Penerjemah: Miru-chan
Proffreader: Miru-chan
Epilogue
──Lalu, satu bulan kemudian.
"Berhasil!"
Di pagi hari, saat Satoru muncul di laboratorium seperti biasanya, Kusuri berlari menghampirinya dengan suara yang meluap-luap kegirangan.
Di tangannya, ia mengangkat tabung reaksi dengan hati-hati. Di dalamnya, cairan berwarna keemasan berkilau bergoyang pelan.
"...Ramuan Peremaja yang Sejati, selesai!"
Suaranya terdengar sedikit bergetar. Di atas meja, berserakan catatan kecil bertuliskan "Ver.43", "Gagal: Tidak ada reaksi", dan labu ukur yang sudah habis digunakan.
Meskipun sejak kejadian tempo hari ia tidak lagi memaksakan diri, wajah Kusuri yang tampak sedikit letih menceritakan betapa kerasnya usaha yang telah ia lakukan hingga titik ini.
"Luar biasa... kau benar-benar berhasil membuatnya."
"Ehehe, ternyata butuh waktu lebih lama dari yang kukira."
"Kalau dipikir secara normal, bisa membuat obat baru dalam waktu kurang dari dua bulan itu sudah keterlaluan, lho."
Sambil membalas begitu, tangan Satoru sendiri sedikit gemetar. Ia menahan impuls untuk memeluk dan memuji gadis itu habis-habisan.
"Pertama, ayo kita pindah ke ruang kesehatan. Aku sudah memberi tahu guru UKS-nya."
Atas saran Kusuri, mereka berdua pergi ke ruang kesehatan. Di samping tempat tidur, berbagai alat pemeriksaan sudah tertata rapi.
"Ada kemungkinan besar muncul rasa kantuk yang kuat dalam waktu singkat pada fase akut. Dalam sistem sel manusia maupun model hewan tidak ada reaksi samping yang fatal, tapi kita akan tetap melakukan pemantauan."
"Mengerti. ...Jadi, langsung diminum saja?"
"Ya. Langsung teguk saja sampai habis."
Saat Satoru menerima tabung reaksi itu, Kusuri menggigit bibir bawahnya pelan.
"...Apa benar tidak apa-apa? Kalau diminum, kau akan kembali ke sosok remaja lagi, lho?"
"Kau ini, baru tanya sekarang?"
"I-, itu memang benar, tapi! ...Waktu itu aku tidak tenang karena syok setelah ditolak... kalau dipikir lagi, aku takut itu hanya menyusahkanmu..."
Melihat Kusuri yang tampak cemas, Satoru membalasnya dengan senyuman.
"...Ini kan impianmu, bukan? Menjadi tugas seorang guru untuk mendukung impian siswanya—ah, tidak, itu salah. Menjadikannya alasan itu pengecut."
"...Sensei?"
Satoru menatap langsung ke arah Kusuri yang tampak bingung.
"Bagaimanapun juga, aku menikmatinya. Setiap hari yang kuhabiskan dengan kembali muda dan bersamamu....Sampai-sampai aku berharap hari-hari seperti ini bisa berlanjut satu hari lebih lama lagi."
Mata Kusuri berkedip. Satoru meletakkan tangannya di atas kepala Kusuri, lalu mengusapnya dengan kasar penuh kasih sayang.
"Jadi, jangan berpikir itu merepotkan. Aku ingin merasakan masa muda sekali lagi bersamamu. Aku meminum obat ini atas keinginanku sendiri untuk itu."
Satoru langsung meminum habis ramuan peremaja itu. Ia merasakan cairan manis seperti madu melewati tenggorokannya.
"...!"
Detik berikutnya, rasa kantuk yang dahsyat menyerangnya. Gejalanya sama persis seperti saat ia dipaksa meminum ramuan peremaja sebelumnya. Sambil berusaha menahan kantuk dengan sekuat tenaga, Satoru membaringkan tubuhnya di tempat tidur.
"Sensei...!"
Suara Kusuri menjauh. Di saat-saat terakhir sebelum kesadarannya terputus, ia merasakan tangan mungil gadis itu menggenggam tangannya erat-erat.
Entah berapa lama dia tertidur? Saat Satoru membuka matanya sedikit, wajah Kusuri sudah berada tepat di depan matanya.
(...Sepertinya berhasil.)
Tanpa perlu memeriksa kondisinya, ia sudah tahu. Ada sensasi vitalitas yang meluap dari dalam tubuhnya. Sama seperti sebelumnya, ia merasakan realitas bahwa tubuhnya telah kembali muda. Namun, saat ia melihat ke arah Kusuri, ekspresi gadis itu tampak sangat kaku. Matanya bergerak gelisah, dan entah mengapa ia berkeringat dingin.
"...Se-, selamat pagi, Sensei! Anu... pertama-tama, harap tenang ya!"
"Apa yang membuatmu begitu panik... eh?"
Suaranya bernada tinggi. Lebih tepatnya, suaranya terdengar sangat imut. Tubuhnya terasa ringan... bukan, bukankah ini secara fisik terasa tidak normal?
Ia melihat tangannya. Ia pikir tangan Kusuri sudah kecil, tapi tangan miliknya bahkan satu ukuran lebih kecil dari itu—sebuah tangan yang mungil.
"...Jangan bilang."
Kusuri perlahan menyodorkan cermin dengan perasaan bersalah. Di sana terpantul tubuh yang kecil dan rapuh. Seorang anak laki-laki berusia sekitar 10 tahun dengan rambut yang sedikit mencuat sedang menatap balik ke arahnya.
"............Siapa ini?"
"Ma-, maafkan aku! Maafkan aku! Anu, ya, peremajaannya memang berhasil! Tapi, itu... dalam eksperimen pun ada beberapa kasus kecil di mana tubuhnya menjadi terlalu muda... tapi karena hanya sekitar 0,2%, aku pikir itu tidak masalah, tapi sepertinya Sensei menarik undian 0,2% itu..."
Sambil panik dan berjanji akan segera membuat obat penawarnya, Satoru hanya bisa memegangi kepalanya melihat tingkah Kusuri.
──Dengan demikian, penderitaan Fuyutsuki Satoru pun terus berlanjut.



Post a Comment