NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Jinsei ni Tsukare Tadorisuita Mura de, Bijotachi ga Ore o Hanasanai de Kurenai V1 Chapter 1

 Penerjemah: Flykitty

Proffreader: Flykitty


Chapter 1

Wanita-wanita yang Baik Hati


Kenapa bisa jadi seperti ini, ya.


Itulah yang kupikirkan karena aku sedang menatap punggung wanita yang berjalan di depanku—Anzai Mina.


Aku… tidak ingin pergi ke kantor… aku ingin menjauh dari tempat itu.


Tanpa sadar aku pun sampai di desa ini… kalau tidak salah Mina-san tadi menyebutnya Desa Minori.


"…Tidak."


Nama desa sekarang bukanlah hal yang penting.


Apa tidak apa-apa kalau aku terus mengikuti dia seperti ini…?


Bukan hanya sekadar berkunjung, tapi bahkan menginap… apakah itu benar-benar boleh…? 


Mungkin karena aku terlalu tenggelam dalam pikiran seperti itu, Mina-san tiba-tiba berhenti berjalan.


"Hehe, silakan santai saja, tidak apa-apa kok. Takuya-san hanya kebetulan diundang olehku. Anggap saja kamu beruntung karena datang ke tempat yang tidak dikenal dan diberi tempat untuk bermalam."


Sambil tersenyum, Mina-san berkata begitu lalu menggenggam tanganku dengan erat.


"Sudah malam juga, dan tanganmu tadi gemetar."


Ah… jadi karena itu dia menggenggam tanganku.


Matahari sudah terbenam dan angin terasa dingin… karena itu tanganku memang terasa dingin, tapi tangan Mina-san sangat hangat dan membuatku merasa tenang.


…Meski begitu, biasanya orang tidak melakukan hal seperti ini.


Kalau dipikir-pikir, apakah Mina-san itu kurang pengalaman dengan dunia luar… atau semacam gadis bangsawan yang terlalu dilindungi?


"Barusan kamu memikirkan sesuatu yang tidak sopan, ya?"


Aku tersentak dan tanpa sadar bahuku bergetar.


Kurasa ekspresiku tidak berubah, tapi kegelisahanku pasti terasa jelas… apalagi karena kami sedang berpegangan tangan… ah, payah sekali.


"Yah… aku cuma berpikir kalau orang biasanya tidak melakukan hal seperti ini pada seseorang yang baru saja ditemui. Apa di desa hal seperti ini biasa?"


"Aah… aku tidak tahu bagaimana orang lain, tapi mungkin karena aku terbiasa berinteraksi dengan anak-anak."


"Maksudnya aku terlihat seperti anak-anak…?"


"Tidak sampai begitu, tapi kamu terlihat seperti anak kecil yang tersesat."


"…………"


Kalau melihat situasiku sekarang, aku sama sekali tidak bisa membantah kata-katanya.


Yang dia katakan sebenarnya tidak terlalu menyenangkan… tapi entah kenapa aku tidak merasa tersinggung sama sekali, hanya merasa malu. 


Mungkin karena dia… karena Mina-san terlalu cantik.


"Ah, sudah kelihatan."


"…Yang itu?"


Yang ditunjuk Mina-san adalah sebuah rumah bergaya Jepang… benar-benar terasa seperti pedesaan.


Dia menarik tanganku dan kami masuk melalui pintu depan.


"Aku pulang."


"P-permisi…!"


Sebenarnya sebelum masuk rumah aku sudah menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri.


Tapi karena suaraku tetap terdengar gugup seperti ini, jelas sekali aku masih tegang.


"Hehe, tidak apa-apa kok. Ibuku orang yang baik, dan aku yakin dia juga akan menyukai orang seperti Takuya-san."


"B-benarkah…?"


"Iya! Soalnya dia ibuku!"


Sambil berkata begitu, Mina-san membusungkan dadanya—dan pada saat itulah kejadian tak terduga terjadi.


Karena Mina-san membusungkan dada, kancing kardigannya tiba-tiba terlepas.


Begitu suara "pak!" terdengar, detik berikutnya aku merasakan rasa sakit yang luar biasa di antara alisku dan langsung berjongkok di tempat.


"Guuh… uooohhh!"


"T-Takuya-san, kamu tidak apa-apa!?"


Meski tadi terasa sangat sakit, anehnya rasa sakit itu cepat mereda.


Tapi sepertinya Mina-san sangat khawatir. Dia mengguncang bahuku sambil memastikan keadaanku.


"Aku tidak apa-apa… sungguh."


Tapi ternyata kejadian seperti di manga benar-benar bisa terjadi…


Sejak pertama bertemu aku berusaha untuk tidak terlalu memikirkannya, tapi Mina-san benar-benar wanita dengan dada yang sangat besar.


Kancingnya saja sudah terlihat seperti hampir tidak kuat menahan. Jadi kalau dia membusungkan dada seperti tadi, wajar saja kalau kancingnya terlepas… meskipun aku sebenarnya tidak ingin mengakuinya, karena memang itu yang terjadi.


"Aduuh… kancingnya lepas lagi… aku mewarisi dada besar dari ibuku, jadi kejadian seperti ini sering terjadi."


"O-oh begitu…"


Eh… bukankah biasanya wanita tidak mengatakan hal seperti itu?


Aku sebenarnya ingin mengatakan sesuatu, tapi takut dianggap melakukan pelecehan, jadi aku memilih diam.


Saat kami masih ribut di pintu masuk seperti itu—


"Mina, ada keributan apa sih?"


Seorang wanita cantik dengan celemek muncul dari dalam rumah.


Wajahnya sangat mirip dengan Mina-san. Dia menatap bergantian antara aku dan Mina-san dengan ekspresi bingung.


Sekarang… aku harus mengatakan apa dulu?


Sambil ragu aku akhirnya menundukkan kepala. Melihat itu, wanita itu juga ikut menundukkan kepala.


"Aku pulang, Ibu. Maaf tiba-tiba—ini Sumeragi Takuya-san, yang datang ke desa ini hari ini. Aku mendengar berbagai keadaannya… jadi aku mengajaknya datang ke rumah."


"Begitu…"


Ibu Mina-san… jelas sekali dia sangat kebingungan.


Memang seharusnya aku tidak datang… aku seharusnya sudah tahu itu. Saat aku memikirkan hal itu lagi, ibu Mina-san malah mengatakan sesuatu yang tidak kuduga.


"Kalau memang ada keadaan seperti itu… baiklah. Silakan masuk."


"…Eh?"


"Seperti dugaan! Lihat kan, Takuya-san? Tidak apa-apa kan?"


"…………"


Dan sebelum aku sempat berkata apa-apa lagi, aku sudah dibawa masuk sampai ke ruang tamu.


Tempat itu terasa jauh lebih hangat dibanding tempat tinggalku dulu, dengan suasana yang membuat hati benar-benar tenang.


"Sekali lagi, selamat datang. Aku Anzai Reina."


"Saya Sumeragi Takuya… ehm, apakah benar tidak apa-apa saya merepotkan kalian seperti ini?"


"Tidak apa-apa. Kalau Mina sampai membawamu ke sini, itu berarti dia sangat mempercayaimu. Dan juga…"


Ibu Mina-san—Reina-san menatapku dengan saksama.


Kupikir dia akan menilai atau menyelidikiku, tapi entah kenapa tatapannya justru terlihat seperti mengkhawatirkanku… sama seperti yang kurasakan dari Mina-san tadi. 


Kenapa orang yang baru bertemu bisa memandangku seperti itu?


"Aku merasa ada sesuatu yang membuatku tidak bisa mengabaikanmu. Selain itu… ini pertama kalinya Mina membawa seorang pria, jadi aku juga penasaran!"


"I-Ibu!"


"…………"


Melihat Reina-san tersenyum jahil, Mina-san langsung menghampirinya dengan wajah merah.


Reina-san dengan santai mengabaikan Mina-san lalu berkata kepadaku,


"Tadi hujan, dan sepertinya kamu sedikit basah, ya? Bagaimana kalau kamu mandi dulu?"


Mandi… aku duluan?


Aku sempat ragu, tapi Mina-san juga menyuruhku begitu, jadi aku akhirnya diantar ke ruang ganti.


Meski aku sempat penasaran dengan senyum penuh arti yang ditunjukkan Mina-san, setelah mandi aku berendam santai di bak.


"…Haa."


Hangat…


Kalau dipikir-pikir, sudah lama sekali aku tidak berendam seperti ini.


Biasanya setelah pulang dari kantor aku langsung tertidur karena lelah, lalu bangun di waktu yang aneh dan hanya mandi cepat. Bahkan kalau sebelum tidur pun, aku jarang sekali sengaja berendam di bak… aku juga hampir tidak pernah pergi ke onsen atau pemandian umum.


"Ternyata berendam itu penting juga… haa…"


Saat tubuhku hangat sampai ke dalam, rasanya bahkan hatiku juga menjadi lebih tenang.


Aku sedang menikmati perasaan seolah berada di rumah sendiri, ketika dari balik pintu terdengar suara Mina-san.


"Takuya-san, bagaimana suhu airnya?"


"Ah… sangat hangat dan enak."


Sejak kapan dia berada di ruang ganti…? Mungkin dia datang untuk mengecek keadaanku karena khawatir?


Mina-san dan Reina-san benar-benar terlalu baik hati… sampai-sampai malah membuatku khawatir mereka bisa saja ditipu orang.


Yah, tentu saja aku tidak akan pernah melakukan hal seperti itu, dan aku juga tidak akan pernah membalas kebaikan mereka dengan kejahatan.


"…Mina-san?"


"Ada apa~?"


"Kamu… sedang apa?"


Aku menanyakan itu karena Mina-san terlihat melakukan gerakan yang mencurigakan.


Walaupun antara sisi sini dan sana dipisahkan oleh pintu, bayangan orang masih sedikit terlihat… dan kalau mataku tidak salah, Mina-san tampak seperti sedang melepas pakaiannya.


"Permisi ya."


"!?"


Tak lama kemudian, Mina-san masuk ke kamar mandi.


Dia masuk dengan tubuh dibalut handuk, lalu tersenyum kecil dan berjalan menuju shower… tunggu sebentar!


Aku tidak bisa diam saja lagi. Sambil berusaha untuk tidak melihat ke arahnya, aku mencoba membuka mulut untuk bicara, tapi Mina-san lebih dulu berbicara.


"Aku juga sedikit basah, jadi kalau sekalian mandi bersama bukankah malah lebih praktis?"


"Yah memang sih… tapi…"


"Hehe, santai saja."


Santai apanya…!


"Lagipula kalau ibumu melihat kita seperti ini…"


"Ibu sudah tahu kok. Malah aku bilang padanya kalau aku akan ikut mandi bersama, lalu datang ke sini. Dia bahkan bilang ‘silakan’."


"Ibumu itu sebenarnya bagaimana sih!?"


"Ah, akhirnya aku dengar suara paling bersemangat hari ini!"


"…………"


Tetap saja, Mina-san dan Reina-san memang aneh… aneh sekali, kan?


Aku ingin segera keluar dari sini, tapi aku tidak punya handuk untuk menutupi bagian tubuhku yang penting.


Jadi kalau aku keluar dari bak mandi, pasti akan terlihat… kalau sesama pria mungkin tidak masalah, tapi di depanku sekarang ada seorang wanita.


"Kamu masih belum benar-benar hangat, kan? Santai saja lebih lama lagi, ya?"


"…Baik."


Niatku untuk keluar akhirnya tertahan karena kata-kata Mina-san.


"Hmm~ hm hm hm~♪"


"…………"


Berbeda denganku yang bahkan tidak bisa bicara, Mina-san tampak sangat ceria sambil bersenandung.


Kenapa dia bisa setenang itu…?


Aku terus menunduk, tapi akhirnya tanpa sengaja aku mengangkat wajah dan melirik.


Walaupun merasa bersalah, aku tetap memandangnya, dan sekali lagi aku menyadari bahwa tubuhnya benar-benar bagus… bukan hanya tubuhnya, wajahnya juga sangat cantik.


Kalau wanita seperti ini pergi ke kota besar yang ramai, mudah sekali membayangkan dia akan sering digoda orang di jalan.


"Nah, kalau begitu… aku masuk di sebelahmu ya?"


…Aku sudah tidak ingin mengatakan apa-apa lagi.


Bak mandi ini memang tidak terlalu luas, tapi juga tidak terlalu sempit untuk dua orang dewasa… namun berada tepat di sebelah seorang wanita yang hampir telanjang memberikan rasa tegang dan malu yang belum pernah kurasakan sebelumnya.


"Aku sudah lama tidak mandi bersama seseorang seperti ini. Kalau dengan pria… mungkin terakhir dengan ayahku."


"Ayahmu… memangnya ini hal yang biasa?"


"Di desa ini biasa saja. Karena itu aku melakukannya."


"Kamu bohong kan?"


"Hehe♪"


Ya, ini pasti bohong.


Kalau benar masuk begitu saja ke kamar mandi yang sudah ada lawan jenisnya adalah hal biasa di desa ini, pasti tempat lain sudah ramai membicarakannya.


"Kamu… tidak suka?"


Dia mendekatkan tubuhnya sambil mengatakan itu.


Aku tidak bisa langsung menjawab, tapi kalau ditanya tidak suka… sebenarnya bukan begitu.


Aku juga pria… tidak mungkin aku tidak merasa senang dalam situasi seperti ini.


"Bukan tidak suka… cuma agak terlalu mengejutkan."


"Syukurlah kalau kamu menyukainya♪"


Mina-san kembali tersenyum kecil, lalu mengambil air dengan tangannya yang indah sambil melanjutkan bicara.


"...Sebenarnya ada sedikit keinginan egois juga."


"Egois?"


"Iya—aku ingin menenangkan Takuya-san, ingin sedikit mendekat pada hatimu yang terluka… tapi juga ingin melihatmu dari jarak lebih dekat."


"Melihatku?"


"Aku memang khawatir… tapi kamu juga sedikit mengingatkanku pada ayahku yang sudah meninggal. Saat kamu menempelkan plester tadi… percakapan kita waktu itu membuatku teringat pada ayahku."


Mina-san berkata begitu dengan ekspresi yang seolah sedang mengenang masa lalu.


Begitu ya… ayah Mina-san berarti suami Reina-san… dari kelihatannya, mungkin dia meninggal saat masih cukup muda.


Mungkin Mina-san juga menyadari suasana menjadi agak berat, jadi dia segera tersenyum lagi.


"Setelah keluar dari kamar mandi, makanan enak buatan ibu juga sudah menunggu. Sepertinya hari ini dia bilang akan membuat nikujaga."


"Wah…"


Nikujaga…!


Sudah lama sekali—lebih tepatnya sejak mulai hidup sendiri—aku tidak memakannya, sampai-sampai perutku mulai lapar memikirkannya.


"…Aku benar-benar beruntung."


"Keberuntungan itu akan terus berlanjut loh. Kalau Takuya-san mau, kamu boleh tinggal di sini selamanya."


"Tidak, itu terlalu berlebihan."


"Aku serius, loh?"


"!?"


Dia menggenggam tanganku dengan lembut lalu berbisik di dekat telingaku.


Dengan jarak yang semakin dekat seperti ini, tanpa sadar pandanganku tertarik ke arahnya.


Rambut basah yang menempel di kulitnya, celah dadanya yang terlihat karena handuknya sedikit terbuka.


Dan mungkin ini hanya perasaanku saja, tapi di matanya yang menatapku lekat-lekat terasa seperti ada sesuatu yang menyerupai keterikatan… ya, pasti cuma perasaanku saja.


"Ah, tapi tidak perlu terburu-buru juga. Takuya-san gimana, airnya sudah cukup hangat?"


"Eh? Ah, iya."


"Kalau begitu ini aku berikan. Kamu keluar duluan saja."


Suasana aneh yang tadi sempat terasa tiba-tiba menghilang. Setelah menerima handuk darinya, aku segera keluar dari kamar mandi.


Saat berganti pakaian di ruang ganti, dari dalam terdengar suara dengungan lagu yang indah.


Bersamaan dengan itu terdengar suara air yang diambil dengan tangan, membuatku teringat lagi pada pemandangan barusan.


"...Benar-benar, sebenarnya apa yang sedang terjadi."


Sekarang sebuah hipotesis muncul di kepalaku.


Mungkin saja sebenarnya aku mengalami kecelakaan saat naik bus dan sudah mati, lalu sekarang berada dalam situasi seperti ini… tidak, pemikiran seperti itu terlalu sial, lebih baik tidak dipikirkan.


Walaupun aku masih belum benar-benar memahami situasinya, tetap saja berpikir begitu terasa tidak sopan pada Mina-san dan Reina-san.


"…Aku kembali."


"Oh, selamat datang kembali."


Ketika aku kembali ke ruang tamu, Reina-san menyambutku dengan senyuman.


Sepertinya dia sudah menyetujui usulan Mina-san, karena saat melihatku kembali, dia terus tersenyum ceria.


"Bagaimana mandi bersama anak itu?"


"…Ehm, menurutku itu agak keterlaluan."


"Memang sih. Tapi pemandangannya bagus, kan? Anak itu mirip denganku—baik tubuh maupun wajahnya bagus, lho♪"


Dia memuji Mina-san sekaligus memuji dirinya sendiri…


Tapi sebenarnya tidak ada yang salah dengan perkataan Reina-san. Sama seperti Mina-san, Reina-san juga memiliki kecantikan dan tubuh yang luar biasa.


Bahkan ukuran dadanya tampak lebih besar daripada Mina-san… kira-kira berapa cup ya.


"Begitu Mina selesai mandi, kita langsung makan malam. Sampai saat itu, santai saja sambil menonton TV."


"Apa ada yang bisa saya bantu?"


"Tidak apa-apa. Takuya-kun kan tamu, jadi santai saja."


"…Baiklah."


Rasanya agak tidak enak kalau tidak melakukan apa-apa, tapi sebaiknya aku mengikuti saja apa yang dikatakannya.


Saat aku duduk di atas zabuton yang empuk, entah kenapa Reina-san berdiri tepat di belakangku.


"Reina-san…?"


"Kamu benar-benar orang yang baik, ya, Takuya-kun."


"Eh, anu…?"


Reina-san meletakkan kedua tangannya di pundakku dan mulai memijatnya dengan lembut.


Aku sebenarnya tidak punya masalah dengan pegal di bahu, dan juga tidak terlalu lelah sampai butuh dipijat.


Namun dari gerakan tangan Reina-san terasa perhatian… terasa kebaikan hatinya.


"Kamu memang tamu, tapi wajahmu tadi terlihat seperti orang yang tidak nyaman kalau tidak melakukan apa-apa. Orang yang bisa menunjukkan ekspresi seperti itu biasanya orang yang baik."


"Menurutku siapa pun akan bereaksi seperti itu."


"Tapi ada juga orang yang bersikap tidak tahu diri, kan?"


"…Ada."


Aku tersenyum pahit.


Sebelum datang ke sini, bukankah aku sudah melihat banyak orang seperti itu… seperti atasanku, atasanku, dan atasanku lagi.


Mungkin karena aku membayangkan wajah bajingan yang kubenci itu, wajahku jadi terlihat menyeramkan.


"Takuya-kun, tenang ya? Wajahmu terlihat agak menakutkan."


"…Maaf."


Dia menepuk pundakku pelan, dan aku menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri.


Walaupun aku teringat orang yang menyiksaku, orang-orang di sini tidak tahu apa-apa… jadi aku harus menahannya.


Tak lama kemudian Mina-san juga kembali, dan tibalah waktu makan malam.


Di atas meja tersaji berbagai hidangan yang tampak lezat… hanya dengan mencium aromanya saja rasanya sudah membuat bahagia. 


Dalam suasana itu, aku menangkupkan tangan.


"Selamat makan."


Yang pertama kali kuambil tentu saja nikujaga.


Sejujurnya aku masih merasa agak sungkan, tapi Mina-san dan Reina-san menatapku seolah ingin melihatku makan, jadi aku malah tidak bisa terus bersikap sungkan.


"…Amm."


Perlahan aku memasukkan potongan kentang ke dalam mulut.


Hangatnya pas dan lembut, semakin dikunyah semakin terasa kelezatannya menyebar di dalam mulut… ah, ini benar-benar enak.


"Enak sekali… benar-benar enak."


"Oh, terima kasih, Takuya-kun♪"


"Syukurlah ya, Ibu♪"


Tidak, serius… ini nikujaga terenak yang pernah kumakan.


"Ayo Takuya-san, makan yang banyak."


"Nasinya juga boleh tambah."


Didorong oleh suara mereka, tanganku terus bergerak tanpa henti.


Aku berkali-kali mengatakan betapa enaknya makanan itu. Aku sempat khawatir akan terdengar berlebihan, tapi setiap kali aku mengatakannya, mereka selalu tersenyum lembut… meja makan yang menghangatkan hati seperti ini membuatku teringat pada almarhum nenekku.


Hubunganku dengan orang tua tidak baik, tapi aku sangat dekat dengan nenekku.


Akhir-akhir ini aku hampir tidak pernah mengingat masa lalu, tapi mungkin karena sekarang hatiku sedikit lebih lega, kenangan lama itu kembali terasa jelas.


"Takuya-san…?"


"Kamu tidak apa-apa?"


"…Eh?"


Tiba-tiba mereka berdua menatapku dengan ekspresi bingung.


Aku juga bingung kenapa mereka melihatku seperti itu, tapi segera aku menyadari alasannya.


Ternyata aku sedang menangis.


Tanpa kusadari, air mata mengalir di pipiku.


"Ma-maaf…!"


Aku segera menghapus air mata, tapi tetap saja air matanya tidak berhenti. Bahkan kalau pun berhenti, fakta bahwa aku sudah menangis tidak akan hilang.


Padahal mereka sudah mentraktirku makanan yang begitu lezat, tapi sekarang aku malah membuat Mina-san dan Reina-san khawatir.


"…Haha, gawat."


Aku mencoba tertawa untuk menutupi, tapi ekspresi mereka tidak berubah.


…Sepertinya lebih baik aku menjelaskan kenapa aku menangis.


"Ehm… aku hanya merasa sangat tersentuh, dadaku terasa hangat. Aku… sudah lama tidak makan makanan seenak ini, dan sejak menjadi pekerja kantoran aku tidak pernah bisa bersantai dalam suasana yang hangat seperti ini."


"Ah…"


"Takuya-kun… kamu…"


Walaupun sudah menjelaskannya, mungkin aku seharusnya tidak mengatakan hal yang begitu muram…


Saat aku hendak meminta maaf, Mina-san dan Reina-san berdiri dan mendekat ke sisiku.


Tatapan mereka sejak tadi memang lembut, tapi sekarang ketika mereka menatapku dari atas pun terasa sangat lembut—seolah memberitahuku bahwa di sini tidak ada musuh… hanya ada orang yang bisa membuatku merasa aman.


"Ibu, ini sudah jelas… kan?"


"Ya… ini jelas tidak bisa kita abaikan."


"Eh… Mina-san? Reina-san?"


Mereka bertukar kata singkat dan saling mengangguk.


Apa yang terjadi?


Dengan senyum yang bercampur keseriusan, Mina-san yang pertama berbicara.


Dia dengan lembut menggenggam tanganku dan berkata,


"Seperti yang aku katakan di kamar mandi tadi, silahkan tinggal di sini selama yang kamu butuhkan. Yang Takuya-san butuhkan sekarang adalah waktu untuk mengistirahatkan hatimu."


Mina-san membungkus tanganku dengan kedua tangannya.


Kata-katanya meresap ke dalam hatiku yang sudah lelah… begitu nyaman sampai-sampai aku hampir saja langsung mengangguk.


Saat aku dalam keadaan seperti itu, Reina-san menambahkan kata-kata lagi.


"Seperti kata Mina, tinggallah di sini untuk sementara. Setelah mendengar ceritamu, rasanya tidak mungkin kami membiarkanmu begitu saja."


"Ah…"


Mina-san menggenggam tanganku, sementara Reina-san menatapku dengan lembut.


"…………"


Aku… sebenarnya ingin bagaimana?


Jawabannya sudah jelas… aku tahu aku tidak seharusnya mengangguk, tapi tetap saja aku…


"…Kalau begitu, mohon bantuannya."


Seolah berpegangan pada kebaikan dan kehangatan mereka, akhirnya aku mengangguk.


Begitulah, untuk sementara waktu aku akan tinggal di rumah keluarga Anzai.


Aku tidak tahu sampai kapan aku akan berada di sini… tapi yang ada di hatiku sekarang hanyalah rasa terima kasih yang besar kepada mereka.


(Aku baru mengenal mereka sebentar… tapi kenapa mereka bisa sebaik ini… tapi aku tidak boleh terus bergantung pada mereka.)


Menerima bantuan berarti juga merepotkan mereka.


Mungkin Mina-san dan Reina-san tidak berpikir begitu, tapi aku sendiri tidak bisa membenarkannya… meskipun kehangatan ini membuatku ingin terus bergantung pada mereka, bahkan sampai rasanya tidak ingin berpisah, aku tidak boleh terlalu memanjakan diri.


Tapi… kalau aku meninggalkan tempat ini, mungkin aku tidak akan pernah lagi bertemu orang sebaik mereka. Memikirkan itu membuat tekadku menjadi goyah—mungkin itu adalah kelemahanku.


(…Mulai sekarang, hidupku akan jadi bagaimana ya?)


Aku tidak tahu apa yang akan terjadi.


Tapi untuk sekarang, aku akan menikmati kebaikan dan kehangatan ini.


Namun suatu saat nanti… ketika waktunya tiba, aku hanya perlu mengucapkan terima kasih dengan senyuman, lalu berpisah dengan mereka.


Itulah yang mungkin paling benar.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close