NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kanchigai no Atelier Meister Voume 6 Prolog

Prolog


Satu minggu telah berlalu sejak aku, Kuruto, kembali ke bengkel bersama rekan-rekan satu mediaku, Lise-san dan Yurishia-san, setelah berpartisipasi dalam turnamen bela diri yang diadakan di Pulau Paos, Federasi Kota Kepulauan Koskito.

Setibanya di rumah, kami disambut oleh Hildegard-chan, gadis suku bertanduk yang merupakan teman masa kecilku.

Dia datang bersama rekannya, Solflare-san, serta Chicchi-san yang banyak membantu kami selama di Pulau Paos.

Mengejutkannya, Hildegard-chan memberi tahu kami bahwa putri kami, Akuri, ternyata adalah seorang Artificial Spirit.

Demi menyelidiki identitas Akuri lebih dalam, dia mengajukan sebuah permintaan khusus kepada kami.

Permintaannya adalah agar kami pergi melintasi waktu menuju Desa Haste di masa lalu—yang merupakan kampung halamanku.

Setelah itu, Hildegard-chan langsung pergi meninggalkan bengkel karena sepertinya ada urusan mendesak, dan sejak saat itu belum ada kabar lagi darinya.

Sejujurnya, aku tidak begitu paham apa maksud dari melintasi waktu itu.

Apakah itu berarti bukan Desa Haste yang sekarang ada di Pegunungan Sheen, melainkan lokasi Desa Haste sebelum pindah dulu?

Lise-san sedang sibuk dengan pekerjaannya sebagai penguasa wilayah, dan Yurishia-san pergi mengawalnya, jadi mereka sudah lama tidak ada di rumah dan aku tidak bisa berkonsultasi.

Di sisi lain, aku hanya melakukan pekerjaan bengkel seperti biasa…… Aku jadi berpikir, apa tidak apa-apa hanya aku yang menikmati keseharian santai seperti ini?

Sambil memikirkan hal itu, aku menggumam saat sedang duduk melamun di bangku taman setelah mengangkat jemuran.

"Apa boleh aku tetap seperti ini saja?"

"……Yah, menurutku sih tidak boleh, ya?"

Yang menjawab adalah Kans-san, salah satu anggota party petualang eksklusif bengkel kami, "Sakura", yang baru saja datang dan duduk di sebelahku.

"Benar juga, ya. Memang tidak boleh."

"Iya…… Tadi aku kan minta dipinjami pedang kayu latihan dan kamu memberiku benda ini. Tapi, sebenarnya apa ini? Baru diayunkan pelan saja tanahnya langsung jebol, lho."

"Eh? Itu kan pedang kayu biasa?"

"Bahannya apa?"

"Aku pakai dahan pohon yang diberi oleh Nietzsche-san."

Begitu aku menjawab, seorang gadis berambut hijau yang kebetulan lewat di taman…… Nietzsche-san, menyahut.

"Benar, beliau menggunakan dahan saya."

Dia adalah gadis berkulit kecokelatan dan bermata biru yang tinggal di kebun buah bengkel.

Namun, identitas aslinya adalah belahan jiwa dari Great Spirit Dryad.

Sebenarnya saat meninggalkan Pulau Paos, aku mendapatkan dahan dari pohon raksasa yang menjadi inang sang Dryad.

Sesuai instruksinya, aku melakukan sambung pucuk di kebun buah bengkel, dan dahan itu tumbuh besar dalam sekejap hingga memunculkan sosok Nietzsche-san.

Sepertinya dia terhubung dengan Dryad di Pulau Paos, karena sesekali Yurishia-san menerima pesan dari Loretta-sama, sang tokoh penting di Koskito, melaluinya.

Sambil menatap Nietzsche-san, Kans-san menghela napas.

"Jadi itu penyebabnya…… Pedang kayu dari dahan Dryad yang disambung pucuk, ya…… Benda itu sih bukan buat latihan lagi, tapi sudah bisa menghancurkan Iron Golem dalam satu serangan."

"Kalau cuma menghancurkan Iron Golem, pakai galah jemuran ini saja sudah cukup, kok."

Aku mengatakannya sambil tertawa, lalu mengayunkan galah jemuran yang baru saja kosong dan memeragakan gerakan menusuk sambil berseru "Eiyah!".

Iron Golem termasuk jenis yang rapuh di antara golem tipe logam, jadi mengatasinya itu mudah.

"Menghancurkan Iron Golem pakai galah jemuran, ya? Kalau benar-benar bisa sih hebat, tapi…… bagaimana? Mau coba simulasi tanding? Tentu saja, cuma sampai serangan hampir kena saja."

Kans-san mengambil galah jemuran lain dan menantangku.

Simulasi tanding!

Benar juga, aku harus menunjukkan pada Kans-san bagaimana aku sudah berkembang di turnamen bela diri kemarin.

"Baik, mohon bantuannya!"

Aku membungkuk hormat padanya.

—Ini adalah kisah tentang seorang pemuda yang berpartisipasi dalam turnamen bela diri dan menjadi seorang ksatria, meski baru setengah matang.

"Kalau begitu, biarkan saya yang menjadi wasitnya."

Tepat setelah Nietzsche-san berkata begitu sementara aku dan Kans-san sudah memasang kuda-kuda dengan galah jemuran, aku langsung bergerak.

Dalam pertandingan, ada dua cara bertarung.

Pertama, memperhatikan pergerakan lawan dengan saksama.

Kedua adalah Sente Hisshou—kemenangan bagi yang menyerang duluan, yakni bergerak tepat saat pertandingan dimulai.

Karena selama turnamen aku selalu menggunakan metode serang duluan, kali ini pun aku melakukan hal yang sama.

"Eiii—!"

Aku melancarkan tusukan dengan galah jemuran.

Namun, Kans-san hanya menatapku dengan wajah heran.

Aku pun merasa telah melakukan kesalahan bodoh.

Soalnya, galah jemuran itu saking bertenaganya malah terlepas dari tanganku. Bukannya mengenai Kans-san, benda itu justru terbang jauh ke arah yang tidak jelas.

"Ah, gawat! Bahaya kalau kena orang! Maaf, aku akan segera mengambilnya!"

Aku membungkuk meminta maaf pada Kans-san dan Nietzsche-san, lalu berlari mengejar arah terbangnya galah jemuran tadi.

◆◇◆

"Sudah lama ya Mimiko tidak main ke sini. Akuri pasti senang."

"Aku senang mendengarnya, Yurishia-chan. Aku juga ingin bertemu Akuri-chan."

Aku—Yurishia—membawa Mimiko dari ibu kota kembali ke bengkel di Valha.

Mimiko adalah Penyihir Istana Urutan Ketiga.

Sekarang karena berbagai alasan dia menjadi guru di sekolah Rikurt, tapi kebetulan dia sedang kembali ke ibu kota saat aku dan Lise pergi melaporkan kejadian di Koskito, jadi dia ikut saat aku pulang ke bengkel.

Dia yang juga merupakan atasan dari unit intelijen Phantom yang sangat membantu kali ini, sebenarnya ingin langsung mendengar laporan kami di hari kepulangan kami.

Hanya saja, karena aku dan Lise terus-menerus ditahan di istana, hal itu jadi tidak memungkinkan.

Karena itulah, selama perjalanan menuju ke sini, dia menginterogasiku habis-habisan tentang segala hal yang terjadi di Koskito.

Aku menghela napas lega saat bangunan bengkel mulai terlihat.

"Tapi hebat juga ya si Lise itu, dia tidak pulang menemui Kuruto selama tiga hari demi menyelesaikan tugasnya. Padahal kupikir dia bakal menyelinap keluar istana setiap hari untuk datang ke sini."

"Yurishia-chan, bukankah kamu terlalu tidak sopan pada Liselotte-sama? Beliau itu putri kerajaan, lho."

"Tumben bicaramu benar, Mimiko. Tapi melihat Lise bisa tahan jauh dari Kuruto, jangan-jangan nanti bakal hujan tombak?"

Tepat setelah aku bergurau begitu, Mimiko mendongak ke langit.

"Sepertinya yang jatuh hujan galah jemuran, deh?"

"Eh?"

Merespons ucapan Mimiko, aku langsung mendongak. Tepat di depanku, sebuah tongkat—galah jemuran—jatuh dan menancap di tanah.

Kenapa galah jemuran?

Sepertinya terbang dari arah bengkel.

Saat aku memegang galah itu sambil kebingungan, Kuruto berlari mendekat sambil mengenakan celemek, mungkin dia tadi sedang mengerjakan tugas rumah tangga.

"Maafkan aku—! Apa ada yang terluka?"

"Kuruto, apa kamu yang melempar ini?"

"Iya. Tadi aku simulasi tanding pakai galah jemuran dengan Kans-san di kebun buah, tapi malah terlepas dari tangan. Ah, Mimiko-san, selamat datang. Maaf ya, aku sedang berpakaian seperti ini."

"Tidak apa-apa, itu cocok sekali untukmu, Kuruto-chan."

Memang cocok, sih. Si Kuruto ini, aura bapak rumah tangganya makin terasah saja saat memakai celemek.

Tiba-tiba, rintik hujan mulai turun.

"Ah! Jemurannya masih di dalam keranjang! Maaf, aku permisi dulu!"

Setelah berkata begitu, Kuruto mengambil galahnya dan berlari kembali.

"Anak yang grasak-grusuk ya. Padahal kalau dia bisa lebih tenang sedikit, dia pasti bisa mengeluarkan kekuatannya saat bertarung."

"Hei, Yurishia-chan. Berapa jarak dari kebun buah sampai ke sini?"

"Hmm? Sekitar tiga ratus meter sepertinya…… ah."

Di dunia ini memang ada taktik melempar tombak, meski itu bukan galah.

Ahli tombak terbaik di Kerajaan Homuros adalah Jenderal Pertama Pasukan Ekspedisi Kerajaan, Sannoba Listkatz.

Soal menunggang kuda dan ilmu tombak, tidak ada yang menandinginya.

Bahkan ada cerita legendaris yang diketahui hampir semua prajurit kerajaan bahwa dia pernah melempar tombak dari atas kuda dan menembus jantung komandan musuh dari jarak lima puluh meter.

Namun, bahkan orang sehebat dia pun rasanya tidak akan bisa melempar tombak sejauh seratus meter.

"Seperti biasa, kemampuan Kuruto itu benar-benar tidak seimbang."

Tapi, predikat Kuruto yang disebut nol besar dalam kemampuan bertarung akan berakhir hari ini.

Soalnya, kami membawa senjata rahasia yang dibuat oleh Mimiko.

Karena hujan sepertinya akan menderas, aku dan Mimiko pun bergegas kembali ke bengkel.

 

Beberapa saat setelah aku dan Mimiko sampai di bengkel, Kuruto datang ke kamarku.

Dia membawakan jemuran yang sudah dicuci tapi sempat menumpuk karena dia tidak berani masuk ke kamarku tanpa izin.

Akuri yang sepertinya baru bangun tidur siang juga ikut bersamanya.

"Sini, Akuri."

Begitu aku memanggil, Akuri langsung menggunakan Teleportation dan memelukku.

"Senangnya ya, Akuri."

Kuruto tersenyum lalu memasukkan jemuran ke dalam lemari bajuku.

Tentu saja, karena aku mencuci pakaian dalamku sendiri, benda-benda itu tidak ada di sini. Itu adalah permintaanku, sekaligus permintaan Kuruto juga.

Setelah memastikan semua baju tersimpan rapi, Mimiko yang sedang bersantai di sofa mengeluarkan "benda" itu.

"Ini senjata baru yang kubuat khusus untuk Kuruto-chan."

Mimiko menyerahkan sebuah alat sihir yang bagian ujungnya berbentuk seperti tabung silinder kepada Kuruto.

"Senjata baru? Untukku?"

"Iya. Kuruto-chan, kamu kan punya Aptitude peringkat G untuk pedang, tombak, kapak, panah, tongkat, tinju, sampai tongkat sihir, kan? Jadi, kupikir mungkin kamu bisa memakai senjata yang benar-benar baru."

"Mimiko-san, Anda sampai memikirkanku sejauh itu."

Kuruto gemetar karena terharu.

"Papa, nangis? Apa Kakak Mimiko jahatin Papa?"

"Bukan begitu, Akuri. Papa cuma senang…… Terima kasih banyak, Mimiko-san. Lalu, bagaimana cara memakainya? Sepertinya ini alat untuk menembakkan Magic Power dari dalam tabungnya."

"Kuruto-chan bisa tahu hanya dengan melihatnya, ya. Benar, ini adalah Magic Gun, alat untuk melepaskan Magic Power yang sudah diisi. Kuruto-chan, kamu kan cuma tidak bisa pakai sihir, tapi jumlah Magic Power milikmu itu di atas rata-rata orang biasa, kan?"

"Eh? Benarkah?"

Mata Kuruto membelalak, dia masih saja tidak sadar diri ya.

Padahal dengan Magic Power-nya sendiri, dia sanggup menumbuhkan pohon raksasa yang jadi inang Dryad, tapi dia masih belum paham betapa hebatnya dirinya.

Yah, kalau dia sampai paham, dia bakal pingsan dan hilang ingatan, sih.

"Benar. Magic Gun ini menggunakan Magic Power penggunanya untuk menciptakan sihir buatan. Sayang sekali cuacanya buruk, tapi apa boleh aku minta kamu mencoba menembakkannya di luar?"

"Tentu saja, tidak apa-apa."

Kami pun pindah ke halaman belakang bengkel. Karena sedang hujan, aku memakaikan Akuri jas hujan bermotif kucing.

Di halaman belakang, Danzo yang merupakan anggota "Sakura" sudah menunggu di depan sebuah barang yang ditutupi kain.

"Danzo-chan, terima kasih kerjanya. Apa benda itu tidak ada masalah?"

"Tentu saja tidak ada masalah, de gozaru."

Sambil berkata begitu, Danzo menyingkap kain penutupnya.

Di sana, terikat erat seperti dendeng—

"Goblin!?"

Ya, itu adalah goblin.

Sepertinya Mimiko sudah meminta Danzo untuk menangkap goblin.

"Ggya! Ggya!"

Goblin yang mulutnya tidak disumpal itu meronta-ronta dengan panik, tapi ikatannya tidak akan terlepas.

"Nah, Kuruto-chan, ayo kita segera basmi goblinnya. Kamu cukup tarik pelatuk ini saja."

"Tu-tunggu sebentar, Mimiko-san. Masa tiba-tiba langsung disuruh melawan goblin."

Seperti biasa, trauma Kuruto terhadap goblin memang luar biasa.

Yah, mau bagaimana lagi kalau sejak kecil dia sudah sering dibuat menderita oleh goblin.

Lagipula, yang tidak suka goblin bukan cuma Kuruto.

Meskipun berhasil menangkapnya, tatapan Danzo saat melihat goblin itu berbeda dari petualang biasa. Dulu dia pernah dikepung banyak sekali goblin saat pergi menolong Kuruto bersama "Sakura", jadi mungkin dia punya sedikit trauma juga.

Tanpa memedulikan kegelisahan Kuruto dan Danzo, Mimiko mulai menjelaskan.

"Tenang saja, tali itu tidak akan putus. Kuruto-chan sepertinya punya kebiasaan menyerang ke arah yang salah kalau sedang tegang, jadi pertama-tama, lihatlah lewat Scope ini—tabung kaca ini—dan setelah mengunci targetnya, tekan tombol ini. Setelah itu, perangkat pelacak otomatis akan aktif. Selama selisih sudut antara target dan lintasan peluru kurang dari tiga belas derajat ke segala arah, pelurunya akan mengejar target secara otomatis."

"Ugh…… Baik, aku mengerti."

Karena sudah terikat, dia tidak akan diserang.

Setelah memahami hal itu, meski tegang, Kuruto mengarahkan Magic Gun tersebut ke arah si goblin sesuai instruksi Mimiko.




"Nah, sekarang tinggal tarik pelatuknya."

"Baik."

Duel antara 'Kuruto, Petualang Terlemah' melawan 'Goblin yang Terikat Seperti Dendeng'—sebuah pertarungan yang bahkan tidak ada dalam turnamen bela diri mana pun—kini akan segera dimulai.

Kuruto menarik napas dalam-dalam, lalu menarik pelatuknya. Sebutir bola cahaya pun meluncur dari moncong Magic Gun.

……Atau lebih tepatnya, meluncur……?

"Lucunya!"

Seru Akuri dengan nada riang.

Benda yang keluar dari moncong senjata itu adalah bola cahaya yang menyerupai gelembung sabun. Bola itu melayang-layang dengan lembut ke arah si goblin.

Akuri memang terlihat senang, tapi aku dan Mimiko benar-benar tidak habis pikir.

Meski begitu, Magic Power itu tetap mengunci target dan terbang mendekati wajah si goblin──

Fuuu.

Bola cahaya itu padam hanya karena tiupan napas si goblin.

Memangnya itu api lilin apa?!

"Tidak mungkin…… Secara teoritis, dengan kapasitas Magic Power milik Kuruto-chan, seharusnya dia bisa menghancurkan goblin dalam sekejap."

"Sudah kubilang ini mustahil bagiku. Biar sehebat apa pun alat buatan Mimiko-san, aku tetap tidak bisa membasmi goblin."

Kuruto berkata demikian, tapi ada sesuatu yang membuatku penasaran.

"Kuruto, bisa pinjamkan Magic Gun itu sebentar?"

"Iya, silakan."

Nah, jika teori Mimiko benar, maka di dalam Magic Gun ini telah terisi Magic Power milik Kuruto—kekuatan yang seharusnya sanggup menghancurkan goblin dalam sekejap.

Namun, yang ditembakkan tadi hanyalah bola cahaya yang bahkan tidak bisa mengalahkan Slime, apalagi goblin.

Kalau begitu, bukankah seharusnya masih ada sisa Magic Power yang tidak terpakai di dalam Magic Gun ini?

Sebagai percobaan, aku menarik pelatuk Magic Gun itu ke arah langit.

Dan──sebuah lubang raksasa terbentuk di awan mendung di atas kepala kami, membuat cahaya matahari menyeruak masuk.

"Cerah!"

Akuri berlari mendekat dengan gembira, tapi aku sendiri tidak bisa merasa senang.

Aku menitipkan Akuri kepada Kuruto, lalu mulai berbisik serius dengan Mimiko.

"Mimiko, kamu pasti paham, kan──"

"Tentu saja, hal ini tidak boleh dilaporkan. Kekuatannya sekitar seribu kali lipat dari output maksimal yang diperkirakan untuk Magic Gun ini. Kalau sampai dunia tahu, Kuruto-chan bisa berakhir jadi roda gigi di pabrik produksi senjata sebagai petugas pengisi daya. Apalagi jika siapa pun selain Kuruto-chan yang menarik pelatuknya tetap menghasilkan kekuatan yang sama."

"Selain Kuruto…… ya."

Aku bergumam, lalu mendekati Kuruto sambil membawa Magic Gun tersebut.

"Kuruto. Coba gunakan Magic Gun ini ke arah langit seperti yang kulakukan tadi, pakai perasaan yang sama seperti saat itu."

"Baiklah."

Kuruto menyahut sambil menitipkan Akuri padaku, lalu ia melepaskan sihir ke arah langit.

Seketika, sebuah garis cahaya dengan output yang jauh lebih tinggi dari sebelumnya melesat terbang.

"Ah, aku bisa! Ini semua berkat saran Yurishia-san. Dengan begini aku bisa mengalahkan goblin. Aku tinggal menembakkannya ke langit, lalu mengubah lintasannya agar mengenai goblin."

"Tunggu dulu, Kuruto-chan. Sudut untuk pelacakan otomatis itu kurang dari tiga belas derajat. Kalau kamu menembak ke langit, peluru itu tidak akan bisa melacak otomatis, lho."

"Benar juga ya. Kalau begitu, izinkan aku memodifikasinya sebentar."

Setelah berkata begitu, Kuruto mengeluarkan kotak perkakas dari tasnya dan mengutak-atik sesuatu.

"Sekarang alat ini bisa melacak otomatis ke mana pun arah tembakannya."

"Eh? Bohong, cuma dalam sekejap begini?"

"Iya, kalau begitu, aku mulai ya!"

Setelah mengunci target ke arah goblin, Kuruto menembakkan Magic Gun-nya ke arah langit.

Sesuai ucapan Kuruto, serangan itu tiba-tiba berubah sudut secara drastis di udara dan menukik tajam ke arah si goblin.

Fuuu.

Dan serangan itu──si bola cahaya—kembali padam hanya karena tiupan napas sang goblin.

Pertandingan maut Kuruto pun ditutup dengan drama komedi yang jarang terjadi dalam beberapa tahun terakhir.

 

─Kisah ini adalah cerita tentang seorang pemuda yang berpartisipasi dalam turnamen bela diri dan menjadi seorang ksatria, meski baru setengah matang. ─

Kisah ini adalah cerita tentang seorang pemuda eksentrik yang tidak berubah sedikit pun meski sudah berpartisipasi dalam turnamen bela diri.



Illustrasi | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close