tidak ada jalan
lain.)
Biasanya Ragna akan lebih merasa menyayangkan… atau
setidaknya menunjukkan raut wajah seperti itu.
"Menghadapi teknologi Mirim Althea jujur saja hampir
mustahil untuk saat ini."
"Aku juga sependapat," ujar Ren setuju.
Saat ia membuka pintu tempat persembunyian dan
melangkah keluar, hawa panas di luar rumah membuatnya merasa gerah.
"Ngomong-ngomong, aku ingin tahu kenapa Anda
bisa menyimpulkan kalau itu adalah alat magis Mirim Althea."
"Alat magis buatannya punya ciri khas yang sama.
Soal aliran kekuatan sihirnya bagaimana… itu hal yang mendetail. Itu
adalah hasil kerja sama antara keluarga Althea dan Departemen Misteri sekitar
seratus tahun lalu."
"Begitu ya… ternyata memang seperti itu ya."
Ragna memasukkan alat-alat magis yang ia bawa ke dalam
tasnya satu per satu, lalu menyimpan barang berharga yang ia ambil dari ruang
bawah tanah ke dalam kotak yang terkunci rapat sebelum memasukkannya ke dalam
tas.
"Hanya ini oleh-olehnya ya."
"Surat dan kotak itu, Anda benar-benar
membawanya ya."
"Maaf pada pemilik rumahnya, tapi aku
meminjamnya tanpa izin. Mengingat tujuan kita ke sini, pulang dengan tangan hampa
akan membuat semua usaha kita sia-sia. Lagipula persiapan sebanyak itu akan
jadi tidak berarti."
Ragna berkata sambil tersenyum kecut, lalu menoleh ke
arah tempat persembunyian Mudie tadi berada.
"Tapi entah kenapa, Ren hari ini sangat penurut ya.
Tadinya kupikir kamu akan menjawab masih ingin lanjut menjelajah."
"Mungkin dalam kondisi tertentu aku akan begitu,
tapi…"
Sejujurnya ia merasa malu untuk mengatakannya.
Mana mungkin ia bisa mengucapkannya di sini.
(Karena aku tidak ingin membuat mereka berdua khawatir
lagi.)
Lagi pula mereka baru saja lolos dari bahaya. Meminta
lebih dari ini akan terasa sangat egois.
"Ternyata ada lebih banyak jebakan dari yang
kubayangkan, jadi kurasa keputusan tadi sudah tepat."
"Aku juga sependapat."
Di tengah pembicaraan mereka, pintu tempat persembunyian
tertutup dengan sendirinya.
Rumah itu kemudian terbungkus cahaya seperti saat
kemunculannya, lalu menghilang seolah-olah memang tidak pernah ada di sana
sejak awal. Begitu pula dengan sosok Gem Familiar tadi.
◇◇◇
Dampak dari keributan di ruang bawah tanah ternyata
merembet hingga ke luar tempat persembunyian.
Saat mereka membicarakannya di dalam kereta magis saat
perjalanan pulang, Licia dan Fiona tampak maklum.
"Pantas saja tadi tiba-tiba berguncang."
"Ada banyak hal yang terjadi, tapi setidaknya
kita berhasil meminjam beberapa dokumen… yah, meskipun begitu."
"Ahaha… tidak perlu sampai merasa lesu begitu."
"Kurasa itu lebih baik daripada membiarkan kuncinya
sia-sia. …Walaupun
kami sempat khawatir."
Keributan
yang tak terduga itu memang tidak bisa dihindari.
Pada
akhirnya, kunci yang baru saja selesai diperbaiki itu kembali berhenti
berfungsi. Jadi seperti kata Licia, kuncinya mungkin akan terbuang percuma.
Ragna yang tidak ada di sini pun pasti tidak menginginkan hal itu.
Meskipun
arah pulang mereka berbeda dengan Ragna, pasti akan ada kontak darinya lagi
nanti.
Meskipun
mereka harus melakukan penelusuran yang tidak direncanakan, pekerjaan hari ini
berakhir dengan selamat. Sisanya tinggal menceritakan kejadian hari ini kepada
Lezard di kediaman Erendil.
Bahkan setelah pekerjaan selesai, masih banyak hal yang
harus dilakukan.
(Sesampainya di rumah, aku juga harus belajar untuk
ujian.)
Kereta itu perlahan-lahan mulai mendekati Erendil.



Post a Comment