NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Naze ka S-kyuu Bijotachi no Wadai ni Ore ga Agaru Ken V5 Chapter 3

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


Chapter 3

Meski begitu, Aku ingin Menggapainya

Rasanya mereka masih belum ingin pulang; rasa benci pada diri sendiri karena tidak bisa berbuat apa-apa membuat mereka ingin membunuh waktu tanpa harus berpikir.


"Mau nonton film saja supaya perasaan kita sedikit lebih tenang?"


"Boleh juga……"


Karena keduanya merasakan keresahan yang sama, mereka mampir ke bioskop untuk mengisi kekosongan rasa frustrasi dan kesepian tersebut. Mereka memilih film anak-anak yang bisa ditonton tanpa perlu banyak berpikir. Yuna dan Sara menonton film itu seolah ingin menghapus rasa perih karena tidak bisa mengejar teman mereka yang patah hati dan rasa sesak karena telah ditolak.


"Ayo makan popcorn."


"Iya, benar juga. Aku mau rasa karamel."


"Haha, itu sangat khas Sara."


"Lho, apa itu artinya Yuna-san pilih rasa asin?"


"Kalau popcorn biasanya memang begitu, kan."


"Yuna-san juga ternyata mudah ditebak ya."


(Dalam saat seperti ini, kalau ada Rin, apa dia akan pilih rasa mentega-kecap ya?)


(Rin-san mungkin antara mentega atau karamel, tapi……)


Tanpa mengucapkannya, keduanya tetap memikirkan Rin di dalam kepala mereka.


***


Setelah film selesai dan sesaat sebelum mereka berpisah, Sara tiba-tiba mengajukan sebuah usul. Karena Sara mendadak berhenti berjalan, Yuna sampai terbelalak.


"Anu…… Yuna-san. Rasanya hari ini aku masih ingin bersama sedikit lebih lama lagi. Kalau boleh, bagaimana jika menginap saja? Mengingat masalah Rin-san juga, aku sedang tidak ingin sendirian……"


"Eh……"


Namun, Yuna langsung mengangguk setuju. Ia bisa seketika memahami perasaan Sara.


"Benar juga…… aku pun sedang ingin menginap."


Ia sangat mengkhawatirkan Rin sehingga merasa tidak akan bisa tidur nyenyak malam ini sendirian. Ditambah lagi, mulai besok ia perlu berdiskusi banyak dengan Sara.


"Karena aku yang mengusulkan, bagaimana kalau di tempatku saja──"


"Eh, tapi rasanya tidak enak kalau merepotkanmu berhari-hari."


Yuna merasa sungkan karena sebelumnya ia sudah menumpang di rumah kakek Sara. Jika sekarang harus menginap di rumah Sara lagi, rasa tidak enak memenuhi hatinya.


"……Hanya rahasia antara kita, apartemen tempat aku tinggal sendiri... tempatnya lumayan bagus. Jadi bagi aku, akan lebih terbantu jika kita menginap di rumah aku saja."


Setelah mengatakan itu, Sara tiba-tiba panik dan meralat kata-katanya.

"Maaf! Maksud aku bukan begitu! Aku tidak bermaksud bilang kalau rumah Yuna-san tidak bagus───"


"Pfft."


Melihat Sara yang berusaha keras membela diri dengan sangat polos, Yuna pun tersenyum lebar.


"Aku mengerti kok. Tapi alasan kalau rumahmu lebih bagus itu cukup meyakinkan, jadi mari kita ke sana saja."


"Ba-baik……"


Melihat Sara yang sempat lesu karena salah bicara kini kembali ceria, Yuna melangkah maju lebih dulu.


"Ayo, Sara. Kita beli berbagai keperluan dulu."


"I-iya!"


Maka, mereka berdua memutuskan untuk berbelanja terlebih dahulu sebagai persiapan acara menginap mereka.


Setelah berjalan sebentar dari bioskop, mereka melihat sebuah toko diskon besar.


"Mumpung ada di sini, ayo beli di sini saja."


"Ide bagus."


Awalnya mereka berencana membeli camilan dan minuman di minimarket, tapi jika ada toko diskon, itu jauh lebih baik. Karena sesuai namanya, harganya sangat ramah di kantong.


"……Aku jarang sekali masuk ke toko seperti ini," ucap Sara sambil mencengkeram ujung baju Yuna.


"Ah, maaf……"


"Tidak apa-apa, aku mengerti. Tempat ini memang terasa sempit dan bikin bingung seperti mau tersesat ya."


“(Sara mengangguk-angguk kecil)”


Sara melihat ke seluruh isi toko seolah sedang melihat benda-benda langka.


"Tapi di sini camilan dan minumannya sangat murah lho."


"Benar sekali."


Sara tampak terkejut melihat label harga dan membelalakkan matanya.


"Aku mau beli minuman energi!"


"Ehehe," Sara memasukkan produk itu ke keranjang belanja seperti anak kecil yang nakal. Menggemaskan. Padahal meminum minuman energi di malam hari bukan kejahatan, tapi Sara tampak sedikit bangga seolah ia sedang melakukan hal yang sangat berani.


"Kalau begitu aku ambil café au lait saja."


Sambil menahan tawa melihat keimutan Sara, Yuna memasukkan botol café au lait ke keranjang.


"Eh~ Yuna-san tidak minum minuman energi juga?"


"Eh, kamu ingin aku minum itu juga, Sara?"

"Soalnya kalau cuma sendirian rasanya sepi."


Sara memainkan ujung bajunya dengan malu-malu.


(Hah, anak ini bisa melakukan hal seperti ini secara alami, makanya dia sangat manis...)


Kalau Rin, dia pasti melakukannya dengan perhitungan, tambah Yuna dalam hati. Tak kuasa menolak wajah imut itu, Yuna menghela napas pendek.


"Satu botol saja ya. Oke, aku beli juga."


"Terima kasih banyak!"


Sambil mengobrol, mereka pindah ke bagian camilan.


"Keripik kentang, cokelat, donat…… semuanya terlihat enak tapi musuh besar bagi kulit."


Rekomendasi Bulan Ini.


Di rak diskon besar itu terdapat keripik kentang, cokelat, dan donat. Sara mengambil semuanya dengan mata berbinar.


"……Melakukan hal seperti ini rasanya mendebarkan ya, seperti sedang berbuat nakal."


"Yah, begitulah. Meskipun masih ada ganjalan karena Rin tidak ada di sini."


"Iya! Karena itulah!"


Sara mengambil semua produk rekomendasi itu dengan kedua tangannya dan memasukkannya ke keranjang.

"Lain kali kita harus ajak Rin-san juga dan menginap bertiga!"


Ini bukan soal bisa atau tidak bisa. Mereka akan melakukannya—begitulah keyakinan yang mereka pegang. Karena hanya itu yang bisa mereka lakukan saat ini────.


"Iya, pasti."


Yuna menjawab usulan Sara dengan senyuman lebar.


"Ah, senyum Yuna-san yang barusan cantik sekali."


"………Eh, be-benarkah?"


"Iya!"


"Duh, jangan terlalu sering mengatakannya... aku jadi malu."


"Tidak mau."


"……Ih, terserahlah."


Karena merasa salah tingkah, Yuna bergegas melangkah menuju kasir.


***


Setelah selesai belanja, hari sudah benar-benar gelap di luar. Dalam perjalanan menuju apartemen Sara tempat ia tinggal sendiri, tiba-tiba perut mereka berdua berbunyi nyaring.


"………Ah, maaf. Itu aku."


"Tidak, aku juga begitu."


Mereka saling berpandangan dan tertawa kecil karena tidak menyangka perut mereka akan berbunyi bersamaan.


"Bagaimana kalau makan malamnya Gyudon saja……?"


Tepat di depan sana, setelah berjalan sedikit lagi, ada kedai Gyudon dari jaringan restoran terkenal.


"Eh, ah, baik."


"Hmm? Sara kelihatan senang sekali, apa kamu punya kenangan khusus dengan tempat ini?"


"……Tidak, aku hanya merasa sedikit bernostalgia."


Sara mengatakannya seolah sedang meresapi sesuatu dalam hatinya.


"Nanti akan aku ceritakan, sekarang ayo kita masuk dulu."


Mengikuti ajakan Sara, Yuna membuka pintu kedai tersebut.


"Selamat datang~~!"


Suara ceria dari pelayan menyambut mereka begitu masuk. Karena kebetulan ada kursi booth yang kosong, mereka segera duduk dan mulai memilih menu melalui tablet pesanan.


"……Jadi, Sara mau pesan apa?"


"Aku mau Gyudon yang ini."


Menu yang ditunjuk Sara adalah Gyudon dengan topping keju.


"Ooh…… pilihan yang berani ya (tinggi kalori). Kalau begitu, aku juga────"

Akhirnya, mereka berdua memesan Gyudon keju. Karena pelanggan di dalam kedai sedang sepi, pesanan mereka pun datang dengan cepat.


"Enak ya……"


"Iya."


Setelah mengucapkan salam makan, mereka mulai menyantapnya. Kelezatan daging dan keju seketika menyelimuti seluruh mulut mereka.


"──Tentang kedai Gyudon ini,"


Tiba-tiba, di tengah makannya, Sara membuka suara.


"Aku pernah datang ke sini berdua dengan Akasaki-san……"


"……(Uhuk! Uhuk!)"


Yuna refleks tersedak. Ia sama sekali tidak menyangka nama Haruya akan keluar dari mulut Sara di saat seperti ini.


"A-apa kamu baik-baik saja?"


"Ma-maaf, tidak apa-apa. Begitu ya…… dengan Akasaki-kun."


"Iya. Saat itu aku baru saja mengenal Akasaki-san, dan dialah yang mengajari aku rasa dari Gyudon di kedai ini……"


"Heh. Begitu ya……"


Melihat ekspresi Sara yang bercerita dengan wajah bahagia, entah kenapa Yuna pun ikut merasa senang.


"Kalau begitu, apa kamu tahu kalau rasa jahe merah di sini juga enak?"


"……Aku belum tahu."


Sara membelalakkan matanya.


"Kalau begitu, ini adalah rasa yang aku ajarkan pada Sara."


Melihat Yuna yang tampak bangga, Sara pun mencoba sesuap kecil jahe merah bersama sedikit nasi dan daging.


"……Ah, ternyata enak sekali."


"Iya. Aku selalu memasukkan banyak jahe merah kalau makan."


"Heeh. Jadi begitu ya……. Kalau aku, umm, umm..."


Sara mengedarkan pandangannya ke sana kemari, mencari sesuatu. Sepertinya dia ingin memberi tahu sesuatu sebagai balasan karena Yuna sudah mengajarinya tadi. Namun, bagi Sara yang tidak terbiasa makan di kedai Gyudon, menanyakan cara makan rekomendasi atau menu andalan adalah tugas yang mustahil.


"……Sudah, tidak apa-apa. Kamu bisa beri tahu aku sesuatu yang lain di lain kesempatan."


"Begitu ya."


Sara tampak sedikit lesu, pundaknya merosot. Melihatnya seperti ini, Yuna menyadari bahwa ternyata ada banyak hal yang belum mereka ketahui. Meskipun statusnya teman, atau bahkan sahabat dekat sekalipun, terkadang masih banyak hal yang tidak diketahui satu sama lain.


(Kira-kira, Rin-san juga punya cara makan favoritnya sendiri tidak ya……)


(Pasti ada banyak hal tentang Rin yang sama sekali belum aku ketahui……)


Sambil menikmati Gyudon mereka, keduanya sama-sama memikirkan Rin di dalam kepala masing-masing. Terasa sekali betapa pentingnya sosok Rin bagi mereka berdua. Setelah ini, mereka akan melanjutkan acara menginap di rumah Sara, namun tetap saja, ketiadaan Rin membuat suasana terasa sedikit sepi.


Acara menginap pun berlangsung dengan tenang. Karena mereka membeli banyak barang, Yuna sempat mengira mereka akan begadang semalaman, tapi...Sara yang tadi sempat bersemangat karena minuman energi, setelah makan sedikit camilan, berkata dengan wajah puas:


"Aku mau mandi duluan ya."


"Lho, camilannya kan hampir tidak berkurang sama sekali?"


"Ternyata aku tidak bisa makan sebanyak itu ya."


Bagi Sara yang terbiasa hidup sehat, gaya hidup ngemil malam seperti ini terasa tidak sehat dan tubuhnya menolak. Melihat Sara yang tersenyum kecut, Yuna menghela napas.


"Hah. Padahal kita beli sebanyak ini…… tidak berkurang sama sekali."


"Yah, mari kita simpan saja untuk acara menginap bareng Rin-san nanti……"


Sebelum menuju kamar mandi, Sara menepuk tangannya, seolah baru saja mendapatkan ide cemerlang.


"Oh iya! Bagaimana kalau kita mandi bersama?"


"Eh……" 


Yuna mengeluarkan suara tanda terkejut.


"Duh, itu agak memalukan tahu……"


"Maksudnya, Kamu malu memperlihatkan tubuhmu?"


"……… (mengangguk kecil)"


Yuna mengangguk pelan di tempat. Sara mungkin mengajukan ide ini hanya untuk mengalihkan pembicaraan soal camilan, tapi Yuna benar-benar terjebak.


"Tapi, Yuna-san, waktu acara menginap sebelumnya kita juga mandi bersama kan……"


"Ya-yah, itu benar, tapi……"


Waktu itu adalah pemandian air panas yang penuh uap, jadi masih mendingan. Tapi kali ini hanya mereka berdua. Apalagi bukan pemandian umum, melainkan kamar mandi apartemen yang sempit.


"……Sudahlah. Mari kita saling menggosok punggung."


"Kenapa, Sara? Apa ini salah satu impianmu?"


Sara tidak menyerah. Dengan mata berbinar, ia meraih tangan Yuna.


"Iya. Sebenarnya, aku punya impian bisa saling menggosok punggung saat acara menginap."


"Tapi, waktu kita menginap dengan yang lain……"


Yuna baru pertama kali mendengar ini. Ia tidak pernah mendengar soal keinginan menggosok punggung sebelumnya.


"Itu karena ada Akasaki-san dan yang lainnya……"


Lalu, Sara menambahkan dengan wajah malu-malu.


"……Aku kan tidak mau dianggap kekanak-kanakan……"


"O-oh, begitu ya."


Telinga Sara sudah berubah menjadi merah padam. Sambil mengetuk-ngetukkan kedua telunjuknya, Sara memperhatikan reaksi Yuna.


"Duh. Kalau kamu menunjukkan reaksi imut begitu, aku kan jadi tidak punya pilihan selain mandi bareng……"


"Benarkah! Terima kasih banyak!"


Sara melompat kegirangan di tempat. Saking senangnya, matanya berbinar dan ia meninju udara.


Jedug!


Tiba-tiba terdengar suara benturan keras.


"A-aduh, sakit……"


Sara berjongkok sambil memegang kepalanya.


"Astaga, apa sih yang kamu lakukan…… kamu tidak apa-apa?"


Yuna mengulurkan tangan sambil tersenyum pasrah. Sara baru saja membenturkan kepalanya ke langit-langit karena melompat terlalu tinggi di atas tempat tidur.


"……Iya."


Setelah menyambut tangan Yuna, Sara pun menuntunnya ke kamar mandi.


***


Suara serangga di malam hari terasa menenangkan saat suasana hati sedang stabil. Sekarang, Yuna sedang menggosok punggung Sara. 

Suara "orkestra" serangga yang terdengar dari luar terasa tidak buruk juga. Jika ini pemandian terbuka, pasti akan terasa luar biasa karena bisa menikmati pemandangan luar.


(Sebenarnya, pemandian air panas saat acara menginap dulu juga terasa seperti ini ya……)


Yuna tenggelam dalam pikirannya sambil menggosok punggung Sara dengan handuk.


"……Yuna-san. Sangat mahir ya."


"Benarkah? Syukurlah kalau begitu. Ngomong-ngomong, sabun mandi ini harum sekali, merek apa?"


"……Ah, iya. Ini adalah───"


Sambil mengobrol ringan, Yuna tiba-tiba terpikir.


Apa yang sedang dilakukan Rin sekarang ya?


Sara pasti memikirkan hal yang sama.


Sambil menengadah menatap langit-langit, Sara berkata:


“……Rasanya tetap ada yang kurang ya kalau tidak ada Rin-san. Aku ingin pergi ke tempat Rin-san.”


Meskipun Rin sudah kembali ke rumah orang tuanya, Sara tetap ingin berada di sisinya. Walau ia tahu Rin mungkin tidak akan menyambutnya. Pesan-pesan yang dikirimkan pun tidak menunjukkan tanda-tanda akan dibalas. Mungkin saat ini Rin memang sedang ingin menghabiskan waktu sendirian.


“Iya. Tapi kita mungkin akan ditolak olehnya.”

“Meskipun begitu, kalau kita tidak mencoba melangkah masuk ke dunianya, semuanya tidak akan dimulai.”


“Sara, kamu sudah jadi sangat kuat ya. Serius dah……”


“Aku mengerti ada saat-saat di mana seseorang ingin sendirian. Tapi, aku masih belum menyentuh luka Rin-san yang sebenarnya.”


“………Benar juga ya.”


Mendengar perkataan Sara, Yuna merenung dalam-dalam. Mereka belum menyentuh luka Rin. Bahkan belum melangkah masuk ke dalam hatinya.


“……Tapi, sejujurnya aku merasa sedikit takut untuk menyentuh hal itu.”


Meski sudah membulatkan tekad untuk melangkah maju, rasa takut itu tetap ada. Karena jika ia berada di posisi Rin, ia merasa dirinya sendiri mungkin akan menolak orang lain. Ia bisa memahami perasaan Rin, itulah yang membuatnya ragu...


“Aku pun merasakan hal yang sama, Yuna-san……”


Sara melanjutkan dengan nada suara yang penuh kekuatan.


“Aku takut, tapi aku punya Yuna-san di sisiku……”


Yuna ingin Sara berhenti memberinya senyum yang menyilaukan seperti itu. Ia hanya bisa memalingkan wajah dan memberikan reaksi yang samar.


“I-iya, tapi selain aku, kan ada Akasaki-kun juga?”


Mendengar nama itu disebut tiba-tiba, Sara tersentak.

“Kira-kira bagaimana keadaan Akasaki-san sekarang ya? Semoga Kazamiya-san bisa melakukan sesuatu untuk membantunya.”


“……Iya. Tapi────”


Melihat ekspresi cemas Sara, Yuna hendak mengatakan sesuatu. Namun, seolah sudah tahu apa yang dipikirkan Yuna, Sara mengucapkan kalimat yang sama di saat yang bersamaan:


““Jangan hubungi Akasaki-san (kun) (dulu).”“


Karena kata-kata mereka berbarengan, Yuna refleks membelalakkan matanya.


“Ternyata Sara juga berpikiran sama.”


“Iya. Karena itu tidak adil bagi Rin-san. Meskipun ini murni sebagai teman.”


“…….Be-benar juga ya. Sebagai teman.”


Yuna menahan napas mendengar perkataan Sara. Ia tahu Haruya sedang terluka. Ia ingin menjadi sandarannya. Ia ingin berada di sisinya. Sebagai gadis-gadis yang menaruh rasa pada Haruya, tentu keinginan itu sangat kuat. Namun, Rin sedang terluka karena masalah Haruya ini. Yuna merasa tidak mungkin bisa meninggalkan sahabatnya begitu saja demi mendekati luka Haruya sendirian.


(Benar. Itu benar-benar tidak adil.)


Yuna membatin sambil meresapi perasaan itu.


(Mendukung Akasaki-kun yang sedang terpuruk sekarang adalah hal yang tidak adil. Aku pun membenci tipe heroine yang bersikap seperti itu.)

“Hah, aku benar-benar benci heroine seperti itu……”


“He-heroine? Apa maksudnya?”


Gawat. Suara hatinya bocor keluar. Sara yang tidak paham hanya bisa memiringkan kepala, bingung dengan maksud ucapannya.


“Ah, tidak……… Anu, Sara, sekarang giliran punggungku yang digosok, boleh?”


Karena merasa malu, Yuna berusaha keras mengalihkan pembicaraan dan membalikkan punggungnya ke arah Sara.


Dalam shoujo manga yang biasa Yuna baca, ada karakter heroine seperti itu. Karakter yang lebih memprioritaskan laki-laki daripada temannya, tapi tetap mendekati temannya sambil seolah berkata, 'Kita selamanya teman kan?'. Yuna merasa jijik pada karakter semacam itu.


Persahabatan dan asmara. Mana yang diprioritaskan itu tergantung masing-masing orang, dan ia tidak benci jika seseorang memilih asmara. Hanya saja────.


(Aku merasa sombong jika seseorang ingin terus berteman tanpa mau menghadapi masalah temannya itu sendiri.)


“……Ba-baiklah. Aku akan gosok punggungmu sekarang.”


Sara mengambil sabun mandi secukupnya di tangan dan meratakannya. Ia membasahi handuk dengan sabun itu lalu mulai menggosok punggung Yuna. Dengan ritme yang teratur, Sara berkata:


“……Sekali lagi aku katakan, aku ingin kita bertiga menghadapi Akasaki-san bersama-sama. Aku tidak ingin ada yang mencuri start sendirian.”

Yuna mengangguk pelan satu kali.


(……Terima kasih ya, Sara.)


Yuna kembali berterima kasih pada Sara di dalam hatinya. Mandi bersama ini dimulai karena keinginan Sara untuk saling menggosok punggung. Tapi berkat ini, mereka bisa mengobrol dan Yuna bisa merapikan perasaannya. Tanpa disadari, suara serangga di luar pun mulai mengecil.


“Ngomong-ngomong, sabun dan sampo ini benar-benar enak aromanya.”


“Iya kan. Apa Yuna-san mau punya aroma yang sama denganku mulai sekarang?”


“Cara bicaramu…… terdengar agak menjijikkan tahu.”


“Jahat sekali!”


Keduanya saling berpandangan dan tertawa kecil. Setelah mencuci muka, mereka berdua pun keluar dari kamar mandi.


***


Meskipun mereka bilang akan begadang, sepertinya mereka sudah tidak punya tenaga lagi untuk melakukan perang bantal. Akhirnya mereka menggelar kasur lantai berdampingan untuk tidur. Sara sebenarnya punya tempat tidur sendiri, tapi ia memutuskan untuk ikut tidur di lantai demi menemani Yuna.


“Padahal kamu tidak perlu merasa sungkan padaku……”


“Tidak kok, aku memang sedang ingin tidur bersama. Tolong mengertilah.”

“Apa kamu merasa kesepian?”


“Lebih tepatnya, sebenarnya aku pun merasa cemas───”


"Begitu ya."


Tanpa bermaksud menggodanya, Yuna meraih remote lampu. Perawatan wajah dan sikat gigi sudah selesai; sekarang hanya tinggal tidur.


"Boleh aku matikan lampunya, Sara?"


"Silakan, Yuna-san."


Pip.


Dengan satu bunyi dari remote tersebut, cahaya di ruangan itu seketika meredup.


"Rasanya belum ingin tidur ya……"


"Benar sekali……"


"Anu, Sara. Mau mengobrol agak lama?"


"Tiba-tiba sekali."


"Tapi kamu terlihat tenang sekali mendengarnya?"


Seolah-olah Sara sudah tahu Yuna akan mengusulkan hal itu. Sara mengangguk sekali sebelum menjawab.


"Iya. Habisnya Yuna-san itu orang yang baik."


"Hmm? Maksudnya?"

"Karena aku bilang kalau aku merasa cemas, makanya Kamu memberikan usul seperti itu, kan?"


"Yah, itu salah satu alasannya sih……"


Yuna menarik selimutnya sampai ke mulut lalu melanjutkan.


"Hei Sara…… seharian ini aku terus memikirkan tentang Rin."


"Iya. Aku pun sama."


"Rasanya aneh tidak sih……"


"Aneh, bagaimana?"


"Maksudku, jika Rin gagal menyatakan cinta, apakah dia benar-benar akan menolak kita? Semakin aku memikirkannya, semakin aku merasa ada sesuatu yang janggal."


"……Mungkin benar."


Jika seseorang gagal menyatakan cinta, biasanya mereka ingin segera didengarkan. Meski biasanya Rin tidak pernah menunjukkan keluhan atau kelemahannya, melalui Festival Eiga, jarak hati mereka sudah semakin dekat. Bahkan saat acara menginap sebelumnya pun, perasaannya yang mencintai Haruya terlihat sangat jelas.


 Yuna merasa ragu apakah kegagalan cinta bisa membuat seseorang bereaksi sampai tidak sudi melihat wajah teman-temannya sendiri.


"……Kita juga tidak bisa terus-menerus melarikan diri, kan?"


Mendengar perkataan Yuna, Sara seolah membulatkan tekad. Ia menghela napas panjang dan memantapkan hatinya.


"……Siapa yang kita sukai. Dan bagian mana yang membuat kita jatuh cinta. Mari kita ceritakan semuanya."


"Tanpa menutup-nutupi sedikit pun, ya."


Jika tidak begitu, mereka merasa tidak akan bisa menjangkau Rin. Firasat itu bergejolak di dalam dada mereka berdua.


"Aku───"

"Aku────"


Begitulah, mereka berdua mulai berbagi tentang siapa orang yang mereka sukai dan alasannya tanpa ada rahasia lagi.


***


"Eh, jadi orang yang menolongmu dari gangguan preman itu Akasaki-kun!?"


Yuna sebelumnya sudah pernah mendengar cerita Sara tentang preman saat mereka membahas laki-laki yang menarik perhatian. Namun, tak disangka orang itu adalah...


Sara menutupi wajahnya dengan kedua tangan saat berkata:


"Dia adalah... Akasaki-san."


Yuna terdiam seribu bahasa.


"Tunggu dulu! Jadi orang yang kumaksud mirip tokoh manga Shoujo itu juga...!"


Yuna hampir saja melompat dari baringannya saat berseru.


"Eh, jadi orangnya Akasaki-san juga!?"

Mereka saling menatap dengan wajah tidak percaya. Dan seketika, mereka mulai saling bertanya.


"Jadi, Kamu juga tahu sisi kerennya itu?"


"Iya. Ternyata Sara juga tahu……"


"Yuna-san pun begitu……"


"Pertemuan macam apa sih yang kalian alami?"


"Benar juga ya……"


Saking mengejutkannya, setelah semuanya terucap, mereka justru perlahan menjadi tenang kembali.


"Lalu, bagian mana dari dirinya yang kamu sukai?"


"Bagi aku, kebaikannya yang tulus. Soalnya Akasaki-san sampai datang ke rumah aku dan berdebat dengan ayah aku."


"A-apa!? Dia sampai datang ke rumahmu?"


"Iya."


"Luar biasa ya."


"Karena itulah, aku jatuh cinta pada Akasaki-san yang telah membuat aku menjadi kuat……"


Wajah Sara memerah padam sambil memalingkan muka. Hati Yuna ikut berdebar karena sesi curhat yang jujur ini, dan ia pun mulai terbuka.


"Kalau aku, dia mengembalikan semangat basketku. Dia memberiku semangat dan mendorongku saat aku sedang terpuruk. Aku menyadari bahwa dia adalah orang yang punya hati yang sangat hangat, dan rasanya kami jadi semakin dekat."


"……Ugh. Aku sudah tidak terkejut lagi, tapi Akasaki-kun curang sekali!"


"Fufu. Benar juga ya. Karena Rin pun juga terhadap Akasaki-kun………"


Tiba-tiba Yuna membeku.


"Jangan-jangan."


Mendengar itu, Sara pun mengangguk setuju.


"Sepertinya, memang begitu ya……"


"Iya, meskipun memalukan, sepertinya memang begitu."


Setelah berbagi perasaan satu sama lain, dugaan mereka kini berubah menjadi keyakinan. Alasan Rin menghindari mereka, alasan Rin menolak mereka dengan tatapan mata yang tampak begitu menderita setelah ditolak.


“……Rin-san sudah tahu kalau orang yang kita sukai itu sama.”


Menyambung perkataan Sara, Yuna berucap seolah sedang memastikan sesuatu.


“Padahal dia sendiri sudah menyatakan cinta dan ditolak, karena itulah dia tidak bisa memaafkan dirinya sendiri.”


Mungkin itulah sebabnya dia menjaga jarak. Ini memang baru sebatas spekulasi. Namun, karena mereka menilai kemungkinan itu sangat tinggi────.


“……Aku merasa belum benar-benar mendengarkan curhatan cinta Rin. Kalau dia menarik diri karena memikirkan perasaan kita, justru kitalah yang harus menyampaikannya padanya.”


“Ada banyak hal yang ingin kusampaikan pada Rin-san.”


“Kita akan membuat sesi curhat cinta kita bertiga semakin seru.”


“Iya! Ini adalah acara menginap bagian kedua!”


Keduanya saling mengangguk mantap dengan senyum merekah.


“Lagipula…… kita memang tidak bisa apa-apa tanpa Rin, ya.”


“………—!”


“Tentu saja, maksudku bukan karena aku tidak suka hanya berdua dengan Sara. Tapi setelah menghabiskan waktu hari ini, aku merasa kalau tidak ada Rin, rasanya ada yang kurang seru.”


“Benar sekali.”


“Iya. Dan bagaimanapun juga, aku pasti ujung-ujungnya memikirkan Rin.”


“Aku mengerti.”


Keduanya saling menatap dan mengangguk.


“Kalau dipikir-pikir, aku juga tidak tahu banyak tentang barang favorit Rin. Aku benar-benar cuma tahu garis besarnya saja, seperti masalah asmara ini……”


“Ternyata sulit ya menyebutkan hal-hal yang disukai Rin-san secara spesifik.”


Sara menimpali Yuna yang tampak kesulitan merangkai kata.


“Aku pun tidak bisa langsung terpikir. Aku tahu makanan kesukaannya atau cerita yang dia suka, tapi aku tidak tahu apa hobi yang benar-benar membuat Rin-san terobsesi.”


“………Benar juga ya. Bahkan, aku mungkin juga belum terlalu paham apa yang Sara sukai.”


“Fufu…… Kalau Yuna-san kan basket. Lalu penulisan naskah. Hal-hal yang kamu sukai sangat mudah ditebak.”


“………—!”


Yuna ingin membalas karena merasa malu, tapi karena itu benar, ia tidak bisa membantah. Melihat Yuna yang seperti itu, Sara tertawa kecil sampai bahunya berguncang. Ia pasti merasa Yuna sangat menggemaskan.


“Lalu, apa hal yang bisa membuat Sara terobsesi?”


“Hmm, hal yang bisa membuatku terobsesi adalah────”


“A-apa itu?”


Sara terdiam sejenak untuk berpikir. Melihat sikapnya, Yuna yang tidak sabar ingin mendengar jawabannya langsung bertanya dengan nada mendesak.


“………Tidak ada.”


“Eh?”


Yuna merasa lemas seketika. Setelah jeda yang begitu lama, ternyata jawabannya hanya dua kata: "Tidak ada". Yuna hanya bisa terdiam tidak percaya.


“Ah, Yuna-san, Anda pasti sedang merasa ilfeel sekarang.”


“……………”


Mendengar ucapan Sara, Yuna langsung membalikkan badan membelakanginya. Suara gesekan tubuh di atas kasur terdengar jelas di kamar yang sunyi itu.


“Tuh kan, kamu benar-benar ilfeel.”


Tindakan Yuna sudah menjadi jawaban yang jelas. Sara menggembungkan pipinya dengan kesal.

“……Maaf, maaf. Habisnya Sara tadi membuatku berharap tinggi lalu menjatuhkannya begitu saja.”


“Tidak juga. Hanya saja────”


“Hanya saja?”


Ketika Yuna mendesak, Sara melanjutkan dengan nada suara yang serius.


“Memang benar-benar tidak ada hal yang membuatku terobsesi. Apalagi selama ini aku hidup dengan membungkam suara hatiku sendiri.”


Sara mengenang masa lalunya saat tumbuh sebagai anak angkat di keluarga bangsawan. Sebagai putri keluarga Himekawa. Demi membalas budi kepada keluarga yang telah menerimanya sebagai anak. Indikator hidup Sara bukan tentang "apa yang ingin dilakukan", melainkan "apa yang harus dilakukan sebagai anggota keluarga Himekawa". Karena itulah───.


“Sekarang aku masih dalam tahap mencari tahu…… tentang apa yang ingin aku lakukan. Tentang hal yang bisa membuatku terobsesi.”


Namun, di dalam hatinya ia membatin. Ia memang belum memiliki hobi atau kegiatan yang membuatnya gila, tetapi faktanya ada satu hal yang tidak bisa ia lepaskan.


(……Aku sangat terobsesi pada Akasaki-san. Aku…… i-ingin menjadi istrinya, sih.)


Ia memikirkan pemuda yang tidak ada di sini. Orang yang membuat Sara terobsesi tak lain adalah Akasaki Haruya. Meski tidak terucap, detak jantung Sara berdegup sangat kencang.


────Deg, deg, deg.


Seiring dengan detak jantungnya, wajahnya pun mulai terasa panas. Meski ia tahu ruangan ini gelap dan Yuna tidak akan bisa melihat rona wajahnya, Sara tetap merasa salah tingkah.


“Sara, kenapa tiba-tiba menutupi seluruh tubuh dengan selimut? Ada apa?”


Karena gerakan Sara yang tiba-tiba heboh di sebelahnya, Yuna bertanya dengan bingung.


“………Ja-jangan bertanya.”


“Duh, justru tidak bertanya itu malah aneh tahu……”


Jika seseorang tiba-tiba bertingkah mencurigakan, justru aneh jika tidak ditegur. Yuna menatap Sara yang meringkuk seperti bola di balik selimut.


“Hal yang membuatmu terobsesi…… jangan-jangan cinta?”


“……—!”


Sara semakin meringkuk dan menolak keluar dari selimut. Itu adalah bentuk pengakuan yang membuat Yuna tersenyum geli.


“Aku punya hak untuk bungkam!” ucap Sara yang masih bersembunyi di dalam selimut.


“Di dalam sana kan panas dan sesak, kamu tidak akan tahan lama-lama di situ.”


“……………”


Sara mengabaikan teguran logis Yuna dan tetap meringkuk. Karena penasaran berapa lama Sara bisa bertahan, Yuna tidak mengalihkan pandangannya.


“………Nah, kan, wajahmu keluar juga.”


Wajah Sara perlahan muncul dari balik selimut. Melihatnya, Yuna teringat pada permainan pukul tikus tanah.


“Yuna-san jahat.”


Sara memalingkan wajahnya dengan tatapan sinis.


“Yuna-san sendiri juga sedang tergila-gila dengan cinta, kan?”


“I-itu... kalau itu sih────”


Yuna tidak menyangka topik itu akan berbalik padanya. Atau mungkin, meskipun sudah menduganya, tetap saja sulit baginya untuk tetap tenang.


(Aku tidak bisa berbohong di sini, aku harus mengakuinya. Tapi───)


Rasa malu dan harga dirinya seolah enggan mengizinkan pengakuan itu. Saat Yuna sedang bergelut dengan batinnya, ia merasakan sentuhan lembut di tangannya.


“Mulai dari sini, kita harus melibatkan Rin-san juga, ya.”


Tanpa disadari, Sara sudah menggandeng tangannya.


“Aku tidak bilang kamu boleh memegang tanganku, lho.”


Karena merasa malu, Yuna refleks bersikap dingin.


“Fufu. Sekarang kan gelap dan tidak kelihatan, jadi tidak apa-apa, kan?”


“Yah…… kalau tidak kelihatan, mau bagaimana lagi.”


Yuna membalas genggaman tangan itu dan tersenyum lembut.


“Ternyata kesamaan kita memang asmara ya.”


“……Memangnya tidak ada hal lain?”


“Jadi Anda tidak membantahnya ya.”


“Sudah terlambat untuk itu, kan? Lagipula kalau kamu terus mengungkitnya, kulepas nih tangannya.”


Saat Yuna melonggarkan genggamannya, Sara mengeluarkan suara kecewa.


“Jangan dilepas───!”


“Astaga, Sara ini ada-ada saja. Pasti ada banyak hal lain yang bisa membuat kita terobsesi. Hal-hal yang menjadi kesamaan kita.”


“……Memangnya ada?”


Sara terdengar kurang percaya diri. Meski wajahnya tak terlihat, suaranya menyiratkan kecemasan.


“……Ada kok. Kalau tidak ada, tinggal kita buat saja.”


“Eh……?”


“Setidaknya, aku berniat menyebarkan pengaruh... maksudku, mengajarkan hal-hal yang kusukai padamu.”

“Aku tidak terlalu jago basket, lho?”


“……Bukan cuma basket. Mulai sekarang, kami akan mengajarimu banyak hal.”


“……………”


Yuna menggenggam tangan Sara dengan kuat, membuat Sara terbelalak merasakan kemantapan tenaga di tangan kakaknya itu.


“……Jadi, Sara, bersiaplah. Aku dan Rin akan mengajarimu banyak hal yang bisa membuatmu terobsesi.”


“Fufu,” Sara mengangkat sudut bibirnya sedikit. 


“Kalau begitu, kita harus segera menemui Rin-san.”


“Iya. Benar sekali.”


“Lalu, setelah itu kita akan menemui Akasaki-san───”


“Semoga saat itu Akasaki-kun sudah bangkit kembali ya.”


“Benar juga.”


Tanpa komando, keduanya saling mempererat genggaman tangan.


“Karena kita tidak sendirian.”


Dengan tekad yang bulat, mereka menutup mata. Mereka sudah siap menuju rumah orang tua Rin. Tanpa Rin, semuanya terasa tidak lengkap. Sebelumnya, mereka ingin bersama Rin demi Rin sendiri. Tapi sekarang berbeda.


((Karena kami yang ingin berada di sisinya, maka kami akan melangkah masuk ke dalam hati Rin.))


Kehangatan tangan yang saling bertaut terasa nyaman, dan perlahan keduanya mulai tertidur lelap.


***


Keesokan paginya. Waktu menunjukkan sekitar pukul delapan pagi. Panas matahari yang menyengat mulai terasa, membuat keringat mengucur di dahi.


“Sekarang, mari kita cari tahu lokasi rumah orang tua Rin-san.”


“Iya. Aku tidak bisa hanya diam saja. Aku punya sebuah rencana.”


Sara hanya mengikuti langkah Yuna tanpa bertanya lebih lanjut tentang rencana tersebut. Setelah berjalan sekitar dua puluh menit, mereka tiba di sebuah tempat di mana suara tonggeret bersahut-sahutan dari pepohonan di sepanjang jalan. Terdengar pula suara orang-orang yang sedang berolahraga; suara penuh semangat yang masuk ke telinga mereka.


“Tem-tempat ini kan────”


Sara membelalakkan mata dan menahan napas.


“Iya. Di sini adalah────”


Yuna sempat bingung dengan reaksi Sara, tapi ia sepertinya mengerti suasana. Setelah berdehem, Yuna melanjutkan.


“SMA Eiga.”


“Ah~ jadi Yuna-san berniat bernegosiasi langsung ke ruang guru ya.”

Sara menepuk tangannya dengan paham.


Ya, mereka telah sampai di depan gerbang sekolah mereka sendiri, SMA Eiga. Karena melewati pemandangan yang sudah biasa dilihat, Sara sempat curiga, namun ia tidak menyangka tujuannya benar-benar adalah sekolah.


Meski sedang libur musim panas, suasana gedung sekolah tidaklah sepi. Saat masuk ke dalam, terdengar suara berbagai instrumen musik. Banyak siswa yang berlatih di koridor. Suara musik yang kuat itu seolah menenggelamkan suara tonggeret di luar.


“Klub orkestra ya…… ke-keren sekali.”


“Sara mau coba masuk klub juga?”


“Entahlah……”


Sambil mengobrol ringan, mereka berdiri di depan ruang guru. Mereka membuka pintu, membungkuk memberi salam, dan melangkah masuk dengan mantap.


"Sensei, kami punya permintaan."


"……Hoh. Takamori dan Himekawa. Ada apa ini? Tiba-tiba sekali."


Sensei tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya atas kedatangan tamu yang tak terduga itu. Meja yang dituju Yuna dan kawan-kawan adalah meja wali kelas mereka. Beliau adalah guru perempuan yang juga pembina klub basket, terkenal dengan sifatnya yang suka menyindir masalah masa muda—namanya Tokoyami Meika.


Sambil menyilangkan kaki, Sensei memutar kursinya ke arah mereka.


"……Lho? Kohinata ke mana?"

Karena mereka selalu bergerak bertiga, Sensei menyadari ada yang janggal. Beliau bertanya dengan nada murni penasaran.


"Begini. Itu…… kami datang untuk meminta bantuan terkait Rin."


"(Mengangguk-angguk)"


Sara mengangguk mantap mengikuti perkataan Yuna.


"Begitu ya. Jadi sesuatu telah terjadi selama libur musim panas ini?"


Meika sepertinya cepat tanggap, ia sedikit menyipitkan matanya. Mungkin ia sempat waspada; wajar saja, siswi-siswi teladan yang biasanya tidak pernah macam-macam tiba-tiba datang membawa permintaan mendesak.


Meski begitu, Sensei berkata:


"Takamori, Himekawa, baju bebas kalian imut juga ya."


"Iya. Tapi lebih penting soal Rin."


"Benar! Saya juga memohon bantuan Sensei!"


Keduanya membungkuk dalam secara bersamaan. Meika menghela napas panjang seolah berkata 'ampun deh'.


"……Jadi tidak ada waktu buat basa-basi sama Sensei, ya? Takamori, Himekawa, hutang budi kalian ini besar, lho."


"Ma-maafkan kami……"


Sara adalah yang pertama kali meminta maaf mendengar ucapan Sensei. Sebaliknya, Yuna memasang wajah kecut seolah baru saja menelan pil pahit.

"……Apa-apaan wajah itu, tidak sopan ya, Takamori."


"Habisnya, saya pikir sensei mulai lagi deh bercanda yang merepotkan."


"Hahaha. Takamori, kamu sekarang sudah berani bicara ya."


"A-anu……"


Wali kelas dan murid. Tapi bukan hanya itu, mereka juga pembina klub dan anggota. Karena hubungan itulah, Sara merasa sedikit bingung dengan kedekatan mereka yang santai.


"Ah~ maaf ya. Aku mengabaikan Himekawa."


Meika meminta maaf sambil menggaruk belakang kepalanya.


"Baiklah. Masalah hutang budi kita bahas nanti, sekarang katakan apa masalah kalian."


Sepertinya beliau menyadari betapa paniknya Yuna dan Sara. 


Wali kelas ini memang pintar membaca suasana dan langsung menanyakan inti masalahnya. Yuna sudah sering melihat sisi ini sebagai anggota klub basket. Biasanya Sensei suka bercanda dan terlihat santai, tapi begitu pertandingan latihan dimulai, beliau langsung berubah total. Instruksinya selalu tepat sasaran, singkat, dan mudah dimengerti. Singkatnya, Sensei punya tombol on-off yang jelas. Nada suara dan ekspresi seriusnya sekarang adalah bukti bahwa tombol on-nya sudah menyala.


"……Rin sepertinya sedang mengurung diri di rumah, dan saya sangat khawatir."


"Kami tidak bisa menghubunginya, kami sangat bingung harus bagaimana."


Lalu Yuna dan Sara menjelaskan situasinya. Mereka tetap menggunakan alasan 'kami juga tidak tahu pasti' penyebab Rin mengurung diri. Intinya, sesuatu terjadi saat mereka sedang berlibur dan keberadaan Rin jadi tidak jelas. Mereka menduga Rin ada di rumahnya dan ingin melakukan sesuatu untuknya. Begitulah inti permohonan mereka.


Mendengar penjelasan tersebut, Sensei berkata dengan nada berat:


"……Aku mengerti. Tapi, melihat situasinya, bukankah itu berarti Kohinata memang ingin sendirian?"


"………………"

"………………"


Sara dan Yuna terdiam sejenak lalu mengangguk.


"Tapi, meski begitu──saya tetap ingin berada di sisinya."


Sara yang melangkah maju satu langkah di depan Sensei.


"Meskipun nanti kamu akan dibenci?"


"Iya!"


"Meskipun nanti masalahnya malah jadi semakin rumit?"


"Iya!"


Sara menjawab tanpa keraguan sedikit pun meski dipojokkan oleh pertanyaan Sensei. Yuna tersenyum bangga dan menatap Sensei.


(……Pertanyaan semacam itu tidak akan mempan pada Sara, Sensei.)


Yuna terus menatap Sensei dengan mata yang memercayai kekuatan sahabatnya itu.


"Kenapa Himekawa bisa seyakin itu?" tanya Sensei, memastikan setelah melihat mata Sara yang bening tanpa keraguan.


"Karena, jika kita tidak saling berbenturan, tidak akan ada yang berubah……"


Meskipun nanti akan dibenci. Meskipun nanti akan ditolak karena terlalu memaksa mendekat. Sara memejamkan mata sejenak lalu tersenyum pada Sensei.


"……Bahkan jika Rin-san merasa terganggu, atau jika dia membenci saya, saya hanya perlu berusaha keras agar dia menyukai saya kembali. Karena saya──"


Ia menjeda kalimatnya dan meraih tangan Yuna yang berdiri di sampingnya. Kehangatan yang lembut namun kuat menjalar di tangan Yuna.


"──Karena saya sama sekali tidak sendirian."


Sensei terbelalak. Bukan karena senyum Sara yang menyilaukan sehingga hatinya tergerak, melainkan karena ia terpana melihat keteguhan prinsip gadis itu.


(……Begitu ya. Himekawa sudah berubah sejauh ini.)


Dulu, meski dia anak yang baik dan rajin, dia tidak punya pendirian dan karakternya terasa samar. Itulah yang membuat Meika khawatir sebagai guru. Tadinya ia mengira dalam urusan ini Sara hanya ikut-ikutan Yuna saja, tapi...

(Kalau begini sih, tidak perlu khawatir lagi……)


Meika melihat ekspresi Sara yang kini tampak sangat bisa diandalkan.


"S-Sensei? Anu…… apa aku baru saja mengatakan hal yang memalukan?"


Sara sepertinya panik melihat Sensei terdiam. Telinganya memerah saat ia mencoba memastikan keadaan pada Sensei.


"Tidak, kok. Tadi itu keren sekali."


"Be-begitu ya……"


Saat Sara menghela napas lega, Meika akhirnya membuka suara.


"Jadi, apa yang kalian ingin aku lakukan?"


"Kami ingin Sensei menghubungi rumah orang tua Rin," jawab Yuna dengan tegas.


Wali kelas sepertinya sudah menduga permintaan itu, karena beliau tidak menunjukkan tanda-tanda terkejut.


"………Kami ingin Sensei menyampaikan kepada orang tuanya bahwa kami sangat mengkhawatirkannya."


"Begitu rupanya."


"Kami juga akan menitipkan nomor kontak kami. Jika orang tuanya tidak merasa keberatan, tolong sampaikan agar mereka menghubungi kami."


"Mo-mohon bantuannya."


Sara ikut membungkuk dalam mengikuti perkataan Yuna.


"Angkat kepala kalian. Baiklah, aku mengerti. Aku akan sampaikan pesannya. Aku tidak bisa memberikan informasi pribadi mereka kepada kalian, tapi kalau situasinya seperti ini, aku bisa membantu menyambungkan pembicaraan."


"Terima kasih banyak."


Yuna dan Sara memberikan rincian kontak mereka kepada Meika.


"“Terima kasih banyak!”"


Setelah menyampaikan rasa terima kasih, mereka bergegas meninggalkan ruang guru. Yuna tidak ingin berlama-lama karena takut Meika mulai membahas soal "hutang budi" yang tadi disebutkan. Sara sempat bingung melihat Yuna yang terburu-buru pergi padahal baru saja meminta bantuan, tapi...


"Yuna-san, soal yang tadi itu……"


"Iya. Seperti yang kita bicarakan kemarin, kita memang harus membawanya keluar meskipun harus sedikit memaksa."


"……Benar, ya."


"Kita harus pergi ke rumah orang tuanya, bagaimanapun caranya."


"Kalaupun dia tidak ada di sana, aku yakin situasi akan berubah jika orang tuanya ikut bergerak."


"Benar. Meskipun bagi Rin-san yang ingin sendirian ini mungkin akan terasa mengganggu……"


Dalam perjalanan pulang setelah meninggalkan SMA Eiga, mereka merapikan rencana dan mulai melihat titik terang. Harapan untuk bisa bertemu Rin mulai muncul.


"Kita sudah memberikan nomor ponsel kita ke Sensei, jadi cepat atau lambat pasti akan ada kabar."


"Setelah itulah perjuangan yang sesungguhnya dimulai."


Sara dan Yuna saling mengangguk, memantapkan tekad mereka sekali lagi.



Waktu berganti dari sore menuju malam. Tepat saat jam menunjukkan pukul tujuh malam, ponsel Yuna bergetar. Langit di luar berwarna jingga pudar, menandakan hari yang masih terasa panjang—pengingat bahwa ini masih puncak musim panas.


"……Ha-halo! Dengan Takamori di sini."


Meski dari nomor yang tidak dikenal, Yuna langsung menjawab karena ia tahu ini hal penting.


『Halo. Apakah ini Takamori-san? Saya ibunya Kohinata Rin.』


『……Halo. Maaf mengganggu, Bu.』


Yuna berusaha mengatur napas agar suaranya tidak terdengar gugup.


『Saya sudah mendengar ceritanya dari Sensei. Mengenai Rin─』


Jantung Yuna berdegup kencang. Jika orang tuanya pun tidak tahu kondisi Rin yang sebenarnya, ia merasa tidak akan punya pilihan lain lagi. Sambil menghela napas pelan berkali-kali di dalam hati, ibu Rin melanjutkan:

『Dia ada di rumah. Tapi, seperti yang dikatakan, dia mengurung diri di kamar.』


『………Begitu, ya.』


『Dia tidak mau cerita apa yang terjadi. Tapi, saya bisa melihat kalau dia benar-benar sedang sangat terpukul.』


『………Bisakah Ibu mengizinkan saya, tidak, mengizinkan kami menemui Rin?』


『Masalahnya, dia bilang tidak mau bertemu siapa pun.』


Mendengar itu, Yuna sadar bahwa ibu Rin tidak menghubungi untuk memberi izin bertemu, melainkan hanya sekadar mengabari teman-teman Rin yang khawatir. Yuna mengepalkan tangannya kuat-kuat.


『……Saya belum bisa menanyakan apa pun pada Rin. Saya tidak punya bukti pasti tentang apa yang terjadi atau mengapa dia begitu terluka. Tapi──ada hal yang harus saya sampaikan padanya. Dengan kata-kata saya sendiri.』


『Hal yang ingin disampaikan?』


『Iya. Tapi itu hanya bisa dilakukan jika bertemu langsung. Tidak akan ada efeknya jika hanya melalui pesan teks, karena kekuatan perasaan kami tidak akan tersampaikan sepenuhnya.』


『………Begitu ya.』


Ibu Rin sepertinya sedang mempertimbangkan sesuatu. Terakhir, beliau bertanya untuk memastikan.


『Takamori-san. Bagi Anda, Rin itu adalah───』


『Sahabat saya.』


Yuna menjawab seketika. Ia menjawab bahkan sebelum pertanyaan itu selesai. Mungkin ia terdengar sedikit terlalu bersemangat. Ibu Rin terdiam sejenak setelah mendengar jawaban itu. Terdengar suara gumaman ragu dari seberang telepon.


『Sejujurnya…… saya hanya ingin berada di sisinya. Sahabat berharga saya sedang terluka. Karena itulah saya ingin bersamanya. Saya tahu ini egois, tapi saya mohon, Bu.』


『………—!』


Saat itu juga, terdengar suara tarikan napas kaget dari telepon. Yuna tidak tahu apakah kata-katanya menyentuh hati ibu Rin atau tidak. Namun, setelah terdiam beberapa detik, ibu Rin akhirnya bicara.


『Baiklah. Aku percayakan Rin kepada kalian. Aku akan berikan alamat rumah kami, apakah kamu sudah siap mencatat?』


『………Kenapa?』


Tanpa sadar, pertanyaan itu terluncur dari mulut Yuna. Ia tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya karena baru saja tadi ibu Rin terlihat keberatan, namun tiba-tiba memberi izin dengan mudah.


『Maaf, maksud saya, kenapa Ibu tiba-tiba mengizinkan?』


Yuna baru tersadar ia bicara sedikit kurang formal karena kaget, lalu segera memperbaiki nada bicaranya. Ibu Rin tertawa kecil dengan suara khas wanita dewasa sebelum menjawab.


『……Karena aku merasa keinginanmu untuk berada di sisi Rin jauh lebih kuat daripada sekadar keinginan untuk "menolongnya". Karena itulah, aku memutuskan bahwa kalian akan baik-baik saja.』


『Sa-saya benar-benar berniat ingin menolong Rin.』


『Terima kasih, ya. Hanya saja, keinginanmu untuk "hanya ingin berada di sisinya" itu terdengar sangat tulus dan indah, sehingga benar-benar menyentuh hati saya.』


『Begitu ya……. Terima kasih banyak, Bu.』


Yuna sebenarnya kurang begitu mengerti. Baginya, itu adalah kata-kata sederhana yang didasari keinginan egois. Yuna merasa bahwa keinginan untuk "ingin menolong" orang lain jauh lebih mulia daripada sekadar ingin berada di sampingnya.


『Fufu. Sepertinya kamu kurang puas dengan jawaban saya, tapi saya percayakan Rin padamu.』


『Ba-baik! Terima kasih banyak!』


Setelah mencatat alamat rumah orang tua Rin, Yuna mengakhiri pembicaraannya dengan ibu Rin. Ia segera menghubungi Sara.


『Halo. Bagaimana hasilnya, Yuna-san!?』


Panggilan itu langsung diangkat dalam satu nada dering, menandakan bahwa Sara pun sudah tidak sabar menunggu kabar.


『Kita berhasil. Aku sudah bicara dengannya…… dan Rin memang ada di rumah orang tuanya.』


『Be-benarkah!?』


Suara kegembiraan Sara dari seberang telepon menyentuh telinga Yuna.


『Iya, benar. Akhirnya kita selangkah lebih maju.』


『Perjuangan yang sesungguhnya dimulai dari sini ya!』


『Iya.』


『Tapi aku sedikit kaget.』


Suara Sara yang tadi ceria tiba-tiba sedikit merendah.


『Kaget kenapa?』


『Habisnya, Ibu Rin-san menelepon ke nomor Yuna-san.』


『Bukannya kita sudah sepakat kalau beliau pasti akan menelepon salah satu dari kita?』


『Aku tahu, tapi tetap saja……』


Sepertinya Sara merasa sedikit sedih karena tidak bisa berbicara langsung dengan ibu Rin.


『Tapi tenang saja. Aku sudah dapat alamatnya, jadi kalau kita pergi ke rumah orang tua Rin, kamu juga bisa bicara dengan mereka.』


『Be-benar juga ya.』


Setelah itu, mereka berdua bertemu untuk menyusun rencana selanjutnya. Namun, tepat pada saat itu, ponsel Sara bergetar. Seseorang menghubunginya.


“Ah…… dari Kazamiya-kun.”

Sara menghentikan langkahnya dan bergumam pelan. Yuna refleks mendekat ke arahnya.


“Angkat saja.”


Mungkin ia menelepon untuk melaporkan keadaan Haruya. Sara dan Yuna saling berpandangan sejenak sebelum mengangkat telepon.


“I-iya…… halo.”


『Himekawa-san. Apa sekarang kamu punya waktu?』


“Iya. Ada apa?”


『Aku ingin bertukar informasi tentang bagaimana situasinya sekarang────』


Inti dari pembicaraan Kazamiya adalah karena ia belum mendapat kabar dari mereka berdua, ia ingin memastikan situasi terkini. Katanya, ada juga hal yang ingin ia sampaikan mengenai Haruya.


『Jadi, ini mendadak, tapi kalau boleh, bagaimana jika malam ini kita mengobrol bersama?』


Itu artinya sebuah ajakan makan malam.


Sara berkata, “Aku sih tidak keberatan, tapi……” sambil melirik ragu ke arah Yuna.


Apa Kamu punya waktu setelah ini?


Merasakan kontak mata itu, Yuna mengangguk pelan di tempatnya berdiri.


“Kami bisa.”

Setelah mendapat konfirmasi dari Yuna, Sara pun mengalihkan mode telepon ke pengeras suara.


『Ah, ternyata Takamori-san ada di sana juga ya.』


Suara Kazamiya terdengar jelas di telinga Yuna.


“Memangnya kenapa kalau aku ada di sini?”


Yuna mengerucutkan bibirnya karena merasa gaya bicara Kazamiya seolah menganggap kehadirannya merepotkan.


『Bukan begitu maksudku. Justru bagus karena aku tidak perlu repot-bertelepon dua kali ke Takamori-san.』


“Oh. Jadi, mau bertemu di mana?”


『Nanti lokasinya kukirim lewat pesan saja, datanglah ke sana.』


“Oke.” 

“Baiklah.”


Maka, Sara dan Yuna pun memutuskan untuk menemui Kazamiya.


***


Angin malam di musim panas terasa sedikit lembap. Terdengar suara denting lonceng angin di sepanjang jalan. Sambil merasakan suasana musim panas yang kental, mereka tiba di sebuah restoran keluarga jaringan besar. Dari luar pun terlihat bahwa pengunjungnya sangat ramai, membuat mereka menyipitkan mata.


“Sepertinya ramai sekali ya.”


“Iya……”

Sara pun ikut bergumam melihat kondisi di dalam restoran.


Setelah selesai menghubungi Kazamiya, mereka berdua langsung menuju lokasi tujuan tanpa sempat pulang ke rumah. Tempat yang ditentukan adalah restoran keluarga yang terkenal karena harganya yang sangat murah, sehingga dicintai oleh semua kalangan dari yang muda hingga tua. Karena sekarang sedang libur musim panas, terlihat banyak sekali pelanggan di dalam.


“……Yo. Kalian berdua.”


Saat mereka sedang melihat ke arah jendela untuk memastikan apakah ada daftar tunggu, sebuah suara menyapa dari belakang.


“……!”

“……!”


Sara dan Yuna berbalik hampir bersamaan. Mereka menatap tajam sang pemilik suara dengan waspada, namun begitu sosoknya terlihat, tatapan mereka langsung melunak.


“……Hah. Ternyata Kazamiya-kun.”


“Aku merasa lega……”


Tadinya mereka mengira itu orang asing yang mencurigakan. Saat Sara menghela napas lega sambil memegang dadanya, Kazamiya langsung membalas.


“Hei, kalian berdua kasar sekali padaku ya? Memangnya aku kelihatan semencurigakan itu?”


Menanggapi pertanyaan Kazamiya, Yuna langsung memegang gagang pintu restoran.


“Ayo masuk.”


“Iya, Yuna-san!”


Sara mengikuti langkah Yuna yang memimpin di depan.


“Hei, itu jahat sekali tahu!?”


Protes hampa Kazamiya bergema di udara. Sepertinya mereka berdua sudah mulai terbiasa memperlakukan Kazamiya seperti itu.


Setelah masuk ke dalam restoran, mereka harus menunggu sebentar, namun ternyata mereka diantar ke meja lebih cepat dari dugaan. Mungkin karena tingkat perputaran pelanggan di toko ini cukup tinggi. Setelah duduk, mereka beralih untuk memesan. Sambil menahan keinginan untuk segera masuk ke topik utama, masing-masing melihat ke arah buku menu.


Pengaturan kursinya adalah kursi booth. Kazamiya duduk sendirian berhadapan dengan Sara dan Yuna yang duduk berdampingan.


“───Baiklah, langsung saja ke topik utama. Apa Kohinata-san baik-baik saja?”


Setelah selesai memesan dan keheningan menyelimuti sejenak, Kazamiya tiba-tiba membuka suara. Suasana candanya telah hilang, membuat Yuna dan Sara menahan napas dan mengangguk serempak.


“Soal Rin………”

“Rin-san………”


Mereka berucap bersamaan.


“Dia akan baik-baik saja.”

“Pasti baik-baik saja.”

Di dalam tatapan mata yang penuh tekad itu, tidak ada lagi keraguan yang tersisa.


“L-luar biasa ya……”


Kazamiya bergumam, tampak sedikit terintimidasi karena tidak menyangka akan melihat keteguhan seperti itu.


“……Ugh. Justru kami yang ingin bertanya padamu, Kazamiya-kun. Bagaimana dengan Akasaki-kun?”


“………Aku juga mencemaskannya.”


Menyusul Yuna, Sara juga melemparkan tatapannya ke arah Kazamiya.


“Yah, di sini perjuangannya baru akan dimulai. Aku sudah menghubungi adiknya.”


“Adiknya?”


“……?”


Keduanya memiringkan kepala mendengar kata yang muncul tiba-tiba itu.


“Ah, Akasaki punya seorang adik perempuan. Aku sudah menghubunginya dan memutuskan untuk menyerahkan Akasaki padanya.”


“Ba-bagaimana maksudnya?”


“……Akasaki-san punya adik perempuan!?”


Setelah terdiam selama beberapa detik, keduanya berteriak dengan nada penuh keterkejutan. Melihat ekspresi mereka yang begitu intens, Kazamiya hanya bisa memberikan senyum kecut.


“……Te-tenang dulu, kalian berdua. Aku akan jelaskan pelan-pelan.”


Kazamiya pun menjelaskan kepada Yuna dan Sara. Bahwa keberadaan sang adik—yang paling dekat dan tahu penyebab luka Haruya di masa lalu—sangat dibutuhkan saat ini. Ia menilai luka yang diterima Haruya akibat konflik dengan Rin kemungkinan besar sama dengan luka yang ia alami saat SMP dulu. 


Mendengar tentang masa lalu di sekolah menengah pertama yang belum pernah mereka ketahui, keduanya membelalakkan mata. 


Saat mereka mencoba menggali lebih dalam, Kazamiya mengangguk kecil sekali.


“……Apa yang akan kuceritakan sekarang adalah tentang kegelapan yang dipendam oleh Akasaki.”


Kazamiya mengambil satu kentang goreng dan mulai bercerita. Bahwa saat SMP, Haruya punya masa lalu di mana grup pertemanannya hancur berantakan dipicu oleh masalah asmara. Karena tahu betapa sakitnya terlibat terlalu dalam dengan orang lain, ia memutuskan untuk mengurangi interaksi yang lebih dari perlu, mulai memanjangkan poni, dan memilih cara hidup yang tidak mencolok.


Kazamiya menceritakan segalanya. Sebenarnya ia tidak ingin membicarakan hal ini, namun demi kesembuhan Haruya, ia merasa informasi ini perlu diberikan kepada kedua gadis ini. Mendengar cerita itu, keduanya tampak sangat terkejut. Karena topiknya yang berat, keheningan sempat menyelimuti meja mereka. Yuna dan Sara bahkan tidak menyentuh makanan yang sudah diantar saking fokusnya mendengarkan cerita tersebut.

“……Yah, kalian sebaiknya mulai makan, kan?”


“Ah, iya.”


“Be-benar juga.”


Sara memesan hamburger panggang. Suara denting piringnya terdengar sangat pelan. Sedangkan Yuna memesan pasta mentaiko—pasta dengan krim kental dan taburan rumput laut kering di atasnya.


““Selamat makan.”“


Setelah mengucapkan salam, mereka mulai makan, namun rasa penasaran mereka masih tak terbendung.


“Hei……”

“Anu………”


Dan sekali lagi, mereka bertanya secara bersamaan.


““……Sebenarnya, Kazamiya-kun itu siapa?”“


Mendengar pertanyaan itu, Kazamiya terdiam sejenak sebelum menjawab.


“……Hanya seorang pria yang pernah mengagumi Akasaki. Yah, meskipun sekarang aku menganggapnya sebagai teman.”


“……Begitu ya.”


“Benar juga.”


Mendengar jawaban Kazamiya, keduanya sampai pada sebuah kesimpulan. Mereka memahami di sini bahwa Kazamiya adalah teman sekolah sejak SMP dan ia sangat menyukai sosok Haruya.

“……Ngomong-ngomong, seperti apa Akasaki-kun saat SMP dulu?”


“……Aku juga ingin tahu.”


Bukan bagian gelap yang tadi diceritakan, melainkan mereka ingin memastikan seperti apa kepribadian Haruya saat itu.


“Mari kita lihat. Dia itu menyebalkan. Tapi dia orang yang sangat keren.”


Punya prinsip kuat dan menghargai setiap hubungan manusia. Sambil mengenang sosok itu, Kazamiya bercerita kepada mereka.


“……Yah, kalau diteruskan ceritanya tidak akan ada habisnya, jadi───”


Kazamiya menutup topik tersebut pada waktu yang tepat.


“Jadi, apa ada hal yang membuat kalian kesulitan mengenai Kohinata-san?”


Meski sempat bingung menjawab, Sara dan Yuna saling berpandangan dan menjawab. Ekspresi mereka penuh dengan rasa percaya diri yang seolah menembus mata Kazamiya.


“……Kami sudah menemukan jawaban kami sendiri di dalam hati.”


“……Ugh. Ternyata kalian memang hebat.”


Kazamiya merasa malu sendiri karena sempat berniat memberi saran, dan untuk menepis rasa malu itu, ia menggelengkan kepalanya kuat-kuat.


“──Ehem.”


Lalu, ia berdehem keras dengan sengaja untuk menutupi rasa canggungnya sebelum berkata:


“Yah. Serahkan saja soal Akasaki padaku. Adiknya akan mendukungnya, dan kalau itu tidak berhasil, aku yang akan menghadapinya sendiri. Jadi, soal Kohinata-san, kuserahkan pada kalian berdua.”


“Dimengerti.”


“Baiklah.”


Setelah percakapan itu, arah rencana mereka pun menjadi bulat.


Malam itu berakhir dengan rasa terima kasih yang mendalam kepada Kazamiya, sekaligus memantapkan tekad mereka berdua untuk menghadapi Rin.


***


Keesokan harinya, setelah pertemuan rahasia dengan Kazamiya.


"Anu…… apa tempatnya di sini?"


"Sepertinya benar di sini."


Mereka berdua berjalan menuju rumah orang tua Rin dengan mengandalkan alamat yang telah dicatat. Rumah itu terletak sekitar dua stasiun dari stasiun terdekat SMA Eiga.


"Lebih besar dari yang kukira ya……"


"Iya, benar."


Dilihat dari tampilan luarnya, rumah itu menunjukkan bahwa Rin berasal dari keluarga berada. Bahkan jika dibandingkan dengan standar keluarga umum yang menyekolahkan anaknya ke SMA swasta unggulan, rumah ini tergolong mewah. Itulah skala rumah yang ada di hadapan mereka sekarang. Pada papan nama di depan, terukir tiga huruf kanji: Kohinata.


"Aku tekan ya……"


"Iya."


Menekan bel rumah orang lain selalu saja membuat perasaan tidak tenang. Sambil menjaga agar ujung jarinya tidak gemetar, Yuna menekan bel dengan jari telunjuknya.


────Pin-pon.


Bunyi pelan bergema satu kali. Mereka menunggu beberapa detik, namun tidak ada jawaban.


"……Lho? Tidak ada balasan ya."


"Aneh. Padahal kita sudah buat janji……"


Keduanya saling berpandangan dan memiringkan kepala. Tak lama kemudian, pintu terbuka dengan bunyi klek.


"Terima kasih sudah datang. Himekawa-san dan Takamori-san, benar kan?"


"I-iya." 

"Benar."


"“Permisi, kami mengganggu.”"


Keduanya menyapa dengan punggung tegak dan kaku. Yang menyambut mereka adalah ibu Rin. Meski ini pertama kalinya mereka bertemu langsung, Yuna segera mengenalinya dari suaranya yang lembut dan khas.


"……Mirip sekali dengan Rin ya."


"Iya."


Terutama bagian matanya, sangat mirip. Beliau memiliki kecantikan yang membuat orang mudah menebak bahwa beliau terlihat jauh lebih muda dari usia aslinya. Benar-benar perwujudan dari pepatah "buah jatuh tidak jauh dari pohonnya."


"Aku buatkan teh dulu ya."


"“Ti-tidak usah repot-repot.”"


Begitu masuk ke dalam, perasaan jujur mereka adalah: ini benar-benar rumah Rin. Bukan karena desain bangunannya, melainkan karena aroma rumah ini adalah aroma yang sama dengan Rin. Mungkin itu wangi pelembut pakaian, tapi...


Dipandu oleh ibu Rin, mereka menyerahkan bingkisan kecil lalu mulai merapikan informasi di ruang tamu.


"Jadi, sejak Rin-san pulang, dia terus berada di kamarnya………"


"Iya. Dia mengurung diri terus. Sulit sekali mengajaknya bicara, jadi sekarang Tante hanya bisa mengawasinya saja."


"Hah, benar-benar khas Rin sekali."


Yuna mengepalkan tangannya kuat-kuat. Sara meletakkan tangannya dengan lembut di atas kepalan tangan Yuna, seolah ingin menenangkannya. Yuna menatap mata Sara seolah ingin bilang bahwa dia baik-baik saja.


Rin adalah tipe orang yang akan terus berlagak kuat meski sedang memaksakan diri. Yuna tahu Rin sedang tidak punya ruang di hatinya untuk memikirkan orang di sekitarnya, bahkan keluarganya sendiri pun...tapi, mereka sudah yakin akan alasan mengapa Rin begitu terpuruk. Jadi, semua akan baik-baik saja.


"Di mana kamar Rin?"


"Kamar Rin-san di sebelah mana ya......?"


Dengan tekad kuat, mereka menaiki tangga dan sampai di depan kamar Rin. Di depan pintu, Yuna dan Sara kembali saling berpandangan. Lalu dengan hati-hati, mereka mulai memanggil Rin yang berada di balik pintu.


"……Rin." 

"Rin-san?"


Menyadari mereka mulai memanggil, ibu Rin mengerti suasana dan turun ke lantai satu. 


Tidak ada jawaban atas panggilan tersebut. Bagaimana cara memanggilnya lagi?


Tepat saat mereka membatin hal itu...


"……Kenapa kalian datang?"


Suaranya dingin, terdengar seperti penolakan.


Mendengar suara itu, keduanya yakin. Ini bukan level masalah yang bisa diselesaikan dengan oleh-oleh, komik, atau camilan.

"Karena kami khawatir."

"Karena kami mencemaskanmu."


Hampir bersamaan, mereka berdua menjawab pertanyaan Rin.


"Aku... tidak apa-apa kok. Maaf ya…… kalau musim panas sudah selesai, aku akan bersikap seperti biasa lagi."


"──!"


Suaranya bergetar. 


Mendengar suara yang terdengar seperti akan menangis itu, Yuna refleks memutar kenop pintu. Namun, pintu itu terkunci dari dalam.


"──Jangan masuk!"


Hanya dengan putaran kenop pintu saja, suara penolakan Rin menjadi lebih keras. Suara itu membuat bahu mereka berdua tersentak kaget.


"Kumohon…… biarkan aku sendiri dulu sekarang."


Suara penolakan itu seolah menempel di telinga dan tidak mau hilang. 


Pada akhirnya, mereka bingung harus berkata apa kepada Rin yang suaranya terdengar sangat lemah. Meski sudah membulatkan tekad, saat mendengar suaranya langsung, kepala mereka malah menjadi kosong. Sara menggenggam tangan Yuna yang bebas dan mengambil napas dalam-dalam.


"……Rin-san. Maukah kamu mengobrol tentang orang yang kamu sukai?"


"……—!"

Yuna yang berada di sampingnya refleks membelalakkan mata. Ia merasa itu adalah pernyataan yang sangat agresif dan berani.


"……Ugh. Aku tidak mau…… aku tidak bisa melakukannya."


Rin menahan sekuat tenaga suaranya yang gemetar dan berkata dengan lantang. Meskipun berusaha diredam, getaran dalam suaranya menyampaikan betapa hancur dan menderanya perasaan Rin saat ini.


"Aku ingin melakukan sesi curhat cinta dengan Rin-san!"


"………—! Sudah kubilang hentikan, aku tidak bisa melakukannya lagi────! Pulanglah!"


"Ri-Rin-san!"


Sara memanggil dengan gigih, namun tak ada lagi jawaban dari Rin. 


Tidak ada kata-kata yang kembali, hanya keheningan yang seolah mengabaikan mereka. Meski Yuna mencoba memanggil menggantikan Sara, tetap tak ada satu pun balasan. Namun, Sara tetap melangkah maju menembus batas itu.


"Rin-san, Kamu tidak ditolak!"


Yuna menyambung dengan nada bicara yang kuat.


"Benar, Rin!"


Mungkin terkejut dengan nada bicara yang begitu tegas, Rin tersentak dan menahan napas.


"Tolong dengarkan, Rin-san…… tentang Akasaki-san."


Dari sana, Sara dan Yuna membagikan informasi tentang masa lalu Haruya yang mereka dengar dari Kazamiya.


"────Akasaki-san hanya belum bisa menghadapi masa lalunya sendiri. Dia bukannya menolak perasaan Rin-san."


"Begitulah kenyataannya, Rin."


"…………Meskipun begitu, aku tetap tidak punya muka untuk bertemu kalian berdua sekarang."


Rin melanjutkan dengan suara yang lemah.


"Aku sudah mencoba mencuri start sendirian……"


"“──!”"


Hampir bersamaan, Sara dan Yuna membelalakkan mata.


"……Aku tetap menyatakan cinta meski tahu Sarachin dan Yunarin juga menyukai Akasaki-kun. Aku mencuri start dan itu sangat rendah."


Di balik pintu, mereka tahu Rin sedang meneteskan air mata. Mungkin Rin berpikir bahwa semuanya sudah berakhir.


Sambil menghela napas pelan, Yuna berucap.


"……Terus kenapa?"

"Apa masalahnya?"


Sara menyahut dengan nada bicara yang sangat santai.


"………Eh?"


Rin tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya mendengar nada bicara mereka yang begitu datar.


"Makanya, aku────"


Saat Rin mencoba mengulangi alasan yang sama, kedua temannya langsung memotong perkataannya.


"Kita tidak pernah membuat aturan kalau tidak boleh mencuri start, kan?"


"Aku tidak ingat pernah membangun hubungan di mana kita harus membungkam perasaan sendiri hanya karena menyukai orang yang sama."


"…………—!"


Secara logika, memang benar begitu. Namun bagi Rin, esensi dirinya yang merasa telah berbuat "kotor" tidak berubah. Menghadapi Rin yang masih mengepalkan tangan di dalam sana, mereka berdua melanjutkan.


"Bahkan jika Rin-san berhasil jadian dengannya pun, aku pasti akan bertanya bagian mana dari dirinya yang kamu sukai."


"Kita akan pergi ke karaoke, merayakannya, meski mungkin akan ada sedikit rasa sedih di hati."


Karena itulah, mereka melanjutkan.


"Bahkan jika Rin-san berpacaran dengannya, hubungan pertemanan kita tidak akan berakhir."


"Tidak akan kubiarkan berakhir……"


"………Ke-kenapa? Aku sudah mencoba mencuri start dan hendak meninggalkan kalian berdua, tapi kenapa kalian malah…!"


Kenapa mereka masih memberinya kata-kata yang begitu lembut? Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Rin.


"Karena aku menyukai Rin. Bagaimanapun juga──rasanya ada yang kurang kalau tidak ada Rin."


"Kami tidak bisa tanpa Rin-san."


"………—!"


Air mata Rin tumpah tak terbendung. Di tengah isak tangis yang bergema, Yuna dan Sara berkata:


"Kami tidak akan menyerah soal Akasaki-kun. Kami juga tidak akan menyerah soal pertemanan kita. Rin sendiri bagaimana?"


"Aku akan tetap mendekati Akasaki-san, tapi Rin-san……"


"……………"


Keheningan menyelimuti pintu itu sejenak, lalu Yuna berkata sambil tersenyum tipis.


"……Kalau kamu merasa sudah merusak hubungan ini, maka tanggung jawablah."


"Benar! Karena kita berteman, tolong tanggung jawab!"


"Ba-bagaimana caranya───"


Akhirnya Rin merespons.


"Pikirkanlah sendiri, Rin……. Kami akan menunggumu."


"………Kami benar-benar akan menunggu."


Mendengar suara lembut mereka berdua, Rin mengepalkan tangannya.


……Ah, betapa suara mereka begitu bisa diandalkan. Mereka mau menghadapi dirinya yang bergerak atas dasar egoisme ini dengan begitu tulus. Justru karena mereka menghadapinya dengan kata-kata yang kuat, Rin merasa semakin tidak punya muka. Tapi, meski begitu──jika ia tidak melangkah sekarang, semuanya akan benar-benar berakhir.


Dengan langkah kaki yang ragu, Rin berdiri di depan pintu.


(Agar kita semua bisa menyampaikan perasaan suka kita masing-masing sambil tetap menghargai satu sama lain…!)


"Rin!"

"Rin-san!"


Meski wajahnya tampak pucat dan tidak bertenaga, begitu mendengar suara mereka, Rin langsung membuka pintu.


"Aku... aku akan menghadapi orang yang kusukai dengan benar. Agar kita bisa bercurhat cinta dengan bangga tentang orang yang kita sukai……"


Ucap Rin dengan mata yang masih digenangi air mata.


Seketika itu juga, Yuna dan Sara langsung memeluknya erat.


"Eh?"


"Kami tidak bisa merelakan cinta kami, tapi kami juga tidak bisa merelakan teman kami! Karena itu, Rin juga harus begitu!"


Mereka bertiga saling berpelukan erat.


"……Agar kita bisa tetap dalam hubungan yang tidak membohongi perasaan sendiri."


"Iya!"


Ketiganya berjanji, entah siapa yang memulai. Bahwa bahkan jika salah satu dari mereka akhirnya berpacaran dengan Haruya, mereka akan tetap saling mendampingi. Itu mungkin akan menjadi jalan yang menyakitkan. Namun, tidak akan hanya berisi rasa sakit. Mereka akan tetap bersama sampai tiba saatnya mereka bisa menghadapi kenyataan dan tertawa bersama lagi.


Setelah air matanya habis, Rin mengusap matanya.


"Aku akan mengembalikan apa yang telah kurusak. Aku akan menyelesaikannya dengan benar. Tunggu aku ya, kalian berdua."


Itu adalah tatapan mata yang penuh tekad. Rin tidak akan lari lagi. 


Karena ada seseorang yang harus ia temui untuk menyampaikannya────. 


Karena ada sesuatu yang harus ia sampaikan────.


“Tapi, sebelum itu…… bolehkah kita curhat cinta dulu?”


Yuna dan Sara langsung menyadari bahwa itu adalah ajakan untuk melanjutkan acara menginap mereka.



Rin mencoba menghubungi manajer kafe tempat mereka bekerja.


Bagaimanapun juga, ia ingin menyampaikan perasaannya di kafe itu.


Setelah mendapatkan konfirmasi, Rin segera mengirimkan pesan kepada Haruya.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close