Bonus Khusus E-book
Cuplikan Cerita Awal Volume 2
『Taisho
Tim Siswa, Dugaan Kecurangan (Sisi Lain Turnamen Oryu-sen)』
Anonim
1
:
Penyebab kekalahan Sang Raja Oryu, Tenryu Kazuki, mulai memicu "dugaan
penggunaan software" oleh lawannya. Coba deh cek catatan pertandingannya
(kifu).
Anonim
2
:
Pembalikan keadaan yang tidak masuk akal itu ternyata karena hal semacam itu,
ya……
Anonim
3
: Waktu
pengorbanan Gajah (Kaku) itu aneh sekali, manusia tidak mungkin bisa melangkah
begitu.
Anonim
4
:
Rumornya, langkah pengorbanan Gajah itu memang langkah terbaik (best move)
menurut software Shogi.
Anonim
5
: Dengar
Tenryu kalah langsung cek kifu-nya, sumpah langkahnya asing sekali.
Anonim
6
:
Kualitas langkahnya dari pertengahan babak sudah tidak seperti manusia,
mendadak jadi jago sekali.
Anonim
7
: Apalagi
yang main "anak SMA tidak dikenal", itu yang paling mencurigakan.
Anonim
8
: Ini sih sudah level harus dilaporkan.
Anonim 9
: Pihak penyelenggara tidak punya kamera pengawas? Kalau pakai earphone atau trik saat ke
toilet, langsung diskualifikasi itu.
Anonim 10
: Pemain Shogi
pasti paham. Itu bukan langkah yang keluar di turnamen tingkat wilayah.
Anonim
11
:
Kifu-nya benar-benar seperti orang pakai software, mending diinvestigasi.
Anonim 12
: Lalu, siapa
nama pemain yang bermasalah itu?
Anonim 13
: >>12
Watanabe Masai.
◇
Turnamen Oryu-sen
tingkat wilayah telah berakhir, dan antusiasme kecil yang sempat membara di
wilayah Barat mendingin seketika bersamaan dengan terbitnya matahari.
Senin pagi buta.
Di sebuah sudut sempit di belakang gedung sekolah, Aoi Rena berdiri menyandar
pada dinding sembari memainkan ponselnya sendirian.
"……"
Ekspresi dengan
sorot mata dingin itu sangat jauh dari sosok Aoi yang biasanya. Kecantikan yang
biasanya ia hiasi dengan apik kini terasa sia-sia dan tak bermakna.
Suara
semak-semak yang bergesekan bergema. Hanya mata Aoi yang bereaksi cepat, dan ia
merasa lega di dalam hati saat melihat pria yang muncul dari sana.
"Wajahmu
seram sekali."
Siswa
laki-laki yang muncul itu adalah senior Aoi yang setingkat di atasnya—Sakuma
Hayato.
Hayato
mendengus melihat ekspresi dingin Aoi, tampak menunjukkan rasa jengah.
"……Ada
perlu apa?"
Aoi tidak
bergeming sedikit pun. Seolah-olah hal lain tidaklah penting, ia hanya
merespons fakta bahwa Hayato mengajaknya bicara.
Kepada
Aoi yang seperti itu, Hayato berkata dengan nada yang dibuat-buat.
"Aku
cuma ingin menyemangati junior yang baru saja beraksi hebat di turnamen."
"……Menjijikkan.
Jangan katakan hal yang bahkan tidak kamu pikirkan. Bagian dirimu yang seperti
itu benar-benar bikin merinding."
Saat Aoi
mengatakannya dengan nada mengusir, Hayato justru ikut tertawa.
Aoi memasukkan
ponselnya ke saku dan perlahan membungkukkan punggungnya. Sambil menautkan
kedua tangan di belakang punggung, ia memiringkan tubuhnya dan melemparkan
senyum menggoda yang misterius pada Hayato.
"Bukan
masalah, kan, apa pun yang kulakukan. —Toh kamu juga membencinya, kan?"
Hayato bersedekap
dan menjawab.
"……Benar,
aku membencinya dari lubuk hatiku yang terdalam."
Kata-kata yang
terucap itu mengandung emosi kecemburuan dan kebencian. Kebencian yang murni
itu terasa seperti kebenaran yang tak terbantahkan bahkan di mata orang lain.
"Kalau
begitu, 'menghilangnya dia' akan menguntungkanmu juga, kan?"
Dengan lagak
seperti iblis kecil, Aoi melanjutkan ucapannya.
"—Jangan
menghalangiku, ya?"
Hayato tidak
langsung menjawab pertanyaan itu. Setelah terdiam sejenak memikirkan sesuatu,
ia membuka mulut.
"……Bagiku,
selama klub ini bisa jadi juara nasional, aku tidak peduli cara apa pun yang
dipakai."
"Ahahaha.
Nasional? Kamu serius mengatakannya?"
"Aku
serius."
"Mustahil,
tahu."
Aoi menyemburkan
tawa seolah-olah hal itu konyol. Ia menertawakan kemungkinan yang dianggapnya
tidak mungkin terjadi.
Meski diprovokasi
seperti itu, Hayato tetap tenang dan membalas dengan tajam.
"Yah,
setidaknya itu lebih baik daripada apa yang sedang kamu rencanakan."
"……Kamu
bilang apa?"
"Tidak
ada. Lakukan sesukamu,
terserah apa yang ingin kamu lakukan pada orang itu—pada Watanabe Masai. Aku akan fokus memenangkan
turnamen tingkat prefektur nanti sekuat tenagaku."
"Hmm,
begitu ya. Berjuanglah."
Aoi
seolah tidak peduli lagi dan berniat meninggalkan tempat itu.
"Kalau
begitu, aku pergi dulu. —Apa?"
Di tengah jalan,
Aoi menoleh karena Hayato tampak masih ingin mengatakan sesuatu.
"Tidak, cuma
kupikir kalau kamu bisa bicara normal begitu, kenapa tidak dilakukan setiap
hari saja? Untuk apa kamu terus-menerus memakai topeng anak manis?"
"……Menyebalkan."
Mungkin karena
ucapan Hayato menyinggung perasaannya, Aoi tidak berkata apa-apa lagi dan
langsung berbalik pergi.
"Menyebalkan
katanya. Padahal aku ini seniormu, lho……"
Senin pagi, aku
menjalani keseharian seperti biasa.
Rasa lelah
setelah turnamen memang masih tersisa, tapi perasaan puas karena telah
menyelesaikannya jauh lebih besar.
"A-anu…… selamat pagi, Masai-senpai."
Di tengah jalan, aku mendengar suara Raizaki dan menoleh. Di
sana, Raizaki menyapa dengan wajah pucat pasi dan tampak kelelahan seolah
nyawanya baru saja diperas habis.
"Ah, selamat
pagi. Hebat ya kamu mau berangkat sekolah."
"Yah…… kan sudah janji……"
Setelah menjuarai Oryu-sen tingkat wilayah, kami
berhasil mendapatkan tiket ke tingkat prefektur dan menduduki posisi juara
wilayah.
Dan saat itu, Senior Takebayashi berkata begini:
『Di tingkat prefektur, kerja sama dan rasa percaya akan
jadi kunci yang lebih penting dari sebelumnya! Karena itu, sebelum saat itu tiba, mari kita memperdalam ikatan dan
bertarung sebagai satu kesatuan!』
Meskipun
kedengarannya agak seperti teori semangat belaka, intinya Senior Takebayashi
menetapkan tugas pertama bagi kami untuk saling akrab satu sama lain.
Tentu saja,
Raizaki yang sering bolos adalah pengecualian, dan kabarnya dia diperingatkan
keras oleh Senior Takebayashi agar setidaknya menampakkan diri di klub. Itulah
sebabnya sekarang dia berangkat sekolah sejak pagi begini.
"Suasanamu
sepertinya sedang rendah sekali, kamu tidak apa-apa?"
"A-ah, iya…… anu, kalau pagi memang semangatku selalu
rendah…… lalu kepalaku sakit……"
Raizaki
memaksakan senyum, mencoba menutupi rasa sakitnya.
Mungkin karena
terlalu fokus kemarin, atau sekadar kelelahan. Yah, meskipun baru di paruh
akhir turnamen, melepaskan konsentrasi sehebat itu secara terus-menerus pasti
akan membuat kepala pening.
Aku pun sedikit
merasa sakit kepala.
"Wah…… Raizaki yang waktu itu benar-benar seperti
penyihir, intinya auramu luar biasa hebat."
"Auh…… itu memalukan, tolong lupakan saja."
"Kenapa?
Kamu keren sekali, lho."
Begitu aku
mengatakannya, wajah Raizaki memerah padam dan ia memalingkan wajah.
"……Te-terima
kasih……"
Raizaki bergumam
dengan suara yang hampir menghilang.
Saat turnamen,
aku mencoba membuang segala pikiran kotor, tapi jika dilihat baik-baik dalam
balutan seragam sekolah begini, dia benar-benar gadis cantik yang mirip boneka.
Memang tidak baik
menilai orang dari penampilan, tapi dia sangat menarik sampai aku merasa sayang
kalau dia terus-menerus bolos sekolah.
"……Ngomong-ngomong,
hari ini jadwal pertandingan perorangan Oryu-sen, ya?"
"Iya,
sepertinya Tojo-senpai yang turun."
Meskipun ini hari
Senin, turnamen Oryu-sen tingkat wilayah masih berlanjut. Hari Minggu
untuk pertandingan tim, dan Senin untuk pertandingan perorangan.
Tojo mewakili SMA
Nishigasaki seorang diri di kategori tersebut. Aku iri dia bisa izin sekolah
secara resmi, tapi bertarung sendirian di tengah kesepian pasti punya rasa
beratnya sendiri.
Apalagi
setelah pertandingan tim baru saja berakhir.
"Kita
memang tidak bisa ikut kali ini, tapi karena sudah juara di kategori tim, kita
bisa berpartisipasi di pertandingan perorangan berikutnya."
"Raizaki,
kalau nanti ada pertandingan perorangan lagi, apa kamu berniat ikut?"
"Tentu saja.
Berkat Masai-senpai, aku berhasil melampaui batasku. Aku ingin menguji sejauh
mana kemampuanku sekarang."
Benar-benar
Raizaki. Semangat belajarnya tinggi dan potensi pertumbuhannya besar. Aku juga
tidak boleh bersantai.
"……Maaf. Aku
mau mampir ke minimarket sebentar untuk beli obat sakit kepala, jadi sampai
nanti."
"Benar tidak
apa-apa? Kalau parah lebih baik istirahat saja……"
"Tidak,
selama ini aku sudah terlalu sering memanjakan diri dengan membolos, jadi kali
ini aku akan memaksakan diri untuk tetap masuk sekolah."
Tekad yang kuat.
Raizaki punya sisi keras kepala dalam artian yang positif.
"Baiklah.
Sampai nanti."
"Iya!"
Begitulah, aku
berpisah dengan Raizaki dan berjalan lebih dulu menuju sekolah.
Setelah berpisah
dengan Masai-senpai di depan sekolah, aku tidak menuju minimarket melainkan
duduk di bangku terdekat.
Lalu, aku
mengeluarkan ponsel dan mulai bermain Shogi online.
(……Padahal
sebenarnya aku cuma ingin berangkat bareng, tapi kalau aku bilang begitu pasti
dia akan marah.)
Memang benar
kepalaku sakit, dan memang benar setelah ini aku akan ke sekolah.
Tapi, tanganku
sudah telanjur terbiasa memulai pertandingan.
(Ah, Dan 6……
dulu dia adalah lawan yang akan membuatku kesulitan.)
Lawan yang
terpilih adalah pemain tingkat tinggi yang berada di jajaran peringkat atas
yang sama denganku.
Khususnya di
rentang Dan 5 hingga Dan 7, area itu dijuluki "Sarang
Iblis". Banyak orang pintar yang selalu menggunakan strategi dan teknik
terbaru untuk bertarung.
Kecuali para
monster di atas Dan 8, area ini adalah rintangan tersulit. Kenyataannya,
aku pun sulit keluar dari Dan 7.
──Namun,
aku pun mengalami titik balik.
Turnamen
tingkat wilayah kemarin. Masai-senpai memberikan dorongan lembut padaku yang
sebelumnya tidak mampu memecahkan cangkang pelindungku.
Sensasi
tenggelam dalam pemikiran yang tajam, perasaan mahatahu saat membaca langkah
secara tidak sadar. Perasaan
itu masih membekas di tubuhku bahkan setelah berganti hari.
Bagi aku
yang sekarang, pemain tingkat tinggi bukan lagi hal yang menakutkan.
Langkah
kesepuluh, kedua puluh, ketiga puluh. Akurasi langkahku yang kian meningkat
terasa sangat menyenangkan. Pertumbuhan yang biasanya tidak terasa, kini
perlahan-lahan meresap di saat ini.
Aku tidak
ingat sudah berapa lama waktu berlalu.
Sadar-sadar,
di layar ponselku hanya terpampang tulisan kemenangan.
"──Kamu
kuat, ya."
"Hyaaaa!?"
Punggungku
menegang seketika. Karena disapa tiba-tiba dari belakang, ponsel yang kupegang
hampir saja terjatuh.
Saat aku
menoleh, berdiri seorang wanita berambut putih dengan penampilan muda…… namun
sepertinya belum menginjak usia dua puluh tahun.
Wanita
itu menyandarkan tangannya pada sandaran bangku, mencondongkan tubuhnya seolah
meluncur dan mengintip layar ponselku.
Mungkin saja dia
melihat pertandinganku tadi.
"Aduh, maaf,
ya. Apa aku mengejutkanmu?"
"Si-siapa
Anda……?"
"Cuma
kakak-kakak yang kebetulan lewat."
"……"
Terlalu imut
untuk disebut misterius, namun terlalu menggoda untuk disebut kekanak-kanakan.
Wanita yang mengaku sebagai "kakak-kakak yang kebetulan lewat" itu
mendekatkan wajahnya ke arahku dengan senyum lembut.
Aku tersentak
saat melihat mata yang tersembunyi di balik bayang-bayang poni rambut putihnya
yang berkilau.
(Eh, heterochromia……?)
Mata merah gelap
yang seolah akan menarikku ke dalam jurang, dan mata perak indah yang tidak
memancarkan cahaya emosi. Warna-warna yang membentuk dirinya terasa sangat
mencolok, seolah bunga beracun yang sedang mekar dengan liar.
"Wah, Kakugawari
(Pertukaran Gajah)? Khas anak zaman sekarang, ya."
Wanita itu duduk
di bangku di sampingku, mengalihkan pandangannya ke layar ponsel.
Lalu, ia menunjuk
ke arah layar melalui sarung tangan putihnya.
"Target
untuk lompatan Kuda (Keima)."
"……Anda
mengerti?"
"Iya, kalau
Perak (Gin) ditarik mundur, kamu bisa melibatkan pinggiran papan dan
langsung memulai perang. Itu terasa cukup menyenangkan, kan? Bidak Gajah yang
tadinya tidak terpakai jadi bisa berfungsi sekaligus."
Mataku
berbinar mendengar perkataan yang tidak terduga itu.
Riset
adalah sesuatu yang tidak dimengerti oleh siapa pun, sesuatu yang seharusnya
tidak dimengerti. Lawan yang dihadapi selalu musuh, dan tidak ada orang yang
akan memujimu dari samping.
Padahal
begitu, dia langsung memahaminya hanya dengan sekali lihat.
"Jangan-jangan,
Kakugawari adalah strategi andalan Anda?"
"Hmm."
Saat aku
bertanya, ia menempelkan jari di dagunya, tampak berpikir seolah sedang
menggali ingatan masa lalu.
Sepertinya ia
teringat sesuatu, lalu memiringkan kepalanya sedikit dan berkata:
"Sepertinya
aku belum pernah melakukannya sekali pun."
"……Eh?"
Aku tidak
mengerti maksudnya.
"Tapi
tadi, cara bicara Anda seolah-olah pernah melakukannya……"
"Aku hanya
teringat kenalanku yang pernah melakukannya, kok. Aku sendiri tidak terlalu paham soal
Shogi."
Aku
terkejut mendengarnya.
"Eh,
Anda tidak main Shogi?"
"Main,
kok. Cuma, aku tidak terlalu memahaminya. Sama sepertimu."
Dengan
perubahan nada bicara, ia tiba-tiba melontarkan pernyataan yang bernada
provokasi. Meski begitu, setelah mencerna kata-katanya, aku mulai merasakan
bahwa dia memang seorang pemula dalam Shogi.
Lalu, kata-kata
yang terlintas di benakku keluar begitu saja dari mulutku.
"……Heh,
begitu ya."
──Ah, kenapa saat
itu aku tidak menyadari "kejanggalan" di mana aku bisa mengobrol
dengannya secara "alami".
Tanganku terulur
ke arah bunga beracun itu──.
"Kalau
begitu, mau mencoba bertanding satu babak denganku?"
"……Denganmu?
Aku?"
"Iya.
Ah, aku akan buatkan ruangan yang tidak perlu akun, jadi asal ada ponsel kita
bisa langsung mulai."
Mendengar
kata-kataku, wanita itu tampak berpikir sejenak.
"……Lagipula,
kalau bertanding denganku, mungkin Anda bisa sedikit lebih memahami Shogi,
kan?"
Aku
mengatakannya sambil tersenyum.
Aku tidak
marah. Hanya saja, karena dia menganggap seolah-olah aku tidak memahami Shogi
sama sekali, aku hanya ingin dia sedikit mengoreksi pendapatnya itu.
"Begitu ya.
Kalau begitu, izinkan aku minta satu babak saja."
Wanita itu hanya
mengangkat sudut bibirnya. Entah dari mana asalnya, dalam sekejap mata ia sudah
memegang ponsel dan memulai pertandingan denganku.
Bonus E-book:
Cerita Pendek Tambahan
Hal-hal yang Hanya
Bisa Diucapkan oleh Orang Asing
Aku melangkah menyusuri koridor sepulang sekolah menuju
ruang klub, seolah menyeret sisa-sisa semburat senja yang masuk melalui
jendela.
Sesekali aku melirik ke luar jendela, melihat sosok para
murid yang melintas jarang di balik gerbang sekolah dalam perjalanan pulang.
Sampai beberapa hari yang lalu, aku pun merupakan salah satu
dari bagian arus tersebut.
(Aku jadi makin sering main Shogi, ya……)
Sekarang aku sudah menjadi anggota resmi klub Shogi. Bahkan
belakangan ini, hari-hariku diisi dengan mengajari Tojo bermain Shogi setiap
jam istirahat makan siang.
Bagi aku yang biasanya langsung pulang ke rumah untuk
tenggelam dalam riset, keseharian yang mendadak sibuk ini terasa sangat segar.
Aku
sampai di depan ruang klub. Pintunya tidak terkunci, sepertinya Senior
Takebayashi sudah datang lebih dulu dan membukakannya.
"Ta-ta-ta~♪"
Tiba-tiba,
terdengar suara Aoi yang sedang bersenandung riang sambil menaiki anak tangga.
"Halo,
Mikado-cchi~!"
"O-oh, halo.
Eh, tunggu sebentar—"
Kira-kira Aoi
hanya akan mendekat sambil melambaikan tangan dengan langkah ringan, tapi dia
malah merangkulkan lengannya ke bahuku tanpa izin, lalu menyeret aku masuk ke
dalam ruang klub.
"Mikado-cchi,
kenapa wajahmu gelap begitu~? Apa ada sesuatu yang sedang kamu pikirkan~?"
"Tidak,
bukan apa-apa……"
"Apaan sih~!
Kita kan sudah akrab," sahut Aoi sambil menempelkan dadanya padaku seolah
itu hal yang wajar.
"Turnamen Oryu-sen
sudah makin dekat, jadi aku agak tegang."
"Aaah!
Mikado-cchi kan jadi Taisho! Tanggung jawabnya besar banget, ya……"
Sambil
tetap memegang kedua bahuku, Aoi membimbingku menuju kursiku dalam posisi yang
masih menempel itu.
"Aoi juga
paham perasaan itu kok~. Waktu pertama kali ikut turnamen, seluruh tubuhku
gemetaran sampai tidak bisa memegang bidak dengan benar!"
"Mana
mungkin."
"Nyahaha~,
beneran lho!"
Tanpa sadar aku
sudah didudukkan di kursi, dan Aoi langsung menekan tombol power
komputerku tanpa permisi.
"Oke,
komputer switch on~!"
"……Anu, dari
tadi dadamu terasa menempel, lho."
"Eh~? Apa
maksudnya~? Aoi kan gadis lugu, jadi tidak paham hal begitu~"
Aoi mendekatkan
wajahnya sampai menutup ruang gerakku untuk kabur, lalu tertawa tanpa rasa
bersalah.
Dasar iblis
kecil. Tapi dia memang manis, sih.
"Mikado-cchi
biasanya belajar Shogi di rumah, ya?"
"Dasarnya
aku memang lebih sering melakukan riset di rumah."
"Kalau
begitu, pengalaman main Shogi-mu sepertinya sudah cukup lama, ya? Kenapa
baru sekarang ikut turnamen?"
"Itu…… kenapa ya. Aku lupa."
"Eeeh!"
Aku sendiri merasa jawabanku tadi sangat ambigu, tapi Aoi
tidak mendesakku lebih jauh. Sebaliknya, dia justru mencondongkan tubuhnya
dengan raut wajah tertarik.
"Aoi begini-begini juga punya keyakinan kuat dalam
bermain Shogi, lho~? Aku tidak akan memberitahu alasannya, tapi gairahku pasti
lebih besar dibanding Mikado-cchi!"
"Begitu ya.
Kalau begitu, kita harus berjuang keras di turnamen nanti."
Mendengar
kata-kataku, ekspresi Aoi berubah menjadi rumit. Aku tidak sedang menoleh ke
arahnya.
Namun, aku
kebetulan melihat pantulan wajahnya saat layar monitor masih gelap.
"……Aoi,
sebenarnya ingin jadi Taisho?"
"Eh?"
Aku tidak
bermaksud buruk. Itu hanya
pertanyaan spontan yang terlontar begitu saja.
Lalu sekejap.
Benar-benar hanya sekejap, cengkeraman tangan Aoi di bahuku mengeras.
"Maksudku secara kemampuan…… kalau Tojo-san mundur,
kupikir Aoi yang akan punya kesempatan."
Berdasarkan cerita Senior Takebayashi, kemampuan Aoi adalah
yang kedua di klub. Jika Tojo adalah
yang pertama, maka saat Tojo menyerahkan posisi Taisho padaku, dia
praktis melepaskan posisi itu.
Jadi, tidak aneh
jika Aoi ingin menjadi Taisho seperti halnya Sakuma bersaudara.
"Aduh,
Senpai. Aoi kan masih kelas satu~?"
Aoi mengerjapkan
mata, lalu menghela napas sambil mengedikkan bahu.
Tunggu, barusan
dia memanggilku "Senpai"? Bukan Mikado-cchi?
"Memang aku
terkejut waktu Tojo-senpai melepaskan posisi Taisho, tapi aku sama
sekali tidak pernah berpikir kalau Aoi yang akan terpilih."
Aoi mengklik ikon
perangkat lunak Shogi di layar dan membuka catatan riset yang tersimpan di data
klub.
"Posisi Taisho
harus diisi oleh orang yang kuat."
Suara Aoi
merendah, mengandung makna yang tersirat.
Apakah
aku benar-benar termasuk ke dalam golongan "orang yang kuat" yang dia
maksud?
"Mikado-cchi,
menurutmu seberapa jauh kita bisa melangkah di Oryu-sen nanti?"
"Seberapa jauh ya…… aku bahkan belum sepenuhnya paham
kemampuan semua orang, jangan tanya hal yang sulit dong……"
"Yah, benar juga sih. Mikado-cchi kan masih anggota
baru."
Ini bukan pertandingan perorangan, melainkan pertandingan
tim. Meskipun aku tahu kemampuanku sendiri, aku benar-benar tidak bisa
memprediksi hasilnya nanti.
"Tapi, aku
ingin kita jadi juara."
Aku menoleh dan
mengatakannya dengan tegas.
Sepertinya aku
melihat alis Aoi sedikit berkedut.
"Juara
tingkat wilayah?"
Aku
menggeleng.
"Tingkat
prefektur?"
Sekali
lagi, aku menggeleng.
"……Jangan
terlalu tinggi hati, lho."
"Kalau
tidak melihat ke atas, kita tidak akan pernah bisa membidik puncak. Menurutku,
kalau kita tidak berani bermimpi tinggi, kita tidak akan bisa menghasilkan
sesuatu yang melampaui harapan."
Mungkin karena
kata-kataku tadi tidak terduga, Aoi mendadak kehilangan kata-kata.
Lalu, dia membuka
bibirnya yang sempat terkatup rapat.
"Mikado-cchi,
ternyata kamu murni sekali, ya."
"Murni
apa……"
Tiba-tiba
dianggap polos. Kata-kata itu terasa menusuk bagi aku yang merasa diriku penuh
kegelapan.
"……Benar
juga, ya. Aoi juga berharap bisa seperti itu. Kupikir setidaknya satu jalan
menuju ke sana memang sebaiknya ada."
Cara bicaranya
berbelit-belit.
Aku tidak bisa
melihat apa yang ada di balik sorot mata Aoi yang menyipit melalui pantulan
layar LCD.
"Mikado-cchi…… apakah kamu…… menyayangi
keluargamu?"
Aku memiringkan kepala mendengar pertanyaan yang tidak jelas
arahnya itu.
"Keluarga?"
"Iya, keluarga. Karena itu Mikado-cchi, sepertinya kamu
tipe orang yang pendiam bahkan di depan keluarga, ya~. Ah, omong-omong
Mikado-cchi punya saudara? Atau jangan-jangan anak tunggal?"
Mendengar
ocehan Aoi yang terus mengalir, aku hanya mengembuskan napas datar.
Keluarga.
Keluarga, ya—ah, sudah berapa lama sejak terakhir kali aku mendengar kata itu?
Sambil merasakan
sorot mata Aoi yang mulai diwarnai rasa penyesalan, aku membuka mulut.
"…………Benar,
aku—"
Justru dia yang
melontarkan pertanyaan yang tampak ketakutan akan jawabannya. Matanya
membelalak.
Seketika, seolah
ingin memutus suasana tegang yang mulai menyelimuti, Aoi berseru dengan gerak
tubuh yang dibuat-buat.
"Aah, gawat!
Aku lupa ada barang yang tertinggal di kelas! Maaf Mikado-cchi, aku ambil dulu
sebentar!"
"—Iya,
hati-hati."
Aku membiarkannya
pergi tanpa berusaha menghentikannya, melihat punggung Aoi yang menjauh seolah
sedang melarikan diri.
Andaikata
percakapan tadi berlanjut, apakah aku akan sanggup mengatakannya?
"……Aku tidak punya keluarga."



Post a Comment