NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Naze ka S-kyuu Bijotachi no Wadai ni Ore ga Agaru Ken V5 Chapter 1

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


Chapter 1

Harapan sang Kuncup Bunga

Waktu di mana kantuk mulai terasa semakin dalam. Lampu-lampu hangat dari dalam rumah mulai dipadamkan, menandakan waktu di mana semua orang seharusnya sudah terlelap.


Hanya terdengar suara serangga dan sesekali deru dedaunan yang bergoyang ditiup angin malam. Suara denting lonceng angin yang tertiup angin pun terdengar merdu.


Di saat kehadiran manusia menghilang, waktu yang membiarkan kita merasakan alam ini memberikan kesan estetis yang lebih mendalam.


——Seandainya saja aku bisa terus merasakan keindahan itu, betapa bahagianya diriku.


Kohinata Rin tidak bisa melepaskan bayangan layar ponsel Haruya dari kepalanya. Rasa terkejut karena pesan yang tak sengaja ia lihat jauh lebih besar daripada rasa bahagia karena bisa melihat wajah tidurnya. Pesan yang dikirim oleh kedua sahabat tercintanya kepada Haruya. Dari rangkaian kata-katanya, jelas sekali bahwa di sana bersemayam perasaan cinta.


Hati Rin terasa berantakan.


(...Bukan hanya pertemuan mereka yang bagaikan takdir, tapi Sarachin dan Yunarin pun menyukai orang yang sama.)


Sambil merapikan pikirannya, ia berjalan kembali ke depan pintu, dan saat itulah sayup-sayup suara bisikan terdengar di telinganya.


Dari suara Sara dan Yuna, ia tahu bahwa percakapan mereka sedang berlangsung seru, yang membuat Rin tanpa sadar mengatupkan bibirnya rapat-rapat. 

Di dalam hati ia menghela napas, lalu melangkah kembali ke dalam kamar.


"—Selamat datang kembali, Rin."

"Selamat datang kembali."


Kedua temannya yang hanya memunculkan kepala dari balik selimut menyambutnya.


"Hei, kalian sedang membicarakan apa?"


Setelah jeda beberapa detik, Rin bertanya kepada mereka dengan nada suara seperti biasanya. Ia tidak ingin mereka menyadari bahwa dirinya sedang tidak dalam keadaan normal.


Menyukai orang yang sama. Jika diungkapkan dengan kata-kata, itu terdengar seperti cerita biasa yang sering terjadi, tapi saat menjadi pelakunya langsung, urusannya tidak sesederhana itu. Sambil merasa bimbang, Rin menyelinap masuk ke dalam selimut.


"Itu—soal kelanjutan yang tadi."


Yuna bergumam dengan malu-malu, mengirimkan tatapan yang seolah meminta Rin untuk mengerti sendiri situasinya.


"Iya. Kami sedang membicarakan sosok yang kami sukai yang pernah diceritakan sebelumnya. Apalagi tadi kami sampai pada tahap mengirim pesan padanya," ujar Sara dengan suara ceria sambil tersenyum.


"Tapi itu kan Sara yang memulainya."


"Yuna-san, bukankah ini sudah terlambat? Tidak perlu merasa malu begitu."


"Berisik. Aku mau tidur."


"Padahal Rin-san baru saja kembali, lho?"


"...Ugh. Baiklah, kalau cuma sebentar lagi, aku mau membicarakannya."


Keduanya mengakhiri percakapan di antara mereka dan memberikan kendali pembicaraan kepada Rin.


Rin kembali diingatkan betapa menggemaskannya mereka. Ia berpura-pura tenang, sangat sadar untuk tetap menjadi "dirinya yang biasa" sebelum membuka suara.


"Kalian berdua, imut sekali! Aku tidak akan membiarkan kalian tidur malam ini sampai aku melihat sisi imut kalian yang lebih banyak lagi!"


***


Semakin ia mendengar cerita mereka... semakin ia merasa betapa manisnya kedua orang ini. Bagaimana pertemuan mereka. Bagian mana yang membuat mereka jatuh cinta. Karena konsentrasinya terbagi untuk terus mempertahankan sosok dirinya yang biasa, waktu terasa berjalan jauh lebih lama.


Sara menceritakan kembali bahwa awal pertemuan mereka adalah saat dia ditolong dari gangguan orang asing. Karena ia sudah pernah mendengar hal itu di kelas, semua potongan teka-teki itu pun terhubung. Tanpa menyebut nama Haruya, Rin berpura-pura tidak tahu, menyembunyikannya, dan hanya bisa menanggapi dengan berkata, "Cerita itu benar-benar takdir ya."


Yuna bercerita bahwa awal mulanya adalah pertemuan lewat media sosial karena topik manga shoujo. Butuh waktu cukup lama bagi Yuna untuk mulai bercerita, namun ekspresinya terlihat tidak keberatan dan rasa malunya langsung tersampaikan dengan jelas. Meskipun awalnya terbata-bata, lambat laun Rin menyadari suara Yuna mulai terdengar bersemangat.


(...Memang aku tidak ada tandingannya ya.)

Justru karena dia tahu bahwa orang yang dimaksud adalah Akasaki Haruya, Rin tertunduk di dalam hatinya.


Ia tidak bisa mengejar, tidak akan pernah bisa sampai pada pertemuan takdir seperti yang dialami keduanya. Di saat seperti ini, jika itu adalah dirinya yang biasa, dia pasti akan memeluk Yuna.


"Fufu, Yunarin selalu imut ya—astaga!"


Meskipun hatinya bergejolak dan sulit dikendalikan, ia membuat matanya berbinar dan mendekat ke arah Yuna.


"Eh, sebentar Rin! Jangan menempel begitu. Lagipula ini sudah panas, tahu."


"Suhu tubuh Yunarin hangat..."


"Ah—ya sudahlah kalau begitu."


Meski bersikap seolah terganggu, Yuna menyerah dan membiarkan Rin bersandar pada tubuhnya.


"Kalian akrab sekali ya! Benar-benar serasi," ujar Sara sambil terkikik dan bahunya berguncang melihat tingkah mereka berdua.


"Lalu, bagaimana dengan cerita Rin?"


"Aku juga penasaran."


Tampaknya sekarang gilirannya. Keduanya bertanya dengan tatapan penuh rasa ingin tahu.

"Eh..."


Gawat. Dia tidak mempersiapkan apa-apa. 

Dia telah membiarkan keduanya membicarakan soal cinta mereka. Begitu selesai, sudah tidak terelakkan lagi bahwa gilirannya akan tiba. Karena terlalu sibuk berpura-pura menjadi dirinya yang biasa, ia tidak menyadari sampai ke tahap apa yang harus ia bicarakan sendiri.


"...Kalau aku, ya begitu."


Setelah terdiam sejenak, Rin teringat akan sosok pemuda di kafe itu.

Sosok pemuda yang sering datang sebagai pelanggan tetap.


"...Kalau aku di tempat kerja sambilan—eh, tapi kurasa aku sudah pernah menceritakan ini sebelumnya, hanya saja dia bukan berarti orang yang aku sukai, lho~"


"Begitukah!?"


"Eh, bukannya waktu itu kamu bilang kamu merasa tertarik padanya?"


Kecuali soal cerita manga shoujo milik Yuna, hal itu adalah informasi yang sudah dibagikan di dalam grup.


Memang benar sebelumnya ia pernah menyebutkan "Onii-san di kafe" sebagai lawan jenis yang ia minati. Namun, itu adalah masa sebelum ia jatuh cinta pada pemuda tersebut di Festival Eiga. 


Demi menjaga agar suasana pembicaraan tidak meredup, ia hanya melebih-lebihkan ceritanya dengan menyebut pemuda di kafe itu sebagai "orang yang ia minati". Bagi seseorang yang kini sudah mengenal arti cinta yang sesungguhnya, perasaannya terhadap pemuda di kafe itu bukanlah cinta.


"Maaf ya. Dia itu lebih terasa seperti teman curhat yang bisa diandalkan, jadi rasanya berbeda dengan cinta."


"Berarti ada perubahan perasaan ya."


"Rin-san memang tidak bisa diremehkan ya."


"Ya, ya begitulah... makanya kurasa cerita tentang dia tidak begitu seru, aku lebih ingin dengar lebih banyak cerita dari kalian berdua."


Melihat Rin yang tersenyum canggung, Sara dan Yuna saling berpandangan dan mengangguk satu sama lain.


"Rasanya agak curang cuma kamu yang aman, tapi ya sudahlah. Kalau begitu, ayo Sara, ceritakan lagi."


"......Eee~~ Aku belum dengar detail soal cerita manga shoujo-nya, jadi aku ingin menggali bagian itu!"


Cerita mana yang ingin didengar? Tatapan mereka berdua yang mengandung pertanyaan itu tertuju pada Rin. Rin membawa topik tersebut ke arah yang benar-benar membuatnya penasaran.


"......Aku sangat ingin dengar cerita tentang manga shoujo, jadi aku berpihak pada Sarachin~"


"......ugh! Ahh... Memalukan sekali. Benar-benar deh."


Mau bagaimana lagi. Dengan sikap pasrah, Yuna mulai menceritakan kisahnya dengan pemuda yang ia temui melalui perantara manga shoujo.


"Ini memalukan, sih. Waktu SMP dulu... aku tidak punya teman yang bisa diajak berbagi hobi."


Jangankan berbagi, bicara saja ia tidak bisa. Rasanya sangat memalukan hingga tak tertahankan.


"Memang ada orang-orang di sekitarku yang membicarakan manga shoujo. Tapi, saat itu aku tipe orang yang terlihat sok keren padahal menyedihkan..."


"Aku penasaran sekali seperti apa rupamu dulu!"


"Aku ingin melihatnya!"


"Hentikan. Itu adalah sejarah gelap..."


Hobi seperti itu tidak cocok untuknya. Yuna sangat paham bahwa dirinya lebih cocok memakai jins daripada rok, dan lebih pas disebut keren daripada imut. Karena itulah, ia tidak bisa mengatakan kepada orang-orang di sekitarnya bahwa ia menyukai hal-hal imut seperti manga shoujo.


"Kembali ke cerita, yang menghubungkan aku dengan dia adalah media sosial."


Media sosial adalah tempat ia bisa menemukan teman bicara yang memiliki hobi yang sama setelah sekian lama menjalaninya dalam kesendirian. Di sana, ia bertemu dengan seseorang yang cocok berbicara dengannya, bahkan mengenai karya-karya yang tidak populer sekalipun. Dialah... Haru.


"Ah, jadi di sanalah kalian bertemu."


Sara menepukkan kedua tangannya, tanda ia sudah paham.


Rin menyambung pembicaraan dengan ekspresi yang membeku seolah terkejut.


"......Maksudmu, dialah orang yang kamu sukai?"


"I-iya... tapi karena memalukan, aku tidak akan mengatakannya untuk kedua kalinya."


Mendengar cerita Yuna, Rin semakin membandingkan pertemuan mereka dengan pertemuannya sendiri.


...Ah, betapa takdirnya pertemuan mereka.


Sambil menghela napas panjang di dalam hati, Rin berusaha keras untuk kembali menjadi dirinya yang biasa.


"......Lalu lalu, seperti apa masa SMP-mu dulu!?"


"......D-dilarang menggali bagian itu!"


"Eee~~ Habisnya aku penasaran dengan Yunarin yang sok keren."


"......He-hei, kamu memelukku lagi!"


Bagus. Dia tidak curiga.


Sepertinya aku sudah bisa kembali menjadi diriku yang biasa. Sarachin bertemu karena ditolong dari gangguan orang asing. Yunarin bertemu karena berbagi hobi rahasia lewat manga shoujo, bahkan selera karya mereka pun sama.


Aku tidak akan bisa mengejar mereka berdua. Rasa rendah diri dan rasa kagum bergejolak di dalam hati Rin. Hal itu membuat tekad yang ia buat tadi menjadi semakin kokoh. Tindakan untuk mengakhiri perasaannya, demi merelakan pemuda itu.


Sambil menyusun visi tersebut di dalam kepalanya, Rin terus bercanda dengan mereka. Berusaha keras agar perasaan yang ia pendam di dalam hati tidak pernah terungkap...


***


Seiring malam yang semakin larut, pembicaraan pun mulai tenang.


Rasa kantuk mungkin sudah mulai menyerang. Inilah saat yang tepat untuk mengusulkan rencananya. Tiba-tiba, Rin bertanya kepada mereka berdua seolah hal itu bukan masalah besar.


"Hei, kalian berdua. Rasanya agak sepi ya kalau kita langsung pulang begitu saja?"


"......Eh?"


"Apa maksudmu?"


Setelah bangun tidur nanti, jadwal mereka hanyalah naik kereta dan pulang ke rumah masing-masing.


"Mumpung kita di sini, kupikir mungkin kita bisa pergi berwisata ke satu tempat lagi sebelum pulang..."


"......Yah, aku mengerti perasaanmu, sih."


Yuna memberikan anggukan kecil setuju atas usul Rin.


"Kalau memang begitu..."


Sara pun tampaknya tidak keberatan. Ia meletakkan tangan di dagu, memikirkan tempat yang cocok untuk berwisata.


Mungkin karena acara menginap ini terasa seperti melakukan kenakalan remaja, kendali diri mereka menjadi agak longgar. Mereka juga sudah cukup puas menikmati obrolan cinta.


Biasanya, akan memalukan untuk membahas topik yang terlalu dalam, namun ruang gelap yang menyembunyikan wajah serta kehangatan selimut memungkinkan hal itu terjadi.


Saat sedang memikirkan hal itu, Sara berbicara sambil memperhatikan reaksi yang lain.


"Bagaimana kalau Akuarium Atlanta...?"


"Di mana itu?"


Mendengar pertanyaan Rin yang antusias, Sara berdehem kecil dengan imut sebelum menjawab.


"Kalau tidak salah, letaknya satu stasiun dari sini..."


"Ayo ke sana! Aku ingin pergi!"


"Lho? Sejak kapan Rin-san begitu suka akuarium...?"


"Yah, tapi kalau dipikir-pikir itu adalah tempat kencan, mungkin dia menyukainya karena alasan itu?"


Yuna memprovokasi dengan nada suara yang mengandung candaan. Mungkin itu adalah balasan karena Rin memeluknya tadi atau karena Rin sering menggodanya.


"......Aku suka, kok."


Kenyataannya, ia memang suka akuarium. Bukan karena tempat itu terkenal sebagai tempat kencan, tapi ia murni menyukai suasananya.

Lagipula, tempat itu akan menjadi lokasi yang sangat tepat sebagai tempat terakhir.


Rin menghela napas panjang sebelum akhirnya berbicara.


"……Hei. Soal akuarium nanti. Boleh tidak, aku minta waktu berdua saja dengan Akasaki-kun?"


“"……Eh?"”


Suara Sara dan Yuna terdengar berbarengan.


Keduanya mematung dengan mata terbelalak. Rin menghirup napas pelan dan melanjutkan.


"Ada sesuatu yang sedikit lupa aku sampaikan padanya saat festival musim panas kemarin……"


"Be-begitu ya……"


"Kamu belum menyampaikan rasa terima kasihmu?"


"……Iya. Aku baru ingat kalau aku belum minta maaf karena sempat bersikap agak ketus saat acara menginap ini diputuskan. Aku juga ingin memberikan sesuatu sebagai tanda maaf."


Rin menjelaskan kepada mereka tentang kejadian di hari pertama menginap. Karena merasa gugup, ia terus-menerus bersikap dingin terhadap Haruya dan ia belum sempat meminta maaf soal itu. Melihat ekspresi Rin yang tampak merasa bersalah, keduanya pun mengangguk paham.


"Yah, sikap Rin ke Akasaki-kun di hari pertama memang agak 'begitu' sih……"


"Benar. Memang 'begitu'."


"A-apa maksud kalian dengan 'begitu'!"


Mendengar seruan Rin, Sara dan Yuna tertawa terbahak-bahak.

Melihat keadaan mereka yang seperti itu, Rin memendam tekad kuat di dalam hatinya.


(Maafkan aku Sarachin, Yunarin, aku akan mengakhirinya di akuarium ini.)


Ia tahu mereka berdua pun pasti ingin menghabiskan waktu bersama Haruya. Meski merasa bersalah karena telah mendapatkan izin untuk memonopolinya, ini adalah hal yang perlu dilakukan sebagai bentuk penyelesaian bagi dirinya sendiri.


Setelah mengetahui pertemuan takdir kedua sahabatnya, ia tidak punya pilihan lain selain membuat keputusan ini.


(……Aku akan menjadikan akuarium ini yang terakhir, dan merelakan Akasaki-kun.)


Seolah ingin mengusir bayang-bayang Haruya yang melintas di benaknya, Rin menarik selimut dan menutupi kepalanya rapat-rapat.


***


Bangun tidur kali ini rasanya tidak terlalu segar. Mungkin karena ia sempat tertidur di teras sebelumnya.


Matahari yang mulai menyengat dengan terik menjadi penanda hari terakhir acara menginap mereka. Setelah festival musim panas usai, rencana hari ini adalah mengunjungi akuarium sebelum akhirnya pulang ke rumah masing-masing.


Satu stasiun dari sini terdapat Akuarium Atlanta yang terkenal sebagai tempat wisata. Karena sudah jauh-jauh datang ke rumah kakek Sara, mereka memutuskan untuk mampir ke tempat wisata terdekat sebagai penutup.


『...Aku belum ingin pulang, bagaimana kalau kita jalan-jalan dulu? 』—kurang lebih seperti itulah suasana seru girls' talk tadi malam. Rin telah mengirimkan usulan itu melalui grup obrolan sekitar jam dua dini hari.


Saat memeriksa pesan tersebut di ponselnya, tanpa sadar sudut bibir Haruya terangkat.


"Akasaki. Apa kamu sesenang itu bisa pergi ke akuarium?"


Kazamiya bertanya dengan wajah menyeringai saat mereka sedang bersiap-siap.


"Bukan begitu, kok."


"Hee~ Masa sih?"


Haruya membuang muka dari tatapan Kazamiya yang seolah bisa membaca pikirannya. Tepat pada saat itu, ketiga gadis itu muncul.



Setelah melewati festival musim panas bersama Sara, Yuna, dan Rin, jarak antara Haruya dan mereka jelas telah memendek. Bukan sekadar jarak fisik, melainkan jarak psikologis. Ekspresi mereka berdua sudah cukup menjelaskan hal itu.


"……Se-selamat pagi."


"Se-selamat pagi."


Sara menyapa sambil menggaruk pipinya, mencoba menutupi rasa malu. Sementara Yuna, meski nada bicaranya masih tersisa sedikit ketajaman, suara aslinya jelas terdengar jauh lebih lembut. Begitu matanya bertemu dengan mata Haruya, Yuna langsung membuang muka.


"……Ugh. Sudah jam begini, kita harus segera berangkat ke akuarium."


Ia bergumam seolah mencoba mengalihkan perhatian sambil menatap jam tangannya lekat-lekat.


"……Benar. Akan repot kalau nanti terlalu ramai orang," Sara mengangguk setuju.


"……Yah, kalau terlalu ramai, kesenangannya jadi berkurang setengah," terdengar suara berat Kazamiya di dekat telinga Haruya. 


Sambil menggaruk bagian belakang kepalanya, ia berbicara dengan nada malas.


"Kurasa begitu……" 


Haruya mengangguk setuju.


Mungkin karena terlalu bersemangat di festival kemarin, semua orang bangun agak terlambat. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 10.30 pagi.


"……Kohinata-san?"


Haruya memanggil nama gadis yang sejak tadi belum mengeluarkan sepatah kata pun, mencoba memastikan keadaannya.


"Eh?"


Rin mematung dengan mata membelalak. Begitu perhatian semua orang tertuju padanya, Rin menjawab dengan senyum malu-malu.


"Aku cuma agak mengantuk…… ada apa, Akasaki-kun?"


Rin bersikeras bahwa dia hanya kurang tidur.


"Padahal sudah jam segini, dia bilang masih kurang tidur……"


"Fufu, Rin-san tetap menggemaskan seperti biasanya."


Yuna yang tampak heran diikuti oleh Sara yang terkikik melihat tingkah sahabatnya itu. Sepertinya kedua sahabatnya benar-benar mengira dia hanya sedang mengantuk.


(Jadi, itu cuma perasaanku saja……?)


Bagi Haruya, senyum Rin barusan terlihat seperti senyum buatan. Padahal saat festival kemarin, senyumnya terlihat mekar lebih indah dari biasanya. Namun hari ini, ia tampak menunduk dan seolah-olah berusaha "menghilang" dari suasana. Mungkin dia memang benar-benar mengantuk, tapi……


Meski menyimpan sedikit rasa janggal di dadanya, Haruya menyelesaikan persiapannya.


Sekitar dua puluh menit setelah berangkat menuju Akuarium Atlanta.


Setelah berpamitan dan mengucapkan terima kasih kepada kakek Sara, tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk sampai di akuarium. Aroma laut memenuhi udara di sekitar, menunjukkan bahwa area ini memang mengandalkan kekayaan alamnya.


"……Waktu turun di stasiun tadi aku juga sudah berpikir begitu, tapi alam di sini benar-benar asri ya."


Di depan akuarium, Kazamiya tiba-tiba menggumamkan hal itu. Semuanya mengangguk mantap setuju. Sara, yang mungkin sudah terbiasa dengan pemandangan ini, tampak memasang wajah rindu seorang diri. Melihat Yuna yang berdiri di sampingnya, Sara berbisik pelan.


"Kalau di sini, sepertinya pembuatan naskah Yuna-san akan semakin berkembang."


"……Ugh. Eh, ya-yah, begitulah."


Melanjutkan pembuatan naskah memang menjadi salah satu tujuan Yuna selama acara menginap ini. Menanggapi perkataan Sara, mata Yuna bergerak gelisah ke sana kemari. Saat matanya bertemu dengan Haruya, ia langsung membuang muka meskipun tidak bermaksud melakukannya.


“……(Padahal naskahnya sudah jadi)”


Yuna teringat dan menjadi malu sendiri. Mengingat tindakan-tindakan beraninya terhadap Haruya selama acara menginap ini. Berkat itulah naskahnya selesai, tapi ia belum siap secara mental jika hal itu diungkit kembali.


"Ada apa, Takamori-san?"


"……Ugh! Ada sesuatu yang ingin kubicarakan dengan Sara soal naskah. Maaf ya, Akasaki-kun."


Dengan telinga yang memerah, Yuna menarik Sara untuk menjauh sejenak.


"Yah, mereka berdua kan pemeran utama di Festival Eika. Mungkin mereka ingin mematangkan naskahnya berdua saja," Kazamiya berkomentar santai.


Sambil memastikan keberadaan Sara dan Yuna dari kejauhan, Kazamiya berkata seperti itu.


"Mungkin saja," jawab Haruya dengan anggukan kecil, meski ia masih merasa janggal karena dihindari oleh Yuna.


"──Tapi, Kohinata-san, apa tidak apa-apa kalau tidak menyusul mereka?"


Haruya bertanya kepada Rin yang sejak tadi seolah bersembunyi di balik bayang-bayang. Jika itu Rin yang biasanya, ia pasti akan menjadi orang pertama yang menghampiri kedua sahabatnya itu, namun sekarang pemandangan itu tidak terlihat sama sekali.


"Aku..."


Dengan tatapan mata yang mendongak ke atas, Rin tiba-tiba menarik ujung baju Haruya dengan pelan.


"……Eh?"


Mata Haruya membelalak melihat tindakan Rin yang tiba-tiba.


(...Tindakan itu, saking imutnya sampai terasa curang. Jantungku jadi berdebar, ini tidak sehat untuk hatiku.)


Kepalanya dipenuhi tanda tanya, namun tepat pada saat itu Kazamiya menyela.


"……Yah, kalau aku di sini terus sepertinya cuma jadi pengganggu."


Hanya meninggalkan kata-kata itu, Kazamiya mempercepat langkahnya. Haruya refleks ingin mengejarnya, namun ia tidak bisa melepaskan genggaman Rin pada ujung bajunya. Kekuatan genggaman yang seharusnya lemah itu justru terasa sangat kuat baginya.

"Ah, maaf... Kazamiya-kun," terdengar suara kecil Rin di sampingnya.


Namun, suara itu hanya terlontar ke ruang hampa, dan Haruya tanpa sadar mengguncangkan bahunya karena tertawa.


"……Ja-jahat banget, Akasaki-kun. Masa tertawa begitu."


"Tidak, habisnya ini sedikit lucu. Maaf."


Melihat sosok Rin yang biasanya selalu cekatan dan penuh perhitungan tapi sekarang tampak seperti ini, terasa sangat segar baginya hingga tawanya lolos begitu saja.


Melihat Rin yang tampak agak merajuk, Haruya tersenyum dan berkata, 


"Ya sudah, ayo kita ikut mengantre di belakang yang lain."


"Baik."


Setelah memastikan Rin mengangguk pelan, Haruya ikut mengantre di zona loket tiket bersamanya. Seharusnya hal seperti ini dilakukan bersama seluruh anggota grup, tapi...di depan barisan, ia bisa melihat sosok Sara, Yuna, dan Kazamiya. Pasangan Sara dan Yuna, lalu Kazamiya sendirian. Dan terakhir, pasangan Haruya dan Rin. Karena ada pelanggan lain yang menyela di antara mereka, grup tersebut akhirnya terpisah-pisah.


(……Sepertinya nanti kita harus berkumpul lagi.)


Sambil memikirkan untuk berkumpul kembali setelah selesai membeli tiket masuk, ponselnya bergetar seolah sudah diperhitungkan. Saat memeriksa pesan, ternyata itu dari Sara.


『Akasaki-san. Kami berdua akan berkeliling sendiri, jadi tolong jaga Rin-san ya.』


『Begitulah. Akasaki-kun, aku titip dia ya.』


Menyusul Sara, sebuah pesan dari Yuna pun masuk.


"Ada apa, Akasaki-kun?"


Haruya memperlihatkan layar ponselnya kepada Rin yang mencoba ikut mengintip.


"Karena keadaannya begini, bagaimana kalau kita berkeliling berdua saja?"


"……iya."


Rin menunjukkan senyuman di wajahnya.


"Berduaan saja dengan Kohinata-san membuatku agak gugup. Rasanya seperti saat kita jadi panitia pelaksana Festival Eiga dulu."


Saat Haruya tersenyum lebar, mata Rin membelalak.


"………Ternyata Akasaki-kun menganggapnya begitu ya."


Wajahnya memerah, tangannya diletakkan di depan dada, lalu ia bergumam dengan penuh perasaan.


(……Akasaki-kun.)


Kepalanya kini dipenuhi tentang Haruya, dan detak jantungnya bergemuruh hebat. Karena pandangannya terus terpaku pada Haruya, mereka sudah sampai di gerbang masuk tanpa terasa.


"Kohinata-san?"


"………Eh?"


Sampai mereka selesai membayar, tidak ada obrolan yang dipaksakan, hanya waktu tenang yang mengalir dengan damai. Itulah sebabnya Rin terperanjat kaget saat tiba-tiba dipanggil.


"……Tidak, bukan apa-apa. Jangan dipikirkan. Ayo jalan, Akasaki-kun."


"A-ah, iya."


Sambil dituntun oleh senyuman Rin, Haruya melangkah melewati gerbang masuk.


***


Saat Haruya dan Rin baru saja masuk. Sara dan Yuna, yang sudah melangkah lebih dulu, sedang menikmati akuarium sambil melakukan percakapan rahasia.


"Tindakan kita ini sudah benar kan……"


"Iya. Kurasa ini yang terbaik."


Mereka memastikan ikan-ikan cantik yang terlihat dan mengambil beberapa foto. Percakapan terjadi di tengah kegiatan itu. Mata mereka tertuju pada ikan, tidak saling memandang.


"……Jadi, urusan Rin kita serahkan pada Akasaki-kun."


"Benar. Kurasa yang lain berpikir kita sedang berduaan karena urusan pembuatan naskah."


"Iya ya."

"Aktingmu tadi sangat meyakinkan, reaksi Yuna-san bagus sekali," ujar Sara dengan bangga.


"Bukan akting kok, aku memang benar-benar malu tadi," Yuna membantah dengan samar.


"Fufu. Yuna-san memang imut."


"Sudahlah. Aku tidak mau bicara dengan Sara lagi."


Yuna membuang muka saat melihat Sara yang tertawa kecil. Namun, ia kembali berpikir.


"Lagipula, kita sudah mendengar permintaan Rin tadi malam."


"Iya. Kita sudah melakukan apa yang kita bisa. Selebihnya, biarkan Akasaki-san yang menanganinya," kata Sara sambil menepuk pundak Yuna yang tampak cemas.


"Apakah Kazamiya-kun akan baik-baik saja sendirian?"


"Aku sudah memberitahunya situasinya, kalau dia mau, dia pasti akan ke sini."


"Begitu ya. Kazamiya-kun juga orang yang misterius sih."


"Misterius?"


"Iya. Bagaimana ya mengatakannya, seperti tidak terlihat dasarnya. Bagian dari perasaan aslinya tidak bisa dirasakan."


"Ah~ aku mengerti maksudmu."


"Yah, tapi memikirkan tentang Kazamiya-kun terus juga tidak ada gunanya."

"Benar sekali. Mumpung kita sudah sampai di akuarium, ayo kita nikmati saja."


Sambil mengobrol, Sara dan yang lainnya mulai berkeliling melihat isi akuarium. Di berbagai sudut terdapat titik-titik foto yang instagramable, membuat siapa pun bisa langsung merasakan mengapa tempat ini begitu populer sebagai objek wisata.


"Sara, sebelah sini ada penguin!"


"Eh, di sebelah mana!"


Setelah beberapa saat berkeliling di dalam akuarium, semangat kedua gadis itu pun mulai memuncak.


***


Bagian dalam akuarium adalah sebuah ruang yang fantastis. Meski banyak pengunjung dan suasana di dalam cukup padat, pengaturan pencahayaan yang menciptakan kegelapan yang pas memberikan nuansa udara yang unik. Bagi Haruya yang jarang mengunjungi akuarium, tempat ini benar-benar memanjakan mata.


"……Benar-benar indah ya."


"Rasanya aku ingin tinggal di sini selamanya."


"Itu berlebihan, kan?"


"Ikuti saja alurnya dong, Akasaki-kun."


Keduanya saling berpandangan dan bahu mereka berguncang karena tawa kecil. Baik Haruya maupun Rin tampaknya sama-sama terpesona oleh ruang fantasi ini.


"Kohinata-san, sepertinya akuarium ini punya banyak spot foto yang bagus, aku akan mengambilkan banyak foto untukmu."


"Benarkah!? Kalau begitu, bolehkah aku juga mengambil banyak foto Akasaki-kun?"


Rin bertanya sambil menutupi mulutnya dengan ponsel. Sosoknya yang memiliki mata berbinar itu terlihat sangat imut, seolah melenyapkan segala kemungkinan untuk ditolak. Ruang fantastis ini seakan memberikan dorongan ekstra yang membuat Rin terlihat semakin memikat.


"……Ya, boleh saja."


Hanya saja, Haruya tidak bisa menyembunyikan rasa malunya. Ia menggaruk pipi dan membuang muka.


"……Ehehe."


Tampaknya Rin sangat senang karena telah mendapatkan izin dari Haruya, hingga wajahnya tampak berseri-seri.


"Kalau begitu, mari kita berkeliling dulu. Mulai dari sana juga boleh."


Haruya menunjuk ke sebuah arah dan mulai bergerak untuk memimpin jalan. Rin mengangguk pelan dan melangkah mengikuti Haruya.



Bagian dalam akuarium ternyata jauh lebih luas dari bayangan mereka. Mereka berkeliling mengunjungi berbagai spot foto, namun rasanya tempat itu tidak ada habisnya. Di antara semua itu, yang paling berkesan adalah area ubur-ubur yang fantastis.


Terdapat jembatan besar buatan manusia dan ubur-ubur yang dihiasi oleh iluminasi warna-warni. Tidak hanya dinding, lantainya pun terbuat dari kaca, menciptakan suasana yang mistis. Meski ubur-ubur bisa dilihat di tempat lain, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa tempat inilah yang membuat ubur-ubur terlihat paling bersinar.


"……Aku ingin sekali dinyatakan cinta di tempat seperti ini."


Kalimat itu terdengar lirih dari samping Haruya.


Menyatakan cinta di atas jembatan dengan latar belakang ubur-ubur yang bergoyang dalam cahaya fantasi. Memang, jika hanya melihat situasinya, mungkin tidak ada tempat yang lebih cocok untuk menyatakan cinta selain di sini.


"Yah, kalau kita bisa mengabaikan jumlah orang di sini, menyatakan cinta mungkin akan terasa bagus."


"Eh, ahaha. Apa aku tadi mengatakannya keras-keras……?"


"Mumpung di sini, mau aku fotokan?"


"Itu! Tentu saja mau!"


Setelah itu, mereka berkeliling sambil mengambil foto masing-masing, namun——.


Haruya menyadari pandangan Rin yang terus melirik ke arahnya sambil memegang ponsel.


"Mau aku ambilkan fotomu?"


Haruya mengulurkan tangan, memberi isyarat agar Rin menyerahkan ponselnya. Ia yakin Rin pasti ingin berfoto bersama ubur-ubur.


"……Eh, iya. Tapi, ini agak memalukan……"


Memang benar Rin ingin fotonya diambil, tapi lebih dari itu, sebenarnya Rin ingin mengambil foto Haruya.


Haruya mencoba melihat sekeliling. Karena banyaknya pengunjung, ia mengerti jika Rin merasa malu untuk berpose sendirian. Meskipun dalam hati ia tahu bahwa orang lain tidak terlalu peduli pada orang asing, tetap saja rasanya risih.


(Tapi sayang sekali kalau sudah jauh-jauh ke akuarium tidak berfoto. Kohinata-san sepertinya tipe orang yang suka foto.)


Sambil merapikan pikirannya, sebuah ide terlintas di benak Haruya.


"Aku juga akan ikut berfoto bersamamu. Kalau begitu pasti tidak akan memalukan, kan?"


"Eh……"


Mata Rin membelalak lebar.


"Kalau kamu tidak mau sendirian, ayo kita foto berdua."


"………Bo-bolehkah?"


Rin menatapnya dengan pandangan mendongak, namun terlihat sangat bahagia hingga Haruya refleks membuang muka lagi.


(……Reputasi-ku sulit dipertahankan kalau dia terus-terusan bersikap imut begini.)


Rasanya sangat canggung. 


Agar rasa malunya tidak disadari oleh Rin, Haruya memanggil orang di dekat mereka dan meminta tolong untuk memotretnya bersama Rin.


"……Fufu. Akasaki-kun, pose apa itu?"


Saat sedang berpose, Rin melontarkan godaan. Haruya mencoba meniru gerakan ubur-ubur yang bergoyang, tapi……


"……Ugh. Lupakan aku, Kohinata-san juga boleh berpose sesukamu."


"Aku cukup pose peace saja."


"Be-begitu ya."


Karena sudah terlanjur berpose, Haruya merasa aneh jika harus menggantinya sekarang, jadi ia memutuskan untuk tetap seperti itu di depan kamera. Ia memberi tahu orang yang membantu memotret bahwa mereka sudah siap, dan sesuai dengan aba-aba "cheese", rana kamera pun ditekan.


"Apa ada lagi yang ingin difoto?"


Setelah mengambil dua lembar foto yang sama, orang tersebut bertanya untuk memastikan.


Saat Haruya melirik ke arah Rin, Rin tampak memantapkan hatinya dan berkata:


"Maaf! Tolong satu foto lagi!"


Posenya sudah ia tentukan. 


Saat Rin merasakan kehangatan dan kebaikan Haruya, hatinya pun terasa menghangat.


(Akasaki-kun benar-benar baik. Aku jadi semakin menyukainya...)


Rin merasa sangat gemas melihatnya melakukan pose ubur-ubur. Kesempatan untuk berfoto berdua seperti ini pasti tidak akan ada lagi di masa depan. Karena itulah, Rin memantapkan hati dan meminta satu foto lagi.


"Buat kenang-kenangan. Terakhir, ayo kita foto sedikit lebih dekat."


"……Eh, aah."


Mereka saling mendekat dan berpose peace.


Bagi orang yang melihatnya, ini mungkin hanya terlihat seperti foto dengan teman laki-laki biasa. Sejujurnya, Rin ingin berfoto sambil menggandeng lengannya seperti sepasang kekasih, tapi ini saja sudah lebih dari cukup.


"……Terima kasih ya, Akasaki-kun. Aku senang sekali."


Ekspresi Rin yang tersenyum alami dan ceria terlihat sangat menawan, membuat Haruya tanpa sadar memalingkan wajahnya.


(……Senyum itu benar-benar curang.)


Haruya harus berusaha sekuat tenaga agar debar jantungnya yang kencang tidak ketahuan.


***


Setelah selesai berfoto dengan Rin. Tidak hanya area ubur-ubur yang fantastis, akuarium ini juga menyediakan ruang yang menyerupai perpustakaan, di mana buku-buku ikan, hewan, hingga data penelitian dipamerkan dengan sangat beragam.


Haruya menyukai ruang perpustakaan ini. Area ini lebih sepi dibandingkan area lainnya, memberikan ketenangan di hatinya.

"Ternyata aku memang tipe orang yang lebih suka buku fisik," ujar Rin tiba-tiba sambil membalik halaman tentang ekologi lumba-lumba.


Haruya diam menunggu kelanjutannya, dan Rin melanjutkan dengan nada melankolis.


"……Suara halus saat membalik kertas dan aroma tua yang hanya bisa dihasilkan oleh kertas. Berat dan ketebalannya saat digenggam langsung. Akhir-akhir ini buku elektronik memang populer, tapi aku merasa aku tetap lebih suka kertas."


Tiba-tiba, Rin menggelengkan kepalanya dengan panik.


(……Gawat. Aku tidak berniat mengatakannya, tapi malah bicara hal aneh.)


Rin merasa cemas karena menyadari dirinya baru saja memamerkan obsesi anehnya secara terang-terangan. Namun setelah jeda beberapa detik, mata Haruya justru berbinar.


"Aku mengerti! Aku mengerti sekali, Kohinata-san!"


"Eh, eh?"


Rin tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya melihat Haruya yang tiba-tiba bersemangat.


(……Tangan. Tanganku digenggam erat.)


Haruya menggenggam tangan Rin dengan kedua tangannya seolah membungkusnya.


"Zaman sekarang pun memang harus kertas! Karena──"


Dari sana, Haruya mulai menggebu-gebu menjelaskan keunggulan buku cetak. Namun selama itu, pikiran Rin berhenti berfungsi. Meskipun isi pembicaraan Haruya tidak jauh berbeda dengan apa yang ia pikirkan, Rin tidak bisa mencerna detailnya. Jarak mereka terlalu dekat, dan suara detak jantungnya yang bergemuruh menguasai seluruh pikirannya.


(De-dekat sekali…… Akasaki-kun.)


──Ya. Haruya merasa senang karena menemukan kesamaan dengan Rin. Hal itu memberikan pengaruh besar, hingga bagi Haruya, ruang perpustakaan inilah yang menjadi tempat favoritnya di seluruh akuarium.


***


Setelah puas menikmati berbagai area, Haruya dan yang lainnya menghubungi Sara untuk berkumpul kembali. Setelah berbagi lokasi titik temu melalui pesan, terjadilah sebuah insiden di tengah jalan.


"……A-aduh."


Rin, yang seharusnya berjalan di belakang Haruya, jatuh tersungkur.


"Kohinata-san…… kamu baik-baik saja?"


Haruya bergegas menghampiri Rin, merendahkan tubuhnya, dan mengulurkan tangannya.


(……Tangan yang besar. Terasa kasar dan sangat berbeda dengan tanganku……)


Mata Rin membelalak.


"Terima kasih, Akasaki-kun."

Sambil didekap oleh tangannya yang besar, Rin berdiri.


Sebenarnya tempat ini tidak licin atau sulit dilewati. Kerumunan orang juga tidak terlalu parah. Namun alasan Rin terjatuh adalah karena ia mulai merasa berat untuk berpisah.


(Waktu ini…… akan segera berakhir……)


Waktu berdua di akuarium ini ia mulai untuk bisa merelakan pemuda itu. Namun ketika ia mulai menikmatinya, akhir cerita terasa datang lebih cepat. Ia ingin lebih lama di sini. Ia ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersamanya.


Perasaan itu terpancar lewat gerak-geriknya. Langkah kakinya terasa berat, ditambah lagi perhatiannya pada jalanan menjadi berkurang, sehingga ia terjatuh. Mungkin karena memakai sepatu platform, rasa sakit menjalar di pergelangan kakinya.


Sambil menahan sakit dan memaksakan senyum, Rin menatap Haruya.


"Kalau begitu, Akasaki-kun. Ayo jalan."


Waktu terakhir untuk memantapkan hati berpisah dengannya. Ternyata, bisa menikmati kencan biasa seperti ini terasa sangat menyenangkan. Menjadi dirinya sendiri yang apa adanya, tanpa ada hal istimewa, namun justru itulah yang terbaik.


(Sudah cukup…… sudah cukup. Jadi, aku akan benar-benar menyerah pada Akasaki-kun setelah ini──)


Saat ia melangkah sambil meyakinkan diri sendiri, sebuah suara lembut menyentuh telinganya.


"Kohinata-san, kakimu tidak apa-apa?"


"Iya! Aku tidak apa-apa kok!"


Melihat Rin yang menggelengkan kepala dengan kuat, Haruya menghela napas pendek dan berkata dengan nada serius.


"Jangan pura-pura kuat. Aku memperhatikanmu, tahu."


"…………"


Melihat Rin yang diam terpaku, Haruya melanjutkan.


"Pergelangan kakimu sakit, kan?"


"………Ba-bagaimana bisa tahu?"


"Karena kamu pakai sepatu hak tebal, dan senyummu setelah jatuh tadi terlihat seperti dipaksakan."


Sambil berkata begitu, Haruya mengulurkan tangan mencoba menuntun Rin.


"…………"


Melihat Rin yang hanya berdiri diam, Haruya akhirnya menarik tangan Rin.


"Ayo, Kohinata-san. Pindah sedikit ke pinggir dan perlihatkan kakimu."


"……"


Begitu melihat punggung Haruya yang tegap, Rin segera memalingkan wajah untuk menyembunyikan debar jantungnya yang kencang.


(……Jangan begitu, Akasaki-kun. Kalau kamu melakukannya──)

Rin mengatupkan bibirnya rapat-rapat, seolah ingin mengunci perasaan aslinya.


Setelah pindah ke pinggir dan memeriksa kaki Rin, Haruya segera menemukan bagian yang sakit. Karena tidak membawa perban, Haruya akhirnya menggendong Rin.


"……Tidak apa-apa kok! Ini memalukan, dan aku bisa jalan sendiri!"


"Tidak, biarkan aku terlihat keren sekali ini saja."


Biasanya Haruya tidak akan bisa melakukan hal seperti ini. Namun, suasana unik yang diciptakan akuarium seolah mendorong punggungnya. Iluminasi berwarna ungu dan biru menciptakan ruang yang fantastis. Haruya tidak berpikir bahwa hal sekecil ini bisa menjadi sandaran yang berarti, tapi ia merasa hanya inilah yang bisa ia lakukan.


"……Tuh kan, Akasaki-kun. Aku merasa diperhatikan banyak orang."


"Benar juga."


Melihat anak SMA yang sedang menggendong mungkin memang pemandangan langka bagi pengunjung lain.


"Akasaki-kun tidak keberatan?"


"Aku tidak keberatan."


"……Pembohong."


Rin membenturkan kepalanya pelan ke punggung Haruya.


"Kalau kamu benar-benar tidak suka, aku akan menurunkanmu. Bagaimana?"

"……Kalau Akasaki-kun tidak keberatan, aku juga tidak apa-apa."


"Kalau begitu, tetap begini saja ya."


Haruya terus menggendong Rin sambil berjalan menuju titik temu mereka. Ia berpikir setidaknya ia harus menurunkan Rin sebelum sampai di depan Sara dan yang lainnya.


Di tengah langkah mereka, Haruya tiba-tiba berujar kepada Rin.


"Kohinata-san. Kalau ada sesuatu yang sedang kamu cemaskan, jangan sungkan untuk mengatakannya padaku, ya."


"……………"


Kepada gadis yang berada di punggungnya, kepada gadis yang kini terdiam itu, Haruya menyuarakan kepeduliannya.


"…………ugh. Terima kasih, Akasaki-kun."


Suara yang sedikit bergetar sampai ke telinga Haruya, namun tanpa berkata apa-apa lagi, Haruya terus melanjutkan langkahnya.


"────Nah, ini bagian untuk Kohinata-san."


Haruya menyodorkan jus jeruk yang ia beli di kios. Meski sudah sampai di titik temu, Sara dan yang lainnya belum terlihat. Saat ini mereka pasti sedang bersantai di suatu tempat. Rin duduk di kursi area istirahat, sementara Haruya tadi pergi membeli minuman ke kios terdekat.


"……A-aku akan bayar ganti uangnya."


Haruya menghentikan Rin yang dengan tergesa-gesa mencoba mengeluarkan dompetnya.


"Tidak, tidak apa-apa."


"Tapi, ini kan di kios, harganya pasti mahal?"

Melihat Rin yang menatapnya dengan cemas, Haruya tersenyum lebar sambil menjawab.


"Tidak mahal kok, jadi jangan khawatir."


"Tapi, biarkan aku membalasnya nanti. Hanya saja..."


Tiba-tiba, sebuah pertanyaan meluncur dari bibir Rin.


"Kenapa kamu memilih jus jeruk?"


"Karena aku selalu melihatmu meminumnya, jus jeruk. Tadi pagi juga, kan?"


Haruya merujuk pada saat mereka berpapasan di depan mesin penjual otomatis pagi-pagi sekali.


"……ugh. Kamu ingat."


"Itu kan baru kejadian tadi pagi."


Haruya tertawa kecil, seolah menganggap reaksi bahagia Rin yang berlebihan itu lucu.


"Kalau mau membalasnya, kamu akan membuatkan kopi untukku, kan?"


"…………i-iya."


Suara yang begitu lembut itu bergema di telinga Rin. Mendengar kata-kata Haruya, Rin tertunduk. Detak jantungnya bergemuruh hebat.


"Apalagi aku juga punya janji untuk mengajari Kohinata-san berenang, jadi aku senang hari ini kita bisa berkeliling berdua."


Hanya saja, berduaan begini ternyata masih membuatku malu ya, tambah Haruya sambil menggaruk pipinya.


Mendengar perkataan Haruya, hati Rin goyah.


...Ah, orang ini benar-benar curang. Dia terus mencoba mengupas perasaan yang ingin kusembunyikan. Keinginan untuk melanjutkan waktu ini membanjiri hatinya seperti air bah. 


Seharusnya ia sudah memutuskan bahwa saat-saat bersentuhan dengannya ini adalah yang terakhir.


Tidak boleh diucapkan. Jangan katakan.


Setelah berpisah di sini, hubungan mereka seharusnya kembali menjadi sekadar teman sekelas.


Tidak apa-apa. Aku pasti bisa.


Lalu, aku akan mendengarkan curhatan Sarachin dan Yunarin, serta mendukung cinta mereka. Ia akan menyaksikan perjalanan cinta yang begitu manis sekaligus menyesakkan hingga ingin memalingkan mata. 


Saat tanpa sadar ia menunduk, tangan pemuda itu terpantul di mata Rin. Tangan yang besar dan tegap.


"Kuharap, kita bisa berkeliling berdua lagi nanti."


Sudut mata Rin mulai basah oleh air mata. Harapan itu tidak mungkin terwujud. Tidak boleh diwujudkan. Namun, ia merasa ingin bersandar pada tangan besar itu.


Sambil menggelengkan kepalanya yang penuh konflik, ia menatap Haruya. Berusaha keras agar tidak menunjukkan ekspresi yang menyedihkan.

Wajah Haruya tampak tenang, namun juga sedikit malu-malu.


『Aku ingin berkeliling berdua lagi』


Haruya benar-benar menginginkan itu. Dia ingin menghabiskan waktu seperti ini bersama Rin.


Jelas dari ekspresinya bahwa itu bukanlah sekadar basa-basi. Ekspresi Haruya itulah yang justru mempercepat laju perasaan Rin.


Ia ingin melangkah lebih jauh──. 


Ingin membawa hubungan ini ke depan, ke depan, dan lebih jauh lagi──.


Meski tahu itu salah, kepalanya hanya dipenuhi tentang Haruya. Tanpa sadar, perasaan itu tumpah dari bibirnya. Dari mulut Rin, perasaan itu meluap meski dengan suara yang gemetar.


"………S-suka."


Suara yang terdengar pedih.


Pada saat kata-kata itu sampai ke telinga Haruya, waktu seolah berhenti. Kejutan hebat melanda Haruya, seolah jarum jam yang selama ini mati tiba-tiba mulai bergerak.


"Eh, itu maksudnya────"


Rin seolah tidak bisa lagi membendung perasaannya, ia menumpahkan emosinya secara bertubi-tubi. Perasaan yang telah jebol itu tampaknya sudah tidak bisa ia kendalikan lagi.


"……Aku suka. Ternyata aku tetap sangat menyukai Akasaki-kun sampai aku tidak bisa menyerah."

"Ah."


Sebuah erangan yang tak berbentuk keluar dari mulut Haruya.


Seketika, kepalanya dipenuhi tanda tanya. Ekspresi gadis di depannya tampak menderita, namun ia adalah sosok gadis yang sedang jatuh cinta seutuhnya, yang tidak mengizinkan adanya penolakan.


Tiba-tiba, Haruya merasa tubuhnya mendingin. Ia telah lengah. Ini adalah sesuatu yang tidak pernah ia duga. Bukankah orang yang dia sukai adalah orang lain?


Haruya selama ini percaya akan hal itu. Ia mengingat kembali tentang "orang yang disukai" yang pernah dibicarakan Rin di kafe.


(……ugh)


Saat menoleh ke belakang, ia menyadari bahwa ciri-ciri orang tersebut cocok dengan dirinya yang sekarang.


Tidak, itu pasti hanya sekadar alasan.


(……Sebenarnya kamu sudah tahu, kan?)


Sisi lain dari dirinya bertanya. Kenangan masa SMP yang telah ia buang jauh-jauh melintas kembali di benaknya.


"……Ah."


Haruya hanya bisa membalas pernyataan cinta Rin dengan suara yang tertahan di tenggorokan.


Begitu melihat ekspresi tulus Rin, luka lama di masa lalunya mulai terasa perih, dan ia merasa tubuhnya mendingin dengan cepat. Menghadapi perasaan tulus yang disampaikan gadis itu, hal pertama yang terlintas di pikiran Haruya adalah stagnasi. 


Jika bisa, ia ingin menganggap bahwa ia tidak mendengarnya, dan berharap hubungan mereka tetap diam di tempat seperti semula. Namun, pilihan seperti itu tidak diizinkan. Ia sama sekali tidak bisa mengabaikan perasaan tulus gadis itu. Karena itulah, Haruya harus memberikan jawaban atas perasaan tersebut.


(……Kohinata-san. Aku────)


Tentang saat-saat ia pergi ke kafe dengan identitas rahasianya. Tentang waktu yang mereka habiskan bersama sebagai panitia pelaksana Festival Eiga. Tentang jarak antara dirinya dan Rin yang semakin dekat selama acara menginap ini.


Haruya menoleh ke belakang, mengenang semua waktu yang telah berlalu.


(……Ternyata isinya hanya kenangan yang menyenangkan saja ya.)


Saat memikirkannya kembali, ia sangat menyadari betapa berharganya waktu-waktu itu. Kepadatan waktu yang ia habiskan bersamanya begitu kental, dan ada saat-saat di mana ia merasa diselamatkan oleh Rin. 


Terutama saat pertama kali mereka bertemu dalam wujud rahasianya. Namun, justru karena itulah, ia merasa harus menghadapi Rin dengan benar dan memberikan jawaban.


Haruya terdiam sejenak, lalu menjawab dengan suara rendah yang bahkan mengejutkan dirinya sendiri.


"Ma...af."


Suara itu keluar dengan susah payah. Namun, begitu kata-kata itu terucap dari bibirnya, kelanjutannya mengalir begitu saja dengan hampa.


"Aku tidak bisa berpacaran dengan Kohinata-san."


"…………ugh."


Sebuah erangan tak berbentuk yang seolah menolak untuk menerima kenyataan sampai ke telinganya. Seharusnya itu hanya suara tarikan napas, namun suara yang terasa berat itu terdengar sangat jelas bagi Haruya.


"──!"


Seketika, Haruya membelalakkan matanya.


"Begitu ya…… Benar juga, ya."


Bahu ramping Rin bergetar, dan nada suaranya pun ikut bergetar seirama dengan itu. Ia berusaha mati-matian menahan tangis agar tidak menunjukkan air mata lebih banyak lagi. Senyum pilu yang dipaksakan itu seolah terpaku di dalam ingatan Haruya. Melihat Rin yang membalas dengan senyuman justru jauh lebih menyakitkan daripada melihatnya menangis tersedu-sedu.


Tanpa sadar, Haruya mencengkeram dadanya sendiri dengan erat. Luka lama di masa lalunya terasa perih, dan Haruya menunjukkan ekspresi wajah yang tampak sangat menderita.


(Apa aku mengganggunya……? Wajahnya terlihat sangat kesakitan……)


Melihat wajah Haruya yang tampak menderita, Rin tidak sanggup lagi bertahan.


"……Ka. Ka-kalau begitu, selamat tinggal, Akasaki-kun."


Rin membiarkan air mata menggenangi matanya dan langsung berlari pergi dari tempat itu. Melihat Rin yang terluka di depan matanya, Haruya merasa dorongan impulsif untuk segera mengejarnya.


"Ah………"


Kohinata-san! Seandainya saja ia bisa meneriakkan nama itu dan menarik lengannya. Namun saat ia tersadar, punggung gadis itu sudah membaur di tengah kerumunan dan perlahan-lahan mengecil.


(Bahkan jika aku mengejarnya, memangnya apa yang bisa kulakukan?)


Melihat ekspresi pilu Rin membuatnya sesak, hingga Haruya hanya bisa menengadah menatap langit-langit. Meskipun pikirannya kosong, pipi dan tubuhnya terasa sangat panas.


***


Padahal aku tidak berniat untuk menyatakan cinta.


Rin pergi meninggalkan tempat itu dengan air mata yang menggenang di sudut matanya. Waktu berdua yang seharusnya ia gunakan untuk merelakan Haruya, justru hancur berantakan. 


Padahal ia sudah memutuskan untuk menyerah, tapi ia malah mencoba mencuri langkah sendirian.


Aku jahat. Aku benar-benar jahat……ia tidak ingin bertemu dengan siapa pun sekarang.


"……Eh, tunggu."


"Rin-san, ada apa!?"

"Lho, Kohinata-san!?"


Itu terjadi saat Rin sedang berlari pergi. Suara Sara dan Yuna yang sedang bersama terdengar memanggilnya. Tak lama kemudian, Kazamiya pun ikut bersuara.


Rupanya, Sara dan Yuna berpapasan dengan Kazamiya saat menuju titik temu, lalu mereka bertiga memutuskan untuk menghampiri Haruya dan Rin bersama-sama. Karena itulah mereka bertiga ada di sana, dan mereka justru berpapasan dengan Rin yang berlari pergi dari arah titik temu.


Melihat sosok Rin yang berlari kencang sambil menunduk, Sara dan Yuna saling memberi kode untuk mengejarnya.


"Sara! Ini bukan masalah sepele. Ayo segera kejar!"


"I-iya!"


Setelah mengonfirmasi satu sama lain dengan panik, mereka berdua mengejar Rin. Melihat kondisi Rin, mereka yakin telah terjadi sesuatu yang besar. Begitu Rin melewati mereka, tanpa membuang waktu keduanya langsung berlari menyusul.


"Kazamiya-san! Tolong cari Akasaki-san!"


"Iya, aku minta tolong ya!"


Sara meninggalkan pesan singkat itu kepada Kazamiya yang berada di dekatnya sebelum berlari pergi. Yuna mengikuti langkahnya setelah memberikan isyarat mata kepada Kazamiya.


"Ya. Aku mengerti."


Kazamiya pun secara naluriah menyadari bahwa situasi ini tidak normal. Ia segera memahami maksud mereka berdua dan menganalisis situasi dengan tenang.


Kazamiya melangkah dengan berat menuju titik temu, dan di sana ia menemukan sosok Haruya di sudut ruangan. 


Haruya mengepalkan kedua tangannya dengan kuat, wajahnya tampak sangat menderita. Melihat keadaan Haruya, Kazamiya langsung memahami apa yang telah terjadi. Ia menghela napas pendek, lalu berjalan perlahan mendekati Haruya.


"……Kamu tidak apa-apa, Akasaki?"


Ia mencoba memanggil dengan suara tenang, namun tidak ada jawaban dari Haruya.


"……"


Sosok Haruya yang seolah kehilangan nyawanya terlihat sangat kecil di mata Kazamiya.


Kazamiya merasa tidak boleh membiarkan Haruya sendirian dalam kondisi seperti ini. Meski sempat bingung harus berkata apa, Kazamiya akhirnya menghela napas yang dibuat-buat dan berujar:


"……Hah. Sepertinya kamu benar-benar mengacaukannya dengan luar biasa ya."


Sambil menggaruk bagian belakang kepalanya dengan malas, ia berdiri di samping Haruya. Meskipun suasana di dalam akuarium sangat ramai dan penuh semangat, udara di sekitar mereka terasa dingin dan membeku. Pandangan Kazamiya tertuju pada ubur-ubur yang berenang meliuk-liuk di depan mereka. 


Sambil menatap ubur-ubur itu, ia mengamati reaksi Haruya.


"…………"


Namun, tidak ada jawaban atas perkataan Kazamiya. Hanya keheningan yang mengalir di antara mereka.


"Aku rasa aku mengerti situasinya."


Kazamiya, yang biasanya suka bercanda, kali ini berbicara dengan nada suara yang sangat tenang.


"Sepertinya waktu untuk benar-benar menghadapinya telah tiba."


Setelah memberikan pengantar itu, Kazamiya bertanya.


"……Kau baru saja menolak Kohinata-san, kan?"


"………!?"


"Ternyata benar."


Meski tanpa kata-kata, entah karena tarikan napas atau sikap Haruya yang menyampaikannya, Kazamiya mengangguk di tempat.


"Aku tidak menganggap menolak seseorang itu hal yang buruk. Aku tidak berniat menyalahkan pilihanmu."


"…………"


Haruya hanya bisa mendengarkan dalam diam. Batinnya sudah hancur lebur, dan ia berada dalam kondisi mental di mana ia tidak ingin ada orang yang mencampuri urusannya lebih dalam lagi.


(……Tolong tinggalkan aku sendiri sekarang.)

Jika Kazamiya memang peka, jika dia memang mengerti situasinya, seharusnya dia tidak mendesak lebih jauh. 


Di saat seperti ini, diperlakukan dengan lembut justru terasa lebih menyakitkan daripada apa pun. Padahal biasanya Kazamiya akan mengolok-olok atau mencairkan suasana, tapi kini suaranya terdengar sangat lembut dan tulus...


"Tapi, ya. Akasaki…… Bagiku, jika itu adalah keputusan yang kau buat setelah benar-benar menghadapinya, maka itu tidak masalah. Tapi jika tidak, jika kau menolaknya hanya karena alasan perlindungan diri—karena kau hanya ingin menjaga dirimu sendiri."


Tiba-tiba, Kazamiya mencengkeram kerah baju Haruya.


"……!"


Haruya refleks membelalakkan matanya. Ia terperangah melihat betapa seriusnya tatapan Kazamiya.


"Berikan jawaban setelah kau benar-benar menghadapinya. Apa kau akan mengulangi kesalahan yang sama? Akasaki."


"…………"


Kazamiya tidak tampak marah. Hanya saja, ia menunjukkan ekspresi pedih seolah sedang memohon pada sesuatu.


(Kenapa Kazamiya terlihat begitu menderita……?)


Melihat keanehan pada diri Kazamiya, Haruya justru bisa menjadi lebih tenang. Namun, kata-kata Kazamiya benar-benar menusuk tepat ke inti masalahnya.


Haruya menekan dadanya. Jantungnya berdegup kencang dan luka lama di masa lalunya terasa berdenyut nyeri.


Ah, benar. Bahkan sebelum dikatakan oleh Kazamiya pun, ia sudah mengetahuinya. Bahwa suatu saat hal ini akan terjadi...


"Memberikan jawaban setelah menghadapinya dengan benar", ya?


Memang benar, Haruya tidak memberikan jawaban setelah memikirkan tentang Rin dengan serius. Ia memberikan jawaban hanya berdasarkan rasa penolakan trauma terhadap cinta. Tidak peduli apakah itu Rin atau siapa pun orangnya, kesimpulannya pasti akan tetap sama. Namun, meski tanpa menghadapi perasaan itu pun ia tahu. Bahkan jika ia menghadapinya, ia sudah bisa melihat masa depan di mana mereka akan terluka. Karena itulah──.


"Aku tidak menyesal──"


"Bohong."


Aku tidak menyesal. Aku tidak menyesal dengan pilihanku.


Kazamiya tidak mengizinkan Haruya menyimpulkan hal itu. Dengan tatapan tajam yang seolah menembus isi hatinya, ia menatap Haruya lekat-lekat dan memotong perkataannya.


"Itu bohong."


Lalu, ia mengatakannya dengan nada suara yang lembut namun pasti. Kazamiya melepaskan tangannya dari kerah baju Haruya dan menghela napas pendek.


"Akasaki, kau ingat apa yang kukatakan kemarin?"


Haruya tahu. Ia tahu apa yang ingin dikatakan sahabatnya itu.

"Menjaga atau menghancurkan senyuman gadis-gadis itu, semuanya tergantung padamu."


Kazamiya bergumam datar, seolah ingin memastikan hal itu.


"……………"


Seperti dugaan, kata-kata itu lagi. Namun Haruya tidak punya kata-kata untuk membalasnya.


"Dan saat itu, Akasaki menjawabnya. Kau bilang kau mengerti."


"…………"


Haruya hanya bisa diam membisu. Melihat kondisi Haruya, Kazamiya kembali menunjukkan ekspresi pedih.


"Tapi, Akasaki yang sekarang sama sekali tidak mengerti."


"…………"


Kazamiya meletakkan tangannya di bahu Haruya yang terdiam.


"Tidak harus sekarang. Meski bukan saat ini juga, aku ingin kau memberikan jawaban setelah benar-benar menghadapinya."


Haruya tidak bisa mengatakan apa-apa. Ia hanya bisa menunduk dalam diam.


"Yah, kurasa sekarang kau ingin sendirian, jadi aku hanya akan mengatakan itu."


Hanya meninggalkan pesan itu, Kazamiya melangkah pergi meninggalkan akuarium.


Meskipun pikirannya terasa sangat jernih, wajah dan hati Haruya terasa panas. Di dalam otaknya, ia mengulang kembali kata-kata yang baru saja diucapkan Kazamiya. Bahwa membunuh atau menjaga senyuman mereka, semuanya tergantung padanya.


Menjaga senyuman…… Memangnya ada pilihan seperti itu?


Kesimpulan apa pun yang kuambil, bukankah aku tetap tidak akan bisa menjaga senyuman mereka? Kalau begitu, bukankah pilihanku yang sekarang tidaklah salah? Menolak Rin demi melindungi diri sendiri. Bukankah kesimpulan itu tidak salah sama sekali……


Di dalam akuarium di mana ia kini sendirian, Haruya terus memikirkan hal-hal seperti itu.


***


"Aku tidak akan membiarkanmu lari lagi."


Setelah meninggalkan akuarium dan berlari beberapa saat, Yuna berhasil menangkap bahu Rin dengan kuat tanpa terlihat kehabisan napas.


Di luar masih sangat panas, dan teriknya sinar matahari masih terasa menyengat, namun tubuh Rin terasa sangat dingin. Hanya dengan melihat punggungnya yang gemetar kecil, Yuna tahu bahwa hati sahabatnya itu sedang membeku.


"Lepaskan. Lepaskan aku……"


Menghadapi perlawanan yang lemah itu, Yuna merasa hatinya perih, namun ia tidak melepaskan genggamannya.


Beberapa saat kemudian, Sara berhasil menyusul mereka berdua.


"Yuna-san, kau... seperti biasa, kau terlalu cepat," ucap Sara terengah-engah. Matanya membelalak saat melihat kondisi mereka berdua. 


"Apa yang terjadi!?"


"……Aku tidak apa-apa. Sekarang, maaf ya."


Rin berbalik dengan mata yang memerah. Meski awalnya sempat melawan, tampaknya setelah mendengar suara Sara yang begitu cemas, ia menyerah untuk mencoba kabur secara paksa.


Rin memandang mereka berdua dan berkata, 


"Biarkan aku sendiri. Kumohon..."


Wajahnya terlihat jelas baru saja habis menangis. Mereka langsung tahu bahwa senyumannya saat ini hanyalah kepura-puraan. Namun, melihat ekspresi Rin yang seolah memohon dan berharap seperti itu, mereka berdua kehilangan kata-kata. Tanpa sadar, Yuna melepaskan tangannya dari bahu Rin.


"……Aku ingin kalian membiarkanku sebentar saja. Khusus untuk saat ini."


Sambil memaksakan senyum tipis, Rin mulai melangkah pergi.


"Kita ini teman, Rin. Kapan pun kau butuh, bicaralah pada kami."


"Benar. Kami selalu ada di pihakmu."


"…………………"


Rin terus berjalan tanpa suara. Namun, ia merasa tidak jujur jika terus membuat mereka khawatir tanpa mengatakan alasannya. Setelah menenangkan diri dan berusaha bersikap tenang, Rin berkata:


"……Aku ditolak. Oleh Akasaki-kun. Maaf ya... aku malah membuat suasana jadi canggung."


“"Eh?"”


Sara dan Yuna berseru bersamaan. Mereka ingin mengatakan sesuatu, namun tenggorokan mereka terasa tercekat. Melihat kedua sahabatnya yang tercengang, Rin bersiap untuk benar-benar pergi.


"……Tolong sampaikan permintaan maafku juga pada Kazamiya-kun……"


"Sampai jumpa," ucap Rin sambil menoleh dan menunjukkan senyum yang dipaksakan.


Melihat sosok itu, Saralah yang pertama kali berteriak.


"……Rin-san! Aku akan selalu ada untukmu!"


Menyusul Sara, Yuna pun segera melontarkan kata-katanya.


"Rin! Jangan mengurung diri sendirian!"


Mendengar kata-kata mereka, Rin hanya menjawab satu hal.


"Setelah musim panas berakhir, aku akan kembali seperti semula kok, oke?"


Mendengar kalimat yang terdengar rapuh itu, mereka berdua tidak bisa membiarkannya begitu saja. Rasanya tidak mungkin membiarkan Rin sendirian sekarang.


"Tapi—"

Saat Yuna hendak membantah dengan tegas, Rin memotong.


"Selama liburan musim panas, aku memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuaku……"


Ia menghela napas pendek, lalu sekali lagi menatap kedua sahabatnya.


"Jadi aku akan baik-baik saja. Aku akan sangat terbantu jika kalian membiarkanku sendiri dulu. Aku tahu aku terdengar aneh mengatakan ini setelah membuat kekacauan, tapi ini kan liburan musim panas, jadi nikmatilah waktu kalian berdua. Sampai jumpa."


Tanpa meneteskan air mata, Rin tertawa lebar. Melihat ekspresi itu, Sara dan Yuna hanya bisa mematung.


“"──!"”


Suasananya benar-benar tidak memungkinkan bagi mereka untuk mengatakan apa pun. Mereka ingin memeluk punggung Rin yang mulai menjauh. Namun, punggung kecil itu menunjukkan niat penolakan yang kuat, menegaskan keinginannya untuk sendirian.


Kedua orang yang tertinggal itu terdiam untuk waktu yang lama.


"Apa yang harus kita lakukan……"


"Soal pergi ke tempat Akasaki-kun……"


Mereka sama sekali tidak mood untuk ke sana. Setelah mendengar tentang penolakan Rin, ada rasa bersalah jika mereka harus berada di sisi Haruya sekarang.


"Ayo hubungi Kazamiya-kun────"


Tepat saat itu, mereka memeriksa ponsel dan melihat sebuah pesan masuk. Setelah membacanya bersama, Sara dan Yuna saling berpandangan.


『Serahkan masalah Akasaki padaku. Aku percayakan Kohinata-san pada kalian berdua.』


Satu kalimat dari Kazamiya itu memberikan rasa lega di dada mereka. Meski masih memikirkan Haruya, rasa cemas mereka sedikit berkurang.


"Tapi, soal Rin……"


"Dia bilang akan pulang ke rumah orang tuanya, mari kita percaya bahwa dia akan baik-baik saja."


"Benar juga. Kalau ada keluarganya, pasti tidak apa-apa……"


Sara dan Yuna mengulang kalimat itu seolah sedang meyakinkan diri mereka sendiri. Sebenarnya mereka ingin berada di sisi Rin, namun di dalam hati, mereka tidak bisa tidak berpikir:


(……Padahal selama ini aku juga merahasiakan perasaanku bahwa aku menyukai Akasaki-kun.)


(Apa yang bisa kukatakan pada Rin-san, sementara aku sendiri bahkan belum pernah menyatakan perasaanku pada Akasaki-san……)


Mereka tidak tahu bagaimana cara masuk ke dalam hati Rin. Dengan kepulangannya ke rumah orang tua, keluarga Rin akan mendukungnya. Rin tidak akan sendirian. Jadi, pasti akan baik-baik saja. Mereka hanya bisa memaksakan diri untuk percaya pada pemikiran itu.


***


Rin merasa ingin pulang ke rumah sendirian, menghabiskan waktu selama mungkin dalam perjalanan. Ia tidak memilih kereta, melainkan bus untuk menempuh jalan pulang. Beruntung, rumah orang tuanya tidak terlalu jauh.


Setelah mendapatkan kursi di dekat jendela, air mata mulai menggenang saat bus mulai berguncang. Ia mencoba untuk tidak memikirkannya, tapi gagal. Meskipun ia berusaha sadar, ingatan tentang Haruya yang menolak perasaannya terus muncul.


"……uh."


Bukan begini rencananya. Ia merenung bahwa ia telah melakukan hal terburuk, padahal awalnya ia sama sekali tidak berniat untuk menyatakan cinta.


Kejadian semalam... atau lebih tepatnya, dini hari tadi. Cahaya bulan sangat indah, dan ia ingat dengan jelas sosok Haruya yang tertidur pulas di teras. Itu adalah pemandangan yang manis, namun tepat setelah itu, ia mengetahui fakta bahwa Sara dan Yuna menyukai orang yang sama, yaitu Akasaki Haruya.


Sejak saat itu, pikirannya menjadi kacau balau. Ia ingin menanyakan banyak hal, namun ia terlalu takut untuk memastikan kebenaran, sehingga ia tidak bisa berkata apa-apa.


Namun, ada satu hal yang ia yakini.


(……Jika aku menyukai orang yang sama dengan kedua sahabatku, maka aku harus memilih teman──)


Karena itulah, ia ingin setidaknya untuk terakhir kalinya. Setidaknya hari ini saja, ia ingin bersama Haruya. Pemikiran manja itulah yang mungkin menjadi kesalahan awalnya.


Padahal rencana awalnya adalah tindakan untuk merelakan dan menyudahi perasaannya, namun pada akhirnya ia justru tersentuh oleh kebaikan Haruya dan membuat perasaannya semakin dalam.


Waktu berdua saja. Ia merasa berat saat waktu itu harus berakhir. Ia bahkan sempat berpikir ingin waktu ini terus berlanjut selamanya.


Tepat sebelum kembali ke titik temu, saat ia seharusnya mengucapkan salam perpisahan terakhir. Kelemahannya muncul. Haruya menyadari hal itu, dan perasaannya pun meledak.


『Suka.』


Begitu ia melihat sosok Sara dan Yuna yang tampak bersemangat di kejauhan, kata-kata itu tumpah begitu saja. Sekali terucap, benteng di hatinya runtuh total.


(……Tanpa memikirkan perasaan teman-temanku, aku telah menghancurkan semuanya.)


Rin meminta maaf berulang kali di dalam hatinya sambil menggigit bibir bawahnya erat-erat.


(………Aku akan sendirian untuk sementara waktu, jadi, maafkan aku.)



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close