NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Class no Bocchi Gal wo Omochikaeri Shite Seisokei Bijin ni Shite Yatta Hanashi V1 Chapter 5

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


Chapter 5

Tamu Tak Terduga

"Selesai—!"


Jumat, hari terakhir ujian akhir semester.


Begitu tes terakhir usai, suara Izumi langsung menggema di seantero kelas. Murid-murid lain pun merasakan hal yang sama, suasana riuh dengan kegembiraan karena akhirnya bebas.


Di antara mereka, ada yang memasang wajah putus asa, ada juga yang matanya mendelik putih dengan jiwa yang seolah melayang keluar dari mulut... Aku turut berduka cita. Berjuanglah di ujian susulan nanti agar libur musim panasmu tidak habis untuk kelas remidi. Begitu pikirku, meski terlalu dini untuk menganggap ini bukan urusanku.


"Akira, bagaimana tadi?"


"Aman. Malah rasanya lebih lancar dibanding ujian tengah semester kemarin."


Ini pasti berkat kamp belajar bareng tempo hari. Tapi yang lebih penting adalah—


"Aoi-san, bagaimana ujiannya?"


Aku menghampiri bangku Aoi-san, menyapanya layaknya teman akrab.


Belakangan ini, berkat bantuan Izumi, kesalahpahaman tentang Aoi-san di kelas sudah jauh berkurang. Dia sudah membaur sedemikian rupa sehingga aku atau Eiji bisa menyapanya dengan santai tanpa dianggap aneh oleh orang sekitar. Teman sekelas juga sudah mengakui kalau kami memang berteman baik. 


Ini semua adalah hasil dari kampanye gerilya untuk membuktikan kalau Aoi-san bukanlah seorang gyaru.


"Sepertinya aman. Setidaknya... kurasa aku bisa menghindari nilai merah."


"Wao. Hebat juga ya."


Aoi-san mengucapkannya dengan nada lega.


"Ini semua berkat kalian. Benar-benar terima kasih."


"Itu karena usahamu sendiri, Aoi-san."


Mengingat betapa hancurnya nilai ujian tengah semesternya dulu, aku ingin memujinya habis-habisan. Meski belum boleh lengah sampai hasilnya keluar, setidaknya untuk saat ini kami bisa bernapas lega.


"Aoi-san, hari ini ada jadwal kerja paruh waktu kan? Ayo pulang bareng sampai persimpangan."


"Iya."


"Tunggu sebentar!"


Tepat saat aku hendak keluar kelas bersama Aoi-san, Izumi melesat ke depan kami dan merentangkan tangan menghadang jalan.


"Ada yang mau kubicarakan dengan kalian, jadi ayo pulang berempat!"


"Boleh saja, tapi mau bicara apa?"


"Nanti kubicarakan sambil jalan ♪"


Nada bicaranya agak mencurigakan, jangan-jangan dia merencanakan sesuatu yang aneh? Sambil membatin begitu, kami berempat meninggalkan sekolah. Di tengah jalan, Izumi mengirimkan sebuah URL ke grup pesan singkat kami.


"Apa ini?"


"Sudah, buka saja dulu."


Aku mengklik URL tersebut sesuai arahannya.


"......Pemandian air panas (Onsen)?"


Ternyata itu adalah situs resmi sebuah fasilitas pemandian air panas. Sepertinya itu tempat pemandian harian (day-trip) di tepi lembah. Di dalam area yang dikelilingi alam itu, terdapat banyak pondok kecil, dan kabarnya semua pondok itu dilengkapi dengan pemandian terbuka (rotenburo) pribadi yang airnya berasal dari sumber alami sendiri.


Terlepas dari alasan kenapa dia mengirim URL itu, Izumi memang suka hal-hal bertema tradisional Jepang seperti onsen, kuil, atau kimono. Dia lebih suka teh daripada teh barat (earl grey dsb), lebih suka kue tradisional Jepang (wagashi) daripada kue barat. Dia sangat mengagumi kimono daripada gaun. Meski penampilan dan sifatnya mencolok, dia punya selera yang unik seperti itu.


Fakta bahwa dia meminta teh yang diseduh di teko saat kamp belajar, atau alasanku menyiapkan Sakuramochi sebagai camilan malam, adalah karena aku tahu selera Izumi. Ngomong-ngomong, hobinya adalah merawat bonsai. Sudah mirip kakek-kakek saja.


"Sebagai perayaan pasca-ujian, aku sudah memesan tempat ini untuk lusa, hari Minggu! ♪"


"Lusa? Mendadak sekali."


"Kenapa? Kamu ada acara lain?"


"Bukannya ada acara, tapi ini terlalu mendadak. Bagaimana kalau aku sudah punya janji lain?"


"Aku sudah minta Aoi-san untuk mengosongkan jadwalnya, tapi aku benar-benar lupa bilang padamu, Akira-kun. Kupikir kalau kamu ada acara, ya sudah kami pergi bertiga saja."


"Kenapa cuma aku yang nasibnya 'ditinggal juga nggak apa-apa' sih..."


"Maaf, maaf," ucap Izumi sambil menjulurkan lidahnya.


Yah, Izumi memang selalu begitu, jadi aku tidak terlalu ambil pusing.


"Jadi, sudah diputuskan ya."


"Aku belum pernah ke pemandian air panas, jadi aku menantikannya." 


"Masa sih? Onsen itu enak lho~. Bisa-bisa kamu ketagihan setelah ini!"


Izumi mulai mengoceh panjang lebar soal nikmatnya berendam, sementara Aoi-san mendengarkan dengan penuh minat. 


Pemandian air panas ya... Benar juga, mengadakan perayaan untuk mengapresiasi kerja keras Aoi-san adalah ide bagus. Fasilitas ini berjarak sekitar satu setengah jam naik kereta, pas untuk perjalanan pulang-pergi dalam sehari. Biasanya perayaan pelajar itu ke karaoke, tapi Aoi-san bukan tipe orang yang suka tempat seperti itu.


Sambil memperhatikan mereka berdua, aku melihat situs webnya lagi dan menyadari sesuatu.


"Eh, di sini sistem tarifnya per ruangan per jam ya, bukan per orang. Satu jam empat ribu yen. Berarti kalau kita sewa dua ruangan terpisah untuk laki-laki dan perempuan, jatuhnya dua ribu yen per orang... Lumayan mahal juga ya."


Yah, namanya juga pemandian terbuka pribadi, wajar saja kalau harganya agak mahal. Tapi kemudian...


"Lho? Aku cuma pesan satu ruangan kok," celetuk Izumi enteng.


"Heh!? Nggak bisa dong kalau semuanya digabung!"


"Kenapa sih? Kan kita teman, nggak apa-apa kali."


"Bukannya begitu, kamu..."


Meskipun teman... kalau cuma sewa satu ruangan, itu artinya kami akan berendam campur (konyoku), kan? 


Kalaupun Izumi tidak keberatan, Aoi-san atau Eiji pasti merasa risih. Meskipun nanti melilitkan handuk, Aoi-san pasti malu, dan Eiji juga pasti tidak suka pacarnya dilihat laki-laki lain saat berendam. Kalau aku jadi dia, aku tidak akan sudi memperlihatkan tubuh pacarku ke teman-temanku.


"Eiji, kamu serius tidak apa-apa?"


"Aku sudah dengar sebelumnya, dan aku sama sekali tidak keberatan kok."


"Serius nih...?"


Aku mengalihkan pandangan untuk melihat reaksi Aoi-san. Ternyata dia sedang berbisik-bisik dengan Izumi.


"Kalau memang begitu..."


"Sip! Aoi-san juga bilang oke!"


Serius, ini beneran? Aku sih senang-senang saja, tapi apa boleh sebahagia ini?


"Oke, berarti akhir pekan ini kita semua pergi ke onsen. Sudah ketuk palu ya!"


Sudahlah, aku tidak mau tahu lagi. Aku sudah memperingatkan mereka, lho. Jangan salahkan aku kalau nanti tiba-tiba mereka merasa lebih baik berpisah kamar, tapi sebagai anak SMA yang sehat, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak merasa bersemangat dan membayangkan yang iya-iya.


Asli, aku tidak sabar menantinya.


"Oh iya, ngomong-ngomong, ganti topik sebentar."


Saat aku sedang melakukan fist pump dalam hati agar tidak ketahuan yang lain, Izumi tiba-tiba berceletuk.


"Aoi-san, kamu kerja paruh waktu di mana?"


"Di sebuah kedai kopi dekat stasiun."


"Dekat banget ya. Kalau begitu, bagaimana kalau sekarang kita semua ke sana?"


"Eh? Sekarang?"


"Aku penasaran tempat kerja Aoi-san seperti apa, sekalian kita bahas rencana jalan-jalan ke onsen. Boleh, kan?"


Tadinya aku pikir mendatangi tempat kerja paruh waktu itu akan merepotkan orang lain, tapi...


"Iya, boleh saja kok. Kalau hari biasa tidak terlalu sibuk.” 


"Horeee!"


Tempat kerja Aoi-san ya...


Jujur aku memang penasaran, tapi tidak menyangka akan berkunjung dengan cara seperti ini.



Sesampainya di kedai kopi, Aoi-san memperkenalkan kami kepada manajernya. Karena aku dengar ini kedai kopi pribadi, aku pikir pengelolanya adalah pria tua, tapi ternyata manajer yang diperkenalkan adalah pria yang jauh lebih muda. Mungkin sekitar empat puluh tahunan. Dia tipe pria yang cocok disebut ikaoji (paman keren) dengan senyum yang berwibawa.


Terlepas dari itu, manajer menyambut kami dengan ramah dan mengantar kami ke tempat duduk. Kami pun memesan minuman masing-masing. Tak lama kemudian, Aoi-san yang sudah berganti seragam datang membawakan pesanan kami.


"Seragamnya lucu banget! Cocok sekali buat Aoi-san!"


"N-nggak juga kok..."


Aoi-san yang muncul dengan seragam kedai tampak merona malu. Seragam itu terdiri dari kemeja hitam dan rok panjang, dilengkapi dengan celemek putih berenda. Ini pertama kalinya aku melihat rambut panjangnya diikat satu dengan scrunchie... 


Sial, melihatnya dengan penampilan berbeda begini benar-benar membuat jantung berdebar.


"Akira-kun, bagaimana menurutmu? Cocok, kan?"


Aku tersentak saat Izumi meminta persetujuanku. Sepertinya aku tadi sempat bengong memperhatikannya tanpa sadar.


"A-ah, iya, kurasa sangat cocok."


"Terima kasih..."


Aoi-san pasti malu, tapi aku yang memuji pun sebenarnya malu setengah mati.


"Ah, maaf ya, sudah menunggu lama."


Seolah ingin menutupi rasa malunya, Aoi-san mulai meletakkan minuman di meja. Namun entah kenapa, ada kue yang diletakkan bersama minuman kami.


"Kami tidak pesan kue, lho."


"Ini traktiran dari manajer."


"Horeee! Terima kasih, Manajer-san!"


Sambil melirik Izumi yang matanya berbinar kegirangan, aku menganggukkan kepala kepada manajer yang berada agak jauh.


"Ini bukan kue tradisional (wagashi) kesukaanmu, tidak apa-apa?"


"Nggak masalah sama sekali. Aku paling suka wagashi, tapi bukan berarti aku benci kue barat."


"Begitu ya."


Ternyata apa saja disikat sama dia.


Sambil menyeruput kopi, aku membatin. Sejujurnya aku khawatir tentang tempat kerja Aoi-san, tapi suasananya sangat nyaman, dan manajernya terlihat sebagai orang yang tenang dan baik. Sepertinya aku tidak perlu cemas. Bisa mengenal satu lagi sisi kehidupan Aoi-san membuatku merasa sedikit lega.


Setelah itu, aku mulai menyusun rencana perjalanan ke onsen bersama Eiji dan Izumi. Kami menentukan waktu kumpul, lama perjalanan, hingga mencari tempat wisata atau spot kencan di sekitarnya. Obrolan kami jadi seru, sampai tak terasa sudah jam delapan malam saat kedai akan tutup.


Setelah mengantar Eiji dan Izumi pulang duluan, aku sedang menunggu Aoi-san selesai berganti pakaian di luar ketika...


"Bisa bicara sebentar?"


Manajer yang sedang bersiap menutup kedai menyapaku.


"Tentang Aoi-san... boleh kita mengobrol?"


Tentang Aoi-san—satu kalimat itu membuatku refleks waspada.


"Ada apa, ya?"


"Karena kamu temannya, apa kamu tahu tentang situasinya?"


"......Situasi seperti apa maksudnya?"


Aku menjawab dengan ambigu karena tidak tahu sejauh mana dia tahu. Dia tidak terlihat seperti orang jahat, tapi aku tidak boleh membicarakan masalah Aoi-san secara sembarangan. Meskipun pria ini sudah tahu semuanya, aku tidak berniat membuka pembicaraan lebih dulu.


Sepertinya dia menyadari sikap waspadaku.


"Maaf jika aku membuatmu waspada," ucap manajer itu sambil membuka tangannya sedikit, mencoba menenangkan.


"Sebenarnya aku sama sekali tidak tahu situasi Aoi-san. Hanya saja, melihat seorang gadis SMA yang setiap hari menghabiskan waktunya untuk bekerja dari pagi sampai sore, tidak sulit untuk membayangkan bahwa pasti ada alasan yang sulit untuk dibicarakan."


Melihat tatapan cemas dari sang manajer, aku langsung mengerti. Orang ini pasti sudah menyadari ada yang tidak beres dengan Aoi-san, namun dia memilih untuk tidak bertanya dan tetap memberinya pekerjaan. Dia pasti berpikir bahwa Aoi-san memiliki alasan kuat kenapa dia harus melakukan itu.


"Tapi beberapa waktu lalu, dia bilang ingin jadwal kerjanya dipindah ke setelah jam sekolah karena dia harus masuk sekolah lagi. Sejak saat itu, melihatnya yang semakin hari semakin ceria, aku yakin situasinya pasti sudah berubah. Dan setelah melihat kalian datang hari ini, aku sadar... ini semua pasti berkat kalian."


Wajah sang manajer perlahan melembut, memancarkan rasa lega.


"Mungkin aneh kalau aku yang mengatakannya, tapi tolong teruslah berteman baik dengan Aoi-san."


Dadaku terasa sesak karena sempat mencurigai orang ini meski hanya sesaat.


"Tentu saja. Dan meski mungkin aneh juga jika saya yang bilang begini, saya rasa sangat beruntung Aoi-san bekerja di kedai ini. Saya yakin Aoi-san pun merasakan hal yang sama."


Jika seorang anak SMA bilang ingin bekerja di siang hari dan bolos sekolah, orang dewasa normal pasti akan menolaknya. Namun, menyadari situasi tanpa bertanya dan tetap menerimanya bekerja adalah sebuah bentuk kebaikan yang nyata. Mungkin ada yang mencela tindakannya, tapi bagi saya, itu alasan yang lebih dari cukup untuk memercayainya.


"Akira-kun, maaf menunggu lama—Manajer?"


Aoi-san muncul dan tampak bingung melihat kami berdua.


"Hanya obrolan ringan. Kerja bagus untuk hari ini. Sampai jumpa lagi ya," ucap manajer.


"Iya. Terima kasih. Mari saya permisi dulu."


"Akira-kun, sering-seringlah mampir ke sini."


"Pasti. Terima kasih banyak kuenya."


Kami pun membungkuk hormat lalu meninggalkan kedai. Saat berjalan di jalanan malam yang sepi, Aoi-san berkali-kali melirik ke arahku seolah ingin menanyakan sesuatu.


"Apa yang kamu bicarakan dengan Manajer tadi?"


"Hm? Dia bilang Aoi-san sering salah mencatat pesanan sampai dia pusing, jadi dia konsultasi padaku harus bagaimana."


"......Bohong. Aku tidak pernah salah mencatat pesanan tahu."


Aoi-san menggembungkan pipinya dengan wajah tidak puas. Dia bermaksud terlihat marah, tapi karena tidak serius, dia sama sekali tidak menakutkan. Malah terlihat sangat manis. Aku merasa sedikit beruntung bisa melihat ekspresi seperti itu darinya.


"Dasar... Akira-kun jahil sekali."


"Maaf, maaf. Tapi aku lega manajernya terlihat seperti orang yang sangat baik."


"Iya. Beliau memang orang yang sangat baik."


Kalimat singkat yang penuh penekanan itu menunjukkan betapa besarnya kepercayaan Aoi-san pada manajernya. 


Sejujurnya, aku merasa senang mengetahui ada orang lain yang juga mencoba memahami Aoi-san. Di zaman sekarang, kupikir hubungan antarmanusia itu jauh lebih dangkal. Karena setiap kali aku pindah sekolah, hubunganku dengan teman-teman selalu merenggang. Seberapa sering pun kami berjanji akan terus berkabar atau bertemu lagi, berjalannya waktu secara kejam mengikis kehangatan perasaan itu. Tanpa sadar, aku sempat pasrah bahwa hubungan manusia memang hanya sebatas itu. 


Itulah sebabnya, aku sendiri adalah orang yang paling terkejut karena telah mengulurkan tangan kepada Aoi-san. Apakah aku ini tipe orang yang melakukan hal seperti ini? Aku sudah berkali-kali mempertanyakan hal itu pada diri sendiri. Namun anehnya... sekarang aku benar-benar bersyukur telah melakukannya.


Itulah yang membuatku berpikir. Nanti ketika aku harus pindah lagi, dengan perasaan seperti apa aku akan meninggalkan tempat ini? Apakah aku akan bisa merelakannya begitu saja seperti sebelumnya? Sejak bertemu Aoi-san, ada bagian dari diriku yang tidak ingin membayangkan masa depan.


Sambil memikirkan hal itu, kami berjalan pulang. Di langit malam, sedikit awan mulai menggantung.



Sesampainya di rumah, kami beristirahat sejenak di ruang tamu. Jarum jam menunjukkan pukul 8:30 malam. Biasanya aku sudah menyiapkan makan malam dan air mandi sementara Aoi-san bekerja, tapi jika baru mulai masak sekarang, pasti akan lewat jam sembilan. Aku tidak terlalu lapar karena sudah makan kue tadi, tapi Aoi-san beda cerita. Aku harus segera memasak.


"Aoi-san, kamu mandi duluan saja. Aku akan siapkan makan malam sementara itu."


"Jangan, tidak enak kalau hanya aku yang mandi duluan."


"Tidak apa-apa. Kamu pasti lelah setelah bekerja, jadi masuk saja tanpa sungkan."


"......Iya. Kalau begitu, aku duluan ya."


Tepat saat Aoi-san berdiri dari sofa hendak menuju kamar mandi, tiba-tiba bel pintu berbunyi.


"Siapa yang datang jam segini... eh!?"


Napasku tercekat saat melihat monitor di samping dapur. Kenapa dia datang ke sini malam-malam begini!?


"Akira-kun, ada apa?"


"A-ah, tidak, itu..."


Tidak ada waktu untuk menjelaskan situasi pada Aoi-san. Dia harus segera bersembunyi.


"Aoi-san maaf! Jangan tanya apa-apa, tolong sembunyi di dalam lemari di kamarku!"


"Eh—?"


Aku mendorong punggung Aoi-san yang bingung dan menyeretnya paksa ke kamarku. Aku menyalakan senter di ponselku, menyerahkannya padanya, lalu menyuruhnya masuk ke lemari pakaian. 


Setelah itu, aku secepat kilat melempar semua barang pribadi Aoi-san yang ada di rumah ke dalam kamarku, lalu membuka pintu depan.


"Lama sekali."


Di sana berdiri seorang gadis dengan wajah datar tanpa ekspresi yang menunjukkan ketidaksenangan.


"Maaf ya. Aku tadi agak mengantuk karena tidak menyangka ada tamu jam segini... Lagipula, Hiyori harusnya mengabari dulu kalau mau datang."


"Memangnya mau pulang ke rumah sendiri harus pakai kabar-kabaran?"


"Yah, benar juga sih..."


Yang muncul di jam segini adalah adik perempuanku, Akamori Hiyori. Hiyori langsung masuk ke rumah, berjalan menuju ruang tamu, lalu duduk di sofa.


"Lagi pula, ini benar-benar mendadak. Ada apa?"


"Karena Akira tidak menghubungi Ayah maupun Ibu sama sekali, aku disuruh mereka untuk datang menjengukmu."


...Benar juga, aku terlalu sibuk mengurusi masalah Aoi-san sampai-sampai mengabaikan pesan dari mereka.


"Begitu ya. Maaf sudah membuatmu repot."


"Jangan dipikirkan. Aku sendiri juga penasaran apakah Akira bisa hidup dengan benar atau tidak."


"Aku kan sudah SMA. Aku bisa mengurus diriku sendiri dengan baik."


Hiyori berbicara dengan nada seolah dia adalah kakak perempuan yang sedang mengasuh adiknya. Padahal usia kami hanya terpaut satu tahun, tapi Hiyori jauh lebih dewasa dibanding aku. Dia jarang menunjukkan emosi, selalu tenang, dan dari sudut pandang tertentu sering dianggap berkepribadian dingin. Namun, kenyataan bahwa dia jauh-jauh datang menjenguk kakaknya yang tinggal terpisah menunjukkan bahwa dia sebenarnya punya kepedulian yang dalam.


Mungkin karena sifatnya yang dingin dan kedewasaan mentalnya yang tinggi, dia tidak punya banyak teman. Tapi, dia adalah tipe gadis yang akan sangat disukai oleh teman-teman yang benar-benar memahaminya—tipe yang menjalin pertemanan "sedikit tapi berkualitas". Karena usia kami dekat, hubungan kami sudah seperti anak kembar yang setara.


"Hiyori sendiri bagaimana dengan kehidupan barumu? Sudah terbiasa dengan sekolah?"


"Iya. Cukup menyenangkan kok."


Aku sempat khawatir karena Hiyori tipe yang sulit berteman, tapi syukurlah kalau dia menikmatinya.


"Tapi, aku lega melihatmu sehat. Kamarmu juga bersih. Kupikir rumah laki-laki yang tinggal sendirian bakal berantakan kacau balau, tapi... yah, kalau sudah punya pacar, wajar saja kalau kamarnya jadi bersih begini."


"......Hah?"


Pernyataan tiba-tiba itu membuat tulang punggungku seketika merinding.


"A-apa yang kamu bicarakan? Mana ada pacar—!?"


Tepat saat aku hendak membantah dengan suara lantang...


Di tangan Hiyori yang terangkat, ada sehelai rambut hitam panjang.


"Kalau ini rambutku atau rambut Ibu, ini terlalu panjang dan terlalu hitam. Ini bukti kalau ada perempuan lain yang datang ke ruangan ini, kan?"


"Itu..."


"Kamu lama sekali membuka pintu depan, dan sikapmu yang panik itu terbaca jelas. Kamu pasti mencoba menutupi fakta kalau pacarmu sedang main ke sini dan menyembunyikannya di suatu tempat, tapi kamu tidak punya waktu untuk membersihkan rambut yang rontok, kan?"


Rambut itu benar-benar titik butaku. Tidak, meskipun aku menyadarinya, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Lagipula, dia tajam sekali bisa langsung menyadari hal sekecil itu.


"Aku tidak akan memakannya, jadi perkenalkan saja dia padaku."


Gawat, bagaimana ini...?


Rasanya mustahil bisa terus berpura-pura di hadapannya. Melihat dia datang selarut ini, dia pasti berniat menginap malam ini.


Aku tidak mungkin membiarkan Aoi-san terus bersembunyi di dalam lemari sampai pagi. Lagipula, kalaupun aku berhasil mengecohnya kali ini, selama Hiyori masih menaruh curiga, tinggal menunggu waktu saja sampai orang tua kami tahu. Jika begitu, risiko terus bersembunyi jauh lebih besar.


"Tunggu sebentar ya," kataku pada Hiyori.


Aku kembali ke kamarku dan membuka pintu lemari.


"Aoi-san—?"


Seketika Aoi-san tampak sangat terkejut. Tidak, lebih tepatnya bukan sekadar terkejut, tapi dia memasang wajah canggung seolah-olah baru saja melihat sesuatu yang tidak seharusnya dilihat.


"Ada apa?" tanyaku heran.


Detik berikutnya, aku langsung paham. Di tangan kiri Aoi-san ada kantong kertas cokelat yang diberikan Izumi saat kamp belajar kemarin. Tentu saja, mulut kantong itu terbuka, dan tangan kanannya yang memegang benda di dalamnya tampak gemetar hebat.


"T-tunggu! Ini salah paham! Itu bukan aku yang beli dan aku tidak ada rencana memakainya! Itu Izumi yang sok perhatian dan meninggalkannya di sini karena katanya aku butuh! Sumpah, ini bukan untuk tujuan yang kamu bayangkan—!"


"Nn..."


Wajah Aoi-san memerah padam seperti gurita rebus dan dia terdiam seribu bahasa. 


Sial, padahal harusnya aku diam saja, tapi kenapa di saat seperti ini aku malah memberi penjelasan sedetail itu. Ini sama saja dengan mengakui kalau Izumi menyuruhku memakainya bersama Aoi-san.


Siapa sih yang bilang "mulutmu harimaumu"? Benar banget, sumpah.


"Berisik sekali, ada apa sih?"


Tepat saat itu, Hiyori yang mendengar suaraku datang ke kamar. Dia menatap kami dengan ekspresi datar, tapi matanya seolah sedang melihat kotoran.


"......Kalian berniat 'mulai' saat adikmu sendiri sedang datang?"


Tentu saja dia sedang melihat benda karet yang dipegang Aoi-san.


"Bukan! Bukan begitu! Percayalah padaku, kalian berdua!"


Tapi sungguh, aku tidak melakukannya! Rasanya aku pernah dengar dialog ini di film jadul. Kalau tidak salah, di film itu si tokoh utama akhirnya tetap dinyatakan bersalah... 


Gawat dong! Tidak menang di pengadilan!


"Aku akan dengar penjelasan kalian sekaligus, jadi ayo ke ruang tamu dulu."


"I-iya..."


Mengikuti Hiyori yang berbicara dengan sangat tenang, aku dan Aoi-san meninggalkan kamar. Setelah duduk berhadapan dengan Hiyori di ruang tamu, aku berdeham pelan.


"Ehem. Kenalkan, ini teman sekelasku, Soutome Aoi-san."


"Salam kenal... saya Soutome Aoi."


Aoi-san membungkuk dengan wajah bingung. Wajar saja, dia tiba-tiba dipertemukan dengan keluargaku.


"Dan ini adikku, Hiyori."


"Salam kenal. Saya adik Akira, Akamori Hiyori. Terima kasih sudah menjaga kakak saya."


Hiyori membungkuk dan memberi salam dengan sopan meski ekspresinya tetap datar.


"Justru saya yang banyak dibantu olehnya. Benar-benar..."


Saat Aoi-san membalas salam dengan sopan, mata Hiyori sedikit menyipit. Mungkin di mata Hiyori, sosok Aoi-san yang terlihat terlalu bingung tampak tidak wajar jika hanya sekadar gugup diperkenalkan ke keluarga. Tapi mau bagaimana lagi, Aoi-san memang sedang sangat syok. Aku sudah tidak berniat menyembunyikannya lagi.


"Sebenarnya, kami tinggal bersama di sini."


"......Hah?"


Hiyori yang biasanya jarang menunjukkan emosi pun akhirnya terkejut. Dahinya sedikit berkerut, menunjukkan ekspresi tidak percaya.


"Akan kujelaskan urutannya, jadi dengarkan dengan tenang."


Lalu, aku mulai menceritakan semuanya tentang Aoi-san. Tentang pertemuan kami di taman saat hari hujan. Tentang ibunya yang menghilang bersama seorang pria, dan karena sewa apartemen menunggak, dia harus angkat kaki dan tidak punya tempat pulang. Tentang bagaimana dia mulai tinggal di rumahku karena tidak punya tujuan, dan keinginanku untuk menyelesaikan masalahnya sebelum aku pindah sekolah nanti, serta bantuan dari Eiji dan Izumi.


"Begitu ya."


Saat aku selesai menjelaskan, Hiyori sudah mendapatkan kembali ketenangannya.


"Aku minta maaf karena merahasiakan keberadaannya di rumah ini dari keluarga. Tapi—"


"Kurasa tidak apa-apa, kan?"


Sebelum aku sempat memberi alasan lebih lanjut, Hiyori sudah memotongnya.


"B-boleh...?"


Aku sampai bertanya balik karena jawabannya yang terlalu tak terduga.


"Apa yang Akira lakukan itu tidak salah kok."


"Tapi..."


"Seseorang yang kesulitan memang harus dibantu. Hampir semua orang berpikir begitu di dalam kepala mereka, tapi kenyataannya, kebanyakan orang tidak melakukan apa-apa. Ada orang kesulitan tapi tidak disapa, ada orang menderita tapi dibiarkan, ada kejahatan tapi pura-pura tidak lihat. Habisnya, kalau kita mengulurkan tangan, orang malah akan mencibir 'sok pahlawan' atau munafik."


Apa yang dikatakan Hiyori memang benar. Selama hidup lima belas tahun ini, aku pasti pernah menemui situasi seperti itu sekali atau dua kali. Malah, jarang ada orang yang belum pernah mengalaminya.


"Terlepas dari alasan atau situasinya, Akira sudah mengulurkan tangan. Kalau memang sudah dilakukan, tegakkanlah kepalamu."


"Hiyori, terima kasih ya."


Meskipun emosinya tetap tidak terbaca dari wajahnya, aku senang dia bisa mengerti. Lagi pula, aku tidak menyangka dia akan menerimanya semudah ini.


"Kupikir kamu bakal lebih kaget lagi."


"Kaget sih iya, tapi kalau itu Akira, rasanya tidak aneh. Aku tahu laki-laki seperti apa kakakku ini sejak kecil, dan ini bukan pertama kalinya aku melihatmu menolong orang. Ini sangat mirip denganmu."


Sangat mirip denganku, ya...


Mungkin Hiyori, sama seperti Eiji, sedang membicarakan kejadian saat TK dulu. Hiyori juga sekolah di TK yang sama, jadi dia pasti pernah melihatku bersama anak perempuan itu. Berbeda denganku, sepertinya Hiyori yang setahun lebih muda tidak mengalami kekacauan ingatan. Benar-benar deh, baik Eiji maupun Hiyori, mereka ingat betul hal-hal yang bahkan aku sendiri sudah lupa.


"Tapi, apa ya yang akan dipikirkan Ayah dan Ibu kalau mereka tahu?"


"Benar juga..."


Aku yakin seharusnya hal ini tidak akan pernah bisa diterima.


Ya, jelas saja. Laki-laki dan perempuan di bawah umur tinggal satu atap; bukan hanya orang tuaku, orang tua mana pun yang punya akal sehat pasti tidak akan mengizinkannya. Bukan cuma orang tua, kalau orang dewasa lain sampai tahu pun akan gawat. Justru karena tidak boleh ketahuanlah, aku menceritakan semuanya pada Hiyori.


"Hiyori, bisakah kamu merahasiakan ini dari Ayah dan Ibu?"


Aku menundukkan kepala, menuangkan seluruh kejujuranku ke dalam kata-kata itu. Jika aku tidak bisa meyakinkan Hiyori di sini, kurasa kehidupan ini tidak akan bisa berlanjut.


"Aku tidak meminta bantuanmu untuk menutupi jejak kami. Tapi, setidaknya tolong tutup mulut."


"Meskipun aku diam, tidak ada jaminan ini tidak akan ketahuan. Bisa saja tiba-tiba Ibu atau Ayah datang seperti aku hari ini. Apa kamu sudah memikirkan hal itu matang-matang?"


"Itu..."


"Bukankah lebih baik kalau kamu jujur minta tolong aku untuk bekerja sama?"


Saat aku sedang kesulitan menjawab, Hiyori tiba-tiba berucap begitu.


"Kamu mau membantu?"


"Aku sudah tahu apa yang kamu pikirkan. Kamu menceritakan semuanya dengan jujur karena memang berniat begitu, kan? Menurutku apa yang Akira lakukan tidak salah, dan aku tidak mungkin tidak membantu orang yang sudah percaya padaku. Bagiku, itu alasan yang cukup untuk membantu kalian berdua."


"Hiyori, terima kasih banyak."


Mendengar kata-katanya, hatiku benar-benar tersentuh. Kasih sayang tanpa syarat yang dia berikan kepada orang yang dia percayai benar-benar mencerminkan sifat khas Hiyori.


"Untuk sementara, aku akan bilang ke orang tua kalau semuanya baik-baik saja. Kalau nanti mereka mulai mengkhawatirkan kehidupanmu lagi, aku akan bilang kalau biar aku saja yang menjengukmu. Itu bisa mengulur waktu."


"Benar juga. Itu akan sangat membantu."


"Tentu saja aku akan membantu, tapi aku tidak bisa menjamin selamanya. Jadi, jangan santai-santai bilang sampai naik kelas dua SMA baru selesai. Berusahalah agar situasi Aoi-san membaik secepat mungkin."


"Ya. Terima kasih."


Benar kata Hiyori, aku tidak boleh terlalu santai. Meski begitu, fakta bahwa Hiyori berada di pihak kami membuat hatiku jauh lebih tenang.


"Lalu, sudah berapa lama kalian berpacaran?"


“"Eh?"”


Suaraku dan Aoi-san kompak berbarengan. Tadi di awal aku memperkenalkannya sebagai teman sekelas, bukan pacar... tapi memang aku belum sempat menyangkal asumsinya lebih lanjut.


"Anu... aku lupa bilang, tapi kami tidak pacaran."


"Hah?"


Seketika, wajah datar miliknya berubah menjadi ekspresi sangat tidak percaya. Wajah yang seolah menuliskan kalimat, 'Apa sih yang kamu omongkan, aku nggak percaya.' Ini pertama kalinya aku melihat Hiyori memasang muka seperti itu.


"Kenapa tidak pacaran?"


"Ya, meskipun kamu tanya kenapa..."


"Waktu awal tinggal bareng mungkin memang belum, tapi kalau sudah tinggal serumah bukannya biasanya akan jadi hubungan seperti itu? Atau apa? Akira melakukan 'hal itu' kepada gadis yang bahkan bukan pacarmu? Aku kecewa. Kamu benar-benar tidak bertanggung jawab."


"Bukan begitu, masalahnya sejak awal kami tidak punya hubungan semacam itu..."


"Lalu barang yang tadi itu apa?"


"Itu Izumi yang meninggalkannya cuma buat menggodaku. Masih segel kok, kalau tidak percaya cek saja sendiri."


Rasanya agak aneh membicarakan hal ini dengan anak kelas 3 SMP, tapi setelah aku menjelaskan bahwa harapannya tidak sesuai kenyataan, Hiyori tidak lagi menyembunyikan keterkejutannya. Dia tertegun seolah ingin bilang, 'Bohong, kan...'


"Akira, apa kamu benar-benar laki-laki?"


"Tentu saja aku laki-laki."


"Laki-laki dan perempuan SMA tinggal serumah dan tetap 'sehat' itu mustahil."


"Berisik, biarkan saja aku!"


Tolonglah, jangan bicara seperti Izumi. Malah harusnya aku dipuji karena tidak lancang. Aku ini sudah berjuang keras melawan hawa nafsu, tahu...


"Aoi-san, bagaimana menurutmu?"


"Eh..."


Karena ditanya mendadak, Aoi-san merona malu dengan wajah bingung.


"Aku... posisinya adalah orang yang ditolong oleh Akira-kun, jadi kalau jadi pacar..."


"Posisi itu tidak ada hubungannya. Apa yang Anda rasakan terhadap Akira?"


"Aku menganggapnya... orang yang sangat berharga..."


Aoi-san sampai bicara dengan bahasa formal karena kalah telak oleh tekanan Hiyori. Kenapa kami jadi seperti sedang disidang begini? Kalau aku sih tidak apa-apa, tapi tolong maafkan Aoi-san.


"Orang yang berharga itu konkretnya seperti apa? Love? Atau cuma like?"


"Itu, anu..."


Aoi-san terus terdesak mundur oleh Hiyori.


"Hiyori, cukup sampai di situ untuk hari ini. Aoi-san itu pemalu."


Aku menenangkan Hiyori yang jarang-jarang terlihat emosional begini. Akhirnya, Hiyori mendesah seolah menyerah.


"Ayo makan malam dulu. Aku akan masak sekarang."


"Soal itu, nanti akan kutanya pelan-pelan setelah makan malam."


Sepertinya meski sesi ini berakhir, aku tidak akan lolos dari interogasi Hiyori selanjutnya. Ternyata setelah menjadi kakaknya selama empat belas tahun, masih ada hal-hal yang tidak kupahami darinya. Rasanya aku baru saja melihat sisi baru Hiyori.



Setelah itu, kami makan malam dan mandi, lalu lanjut mengobrol di ruang tamu sampai larut malam. Aku sudah bersiap akan ditanya macam-macam soal hubungan kami, tapi begitu dia benar-benar yakin kami tidak pacaran, dia cuma bergumam, "Membosankan..." dan tidak mengejarnya lagi.


Apa maksudnya membosankan? Aku tidak menyangka dia bisa se-emosional itu soal asmara kakaknya sendiri, tapi yah, meski dia dewasa, dia tetap anak SMP yang mungkin sedang di usia penasaran soal cinta.


Dari dulu memang begitu, aku benar-benar tidak tahu di mana letak "tombol pemicu" Hiyori. Sambil menjelaskan hubunganku dengan Aoi-san dan mendiskusikan cara bersembunyi dari orang tua, malam pun semakin larut dan pertemuan kami berakhir ketika hari sudah berganti.


Apapun itu, mendapatkan bantuan Hiyori adalah kemajuan besar. Sebagai tanda terima kasih, nanti aku akan membelikannya Yomogi Manju kesukaannya.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close