Prolog
Itu
adalah malam, tak lama setelah pertempuran di Windea—tempat di mana air dan
angin bersemayam—berakhir.
Sisa-sisa
kekacauan dari insiden sebelumnya masih terasa sedikit, namun Kekaisaran Leomel
perlahan mulai mendapatkan kembali ketenangannya. Di salah
satu sudut ibu kota kekaisaran.
Di bawah langit malam, Licia berbicara kepada Ren.
"Hei Ren, bagaimana kalau kali ini kita latihan
bersama?"
"Maksud Anda, di Shishiseicho?"
"Bukan. Maksudku, seperti yang kita lakukan di
tempat latihan akademi sebelumnya."
Ren, Licia, dan Fiona tidak langsung pulang meski jam
sekolah telah usai, melainkan tetap berada di ibu kota. Mereka melangkah ke
taman, menikmati waktu di bawah langit malam dengan minuman dingin di tangan.
Ren yang sedari tadi berbincang dengan Licia, tiba-tiba
menggerakkan bibirnya seolah baru mengingat sesuatu.
Pertempuran sengit itu memang baru saja berlalu. Meski
begitu, sebagai tiga orang pelajar, ada hal yang tidak boleh mereka lupakan.
"…Sebelum itu, kita ada ujian tengah semester,
lho."
Mendengar suaranya, Licia dan Fiona mengembuskan napas
pendek secara bersamaan.
Keduanya secara alami saling pandang, lalu merendahkan
suara mereka.
"…Sebelum latihan, apa kita belajar saja di ruangan
yang biasa?"
"Sepertinya begitu…"
Mungkin karena hari-hari mereka belakangan ini tersita
oleh kesibukan yang luar biasa, hal itu tampaknya benar-benar terhapus dari
ingatan mereka.
Meski keseharian telah kembali, sepertinya tidak ada
waktu untuk bersantai terlalu lama.
Tak lama kemudian.
"────Ah, sudah jam segini ya."
"Benar juga… kita juga harus segera pulang."
Mengikuti perkataan Fiona, ketiganya meninggalkan taman
dan kembali menyusuri jalanan ibu kota.
Begitu sampai di jalan besar, sambil menyelingi
percakapan ringan, Ren berkata.
"Meski sudah malam, udaranya mulai terasa cukup
panas ya."
"Padahal rasanya baru kemarin masih musim semi, tapi
tanpa sadar musim panas sudah di depan mata."
"Aku merasa tahun lalu pun musim panas datang
tiba-tiba. Gara-gara persiapan Festival Besar Lion King, musim semi berlalu
dalam sekejap."
"Ah—… memang terasa seperti itu. Gara-gara itu juga,
jadwal ujian tengah semester tahun lalu sampai bergeser."
Ujian masuk saja sudah cukup menyulitkan, tapi setelah
masuk pun, ujian-ujian ini benar-benar membuat para murid pusing. Meski satu
kekacauan telah mereda, alasan mengapa mereka tidak bisa tenang sepenuhnya
tertumpuk di sana.
Begitu sampai di Erendil, aku akan mencoba membuka buku
referensi.
Ren memperkuat niatnya dalam hati, lalu menggumamkan
pemikiran itu pelan.
"Setidaknya, aku harus mencicilnya sedikit."
Itulah yang terjadi pada suatu malam, saat musim panas
kian mendekat.
◇◇◇
Dan kemudian──── pagi pun tiba.
Sudah berapa kali ia terbangun di kediaman Viscount
Clausel di Erendil ini?
Meski ia terbangun lebih awal dari biasanya, seiring
mendekatnya musim panas, matahari terbit lebih cepat dan di luar sudah sangat
terang.
Ren bangkit di atas tempat tidur dan meregangkan
tubuhnya sedikit, lalu melangkah ke depan jendela.
Di sana, tatapannya perlahan turun ke salah satu
lengannya.
"Lenganku juga, sepertinya sudah hampir tidak
apa-apa."
Sekarang rasa sakitnya sudah hampir hilang, dan jika
tidak diperhatikan dengan saksama, perbedaannya tidak akan terlihat. Namun,
sisa-sisa dari pertempuran di Windea masih tertinggal sedikit di sana.
Setelah memastikan hal itu, Ren mengembuskan napas pendek
lalu menyentuh kancing kemejanya.
Mari mandi untuk menyegarkan diri, lalu mulai
bersiap-siap pagi ini.
Sebab hari ini pun, pelajaran di akademi telah menanti.



Post a Comment