NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Monogatari no Kuromaku Volume 7 Prolog

Prolog


Itu adalah malam, tak lama setelah pertempuran di Windea—tempat di mana air dan angin bersemayam—berakhir.

Sisa-sisa kekacauan dari insiden sebelumnya masih terasa sedikit, namun Kekaisaran Leomel perlahan mulai mendapatkan kembali ketenangannya. Di salah satu sudut ibu kota kekaisaran.

Di bawah langit malam, Licia berbicara kepada Ren.

"Hei Ren, bagaimana kalau kali ini kita latihan bersama?"

"Maksud Anda, di Shishiseicho?"

"Bukan. Maksudku, seperti yang kita lakukan di tempat latihan akademi sebelumnya."

Ren, Licia, dan Fiona tidak langsung pulang meski jam sekolah telah usai, melainkan tetap berada di ibu kota. Mereka melangkah ke taman, menikmati waktu di bawah langit malam dengan minuman dingin di tangan.

Ren yang sedari tadi berbincang dengan Licia, tiba-tiba menggerakkan bibirnya seolah baru mengingat sesuatu.

Pertempuran sengit itu memang baru saja berlalu. Meski begitu, sebagai tiga orang pelajar, ada hal yang tidak boleh mereka lupakan.

"…Sebelum itu, kita ada ujian tengah semester, lho."

Mendengar suaranya, Licia dan Fiona mengembuskan napas pendek secara bersamaan.

Keduanya secara alami saling pandang, lalu merendahkan suara mereka.

"…Sebelum latihan, apa kita belajar saja di ruangan yang biasa?"

"Sepertinya begitu…"

Mungkin karena hari-hari mereka belakangan ini tersita oleh kesibukan yang luar biasa, hal itu tampaknya benar-benar terhapus dari ingatan mereka.

Meski keseharian telah kembali, sepertinya tidak ada waktu untuk bersantai terlalu lama.

 

Tak lama kemudian.

"────Ah, sudah jam segini ya."

"Benar juga… kita juga harus segera pulang."

Mengikuti perkataan Fiona, ketiganya meninggalkan taman dan kembali menyusuri jalanan ibu kota.

Begitu sampai di jalan besar, sambil menyelingi percakapan ringan, Ren berkata.

"Meski sudah malam, udaranya mulai terasa cukup panas ya."

"Padahal rasanya baru kemarin masih musim semi, tapi tanpa sadar musim panas sudah di depan mata."

"Aku merasa tahun lalu pun musim panas datang tiba-tiba. Gara-gara persiapan Festival Besar Lion King, musim semi berlalu dalam sekejap."

"Ah—… memang terasa seperti itu. Gara-gara itu juga, jadwal ujian tengah semester tahun lalu sampai bergeser."

Ujian masuk saja sudah cukup menyulitkan, tapi setelah masuk pun, ujian-ujian ini benar-benar membuat para murid pusing. Meski satu kekacauan telah mereda, alasan mengapa mereka tidak bisa tenang sepenuhnya tertumpuk di sana.

Begitu sampai di Erendil, aku akan mencoba membuka buku referensi.

Ren memperkuat niatnya dalam hati, lalu menggumamkan pemikiran itu pelan.

"Setidaknya, aku harus mencicilnya sedikit."

Itulah yang terjadi pada suatu malam, saat musim panas kian mendekat.

◇◇◇

Dan kemudian──── pagi pun tiba.

Sudah berapa kali ia terbangun di kediaman Viscount Clausel di Erendil ini?

Meski ia terbangun lebih awal dari biasanya, seiring mendekatnya musim panas, matahari terbit lebih cepat dan di luar sudah sangat terang.

Ren bangkit di atas tempat tidur dan meregangkan tubuhnya sedikit, lalu melangkah ke depan jendela.

Di sana, tatapannya perlahan turun ke salah satu lengannya.

"Lenganku juga, sepertinya sudah hampir tidak apa-apa."

Sekarang rasa sakitnya sudah hampir hilang, dan jika tidak diperhatikan dengan saksama, perbedaannya tidak akan terlihat. Namun, sisa-sisa dari pertempuran di Windea masih tertinggal sedikit di sana.

Setelah memastikan hal itu, Ren mengembuskan napas pendek lalu menyentuh kancing kemejanya.

Mari mandi untuk menyegarkan diri, lalu mulai bersiap-siap pagi ini.

Sebab hari ini pun, pelajaran di akademi telah menanti.




Illustrasi | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close