NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kanchigai no Atelier Meister Volume 6 Chapter 5

Chapter 5

Apa yang Ada di Balik Transfer


Aku—Yurishia, bersama Kuruto dan Lise (walaupun aku yakin Phantom juga ikut membuntuti), sedang berada di reruntuhan peradaban Lapital di sebelah barat Valhalla.

Tujuannya adalah untuk mengembalikan Kristal Transfer orisinal yang dicuri oleh Vitukind dan disembunyikan di dalam bengkelnya ke Batu Transfer asalnya.

Mimiko seharusnya ikut, tapi tiba-tiba dia tidak bisa datang karena dipanggil oleh auditor keuangan kerajaan terkait penyelesaian biaya pijat saat kami menginap di penginapan air panas tempo hari.

Yah, itu konsekuensi yang wajar, sih.

Terlepas dari itu, aku lebih penasaran dengan tujuan dari alat Transfer ini.

Alat Transfer tidak sempurna yang ditujukan untuk perpindahan ke dimensi tinggi. Saat diaktifkan, ke mana sebenarnya kita akan terlempar?

Dugaanku, kita hanya akan terbang ke Batu Transfer searah yang ada di bagian dalam reruntuhan dekat Kota Samaera, tapi ada kemungkinan tidak sesederhana itu.

Karena itulah, mengingat adanya risiko bahaya, Akuri ditinggal di rumah.

Aku tidak ingin membuatnya khawatir lagi, jadi kami harus bergegas pulang sebelum hari gelap.

Sambil melangkah menuju ruangan tempat Batu Transfer berada, Lise menggerutu.

"Tempat ini selalu saja bau debu, tak peduli berapa kali pun kita datang."

"Lise, kalau mau mengeluh, harusnya kamu tetap di rumah saja menjaga Akuri."

"Duh, di mana pun Kuruto-sama berada, di situlah jalan yang ditempuh Lise ini."

"Kamu benar-benar tidak tergoyahkan ya."

Meski Lise mengatakannya dengan sejelas itu, Kuruto yang seharusnya mendengar segalanya sepertinya masih belum menyadari perasaan Lise.

Yah, soal itu aku tidak berniat ikut campur.

Jika mereka benar-benar menjalin hubungan, Lise harus mengungkapkan identitas aslinya terlebih dahulu. M

eskipun aku yakin Lise tidak akan keberatan melepaskan status bangsawannya demi Kuruto.

"Di sini tempatnya."

Di depan Batu Transfer, Kuruto menurunkan tasnya dan mengeluarkan Kristal Transfer orisinal dari dalamnya.

Kristal Transfer yang biasa kami gunakan berukuran kecil hingga bisa dijadikan aksesori, tapi Kristal orisinal ini adalah kristal besar yang beratnya seribu kali lipat dari itu.

Menurut penelitian Mimiko, zat penyusunnya tidak diketahui.

Rencananya, setelah menyelidiki tujuan Batu Transfer ini, kristal tersebut akan dilepas kembali dari dudukannya dan dibawa pulang.

"Baiklah, aku pasang ya."

"Tunggu, biar aku saja."

Alat sihir kuno, alat Transfer—kita tidak tahu bahaya apa yang mengintai.

Aku menerima kristal itu dari Kuruto dan memasangnya ke mesin.

Sesaat kemudian, alat Transfer tersebut memancarkan cahaya terang dan mulai mengeluarkan suara.

Suaranya terdengar seperti ada sesuatu yang bergerak dengan kecepatan tinggi di dalam mesin.

"Yuri-san, apa yang Anda lakukan!?"

"Aku cuma memasang kristalnya!"

"Lise-san, Yurishia-san, tolong tenanglah. Mesinnya hanya sedang menyala dengan normal."

Eh? Normal?

Memang sih, sepertinya tidak ada tanda-tanda... overload?

Masalahnya, aku yang tidak tahu seperti apa kondisi normal atau apa yang terjadi jika mesin ini meledak, tidak bisa memberikan penilaian.

Namun, jika Kuruto bilang normal, maka itu pasti normal.

"Apa kita sudah bisa berpindah dengan ini?"

"Iya. Sepertinya ada dua lokasi tujuan. Kita bisa menggantinya dengan memutar sakelar di sini."

"Dua lokasi, ya? Salah satunya pasti reruntuhan dekat Kota Samaera."

"Kalau begitu, satu lagi ke mana?"

Aku tidak bisa menjawab pertanyaan Lise. Mana mungkin aku tahu hal seperti itu.

"Aku yang akan pergi."

"Mana boleh begitu, Yuri-san. Itu berbahaya. Bagaimana kalau kita gunakan penjahat saja untuk eksperimennya?"

Lise mulai mengusulkan ide yang mengerikan.

"Tidak bisa. Belum tentu di sisi lain tidak ada alat sihir yang berbahaya. Membiarkan penjahat pergi ke tempat seperti itu justru lebih berisiko. Bisa saja begitu sampai langsung diserang gerombolan monster. Dan ini mungkin saja alat Transfer searah."

"Kalau begitu, pakai saja boneka duplikat—"

"Bukankah alat sihir pemindah jiwanya sudah dihancurkan?"

"Ugh, benar juga—padahal tadinya mau begitu."

Jangan-jangan Lise menyembunyikan sesuatu. Yah, pasti ada alasannya, jadi aku tidak akan mendesaknya lebih jauh.

"Sudahlah, aku cuma akan pergi sebentar lalu kembali. Tapi jika lewat sepuluh menit aku belum kembali, kalian harus membawa Kristal Transfer ini dan pulang ke bengkel."

Setelah mengatakan itu, aku memakai masker gas, mengabaikan larangan Kuruto dan Lise, lalu menyentuh Batu Transfer.

 

Sesaat kemudian, aku sudah berdiri di depan Batu Transfer di lokasi yang asing.

Lantai marmer, langit-langit, pilar... sepertinya aku berada di dalam sebuah bangunan.

Namun ruangannya unik; keempat sisinya tidak memiliki dinding, dan di balik pilar-pilar itu langsung terlihat pemandangan luar.

Di tengah ruangan terdapat tangga menuju lantai bawah dan lantai atas.

Tidak ada hawa keberadaan monster.

...Ruangan macam apa ini? Baru kali ini aku melihatnya. Di mana sebenarnya aku?

Untuk memastikan keamanan, aku berjalan ke tepi ruangan, dan pemandangan yang kulihat sungguh sulit dipercaya.

Sepertinya aku berada di puncak sebuah menara.

Terlebih lagi, jauh di bawah sana kulihat hamparan lautan awan, dan saat mendongak ke atas, langit malam membentang luas...?

Apa maksudnya ini?

Jika aku melihat lurus ke depan, hari masih siang, tapi saat melihat ke atas, sudah malam.

Lagipula, apa benar-benar ada menara yang menjulang jauh melampaui awan?

Tepat saat aku berpikir begitu, terdengar suara langkah kaki menuruni tangga. Itu bukan langkah kaki binatang.

Jelas suara langkah seseorang yang memakai sepatu.

Ada orang di tempat seperti ini?

Aku mencengkeram gagang Yukihana.

Di mataku yang penuh kewaspadaan, hal pertama yang muncul adalah sebuah gaun. Gaun yang tampak sangat mahal.

Dan sosok yang perlahan menampakkan dirinya adalah seorang gadis dengan rambut berwarna merah delima.

"Selamat datang. Kamu adalah cucu dari Flora, ya?"

Suaranya terasa misterius. Alih-alih suara wanita dewasa, suaranya lebih mirip anak-anak—bahkan seusia Akuri.

Namun cara bicaranya sangat mantap, sehingga kesan kekanak-anakannya tidak terlalu terasa.

Flora adalah nama nenekku. Tapi, kenapa dia bisa tahu kalau aku cucunya?

"Muridku sudah memberitahuku bahwa kamu akan datang."

"Murid?"

Hanya ada satu orang yang terlintas di pikiranku yang mungkin bisa memprediksi kedatanganku ke sini. Bandana.

Tapi, sebaiknya aku pura-pura tidak tahu dulu. Tepat saat aku hendak membuka mulut, gadis itu kembali bicara.

"Iya, dia yang memperkenalkan dirinya sebagai Bandana kepadamu adalah muridku."

Pikiranku dibaca!? Atau dia menebaknya dari ekspresiku?

"Sepertinya Anda tahu banyak tentangku, tapi bagaimana kalau kita saling memperkenalkan diri? Namaku Yurishia Element."

"Tentu, aku sudah tahu. Panggil saja aku, Sage Agung."

"—!?"

Sage Agung!? Sage Agung yang ada di surat ibunda Lise itu!?

Tidak, tapi surat itu ditulis dua puluh tahun yang lalu. Wanita di depanku ini terlihat tidak jauh berbeda usianya denganku.

Namun dipikir-pikir, aku tidak tahu apakah dia benar-benar manusia atau bukan. Boneka duplikat buatan Vitukind pun terlihat persis seperti manusia asli.

Jangan-jangan wanita ini juga bukan manusia?

"Secara garis besar, aku adalah manusia yang sama sepertimu. Hanya saja, sedikit berbeda."

"Apa maksudmu?"

"Sebelum berbicara lebih detail, aku harus memberikan sebuah tawaran padamu."

Tawaran? Baru sampai sini sudah diajak negosiasi? Kalau tawarannya cuma soal membayar uang, itu masih ringan, tapi sepertinya tidak akan sesederhana itu.

"Apa tawarannya?"

"Maukah kamu menjadi muridku?"

Sage Agung benar-benar mengatakan hal itu.

◆◇◆

Batu Transfer bersinar, dan dari sana Yurishia-san muncul di hadapanku, Kuruto, dan Lise-san. Syukurlah, benar-benar syukurlah.

"Yurishia-san! Apa yang terjadi? Kami sangat khawatir."

"Benar sekali. Anda sudah terlambat lebih dari satu jam dari waktu yang dijanjikan."

Sudah satu setengah jam berlalu sejak Yurishia-san melakukan Transfer.

Padahal kami diminta pulang jika lewat sepuluh menit, tapi karena kami tidak bisa meninggalkan beliau, akhirnya kami terus menunggu.

"Lebih dari satu jam—begitu ya, ternyata waktu sudah berlalu selama itu. Padahal aku sudah menyuruh kalian pulang jika lewat sepuluh menit... tapi, terima kasih ya."

"Apa yang terjadi di sana?" tanya Lise-san.

"Aku ingin segera kembali, tapi ada banyak urusan. Di sisi lain aman, kok... Tak kusangka setelah mendengar cerita seperti itu, aku malah akan dilempar ke tempat lain lagi."

Hm? Bagian terakhir suaranya terlalu kecil, aku tidak dengar dia bilang apa.

"Sebenarnya terhubung ke mana?"

Saat aku bertanya, Yurishia-san membentangkan peta kerajaan ini.

"Lokasi tepat yang terhubung sekarang, jika dilihat di peta ini, kira-kira ada di sini."

Titik itu berada jauh di sisi barat, jauh di luar batas peta.

"Bukannya itu berarti wilayah Demon Territory!? Bukankah itu di tengah-tengah markas musuh? Katanya aman—"

"Tunggu dulu. Sulit dipercaya, tapi di dalam wilayah Demon Territory, ada sebuah desa manusia yang memiliki otonomi sendiri."

"Desa manusia di wilayah Demon Territory!?" seru Lise-san sambil membelalakkan mata.

Aku sendiri tidak terlalu paham soal Demon Territory, tapi katanya itu tempat dengan banyak monster.

Memang aneh kalau ada desa manusia di tempat seperti itu.

"Awalnya aku pun tidak percaya, dan mereka juga waspada padaku. Tapi kebetulan ada seseorang yang kukenal di sana. Dia yang menengahi kami."

"Siapa orang itu?"

"Orang itu adalah—"

"Hildegard-chan!"

Di desa tujuan Transfer itu, ternyata ada teman masa kecilku, Hildegard-chan.

Tidak hanya Hildegard-chan, Solflare-san juga ada bersamanya.

"Sudah lama tidak bertemu, meski tidak selama itu juga sih. Sebenarnya aku berencana mengunjungimu, tapi karena ada urusan, aku terpaksa tinggal di desa ini. Syukurlah kalian yang datang ke sini."

Lise-san menatapnya tajam dan bertanya.

"Apa maksudnya ini? Katanya ini desa otonomi manusia. Kenapa kamu ada di sini?"

"Aku akan menjelaskannya di rumahku."

Lalu muncullah seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun dengan rambut merah.

Eh? Pria ini sepertinya mirip seseorang.

Tidak, bukan cuma dia. Desa ini pun rasanya pernah kulihat di suatu tempat.

Tak hanya pria itu, entah dari mana penduduk desa mulai berkumpul dan menundukkan kepala kepada kami.

"Selamat datang, Kuruto-sama. Kami sudah lama menantikan kedatangan Anda."

"Eh? Menungguku?"

Aku benar-benar bingung.

"Namaku Rugol, tetua di desa ini. Rumahku ada di depan sana. Silakan masuk, kita akan bicara lebih detail di sana."

Kami mengikuti Rugol-san masuk ke sebuah rumah besar di bagian dalam desa.

Rumahnya agak tua, tapi terawat dengan sangat baik.

"Maaf, karena kami ingin berbagi informasi, Yuri-san—bisakah Anda memberitahu semua yang sudah dibicarakan dengannya tadi?" kata Lise-san.

"Tentu saja. Pertama-tama, tempat ini adalah lokasi yang disebut Kampung Sword Saint di jantung wilayah Demon Territory. Apakah kalian tahu nama Arthur?"

Arthur-san? Bukankah itu petualang pengelana yang mengajariku ilmu pedang di Desa Haste—

"Maksud Anda Raja Pahlawan, kan? Kaisar pertama Kekaisaran Gurmak yang menggunakan Pedang Suci untuk mengalahkan Naga Iblis, membebaskan wilayah yang dikuasai naga, dan membangun kekaisaran dalam satu generasi."

"Iya, tepat sekali."

Ah, ternyata orang yang berbeda dengan Arthur-san yang kukenal. Aku jadi sedikit malu.

"Lalu, apakah kalian tahu bagaimana akhir hidup Arthur?"

"Seingat saya, setelah menyerahkan takhta kepada putranya, beliau menghilang bersama rekan-rekannya di usia muda... mungkinkah—"

"Benar, tempat ini adalah desa yang dibangun oleh Arthur dan rekan-rekannya lebih dari seribu tahun yang lalu."

"……Saya terkejut. Jika itu benar, berarti kalian adalah keturunan dari garis darah kekaisaran, bukan?"

"Kami bukan orang hebat seperti itu. Kami hanya memiliki misi untuk melindungi tempat ini di dalam desa ini. Tapi tetap saja, putra bodohku itu—"

Rugol-san sepertinya sedang marah. Apa dia sedang bertengkar dengan putranya?

"Ups, maaf. Mari kita lanjutkan."

Rugol-san berdehem karena merasa malu, lalu melanjutkan.

"Oleh karena itu, kami telah melindungi tanah ini dari monster dan kaum iblis. Namun, setelah seribu tahun desa ini berdiri, krisis yang belum pernah ada dalam sejarah akan segera tiba."

"Krisis?" Aku memiringkan kepala.

"Raja Iblis akan menyerang. Raja Dewa Iblis—sosok terkuat di antara para Raja Iblis—telah mengumpulkan kekuatan untuk membumihanguskan tempat ini. Hal itu sudah disetujui secara resmi dalam pertemuan antar Raja Iblis—Walpurgis. Mendengar itu, aku bergegas ke desa ini untuk menjelaskan situasinya. Meski aku kaum iblis, aku berada di posisi netral terhadap desa ini."

"Eh? Hildegard-chan itu kaum iblis?"

"Iya. Kuruto, ras Horned Tribe sekarang disebut kaum iblis. Kamu tidak tahu?"

Aku sama sekali tidak tahu.

Karena kudengar kaum iblis itu orang jahat, aku tidak bisa menghubungkannya dengan Hildegard-chan sama sekali.

"Ngomong-ngomong, satu-satunya Raja Iblis yang menentang invasi ke desa ini dalam Walpurgis adalah aku, Sang Kaisar Tua."

Mendengar itu, mata Lise-san membelalak.

"Tunggu sebentar. Kaisar Tua adalah sosok yang disebut sebagai Raja Iblis tertua! Katanya beliau sudah hidup lebih dari seribu tahun—"

"Iya. Aku tidak ingat umur pastiku, tapi kira-kira aku sudah hidup seribu dua ratus tahun."

""Eh?""

Aku dan Lise-san berseru bersamaan.

Aku benar-benar tidak mengerti. Hildegard-chan berumur seribu dua ratus tahun?

"Kuruto, ikut aku sebentar."

Hildegard-chan menarik tanganku yang sedang kebingungan dan membawaku keluar rumah.

"Lihatlah baik-baik desa ini. Meski sudah banyak berubah, kolam itu, bukit itu, gunung itu... kamu pasti mengenalinya."

"Eh? Mengenali? Ini kan pertama kalinya aku ke desa ini..."

Begitu mengucapkannya, aku kehilangan kata-kata.

Itu adalah perasaan janggal yang kurasakan sejak tiba di desa ini.

Atau lebih tepatnya, déjà vu.

Padahal seharusnya ini pertama kalinya aku ke sini, tapi rasanya seperti pernah berkunjung dulu kala.

Namun, saat melihatnya perlahan seperti ini, bukan sekadar déjà vu, tapi pemandangan yang pasti ada dalam ingatanku membentang di depan mata.

"Ini... jangan-jangan..."

Di gunung itu, aku sering membantu paman yang menggali mineral.

Di kolam itu, aku sering memancing.

Di bukit itu, aku meracik obat untuk Hildegard-chan yang terluka parah... Dulu waktu kecil kupikir itu gunung besar, ternyata hanya bukit seperti ini.

"Kuruto, sepertinya kamu sudah sadar."

"Iya, tidak salah lagi. Tempat ini—lokasi ini, adalah Desa Haste tempat kita bertemu sebelum aku pindah ke Pegunungan Scene!"

Tanpa sadar aku berteriak begitu.

"Tapi, desa ini benar-benar berbeda dengan Desa Haste yang kukenal."

"Tentu saja. Karena sudah lebih dari seribu dua ratus tahun berlalu sejak Kuruto meninggalkan desa ini."

Eh? Seribu dua ratus tahun sejak aku pergi?

"Apa maksudnya, Hildegard-chan?"

"Itulah yang ingin kutanyakan. Desa Haste memang pindah dari sini ke Pegunungan Scene seribu dua ratus tahun yang lalu, tapi setelah itu seluruh desa menghilang secara misterius. Kupikir aku tidak akan pernah bertemu Kuruto lagi. Namun, baru-baru ini Kuruto muncul di hadapanku. Setelah seribu dua ratus tahun."

Lise-san yang mengikuti kami dari belakang bertanya dengan ragu-ragu.

"Kuruto-sama, apakah indra waktu Anda normal? Apa Anda tahu berapa hari dalam setahun?"

"Tentu saja. Kurang lebih adalah 365,242199 hari."

"Biasanya orang tidak menghitung sampai angka di belakang koma, sih," celetuk Yurishia-san di sebelahnya.

Tapi, aku tidak peduli soal itu.

Aku tidak punya ingatan telah menghabiskan waktu selama 440.000 hari dalam hidupku.

Dan yang terpenting—

"Apa maksudmu semua orang di Desa Haste menghilang, Hildegard-chan?"

"Ya begitu. Meski aku sudah menyelidiki Pegunungan Scene—bukan, bahkan seluruh dunia—Desa Haste tidak ada di mana pun."

"Mana mungkin—"

Saat aku terdiam kaku, Lise-san menimpali.

"Sulit dipercaya kalau Kuruto-sama adalah orang dari seribu dua ratus tahun yang lalu, tapi fakta bahwa Desa Haste tidak ditemukan itu benar. Mimiko-sama sudah melakukan penyelidikan, baik bertanya ke desa sekitar maupun memeriksa gunung secara langsung, tapi Desa Haste tidak ditemukan."

Apa maksudnya semua ini?

Seolah menjawab pertanyaanku, Hildegard-chan membuka suara.

"Kita akan pergi menyelidikinya. Dengan mengirimkan kesadaran ke masa lalu dari sini."

"Mengirim kesadaran? Apa hal seperti itu bisa dilakukan?"

"Iya. Sepertinya, di tempat inilah Roh Agung yang kalian panggil putri itu diciptakan. Kekuatan Roh Agung itu adalah berpindah ke masa depan. Kemampuan Transfer hanyalah efek sampingnya saja. Aku rasa alasan Kuruto muncul di masa depan setelah seribu dua ratus tahun adalah karena keisengan Roh Agung Waktu."

"Keisengan Akuri?"

"Iya. Dan sebagai reaksi dari terciptanya Roh Agung yang memiliki kekuatan berpindah ke masa depan, ada aliran Mana yang menuju ke masa lalu. Kita akan menggunakannya untuk mengirim kesadaran ke masa lalu sementara waktu, lalu mencari tahu penyebab terciptanya Roh Agung Waktu. Dengan begitu, kita mungkin tahu kenapa Kuruto terlempar ke masa depan, dan kenapa Desa Haste menghilang."

"Cerita yang kudengar tadi hanya sampai di situ. Setelah selesai mendengar penjelasan, aku kembali untuk menjemput Kuruto dan Lise," Yurishia-san menambahkan, tapi segalanya benar-benar sulit dipercaya.

Namun, ada satu hal yang kupahami setelah mendengar cerita ini.

Arthur-san, orang yang mengajariku ilmu pedang itu, ternyata meninggal di tempat ini setelah menjadi Kaisar pertama Kekaisaran Gurmak.

Aku merasa sedang bersentuhan dengan sejarah yang luar biasa.

Kami kembali masuk ke rumah kepala desa. Kalau diingat-ingat, dulunya di sini memang ada tempat pertemuan.

Tempat berkumpulnya para orang dewasa, dan seingatku aku belum pernah masuk ke sini sekali pun.

"Jadi, Hildegard-chan benar-benar sudah hidup selama seribu dua ratus tahun?"

"Iya. Berkat obat buatan Kuruto."

"…………Maaf."

"Ini bukan sindiran, kok. Memang ada kalanya aku merasa kesal, tapi aku bersyukur bisa menjadi abadi. Tapi jangan salah paham ya, meski abadi, tubuh ini bisa mati dengan mudah kalau aku memang ingin mati. Yah, meski tubuh ini sedikit lebih kuat dari kaum iblis lainnya. Jadi, alasan aku tidak mati adalah atas kehendakku sendiri."

"Benarkah?"

"Iya, benar. Lagipula aku sudah menyandang posisi Raja Iblis, ada banyak tanggung jawab. Bukannya aku terus hidup karena berharap bisa bertemu Kuruto lagi atau apa, ya."

Iya, mana mungkin dia mau hidup selama seribu dua ratus tahun demi orang sepertiku yang bahkan tidak jelas masih hidup atau tidak.

Tanpa diberitahu pun aku sudah paham. Begitu ya, Hildegard-chan memang punya rasa tanggung jawab yang kuat.

Kalau aku... Akuri sepertinya seorang Roh jadi mungkin dia bisa hidup selamanya, tapi orang-orang yang sudah akrab denganku—Golnova-san, Marlefiss-san, Bandana-san, Sina-san, Kance-san, Danzo-san, bahkan Yurishia-san dan Lise-san—aku tidak akan sanggup jika mereka semua mati dan hanya aku yang tertinggal sendirian.

"Tsundere."

"Benar-benar tsundere, ya," bisik Yurishia-san dan Lise-san di sebelahku, tapi aku mengabaikannya karena sedang memikirkan Hildegard-chan.

"Apakah yang akan menyerang hanya pasukan Raja Dewa Iblis? Karena sudah disetujui dalam pertemuan, apakah Raja Iblis lain juga akan menyerang?" tanya Lise-san.

Benar juga, melawan Raja Dewa Iblis saja sudah berat, apalagi kalau Raja Iblis lainnya ikut serta.

"Begitulah. Aku akan beritahu secara spesifik pembicaraan apa yang terjadi di Walpurgis."

Hildegard-chan mulai bercerita tentang pertemuan para Raja Iblis itu.

◆◇◆

Tak lama setelah aku—Hildegard dan Raja Binatang bertemu, seorang pria masuk ke ruang rapat besar.

Seorang pria bertubuh besar dengan rambut hitam, memiliki dua tanduk di kepala dan ekor naga hitam.

Dia adalah ras Dragonewt yang langka, pemimpin yang membawahi seluruh naga di wilayah Demon Territory, Kaisar Naga Iblis.

Berbeda denganku dan Raja Binatang, dia tidak memiliki nama pribadi.

Itu karena ras Dragonewt tidak memiliki kebiasaan memberi nama.

Karena itu, Kaisar Naga Iblis adalah gelarnya sekaligus pengganti namanya.

"Sudah lama tidak bertemu, Kaisar Naga Iblis."

"Raja Binatang dan Kaisar Tua, ya..."

Kaisar Naga Iblis melirik kami sekilas, lalu duduk tanpa berkata apa-apa dan memejamkan mata. Aku masih tidak tahu apa yang dia pikirkan.

Lalu, keheningan menyelimuti ruangan. Kami bukan teman, tapi itu tidak masalah.

Tak lama kemudian, kaum iblis terakhir muncul. Namun, itu bukan Raja Dewa Iblis.

"Oya, oya, sepertinya semua sudah berkumpul. Selamat datang. Saya adalah perwakilan dari tuan saya, Raja Dewa Iblis, yang mengajukan penyelenggaraan Walpurgis kali ini. Nama saya adalah Director. Mohon bantuannya."

Pria yang tidak memiliki mata, mulut, maupun hidung—benar-benar wajah yang rata dan hitam—melepaskan topinya dan membungkuk dengan anggun.

"Oi, seenaknya memanggil orang tapi dia sendiri tidak datang!"

"Itu hal biasa. Raja Dewa Iblis memang tidak pernah datang," ujar Raja Binatang gusar, tapi karena aku sudah menduga hal ini, aku tidak merasa marah.

Hanya saja, aku ingin pembicaraan ini cepat berakhir.

"Tapi, ruangan ini terasa sangat gersang, ya. Ini ada sedikit buah tangan dariku."

Director berkata demikian, lalu menjentikkan jarinya.

Seketika, sebuah vas kaca muncul di atas meja, lengkap dengan bunga-bunga mewah yang terangkai di dalamnya.

Untuk apa dia menyiapkan bunga, benda yang paling tidak cocok dengan tempat ini? Apa sebenarnya yang dia pikirkan?

Melihat itu, amarah Raja Binatang kembali tersulut.

"Aku datang ke sini bukan untuk melihat trik sulap murahan dari keroco sepertimu!"

"Oya, sepertinya Raja Binatang tidak menyukai bunga.... Kalau begitu, biarkan aku menyiapkan minuman—"

"Tidak perlu!"

Raja Binatang membentak dengan suara yang jauh lebih menggelegar, tapi—

"Bisa minta teh?"

"Air."

Aku dan Kaisar Naga Iblis menyahut hampir bersamaan.

Begitu Director menjentikkan jarinya lagi, sebuah cangkir berisi teh muncul di hadapanku, dan segelas air dalam gelas anggur muncul di depan Kaisar Naga Iblis.

"Kaisar Tua, apa yang kau pikirkan?"

"Tenanglah. Kata-kata yang diucapkan di forum Walpurgis adalah mutlak. Alasan kita mendatangi perkumpulan tidak berguna ini secara langsung tanpa perwakilan, adalah karena kita tahu hanya kita yang bisa memikul tanggung jawab itu."

"Kalau kau sampai tersulut emosi dan salah bicara, itu namanya menjilat ludah sendiri. Makanya, aku bilang tenanglah."

"Seperti yang diharapkan dari sosok yang menyandang gelar Kaisar Tua. Namun, jika minuman tidak sesuai selera, bagaimana kalau aku siapkan makanan? Ada daging unggas air yang luar biasa—"

"Sudah kubilang tidak perlu! Tujuan Raja Dewa Iblis pasti invasi ke wilayah manusia, kan! Lakukan saja sesukamu!"

"Tepat sekali. Tuanku, Raja Dewa Iblis, menginginkan invasi ke Kampung Sword Saint."

Aku menatap tajam Director yang berbicara dengan nada santai itu.

"Tidak boleh! Tempat itu adalah wilayah terlarang, itu seharusnya sudah menjadi aturan tidak tertulis sejak zaman purba."

"Aturan? Wah, di mana catatan seperti itu berada? Setidaknya, hal itu tidak ada dalam pasal-pasal yang ditetapkan di Walpurgis."

"Apa yang kau rencanakan!"

Aku mengumpulkan Mana di tandukku dan memelototi Director.

"Oya, jangan sampai emosi membuatmu salah bicara, Kaisar Tua. Jadi, bagaimana menurut Anda, Kaisar Naga Iblis?"

Director tidak menjawab perkataanku dan justru bertanya pada Kaisar Naga Iblis.

"Aku tidak tertarik. Aku memilih Abstain."

"Kalau begitu, kali ini diputuskan setuju, ya."

"Tunggu dulu! Aku menolak! Dan Raja Binatang juga—"

"Itu tidak bisa. Raja Binatang tadi bilang 'lakukan saja sesukamu' jika menyangkut peperangan di wilayah manusia. Suara Raja Binatang akan kugunakan sesuai keinginanku."

"Keparat, apa kau memprovokasiku hanya untuk ini?"

Raja Binatang menatap Director dengan aura seolah siap menerjang kapan saja.

Namun, jika Raja Binatang menyerang di sini, dia akan melanggar aturan gencatan senjata Walpurgis, dan posisi Raja Iblis-nya bisa dicabut.

Jika itu terjadi, Walpurgis itu sendiri tidak akan bisa menjalankan fungsinya lagi.

"Yah, reaksi Raja Binatang sangat kaya, membuat penyutradaraanku jadi terasa sepadan. Tadinya aku khawatir jika Kaisar Tua menolak, Anda yang berhutang budi padanya juga akan ikut menolak. Kalau begitu, dengan ini agenda kali ini—"

Raja Binatang bergerak, tapi di saat yang sama aku mulai angkat bicara.

"Tunggu!"

Gerakan Raja Binatang terhenti.

Lalu, aku mengajukan sebuah agenda baru.

 

"Yah, kira-kira begitulah ceritanya. Raja Binatang dan Kaisar Naga Iblis menyatakan diri netral. Jadi yang akan menyerang hanyalah pasukan Raja Dewa Iblis. Mengerti, Kuruto?"

Singkatnya, yang diceritakan Hildegard-chan hanyalah fakta bahwa Raja Iblis lainnya tidak akan ikut campur.

"Aku bahkan belum mendengar cerita sejauh itu. Lalu, kapan Raja Dewa Iblis itu akan menyerang tempat ini?"

Yurishia-san bertanya pada Hildegard-chan.

"Aku sudah menyuruh bawahanku mengawasi area sekitar wilayah Raja Dewa Iblis. Sampai saat ini belum ada laporan, jadi jika mereka berbaris dari sana ke sini, setidaknya kita punya waktu luang tiga minggu. Tenanglah. Tapi, jika tempat ini sampai diduduki Raja Dewa Iblis, urusannya akan jadi sedikit merepotkan."

"Merepotkan?"

"Kamu tahu kan, Batu Transfer di desa ini terhubung ke mana?"

"Ke reruntuhan peradaban Lapital itu, ya."

Mendengar jawaban Yurishia-san, aku pun mencoba memikirkan apa artinya itu.

...Seandainya sebagian besar kaum iblis berbeda dengan Hildegard-chan dan merupakan kumpulan orang jahat yang berniat mengobarkan perang terhadap orang-orang selain kaum mereka.

Lise-san sepertinya memikirkan hal yang sama denganku, dia menyuarakan apa yang ada di benaknya.

"Alasan kaum iblis tidak bisa melakukan agresi skala besar ke wilayah manusia adalah karena di bagian barat Kerajaan Homuros terdapat hutan belantara tempat tinggal para Elf, di selatan ada gurun pasir luas di sebelah barat Torchen, dan di sebelah barat gurun serta hutan terdapat tempat yang disebut Lembah Kematian."

"Bahkan jika ingin memutar lewat laut utara dari Coskeat, ombaknya sangat ganas dan mustahil untuk dilewati. Namun, jika mereka berpindah lewat reruntuhan Lapital, semua hambatan itu bisa dilewati dalam sekejap."

"Apa Batu Transfer-nya tidak bisa dihancurkan?"

Saat Yurishia-san bertanya, Rugol-san menggelengkan kepala.

"Sayangnya tidak bisa. Saat diputuskan pasukan Raja Dewa Iblis akan datang ke sini, kami berniat memindahkan Batu Transfer-nya, tapi benda itu sangat kokoh—"

"Benar-benar warisan peradaban Lapital yang luar biasa, ya."

"Bagaimana kalau kita hancurkan saja reruntuhan yang di sisi sana? Atau mungkin menimbunnya dengan tanah?"

Lise-san memberi usul, tapi Rugol-san kembali menggelengkan kepala.

"Demi keamanan, Batu Transfer ini dilengkapi fungsi untuk memastikan ketersediaan ruang tertentu jika terjadi sesuatu di lokasi tujuan. Katanya, meskipun Kristal Transfer di sisi sana dilepas dan ditimbun tanah, mesinnya akan memindahkan tanah itu ke dalam laut."

"Desain ramah pengguna dari orang zaman dulu malah menjadi bumerang, ya."

Artinya, jika desa ini diduduki, cepat atau lambat kaum iblis akan menyerang Kerajaan Homuros.

...Lho?

Peradaban Lapital itu kan peradaban kuno, ya?

Berarti, Batu Transfer itu dipasang oleh orang zaman dulu.

Tapi, saat aku tinggal di desa ini dulu, seingatku tidak ada Batu Transfer seperti itu di tengah desa.

Ah, bukan waktunya memikirkan hal tidak penting begitu.

"A-anu! Bagaimana kalau kita minta bantuan pada Rikuto-sama?"

"Rikuto?"

"Rikuto-sama?"

Yurishia-san dan Lise-san memasang wajah heran seolah bertanya, "Kenapa nama Rikuto muncul di sini?"

Apa aku mengatakan sesuatu yang aneh?

"Rikuto-sama itu anak dari Baginda Raja Homuros, kan? Jika Rikuto-sama bicara pada Baginda Raja, mungkin beliau akan menggerakkan pasukan untuk melindungi desa ini."

Saat aku mengusulkan itu, Yurishia-san dan Lise-san mulai berbisik-bisik.

"Oi, Lise. Sejak kapan Rikuto jadi anak Raja?"

"Entah apa yang dia bicarakan...."

"Kuruto salah paham lagi.... Eh, tunggu, kalau diingat-ingat, bukankah saat Hildegard diculik dulu, kamu menyuruh Rikuto bilang kalau 'menyelesaikan kasus bangsawan adalah tugas keluarga kerajaan'?"

"A-ah, benar juga, pernah ada kejadian seperti itu! Saat itu aku memang membuat skenario kalau Rikuto-sama adalah anak haram keluarga kerajaan. Kuruto-sama, Anda ternyata masih ingat hal itu, ya."

Entah kenapa, aku merasa mereka membicarakan hal yang sangat penting, tapi aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas.

Lalu apa yang harus dilakukan? Saat aku sedang bingung, Rugol-san angkat bicara.

"Mohon maaf, tapi hal itu tidak mungkin dilakukan."

"Eh?"

"Sepertinya Kristal Transfer dari Batu Transfer itu sangat istimewa. Orang yang bisa datang ke sini dari sisi sana dipilih langsung oleh Sage Agung, jadi tidak sembarang orang bisa menggunakannya."

"—!"

"Sage Agung!?"

Ekspresi Yurishia-san berubah menjadi masam, sementara Lise-san berseru kaget.

Jangan-jangan, cuma aku yang tidak tahu siapa Sage Agung itu?

Meski malu, aku memutuskan untuk bertanya.

"Siapa itu Sage Agung?"

"Sage Agung adalah sosok yang mengelola dunia ini. Beliau dikatakan tinggal di atas menara yang terapung di angkasa, dan kami sendiri belum pernah bertemu dengannya."

"Kalau belum pernah bertemu, bagaimana kalian tahu beliau benar-benar ada? Apa ada cara untuk menghubunginya?"

"Sage Agung memiliki banyak orang yang mengaku sebagai muridnya di seluruh dunia. Fakta bahwa kalian semua datang ke sini hari ini pun sudah diberitahukan oleh murid Sage Agung yang bernama Bandana. Alasan Kaisar Tua menunggu di sini juga karena dia tahu Kuruto-sama dan yang lain akan datang."

Jadi Bandana-san adalah murid dari Sage Agung itu, ya.

Kalau begitu, alasannya berusaha mengambil kembali Kristal Transfer orisinal dari bengkel Vitukind-san adalah untuk memberi tahu kami tentang krisis di Kampung Sword Saint, bahkan krisis negara dan dunia.

"Tunggu sebentar."

Yurishia-san berkata demikian, lalu pergi meninggalkan ruangan entah untuk urusan apa.

Tak lama kemudian dia kembali, dan seperti sebelumnya, dia berbisik pelan pada Lise-san.

"(Mungkin, apa yang dikatakan kakek ini benar.)"

"(Kenapa begitu?)"

"(Hawa keberadaan Phantom terasa sedikit. Aku sudah bertanya pada Kakaroa. Ternyata yang bisa berpindah hanya Yurail dan Kakaroa, sementara delapan Phantom lainnya yang bersama mereka tidak bisa ikut berpindah.)"

"(Yurail-san dan Kakaroa-san... fakta bahwa mereka berdua yang terpilih pasti bukan kebetulan.)"

"(Ya, mereka berdua sama-sama kenal dengan Kuruto, kan? Bisa dibilang perpindahannya bukan acak, tapi berdasarkan kondisi tertentu.)"

"(Kalau begitu, strategi pertahanan menggunakan taktik jumlah manusia tidak mungkin dilakukan, ya.)"

Percakapan mereka kali ini lama sekali. Seperti biasa, aku tidak bisa mendengar jelas apa yang mereka bicarakan.

Mereka benar-benar akrab ya, sampai aku jadi sedikit cemburu.

"Anu, kalau begitu bagaimana kalau mengevakuasi semua orang dari desa ini?"

"Itu tidak bisa, Kuruto-sama. Kami adalah klan pelindung. Kami punya kewajiban menjaga tanah ini. Leluhur desa ini, Arthur-sama, berkali-kali diselamatkan nyawanya oleh Pedang Suci Excalibur yang didapat dari desa ini. Arthur-sama yang merupakan murid Sage Agung telah bersumpah pada beliau. Demi membalas budi yang diterima di Desa Haste, kami menjadi klan pelindung untuk menjaga tempat ini, dan menjaga orang-orang Desa Haste meski harus bertaruh nyawa. Sumpah itu menjadi berkah bagi kami, memberi kami kekuatan untuk bertahan hidup di tanah ini. Kami tidak bisa kabur begitu saja sekarang hanya karena ada bahaya."

"Tunggu sebentar! Paman di toko serba ada bilang kalau Pedang Suci Excalibur itu cuma pedang biasa! Itu dibuat orang-orang desa sebagai hiburan di malam tahun baru dengan meningkatkan kemurnian sisa Orichalcum sampai seratus persen, lalu para orang dewasa yang mabuk cuma memasukkan berbagai macam atribut Mana ke dalamnya! Mempertaruhkan nyawa hanya karena menerima senjata mainan seperti itu, bukankah itu terlalu berlebihan?"

Aku berseru demikian.

"Oi, Lise, kenapa kamu malah menutup telinga. Itu kan legenda leluhurmu."

"Anggap saja aku tidak dengar. Aku masih bisa paham kalau Kaisar Pertama adalah murid Sage Agung, tapi fakta bahwa Pedang Suci Excalibur yang melegenda di kekaisaran ternyata cuma buatan iseng saat pesta.... Semua orang akan lebih bahagia jika tidak mengetahui hal itu."

Lise-san dan yang lainnya harusnya berhenti berbisik-bisik dan bantu meyakinkan semua orang.

Tapi Rugol-san tetap bersikeras dan tidak mau mengalah.

"Kuruto-sama, mohon mengertilah. Ini adalah keputusan yang sudah diambil oleh seluruh penduduk desa setelah mendengar cerita dari Kaisar Tua. Terlebih lagi, Kaisar Tua juga akan ikut bertarung bersama kami. Dengan kekuatan kami sebagai klan pelindung dan kekuatan Raja Iblis, bahkan Raja Dewa Iblis pun tidak akan bisa mengalahkan kami dengan mudah. Selain itu, sepertinya kami tidak bisa meninggalkan desa ini. Begitulah bunyi sumpah kami dengan Sage Agung."

Mendengar kata-kata itu, tanpa sadar aku menoleh ke arah Hildegard-chan.

"Eh, Hildegard-chan juga.... Ah, karena usiamu sudah seribu dua ratus tahun, mungkin sebaiknya aku tidak memanggilmu 'chan' lagi.... Hildegard-san."

"Panggil Hildegard-chan saja tidak apa-apa. Rasanya menjijikkan kalau tiba-tiba Kuruto bicara terlalu formal padaku."

"Terima kasih. Tapi, Hildegard-chan juga akan ikut bertarung?"

"Tentu saja. Tempat ini dekat dengan wilayahku, dan yang terpenting, ini adalah tempat kenangan dengan Kuruto.... Yah, itu tidak ada hubungannya sih, tapi aku juga punya dendam pada Raja Dewa Iblis."




"Hildegard-chan, apa kamu mau bertarung karena tempat ini penuh kenangan bersamaku?"

"Sudah kubilang bukan begitu, kan!"

Wajah Hildegard-chan memerah padam karena marah.

"Daripada meributkan itu, ayo cepat pergi ke masa lalu. Di mana Roh Agung Waktu-nya?"

Eh?

Aku, Yurishia-san, dan Lise-san saling berpandangan, lalu menjawab serempak.

"""Kami tidak membawanya!"""

"Kenapa tidak dibawa, sih!?"

Teriakan murka Hildegard-chan pun menggema di seluruh Kampung Sword Saint.

 

Akhirnya, hari itu kami kembali dulu ke bengkel. Keesokan harinya, kami datang lagi ke reruntuhan di barat Valhalla bersama delapan orang tambahan: Akuri, Mimiko-san, Ophelia-sama, Michelle-san, Marlefiss-san, Sina-san, Kance-san, dan Danzo-san untuk menuju ke Kampung Sword Saint.

Terlebih lagi, karena kali ini ada Ophelia-sama dan Mimiko-san, para ksatria yang biasanya menjaga Rikurt dan Valhalla juga ikut serta sebagai pengawal.

"Tapi, jumlahnya luar biasa ya, Kapten. Ada Atelier Meister sampai Penyihir Istana."

"Jaga bicaramu. Lagipula sekarang kamu juga seorang kapten, Generik."

Generik-sama, yang sekarang menjabat sebagai kapten ksatria di Kota Rikurt, sedang dimarahi oleh Alreid-sama, kapten ksatria di Kota Valhalla.

"Aduh, biarpun kapten, aku kan cuma sementara. Masa jabatanku juga hampir habis. Setelah ini selesai, aku akan dengan senang hati kembali menjadi bawahan Kapten, jadi panggil Kapten saja tidak apa-apa, kan?"

"Padahal dunia terasa tenang saat kamu tidak ada."

Mereka berdua terlihat sangat bersemangat.

Sebaliknya, sejak tadi tatapan Michelle-san terasa menusuk.

"Mi-Michelle-san..."

"...Kuruto-san, Anda melupakan saya, kan?"

"Eh... e-eeto. Maafkan aku."

Aku benar-benar lupa memberi tahu Michelle-san kalau insiden di bengkel Vitukind-san sudah selesai.

Gara-gara itu, saat kami kembali ke Valhalla, Michelle-san yang sudah kembali ke kota pemandian air panas sempat kebingungan.

Ditambah lagi, Mimiko-san sudah lebih dulu melapor pada Ophelia-sama, sehingga Michelle-san juga kena semprot Ophelia-sama karena terlambat memberi laporan.

"Astaga, kenapa aku juga harus ikut pergi, sih?"

"Mau bagaimana lagi. Kalau kamu ditinggal sendirian, tidak ada yang tahu kekacauan apa yang akan kamu perbuat."

"Benar sekali. Anggap saja ini bagian dari penebusan dosamu, menyerahlah."

Marlefiss-san tampak tidak puas karena diapit oleh Mimiko-san dan Ophelia-sama.

"Tapi, sebuah desa yang dikelola manusia di tengah wilayah Demon Territory, ya? Aku jadi penasaran seperti apa tempatnya."

"Baginda justru lebih penasaran dengan desa keturunan Sang Raja Pahlawan itu. Rasanya ingin sekali mengajak mereka beradu pedang."

"Kalau aku sih penasaran dengan desa tempat tinggal Kuruto dulu."

Kance-san, Danzo-san, dan Sina-san tampak menikmati perjalanan ini.

Benar-benar jarang kami bepergian dengan rombongan sebanyak ini.

Menurut Yurishia-san, ini untuk berjaga-jaga sekaligus membedakan mana manusia yang bisa melakukan Transfer dan mana yang tidak.

"Kuruto-sama, jangan lupakan keberadaanku juga."

Yang bicara itu adalah Nietzsche-san, avatar dari Dryad yang berada di saku dadaku.

Dia menempel pada sebuah dahan kecil.

Biasanya dia berukuran sebesar manusia, tapi hari ini dia memisahkan dahan itu dan ikut masuk ke dalam sakuku.

Tentu saja aku tidak lupa.

Nanti, dahan Nietzsche-san akan disambung ke pohon di Kampung Sword Saint agar dia bisa tumbuh di sana.

Dengan begitu, Nietzsche-san di Kampung Sword Saint dan Nietzsche-san di bengkel akan terhubung, sehingga kondisi di desa bisa terpantau meski kami berada di bengkel.

"Sudah lama juga ya tidak ke sini."

Alreid-sama, yang dulu pernah ke sini bersama Yurishia-san, bergumam penuh kerinduan.

Kami pun langsung menuju ke Batu Transfer yang ada di bawah tanah.

"Kita akan melakukan Transfer sekarang. Perlu diingat bahwa Transfer tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang. Bagi yang tidak berhasil, harap siaga di tempat ini."

Para ksatria memberi hormat menanggapi perintah Alreid-sama. Generik-sama yang biasanya konyol pun kali ini memasang ekspresi serius.

"Kalau begitu, kami duluan ya."

Aku menyentuh Batu Transfer dan kembali ke Kampung Sword Saint. Tak lama, yang lain menyusul.

"Berbaris! Mulai absensi!"

Atas instruksi Alreid-sama, absensi pun dilakukan, tapi jumlahnya tidak sampai setengah dari rombongan awal.

"Bagus, si Yuibich tidak ada di sini!"

Generik-sama melihat sekeliling dan tampak senang karena ksatria bernama Yuibich tidak ada. Ada apa, ya?

"—Generik, kenapa kamu senang sekali Yuibich tidak ada?"

"Ah, tidak..."

"...Jangan-jangan kamu menjadikannya bahan taruhan soal siapa yang bisa Transfer atau tidak, ya?"

Generik-sama langsung kena semprot Alreid-sama. Katanya nanti dia harus menulis surat refleksi sebanyak tiga puluh lembar.

Sambil mendengarkan interaksi akrab mereka berdua, aku memperhatikan yang lain.

Akuri dan Nietzsche-san di sakuku aman. Danzo-san, Kance-san, Sina-san, Mimiko-san, Ophelia-sama, dan Marlefiss-san juga berhasil ikut.

Syukurlah, selain para ksatria, semuanya—

"Hei, Papa. Kurang satu orang."

Akuri tiba-tiba bicara begitu.

Eh? Tapi bukannya semua sudah... Aku baru saja akan bicara, tapi kemudian menyadari ucapan Akuri benar.

Ada satu orang yang kurang.

"Ah, Ophelia-sama. Michelle-san tidak ada."

"...Ya, sepertinya anak itu ditolak oleh Sage Agung."

Walah... cuma Michelle-san yang tertinggal.

Aku bisa dengan mudah membayangkan dia menangis sambil menunggu dikelilingi para ksatria.

Pasti nanti aku bakal diceramahi habis-habisan.

"Halo semuanya, selamat atas perjalanannya. Selamat datang di Kampung Sword Saint, rombongan Tuan Baron!"

Yang muncul bukan Hildegard-chan atau Rugol-san, melainkan—

"Chicchi-san!?"

Itu adalah Chicchi-san yang dulu pergi bersama kami ke Federasi Kota Kepulauan Coskeat, dan Solflare-san yang berdiri diam di sampingnya. Solflare-san memang sudah ada di sini sejak kemarin, jadi aku tidak kaget.

"Kenapa Chicchi-san bisa ada di sini?"

Lokasi alat Transfer ini kan tidak dipublikasikan. Lagipula tempat ini jauh sekali dari Coskeat.

"Hehe, sebenarnya saya ini bukan sekadar teman Hildegard-sama, tapi bawahannya, Tuan Baron."

"Jadi begitu ceritanya!?"

"Ahaha, begitulah~"

"Rombongan yang cukup besar ya."

Saat aku sedang mengobrol dengan Chicchi-san, Hildegard-chan datang dengan wajah agak lelah.

"Kuruto, akhirnya kamu datang. Kupikir tidak akan sempat. Yurishia, Lise, Akuri, kalian berempat ikut aku."

Kami mengangguk, meninggalkan yang lain, dan mengikuti Hildegard-chan.

Di tengah desa, terdapat sesuatu yang digambar menyerupai lingkaran sihir.

"Kuruto, kamu tahu ini lingkaran sihir apa?"

"...Rasanya aku pernah melihatnya, tapi maaf, aku tidak tahu."

"Tidak apa-apa kalau tidak tahu. Ini lingkaran sihir yang kugambar selama lebih dari lima ratus tahun. Kalau bisa dianalisis dengan mudah, aku pasti bakal depresi."

Lima ratus tahun—angka yang sangat fantastis itu membuatku kehilangan kata-kata.

Lingkaran sihir macam apa sebenarnya ini?

Tapi kalau memikirkan alasan kami ke sini, aku bisa menebaknya.

Ini adalah—

"Ini lingkaran sihir penembus waktu, ya."

Yang menjawab adalah Nietzsche-san yang melongokkan kepalanya dari saku dadaku.

"Kuruto, itu apa?"

"Ah, Hildegard-chan baru pertama kali melihatnya ya. Ini Nietzsche-san, seorang Dryad."

"Dryad? Oh, begitu rupanya."

Hildegard-chan sepertinya langsung mengerti segalanya hanya dengan mendengar kata Dryad.

"Singkatnya, Kuruto melakukan hal aneh lagi, kan?"

"Eh? Apa maksudnya? Kenapa Yurishia-san dan Lise-san mengangguk dalam diam!? Apa aku memang melakukan sesuatu yang aneh?"

Mendengar pertanyaanku, mereka bertiga langsung buang muka secara mencolok.

Tepat saat aku ingin mendesak mereka, Nietzsche-san memotong pembicaraan.

"Tempat ini sepertinya pusat desa, sangat pas untuk memantau sekeliling. Kuruto-sama, tolong tebang pohon itu dan lakukan penyambungan tanaman."

"Ah, iya, baiklah."

Aku pergi ke dekat pohon bersama Akuri. Menggunakan belati, aku menebang pohon yang usianya mungkin puluhan tahun itu.

"Papa hebat!"

"Sama sekali tidak hebat, kok. Nanti Papa ajarkan pada Akuri juga, ya."

Yah, anak kecil memang sering menganggap hal yang bisa dilakukan semua orang dewasa sebagai sesuatu yang luar biasa.

"...Kalian benar-benar tidak kaget ya melihat Kuruto menebang pohon besar hanya dengan belati."

"Sudah biasa, kok."

"Ya, itu makanan sehari-hari. Hildegard sendiri tidak terlihat kaget sama sekali."

"Kuruto memang sudah seperti itu sejak kecil."

"Oalah, jadi dari dulu sudah begitu, ya."

"Memang begitulah Kuruto-sama."

Lho? Saat aku menoleh, mereka bertiga malah asyik mengobrol dengan akrab.

Kupikir Hildegard-chan tipe yang sulit bergaul, tapi mungkin sesama perempuan cepat akrab, ya?

Pokoknya, aku menancapkan dahan Nietzsche-san dari sakuku ke tunggul pohon itu. Selanjutnya, aku mengeluarkan tanah dari karung pasir yang sangat berat itu dari tas, lalu menaburkannya di atas tunggul tadi.

Seketika, dahan sambungan itu tumbuh dengan sangat cepat, berubah menjadi pohon raksasa yang seolah membungkus tunggul aslinya.

"Wah, jadi besar!"

"Iya, karena di sini terkena sinar matahari dengan baik, tanaman jadi tumbuh cepat."

Aku menengadah menatap pohon Nietzsche-san yang sudah besar.

"Benar-benar ya, bersama Kuruto itu tidak pernah membosankan."

"Ya, kalau sekarang ada hujan yang jatuh dari tanah ke langit pun, aku pasti akan menerimanya begitu saja."

"Memang begitulah Kuruto-sama."

Di tengah obrolan asyik Hildegard-chan, Yurishia-san, dan Lise-san, Nietzsche-san dalam ukuran aslinya muncul di depan pohon itu.

"Terima kasih, Kuruto-sama."

"Syukurlah kamu bisa tumbuh dengan selamat. Bagaimana? Apa kondisi di bengkel juga terpantau?"

"Iya. Tidak ada keanehan di bengkel."

"Begitu ya, syukurlah."

Aku meminta Nietzsche-san menunggu sebentar, lalu kembali ke tempat Hildegard-chan. Menyadari aku sudah kembali, Hildegard-chan mengangguk sekali dan mulai bicara.

"Ada kabar baik dan kabar buruk."

"Kabar buruknya sudah bisa kutebak, jadi beri tahu kabar baiknya dulu saja."

Mendengar ucapan Yurishia-san, Hildegard-chan mengangguk.

"Kabar baiknya sih tidak seberapa. Intinya persiapan untuk terbang ke masa lalu sudah selesai. Sekarang, aku butuh Kuruto mengalirkan Mana, lalu menggunakan kekuatan si kecil Roh Agung Waktu ini untuk mengirim kesadaran kita ke masa lalu. Kekuatannya belum cukup untuk membawa seluruh tubuh fisik, sih. Di sana, kita akan mencari rahasia Desa Haste, alasan hilangnya desa itu, informasi tentang Sage Agung, dan misteri kelahiran Roh Agung Waktu."

Aku menatap Akuri. Jika alasan anak ini lahir ada di desaku, mungkin ada makna di balik kehadirannya di depanku. Aku harus menyelidikinya.

"Hildegard-chan. Lalu kabar buruknya itu pasti—"

"Ya, Chicchi baru saja melapor. Pasukan Raja Dewa Iblis sudah bergerak. Jumlahnya tiga ratus ribu. Mereka akan tiba dalam tiga minggu seperti yang kukatakan sebelumnya."

"""—!?"""

Kami semua tersentak. Angka tiga ratus ribu yang fantastis itu benar-benar membuat kami terpaku tak percaya.

"Jadi, alasan Rugol-san tidak menjemput kami adalah..."

"Iya, seluruh penduduk desa sedang berkumpul untuk berdiskusi lagi. Ini bukan urusan Kuruto, sih. Tapi mungkin mereka sedang berunding apakah setidaknya bisa menyelamatkan anak-anak."

"Katanya mereka tidak bisa keluar desa karena sumpah dengan Sage Agung, kan?"

"Beberapa tahun lalu, katanya ada satu orang. Pemuda yang mengabaikan sumpah, melakukan Transfer dari desa ini dan kabur. Katanya itu putra Rugol-san."

Begitu ya. Memang sebaiknya anak-anak dan lansia yang tidak bisa bertarung diselamatkan. Sejujurnya, aku ingin semuanya melarikan diri.

"Itu urusan nanti, saat ini tidak ada hubungannya dengan kalian. Lebih baik kalian bersiap. Kita akan mulai proses pengiriman ke masa lalu."

"Oi, tiba-tiba sekali!" seru Yurishia-san.

"Kita tidak punya waktu. Untuk melakukan Transfer pada waktu yang tepat, kita harus mengikuti prosedur yang sudah ditentukan. Jika melewatkan waktu ini, kita butuh setidaknya setengah tahun lagi untuk bisa mengirim kesadaran ke seribu dua ratus tahun yang lalu."

"...Apa sudah pernah diuji coba?"

"Tentu saja ini pertama kalinya. Kenapa? Takut?"

Ternyata pertama kali, ya.

Tapi ini adalah lingkaran sihir yang dibuat Hildegard-chan selama lima ratus tahun, mana mungkin gagal.

"Hildegard-chan, apa yang harus kulakukan?"

"Kuruto, alirkan Mana-mu di tengah lingkaran sihir. Roh Agung Waktu harus tetap bersama Kuruto."

"Paham."

"Akuri mau bareng Papa."

Aku berdiri di tengah lingkaran sihir dan mengalirkan Mana ke bawah kakiku.

Luar biasa, Mana-ku tersedot dengan kecepatan yang belum pernah kurasakan sebelumnya.

Aku bergegas mengambil ramuan pemulih Mana dari tas dan meminumnya sekaligus.

Detik berikutnya, lingkaran sihir mulai bersinar.

"Bagi yang akan pergi ke masa lalu, cepat masuk ke dalam lingkaran sihir!" teriak Hildegard-chan.

"Kalau sudah sejauh ini, aku akan ikut sampai ke mana pun."

"Iya, bukankah aku sudah bilang kalau jalan yang ditempuh Kuruto-sama adalah jalanku juga?"

Yurishia-san dan Lise-san duduk di kedua sisiku, lalu menempelkan tangan mereka di tanganku yang menyentuh tanah.

Cahaya lingkaran sihir semakin kuat—dan kemudian—

 

Begitu aku tersadar, cahaya itu sudah meredup.

Di depanku ada Nietzsche-san.

Artinya ini bukan Desa Haste di masa lalu, melainkan Kampung Sword Saint di masa sekarang.

Gagal?

Saat aku menoleh ke arah Hildegard-chan, dia tampak sangat panik, tidak seperti biasanya.

"Eh? Apa maksudnya? Kenapa reaksinya seperti ini—"

"Hildegard-chan, tenanglah. Sekali lagi..."

Tiba-tiba tenagaku hilang.

Tubuhku sepertinya mulai kacau karena Mana yang terkuras habis lalu pulih mendadak, kemudian terkuras lagi secara berulang.

Rasanya seperti bolak-balik dari tempat dingin ke tempat panas secara drastis.

"Maaf, sepertinya setelah Mana-ku pulih, kita harus—"

Baru saat itulah aku menyadarinya. Yurishia-san dan Lise-san tidak ada di mana pun.

"...Papa, cuma Mama-mama saja yang pergi."

"Pergi... pergi!? Ke mana!?"

"Ke dunia lama."

Butuh waktu beberapa saat bagiku untuk benar-benar memahami kata-kata Akuri. Lalu, aku tersadar.

"Eh? Bukannya seharusnya cuma kesadaran saja yang dikirim ke masa lalu!?"

"Aku tidak tahu! Seharusnya tidak begini... kenapa bisa..."

"Ada dua alasannya."

Suara Nietzsche-san memecah kepanikan kami.

"Pertama, alasan Kuruto-sama dan Hildegard-sama tidak bisa pergi ke masa lalu adalah karena kalian berdua sudah ada di zaman tersebut. Dua orang yang sama tidak bisa berada di zaman yang sama."

Begitu ya, makanya hanya Yurishia-san dan Lise-san yang berpindah. Akuri mungkin tidak bisa berpindah karena dialah yang menggunakan kekuatan itu.

"Lalu, kenapa bukan cuma kesadaran, tapi seluruh tubuh mereka ikut terbawa?"

"Sepertinya itu karena Mana Kuruto-sama yang dituangkan ke tanah terlalu kuat, sehingga memberikan pengaruh luar biasa pada lingkaran sihirnya."

"...Kuruto, berapa banyak Mana yang kau tuangkan ke tanah yang kau sebar tadi?"

"Eeto, kira-kira sama dengan jumlah Mana yang kutuangkan ke lingkaran sihir tadi. Tanah itu berat sekali, lho."

"Ternyata benar gara-gara Kuruto! Apa yang kau pikirkan, sih! Kalau menyebar tanah dengan Mana sebanyak itu, sudah pasti bakal berpengaruh, tahu!"

Hildegard-chan berteriak sekuat tenaga, lalu ambruk di tempat karena kelelahan.

"Hei, Hildegard-chan."

"Apa, Kuruto Bodoh."

"Pertemuan Raja Iblis itu, sebenarnya bukan cuma itu saja kan ceritanya?"

Mendengar pertanyaanku, Hildegard-chan terdiam.

"...Kenapa sih Kuruto cuma tajam perasaannya di saat-saat seperti ini saja."

"Bisa beri tahu aku?"

"Nggak mau. Itu hal nggak penting."

Hildegard-chan berkata demikian sambil telungkup dan menghentak-hentakkan kakinya.

◆◇◆

Saat itu, ketika Raja Binatang hendak menerjang, aku—Hildegard mengangkat suara.

"Tunggu! Aku mengajukan agenda darurat."

"Agenda darurat? Oya, apa itu?"

Director yang sudah yakin akan kemenangannya bertanya dengan nada santai.

"Agendaku adalah pencabutan gelar Raja Iblis. Pencabutan gelar Raja Iblis milik Raja Dewa Iblis, dan juga pencabutan gelarku sendiri."

"Apa gunanya agenda seperti itu? Aku ragu Kaisar Naga Iblis akan setuju."

Memang, kalau cuma itu, Kaisar Naga Iblis tidak akan setuju.

Dia biasanya tidak peduli pada hal yang tidak menarik baginya, tapi dia paham pentingnya eksistensi Raja Iblis.

Jika Raja Iblis hanya tersisa Raja Binatang dan Kaisar Naga Iblis, tatanan kaum iblis akan runtuh.

"Karena itu, aku menambahkan satu syarat lagi. Aku akan memihak Kampung Sword Saint. Jika Raja Dewa Iblis berhasil menghancurkan kampung itu, gelarku akan dicabut. Tapi jika Raja Dewa Iblis gagal menghancurkannya dalam waktu satu tahun, gelarnya akan dicabut. Raja Iblis yang dicabut gelarnya harus membubarkan pasukannya dan membagi kekuatannya kepada Raja Iblis yang lain. Namun, ini adalah pertarungan antara aku dan Raja Dewa Iblis, tidak boleh ada bantuan dari pasukan lain. Bertarung hanya dengan pasukan yang dimiliki sekarang."

"Apa kau serius berpikir agenda seperti itu akan lolos?" tanya Director dengan nada remeh.

"Menarik. Baginda setuju! Jika kalian menolak agenda ini, Baginda akan memihak Kaisar Tua."

"Hmph, agenda yang menarik setelah sekian lama. Aku juga ikut setuju."

Kaisar Naga Iblis, yang dianggap sebagai rintangan tersulit, ternyata ikut bergerak.

"Sekarang tinggal persetujuanmu, Director. Apa kacung sepertimu tidak bisa mengambil keputusan besar seperti ini?"

"...Cih! Hahahaha! Luar biasa, penyutradaraan yang luar biasa. Sebuah skenario yang bahkan membuat Director ini gemetar... hebat sekali. Baiklah. Sebagai perwakilan Raja Dewa Iblis, aku terima usul Kaisar Tua!"

Demikianlah Walpurgis berakhir.

Melakukan hal senekat ini hanya demi melindungi tempat kenangan dengan Kuruto.

Hal seperti ini benar-benar tidak boleh diceritakan pada Kuruto. Begitulah pikirku saat itu.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close