Penerjemah: Miru-chan
Proffreader: Miru-chan
Experiment 10
"Aku ingin selalu bersama Sensei."
Perubahan yang sesungguhnya baru disadari Satoru beberapa hari kemudian, saat ia sedang menaiki tangga menuju kelas setelah tiba di sekolah.
"Hah, hah..."
Langkahnya terasa berat, napasnya tersengal. Padahal biasanya... sejak ia kembali muda, setiap hari ia menaiki tangga ini tanpa memikirkannya sama sekali, tapi hari ini tangga itu terasa sangat melelahkan.
"......Sensei?"
Kusuri, yang berangkat sekolah bersamanya, menoleh dengan bingung.
"Ada apa? Apa mungkin kondisi tubuhmu sedang tidak baik?"
"Tidak, bukan begitu sih... tapi mungkin ini karena faktor usia."
Satoru mengatakannya sambil tertawa bercanda, tapi kata-kata itu justru mengganggu pikirannya sendiri.
Sejak kembali muda, tubuhnya terasa jauh lebih ringan, dan ia diam-diam menantikan jam olahraga di mana ia bisa menggerakkan tubuhnya sepuas hati.
Bagi Satoru yang seperti itu, tanpa sadar ia malah mengucapkan "faktor usia", sebuah kalimat yang dulu sering ia ucapkan sebelum ia kembali muda.
Kusuri pun tidak tertawa. Ia turun kembali ke anak tangga dan berdiri di samping Satoru, lalu menatap tubuh Satoru dengan saksama.
"Ayo kita ke ruang kesehatan."
"Eh? Tidak, sebentar lagi kelas akan dimulai..."
"Ayo cepat!"
Kusuri bersuara tegas dan tidak memberi celah untuk membantah. Seolah dipaksa, Satoru akhirnya mengikuti Kusuri menuju ruang kesehatan. Sesampainya di sana, Kusuri mendudukkan Satoru di tempat tidur dan menutup tirai.
"Tolong buka bajumu. Seragam dan kemeja. Cepat."
"O-, oke."
Karena merasa tertekan, Satoru melepas semua pakaian atasnya.
Dulu, saat Kusuri melihat tubuh bagian atas Satoru, ia sampai pingsan karena malu, tapi sekarang Kusuri memeriksa tubuh Satoru dengan tatapan serius. Bahu, lengan atas, dada, perut. Melihat Kusuri yang sibuk mengeluarkan peralatan medis dengan terburu-buru, Satoru pun tidak punya waktu untuk merasa malu. Rasa cemasnya justru semakin memuncak. Lalu, Kusuri bergumam pelan.
"Massa ototmu turun dengan cepat dibandingkan sebelumnya. ...Ada kemungkinan efek ramuan peremaja ini mulai memudar."
Kusuri mendongak menatap Satoru dengan mata yang serius.
"Mohon jalani pemeriksaan menyeluruh. Aku akan berbicara dengan kepala sekolah untuk mengaturnya."
Suaranya terdengar tenang, namun Satoru yang sudah lama mengenal Kusuri tahu bahwa gadis itu sedang berusaha keras menahan kegelisahannya.
──Mungkin saat itu akhirnya tiba.
Sambil memikirkan hal itu secara samar, Satoru mendengarkan suara Kusuri yang sedang sibuk mengatur segala sesuatunya lewat telepon.
Hasil pemeriksaan keluar keesokan harinya.
Kusuri memeriksa data hasil tes di perangkatnya berkali-kali, lalu menulis sesuatu di buku catatannya dengan tangan yang gemetar.
Seolah dirundung rasa frustrasi, ia mengacak-acak rambutnya dengan kasar, menghitung sesuatu, lalu merobek kertas itu dan menghitung ulang. Namun, jawaban yang muncul selalu sama.
"Kalau begini terus... dalam waktu dekat efek peremajanya akan menghilang...?"
Suaranya yang serak menghilang, melebur ke dalam keheningan ruangan.
──Meskipun Kusuri kurang dalam hal etika, ia telah melakukan tes yang sangat menyeluruh sebelum memberikan ramuan peremaja itu kepada Satoru. Eksperimen pada hewan, kultur sel manusia, hingga uji coba dosis kecil pada dirinya sendiri. Semua hasilnya sempurna, dan ia telah melakukan tes yang tak terhitung jumlahnya untuk memastikan keberhasilan. Karena itulah ia sangat percaya diri.
Bahwa dengan ini, ia bisa hidup dalam waktu yang sama dengan Sensei-nya. Namun, karena kejeniusannya sendiri, ia lebih paham daripada siapa pun bahwa ia telah gagal.
"......Apa tidak bisa... jika aku meminumnya lagi?"
Itu adalah pertanyaan yang sangat awam, tapi Satoru tidak bisa menahan diri untuk bertanya. Jika efeknya memudar, bukankah cukup meminumnya lagi?
Tentu saja, Kusuri menggelengkan kepalanya.
"Tentu saja aku sudah memikirkannya. Aku sudah melakukan simulasi dengan sel yang diambil dari tubuh Sensei. Tapi... tubuh Sensei sudah memiliki semacam resistensi. Kalau ramuan yang sama diberikan lagi, efeknya tidak akan sama, dan dosis berlebih bisa menyebabkan reaksi yang tidak terduga."
Resistensi obat.
Bagi tubuh manusia, obat sama halnya dengan racun yang memberikan pengaruh cepat pada fisik. Tubuh yang menganggap obat itu sebagai racun akan mengubah sel-selnya untuk melawan efek tersebut.
Itu adalah hal yang umum dalam dunia farmasi. Kusuri pun sudah mengantisipasinya dan telah melakukan banyak percobaan di tahap eksperimen hingga ia yakin, "Kalau yang ini pasti aman." Namun, nyatanya tubuh Satoru mengembangkan resistensi dan efek ramuan peremaja itu memudar dengan cepat.
Reaksi yang tak terduga... itu juga hal yang sering terjadi dalam dunia farmasi.
──Lalu, bukankah tinggal memodifikasinya agar bisa menembus resistensi itu? Masalahnya tidak sesederhana itu. Jika semudah itu, tidak akan ada masalah. Bahkan pada obat yang sudah ada, banyak obat seperti obat kanker tertentu yang strukturnya terlalu kompleks sehingga modifikasi sangat sulit dilakukan. Apalagi ramuan peremaja buatan Kusuri ini berada di dimensi yang berbeda dari obat lain.
Ini adalah kristal keajaiban dan karya seni yang diciptakan oleh seorang jenius yang bahkan disebut memiliki bakat luar biasa, dengan mencurahkan seluruh talenta yang ia miliki. Ibarat menara kartu, jika keseimbangan bahannya sedikit saja salah, seluruh strukturnya akan runtuh.
Apa yang harus dilakukan kali ini bukanlah sekadar modifikasi. Menembus resistensi sekaligus berhasil meremajakan kembali—ia harus merancang ulang obat yang benar-benar baru dari nol.
"Apakah aku... gagal...?"
Ia bergumam pelan. Air mata mulai menggenang di matanya. Namun, Kusuri segera menghapus air mata itu dengan kasar.
"Tidak... tidak! Aku tidak akan gagal! Ramuan ini... ramuan yang satu ini, aku pasti akan menyelesaikannya!"
──Sejak hari itu, Kusuri berubah.
"......Dia belum datang hari ini juga, ya?"
Di pagi hari, Satoru menggumamkan itu saat membuka pintu depan rumahnya. Satu minggu berlalu sejak hasil pemeriksaan keluar, Kusuri yang biasanya datang menjemput Satoru ke apartemen setiap pagi, kini tidak lagi muncul. Lebih tepatnya, dia bahkan hampir tidak pernah pulang ke asrama putri. Sepertinya dia menginap di sekolah dan menghabiskan waktunya hanya untuk eksperimen dan penelitian.
Satoru bergegas pergi ke sekolah dan langsung menuju laboratorium Kusuri....Saat dia membuka pintu laboratorium dan masuk, Kusuri tidak menyadari kehadirannya.
Di atas meja berserakan minuman berenergi dan tablet kafein.
Lengan jas labnya digulung asal-asalan hingga ke siku, dan rambutnya yang biasanya tertata rapi kini berantakan. Ada lingkaran hitam tipis di bawah matanya. Namun, matanya berkilat tajam dan membara, seolah terobsesi pada sesuatu.
Satoru terdiam sejenak, mengamati keadaannya dalam diam. Kusuri menuliskan rumus-rumus di buku catatan seolah memukul kertas itu, lalu setelah berpikir sejenak, ia menggumam "Salah" dan menyobek kertas tersebut. Tempat sampahnya sudah penuh dan meluap, tapi ia tidak peduli.
Detik berikutnya, seolah baru mendapatkan ide, ia tiba-tiba melompat ke depan komputer dan mengetik dengan cepat. Namun, model 3D struktur molekul yang muncul di layar segera menampilkan pesan error, dan Kusuri mengacak-acak rambutnya dengan frustrasi. Ini pertama kalinya Satoru melihat Kusuri begitu putus asa, dan itu saja sudah membuat hatinya sakit.
"Kusuri."
Saat Satoru memanggilnya, Kusuri tersentak kaget—tampaknya dia memang tidak menyadari kedatangan Satoru.
"Ah, Sensei. Anda datang."
"Bagaimana kalau istirahat sebentar? Memaksakan diri tidak baik untuk tubuhmu."
"......Tidak mau."
Itu bukan ucapan ceria dan penuh canda seperti biasanya, melainkan penolakan yang sungguh-sungguh.
Kusuri menempelkan tangannya dengan lembut ke wajah Satoru yang menghampirinya.
"......Sepertinya kekencangan kulitmu berkurang sedikit lagi."
Satoru sendiri pun menyadarinya. Penampilan Satoru saat ini sudah kembali ke usia akhir dua puluhan. Kusuri duduk kembali di kursinya dan melanjutkan penelitiannya.
"Tunggu sebentar lagi... aku pasti akan segera menyelesaikan ramuan peremajanya..."
Sejak saat itu, apa pun yang dikatakan Satoru sudah tidak berguna, dan ia terpaksa meninggalkan ruangan tersebut. Pemaksaan diri seperti itu terus berlanjut hingga hampir setengah bulan.
"Yakushiji-san sepertinya tidak pernah keluar dari laboratorium akhir-akhir ini, ya."
"Berapa hari dia tidak tidur...? Matanya merah sekali tadi."
Saat bisik-bisik seperti itu mulai tersebar di kelas, Satoru mulai merasa benar-benar cemas.
Selama hidupnya sebagai guru, ia pernah melihat beberapa jenius yang hancur karena cara seperti ini. Dalam arti tertentu, mungkin itu adalah penyakit yang diderita orang-orang yang disebut jenius.
Orang biasa akan berkompromi di suatu titik saat menghadapi target yang tak terjangkau, atau menyerah dan berdamai dengan kenyataan. Namun, seorang jenius adalah mereka yang bisa mengubah realitas. Itulah sebabnya mereka tidak bisa berhenti. Mereka tidak bisa berkompromi, apalagi menyerah. Mereka akan terus maju hingga tujuan tercapai.
Satoru mencoba menghentikannya, tapi tidak didengar. Dia pernah mematikan listrik laboratorium dan memaksa Kusuri pulang ke asrama, tapi pada akhirnya lampu di kamar Kusuri tetap menyala hingga menjelang fajar. Mungkin dia terus mencoba dan melakukan kesalahan tanpa istirahat di kamarnya sendiri.
Hasil dari terus melaju seperti ini adalah... mencapai tujuannya dan menorehkan prestasi gemilang dalam sejarah? Atau melampaui batas hingga akhirnya hancur di tengah jalan?
Suatu hari, Satoru mengundang Kokoro ke rumahnya.
"Sensei, aku datang~"
"Ah, sebentar, kubukakan pintunya."
Satoru menjawab lewat interkom dan membuka pintu depan.
"Sensei, lama tak ber—"
Sambil menggoyangkan rambut lembutnya, Kujou Kokoro hendak mengangkat tangan untuk menyapa, namun gerakannya terhenti seketika.
"......Ah, ya. Aku sudah dengar."
Dengan mata terbelalak, dia menatap Satoru dari wajah hingga ke seluruh tubuh.
"Ternyata benar ya, kau kembali muda."
Satoru mengangkat bahu dan tersenyum kecut.
"Sayangnya, sekarang aku sudah tidak bisa lewat sebagai anak SMA lagi."
Sekitar setengah bulan sejak saat itu. Penampilan Satoru sudah sepenuhnya kembali ke usia aslinya, yaitu tiga puluhan. Karena itulah, saat ini ia sedang cuti sekolah. Dengan penampilan yang sekarang, ia tidak bisa menipu murid lain, dan jika Kusuri melihat wujud ini, itu hanya akan memicu kepanikan Kusuri lebih jauh.
"Maaf ya, sudah merepotkanmu datang ke sini....Aku punya sesuatu untuk dikonsultasikan."
Satoru mempersilakannya duduk di ruang tamu dan menyuguhkan teh. Kokoro duduk di kursi dan memiringkan kepalanya.
"Aku ingin menghentikan Kusuri. Dia hampir tidak tidur selama setengah bulan terakhir ini...Bagaimana caranya supaya dia mau mengerem dirinya sendiri?"
Satoru merasa ini bukan hal yang seharusnya ditanyakan pada murid, tapi ia tidak punya jalan lain.
Kokoro terdiam cukup lama sambil menatap Satoru. Akhirnya, ia menggelengkan kepalanya kecil.
"Itu tidak akan berhasil."
"......Tidak berhasil?"
"Iya. Hm, pertama-tama, kondisi Kusuri-chan saat ini jika diungkapkan dengan istilah psikologi—namanya efek Sunk Cost."
──Efek Sunk Cost. Mungkin lebih dikenal sebagai Efek Concorde?
Singkatnya, ini adalah kondisi psikologis di mana seseorang kehilangan waktu untuk berhenti karena terikat pada biaya yang tidak bisa dikembalikan, dengan berpikir "Sudah sejauh ini, tidak mungkin mundur sekarang."
Kokoro melanjutkan sambil mengetuk-ngetuk meja dengan ujung jarinya.
"Kusuri-chan telah berusaha selama bertahun-tahun hingga akhirnya berhasil menyelesaikan ramuan peremaja itu. Namun ternyata ramuan itu dianggap gagal karena tidak memberikan hasil yang diinginkan. Karena ini adalah kegagalan pertamanya, aku rasa Kusuri-chan sekarang dalam kondisi sedikit panik."
"Hasilnya ya..."
Maksud dari "hasil" yang dicari Kusuri, apakah itu menjalin hubungan asmara dengan dirinya sendiri? Tapi, itu kan...
Saat Satoru berpikir demikian, Kokoro menggelengkan kepala perlahan dan membuat tanda silang dengan jarinya.
"Coba hadapi itu dengan benar. Meskipun orangnya sendiri bilang begitu... bahkan kalau Kusuri-chan sendiri yang berpikiran begitu, itu bukan segalanya, tahu."
"Hadapi dengan benar." Kata-kata itu membuatnya tersentak.
Saat Kusuri menyatakan cinta, Satoru menolak dengan alasan "Guru dan murid tidak boleh menjalin kasih." Saat Kusuri memberinya ramuan peremaja, dia memarahinya karena "Memberi obat tanpa izin itu perbuatan buruk." Bahkan sekarang, saat Kusuri berjuang dengan paksa, dia mencoba menghentikannya dengan alasan "Jangan memaksakan diri, istirahatlah."
Dia tidak merasa itu salah. Tapi, apakah itu benar-benar jawaban yang diberikan setelah menghadapi perasaan Kusuri dengan jujur?
Saat sampai pada pemikiran itu, Kokoro tersenyum tipis.
"Singkirkan dulu soal bagaimana orang dewasa atau guru harus bersikap, hadapi dia sebagai 'Fuyutsuki Satoru'. Hadapi perasaan Kusuri-chan secara langsung, jangan melarikan diri."
Satoru menundukkan pandangannya ke meja. Ia memejamkan mata dan termenung sejenak.
──Apa yang dikatakan Kokoro tepat sasaran, seolah-olah dia bisa membaca pikirannya. Tidak ada celah untuk membantah. Dia terus menjadikan alasan sebagai guru atau perbedaan usia sebagai tameng, sehingga tidak pernah menghadapi Kusuri sebagai Fuyutsuki Satoru.
...Memang benar dia menganggap Kusuri seperti anaknya sendiri. Saat dulu Kusuri menyatakan cinta, dia merasa mustahil melihatnya sebagai objek romantis. Namun, sejak ia kembali muda dan menghabiskan waktu sebagai orang yang seusia, ada perasaan yang tumbuh.
Awalnya dia pikir itu hanya kekacauan pikiran karena efek peremajaan. Tapi, sekarang saat efek ramuan itu memudar dan dia kembali ke tubuh dewasanya, perasaan itu masih tersisa.
Dia menghela napas panjang karena kebodohannya sendiri. Sudah memberikan banyak nasihat sok tahu kepada murid-muridnya, tapi dirinya sendiri bahkan tidak menyadari perasaannya sampai ditunjukkan oleh seorang murid.
"Terima kasih, Kujou. Aku berhutang budi padamu. Lain kali pasti akan kubalas."
"Hm, aku menantikannya. Sampai jumpa."
Dilepas oleh Kokoro, Satoru berlari keluar dari ruangan.
†
"Aku masuk ya, Kusuri."
Dia sudah mengetuk pintu, tapi sepertinya Kusuri tidak menyadarinya.
"Kenapa... kenapa hasilnya tidak mau berhasil...?"
Sambil menatap model 3D di layar yang terus menampilkan pesan error, Kusuri bergumam sendiri. Melihat sosoknya saja sudah terasa menyakitkan, dan Satoru merasakan hatinya ikut nyeri.
"Kusuri."
Begitu dia memanggil sekali lagi, Kusuri tersentak. Ia menoleh dengan senyum kaku.
"Ah, Sensei. Anda datang."
"Bagaimana kondisimu?"
"......Lumayan."
Dia berbohong dengan sangat kentara. Kusuri punya kebanggaan tinggi terhadap bakatnya. Pasti dia tidak ingin orang lain melihat saat dia sedang gagal. Karena sudah lama bersama, Satoru bisa melihat itu dengan jelas.
"Sudah, istirahatlah. Lingkaran hitam di bawah matamu itu mengerikan."
"Tidak apa-apa. Tolong biarkan aku sendiri."
Saat Satoru mencoba mengintip wajahnya, Kusuri justru memalingkan muka.
"Bagaimana bisa aku membiarkanmu sendiri? Aku tidak bisa membiarkan murid berhargaku merusak tubuhnya."
"......Tidak mau. Aku tidak mau istirahat."
"Apa yang harus kulakukan supaya kau mau istirahat?"
Saat Satoru bertanya, Kusuri menatapnya dengan tatapan seolah ingin berkata, 'Kau keras kepala sekali ya.'
"Kalau begitu, kalau Sensei mau memelukku erat-erat sepanjang malam dan menemani tidur, aku mau istirahat."
Suaranya bernada menantang, seolah berkata, 'Lagipula kau tidak akan bisa melakukannya, kan?' Tapi Satoru justru menyunggingkan senyum tipis.
"Janji ya."
"Eh? ...Tu-, tunggu, kyaa!?"
Satoru merangkul tubuh bagian atas dan kaki Kusuri, lalu mengangkatnya. Ini yang disebut princess carry.
"Tu-, tunggu, Sensei!?"
"Pegang rokmu. Nanti kelihatan."
"~~~~っ!"
Kusuri panik sambil memegangi roknya. Satoru membawa Kusuri keluar dari ruangan sambil menggendongnya.
Beruntung dia tidak berpapasan dengan murid lain....Tapi, di tengah jalan, seorang rekan guru wanita menatap mereka dengan tatapan tidak percaya.
Satoru pusing memikirkan bagaimana cara menjelaskannya nanti, tapi yang terpenting sekarang adalah mengistirahatkan Kusuri. Dia membawanya ke ruang kesehatan dan membaringkannya di tempat tidur.
"Se-, Sensei!? A-, apa yang mau kau lakukan..."
"Kau sendiri yang bilang mau istirahat kalau kupeluk dan kutemani tidur."
Dia dengan sigap menutup tirai dan membatasi area tempat tidur. Satoru mencengkeram lengan Kusuri yang mencoba kabur dan menariknya ke tempat tidur.
...Membawa murid perempuan ke tempat tidur adalah tindakan yang sangat berbahaya bagi seorang guru laki-laki, tapi mengistirahatkan Kusuri adalah prioritas utama saat ini....Jika nanti dituntut, dia akan menerima hukumannya dengan lapang dada.
"Tu-, tunggu Sensei, sungguh tunggu! Se-, sekarang tidak bisa! Sekarang benar-benar tidak bisa!"
"Kenapa?"
"Ka-, karena... sudah lama aku tidak mandi... baunya..."
"Benarkah? Bagiku baunya justru harum."
"Nyaaaaa!? Kenapa kau mencium kepalaku, kau mesum Sensei!"
Kusuri memukul dadanya dengan lemah untuk melawan, tapi Satoru tidak peduli dan memeluknya erat-erat.
Tak lama kemudian, perlawanannya melemah, dan tubuhnya benar-benar lemas.
"......Aku tidak bisa menemukan jawabannya."
Kusuri bergumam pelan.
"Biasanya, kalau aku melakukan sejauh ini, jawaban yang benar... setidaknya bentuk samar-samarnya sudah terlihat, tapi sekarang tidak terlihat apa-apa."
──Kusuri selalu menjadi seorang "jenius".
"Dia bisa langsung menemukan jawaban yang benar tanpa perlu melewati proses atau langkah-langkah pengerjaan," begitulah orang-orang sering mengatakannya, dan penilaian itu memang benar.
Intuisi Kusuri mampu menemukan jawaban lebih cepat daripada teori. Sama halnya seperti pemain catur yang terkadang bisa menemukan langkah terbaik bahkan sebelum AI—yang seharusnya sudah jauh melampaui kemampuan manusia—bisa menemukannya, Kusuri bisa mengetahui jawaban yang benar hanya melalui perasaan.
Proses dan langkah-langkah pengerjaan hanyalah cara untuk mencocokkan jawaban. Kemampuan Kusuri yang bahkan disebut sebagai bakat luar biasa itu, bersumber dari intuisi tersebut. Namun, intuisi itu sepertinya tidak bekerja saat ini.
"Mungkin... jangan-jangan jawaban yang benar itu sendiri sebenarnya tidak ada... Saat memikirkan itu, aku merasa takut..."
Kusuri membenamkan wajahnya ke dada Satoru dan mendekapnya erat-erat. Sosoknya saat ini terlihat seperti anak kecil yang sedang mencari perlindungan dari orang tuanya.
Satoru mengusap kepala Kusuri sambil merenung sejenak, lalu mulai berbicara.
"Kusuri, apa impianmu?"
"......Impian?"
Kusuri mendongak menatap Satoru dengan wajah bingung.
"Mengapa kau sampai sejauh ini berusaha menciptakan ramuan peremaja?"
"Mengapa ya... tentu saja karena aku ingin menjadi kekasih Sensei..."
"Apa benar hanya itu? Sebagai guru, aku sudah memperhatikanmu selama ini. Kalau hanya ingin menjalin hubungan dengan orang yang kau sukai, seharusnya ada banyak cara yang jauh lebih mudah. Mengapa kau memilih jalan seperti peremajaan ini?"
"Aku..."
Mendengar pertanyaan itu, Kusuri menoleh kembali ke ingatan masa lalunya.
──Pemicunya adalah ketika seorang kakek dari kerabatnya meninggal dunia dulu. Kejadian itu sendiri tidak membuatnya sedih. Dia hanya bertemu dengannya beberapa kali saat masih jauh lebih kecil, ingatannya pun samar dan mereka tidak pernah benar-benar akrab.
Namun, saat melihat anak dan cucu kakek itu menangis di pemakaman, dia membayangkan dirinya dan Satoru di posisi tersebut.
Dia merasa takut. Antara dirinya dan Satoru ada perbedaan usia. Secara logika sederhana, itu berarti Satoru akan meninggal lebih cepat. Waktu yang bisa mereka habiskan untuk berjalan berdampingan atau bermain bersama menjadi jauh lebih sedikit.
Dia merasa takut. Dia merasa kesepian. Dia tidak menginginkan hal itu terjadi. Karena itulah dia memulai penelitian tentang peremajaan.
Jika diingat kembali, saat itu dia bahkan belum menyadari perasaannya sebagai cinta kepada Satoru. Dia hanya berusaha keras dengan membabi buta karena ingin menghabiskan waktu bersama Satoru selama mungkin. Itulah asal muasal dari penelitian Kusuri.
"Aku ingin terus bersama Sensei," ucap Kusuri dengan nada suara yang nyaris seperti bisikan.
"Aku ingin terus, terus berada di sisi Sensei. Meskipun aku sudah dewasa, meskipun aku sudah menjadi nenek-nenek nanti... Aku sangat mencintai Sensei. Makanya..."
Tangan mungilnya meremas erat ujung seragam Satoru.
"Aku tidak mau ditinggalkan sendirian."
Mendengar ucapan itu, Satoru dengan lembut mengusap kepala Kusuri.
"Impian itu, bagi dirimu adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar, bukan?"
Kusuri membenamkan wajahnya di dada Satoru sambil mengangguk kecil. Satoru tersenyum kecut dan mengembuskan napas panjang.
Seharusnya, dia menasihati dengan berkata, "Sudah lumrah bagi orang dewasa untuk menua dan meninggal lebih dulu."
Tapi──
"Kalau begitu, kejarlah impianmu itu dengan segenap jiwamu. Aku pun akan bekerja sama melakukan apa pun yang kubisa."
"......Bolehkan?" tanya Kusuri dengan nada terkejut.
"Ya. Mendukung keinginan siswa juga merupakan tugas seorang guru. ...Tapi sekarang, istirahatlah. Jika kau merusak tubuhmu dan terjadi sesuatu, itu justru akan membuat kita tidak bisa bersama lagi. Karena kalau itu terjadi, aku yang akan merasa lebih sedih."
Sambil berkata begitu, Satoru menepuk punggung Kusuri pelan.
"Tenang saja. Aku akan tetap di sisimu sampai kau merasa puas."
"......Terima kasih, Sensei."
Setelah membenamkan wajahnya di dada Satoru selama beberapa saat, Kusuri mendongak menatapnya dengan mata yang jahil.
"Tapi, kalau begitu... bolehkah aku minta Sensei juga mendukung impianku untuk 'menjadi istri Sensei'?"
"............"
"......Hm? Eh? Se-, Sensei?"
Melihat reaksi Satoru yang tidak seperti biasanya, Kusuri merasa sedikit bingung. Melihat Kusuri yang seperti itu, Satoru menarik napas dalam-dalam.
"......Dulu saat kau menyatakan cinta, aku menolakmu dengan berkata, 'Aku tidak bisa menerima perasaan itu'."
"I-, iya..."
"Tapi, untuk ucapan lanjutanku saat itu yang bilang 'Aku tidak berniat menjalin hubungan asmara meskipun kau sudah dewasa', aku menarik kembali kata-kata itu."
"............Heh!?"
Mungkin karena benar-benar tidak menyangka, Kusuri mengeluarkan suara aneh. Wajahnya seketika memerah padam, dan dia mulai gelisah dalam pelukan Satoru.
"Aa-, anu!? I-, itu maksudnya!? Jadi artinya!?"
"......Kita bahas lanjutannya setelah kau benar-benar tidur. Sekarang, istirahatlah."
"Ja-, jantungku berdebar kencang sampai rasanya tidak bisa tidur...!?"
Meskipun mulutnya berkata begitu, tubuhnya mungkin sudah mencapai batas. Tak lama kemudian, Kusuri mulai bernapas teratur dalam tidurnya di pelukan Satoru.
Satoru sedikit menjauhkan tubuhnya untuk melihat wajah tidur itu. Wajah yang tampak begitu tenang dan polos itu membuatnya merasa bahwa Kusuri memang masih sangat muda. Ia mengusap rambut Kusuri dengan lembut. Gadis itu mengeluarkan gumaman kecil, "Senseeei...", lalu menggesekkan wajahnya mencari kenyamanan dengan manja seperti anak kucing.
Satoru merasakan detak jantungnya berdegup lebih kencang. Awalnya ia pikir itu hanya kekacauan pikiran akibat efek peremajaan tubuh. Namun, karena perasaan ini masih bertahan meski efek ramuan itu hampir hilang sepenuhnya, ia tidak bisa lagi menyangkalnya.
(Sepertinya, aku harus menyerah dan menerimanya... ya.)
Sambil memikirkan hal itu, Satoru terus menjaga Kusuri sepanjang malam.
Kusuri tertidur selama 14 jam penuh. Setelah matahari terbenam dan kembali terbit, Kusuri akhirnya mengangkat kelopaknya. Ia menatap sekeliling dengan mata yang masih linglung.
"Nng... Nn...? ......Sensei...?"
Ia mendongak menatap wajah Satoru lalu tersenyum manis. Mungkin karena masih mengantuk, ia kembali menyusupkan dahinya ke dada Satoru dengan manja.
"Sudahlah, sudah waktunya bangun. Sebentar lagi waktu murid-murid lain berangkat sekolah."
"......He?"
Kusuri kembali menatap Satoru. Matanya yang mengantuk perlahan-lahan mulai sadar. Pada saat yang sama, wajah Kusuri memerah padam. Ia mulai merasa malu dan canggung dalam pelukan Satoru.
"A-, anu, Sensei... yang kemarin itu maksudnya, kalau aku sudah dewasa... a-, aku akan dijadikan istri, kan?"
Kusuri menatapnya dengan penuh harap. Menanggapi itu, Satoru menjawab—
"Aku tidak bilang begitu."
"......Hah?"
"Maksudku hanya 'memperlakukanmu sebagai seorang wanita'. Bukan berarti sekarang kita langsung bicara soal tunangan atau semacamnya."
Kusuri masih sangat muda. Sangat mungkin di masa depan akan muncul sosok lain yang jauh lebih menarik baginya. Satoru sengaja berkata demikian agar janji ini tidak menjadi belenggu baginya... namun, tatapan mata Kusuri perlahan menjadi dingin.
"Singkatnya, kau ingin menjadikanku 'cadangan' sampai aku lulus?"
"Eh? Ti-, tidak, aku tidak bermaksud begitu... hanya saja, tidak baik jika aku mengekangmu yang masih SMA, maksudku, jika kelak muncul orang lain yang lebih menarik, kau boleh memilih dia..."
"Itu sama saja! Tidak akan pernah ada orang yang lebih menarik dari Sensei! Lagi pula, itu artinya kau tidak keberatan kalau aku direbut laki-laki lain, kan!?"
"Aku tidak bermaksud begitu... eh, tunggu, apa jadinya memang begitu...?"
Tiba-tiba Satoru berimajinasi. Kusuri membawa murid laki-laki lain dan berkata, "Sensei, aku memutuskan untuk berpacaran dengan orang ini," lalu mereka bermesraan di depannya...
Satoru di dalam hatinya menjerit hingga muntah darah, tapi untungnya ia berhasil menahannya agar tidak terlihat.
Di sisi lain, Kusuri terlihat kesal.
"Mu~. Padahal aku sangat mencintai Sensei... kejam sekali."
Ia menggembungkan pipinya dan membuang muka. Namun, tak lama kemudian ia menghela napas dan tersenyum tipis.
"Tapi yah... sudah cukup bagiku karena berhasil membuat guru keras kepala itu mengakui bahwa 'ada kemungkinan kita menikah di masa depan'."
Ia kembali membenamkan wajahnya di dada Satoru.
"Bersiaplah, ya. Lain kali, aku pasti akan membuat Sensei sendiri yang bilang, 'Setelah lulus, menikahlah denganku'."
Sambil berkata begitu, ia mendongak menatap Satoru dengan wajah yang jahil.
"Oleh karena itu, aku akan segera menyelesaikan ramuan peremaja ini dan merasakan masa muda sekali lagi, jadi tunggu sebentar ya, Sensei."
†
Kembali ke laboratorium, Kusuri memutar bahunya hingga terdengar bunyi gemeretak sendi.
Ia duduk di kursinya, tepat di depan komputer. Berkat tidur yang cukup, otaknya terasa sangat segar. Tanpa perlu memikirkan harus mulai dari mana, langkah selanjutnya muncul secara alami di benaknya.
"Ternyata, menjalani hidup yang teratur jauh lebih logis dan efisien daripada memaksakan diri begadang ya..."
Ia bergumam sambil mencela diri sendiri. Padahal itu adalah hal yang sudah jelas, tapi belakangan ini pandangannya begitu sempit sampai-sampai ia melupakan dasar tersebut.
Ia menarik napas dalam-dalam, lalu jemarinya mulai menari di atas keyboard. Ia memulai kembali penelitian ramuan peremaja itu.
──Jujur saja, ada sedikit rasa bersalah di hatinya.
Ia tahu dirinya adalah seorang jenius. Ia juga tahu bahwa di dunia ini ada banyak orang yang terus menderita karena belum adanya obat yang efektif untuk penyakit mereka.
Jika saja ia mengalihkan penelitiannya ke sana, mungkin ada nyawa yang bisa diselamatkan. Namun, ia justru tenggelam dalam ramuan peremaja ini hanya karena ingin terus bersama Sensei-nya.
Bukankah itu berarti ia menelantarkan orang lain demi keegoisannya sendiri?
──Akan tetapi, setelah berbicara dengan Sensei, ia berhasil mengingat kembali titik awalnya.
"Ingin terus bersama orang yang berharga bagi diri sendiri selama mungkin."
Itu pastilah menjadi akar dari ilmu kedokteran itu sendiri. Demi tujuan itulah umat manusia terus berjuang selama ribuan tahun dan terus mengakumulasi kebijaksanaan hingga hari ini. Jika demikian, tidak ada alasan baginya untuk merasa malu atas usaha ini.
"Baiklah, mari kita berjuang...!"
Dengan begitu, Kusuri sekali lagi mengerahkan segenap jiwanya untuk menantang salah satu tantangan terbesar umat manusia: "Penuaan".




Post a Comment