NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Saikyou Degarashi Ouji no An’yaku Teii Arasoi V15 Epilogue - Bonus Cerita Pendek

 Penerjemah: Chesky Aseka

Proffreader: Chesky Aseka


Epilogue

Keesokan harinya. 

Aku resmi dipanggil menghadap Ayahanda. 

Tentu saja, pembahasannya mengenai rencana pengutusanku sebagai utusan ke Kadipaten Albatro. 

“Kamu paham situasinya?” 

“Kurang lebih.” 

“Seperti yang kamu tahu, kunci perang melawan Kerajaan terletak pada bagaimana kita memisahkan Kadipaten Albatro dari mereka. Kerajaan bergerak lebih serius dan lebih cepat dari perkiraan kita. Bisa jadi mereka sudah lebih dulu menjangkau Kadipaten Albatro.” 

“Apakah pengutusanku dibatalkan?” 

“Kita tidak bisa mengurangi kekuatan di garis depan. Tidak ada pilihan selain mengutusmu.” 

Selama Leo bersiap menghadapi pertempuran penentuan melawan Kerajaan, mau tidak mau orang lainlah yang harus pergi ke Kadipaten Albatro. 

Namun, selama Albatro masih memberi dukungan, Kerajaan akan menjadi benteng yang nyaris mustahil ditembus. 

Sekali perang dimulai, itu akan berubah menjadi konflik berlumpur yang berlangsung bertahun-tahun. 

Selama kedua pihak sama-sama enggan mundur, yang ada hanya saling melukai. 

“Untuk saat ini, ada dua rencana yang sedang kami pertimbangkan. Yang pertama adalah pengawalan ketat oleh Kesatria Pengawal.” 

“Itu hanya akan memprovokasi mereka.” 

“Saya sependapat. Menunjukkan kekuatan militer secara terang-terangan adalah langkah yang buruk.” 

Kanselir Franz berkata demikian sebelum melanjutkan ke rencana kedua. 

“Memang agak berisiko, tetapi sebaiknya jumlah pengawal dibatasi. Lalu, kita fokuskan pada dialog langsung dengan sang pangeran muda. Sejak Pangeran Leonard dan Pangeran Arnold pergi ke Kadipaten itu, sang pangeran muda konsisten menunjukkan sikap yang condong ke Kekaisaran.” 

“Apakah pangeran muda itu punya kekuatan untuk menggerakkan negaranya?” 

“Kerajaan dan Kadipaten sudah lama menjalin hubungan sebagai sekutu. Banyak yang merasa berutang budi pada Kerajaan. Namun, situasinya telah berubah. Percuma jika kita yang mengatakannya. Generasi baru seharusnya yang menyampaikan hal itu.” 

“Memang benar. Utang budi pada Kekaisaran dan pada Kerajaan... mana yang lebih besar, tidak perlu dibandingkan. Kadipaten adalah negara kecil. Mereka tidak bisa bersikap netral. Mau tidak mau harus memihak salah satu. Itu pilihan yang sulit. Kata-kata sang pangeran muda tentu akan lebih mudah diterima dibanding ucapanku. Tapi lalu... bagaimana jika gagal?” 

Jika mereka memutuskan berpihak pada Kerajaan, aku akan menjadi sandera yang sempurna. 

Tubuhku akan diserahkan pada Kerajaan. 

Dengan pengawal yang dibatasi, melarikan diri pun nyaris mustahil. 

“Soal itu... sebenarnya aku menentangnya, tapi...” 

“Karena kita tidak bisa membawa banyak pengawal, sulit menyiapkan langkah jika terjadi hal tidak terduga. Maka dari itu, yang harus kita lakukan adalah mencegah hal tidak terduga itu sendiri. Dengan kata lain, kita menambah jumlah orang yang bisa dijadikan sandera.” 

“Dengan sengaja menambah orang-orang yang bernilai sebagai sandera, lalu memberi tekanan bahwa jika terjadi sesuatu, kalian tahu akibatnya? Membuat pihak lawan berpikir bahwa Kekaisaran akan bergerak serius jika terjadi apa pun?” 

“Tepat sekali. Masalahnya adalah pemilihan orangnya.” 

“Aku dan Fine. Kalau masih kurang, tambahkan satu orang dari keluarga kekaisaran. Christa atau Rupert.” 

“Jangan bercanda! Kita tidak bisa melibatkan anak-anak!” 

“Meski masih anak-anak, mereka tetap keluarga kekaisaran. Tapi kalau begitu, cukup aku dan Fine saja.” 

“Dua orang itu sudah cukup sebagai tekanan. Jika tekanannya terlalu kuat, itu bahkan tidak akan menjadi negosiasi. Saya rasa ini pas.” 

Pembicaraan pun cepat mencapai kesimpulan. 

Ayahanda tampak mengernyit. 

Sebagai seorang ayah, dia jelas menentang mengutus Fine. Namun, dia sudah lebih dulu menolak pelibatan anak-anak. 

Sekarang, jika dia juga melarang Fine, pembahasan tidak akan maju. 

“Jika Fine setuju... aku tidak keberatan.” 

“Kalau begitu, biar aku yang membujuknya.” 

Sambil berkata demikian, aku menunduk hormat dan berbalik. 

Saat itulah Ayahanda memanggilku. 

“Arnold.” 

“Ada apa?” 

“Jangan bertindak gegabah. Jika harus menjadi sandera, itu tidak apa-apa. Selama kamu bernilai bagi mereka, mereka akan memperlakukanmu dengan baik.” 

“Bukannya itu memalukan?” 

“Nyawa lebih penting daripada rasa malu.” 

Mendengar kata-kata Ayahanda, aku mengangguk, lalu meninggalkan ruangan itu.


* * *


Beberapa hari kemudian. 

Aku dan Fine berada di dalam kereta kuda yang akan meninggalkan Ibu Kota. 

“Hati-hati di jalan, Kakak dan Fine.” 

“Baik! Kami berangkat dulu, Tuan Leo!” 

“Kalau memang tidak memungkinkan, kami akan pulang. Jadi jangan khawatir.” 

Aku berkata demikian kepada Leo yang datang mengantar. 

Tentu saja itu hanya untuk menenangkan hati, dan Leo pun paham. 

Namun, jika sejak sekarang sudah diliputi kekhawatiran, tubuh dan pikiran pasti tidak akan kuat menahannya. 

“Aku tidak khawatir. Kalau kalian sampai jadi sandera, aku akan datang menolong.” 

“Aku menantikan itu.” 

“Ya, nantikan saja.” 

Setelah percakapan itu, Elna muncul dari arah istana dengan langkah tergesa. 

Sepertinya dia memaksakan diri menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat. 

“Fine! Al!” 

“Nona Elna.” 

“Aduh! Kalau saja aku ikut, tidak perlu ada yang dikhawatirkan... tapi Kanselir menolaknya! Kalian berdua, jangan bertindak nekat, ya?” 

“Tidak perlu khawatir. Ada Sebas, dan Kapten Finn juga ikut sebagai pengawal.” 

“Tapi...” 

Elna menggenggam tangan Fine dengan wajah cemas. 

Padahal biasanya dialah yang berada di posisi menenangkan Fine yang gelisah. 

Sungguh. 

“Sudah waktunya. Kita berangkat.” 

“Al!” 

“Jangan khawatir. Kita punya peluang menang.” 

“Benarkah...?” 

“Benar. Jadi bersiaplah. Begitu aku kembali, perang skala penuh dengan Kerajaan akan dimulai. Di sana, raihlah prestasi dan lampaui Kak Eric. Takhta sudah tepat di depan mata, tahu? Kamu siap?” 

“Tentu. Persiapanku sudah selesai.” 

“Bagus. Kalau begitu, kami berangkat.” 

Kami melambaikan tangan pada mereka berdua, lalu aku dan Fine pun bertolak menuju Kadipaten. 

“Aku sangat menantikan perjalanan ke Kadipaten!” 

“Kalau tangan Kerajaan sudah menjangkau ke sana, ini sama saja seperti melompat ke dalam jebakan.” 

“Tapi justru dengan terjun ke dalam bahaya, ada hal-hal yang bisa didapatkan.” 

“Benar juga... dengan adanya dirimu, aku merasa lebih tenang.” 

“Aku juga... kalau berada di sisi Anda, rasanya aman.” 

Fine yang duduk di sampingku berkata begitu sambil tersenyum malu-malu. 

Entah kenapa, hanya dengan melihat senyumnya, tubuhku terasa rileks. 

Tiba-tiba, sesuatu menyentuh tangan kananku. 

Kulihat Fine menumpangkan tangannya di atas tanganku. 

Pandangan kami sempat bertemu sejenak. 

Tanpa berkata apa pun, aku menggenggam tangannya dengan pelan, dan dia membalas genggaman itu dengan lembut. 

Seolah kami saling memastikan kehangatan satu sama lain. 

Saat itu, terdengar suara lengkingan wyvern putih di langit. 

Ketika aku menengadah, terlihat Finn terbang di udara sebagai pengawal. 

“Baiklah, kira-kira apa yang akan muncul nanti?” 

Sambil bergumam demikian, aku memejamkan mata. 

Perjalanan masih panjang. 

Untuk saat ini, biarlah aku tertidur sejenak di ruang yang terasa begitu menenangkan ini.


Bonus Cerita Pendek

Jamuan Pesta


Sejak aku menjadi Kanselir Negara Bagian, jamuan bersama para bangsawan korup semakin sering. 

Sejak awal, minum arak bersama orang-orang yang kubenci saja sudah seperti neraka, ditambah lagi aku harus berusaha agar mereka menyukaiku. 

Tidak berlebihan jika dikatakan ini adalah penderitaan terbesar sejak aku datang ke Negara Bagian ini. 

Namun, kali ini terasa lebih menyiksa. 

“Bagaimana pendapat Anda, Kanselir Arnold?” 

“Semuanya adalah putri-putri yang kami kumpulkan dari kalangan kerabat kami.” 

Aku bahkan enggan menjawab. 

Yang muncul di tempat jamuan adalah para gadis muda. 

Dengan dandanan mencolok, mereka semua menatapku dengan sorot mata penuh gairah. 

Semuanya cantik. 

Mungkin mereka memang mengumpulkan gadis-gadis dengan paras terbaik. 

Katanya kerabat, tapi entah seberapa jauh hubungan kekerabatannya. 

Tidak mungkin ada gadis muda secantik ini yang kebetulan masih kerabat dekat. 

Kalau dipikir-pikir, kemungkinan mereka anak angkat pun ada. 

Namun, itu pun tidak masalah. 

Jika bisa menarik minat seorang Pangeran Kekaisaran sekaligus Kanselir Negara Bagian, maka semuanya akan terbayar. 

Tidak peduli seberapa jauh cara yang ditempuh, asal masa depan mereka aman, itu sudah cukup. 

Karena aku paham itulah, aku bahkan tidak bisa merasa terpikat. 

Yang mereka lihat bukanlah diriku. 

Melainkan gelar yang kusandang dan darah kekaisaran yang mengalir dalam diriku. 

Bagi mereka, aku mungkin tidak lebih dari sebuah “kesempatan menikah naik derajat”. 

Aku tidak berniat menyalahkan mereka. 

Mereka dipersiapkan dan dibawa ke sini semata-mata untuk merayuku. 

Namun tetap saja, rasanya tidak menyenangkan. 

“Bagaimana, Kanselir Arnold?” 

“Gadis yang di tengah itu kerabat saya.” 

“Yang pirang di ujung sana itu kerabat saya!” 

“Tidak, tidak, bagaimana dengan gadis berambut hitam itu? Rambutnya sama hitamnya dengan Anda, Kanselir. Menurut saya sangat serasi.” 

Sambil menuangkan arak, mereka juga menawarkan para gadis itu. 

Rasanya menjijikkan, tapi aku tidak bisa begitu saja menolak. 

“Semuanya cantik.” 

Bukan bohong. 

Aku memang berpikir demikian. 

“Oh! Kalian dengar itu? Kanselir menyukai kalian! Kemari!” 

Dengan wajah puas, seorang bangsawan memanggil gadis-gadis yang menunggu sedikit jauh. 

Aku bisa saja berpura-pura tidak tertarik, tapi demi urusan ke depan, lebih baik mereka mengira masih ada celah untuk dimanfaatkan. 

Saat aku memutuskan untuk bersabar dan melewati ini...

Pintu ruangan terbuka perlahan. 

“Permisi.” 

Yang masuk sambil berkata demikian adalah Fine. 

Keindahannya membuat para bangsawan Negara Bagian, bahkan para gadis itu menahan napas. 

Sebenarnya tidak pantas membandingkan, tapi kualitasnya berbeda. 

Fine adalah wanita tercantik di seluruh Kekaisaran, sementara yang ada di sini hanyalah wanita-wanita cantik yang dikumpulkan para bangsawan dari sebuah negara kecil. 

Sama-sama cantik, tetapi tingkatannya jelas berbeda. 

Sejujurnya, hanya dengan kehadiran Fine saja, kecantikan para gadis itu langsung memudar. 

Seolah tidak ingin bersaing, para gadis memberi jalan dengan sendirinya. 

Fine, tetap dengan senyum di wajahnya, duduk secara alami di sampingku. 

“Maaf saya datang terlambat, Tuan Al.” 

Sambil berkata begitu, Fine menuangkan arak untukku. 

Seolah-olah di situlah tempatnya sejak awal. 

Fine seharusnya tidak dijadwalkan datang. Aku juga tidak memanggilnya. 

Ini pasti keputusan Fine sendiri dan aku benar-benar tertolong karenanya. 

“Ah, terima kasih sudah datang.” 

Baik para bangsawan maupun para gadis benar-benar terpukau oleh kecantikan Fine. 

Aura yang terpancar terlalu berbeda, sampai-sampai para gadis yang berdandan berlebihan itu menundukkan kepala, seakan merasa malu dengan diri mereka sendiri. 

Kejam memang, tapi lawannya terlalu kuat. 

Para bangsawan pun tampaknya menyadari tidak ada peluang menang, lalu menyuruh para gadis itu mundur. 

Dan jamuan pun berakhir tanpa masalah. 

Dalam kereta di perjalanan pulang. 

“Mohon lebih berhati-hati ke depannya.” 

“...Kamu marah?” 

“Saya tidak marah. Saya hanya mengingatkan. Apa yang akan Anda lakukan jika saat lengah karena wanita, minuman Anda diberi obat-obatan?” 

“Aku tidak akan menunjukkan celah seperti itu. Lagipula, kalaupun diberi obat, aku masih bisa mengatasinya.” 

“Selalu ada kemungkinan terburuk.” 

“Aku menerima peringatanmu, tapi sejak awal aku tidak teralihkan.” 

“Benarkah begitu?” 

Fine memejamkan mata dan berkata dengan tenang. 

Entah kenapa, tetap terasa seperti dia sedang marah. 

Mulai sekarang, aku akan menolak dengan tegas. 

Kalau sampai disukai para bangsawan tapi dibenci Fine, itu benar-benar terbalik dari tujuan awal.


Previous Chapter | ToC | 

1 comment

1 comment

  • Agus Dedi Prasetya
    Agus Dedi Prasetya
    2/4/26 07:30
    Jejak vol 15 epilog+bonus cerita
    Reply
close