NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Class no Bocchi Gal wo Omochikaeri Shite Seisokei Bijin ni Shite Yatta Hanashi V1 Chapter 8

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


Chapter 8

Perasaan Terdalam yang Selama Ini Disembunyikan

 "Akira-kun, Aoi-san mana?"


Pagi hari di hari upacara penutupan, Izumi bertanya dengan ekspresi cemas.


"Entahlah... aku tidak tahu. Harusnya dia sudah sampai sekarang."


Waktu masuk sekolah sudah dekat, tapi Aoi-san belum juga menampakkan diri. Biasanya aku berangkat lebih dulu dan Aoi-san menyusul sedikit lebih lambat, tapi tidak pernah sekalipun dia tidak datang ke sekolah selarut ini.


"Ada apa ya dengan dia?"


"Benar juga..."


Sambil berbincang, aku menatap ke luar jendela. Perasaan tidak enak yang menyelimuti dadaku ini, apakah karena awan hitam pekat yang menutupi langit? Ramalan cuaca bilang hujan akan turun siang nanti, tapi rasanya tidak aneh jika sekarang pun hujan langsung mengguyur.


"Apa Aoi-san sempat bilang sesuatu? Mungkin merasa kurang enak badan?"


"Tidak, dia tidak bilang apa-apa. Kelihatannya dia sehat-sehat saja seperti biasa."


"Lalu, apa ada yang berbeda akhir-akhir ini?"


"Tidak..."


Sesuatu yang berbeda—


Kejadian saat Aoi-san berniat menyerahkan dirinya padaku terlintas di benakku.


"Jangan-jangan dia kecelakaan..."


Suara Izumi bergetar karena gelisah.


"Belum tentu begitu, masih ada waktu. Ayo kita tunggu sebentar lagi."


"Iya, kau benar."


Aku mencoba menenangkan diri sambil memeriksa ponsel, tapi tidak ada pesan masuk. Malah, pesan yang kukirim tadi pun belum dibaca. 


Akhirnya, bel masuk berbunyi dan wali kelas memulai absensi tanpa kehadiran Aoi-san. Guru pun tidak tahu alasan kenapa Aoi-san tidak masuk. Pasti telah terjadi sesuatu.


Mungkinkah benar kata Izumi, dia mengalami kecelakaan?


Sekali pikiran buruk itu muncul, imajinasiku mulai liar membayangkan hal-hal yang mengerikan. Sementara itu, sesi wali kelas berakhir dan teman-teman sekelas mulai bergerak menuju gedung olahraga untuk upacara penutupan. Aku benar-benar tidak dalam suasana hati untuk ikut upacara.


"Eiji, Izumi, bisa bicara sebentar?"


Aku menghentikan mereka yang hendak mengikuti barisan.


"Aku mau pergi mencari Aoi-san. Aku bolos upacara, tolong jelaskan ke guru dengan alasan apa saja."


"Baiklah. Kalau tidak ketemu, segera hubungi kami. Kami juga akan ikut mencari begitu upacara selesai."


"Ya. Tolong ya."


Setelah menyampaikan pesan singkat itu, aku segera meninggalkan kelas.



Setelah keluar dari sekolah, aku bergegas menuju rumah. Pasti dia tiba-tiba merasa sakit dan sedang istirahat di rumah. Makanya dia tidak sadar ada pesan masuk. Sambil meyakinkan diri sendiri, aku sampai di rumah dan membuka pintu.


"...Aoi-san!"


Namun tidak ada jawaban, hanya suaraku yang menggema di dalam rumah. Aku masuk dan memeriksa setiap sudut, tapi Aoi-san tidak ada, dan barang-barang pribadinya pun sudah lenyap dari kamar Hiyori.


Sebenarnya sejak melihat sepatunya tidak ada di depan pintu, aku sudah tahu dia tidak di rumah. Tapi aku tidak bisa berhenti mencari.


"Aoi-san... kamu pergi ke mana?"


Aku memeriksa ponsel lagi, tetap tidak ada kabar. Mungkinkah... aku tidak akan bisa bertemu dengannya lagi—


Seketika, dadaku terasa sesak seperti diremas, diikuti rasa hampa yang luar biasa. Aku menyadari napasku gemetar. Aku mencoba menyuruh diriku tenang, tapi emosiku tidak terkendali. Rasa dingin menjalar ke telapak tanganku seiring wajahku yang memucat.


Demi menenangkan diri, aku pergi ke dapur dan menenggak segelas air. Setelah mengambil napas dalam-dalam dan mengedarkan pandangan, aku menemukan secarik kertas di atas meja ruang tamu.


"Ini..."


Kertas yang kuambil itu adalah surat singkat dari Aoi-san.


『Terima kasih untuk semuanya selama ini』 


Kalimat perpisahan yang sangat jelas. Namun, aku tidak merasa itu terlalu singkat. Aoi-san yang tidak pandai merangkai kata pasti telah menuangkan segalanya ke dalam satu kalimat ini. 


Membayangkan dia menelan semua hal yang ingin dikatakan dan hanya meninggalkan kata-kata ini, aku tidak bisa menahan diri untuk bertanya-tanya: seberapa kompleks perasaan yang sebenarnya berkecamuk di dalam hatinya?


Aoi-san pergi mungkin karena aku gagal menyadari isi hatinya yang sesungguhnya.


"...Tidak, bukan saatnya untuk meratap."


Aku menahan diri agar tidak patah semangat. Jika aku tidak menyadarinya, maka aku harus bertanya langsung. Sama seperti aku yang tidak sadar isi hatinya, Aoi-san pun pasti tidak tahu isi hatiku yang sebenarnya. Agar dua orang yang asing bisa saling memahami, semuanya harus dimulai dari pembicaraan.


Meski mungkin Aoi-san tidak akan kembali, setidaknya aku ingin bicara dengannya sekali lagi. Begitu pikiran itu muncul, kekuatanku pulih kembali.



Setelah itu, aku berlari keliling kota mencari Aoi-san. Tempat pertama yang kutuju adalah tempat kerja paruh waktunya. Meski aku tahu kemungkinannya kecil dia ada di sana, aku tetap berharap pada keajaiban itu.


"Permisi!"


Begitu tiba di kedai kopi, aku mengabaikan papan penanda "Sedang Persiapan" dan langsung menyentak pintu hingga terbuka.


Pemilik kedai yang menyadari kehadiranku menatap dengan wajah terkejut.


"Akira-kun? Ada apa sampai terburu-buru begitu?"


"Apa Aoi-san... datang ke sini...?"


Bahkan waktu untuk sekadar mengatur napas pun terasa sangat berharga.


"Tidak, dia tidak ada di sini. Hari ini dia juga tidak ada shif sore... Memangnya terjadi sesuatu?"


"Aoi-san tidak datang ke sekolah."


"Apa...?"


Tangan yang sedang sibuk mempersiapkan kedai itu seketika terhenti.


"Apa Anda pernah mendengar sesuatu dari Aoi-san?"


"Tidak, tidak ada yang khusus."


"Begitu ya. Baiklah, terima kasih."


"Tunggu sebentar!"


Beliau memanggilku tepat saat aku hendak meninggalkan kedai.


"Aku akan ikut mencari."


"...Jangan. Tolong tetaplah di sini. Ada kemungkinan Aoi-san akan datang ke sini, jadi jika dia muncul, tolong tahan dia."


Sambil berkata begitu, aku menuliskan nomor ponselku dengan tergesa-gesa di buku catatan yang tergeletak di sana.


"Ini nomor kontak saya. Tolong kabari segera."


"Baiklah, aku mengerti."


Setelah menyampaikan urusan singkat itu, aku langsung melesat keluar.


Setelah itu, aku mencari ke mana pun secara acak. Taman dekat rumah tempat pertama kali aku bertemu Aoi-san. Apartemen tempat Aoi-san dulu tinggal bersama ibunya. Pusat perbelanjaan tempat kami berdua pernah belanja bersama.


Semua tempat yang terlintas di pikiran sudah kudatangi, namun sosok Aoi-san tidak ada di mana pun. Langit masih terlihat mendung dan mencekam, meski belum tengah hari, suasananya gelap seperti sudah sore. Tepat saat kakiku mulai terasa lemas karena kelelahan berlari...


"...Eiji?"


Ponselku berdering tiba-tiba. Itu telepon dari Eiji.


『Apa Aoi-san sudah ketemu?』


"Belum... Saat aku pulang, ada pesan tertulis 'Terima kasih untuk semuanya', sepertinya dia meninggalkan rumah dengan niat tidak akan kembali. Aku sudah keliling ke semua tempat yang terpikirkan, tapi tidak ketemu."


『Begitu ya...』


Sepertinya dia menggunakan mode speaker. Selain suara Eiji, terdengar satu desahan napas lagi. Izumi pasti ada di sampingnya.


『Mungkin saja, dia sudah tidak ada lagi di kota ini.』


"Kenapa kamu berpikir begitu?"


『Mungkin dia berniat melakukan hal yang akan kita lakukan di libur musim panas nanti sendirian?』


Hal yang akan kami lakukan. Mencari rumah tempat neneknya tinggal.


『Satu-satunya orang yang bisa Aoi-san andalkan sekarang hanyalah neneknya, kan?』


Memang kemungkinan itu cukup besar. Kalau benar begitu, aku tidak punya cara lain untuk mencarinya.


『Aku tidak setuju dengan itu.』


Tiba-tiba Izumi angkat bicara dengan tegas.


『Aoi-san bukan tipe anak yang akan membuang semua hubungan dengan kita begitu saja lalu menghilang. Mungkin... dia hanya sedang sangat bingung, tidak tahu harus berbuat apa, dan merasa tersesat. Aku yakin saat ini pun, dia masih merenung di suatu tempat tanpa bisa menemukan jawaban.』


Tiba-tiba aku teringat saat pertama kali bertemu dengannya. Sosoknya yang tampak kesepian, berdiri mematung di taman tanpa tujuan.


『Akira-kun, temukan dia.』


Aku merasa kata-kata Izumi memberiku kekuatan kembali.


"...Tentu saja."


Berapa kali pun dia menghilang, aku akan menemukannya. Berapa kali pun, aku akan membawanya pulang. Meski dia menolak, meski ini dianggap sebagai kebaikan yang dipaksakan, aku masih ingin bersama Aoi-san.


"Tapi, tidak ada tempat lain lagi yang terpikirkan..."


『Jika Aoi-san masih ada di kota ini, aku yakin dia berada di tempat yang penuh kenangan. Di saat seperti ini, biasanya orang secara tidak sadar akan pergi ke tempat yang berkesan baginya. Berbeda denganmu, Akira, Aoi-san sudah lama tinggal di kota ini seperti aku dan Izumi. Jadi tempat kenangannya mungkin ada yang tidak kamu ketahui.』


Tempat penuh kenangan.


Mendengar kata-kata itu, satu lokasi langsung terlintas di kepalaku.


"Apa kalian tahu di mana TK tempat Aoi-san dulu bersekolah?"


『Aku kurang tahu... aku baru satu sekolah dengannya sejak SMP.』


"Begitu ya..."


Jika Aoi-san ingin mengunjungi tempat kenangannya, aku yakin itu tempatnya. Anak laki-laki yang pernah mengulurkan tangan pada Aoi-san saat dia terisolasi dulu, yang pernah diceritakannya padaku. Baginya, tidak ada tempat yang lebih berkesan daripada itu. 


Saat aku berniat mencari satu per satu semua TK yang ada di kota ini...


『Aku tahu tempatnya.』


"Benarkah!? Di mana lokasinya!?"


Aku tidak peduli kenapa Eiji bisa tahu. Sekarang aku tidak punya kemewahan untuk merisaukan hal itu.


『Aku akan kirim alamatnya ke ponselmu. Akira, berjuanglah.』


"Iya. Terima kasih banyak."


Begitu panggilan terputus, Eiji langsung mengirimkan alamatnya. Aku membuka peta, dan saat memastikan lokasinya, aku tertegun.


"Nggak mungkin..."


Nama dan lokasi TK yang muncul di layar ponsel adalah tempat yang sangat aku kenali.


Itu adalah TK tempat aku dan Eiji dulu bersekolah.


"Kenapa... jadi aku dan Aoi-san pernah satu TK?"


Tidak, sekarang bukan waktunya memikirkan itu. Aku menepis segala pertanyaan yang muncul bertubi-tubi dan bergegas menuju TK tersebut.



Di tengah perjalanan, akhirnya hujan mulai mengguyur. Butiran hujan besar yang mulai jatuh satu per satu semakin menderas seiring langkahku mendekati tujuan. 


Saat akhirnya aku tiba di taman kanak-kanak itu, hujan sudah sedemikian lebat hingga mustahil bertahan tanpa payung.


"Di sini..."


Sambil mengatur napas, aku menyapu pandangan ke sekeliling. Sudah sembilan tahun berlalu sejak upacara kelulusan TK, terakhir kali aku menginjakkan kaki di sini. Aneh rasanya, memori yang terkubur dalam dan tak pernah kuingat sebelumnya, mendadak meluap kembali begitu aku berdiri di depan bangunan ini. Rasanya seperti ingatan itu perlahan menjadi jernih kembali.


Sepertinya hari ini sekolah libur. Lampu-lampu padam dan tidak ada tanda-tanda kehidupan.


"Aoi-san..."


Saat aku menyusuri tepian pagar, aku melihat sosok Aoi-san berdiri di depan pagar yang menghadap ke halaman tengah. Melihatnya ada di sana membuatku kembali tenang. Aku mengembuskan napas panjang, lalu membuka payung. Perlahan aku mendekat dan memayungi kepalanya.


"...Akira-kun?"


Aoi-san mendongak menatapku. Ekspresinya tampak gelisah, persis seperti saat pertama kali kami bertemu di taman.


"Kalau diam di sini tanpa payung, kamu bisa kena flu."


Aoi-san mengangguk pelan, lalu kembali mengalihkan pandangannya ke arah bangunan TK.


"Apa ini TK tempat Aoi-san dulu bersekolah?"


"Iya. Aku ingin melihatnya untuk terakhir kali..."


Mendengar kata "terakhir kali", aku yakin bahwa Aoi-san benar-benar berniat pergi meninggalkan kota ini. 


Di saat yang sama, ada hal lain yang juga kuyakini. Meski tadinya aku ragu, ternyata perkataan Eiji benar; Aoi-san berasal dari TK yang sama denganku. Jika begitu, sewajarnya kami pernah bertemu. 


Pertanyaan yang sempat kucampingkan demi mencarinya kini muncul kembali. Begitu berada di tempat penuh kenangan ini, kepingan ingatanku yang tercerai-berai mulai terhubung dengan cerita-cerita yang pernah kudengar dari Aoi-san.


Semuanya mengerucut pada satu kemungkinan──


Dulu, di TK tempatku bersekolah, ada seorang anak perempuan. Sekarang aku sadar dia adalah cinta monyetku. Dia selalu sendirian, dan karena entah kenapa aku merasa tertarik padanya, aku terus berusaha mengajaknya bicara. Tepat saat kami akhirnya bisa sedikit mengobrol, aku harus berpisah dengannya karena Ayah dipindahtugaskan.


Aoi-san pun dulu selalu menghabiskan waktu sendirian karena sifatnya yang tertutup. Lalu, dia bertemu seorang anak laki-laki yang selalu menemaninya. Mereka tidak banyak bicara atau bermain bersama, tapi bagi Aoi-san, kehadiran anak itu di sisinya sudah menjadi penyelamat.


Bukan──anak itu bukan Aoi-san.


Kini aku ingat dengan jelas. Nama belakang anak itu adalah Shinoda, aku yakin sekali. Aku masih belum bisa mengingat nama depannya, tapi marga di papan namanya terekam jelas di ingatanku. Tadinya kukira semuanya sudah terhubung, tapi ingatanku sendiri membantah kemungkinan itu. Namun di detik berikutnya, aku menyadari ada hal krusial yang kulewatkan.


"Jangan-jangan..."


Itu bukan hal yang mustahil──.


"Aoi-san, boleh aku tanya satu hal?"


"...Apa?"


"Aoi-san, waktu sekolah di TK ini, apa margamu berbeda?"


"Iya. Itu sebelum orang tuaku bercerai, jadi aku memakai marga ayahku, Shinoda."


Sentakan hebat seolah menembus seluruh tubuhku, dan di saat yang sama, nama depan anak itu bangkit dari ingatan.


"Aoi..."


Tanpa sadar aku menutup mulutku sendiri sambil menggumamkan namanya. Benar──nama anak itu adalah Shinoda Aoi.


"............"


Rasa terkejut, rindu, dan haru bercampur aduk menjadi satu hingga aku kehilangan kata-kata. Selama ini aku hanya berharap dia baik-baik saja di suatu tempat. Aku sempat bermimpi seperti di drama-drama bahwa suatu hari kami bisa bertemu lagi, tapi ternyata aku sudah bertemu dengannya sejak lama.


Kalau begini, ini namanya takdir, kan──


Setelah berbagai emosi berkecamuk di kepala, hanya satu perasaan yang meluap paling kuat. Aku benar-benar ingin Aoi-san tetap di sini.


"Aoi-san, ayo kita pulang."


Saat aku mengajaknya, Aoi-san menggelengkan kepala.


"Aku tidak bisa pulang..."


"Kenapa?"


"Aku tidak bisa merepotkan kalian lebih jauh lagi..."


Suaranya terdengar sangat lemah, hampir tenggelam oleh suara hujan.


"Kamu tidak merepotkan sama sekali. Aku tidak pernah sekalipun berpikir begitu."


"Iya. Aku tahu Akira-kun berpikir begitu. Bukan cuma kamu... aku tahu Eiji-kun dan Izumi-san pun tidak merasa direpotkan."


"Kalau begitu──"


"Tapi, akunya yang tidak bisa."


Aoi-san menggigit bibirnya dengan ekspresi pedih.


"Aku tahu semua yang kalian lakukan untukku adalah bentuk kebaikan, tapi aku tetap tidak bisa berhenti merasa bahwa aku ini beban. Aku hanya menerima tanpa bisa membalas apa-apa. Meskipun kalian bilang itu tidak masalah, aku tetap tidak bisa... aku tidak tahan."


Ah, jadi begitu ya.


Intinya, ini adalah masalah bagaimana Aoi-san menerima segalanya. Dia berterima kasih, tapi rasa bersalah karena "merepotkan" jauh lebih besar. Aku sama sekali tidak menyangka bahwa niat baik kami justru menyiksanya tanpa kami sadari.


Tidak, bukan begitu──Aoi-san sudah berkali-kali bilang "maaf sudah merepotkan" baik lewat kata maupun sikap. Bahkan dia sampai berniat menyerahkan tubuhnya hanya untuk membalas budi. Masalahnya, kami hanya tidak menanggapinya dengan cukup serius, padahal Aoi-san sudah merasakannya sejak awal.


Ini pasti akibat dari meskipun kami tinggal sedekat ini, kami belum bisa saling memperlihatkan bagian terdalam dari hati masing-masing. Namun, aku tidak bisa menyalahkan Aoi-san. Mengingat sifat dan perasaannya, mustahil dia bisa mengatakan hal itu kepada orang yang sedang mengulurkan tangan padanya.


Perkataan Eiji terlintas di benakku: "Bukan berarti lawan bicaramu pasti akan mengatakannya."


Seberapa besar pun rasa sayang atau terima kasih kita, pasti ada hal-hal yang tidak bisa terucap. Namun, sekarang Aoi-san akhirnya mengutarakannya padaku. Kalau begitu, aku pun harus mengatakan hal-hal yang selama ini tidak bisa kuucapkan.


Pikiranku sendiri, yang akhirnya kupahami berkat pertemuanku dengan Aoi-san.


"Meski begitu, aku tetap ingin bersamamu, Aoi-san."


"Akira-kun..."


Mungkin kata-kata yang akan kuucapkan ini terdengar kejam. Karena aku memintanya untuk tetap bersamaku di saat dia sedang merasa sangat bersalah. Tapi bukan itu. Bukan itu maksud yang ingin kusampaikan pada Aoi-san.


"Ini bukan hanya demi dirimu. Aku sendiri yang ingin bersamamu."


Inilah perasaan jujurku yang tidak bisa kukatakan pada Eiji maupun Izumi. Seluruh emosi yang entah sejak kapan terus menyiksa hatiku.


"Awalnya memang demi dirimu. Setelah tahu situasimu, aku berpikir ingin melakukan apa pun yang kubisa untukmu, setidaknya sampai tiba waktunya aku pindah sekolah. Tapi, di tengah jalan, perasaanku berubah..."


"...Berubah?"


"Bukan lagi demi dirimu, tapi demi diriku sendiri."


"Demi dirimu sendiri?"


Aoi-san mengulangi kata-kataku.


"Cepat atau lambat aku akan pindah sekolah. Selama ini aku selalu menganggapnya sebagai hal yang wajar, tapi sejak bertemu Eiji dan Izumi, dan sejak mulai tinggal bersamamu... setiap hari terasa begitu menyenangkan. Aku mulai merasa tidak ingin pindah. Aku mulai berharap, entah bagaimana caranya, agar kehidupan seperti ini bisa terus berlanjut."


Perasaan yang baru pertama kali kuungkapkan ini meremas hatiku tanpa ampun.


"Bagiku yang sudah terbiasa pindah sekolah, perpisahan dengan teman adalah hal lumrah. Entah sejak kapan, aku bahkan tidak lagi merasa kesepian. Aku tidak pernah menyangka orang sepertiku bisa merasakan hal seperti ini. Tapi kupikir... bisa menyadari hal ini pastilah sebuah kebahagiaan."


Aku terus memaksakan kata-kata itu keluar dari mulutku.


"Kamu bilang kamu tidak bisa membalas apa pun padaku, tapi itu salah. Kalau kamu tidak ada di sisiku, aku tidak akan pernah merasakan perasaan ini. Aku pasti akan menyerah dan pindah sekolah lagi tanpa pernah tahu apa yang sebenarnya paling berharga bagiku. Berkat dirimu, akhirnya aku menyadarinya."


Aku sebenarnya sudah lama sadar bahwa akulah yang tidak akan pernah bisa cukup berterima kasih padanya. Hanya saja, aku tidak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata.


"Kamu sudah memberikan balasan yang jauh lebih dari cukup."


"Akira-kun..."


Suaraku bergetar saat menyuarakan isi hatiku. Tapi, aku harus menyampaikannya dengan benar sampai akhir.


"Aku tahu kamu merasa terbebani. Aku tahu itu perasaan yang sulit dihilangkan. Meski begitu, aku ingin menghabiskan sisa waktu yang singkat ini bersamamu. Jadi, ini bukan hanya untukmu. Demi diriku sendiri, kumohon tetaplah bersamaku."


Satu kalimat ini adalah kejujuranku yang tanpa kepalsuan──.


"Aku membutuhkanmu, Aoi-san."


Aku merasa tidak menyampaikannya dengan baik, dan aku tahu aku sedang mengatakan hal yang sangat egois. Tapi setelah akhirnya bisa mengucapkannya, aku merasa lega seolah ada beban berat yang terangkat dari pundakku.


Keheningan menyelimuti kami sesaat, dan entah kenapa suara hujan yang tadi menderu kini terasa sunyi.


"Dibutuhkan oleh seseorang... baru pertama kali ini ada yang mengatakannya padaku..."


Kalimat itu terucap lirih dibarengi suara isakan pelan. Aoi-san tetap menunduk, sehingga aku tidak tahu seperti apa ekspresi wajahnya saat ini.


"Apa... aku boleh tetap berada di sisimu?"


Suaranya sangat kecil, hampir tenggelam oleh sisa suara rintik hujan. Aoi-san menyandarkan dirinya padaku, tangannya mencengkeram kemejaku seolah sedang berpegangan pada satu-satunya harapan.


"Iya. Kumohon, tetaplah di sisiku."


Aku menangkupkan tanganku di atas tangan Aoi-san yang gemetar.


Entah berapa lama waktu telah berlalu. Tanpa kusadari hujan telah reda, dan cahaya matahari mulai mengintip dari celah awan.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close