NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kanchigai no Atelier Meister Volume 7 Epilog

Epilog


Malam itu.

Aku—Yurishia—sedang menikmati hidangan pesta yang memanjakan lidah. Pertempuran hari ini berakhir dengan kemenangan kami.

Tentu saja, karena Raja Iblis yang merupakan pemimpin tertinggi musuh belum dikalahkan, bukan berarti seluruh peperangan telah usai. Namun untuk saat ini, kami patut merayakan kemenangan yang diraih tanpa satu pun korban jiwa.

Hanya saja, akibat medan gravitasi milik Director, markas utama musuh hancur total.

Mendengar kabar itu, pasukan unit terpisah Raja Iblis yang tadinya menginvasi Rapserado kabarnya juga mulai mundur.

Beruntung, para ksatria, pendekar desa, dan Phantom yang sempat tumbang semuanya selamat meski menderita luka berat.

Lalu, sayangnya, Golnova juga masih hidup.

Katanya, berkat makanan dan teh yang disiapkan Kuruto, mereka semua bisa bertahan di dalam medan gravitasi tersebut.

Salah satu faktor lainnya adalah karena Director terlalu percaya diri dengan kekuatannya, sehingga dia tidak berkeliling untuk menghabisi mereka yang sudah tidak bisa bergerak.

Soal Yuna... yah, aku memutuskan untuk membiarkannya seperti itu dulu untuk sementara.

Akuri memang masih belum mau akrab dengannya, tapi tidak diragukan lagi kalau dialah yang telah menyelamatkan nyawa Kuruto.

"Kita benar-benar tidak dapat giliran sampai akhir, ya."

"Benar juga. Tapi, lain kali pasti..."

"Yah, yang terbaik adalah jika tidak ada 'lain kali' lagi, de gozaru."

Tiga anggota Sakura sepertinya menyesal karena tidak bisa ikut bertempur, tapi menurutku Sina sudah bekerja cukup keras dengan menjaga Akuri.

Yang lebih malang adalah Michelle, elf murid Nona Ophelia.

Dia tidak bisa ber-Teleport ke desa ini, jadi selama ini dia kabarnya terus mengurung diri di dalam reruntuhan peradaban Lapital untuk membuat obat demi persiapan perang.

Namun, pada akhirnya tidak satu pun dari obat-obat itu yang terpakai dalam pertempuran kali ini.

Yah, karena tidak ada yang terluka... sebenarnya ada yang terluka, tapi langsung sembuh berkat efek masakan Kuruto.

Bagaimanapun, ini seharusnya kabar gembira, tapi kerja keras anak itu jadi terasa sangat sia-sia.

"Oooi, Kuruto! Kalau pesta ya harus ada 'itu', kan! Tolong, ya!"

Generic berseru keras. 'Itu' apa? Aku sempat bingung sesaat, tapi langsung menyadari maksudnya.

"Baik. Aku akan menyiapkannya."

"Kuruto, aku bantu juga ya."

"Ah, Yuna-san. Kalau begitu, tolong bantuannya."

Kuruto berkata demikian, lalu pergi ke pinggiran kota bersama Yuna. Tak lama kemudian, bunga-bunga besar nan indah bermekaran menghiasi langit malam.

"Menghiasi langit malam dengan kembang api saat pesta itu sudah biasa, kan?"

Dulu Kuruto pernah mengatakan hal itu dan membuat kami terkejut, rasanya sudah seperti masa lalu yang sangat jauh.

Waktu itu aku menjawab, "tidak ada hal biasa seperti itu," tapi sekarang aku berharap agar waktu yang damai ini benar-benar menjadi hal yang biasa—begitulah pikirku.

Di tengah lamunanku, Hildegard bertanya padaku.

"Jadi, Yurishia dan Liselotte. Bisa ceritakan detail hasil dari masa lalu? Kalian tidak pulang dengan tangan hampa, kan?"

"Ah, benar juga. Kurasa kami mendapat hasil yang cukup banyak."

Pertama, alasan kelahiran Akuri sudah terungkap.

Selama ini keyakinan bahwa Akuri adalah anak kami bertiga tidak pernah goyah, tapi sekarang terbukti bahwa bukan hanya ikatan hati, melainkan secara garis darah (?) pun kami adalah orang tua aslinya.

Selain itu, ditemukan kemungkinan bahwa Gereja Polan terlibat dalam alasan musnahnya Desa Haste.

Terakhir, aku sempat berbincang sedikit dengan Sang Sage Agung secara langsung.

Lagipula kalau sekarang, sepertinya aku juga bisa mengorek informasi dari orang itu.

Aku berpikir demikian sambil melirik Bandana yang sedang minum-minum bersama Marlefiss di meja yang agak jauh.

Aku harus menanyakan apakah dia adalah orang yang sama dengan wanita yang kutemui 1.200 tahun yang lalu.

"Aku juga mendapat informasi yang luar biasa. Bayangkan, aku bisa bertemu dengan Tuan Kuruto yang baru lahir! Ah, Tuan Kuruto saat bayi benar-benar sangat menggemaskan."

"Aku tidak pernah dengar soal itu."

"Apa Anda tertarik? Padahal jika Hildegard-san menginginkannya, aku berniat menunjukkan ilusi Tuan Kuruto saat bayi menggunakan Butterfly."

"…………Tolong lakukan setelah laporan lainnya selesai. Bukannya aku penasaran dengan Kuruto saat bayi, aku cuma penasaran sejauh mana senjata bernama Butterfly itu bisa menirukan seseorang."

Hildegard benar-benar seorang tsundere, ya. Baiklah, mari laporkan informasi yang didapat.

Tepat saat aku berpikir begitu...

"Gawat!"

Seorang warga Desa Sword Saint muncul membawa alat komunikasi. Suasana pesta yang tadinya ceria seketika berubah menjadi tegang karena aura yang tidak biasa.

"Rapserado diserang musuh!"

Itu adalah laporan yang sama sekali tidak disangka-sangka.

"Apa katamu! Bukankah pasukan musuh sudah mundur!?"

"Alat komunikasinya tersambung... Hildegard-sama."

Pria itu berkata demikian dan menyerahkan alat komunikasi kepada Hildegard.

"Aku yang bicara."

"Ah, Hildegard-sama. Ini Chichi, mohon maaf, kami sudah kalah."

Suara Chichi terdengar dari alat komunikasi.

"Tolong laporannya. Bagaimana situasi sekarang? Berapa jumlah musuh?"

"Tidak, sekarang sudah tidak ada musuh. Musuh yang menyerang hanya satu orang—"

Satu orang? Hanya satu orang musuh yang menyerang, dan pertempuran selesai. Mendengar itu saja rasanya tidak seberapa, tapi jika begitu, dia tidak mungkin bilang kalau mereka sudah kalah.

"—Raja Iblis sendiri."

"Maksudmu Raja Iblis menyerang sendirian?"

Seorang raja musuh menyerbu sendirian? Aku belum pernah mendengar pertempuran semacam itu.

"Raja Iblis menjebol gerbang dan berjalan masuk ke kota. Kami mengepungnya dengan lebih dari seratus prajurit, tapi serangan Raja Iblis menghancurkan seluruh unit. Hasil akhirnya, 176 orang tewas, 53 luka berat, 33 luka ringan—Nona Solflare juga selamat, tapi tidak dalam kondisi bisa bergerak. Maaf, obat yang dititipkan tadi sudah saya gunakan untuk mereka yang lukanya lebih parah dari Nona Solflare dan dalam bahaya maut."

Kemungkinan besar, 'obat' yang dimaksud adalah obat buatan Kuruto.

Namun, untuk seseorang yang menyerbu sendirian, korbannya terlalu banyak. Sebenarnya, siapa itu Raja Iblis?

"...Lalu Raja Iblis!? Kau bilang musuh sudah tidak ada, apa dia ditangkap? Atau dibunuh?"

"Mohon maaf. Selain makam ayahanda Hildegard-sama dirusak, kami juga membiarkannya melarikan diri."

"Makam Ayah?"

Alih-alih amarah karena makam ayahnya dirusak, sepertinya rasa heran yang lebih dulu terlintas di benaknya.

Hildegard memiringkan kepalanya.

"Hildegard, di makam ayahmu, selain abu jenazah ada apa lagi?"

"Tidak, di makam Ayah tidak ada jenazahnya. Sesuai wasiat, dia dikuburkan di makam Ibuku yang ada di desa kelahirannya. Di makam Rapserado, hanya ada barang peninggalan Ayah berupa lonceng yang tidak berbunyi."

"—!? Lonceng itu, apa yang ini!?"

Aku berseru sambil mengeluarkan liontin yang kubawa—Lonceng Sage yang kuterima dari Sang Sage Agung.

Hildegard menatap tajam lonceng yang kupegang dan tampak berpikir keras.

Meski tidak mengatakannya, aku merasa dia seolah berkata, "entah kenapa aku pernah melihatnya, rasanya mirip dengan ini."

"Lonceng itu, apa sebenarnya?"

"Yuri-san, lonceng itu kan..."

"—Ya, ini Lonceng Sage yang kuterima dari Sang Sage Agung."

"Lonceng Sage?"

Aku menjelaskan singkat tentang Lonceng Sage kepada Hildegard.

Sepertinya Hildegard tidak tahu kalau ayahnya dulu adalah murid Sang Sage Agung.

Terlebih lagi, alasan di baliknya adalah untuk memperpanjang usianya sendiri.

Mendengar itu, dia bergumam, "Benar-benar egois... tanpa tahu betapa menderitanya terus hidup selamanya."

Mengenai hal itu, bukan hanya ayah Hildegard, aku yang tidak menceritakan sisi penderitaannya kepadanya juga ikut bersalah.

"Tapi, kenapa Raja Iblis merebut benda semacam itu?"

"Entahlah... aku tidak tahu, tapi..."

Aku membatin. Sepertinya, waktu yang damai memang tidak akan berlangsung lama.

Kembang api yang mewah dan megah, yang seharusnya merayakan kemenangan, kini seolah sedang meramalkan kekacauan yang akan segera dimulai.



Previous Chapter | ToC

0

Post a Comment

close