NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kanchigai no Atelier Meister Volume 7 Interlude II

Interlude 2

Golnova dan Golandos


Kenapa seranganku—serangan sang Golnova yang hebat ini—sama sekali tidak kena?

Karena lawanku adalah adikku sendiri, aku menerima tantangan duel menggunakan pedang kayu. Namun, semua seranganku berhasil ia hindari setipis kertas.

Jika aku menggunakan pedang api, aku bisa memberi kerusakan melalui sisa hawa panasnya. Tapi tentu saja, pedang kayu tidak memiliki kekuatan seperti itu.

Dulu saat aku meninggalkan desa, aku bisa mengalahkan Golandos dalam waktu kurang dari satu menit. Sekarang, aku sudah mengayunkan pedang kayu ini selama lebih dari lima menit.

"……Kakak, kamu jadi lebih lemah, ya."

Mendengar ucapan tiba-tiba dari Golandos, amarahku langsung mencapai puncaknya.

Sontak aku melempar pedang kayuku dan berniat mencabut pedang api di pinggangku—namun tanganku keburu dipukul oleh tusukan pedang Golandos.

"Ugh!"

"Menurutku, penyebab Kakak melemah adalah pedang itu. Pedang api yang disesuaikan oleh Tuan Kuruto memang luar biasa."

"Tapi, karena Kakak terlalu bergantung pada pedang itu, Kakak jadi tidak bisa mengeluarkan kemampuan asli Kakak sama sekali."

……Aku memang sempat terpikir soal itu.

Sejak aku mengusir Kuruto dari partai, intensitas api yang keluar dari pedangku memang melemah.

Seketika itu juga, partai kami bahkan tidak bisa mengalahkan musuh yang biasanya sanggup kami habisi dengan mudah.

Aku sempat berpikir bahwa penyebabnya adalah penyihir baru yang namanya saja aku lupa, atau karena Bandana yang kehilangan ketajamannya.

Aku juga menyalahkan Malefice yang tidak becus selain menyembuhkan, dan tentu saja, karena kekuatan pedangku yang menurun.

Namun, ketajaman pedang itu sebenarnya tidak berubah dari sebelumnya. Hanya kekuatan apinya saja yang berkurang.

Seharusnya dengan kemampuanku yang asli, meskipun kekuatan apinya menurun atau bahkan tidak keluar sama sekali, aku masih bisa menebas musuh-musuh itu.

"Apa yang tahu soal aku, hah?!"

"Aku tahu. Karena selama ini aku selalu memperhatikan Kakak. Aku selalu mengejar punggungmu."

Dia bicara seolah-olah dia itu Kuruto.

Ah…… benar juga.

Saat pertama kali bertemu Kuruto, aku merasa matanya mirip dengan mata anak ini.

Itulah alasannya aku memutuskan untuk menjadikan Kuruto sebagai rekan.

Tapi, aku malah bergantung sepenuhnya pada pedang api dan tidak menyadari bahwa ilmu pedangku sendiri mulai tumpul.

Meskipun begitu, aku tetap saja mengandalkan pedang itu dan melalaikan latihan untuk mengasah kemampuanku.

Lalu tanpa kusadari, aku mulai merasa takut dengan tatapan Kuruto.

Aku merasa seolah-olah adikku sedang melihat sosok diriku yang sudah menjadi menyedihkan seperti ini.

Karena itulah, aku mulai bersikap sombong dan menekan Kuruto.

Aku ingin merasa bahwa aku lebih tinggi darinya, bahwa aku berada di atas adikku sendiri.

Aku terus berusaha menanamkan pikiran itu.

Aku sudah melakukan hal buruk pada Kuruto.

Jika sekarang, aku harus meminta maaf dengan jujur padanya—

"—Mana mungkin kulakukan, brengsek! Intinya, alasan aku jadi selemah ini karena dia yang selama ini menyetel pedangku, kan!"

Aku mencabut pedang api itu sambil berteriak.

"Ya, aku mengakuinya. Aku memang melampiaskan kekesalanku pada Kuruto. Aku melakukan hal yang salah. Terus kenapa?"

"Faktanya tidak berubah bahwa penyebab aku melemah juga ada pada Kuruto. Kalau aku melemah karena perbuatanku sendiri, itu urusanku dan aku tidak bersalah. Tapi aku tidak bisa memaafkan kalau aku melemah karena Kuruto!"

"Tunggu, Kak! Apa yang sebenarnya Kakak bicarakan?!"

"Maaf, Golandos. Aku sudah sadar sekarang. Masa bodoh dengan duel. Masa bodoh dengan sportivitas."

"Aku sudah tidak bisa mundur lagi. Sejak hari itu saat aku menantang Ayah berduel—tidak, sejak saat kamu terpilih menjadi calon kepala suku berikutnya!"

Benar, di saat itulah, aku kehilangan segalanya.

Segala sesuatu yang telah aku bangun selama ini.

Aku tidak akan pernah bisa memaafkannya.

Ayah yang membuangku, adikku yang merampas posisiku, orang-orang desa yang kolot dengan tradisi aneh, hingga Bijak Menara yang menjadi penyebab semua ini, semuanya!

"Ayah tidak memilihku."

Namun Golandos melontarkan kalimat yang sama sekali tidak terduga.

"Ayah tidak memilihku sebagai calon kepala suku berikutnya."

"Hah? Jangan bercanda. Kamu itu asisten kepala suku, itu artinya kamu calon penerusnya, kan?"

"Kakak sudah salah paham. Ayah memang memanggilku dan memerintahkanku menjadi asisten kepala suku. Tapi, di saat yang sama beliau berkata begini."

"Aku menjabat sebagai asisten kepala suku hanya sampai Kakak menyelesaikan tugas Kakak dan kembali ke desa ini."

Menjadi asisten tapi tidak menjadi calon penerus?

Sampai aku menyelesaikan tugasku dan kembali ke desa?

"Sepertinya Bijak Menara pernah bicara pada Ayah. Bahwa suatu saat nanti, Kakak akan meninggalkan desa atas keinginan sendiri. Itu adalah takdir, sekaligus perjalanan untuk menunaikan tugas."

"Beliau bilang, Kakak tidak boleh dijadikan kepala suku sampai tugas itu selesai. Menurutku, tugas Kakak adalah bertemu dengan Tuan Kuruto, dan melindunginya."

"Jadi Ayah memikirkanku…… sebagai calon kepala suku."

Aku tidak tahu.

Mana mungkin aku terpikir bahwa Ayah merencanakan hal seperti itu.

"Lagipula, kenapa kamu diam saja soal ini?"

Mungkin sebelum aku pergi, Ayah melarangnya bicara. Tapi sekarang, seperti saat ini, ada banyak waktu untuk bicara setelah aku kembali.

"Habisnya, saat aku mau bicara, Golem yang bersamamu itu malah bilang begini."

"'Golnova datang ke sini untuk menikah dengan Kuruto. Menurut penyelidikanku, Kuruto sangat menyukai pekerjaannya yang sekarang dan tidak berniat tinggal di desa ini, jadi Golnova juga akan segera pergi lagi'."

"Karena dia bilang begitu, aku pikir Kakak sudah tidak tertarik dengan jabatan kepala suku…… Aku tidak ingin membuat Kakak bingung."

"Bodoh! Kuruto itu laki-laki dan aku juga laki-laki! Mana mungkin begitu!"

"Aku pikir Kakak sudah tertular selera kota besar."

Cih, si Elena itu, berani-beraninya dia melakukan hal yang tidak perlu.

Meski begitu, rasanya aneh.

Rasa kesal yang selama ini kupendam mendadak hilang seperti mimpi.

Kalau dipikir-pikir, perasaan ini mirip seperti saat aku masih giat berlatih demi menjadi kepala suku di desa ini.

Aku memasukkan kembali pedang api ke dalam sarungnya, lalu mengulurkan tangan.

"Maafkan aku, Golandos. Aku akan menemui Ayah. Dan sebagai calon kepala suku, aku berniat memimpin desa ini."

"Kakak…… akhirnya kamu mengerti."

Golandos mengusap keringat di telapak tangannya ke celana, lalu menjabat tanganku.

Dan kemudian—

 

"Setelah menculik Tuan Kuruto, kamu pikir bisa dimaafkan begitu saja, dasar putra bodoh? Lagipula, aku dengar Golnova jadi buronan di Kerajaan Homuros. Apa kamu serius berpikir pria seperti itu bisa jadi kepala suku?"

—Begitu aku menunjukkan muka di depan orang tua itu, si ayah sialan langsung menyemprotku dengan kata-kata pedas.

"Golandos, aku mencopot jabatanmu sebagai asisten kepala suku. Sebenarnya aku ingin mengusir kalian berdua dari desa, tapi sepertinya kalian sudah menyesal, dan situasinya sedang mendesak."

"Nona Mimiko bilang, jika kalian berdua menunjukkan hasil dalam pertempuran melawan pasukan Raja Iblis, kalian diizinkan tinggal di desa. Selain itu, status buronan Golnova di Kerajaan Homuros juga akan dicabut."

Sialan, jadi aku disuruh menjadi tameng di garis depan perang?

Jangan bercanda, ini semua gara-gara Kuruto.

Untuk saat ini, aku akan meminjamkan tenagaku demi menghapus status buronan itu, tapi suatu saat aku pasti akan membunuhnya……

Tidak, itu bakal merepotkan karena aku jadi tidak bisa makan masakannya lagi. Jadi, akan kujadikan dia budakku dan kuperas tenaganya habis-habisan!



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close