Chapter
8
Keterlibatan
Hari yang dijanjikan pun tiba.
Hari ini, keluarga Ansarage yang mengelola Gereja
Seisei datang untuk menyampaikan balas budi.
"Kalau aku jadi kamu, aku tidak akan sanggup
keluar rumah, tahu. Pasti kepalaku terus-menerus melakukan simulasi adegan di
dalam sana," ucap pemilik penginapan.
Kai, yang baru saja menghabiskan hidangan favoritnya,
menjawab dengan raut wajah tenang di hadapan pemilik penginapan yang menatapnya
dengan ekspresi tak terbaca.
Sesuai ucapannya, berbekal pengalaman bertemu dan
menerima ucapan terima kasih dari sang Duke, kali ini Kai telah menyusun
rencana dan penyesuaian yang matang.
Terutama taktik untuk memastikan orang tua Nina yang
berkuasa itu tidak ikut datang.
Selama waktu luang pun, ia terus membunuh waktu dengan
melakukan simulasi di pikirannya.
Tidak ada celah sedikit pun.
Jika ada satu hal yang ia cemaskan, itu adalah pertemuan
pertamanya dengan kakak perempuan Nina, namun ia berniat melemparkan segalanya
pada Nina jika sedang terdesak.
Semuanya sempurna. Karena itulah, ia bisa sesantai ini.
"Yah, alasan aku ingin mampir ke sini di hari
penting ini juga karena aku butuh lawan bicara yang bisa diajak mengobrol
santai."
"Apa terjadi sesuatu?"
"Bagaimana ya mengatakannya... beberapa hari lalu,
Duke memberiku seorang pengelola untuk mengurus kediamanku, tapi dia menjaga
jarak sekali dariku. Rasanya sepi."
"Wah, kasihan sekali. Aku jadi bersimpati pada
pengelola yang memikul tanggung jawab berat itu."
"……"
Mungkin karena pernah didesak oleh pengawal Nina
sebelumnya, pemilik kedai tidak mau memihak Kai.
Meski hanya orang biasa, pria yang sudah sepenuhnya salah
paham itu menundukkan kepala dan mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
"Ngomong-ngomong, kedai ini... sepertinya
pengunjungnya bertambah ya? Stafnya juga rasanya bertambah."
"Itu berkat dirimu."
"Hm? Apa aku melakukan sesuatu?"
"Berkat kamu menggunakan kedai ini, Nona Nina jadi
datang ke sini, kan? Rumornya menyebar luas dan jadilah begini. Banyak yang
bilang, 'Aku ingin makan hidangan yang dimakan Nona Nina'."
"He~h."
"Ngomong-ngomong,
orang-orang dari kelompok Treasure Hunter sedang mencarimu, lho."
"……Be,
begitu ya."
Itu
adalah informasi yang sama sekali tidak ingin ia dengar, dan informasi yang
tidak ia ketahui.
Seolah ingin menutup rapat masalah ini, Kai kembali
mengalihkan pembicaraan.
"Nina ternyata sangat populer ya."
"Sepertinya sejak matanya membaik, dia jadi lebih
sering tampil di depan umum. Mungkin itu pengaruhnya."
"Begitu ya."
Kai tidak meragukannya.
Meski wajahnya masih terlihat kekanak-kanakan, ia tahu
bahwa di masa depan gadis itu akan tumbuh menjadi sosok yang luar biasa.
"Ah, benar juga. Aku juga punya satu hal
untukmu."
"Oh?"
"Apa kamu tahu soal agama baru yang tiba-tiba muncul
dan menantang Gereja Seisei tempat Nona Nina mengabdi? Sepertinya mereka sudah
mempersiapkannya sejak lama karena skalanya cukup besar."
"……Hou."
Ini juga informasi yang tidak ia ketahui.
"Apa kamu mendengarnya dari pelanggan?"
"Ya. Mereka menyebarkan rumor bahwa Uskup Agung dan
Uskup melakukan kejahatan, atau menghasut penganut Seisei dengan hal-hal yang
tidak masuk akal. Sepertinya mereka mengincar perpecahan internal untuk
melemahkan kekuatan keluarga Ansarage."
"……Hmm."
Jarang sekali Kai merasa tertarik pada topik yang berat.
Begitu ia memberikan jawaban yang sekadarnya, nasib buruk pun lahir.
"Hahaha, reaksi itu wajar saja ya. Tidak mungkin
kamu tidak tahu informasi yang bisa kudapatkan ini."
"Seandainya aku bilang aku tidak tahu,
bagaimana?"
"Aku hanya akan menjawab 'Iya, iya, terserah'."
"Apa-apaan itu."
Artinya, apa pun yang ia katakan, pada akhirnya tidak
akan dipercaya.
"Yah, hal sekecil itu harusnya bisa ditangani oleh
Gereja Seisei, kan? Mereka bukannya tidak akan melakukan tindakan apa pun, dan
martabat mereka juga tidak akan hilang."
"Aku juga berharap begitu, tapi... sepertinya ini
cukup merepotkan, bukan? Meski baru muncul, momentum mereka sangat kuat."
"Tenang saja, tenang saja."
Bagaimanapun juga mereka punya kekuasaan. Gereja Seisei
itu sangat terkenal.
Melihat Kai yang mengangguk dengan pemikiran sederhana
seperti itu, pemilik kedai tiba-tiba tersentak.
"──! Jangan-jangan... kamu sudah melakukan sesuatu,
ya?"
"A-apa yang kamu bicarakan?"
"……"
"Ada apa dengan tatapan itu...?"
Mata bisa bicara lebih banyak daripada mulut. Sesuai
peribahasa itu, pemilik kedai menatapnya dengan penuh kecurigaan.
"Maksudnya, aku tidak percaya padamu."
"Tidak,
tidak... Yah, aku dengar banyak informasi bagus. Aku akan
menanyakan hal itu juga pada Nina nanti."
"Itu lebih baik. Kalau denganmu, mereka pasti tidak
akan sungkan untuk berkonsultasi."
"Aku tidak se-dipercaya itu, tahu. Ah, lalu uang
hari ini... apa 10.000 Legil cukup? Sudah termasuk biaya informasi."
Awalnya ia berpikir untuk memberi 5.000 Legil, tapi ia
memutuskan untuk bermurah hati sebagai ucapan terima kasih atas hari-hari
sebelumnya.
"Apa yang kamu katakan. Aku kan cuma memberitahumu
informasi yang sudah kamu tahu. Apalagi kamu sudah membawa Nona Nina ke sini.
Untuk sementara, kamu boleh makan gratis."
"Boleh? Benarkah?"
"Ya. Jangan sungkan untuk datang lagi."
"Itu sangat membantu."
Benar saja, jika kita melakukan kebaikan, kebaikan itu
akan kembali.
Sebagai hasil dari kemurahhatiannya, pria yang mendapat
kemurahhatian balik itu pun pulang dengan perut kenyang.
Pertemuan dengan keluarga Ansarage semakin dekat.
◆◇◆
Satu jam kemudian.
"Anu, saat bertemu dengan Nona Nina atau Nona
Marie nanti, apakah Anda perlu mengenakan perlengkapan itu?"
"Yah, untuk berjaga-jaga... kita tidak tahu apa
yang akan terjadi."
"Bahkan jika terjadi pertarungan, bukankah Anda
lebih kuat dengan tangan kosong?"
"……"
Beberapa hari terakhir ini, sosok yang mengancam pria
berbaju zirah hitam legam itu telah berada di dalam kediaman ini.
Sosok itu tak lain adalah sang pengelola yang ia
ceritakan pada pemilik kedai tadi. Seorang pengelola yang sangat cerdas.
"Informasi itu... dari mana kamu dengar?"
"Saya mendengarnya dari Tuan Degote. Tentu saja,
saya menyimpannya sendiri, jadi tidak perlu khawatir akan tersebar luas."
"Be, begitu ya……"
Menyembunyikan wajah membuatnya lebih mudah untuk
berbicara. Ekspresi bodohnya juga tidak akan ketahuan.
Itu adalah dua alasan utamanya, tapi memberitahukan hal
itu terasa memalukan. Mana mungkin ia bisa mengatakannya.
"Ehem. Jadi, kamu yang akan mengantar Nina dan yang
lainnya?"
"Serahkan pada saya. Ke mana saya harus
mengantar mereka?"
'Jangan mendesakku begitu dong. Aku jadi bingung...'
pikir Kai dalam hati, namun ia tetap menjawab.
"……Bagaimana kalau ruang kerja atau ruang
tamu?"
"Saya rasa tidak ada masalah."
"Kalau begitu, tolong antar ke ruang
kerja."
"Baik, saya mengerti."
Sang pengelola memasukkan jadwal itu ke dalam
kepalanya dengan tenang.
Dia wanita yang cantik, tapi ekspresinya sama sekali
tidak berubah. Sejujurnya, Kai iri dengan wajah poker face itu.
"Saya rasa para pengawal juga akan ikut
berkunjung, bagaimana dengan mereka?"
"……Minta mereka menunggu di tempat lain selain ruang
kerja? (Karena sulit mengobrol) Aku tidak suka berbincang sambil diawasi
pengawal."
"Saya rasa itu juga tidak masalah."
"Kalau begitu biarkan para pengawal bebas.
Mereka pasti bosan, jadi biarkan mereka berkeliling kediaman dengan
bebas."
"A-apakah
tidak apa-apa?"
"Hm?
Memangnya tidak boleh?"
Sang
pengelola yang tadinya berbicara dengan tenang dan lancar, sempat tertegun
sejenak. Matanya juga sedikit melebar.
Kai
sempat khawatir apakah ia mengatakan sesuatu yang aneh, tapi ternyata itu hanya
kecemasan belaka.
"Tidak...
Jika itu keinginan Anda, saya rasa tidak masalah."
"Kalau begitu, lakukan saja begitu."
"Baik. Akan saya sampaikan demikian."
"Terima kasih."
Apakah hanya perasaannya saja kalau ketenangannya sedikit
memudar? Tidak, ia akan menganggap itu hanya perasaannya saja.
"Lalu satu lagi... untuk jamuannya, aku terpikir
untuk membagikan bingkisan yang kudapat saat Karen dan yang lainnya memberikan
lencana padaku... Bagaimana menurutmu? Itu rasanya enak."
"──!"
Begitu ia mengatakan itu, entah kenapa terdengar suara
napas yang tertahan.
"Eh? Ada apa?"
"Mohon maaf. 'Bagaimana menurutmu?'... maksud Anda?
Itu, anu..."
Kai hanya bertanya apakah itu boleh atau tidak, tapi
entah kenapa sang pengelola malah memasang wajah serius dan menaruh tangan di
dagunya.
Sepertinya dia sedang memutar otak dengan kecepatan yang
luar biasa.
"……Bagaimana ya mengatakannya, bukankah itu tidak
apa-apa?"
"Kalau begitu, kita lakukan itu saja.
Ngomong-ngomong, satu kotaknya kira-kira berapa Legil? Aku ingin beli
lagi."
"Saya kurang tahu harga pastinya, tapi kira-kira
sekitar 50.000 Legil."
"50.000...!? 50.000 untuk camilan... Begitu
ya..."
Saat itu, Kai merasa sangat bersyukur wajahnya
tersembunyi di balik pelindung kepala.
Standar ekonomi mereka benar-benar berbeda. Ia
pasti akan menunjukkan wajah yang sangat terkejut jika tidak memakainya.
"Lalu sekalian, bagaimana dengan cincin tambahan
yang dihadiahkan itu? Yang ada permatanya."
"Mohon maaf. Saya juga kurang tahu, tapi itu barang
yang harganya sekitar 5 juta sampai 10 juta Legil."
"……Begitu ya."
Digitnya sudah berbeda. Kepalanya jadi pusing
memikirkan orang yang bisa memberikan barang semahal itu dengan begitu
mudahnya.
"Bagi Anda, apakah barang itu terasa kurang
memuaskan? Saya bisa menyampaikannya secara tersirat jika Anda mau."
"Tidak, aku tidak punya keluhan."
"Begitukah."
"A-apa aku terlihat semaruk itu?"
"Tidak, Anda tidak terlihat seperti itu, tapi
Tuan Degote berpesan kepada saya agar segera menghubungi beliau jika terjadi
sesuatu. Ini hanya untuk berjaga-jaga."
"Tidak perlu terlalu cemas begitu, kan?"
Prinsipnya memang menerima apa yang diberikan, tapi
ini sudah beda level. Lagipula, pihak yang memberikannya adalah orang-orang
berkuasa yang menakutkan dalam berbagai hal.
"Itu adalah cara bangsawan menjaga etika."
"Padahal aku yang bilang 'boleh datang', jadi
kurasa tidak perlu bicara soal etika semacam itu."
Cukup merepotkan juga jika Karen atau Lifia selalu
memberinya barang mahal setiap kali mereka berkunjung ke kediaman ini.
"Ngomong-ngomong, apa ada sesuatu yang kamu
inginkan?"
"……Maksud Anda?"
"Rasanya tidak enak kalau cuma menerima terus. Aku
terpikir untuk memberikan sesuatu untukmu juga."
"Saya hanyalah orang sewaan. Saya sudah mendapatkan
imbalan yang cukup dari Tuan Degote, jadi Anda tidak perlu khawatir."
"Sudahlah, jangan terlalu kaku begitu."
Begitu Kai melangkah mendekat, ekspresi sang
pengelola tampak menegang.
"Jadi, apa yang kamu suka? Tolong beritahu
aku."
──Tapi, Kai pun sama-sama merasa tegang.
Ia ingin menyeimbangkan keadaan dengan memperlakukan
pengelola yang diberikan sang Duke ini dengan baik.
Begitu ia melangkah maju lagi sambil menunjukkan
kesungguhannya, sang pengelola akhirnya menjawab.
"……Saya...
suka makanan manis."
"Makanan manis ya. Baiklah, nanti aku akan belikan
macam-macam."
"Terima kasih banyak."
"Sama-sama. Kalau begitu, aku akan ke ruang kerja
untuk persiapan mental, jadi kalau tamu datang, lakukan sesuai rencana."
"Baik, saya mengerti."
Rapat persiapan penyambutan pun berakhir, dan pria itu
berjalan menuju ruang kerja.
"……"
Sang pengelola menatap punggungnya sambil menyeka
keringat di dahi dengan saputangan, dan begitu sosoknya tidak terlihat lagi, ia
bergumam sendiri.
"Aku harus memberitahukan ini pada Tuan
Degote..." ucapnya.
Ia diperintahkan untuk melaporkan setiap keseharian Si
Hitam atau jika ia merasakan sesuatu dalam interaksi dengannya.
Dan dalam percakapan tadi, ada hal yang "mengusik
pikirannya".
Terhadap keluarga terpandang yang mengelola Gereja
Seisei──sosok itu dengan santainya menggunakan kata 'membagikan bingkisan',
kata yang seharusnya tidak diucapkan kepada orang yang berkedudukan lebih
tinggi.
"Benar-benar kata-kata yang pantas bagi anggota Veltal
ya..."
Semakin ia memikirkannya, keringat dingin sang pengelola
semakin tidak mau berhenti mengalir.
◆◇◆
"──Terima kasih telah berkunjung di tengah kesibukan
Anda."
Setelah sang pengelola menyambut kedatangan Marie dan
Nina dari keluarga Ansarage, beserta empat pengawal yang mengelilingi kereta
kuda mereka dan seorang kusir, total tujuh orang, ia pun mengantar mereka ke
dalam kediaman.
Kemudian, ia berbincang dengan orang yang dikenalnya.
"Saya tidak menyangka Anda akan terus bekerja di
sini."
Yang berbicara adalah wakil komandan pasukan
pengawal. Sosok yang mengawal Nina saat berkunjung ke kedai makan yang sering
didatangi Si Hitam.
"Seharusnya saya kehilangan pekerjaan karena vila
ini diberikan kepada orang lain, tapi Tuan itu berbaik hati kepada saya."
"Berbaik hati?"
"Iya."
Pekerjaan pengawal atau penjaga memang mudah ditemukan,
tapi pekerjaan sebagai pengelola kediaman tidaklah semudah itu.
Sang pengelola tahu bahwa Si Hitam-lah yang memintanya
kepada sang Duke.
"Mengingat sosok seperti beliau, tentu saja mungkin
baginya untuk mengirim pengelola yang lebih hebat daripada saya."
"Bukankah itu karena beliau menganggap kemampuan
Anda tidak kalah saing?"
"Saya rasa tidak mungkin. Saya bahkan belum pernah
bertatap muka atau berinteraksi langsung dengan Tuan Hitam, jadi tidak ada
dasar untuk menilai kemampuan saya."
"Tapi, ini kan tentang beliau?"
"……Sepertinya pembicaraan ini tidak akan menemui
titik temu ya."
"Fufu, aku setuju."
Si Hitam adalah sosok tertutup yang tidak membiarkan
informasinya bocor. Dan mereka berdua juga diperintah oleh atasan untuk
'dilarang menyelidiki tentang beliau'.
"Ngomong-ngomong,
pasti berat ya punya tuan rumah seperti beliau."
"Jujur
saja, aku percaya diri bahwa aku adalah orang yang paling menguras saraf
dibandingkan siapa pun. Mengingat beliau adalah sosok yang bahkan membuat Tuan
Degote pun harus merendah."
"Ngomong-ngomong,
fakta bahwa tidak ada satu pun prajurit pengawal yang ditempatkan di kediaman
ini adalah──"
"──Seperti yang Anda duga, beliau bilang itu
tidak perlu. Katanya itu benar-benar hanya akan membuat suasana jadi
kaku."
"……Be, begitu ya. 'Kalau berani serang saja',
begitu ya..."
Mengenai ucapan Si Hitam yang begitu percaya pada
kekuatannya sendiri, sang pengawal hanya bisa menerimanya.
"Beliau bukan di posisi yang harus sungkan
kepada siapa pun, jadi sudah pasti beliau punya kemampuan yang setara dengan
ucapannya."
Meski tidak membocorkannya kepada siapa pun, sang
pengelola mengetahuinya dari sang Duke.
Tentang performa senjata yang selalu dibawa oleh Si
Hitam. Pedang yang bisa menebas lantai batu seperti memotong mentega. Dalam
pertarungan jarak dekat, tak perlu dibayangkan lagi, ia pasti akan mengamuk
dengan hebat.
Bahkan ada kemungkinan beliau bisa bertahan sebelum musuh
sempat merasakan sakit.
"Ya, yah... meskipun tidak ada prajurit pengawal,
karena sudah masuk ke wilayah beliau, ini pasti tempat yang paling aman."
"Meski ada harga yang harus dibayar."
"Hahahaha, berhati-hatilah agar perutmu tidak
sakit."
Lagi-lagi sang pengawal merasa simpati.
"……Nah, mari kita sudahi obrolan basa-basi ini. Aku
ingin memastikan sekali lagi, apakah kami boleh bebas menghabiskan waktu sampai
pertemuan dengan Tuan Hitam berakhir?"
"Itulah yang diperintahkan kepada saya."
Sang pengelola sama sekali tidak menunjukkan wajah
terkejut. Seolah-olah ia sudah tahu pembicaraan ini akan mengarah ke sana.
"……Bolehkan aku meminta pendapatmu? Karena kamu
tinggal bersamanya sehari-hari, mungkin kamu memikirkan suatu maksud tertentu
di balik hal ini."
Ia tidak sedang bercanda. Ia menatap dengan ekspresi
serius seperti itu.
Melihat sang pengawal yang sudah menyalakan mode
kerjanya, berbeda dengan sebelumnya, sang pengelola pun terpaksa berbicara.
"Saya
tidak bertanggung jawab atas ucapan ini. Selain itu, jika Anda tidak keberatan
dengan imajinasi saya."
"Tentu saja."
Sebagai pengawal, ia menginginkan pendapat sebanyak
mungkin. Begitu ia menjawab seketika, sang pengelola diam sejenak sebelum
membuka mulutnya.
"Saya rasa beliau tidak bermaksud mengatakan 'bebas'
dalam artian kalian boleh beristirahat atau berkeliling melihat-lihat isi
rumah."
"Ternyata benar ya."
"Karena tugas menjaga adalah pekerjaan yang paling
penting. Rasanya bodoh jika berpikir tugas itu boleh ditinggalkan."
Saat diberitahu langsung oleh Si Hitam, sang pengelola
memang sulit memahaminya, tapi karena kesulitan itulah ia jadi bisa memutar
otak untuk berpikir.
"Jika kami menentukan tempat menunggu bagi kalian,
ada kemungkinan kalian tidak bisa segera melindungi Nona Marie atau Nona Nina,
dan para pengawal tidak bisa mengeluarkan kemampuan aslinya. Artinya, bukankah
kata 'bebas' itu bermaksud agar 'kalian bertindaklah sesuai dengan pertimbangan
kemampuan individu masing-masing'?"
"……Seandainya itu alasannya, bukankah artinya di
mata beliau kami tidak dipercaya sepenuhnya...?"
Meski berpikir demikian, sang pengawal tidak merasa
marah. Karena mereka memang sudah melakukan kelalaian dengan membiarkan Nina
diculik.
"Lebih jauh lagi, beliau seolah berkata, 'Karena
aku sudah menempatkan kalian di posisi yang bisa mengeluarkan kemampuan asli
kalian, aku tidak berniat memberikan bantuan meski ada serangan musuh'..."
"Bukannya tidak dipercaya, mungkin beliau
sengaja menghadapkan kalian pada kenyataan pahit agar kalian membuang pikiran
bahwa 'beliau akan menolong' kalian."
"Eh?"
"Karena Tuan Hitam tidak bisa menolong setiap
saat, aku rasa kesiapan mental itu penting untuk melindungi senyuman Nona Nina
dan yang lainnya."
"──!"
Begitu dikatakan hal itu, bayangan Nina yang sedang
makan dengan nikmat dan tersenyum di kedai makan tempo hari melintas di benak
sang pengawal.
"Ini hanyalah dugaan saya saja, tapi menurut
saya itulah kemungkinan yang paling besar."
"Terima kasih. Tolong sampaikan rasa terima kasih
saya kepada beliau."
"Baik, saya mengerti."
Sambil membungkuk untuk menyampaikan rasa terima kasih,
pengawal itu berkata 'Kalau begitu saya permisi', dan segera mengumpulkan tiga
pengawal lainnya.
Melihat pemandangan itu, sang pengelola menatap ke arah
ruang kerja dengan ekspresi cemas.
Ia menilai sudah saatnya Nina dan Marie menyelesaikan
sapaan mereka.
◆◇◆
Nina yang berambut putih dengan mata merah muda, dan
kakaknya, Marie, yang wajahnya tak kalah cantik dibandingkan Lifia dari
keluarga Duke.
Kai, yang berhadapan dengan mereka berdua, terdiam seribu
bahasa. Tidak, kedua orang di depannya pun terdiam, membuat keheningan
menyelimuti tempat itu.
Sekecil apa pun suara yang dikeluarkan, pasti akan
terdengar oleh lawan bicara.
Kenapa di acara perkenalan suasananya bisa jadi seperti
ini──.
(Duh, serius, aku benar-benar tidak paham...)
Pria yang duduk di ruang kerja dengan masih
mengenakan zirah lengkap itu bergumam di dalam hati sambil berkeringat dingin.
(Ucapanku normal, kan? 'Santai saja tidak apa-apa'...)
Simulasi matang yang ia lakukan membuahkan hasil, sapaan
awal berjalan lancar.
Pembicaraan mengalir dengan begitu sempurna, namun begitu
ia mengucapkan hal itu di saat yang tepat, situasi ini pun lahir.
Padahal ia hanya berniat bersikap perhatian, tapi entah
kenapa mereka malah tampak terkejut.
(Ba-bagaimana pun aku tidak merasa mengatakan hal yang
tidak sopan, kan. Reaksi mereka yang aneh, kan?)
Ia berniat mengandalkan Nina saat terdesak, tapi orang
yang bersangkutan malah tampak lebih terkejut daripada Marie.
"Mohon maaf sebesar-besarnya. Ada satu hal yang
ingin saya tanyakan, kira-kira sampai sejauh mana Tuan Hitam telah melihat
segalanya...?"
"Hm?"
"Tindakan saya ke depannya... anu... bagaimana ya
mengatakannya..."
Marie mengerutkan alisnya yang tertata rapi, menunjukkan
wajah cantiknya yang tampak kebingungan.
Ia bertanya dengan sikap dan pembawaan yang sangat
anggun, tapi Kai sama sekali tidak mengerti apa yang ia bicarakan.
"Melihat segalanya?"
"Benar."
"……Tindakan ke depannya?"
"I-iya."
(Apa maksudnya 'iya' itu... Aku ingin dengar
kelanjutannya tahu...)
Meski Kai menuntut penjelasan lewat tatapan matanya yang
tersembunyi, hal itu tidak tersampaikan. Begitu Kai menutup mulut, Marie justru
hanya memperhatikan reaksinya.
Saat Kai melirik ke arah Nina yang merupakan sandaran
mentalnya seolah meminta tolong, Nina justru perlahan-lahan memalingkan
wajahnya.
"Ka-kamu sepertinya salah paham ya? Aku tidak
melihat apa pun. Aku cuma ingin kamu santai saja sesuai dengan kata-kataku.
Bukankah begitu lebih nyaman? Pembicaraan utamanya juga belum dimulai,
kan."
"……"
"……"
Meski sudah ditekankan, reaksinya tetap tidak berubah.
Justru ia merasa Marie jadi semakin tersudut.
"Kakak, kurasa kalau diteruskan ini akan menyangkut
harga diri..."
Begitu Nina mengatakannya, entah kenapa Marie malah
menundukkan wajahnya.
"Hm?"
Kesan yang didapat adalah sepertinya dia sedang mengalami
gejolak batin atau sedang merasa bingung. Seolah ada sesuatu yang belum bisa ia
putuskan.
Sudah jelas bahwa jika dibiarkan, suasana akan semakin
memburuk. Kai tidak punya pilihan lain selain memberikan bantuan agar Marie
bisa melangkah maju.
"Yah... kalau kamu merasa ini menyangkut harga diri,
mungkin hal itu ada benarnya juga, kan?"
"──!"
Sejujurnya, Kai tidak tahu harga diri dalam hal apa yang
dimaksud.
Lebih jauh lagi, ia hanya mengerti makna 'menyangkut
harga diri' secara samar-samar saja, namun begitu ia setuju dengan ucapan Nina,
Marie langsung mengangkat wajahnya dengan cepat.
Ia merasa seolah Marie sedang menatapnya dengan ekspresi
yang seakan berkata 'benar-benar mengerikan', tapi saat ia terus menatap wajah
itu, raut wajah Marie berubah menjadi penuh tekad.
"Hah... Padahal selama ini tidak ada yang
menyadarinya, tapi kenapa bisa..."
"Fufu, taruhannya aku yang menang ya."
"……"
(Hah? Ma-Marie...-san?)
Pada saat itu, Kai dilanda keterkejutan hingga tidak bisa
mengeluarkan suara. Sosok Marie yang ada di depannya sekarang sudah menjadi
orang yang berbeda dari sebelumnya.
Suasana, pembawaan, hingga gaya bicaranya hancur, dan ia
menunjukkan ekspresi yang menyiratkan sedikit kenakalan.
"Ka-kalau begitu, Tuan Hitam. Atas kebaikanmu, aku
akan bersikap santai ya? Tolong jangan bilang aku tidak sopan, ya...?"
"A-ah... iya..."
Kai yang matanya melebar di balik pelindung kepalanya
akhirnya mengerti. Bahwa kata 'santai saja' telah diartikan dengan makna yang
berbeda. Bahwa selama ini ia hanya sedang berakting.
"Kalau begitu, mari kita masuk ke topik utama soal
imbalannya──"
"──Tu-tunggu."
Jika pembicaraan dilanjutkan dalam keadaan kepalanya yang
masih semrawut, bisa-bisa ia menerima hal yang tidak perlu.
Tentu saja, aku tidak ingin dianggap "maruk"
dan memberikan kesan buruk di mata orang-orang berkuasa.
Bisa-bisa aku malah menginjak ranjau darat yang fatal.
Saat ini, aku butuh waktu untuk mendinginkan kepala.
"Daripada itu, ada hal lain yang ingin
kubicarakan."
"Hal... lain?"
"I-iya. Mengenai agama baru yang seolah menantang
Gereja Seisei itu. Apa semuanya baik-baik saja di sana?"
"──! A-apa tidak apa-apa jika kita membicarakan hal
itu terlebih dahulu!?"
"A-ah, iya..."
Nina tiba-tiba memotong dengan penuh semangat, membuatku
hanya bisa mengangguk seolah terdesak oleh energinya.
"Maksudku, aku sendiri akan lebih senang begitu.
Soal ucapan terima kasih bisa kapan saja, jadi aku ingin mendengar kabar
itu dulu."
"Te-terima kasih banyak!!"
"Hm?"
(Ke-kenapa dia malah berterima kasih...?)
Padahal aku hanya merasa cemas, tapi Nina malah
menundukkan kepalanya dalam-dalam seolah baru saja mendapat informasi yang
sangat berharga.
Saat aku memiringkan kepala keheranan, terdengar gumaman
pelan.
"Benar-benar... seberapa jauh beliau bisa melihat
masa depan..."
"Eh?"
Marie
juga menatapku dengan wajah terpana. Aku hanya bisa memiringkan kepalaku lagi
ke arahnya.
"Ka-kalau begitu, izinkan saya menjelaskannya!"
"Eh? Ah, silakan..."
Maka, di tengah ketidaktahuanku yang total, Nina pun
mulai menjelaskan inti masalahnya setelah pembukaan yang sangat sopan.
"Mengenai masalah organisasi keagamaan baru ini,
kami telah memprediksi bahwa semuanya bisa ditangani dengan damai! Ini semua berkat langkah-langkah yang Anda ambil!"
"Ho-hou?"
"Kami tidak sedang meremehkan situasi, jadi Anda
bisa tenang soal itu."
Marie menambahkan—tapi bukan itu masalahnya. Sama sekali
bukan tambahan seperti itu yang kuinginkan.
Bagian yang sama sekali tidak kupahami adalah kalimat
'Berkat langkah-langkah yang Anda ambil'.
"Memang memalukan untuk mengakuinya, tapi kami tidak
memiliki kemampuan untuk melihat jauh ke depan. Oleh karena itu, kami
menetapkan kebijakan untuk memancing mereka keluar sebelum pihak lawan menjadi
lebih kuat."
"Tentu saja kami tidak keberatan jika orang
memercayai keyakinan lain, tapi dalam kasus ini, mereka berniat buruk dengan
menjatuhkan reputasi Gereja Seisei."
"……Itu memang sudah sewajarnya."
Kai, yang tadinya hanya ingin mendengar satu kalimat
'baik-baik saja' atau 'tidak baik-baik saja', mulai merasa heran.
Kenapa suasananya jadi seperti rapat koordinasi atau sesi
konsultasi begini?
Satu lagi, tatapan tajam Marie itu menakutkan. Karena dia
cantik, efeknya jadi berkali-kali lipat.
Mungkin ini adalah kekesalannya terhadap organisasi
keagamaan baru itu, tapi aku berusaha membuang muka dan merangkai kata-kata
seolah aku mengikuti pembicaraan mereka.
"Jadi, kalian memancing mereka keluar untuk
melancarkan serangan balik, ya."
"Benar. Hari ini, kami menyebarkan informasi bahwa
seluruh anggota keluarga Ansarage akan meninggalkan katedral. Berdasarkan
informasi yang kami kumpulkan, mereka sedang aktif-aktifnya, jadi ada
kemungkinan mereka akan mengincar kesempatan ini."
"Karena sepanjang sejarah, belum pernah ada momen di
mana seluruh keluarga Ansarage absen secara bersamaan."
"Begitu ya."
Nina tampaknya sudah berlatih untuk pembicaraan ini, dia
menyampaikannya dengan sangat lancar dan mudah dimengerti.
"Memang benar, jika manipulasi informasinya
berhasil, mereka pasti akan menyerang dengan berani hari ini."
"──!"
"──!"
Pemimpin yang absen adalah kesempatan emas bagi musuh.
Meski ini hanya pendapat orang awam, aku cukup percaya
diri soal ini.
Tapi, saat itu juga aku menyesal.
Hanya karena merasa percaya diri, nada bicaraku jadi
terdengar seperti sebuah penegasan mutlak.
"Sekadar memastikan, orang tua kalian tetap
berada di katedral, kan? Dengan banyak penjaga dan pengawal yang
berkumpul."
"Iya!"
"Kalau begitu harusnya aman."
"Apa Anda benar-benar berpikir... masalah ini
bisa selesai dengan selamat?"
"Kalau persiapannya sudah sejauh itu, bukankah
harusnya baik-baik saja? Seandainya hari ini mereka tidak menyerang pun, selama
tetap waspada, kalian pasti bisa menanganinya."
"……"
"……"
Aku memberikan jawaban yang disertai jaminan keamanan,
tapi entah kenapa mereka malah terdiam.
"Lagi pula, hal buruk itu pasti suatu saat akan
berbalik pada pelakunya sendiri."
Apakah mereka sedang memikirkan sesuatu yang berat?
Sekali lagi, kedua orang ini tidak menjawab.
"……E-itu, pokoknya sampaikan pada orang tua kalian,
'Terima kasih atas kerja kerasnya'."
"Kerja keras...?"
"Kerja keras...?"
Setelah ucapan ketigaku, akhirnya terdengar jawaban dari
mereka yang tampak lega.
Mungkin karena bersaudara, suara mereka terdengar
serempak dengan nada yang akrab.
"Iya. Sampaikan saja begitu. Cukup sampaikan itu
saja."
Itu hanyalah kata-kata penyemangat. Mengingat mereka
sedang dalam kondisi waspada, rasanya itu kata-kata yang tepat.
Hanya dengan menyampaikan ini, aku pasti akan terlihat
memberikan kesan baik. Hasilnya, meski aku melakukan sedikit kesalahan nanti,
mereka tidak akan memandangku dengan cara yang buruk.
"Jadi, aku benar-benar menitip pesan itu."
Kai memohon sekali lagi seolah melakukan serangan
susulan.
◆◇◆
Saat Si Hitam sedang berjuang keras seperti itu.
"Uskup Agung, Uskup. Apakah benar-benar tidak
apa-apa melakukan hal seperti ini?"
"Fakta bahwa Anda berdua tidak menampakkan diri bisa
memengaruhi reputasi kita..."
"Dalam situasi sekarang, ini hanya akan membuat
organisasi itu semakin di atas angin..."
Di dalam katedral. Di sebuah ruangan tempat dua pemimpin
Gereja Seisei bersembunyi, para prajurit penjaga yang dekat dengan Uskup Agung
dan Uskup masing-masing menyuarakan kekhawatiran mereka.
Terhadap argumen ketiga pihak tersebut, Uskup Agung
menjawab dengan suara yang berat.
"……Tentu saja, aku mengerti hal itu. Aku juga merasa
sangat bersalah karena tidak melakukan pelayanan yang seharusnya
dilakukan..."
"Namun, kami telah memutuskan untuk memercayai
perkataan beliau. Kami tidak akan mengubah kebijakan ini lagi."
Mendengar kata-kata dari posisi absolut yang menyatakan
'ini sudah keputusan tetap', tidak ada lagi yang berani protes.
(Omong kosong macam apa ini...)
Salah satu pengawal yang mengamati situasi dari
kejauhan—mencaci-maki di dalam hatinya.
Bukannya dia memiliki dendam pada Uskup Agung atau
Uskup. Dia juga tidak berniat memprotes kebijakan yang terpaksa
diambil oleh mereka karena posisi mereka.
──Hanya saja, dia memiliki pikiran buruk terhadap orang
yang berhasil meyakinkan kedua orang ini.
(Kalau masa depan bisa diketahui semudah itu, tidak akan
ada orang yang kesulitan. Mana mungkin ada manusia seperti itu. Lagipula, si
'Hitam' itu kan cuma orang asing yang baru saja datang.)
Dia berdecit pelan tanpa ketahuan.
(Bagaimana caranya dia mendapatkan informasi seperti itu?
Pasti dia cuma
bicara asal-asalan yang terdengar meyakinkan saja.)
Pasti tidak akan terjadi apa-apa. Berada di tempat seperti ini hanya membuang-buang waktu.
(Sialan...)
Sambil menghela napas panjang dalam hati dan menahan
amarahnya—satu jam pun berlalu.
(Lihat, kan? Memang cuma segini. Sudahlah. Ayo
kembali ke tugas masing-masing.)
Karena memang tidak ada yang terjadi. ──Satu setengah
jam berlalu.
(Sudah cukup! Tidak ada gunanya melakukan hal seperti
ini!) ──Dua jam berlalu.
(Ayo bubar, bubar. Benar-benar konyol.)
Ekspresi semua orang yang sedang bersiaga mulai
tampak meragu. Hanya Uskup Agung dan Uskup saja yang ekspresinya tetap tidak
berubah.
(……Haaah.)
Meski tidak diucapkan, untuk pertama kalinya para
prajurit penjaga ini mulai merasa kesal pada kedua pemimpin mereka.
Tepat saat mereka menggertakkan gigi dan hendak
bersuara—saat itulah terjadi.
Terdengar langkah kaki terburu-buru dari koridor. Dan
kemudian, pintu diketuk dengan keras.
"La-laporan mendesak! Kami menerima informasi bahwa
organisasi keagamaan baru itu mendekati katedral dengan membawa papan
pengumuman!"
"Ada kemungkinan mereka akan melakukan demonstrasi
di gerbang masuk atau mencoba mengambil alih katedral!"
(──!!?)
Di saat pikiran para pengawal menjadi kosong karena
terkejut, Uskup Agung merentangkan satu tangannya.
"Unit Penjaga satu dan dua, masuk lewat pintu
belakang menuju sayap kanan gerbang. Unit tiga dan empat, mulai bergerak ke
sayap kiri."
"Merekalah yang melakukan hal-hal tercela di sini.
Jangan biarkan satu pun dari mereka lolos."
“““SIAP!!”””
Hentakan tongkat Uskup menjadi aba-abanya. Para prajurit penjaga segera bergerak dengan cepat.
"Sampaikan perintah untuk mengumpulkan semua
orang yang sedang luang di dalam katedral ke gerbang masuk."
"Aku berjanji akan memberikan penjelasan yang
tegas terhadap semua argumen pihak lawan. Kalian semua adalah saksinya!"
“““SIAP!!”””
Para pengawal dan pembawa pesan menjawab Uskup Agung
yang tampak diselimuti aura wibawa.
(…………)
Di ruangan itu, ada seseorang yang kehilangan
kata-kata dengan wajah seolah tidak percaya hal ini benar-benar terjadi.
◆◇◆
Entah sudah berapa lama waktu berlalu sejak mereka
berhadapan dengan Si Hitam di ruang kerja.
"Anu, ini agak sulit kukatakan... tapi aku tidak
butuh ucapan terima kasih sebanyak ini."
"Jangan berkata begitu, mohon terimalah ini!"
"Kalau Anda tidak mau menerimanya, kami juga akan
kesulitan..."
"Biarpun kalian bilang begitu, aku sendiri juga jadi
kesulitan."
"Ka-kami mohon dengan sangat, terimalah...!"
Sejak topik beralih ke ucapan terima kasih, perdebatan
seperti ini terus terjadi.
Nina, yang merasa telah diselamatkan oleh Si Hitam,
sedang berusaha sekuat tenaga dengan kekuatan maksimalnya.
Akibatnya, Marie yang tidak menemukan waktu tepat untuk
membantu seolah terpinggirkan.
Justru karena berada di posisi pihak ketiga, dia jadi
bisa melihat sekeliling dengan tenang.
(Ini... dia benar-benar serius tidak berniat menerima
imbalannya... Apa yang dikatakan Liffie ternyata benar...)
Kata-kata yang ia dengar dari putri sulung keluarga Duke,
Lifia, di halaman belakang katedral.
'Tuan Hitam bukannya menuntut imbalan, beliau bahkan
tidak mau menerima imbalan yang kami tawarkan'.
Sejujurnya, sampai detik ini Marie masih setengah
percaya.
Fakta bahwa dia menyelamatkan tiga orang tanpa
memedulikan bahaya, dan bahkan menggunakan ramuan universal yang legendaris.
Mustahil bagi manusia yang melakukan hal yang tak
terbayangkan seperti itu untuk tidak meminta imbalan apa pun.
Apalagi di depan imbalan yang bisa membuat mata siapa pun
hijau, mustahil dia tidak mau menerimanya.
Namun, kenyataannya berbeda. Persis seperti yang
dikatakan Lifia.
"Benar-benar, aku tidak bisa menerima semuanya. Ini
terlalu banyak."
Dia tidak terlihat sedang sungkan, tidak terlihat
menyesal, tapi justru menggelengkan kepala dengan nada suara yang seolah
berkata 'ampun, tolong hentikan'.
(Be-benar-benar tidak masuk akal...)
Dia terlalu baik hati, terlalu murah hati,
sampai-sampai terasa mengerikan.
Tak heran jika Lifia bilang bahwa beliau adalah
'orang terbaik yang pernah kutemui'.
"Yang bisa kuterima... cuma ini dan ini. Selain itu,
aku tidak bisa. Terlalu banyak menerima itu menakutkan."
Si Hitam mendorong kembali. Satu dari dua koper berisi
uang, dan kalung pusaka keluarga yang bertatahkan permata besar.
Sebagai gantinya, dia menerima satu koper uang lainnya
dan lencana segel keluarga Ansarage.
"……"
"……"
Mungkin dia bermaksud melontarkan candaan dengan kata
'menakutkan' untuk mencairkan suasana, tapi mereka tidak bisa bereaksi terhadap
lelucon yang tiba-tiba itu.
"Ehem."
Mungkin merasa leluconnya gagal, Si Hitam berdeham
dengan canggung.
Ini salah kami karena membiarkannya gagal. Marie
menundukkan kepalanya sedikit seolah ingin meminta maaf.
"Se-sedikit
beralih topik... Nina. Meski sudah memberi imbalan sebanyak ini, apa orang tua
kalian masih berniat datang ke sini untuk berterima kasih lagi?"
"Iya! Itu sudah menjadi keputusan tetap."
"Keputusan... tetap, ya..."
Begitu mendengar hal itu, Si Hitam mulai menggerakkan
ujung jarinya dengan gelisah di atas meja.
(Eh? Kok dia... mulai terlihat panik?)
Apakah ada masalah jika orang tuanya berkunjung? Karena
wajahnya tertutup pelindung kepala, emosi yang seharusnya bisa terbaca jadi
tidak terlihat.
"Pokoknya izinkan aku mengatakan dua hal. Pertama,
imbalan ini sudah cukup. Benar-benar cukup."
Bicara dengan cepat, Si Hitam kembali menarik lencana
segel dan koper itu sambil melanjutkan kata-katanya.
"Dan yang kedua. Aku tidak bisa menerima pemberian
lebih dari ini. Artinya, tidak perlu meminta orang tua kalian untuk
datang."
"Ta-tapi..."
Nina mencoba membela diri. Marie tidak menghentikannya.
Dia justru membantu Nina dengan mendorong kembali barang-barang imbalan yang
tadi dikembalikan secara alami.
"……Yah, aku mengerti apa yang ingin kalian
sampaikan. Aku tahu kalian ingin menjaga etika karena posisi kalian dan
berbagai hal lainnya. Namun──"
"──!"
Topeng Si Hitam menghadap ke arah mereka. Entah seperti
apa ekspresi wajahnya, tapi Marie merasa beliau sedang mengerutkan dahi.
"Karena aku merasa etika itu sudah terpenuhi dengan
sangat baik, aku tidak akan mengalah lebih dari ini."
"Aku tidak berniat menerima imbalan lebih dari ini,
jadi maksudku itu... orang tua kalian pasti punya hal lain yang harus
dilakukan, kan?"
"Ha-hal yang harus dilakukan?"
Meski dipancing dengan cara yang mudah dimengerti,
Marie tidak secerdas Si Hitam. Dia memiringkan kepala menunggu kalimat
selanjutnya.
"I-iya. Karena aku tidak berniat menerima
imbalan lebih, datang ke rumah ini hanya akan membuang-buang waktu."
"Lagi pula, orang tua kalian bukanlah orang yang
punya banyak waktu untuk disia-siakan. ……Singkatnya. Ada hal lain yang harus
dilakukan, kan?"
"…………"
(Ma-makanya aku bilang aku tidak tahu apa itu!!)
Pembicaraan kembali ke titik awal.
Saat Marie melirik ke samping untuk melihat kondisi Nina,
adiknya itu tampak sedang menatap langit-langit seolah kepalanya baru saja
meledak.
Marie yang berusia 18 tahun saja tidak paham. Mana
mungkin adik perempuannya yang enam tahun lebih muda itu bisa mengerti.
"……E-anu, maksudku adalah... begini. Daripada
melakukan hal yang membuang-buang waktu, aku ingin mereka menggunakan waktu itu
untuk hal-hal yang lebih berguna bagi kota ini."
"Jika itu orang tua kalian, mereka pasti bisa
melakukannya."
Menyadari mereka tidak kunjung paham, beliau
menjelaskannya dengan lebih lembut.
"Alasan aku tidak mengambil semua uang di sini
juga... ya, itu dia."
"Daripada membiarkan uang sebanyak ini kuhabiskan
sendirian, akan jauh lebih bermakna jika uang itu dikelola oleh kalian."
"Tapi..."
"Bukan 'tapi'. Jika kalian menggunakannya untuk hal
yang bermakna, itu akan menjadi imbalan terbaik bagiku."
"Jika Gereja Seisei menjadi lebih kuat, maka lencana
segel ini... efeknya sebagai perlindunganku juga akan semakin kuat, kan."
Si Hitam sama sekali tidak terpengaruh oleh perlawanan
Nina. Karena dia menjelaskan niatnya dengan cara yang mudah dimengerti,
potongan-potongan teka-teki itu pun terhubung menjadi satu garis lurus.
Sungguh mengejutkan dia bisa berpikir sampai sejauh itu.
Selain itu, dia melakukan tindakan ini karena percaya
bahwa 'keluarga Ansarage pasti bisa'.
Kalau begitu, menjawab ekspektasi tersebut adalah imbalan
terbesar bagi Si Hitam, dan mereka tidak seharusnya berdebat lagi.
"──Baiklah. Kalau begitu, aku berjanji akan
menggunakan barang-barang yang dikembalikan ini untuk hal-hal yang
bermakna."
"Meski untuk pusaka keluarga ini, mungkin akan
sedikit sulit menggunakannya dengan bermakna karena nilai barangnya
sendiri."
"Ka-Kakak!?"
"Sudah tidak ada pilihan lain. Ini adalah keinginan
Tuan Hitam."
"Benar-benar sangat membantu."
Entah kenapa terdengar suara yang seolah merasa lega.
Bisa dibilang itu suara yang terdengar senang, tanpa ada kesan sinis sedikit
pun.
(Mungkinkah ini artinya, kita saling menyatukan kekuatan
untuk membuat segalanya menjadi lebih baik...?)
Marie kembali teringat. Kata-kata saat dia berkonsultasi
dengan Lifia di halaman belakang katedral.
'Aku merasa Tuan Hitam lebih senang menerima uang
daripada lencana segel keluarga kami, lho?'
Uang adalah sesuatu yang bisa didapatkan jika bekerja,
tapi lencana segel keluarga Duke bukanlah sesuatu yang bisa didapat seberapa
keras pun orang bekerja.
Saat Marie membalas bahwa itu aneh, dia mendengar kalimat
selanjutnya.
'Kurasa beliau senang karena peluang untuk membantu
orang-orang yang kesulitan, termasuk anak yatim piatu, jadi bertambah'.
'Sebab, jika dia orang yang kesulitan uang, dia pasti
akan senang menerima vila, dan dia tidak mungkin bisa memiliki senjata serta
zirah semegah itu'.
Gereja Seisei juga memberikan dukungan dan bantuan ke
panti asuhan.
Jika beliau berpikir bahwa tidak menerima seluruh uang
tersebut karena mungkin akan memengaruhi bantuan ke sana──.
Jika beliau berpikir bahwa dengan memperluas modal dan
bekerja sama, orang-orang yang kesulitan bisa lebih tertolong──.
(Du-duh, orang ini tidak mau meminjamkan kekuatannya ke
Gereja Seisei saja ya... sebagai asisten khusus atau semacamnya...)
Dia kuat, baik hati, tidak sombong, dan di atas
segalanya, dia adalah orang baik. Rasanya benar-benar ingin menariknya ke
pihak mereka.
'Marie, dia pasti tipemu. Tuan Hitam itu'.
"──!"
Tepat saat kata-kata Lifia terlintas di benaknya.
"Ah, benar juga. Ini pemberian dariku. Ini,
Nina."
Si Hitam membuka laci dan mengaduk-aduk isinya
sebelum mengulurkan tangan. Adiknya yang menerima barang di tangan itu langsung
memiringkan kepala.
"Ini... kunci?"
"Iya, kunci rumah ini."
"Heh!?"
(Hah!?)
Seandainya Marie yang diberikan kunci itu, suara hatinya
pasti sudah bocor keluar.
"Rumah ini, seperti yang kalian lihat, terlalu luas
bagiku sendiri. Jadi kalau ada apa-apa, silakan keluar-masuk dengan bebas.
Entah kalian berdua atau sendirian."
"A-apakah boleh!?"
"Tentu saja. Aku juga memberikan kunci yang sama
pada saudari dari keluarga Duke."
"Kalian bisa menggunakan tempat ini sebagai titik
temu, atau sekadar bermain di sini."
"Tentu saja, bukannya aku merasa kesepian, atau
merasa takut, atau hal semacam itu. Hanya saja sayang kalau rumah semegah ini
disia-siakan."
"A-ah, terima kasih banyak!"
"Tunggu..."
Begitu menerima kunci cadangan itu, Nina langsung
menghambur memeluknya.
Seharusnya itu harus dihentikan, tapi melihat wajah
adiknya yang tampak sangat bahagia, Marie jadi ingin membiarkannya saja.
(……Tidak, meskipun bilang sayang kalau disia-siakan,
normalnya orang tidak akan melakukan hal seperti itu, kan...?)
(Terus, kalau suasananya begini, sepertinya Liffie
merahasiakan soal dia juga dikasih kunci cadangan...)
Itu benar-benar
mencerminkan kepribadian Lifia. Aku bisa dengan mudah membayangkan dia sudah
mengunjungi kediaman ini satu atau dua kali sebelumnya.
"Ah,
satu lagi, Marie-san."
"A-apa?"
"Di kediaman ini, kamu tidak perlu sungkan pada apa
pun. Silakan bersantai saja, aku pun lebih menyukai sosokmu yang seperti
itu."
"……Ah.
I-iya... Terima kasih……."
Tiba-tiba
saja, sisi aslinya dipuji oleh sosok yang bahkan wajahnya pun tidak ia ketahui.
Ini adalah pertama kalinya ia dipuji secara apa adanya
oleh lawan jenis.
(Ke-kenapa tiba-tiba bilang begitu……)
"Baguslah
kalau begitu, Kak."
"S-sudah,
diam deh."
Meski
Nina menggodanya, bagi Marie itu adalah kata-kata yang sangat berharga.
'Marie, dia pasti tipemu. Tuan Hitam itu'.
Kalimat itu kembali terngiang-ngiang di benak Marie,
membuatnya tidak bisa berkonsentrasi pada obrolan ringan setelahnya.
Pada saat itu, ia merasa iri pada Nina yang sedang
memeluk pria itu.
Pertemuan yang membuat mereka lupa waktu itu pun
berakhir, menyisakan perasaan bahwa perpisahan dengan Si Hitam datang terlalu
cepat.



Post a Comment