Chapter 5
Apa yang Ada di Balik Transfer
Aku—Yurishia,
bersama Kuruto dan Lise (walaupun aku yakin Phantom juga ikut
membuntuti), sedang berada di reruntuhan peradaban Lapital di sebelah barat
Valhalla.
Tujuannya adalah
untuk mengembalikan Kristal Transfer orisinal yang dicuri oleh Vitukind
dan disembunyikan di dalam bengkelnya ke Batu Transfer asalnya.
Mimiko seharusnya
ikut, tapi tiba-tiba dia tidak bisa datang karena dipanggil oleh auditor
keuangan kerajaan terkait penyelesaian biaya pijat saat kami menginap di
penginapan air panas tempo hari.
Yah, itu
konsekuensi yang wajar, sih.
Terlepas dari
itu, aku lebih penasaran dengan tujuan dari alat Transfer ini.
Alat Transfer
tidak sempurna yang ditujukan untuk perpindahan ke dimensi tinggi. Saat
diaktifkan, ke mana sebenarnya kita akan terlempar?
Dugaanku,
kita hanya akan terbang ke Batu Transfer searah yang ada di bagian dalam
reruntuhan dekat Kota Samaera, tapi ada kemungkinan tidak sesederhana itu.
Karena
itulah, mengingat adanya risiko bahaya, Akuri ditinggal di rumah.
Aku tidak
ingin membuatnya khawatir lagi, jadi kami harus bergegas pulang sebelum hari
gelap.
Sambil
melangkah menuju ruangan tempat Batu Transfer berada, Lise menggerutu.
"Tempat ini
selalu saja bau debu, tak peduli berapa kali pun kita datang."
"Lise, kalau
mau mengeluh, harusnya kamu tetap di rumah saja menjaga Akuri."
"Duh, di
mana pun Kuruto-sama berada, di situlah jalan yang ditempuh Lise ini."
"Kamu
benar-benar tidak tergoyahkan ya."
Meski Lise
mengatakannya dengan sejelas itu, Kuruto yang seharusnya mendengar segalanya
sepertinya masih belum menyadari perasaan Lise.
Yah, soal itu aku tidak berniat ikut campur.
Jika mereka benar-benar menjalin hubungan, Lise harus
mengungkapkan identitas aslinya terlebih dahulu. M
eskipun aku yakin Lise tidak akan keberatan melepaskan
status bangsawannya demi Kuruto.
"Di sini tempatnya."
Di depan Batu Transfer, Kuruto menurunkan tasnya dan
mengeluarkan Kristal Transfer orisinal dari dalamnya.
Kristal Transfer yang biasa kami gunakan berukuran
kecil hingga bisa dijadikan aksesori, tapi Kristal orisinal ini adalah kristal
besar yang beratnya seribu kali lipat dari itu.
Menurut
penelitian Mimiko, zat penyusunnya tidak diketahui.
Rencananya,
setelah menyelidiki tujuan Batu Transfer ini, kristal tersebut akan
dilepas kembali dari dudukannya dan dibawa pulang.
"Baiklah,
aku pasang ya."
"Tunggu,
biar aku saja."
Alat sihir kuno,
alat Transfer—kita tidak tahu bahaya apa yang mengintai.
Aku menerima
kristal itu dari Kuruto dan memasangnya ke mesin.
Sesaat kemudian,
alat Transfer tersebut memancarkan cahaya terang dan mulai mengeluarkan
suara.
Suaranya
terdengar seperti ada sesuatu yang bergerak dengan kecepatan tinggi di dalam
mesin.
"Yuri-san,
apa yang Anda lakukan!?"
"Aku cuma memasang kristalnya!"
"Lise-san, Yurishia-san, tolong tenanglah. Mesinnya hanya sedang menyala
dengan normal."
Eh?
Normal?
Memang
sih, sepertinya tidak ada tanda-tanda... overload?
Masalahnya,
aku yang tidak tahu seperti apa kondisi normal atau apa yang terjadi jika mesin
ini meledak, tidak bisa memberikan penilaian.
Namun,
jika Kuruto bilang normal, maka itu pasti normal.
"Apa
kita sudah bisa berpindah dengan ini?"
"Iya.
Sepertinya ada dua lokasi tujuan. Kita bisa menggantinya dengan memutar sakelar di sini."
"Dua lokasi,
ya? Salah satunya pasti reruntuhan dekat Kota Samaera."
"Kalau
begitu, satu lagi ke mana?"
Aku tidak bisa
menjawab pertanyaan Lise. Mana mungkin aku tahu hal seperti itu.
"Aku yang
akan pergi."
"Mana boleh
begitu, Yuri-san. Itu berbahaya. Bagaimana kalau kita gunakan penjahat saja
untuk eksperimennya?"
Lise
mulai mengusulkan ide yang mengerikan.
"Tidak
bisa. Belum tentu di sisi lain tidak ada alat sihir yang berbahaya. Membiarkan
penjahat pergi ke tempat seperti itu justru lebih berisiko. Bisa saja begitu
sampai langsung diserang gerombolan monster. Dan ini mungkin saja alat Transfer
searah."
"Kalau
begitu, pakai saja boneka duplikat—"
"Bukankah
alat sihir pemindah jiwanya sudah dihancurkan?"
"Ugh, benar juga—padahal tadinya mau begitu."
Jangan-jangan Lise menyembunyikan sesuatu. Yah, pasti ada
alasannya, jadi aku tidak akan mendesaknya lebih jauh.
"Sudahlah, aku cuma akan pergi sebentar lalu kembali.
Tapi jika lewat sepuluh menit aku belum kembali, kalian harus membawa Kristal Transfer
ini dan pulang ke bengkel."
Setelah mengatakan itu, aku memakai masker gas, mengabaikan
larangan Kuruto dan Lise, lalu menyentuh Batu Transfer.
Sesaat kemudian, aku sudah berdiri di depan Batu Transfer
di lokasi yang asing.
Lantai
marmer, langit-langit, pilar... sepertinya aku berada di dalam sebuah bangunan.
Namun
ruangannya unik; keempat sisinya tidak memiliki dinding, dan di balik
pilar-pilar itu langsung terlihat pemandangan luar.
Di tengah
ruangan terdapat tangga menuju lantai bawah dan lantai atas.
Tidak ada
hawa keberadaan monster.
...Ruangan macam
apa ini? Baru kali ini aku melihatnya. Di mana sebenarnya aku?
Untuk memastikan
keamanan, aku berjalan ke tepi ruangan, dan pemandangan yang kulihat sungguh
sulit dipercaya.
Sepertinya aku
berada di puncak sebuah menara.
Terlebih lagi,
jauh di bawah sana kulihat hamparan lautan awan, dan saat mendongak ke atas,
langit malam membentang luas...?
Apa maksudnya
ini?
Jika aku melihat
lurus ke depan, hari masih siang, tapi saat melihat ke atas, sudah malam.
Lagipula, apa
benar-benar ada menara yang menjulang jauh melampaui awan?
Tepat saat aku
berpikir begitu, terdengar suara langkah kaki menuruni tangga. Itu bukan
langkah kaki binatang.
Jelas suara
langkah seseorang yang memakai sepatu.
Ada orang
di tempat seperti ini?
Aku
mencengkeram gagang Yukihana.
Di mataku
yang penuh kewaspadaan, hal pertama yang muncul adalah sebuah gaun. Gaun yang
tampak sangat mahal.
Dan sosok
yang perlahan menampakkan dirinya adalah seorang gadis dengan rambut berwarna
merah delima.
"Selamat
datang. Kamu adalah cucu dari Flora, ya?"
Suaranya
terasa misterius. Alih-alih suara wanita dewasa, suaranya lebih mirip
anak-anak—bahkan seusia Akuri.
Namun
cara bicaranya sangat mantap, sehingga kesan kekanak-anakannya tidak terlalu
terasa.
Flora adalah nama
nenekku. Tapi, kenapa dia bisa tahu kalau aku cucunya?
"Muridku
sudah memberitahuku bahwa kamu akan datang."
"Murid?"
Hanya ada satu
orang yang terlintas di pikiranku yang mungkin bisa memprediksi kedatanganku ke
sini. Bandana.
Tapi, sebaiknya
aku pura-pura tidak tahu dulu. Tepat saat aku hendak membuka mulut, gadis itu
kembali bicara.
"Iya, dia
yang memperkenalkan dirinya sebagai Bandana kepadamu adalah
muridku."
Pikiranku
dibaca!? Atau dia menebaknya dari ekspresiku?
"Sepertinya
Anda tahu banyak tentangku, tapi bagaimana kalau kita saling memperkenalkan
diri? Namaku Yurishia Element."
"Tentu, aku
sudah tahu. Panggil saja aku, Sage Agung."
"—!?"
Sage Agung!? Sage
Agung yang ada di surat ibunda Lise itu!?
Tidak, tapi surat
itu ditulis dua puluh tahun yang lalu. Wanita di depanku ini terlihat tidak
jauh berbeda usianya denganku.
Namun
dipikir-pikir, aku tidak tahu apakah dia benar-benar manusia atau bukan. Boneka
duplikat buatan Vitukind pun terlihat persis seperti manusia asli.
Jangan-jangan
wanita ini juga bukan manusia?
"Secara
garis besar, aku adalah manusia yang sama sepertimu. Hanya saja, sedikit
berbeda."
"Apa
maksudmu?"
"Sebelum
berbicara lebih detail, aku harus memberikan sebuah tawaran padamu."
Tawaran? Baru
sampai sini sudah diajak negosiasi? Kalau tawarannya cuma soal membayar uang,
itu masih ringan, tapi sepertinya tidak akan sesederhana itu.
"Apa
tawarannya?"
"Maukah kamu
menjadi muridku?"
Sage
Agung benar-benar mengatakan hal itu.
◆◇◆
Batu Transfer
bersinar, dan dari sana Yurishia-san muncul di hadapanku, Kuruto, dan Lise-san.
Syukurlah, benar-benar syukurlah.
"Yurishia-san! Apa yang terjadi? Kami sangat
khawatir."
"Benar sekali. Anda sudah terlambat lebih dari satu jam
dari waktu yang dijanjikan."
Sudah satu setengah jam berlalu sejak Yurishia-san melakukan
Transfer.
Padahal kami diminta pulang jika lewat sepuluh menit, tapi
karena kami tidak bisa meninggalkan beliau, akhirnya kami terus menunggu.
"Lebih dari satu jam—begitu ya, ternyata waktu sudah
berlalu selama itu. Padahal aku
sudah menyuruh kalian pulang jika lewat sepuluh menit... tapi, terima kasih
ya."
"Apa yang
terjadi di sana?" tanya Lise-san.
"Aku ingin
segera kembali, tapi ada banyak urusan. Di sisi lain aman, kok... Tak kusangka
setelah mendengar cerita seperti itu, aku malah akan dilempar ke tempat lain
lagi."
Hm? Bagian
terakhir suaranya terlalu kecil, aku tidak dengar dia bilang apa.
"Sebenarnya
terhubung ke mana?"
Saat aku
bertanya, Yurishia-san membentangkan peta kerajaan ini.
"Lokasi
tepat yang terhubung sekarang, jika dilihat di peta ini, kira-kira ada di
sini."
Titik itu berada
jauh di sisi barat, jauh di luar batas peta.
"Bukannya itu berarti wilayah Demon Territory!? Bukankah itu di tengah-tengah markas
musuh? Katanya aman—"
"Tunggu
dulu. Sulit dipercaya, tapi di dalam wilayah Demon Territory, ada sebuah
desa manusia yang memiliki otonomi sendiri."
"Desa manusia di wilayah Demon Territory!?"
seru Lise-san sambil membelalakkan mata.
Aku sendiri tidak terlalu paham soal Demon Territory,
tapi katanya itu tempat dengan banyak monster.
Memang aneh kalau ada desa manusia di tempat seperti itu.
"Awalnya aku pun tidak percaya, dan mereka juga waspada
padaku. Tapi kebetulan ada seseorang yang kukenal di sana. Dia yang menengahi
kami."
"Siapa orang itu?"
"Orang itu adalah—"
"Hildegard-chan!"
Di desa tujuan Transfer itu, ternyata ada teman masa
kecilku, Hildegard-chan.
Tidak hanya Hildegard-chan, Solflare-san juga ada
bersamanya.
"Sudah lama
tidak bertemu, meski tidak selama itu juga sih. Sebenarnya aku berencana
mengunjungimu, tapi karena ada urusan, aku terpaksa tinggal di desa ini.
Syukurlah kalian yang datang ke sini."
Lise-san
menatapnya tajam dan bertanya.
"Apa
maksudnya ini? Katanya ini desa otonomi manusia. Kenapa kamu ada di sini?"
"Aku akan
menjelaskannya di rumahku."
Lalu muncullah
seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun dengan rambut merah.
Eh? Pria ini sepertinya mirip seseorang.
Tidak, bukan cuma dia. Desa ini pun rasanya pernah kulihat
di suatu tempat.
Tak hanya pria
itu, entah dari mana penduduk desa mulai berkumpul dan menundukkan kepala
kepada kami.
"Selamat
datang, Kuruto-sama. Kami sudah lama menantikan kedatangan Anda."
"Eh?
Menungguku?"
Aku benar-benar
bingung.
"Namaku
Rugol, tetua di desa ini. Rumahku ada di depan sana. Silakan masuk, kita akan
bicara lebih detail di sana."
Kami mengikuti
Rugol-san masuk ke sebuah rumah besar di bagian dalam desa.
Rumahnya agak
tua, tapi terawat dengan sangat baik.
"Maaf,
karena kami ingin berbagi informasi, Yuri-san—bisakah Anda memberitahu semua
yang sudah dibicarakan dengannya tadi?" kata Lise-san.
"Tentu saja.
Pertama-tama, tempat ini adalah lokasi yang disebut Kampung Sword Saint
di jantung wilayah Demon Territory. Apakah kalian tahu nama
Arthur?"
Arthur-san?
Bukankah itu petualang pengelana yang mengajariku ilmu pedang di Desa Haste—
"Maksud Anda
Raja Pahlawan, kan? Kaisar pertama Kekaisaran Gurmak yang menggunakan Pedang
Suci untuk mengalahkan Naga Iblis, membebaskan wilayah yang dikuasai naga, dan
membangun kekaisaran dalam satu generasi."
"Iya,
tepat sekali."
Ah,
ternyata orang yang berbeda dengan Arthur-san yang kukenal. Aku jadi sedikit
malu.
"Lalu,
apakah kalian tahu bagaimana akhir hidup Arthur?"
"Seingat
saya, setelah menyerahkan takhta kepada putranya, beliau menghilang bersama
rekan-rekannya di usia muda... mungkinkah—"
"Benar,
tempat ini adalah desa yang dibangun oleh Arthur dan rekan-rekannya lebih dari
seribu tahun yang lalu."
"……Saya
terkejut. Jika itu benar, berarti kalian adalah keturunan dari garis darah
kekaisaran, bukan?"
"Kami
bukan orang hebat seperti itu. Kami hanya memiliki misi untuk melindungi tempat
ini di dalam desa ini. Tapi tetap saja, putra bodohku itu—"
Rugol-san sepertinya sedang marah. Apa dia sedang bertengkar dengan putranya?
"Ups, maaf.
Mari kita lanjutkan."
Rugol-san
berdehem karena merasa malu, lalu melanjutkan.
"Oleh karena
itu, kami telah melindungi tanah ini dari monster dan kaum iblis. Namun,
setelah seribu tahun desa ini berdiri, krisis yang belum pernah ada dalam
sejarah akan segera tiba."
"Krisis?"
Aku memiringkan kepala.
"Raja Iblis
akan menyerang. Raja Dewa Iblis—sosok terkuat di antara para Raja Iblis—telah
mengumpulkan kekuatan untuk membumihanguskan tempat ini. Hal itu sudah
disetujui secara resmi dalam pertemuan antar Raja Iblis—Walpurgis. Mendengar itu, aku bergegas ke
desa ini untuk menjelaskan situasinya. Meski aku kaum iblis, aku berada di
posisi netral terhadap desa ini."
"Eh? Hildegard-chan itu kaum iblis?"
"Iya. Kuruto, ras Horned Tribe sekarang disebut
kaum iblis. Kamu tidak tahu?"
Aku sama sekali
tidak tahu.
Karena kudengar
kaum iblis itu orang jahat, aku tidak bisa menghubungkannya dengan
Hildegard-chan sama sekali.
"Ngomong-ngomong,
satu-satunya Raja Iblis yang menentang invasi ke desa ini dalam Walpurgis
adalah aku, Sang Kaisar Tua."
Mendengar itu,
mata Lise-san membelalak.
"Tunggu
sebentar. Kaisar Tua adalah sosok yang disebut sebagai Raja Iblis tertua!
Katanya beliau sudah hidup lebih dari seribu tahun—"
"Iya. Aku
tidak ingat umur pastiku, tapi kira-kira aku sudah hidup seribu dua ratus
tahun."
""Eh?""
Aku dan Lise-san
berseru bersamaan.
Aku
benar-benar tidak mengerti. Hildegard-chan berumur seribu dua ratus
tahun?
"Kuruto, ikut aku sebentar."
Hildegard-chan menarik tanganku yang sedang kebingungan dan
membawaku keluar rumah.
"Lihatlah
baik-baik desa ini. Meski sudah banyak berubah, kolam itu, bukit itu, gunung
itu... kamu pasti mengenalinya."
"Eh?
Mengenali? Ini kan pertama kalinya aku ke desa ini..."
Begitu
mengucapkannya, aku kehilangan kata-kata.
Itu adalah
perasaan janggal yang kurasakan sejak tiba di desa ini.
Atau lebih
tepatnya, déjà vu.
Padahal
seharusnya ini pertama kalinya aku ke sini, tapi rasanya seperti pernah
berkunjung dulu kala.
Namun, saat
melihatnya perlahan seperti ini, bukan sekadar déjà vu, tapi pemandangan
yang pasti ada dalam ingatanku membentang di depan mata.
"Ini...
jangan-jangan..."
Di gunung itu,
aku sering membantu paman yang menggali mineral.
Di kolam itu, aku
sering memancing.
Di bukit itu, aku
meracik obat untuk Hildegard-chan yang terluka parah... Dulu waktu kecil
kupikir itu gunung besar, ternyata hanya bukit seperti ini.
"Kuruto,
sepertinya kamu sudah sadar."
"Iya, tidak
salah lagi. Tempat ini—lokasi ini, adalah Desa Haste tempat kita bertemu
sebelum aku pindah ke Pegunungan Scene!"
Tanpa
sadar aku berteriak begitu.
"Tapi,
desa ini benar-benar berbeda dengan Desa Haste yang kukenal."
"Tentu
saja. Karena sudah lebih dari seribu dua ratus tahun berlalu sejak Kuruto
meninggalkan desa ini."
Eh? Seribu dua
ratus tahun sejak aku pergi?
"Apa
maksudnya, Hildegard-chan?"
"Itulah yang
ingin kutanyakan. Desa Haste memang pindah dari sini ke Pegunungan Scene seribu
dua ratus tahun yang lalu, tapi setelah itu seluruh desa menghilang secara
misterius. Kupikir aku tidak akan pernah bertemu Kuruto lagi. Namun, baru-baru
ini Kuruto muncul di hadapanku. Setelah seribu dua ratus tahun."
Lise-san yang
mengikuti kami dari belakang bertanya dengan ragu-ragu.
"Kuruto-sama,
apakah indra waktu Anda normal? Apa Anda tahu berapa hari dalam setahun?"
"Tentu saja.
Kurang lebih adalah 365,242199 hari."
"Biasanya
orang tidak menghitung sampai angka di belakang koma, sih," celetuk Yurishia-san
di sebelahnya.
Tapi, aku tidak
peduli soal itu.
Aku tidak punya
ingatan telah menghabiskan waktu selama 440.000 hari dalam hidupku.
Dan yang
terpenting—
"Apa
maksudmu semua orang di Desa Haste menghilang, Hildegard-chan?"
"Ya begitu.
Meski aku sudah menyelidiki Pegunungan Scene—bukan, bahkan seluruh dunia—Desa Haste
tidak ada di mana pun."
"Mana
mungkin—"
Saat aku terdiam
kaku, Lise-san menimpali.
"Sulit
dipercaya kalau Kuruto-sama adalah orang dari seribu dua ratus tahun yang lalu,
tapi fakta bahwa Desa Haste tidak ditemukan itu benar. Mimiko-sama sudah
melakukan penyelidikan, baik bertanya ke desa sekitar maupun memeriksa gunung
secara langsung, tapi Desa Haste tidak ditemukan."
Apa maksudnya
semua ini?
Seolah menjawab
pertanyaanku, Hildegard-chan membuka suara.
"Kita akan
pergi menyelidikinya. Dengan mengirimkan kesadaran ke masa lalu dari
sini."
"Mengirim
kesadaran? Apa hal seperti itu bisa dilakukan?"
"Iya.
Sepertinya, di tempat inilah Roh Agung yang kalian panggil putri itu
diciptakan. Kekuatan Roh Agung itu adalah berpindah ke masa depan. Kemampuan Transfer
hanyalah efek sampingnya saja. Aku rasa alasan Kuruto muncul di masa depan
setelah seribu dua ratus tahun adalah karena keisengan Roh Agung Waktu."
"Keisengan
Akuri?"
"Iya. Dan
sebagai reaksi dari terciptanya Roh Agung yang memiliki kekuatan berpindah ke
masa depan, ada aliran Mana yang menuju ke masa lalu. Kita akan menggunakannya
untuk mengirim kesadaran ke masa lalu sementara waktu, lalu mencari tahu
penyebab terciptanya Roh Agung Waktu. Dengan begitu, kita mungkin tahu kenapa Kuruto
terlempar ke masa depan, dan kenapa Desa Haste menghilang."
"Cerita
yang kudengar tadi hanya sampai di situ. Setelah selesai mendengar penjelasan,
aku kembali untuk menjemput Kuruto dan Lise," Yurishia-san menambahkan,
tapi segalanya benar-benar sulit dipercaya.
Namun,
ada satu hal yang kupahami setelah mendengar cerita ini.
Arthur-san,
orang yang mengajariku ilmu pedang itu, ternyata meninggal di tempat ini
setelah menjadi Kaisar pertama Kekaisaran Gurmak.
Aku
merasa sedang bersentuhan dengan sejarah yang luar biasa.
Kami kembali
masuk ke rumah kepala desa. Kalau diingat-ingat, dulunya di sini memang ada
tempat pertemuan.
Tempat
berkumpulnya para orang dewasa, dan seingatku aku belum pernah masuk ke sini
sekali pun.
"Jadi, Hildegard-chan benar-benar sudah hidup selama
seribu dua ratus tahun?"
"Iya. Berkat
obat buatan Kuruto."
"…………Maaf."
"Ini bukan
sindiran, kok. Memang ada kalanya aku merasa kesal, tapi aku bersyukur bisa
menjadi abadi. Tapi jangan salah paham ya, meski abadi, tubuh ini bisa mati
dengan mudah kalau aku memang ingin mati. Yah, meski tubuh ini sedikit lebih
kuat dari kaum iblis lainnya. Jadi, alasan aku tidak mati adalah atas
kehendakku sendiri."
"Benarkah?"
"Iya, benar.
Lagipula aku sudah menyandang posisi Raja Iblis, ada banyak tanggung jawab.
Bukannya aku terus hidup karena berharap bisa bertemu Kuruto lagi atau apa,
ya."
Iya, mana mungkin
dia mau hidup selama seribu dua ratus tahun demi orang sepertiku yang bahkan
tidak jelas masih hidup atau tidak.
Tanpa diberitahu
pun aku sudah paham. Begitu ya, Hildegard-chan memang punya rasa tanggung jawab
yang kuat.
Kalau aku...
Akuri sepertinya seorang Roh jadi mungkin dia bisa hidup selamanya, tapi
orang-orang yang sudah akrab denganku—Golnova-san, Marlefiss-san, Bandana-san, Sina-san,
Kance-san, Danzo-san, bahkan Yurishia-san dan Lise-san—aku tidak akan sanggup
jika mereka semua mati dan hanya aku yang tertinggal sendirian.
"Tsundere."
"Benar-benar
tsundere, ya," bisik Yurishia-san dan Lise-san di sebelahku, tapi
aku mengabaikannya karena sedang memikirkan Hildegard-chan.
"Apakah yang
akan menyerang hanya pasukan Raja Dewa Iblis? Karena sudah disetujui dalam
pertemuan, apakah Raja Iblis lain juga akan menyerang?" tanya Lise-san.
Benar juga,
melawan Raja Dewa Iblis saja sudah berat, apalagi kalau Raja Iblis lainnya ikut
serta.
"Begitulah.
Aku akan beritahu secara spesifik pembicaraan apa yang terjadi di Walpurgis."
Hildegard-chan mulai bercerita tentang pertemuan para Raja
Iblis itu.
◆◇◆
Tak lama setelah aku—Hildegard dan Raja Binatang bertemu,
seorang pria masuk ke ruang rapat besar.
Seorang pria bertubuh besar dengan rambut hitam, memiliki
dua tanduk di kepala dan ekor naga hitam.
Dia adalah ras Dragonewt yang langka, pemimpin yang
membawahi seluruh naga di wilayah Demon Territory, Kaisar Naga Iblis.
Berbeda
denganku dan Raja Binatang, dia tidak memiliki nama pribadi.
Itu karena ras Dragonewt
tidak memiliki kebiasaan memberi nama.
Karena itu,
Kaisar Naga Iblis adalah gelarnya sekaligus pengganti namanya.
"Sudah lama
tidak bertemu, Kaisar Naga Iblis."
"Raja
Binatang dan Kaisar Tua, ya..."
Kaisar Naga Iblis
melirik kami sekilas, lalu duduk tanpa berkata apa-apa dan memejamkan mata. Aku
masih tidak tahu apa yang dia pikirkan.
Lalu, keheningan
menyelimuti ruangan. Kami bukan teman, tapi itu tidak masalah.
Tak lama
kemudian, kaum iblis terakhir muncul. Namun, itu bukan Raja Dewa Iblis.
"Oya, oya,
sepertinya semua sudah berkumpul. Selamat datang. Saya adalah perwakilan dari
tuan saya, Raja Dewa Iblis, yang mengajukan penyelenggaraan Walpurgis
kali ini. Nama saya adalah Director. Mohon bantuannya."
Pria yang tidak
memiliki mata, mulut, maupun hidung—benar-benar wajah yang rata dan
hitam—melepaskan topinya dan membungkuk dengan anggun.
"Oi,
seenaknya memanggil orang tapi dia sendiri tidak datang!"
"Itu
hal biasa. Raja Dewa Iblis memang tidak pernah datang," ujar Raja Binatang
gusar, tapi karena aku sudah menduga hal ini, aku tidak merasa marah.
Hanya
saja, aku ingin pembicaraan ini cepat berakhir.
"Tapi,
ruangan ini terasa sangat gersang, ya. Ini ada sedikit buah tangan
dariku."
Director berkata demikian, lalu menjentikkan
jarinya.
Seketika, sebuah
vas kaca muncul di atas meja, lengkap dengan bunga-bunga mewah yang terangkai
di dalamnya.
Untuk apa
dia menyiapkan bunga, benda yang paling tidak cocok dengan tempat ini? Apa sebenarnya yang dia pikirkan?
Melihat itu,
amarah Raja Binatang kembali tersulut.
"Aku datang
ke sini bukan untuk melihat trik sulap murahan dari keroco sepertimu!"
"Oya,
sepertinya Raja Binatang tidak menyukai bunga.... Kalau begitu, biarkan aku
menyiapkan minuman—"
"Tidak
perlu!"
Raja Binatang
membentak dengan suara yang jauh lebih menggelegar, tapi—
"Bisa minta
teh?"
"Air."
Aku dan Kaisar
Naga Iblis menyahut hampir bersamaan.
Begitu Director
menjentikkan jarinya lagi, sebuah cangkir berisi teh muncul di hadapanku, dan
segelas air dalam gelas anggur muncul di depan Kaisar Naga Iblis.
"Kaisar Tua,
apa yang kau pikirkan?"
"Tenanglah.
Kata-kata yang diucapkan di forum Walpurgis adalah mutlak. Alasan kita
mendatangi perkumpulan tidak berguna ini secara langsung tanpa perwakilan,
adalah karena kita tahu hanya kita yang bisa memikul tanggung jawab itu."
"Kalau kau
sampai tersulut emosi dan salah bicara, itu namanya menjilat ludah sendiri.
Makanya, aku bilang tenanglah."
"Seperti
yang diharapkan dari sosok yang menyandang gelar Kaisar Tua. Namun, jika
minuman tidak sesuai selera, bagaimana kalau aku siapkan makanan? Ada daging
unggas air yang luar biasa—"
"Sudah
kubilang tidak perlu! Tujuan Raja Dewa Iblis pasti invasi ke wilayah manusia,
kan! Lakukan saja sesukamu!"
"Tepat
sekali. Tuanku, Raja Dewa Iblis, menginginkan invasi ke Kampung Sword
Saint."
Aku menatap tajam
Director yang berbicara dengan nada santai itu.
"Tidak
boleh! Tempat itu adalah wilayah terlarang, itu seharusnya sudah menjadi aturan
tidak tertulis sejak zaman purba."
"Aturan?
Wah, di mana catatan seperti itu berada? Setidaknya, hal itu tidak ada dalam
pasal-pasal yang ditetapkan di Walpurgis."
"Apa yang
kau rencanakan!"
Aku mengumpulkan
Mana di tandukku dan memelototi Director.
"Oya, jangan
sampai emosi membuatmu salah bicara, Kaisar Tua. Jadi, bagaimana menurut Anda,
Kaisar Naga Iblis?"
Director tidak menjawab perkataanku dan justru
bertanya pada Kaisar Naga Iblis.
"Aku tidak
tertarik. Aku memilih Abstain."
"Kalau
begitu, kali ini diputuskan setuju, ya."
"Tunggu
dulu! Aku menolak! Dan Raja Binatang juga—"
"Itu tidak
bisa. Raja Binatang tadi bilang 'lakukan saja sesukamu' jika menyangkut
peperangan di wilayah manusia. Suara Raja Binatang akan kugunakan sesuai
keinginanku."
"Keparat,
apa kau memprovokasiku hanya untuk ini?"
Raja Binatang
menatap Director dengan aura seolah siap menerjang kapan saja.
Namun, jika Raja
Binatang menyerang di sini, dia akan melanggar aturan gencatan senjata Walpurgis,
dan posisi Raja Iblis-nya bisa dicabut.
Jika itu terjadi,
Walpurgis itu sendiri tidak akan bisa menjalankan fungsinya lagi.
"Yah, reaksi
Raja Binatang sangat kaya, membuat penyutradaraanku jadi terasa sepadan.
Tadinya aku khawatir jika Kaisar Tua menolak, Anda yang berhutang budi padanya
juga akan ikut menolak. Kalau begitu, dengan ini agenda kali ini—"
Raja Binatang
bergerak, tapi di saat yang sama aku mulai angkat bicara.
"Tunggu!"
Gerakan Raja
Binatang terhenti.
Lalu, aku
mengajukan sebuah agenda baru.
"Yah,
kira-kira begitulah ceritanya. Raja Binatang dan Kaisar Naga Iblis menyatakan
diri netral. Jadi yang akan menyerang hanyalah pasukan Raja Dewa Iblis.
Mengerti, Kuruto?"
Singkatnya, yang
diceritakan Hildegard-chan hanyalah fakta bahwa Raja Iblis lainnya tidak akan
ikut campur.
"Aku bahkan
belum mendengar cerita sejauh itu. Lalu, kapan Raja Dewa Iblis itu akan
menyerang tempat ini?"
Yurishia-san bertanya pada Hildegard-chan.
"Aku sudah menyuruh bawahanku mengawasi area sekitar
wilayah Raja Dewa Iblis. Sampai saat ini belum ada laporan, jadi jika mereka
berbaris dari sana ke sini, setidaknya kita punya waktu luang tiga minggu.
Tenanglah. Tapi, jika tempat ini sampai diduduki Raja Dewa Iblis, urusannya
akan jadi sedikit merepotkan."
"Merepotkan?"
"Kamu
tahu kan, Batu Transfer di desa ini terhubung ke mana?"
"Ke
reruntuhan peradaban Lapital itu, ya."
Mendengar
jawaban Yurishia-san, aku pun mencoba memikirkan apa artinya itu.
...Seandainya
sebagian besar kaum iblis berbeda dengan Hildegard-chan dan merupakan kumpulan
orang jahat yang berniat mengobarkan perang terhadap orang-orang selain kaum
mereka.
Lise-san
sepertinya memikirkan hal yang sama denganku, dia menyuarakan apa yang ada di
benaknya.
"Alasan
kaum iblis tidak bisa melakukan agresi skala besar ke wilayah manusia adalah
karena di bagian barat Kerajaan Homuros terdapat hutan belantara tempat tinggal
para Elf, di selatan ada gurun pasir luas di sebelah barat Torchen, dan di
sebelah barat gurun serta hutan terdapat tempat yang disebut Lembah
Kematian."
"Bahkan
jika ingin memutar lewat laut utara dari Coskeat, ombaknya sangat ganas dan
mustahil untuk dilewati. Namun, jika mereka berpindah lewat reruntuhan Lapital,
semua hambatan itu bisa dilewati dalam sekejap."
"Apa
Batu Transfer-nya tidak bisa dihancurkan?"
Saat Yurishia-san
bertanya, Rugol-san menggelengkan kepala.
"Sayangnya
tidak bisa. Saat diputuskan pasukan Raja Dewa Iblis akan datang ke sini, kami
berniat memindahkan Batu Transfer-nya, tapi benda itu sangat
kokoh—"
"Benar-benar
warisan peradaban Lapital yang luar biasa, ya."
"Bagaimana
kalau kita hancurkan saja reruntuhan yang di sisi sana? Atau mungkin
menimbunnya dengan tanah?"
Lise-san
memberi usul, tapi Rugol-san kembali menggelengkan kepala.
"Demi
keamanan, Batu Transfer ini dilengkapi fungsi untuk memastikan
ketersediaan ruang tertentu jika terjadi sesuatu di lokasi tujuan. Katanya,
meskipun Kristal Transfer di sisi sana dilepas dan ditimbun tanah,
mesinnya akan memindahkan tanah itu ke dalam laut."
"Desain
ramah pengguna dari orang zaman dulu malah menjadi bumerang, ya."
Artinya,
jika desa ini diduduki, cepat atau lambat kaum iblis akan menyerang Kerajaan
Homuros.
...Lho?
Peradaban
Lapital itu kan peradaban kuno, ya?
Berarti,
Batu Transfer itu dipasang oleh orang zaman dulu.
Tapi,
saat aku tinggal di desa ini dulu, seingatku tidak ada Batu Transfer
seperti itu di tengah desa.
Ah, bukan
waktunya memikirkan hal tidak penting begitu.
"A-anu!
Bagaimana kalau kita minta bantuan pada Rikuto-sama?"
"Rikuto?"
"Rikuto-sama?"
Yurishia-san dan Lise-san
memasang wajah heran seolah bertanya, "Kenapa nama Rikuto muncul di
sini?"
Apa aku
mengatakan sesuatu yang aneh?
"Rikuto-sama
itu anak dari Baginda Raja Homuros, kan? Jika Rikuto-sama bicara pada Baginda
Raja, mungkin beliau akan menggerakkan pasukan untuk melindungi desa ini."
Saat aku
mengusulkan itu, Yurishia-san dan Lise-san mulai berbisik-bisik.
"Oi, Lise.
Sejak kapan Rikuto jadi anak Raja?"
"Entah apa
yang dia bicarakan...."
"Kuruto
salah paham lagi.... Eh, tunggu, kalau diingat-ingat, bukankah saat Hildegard
diculik dulu, kamu menyuruh Rikuto bilang kalau 'menyelesaikan kasus bangsawan
adalah tugas keluarga kerajaan'?"
"A-ah, benar
juga, pernah ada kejadian seperti itu! Saat itu aku memang membuat skenario
kalau Rikuto-sama adalah anak haram keluarga kerajaan. Kuruto-sama, Anda
ternyata masih ingat hal itu, ya."
Entah kenapa, aku
merasa mereka membicarakan hal yang sangat penting, tapi aku tidak bisa
mendengarnya dengan jelas.
Lalu apa yang
harus dilakukan? Saat aku sedang bingung, Rugol-san angkat bicara.
"Mohon maaf,
tapi hal itu tidak mungkin dilakukan."
"Eh?"
"Sepertinya
Kristal Transfer dari Batu Transfer itu sangat istimewa. Orang
yang bisa datang ke sini dari sisi sana dipilih langsung oleh Sage Agung, jadi
tidak sembarang orang bisa menggunakannya."
"—!"
"Sage
Agung!?"
Ekspresi Yurishia-san
berubah menjadi masam, sementara Lise-san berseru kaget.
Jangan-jangan,
cuma aku yang tidak tahu siapa Sage Agung itu?
Meski malu, aku
memutuskan untuk bertanya.
"Siapa itu
Sage Agung?"
"Sage Agung
adalah sosok yang mengelola dunia ini. Beliau dikatakan tinggal di atas menara
yang terapung di angkasa, dan kami sendiri belum pernah bertemu
dengannya."
"Kalau belum
pernah bertemu, bagaimana kalian tahu beliau benar-benar ada? Apa ada cara
untuk menghubunginya?"
"Sage Agung
memiliki banyak orang yang mengaku sebagai muridnya di seluruh dunia. Fakta
bahwa kalian semua datang ke sini hari ini pun sudah diberitahukan oleh murid
Sage Agung yang bernama Bandana. Alasan Kaisar Tua menunggu di sini juga karena
dia tahu Kuruto-sama dan yang lain akan datang."
Jadi Bandana-san adalah murid dari Sage Agung itu, ya.
Kalau begitu, alasannya berusaha mengambil kembali Kristal Transfer
orisinal dari bengkel Vitukind-san adalah untuk memberi tahu kami tentang
krisis di Kampung Sword Saint, bahkan krisis negara dan dunia.
"Tunggu
sebentar."
Yurishia-san
berkata demikian, lalu pergi meninggalkan ruangan entah untuk urusan apa.
Tak lama kemudian
dia kembali, dan seperti sebelumnya, dia berbisik pelan pada Lise-san.
"(Mungkin,
apa yang dikatakan kakek ini benar.)"
"(Kenapa
begitu?)"
"(Hawa
keberadaan Phantom terasa sedikit. Aku sudah bertanya pada Kakaroa.
Ternyata yang bisa berpindah hanya Yurail dan Kakaroa, sementara delapan Phantom
lainnya yang bersama mereka tidak bisa ikut berpindah.)"
"(Yurail-san
dan Kakaroa-san... fakta bahwa mereka berdua yang terpilih pasti bukan
kebetulan.)"
"(Ya, mereka
berdua sama-sama kenal dengan Kuruto, kan? Bisa dibilang perpindahannya bukan
acak, tapi berdasarkan kondisi tertentu.)"
"(Kalau
begitu, strategi pertahanan menggunakan taktik jumlah manusia tidak mungkin
dilakukan, ya.)"
Percakapan mereka
kali ini lama sekali. Seperti biasa, aku tidak bisa mendengar jelas apa yang
mereka bicarakan.
Mereka
benar-benar akrab ya, sampai aku jadi sedikit cemburu.
"Anu, kalau
begitu bagaimana kalau mengevakuasi semua orang dari desa ini?"
"Itu tidak
bisa, Kuruto-sama. Kami adalah klan pelindung. Kami punya kewajiban menjaga
tanah ini. Leluhur desa ini, Arthur-sama, berkali-kali diselamatkan nyawanya
oleh Pedang Suci Excalibur yang didapat dari desa ini. Arthur-sama yang
merupakan murid Sage Agung telah bersumpah pada beliau. Demi membalas budi yang
diterima di Desa Haste, kami menjadi klan pelindung untuk menjaga tempat ini,
dan menjaga orang-orang Desa Haste meski harus bertaruh nyawa. Sumpah itu
menjadi berkah bagi kami, memberi kami kekuatan untuk bertahan hidup di tanah
ini. Kami tidak bisa kabur begitu saja sekarang hanya karena ada bahaya."
"Tunggu
sebentar! Paman di toko serba ada bilang kalau Pedang Suci Excalibur itu cuma
pedang biasa! Itu dibuat orang-orang desa sebagai hiburan di malam tahun baru
dengan meningkatkan kemurnian sisa Orichalcum sampai seratus persen, lalu para
orang dewasa yang mabuk cuma memasukkan berbagai macam atribut Mana ke
dalamnya! Mempertaruhkan nyawa hanya karena menerima senjata mainan seperti
itu, bukankah itu terlalu berlebihan?"
Aku berseru
demikian.
"Oi, Lise,
kenapa kamu malah menutup telinga. Itu kan legenda leluhurmu."
"Anggap
saja aku tidak dengar. Aku masih bisa paham kalau Kaisar Pertama adalah murid
Sage Agung, tapi fakta bahwa Pedang Suci Excalibur yang melegenda di kekaisaran
ternyata cuma buatan iseng saat pesta.... Semua orang akan lebih bahagia jika
tidak mengetahui hal itu."
Lise-san
dan yang lainnya harusnya berhenti berbisik-bisik dan bantu meyakinkan semua
orang.
Tapi
Rugol-san tetap bersikeras dan tidak mau mengalah.
"Kuruto-sama,
mohon mengertilah. Ini adalah keputusan yang sudah diambil oleh seluruh
penduduk desa setelah mendengar cerita dari Kaisar Tua. Terlebih lagi, Kaisar
Tua juga akan ikut bertarung bersama kami. Dengan kekuatan kami sebagai klan
pelindung dan kekuatan Raja Iblis, bahkan Raja Dewa Iblis pun tidak akan bisa
mengalahkan kami dengan mudah. Selain itu, sepertinya kami tidak bisa
meninggalkan desa ini. Begitulah bunyi sumpah kami dengan Sage Agung."
Mendengar
kata-kata itu, tanpa sadar aku menoleh ke arah Hildegard-chan.
"Eh,
Hildegard-chan juga.... Ah, karena usiamu sudah seribu dua ratus tahun, mungkin
sebaiknya aku tidak memanggilmu 'chan' lagi.... Hildegard-san."
"Panggil
Hildegard-chan saja tidak apa-apa. Rasanya menjijikkan kalau tiba-tiba Kuruto
bicara terlalu formal padaku."
"Terima
kasih. Tapi, Hildegard-chan juga akan ikut bertarung?"
"Tentu
saja. Tempat ini dekat dengan wilayahku, dan yang terpenting, ini adalah tempat
kenangan dengan Kuruto.... Yah, itu tidak ada hubungannya sih, tapi aku juga
punya dendam pada Raja Dewa Iblis."
"Hildegard-chan,
apa kamu mau bertarung karena tempat ini penuh kenangan bersamaku?"
"Sudah
kubilang bukan begitu, kan!"
Wajah Hildegard-chan memerah padam karena marah.
"Daripada
meributkan itu, ayo cepat pergi ke masa lalu. Di mana Roh Agung
Waktu-nya?"
Eh?
Aku, Yurishia-san, dan Lise-san saling berpandangan, lalu
menjawab serempak.
"""Kami tidak membawanya!"""
"Kenapa tidak dibawa, sih!?"
Teriakan murka Hildegard-chan pun menggema di seluruh
Kampung Sword Saint.
Akhirnya, hari itu kami kembali dulu ke bengkel. Keesokan
harinya, kami datang lagi ke reruntuhan di barat Valhalla bersama delapan orang
tambahan: Akuri, Mimiko-san, Ophelia-sama, Michelle-san, Marlefiss-san, Sina-san,
Kance-san, dan Danzo-san untuk menuju ke Kampung Sword Saint.
Terlebih lagi, karena kali ini ada Ophelia-sama dan
Mimiko-san, para ksatria yang biasanya menjaga Rikurt dan Valhalla juga ikut
serta sebagai pengawal.
"Tapi,
jumlahnya luar biasa ya, Kapten. Ada Atelier Meister sampai Penyihir
Istana."
"Jaga
bicaramu. Lagipula
sekarang kamu juga seorang kapten, Generik."
Generik-sama,
yang sekarang menjabat sebagai kapten ksatria di Kota Rikurt, sedang dimarahi
oleh Alreid-sama, kapten ksatria di Kota Valhalla.
"Aduh,
biarpun kapten, aku kan cuma sementara. Masa jabatanku juga hampir habis.
Setelah ini selesai, aku akan dengan senang hati kembali menjadi bawahan
Kapten, jadi panggil Kapten saja tidak apa-apa, kan?"
"Padahal
dunia terasa tenang saat kamu tidak ada."
Mereka berdua
terlihat sangat bersemangat.
Sebaliknya, sejak
tadi tatapan Michelle-san terasa menusuk.
"Mi-Michelle-san..."
"...Kuruto-san,
Anda melupakan saya, kan?"
"Eh...
e-eeto. Maafkan aku."
Aku benar-benar
lupa memberi tahu Michelle-san kalau insiden di bengkel Vitukind-san sudah
selesai.
Gara-gara itu,
saat kami kembali ke Valhalla, Michelle-san yang sudah kembali ke kota
pemandian air panas sempat kebingungan.
Ditambah lagi,
Mimiko-san sudah lebih dulu melapor pada Ophelia-sama, sehingga Michelle-san
juga kena semprot Ophelia-sama karena terlambat memberi laporan.
"Astaga,
kenapa aku juga harus ikut pergi, sih?"
"Mau
bagaimana lagi. Kalau kamu ditinggal sendirian, tidak ada yang tahu kekacauan
apa yang akan kamu perbuat."
"Benar
sekali. Anggap saja ini bagian dari penebusan dosamu, menyerahlah."
Marlefiss-san
tampak tidak puas karena diapit oleh Mimiko-san dan Ophelia-sama.
"Tapi, sebuah desa yang dikelola manusia di tengah
wilayah Demon Territory, ya? Aku jadi penasaran seperti apa
tempatnya."
"Baginda justru lebih penasaran dengan desa keturunan
Sang Raja Pahlawan itu. Rasanya ingin sekali mengajak mereka beradu
pedang."
"Kalau aku sih penasaran dengan desa tempat tinggal Kuruto
dulu."
Kance-san, Danzo-san, dan Sina-san tampak menikmati
perjalanan ini.
Benar-benar jarang kami bepergian dengan rombongan sebanyak
ini.
Menurut Yurishia-san, ini untuk berjaga-jaga sekaligus
membedakan mana manusia yang bisa melakukan Transfer dan mana yang
tidak.
"Kuruto-sama,
jangan lupakan keberadaanku juga."
Yang bicara itu
adalah Nietzsche-san, avatar dari Dryad yang berada di saku dadaku.
Dia menempel pada
sebuah dahan kecil.
Biasanya dia
berukuran sebesar manusia, tapi hari ini dia memisahkan dahan itu dan ikut
masuk ke dalam sakuku.
Tentu saja aku
tidak lupa.
Nanti, dahan
Nietzsche-san akan disambung ke pohon di Kampung Sword Saint agar dia bisa
tumbuh di sana.
Dengan begitu,
Nietzsche-san di Kampung Sword Saint dan Nietzsche-san di bengkel akan
terhubung, sehingga kondisi di desa bisa terpantau meski kami berada di
bengkel.
"Sudah lama
juga ya tidak ke sini."
Alreid-sama, yang
dulu pernah ke sini bersama Yurishia-san, bergumam penuh kerinduan.
Kami pun langsung
menuju ke Batu Transfer yang ada di bawah tanah.
"Kita akan
melakukan Transfer sekarang. Perlu diingat bahwa Transfer tidak
bisa dilakukan oleh sembarang orang. Bagi yang tidak berhasil, harap siaga di
tempat ini."
Para ksatria
memberi hormat menanggapi perintah Alreid-sama. Generik-sama yang biasanya
konyol pun kali ini memasang ekspresi serius.
"Kalau
begitu, kami duluan ya."
Aku menyentuh
Batu Transfer dan kembali ke Kampung Sword Saint. Tak lama, yang lain
menyusul.
"Berbaris!
Mulai absensi!"
Atas instruksi
Alreid-sama, absensi pun dilakukan, tapi jumlahnya tidak sampai setengah dari
rombongan awal.
"Bagus,
si Yuibich tidak ada di sini!"
Generik-sama
melihat sekeliling dan tampak senang karena ksatria bernama Yuibich tidak ada.
Ada apa, ya?
"—Generik,
kenapa kamu senang sekali Yuibich tidak ada?"
"Ah,
tidak..."
"...Jangan-jangan
kamu menjadikannya bahan taruhan soal siapa yang bisa Transfer atau
tidak, ya?"
Generik-sama
langsung kena semprot Alreid-sama. Katanya nanti dia harus menulis surat
refleksi sebanyak tiga puluh lembar.
Sambil
mendengarkan interaksi akrab mereka berdua, aku memperhatikan yang lain.
Akuri dan
Nietzsche-san di sakuku aman. Danzo-san, Kance-san, Sina-san, Mimiko-san,
Ophelia-sama, dan Marlefiss-san juga berhasil ikut.
Syukurlah, selain
para ksatria, semuanya—
"Hei, Papa.
Kurang satu orang."
Akuri
tiba-tiba bicara begitu.
Eh? Tapi bukannya
semua sudah... Aku baru saja akan bicara, tapi kemudian menyadari ucapan Akuri
benar.
Ada satu
orang yang kurang.
"Ah,
Ophelia-sama. Michelle-san tidak ada."
"...Ya, sepertinya anak itu ditolak oleh Sage
Agung."
Walah... cuma Michelle-san yang tertinggal.
Aku bisa dengan mudah membayangkan dia menangis sambil
menunggu dikelilingi para ksatria.
Pasti nanti aku
bakal diceramahi habis-habisan.
"Halo
semuanya, selamat atas perjalanannya. Selamat datang di Kampung Sword Saint,
rombongan Tuan Baron!"
Yang muncul bukan Hildegard-chan atau Rugol-san, melainkan—
"Chicchi-san!?"
Itu adalah Chicchi-san yang dulu pergi bersama kami ke
Federasi Kota Kepulauan Coskeat, dan Solflare-san yang berdiri diam di
sampingnya. Solflare-san memang sudah ada di sini sejak kemarin, jadi aku tidak
kaget.
"Kenapa
Chicchi-san bisa ada di sini?"
Lokasi alat Transfer
ini kan tidak dipublikasikan. Lagipula tempat ini jauh sekali dari Coskeat.
"Hehe,
sebenarnya saya ini bukan sekadar teman Hildegard-sama, tapi bawahannya, Tuan
Baron."
"Jadi begitu
ceritanya!?"
"Ahaha,
begitulah~"
"Rombongan
yang cukup besar ya."
Saat aku sedang
mengobrol dengan Chicchi-san, Hildegard-chan datang dengan wajah agak lelah.
"Kuruto,
akhirnya kamu datang. Kupikir tidak akan sempat. Yurishia, Lise, Akuri, kalian
berempat ikut aku."
Kami
mengangguk, meninggalkan yang lain, dan mengikuti Hildegard-chan.
Di tengah
desa, terdapat sesuatu yang digambar menyerupai lingkaran sihir.
"Kuruto,
kamu tahu ini lingkaran sihir apa?"
"...Rasanya
aku pernah melihatnya, tapi maaf, aku tidak tahu."
"Tidak
apa-apa kalau tidak tahu. Ini lingkaran sihir yang kugambar selama lebih dari
lima ratus tahun. Kalau bisa dianalisis dengan mudah, aku pasti bakal
depresi."
Lima ratus
tahun—angka yang sangat fantastis itu membuatku kehilangan kata-kata.
Lingkaran sihir
macam apa sebenarnya ini?
Tapi kalau
memikirkan alasan kami ke sini, aku bisa menebaknya.
Ini adalah—
"Ini
lingkaran sihir penembus waktu, ya."
Yang menjawab
adalah Nietzsche-san yang melongokkan kepalanya dari saku dadaku.
"Kuruto, itu
apa?"
"Ah,
Hildegard-chan baru pertama kali melihatnya ya. Ini Nietzsche-san,
seorang Dryad."
"Dryad? Oh, begitu rupanya."
Hildegard-chan
sepertinya langsung mengerti segalanya hanya dengan mendengar kata Dryad.
"Singkatnya,
Kuruto melakukan hal aneh lagi, kan?"
"Eh?
Apa maksudnya? Kenapa Yurishia-san dan Lise-san mengangguk dalam diam!? Apa aku
memang melakukan sesuatu yang aneh?"
Mendengar
pertanyaanku, mereka bertiga langsung buang muka secara mencolok.
Tepat
saat aku ingin mendesak mereka, Nietzsche-san memotong pembicaraan.
"Tempat ini
sepertinya pusat desa, sangat pas untuk memantau sekeliling. Kuruto-sama,
tolong tebang pohon itu dan lakukan penyambungan tanaman."
"Ah, iya,
baiklah."
Aku pergi ke
dekat pohon bersama Akuri. Menggunakan belati, aku menebang pohon yang usianya
mungkin puluhan tahun itu.
"Papa
hebat!"
"Sama sekali
tidak hebat, kok. Nanti Papa ajarkan pada Akuri juga, ya."
Yah, anak kecil
memang sering menganggap hal yang bisa dilakukan semua orang dewasa sebagai
sesuatu yang luar biasa.
"...Kalian
benar-benar tidak kaget ya melihat Kuruto menebang pohon besar hanya dengan
belati."
"Sudah
biasa, kok."
"Ya, itu
makanan sehari-hari. Hildegard
sendiri tidak terlihat kaget sama sekali."
"Kuruto
memang sudah seperti itu sejak kecil."
"Oalah, jadi
dari dulu sudah begitu, ya."
"Memang
begitulah Kuruto-sama."
Lho? Saat aku
menoleh, mereka bertiga malah asyik mengobrol dengan akrab.
Kupikir
Hildegard-chan tipe yang sulit bergaul, tapi mungkin sesama perempuan cepat
akrab, ya?
Pokoknya, aku
menancapkan dahan Nietzsche-san dari sakuku ke tunggul pohon itu. Selanjutnya,
aku mengeluarkan tanah dari karung pasir yang sangat berat itu dari tas, lalu
menaburkannya di atas tunggul tadi.
Seketika, dahan
sambungan itu tumbuh dengan sangat cepat, berubah menjadi pohon raksasa yang
seolah membungkus tunggul aslinya.
"Wah, jadi
besar!"
"Iya, karena
di sini terkena sinar matahari dengan baik, tanaman jadi tumbuh cepat."
Aku menengadah
menatap pohon Nietzsche-san yang sudah besar.
"Benar-benar
ya, bersama Kuruto itu tidak pernah membosankan."
"Ya, kalau
sekarang ada hujan yang jatuh dari tanah ke langit pun, aku pasti akan
menerimanya begitu saja."
"Memang
begitulah Kuruto-sama."
Di tengah obrolan
asyik Hildegard-chan, Yurishia-san, dan Lise-san, Nietzsche-san dalam ukuran
aslinya muncul di depan pohon itu.
"Terima
kasih, Kuruto-sama."
"Syukurlah
kamu bisa tumbuh dengan selamat. Bagaimana? Apa kondisi di bengkel juga
terpantau?"
"Iya.
Tidak ada keanehan di bengkel."
"Begitu
ya, syukurlah."
Aku
meminta Nietzsche-san menunggu sebentar, lalu kembali ke tempat Hildegard-chan.
Menyadari aku sudah kembali, Hildegard-chan mengangguk sekali dan mulai bicara.
"Ada
kabar baik dan kabar buruk."
"Kabar
buruknya sudah bisa kutebak, jadi beri tahu kabar baiknya dulu saja."
Mendengar ucapan Yurishia-san, Hildegard-chan mengangguk.
"Kabar
baiknya sih tidak seberapa. Intinya
persiapan untuk terbang ke masa lalu sudah selesai. Sekarang, aku butuh Kuruto
mengalirkan Mana, lalu menggunakan kekuatan si kecil Roh Agung Waktu ini untuk
mengirim kesadaran kita ke masa lalu. Kekuatannya belum cukup untuk membawa
seluruh tubuh fisik, sih. Di sana, kita akan mencari rahasia Desa Haste, alasan
hilangnya desa itu, informasi tentang Sage Agung, dan misteri kelahiran Roh
Agung Waktu."
Aku menatap
Akuri. Jika alasan anak ini lahir ada di desaku, mungkin ada makna di balik
kehadirannya di depanku. Aku harus menyelidikinya.
"Hildegard-chan. Lalu kabar buruknya itu pasti—"
"Ya, Chicchi baru saja melapor. Pasukan Raja Dewa Iblis
sudah bergerak. Jumlahnya tiga ratus ribu. Mereka akan tiba dalam tiga minggu
seperti yang kukatakan sebelumnya."
"""—!?"""
Kami semua tersentak. Angka tiga ratus ribu yang fantastis
itu benar-benar membuat kami terpaku tak percaya.
"Jadi, alasan Rugol-san tidak menjemput kami
adalah..."
"Iya, seluruh penduduk desa sedang berkumpul untuk
berdiskusi lagi. Ini bukan urusan Kuruto, sih. Tapi mungkin mereka sedang
berunding apakah setidaknya bisa menyelamatkan anak-anak."
"Katanya mereka tidak bisa keluar desa karena sumpah
dengan Sage Agung, kan?"
"Beberapa
tahun lalu, katanya ada satu orang. Pemuda yang mengabaikan sumpah, melakukan Transfer dari desa ini
dan kabur. Katanya itu putra Rugol-san."
Begitu
ya. Memang sebaiknya anak-anak dan lansia yang tidak bisa bertarung
diselamatkan. Sejujurnya, aku
ingin semuanya melarikan diri.
"Itu urusan
nanti, saat ini tidak ada hubungannya dengan kalian. Lebih baik kalian bersiap.
Kita akan mulai proses pengiriman ke masa lalu."
"Oi,
tiba-tiba sekali!" seru Yurishia-san.
"Kita tidak
punya waktu. Untuk melakukan Transfer pada waktu yang tepat, kita harus
mengikuti prosedur yang sudah ditentukan. Jika melewatkan waktu ini, kita butuh
setidaknya setengah tahun lagi untuk bisa mengirim kesadaran ke seribu dua
ratus tahun yang lalu."
"...Apa
sudah pernah diuji coba?"
"Tentu saja
ini pertama kalinya. Kenapa? Takut?"
Ternyata pertama
kali, ya.
Tapi ini adalah
lingkaran sihir yang dibuat Hildegard-chan selama lima ratus tahun, mana
mungkin gagal.
"Hildegard-chan,
apa yang harus kulakukan?"
"Kuruto,
alirkan Mana-mu di tengah lingkaran sihir. Roh Agung Waktu harus tetap bersama Kuruto."
"Paham."
"Akuri mau
bareng Papa."
Aku berdiri di
tengah lingkaran sihir dan mengalirkan Mana ke bawah kakiku.
Luar biasa,
Mana-ku tersedot dengan kecepatan yang belum pernah kurasakan sebelumnya.
Aku bergegas
mengambil ramuan pemulih Mana dari tas dan meminumnya sekaligus.
Detik
berikutnya, lingkaran sihir mulai bersinar.
"Bagi
yang akan pergi ke masa lalu, cepat masuk ke dalam lingkaran sihir!"
teriak Hildegard-chan.
"Kalau sudah
sejauh ini, aku akan ikut sampai ke mana pun."
"Iya,
bukankah aku sudah bilang kalau jalan yang ditempuh Kuruto-sama adalah jalanku
juga?"
Yurishia-san dan Lise-san
duduk di kedua sisiku, lalu menempelkan tangan mereka di tanganku yang
menyentuh tanah.
Cahaya lingkaran
sihir semakin kuat—dan kemudian—
Begitu aku
tersadar, cahaya itu sudah meredup.
Di depanku ada Nietzsche-san.
Artinya ini bukan
Desa Haste di masa lalu, melainkan Kampung Sword Saint di masa sekarang.
Gagal?
Saat aku menoleh
ke arah Hildegard-chan, dia tampak sangat panik, tidak seperti biasanya.
"Eh? Apa
maksudnya? Kenapa reaksinya seperti ini—"
"Hildegard-chan, tenanglah. Sekali lagi..."
Tiba-tiba tenagaku hilang.
Tubuhku sepertinya mulai kacau karena Mana yang terkuras
habis lalu pulih mendadak, kemudian terkuras lagi secara berulang.
Rasanya seperti bolak-balik dari tempat dingin ke tempat
panas secara drastis.
"Maaf, sepertinya setelah Mana-ku pulih, kita
harus—"
Baru saat itulah
aku menyadarinya. Yurishia-san dan Lise-san tidak ada di mana pun.
"...Papa,
cuma Mama-mama saja yang pergi."
"Pergi...
pergi!? Ke mana!?"
"Ke dunia
lama."
Butuh waktu
beberapa saat bagiku untuk benar-benar memahami kata-kata Akuri. Lalu, aku
tersadar.
"Eh?
Bukannya seharusnya cuma kesadaran saja yang dikirim ke masa lalu!?"
"Aku tidak
tahu! Seharusnya tidak begini... kenapa bisa..."
"Ada dua
alasannya."
Suara
Nietzsche-san memecah kepanikan kami.
"Pertama,
alasan Kuruto-sama dan Hildegard-sama tidak bisa pergi ke masa lalu adalah
karena kalian berdua sudah ada di zaman tersebut. Dua orang yang sama tidak
bisa berada di zaman yang sama."
Begitu ya,
makanya hanya Yurishia-san dan Lise-san yang berpindah. Akuri mungkin tidak
bisa berpindah karena dialah yang menggunakan kekuatan itu.
"Lalu,
kenapa bukan cuma kesadaran, tapi seluruh tubuh mereka ikut terbawa?"
"Sepertinya
itu karena Mana Kuruto-sama yang dituangkan ke tanah terlalu kuat, sehingga
memberikan pengaruh luar biasa pada lingkaran sihirnya."
"...Kuruto,
berapa banyak Mana yang kau tuangkan ke tanah yang kau sebar tadi?"
"Eeto,
kira-kira sama dengan jumlah Mana yang kutuangkan ke lingkaran sihir tadi.
Tanah itu berat sekali, lho."
"Ternyata
benar gara-gara Kuruto! Apa yang kau pikirkan, sih! Kalau menyebar tanah dengan
Mana sebanyak itu, sudah pasti bakal berpengaruh, tahu!"
Hildegard-chan
berteriak sekuat tenaga, lalu ambruk di tempat karena kelelahan.
"Hei, Hildegard-chan."
"Apa, Kuruto Bodoh."
"Pertemuan
Raja Iblis itu, sebenarnya bukan cuma itu saja kan ceritanya?"
Mendengar pertanyaanku, Hildegard-chan terdiam.
"...Kenapa
sih Kuruto cuma tajam perasaannya di saat-saat seperti ini saja."
"Bisa beri
tahu aku?"
"Nggak mau.
Itu hal nggak penting."
Hildegard-chan
berkata demikian sambil telungkup dan menghentak-hentakkan kakinya.
◆◇◆
Saat itu, ketika
Raja Binatang hendak menerjang, aku—Hildegard mengangkat suara.
"Tunggu!
Aku mengajukan agenda darurat."
"Agenda
darurat? Oya, apa itu?"
Director yang sudah yakin akan
kemenangannya bertanya dengan nada santai.
"Agendaku
adalah pencabutan gelar Raja Iblis. Pencabutan gelar Raja Iblis milik Raja Dewa
Iblis, dan juga pencabutan gelarku sendiri."
"Apa
gunanya agenda seperti itu? Aku ragu Kaisar Naga Iblis akan setuju."
Memang,
kalau cuma itu, Kaisar Naga Iblis tidak akan setuju.
Dia
biasanya tidak peduli pada hal yang tidak menarik baginya, tapi dia paham
pentingnya eksistensi Raja Iblis.
Jika Raja Iblis
hanya tersisa Raja Binatang dan Kaisar Naga Iblis, tatanan kaum iblis akan
runtuh.
"Karena itu,
aku menambahkan satu syarat lagi. Aku akan memihak Kampung Sword Saint. Jika
Raja Dewa Iblis berhasil menghancurkan kampung itu, gelarku akan dicabut. Tapi
jika Raja Dewa Iblis gagal menghancurkannya dalam waktu satu tahun, gelarnya
akan dicabut. Raja Iblis yang dicabut gelarnya harus membubarkan pasukannya dan
membagi kekuatannya kepada Raja Iblis yang lain. Namun, ini adalah pertarungan
antara aku dan Raja Dewa Iblis, tidak boleh ada bantuan dari pasukan lain.
Bertarung hanya dengan pasukan yang dimiliki sekarang."
"Apa kau
serius berpikir agenda seperti itu akan lolos?" tanya Director
dengan nada remeh.
"Menarik.
Baginda setuju! Jika kalian menolak agenda ini, Baginda akan memihak Kaisar
Tua."
"Hmph,
agenda yang menarik setelah sekian lama. Aku juga ikut setuju."
Kaisar Naga
Iblis, yang dianggap sebagai rintangan tersulit, ternyata ikut bergerak.
"Sekarang
tinggal persetujuanmu, Director. Apa kacung sepertimu tidak bisa
mengambil keputusan besar seperti ini?"
"...Cih!
Hahahaha! Luar biasa, penyutradaraan yang luar biasa. Sebuah skenario yang
bahkan membuat Director ini gemetar... hebat sekali. Baiklah. Sebagai
perwakilan Raja Dewa Iblis, aku terima usul Kaisar Tua!"
Demikianlah Walpurgis
berakhir.
Melakukan hal
senekat ini hanya demi melindungi tempat kenangan dengan Kuruto.
Hal seperti ini benar-benar tidak boleh diceritakan pada Kuruto. Begitulah pikirku saat itu.



Post a Comment