Cerita Pendek (Extra): Alissa dan Cicely
Nama saya, Cicely, konon diambil dari nama seorang wanita yang
muncul dalam kitab suci Gereja Shinjukyo.
Wanita itu adalah seorang ksatria wanita yang setia mengabdi
pada sang Orang Suci. Ia berkelana ke berbagai penjuru benua bersama sang Orang
Suci untuk menyelamatkan orang-orang yang menderita akibat kelaparan dan
luka-luka.
Orang tua saya, yang merupakan penganut Shinjukyo yang taat,
mungkin menyematkan harapan agar saya tumbuh menjadi wanita yang kuat dan
lembut seperti dia. Mereka pasti tidak pernah membayangkan saat saya baru lahir
bahwa suatu hari nanti saya benar-benar akan menjadi Ksatria Suci dan terpilih
menjadi pengawal sang Orang Suci.
Saya lahir dan dibesarkan di sebuah desa kecil yang tidak jauh
dari Kota Suci pusat Shinjukyo di bagian selatan kerajaan. Sebagai anak keempat
dari tujuh bersaudara di keluarga petani, setiap hari saya diajak oleh
saudara-saudara lelaki saya yang usianya sebaya untuk bermain
ksatria-ksatriaan, menggunakan batang kayu sebagai pengganti pedang.
Sepertinya, saya memiliki bakat dalam
berpedang.
Tanpa disadari, dalam permainan itu
saya menjadi yang terkuat di antara saudara-saudara saya. Saudara-saudara saya
yang tidak bisa lagi mengalahkan saya akhirnya bosan bermain ksatria-ksatriaan
dan mulai beralih ke permainan lain.
Di tengah situasi itu, hanya saya yang
terus mengayunkan pedang seorang diri dengan tekun.
Bukan karena saya memiliki tujuan atau
cita-cita yang mulia. Hanya saja, secara samar, saya memiliki kerinduan
terhadap dunia di luar desa. Jika ingin keluar dari desa, saya harus menjadi
kuat. Meski masih kecil, hanya itu yang saya pahami.
Tahun-tahun
berlalu hingga tiba hari ulang tahun saya yang ke-15. Entah karena takdir apa,
Tuhan menganugerahkan skill [Swordsmanship]
kepada saya.
Orang tua
saya bersyukur kepada Tuhan, percaya bahwa Tuhan telah memperhatikan kerja
keras saya yang telah mengasah diri sejak kecil. Sementara itu, saya sendiri...
merasa sedikit bimbang. Saya merasa seolah-olah usaha keras saya mengayunkan
pedang selama ini menjadi sia-sia karena bantuan skill.
Sejak hari
itu, saya berhenti mengayunkan pedang dan mulai giat belajar. Karena skill [Swordsmanship]
dianggap sangat berguna untuk peperangan, telah diputuskan bahwa saya akan
mengikuti ujian masuk Akademi Kerajaan tahun depan.
Ujian masuk
terdiri dari dua jenis: ujian praktik untuk menunjukkan kegunaan skill, dan ujian tertulis untuk memastikan apakah calon
murid memiliki kemampuan akademik yang cukup untuk masuk ke akademi.
Pendeta di
gereja desa mengatakan bahwa dengan skill [Swordsmanship], kecil kemungkinan saya akan gagal
kecuali terjadi hal yang luar biasa. Namun, saya tidak ingin gagal
walau hanya satu banding sejuta. Saya tidak ingin kehilangan kesempatan untuk
keluar dari desa.
Selama ini saya hanya tertarik mengayunkan pedang, sehingga
hampir tidak pernah bersentuhan dengan dunia pendidikan. Karena pengaruh orang
tua, sejak kecil saya hanya membaca kitab suci, jadi saya hanya bisa membaca
dan menulis huruf-huruf sederhana.
Meski merasa cemas dengan kondisi tersebut, saya meminta tolong
pada pendeta di gereja untuk mengajari saya berhitung dan sejarah sedikit demi
sedikit. Tak disangka, ternyata belajar itu sangat menyenangkan. Sepertinya
saya adalah tipe orang yang mudah terpikat pada satu hal, sehingga belajar sama
sekali tidak terasa berat bagi saya.
Lalu tibalah hari ujian masuk Akademi
Kerajaan.
Saya berhasil masuk ke Akademi Kerajaan
dengan predikat lulusan terbaik (teratas) baik di ujian praktik maupun
tertulis. Konon, keberhasilan seorang rakyat jelata menjadi lulusan terbaik
adalah pencapaian luar biasa sejak berdirinya Akademi Kerajaan. Saya menatap
reaksi heboh orang-orang di sekitar dengan perasaan seolah itu adalah urusan
orang lain.
Kehidupan di Akademi Kerajaan yang kemudian
dimulai ternyata tidak terlalu nyaman bagi saya. Sejujurnya, sebagai orang yang
lahir dan besar di desa petani, saya tidak terbiasa bergaul dengan kaum
bangsawan.
Tak lama setelah masuk, saya mulai
terisolasi di kelas. Karena menjadi incaran para bangsawan, murid-murid sesama
rakyat jelata pun menjauh dari saya. Bahkan, para guru di Akademi Kerajaan pun
tampak tidak menyukai kehadiran saya.
Hingga pada suatu hari.
Saat saya kembali ke kelas setelah dari
toilet, tidak ada satu pun orang di dalam kelas. Sepertinya telah diputuskan
ada perpindahan ruang kelas tanpa sepengetahuan saya. Saya ditinggalkan begitu
saja tanpa ada yang memberi tahu.
Saya sempat terpikir untuk mencari ke
seluruh penjuru akademi demi bergabung kembali dengan kelas... tapi saya
urungkan. Paling-paling saya hanya akan dijadikan bahan tertawaan.
Saat saya menatap ke luar jendela, langit
biru yang nyaman membentang luas. Karena sedang merasa kesal, saya memutuskan
untuk membolos saja sekalian dan keluar dari gedung sekolah.
Sambil mendengarkan suara lonceng yang
menandakan dimulainya pelajaran, saya berjalan tanpa tujuan meninggalkan gedung
sekolah. Saya terus melangkah menuju area yang sepi, hingga akhirnya sampai di
sebuah tanah lapang terbuka di belakang asrama pengajar.
Ternyata sudah ada orang di sana.
"Lho—? Bukannya jam pelajaran sudah
lama dimulai—ssu? Jangan-jangan kau membolos ya—ssu? Dasar anak
nakal—ssu."
Orang yang tertawa sambil mengabaikan
dirinya sendiri yang juga membolos itu adalah seorang siswi dengan rambut ungu
yang diikat di sisi kiri kepala. Dari warna dasinya, saya tahu dia adalah kakak
kelas (senior) setingkat di atas saya.
Saya menghela napas dan hendak berbalik
pergi. Saat itu, saya sedang tidak ingin berurusan dengan siapa pun. Namun...
"Hei, Junior!"
"Ada apa... kyaa!?"
Begitu saya menoleh karena dipanggil,
sebuah pedang kayu yang dilemparkan sudah berada tepat di depan mata saya. Saya
yang panik segera menangkap pedang kayu tersebut, disambut senyuman
"Tangkapan bagus!" dari senior berambut ungu itu.
"Apa-apaan Anda ini, tiba-tiba
melempar pedang kayu! Bagaimana kalau saya terluka!?"
"Berlebihan sekali—ssu, kau tidak akan
terluka hanya karena itu—ssu. Apalagi kau adalah murid baru lulusan terbaik
tahun ini, kan—ssu? Berita tentang rakyat jelata yang jadi lulusan terbaik di
Akademi Kerajaan sampai bikin heboh angkatanku juga lho—ssu."
"...Kalau iya, memangnya kenapa?"
"Karena kita bertemu di sini, anggap
saja ini takdir. Bagaimana kalau kita berlatih tanding—ssu?"
Sambil
berkata demikian, senior berambut ungu itu memasang kuda-kuda di depan saya.
Gerakannya jauh lebih halus daripada murid mana pun yang pernah saya hadapi di
akademi, dan skill [Swordsmanship] saya
merasakan bahwa dia bukanlah orang sembarangan.
Tapi, tetap
saja dia tidak akan sanggup mengalahkan saya. Mengingat saya sudah mengayunkan
pedang kayu sejak kecil ditambah dukungan dari skill [Swordsmanship], rasanya tidak ada orang di Akademi
Kerajaan yang bisa menang melawan saya. Murid laki-laki dari kalangan bangsawan
memang biasanya sudah belajar ilmu pedang sebelum masuk sekolah, tapi itu
hanyalah hobi sampingan bangsawan. Faktanya, teman-teman sekelas yang berlatih
tanding dengan saya di pelajaran ilmu pedang, baik laki-laki maupun perempuan,
tidak ada yang sanggup mengimbangi saya.
"Baiklah."
Saya pikir senior ini pun akan sama seperti
teman sekelas lainnya. Meski merasa itu hanya membuang waktu, saya memutuskan
untuk menerima tawarannya. Sejujurnya, saya ingin melampiaskan kekesalan saya.
"Silakan menyerang dari mana
saja."
"Kalau begitu, aku tidak akan
segan-segan ya—ssu!"
Senior berambut ungu itu menerjang
lurus dari depan dengan polosnya. Saya menghela napas dan bermaksud
menangkisnya dengan mudah...
—Dan akhirnya, saya terkapar di tanah
dengan napas yang terengah-engah.
Saya
tidak mengerti apa yang terjadi. Saya sudah mengayunkan pedang kayu hampir
setiap hari sejak kecil, dan yang terpenting, saya memiliki dukungan skill [Swordsmanship].
Namun, pedang saya sama sekali tidak mempan terhadap senior berambut ungu ini.
Saya
tahu dia tidak menggunakan skill. Jika dia menggunakannya, skill [Swordsmanship] saya
pasti akan merasakannya. Berarti ini murni karena perbedaan kekuatan yang
nyata.
"Se-sekali lagi! Tolong sekali lagi!"
"Eh, lagi—ssu? Ini sudah yang
ketiga kalinya lho—ssu."
Melihat saya bangkit dan meminta
tanding ulang, senior berambut ungu itu menghela napas panjang karena jengah.
Sebagai tipe orang yang mudah terpikat pada satu hal, saya jadi sangat keras
kepala ingin menang melawan senior itu.
Senior itu berkata "Apa boleh
buat—ssu" dan hendak memasang kuda-kuda lagi, namun tepat saat itu
terdengar suara lonceng dari kejauhan yang menandakan berakhirnya jam
pelajaran. Mendengar itu, senior tersebut langsung menurunkan pedangnya, "Sepertinya
untuk hari ini cukup sampai di sini—ssu."
"Yah, jangan pasang wajah seperti
anak anjing yang dibuang di pinggir jalan begitu dong."
"Siapa yang pasang wajah anak
anjing dibuang...!"
Meskipun mulut saya membantah, saya
sadar saya memang terlihat lesu. Walaupun saya tidak pernah menang satu kali
pun darinya, waktu yang saya habiskan untuk beradu pedang dengannya adalah
waktu yang paling menyenangkan dan bermakna sejak saya masuk Akademi
Kerajaan... bahkan mungkin dalam hidup saya. Saya benar-benar berharap waktu
itu tidak pernah berakhir.
"Hmm, kalau begitu mulai besok
kita kumpul di sini setiap pagi—ssu. Kita tidak
bisa membolos pelajaran terus-menerus, kan—ssu."
"Eh...? Bo-bolehkah?"
"Tentu saja, tidak ada alasan bagiku
untuk menolak—ssu. Mohon bantuannya ya mulai sekarang, Nona Lulusan
Terbaik?"
"Ci-Cicely! Nama saya Cicely, Senior Berambut Ungu!"
"Namaku Alyssa Swift—ssu."
Inilah awal pertemuan saya dengan Senior Alyssa. Sejak hari itu,
saya mulai sering menghabiskan waktu bersama Senior Alyssa. Tidak puas hanya
dengan latihan pagi, saat jam istirahat makan siang atau bahkan waktu istirahat
singkat di sela pelajaran pun saya akan lari keluar kelas untuk menemui Senior
Alyssa. Sekarang saya sadar bahwa itu adalah tindakan yang sangat merepotkan
baginya, namun Senior Alyssa tetap menerima saya meski sering berkata
"Datang lagi ya—ssu" sambil menghela napas.
Tindakan saya itu memang dipandang aneh oleh teman-teman
sekelas, namun bagi saya yang saat itu hanya peduli pada Senior Alyssa, hal itu
sama sekali tidak menjadi masalah. Saya memang sadar kalau saya berkulit tebal,
tapi pengaruh Senior Alyssa mungkin membuat kulit saya jadi lebih tebal lagi.
"Cicely-chan itu orang terkuat kedua di akademi ini setelah
aku—ssu, jadi tidak apa-apa kalau kau sedikit sombong—ssu."
Mendapat saran yang asal-asalan dari Senior Alyssa itu, saya
benar-benar berhenti memedulikan orang di sekitar. Di pelajaran ilmu pedang,
saya menghajar lawan sampai tidak berdaya. Di kompetisi antar kelas, saya
menyatukan kelas dengan "hukuman fisik", dan membawa angkatan tahun
pertama sampai ke babak final.
Meskipun di babak final kelas saya kalah tipis dari kelas Senior
Alyssa, saat itu sudah tidak ada satu pun murid di kelas yang berani mengganggu
saya. Jika saya mengajak bicara, mereka semua akan menjawab dengan wajah yang
kaku. Saya merasa ada sesuatu yang salah dalam langkah saya, tapi ya sudahlah.
Saat itu, saya benar-benar merasa asalkan
ada Senior Alyssa, itu sudah cukup. Jika diingat sekarang, itu mungkin adalah
bentuk gejolak masa muda. Karena Senior Alyssa tidak keberatan, saya jadi
sangat manja padanya.
"Melihat Cicely-chan, aku jadi
teringat anjing peliharaanku di rumah—ssu."
"Terima kasih, Senior. Akan saya
terima sebagai pujian."
"Iya, yah, kalau Cicely-chan merasa
begitu, aku tidak akan membantah—ssu."
Sambil bertukar percakapan seperti itu,
saya dan Senior Alyssa terus mengasah ilmu pedang masing-masing lewat latihan
pagi. Setiap kali melakukan latihan tanding dengannya, pedang saya menjadi
semakin tajam.
Saya tidak bisa menandingi Senior dalam hal
kecepatan serangan dan teknik. Kalau begitu, saya akan mendalami kekuatan dalam
satu tebasan. Ilmu pedang yang saya pelajari itu nantinya akan sangat berguna
setelah lulus dari Akademi Kerajaan, namun pada akhirnya, saya tidak pernah
bisa menang melawan Senior Alyssa dalam latihan tanding satu kali pun.
Sebegitu
hebatnya teknik pedang Senior Alyssa. Gerakan-gerakan yang diulang
terus-menerus hingga mencapai kesempurnaan. Teknik pedang yang didukung oleh
kerja keras yang nyata, serta jalur pedang yang berubah-ubah berkat pemikiran
yang bebas dan liar. Meskipun saya memiliki skill [Swordsmanship], saya tidak bisa mengejarnya.
Justru
karena memiliki skill tersebut, saya jadi sangat
menyadari perbedaan antara saya dan dia. Di tahun kedua Akademi Kerajaan,
pedang Senior Alyssa telah mencapai tingkat yang tidak bisa dikejar hanya
dengan mengandalkan skill.
"Kenapa Anda begitu gigih berusaha
mencapai puncak ilmu pedang...?"
Di akhir
latihan pagi pada suatu hari. Sambil terkapar di tanah dengan napas
terengah-engah, saya bertanya kepada Senior Alyssa yang mulai melakukan latihan
ayunan pedang (suburi) dengan wajah yang tetap
segar. Senior Alyssa menoleh ke arah saya, menyeringai, dan menjawab:
"Tentu saja karena aku ingin menjadi
kuat—ssu."
"A-Anda masih berniat menjadi lebih
kuat lagi...!?"
"Tentu saja—ssu. Aku harus menjadi
jauh lebih kuat lagi kalau ingin menjadi tangan kanan 'orang itu'—ssu."
"...'Orang itu'."
Senior Alyssa kembali melakukan latihan
ayunan pedang dengan tatapan mata yang lurus dan tanpa keraguan. Sosok yang
membuat Senior Alyssa bekerja keras sedemikian rupa dan sampai ingin menjadi
tangan kanannya. Pertanyaan "siapa orang itu?" tertahan di
tenggorokan saya dan menghilang tanpa sempat terucap.
Melihat Senior begitu serius demi seseorang
yang spesial, entah kenapa bagi saya saat itu, rasanya sangat menakutkan untuk
mengetahui kebenarannya.
***
Waktu terus berlalu, dan tak terasa sudah
satu setengah tahun sejak pertemuan pertamaku dengan Senior Alyssa.
Senior Alyssa, yang kini telah menjadi
murid tahun ketiga di Akademi Kerajaan, menerima tawaran dari Ksatria
Kerajaan—kelompok elit yang diisi oleh pendekar pedang tangguh dari seluruh
penjuru negeri. Ia berhasil bergabung di tengah masa studinya, sebuah
pencapaian yang sangat langka.
"Selamat atas bergabungnya Anda ke
Ksatria Kerajaan, Senior Alyssa!"
"Terima kasih—ssu, Cicely-chan."
Kami mengadakan perayaan kecil hanya berdua
saja di kamar Senior Alyssa. Aku merelakan seluruh uang kiriman dari orang tua
yang sudah kutabung susah payah untuk membeli satu loyang kue utuh kesukaan
Senior Alyssa, lalu menghiasnya dengan banyak lilin sebagai bentuk ucapan
selamat.
Senior sempat tertawa kecut sambil berkata,
"Ini kan bukan hari ulang tahunku—ssu...", tapi ia tetap menerimanya
dengan lembut seperti biasa, "Yah, sesekali begini tidak buruk
juga—ssu."
"Anda
benar-benar hebat, Senior. Ksatria Kerajaan itu kan kelompok elit yang hanya
bisa dimasuki oleh pendekar pedang yang sangat kompeten. Dan Anda berhasil
masuk sebagai yang termuda, seorang wanita, dan terlebih lagi tanpa memiliki skill tipe ilmu pedang!"
"Iya, yah, aku memang sehebat
itu—ssu!"
Senior mengangguk dengan riang sambil
menyesap anggur yang dituang ke gelasnya.
Aku pun ikut meminum anggur itu
sedikit, dan aku agak terkejut dengan kelezatannya. Meski aku sudah dianggap
dewasa dan boleh minum alkohol sejak usia lima belas tahun, aku sama sekali
tidak tertarik dan belum pernah menyentuh minuman keras sampai sekarang.
Anggur mahal yang kubeli bersama kue
sebagai perayaan ini memiliki aroma elegan yang tidak bisa ditemukan pada jus
anggur biasa, dengan rasa asam yang samar diikuti kemanisan lembut yang
menyebar di lidah. Kecocokannya dengan kue benar-benar luar biasa. Tanpa sadar,
setiap kali aku menuangnya, gelas itu langsung kosong kembali.
"Akhirnya kemampuan Senior diakui,
aku merasa bangga seolah-olah ini pencapaianku sendiri! Hidup pendekar pedang
gadis cantik jenius nomor satu di Kerajaan Leese!"
"Kau minum terlalu banyak—ssu,
Cicely-chaaan."
"Segini sih sama sekali nggak
masalah—ssu! Senior juga ayo minum lagi. Hari ini kan hari perayaan yang sangat
istimewa—ssu!"
"Ah, iya, iya..."
Sambil melirik Senior yang meminum
anggurnya perlahan-lahan, aku menenggak anggur yang kutuang penuh ke gelasku
sendiri dengan cara yang konyol.
Ingatanku setelah itu terasa sangat
samar...
"Aduh, sudah kubilang kan kalau kau
minum terlalu banyak—ssu. Ayo bangun, kau bisa flu kalau tidur di tempat
seperti ini—ssu."
"Seniooor, gendong..."
"Benar-benar junior yang
merepotkan—ssu..."
Seingatku Senior menggendongku dan
membawaku ke tempat tidur...
"Senior, cium..."
Lalu aku sepertinya menyeret Senior ke
tempat tidur dan mencuri kecupan dari bibirnya. Rasanya aku masih mengingat
bagian itu.
Tidak, maksudku, aku benar-benar sedang
mabuk saat itu, atau mungkin itu hanya keinginan sesaat yang tidak sengaja
kulakukan...!
Setelah itu aku benar-benar tidak ingat
apa-apa lagi, dan tahu-tahu hari sudah pagi. Aku sendirian di tempat tidur. Sosok
Senior tidak ada di dalam kamar. Setelah memeriksa jam, aku bergegas menuju
tanah lapang di belakang asrama pengajar.
Di sana, Senior Alyssa sedang
mengayunkan pedang kayunya sendirian dengan tekun seperti biasa. Menyadari
kedatanganku, ia menoleh dan memperlihatkan senyuman yang tidak berbeda dari
biasanya.
"Kau terlambat—ssu, Cicely-chan."
"Ma-maafkan saya, Senior! Anu, semalam itu... sepertinya
saya telah melakukan tindakan yang sangat tidak sopan kepada Anda..."
"Yah, sebenarnya kau tidak melakukan hal yang
mengharuskanmu meminta maaf—ssu, kok."
"Be-benarkah?"
Mendengar perkataan Senior, aku merasa lega bukan main. Mungkin
kejadian di mana aku memeluk dan mencium Senior karena pengaruh alkohol itu
hanyalah mimpi. Meski mimpi
seperti itu juga agak bermasalah, tapi kalau cuma mimpi berarti aman!
Tepat saat aku merasa tenang, Senior
menunjukku dengan jari telunjuknya, "Tapi!"
"Cicely-chan harus berjanji satu hal
padaku—ssu."
"Janji... apa?"
"Jangan pernah minum alkohol dengan
siapa pun selain aku. Mengerti—ssu?"
"I-iya...!"
Senior menyentuh bibirku dengan jari
telunjuknya, tersenyum sambil berkata "Janji ya—ssu?", lalu kembali
melakukan latihan ayunan pedang.
Gerakannya tetap halus dan sempurna seperti
biasa. Sambil menatap punggungnya dengan linglung, aku menyadari bahwa tengkuk
Senior tampak sedikit lebih merah dari biasanya.
Rasa sentuhan jari telunjuk Senior masih
tertinggal di bibirku.
Itu... benar-benar cuma mimpi, kan?
Sayangnya, aku tidak memiliki keberanian untuk menanyakan hal itu.
***
Musim semi pun tiba, Senior lulus dari Akademi
Kerajaan dan berangkat menuju Satuan Ksatria Kerajaan.
...Walaupun aku bilang begitu, jarak dari tempat
latihan Ksatria Kerajaan ke Akademi Kerajaan tidak sampai tiga puluh menit
dengan kereta kuda.
Setelah lulus pun, Senior sering mampir ke Akademi
Kerajaan dan menceritakan berbagai kejadian yang dialaminya di Satuan Ksatria
Kerajaan kepadaku.
Tentang asrama laki-laki yang berbau apek, tentang
keberhasilannya menumpas perampok di entah-berantah kemarin, tentang betapa
tidak rapinya Wakil Komandan Ksatria Kerajaan, tapi tetap saja skill [Sword Master] milik
orang itu benar-benar kuat, bahkan katanya ada sisi keren dan bisa diandalkan
juga...
Lama-kelamaan, topik pembicaraan Senior hanya
berkisar tentang sosok pendekar pedang terkuat di kerajaan, Wakil Komandan
Ksatria Kerajaan, Roan Ashblade. Aku hanya mendengarkan cerita Senior sambil
lalu sembari menjalani hari-hariku di Akademi Kerajaan.
Hari-hari di akademi tanpa Senior.
Awalnya aku sempat bingung akan jadi seperti apa,
tapi setelah menjalani dua tahun, hubungan pertemananku pun mulai terbentuk
dengan sendirinya.
Hanya karena aku selalu bersama Senior Alyssa dulu,
aku jadi tidak menyadari bahwa tidak sedikit adik kelas yang mengagumiku, atau
teman sekamar dan teman sekelas yang menganggapku sebagai sahabat.
Mungkin karena Senior khawatir padaku, ia sering
menampakkan wajahnya, dan kurasa tahun ketiga di Akademi Kerajaan adalah
hari-hari yang tenang dan menyenangkan.
Dan saat sudah menjadi murid tahun ketiga, mau tidak
mau aku harus memikirkan masa depan.
Meski begitu, pilihanku sudah menyempit menjadi dua:
Satuan Ksatria Kerajaan atau Ksatria Suci dari Gereja Shinjukyo.
Meskipun tidak sehebat Senior Alyssa, aku yang
meraih prestasi memuaskan di berbagai turnamen ilmu pedang baik di dalam maupun
luar akademi, menerima banyak tawaran dari berbagai organisasi.
Dua organisasi itulah yang paling antusias
memanggilku, dan
"Cicely-chan benar-benar harus masuk Satuan
Ksatria Kerajaan—ssu!"
Senior Alyssa-lah yang paling kuat mendorongku.
Katanya ia sudah memperkenalkanku kepada sang [Sword Master]
tersebut, dan sepertinya karena kalah telak oleh desakan Senior Alyssa, orang
itu akhirnya setuju untuk mengajakku bergabung.
Sementara untuk Ksatria Suci, ada rekomendasi dari
pendeta gereja di desa kelahiranku serta dari Katedral Besar di ibu kota.
Meskipun aku tidak punya koneksi dengan Katedral Besar, karena letaknya dekat
dengan Akademi Kerajaan, mereka selalu memanggil murid-murid yang dirumorkan
mahir berpedang, jadi tawaran dari Ksatria Suci memang sudah terprediksi.
Bergabung dengan Ksatria Suci adalah hal yang sangat
diharapkan oleh kedua orang tuaku yang merupakan pemeluk Shinjukyo yang taat.
Namun hatiku lebih condong ke Satuan Ksatria Kerajaan, tentu saja karena Senior
Alyssa yang mengajakku.
Tapi ada sesuatu yang mengganjal, sehingga aku tidak
bisa memutuskan pilihanku dengan tegas.
Hingga pada suatu hari,
"Kalau begitu, setidaknya datanglah untuk
sekadar melihat-lihat—ssu."
Sepertinya Senior Alyssa sudah tidak sabar melihatku
yang tak kunjung memutuskan pilihan.
Senior berkata demikian dan membawaku masuk ke
tempat latihan Satuan Ksatria Kerajaan.
Yah, karena cuma melihat-lihat... aku pun dengan
polosnya mengikuti Senior. Namun entah kenapa, aku malah disuruh ikut serta
dalam latihan Satuan Ksatria Kerajaan yang terkenal sangat kejam itu dari pagi
sampai malam, benar-benar membuatku menderita.
Berkat stamina dan keteguhan hati yang kupupuk
selama dua tahun mengikuti latihan Senior, aku berhasil melaluinya. Para
ksatria di sana memujiku setinggi langit, "Benar-benar juniornya
Alyssa!".
Para ksatria yang tadinya kubayangkan menyeramkan
ternyata semuanya ramah dan ceria menyambutku. Bahkan ada orang yang saking
tidak sabarnya langsung mengajakku bersalaman dan bilang 'mohon bantuannya
nanti', membuatku sempat berpikir secara samar bahwa aku akan masuk ke Satuan
Ksatria Kerajaan setelah lulus nanti... namun,
"Oi oi, apa kau menyuruh seorang pelajar
melakukan menu latihan penuh!? Dasar iblis..."
"Tidak—tidak, Cicely-chan sih santai saja—ssu! Apalagi dia junior dariku—ssu!"
"Jangan samakan dia denganmu yang monster
stamina itu, kasihan tahu."
Sosok pria paruh baya bertubuh kurus dengan rambut
berantakan dan janggut tipis di dagunya itu sedang bercanda akrab dengan Senior
Alyssa.
Ah, orang ini...
Wakil Komandan Satuan Ksatria Kerajaan. Pendekar
pedang terkuat di kerajaan yang memiliki skill [Sword Master], Roan Ashblade.
Dialah orang yang membuat Senior Alyssa berlatih
mati-matian karena ingin menjadi tangan kanannya.
"Ah, namamu Cicely, kan? Maaf ya atas kelakuan
Alyssa saat aku sedang pergi tadi. Meski kau sudah terbiasa berurusan dengan
Alyssa sejak sekolah, melakukan menu latihan penuh ksatria secara mendadak
pasti berat. Kau tidak terluka, kan?"
"E-eh. Iya, saya baik-baik saja."
"Hei Master! Kenapa kau jadi ramah sekali
begitu kepada Cicely-chan! Perlakuannya kok beda banget dengan
padaku—ssu!?"
"Aku tidak ramah, dan sudah kubilang berapa
kali jangan panggil aku Master! Lagi pula, mana mungkin aku memperlakukan nona
yang manis ini sama dengan kau yang kasar itu!"
"Haaaaaaaa!? Siapa yang kau bilang kasar, dasar
kakek jenggotan!"
"Kau berani bicara begitu pada atasanmu!?"
Senior Alyssa dan Tuan Roan mulai bertengkar
sambil tarik-menarik baju. Para ksatria di sekitarnya hanya memperhatikan
dengan wajah jengah sambil bergumam, "Mulai lagi deh," atau
"Tolong pertengkaran suami-istri lakukan di tempat lain."
Lagi-lagi, pertengkaran suami-istri...
Jika aku masuk Satuan Ksatria Kerajaan, pemandangan
seperti ini pasti akan menjadi keseharianku.
Melihat sosok Senior Alyssa yang tidak kukenal,
sedang bertengkar dengan akrabnya bersama orang yang bukan aku.
Melihat hal itu setiap hari... sejujurnya, itu
menyakitkan.
"Anu, maaf. Saya permisi pulang hari ini."
Aku membungkuk hormat, lalu berbalik dan
meninggalkan tempat latihan Satuan Ksatria Kerajaan.
Senior Alyssa menawarkan diri untuk mengantarku,
tapi aku menolak tawaran itu dengan sopan.
Aku berjalan lunglai sendirian menempuh jalan pulang
menuju Akademi Kerajaan.
Tanpa sadar air mata menetes satu per satu membasahi
pipiku, dan saat itulah aku memutuskan untuk memilih Ksatria Suci sebagai masa
depanku setelah lulus.
Senior Alyssa memang sempat mengomel panjang lebar, tapi pada akhirnya
hatiku tidak berubah sampai hari kelulusan.
"Hmph! Aku tidak peduli lagi pada Cicely-chan—ssu!"
Senior Alyssa menggembungkan pipinya karena merajuk,
lalu pergi meninggalkanku.
Senior yang rela meluangkan waktu di tengah
kesibukannya untuk datang melihat upacara kelulusanku, bagaimanapun juga adalah
orang yang baik.
Mungkin ia sengaja berakting menjadi orang jahat
agar aku yang telah berkhianat tidak menyalahkan diriku sendiri.
...Yah, meskipun ada kemungkinan ia benar-benar
bersungguh-sungguh mengatakannya.
Setelah itu, aku resmi menjadi Ksatria Suci. Berkat
latihan keras bersama Senior Alyssa dulu, karierku di dalam Satuan Ksatria Suci
berjalan lancar.
Meski begitu, fakta bahwa aku diberikan tugas besar
untuk mengawal Sang Orang Suci di tahun ketiga pengabdianku, sebagian besar
karena alasan bahwa aku memiliki jenis kelamin yang sama dan usia yang dekat
dengan Sang Orang Suci yang baru ditunjuk.
Namun tetap saja, itu adalah kehormatan besar. Saat aku pulang kampung untuk melapor, orang
tuaku sampai menangis saking bahagianya.
Hubunganku dengan Sang Orang Suci baru, Nona
Rosalie, juga sangat baik.
Kepribadiannya yang ramah membuatnya
menganggapku seperti kakak sendiri, dan aku pun menyayangi Nona Rosalie bukan
sebagai Sang Orang Suci, melainkan sebagai seorang gadis biasa yang sudah
seperti adik kecil yang merepotkan bagiku.
Sejak upacara kelulusan Akademi Kerajaan, aku
tidak pernah bertemu lagi dengan Senior Alyssa. Seiring berjalannya hari-hari baru ini, kupikir aku
akan melupakan Senior Alyssa perlahan-laman.
...Itulah yang kupikirkan.
"Wah, aku tidak menyangka akan menjadi rekan
kerja Cicely-chan sebagai sesama pengajar di Akademi Kerajaan—ssu ya."
Di dalam kamar pribadi Senior Alyssa di asrama
pengajar. Senior Alyssa yang duduk di seberang meja sedang menggoyang-goyangkan
gelas anggurnya dengan riang, menatapku dengan senyuman yang sama seperti saat
kami masih sekolah dulu.
"Saya hanya pengawal Nona Rosalie, jadi
status saya cuma asisten pengajar..."
"Hal sepele begitu jangan dipikirkan—ssu.
Lebih penting lagi, apa kau benar-benar menjaga janjimu dulu—ssu?"
"E-eh, iya. Lagi pula saya memang tidak
punya kesempatan untuk minum alkohol."
Satuan Ksatria Suci itu hidup sederhana. Makanan
mewah dan alkohol adalah pantangan, jadi meminum alkohol seperti ini mungkin
adalah yang pertama kali bagiku sejak insiden memalukan bersama Senior Alyssa
dulu.
Mengingat pelajaran dari masa lalu itu, aku meminum
anggurku sedikit demi sedikit.
Rasa yang akrab menyebar di mulutku, membangkitkan
kembali kenangan dan emosi saat masih menjadi murid dulu.
"Bagus kalau begitu—ssu. Cicely-chan itu kalau
mabuk jadi sangat manja lho—ssu. Kalau sama laki-laki, mereka pasti langsung
bertekuk lutut—ssu. Benar-benar berbahaya kalau tidak diawasi."
"Su-sudahlah! Tolong lupakan kejadian masa lalu
itu! Saya yang sekarang bukanlah saya yang dulu lagi!"
Sosokku yang dulu selalu manja pada Senior sudah
tidak ada lagi.
Sebab aku sudah lulus dari Akademi Kerajaan, lulus
dari bayang-bayang Senior, dan sudah berdiri tegak sendirian dengan bangga.
"Kalau begitu, rasanya jadi agak kesepian—ssu
ya..."
"Eh...?"
Senior Alyssa bergumam pelan sambil menopang
dagu. Mungkin karena pengaruh alkohol, matanya terlihat sayu, dan mungkin ia
tidak menyadari apa yang baru saja ia gumamkan.
Senior merasa... kesepian?
Aku terkejut mengetahui ia memiliki perasaan
seperti itu, dan di saat yang sama, perasaan terhadap Senior yang seharusnya
sudah kukunci rapat di dasar hati tiba-tiba meluap seketika.
"Senior benar-benar orang yang licik
ya."
Aku yang merasa belenggu di hatiku telah
terlepas, akhirnya meminum anggur dalam jumlah banyak dan kehilangan kesadaran.
Keesokan paginya, saat terbangun aku berada di
tempat tidur Senior, dan sosok Senior tidak ada di mana pun di dalam kamar.
Dari luar jendela, terdengar suara ayunan pedang
yang membelah udara, suara yang sangat kurindukan.



Post a Comment