Penerjemah: Chesky Aseka
Proffreader: Chesky Aseka
Chapter 3
Putri yang Mengungsi
Bagian 1
Ibu kota Negara Bagian, Kohl.
Di dalam hutan yang terletak agak jauh dari sana, berdiri sebuah rumah besar tua.
Dahulu rumah itu milik seorang bangsawan, tetapi kini telah dibeli dan ditempati oleh seseorang.
“Kakek!”
Mia yang baru kembali ke rumah besar itu memanggil sang pemilik rumah.
Dari tangga, seorang lelaki tua bertubuh besar turun sambil menopang diri dengan tongkat, raut wajahnya menunjukkan kelelahan bercampur keheranan.
“Ada apa, Mia? Ribut sekali.”
“Ini bukan saatnya bersikap tenang!”
Sambil berkata begitu, Mia merapat ke sisi lelaki tua itu dan membantu menuruni tangga.
Nama lelaki tua itu Travis.
Dia guru panah sihir Mia sekaligus pemilik rumah besar tersebut.
Dulu, Travis adalah seorang pejuang terkenal yang menggunakan busur sihir, namun usia membuatnya tidak lagi mampu bertarung di garis depan.
Rumah besar ini dibelinya setelah pensiun, dan di sinilah Travis merawat anak-anak yatim piatu.
“Ada apa sebenarnya?”
“Putri Negara Bagian akan mengungsi ke Kekaisaran. Aku akan bekerja sama dengannya dan ikut menuju ke sana. Kakek dan yang lain juga harus bersiap-siap.”
“Kamu memutuskan perkara sebesar itu sendirian saja...”
Travis menghela napas panjang, lalu setelah berpikir sejenak, dia mengalihkan pandangannya ke belakang.
Di sana berdiri seorang bocah laki-laki, kira-kira berusia awal belasan tahun.
Rambut merahnya kusam, matanya menyipit tajam, memberi kesan keras kepala.
“Kurang ajar” seolah pas melekat padanya.
“Ted. Suruh anak-anak bersiap untuk pergi.”
“Boleh sih... tapi putri itu yang mau ditolong Kak Mia?”
“Benar. Putri itu memikirkan rakyat.”
“Bangsawan, keluarga kerajaan, semuanya sama saja. Kak Mia yang terlalu baik hati cuma dimanfaatkan.”
“Aku percaya pada kemampuanku menilai orang! Berprasangka seperti itu tidak baik!”
“Bukan prasangka. Pengalaman nyata.”
“Kalau begitu, aku juga bicara dari pengalaman! Aku tahu bahwa bangsawan dan keluarga kerajaan itu beragam, tiap orang berbeda!”
“Aku tidak tahu soal itu. Padahal aku sudah melihat banyak.”
Dengan berkata demikian, Ted pun pergi meninggalkan tempat itu.
Dia menuju ruangan lain untuk menyuruh anak-anak bersiap.
“Masa pemberontakan!?”
“Tidak bisa dihindari... anak itu hanya mengenal negeri ini saja.”
“Kalau pergi ke Kekaisaran, dia pasti sadar bahwa dunia itu luas! Ted anak yang pintar, ini kesempatan yang bagus! Sekalian saja kita pindah ke Kekaisaran!”
“Tidak sesederhana itu...”
“Tidak apa-apa! Di sana aku punya kenalan!”
“Pangeran yang sedang jadi buah bibir itu ya... katanya dia diangkat menjadi Wakil Penguasa Wilayah Utara.”
“Itu yang aneh! Seharusnya dia pemalas... jangan-jangan tiba-tiba dia sadar akan pentingnya kerja keras!? Badai kemarin itu gara-gara dia juga!?”
“Mana mungkin... sudahlah. Soal lain kita bicarakan nanti. Sekarang fokus dengan yang ada di depan mata.”
Sambil berkata begitu, Travis berjalan menuju ruangannya dengan bertumpu pada tongkat.
Mia mengikutinya, lalu membantu Travis duduk perlahan di kursi.
“Lalu? Ke mana tujuanmu?”
“Ke wilayah Marquis Percival.”
“Pasti akan ada pengejar dari ibu kota, bukan?”
“Masalah itu aku serahkan pada orang yang benar-benar ahli. Setidaknya, aku mengakui kemampuannya.”
“Oh? Dari cara bicaramu, sepertinya dia lebih hebat darimu?”
“Jauh lebih kuat dariku. Tapi justru karena itu aku tidak mengerti kenapa dia memakai topeng dan repot-repot mengganggu Negara Bagian.”
“Bandit dermawan yang satu lagi, ya. Dilihat dari waktu kemunculannya, bisa jadi orang Kekaisaran.”
“Itu tidak penting. Dari mana pun asalnya, yang jelas dia tidak bermusuhan.”
Bagi Mia, yang terpenting adalah orang itu bukan musuh.
Apa pun tujuannya, selama orang itu tidak berniat jahat dan mau bekerja sama, itu bukan masalah.
Berpikir terlalu dalam hanya membuang waktu, dan tidak perlu diselidiki lebih jauh.
Kalau Ted mendengar cara berpikir itu, mungkin dia akan menyebutnya naif.
Namun, Mia memang jenis orang yang merasa itu sudah cukup.
“Putri itu benar-benar akan mengungsi ke Kekaisaran?”
“Benar. Dia tidak berbohong, dan tampaknya sang raja sendiri mengawasinya.”
“Putri yang lama dijadikan sandera di Persatuan Kerajaan justru tidak terpengaruh oleh negara yang tertutup ini. Ironis.”
“Kesimpulan sang putri adalah bahwa perubahan dari dalam sudah mustahil.”
“Aku sepakat. Sama seperti kejahatan yang tidak berhenti meski kamu menyerang para bangsawan, sekeras apa pun sang putri bersuara, raja dan bangsawan takkan berubah.”
Travis menghela napas dalam-dalam.
Negara Bagian memang selalu seperti itu.
Dia datang ke negeri ini untuk menyelamatkan anak-anak, tetapi jumlah yang bisa diselamatkan tidak seberapa.
Satu-satunya cara adalah menghancurkannya.
Namun jika dihancurkan, korban pasti akan jatuh.
“Perang... Tidak, ini mengarah ke invasi.”
“Aku dan Pangeran Arnold sudah berjanji. Keselamatan rakyat akan dijamin.”
“Pangeran memang memegang kendali wilayah utara, tapi yang memimpin penyerangan adalah Putri Jenderal, Marsekal Lizelotte. Dan Negara Bagian adalah negara yang menyebabkan kematian Putra Mahkota. Mereka akan menyerang dengan dalih membalas dendam. Tidak peduli sekeras apa pun pangeran berseru, kalau marsekal, kesatria, dan prajurit di garis depan tidak mendengarkan, sia-sia saja.”
“Percuma bersikap pesimis. Lagipula, pangeran itu tipe orang yang akan menepati janji, meski hanya janji lisan yang sepele.”
Tidak ada dokumen, tidak ada jaminan apa pun.
Tidak ada yang dipertaruhkan.
Yang bisa hilang hanyalah kepercayaan rakyat jelata dari negara lain.
Meski begitu, Mia yakin pangeran itu akan mengerahkan segalanya.
Dia percaya pada penilaiannya terhadap manusia.
Pangeran itu bukan orang yang bisa memaafkan dirinya sendiri jika mengingkari janjinya.
Dia akan sanggup menahan cercaan apa pun.
Bahkan bisa berpura-pura tidak peduli.
Namun, pada hal-hal yang diyakininya, dia takkan berkompromi.
Begitulah sosok Arnold yang dikenal Mia.
“Kamu membelanya habis-habisan, ya?”
“Dia memang orang yang membuat siapa pun ingin membelanya. Kakek juga akan paham kalau bertemu dengannya. Ted juga, pasti.”
Sambil tersenyum, Mia pun mulai mengemasi barang-barangnya.
Pengungsian sang putri akan dilakukan tiga hari lagi.
Saat itu, mereka sudah harus berada di wilayah Marquis Percival.
Untungnya, uang bukan masalah.
Hampir semua uang yang diberikan Arnold masih disimpan Mia, hanya dipakai untuk membelikan hadiah bagi anak-anak.
Uang yang disimpannya untuk berjaga-jaga akhirnya berguna sekarang.
“Aku akan menyebarkan uang untuk mengarahkan pergerakan rakyat. Sang putri berniat menuntut penerimaan rakyat sebagai imbalan atas pengungsiannya.”
“Tindakan yang nekat... tapi jika banyak rakyat yang bergerak, pergerakan sang putri pun akan tersamarkan. Sebagai siasat, itu tidak buruk.”
“Penafsiran orang berbeda-beda. Yang penting, kita kumpulkan orang-orang di wilayah Marquis Percival. Begitu Putri berhasil mengungsi, Kekaisaran pasti segera bergerak. Menurutku, rakyat yang akan dilindungi sebaiknya berada sedekat mungkin.”
“Namun... bagaimana dengan pasukan Negara Bagian yang sedang berhadapan langsung dengan tentara Kekaisaran di perbatasan? Meski pasukan dari ibu kota bisa dicegah, kalau ada unit yang keluar dari pasukan itu, mereka akan mengejar dari belakang.”
“Kita tentu berharap tentara Kekaisaran yang menahan mereka... tapi kalau tidak bisa, aku sendiri yang harus menghentikannya.”
“...Jangan memaksakan diri terlalu jauh.”
“Tidak apa-apa. Aku memiliki busur sihir warisan dari Kakek.”
Sambil berkata demikian, Mia pun tersenyum.
Bagian 2
Dunia ini selalu kejam.
Sambil memikirkan hal itu, Ted memandang jalan di depannya.
Jalan menuju wilayah Marquis Percival.
Mereka bergerak dengan beberapa kereta kuda.
Dua belas anak yang diasuh Travis, termasuk Ted, meninggalkan rumah besar itu hanya dengan membawa satu tas masing-masing.
Ada anak-anak yang enggan pergi. Bagi mereka, rumah besar itu adalah tempat berlindung, tempat paling menenangkan.
Ted pun mengerti perasaan itu.
Di jalan yang terlihat dari jendela kereta, banyak orang berdiri.
Para pengemis.
Setiap beberapa meter, orang-orang yang mengenakan pakaian compang-camping mengangkat keranjang kecil.
Mereka hidup dengan menggantungkan diri pada belas kasihan orang lain.
Sampai dia dilindungi, Ted pun pernah berada di sisi itu.
Ted berasal dari sebuah kota di perbatasan. Gang-gang gelap dan lembap adalah rumahnya.
Dia bahkan tidak tahu wajah orang tuanya. Saat dia sadar, dia sudah ada di sana.
Seorang anak hanya bisa mengemis. Pencurian adalah ranah orang-orang dewasa, dengan wilayah kekuasaan masing-masing. Jika melanggarnya, kamu akan dibunuh.
Ted telah berkali-kali menyaksikan anak-anak yang tidak tahan lapar lalu mencuri makanan di wilayah orang lain, dan akhirnya dibunuh.
Dia tidak boleh mati.
Karena itu, demi bertahan hidup, dia melakukan apa pun.
Awalnya dia mengemis.
Lalu dia belajar mencuri sambil mengalihkan kesalahan pada orang lain.
Ketika itu terjadi, semua orang mulai saling mencurigai.
Yang terjadi kemudian adalah perebutan kekuasaan. Yang lemah akan dibunuh.
Begitu itu terjadi, wilayah pun menjadi kosong.
Tanpa dia sadari, Ted telah memimpin beberapa orang dan akhirnya memiliki satu wilayah sendiri.
“Kakak Ted lagi lihat apa?”
“Tidak apa-apa.”
Sambil berkata demikian, Ted mengelus kepala gadis yang duduk di sebelahnya.
Nama gadis itu Patty.
Walau tidak memiliki hubungan darah, dia hidup bersama Ted di gang-gang itu.
Sekarang dia baru saja berusia delapan tahun.
Akhirnya, kehidupan tragis di lorong belakang mulai menjadi kenangan yang jauh.
Karena itu, Ted tidak pernah membiarkan Patty melihat ke luar.
“Aku bacakan buku gambar yang dibelikan Kak Mia, ya.”
“Benarkah!?”
Ted dan Patty dilindungi Travis lima tahun yang lalu.
Mungkin karena hujan yang turun terus-menerus, Patty jatuh sakit, dan Ted meminta pertolongan ke mana pun dia bisa, memohon agar ada yang mau mengobatinya.
Pertama, dia mendatangi seorang tabib. Dia ditolak karena tidak punya uang.
Berikutnya, rumah orang kaya. Dia diusir dengan kata-kata agar orang miskin tidak mendekat.
Terakhir, seorang bangsawan. Tanpa sepatah kata pun, dia dipukul hingga terlempar.
Namun Ted tetap berlari ke seluruh penjuru kota.
Dia terus berlari meski tubuhnya berlumur lumpur.
Dia terus menunduk sampai kepalanya berdarah.
Meski begitu, tidak seorang pun menolong.
Saat dia memeluk Patty yang tampak kesakitan, tercekik oleh rasa tidak berdaya.
Seorang gadis datang sambil membawa payung, dengan suara yang terdengar santai.
“Kamu kenapa?”
Gadis dengan cara bicara yang aneh itu segera menyadari ada yang tidak beres pada Patty, lalu dengan panik memanggil Travis yang berada di dekatnya.
Setelah itu, semuanya terjadi dalam sekejap.
Mereka dinaikkan ke kereta yang disiapkan Travis dan dibawa ke tabib.
Tempat itu adalah tabib pertama yang sebelumnya dimintai tolong oleh Ted.
Tabib yang berkata tidak bisa berbuat apa-apa tanpa uang awalnya menunjukkan wajah tidak senang saat Travis membawa Ted, namun begitu Travis mengeluarkan koin emas, sikapnya berubah drastis.
Dia langsung bersikap seolah-olah menghadapi anak bangsawan, dan segera menangani Patty.
Saat Patty mulai pulih, Travis entah sejak kapan telah mengumpulkan anak-anak yang hidup di gang.
Dia menanyakan apakah mereka mau tinggal bersamanya, dan ketika semuanya mengangguk, dia tersenyum lebar lalu membawa mereka ke rumah besarnya.
Sejak itu, dia berulang kali menampung anak-anak lain, dan anak-anak yang telah mencapai usia tertentu dikirim keluar dari Negara Bagian melalui kenalan Travis.
Karena di Negara Bagian ini, tidak ada tempat untuk belajar bela diri maupun ilmu pengetahuan.
Sebenarnya, Ted pun sudah berada di usia untuk meninggalkan rumah besar itu. Namun karena kondisi Travis yang belakangan kurang baik dan Mia yang sibuk, dia tetap tinggal untuk membantu mengurus anak-anak.
“Hei, Kak Ted.”
“Hmm?”
“Kita mau ke mana sekarang?”
Ted ragu bagaimana harus menjawab.
Karena dia sendiri tidak tahu apa yang akan terjadi pada akhirnya.
Mereka menuju wilayah Marquis Percival, lalu setelah berhasil mengantarkan sang putri ke Kekaisaran dengan selamat, apa yang akan terjadi?
Membantu pengungsian sang putri tidak memberi keuntungan apa pun bagi mereka.
Bahkan, mereka justru kehilangan tempat tinggal.
Sejak awal, hanya karena terlibat dengan Mia saja sudah berbahaya, apalagi membantu pengungsian seorang putri, itu berarti dianggap musuh oleh seluruh Negara Bagian.
Itulah sebabnya mereka kini melarikan diri.
Namun Ted tidak bisa menyalahkan Mia maupun Travis.
Kebaikan merekalah yang telah menyelamatkan dirinya dan Patty.
Yang salah adalah negara ini.
Negara kejam yang tidak memberi ruang bagi orang baik.
“...Kak Ted?”
“Ah, kita akan pergi sampai dekat perbatasan. Setelah itu... entahlah. Anggap saja kejutan setelah kita sampai.”
“Hah!? Ada sesuatu yang seru?”
Patty tersenyum gembira.
Di sampingnya, Ted menghela napas kecil.
Jika seandainya sang putri hanya memanfaatkan Mia.
Mereka bisa saja dijadikan pion buangan.
Tentu saja Travis mungkin sudah memperhitungkan hal itu, tetapi jika memang begitu, perjalanan pelarian yang berat akan dimulai.
Bukan berarti dia membencinya.
Dia hanya bisa menerimanya sebagai sesuatu yang tidak terelakkan.
Namun, yang tidak ingin dia lihat adalah Mia dan Travis terluka karena kebaikan mereka dikhianati.
“Seharusnya mereka tidak mempercayai bangsawan atau keluarga kerajaan...”
Sambil berbisik pelan demikian, Ted membalik halaman buku gambar untuk Patty.
* * *
Ruang takhta Istana Pedang Kaisar.
Di sanalah Kaisar Johannes menerima laporan dari Kanselir.
“Demikian laporan kami. Jika berjalan lancar, invasi ke Negara Bagian diperkirakan akan dimulai sekitar satu minggu lagi.”
“Kerja bagus. Selebihnya tergantung pada Lizelotte.”
“...Paduka. Mengapa Paduka menyerahkan invasi Negara Bagian kepada Nona Lizelotte?”
“Kamu menentangnya, bukan? Tidak biasa bagimu mengungkit kembali keputusan yang sudah ditetapkan.”
“Saya hanya ingin mengetahui maksud dari Paduka. Menyerahkannya kepada Nona Lizelotte penuh dengan kerugian. Meski begitu, karena Paduka sangat menginginkannya, saya menerimanya. Namun ketika penutup dibuka, ternyata kekuatan militer dalam jumlah besar justru terkonsentrasi di wilayah utara. Saya semula mengira operasi ini akan dilakukan dengan pasukan terbatas.”
“Jadi kamu mengira itulah alasan dipilihnya Lizelotte?”
“Benar. Dengan segala hormat... dengan kekuatan sebesar itu, siapa pun bisa menaklukkan Negara Bagian. Jika Paduka sudah mengizinkan Duke Reinfeld memimpin para kesatria untuk mendukung wilayah utara, bukankah lebih baik sekalian menyerahkan invasi itu kepadanya? Atau ada juga pilihan untuk membiarkan Pangeran Arnold memimpin pasukan.”
“Kekaisaran Suci tidak bergerak, dan semakin besar kekuatan, semakin baik. Jika Lizelotte menaklukkan Negara Bagian, target berikutnya adalah Kerajaan Perlan. Bahkan kita bisa langsung menyerbunya.”
“Saya memahami hal tersebut. Namun, Nona Lizelotte... ada masalah yang sangat serius.”
Melihat Kanselir yang kali ini begitu bersikeras, Johannes tersenyum kecut.
Dia tahu alasannya.
“Lizelotte masih belum bisa melupakan kematian Putra Mahkota. Kamu khawatir dia akan bertindak di luar kendali, begitu?”
“Tepat sekali. Dan Paduka telah melemparkan seluruh tanggung jawab kepada Pangeran Arnold. Jika Nona Lizelotte benar-benar lepas kendali, maka Pangeran Arnold-lah yang akan menanggung akibatnya. Apa sebenarnya maksud Paduka? Pangeran Arnold telah berhasil membangun kembali wilayah utara dengan gemilang. Apakah Paduka menginginkan kejatuhannya?”
“Sebagai kaisar... aku tidak akan ikut campur dalam perebutan takhta. Aku menyerahkan segalanya kepada Arnold karena bagiku sendiri, aku tidak akan menjadi pengikat yang mampu menghentikan Lizelotte.”
“...Maksudnya bagaimana?”
“Lizelotte mungkin berpikir bahwa selama dia bisa membalas dendam atas kematian Putra Mahkota dan melampiaskan kebenciannya, kedudukan apa pun tidak lagi penting. Jadi meski semua tanggung jawab jatuh kepadaku... dia tetap akan bertindak sesuka hatinya. Dia memang gadis seperti itu. Namun...”
“Jika menjadi tanggung jawab Pangeran Arnold, ceritanya akan berbeda?”
“Entahlah. Namun menurutku, kemungkinannya lebih besar daripada jika aku yang menanggungnya. Jika Lizelotte benar-benar mengakui Arnold dengan sepenuh hati... maka invasi ke Negara Bagian seharusnya tidak akan menjadi masalah.”
“Menurut pendapat saya... hingga saat ini Nona Lizelotte belum benar-benar mengakui Pangeran Arnold. Paling jauh, dia hanya menyayanginya sebagai adik.”
“Karena Arnold tidak pernah menunjukkan kesungguhannya. Itulah sebabnya dia tidak diakui. Mungkin bagi dirinya sendiri itu sudah cukup... tetapi jika menghadapi persoalan besar, dia tidak punya pilihan selain bertindak serius. Jika dia menunjukkan kesungguhan itu, Lizelotte pun akan mengakuinya. Bukan lagi sebagai adik, melainkan sebagai pangeran kekaisaran yang setara.”
Sambil berkata demikian, Johannes bangkit dari takhta dengan senyum di wajahnya.
Memahami maksud Kaisar, Kanselir menundukkan kepala.
Lalu, saat hendak pergi, dia mengajukan satu pertanyaan.
“Paduka... siapakah yang sebenarnya ingin Paduka dudukkan di takhta ini?”
“...Takhta diberikan kepada mereka yang memenangkannya. Takhta tidak akan diberikan kepada mereka yang tidak memiliki kehendak untuk merebutnya, karena tidak seorang pun akan mengakuinya. Itulah sebabnya perebutan takhta ada. Bukan bakat atau kemampuan yang menentukannya. Mereka yang memiliki tekad untuk duduk di atas takhta, merekalah yang akan duduk di sana. Takhta tidak akan dipengaruhi oleh suka atau tidak suka pribadi seorang kaisar. Jika ditentukan oleh hal semacam itu... untuk apa ada perebutan takhta ini?”
“...Ucapan saya keterlaluan. Mohon ampun.”
Johannes pun meninggalkan ruang takhta, diikuti oleh Kanselir yang juga pergi dari sana.
Sambil berpikir dalam hati bahwa mereka benar-benar keluarga yang merepotkan.
Bagian 3
Malam hari.
Fine keluar ke balkon kediaman keluarga Marquis Zweig.
“Bagaimana pemandangannya, Nona Lizelotte?”
“Fine, ya. Ada apa?”
Di balkon itu sudah ada orang lain lebih dulu.
Lizelotte yang mengenakan seragam militer.
Sosoknya yang menyampirkan mantel biru yang hanya diizinkan bagi seorang marsekal terlihat seperti biasa, tetapi di mata Fine, ada sesuatu yang terasa berbeda.
Itulah sebabnya Fine datang ke balkon sambil membawa set perlengkapan teh.
“Saya kira angin malam cukup dingin, jadi saya membawa teh. Jika berkenan, bagaimana kalau kita minum bersama?”
“Kamu perhatian. Akan kuterima.”
Lizelotte yang berdiri di balkon melangkah ke meja di dekat sana.
Fine dengan cekatan menyeduh teh di atas meja itu, lalu menyerahkannya kepada Lizelotte.
Setelah meneguk teh hangat, Lizelotte menghela napas lega.
Kemudian dia perlahan menatap langit.
“Hari ini bintangnya indah sekali.”
“Benar... tapi aku membencinya.”
“Kenapa?”
Pertanyaan itu mengandung dua makna.
Mengapa dia membencinya?
Dan mengapa dia tetap menatapnya meski benci?
Memahami kedua maksud itu, Lizelotte tersenyum pahit sambil meminum tehnya.
“Pengalaman terburuk dalam hidupku terjadi pada malam dengan langit penuh bintang seperti ini. Terus terang, ini langit yang menjengkelkan.”
“...Itu menyedihkan.”
“Menyedihkan? Kenapa?”
“Bintang selalu ada di langit. Meski kadang tertutup awan, mereka akan muncul lagi. Karena itu, kenangan tersebut selalu teringat kembali. Bukankah itu... menyedihkan?”
“...Ya. Aku memang tidak bisa melupakannya.”
Sambil berkata demikian, Lizelotte menatap telapak tangannya sendiri.
Bagi Lizelotte, ada dua hari yang dia anggap sebagai hari terburuk dalam hidupnya.
Keduanya terjadi pada malam ketika bintang-bintang tampak jelas seperti ini.
Yang pertama adalah saat ibunya, Selir Kedua Amelia, meninggal dunia.
Dia kembali ke ibu kota setelah mendengar laporan, dan memeluk tubuh ibunya yang dingin, pada malam seperti ini.
Yang kedua terjadi di wilayah utara ini.
Laporannya hanya menyebutkan bentrokan kecil. Meski begitu, firasat buruk membuatnya berlari ke utara dengan segenap tenaga.
Dan di bawah langit berbintang seperti ini, dia memeluk Putra Mahkota yang tewas terkena panah nyasar.
Dia terlambat.
Dia tidak bisa berbuat apa-apa.
“Aku meraih kemenangan berkali-kali di medan perang, tetapi rasa tidak berdaya yang kurasakan hari itu tidak pernah bisa kulupakan.”
“Anda tidak bisa memaafkan diri sendiri, ya...”
“...Aku menggenggam pedang sebagai seorang wanita karena ingin memiliki kekuatan untuk melindungi seseorang. Namun orang-orang yang ingin kulindungi, tidak satu pun berhasil kulindungi. Aku selalu datang terlambat...”
“...Saat pemberontakan di ibu kota. Ketika semua orang merasa segalanya mungkin sudah terlambat, Nona Lizelotte muncul dengan gagah. Tolong jangan merendahkan diri dengan mengatakan bahwa Anda selalu datang terlambat. Mungkin Anda tidak dapat menyelamatkan ibu dan kakak Anda. Namun, bukankah Anda telah menyelamatkan ayah serta adik-adik Anda yang tersisa?”
“...Benar juga. Saat itu, aku bisa bertindak cepat... bisa dibilang itu adalah kemenangan kecil bagiku.”
Lizelotte kembali menyesap tehnya.
Tanpa disadari, cangkir tehnya kosong.
Menyadarinya dengan cepat, Fine menuangkan teh lagi.
“Maafkan aku.”
“Tidak, saya sudah terbiasa.”
“Fine... entah kenapa kamu mirip dengan ibu. Mungkin karena itulah Ayahanda memilihmu.”
“Selir Kedua Nyonya Amelia, ya. Nyonya Mitsuba, ibu dari Tuan Al, juga pernah mengatakan hal yang sama. Seperti apa beliau sebenarnya?”
“...Orangnya lembut. Selalu memikirkan orang lain dan mengabdikan diri. Setiap kali aku berangkat ke medan perang, beliau selalu memberiku jimat agar aku tidak terluka. Di antara para selir, beliau bukan yang paling berbakat... namun dicintai Ayahanda dan disukai semua orang. Ibu yang sangat kubanggakan.”
“Saya pernah mendengar bahwa meski jumlah selir bertambah, kasih sayang kepada Selir Kedua tidak pernah berkurang. Selir kesayangan satu-satunya sang kaisar. Itu hanya dugaan saya, tetapi menurut saya beliau adalah sosok yang luar biasa.”
“Beliau tidak luar biasa. Pelupa, kadang ceroboh... tetapi beliau orang yang kuat. Yang mengajarkanku pentingnya melindungi orang lain adalah Ibu.”
“Berarti, beliau juga merupakan guru bagi Nona Lizelotte.”
“Guru, ya... mungkin memang begitu.”
Sambil tersenyum, Lizelotte menyesap tehnya.
Lalu dia kembali menatap langit.
Tepat pada saat itu.
Awan menutupi bintang-bintang.
Melihat itu, Lizelotte berdiri.
Tidak ada lagi alasan baginya untuk tetap di sana.
“Baiklah, sepertinya aku harus pamit. Tehnya sangat membantu.”
“Begitu ya... sebenarnya saya ingin berbincang sedikit lebih lama.”
“Kita simpan itu untuk kesempatan berikutnya.”
Sambil berkata demikian, Lizelotte hendak pergi.
Menatap punggungnya, Fine mengajukan sebuah pertanyaan.
“Bolehkah saya mengajukan satu pertanyaan terakhir?”
“...Tehnya enak. Sebagai balasannya, akan kujawab.”
“Terima kasih. Kalau begitu, izinkan saya bertanya. Mengapa pada saat ini Anda sengaja mengingat kembali kenangan terburuk itu?”
“Jawabannya sederhana. Untuk mengingat kembali rasa tidak berdaya saat itu... dan gejolak emosi yang menyertainya.”
“...Apa Anda mampu mengendalikan gejolak emosi tersebut?”
“Entahlah. Tapi... ini adalah sesuatu yang hanya bisa diselesaikan di sini. Tidak bisa dipendam begitu saja.”
Sambil berkata demikian, Lizelotte tersenyum dengan nada mencemooh diri sendiri.
Dia sudah siap untuk disalahkan.
Namun, kata-kata Fine justru melenceng jauh dari perkiraannya.
“Begitu rupanya... kalau begitu, saya berharap Anda dapat menuntaskan urusan Anda dengan masa lalu.”
“...Kamu tidak menyalahkanku?”
“Memendam gejolak emosi adalah hak setiap manusia. Jika emosi itu ditunjukkan ke luar dan melukai orang lain, barulah pantas menjadi sasaran kecaman.”
“Aku berencana membakar Negara Bagian dengan gejolak emosi ini, tahu?”
“Rencana tetaplah rencana. Hingga saat ini, Anda belum bertindak.”
“Tidakkah kamu pikir akan terlambat jika menunggu sampai aku bertindak?”
“Mungkin saja begitu... tetapi itu bukan peran saya.”
“Peran?”
“Setiap orang memiliki perannya masing-masing. Peran saya hanya sampai berbincang dengan Nona Lizelotte. Apakah Anda akan dihentikan, atau memilih jalan lain, yang melakukan itu bukan saya.”
“Lalu menurutmu, itu perannya siapa?”
“Entahlah. Mungkin orang yang terlintas di benak Anda saat ini.”
Sambil berkata demikian, Fine tersenyum manis lalu mulai merapikan set teh.
Lizelotte mengusir wajah seseorang yang sempat terlintas di benaknya, lalu membelakangi Fine.
Gejolak emosi itu sudah dia bangkitkan kembali.
Dan Lizelotte telah memutuskan, di sinilah semuanya akan diselesaikan.
Bagian 4
Persatuan Kerajaan Egret.
Sebuah kerajaan yang terdiri dari tiga pulau, dengan pulau besar di tengah sebagai pusat negara.
Di pusat pulau itu berdiri ibu kota kerajaan yang sangat besar.
Namun kini, ibu kota tersebut terbelah menjadi dua kubu besar.
Raja yang berkuasa dan Pangeran Pertama berniat menimpakan seluruh tanggung jawab atas kekalahan perang kepada Pangeran Kedua, William, lalu menyerahkan kepalanya kepada Kekaisaran Adrasia agar dapat melakukan gencatan senjata.
Akan tetapi, para bangsawan dan menteri yang masih memiliki nurani menentang keras rencana itu, sehingga perdebatan sengit berlangsung siang dan malam di istana.
Dari tiga Naga Suci yang selama ini melindungi Persatuan Kerajaan, dua di antaranya telah dibunuh oleh Silver. Kemerosotan kekuatan militer pun nyata adanya, dan mengeksekusi William, seorang panglima perang berpengalaman, adalah hal yang sama sekali tidak dapat diterima.
Itulah pendapat kubu penentang.
Di sisi lain, Raja dan Pangeran Pertama berpendapat bahwa William telah mengutamakan persahabatan pribadinya dan merugikan kepentingan negara. Pendapat itu pun segera dibantah oleh pihak oposisi.
Keputusan untuk membantu Pangeran Gordon dibuat oleh sang Raja sendiri, dan justru William-lah yang menentangnya. Namun karena itu adalah titah kerajaan, dia tetap berangkat ke ibu kota kekaisaran dan setelahnya bertempur habis-habisan demi Persatuan Kerajaan.
Jika pangeran seperti itu sampai dieksekusi, para perwira dan prajurit Persatuan Kerajaan pasti akan memberontak.
Raja dan Pangeran Pertama memang ingin segera mencapai gencatan senjata dengan Kekaisaran, tetapi memicu pemberontakan di dalam negeri justru akan menjadi bumerang. Karena itu, mereka tidak bisa memaksakan eksekusi.
Alhasil, William dijatuhi hukuman tahanan rumah di sebuah desa kecil yang terletak agak jauh dari ibu kota.
“Belum juga diputuskan...”
“Benar.”
Orang yang datang membawa kabar kepada William adalah seorang Kesatria Naga.
William, yang dijuluki Pangeran Naga, mendapat kepercayaan besar dari para Kesatria Naga di seluruh Persatuan Kerajaan.
Karena itu, meskipun berada dalam masa tahanan, dia tidak kekurangan informasi.
Bahkan tanpa bergerak sendiri, para Kesatria Naga akan datang menyampaikan kabar kepadanya.
Pengawasan dan penjagaan yang seharusnya mengekangnya pun tidak berjalan sebagaimana mestinya. Mereka menganggap eksekusi terhadap William adalah kesalahan besar, sehingga malah dengan sukarela membiarkan para Kesatria Naga keluar-masuk.
Sejak masih muda, William terus berdiri di garis depan demi negaranya.
Dalam perang melawan Kerajaan Perlan, dia memimpin pasukan Kesatria Naga dan bertempur hingga detik terakhir.
Berkat itulah pasukan Persatuan Kerajaan dapat mundur kembali ke tanah utama. Tidak ada satu pun prajurit yang melupakan fakta tersebut.
Militer sepenuhnya berada di pihak William.
Jika William menaiki naga, semua Kesatria Naga pasti akan mendukungnya.
Namun, William belum bergerak.
Dia menerima masa tahanan itu tanpa perlawanan.
“Yang Mulia, persiapan sudah sempurna. Tinggal menunggu keputusan Anda.”
“Begitu ya.”
William hanya menjawab singkat, tanpa berkata apa pun lagi.
Dia pun meninggalkan Kesatria Naga itu dan keluar dari rumahnya.
Di desa kecil itu, selain William, ada pula istri Gordon, Bianca, serta Henrik, seorang keluarga kekaisaran.
Keduanya berada dalam posisi politik yang penting, sehingga pergerakan mereka pun dibatasi seperti ini.
Namun, putri Bianca tidak ada di sana.
Menjelang tiba di Persatuan Kerajaan, William telah menitipkannya kepada anak buahnya.
Untungnya, keberadaan putri Gordon belum tersebar luas, sehingga tidak menimbulkan kecurigaan.
“Henrik masih di dalam?”
“Ya, sampai sekarang beliau belum keluar.”
Saat penarikan pasukan, Henrik berada di sisi William.
Sejak itu, hari-harinya penuh dengan penderitaan.
Tentu saja. Itu adalah pelarian setelah kekalahan. Tidak ada yang namanya mundur dengan mudah.
Dalam proses itu, Henrik mengalami banyak hal.
Karena itulah, dia menjadi tertutup dan murung.
“Henrik? Ini aku. Aku masuk.”
William mengetuk pintu sebagai bentuk kesopanan sebelum masuk ke kamar.
Namun, segera setelah itu, dia melupakan etika.
Di dalam kamar, Henrik memegang pecahan kaca.
Ujungnya diarahkan ke lehernya sendiri.
“Apa yang kamu lakukan!?”
William refleks menepis pecahan kaca itu.
Tangannya sedikit terluka, tetapi dia tidak peduli.
“...Biarkan aku mati... tolong...”
“Jangan bodoh! Mati lalu apa gunanya!?”
“Kalau aku mati... mungkin Pangeran William bisa selamat... kalau kepalaku diserahkan pada Kekaisaran...”
“Bodoh! Apa kamu benar-benar berpikir kepalamu memiliki nilai sebesar itu!? Meskipun Kaisar diberontak, apa kamu kira beliau akan senang melihat kepala putranya sendiri!? Itu hanya akan menyiram api dengan minyak!”
“Lalu... apa yang harus kulakukan!?”
“Hiduplah! Hidup dan tebus dosamu! Aku tidak akan mengizinkanmu mati hanya karena tidak sanggup menanggung rasa bersalah!”
“Tidak...”
Henrik pun jatuh tersungkur dan menangis tersedu-sedu.
Dia sudah muak dengan segalanya. Dari lubuk hatinya, dia ingin lenyap saja dari dunia ini.
Saat mundur, para prajurit yang penuh luka satu per satu berguguran.
Henrik sendiri hampir mati karena lapar dan haus. Dia adalah pangeran yang sejak kecil dibesarkan dengan aman di istana. Bagi Henrik yang tidak pernah mengenal penderitaan, bertahan hidup dalam kondisi itu nyaris mustahil.
Meski begitu, dia bisa sampai sejauh ini karena ada orang-orang yang menolongnya.
Mereka menolong bukan karena dia pangeran Kekaisaran, juga bukan karena perintah William.
Para prajurit itu menolong Henrik semata-mata karena ingin menolong.
Mereka bergantian menggendong Henrik yang jatuh pingsan, dan berhasil mencapai kapal dengan selamat.
Henrik memang diselamatkan, tetapi setelah itu barulah neraka yang sesungguhnya dimulai.
Karena ketidaktahuannya, Henrik tanpa sadar meremehkan nyawa para prajurit.
Dia memandang dan memperlakukan mereka layaknya bidak di papan permainan. Itulah sebabnya dia dengan mudah ditinggalkan.
Namun kini, dia sadar.
Para prajurit yang selama ini dia perlakukan layaknya bidak catur itu pun sesungguhnya adalah manusia, masing-masing dengan keluarga mereka sendiri, sebuah fakta yang seharusnya sudah jelas sejak awal.
Dia telah menyebabkan ribuan prajurit tewas. Dia telah menjerumuskan ribuan keluarga ke dalam duka.
Ironisnya, Henrik sendiri juga kehilangan keluarganya.
Demi menyelamatkan mereka yang tersisa, Gordon melancarkan serangan bunuh diri untuk menahan musuh.
Sambil menyaksikan pemandangan itu, Henrik memilih mundur.
Apa yang dia rasakan saat itu benar-benar rasa sakit.
Dan rasa sakit yang sama telah dia berikan kepada begitu banyak keluarga.
Penyesalan menerjang Henrik, disusul kesadaran akan dosanya yang datang terlambat.
“Aku ini lebih baik mati saja...!”
“Kalau kamu mau mati, silakan saja. Tapi aku tidak akan mengizinkanmu mati tanpa melakukan apa pun.”
“Apa yang bisa kulakukan!? Aku ini keluarga kekaisaran gagal yang telah menyebabkan banyak prajurit mati di medan perang! Bahkan kalau aku mempertaruhkan nyawaku, tidak ada yang bisa kuselesaikan! Lalu apa yang bisa kulakukan!?”
“Apa yang bisa atau tidak bisa kamu lakukan, itu baru akan tahu setelah kamu mencobanya. Lalu, apa yang sudah kamu lakukan?”
“Aku...”
“Yang kamu lakukan hanyalah mengurung diri dan memberi label pada dirimu sendiri bahwa kamu tidak bisa berbuat apa-apa. Kamu mau mati tanpa menebus dosamu? Apa kamu tidak paham betapa konyolnya itu?”
“...Penebusan... aku bahkan tidak tahu harus berbuat apa...”
Dia tidak diizinkan hidup dengan tenang seolah tak terjadi apa-apa.
Seakan-akan jeritan penuh dendam akan terdengar kapan saja.
Hidup sambil diharapkan mati, jalan tanpa ujung itu membuat kepalanya terasa pening.
Namun, William sama sekali tidak mengizinkannya bunuh diri.
“Suatu hari nanti... jadilah seseorang yang bisa dibanggakan oleh para prajurit yang telah gugur itu... Sejauh apa pun, mereka sudah mati. Meski itu salahmu, mereka tetap mati. Mereka tidak lagi bisa untuk melanjutkan hidup. Maka kamulah yang harus melanjutkan jalan itu. Pikullah semuanya, dan selamatkanlah orang sebanyak jumlah yang telah kamu bunuh.”
“Aku tidak sekuat dirimu...!”
“Aku juga... tidak kuat. Bahkan dalam keadaan seperti ini pun aku masih dilanda keraguan...”
“Eh...?”
“...Gordon meninggalkan pesan agar aku melindungi keluarganya. Aku terus memikirkan makna kata-kata itu. Istri dan putrinya, serta dirimu, apakah maksudnya melindungi kalian bertiga? Jika begitu, melarikan kalian sudah cukup. Namun jika maknanya lebih luas... maka demi keluarga sahabatku, aku harus mengalahkan keluargaku sendiri. Apakah itu diperbolehkan? Apa yang benar... aku terus memikirkannya.”
Namun, jawabannya telah dia dapatkan.
Sambil berkata demikian, William menggenggam lengan Henrik dan menariknya berdiri.
Lalu...
“Hanya orang yang masih hidup yang bisa melanjutkan langkahnya. Seperti kamu menebus dosamu, aku pun akan melakukan apa yang bisa kulakukan. Apa pun kejadiannya... pasukan yang kupimpin telah kalah. Mereka yang mati, mati karena salahku.”
“T-Tidak! Kamu berbeda! Kamu melindungi begitu banyak orang!”
“Itulah perang. Kita mengikuti perintah dan kalah. Mereka berhak menyalahkanku. Namun aku tidak akan mati. Demi sahabatku, demi anak buah yang gugur, demi negeri ini. Aku akan menempuh jalan yang terbaik.”
Saat William keluar, Roger sudah menunggu di luar.
Dia mengenakan zirah lengkap, siap tempur sepenuhnya.
“Karena Yang Mulia terlalu lama... aku datang menjemput.”
“Terima kasih... aku memang baru saja hendak lepas landas.”
“Syukurlah. Semua orang sudah tidak sabar menunggu.”
Sambil berkata begitu, Roger menatap ke langit.
Di sana, tak terhitung jumlah Kesatria Naga melayang di udara.
Melihat pemandangan itu, Henrik tertegun.
Dia belum pernah melihat pasukan Kesatria Naga sebesar ini.
“Henrik. Soal penebusan dosamu, kita akan memikirkannya bersama. Tapi aku masih punya hal yang harus kulakukan. Tunggu sebentar.”
“Pangeran William...”
“Aku tidak akan mengkhianati sahabatku. Seperti kata-kata terakhirnya, keluarganya akan kulindungi.”
William menaiki naga kesayangannya dan terbang ke udara.
Menerima tombak dari Roger, dia mengayunkannya tinggi dan mengeluarkan perintah.
“Seluruh pasukan, maju! Target kita adalah ibu kota kerajaan! Rebut kepala Raja!”
Bagian 5
Sang Putri melarikan diri.
Saat kabar itu sampai ke telinga Raja, Negara Bagian pun dilanda kekacauan besar.
Meski hanya sebatas hubungan formal, telah terjadi kudeta di Persatuan Kerajaan yang menjadi negara induk mereka.
Pelakunya adalah Pangeran Naga Persatuan Kerajaan, Pangeran William.
Tindakan sang pangeran yang selama ini dianggap setia kepada Raja, mengguncang Negara Bagian.
Sebab, keputusan pihak mana yang harus mereka dukung akan menentukan masa depan negeri itu.
Namun, di tengah situasi genting tersebut, datanglah laporan yang sungguh di luar dugaan.
“Masalah demi masalah terus saja muncul... Semua gara-gara dibesarkan di Persatuan Kerajaan!”
Raja yang bertubuh tambun itu sama sekali tidak berusaha menyembunyikan kekesalannya.
Pakaiannya tampak jelas mahal dan dipenuhi hiasan berlebihan, dengan perhiasan bertaburan di sekujur tubuhnya.
Jika Mia melihatnya, dia pasti akan terkejut setengah mati, bagaimana mungkin Marianne terlahir dari ayah seperti ini.
Seorang pria yang memamerkan keburukan manusia secara gamblang, itulah Raja Negara Bagian Zacharias von Cornix.
“Paduka. Tujuan pelarian Yang Mulia Putri tidak mungkin selain Kekaisaran.”
“Benar... tidak mungkin dia menuju Persatuan Kerajaan yang sedang kacau... ini buruk... benar-benar buruk.”
“Benar! Kekaisaran yang licik itu pasti akan mengangkat Putri sebagai simbol dan mengumandangkan bahwa mereka berada di pihak yang benar!”
“Hmm... Tangkap dia sekarang juga! Jangan biarkan dia sampai ke Kekaisaran!”
“Tentu saja! Ini menyangkut moral seluruh pasukan!”
“Kamu benar. Kerahkan semua pasukan yang bisa digerakkan! Mengerti!?”
“Siap!”
Setelah mengeluarkan perintah, Raja itu menyandarkan punggungnya ke singgasana, tampak kelelahan.
Namun, seolah baru teringat sesuatu, dia kembali menanyai para bangsawan.
“Ngomong-ngomong... bagaimana dengan urusan yang itu?”
“Mengenai evakuasi ke Persatuan Kerajaan... dalam kondisi seperti ini, sepertinya akan sulit terlaksana.”
“Kalau begitu, apa yang akan kita lakukan saat Kekaisaran menyerang!? Lawan kita itu Putri Jenderal! Kalian sanggup menghadapinya!?”
“Dia adalah jenderal terkuat Kekaisaran. Bahkan jika dilihat dari seluruh benua, mungkin hanya segelintir orang yang mampu mengalahkannya di medan perang.”
“Itu dia! Justru karena itulah kita sedang menyiapkan pelarian! Lalu bagaimana sekarang!?”
Mendesak agar segera diberikan solusi, sang Raja memaksa para bangsawan.
Akhirnya, sambil memaki mereka sebagai orang-orang tidak berguna, dia melemparkan perhiasan yang dikenakannya.
“Kalau begini terus, kita semua akan dibantai! Apa kalian tidak masalah dengan itu!?”
“Paduka... kami juga telah mengajukan permohonan kepada Kerajaan Perlan. Memang perlu mengeluarkan lebih banyak uang dibandingkan dengan Persatuan Kerajaan, tetapi Kerajaan Perlan sedang membutuhkan dana untuk perang melawan Kekaisaran. Jika kita membayar cukup besar, mereka seharusnya tidak akan menolak.”
“Oh! Begitu! Kalau kita bisa melarikan diri ke Kerajaan, kita bisa tenang!”
“Tolong tunggu sampai utusan kembali. Namun sebelum itu, kita tidak boleh membiarkan Kekaisaran menyerbu. Bagaimanapun caranya, Yang Mulia Putri harus kita bawa pulang.”
“Benar! Dia akan mengundang malapetaka ke negeri kita! Apa dia tidak memikirkan rakyatnya! Dasar anak bodoh! Padahal selama ini dia terus ngomel ke aku agar memikirkan rakyat!”
Sambil terus meluapkan kejengkelannya, Raja itu bertepuk tangan.
Itu menjadi isyarat, dan para pelayan muncul membawa banyak gelas.
Isinya adalah minuman keras terbaik dari seluruh benua.
Jika dihitung biaya pengumpulannya, nilainya pasti sangat besar.
“Dalam situasi seperti ini, aku tidak akan tahan tanpa minum! Hm, hari ini sebaiknya yang mana...”
Sambil menimbang-nimbang minuman kerasnya, Raja itu sama sekali tidak melirik wajah para bangsawan yang memandanginya.
* * *
“Sudah datang juga para pengejar...!”
Kereta kuda yang membawa Marianne adalah kendaraan yang telah disiapkan oleh Bayangan Kanselir.
Yang mengawal kereta itu adalah para prajurit Kekaisaran.
Namun, karena berada di wilayah musuh, jumlah pasukan yang bisa dikerahkan sangat terbatas.
Selain itu, saat meninggalkan ibu kota, mereka sengaja menjalankan beberapa kereta ke arah berbeda untuk mengalihkan perhatian musuh.
Alhasil, pengawalan yang ada sama sekali tidak bisa disebut memadai.
“Maafkan saya... gara-gara saya memajukan jadwal...”
“Tidak perlu dipikirkan! Jika Raja makin meningkatkan kewaspadaan, pelarian justru akan jauh lebih sulit! Ini keputusan yang tepat!”
Begitulah kata prajurit yang mengendalikan kereta, tetapi akibat memajukan rencana, mereka terpaksa bergerak dengan jumlah personel yang jauh lebih sedikit dari rencana awal.
Seharusnya, pasukan pengawal sudah ditempatkan di luar ibu kota, tetapi mereka bergerak tanpa menunggu kedatangan mereka.
“Dari kanan belakang, datang lagi pasukan kavaleri!”
“Sial! Apa mereka mengerahkan seluruh pasukan ibu kota!?”
Bagaimanapun bodohnya, dia tetaplah raja sebuah negara.
Dia sangat paham bahaya jika seorang putri keluar negeri.
Jika semua unit yang bisa digerakkan benar-benar dikerahkan, maka kereta-kereta lain pun pasti dikejar dengan kekuatan yang sama.
Rekan-rekannya kemungkinan besar sudah tidak selamat.
Memikirkan itu, sang prajurit menggertakkan giginya.
“Panah api datang!”
“Yang Mulia! Mohon menunduk!”
Sambil memberi instruksi itu, prajurit tersebut menoleh ke belakang.
Anak-anak panah dengan ujung menyala api sedang menghujani kereta.
Para pengawal berusaha menepisnya, tetapi jumlahnya terlalu banyak.
Jika kereta sampai hancur, mereka harus melarikan diri dengan berjalan kaki.
Melindungi sang putri dalam kondisi seperti itu sama saja dengan keputusasaan.
Jangan sampai kena kuda.
Sambil berharap demikian, prajurit itu memacu kereta.
Namun, tidak satu pun anak panah mengenai kereta.
“Selamat...?”
“Kalau mau mengirim umpan, sebaiknya bilang dulu. Aku jadi melakukan hal yang tidak perlu.”
Suara itu terdengar dari atas atap kereta.
Marianne menengadah, melihat ke arah atas melalui jendela.
“Vater! Kamu datang!”
“Bukannya itu sudah janji kita. Anggap saja aku tidak terlambat karena bermalas-malasan.”
Bersamaan dengan ucapan Vater, beberapa kereta lain masuk ke jalan.
Kereta-kereta itu mengambil posisi seolah menjadi perisai bagi kereta yang ditumpangi Marianne.
“Kalian!? Kalian selamat!?”
“Ya! Ada penolong yang muncul!”
Sang prajurit, lega mengetahui rekan-rekannya masih hidup, menatap Vater yang berdiri di atas atap.
Pria bermasker biru itu memegang busur.
Entah mengapa, sosoknya terasa mirip seperti orang Kekaisaran.
“Jangan-jangan... kamu Silver?”
“Jangan samakan aku dengannya. Aku lebih kuat daripada Silver.”
“A-Ah, maaf...”
“Kalau paham, bagus. Teruskan pelarian. Para pengejar akan kutangani.”
“Vater! Sendirian itu terlalu...”
“Aku tidak butuh beban. Pikirkan saja bagaimana caranya kamu sampai ke Kekaisaran dengan selamat.”
Setelah berkata demikian, Vater mengarahkan busurnya ke pasukan berkuda yang mengejar.
Lalu dia melepaskan satu anak panah.
Anak panah itu pertama-tama menembus pria di barisan depan, lalu menembus pria di belakangnya, dan akhirnya menghunjam tepat di dahi kuda yang berlari di tengah kelompok.
Dua orang tumbang, satu kuda roboh.
Formasi pasukan kavaleri pun runtuh seketika.
Jika dia mau, dengan satu tembakan saja dia bisa memusnahkan mereka semua.
Namun, melakukan itu akan menghilangkan makna mengenakan topeng.
Karena pemanah yang mampu melakukan hal semacam itu jumlahnya sangat terbatas.
“Sampaikan pada Vermilion... katakan bahwa di sini aku sudah menjalankan tugasku.”
“Baik! Akan saya sampaikan!”
Mendengar jawaban Marianne, Vater melompat turun dari kereta dan berdiri di antara kereta dan pasukan kavaleri.
Sambil membidikkan busurnya, dia berkata, “Nasib buruk bagi kalian. Kalau mau menyalahkan seseorang, salahkan saja diri kalian sendiri yang terlalu rajin bekerja.”
Sambil berbicara, Vater mulai melepaskan anak panah bertubi-tubi.
Kecepatan tembakannya tidak masuk akal untuk manusia.
Dan setiap bidikan begitu presisi.
Bahkan perisai pun ditembus dengan mudah.
Dalam sekejap, tempat itu berubah menjadi neraka.
Namun, neraka itu belum berakhir.
Karena pasukan berkuda baru kembali bermunculan.
“Sungguh... hari ini banyak yang ingin mati, ya?”
Sambil berkata demikian, Vater kembali mengangkat busurnya.
Bagian 6
“Al, beberapa bangsawan utara ingin ikut serta dalam invasi Negara Bagian.”
“Setelah perang sebesar itu, mereka masih saja penuh semangat.”
Sambil mendengarkan laporan dari Sharl, aku menghela napas.
Ketika melihat daftar bangsawan yang ingin ikut berperang, semuanya masih muda.
Mungkin hasrat mereka untuk meraih jasa dan prestasi memang besar.
Namun, perang bukanlah sesuatu yang gratis.
“Apa mereka benar-benar mengira masih punya cadangan kekuatan sebanyak itu?”
“Mereka bilang perdagangan kuda perang juga sudah mulai berjalan, dan itu bisa jadi ajang unjuk kemampuan mereka, tapi...”
“Perang sebelumnya sudah lebih dari cukup. Lagi pula, kalau bangsawan utara ikut turun, bangsawan timur pasti tidak akan senang.”
Bangsawan timur sengaja datang jauh-jauh ke utara demi meraih jasa dalam invasi Negara Bagian.
Bangsawan utara sudah mengukir nama dalam perang sebelumnya.
Mereka dikenal gagah berani, dan para kesatria utara kini disebut-sebut sebagai yang terbaik di Kekaisaran.
Dalam beberapa tahun terakhir, Ayahanda tidak pernah turun ke medan perang.
Sejak pasukan Kekaisaran ditata ulang, kesempatan bangsawan dan kesatria untuk unjuk kemampuan semakin terbatas.
Biasanya, ikut mendampingi Ayahanda saat beliau berangkat perang adalah salah satu dari sedikit kesempatan itu, tetapi bahkan kesempatan tersebut tidak kunjung datang.
Saat orang-orang mulai berkata bahwa era kesatria telah berakhir, tiba-tiba kesempatan ini jatuh begitu saja.
Tidak heran bangsawan timur pun mati-matian berusaha meraih peluang tersebut.
“Tapi kalau kita menolak mentah-mentah, kesannya juga tidak bagus...”
“Pasti akan dianggap kita cuma mementingkan wajah bangsawan timur.”
“Ya ampun... Baiklah, sampaikan ke para penguasa wilayah. Kumpulkan lima ratus prajurit elite. Mereka berada langsung di bawah komandoku, lalu dipinjamkan apa adanya ke Kak Lize. Katakan pada mereka, kalau ingin meraih prestasi, biarkan para kesatria mereka yang maju.”
“Kalau begitu, mungkin keluhan juga akan berkurang.”
Pasukan yang dibawa Kakak sendiri jumlahnya sekitar seribu.
Sebagian besar dari mereka juga sudah dialihkan untuk memperkuat penjagaan perbatasan.
Artinya, Kakak akan memimpin pasukan gabungan bangsawan timur yang sejatinya bukan miliknya sendiri.
Meski ada Jurgen, tanpa kekuatan yang benar-benar milik sendiri, bertempur akan terasa sulit.
Karena itulah aku meminjamkan pasukan langsung di bawah komando diriku kepadanya.
Melihat sifat Kakak, saat memang harus maju ke depan, dia takkan ragu melangkah.
Pasukan ini semacam pengawal dekat.
Jika peran itu diemban kesatria utara, harga diri mereka pun tetap terjaga.
“Baik, soal itu selesai... selanjutnya tentang pasukan gabungan bangsawan timur yang berkumpul di wilayah Marquis Zweig.”
“Bagaimana dengan perbekalan? Sudah cukup?”
Saat ini, pasukan gabungan bangsawan timur bermarkas di wilayah Marquis Zweig.
Total sekitar dua puluh ribu orang berkemah di luar kota.
Tentu saja, untuk bersiap melakukan invasi.
Begitu persiapan rampung, Marsekal Lizelotte akan memimpin langsung invasi ke Negara Bagian.
Perbekalan untuk itu pun sudah disimpan di wilayah Marquis Zweig.
“Persediaannya sudah cukup. Apa yang disiapkan Duke Reinfeld bahkan masih berlebih.”
“Syukurlah. Meski diperkirakan perang ini singkat, kalau sampai berlarut-larut, perbekalan tetap jadi masalah.”
Jika semuanya berjalan sesuai rencana, invasi Negara Bagian akan selesai dengan cepat.
Mereka akan mengangkat putri yang membelot, lalu membuat para bangsawan yang sudah dibujuk menurunkan senjata.
Pada titik itu, orang-orang yang masih melindungi sang Raja pasti tinggal sedikit.
“Hanya saja... dengan pasukan sebanyak itu berada dekat kota, arus distribusi pasti tersendat. Itu masalahnya.”
“Terpaksa harus diterima... menjelang perang, begitu ada sedikit saja yang mencurigakan, para kesatria pasti melakukan pemeriksaan. Kita juga tidak bisa melarang mereka.”
Sudah ada banyak laporan tentang pedagang yang menuju kota harus diperiksa muatannya oleh para kesatria.
Namun, yang ada di sana adalah perkemahan militer.
Memeriksa dengan ketat siapa pun yang melintas di dekatnya adalah hal yang wajar.
Apalagi lawannya adalah Negara Bagian.
Negara yang, jika bertempur secara terbuka, takkan mampu mengalahkan Kekaisaran.
Justru karena itu, segala tipu daya kecil harus diwaspadai.
“Kita tidak punya cara lain?”
“Sulit. Akan kupikirkan sesuatu.”
“Baik, aku titipkan padamu. Itu saja dariku.”
“Oke. Terima kasih.”
Setelah berkata demikian, Sharl meninggalkan ruangan.
Aku pun menghela napas panjang.
“Kamu kelihatan lelah.”
“Ya... begitulah.”
Elna, yang sejak tadi diam di sampingku, akhirnya angkat bicara.
Sekarang hanya kami berdua.
Sedikit mengeluh pun rasanya tidak masalah.
“...Ayahanda melempar kendali Kakak padaku. Di sana ada harapan bahwa aku mungkin bisa menghentikannya.”
“Invasi ke Negara Bagian dilakukan di bawah tanggung jawabmu, Al. Aku rasa Nona Lizelotte juga tidak akan melakukan hal yang berlebihan, tapi...”
“Dalam keadaan normal, iya. Tapi bagi Kakak, Negara Bagian bukan lawan biasa. Negara itulah yang menyebabkan kematian Kakak Sulung, lalu menutupinya dengan dalih ulah bawahan. Itu musuh yang layak dibenci. Dan lagi, Kakak memendam amarah itu selama tiga tahun.”
“Menurutmu amarah itu bisa lepas kendali?”
“Tidak aneh kalau sampai begitu. Karena itu Ayahanda tidak menyerahkan wewenang penuh padanya. Tapi... aku sendiri tidak tahu apakah aku bisa menghentikannya.”
Aku sudah melakukan semua yang bisa kulakukan.
Aku berusaha agar Kak Lize mau mengakuiku.
Namun, tetap saja, baginya itu belum cukup untuk benar-benar mengakui diriku.
Kalau memang ingin menghentikannya, pasti dibutuhkan sebuah pemicu.
Sebuah alasan yang membuatnya mengakui diriku dan berpikir bahwa mengikuti perintahku bukanlah hal yang salah.
Namun, orang yang pernah diakui Kakak dengan cara seperti itu hanyalah Kakak Sulung.
Memikirkan bahwa aku harus menunjukkan sosok yang setidaknya mendekati dirinya saja sudah menjadi tekanan tersendiri.
“Kalau begitu, bukankah lebih baik jangan biarkan Nona Lizelotte melakukan apa pun?”
“Kalau sesederhana itu, Ayahanda tidak akan menunjuknya sejak awal. Jika amarahnya dipendam terlalu lama, tubuhnya sendiri yang akan hancur. Dia butuh tempat untuk meluapkannya. Bahkan... kalau ada orang lain yang menggantikan invasi ke Negara Bagian, Kakak justru bisa menjadi gila.”
“Bukankah itu berlebihan?”
“Baginya, Kakak Sulung adalah sosok yang begitu penting. Itu tidak bisa disamakan dengan saudara yang lain.”
“Lebih penting daripadamu?”
“Bukan sesuatu yang bisa dibandingkan, tapi... kematian Kakak Sulung menghancurkan mimpi Kak Lize. Semua harapan yang dulu dia titipkan kini berubah menjadi penyesalan. Tiga tahun mungkin terdengar singkat, tapi sebenarnya panjang. Dia menunggu hari di mana dia bisa menaklukkan Negara Bagian dengan tangannya sendiri. Jadi, kalau nanti dia tidak mampu mengendalikan diri, itu pun tidak mengherankan.”
Sebagai adik, aku tidak ingin melihat kakakku melakukan kekejaman.
Namun, jika membakar sebuah negara adalah satu-satunya cara untuk memuaskan hatinya, mungkin dia akan melakukannya.
Bagiku, itu seperti Leo dibunuh.
Dan pada saat itu, aku bahkan tidak berada di sisinya.
Karena itulah, waktu Kakak seolah berhenti di sana.
Meski berkat Jurgen dia perlahan mulai menatap ke depan, tetap saja ini masalah yang harus dia lewati.
Apa yang seharusnya kulakukan?
Saat pikiran itu berkecamuk, tangan Elna tiba-tiba bertumpu di kedua bahuku.
Ketika aku menengadah, dia menatapku.
“Kamu selalu berusaha keras demi orang lain.”
“...Karena dia kakakku.”
“Tidak apa-apa. Perasaanmu itu pasti akan sampai pada Nona Lizelotte. Selama kamu bertindak tanpa melupakan perasaan itu, beliau pasti akan menanggapinya.”
“Semoga saja begitu...”
“Pasti. Sebagai sahabat masa kecilmu, aku menjaminnya. Perasaanmu itu mudah sekali dipahami.”
“...Jangan meledekku.”
Menanggapi ucapan Elna seperti itu, aku pun tersenyum kecil.
Bagian 7
Informasi bahwa pembelotan sang Putri dipercepat adalah kabar yang harus segera disampaikan kepada Al lebih dulu.
Namun, untuk melaksanakan pembelotan yang seharusnya masih seminggu lagi menjadi hanya tiga hari ke depan, tenaga sebanyak apa pun tetap tidak akan cukup.
Karena itu, para Bayangan Kanselir mulai bergerak setelah menuntaskan persiapan seminimal mungkin.
Bagaimanapun juga, keberhasilan pembelotan sang Putri sepenuhnya bergantung pada Al.
Sebagai Wakil Penguasa Wilayah Utara yang memegang kendali atas kawasan tersebut, Al harus menyiapkan penerimaan terlebih dahulu agar sang Putri bisa membelot. Jika terlambat sedikit saja, dia akan tertangkap oleh pasukan pengejar musuh.
Itulah sebabnya para Bayangan Kanselir berlari menembus wilayah Negara Bagian dengan segenap tenaga.
Namun, semakin dekat ke perbatasan, jumlah mereka semakin berkurang.
Ada pengejar yang sangat terlatih.
Menyadari hal itu, para Bayangan Kanselir menuju ke tempat Al melalui rute yang berbeda-beda.
Akan tetapi, kecuali satu orang, semua tanda keberadaan mereka menghilang.
Bayangan Kanselir yang tersisa memasuki rute pelarian yang rencananya akan digunakan oleh sang Putri, demi membawa pulang informasi bahwa di Negara Bagian terdapat petarung sekelas itu.
Perbatasan utara saat ini penuh dengan celah.
Pasalnya, mereka sudah kewalahan hanya untuk mempertahankan benteng utama.
Pengawasan tidak mampu menjangkau segalanya, sehingga terdapat beberapa jalur pergerakan yang menjadi titik buta.
Celah-celah itu sengaja tidak ditutup, dan justru akan dimanfaatkan untuk pembelotan sang Putri.
Jika personel dialihkan untuk menutup celah tersebut, pihak Negara Bagian akan menjadi waspada.
Menggunakan rute itu, Bayangan Kanselir berlari.
Di ujung sana seharusnya pasukan pengawal sang Putri sudah bersiaga.
Namun.
“Repot juga kalau kamu bisa kabur sejauh ini.”
Suara itu terdengar dari depan.
Dalam sekejap, Bayangan Kanselir menghunus belati.
Dari segi kemampuan, dia tidak kalah dari seorang pembunuh bayaran.
Namun, lawan yang muncul di hadapannya terlalu buruk.
“Kapten Raphael Berendt...!?”
“Bukan lagi kapten. Tugasmu sampai di sini saja.”
Sambil berkata demikian, Raphael mengayunkan pedangnya dan membelah tubuh Bayangan Kanselir.
Teriris hingga jauh ke dalam organ dalam, Bayangan Kanselir memuntahkan darah dan roboh di tempat.
Namun, matanya masih menatap Raphael.
“Kalian memang merepotkan... tapi Yang Mulia juga sungguh menyusahkan, sampai harus menyuruhku turun tangan.”
“Yang... Mulia...?”
“Tentu saja. Yang Mulia milikku. Orang yang kelak akan menjadi Kaisar.”
Sambil mengucapkannya, Raphael membelah mata Bayangan Kanselir.
Salah satu matanya adalah mata palsu.
Itu merupakan alat sihir khusus yang mampu merekam gambar dan suara.
Semua Bayangan Kanselir menanamkan alat itu di salah satu mata mereka.
“Sampai akhir pun kamu tetap rajin bekerja. Akan kupuji itu. Terima kasih sudah repot-repot menuntunku sampai ke lokasi pasukan pengawal. Kupikir kalau aku membiarkanmu kabur, kamu pasti akan mengandalkan mereka.”
Usai berkata demikian, Raphael pun menghabisi Bayangan Kanselir itu.
“Baiklah... tinggal pasukan pengawal saja.”
Bahkan bagi Raphael, fakta bahwa sang Putri Negara Bagian membelot lebih cepat dari rencana adalah hal yang di luar dugaan.
Dialah yang sebelumnya menyebarkan informasi bahwa sang Putri mungkin akan melarikan diri.
Dia tidak boleh membiarkan sang Putri benar-benar membelot.
Perang melawan Negara Bagian harus berlangsung tanpa dalih yang sah.
“Putri dari negara mana pun selalu saja cerewet dan merepotkan.”
Sambil berkata begitu, Raphael meniupkan sihir angin untuk menyingkirkan jasad Bayangan Kanselir, lalu langsung menuju ke tempat di mana pasukan pengawal kemungkinan berada.
* * *
Pasukan pengawal sang Putri dipilih dari para prajurit elite penjaga perbatasan utara.
Agar tidak menimbulkan kecurigaan dari pihak Negara Bagian yang mereka hadapi, mereka dikirim sedikit demi sedikit ke wilayah Negara Bagian, dan seharusnya menyusup hingga dekat ibu kota untuk bertugas mengawal sang putri.
Namun, rencana itu berubah.
Terputusnya komunikasi berkala membuat pasukan pengawal menyadari adanya kejanggalan.
Pembelotan adalah urusan yang bergantung pada pihak lawan. Sejak awal, mereka sudah sepenuhnya menyadari kemungkinan terburuk bisa terjadi.
Karena itu, sang kapten sempat mempertimbangkan untuk bergerak lebih dulu.
Akan tetapi, sebelum sempat melakukannya, kejanggalan justru lebih dulu menimpa mereka.
Markas pasukan pengawal berada di tengah hutan.
Sebuah basis yang dikamuflasekan dengan sangat rapi, tempat seratus prajurit elite menunggu saatnya beraksi.
Namun, ketika sang kapten merasakan sesuatu yang tidak beres dan keluar dari tenda.
Setengah dari kepala prajurit sudah terpenggal.
“!? Serangan musuh!!”
Melihat banyaknya mayat yang bergelimpangan, sang kapten berteriak.
Bukan hanya para penjaga, mereka yang sedang beristirahat di tenda lain pun telah dibunuh.
Aksi yang terlalu rapi dan bersih membuat mereka sama sekali tidak menyadari hingga kerusakan sebesar ini terjadi.
Sang kapten meraih gagang pedangnya.
“Musuhnya petarung ulung! Hati-hati!”
Sekitar sepuluh prajurit segera berkumpul di sekeliling sang kapten.
Mereka membentuk formasi melingkar dan bersiaga ke segala arah.
Namun, dari luar lingkaran itu terdengar suara tajam bertubi-tubi.
Suara kepala manusia yang tertebas.
Kemampuan untuk memusnahkan satu pasukan hanya seorang diri jelas sudah di luar nalar.
Tidak pernah terlintas di benak mereka bahwa Negara Bagian memiliki petarung selevel itu.
Tanpa sadar sang kapten mengerang, tetapi kesalahpahaman itu segera diluruskan.
“Kalau mau membentuk formasi melingkar, seharusnya lebih fokus, Kapten.”
Angin seolah berlari melewati sisi tubuhnya.
Begitulah kira-kira yang dirasakan sang kapten.
Namun, di arah pandangannya, tiga prajurit telah kehilangan kepala.
Dan suara itu kini terdengar tepat di sampingnya.
Ketika dia menoleh, yang tertangkap oleh matanya adalah jubah putih yang berlumuran darah.
Itu bukan jubah biasa. Sebuah jubah dengan rancangan khusus.
Apa makna jubah itu?
Sang kapten sangat mengetahuinya.
Para kesatria terkuat Kekaisaran.
Ordo kesatria yang berada langsung di bawah komando Kaisar.
Jubah putih yang hanya boleh dikenakan oleh Kapten Kesatria Pengawal.
“...Pengkhianat keparat!”
Digerakkan oleh amarah, sang kapten mengayunkan pedangnya.
Namun, pedang itu bahkan tidak menyentuh Raphael.
Raphael bergerak laksana angin, lalu dengan ringan mendarat di atas bilah pedang tersebut.
“Aku tidak merasa mengkhianatimu, sih.”
“Jangan main-main! Kamu membunuh rekan sendiri dan menjerumuskan Kekaisaran ke dalam kekacauan, pengkhianat sejati! Kamu bahkan tidak mati bersama Pangeran Gordon, dan sekarang malah berpihak pada Negara Bagian!? Jubah itu adalah kebanggaan Kekaisaran! Tidak bisa dimaafkan kamu masih mengenakannya!!”
“Tidak, tidak. Memang benar aku sudah bukan Kapten Kesatria Pengawal lagi, tapi... di hatiku, aku masih seorang kesatria pengawal, tahu?”
Sambil berkata demikian, Raphael menendang pedang sang Kapten dan melompat ke udara.
Bersamaan dengan itu, angin berputar dan kepala para prajurit di sekitar sang Kapten kembali beterbangan.
Sang Kapten yang tersisa menggunakan sihir api dengan tekad mengorbankan nyawa.
Serangan itu tidak mengenai Raphael.
Namun, api tersebut masuk ke dalam tenda.
Di dalamnya tersimpan sejumlah besar alat sihir.
Rencananya adalah meledakkan alat-alat itu untuk menghentikan langkah musuh.
Alat-alat sihir itu meledak tersulut api.
Bahkan bagi Raphael, ini adalah situasi yang tidak terduga.
“Wah?”
Ledakan dahsyat menelan seluruh markas.
Sambil menahan luka bakar parah, sang Kapten merangkak menuju sebuah pohon.
Dia bersandar pada batang pohon itu, menatap markas yang kini dilahap api.
Dia tidak menyangka Kapten Kesatria Pengawal bisa tumbang hanya karena hal seperti ini.
Namun, jika setidaknya dia bisa melukai Raphael...
Harapan itu sempat ada.
Akan tetapi, harapan itu hancur tanpa sisa.
“Serangan bunuh diri, ya. Tidak buruk, tapi daya hancurnya kurang.”
Dari dalam kobaran api, Raphael muncul tanpa sedikit pun luka.
Melihat itu, wajah sang Kapten menegang.
Namun, Raphael justru tersenyum menatapnya.
“Semangat militermu mengagumkan. Benar-benar luar biasa.”
“...Bunuh aku.”
“Tentu saja. Tapi sebagai penghormatan atas jiwamu yang mulia, akan kuberitahu sedikit tentang rahasiaku.”
Sambil berkata demikian, Raphael menempelkan tangannya ke mata kirinya.
Lalu, dari pupilnya keluar sebuah lensa kecil.
Lensa berwarna cokelat.
Di baliknya, tampak mata berwarna hijau giok.
“Inilah warna mataku yang sebenarnya.”
“Lalu apa maksudnya...?”
“Kamu masih belum sadar juga? Lambat sekali.”
Raphael lalu mengeluarkan botol minum dari balik bajunya.
Dia memotong segenggam rambutnya dan menuangkan air dari botol itu ke atasnya.
“Sejak kecil, warna mataku kusamarkan dengan lensa, dan rambutku kuwarnai dengan cat khusus yang hanya bisa luntur dengan air ini.”
“Mustahil...”
Rambut yang digenggam Raphael berubah dari cokelat menjadi merah muda pucat.
Mata hijau giok dan rambut merah muda.
Maknanya hanya satu.
“Kamu... Kamu mewarisi darah itu, tapi tetap berkhianat!?!?”
“Benar.”
Melihat sang Kapten yang diliputi amarah, Raphael tersenyum puas, lalu memenggal kepalanya.
Kemudian dia kembali memasang lensa itu ke matanya, lalu dengan cermat membakar rambutnya.
Dia belum bisa mengungkapkan jati dirinya sekarang.
“Seperti ini sudah cukup, ya? Sisanya biar Negara Bagian yang mengurusnya.”
Dengan demikian, Raphael pun menghilang bersama angin.
Bagian 8
Wilayah Marquis Percival.
Saat Marianne tiba di sana, Marquis Percival telah datang menyambutnya dengan memimpin para kesatria.
“Anda baik-baik saja, Yang Mulia Putri!?”
Sambil berkata demikian, Marquis Percival bergegas mendekat.
Seorang pria bertubuh tinggi, berusia lewat empat puluh tahun.
Dia bukan sosok dengan prestasi militer yang menonjol, tetapi di Negara Bagian, dia tergolong langka, seorang bangsawan yang tidak bertindak demi kepentingan pribadi.
Pasukan yang dibawa Marquis Percival berjumlah sekitar seratus orang.
Mengingat kebutuhan menjaga wilayahnya, itulah batas maksimal kekuatan yang bisa dia kerahkan.
Meski demikian, Marianne tetap menyampaikan rasa terima kasih dan penghargaan kepada Marquis Percival atas upayanya.
“Terima kasih atas sambutannya, Marquis Percival.”
“Tidak, saya justru tidak banyak membantu apa pun...”
“Justru karena Anda mampu mempertahankan wilayah ini begitu lama, saya bisa melanjutkan perjalanan ke Kekaisaran. Sama sekali tidak benar bila dikatakan Anda tidak berguna.”
“Itu pujian yang terlalu berlebihan bagi saya...”
Setelah percakapan singkat itu, Marquis Percival segera mengalihkan pembicaraan.
Keadaannya memang sudah darurat.
“Jumlah rakyat yang mengungsi dan masuk ke wilayah kami sekitar dua ratus orang.”
“Jadi memang sekitar itu ya...”
Marianne menunjukkan raut wajah muram.
Dia sudah memperkirakannya. Seberapa pun seruan disampaikan, rakyat yang masih memiliki tenaga dan kemauan untuk bergerak hanyalah segelintir.
Rakyat Negara Bagian hanya mampu melihat keadaan saat ini. Mereka tidak punya kelonggaran untuk memikirkan masa depan.
Karena itu, orang-orang yang bisa bertindak dengan memikirkan langkah ke depan sangatlah sedikit.
Bahkan setelah Vermilion menyebarkan uang, jumlahnya tetap segini. Ini bukan soal ada atau tidaknya uang, melainkan soal kemauan. Untuk mengubah keadaan dan bertindak, dibutuhkan tekad.
Dan tekad itulah yang kurang dimiliki rakyat Negara Bagian.
Meski begitu, dua ratus orang tetap memilih bergerak.
Sekarang adalah saatnya memikirkan bagaimana melindungi dua ratus orang itu.
“Kita harus segera menuju Kekaisaran. Di mana pasukan pengawal dari tentara Kekaisaran?”
“Sayangnya, sampai sekarang belum ada kabar...”
“Bukankah mereka seharusnya menunggu di sekitar perbatasan?”
“Seharusnya begitu, tetapi...”
Dia menanyakan pada para prajurit di sekitar, namun yang didapat hanyalah jawaban penuh kebingungan.
Bagi pihak Kekaisaran sendiri, ini juga situasi yang tidak terduga.
Seharusnya pasukan pengawal bergabung saat pelarian dari ibu kota.
Karena itu tidak sempat terlaksana, rencananya diubah, mereka menunggu di dekat perbatasan dan akan mengawal saat memasuki wilayah Kekaisaran.
Namun, tidak ada kabar apa pun dari pasukan pengawal tersebut.
“Apa tidak ada laporan juga dari petugas penghubung?”
“Tidak ada.”
Prajurit itu tidak menggunakan istilah Bayangan Kanselir.
Pihak Negara Bagian memang tidak mengetahui bahwa para petugas penghubung yang muncul di berbagai tempat itu adalah Bayangan Kanselir.
Namun, bagi pihak Kekaisaran yang mengetahui kebenarannya, situasi ini sungguh mencengangkan.
Bayangan Kanselir adalah para penghubung terbaik di Kekaisaran.
Dan kini, mereka sama sekali tidak datang membawa kabar tentang pasukan pengawal.
Mungkin situasinya sudah sangat buruk.
Kecemasan mulai terlihat di wajah para prajurit.
Pada saat itulah, Kesatria Bulan Merah Vermilion muncul.
“Pengawal akan kutangani. Kita tidak bisa mundur lagi.”
“Vermilion...”
“Namun, menyeberangi perbatasan tanpa pasukan pengawal itu berbahaya! Jika pasukan Negara Bagian di sekitar perbatasan bergerak...”
“Akan kutahan mereka.”
Pernyataan Vermilion yang diucapkan tanpa ragu membuat wajah para prajurit menegang.
Mereka jelas mempertanyakan apakah dia benar-benar memahami betapa sulitnya menahan musuh.
Namun Marianne mengangguk pelan mendengar kata-kata itu.
“Memang benar, kita tidak punya waktu untuk berdiam diri.”
“Kalau begitu, Yang Mulia hanya bersama sedikit orang saja...”
“Rakyat juga ikut.”
Vermilion memotong ucapan Marquis Percival.
Rencana awal telah runtuh sepenuhnya.
Membawa rakyat yang bisa menjadi beban tentu berbahaya.
Namun wilayah Marquis Percival pun tidak aman.
Tidak ada yang tahu bagaimana pengejar dari ibu kota atau pasukan Negara Bagian di perbatasan akan bergerak.
Jika salah langkah, seluruh wilayah bisa berubah menjadi lautan api.
Marquis Percival tidak memiliki kekuatan untuk mempertahankannya.
Karena itu, tentara Kekaisaran harus segera bergerak.
Namun, secepat apa pun, tetap dibutuhkan beberapa hari.
Rakyat yang telah tiba di wilayah ini tidak memiliki rumah. Beberapa hari itu akan terasa sangat berat bagi mereka.
Itulah sebabnya Vermilion, meski sadar risikonya, tetap menyampaikan keputusan itu.
“Saya tidak bisa menyetujuinya! Ini terlalu berbahaya!”
“Aku paham risikonya. Namun, jika tidak kita bawa bersama, rakyat akan mati.”
“Meski begitu, rencana awal sudah melenceng terlalu jauh!”
Mendengar upaya pencegahan para prajurit, Vermilion terdiam sejenak.
Lalu dia berkata, “...Aku mengenal Pangeran Arnold. Beliau adalah orang yang akan menolong rakyat yang menderita selama masih berada dalam jangkauan tangannya.”
“Kenapa bandit dermawan dari Negara Bagian bisa tahu soal Pangeran negeri lain!? Jangan bicara sembarangan!”
“...”
Mendengar kata-kata prajurit itu, Vermilion perlahan melepas topengnya.
Para prajurit terbelalak melihat bahwa dia ternyata seorang wanita muda, tetapi tanpa peduli, Mia menundukkan kepala kepada Marianne.
“Perkenalkan, saya Mia.”
“...Apakah identitasmu dan hubunganmu dengan Pangeran Arnold saling berkaitan?”
“Saat pemberontakan di ibu kota, aku bertugas sebagai pengawal Putri Camar Biru. Soal alasannya... rasanya terlalu merepotkan untuk dijelaskan, jadi mohon kita lewati saja.”
“Jadi di sanalah kamu punya hubungan dengan Yang Mulia Arnold?”
“Benar. Aku memang tidak punya bukti, tetapi demi membuat kamu percaya, aku melepas topeng ini. Dengan tekad itulah aku ingin kamu percaya padaku.”
“...Aku tidak bisa begitu saja percaya. Itu tidak menjadi bukti apa pun.”
Namun, Marianne melanjutkan, “Akan tetapi, pengabdianmu sejauh ini kepada rakyat layak untuk dipercaya. Karena itu, kami akan membawa rakyat bersama kami. Tidak masalah, bukan?”
Kalimat terakhir itu ditujukan untuk memastikan persetujuan semua yang hadir.
Marquis Percival tidak mengajukan keberatan, dan para prajurit pun tidak mungkin menentang keputusan sang Putri.
Lagipula, menghabiskan waktu lebih lama di sini benar-benar pemborosan waktu.
“Kalau begitu, segera lakukan persiapan.”
“Mohon bantuannya untuk pengawalan, Nona Mia.”
“Baik, Yang Mulia Putri.”
Sambil berkata demikian, Marianne dan Mia saling tersenyum.
Dengan demikian, Marianne bersama dua ratus orang rakyat pun mulai bergerak menuju perbatasan antara Kekaisaran dan Negara Bagian.
Namun, pada waktu yang hampir bersamaan, prajurit Negara Bagian yang sedang berhadapan langsung dengan prajurit Kekaisaran di perbatasan juga menunjukkan pergerakan.
“Putri itu membelot?”
Menerima laporan tersebut, jenderal Negara Bagian berpikir sejenak, lalu menyebut nama seorang pria.
“Panggil Kolonel Abraham.”
“J-Jenderal... Kolonel Abraham itu bermasalah dalam perilakunya...”
“Jika kita gagal menghentikan pembelotan sang Putri, kepalaku yang akan melayang. Orang yang bisa dipakai harus dipakai.”
“Tapi... kepribadiannya sangat bermasalah.”
“Kemampuannya nyata. Lagi pula, orang yang membuat celah di perbatasan Kekaisaran itu adalah dia.”
Setelah pemberontakan di ibu kota Kekaisaran, Negara Bagian dan Persatuan Kerajaan menyerang perbatasan utara.
Di tengah-tengah pertempuran itu, terjadi insiden di mana komandan tentara Kekaisaran ditikam oleh bawahan Gordon, menyebabkan kekacauan di pihak Kekaisaran.
Bawahan itu adalah Kolonel Abraham.
Menerima perintah rahasia, Abraham membantai satu per satu komandan tangguh di perbatasan utara, lalu pada akhirnya membelot ke Negara Bagian.
Namun setelah pembelotan, meski berada di bawah komando sang jenderal, dia terus menentang perintah, hingga akhirnya dijatuhi hukuman penahanan.
Meski begitu, tidak diragukan lagi bahwa di antara kekuatan yang dimiliki pasukan Negara Bagian, dia termasuk yang terkuat.
“Pasukan yang dipimpinnya cepat. Kirimkan dia sekarang juga.”
“Baik... dimengerti.”
Dengan wajah yang tampak belum sepenuhnya setuju, ajudan sang jenderal menerima perintah itu dan segera mengirimkan utusan.
Bagian 9
“Yang Mulia, bolehkah saya berbicara sebentar?”
“Tentu, Duke Reinfeld.”
Yang berkunjung ke kamar itu adalah Jurgen.
Kunjungan tanpa janji seperti ini jarang terjadi.
Namun, tidak ada sedikit pun keuntungan untuk menolak seorang duke yang selalu membawa pendapat berharga.
“Sebenarnya, saya punya sebuah usulan.”
“Tentang apa?”
“Saat ini Aliansi Bangsawan Timur telah mendirikan perkemahan dan melakukan pengintaian di sekitarnya, tetapi saya ingin memperluas area pengintaian tersebut.”
“Apa maksudmu memperketat pemeriksaan?”
“Pemeriksaan di sekitar kota akan kami longgarkan. Sebagai gantinya, jumlah pasukan pengintai akan kami tingkatkan secara signifikan.”
“Karena pemeriksaan di dekat kota menyebabkan kemacetan, ya? Untuk mengatasi masalah itu?”
“Itu salah satunya. Selain itu, jika jumlah pasukan pengintai ditambah, kita akan lebih mudah menanggapi keadaan darurat. Jika terus melakukan pemeriksaan di dekat kota, para kesatria juga jarang mendapat kesempatan menunggang kuda. Saya rasa ini kesempatan yang baik.”
“Apa kata Kakak?”
“Beliau mengatakan agar saya yang menanganinya.”
“Kalau begitu, tidak ada masalah. Segera laksanakan.”
Dengan pengintai yang memeriksa orang-orang sebelum mereka mencapai kota, pemeriksaan bisa dilakukan dalam dua tahap.
Tentu saja masih akan ada yang terlewat, tetapi saat ini situasinya justru membuat antrean panjang di pos pemeriksaan sehingga semuanya dilakukan terburu-buru.
Jika itu bisa diperbaiki, sedikit pengorbanan masih bisa diterima.
Lagipula, orang yang mampu menembus pemeriksaan ganda pasti juga bisa menembus pemeriksaan yang sekarang.
“Saya mengerti. Terima kasih.”
Jurgen membungkuk hormat dan hendak keluar dari ruangan.
Aku pun memanggilnya.
“Duke Reinfeld.”
“Ya? Ada apa?”
“...Dalam situasi seperti apa Duke mengakui seseorang?”
Pertanyaan yang samar.
Namun Jurgen tidak menunjukkan raut kesal, malah kembali mendekat sambil berpikir sejenak.
“Bolehkah saya menjawab sebagai pendapat pribadi?”
“Tentu.”
“Saya tidak tahu dalam bentuk apa pengakuan yang Anda maksud, tetapi saya cenderung menghormati orang yang bisa melakukan hal-hal yang tidak bisa saya lakukan. Mereka yang menguasai seni bela diri, mereka yang bisa bertindak tanpa perhitungan untung rugi... orang yang mampu menghadapi lawan yang kuat. Tentu saja, standar itu berbeda-beda bagi setiap orang.”
“Begitu ya... terima kasih. Itu sangat membantu.”
“Ah, jangan bercanda. Itu tidak akan banyak membantu. Nona Lizelotte adalah sosok yang istimewa.”
Aku tidak pernah menyebut nama Kakak, tetapi sepertinya Jurgen sudah tahu.
Jika aku berbicara soal ‘diakui’, memang hanya ada segelintir orang yang terpikir olehku.
“Jika diibaratkan permainan papan, Kakak adalah bidak besar terkuat. Namun, dia tidak mau mendengarkan perintah. Dia akan menginjak-injak musuh sesukanya.”
“Perumpamaan yang menarik. Dan memang benar. Masalahnya sekarang adalah hasil yang Yang Mulia inginkan berbeda dengan hasil yang Nona inginkan. Yang Mulia ingin menyerang bidak-bidak utama musuh saja, sedangkan Nona Lizelotte ingin menghancurkan semua bidak. Untuk menyelaraskan itu, tidak ada cara lain selain membuat Nona tunduk.”
“...Menurutmu, apa itu mungkin?”
“Ini bukan soal bisa atau tidak. Jika Anda menginginkannya, maka Anda harus melakukannya.”
Jurgen mengatakan itu sambil tersenyum.
Orang ini pasti sudah mengerti segalanya saat datang ke wilayah utara.
Dia tahu amarah membara Kakak yang tidak akan puas sebelum membakar habis Negara Bagian itu. Dia mengerti kobaran murka itu, namun tetap datang ke sini.
Untuk memikul dosa itu bersama. Untuk tidak membiarkannya menanggung semuanya sendirian.
Itulah sebabnya dia bisa tersenyum.
“Saya tidak bisa menghentikan Nona Lizelotte. Saat ini, satu-satunya orang yang bisa menghentikannya hanyalah Yang Mulia.”
“Di saat seperti ini, aku berharap Leo masih ada.”
“Yang Mulia Leonard pernah sekali menghentikan Nona Lizelotte, bukan?”
“Ya. Dia mengorbankan tubuhnya dan menghentikannya secara langsung. Leo, meski tahu amarahnya, tetap bisa mengatakan bahwa itu salah. Tapi aku tidak bisa. Jika aku menghentikannya di sini, aku tidak tahu ke mana arah amarah Kakak selanjutnya.”
“Itu karena kebaikan hati Anda.”
“Atau mungkin hanya karena aku ragu-ragu. Itulah sebabnya aku tidak cocok menjadi kaisar.”
“Mungkin. Tapi sekarang bukan saatnya membicarakan itu. Jika... Anda merasa tidak bisa menghentikannya sendiri, meniru seseorang juga bisa menjadi pilihan yang baik.”
Meniru, ya.
Memang ide yang bagus.
Tapi meniru siapa?
“Kalau bicara tentang orang yang diakui Kakak...”
“Tidak harus orang yang diakui sekarang. Orang yang pernah diakuinya juga bisa. Setidaknya Anda pasti mengenal dua orang.”
“Dua orang? Kakak Sulung sudah jelas... lalu siapa yang satu lagi?”
“Paduka Kaisar, saat beliau masih dipenuhi semangat. Tentu saja, saya rasa sekarang pun beliau masih berkobar dengan semangat.”
Mendengar kata-kata Jurgen, aku teringat suatu hari sebelas tahun yang lalu.
Hari di mana aku benar-benar melihat sosok sang Kaisar.
Sosok kaisar yang menjadi tujuan sang Putra Mahkota.
Namun...
“Bagiku... Kaisar itu lebih seperti sosok yang aku amati dari jauh.”
“Segala sesuatu butuh pengalaman. Mencobanya sekali pun saya rasa tidak ada salahnya.”
Setelah berkata demikian, Jurgen membungkuk dan meninggalkan ruangan.
Aku merasa telah menerima nasihat yang amat berharga.
Meniru saja memang tidak cukup, tetapi jika sosok yang ingin dituju terlihat jelas, semuanya akan terasa lebih mudah.
Saat aku sedang berpikir demikian, Sebas tiba-tiba muncul.
“Tuan Arnold.”
“Ada apa?”
“Kami kehilangan kontak dengan Bayangan Kanselir.”
“Mungkin hanya butuh waktu lebih lama. Mereka bergerak di wilayah musuh.”
“Itu mungkin saja... tetapi tidak adanya laporan rutin sesuai jadwal terasa janggal. Naluri saya sebagai pembunuh mengatakan demikian.”
“...Baiklah. Aku akan mempercayai instingmu. Artinya, sesuatu memang telah terjadi.”
“Belum ada bukti.”
“Kalau kita menunggu bukti, semuanya sudah terlambat.”
Sambil berkata demikian, aku melangkah keluar dari ruangan.
Sebagai Wakil Penguasa Wilayah Utara, aku berada di bawah banyak sorotan. Dalam situasi ini, bergerak sebagai Silver terlalu berbahaya.
Karena itu, aku harus menggunakan pengganti.
Saat ini, Elna tidak ada di dekatku.
Karena Elna tidak mungkin berada di sisiku setiap saat.
Elna pun membutuhkan waktu untuk beristirahat.
Namun, sekarang bukan saatnya mengatakan hal seperti itu.
“Elna! Elna, di mana kamu!?”
“Aku di sini! Ada apa!?”
Dari lantai dua kediaman, Elna menyembulkan wajahnya.
Mungkin karena aku jarang sekali memanggilnya secara langsung.
Raut wajahnya tampak panik.
“Pergilah ke perbatasan.”
“Aku ini pengawalmu, Al!?”
“Kamu yang paling cepat. Ada sesuatu yang sedang terjadi. Selidiki dan kembali.”
Menatap mataku, Elna langsung memahami keseriusan situasi dan mengangguk.
“Mark! Tolong jaga Al!”
“Siap!”
Setelah mempercayakan pengawalanku kepada Mark, Elna menjejakkan kakinya di ambang jendela terdekat.
Lalu.
“Kalau terjadi apa-apa, aku akan kembali memberi kabar!”
“Aku mengandalkanmu.”
Begitu saja Elna keluar lewat jendela, terbang menembus udara menuju perbatasan.
Yang tengah diupayakan oleh Bayangan Kanselir adalah pembelotan sang Putri Negara Bagian.
Jika sesuatu terjadi, kemungkinan besar ada hubungannya dengan itu.
“Semoga tidak terjadi apa-apa...”
Jika putri yang dijadwalkan membelot itu terbunuh saat melarikan diri ke wilayah utara.
Maka tidak aneh jika orang-orang mengatakan bahwa wilayah utara ini terkutuk.
Itu adalah sesuatu yang harus dihindari dengan cara apa pun.
Bagian 10
Elna yang menuju perbatasan segera memulai penyelidikan.
Karena Al menilai ada sesuatu yang terjadi dan sampai mengirimkannya, pasti ada tanda mencolok yang bisa ditemukan, begitu pikirnya.
Namun, sejauh yang terlihat dari udara, tidak ada keanehan di sekitar perbatasan.
Tetapi...
“Bau darah dan gosong.”
Elna mendarat di tengah hutan yang tampak biasa saja.
Di sanalah lokasi yang sebelumnya dijadikan markas oleh pasukan pengawal.
Jejak ledakan besar masih tersisa, bersama dengan banyak jumlah mayat yang bergelimpangan.
“Hampir tidak ada perlawanan.”
Dilihat dari kondisi mayat, cara mereka dibunuh semuanya sama.
Ini bukan pertempuran antarpasukan, melainkan pemusnahan total akibat serangan mendadak dari seorang ahli.
Namun, orang yang mampu menghabisi satu pasukan berjumlah sekitar seratus orang dengan mudah seperti ini jumlahnya sangat terbatas.
Dan dari metode kejahatannya, Elna langsung teringat pada satu orang.
“Pasti kamu sedang mengawasi, ‘kan? Keluarlah, Raphael.”
“...Menakutkan sekali. Tidak kusangka ketahuan.”
Raphael yang sejak tadi menghapus keberadaannya di dalam hutan, melangkah keluar dengan tenang.
Dia mengawasi tempat ini dengan niat membunuh siapa pun yang datang untuk memeriksa keadaan pasukan pengawal.
Rencana awalnya adalah menyerahkan penangkapan sang Putri kepada prajurit Negara Bagian, tetapi panggungnya tetap harus dia siapkan sendiri.
Namun, lawan yang muncul ternyata jauh di luar perkiraannya.
“Seperti yang diharapkan dari Pangeran Sisa. Dia tidak ragu memainkan kartu terkuatnya. Keputusan yang tidak bisa dibuat orang biasa.”
“Akhir-akhir ini aku sudah jarang mendengar sebutan itu... dan sekarang kamu menambah satu alasan lagi bagiku untuk membunuhmu.”
Sambil berkata demikian, Elna mencabut pedangnya.
Lalu...
“Para Kapten Kesatria Pengawal sempat berdebat soal siapa yang akan membunuhmu... tapi aku senang karena kesempatan itu jatuh ke tanganku.”
“Diremehkan sekali aku ini. Kebanyakan Kapten Kesatria Pengawal bukan tandinganku. Setidaknya harus kapten dari tiga regu teratas. Rupanya kepalaku dinilai murah.”
“Jangan besar kepala, Kapten Kesepuluh.”
“Kamu tidak tahu arti ‘menyembunyikan taringmu’? Padahal kamu sahabat masa kecil Pangeran Sisa itu.”
Raphael pun mencabut pedangnya, dan keduanya memasuki posisi siap tempur.
Tatapan mereka saling bertaut untuk beberapa saat.
Aura membunuh saling berbenturan, menciptakan ruang yang terasa sesak.
Tidak satu pun berniat mundur selangkah.
Justru karena masing-masing menunjukkan tekad untuk menghabisi lawan di tempat ini, mereka tidak bisa bergerak sembarangan.
Begitu bergerak, serangan mematikan akan langsung dilepaskan.
Ketegangan itu terasa seperti benang yang ditarik sampai batasnya.
Pemicu bentrokan itu sepele.
Seekor kupu-kupu melintas di antara mereka.
Pandangan keduanya terputus sesaat.
Pada saat itu.
Keduanya melangkah maju bersamaan.
“Haaaaaah!!”
“Uoooooh!!”
Elna menerobos lurus ke depan dan mengayunkan pedangnya dari atas, sementara Raphael mengayunkan pedangnya dari bawah.
Kecepatan mereka hampir seimbang.
Hal itu membuat Raphael mengernyit.
Karena soal kecepatan, dia yakin dirinya lebih unggul.
Dan ada satu hal lagi yang dia sadari.
“Haah!!”
“Guh!!”
Soal kekuatan, Elna jelas lebih unggul, itu sudah menjadi pemahaman bersama.
Maka jika kecepatannya setara, yang akan kalah adu benturan adalah Raphael.
Pedang mereka beradu keras, namun seperti dugaan, Raphael yang terdesak.
Bahkan momentum pedangnya sendiri tertelan, dan satu tebasan Elna menghantamnya hingga terpental.
Raphael terlempar jauh, namun masih mampu menjaga keseimbangan.
Dia segera mundur ke arah wilayah Kekaisaran.
Jika dia terus bertarung dan sampai terdorong ke sisi Negara Bagian, seluruh rencananya akan runtuh.
“Seperti biasa, kamu cepat sekali kabur!”
“Dan kamu juga tetap saja ceroboh dalam berpikir.”
Karena kehilangan inisiatif pada bentrokan pertama, Raphael terus berada dalam posisi bertahan.
Pola Raphael yang mundur dan Elna yang mengejar tidak berubah.
Namun, di tengah itu semua, Raphael terus mencoba mengguncang Elna dengan kata-katanya.
“Yang kurang berpikir itu justru kamu, ‘kan? Mengkhianati Kekaisaran benar-benar bodoh.”
“Kekaisaran itu sendiri tampaknya sudah goyah, bukan? Kalau Pangeran Sisaitu sampai terbunuh di sini, bukannya itu jadi masalah besar?”
Dia mencoba memancingnya.
Raphael memainkan kata-kata agar Elna berpikir demikian.
Sebenarnya, pembunuhan Arnold tidak termasuk dalam rencananya.
Munculnya Elna sendiri sudah di luar dugaan. Semua orang mengira Elna tidak akan pernah meninggalkan sisi Arnold.
Namun kini, Elna tidak berada di sisinya.
Jika ingin melakukan pembunuhan, situasinya tidak bisa lebih sempurna dari ini.
Namun.
“Coba saja. Anak buahku tidak akan semudah itu membiarkan pembunuhan terjadi.”
“Kamu percaya pada bawahanmu?”
“Tentu. Tidak banyak pembunuh yang bisa menembus penjagaan kesatria pengawal. Kalau ada, itu setidaknya setingkat Kapten Kesatria Pengawal.”
Sambil berkata demikian, Elna menendang perut Raphael dan menghantamkannya jauh ke belakang.
Serangan itu bukan untuk memberi luka serius, hanya pelampiasan kejengkelan Elna.
“Kebiasaan kakimu buruk sekali...!”
“Ada hal lain yang ingin kamu katakan?”
Dengan itu, Elna perlahan memperkecil jarak di antara mereka.
Dia sama sekali tidak lengah.
Dia menilai kata-kata Raphael hanyalah upaya untuk menggoyahkan perasaannya.
Dari pertukaran awal, jelas bahwa Raphael terkejut dengan kedatangannya.
Jika dia benar berniat memancing, dia tidak akan bereaksi seperti itu.
Maka yang harus Elna lakukan hanyalah satu, menekan Raphael sepenuhnya.
Karena jika dibiarkan bergerak bebas, pria itu adalah petarung ulung yang bahkan mampu melakukan pembunuhan terhadap Al.
“Sepertinya kamu tidak berniat membiarkanku kabur.”
“Sudah pasti.”
Raphael merasakan bahwa kali ini berbeda dengan kejadian di ibu kota dulu.
Di ibu kota, perhatian Elna tersita oleh berbagai hal.
Karena itu, dia tidak mampu menumbangkan Raphael yang saat itu hanya berfokus untuk melarikan diri.
Namun sekarang, Elna memusatkan seluruh perhatiannya hanya pada Raphael.
Hal itu membuatnya tersenyum.
“Aku senang... diakui sebagai lawan yang setara.”
“Berhenti mengagungkan diri sendiri. Kamu bahkan tidak sampai ke ujung kakiku. Aku hanya sedang memusatkan diri pada apa yang harus kulakukan.”
“Begitu rupanya...”
Sambil berkata demikian, Raphael perlahan menurunkan pedangnya.
Posisinya, dengan kedua tangan terkulai lemas, sekilas tampak seolah tidak memiliki niat menyerang.
Tidak terasa adanya niat membunuh maupun semangat bertarung.
Sikapnya seperti kehampaan, seakan dia telah melepaskan segalanya.
Namun, Elna langsung menyadari bahwa itu adalah sebuah kuda-kuda.
“Mengincar serangan balik dari kondisi rileks? Terlalu ekstrem untuk itu.”
Kemungkinan besar itu adalah kuda-kuda untuk mengalihkan serangan lawan dan menusuk celahnya.
Namun sejatinya, kuda-kuda adalah untuk bertahan. Membuang pertahanan sepenuhnya adalah pilihan yang terlalu ekstrem.
Dalam pertarungan setingkat Kapten Kesatria Pengawal, menerima serangan tanpa pertahanan berarti luka fatal.
Berani melakukan itu di hadapan Elna menunjukkan bahwa nyali Raphael memang luar biasa.
Namun...
“Kalau kamu ingin aku menyerang, akan kulayani.”
Elna tersenyum tipis sambil mengambil sikap, lalu melancarkan tusukan dengan segenap tenaga.
Tetapi tepat di saat terakhir, Raphael mengalihkan tusukan itu, lalu menusuk Elna yang terbuka lebar.
“Kena!!”
Raphael pun mengerahkan seluruh tenaganya dalam satu tusukan.
Tusukan tercepat yang diselimuti sihir angin.
Tidak ada jalan untuk menghindar.
Elna telah memasuki fase “lepas tenaga” setelah menyerang.
Bagi Raphael yang telah sepenuhnya melewatinya, Elna saat itu penuh celah.
Meyakini itu sebagai serangan balik sempurna, Raphael mendorong lengannya ke depan.
Namun, tusukan itu dihindari tepat sebelum mengenai sasaran.
Lalu...
“Apa...?”
Bunyi kering bergema, dan pedang Raphael patah.
Serangan balik dari kondisi rileks.
Teknik itu ternyata juga dilakukan oleh Elna.
Dia sengaja membuka diri untuk memancing serangan lawan.
Tindakan yang terlalu berbahaya, namun bagi Elna itu bukan sesuatu yang sulit.
Bukan karena teknik semacam itu diwariskan di keluarga Armsberg, melainkan karena dia memahami mekanismenya hanya dengan melihat kuda-kuda Raphael.
Bagi Elna, itu sudah lebih dari cukup.
“Teknik yang menarik... tapi penangkalnya juga mudah.”
Sambil berpikir mustahil, Raphael mencoba menggerakkan kakinya.
Namun sebelum itu, tangan Elna telah mencengkeram lehernya.
“Khak...!”
“Terkejut karena jurus pamungkasmu dipatahkan? Kalau begitu, perasaanku juga jadi lebih lega. Aku memang merasa tidak akan puas kalau hanya memukulmu.”
Dengan tatapan sedingin es, Elna membanting Raphael ke tanah.
Tidak mampu berbuat apa-apa, Raphael meringis menahan rasa sakit.
Elna berniat mencekiknya.
Dia memang ingin membunuhnya, tetapi akal sehat yang mengatakan bahwa lebih baik menangkapnya jika memungkinkan sedikit lebih menang.
“Tidurlah. Saat bangun nanti, mungkin satu atau dua lenganmu sudah tidak ada.”
“Guh...”
Meski sadar ini berbahaya, Raphael tidak bisa berbuat apa-apa.
Saat dia mencoba meronta, kesadarannya mulai mengabur.
Dia tidak boleh tertangkap seperti ini.
Saat Raphael mengulurkan tangan ke langit, berusaha melakukan sesuatu.
Seorang sosok berjubah hitam pekat berdiri di belakang Erna.
“!?!?”
Meski tengah mencekik Raphael, Elna terkejut karena posisi belakangnya diambil. Dia mengayunkan pedangnya dengan satu tangan.
Namun pedang itu dialihkan, dan Elna justru ditendang hingga terpental.
“Guh!? Siapa kamu!?”
Elna segera bangkit dan bersiap menyerang.
Namun dia tidak bisa melangkah lebih jauh.
Instingnya memperingatkan bahwa satu langkah saja ke depan akan memasukkannya ke dalam jarak serang sosok berjubah hitam yang mengerikan itu.
“Kuh... kuh... terima kasih banyak...”
“Aku hanya menjalankan tugas.”
“Yah, apa pun itu... mari kita habisi dia.”
Sambil berkata demikian, Raphael menggenggam pedang yang telah patah.
Dia menilai bahwa selama masih bisa membungkusnya dengan sihir angin, dia masih bisa bertarung.
Namun...
“Bagi seorang pendekar, pedang yang patah berarti kekalahan. Menyerahlah dan mundur.”
“...Aku masih punya kartu pamungkas.”
“Kalau itu rencanamu, aku tidak akan menghentikanmu. Tapi aku tidak akan bekerja sama.”
Mendengar itu, Raphael mendecakkan lidah lalu melemparkan pedangnya.
Melihatnya, sosok berjubah hitam melempar sebuah bola hitam.
“Kalau begitu, Elna von Armsberg. Sampai bertemu lagi.”
“Tunggu!!”
Saat Elna menyadari makna bola hitam itu.
Semuanya sudah terlambat.
Itu artefak sihir kuno.
Alat sihir teleportasi yang sangat jarang ditemukan dalam reruntuhan.
Dengan alat itu, yang mampu mereproduksi sihir kuno teleportasi, keduanya tersedot ke dalam lubang hitam dan menghilang.
Lubang itu pun segera lenyap. Tidak ada cara untuk mengejar. Dalam luapan kekesalan, Elna mengayunkan pedangnya.
“Siapa mereka...?”
Kapan terakhir kali dia disusupi dari belakang dengan begitu sempurna?
Ada satu hal yang pasti.
Penolong itu lebih kuat daripada Raphael.
Menahan rasa frustrasi, Elna menyarungkan pedangnya.
“Aku harus kembali melapor.”
Jika ada pendukung sekuat itu, segala kemungkinan bisa terjadi.
Ini bukan saatnya tenggelam dalam penyesalan.
Sambil menegur dirinya sendiri dalam hati, Elna pun kembali ke sisi Al.
Bagian 11
Kolonel Abraham hingga beberapa tahun lalu hanyalah seorang prajurit biasa.
Namun hidupnya berubah drastis setelah dia memperoleh suatu benda.
Sebuah pedang sihir.
Nama pedang itu adalah Darah Kehidupan, Blut.
Pedang hitam bermata tunggal dengan kemampuan yang sederhana untuk penguatan fisik.
Akan tetapi, efek sederhana itu jauh lebih kuat dibandingkan pedang sihir lainnya. Berkat pedang inilah Abraham mampu naik pangkat hingga menjadi kolonel.
Namun sebagai gantinya, kepribadian Abraham berubah menjadi bermasalah.
“Darah... darahnya kurang!”
Di sebuah gubuk yang didirikan oleh militer Negara Bagian, Abraham berteriak seperti itu.
Saat ini, pedang sihir tersebut telah disita, dan Abraham berada dalam tahanan rumah.
Para prajurit Negara Bagian selama ini enggan mendekatinya karena rasa ngeri, tetapi karena menerima perintah, mereka pun membebaskan Abraham dari tahanan tersebut.
“Kolonel Abraham. Perintah telah turun untuk Anda.”
“Perintah...? Sebelum itu, kembalikan dulu pedang sihirku!!”
Sambil berkata demikian, Abraham mencengkeram leher prajurit pembawa pesan dan langsung mencekiknya.
Prajurit itu tidak bisa bernapas dan hampir pingsan, tetapi ketika Blut dibawa masuk, Abraham melepaskannya.
“Oh...! Sahabatku yang paling kusayangi...!”
Abraham mengambil Blut, menggosokkan pipinya ke bilah pedang itu, dengan wajah yang tampak terbuai.
Sambil menjaga jarak dari Abraham, prajurit pembawa pesan menyampaikan perintahnya.
“Kh... pimpin pasukan kavaleri dan bergerak menuju garis perbatasan dengan Kekaisaran! Putri negara kita akan membelot ke Kekaisaran! Hentikan itu!”
“Hentikan...? Kalau aku turun tangan, semuanya akan menjadi mayat.”
“Tidak masalah! Bunuh saja jika perlu, yang penting hentikan mereka!”
“Fu, fu, fu... darah seorang putri, ya... aku penasaran, seperti apa darah yang begitu mulia itu...”
Sambil berkata demikian, Abraham berdiri dengan gerakan halus.
Lalu...
“Aku berangkat. Pasukan kavaleri, ikut saja kalau mau.”
Setelah mengatakan itu, Abraham keluar dari gubuk, meloncat ke atas kuda terdekat, lalu melesat pergi.
* * *
Setelah meninggalkan wilayah Marquis Percival, Marianne dan rombongannya memimpin rakyat hingga tiba di dekat perbatasan Kekaisaran.
Seperti yang diperkirakan, pengejar dari tentara Negara Bagian belum juga muncul.
Namun.
“Mengerikan...”
Melihat keadaan yang begitu mengenaskan, Marianne tak kuasa menahan gumamannya.
Di jalur pelarian yang disiapkan untuk pembelotan, mereka menemukan satu pasukan pengawal yang telah musnah seluruhnya.
Akibat pertempuran antara Raphael dan Elna, markas yang sebelumnya tersembunyi kini tampak mencolok.
“Kalau pasukan pengawal sudah dilenyapkan, berarti kejadian ini telah diketahui musuh! Jika kita terus maju, bukankah itu sama saja berjalan sesuai keinginan mereka?”
Seorang prajurit menyampaikan kekhawatiran itu, tetapi mereka sudah terlalu jauh melangkah bersama rakyat untuk bisa berbalik arah.
Marianne berpikir sejenak, lalu menoleh ke arah Mia.
“Mia, menurutmu bagaimana?”
Jawaban Mia sudah bulat.
Cepat atau lambat, pasukan pengejar pasti akan datang.
Jika mereka harus melindungi rakyat, mereka pasti akan tersusul.
Kalau begitu.
“Kita tidak punya pilihan selain meminta bantuan.”
“Tentara Kekaisaran?”
“Kurasa Tentara Kekaisaran yang berjaga di perbatasan tidak akan meninggalkan pos mereka. Kita harus mengandalkan Pangeran Arnold.”
“T-Tapi, untuk mencapai wilayah Marquis Zweig tempat Yang Mulia berada, meski mengirim kurir tercepat, tetap butuh satu hari penuh!”
“Sampai saat itu, kita harus mengulur waktu.”
Bahkan jika berhasil sampai, belum tentu Al akan segera bergerak.
Namun dalam kondisi sekarang, itulah satu-satunya pilihan terbaik.
Hal yang paling diwaspadai pihak lawan adalah bergabungnya mereka dengan Tentara Kekaisaran di perbatasan.
Jika mereka berusaha mencegah itu, maka pergerakan musuh bisa diperkirakan sampai batas tertentu.
Namun...
“Kita juga harus mengantisipasi serangan terhadap kurir. Kita perlu mengirim beberapa orang.”
Itu tugas yang sangat berbahaya.
Musuh pun bukan orang bodoh.
Tujuan akhirnya tetap Kekaisaran.
Jika begitu, mereka pasti sudah mengirim orang lebih dulu ke sisi Kekaisaran.
Perbatasan utara saat ini tidak sepenuhnya tertutup. Beberapa orang bisa menyelinap masuk tanpa masalah.
Dan tidak diragukan lagi, mereka akan mengincar para kurir. Karena itu, tidak mungkin hanya mengirim satu orang saja.
“Kuda yang layak digunakan sebagai kurir ada tiga ekor. Selain itu, sepertinya tidak akan sanggup.”
“Kalau begitu, tolong pilih dua orang. Aku ingin merekomendasikan satu orang.”
“Rekomendasi?”
“Dia anak yang cerdas. Aku yakin dia akan menjalankan tugasnya dengan baik.”
Sambil berkata demikian, Mia memandang ke arah kerumunan rakyat.
Lalu...
“Ted. Kemarilah.”
Mia memanggil nama Ted.
Begitu melihat bocah yang melangkah maju, mata Marianne membelalak.
Anak yang usianya tampak tidak jauh berbeda darinya sama sekali tidak terpikirkan untuk dijadikan kurir.
“Mia! Ini sudah keterlaluan!”
“Kalau semuanya tentara, terlalu mencolok di mata musuh. Tidak seorang pun akan mengira anak kecil sebagai kurir.”
“Itu masuk akal. Anak-anak juga lebih ringan, jadi beban kuda lebih kecil.”
“Tapi..”
“Yang jadi masalah adalah kemampuannya.”
“Aku menjaminnya.”
Dengan adanya dukungan dari prajurit, Marianne pun terdiam.
Ini bukan lagi saatnya memperdebatkan soal anak atau orang dewasa.
“Kak Mia... ini soal apa?”
“Ted, kamu akan pergi sebagai kurir dengan menunggang kuda menuju Pangeran Arnold. hanya kamu anak yang bisa menunggang kuda dan membaca peta.”
“Tunggu dulu... tiba-tiba apa ini? Kurir? Maksudnya aku disuruh kabur sendirian!?”
“Bukan kabur, melainkan pergi meminta bantuan.”
“Memangnya ada jaminan Pangeran Kekaisaran mau menolong!? Orang sepertiku pasti bahkan tidak akan ditemui!”
“Pangeran Arnold tidak akan meninggalkan orang yang sedang terdesak. Terlebih lagi jika itu anak kecil.”
“Jangan memperlakukanku seperti anak-anak! Aku juga bisa bertarung! Aku baik-baik saja!”
“Justru karena memperlakukanmu sebagai orang dewasa, aku mempercayakan ini padamu. Jika bertemu Pangeran, serahkan kantong ini. Dengan itu, dia pasti akan mengerti.”
Sambil berkata demikian, Mia tanpa memberi kesempatan membantah, menarik tangan Ted dan membawanya ke depan kuda.
Seekor kuda yang telah dibebani perbekalan minimum.
Dua prajurit lainnya sudah menyelesaikan persiapan mereka.
“Pergilah. Temui Pangeran sebagai wakilku. Katakan bahwa Mia meminta bantuan. Dia pasti akan bergerak.”
“Kalau dia tidak bergerak bagaimana!? Dia itu bangsawan tingkat atas, keluarga kekaisaran! Mana bisa dipercaya!”
“Jangan meremehkan keluarga Elang Emas.”
“Pangeran Arnold itu ‘kan dikenal sebagai pangeran yang paling tidak berguna di antara keluarga kekaisaran!? Aku tahu dia dijuluki Pangeran Sisa!”
“Kalau dia tetap tidak marah meski dicemooh seperti itu, bukankah itu berarti dia bisa dipercaya?”
“Dia cuma orang lemah, ‘kan!?”
“Kalau begitu, temui saja dan buktikan sendiri.”
Sambil berkata demikian, Mia menaikkan Ted ke atas kuda.
Menyadari bahwa percuma berdebat, Ted meraih peta yang disodorkan prajurit dengan kasar.
“Berjanjilah, jangan bertindak gegabah sampai bantuan datang.”
“Itu tergantung lawannya.”
Karena tidak mendapat janji yang jelas, Ted mengernyitkan wajah.
Sementara itu, dua prajurit sudah mulai memacu kuda mereka.
Ted pun menyusul di belakang mereka.
Kepada Ted yang menjauh, Mia berseru, “Ted, jangan lupa mengucapkan terima kasih kalau sudah ditolong, ya!”
“Sungguh...”
Dengan perasaan kesal terhadap sikap Mia yang terlalu santai, Ted pun menyerah dan mengejar dua orang di depannya.
Bagian 12
Abraham bergerak dengan sangat cermat.
Jumlah pasukan kavaleri yang dipimpinnya mencapai seribu penunggang.
Sebagian dari pasukan berkuda itu dia perintahkan untuk menyusup ke sisi Kekaisaran, dengan tugas membunuh para kurir musuh.
Sementara itu, dia sendiri bergerak menyusuri perbatasan, menelusuri jejak.
Pada akhirnya, pihak lawan tidak punya pilihan selain melarikan diri ke wilayah Kekaisaran.
Arah pelarian mereka terbatas.
Maka, memburu mereka bukanlah hal yang sulit.
“Ah... darah... tunggu sebentar lagi...”
Sambil bergumam sendiri, Abraham membuat para prajurit kavaleri menjaga jarak darinya.
Selain karena aura yang mengerikan, Abraham kerap tiba-tiba mengubah arah tanpa peringatan.
“Hm? Ke arah sini!”
Tiba-tiba, Abraham membelok ke kiri dari arah semula.
Tanpa aba-aba atau perintah sebelumnya, pasukan kavaleri pun panik dan segera mengejarnya.
Namun, berkat itu pula, mereka akhirnya menemukan petunjuk.
“Ini jejak kereta kuda!”
“Tapi, seingat saya, di depan sana tidak ada jalan rahasia menuju perbatasan...”
“Itu jalur tembus yang hanya diketahui pihak Kekaisaran. Mereka tidak menutupnya justru untuk situasi seperti ini. Maju!”
Abraham segera mengambil keputusan dan memerintahkan untuk mengikuti jejak kereta.
Namun, setelah beberapa saat, dia menyadari adanya kejanggalan.
“Jejak kaki berkurang...?”
“Wah!?”
Karena Abraham berhenti mendadak, pasukan kavaleri ikut terhenti.
Saking tiba-tibanya, beberapa kuda saling bertabrakan, membuat sejumlah prajurit terlempar jatuh.
Namun, Abraham sama sekali tidak peduli.
“Ada apa, Kolonel!?”
“Tidak bisa kamu lihat? Jejak kakinya berkurang.”
“Jelas mereka masih bersama rakyat! Pasti ada yang terpisah!”
“Bodoh tidak berguna. Jangan pernah bicara lagi.”
Sambil berkata demikian, Abraham memenggal leher prajurit yang berbicara itu.
Namun sesaat kemudian, dia mengernyit.
“Aku membuatmu meminum darah yang buruk... maafkan aku, sahabatku.”
Dia mengeluarkan sapu tangan dan membersihkan pedang sihirnya dengan saksama.
Sementara itu, pikirannya mulai menyusun kembali situasi.
Pihak lawan telah terbagi menjadi dua kelompok.
Terlebih lagi, satu menggunakan kereta, yang lain berjalan kaki.
Dia terlambat menyadarinya karena sampai titik tertentu jejak mereka telah dipalsukan.
Mereka terbiasa dikejar.
Dengan penilaian naluriah itu, Abraham segera berbalik arah.
“Cari jejaknya! Seharusnya ada jejak yang bercabang!”
“T-Tapi, keretanya ke arah sana...”
“Mereka memanfaatkan prasangka bahwa jika itu seorang putri, pasti dia bergerak dengan kereta! Putri itu ada di kelompok yang berjalan kaki!”
Akankah seorang putri kerajaan diturunkan dari kereta dan dipaksa berjalan kaki?
Mungkin jika tujuan sudah dekat, masih masuk akal, tetapi jarak ke kota-kota utama di utara Kekaisaran masih sangat jauh.
Hampir mustahil, itulah yang terlintas di benak seluruh pasukan kavaleri.
Namun, menentang berarti mati.
Dilanda ketakutan, para prajurit kavaleri mati-matian mencari jejak kaki.
Dan akhirnya...
“K-Ketemu!”
“Ya, itu memang jejak kaki.”
Sejumlah kecil jejak mengarah ke arah yang berbeda dari jalur kereta.
Namun, arah akhirnya tetap menuju wilayah Kekaisaran.
“Apakah kita perlu membagi pasukan...?”
“Tidak perlu. Kalau ternyata salah, kita tinggal mengejar keretanya lagi.”
“T-Tapi... kalau mereka sampai lolos...”
“Keretanya tidak akan bisa lari dari kavaleri. Apalagi mereka juga tidak bisa kabur lurus begitu saja.”
Sambil berkata demikian, Abraham mulai memacu kudanya.
Dengan perasaan cemas, pasukan kavaleri pun mengejar di belakangnya.
* * *
“Kita ketahuan.”
“Tidak mungkin...”
Mia yang tadi menempelkan telinganya ke tanah bangkit berdiri.
Suara derap kuda pasukan kavaleri terdengar mendekat ke arah mereka.
Dan jumlahnya cukup banyak.
Mereka sama sekali tidak membagi pasukan.
“Sejak awal ini memang rencana yang cepat atau lambat akan terbongkar.”
Mia menurunkan Marianne dari kereta, lalu berjalan melalui rute lain bersama sejumlah kecil pengawal.
Rute utama kini ditempuh oleh rakyat bersama para prajurit Kekaisaran.
Dia berharap musuh akan membagi pasukan, namun tidak disangka mereka justru menebak pilihan yang benar.
“Entah mereka hanya beruntung, atau benar-benar membaca situasi... itu akan sangat menentukan.”
Sambil berbicara, Mia berusaha bergerak di sela-sela pepohonan yang sebisa mungkin tidak dapat dilewati kuda, untuk melepaskan pengejaran.
Namun, jika terus bergerak seperti itu, mereka tidak akan pernah bisa memasuki wilayah Kekaisaran.
Untuk sampai ke sisi Kekaisaran, mereka harus menembus hutan tempat mereka berada sekarang.
Tak lama lagi, pencarian pasti akan dimulai di dalam hutan.
Meski begitu, Mia tetap memprioritaskan upaya mengulur waktu.
“Pokoknya kita harus mengulur waktu, lalu mencari celah untuk menembus hutan.”
“Apakah itu mungkin...?”
“Kita lakukan sebisanya.”
Sambil berkata demikian, Mia mengembuskan napas pelan, sedikit lega.
Dia merasa bersalah pada Marianne, tetapi Mia juga lega karena musuh tidak mengejar rakyat.
Meski ada prajurit Kekaisaran yang mengawal, jumlah pengejar tetap lebih banyak.
Walaupun bisa jadi itu perhitungan bahwa target akan berubah begitu mereka tahu sang Putri tidak ada di sana, fakta bahwa rakyat yang tidak berdaya tidak menjadi korban adalah sebuah keberuntungan.
Terlebih lagi, di antara rakyat itu ada saudara-saudaranya sendiri.
Mengetahui mereka selamat adalah sesuatu yang patut disyukuri.
“Mia... bolehkah aku mengatakan sesuatu yang agak tidak pantas?”
“Tentu. Apa itu?”
“Sejujurnya... aku merasa lega karena para pengejar datang ke arah kita. Aku sempat merasa bersalah, bertanya-tanya apakah kita menjadikan orang-orang tidak berdaya itu sebagai umpan.”
“...Aku juga memikirkan hal yang sama.”
“Begitu ya... kalau begitu, mari kita berusaha sebaik mungkin menjadi umpan.”
Sambil berkata demikian, Marianne tersenyum.
Melihat senyum itu, tekad Mia pun kembali menguat.
Apa pun yang terjadi, dia akan memastikan putri ini lolos.
“Pengejar semakin dekat... mulai dari sini akan terasa berat, tahu?”
“Aku sudah siap.”
“Baiklah. Untuk sementara, rendahkan badan dan ikuti aku. Di hutan ini banyak tempat yang tidak bisa disisir dengan kuda.”
“Mia, sepertinya kamu tahu segalanya...”
“Aku sudah terbiasa dikejar.”
Sambil berkata begitu, Mia tersenyum pahit.
Meski terbiasa dikejar, Mia yang dulu mungkin akan memilih kabur bersama semua orang.
Dia pasti akan berpikir bahwa cukup baginya untuk menghadapi musuh dan memukul mundur mereka.
Namun kini, dia sedikit mengandalkan siasat.
Karena memecah kekuatan lawan membuat segalanya lebih mudah ditangani.
Mengapa dia bisa berpikir seperti itu?
Pengalamannya di Kekaisaran telah membekas.
“Di Kekaisaran pun aku pernah melarikan diri...”
Sambil mengenang pengalamannya di sana, Mia berbisik pelan.
Saat itu pun situasinya nyaris tanpa harapan, namun dia bertahan sampai bantuan datang.
Kali ini pun, dia hanya perlu bertahan.
Perbedaannya adalah orang yang dulu menunggu pertolongan, kini berada di pihak yang datang untuk menolong.
Bagian 13
Ted berlari tanpa memikirkan apa pun selain tujuan di depannya.
“Hah... hah... aku harus cepat...”
Para prajurit yang tadi bersamanya di tengah perjalanan kini sudah tidak ada lagi.
Untuk menarik perhatian musuh, mereka memilih rute yang mencolok.
Dengan firasat akan kematian mereka sendiri, mereka membiarkan Ted melanjutkan perjalanan.
Musuh pun tampaknya tidak pernah membayangkan adanya kurir seorang anak, sehingga Ted sama sekali tidak dikejar.
Namun, memacu kuda tanpa tidur seharian penuh adalah hal yang sangat kejam.
Terlebih lagi, Ted harus terus bergerak sambil membaca peta.
Apakah arah yang ditempuh sudah benar atau tidak, kecemasan itu terus menghantuinya.
Meski demikian, dengan kekuatan mental yang tangguh, Ted mampu bertahan.
Dan akhirnya, Ted berhasil mencapai titik di mana ibu kota wilayah Marquis Zweig, Deuce, sudah hampir terlihat.
Namun, di sanalah kuda yang ditungganginya mencapai batas.
Melihat kudanya roboh karena tidak sanggup lagi berlari, Ted tidak mencoba menyemangatinya.
“Terima kasih... kau sudah bekerja keras,” ucapnya sambil berterima kasih pada kuda yang napasnya sudah terengah-engah.
Lalu Ted pun mulai berlari dengan kakinya sendiri.
Namun, kelelahan telah mencapai puncaknya.
Seberapa pun dia berlari, kota itu seolah tidak kunjung mendekat.
Di tengah kepanikan itu, pandangan Ted menangkap sosok para kesatria yang tengah beristirahat.
Yang langsung menarik perhatiannya adalah kuda-kuda yang terikat di sana.
Tanpa ragu, Ted berlari ke arah mereka.
“Aku harus bertemu... dengan pangeran!”
Sambil terus mengulang kata-kata itu, Ted mencuri kesempatan saat para kesatria lengah, melepaskan tali kekang, lalu menaiki seekor kuda.
Namun, dalam kondisi kelelahan ekstrem, gerakannya sama sekali tidak bisa dibilang cekatan.
“Hei! Apa yang kamu lakukan, bocah!”
“Lepaskan aku! Aku harus bertemu pangeran!”
Ted segera ditangkap oleh para kesatria dan ditarik turun dari kuda.
Meski begitu, dia tetap meronta-ronta.
Di hadapannya, berdirilah seorang pria.
Pakaiannya rapi dan berkelas, jelas seorang bangsawan.
“Anak muda, kenapa kamu mencoba mencuri kudaku?”
“Bukan mencuri! Aku meminjam! Aku akan mengembalikannya! Aku adalah kurir untuk pangeran!”
“Tidak bisa dipercaya... Coba ceritakan dulu keadaanmu.”
“Aku tidak punya waktu! Lepaskan aku!”
“Mana mungkin aku melepasmu tanpa tahu apa-apa! Berhenti meremehkan orang dewasa! Jadi apa? Mau kamu jual kudanya? Atau sekadar iseng?”
Melihat bangsawan itu menghela napas jengkel, niat membunuh seketika muncul dalam diri Ted.
Tanpa pikir panjang, dia menendang tulang kering pria bangsawan itu.
“Apa!? Apa yang kamu lakukan!?”
“Sudah kubilang bukan begitu! Aku harus bertemu pangeran! Ini penting! Tolong pinjamkan kudamu!”
“Masih juga kamu bicara begitu... Aku bisa menyerahkanmu sebagai pencuri yang tertangkap basah, tahu? Hentikan kebohonganmu dan jujurlah. Aku tidak akan memperlakukanmu dengan buruk.”
“Tidak peduli! Pokoknya pinjamkan kudanya! Aku kurir!”
Tidak ada titik terang.
Di kepala Ted, hanya ada satu tujuan untuk secepatnya pergi ke kota dan bertemu pangeran.
Saat itu pula, rombongan lain tiba.
“Ada apa ini?”
“Ah... Tuan Jurgen.”
Bangsawan tadi langsung menundukkan kepala.
Pria bertubuh agak gemuk itu tetap berada di atas kudanya, tanda bahwa kedudukannya sangat tinggi.
Saat menatap ke arah Ted dari atas, sesuatu mendidih di dalam dada Ted.
“Siapa anak ini?”
“Pencuri kuda.”
“Pencuri kuda?”
“Sudah kubilang bukan begitu!! Kalian selalu seperti ini! Tidak pernah mau mendengar apa pun dari kami! Karena selalu melihat dari atas, suara kami sama sekali tidak sampai ke telinga kalian!”
“Hei! Kamu tahu dengan siapa kamu berbicara!?”
“Peduli setan! Aku tidak peduli dengan status! Nyawa orang-orang dipertaruhkan! Aku berlari mati-matian sebagai kurir! Aku butuh kuda! Aku harus ke kota dan bertemu pangeran!”
“Masih saja bicara begitu... Kebohonganmu cukup besar.”
“Kalian memang tidak akan percaya, ‘kan!? Kalian tidak pernah percaya kata-kata rakyat jelata! Aku tahu! Kalian cuma menganggap sesama bangsawan itu manusia, bukan!? Bangsawan terhormat, katamu!? Membuatku mual! Tidak ada sedikit pun yang terasa mulia!”
“Bocah sialan! Sudah cukup!”
Kesatria yang menahan Ted, mungkin menyadari situasinya mulai berbahaya, menekan tubuh Ted ke tanah.
Namun, kata-kata Ted tak juga berhenti.
“Dasar sampah! Karena kalian, rakyat jelata menderita! Kalian tinggal diam saja makanan sudah datang, semua orang menunduk di sekitar kalian! Pasti rasanya enak sekali, ya!? Menyenangkan, ya, melihat orang lain tersiksa seperti itu!?”
“Kurang ajar!”
Bangsawan itu mengangkat lengannya, tampaknya telah mencapai batas kesabaran.
Namun, lengannya ditahan oleh Jurgen.
Meski begitu, tatapan Jurgen tetap lurus tertuju pada Ted.
“...Masih ada yang ingin kamu ucapkan?”
“...Apa...?”
“Dari kelihatannya, kamu benar-benar berlari sejauh ini. Kelelahanmu pun jelas terlihat. Jadi, ka,u berlari hanya untuk memaki para bangsawan?”
“Mana mungkin... mana mungkin begitu!?”
“Kami tidak punya alasan untuk mempercayaimu. Terlebih jika kamu memaki seperti itu, wajar jika kami tidak mau mendengarkan. Tapi... sepertinya ada sesuatu yang benar-benar harus kamu lakukan. Apa kamu punya waktu untuk berbuat seperti ini?”
Dinasehati seperti itu oleh Jurgen, Ted dilanda konflik batin yang hebat.
Namun, tekadnya menekan semua kekhawatiran itu.
Sambil menggesekkan dahinya ke tanah, Ted memohon dengan suara bergetar.
“...Tolong pinjamkan kudanya... aku membutuhkannya... kumohon... tolong aku...”
Ted bukanlah kurir resmi, sehingga dia tidak memiliki apa pun untuk membuktikan statusnya.
Asalkan dia bisa bertemu dengan Al, dia memiliki kantong titipan dari Mia. Namun untuk itu, dia harus sampai ke kota. Begitu tiba di sana, Ted telah bertekad akan menemui sang pangeran, meski harus membuat keributan sekalipun.
Ada rasa terhina. Ada pula penyesalan.
Namun tetap saja, Ted menundukkan kepala di hadapan seorang bangsawan. Itu adalah pertama kalinya sejak dia pernah memohon agar adiknya diselamatkan.
Perbedaannya dengan saat itu hanya satu.
Kualitas bangsawan yang dia mintai tolong kali ini jelas berbeda.
“Baiklah. Naiklah.”
“Hah!? Tuan Jurgen! Anda percaya padanya!?”
“Aku percaya. Dari sikap awalnya saja sudah terlihat jelas, dia benar-benar membenci kaum bangsawan. Meski begitu, dia tetap datang meminta pertolongan. Menundukkan kepala pada orang yang dibencinya bukanlah hal mudah. Anak seperti ini, yang kebenciannya begitu nyata, tidak akan merendahkan diri demi kepentingannya sendiri. Kalau dia melakukannya, pasti demi orang lain.”
Sambil berkata demikian, Jurgen mengulurkan tangannya kepada Ted.
Namun, Ted tidak mampu langsung menyambut tangan itu.
Ada penolakan naluriah dalam dirinya terhadap gagasan menunggangi kuda milik bangsawan.
Akan tetapi.
“Kamu tidak bisa naik kuda bangsawan, ya? Kebanggaan yang murahan. Kalau mau mempertahankan harga diri, buatlah yang lebih besar. Bukankah ada seseorang yang ingin kamu selamatkan apa pun risikonya? Kalau begitu, naiklah. Kudaku ini adalah kuda tercepat di wilayah timur. Bahkan ditunggangi orang seberat aku pun, dia masih bisa melesat seperti angin.”
“...Sial!”
Ted akhirnya meraih tangan Jurgen.
Dengan mudah, Jurgen menariknya naik dan mendudukkannya di depan dirinya.
“Kita akan ngebut, jadi pegangan yang kuat.”
“Hah? Woah...!”
Sesuai ucapannya, Jurgen langsung memacu kuda dengan kecepatan penuh.
Ted hanya bisa berpegangan mati-matian agar tidak terlempar.
Melihat Ted yang berjuang sekuat itu, Jurgen menyipitkan mata, lalu menambah kecepatan lagi.
Begitu cepatnya hingga para kesatria pengiring tidak mampu mengejar.
Tidak lama kemudian, kota pun mulai terlihat.
Namun...
“Hei... ini kan...?”
“Perkemahan militer. Kita terobos.”
“Serius!?”
Tanpa menghiraukan ucapan Ted, Jurgen melaju lurus menerobos perkemahan.
Kuda berlari di dalam kamp bukanlah hal aneh, tetapi berlari sekuat tenaga tanpa peduli sekitar adalah pemandangan yang sangat jarang.
Tindakan yang membuat siapa pun mengernyitkan dahi.
Namun.
“Ini utusan untuk Yang Mulia! Minggir!”
Dengan suara menggelegar bak auman naga, Jurgen berteriak.
Para bangsawan yang sedang berlatih dan para kesatria yang merawat senjata mereka segera panik dan membuka jalan.
Dan setiap bangsawan maupun kesatria yang menepi, pasti menundukkan kepala.
“Kamu ini... sebenarnya siapa...?”
“Bangsawan biasa saja. Karena orang tuaku bangsawan, aku pun terlahir sebagai bangsawan. Kamu benar. Kami tidaklah mulia. Karena itulah, kami tidak boleh lalai untuk berusaha menjadi mulia.”
Sambil berkata demikian, Jurgen terus memacu kudanya menuju gerbang kota.
Namun gerbang itu tertutup.
“Gerbangnya tertutup!?”
“Buka gerbang! Ini utusan untuk Yang Mulia! Segera buka!”
Benar-benar cara yang kasar.
Sambil berpikir begitu, Ted menutup telinganya.
Suaranya terlalu keras, sampai-sampai telinganya terasa mau tuli.
Namun berkat teriakan itu, gerbang mulai terangkat ke atas.
Meski begitu, Jurgen tidak memperlambat laju.
“Hei, hei...”
“Bahkan waktu untuk menunggu gerbang terbuka penuh pun terlalu berharga.”
“Walau begitu...”
“Jangan takut. Kalau kamu percaya bahwa waktu yang kita hemat sekarang pasti akan berguna, maka apa pun bisa dilakukan.”
Dengan berkata demikian, Jurgen memiringkan tubuhnya dan menyelip masuk ke celah gerbang yang baru terbuka sebagian.
Celah sempit, hanya cukup untuk dilewati satu ekor kuda.
Ted menempelkan tubuhnya erat-erat pada kuda, namun bagi Jurgen itu saja belum cukup.
Sesaat kemudian, mereka sudah berlari tanpa terjadi apa-apa.
Namun...
“H-Hei... darah...”
“Hanya tergores sedikit. Lagipula, kamu juga berdarah. Kita impas.”
Pipi Jurgen sedikit terluka.
Dia hanya tersayat tipis karena gesekan di batas yang sangat mepet.
Ted yang mengkhawatirkannya pun ternyata penuh luka kecil di sekujur tubuhnya.
Melihat itu, Jurgen meletakkan tangannya di kepala Ted.
“Sebentar lagi. Yang Mulia berada di kediamannya. Panggil beliau dengan suara yang keras. Yang Mulia tidak akan mengabaikan orang yang berjuang mati-matian.”
Sambil berkata demikian, kuda yang membawa Jurgen dan Ted pun menerobos masuk ke halaman kediaman.
Para prajurit yang bersamanya pun tidak membawa tanda pengenal, dan sekalipun mereka memilikinya, Ted kemungkinan hanya akan dituduh telah mencurinya.
Bagian 14
Jurgen dan Ted menerobos masuk ke dalam kediaman itu. Begitu turun dari kuda, mereka langsung berteriak keras memanggil nama Al.
“Yang Mulia! Yang Mulia Arnold! Apakah Anda ada di sini!?”
“Pangeran Arnold! Saya pembawa pesan! Tolong dengarkan! Pembawa pesan!”
Orang yang pertama kali masuk ke dalam kediaman adalah Ted.
Para kesatria pengawal sempat hendak menghentikannya, karena terasa tidak pantas seorang bocah yang tidak mereka kenal masuk begitu saja ke dalam kediaman. Namun, begitu mereka melihat sosok Jurgen di belakangnya, para kesatria pengawal itu langsung mundur selangkah.
Bukan karena Jurgen adalah seorang duke kekaisaran.
Melainkan karena dia adalah salah satu dari sedikit bangsawan yang diperlakukan Al dengan bahasa hormat.
Meski begitu, Al tidak juga kunjung menampakkan diri.
Tentu saja ada alasannya.
Sebelum Ted datang, Elna telah lebih dulu kembali.
* * *
“Selain Raphael, ada juga seorang petarung tangguh yang memiliki alat sihir tipe teleportasi, ya.”
“...Maafkan aku.”
“Tidak perlu minta maaf. Fakta bahwa kita tahu ada kejanggalan di perbatasan saja sudah lebih dari cukup. Lagipula, kita juga berhasil mengumpulkan banyak informasi lainnya.”
“...Orang yang menolong Raphael itu lebih kuat darinya. Bahkan aku sendiri, tanpa Pedang Suci... mungkin akan kesulitan.”
“Kalau lawan sekelas itu, sejujurnya hanya ada beberapa orang yang terlintas di benakku.”
Sambil berkata demikian, Al pun tenggelam dalam pikirannya.
Alat sihir tipe teleportasi benar-benar sangat langka.
Karena merupakan peninggalan kuno, bahkan yang bisa berfungsi dengan sempurna pun jarang ditemukan.
Jika seseorang memiliki benda semacam itu, dan terlebih lagi kekuatannya setara Elna, maka kandidatnya hampir bisa dipersempit.
Ditambah lagi jika mengingat bahwa dia muncul di hadapan Elna...
“...Merepotkan.”
“Benar. Selama dia memiliki alat sihir tipe teleportasi, dia bisa melakukan serangan mendadak dari mana saja.”
“Bukan itu maksudku. Alat sihir tipe teleportasi benar-benar langka. Bahkan jika ingin mendapatkannya, itu bukan sesuatu yang mudah. Jika dia memilih mundur dengan menggunakannya, kemungkinan besar tidak akan ada serangan lanjutan.”
“Itu juga benar... kalau begitu, apa yang merepotkan?”
“Kita tidak tahu Raphael berpihak pada siapa. Karena itu, kita juga tidak tahu si penolong misterius itu berpihak pada siapa. Ketidaktahuan itulah yang merepotkan.”
Al sebenarnya sudah memiliki gambaran mengenai identitas si penolong, juga alasan kemunculannya di hadapan Elna.
Masalahnya adalah, kepada siapa mereka berpihak.
Jika dipikirkan secara logis, jawabannya adalah Eric. Raphael memang terlihat seolah berpihak pada Gordon, tetapi di balik layar dia menerima perintah dari Eric.
Dengan pemikiran itu, bisa dijelaskan mengapa Raphael tidak ada di kubu Gordon, dan juga mengapa dia tidak ikut serta dalam penyerangan terhadap Selir Keempat.
“Andai saja aku tidak membiarkannya kabur...”
“Akan lebih baik jika kita bisa menangkapnya. Dengan kata lain, keputusan untuk menangkapnya sama sekali tidak salah. Dia terlalu penuh misteri. Kenapa dia berkhianat? Kenapa dia mengacaukan perebutan takhta? Dia berpihak pada siapa? Meskipun belum tentu kita bisa mendapatkan informasi hanya dengan menangkapnya, jika berhasil menggali informasi darinya, itu akan menjadi keuntungan besar. Ayahanda juga... pasti akan lebih memilih cara itu.”
“Kamu memperlakukannya seperti anakmu sendiri, ya...”
“Ayahanda sangat gembira ketika dia menjadi kesatria pengawal. Aku juga merasa dia memandang Ayahanda seperti seorang ayah... tapi entahlah.”
Misteri seputar Raphael justru semakin dalam.
Bahkan Al sendiri sama sekali tidak bisa menebak alasan pengkhianatannya.
Saat mereka tengah membicarakan hal itu, terdengar suara keras dari luar kediaman.
“Yang Mulia! Yang Mulia Arnold! Apakah Anda ada di sini!?”
“Pangeran Arnold! Saya pembawa pesan! Tolong dengarkan! Pembawa pesan!”
Al dan Elna saling memandang dengan ekspresi curiga.
Karena itu adalah suara yang tidak mereka kenal.
“Suara anak kecil?”
“Duke Reinfeld tidak masalah... tapi pembawa pesan anak-anak, dari mana datangnya?”
“Entahlah. Tapi mari kita temui dia. Jika dia dibawa oleh Duke Reinfeld, dia bisa dipercaya.”
“Tunggu. Aku akan memastikan lebih dulu.”
“Suaranya terdengar putus asa. Sepertinya dia tidak punya waktu.”
“Kita tetap harus waspada.”
“Kalau terjadi apa-apa, kamu ada di sini.”
Dengan berkata demikian, Al membuat Elna terdiam, lalu keluar dari ruangan dan berjalan menuju pintu depan kediaman.
Di sana, ada Ted yang mati-matian mencari sosok Al.
“Langsung saja ke intinya.”
“Eh...? A-Ah, apakah Anda Pangeran Arnold?”
“Tenang saja, aku bukan pemeran pengganti. Di kediaman ini, hanya aku yang berambut hitam.”
“A-Ah... a-aku datang dari Negara Bagian! Mengawal pelarian sang Putri! Para pengejar sudah mendekat! Tolong bantu kami!”
“Pelarian sang Putri...!? Bukankah seharusnya itu empat hari lagi!?”
“Jadi itu sebabnya pasukan pengawal dimusnahkan...”
Al juga telah menerima laporan dari Elna mengenai hancurnya pasukan pengawal.
Namun, saat itu dia berpikir cukup mengirim pasukan baru. Karena dengan asumsi masih ada empat hari tersisa.
Akan tetapi, asumsi itu kini runtuh.
“Pengawasan terhadap sang Putri sangat ketat, jadi meski berbahaya kami tetap memutuskan untuk melaksanakannya! Tolong! Selamatkan semua orang... dan Kak Mia!”
Sambil berkata demikian, Ted menundukkan kepala dan menyodorkan sebuah kantong ke arah Al.
Tanpa ragu, Al mengambil kantong itu.
Di dalamnya terdapat sejumlah besar koin emas. Dan selembar surat.
Begitu dibuka, tertulis di sana.
“Karena tidak mungkin menghabiskannya, jadi kukembalikan... tetap saja sulit dipahami seperti biasa.”
Itu adalah barang yang dulu pernah dia berikan kepada Mia, dan surat itu pun milik Mia.
Al menghela napas panjang dengan ekspresi tercengang.
Lalu dia mengalihkan pandangannya kepada Ted.
Jelas terlihat kelelahan yang parah. Sekilas saja sudah bisa dipahami bahwa bocah itu telah datang ke sini dengan mempertaruhkan segalanya.
Meski begitu, Al tetap bertanya.
“Siapa namamu?”
“T-Ted!”
“Kamu adiknya Mia?”
“Bukan, kami dibesarkan bersama...”
“Cukup. Kamu masih sanggup bertahan?”
“S-Saya sanggup! Saya masih bisa melakukan apa saja!”
“Bagus. Penjelasan kasar saja tidak masalah, aku minta kamu menjadi penunjuk jalan. Regu Ketiga Kesatria Pengawal, kita akan berangkat. Lakukan persiapan.”
Mendengar perintah Al, Elna memberi hormat dengan ekspresi setengah pasrah, sementara Mark yang berdiri di samping mereka mendongak ke langit.
Kemudian Mark berkata dengan suara lelah.
“Sekadar mengingatkan... apakah ini benar-benar masalah yang sampai membuat Yang Mulia turun langsung?”
“Aku punya utang padanya. Saat pemberontakan di ibu kota, Mia melindungi Fine. Meski dia berasal dari Negara Bagian, dia mengerahkan seluruh kemampuannya. Karena itu, aku juga akan mengerahkan seluruh kemampuanku untuk menyelamatkan Mia.”
“Walaupun Anda memegang wewenang penuh, tetap saja sulit menghindari kecaman, tahu? Jika pertempuran pecah di perbatasan, itu berarti kita langsung perang. Kita belum siap.”
“Bagus. Aku memang tidak berniat membiarkan para pengkhianat itu menunggu dengan tenang. Tanggung jawabnya akan kutanggung.”
“Hah... lalu bagaimana pendapat Kapten?”
“Percuma saja bicara, dia tidak akan mendengarkan.”
Sambil berkata demikian, Elna memerintahkan anak buahnya untuk menyiapkan kuda.
Mark menggelengkan kepala ke kiri dan ke kanan, lalu ikut membantu persiapan.
Di tengah kesibukan itu, Fine muncul dengan wajah panik.
Di tangannya ada sebuah nampan berisi air dan makanan ringan.
“Silakan. Jangan terburu-buru.”
Fíne hanya mengatakan itu, lalu menyerahkan air kepada Ted.
Ted sampai lupa mengucapkan sepatah kata pun, dan langsung menghabiskan air itu dalam sekali teguk.
Begitu tenggorokannya terasa basah, kini rasa lapar menyerang. Saat itulah makanan ringan disodorkan kepadanya.
Ted memasukkannya ke dalam mulut tanpa ragu.
Perlahan, rasa laparnya pun terisi.
Setelah menghabiskannya dengan cepat, Ted mendongak menatap Fíne.
Fine adalah wanita yang kecantikannya belum pernah dia saksikan sebelumnya.
Tidak sanggup menatap wajahnya dengan benar, tanpa sadar Ted pun mengucapkan terima kasih.
“...T-Terima kasih...”
“Tidak. Sama-sama. Tuan Al, apakah Anda akan berangkat bersamanya?”
Menanggapi perkataan Fíne, Al mengangguk.
Fíne pun tersenyum, lalu mengusap kepala Ted dengan lembut.
“Semoga keberuntungan menyertai kalian. Aku berteman dengan Mia. Aku akan berdoa di sini agar kalian semua selamat. Berjuanglah sebaik mungkin.”
“I-Iya!”
Fíne hanya berkata sampai di situ, lalu memberi hormat kepada Al dan mundur.
Karena keputusan untuk berangkat telah dibuat, hampir tidak ada lagi yang bisa dia lakukan.
“Yang Mulia! Persiapan telah selesai!”
“Baik, kita berangkat.”
“Aku ikut.”
Sedikit di belakang Al yang mulai berjalan, Jurgen menyusul.
Ted juga mengikuti di belakang mereka, namun di tengah jalan dia tersadar bahwa dirinya belum mengucapkan terima kasih.
Hal itu juga pernah dikatakan Mia kepadanya.
“U-Um... terima kasih banyak! Pangeran Arnold! Dan juga...”
Ted menoleh ke arah Jurgen.
Dia bahkan belum mengetahui namanya.
Melihat Ted seperti itu, Jurgen tersenyum dan sedikit menundukkan kepala.
“Maaf, aku belum memperkenalkan diri. Namaku Jurgen von Reinfeld. Sederhana, aku adalah seorang duke kekaisaran.”
“Duke!?”
Ted, yang semula mengira Jurgen paling banter hanyalah seorang count, terkejut karena pangkatnya jauh lebih tinggi dari yang dia bayangkan.
Namun, Kurgen sama sekali tidak peduli. Dia naik ke atas kudanya, lalu memberi isyarat dengan tangannya.
“Kalau kamu tidak keberatan, maukah kamu ikut menumpang? Kudaku cukup cepat.”
“T-Tapi... aku... hanya rakyat biasa.”
“Kalau begitu, biar kuberitahu. Kanselir Kekaisaran juga dari rakyat biasa.”
Sambil berkata demikian, Jurgen meraih tangan Ted dan menariknya naik ke arahnya.
Ted pun menurut saja, lalu naik ke atas kuda Jurgen.
“Berangkat!”
Al memacu kudanya, dan para kesatria pengawal segera menyusul di belakang.
Jurgen juga segera memacu kudanya, tidak ingin tertinggal.
“Kamu sudah berusaha sekuat tenaga. Tapi aku masih ingin meminjam sedikit lagi tenagamu. Tolong beri kami kekuatan untuk menyelamatkan seseorang.”
“A-Aku akan berusaha...”
“Dan satu lagi, berhati-hatilah saat mengucapkan terima kasih. Kami belum melakukan apa pun. Saat kami benar-benar berhasil menyelamatkan kakakmu, barulah ucapkan terima kasih itu. Sampai saat itu, jangan lengah.”
“B-Baik.”
Merasa puas dengan jawaban Ted, Jurgen mendekatkan kudanya ke arah Al.
“Yang Mulia, bagaimana dengan para kesatria lainnya?”
“Biarkan hanya mereka yang ingin ikut saja yang mengikuti. Saat ini, kecepatan adalah yang utama.”
“Baik. Bisakah seseorang menyampaikan suaraku dengan sihir?”
Setelah meminta tolong kepada seorang kesatria pengawal, Jurgen menarik napas dalam-dalam.
Pada saat yang sama, ketika Al dan rombongannya melewati gerbang, para kesatria yang berada di perkemahan menoleh, bertanya-tanya ada apa.
Tanpa melewatkan momen itu, Jurgen melontarkan seruannya.
“Pasukan Aliansi Bangsawan Timur! Ini adalah keberangkatan Pangeran Arnold! Hanya mereka yang siap bertempur saat ini juga yang ikut bersamaku! Ingatlah, alasan kalian menempuh perjalanan jauh dari wilayah timur, adalah demi saat ini, untuk momen ini!”
Seruan Jurgen membuat perkemahan menjadi riuh.
Ada yang segera mengenakan zirah, ada yang mulai merapikan barang, ada pula yang memastikan keputusan pada tuan mereka masing-masing.
Reaksi mereka beragam, tetapi mereka sudah terlambat.
Yang mampu menyusul Al dan rombongannya hanyalah mereka yang langsung melompat ke atas kuda.
Tidak peduli kesatria dari bangsawan mana.
Hanya mereka yang sejak awal telah menyiapkan tekadlah yang satu per satu berhasil menyusul di belakang Al dan yang lainnya.
Bagian 15
“Terobosannya berhasil lagi!”
Mendengar laporan yang nyaris seperti jeritan itu, Abraham menghela napas.
Pertempuran di dalam hutan telah berlangsung lama.
Karena menilai bahwa mereka masih bersembunyi di dalam hutan, Abraham menyebarkan pasukannya dan memulai pencarian.
Ini adalah operasi pencarian oleh pasukan berskala seribu orang.
Menemukan mereka hanyalah masalah waktu.
Namun, Mia justru bergerak sebaliknya, dia menyerang titik-titik yang penjagaannya paling tipis.
Para prajurit yang sama sekali tidak menyangka akan diserang menjadi kacau, dan akibatnya membiarkan Mia dan rombongannya lolos.
Setelah itu, hal yang sama terus berulang.
Pasukan menyebar demi pencarian, lalu Mia menyerang celah tersebut.
Rasa takut mulai tumbuh di antara para prajurit, membuat mereka tidak lagi fokus dalam pencarian. Ketika itu terjadi, perubahan-perubahan kecil pun terlewatkan, sehingga mereka tidak mampu menemukan Mia dan kelompoknya yang bersembunyi.
Dan akibatnya, mereka selalu terkena serangan mendadak yang sempurna.
“Kukira mereka sudah terbiasa dikejar... tapi sampai sejauh ini rupanya.”
Sambil mengagumi lawannya, Abraham kembali menggambar sebuah lingkaran di peta sederhana, entah sudah yang keberapa kalinya.
Lingkaran itu menandai area pencarian kali ini.
Bagi Abraham, nyawa para prajurit bukanlah sesuatu yang perlu dipedulikan.
Sejauh ini, mereka berhasil menembus kepungan dari posisi yang tidak sempat dia jangkau, tetapi itu pun hanya soal waktu.
Sambil memprediksi pergerakan lawan, Abraham perlahan mempersempit kepungan.
“Bangun kembali kepungan.”
“K-Kolonel... kita sudah melakukan pencarian lebih dari sehari penuh...”
“Lalu kenapa? Mereka juga sudah lebih dari sehari berlari untuk menyelamatkan diri, bukan?”
“Semua orang lelah! Mohon beri waktu istirahat!”
“Kalau kita melakukan itu, seluruh kepungan yang telah kita bangun sejauh ini akan sia-sia. Dan jika mereka melihatnya sebagai peluang lalu berbalik menjadi pihak pemburu, apa kamu siap membayar harganya dengan nyawa kalian?”
“...!”
Kata-kata dingin Abraham membuat prajurit itu terdiam, napasnya tercekat.
Itu bukan ancaman.
Faktanya, pihak yang terdesak adalah Mia dan yang lainnya, sementara pihak yang menekan adalah Abraham dan pasukannya.
Jika sekarang mereka mengendurkan tekanan, keunggulan itu akan lenyap.
Panah akan kembali melesat dari dalam hutan, posisi lawan kembali tidak terlacak.
Dan korban baru pasti akan berjatuhan.
“Kalau tidak suka, siapkan kepungan. Aku tidak keberatan dengan pilihan apa pun. Menggunakan kalian sebagai umpan untuk memancing mereka keluar pun bukan ide buruk.”
“K-Kami akan mulai menyiapkan kepungan!”
Mendengar jawaban itu, Abraham mendengus.
Prajurit Negara Bagian memang kurang memiliki semangat juang. Di situlah perbedaan yang menentukan dengan prajurit Kekaisaran.
Itulah sebabnya dia sempat kerepotan, namun kini akhir sudah mulai terlihat.
“Baiklah... sepertinya sudah waktunya aku sendiri yang datang menemui mereka.”
Dengan berkata demikian, Abraham pun mulai bergerak.
* * *
Pelarian di dalam hutan.
Bagi Mia, itu bukanlah hal yang langka.
Saat masih menjadi seorang bandit dermawan di Negara Bagian, pasukan sudah berkali-kali dikerahkan untuk memburunya. Setiap kali itu terjadi, dia selalu menjalani pelarian tanpa tidur.
Namun, kini Mia tidak sendirian.
“Mia... selanjutnya... kita ke mana...?”
“Tidak apa-apa, tidurlah sebentar lagi.”
Marianne bertanya dengan wajah mengantuk, sementara Mia menyelimuti tubuh Marianne dengan jaketnya sendiri dan memintanya untuk tetap tidur.
Mereka bersembunyi di bawah sebuah pohon besar.
Setelah menerobos kepungan, Mia menyembunyikan diri di sana.
Dilihat dari pergerakan matahari, mereka telah berhasil mengulur waktu lebih dari satu hari.
Namun, sekalipun Ted berhasil mencapai Al tanpa masalah dan Al segera bergerak, tetap dibutuhkan waktu untuk mencapai perbatasan.
Mereka masih perlu mengulur waktu.
Akan tetapi, Marianne sudah berada di batas kemampuannya.
Mia merasakan bahwa akan sulit bagi mereka untuk terus berlari lebih lama lagi.
“Tidak ada pilihan lain.”
Mia bergumam sambil memandangi Marianne yang tertidur ringan.
Marianne baru saja berusia 14 tahun.
Meski sejak kecil dia berada dalam posisi yang tidak menguntungkan sebagai sandera, bukan berarti dia mampu menanggung kerasnya pelarian ini.
Mungkin ada yang berkata bahwa sebagai anggota keluarga kerajaan, dia seharusnya sanggup menahannya.
Faktanya, di Kekaisaran, ada pangeran dan putri yang lebih muda dari Marianne dan tetap menjalankan tugas mereka.
Namun.
“Keluarga itu memang istimewa...”
Klan Elang Emas.
Keluarga kekaisaran yang berkuasa di pusat benua. Keluarga Ardler.
Darah yang diwariskan turun-temurun itu bukanlah sesuatu yang remeh.
Mereka tidak bertahan hanya karena kebiasaan atau kebetulan, melainkan karena darah orang-orang yang berhasil menaklukkan zamannya sendirilah yang terus diwariskan.
Dibandingkan dengan keluarga kerajaan Negara Bagian, sejarah yang mereka bangun dan tanggung jawab yang mereka pikul berada di tingkat yang sama sekali berbeda.
Tidak ada keluarga lain di benua ini yang dapat disejajarkan dengan mereka. Mengatakan demikian pun bukan berlebihan.
Membandingkan Marianne dengan mereka terasa kejam, dan lagi pula, Marianne sudah berusaha lebih dari cukup.
Dia tidak mengeluh, dan tetap mengikuti Mia sejauh ini.
Berapa banyak orang seusianya yang mampu melakukan hal yang sama?
“...Dia adalah orang yang harus tetap hidup.”
Dengan tekad itu menguat di hatinya, Mia mulai memeriksa busur yang ada di tangannya.
Pergerakan musuh cepat.
Mereka sudah mulai menyiapkan ulang kepungan.
Jika keadaan berlanjut seperti ini, kali berikutnya mereka mungkin akan berbenturan langsung dengan pasukan utama musuh.
Jika itu terjadi, satu-satunya pilihan adalah melarikan diri dengan segenap tenaga.
Karena begitu mereka berhenti, dia tidak akan mampu melindungi Marianne.
“Justru itu yang kuinginkan.”
Sambil berkata demikian, Mia menatap lurus ke depan.
* * *
Kepungan akhirnya selesai dibentuk, dan Abraham memerintahkan pasukannya untuk mempersempit lingkaran.
Dari dalam kepungan yang kian menyempit, beberapa anak panah melesat dan menembus kepala para prajurit.
Abraham segera berlari ke arah asal serangan itu.
Lalu...
“Akhirnya kita bertemu juga!”
“Aku sama sekali tidak ingin bertemu denganmu!”
Pedang sihir Abraham mengayun ke arah Mia, namun Mia menghindarinya dan sebagai balasan langsung melepaskan sebuah anak panah.
Itu bukan anak panah biasa.
Itu adalah busur sihir.
Abraham terkejut oleh hal itu, lalu menepis serangan tersebut sambil mundur mengambil jarak.
Di sela-sela itu, Mia membawa Marianne dan segera menarik diri.
“Menarik sekali... jadi kamu bandit dermawan Negara Bagian yang jadi buah bibir itu! Kejar! Selama dia membawa sang Putri, ada batasnya seberapa jauh dia bisa bertahan!”
Sambil memberi perintah demikian, Abraham sendiri ikut mengejar Mia dan rombongannya.
Bagian 16
Mia dan rombongannya yang terus dikejar berhasil merebut kuda milik musuh, lalu langsung keluar dari hutan.
Artinya, mereka telah memasuki wilayah Kekaisaran.
Namun, begitu meninggalkan hutan, tidak ada lagi tempat untuk bersembunyi.
“Terus saja lurus ke depan!”
Sambil menunggang kuda, Mia menembakkan anak panah ke arah belakang.
Abraham dan pasukannya terus mengejar dengan gigih.
Di dalam hutan, Mia masih bisa menahan Abraham agar tidak mendekat dan lolos dari kejarannya.
Namun, begitu keluar dari hutan, tidak ada lagi penghalang.
Tidak ada tempat untuk bersembunyi, sementara pihak lawan bisa bergerak bebas.
Itu adalah kondisi yang merugikan bagi Mia.
“Benar-benar keras kepala!”
Sambil berseru demikian, Mia menyerang Abraham dengan busur sihirnya.
Sekilas tampak seperti tembakan yang meleset, tetapi anak panah itu tiba-tiba berbelok tajam dan menghantam titik buta Abraham.
Namun, tanpa menoleh sedikit pun, Abraham menepis anak panah sihir yang datang dari titik butanya.
“Lagi-lagi...!”
Respons Abraham berada di luar kewajaran.
Seolah-olah pedang sihirnya bergerak sendiri.
Jika dia manusia biasa, seharusnya pandangannya bergerak, tetapi matanya tetap terpaku pada Mia.
Rasa gelisah pun mulai tumbuh di dalam diri Mia karena kejanggalan itu.
Naluri memperingatkannya bahwa pria itu tidak boleh dibiarkan mendekati Marianne.
Karena itu, Mia menghentikan kudanya.
“Mia!”
“Teruskan saja! Aku akan menghentikan pria itu!”
Dengan berkata demikian, Mia pun bersiap menghadapi Abraham dalam pertempuran.
* * *
Busur dan pedang.
Dalam pertempuran jarak dekat, pada dasarnya pedang memiliki keunggulan mutlak.
Namun, Mia adalah pengguna busur sihir.
Logika umum tidak berlaku baginya.
“Bandit dermawan yang bahkan tidak bisa ditangkap meski seluruh negeri dikerahkan... begitu rupanya. Luar biasa.”
“Kalau begitu, kamu ini tentara Negara Bagian?”
“Untuk sekarang, ya. Dulu aku bagian dari tentara Kekaisaran.”
“Sudah kuduga. Caramu mengenakan seragam militer saja sudah berantakan!”
Sambil berkata demikian, Mia menghindari tebasan pedang Abraham yang mendekat, lalu membalasnya dengan menembakkan anak panah sihir.
Tembakan beruntun dari jarak sangat dekat.
Namun, Abraham menepis semuanya.
“Seorang tentara yang membelot mengejar seorang putri yang hendak membelot pula. Tidakkah menurutmu itu ironi yang cukup menarik?”
“Tidak sama sekali. Selera orang yang seolah dikendalikan oleh pedang sihir memang tidak bisa kumengerti.”
Mendengar perkataan Mia, Abraham hanya tersenyum tanpa berkata apa-apa.
Di antara pedang-pedang sihir, ada yang memiliki kehendak sendiri.
Ada yang menyerap kepribadian pembuatnya tanpa disadari, ada pula yang dihuni oleh penyesalan pemilik sebelumnya.
Pedang-pedang sihir semacam itu umumnya sangat kuat, tetapi sering kali melampaui batas sebagai sekadar alat.
Dalam kasus tertentu, justru pemiliknya yang dikuasai.
Dan ketika itu terjadi, yang paling berbahaya adalah sang pemilik.
Karena pedang sihir tidak pernah peduli pada kondisi tubuh penggunanya.
“Reaksi berlebihanmu sejak tadi adalah hasil kendali pedang sihir, bukan? Kalau terus seperti itu, tubuhmu akan hancur.”
“Ha ha ha... bagiku, sudah cukup jika aku bisa mempersembahkan darah kepada sahabatku!”
“Benar-benar gila!”
Sambil berkata demikian, Mia kembali melepaskan tembakan dari busur sihirnya.
Serangan dari depan tidak akan berhasil.
Dia sudah paham betul soal itu.
Namun, Mia tetap terus menembakkan panah.
Karena menghentikan Abraham di sini berarti langsung menjamin keselamatan Marianne.
Namun.
“Sepertinya waktumu habis.”
“Apa maksudmu...?”
“Anak buahku rupanya lebih cakap dari yang kuduga.”
Sambil berkata demikian, Abraham menoleh ke belakang Mia.
Di sana tampak Marianne, dalam keadaan terikat.
Anak buah Abraham yang lebih dulu memasuki wilayah Kekaisaran telah memotong jalan mereka.
Para pengawal yang sebelumnya bersama Marianne kemungkinan telah dibunuh.
“Kuh!”
Sesaat perhatian Mia teralihkan ke Marianne, pedang sihir Abraham pun menyerangnya.
Secara refleks, Mia melompat turun dari kuda dan mengambil jarak.
Namun, Abraham merayap mendekatinya, seakan menyusuri tanah.
Lalu kedua tangan Abraham menangkap kedua tangan Mia.
“Sekarang busur kebanggaanmu tidak bisa digunakan lagi.”
“Kamu sendiri juga tidak bisa menggunakan pedang sihir kebanggaanmu, bukan?”
“Aku masih punya anak buah. Tidak masalah. Tembakkan.”
“Apa!?”
Saat Mia menoleh ke sekeliling, anak buah Abraham telah mengarahkan busur mereka.
Sesaat kemudian, hujan anak panah menghujani mereka berdua.
Enam anak panah menancap di tubuh Mia, sementara yang menancap di tubuh Abraham berjumlah lebih dari sepuluh.
Namun, Abraham sama sekali tidak terlihat terganggu, dan kembali mengarahkan pedang sihirnya ke Mia.
“Dia bahkan tidak merasakan sakit...!”
Mia refleks mengangkat busurnya, tetapi di sela-sela busur itu, bilah pedang menyelinap dan menghantam bahunya.
Sambil meringis menahan sakit, Mia tetap melepaskan anak panah sihir.
Namun, panah itu hanya melintas di atas Abraham.
“Kamu kalah.”
“Guh!”
Sambil mencabut pedang sihir yang tertancap di bahu Mia, Abraham lalu menusukkan pedangnya ke kaki kanan Mia.
Tidak sanggup menahannya, Mia pun roboh ke tanah.
“Ah... sahabatku... darah orang kuat memang terasa nikmat, ya...”
Para anak buah hanya bisa menatap Abraham yang larut dalam ekstasi, tanpa berani mendekat.
Mereka tidak sanggup mendekat. Terlalu mengerikan.
Di sela-sela itu, Mia mencoba bangkit, tetapi Abraham tidak membiarkannya.
“Ups.”
“Gh...!”
Saat mencoba berdiri, Mia ditendang dan kembali terempas ke tanah.
Melihat itu, Marianne berteriak.
“Hentikan! Targetmu seharusnya hanya aku!”
“Meski dia tidak mengenakan topeng, dengan kekuatan seorang pengguna busur sihir, sudah pasti gadis ini adalah Kesatria Bulan Merah Vermilion. Nilainya bahkan lebih tinggi darimu.”
“Kalau begitu, berhenti menyiksanya! Apa kamu tidak punya kehormatan sebagai prajurit!?”
“Orang yang punya kehormatan tidak akan berkhianat. Kamu dan aku sama-sama manusia yang tidak punya kehormatan.”
“...!”
Marianne menggigit bibirnya begitu keras hingga darah merembes keluar.
Dia merasa frustrasi.
Frustrasi pada dirinya sendiri yang hanya menjadi beban, dan pada dirinya yang tidak mampu membantah satu kata pun.
Perasaan tidak berdaya menyelimutinya, hingga dia tidak lagi sanggup melawan ketika lengannya dicengkeram oleh para prajurit.
Air mata pun tidak terbendung.
Namun...
“Jangan menundukkan kepala... bahkan seorang pengkhianat pun memiliki harga diri...”
“Mia...”
“Kalau kamu yakin jalanmu tidak salah... angkat wajahmu... jangan menolak pilihanmu sendiri... kalau tidak, orang-orang yang percaya dan mengikutimu pun akan dianggap salah...”
Mia berdiri, lalu mengarahkan busurnya ke Abraham.
Bahu kirinya dan kaki kanannya telah terluka.
Belum lagi anak panah yang menancap di punggung dan sisi tubuhnya.
Keadaannya jauh dari sempurna.
Meski begitu, Mia mengerahkan seluruh sisa tenaganya dan melepaskan satu anak panah sihir.
“Keras kepala.”
Seperti sebelumnya, Abraham menepis panah itu.
Namun, pada saat yang sama, sebuah anak panah lain meluncur turun dari langit.
Panah itu menembus pertahanan otomatis Abraham dan dengan tepat menghantam bagian belakang kepalanya.
Pada saat itu juga, Mia berbalik dan menembak para prajurit yang berada di dekat Marianne.
“Lari...!!”
Marianne langsung mengerti, itu perintah untuk melarikan diri.
Meski begitu, Marianne tidak ingin melarikan diri.
Meninggalkan Mia di sini terasa seperti dosa yang tidak bisa diampuni.
Namun, sisi dirinya yang masih berpikir jernih berkata bahwa dirinya hanyalah beban.
Melarikan diri demi Mia.
Dia tahu itu.
Tetapi kakinya tidak mau bergerak.
Di tengah kebimbangan itu, terdengar suara kicauan kecil.
Suara yang tidak pernah dia dengar di wilayah Negara Bagian.
Begitu mendengarnya, Marianne pun menggerakkan kakinya.
Melangkah maju.
“Putri...”
“Maafkan aku.”
Sambil meminta maaf, Marianne berdiri di antara Mia dan Abraham.
Abraham yang bangkit dengan sempoyongan menatap Mia dan Marianne dengan mata yang dipenuhi amarah.
“Tipu muslihat yang licik... jadi anak panah yang meleset itu kamu biarkan menunggu di udara... tapi kamu tidak berhasil menghabisiku.”
“Jika kamu tidak mencoba membiarkanku kabur, Mia pasti sudah memberimu pukulan terakhir. Ini kekalahanmu.”
“Dalam duel satu lawan satu, mungkin begitu.. tapi ini adalah pertempuran. Tujuan kami adalah menggagalkan pembelotan sang Putri. Begitu kamu berlari ke pihak kami, kemenangan sudah menjadi milik kami.”
Sambil tertawa keras, Abraham mengangkat pedang sihirnya.
“Sahabatku tampaknya tertarik pada darah bangsawan. Kira-kira seperti apa rasanya darah itu?”
“Jika kamu menginginkan darahku, akan kuberikan. Namun, nyawamu menjadi gantinya.”
“Menakutkan sekali. Dan bagaimana caramu mengambil nyawaku?”
“Ini pertempuran. Sebagaimana kamu punya sekutu, kami pun bisa saja mendapat bantuan.”
Abraham mengejek harapan Marianne, namun pada saat itu...
Dari langit terdengar suara lengkingan yang jauh lebih keras.
Ketika Abraham mendongak, di langit tampak seekor wyvern putih berputar-putar.
Bagian 17
“Yang Mulia! Tidakkah Anda terlalu cepat!?”
Mark, yang berlari di belakangku, menyampaikan keberatan itu, tetapi alih-alih menjawab, aku justru menambah laju kudaku.
Bahkan tanpa sihir, kudaku sudah cukup cepat. Ini adalah salah satu kuda pilihan terbaik, hasil seleksi ketat untuk dijual kepada para pedagang sebagai kuda perang unggulan.
Meski kemampuan berkudaku tidaklah istimewa, kecepatannya lebih dari cukup.
Di sekelilingku berlari para kesatria pengawal. Bagi mereka, situasi seperti ini bukan hal yang langka.
Lagipula, mereka adalah Regu Ketiga yang ditempa langsung oleh Elna. Tidak mungkin mereka tertinggal dari orang yang harus mereka lindungi.
Namun, para kesatria yang mengikuti dari belakang tidak demikian.
“Jaraknya mulai melebar...”
Elna bergumam sambil menoleh ke belakang.
Rombongan kesatria dan kami yang berada di barisan terdepan.
Perbedaan jarak perlahan mulai terlihat.
Namun, kami tidak punya waktu untuk menyesuaikan diri dengan kecepatan mereka.
Mereka berangkat tanpa persiapan apa pun. Tingkat kelelahan yang mereka rasakan jelas tidak sebanding dengan kami. Apalagi mereka tidak tahu situasi sebenarnya.
Meski begitu, mereka harus bertahan.
“Masalahnya bukan pada kudanya, tapi pada para kesatrianya. Bagaimana kalau kamu menyemangati mereka?”
“Semangat yang muncul dari ucapanku itu terbatas. Mereka kesatria wilayah timur, tahu?”
Kalau kesatria utara mungkin berbeda, tetapi bagi kesatria timur, kata-kataku tidak memiliki bobot.
Kalaupun ada yang bisa memicu semangat mereka, mungkin hanya jika Jurgen yang berbicara. Namun, Jurgen sendiri sudah di ambang batas.
Anak pengantar yang memandu jalan, Ted, sudah dipindahkan ke kuda kesatria pengawal.
Jurgen berada sedikit di belakang kami.
Tidak seorang pun benar-benar punya kelonggaran.
Saat aku memikirkan itu, suara derap dari belakang tiba-tiba semakin ramai.
Ketika menoleh, rombongan kesatria itu justru semakin mendekat.
“Mereka menyusul? Kenapa?”
“Sepertinya muncul seseorang yang memimpin mereka.”
Di barisan terdepan para kesatria.
Terlihat seorang wanita berjubah biru.
Padahal beliau pasti berangkat lebih lambat dari kami, namun beliau sudah berhasil menyusul, sungguh membuatku terkesan.
“Berangkat perang tanpa pemberitahuan, benar-benar tidak tahu sopan santun. Setidaknya pamitlah padaku.”
“Aku sudah menduga Kakak pasti akan menyusul.”
Alasan para kesatria bangkit semangat adalah karena Kak Lize kini memimpin di depan mereka.
Bagi kesatria wilayah timur, Kakak yang menjaga perbatasan timur bukan sekadar anggota keluarga kekaisaran.
Dia adalah sosok yang mereka puja.
Jika orang seperti itu berlari di depan mereka, mana mungkin mereka rela tertinggal.
“Ada apa? Jurgen, napasmu terengah-engah?”
“Ini akting saja...! Jangan khawatir...!”
Jurgen yang akhirnya berhasil bergabung dengan kami terengah-engah sambil melontarkan kebohongan yang terlalu jelas.
Namun, kebohongan itu tidak sepenuhnya bohong, itulah ciri khasnya.
Entah karena gengsi atau apa, dia berusaha mati-matian agar tidak tertinggal dari Kakak.
“Jadi? Ada apa sebenarnya?”
“Pembelotan sang Putri dipercepat. Katanya, beliau sudah dikejar pasukan pengejar.”
“Ini masalah besar.”
“Benar. Karena itu aku berangkat. Pertempuran di perbatasan berarti awal dari perang. Hanya aku yang bisa memikul tanggung jawab itu.”
“...Padahal kamu bisa menyerahkannya padaku.”
“Sebagai wakil Kaisar, aku berniat menunaikan tanggung jawab itu.”
“Hmm... kalau begitu, biar kulihat. Tanggung jawabmu itu.”
Sambil berkata demikian, Kakak sedikit menurunkan kecepatan kudanya.
Jika dia mau, dia pasti bisa menyalipku, namun tampaknya dia memilih menyesuaikan diri denganku.
Lagipula, jika kami menambah kecepatan lagi, para kesatria benar-benar akan tertinggal.
Dan demikianlah, pawai paksa itu berlanjut.
Matahari terbit, pagi menjelang, namun kami terus berlari.
Dengan memprioritaskan kecepatan semata, akhirnya kami berhasil mencapai area dekat perbatasan.
Di sana, kami melihat sesuatu yang tidak terduga.
“Yang Mulia... rombongan itu...?”
“Rakyat sipil.”
Yang tertangkap mata kami adalah rombongan sekitar dua ratus orang.
Mereka tampak kelelahan, namun mereka tetap berjalan sambil menatap ke depan.
“Kakek!!”
Ted, yang menunggang kuda kesatria pengawal, berteriak keras.
Aku segera mengarahkan kudaku ke arah rombongan itu.
“Kenalanmu?”
“Iya!”
Yang ditunjuk Ted adalah seorang lelaki tua bertubuh besar.
Di tangannya ada sebuah busur, yang sesaat diarahkan ke arah kami.
Hanya dari itu saja, terlihat jelas para kesatria pengawal langsung waspada, cukup untuk menandakan bahwa dia bukan orang sembarangan.
“Kakek! Semuanya! Kalian selamat!!”
Begitu mendekat, Ted turun dari kuda dan berlari memeluk sang lelaki tua.
Anak-anak di belakangnya pun satu per satu dipeluknya.
Pemandangan yang mengharukan, namun ada satu sosok penting yang tidak terlihat.
“Aku Arnold Lakes Ardler, Pangeran Ketujuh Kekaisaran. Kami mendengar tentang pembelotan sang Putri. Di mana dia?”
“Ah... mohon maaf.”
Sang lelaki tua berlutut, dan rakyat lainnya pun serempak berlutut.
Dialah yang tampaknya memimpin mereka sampai sejauh ini.
“Nama saya Travis. Yang Mulia Putri mengambil rute lain dan telah melarikan diri terpisah dari kami.”
“Artinya... pasukan pengejar musuh terkonsentrasi ke arah sang Putri?”
“Benar. Kami hanya diserang oleh beberapa prajurit.”
Seharusnya merekalah yang menjadi umpan.
Namun kenyataannya tidak demikian.
Fakta bahwa Mia tidak ada di sini berarti dia bersama sang Putri.
“Yang Mulia, kami tidak mendapat laporan bahwa rakyat pun akan membelot. Dengan jumlah sebanyak ini, kami harus meminta izin Paduka Kaisar...”
“Aku yang akan bertanggung jawab. Terima mereka semua. Serahkan perlindungan pada para kesatria.”
“Tapi...”
“Anggap saja sekalian! Atau bagaimana? Apa Kekaisaran ini negara kecil yang bahkan tidak sanggup menampung orang sebanyak ini!?”
“Ini bisa menjadi masalah. Jika kita menerima sekali, kita harus menerima lagi.”
“Tidak masalah. Jika mereka tidak bisa hidup di Kekaisaran, kirim saja kembali ke Negara Bagian, setelah kita menang.”
Mark yang tadi menyampaikan keberatan hanya bisa menghela napas dan mundur.
Para bangsawan di ibu kota pasti akan ribut soal ini.
Meski aku ini Wakil Penguasa Wilayah, menerima mereka tanpa mengatakan apa pun kepada Ayahanda jelas keterlaluan.
Namun, sekarang bukan saatnya memikirkan hal semacam itu.
Jika benar pasukan pengejar musuh memusatkan perhatian pada Mia dan yang lain, maka ini sungguh berpacu dengan waktu.
Cara tercepat jelas lewat udara, tetapi jika hanya mengirim Regu Kesatria Pengawal, tanggung jawabnya bisa saja berbalik menimpa Elna.
Alasan apa pun bisa saja dibuat, namun gara-gara diriku posisi Elna sudah tidak terlalu kuat. Memperburuknya lagi jelas bukan pilihan.
Saat aku memikirkan semua itu, seekor naga putih meluncur turun dari langit.
“Maaf datang terlambat. Aku sedang bertugas sebagai kurir.”
Sambil berkata demikian, orang yang turun dari punggung naga itu adalah Finn.
Memang benar Finn sedang berkeliling wilayah utara sebagai kurir.
Apakah dia sengaja berbalik arah untuk kembali ke sini?
Keputusan yang bagus.
“Kakak, aku serahkan komando para kesatria padamu.”
“Lalu kamu sendiri bagaimana?”
“Aku akan menuju perbatasan lewat udara.”
Sambil mengatakan itu, aku meminjam tangan Finn yang baru saja turun, lalu naik ke punggung naga terbang.
“Elna dan para Kesatria Pengawal, teruskan perjalanan! Sisakan sebagian kesatria di sini untuk perlindungan!”
“Baik. Kami akan mengikuti kalian dengan menjadikan kalian sebagai penunjuk arah.”
“Kuharap begitu!”
“Pangeran Arnold! Tolong Kak Mia!”
“Serahkan padaku!”
Dengan itu, aku pun melesat menuju perbatasan melalui udara.
* * *
Kini Ted tidak lagi bisa menjadi penunjuk jalan.
Kami harus mencari daerah perbatasan dari udara, dan di sinilah Finn benar-benar menunjukkan perannya.
“Aku akan membiarkan Nova melacak bau manusia!”
“Dia bisa begitu?”
“Dulu aku pernah melatihnya. Sepertinya satu-satunya jalan hidupku waktu itu memang hanya sebagai pengintai.”
“Bagus!”
Alasannya memang tidak terlalu pantas ditertawakan, tetapi berkat itu kami tidak lagi membutuhkan penunjuk jalan.
Kombinasi Finn dan Nova melayang bebas di udara, menuju dataran di dekat perbatasan.
Lalu Nova mengaum.
“Sudah dekat! Apa kita lakukan serangan mendadak?”
“Turun saja! Situasinya terlalu tidak jelas!”
Yang tampak di hadapan kami adalah dua gadis yang dikepung oleh pasukan berjumlah sekitar seribu orang.
Kami mendarat di atas sebuah bukit kecil.
Kakak dan rombongan yang mengejar di belakang kami belum juga tiba.
“Aku Arnold Lakes Ardler, Pangeran Ketujuh Kekaisaran. Di wilayah negara kami, apa yang sebenarnya sedang kalian lakukan?”
Sambil berkata demikian, aku melangkah maju satu langkah.
Yang tertangkap oleh mataku adalah Mia yang tergeletak bersimbah darah, serta seorang gadis yang membentangkan kedua tangannya seolah melindungi Mia.
Barangkali dialah putri dari Negara Bagian itu.
“Wah, wah. Sampai-sampai Yang Mulia Pangeran datang sendiri.”
“Jawab aku... apa yang sedang kalian lakukan?”
“Kami sedang membereskan para pembelot.”
“Dua gadis di sana itu pembelot?”
“Benar.”
Pria yang tampak seperti komandan itu menjawab dengan santai tanpa rasa bersalah.
Katanya mereka hanya mengejar pembelot yang masuk ke wilayah Kekaisaran.
Sepertinya dia berniat lolos dari situasi ini dengan penjelasan semacam itu.
“Kamu pikir aku akan percaya?”
“Bukankah lebih baik bagi Anda untuk percaya? Menyerang Negara Bagian tentu dilakukan setelah persiapan matang. Bukankah itu yang telah disepakati? Jika kita bertempur di sini, kedua pasukan yang saling berhadapan di perbatasan akan ikut bergerak, bukan?”
“Lalu kenapa?”
“Kekaisaran seharusnya sedang sibuk dengan perebutan takhta. Anda juga pasti tidak ingin mendapat sorotan buruk dari Paduka Kaisar, bukan?”
Aku benar-benar ingin memukulnya saat itu juga.
Di belakangku, Mark berbisik pelan.
“Dia Kolonel Abraham, perwira yang membelot dari Tentara Kekaisaran ke Negara Bagian. Konon, dia pria berbahaya yang menggunakan pedang sihir.”
“Bekas perwira Kekaisaran, ya... kalau begitu kamu pasti pernah mendengar reputasiku, bukan?”
“Tentu saja. Pangeran Sisa yang cukup terkenal. Namun, itu hanyalah wajah sementara. Saat Anda serius, Anda bahkan diangkat menjadi Wakil Penguasa Wilayah Utara. Anda tentu tidak ingin kehilangan posisi itu, bukan?”
“Kamu benar-benar tidak mengerti, ya? Bagiku, dimarahi Ayahanda itu sudah jadi makanan sehari-hari. Bahkan kalau perang dimulai di sini pun, aku sama sekali tidak keberatan.”
Sambil berkata demikian, aku menatap Elna.
Elna yang menangkap maksudku langsung mengangguk kecil.
“Perang? Dengan modal beberapa Kesatria Pengawal yang Anda banggakan dan satu Kesatria Naga? Dipikir bagaimanapun, itu terlalu nekat, bukan?”
“Kamu bukannya tahu kekuatan Kesatria Pengawal, ‘kan? Hanya seribu orang saja, apa kamu sanggup melawannya?”
“Percaya diri sekali. Namun jangan lupa, kami punya sandera. Kamu tentu sudah paham, yang ada di sini adalah Putri Marianne dari Negara Bagian. Jika dia gagal diselamatkan dan mati, itu akan jadi masalah besar.”
“Itu kalau kami gagal menyelamatkannya.”
Begitu aku mengucapkannya.
Angin kencang menyelimuti Marianne dan Mia, lalu mengangkat keduanya ke udara.
Itu adalah sihir angin Elna. Mengangkat manusia dengan presisi dari jarak jauh membutuhkan teknik tingkat tinggi, tetapi bagi Elna hal itu bukan apa-apa.
Dia tidak dijuluki anak ajaib hanya karena kemampuan berpedangnya saja.
“Ck!”
Abraham bergerak untuk mencegahnya, tetapi Finn menghentikannya.
Rentetan sambaran petir menghentikan gerak Abraham.
“Hentikan mereka! Jangan biarkan mereka pergi!”
“Sudah terlambat.”
Marianne dan Mia terangkat hingga ketinggian yang tidak bisa dijangkau tangan para prajurit, lalu dibawa ke arah kami.
Begitu mendarat dengan selamat, Marianne berlari ke arahku dan berlutut.
“Yang Mulia Arnold! Putri Marianne dari Negara Bagian memohon pertolongan kepada Yang Mulia! Mohon selamatkan negeri kami dari penindasan! Demi itu, aku akan mengungsi dan meminta perlindungan kepada Kekaisaran!”
“Aku terima permohonanmu.”
Dengan ini, alasan yang sah telah kami dapatkan.
Cukup untuk membungkam para bangsawan ibu kota yang cerewet itu.
“Kami akan mengambil kembali... Putri Negara Bagian milik Negara Bagian.”
“Begitu rupanya... tapi dia sudah menjadi pengungsi. Menyerahlah.”
“Dan Anda kira kami akan mundur begitu saja?”
“Mundur. Sekarang aku masih mau membiarkan kalian pergi.”
Jika mereka mau mundur, itu jelas pilihan terbaik.
Luka Mia tampaknya lebih parah dari yang kukira.
Para Kesatria Pengawal tengah menanganinya dengan wajah tegang.
Kalau bisa, aku ingin segera membawanya ke tangan ahli penyembuhan.
Namun, tentu saja pihak lawan tidak berniat mundur.
“Kalau kalian tidak mengembalikannya, berarti perang di sini.”
“Begitu ya... kalau begitu tidak ada lagi yang bisa dirunding. Kalian semua akan dibantai. Ingat baik-baik, Kekaisaran tidak punya kebiasaan mengusir mereka yang sudah kami terima.”
Yang terlintas di benakku adalah sosok Kaisar yang pernah kulihat dulu.
Dan aku memutuskan untuk menirunya.
Bagian 18
Atas deklarasiku, Abraham tertawa mengejek.
Lalu dia dengan cepat mengangkat tangan kanannya.
Hanya dengan isyarat itu saja, seribu bawahannya langsung bersiap tempur. Begitu aba-aba diberikan, mereka akan menyerbu.
“Mengagumkan. Tapi yang akan dibantai justru kalian. Tidak melarikan diri ini, apa karena Anda mengkhawatirkan Vermilion?”
“Aku tidak lari karena tidak perlu lari. Tapi benar, aku memang mengkhawatirkannya.”
“Begitu rupanya. Kalau begitu bagaimana dengan sebuah kesepakatan? Serahkan sang Putri pada kami. Dengan begitu, kami akan mundur.”
“Daya ingatmu buruk rupanya. Akan kukatakan sekali lagi. Kekaisaran tidak punya kebiasaan mengusir orang yang sudah kami terima.”
Dulu, Ayahanda pernah mengucapkan kata-kata yang sama kepada utusan Kekaisaran Suci.
Aku masih ingat jelas hari itu.
Sosok Kaisar yang kulihat dari sudut ruang takhta saat itu tampak cukup gagah untuk dikagumi.
Meski begitu, aku tidak pernah berniat menjadi seperti dirinya.
Bagiku, Kaisar adalah sosok yang dinikmati untuk dipandang.
Aku ingin melihat Kaisar yang berwibawa duduk di atas singgasana.
Dulu, kupikir itu akan menjadi kakak sulungku.
Sekarang, aku yakin Leo-lah yang akan menjadi Kaisar.
Namun, untuk menjadikan Leo Kaisar, masih banyak rintangan.
Ada pula janji dengan Pahlawan. Aku harus dipandang lebih berbahaya daripada Leo.
Itu bertentangan dengan caraku, tapi jika tidak kulakukan, Leo akan berada dalam bahaya.
Kalau begitu, tidak ada pilihan selain melakukannya.
Aku menumpangkan bayangan Kaisar agung yang pernah kulihat ke dalam diriku.
Sosok itu terhubung dengan Kakak Sulung yang dulu memberi mimpi pada banyak orang, dan juga sosok yang ingin dicapai Leo.
“Kalau begitu, ini berarti perang. Dengan melindungi Vermillion yang terluka, bukankah para Kesatria Pengawal akan kewalahan?”
Wajahnya tampak penuh kelonggaran.
Dia menganggap ini hanya gertakan.
Dulu, para duta besar juga bersikap demikian.
Aku diremehkan. Dianggap sebagai pangeran yang lemah.
Karena itu, segala perhitungan dan sifat ragu kupendam jauh di lubuk hati.
Aku adalah wakil Kaisar. Di wilayah utara ini, kedudukanku setara dengan Kaisar.
Meremehkanku sama saja meremehkan Kekaisaran.
Itu sama sekali tidak bisa ditoleransi.
“Sepertinya pemahamanmu tentang Kesatria Pengawal Kekaisaran masih kurang. Mereka adalah pengawal. Melindungi adalah tugas utama mereka. Kalau kamu kira seribu orang cukup untuk menembus, coba saja.”
“Ancaman tidak akan mempan padaku.”
“Masih kurang jelas? Artinya, aku menyuruhmu datang dan menyerang.”
Sambil menatap Abraham lurus-lurus, aku melangkah maju perlahan.
“Aku adalah Wakil Penguasa Wilayah Utara! Di wilayah utara ini, aku diberi wewenang penuh oleh Kaisar! Karena itu!! Rakyat yang mengungsi di wilayah ini adalah rakyatku! Saat ini, siapa pun yang meminta pertolongan di utara adalah rakyat yang harus kulindungi! Aku tidak akan menyerahkan mereka kepada siapa pun! Jika kamu menginginkannya, rebutlah! Tapi jika kamu ingin merebut, datanglah dengan kesiapan yang setara! Kesatria Kekaisaran tidak selunak Kesatria Negara Bagian!”
Menanggapi kata-kataku, Elna dan para Kesatria Pengawal mencabut pedang mereka.
Di saat itulah Abraham tampaknya baru menyadari bahwa Elna di sisiku adalah anggota keluarga Armsberg.
“Begitu... jadi karena seorang Armsberg ada di sisimu kamu berani bertindak sejauh ini. Tapi sehebat apa pun dia disebut jenius, jumlah ini tetap mustahil dihadapi! Terlalu banyak yang harus dilindungi! Atau kalian berniat menggunakan Pedang Suci? Kalau kalian menggunakan Pedang Suci terhadap Negara Bagian, kecaman tidak akan terelakkan!”
“Melawan kalian, aku tidak perlu memakai Pedang Suci. Jangan terlalu membanggakan diri.”
“Kalau begitu apa yang akan Anda lakukan? Apa Anda pikir kami akan tunduk pada wibawa Kekaisaran!?”
Sambil berkata demikian, Abraham memberi isyarat pada anak buahnya.
Namun para prajurit itu tidak berlari maju.
Karena suara itu terdengar.
Derap kaki kuda dalam jumlah besar.
“Yang akan kalian tunduki bukanlah wibawa Kekaisaran... melainkan kekuatan militernya!”
Bersamaan dengan itu, Kak Lize muncul di sampingku.
Dan dari belakang, para kesatria berdatangan tanpa henti.
Jumlahnya tidak kurang dari tiga ribu orang.
“Kita tepat waktu. Sisanya serahkan padaku.”
“Tidak... ini perangku.”
Kakak tersenyum garang dan melangkah maju, tetapi aku menahannya.
Dia menatapku, sedikit terkejut.
“Seluruh pasukan, siapkan serangan! Musuh kita adalah tentara Negara Bagian! Mulai saat ini, kita memasuki perang melawan Negara Bagian atas permintaan Putri Marianne! Ini adalah perang untuk menyelamatkan rakyat Negara Bagian! Kepada raja yang tidak peduli pada rakyatnya! Kepada para bangsawan yang hanya memperkaya diri! Kepada para kesatria yang tidak melindungi rakyat yang seharusnya mereka lindungi! Ajarkan pada mereka apa itu harga diri dan kehormatan! Atas nama wakil Kaisar, aku, Arnold Lakes Ardler, memerintahkan kalian!! Hancurkan Negara Bagian Cornix!!”
Aku mengangkat tangan kananku dan mengayunkannya ke bawah.
Para kesatria yang telah menunggu momen itu serentak melancarkan serangan ke arah pasukan Abraham.
Meski awalnya unggul jumlah, tentara Negara Bagian yang tiba-tiba dibalikkan keadaannya itu runtuh dengan mudah.
“Sial! Mundur! Tarik pasukan kembali ke wilayah Negara Bagian!”
Abraham berteriak memberi perintah, tetapi sebelum mundur itu terwujud, satu pasukan kesatria baru muncul, menutup jalur pelarian.
Tampaknya mereka memilih rute untuk mengambil posisi dari belakang sejak awal.
Di barisan terdepan berdiri seorang pria bertubuh kecil, mengangkat halberd.
“Para kesatria Keluarga Reinfeld! Bangkitlah! Anak itu sudah berlari mati-matian! Kalau begitu, kita pun harus sanggup berlari!”
Sambil menyemangati para kesatria, Jurgen memimpin langsung serangan.
Dengan jalur mundur tertutup dan posisi terkepung, tentara Negara Bagian terus berada dalam kondisi terdesak.
Di tengah itu, Kakak perlahan menggerakkan kudanya ke depan.
“...Kakak.”
“Dia Kolonel Abraham. Mantan perwira Kekaisaran. Biarkan aku yang menjatuhkan hukuman.”
“Baiklah.”
Aku hanya menjawab singkat, lalu terdiam.
Karena pertempuran sudah pecah, percakapan panjang tidak diperlukan.
Menegur Kakak bisa dilakukan nanti.
Itulah yang kupikirkan.
“Al... aku memposisikan perang ini sebagai pembalasan atas kematian Kak Wilhelm. Tapi kamu berbeda.”
“Kalau dibilang aku tidak marah, itu bohong... tapi itu masa lalu. Kita hidup di masa kini. Maka kita harus menatap masa kini. Ada rakyat yang meminta pertolongan. Rakyat yang takut pada murka Kekaisaran. Mereka tidak bersalah. Karena tidak seorang pun bisa memilih di mana dia dilahirkan.”
Kakak menatap ke langit.
Lalu...
“Benar juga... kamu benar.”
“Kalau begitu...”
“...Demi nama mendiang Kak Wilhelm, aku bersumpah. Aku akan bertarung sesuai dengan yang kamu inginkan. Menyelamatkan rakyat, dan menghukum raja serta para bangsawan yang keji. Dengan begitu... tidak masalah, bukan?”
“Ya. Terima kasih.”
“Akulah yang seharusnya berterima kasih. Melihat dirimu sekarang membuatku merasa bernostalgia. Kamu mulai sedikit mirip Kak Wilhelm, ya?”
“Karena aku ini adiknya.”
“Begitu ya.”
Kak Lize tersenyum tipis, lalu menarik pedangnya keluar dari sarung.
Situasi pertempuran berada dalam kondisi buntu.
Abraham berdiri menghadang, membuat para kesatria tidak bisa mendekat.
“...Al, gejolak emosi di dalam diriku takkan pernah padam. Api amarah ini masih menyala, dan mungkin tidak akan pernah padam sampai aku mati. Tapi aku bisa menekannya. Aku hanya perlu melampiaskannya pada seseorang.”
“Benar.”
“...Kak Wilhelm adalah orang yang baik. Lalu mengapa orang baik harus mati? Karena masih ada makhluk-makhluk tidak tahu malu seperti mereka. Binatang yang tidak punya kehormatan maupun harga diri. Kalau mereka dihujani amarah yang tidak masuk akal sekalipun, mereka tidak berhak mengeluh...!”
Suaranya bergetar.
Kakak melepaskan gejolak emosi yang selama ini dia pendam.
Dan kemudian...
“Buka jalan!!”
Kakak memacu kudanya dan menerjang lurus ke tengah-tengah barisan musuh.
Aku mengejarnya dengan sihir.
Mendengar teriakan itu, para kesatria panik dan buru-buru membuka jalan.
Sebuah jalur lurus pun terbentang di hadapan Kakak.
Menyusuri jalur itu, Kakak melesat maju dan mengayunkan pedangnya ke arah Abraham.
“Marsekal sendiri turun tangan... darah keluarga kekaisaran pasti terasa lezat!”
Kakak tidak menanggapi sepatah kata pun, hanya melancarkan tebasan bertubi-tubi. Abraham pun menangkis semuanya.
Namun, cara dia menahan serangan terasa janggal.
Seolah-olah bukan dia yang bereaksi, melainkan pedangnya sendiri.
“Dikuasai pedang sihir, ya...! Kalau senjata rendahan itu pun pedang sihir, masuk akal!”
“Terserahmu!”
Kakak dan Abraham terlibat dalam adu serang yang seimbang untuk beberapa saat.
Di sela-sela itu, pasukan prajurit Negara Bagian satu per satu telah ditumpas.
Tidak ada musuh yang lolos, dan masih ada waktu sebelum pasukan Negara Bagian di perbatasan bergerak.
Yang tersisa hanyalah Abraham.
Abraham sendiri tampak terus-menerus memperhatikan sekelilingnya sejak tadi.
Barangkali dia sadar bahwa bertarung terus melawan Kakak tidak akan membawa hasil.
Namun, dia sudah dikepung para kesatria.
“Menoleh ke sana kemari? Masih sempat-sempatnya bersantai!”
“Aku tidak berniat mengubur nasibku bersama Negara Bagian!”
Pada saat itu.
Abraham membelakangi Kakak dan menerobos kepungan para kesatria.
Para kesatria berusaha menghentikannya, tetapi pedang sihir Abraham menebas mereka secara otomatis.
Namun, laju Abraham akhirnya terhenti.
Di hadapannya berdiri Jurgen.
“Apa...!?”
“Dengan pedang sihir pun, ternyata ringan juga, ya?”
Jurgen mengayunkan halberd-nya ke arah pedang sihir Abraham dan menghentikan gerakannya dengan kekuatan murni.
Dibawa ke adu tenaga semata, Abraham terpaksa menghentikan pergerakannya.
Namun, berhenti berarti jurang neraka menantinya.
“Jangan menghalangiku!”
Abraham menepis halberd Jurgen dan mencoba mengayunkan pedang sihirnya.
Namun, itu tidak pernah terwujud.
Sebagai gantinya, lengan Abraham yang menggenggam pedang sihir melayang di udara.
“Aaah...! Sahabatku!”
“Kamu sadar pada siapa kamu mengarahkan bilahmu?”
Abraham menoleh dan tubuhnya membeku.
Kakak sudah mengambil posisi untuk mengayunkan pedangnya, digerakkan sepenuhnya oleh luapan emosi.
“Aku punya banyak informasi!”
“Kurang ajar.”
Tanpa mau mendengarkan, Kakak menusukkan pedangnya ke leher Abraham dan memaku tubuhnya ke tanah.
Itu adalah luka fatal.
Tidak ada lagi waktu untuk pertolongan.
“Kamu tidak apa-apa, Jurgen?”
“Tentu saja, Nona Lizelotte.”
“Jangan terlalu gegabah.”
“Sebagai Duke Kekaisaran, saya tidak bisa lari.”
“Kalau begitu, mulai sekarang jangan menjauh dariku.”
Sambil berkata demikian, Kakak menarik kembali pedangnya.
Tidak ada tanda-tanda Abraham akan bangkit lagi.
Dengan demikian, pertempuran di perbatasan pun resmi berakhir.
Bagian 19
“Sebagai Wakil Penguasa Wilayah Utara, aku, Arnold Lakes Aedler, memerintahkan Marsekal Lizelotte. Pimpin Pasukan Aliansi Bangsawan Timur beserta Pasukan Perbatasan Utara, dan lakukan invasi ke Negara Bagian Cornix.”
“Perintah diterima sepenuhnya.”
Menerima perintah dariku, Kakak pun berangkat bersama para kesatria yang mengikutinya untuk bergabung dengan Pasukan Perbatasan Utara.
Pasukan Negara Bagian masih belum mengetahui kegagalan Abraham.
Begitu mereka tahu, mereka pasti akan melancarkan serangan inisiasi. Namun, saat ini justru pihak kitalah yang memegang kesempatan itu.
Utusan telah dikirim.
Jenderal Harnisch, yang untuk sementara memegang komando Pasukan Perbatasan Utara, pasti akan mulai mempersiapkan invasi dengan wajah seolah tidak terjadi apa-apa.
Begitu Kakak tiba, invasi langsung dimulai.
Memang, penggalangan para bangsawan belum sepenuhnya selesai, tetapi keselamatan Putri Marianne berhasil diamankan. Tidak diragukan lagi pihak musuh akan terguncang, dan jika Kakak berhasil menghancurkan pasukan Negara Bagian di perbatasan, mereka pasti akan mulai mendekat dengan sendirinya.
Soal Negara Bagian, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Itu tinggal menunggu waktu saja.
Yang lebih penting sekarang adalah hal lain.
“Bagaimana keadaannya?”
“Tidak terlalu baik...”
“Separah itu?”
“Lukanya memang cukup dalam, tapi masalahnya bukan hanya itu. Karena pedang sihir itu, efek sihir penyembuhan jadi terhambat.”
Luka Mia ternyata jauh lebih parah dari yang kuduga.
Bahu kirinya dan kaki kanannya tertembus, belum lagi anak panah yang masih menancap di beberapa bagian tubuhnya.
“Sihir penyembuhan yang digunakan anak buahku bekerja dengan memperkuat kemampuan penyembuhan alami tubuh. Dengan begitu, lukanya akan menutup. Tapi efek pedang sihir itu mengganggu, sehingga lukanya sulit menutup.”
“Efek yang mencegah luka untuk menutup...”
Apa pun prinsip kerjanya, hasil akhirnya sudah jelas.
Pedang sihir yang merepotkan.
Pedang sihir itu sendiri kini telah disimpan dengan pengamanan ketat. Pedang yang sampai bisa mengendalikan pemiliknya bukanlah sesuatu yang umum. Bagaimana Abraham bisa memperoleh benda seperti itu juga perlu diselidiki.
Ada terlalu banyak hal yang harus dilakukan, tapi sekarang kepalaku tidak bisa memikirkan semuanya.
“Pokoknya, tolong selamatkan dia.”
“Aku akan mengerahkan seluruh kemampuanku. Tapi kami bukan ahli penyembuhan. Kami tidak yakin sejauh mana...”
“Apa dia bisa bertahan sampai ke ibu kota?”
“Tidak mungkin. Pendarahannya tidak berhenti. Kami berusaha sekuat tenaga menghentikannya, tapi...”
Entah ada sesuatu yang disuntikkan untuk menghambat penyembuhan, atau sihir semacam itu yang bekerja di dalam tubuhnya.
Apa pun itu, sihir penyembuhan tingkat tinggi jelas dibutuhkan.
Jika aku mengaktifkannya dengan kekuatan penuh, rasanya aku bisa menembus hambatan itu. Namun, jika kulakukan sekarang, identitasku pasti akan terbongkar.
Aku harus mencari celah, bagaimanapun caranya.
Dalam keadaan terburuk, haruskah aku muncul secara paksa sebagai Silver?
Saat pikiran itu terlintas...
“Pangeran Arnold.”
Namaku dipanggil dengan suara teredam.
Ketika aku menoleh, seorang pria bertopeng biru berdiri di sana.
Tanpa kusadari, dia sudah berdiri tepat di belakangku. Dan entah sejak kapan pula, Elna sudah mencabut pedangnya dan memperlihatkan kewaspadaan penuh.
“Siapa kamu?”
“Vater, seorang bandit dermawan dari Negara Bagian.”
“Bandit dermawan? Kamu?”
Mia memiliki kekuatan yang luar biasa untuk seorang bandit dermawan biasa.
Namun, pria bernama Vater ini jelas melampauinya dengan mudah.
Elna tentu sadar hal itu.
“Kalau kamu curiga, tanyakan saja pada Putri Negara Bagian.”
“Elna, sarungkan pedangmu. Dia sekutu kita.”
“Dia tidak terlihat seperti sekutu. Aku punya ketidakpercayaan khusus terhadap orang bertopeng.”
“Meski begitu, dia sekutu. Bisa bicara berdua sebentar, Vater?”
“Memang itu yang kuinginkan.”
Di bawah tatapan Elna yang tampak tidak puas, aku pun mengajak Vater masuk ke dalam tenda yang telah disiapkan.
* * *
“Baiklah, soal Mia saat ini kami sedang mengerahkan seluruh kemampuan kami untuk mengobatinya. Itu saja yang ingin kamu dengar, ‘kan? Fater, atau seharusnya... Jack.”
“Jadi kamu sudah mendengar semuanya dari Silver?”
“Sejak awal, pengacauan di garis belakang Negara Bagian memang kuminta pada Silver. Dia menolaknya, tapi aku terkejut ketika sebagai gantinya dia berhasil mendapatkan kerja sama seorang petualang peringkat SS. Yang lebih mengejutkan lagi, ternyata Mia adalah putri seorang petualang peringkat SS. Berkat hubungan itulah kami bisa mendapat bantuan. Aku berterima kasih.”
“Aku tidak melakukannya demi Kekaisaran.”
Sambil melepas topengnya, Jack menjatuhkan diri ke kursi, bahunya terkulai.
Aku tahu.
Semuanya demi Mia.
“Sesuai janji, setelah ini kita akan melakukan invasi balik. Para bangsawan akan menjadi yang pertama dihukum. Dengan begitu, Mia tidak lagi punya alasan untuk terus menjadi bandit dermawan.”
“...Kalau dia masih hidup.”
“Kamu sudah dengar juga rupanya... Aku minta maaf karena tidak bisa melindunginya tanpa luka. Semua ini tanggung jawab kami.”
“Yang menyuruh Putri Negara Bagian untuk mempercepat pelariannya itu aku... Kupikir selama aku menahan pasukan pengejar dari ibu kota, semuanya akan baik-baik saja...”
“Jadi itu sebabnya kamu tidak menampakkan diri selama ini. Lalu bagaimana dengan pasukan penjaga ibu kota?”
“Hampir semuanya kuhancurkan.”
“Itu kabar baik, setidaknya bagi Kekaisaran.”
Sambil berkata begitu, aku berdiri.
Obrolan sudah selesai.
Jack pun tampaknya tidak berniat berlama-lama.
“Pangeran Arnold...”
“Akan kusampaikan pada para kesatria pengawal. Kalau kamu ingin bertemu, datang saja. Tapi... perawatan yang bisa dilakukan di tempat ini ada batasnya. Kami akan berusaha semaksimal mungkin, tapi jangan terlalu berharap.”
“...Terima kasih.”
Jack menjawab singkat, lalu menunduk sambil memegangi kepalanya.
Seandainya Jack tidak menahan pasukan penjaga ibu kota, Mia dan yang lainnya pasti akan terus diburu, dan para bangsawan yang membantu Putri Marianne juga takkan selamat.
Dilihat secara keseluruhan, kerugian yang terjadi sudah ditekan seminimal mungkin.
Namun, jika Jack berada di sisi Mia, kejadian seperti ini mungkin takkan terjadi.
Tentu saja, aku tidak tahu apakah Mia akan menerimanya atau tidak.
Penyesalan itu barangkali tidak akan pernah habis.
Apalagi jika dia punya kekuatan yang seharusnya cukup untuk melindungi.
Aku sangat mengerti rasa tidak berdaya itu.
Untuk apa menjadi kuat, jika pada akhirnya tidak mampu menyelamatkan orang yang paling berharga?
Untuk bangkit dari sana, aku dulu membutuhkan bantuan Leo.
Sambil menumpangkan bayangan Jack pada diriku di masa lalu, aku pun meninggalkan tempat itu.
* * *
Malam.
Aku datang ke tenda tempat Mia sedang menjalani perawatan.
Para kesatria pengawal terus melanjutkan pengobatan tanpa beristirahat.
Meski lukanya tidak kunjung menutup, dengan terus memberi sihir penyembuhan secara berkala, setidaknya pendarahan itu bisa ditekan.
Namun, itu saja batasnya.
“Bagaimana keadaannya?”
“Sayangnya... semua cara yang bisa kami lakukan sudah habis...”
“Begitu ya... apa tidak apa-apa jika aku minta kalian keluar sebentar?”
“Kami tidak bisa memberi waktu terlalu lama.”
“Tidak masalah.”
Setelah berkata begitu, aku meminta para kesatria pengawal meninggalkan tempat itu.
Bersamaan dengan itu, Jack pun muncul dengan mengenakan topengnya.
Tanpa berkata apa-apa, aku masuk ke dalam tenda.
Mia tertidur di atas ranjang.
Perbannya membalut luka-lukanya. Untuk saat ini, efek sihir penyembuhan tampaknya masih bekerja sedikit.
Jack melangkah sempoyongan mendekatinya, lalu berlutut di sisi ranjang.
Dengan hati-hati dia menggenggam tangan Mia, menempelkan dahinya ke sana.
“...Kamu tidak berpikir aku orang tua yang gagal?”
“Entahlah. Cara anak memandang orang tuanya berbeda-beda.”
“...Tidak mungkin aku orang tua yang baik. Saat dia lahir, aku menyerah menjadi seorang ayah. Semuanya kuserahkan pada istriku, sementara aku tenggelam dalam hidup sebagai petualang. Menjadi petualang kuat yang diandalkan orang lain terasa lebih mudah. Istriku akhirnya muak melihatku seperti itu...”
“...”
“Tapi... aku hanya bisa bersyukur pada istriku dan ayah angkatnya... guruku. Kalau aku yang membesarkannya, dia tidak akan tumbuh menjadi anak seperti ini... Dia tumbuh menjadi gadis yang bisa melindungi orang lain...”
Dia tampaknya tidak menyesali cara hidup Mia.
Yang dia salahkan hanyalah dirinya sendiri.
Kecuali benar-benar penjahat besar, tidak mungkin semua kesalahan hanya milik satu orang.
Namun bagi Jack yang dihantui rasa tidak berdaya, pikirannya sendiri tidak akan membiarkannya berpikir demikian.
Yang paling bersalah adalah dirinya yang lemah.
Punggungnya yang merunduk tampak begitu kecil.
“...Kenapa aku tidak punya kekuatan untuk menyembuhkan seseorang...”
“...Dulu aku juga pernah memikirkan hal yang sama.”
“Begitu... lalu bagaimana kamu bisa bangkit...?”
Jack melepas topengnya dan menatapku.
Air mata mengalir di pipinya.
Melihat pria sekelas Jack menangis di hadapan orang lain...
Itu menunjukkan betapa berharganya Mia baginya.
Akhirnya dia menemukan putrinya. Tentu saja begitu.
Aku mengeluarkan sebuah botol kecil berisi air dari saku, lalu dengan tenang meneteskan isinya ke dalam mulut Mia.
“Apa itu...?”
“Hanya air biasa. Tidak punya efek istimewa bagi kita.”
“Apa maksudmu...?”
Aku tersenyum pahit menanggapi pertanyaan Jack.
Tidak ada pilihan lain.
Perasaannya terlalu mirip dengan masa laluku sendiri.
Lagipula, cepat atau lambat Jack akan menghubungkan titik-titik itu menjadi satu garis. Dia sudah terlalu terlibat.
Kalau begitu, sekalian saja kupintakan bantuannya untuk menutupinya.
“Sebenarnya, Vater yang merupakan petualang peringkat SS, memberinya obat mahal. Karena itu luka Mia membaik. Begitulah ceritanya.”
“Apa yang kamu bicarakan...?”
“Kamu bertanya bagaimana aku bisa bangkit, bukan? Aku memutuskan untuk percaya bahwa kekuatanku tidak sia-sia, dan memilih menolong orang-orang yang hancur oleh rasa tidak berdaya. Bahwa sihirku... tidak pernah sia-sia.”
Setelah berkata demikian, aku lebih dulu memasang penghalang penyekat, lalu membentangkan penghalang penyembuhan khusus untuk Mia.
Sihir penyembuhan jenis penghalang yang menghabiskan banyak energi sihir. Namun kali ini konsumsi sihirnya tidak besar. Untuk tingkat ini, masih bisa ditoleransi.
Aku mempertahankan penghalang itu selama beberapa waktu.
Luka Mia perlahan-lahan mulai pulih. Efek pedang sihir sudah lenyap oleh penghalang penyembuhku.
Setelah itu, aku membatalkan penghalang tersebut. Kalau menyembuhkannya sepenuhnya, pasti akan menimbulkan kecurigaan.
“Jangan-jangan... dia sembuh...?”
“Belum sepenuhnya. Tapi sekarang, sihir penyembuhan para kesatria pengawal sudah cukup untuk menanganinya.”
“...”
Jack menggenggam tangan Mia dengan kedua tangannya, air mata jatuh tanpa suara.
Membelakangi Jack, aku hendak meninggalkan tenda.
Namun Jack memanggilku.
“Tunggu...”
“Ada apa? Ah, soal identitasmu akan kuberitahukan pada para kesatria pengawal. Tapi menurutku, lebih baik kamu menghilang sebelum mereka bertanya macam-macam.”
“Baik... aku akan menurutimu... terima kasih... Silver.”
“Bicara apa kamu?”
“...Terima kasih... Pangeran Arnold.”
“Sama-sama.”
Aku pun melangkah keluar dari tenda.
Saat itu, Sebas muncul di belakangku.
“Apa kamu mau memberi ceramah?”
“Mana mungkin... Tuan Jack, petualang peringkat SS, adalah sosok yang jauh dari perebutan takhta. Dan Nona Mia adalah satu-satunya kelemahannya. Dengan bersusah payah demi Nona Mia, kita mendapat utang budi besar darinya. Meski tahu identitas Anda, dia pasti akan menutup rapat mulutnya. Menurut saya, ini langkah yang sangat baik.”
“Anggap saja begitu.”
“Ya, mari kita anggap begitu.”
Aku menjawab ucapan Sebas dengan senyum pahit, dan Sebas pun membalas dengan senyum serupa.
Pada akhirnya, hasilnya memang baik.
Namun, sekalipun hasilnya buruk, aku tetap akan melakukan hal yang sama.
Jika saat itu aku terus mengutamakan perhitungan untung rugi, kondisi Mia hanya akan semakin memburuk.
Lagipula, berusaha memisahkan Jack dari situasi itu juga merepotkan.
Dan bagi Jack sendiri, perlakuan seperti itu pasti hanya akan menimbulkan ketidakpuasan.
Pada akhirnya, inilah pilihan terbaik.
Setidaknya, bagi perasaanku sendiri.
Jack yang diliputi rasa lemah adalah diriku di masa lalu.
Aku tidak mungkin meninggalkannya.
“Baiklah, sepertinya aku harus pergi menjelaskan keadaannya pada Elna.”
Sambil berkata demikian, aku meregangkan tubuh ringan lalu mulai berjalan.
Keesokan harinya, Elna yang sudah mengetahui situasinya mencari keberadaan Jack, tetapi sosoknya tidak ditemukan di mana pun.
Jika sampai ketahuan bahwa seorang petualang peringkat SS telah membantu Kekaisaran, itu akan menjadi masalah besar.
Karena itu, aku berpesan agar kejadian ini dianggap sebagai jasa para kesatria pengawal, dan aku melarang siapa pun membicarakan perkara ini.
Dengan begitu, semuanya pun beres.
Dengan pikiran itu, aku kembali dengan santai ke kediaman wilayah Marquis Zweig.
Namun, yang menantiku di sana adalah sepucuk surat dari Ayahanda.
“Diminta kembali ke ibu kota dengan membawa Putri Marianne...”
“Perintah ini tentu tidak bisa kita abaikan.”
“Satu masalah selesai, masalah lain menanti...”
Sambil menghela napas panjang, aku melemparkan surat itu ke atas meja.
Apa yang sebenarnya ingin Ayahanda lakukan terhadap Marianne?
Tergantung pada itu, aku mungkin harus bergerak dalam berbagai hal.
Namun, apa pun keadaannya, tanpa bertemu langsung, tidak akan ada pembicaraan yang bisa dimulai.
“Kita pulang. Ke Ibu Kota Kekaisaran.”
“Siap, Tuan.”
Dengan demikian, aku pun memutuskan untuk kembali ke Ibu Kota Kekaisaran.







Post a Comment