NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Jinsei ni Tsukare Tadorisuita Mura de, Bijotachi ga Ore o Hanasanai de Kurenai V1 Chapter 5

 Penerjemah: Flykitty

Proffreader: Flykitty


Chapter 5

Pengepungan Manis seperti Madu

"……aku malah keluar rumah begitu saja."


Hari ini hari Minggu, jadi benar-benar hari libur penuh.


Sudah pasti Mina dan Reina-san akan berada di rumah sepanjang hari, tidak ada rencana apa pun, dan aku tahu kami akan bersama terus.


Tapi, aku justru berjalan di luar seperti ini.


Alasannya… bukan karena aku tidak ingin bersama mereka, hanya saja aku ingin sedikit waktu untuk menenangkan diri.


"……yah, ada juga sedikit rasa malu sih."


Yang teringat adalah kejadian tadi malam… semua percakapanku dengan Mina.


Yah, pijatan bahu dari Reina-san juga cukup membekas di ingatan… pokoknya, aku hanya ingin waktu sebentar untuk menenangkan diri.


"Desa ini… benar-benar tenang ya."


Desa Minori ini dikelilingi alam yang kaya, air sungainya jernih dan udaranya segar.


Jelas berbeda dari kota tempat aku dulu terbiasa tinggal… bukan berarti aku merendahkan kota, tapi perasaan seperti ini sekarang hanya bisa aku rasakan di Minori.


"Sudah berkali-kali aku bilang, tapi tempat ini benar-benar bagus…"


Hei, diriku di masa lalu yang mungkin masih bekerja di perusahaan… hidup di desa itu enak, tahu?


"……haha, hidup di desa itu enak."


Karena itu hal penting, jadi aku mengatakannya dua kali.


Saat aku berjalan tanpa tujuan seperti biasa, aku tiba di depan sebuah tanah kosong tempat anak-anak berkumpul dan bermain.


"……mereka energik sekali."


Padahal di luar lumayan panas, tapi mereka tetap asyik bermain sepak bola.


Waktu sudah jadi anak SMP dulu, aku malah lebih sering di rumah main game, tapi saat masih SD aku juga sering berkumpul dengan teman-teman bermain sepak bola atau baseball.


"Ah, Onii-san~!"


"Hm?"


Saat itu, seorang anak laki-laki melambaikan tangan ke arahku.


Yang dia maksud kakak itu aku ya… dari sudut pandang mereka sebenarnya tidak aneh kalau aku dipanggil paman, tapi tetap saja lebih baik dipanggil kakak daripada paman.


"Tolong ambilkan bolanya~!"


"Oh, jadi begitu… serahkan padaku!"


Aku menendang kembali bola yang menggelinding mendekat.


Anak-anak itu serempak melambaikan tangan sambil berterima kasih… ah, pemandangan yang sangat menenangkan.


"……tapi, orang tua mereka tidak ada?"


Yang ada di tanah kosong ini hanya anak-anak, tidak terlihat orang dewasa.


Mungkin saja ada di dekat sini, tapi setidaknya tidak terlihat dalam pandanganku.


Dunia sekarang cukup berbahaya, membiarkan anak-anak sendirian seperti ini sebenarnya berisiko.


Namun di desa Minori ini, orang-orangnya terasa begitu baik sampai sulit membayangkan kejadian berbahaya seperti itu.


"Onii-san."


"!? "


Di tengah pikiranku, tiba-tiba suara itu membuatku terkejut.


Siapa ya? Saat aku melihat ke bawah, ternyata anak laki-laki yang tadi bolanya aku tendang kembali… kenapa dia datang ke sini?


"Onii-san… sendirian?"


"Hah? Ah iya, aku sedang jalan-jalan."


"Kalau begitu, mau bermain dengan kami?"


"……hah?"


Bermain dengan mereka…?


Mata anak laki-laki yang menatapku penuh harapan, dan anak-anak lain yang melihatku juga memiliki pandangan yang sama… rasanya sulit untuk menolak ini.


"Kalau sebentar tidak apa-apa. Tapi memang boleh?"


"Boleh! Teman-teman! Onii-san ini mau bermain dengan kita!"


Begitulah, anak laki-laki itu menarik tanganku.


Setelah itu… yah, sambil berusaha sebisa mungkin berhati-hati terhadap anak-anak kecil, aku menghabiskan waktu yang menyenangkan bersama mereka.


Mungkin karena selama ini aku hidup sebagai budak perusahaan di perusahaan hitam, aku cepat sekali berkeringat banyak dan langsung kelelahan, itu agak memalukan, tapi tetap saja aku merasa puas karena sudah berolahraga dengan baik.


"Onii-san, benar-benar tidak apa-apa?"


"Iya. Ini sebagai ucapan terima kasih karena kalian mengajakku bermain."


"Terima kasih!"


"Yay~!"


Setelah selesai bermain, aku membelikan minuman jus untuk anak-anak yang berkumpul itu.


Untung saja ada mesin penjual otomatis di dekat sini… sekarang aku sendiri mau minum apa ya.


"……eh, kalian tidak minum?"


Saat aku masih memilih minuman, anak-anak itu bahkan belum membuka tutupnya.


Mereka bisa saja membawanya pulang untuk diminum, atau meminumnya di sini, atau minum sambil mengobrol dalam perjalanan pulang… sebenarnya bebas saja.


"Kami menunggu sampai Onii-san membeli."


"Ayo minum bersama!"


"Makanya kami menunggu!"


"……Ahaha, begitu ya. Kalau begitu aku harus cepat membeli."


Biarkan aku mengatakan satu hal saja──anak-anak ini baik sekali.


Yah, saat bermain bersama tadi aku sudah menyadarinya, tapi di usia semuda ini mereka sudah punya kebaikan hati untuk memikirkan orang lain seperti itu… sepertinya mereka akan tumbuh menjadi orang dewasa yang hebat nanti.


Dengan perasaan agak terharu, aku juga membeli minuman.


Lalu setelah semua membuka tutupnya, kami minum dengan tangan di pinggang sambil meneguknya sekaligus, tapi melihat anak-anak itu minum dengan pose yang sama persis denganku rasanya agak lucu.


"Sampai jumpa Onii-san!"


"Ketemu lagi~!"


"Bye-bye~!"


"Iya, hati-hati di jalan pulang."


Anak-anak itu pergi sambil melambaikan tangan besar-besar.


Mereka anak-anak yang ceria dan baik… tapi anak itu, apakah dia murid di kelas yang Mina tangani?


Walaupun begitu, tidak ada cara untuk memastikan, tapi yang jelas aku sudah berkeringat dengan baik dan menikmati waktu yang menyenangkan.


"……eh?"


Saat itu aku menyadari sosok seseorang.


Aku tidak tahu sejak kapan dia berdiri di sana, tapi karena sudah melihatnya rasanya aneh kalau tidak menyapa, dan lebih dari itu aku merasa dia berada di sana karena aku ada di sini.


Saat aku mengangkat tangan memberi tanda bahwa aku menyadarinya, dia──Yua berjalan perlahan ke arahku.


"Selamat pagi, Tak-kun."


"Ah, selamat pagi Yua."


Aku bertemu Yua lagi setelah kemarin… pertemuan yang lebih cepat dari yang kukira.


Setelah percakapan kemarin, tidak ada lagi kecanggungan di antara kami, jadi bertukar sapaan seperti ini terasa alami.


Aku juga tersenyum, begitu pula Yua.


"Sejak kapan kamu di sini?"


"Sekitar sepuluh menit yang lalu. Aku sedang jalan-jalan untuk menyegarkan pikiran, lalu mendengar suara anak-anak yang ramai. Jadi aku mengintip, dan ternyata Tak-kun ada di sini. Kejadiannya juga baru kemarin, jadi kupikir ini waktu yang pas──"


Saat dia sedang berbicara, tiba-tiba angin bertiup cukup kencang.


Arus udara yang seakan menyembur dari tanah ke udara itu melewati bawah paha Yua dan mengangkat rok pendeknya.


Pakaian Yua seperti biasa adalah mini dress yang terlalu pendek… pertahanannya benar-benar rendah.


"!? "


Aku refleks mengalihkan pandangan, tapi aku sudah melihatnya dengan jelas.


Di balik rok yang terangkat ringan itu… pakaian dalam renda hitam, terlihat begitu jelas.


Angin berhenti, dan aku perlahan mengalihkan pandangan kembali ke arah Yua.


Dia menahan rok dengan satu tangan, wajahnya memerah sambil menatapku sedikit lebih tajam… karena matanya agak sipit ke atas, tatapannya hampir terlihat seperti sedang memelototiku, tapi kali ini memang salah angin, tapi aku juga salah! …walaupun rasanya tidak adil, tetap saja aku juga salah!


"Umm… maaf."


Jadi sebaiknya aku jujur saja dan meminta maaf… ya.


Aku sempat khawatir, setelah kami akhirnya bisa akrab, hubungan kami akan jadi canggung lagi karena ini, tapi sepertinya kekhawatiran itu tidak perlu.


"Ya sudah… sebenarnya kau tidak perlu minta maaf, kan? Memang sih aku juga jadi malu karena celanaku terlihat, jadi aku sempat melotot sedikit… tapi yang barusan itu benar-benar kecelakaan kok."


"……Kalau kamu bilang begitu aku lega."


Saat aku berkata begitu sambil tersenyum, Yua juga terkikik kecil.


Namun angin tadi rupanya memang suka usil. Sekali lagi ia melintas cepat di antara kedua paha Yua, dan tepat saat Yua melepaskan tangannya, rok itu kembali terangkat.


"…………"


"…………"


Untuk yang kedua kalinya ini, aku juga tidak mengalihkan pandangan.


Memang momen yang cukup memalukan untuk dilihat, tapi sampai sejauh ini justru membuatku santai dan malah tertawa.


"Itu… anginnya benar-benar terlalu gigih ya?"


"Iya, seperti angin mesum saja."


Yah, meskipun begitu wajah Yua masih sedikit merah.


Karena aku yang habis berolahraga dan Yua yang sedang berjalan-jalan sama-sama berkeringat, kami pindah ke mesin penjual otomatis yang ada di dekat situ. Aku membeli dua botol teh dan memberikan satu kepada Yua.


"Nih, aku yang traktir."


"Boleh? Terima kasih, Tak-kun."


Yah… aku sudah melihat celananya dua kali.


Tentu saja aku tidak mengatakan itu, tapi di hari panas seperti ini penting untuk minum.


Kami duduk di bangku yang ada di dekat sana dan membasahi tenggorokan yang kering dengan teh dingin.


"Aaah, rasanya hidup kembali."


"Teh dingin setelah berkeringat benar-benar enak."


Kami meneguknya dengan bunyi puas dan menghabiskan teh itu sekaligus.


Setelah membuang botol plastik yang sudah kosong ke tempat sampah, aku kembali menghadap Yua.


"Tak-kun suka anak-anak ya?"


"Hah? Kenapa?"


"Soalnya tadi kamu kelihatan sangat senang bermain, dan wajahmu juga terlihat lembut."


"Ah… yah memang menyenangkan sekali. Awalnya hanya kebetulan saja, tapi kalau mereka terlihat sangat senang seperti itu tentu aku juga jadi ikut senang."


Waktu yang benar-benar kami habiskan untuk bermain sebenarnya hanya sebentar, tapi tetap saja sangat menyenangkan.


Ngomong-ngomong, Yua juga memberitahuku tentang anak-anak tadi. Ternyata mereka memang murid SD tempat Mina bekerja, dan saat hari libur mereka sering bermain di sini atau di lapangan sekolah.


"……Ahh, rasanya aneh."


"Aneh bagaimana?"


"Bukankah begitu? Rasanya seperti bahan candaan yang bisa diingat seumur hidup. Kalau memikirkan bagaimana kita pertama kali bertemu, situasi seperti ini… ya kan? Aku sama sekali tidak menyangka kita bisa akrab seperti ini."


"Kalau itu… memang benar."


"Itulah kenapa aku bilang rasanya aneh."


Begitu ya… memang benar, aku juga merasakan hal yang sama.


Tapi ini kesempatan yang bagus, jadi aku memutuskan untuk mengatakan apa yang kupikirkan saat itu.


"Soal kejadian waktu itu, sebenarnya aku benar-benar tidak mempermasalahkannya."


"Kamu juga bilang begitu kemarin, kan? Kenapa?"


"Kenapa ya… mungkin karena aku baru saja bersama bajingan yang begitu menyebalkan sampai sikapmu waktu itu malah terasa lucu."


Ya, memang itu.


Dibandingkan dengan atasan sialan dan lingkungan kerja di perusahaan itu, apa yang Yua katakan padaku waktu itu benar-benar terasa ringan.


"Ah, Mina sempat menceritakan sedikit keadaannya… jadi begitu ya?"


Aku mengangguk lalu melanjutkan.


"Mungkin aneh kalau aku bilang sendiri, tapi perusahaan tempatku bekerja dulu benar-benar perusahaan hitam. Di sana menghina kepribadian orang sudah jadi hal biasa, bahkan kata-kata seperti 'mati saja' juga sering diucapkan… aku sudah sering menerima kata-kata kasar seperti itu. Jadi saat Yua mengatakan macam-macam kepadaku aku memang kaget, tapi tidak sampai merasa sakit hati."


"……Separah itu ya."


"Aku sampai muak dengan semuanya, sampai tanpa sadar aku malah terdampar di tempat ini."


Benar juga… karena sudah muak dengan segalanya, akhirnya aku sampai di sini.


Tapi sekarang bagaimana?


Dulu semuanya terasa tidak penting, tapi sekarang kehidupan di sini menjadi sesuatu yang sangat berharga bagiku… mungkin suatu saat aku harus pergi dari sini, tapi memikirkan bahwa aku ingin tetap tinggal di sini selamanya membuatku merasa aneh sendiri.


"Oh iya, selain itu aku juga berpikir kalau di sisi Mina ada seseorang yang bisa mengatakan hal seperti itu dan melindunginya. Aku pikir dia punya sahabat yang sangat baik."


"Ti-tidak kusangka kau memikirkan hal seperti itu… uuu."


"Lagipula, saat kamu kembali setelah merasa sudah keterlaluan, dari situ saja aku sudah merasa bahwa pada dasarnya kamu anak yang baik."


"……Aaaaaaaaah! Semakin aku mendengarnya semakin aku merasa malu pada diriku sendiri!?"


Yua berteriak keras seolah tidak bisa menahannya lagi.


Melihatnya seperti itu membuatku sedikit ingin menggodanya, jadi aku melemparkan pertanyaan yang agak usil.


"Ngomong-ngomong, hari itu setelah pulang kau memikirkan apa?"


"Eh!?"


"Saat aku memikirkanmu seperti itu, aku jadi penasaran kau memikirkan aku seperti apa."


"……Maaf, benar-benar maaf!"


Sebenarnya tanpa bertanya pun aku sudah tahu apa yang dipikirkannya, tapi sebaiknya aku berhenti menggodanya.


Namun reaksinya terlalu lucu, jadi aku terus tertawa sampai akhirnya dia menatapku tajam seolah berkata cukup.


"Ya ampun… sudah lama sekali aku tidak digoda seperti ini. Maksudku, Tak-kun memang lebih tua ya."


"Maksudmu?"


"Cara menggoda atau cara memilih kata-kata saat bicara denganku."


"Padahal bedanya cuma dua tahun."


"Itu sudah cukup."


Tiba-tiba Yua mendekatkan jarak di antara kami.


Cara dia mendekat itu mengingatkanku pada Mina dan Reina-san, sampai aku refleks berseru pelan dan sedikit bersandar ke belakang.


Melihat reaksiku, Yua tersenyum nakal lalu mendekatkan wajahnya lagi dan berbisik.


"Hmm? Sepertinya Tak-kun tidak terbiasa dengan yang seperti ini ya? Padahal Mina dan Reina-san selalu ada di dekatmu."


"B-bukan berarti aku jadi terbiasa… bahkan kalau wanita secantik mereka selalu berada di dekatku saja sudah membuatku terus berdebar."


"Kalau begitu, berarti aku yang sekarang ada dekatmu ini juga termasuk wanita yang sangat cantik dong?"


"Kalau dilihat bagaimanapun Yua juga sangat cantik. Serius, wanita secantik Mina, Reina-san… dan Yua itu jarang sekali aku lihat."


Aku jadi merasa malu dan tanpa sadar mengatakan itu begitu saja, tapi setelah mendengar kata-kataku Yua terdiam sebentar lalu wajahnya memerah dan panik.


"T-tunggu, kenapa kau bisa mengatakannya dengan begitu lurus!? Tak-kun pasti playboy kan! Pasti sebenarnya kau punya banyak pacar!"


"Mana mungkin! Seumur hidupku aku bahkan belum pernah punya pacar, pengalaman soal itu juga nol… ah, maaf aku malah membicarakan hal seperti ini dengan perempuan. Maksudku… aku memang belum pernah punya pacar… benar-benar belum pernah…"


"S-sampai segitunya jangan langsung murung begitu… tapi maaf ya Tak-kun. Aku yang salah kan? Maaf ya, benar-benar maaf."


"Tidak perlu minta maaf… malah kalau kamu terus minta maaf aku jadi merasa semakin menyedihkan, jadi tolong hentikan."


Sebenarnya kami ini sedang melakukan apa sih?


Tadi saling menyalahkan, lalu saling murung, percakapan yang bodoh seperti itu berulang, tapi pada akhirnya tanpa sadar kami berdua tertawa kecil.


Setelah cukup lama tertawa bersama, Yua berkata,


"Terlepas dari isi pembicaraan kita tadi, sudah lama sekali aku berbicara sambil memperlihatkan perasaanku seperti ini. Orang yang seumuran denganku di desa ini sedikit, dan bahkan kalau ada pun biasanya kami tidak membicarakan hal sedalam ini."


"Kalau itu aku juga sama… Mina memang ada, tapi selain dia orang yang seumuran denganku yang dekat sekarang hanya Yua."


Benar-benar hanya mereka saja yang bisa membuatku berbicara seakrab ini.


Kalau dipikir-pikir, hidupku dulu seperti permen karet yang sudah kehilangan rasanya, menyedihkan sekali. Tapi kalau itu semua ternyata membawa aku ke hari-hari sekarang, rasanya juga tidak buruk.


"Oh iya, sebenarnya ada satu hal yang membuatku merasa dekat denganmu, Yua."


"Dekat? Apa maksudnya itu?"


Dengan rasa penasaran yang jelas terlihat, Yua kembali mendekatkan wajahnya.


Mungkin kebiasaan dia memang seperti ini—sering mendekatkan wajah setiap ada kesempatan. Tapi kalau dipikir-pikir, mungkin saja pria brengsek yang dulu merendahkannya itu juga terpikat oleh gerakan kecilnya yang begitu alami namun memikat seperti ini?


Yah, meskipun begitu, apapun alasannya, apa yang dia lakukan pada Yua tetap tidak bisa dimaafkan… tapi tetap saja, rok Yua yang memang sudah pendek ditambah bagian dadanya yang terlihat jelas benar-benar menyiksa mata.


"Yua… kamu sangat menyayangi Yame-san… maksudku nenekmu, kan?"


"Eh? Iya… tentu saja."


"Aku juga… dulu begitu."


"Dulu?"


Lalu aku mulai menceritakan tentang nenekku.


Isinya sebenarnya sama seperti yang pernah kuceritakan kepada Mina dan Reina-san sebelumnya, tetapi karena Yua juga memiliki nenek yang dekat dengannya, entah kenapa kali ini terasa lebih mudah untuk diceritakan.


"Jadi begitulah… aku juga sangat menyayangi nenekku. Karena itu saat melihat bagaimana cara Yua memandang Yame-san, dan bagaimana Yame-san memandangmu, aku bisa merasakan bahwa kalian berdua benar-benar saling menyayangi."


"…Begitu kelihatannya ya."


Aku mengangguk dan melanjutkan.


"Sebagai seseorang yang juga pernah hidup bersama nenekku, sejak saat itu aku sudah berpikir bahwa kamu pasti orang yang sangat baik… dan ternyata memang benar, kan?"


"Kalau kau bilang begitu, agak sulit juga bagiku untuk menganggukinya sendiri… tahu?"


Sambil berkata begitu, Yua menatapku tajam, tetapi sama sekali tidak terasa menakutkan.


Aku tahu dia hanya merasa malu karena kata-kataku. Tapi sebenarnya aku tidak bermaksud membuatnya malu… itu hanya kata-kata yang benar-benar ingin kusampaikan dari hati.


Setelah beberapa saat menatapku tajam, Yua menghela napas.


"Haa… sekarang aku mengerti kenapa Mina dan Reina-san sangat menyukaimu. Kalau ada orang seperti ini di dekat mereka, wajar saja mereka jadi seperti itu."


Dia mengatakan itu sambil memalingkan wajahnya, lalu kembali menatapku.


Karena sekarang aku sudah tahu seperti apa kepribadiannya, rasa gugupku sudah hilang. Tapi tetap saja, ditatap terus tanpa berkata apa-apa membuatku merasa agak geli.


"Ngomong-ngomong."


"Ya?"


"Ini juga sebenarnya pernah dibilang Mina… tapi, Tak-kun, kau suatu saat berniat meninggalkan desa ini?"


"…………"


Aku tidak bisa langsung menjawab pertanyaan itu.


Aku tahu tidak mungkin selamanya merepotkan mereka… aku mengerti itu, dan mungkin memang tidak ada pilihan yang lebih benar selain pergi.


Tapi aku tidak ingin meninggalkan hari-hari yang kujalani di rumah keluarga Anzai… aku terus memikirkan betapa aku tidak ingin melepaskan rasa aman dan kenyamanan yang kurasakan di rumah itu.


"Jadi kau masih ragu?"


"…Kurang lebih begitu. Sebagai manusia aku tidak bisa terus bergantung pada mereka… tapi tempat itu terlalu nyaman… jujur saja aku tidak ingin pergi dari sini."


Aku tertawa kecil setelah mengatakannya, tetapi ekspresi Yua tetap serius.


Melihat ekspresinya membuatku sempat berpikir bahwa jawabanku mungkin tidak dia sukai, tetapi kata-kata yang keluar dari mulutnya justru sama sekali tidak perlu dikhawatirkan.


"Pada akhirnya yang memutuskan tetap Tak-kun. Tapi kalau menurutku… aku ingin kau tetap tinggal di desa ini."


"…………"


"Seperti Mina dan Reina-san yang menyukaimu, setelah berbicara seperti ini aku juga merasa begitu. Kalau Tak-kun pergi, mungkin aku akan sedih sampai menangis."


"Sampai segitunya?"


"Entah benar-benar menangis atau tidak, tapi setidaknya aku sudah merasa ingin lebih akrab denganmu. Tak-kun, kalau kau merasa nyaman di sini, kenapa tidak tinggal saja selamanya? Kalau begitu aku juga akan senang."


…Aku benar-benar kewalahan.


Aku juga pernah merasakan hal yang sama ketika Mina dan Reina-san mengatakan hal serupa, tapi ternyata ditahan seperti ini benar-benar membuatku bahagia… ketika seseorang mengatakan itu tanpa sedikitpun niat buruk, hanya karena mereka menyukaimu, tekadku jadi goyah.


"Setelah akhirnya bertemu dan bisa akrab seperti ini… bahkan aku merasa mungkin aku tidak akan pernah lagi bertemu lawan jenis seumuran yang cocok denganku seperti ini. Setelah berbicara hari ini dan mengenal kepribadianmu, itulah yang kurasakan."


…Orang-orang di desa ini benar-benar punya semacam daya tarik yang membuat orang lain dimanjakan.


Kalau dia terus mengatakan hal seperti itu, rasanya tekadku bisa hancur berkeping-keping. Tapi karena waktu sudah mendekati siang dan aku harus pulang, percakapan kami pun berakhir sampai di situ.


Namun saat kami berpisah, Yua menggenggam tanganku kuat-kuat dan berkata,


"Mungkin Mina dan Reina-san juga merasakan hal yang sama, tapi aku juga ingin Tak-kun tetap tinggal di sini. Jadi aku akan membuatmu merasa begitu—bahwa kau tidak ingin meninggalkan tempat ini, bahwa kau ingin terus tinggal di desa ini."


"Yua…"


"Kata-kataku tentang menyukaimu bukan bohong, tahu! Sampai jumpa!"


Dia melambaikan tangan besar-besar lalu berjalan pergi membelakangiku.


Aku berdiri di tempat itu beberapa saat sambil mencerna kata-katanya. Yang terus kurasakan di dalam dada adalah rasa bahagia… setelah mendengar sampai sejauh itu, mustahil hatiku tidak tersentuh, bahkan aku mulai berpikir mungkin memang tidak apa-apa kalau aku tetap tinggal di sini.


"…Padahal aku sudah memutuskan hanya tinggal sampai aku bangkit lagi… sial, semua gara-gara desa ini yang terlalu nyaman… gara-gara Mina dan yang lain."


Tidak… ini hanya karena aku sendiri yang ingin dimanjakan.


Apa yang harus kulakukan… apa sebaiknya aku lakukan… sambil terus menanyakan itu pada diriku sendiri, aku berjalan pulang.


Meskipun pikiranku dipenuhi masalah besar, langkah kakiku terasa ringan. 


Mungkin karena di tempat yang sekarang menjadi tujuan pulangku ada Mina dan Reina-san yang menungguku… pada akhirnya, itulah yang paling berarti.


▼▽


"Haa… kapan ya Takuya-san cepat pulang."


Sambil menghela napas, aku mengungkapkan rasa sepi karena Takuya-san tidak ada.


"Takuya-kun juga bukan anak kecil. Dia pasti ingin punya waktu sendiri juga, jadi tunggu saja dengan tenang."


"Aku tahu!"


Tanpa dibilang pun aku tahu!


Aku memalingkan wajah dari Ibu dengan kesal, tetapi melihat reaksiku Ibu hanya menghela napas kecil… hmph, itu sedikit membuatku kesal.


"…………"


Aku juga merasa aneh dengan diriku sendiri, tapi hanya karena Takuya-san tidak ada di dekatku seperti ini… entah kenapa aku jadi sangat memikirkannya.


"Kalau begitu aku ikut saja tadi."


"Kalau begitu tidak ada gunanya dia pergi sendirian."


"Aku hanya bercanda… iya, hanya bercanda."


"Siapa tahu."


Padahal Ibu sendiri juga ingin bersama Takuya-san….


Tapi seperti yang Ibu bilang, percuma saja ribut soal hal yang tidak bisa diubah, jadi aku mencoba menenangkan diri.


Aku meneguk teh barley dingin dari gelas, lalu pikiranku kembali pada kejadian tadi malam.


"…!"


Apa aku tadi malam sedikit keterlaluan ya.


Aku melakukan hal yang bisa membuatku berpikir seperti itu pada Takuya-san.


Menyuruhnya meremas payudaraku, tidur bersama… dan juga ciuman di pipi tepat sebelum tidur.


Di tengah-tengah itu aku sempat berpikir mungkin aku terlalu terburu-buru.


Tapi bagaimana ya… aku tidak bisa menahan perasaanku pada Takuya-san… atau mungkin karena setiap kali berada di depannya aku memang tidak bisa menahan diri.


"…Itu benar-benar waktu yang luar biasa."


Bukan hanya aku, Takuya-san juga bilang dia tidak keberatan.


Kalau dia sama sekali tidak menanggapi perasaanku tentu akan jadi masalah, tapi Takuya-san jelas menyadari keberadaanku sebagai wanita… itu memberiku keyakinan bahwa suatu hari nanti aku bisa mengisi seluruh bagian terdalam hatinya.


Benar… aku tidak akan membiarkan Takuya-san pergi ke mana pun.


Apa yang kukatakan padanya bukan bohong. Tempat ini akan menjadi tempat dia pulang… dan aku akan menjadi orang yang seumur hidup menyambutnya pulang.


"Bu?"


"Ada apa?"


Tapi tentu saja aku mengerti.


Bukan hanya aku yang ingin Takuya-san tetap di sini—ibu juga sama… dan kami berdua sama-sama jatuh cinta padanya.


"Sejak Takuya-san datang, aku merasa sangat bahagia. Bagaimana dengan Ibu?"


"Oh, bukankah kau sudah tahu jawabannya tanpa bertanya?"


"Memang sih, tapi aku tetap ingin mendengarnya."


Ibu tersenyum pahit lalu menjawab dengan percaya diri.


"Tentu saja. Aku tidak pernah merasa tidak puas dengan hari-hari kita berdua, aku selalu bahagia… tapi sejak Takuya-kun datang, aku jadi jauh lebih bahagia."


"Benar kan!"


Begitulah.


Pendapatku hampir sama dengan Ibu. Memang hari-hari kami sebelumnya tidak banyak berubah, tetapi tetap saja itu adalah hari-hari yang bahagia.


Sebagai seorang guru, sebagai anggota desa Minorimura, dan sebagai seseorang yang hidup bersama Ibu… hari-hari itu sangat berharga bagiku.


Namun sejak Takuya-san hadir di dalamnya, hari-hari itu berubah menjadi sesuatu yang bahkan lebih bahagia.


"Aku… ingin Takuya-san tetap tinggal di sini selamanya. Ini pertama kalinya aku begitu memikirkan seorang pria… sekarang aku bahkan tidak bisa melihat siapa pun selain dia."


"Hehe, berani sekali kau mengatakannya. Tapi aku juga sama—aku ingin melindungi Takuya-kun… ingin menyembuhkannya. Dan aku ingin dia tetap di sini, di sampingku, tanpa pergi ke mana pun."


Baik aku maupun Ibu memiliki perasaan yang sangat kuat terhadap Takuya-san.


Hari-hari yang dulu terasa biasa saja… berubah karena kehadiran seseorang bernama Takuya-san. 


Bahkan kami sendiri tidak menyangka bisa sampai sebegitu terpesonanya pada dia.


"Menurutku Takuya-kun punya banyak daya tarik, tapi yang paling menonjol tetaplah kebaikannya."


Aku mengangguk kuat mendengar kata-kata Ibu.


"Dia dalam beberapa hari ini benar-benar menjadi jauh lebih bersemangat. Waktu baru datang ke sini, dia benar-benar dalam keadaan yang membuatku khawatir sampai tidak bisa melepas pandangan darinya… tapi bahkan dalam keadaan seperti itu pun, Takuya-kun merasa tidak enak hanya menerima bantuan dari kita, jadi dia melakukan banyak hal untuk kita."


"Iya."


Kami sebenarnya hanya ingin Takuya-san beristirahat dengan tenang.


Itu karena kami ingin memperhatikannya, dan juga karena Takuya-san yang baru saja kami temui waktu itu terlihat sangat mengkhawatirkan… bagaimana ya mengatakannya… pokoknya seperti yang Ibu katakan, dia benar-benar dalam keadaan yang membuat kami cemas kalau tidak mengawasinya.


Bahkan dalam keadaan seperti itu, dia tetap berkata ingin melakukan sesuatu yang bisa dia lakukan, ingin membalas kebaikan kami… itu karena kebaikan hati yang dimiliki Takuya-san… dan yah, justru karena itulah aku semakin tergila-gila pada Takuya-san.


"Ngomong-ngomong… memang ya, Takuya-kun punya sisi yang mudah membuat orang terpikat. Yua-chan juga sepertinya lama-lama akan jadi seperti kita, tahu?"


"Ahaha… aku juga berpikir begitu."


Aku sebenarnya sejak lama ingin memperkenalkan sahabat terpentingku, Yua.


Namun ketika Yua pergi ke Tokyo, dia mengalami hal yang sangat buruk, dan karena itu dia sampai memiliki perasaan yang hampir seperti kebencian terhadap pria-pria dari Tokyo.


Jadi aku pikir itu akan sulit, dan justru karena itulah telepon itu terasa seperti kesempatan emas.


"Hei Mina… aku benar-benar salah besar tentang Tak-kun."


"Tak-kun…? Ah iya, kalau tidak salah kalian bertemu di supermarket, kan?"


"Iya iya. Cara memanggilnya juga mulai dari situ… lalu waktu itu aku bicara dengan Tak-kun dan ternyata dia sama sekali berbeda dari yang kubayangkan."


"Makanya aku sudah bilang sejak awal. Takuya-san bukan orang seperti yang kamu pikirkan, dia orang yang sangat baik."


"Apa dia orang yang luar biasa atau tidak aku belum tahu, tapi setidaknya aku tahu dia orang baik. Bahkan sampai aku merasa ingin bicara dengannya lagi kalau ada kesempatan."


Yua juga mulai memperhatikan Takuya-san hanya dari pertemuan singkat itu.


Tentu saja perasaan terbesar yang dia rasakan mungkin karena Takuya-san ternyata bukan orang jahat seperti yang dia bayangkan. 


Tapi karena mereka benar-benar saling bertukar kata, seperti aku yang menyadari kebaikan Takuya-san, Yua juga sepertinya merasakannya.


"Jadi, Yua sudah jatuh cinta pada Takuya-san?"


"Ke-kenapa tiba-tiba jadi begitu!? A-aku memang sadar kalau aku gampang terbawa perasaan, tapi tetap saja aku bahkan belum benar-benar mengenal Tak-kun!?"


Yua memang… yah, seperti yang dia akui sendiri, dia memang gadis yang mudah terpikat. Tapi apa dia sadar kalau reaksinya barusan sudah membuktikan segalanya?


Bagaimanapun juga, sebagai sahabat Yua aku bisa memastikan satu hal──pasti tidak lama lagi Yua juga akan mulai penasaran dengan Takuya-san, lalu ingin berada bersama Takuya-san… karena ada bagian dari kepribadian kami yang mirip, dan kalau aku saja sudah seperti ini, tidak mungkin Yua tidak tertarik pada Takuya-san.


"Yah, kalau aku sih sudah jelas punya perasaan padanya."


Saat Takuya-san menyentuh dadaku waktu itu, aku menjadi yakin.


Kalau suatu saat aku benar-benar menjalin hubungan seperti itu dengannya… kalau sekali saja kami sampai memiliki hubungan fisik… pada saat itu juga aku pasti akan sepenuhnya terikat pada Takuya-san.


Tubuhku… naluriku… menginginkan dirinya.


"Mina, tenangkan dirimu."


"Heh…?"


Tenang… maksudnya apa?


Aku tidak begitu mengerti kata-kata Ibu dan sempat bengong, tapi aku segera menyadarinya──ternyata sambil membayangkan tentang Takuya-san, tanpa sadar tanganku sudah bergerak ke arah dada dan selangkanganku.


Masa aku melakukan itu di depan Ibu… rasanya aku bisa mati karena malu.


Namun Ibu sama sekali tidak memandangku dengan hina. Malah dia mengelus kepalaku dengan ekspresi penuh kasih.


"Aku mengerti perasaanmu──rasanya seperti dari lubuk tubuh paling dalam kamu menginginkan dirinya. Justru karena itu, kita harus memastikan Takuya-kun tetap tinggal di sini, ya?"


"…Ya!"


Tentu saja… aku tidak akan pernah membiarkan Takuya-san pergi.


Saat aku bersemangat seperti itu, Ibu tiba-tiba mengatakan sesuatu.


"Ngomong-ngomong, Mina tidak masalah, kan? Bukan hanya kamu yang menaruh perasaan pada dia lho…"


"Aaah…"


Aku berpikir sebentar sebelum mengutarakan pendapatku.


"Menurutku tidak masalah. Selama kita mencintai Takuya-san bersama-sama dan tidak melepaskannya… maka Takuya-san akan menjadi orang berharga milik kita saja♪"


Tapi tetap saja, tidak boleh terburu-buru.


Yang Takuya-san butuhkan adalah rasa aman tempat dia bisa bergantung sepenuhnya, dan juga ketergantungan yang membuatnya tidak ingin pergi… yang penting adalah membuat perasaan itu semakin kuat dalam dirinya.


"Yah, walaupun aku mengatakan banyak hal, pada akhirnya kita hanya perlu semakin akrab dengannya. Lalu dari situ hubungan kita menjadi lebih dekat, dan kalau akhirnya kita menjadi hubungan yang tidak bisa saling meninggalkan… itu yang terbaik."


"Benar juga… ufufu♪ Membayangkannya saja sudah membuat jantungku berdebar."


Ibu juga sangat bersemangat, itu luar biasa.


Aku dengan cinta pertamaku, Ibu dengan cinta yang kembali menyala, dan Yua… aku belum tahu bagaimana nantinya. Tapi kalau Takuya-san tetap tinggal di sini, semuanya pasti akan menuju ke arah yang bahagia.


"Ayo kita berusaha, Ibu."


"Ya, ayo berusaha, Mina."


Bagus sekali, Ibu. Semangatnya benar-benar meluap.


Ibu yang terus tersenyum, mungkin karena membayangkan Takuya-san, kembali fokus pada pekerjaan di tangannya… membungkus karya kerajinan tangannya. Jadi agar tidak mengganggunya, aku meninggalkan tempat itu.


Lalu aku menuju ke pintu masuk rumah, dan keluar.


Takuya-san pasti akan segera pulang, dan aku ingin menyambutnya di sini.


"…Hehe, sebenarnya seberapa besar sih aku ingin berada bersama Takuya-san?"


Semakin lama aku menghabiskan waktu bersama Takuya-san, semakin kuat perasaan ini.


Sejujurnya aku sendiri juga sangat terkejut. Bayangkan saja, aku hanya berteduh dari hujan di halte bus dalam perjalanan pulang, lalu kebetulan seorang pria yang tidak kukenal datang dengan tujuan yang sama… dan sekarang aku memikirkannya sampai sejauh ini.


"Mungkin inilah yang disebut takdir."


Sejak saat itu, aku sudah mulai memperhatikan Takuya-san.


Saat dia dengan lembut memegang tanganku dan menempelkan plester… atau lebih tepatnya, kebaikan hatinya membuatku teringat pada Ayah yang sudah meninggal. Tapi pada akhirnya, alasan sebenarnya sederhana saja: Takuya-san yang baru kutemui itu memang tipeku.


—"Haa…"


—"Kamu juga berteduh dari hujan?"


—"Eh?"


Benar! Pada saat pertama kali kami bertukar kata itu, sebenarnya aku hampir seperti jatuh cinta pada pandangan pertama.


Dan dari sedikit percakapan yang kami lakukan, suasana yang dimiliki Takuya-san, serta ekspresi gelapnya yang terlihat sangat lelah karena pekerjaan seolah-olah dia bisa menghilang kapan saja… semua itu justru membuatku semakin penasaran padanya.


"Memang agak sulit mengatakan aku juga menyukai ekspresi gelapnya, tapi jatuh cinta pada pandangan pertama memang kadang menakutkan ya."


Dari situ juga aku menyadari sesuatu: kalau aku sudah tertarik pada seseorang, aku ingin mendapatkannya dengan segala cara… sepertinya aku tipe orang seperti itu.


Itulah sebabnya waktu itu, meskipun kami baru saja bertemu, aku dengan berani masuk ke kamar mandi.


—"Permisi ya?"


—"!?"


Saat aku masuk ke kamar mandi hanya dengan melilitkan satu handuk mandi, ekspresi terkejut Takuya-san waktu itu memang sangat menarik… tapi sebenarnya, jantungku sendiri hampir meledak karena tegang. Namun aku menahannya… karena aku ingin Takuya-san lebih mengenalku.


"Aku benar-benar seperti orang yang maju tanpa pikir panjang."


Waktu itu aku hanya berlari lurus menuju cinta yang bahkan belum jelas akhirnya.


Tapi sekarang berbeda──sekarang aku sudah menghadapi Takuya-san dengan perasaan yang pasti, dan aku benar-benar ingin dia tetap tinggal di sini… aku tidak ingin dia pergi ke mana pun.


Tapi aku punya satu keluhan tentang Takuya-san!


"Takuya-san… kamu terlalu serius!!"


Benar sekali… Takuya-san terlalu serius!


Padahal aku dan Ibu hanya ingin dia tetap di sini, cukup berada di dekat kami seperti memanjakan diri saja sudah cukup, tapi Takuya-san menahan dirinya karena merasa sebagai manusia dia tidak boleh melakukan itu… dia sama sekali tidak mau jatuh pada kami!


"…Keberanian yang bagus ya, Takuya-san."


Kalau dia tidak mau jatuh, maka aku akan menunggu sampai dia jatuh.


Memang benar bahwa keinginannya untuk melakukan sesuatu berasal dari kebaikan hati dan keseriusannya, dan perhatian Takuya-san itu benar-benar membawa hasil baik bagi keluarga kami.


Aku juga senang diperhatikan, dan Ibu sangat terbantu dengan kerajinan tangannya maupun pekerjaan memotong rumput… tapi kalau begini terus, suatu saat Takuya-san akan pergi… dan itu benar-benar tidak boleh terjadi!


Seperti yang tadi kukatakan, kami harus membuat Takuya-san semakin bergantung… sampai dia tidak bisa membayangkan pergi dari sini bahkan untuk sesaat, kami akan membuatnya tenggelam sepenuhnya dalam diri kami.


"Ah…"


Dan saat itu, Takuya-san akhirnya kembali.


Dia melihatku dan mengangkat tangannya menyapa, jadi aku juga mengangkat tanganku untuk menyambutnya pulang.


"…Hehe♪"


Saat itu, tanpa sadar aku menjilat bibirku.


Aku benar-benar sangat menginginkan Takuya-san… jadi Takuya-san, bersiaplah ya?


Aku tidak akan pernah membiarkanmu lolos lagi.


"Selamat datang kembali, Takuya-san."


"Aku pulang, Mina."


"Ada apa? Wajahmu terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu yang berat."


"Ah… ya. Aku sedang memikirkan bagaimana langkahku selanjutnya."


"…………"


Hah?


Itu… bukan sesuatu yang bisa aku abaikan begitu saja, Takuya-san?


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close