NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Class no Bocchi Gal wo Omochikaeri Shite Seisokei Bijin ni Shite Yatta Hanashi V1 Chapter 6

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


Chapter 6 

Jika Sebuah Keinginan Bisa Terkabul

Dan lusa kemudian, hari Minggu —.


"Eh! Hiyori-chan datang!?"


Suara ketidakpuasan Izumi bergema di dalam kereta yang sedang menuju fasilitas pemandian air panas.


"Iya. Dia datang kemarin lusa dan pulang kemarin."


"Kenapa kamu tidak memberitahuku!"


Izumi, yang duduk secara diagonal di depanku di kursi kotak untuk empat orang, menggembungkan pipinya. Omong-omong, Aoi-san duduk di sebelahku di sisi jendela, dan Eiji duduk tepat di depanku.


"Dia datang malam hari dan pulang sebelum siang besoknya, jadi tidak ada waktu untuk bertemu."


"Tetap saja, kalau kamu beri tahu, aku kan bisa setidaknya mengantarnya pulang!"


"Mungkin dia tidak enak hati karena merasa tidak bisa santai kalau memberitahumu?"


"Hiyori-chan jahat banget sih..."


Izumi terkulai lesu dengan bahu merosot.


"Padahal Hiyori juga bilang ingin bertemu Izumi."


Aku memilih untuk tidak mengatakan bahwa Hiyori hanya tidak enak hati karena Izumi sangat susah bangun pagi. 


Biasanya berkat Eiji yang menjemputnya setiap pagi, dia tidak pernah terlambat sekolah, tapi di hari libur katanya dia tidak akan bangun sampai lewat tengah hari. Menurut Eiji, terlambat satu jam saat kencan itu masih termasuk "kategori lucu". Hari ini pun, kalau Eiji tidak menjemputnya, dia pasti sudah ketinggalan kereta.


"Aku sudah bilang ke Hiyori kalau aku sudah memberitahu kalian soal kepindahanku, jadi mungkin sebentar lagi dia akan menghubungimu. Sekali lagi, itu salahku karena tidak bisa memberitahu Izumi, jadi maafkan dia ya."


"Aku sudah tidak memikirkan itu lagi kok."


Tapi aku benar-benar ingin bertemu! 


Tulisan itu terpampang jelas di wajahnya yang cemberut.


"Karena Hiyori-chan datang, apakah kamu sudah menceritakan soal Aoi-san?"


Eiji bertanya sambil menenangkan Izumi yang sedang merajuk.


"Iya. Tadinya mau kusembunyikan tapi langsung ketahuan, jadi terpaksa cerita."


Aku mengeluh sedikit sambil menceritakan bagaimana aku ketahuan gara-gara sehelai rambut yang jatuh di lantai.


"Hiyori-chan memang tajam ya, beda dengan Akira~"


"Jangan bicara seolah-olah aku ini tumpul."


"Tenang saja. Laki-laki itu pada dasarnya memang tumpul, jadi Akira cuma salah satu di antaranya."


"......Bagian mana dari jawaban itu yang seharusnya membuatku tenang?"


Terlepas dari laki-laki lain, apa aku memang setumpul itu? Kupikir hanya ingatanku saja yang payah, tapi memang sulit menilai diri sendiri.


"Lalu, apa kata Hiyori-chan?"


"Dia mengerti. Dia bilang akan membantu agar tidak ketahuan orang tua."


"Hiyori-chan pasti bisa diandalkan. Malah, bukannya kamu dimarahi karena menyembunyikannya?"


"Nggak, dia tidak marah soal itu, tapi..."


"Lalu dia marah soal apa?"


"Dia mengira aku dan Aoi-san pacaran. Begitu kubilang tidak, dia malah marah."


"Ah... ya, Hiyori-chan memang keras soal hal-hal seperti itu."


Asli, dia keras sekali... aku diinterogasi habis-habisan. Cara dia mendesakku mirip sekali dengan Ayah kalau sedang marah, jadi terasa makin berat.


"Yah, mungkin kalau nanti ada 'hasilnya', dia bakal memaafkanmu?"


"Hasil, ya..."


Intinya, apa yang ingin dikatakan Izumi dan Hiyori adalah: kalau sudah tinggal bersama, ambil tanggung jawab dan pacaranlah. Aku paham maksud mereka, dan aku mengerti soal pergaulan muda-mudi dan sebagainya. Kalau aku jadi orang luar pun, aku pasti akan bilang hubungan seperti ini tidak masuk akal.


Tapi, maaf karena tidak bisa memenuhi ekspektasi kalian, hubungan kami tidak seperti itu. Atau lebih tepatnya, kami berdua tidak punya kemewahan untuk memikirkan hal itu. Karena kami memiliki batas waktu yang sangat jelas.


Tentu saja, kalau ditanya apakah perasaan seperti itu nol... entahlah.

Aku mencoba bertanya pada hatiku sendiri, tapi hasilnya tidak begitu jelas. Mungkin semuanya baru akan menjadi jelas setelah semua masalah ini selesai, begitulah pikirku secara samar.



Setelah terguncang di kereta selama satu jam, kami tiba di stasiun terdekat. Dari sana kami berjalan sekitar dua puluh menit dan sampai di fasilitas onsen tujuan kami, namun...


"Benar di sini kan?"


"Mungkin..."


Wajar saja Izumi bicara dengan nada tidak yakin. Di depan kami terbentang hutan pinus yang tinggi, dan di bawahnya hanya ada gerbang yang mirip pintu masuk kuil. Sekilas tidak terlihat seperti ada fasilitas onsen di sini. Sejujurnya, ini cuma terlihat seperti hutan biasa.


"Ayo kita masuk saja dulu."


"Benar."


Eiji memimpin di depan dan kami melewati gerbang itu. Di tengah hutan pinus, kami menyusuri jalan setapak berbatu, dan tak lama kemudian terlihat sebuah bangunan kayu. Sekilas tampak seperti rumah tua, tapi begitu melangkah ke dalam, aku terkejut.


"Ooh... keren banget."


"Modis sekali ya~ ♪"


Lampu-lampu hias yang megah tergantung dari langit-langit tinggi yang terbuka, lantainya berbatu hitam menciptakan kontras cahaya dan kegelapan yang dramatis. 


Salah satu sisi dindingnya adalah jendela kaca besar, membuat ruangan terasa jauh lebih luas dari aslinya. Sepertinya rumah tua ini direnovasi bagian dalamnya menjadi sangat bergaya. Di balik jendela kaca, terbentang dek kayu luas dengan pemandangan yang luar biasa.


Setelah memberitahu resepsionis tentang reservasi kami, pelayan segera mengantar kami. Berjalan di atas dek kayu yang ditembus cahaya matahari dari sela-sela pohon, kami pun sampai di pondok yang akan kami gunakan.


Begitu pintu dibuka dan kami masuk, aroma rumput yang segar langsung menyentuh hidung. Ruangannya adalah kamar tatami seluas delapan jo, dilengkapi dengan meja dan kursi kayu yang tampak antik. 


Di balik jendela depan terdapat teras, dan di sana dua bak mandi kayu berjejer berdampingan. Suara aliran air onsen yang jatuh dari pancuran bergema secara estetis sampai ke dalam ruangan.


"Wah, hebat! Suasananya dapet banget!"


Izumi berseru riang dan segera masuk ke kamar. Dia mengajak Aoi-san berdiri di dekat jendela, lalu mulai heboh sambil menatap onsen. Memang benar kata Izumi, ini adalah pemandian terbuka pribadi yang punya atmosfer sangat bagus.


Lokasi, tampilan luar pondok, hingga interiornya—semuanya tampak dibangun dengan dedikasi tinggi pada material kayu, menciptakan nuansa "surga tersembunyi" di tengah hutan. Kesan tempat peristirahatannya benar-benar terasa eksklusif bagi mereka yang tahu saja.


Sebagai anak SMA, rasanya tempat ini agak terlalu mewah bagi kami.


"Sip. Ayo langsung masuk ke onsen!"


"Iya."


"Kalau begitu kami ganti baju di wastafel dulu ya, kalian berdua bersiaplah di kamar!"


Sambil melihat mereka berdua menghilang ke arah wastafel, aku mulai berpikir sambil melepas pakaian bersama Eiji.


Baru terpikir sekarang, tapi apa ini benar-benar tidak apa-apa?


Meski tidak perlu khawatir dilihat pengunjung lain, tetap saja ini pemandian campur untuk remaja laki-laki dan perempuan. Walaupun melilitkan handuk dan tidak telanjang bulat, risiko "insiden melorot" itu tidak nol.


Bagi aku atau Eiji, satu atau dua insiden melorot mungkin bukan masalah besar, tapi Izumi dan Aoi-san... 


Aku menggelengkan kepala sekuat tenaga untuk mengusir hawa nafsu yang mencoba merasuk, tapi mustahil bisa hilang begitu saja.


Ya sudahlah. Kalau mereka tidak sengaja "terbuka", aku akan tawarkan "pertukaran setara" dengan membuka milikku juga sebagai bayarannya.


"Akira, ada apa?"


"Ah, tidak..."


Eiji sudah siap sedia dengan handuk melilit di pinggangnya. Kenapa anak ini bisa setenang itu, sih...


"Ayo masuk duluan."


"Boleh."


Kami keluar ke teras, menyiramkan air panas ke tubuh, lalu masuk ke bak mandi. Eiji menenggelamkan tubuhnya di bak yang berbeda dariku.


"Ahfuuu..."


Suara aneh tanpa sadar lolos dari mulutku saat kehangatan onsen menyelimuti seluruh tubuh.


Awalnya terasa sedikit panas, tapi lama-lama suhunya terasa pas. Mungkin karena kandungan airnya yang agak kental, sensasi hangat yang menempel di kulit ini bisa bikin ketagihan. Rasanya jauh lebih rileks dibandingkan mandi di rumah biasanya.


Tepat saat efek onsen mulai meredakan gejolak gairahku tadi...


"Maaf menunggu lama!"


Suara Izumi dari belakang menggema melampaui kepalaku hingga ke tengah hutan.


Seketika, hawa nafsu yang tadi mulai padam langsung berkata "halo" lagi. Tingkat tegangku melonjak ke titik maksimal dalam sekejap. Sambil berusaha memasang wajah tenang agar tidak ketahuan, aku menoleh—dan seketika itu juga aku merasa putus asa melihat pemandangan di depan mataku.


"...Pakaian apa itu?"


Aoi-san dan Izumi muncul mengenakan pakaian yang tidak biasa, mirip seperti one-piece panjang.


"Ini namanya yuamigi, baju khusus yang dipakai saat masuk ke onsen." 


"Izumi-san sudah membelikannya untukku juga." 


Mendengar itu, aku teringat kembali alasan kenapa Aoi-san tidak keberatan saat Izumi bilang ini pemandian campur. Saat mereka berbisik-bisik waktu itu, pasti Izumi memberitahunya bahwa dia sudah menyiapkan yuamigi, makanya dia setuju. Jangan-jangan Eiji juga tidak keberatan karena dia sudah tahu?


Saat aku melirik ke arah Eiji, dia hanya menyunggingkan senyum penuh arti. Padahal aku memercayaimu, dasar pengkhianat!


"Are-re? Jangan-jangan Akira-kun mengharapkan 'penampilan' yang lain ya~?"


"Enggak, tuh!"


Tentu saja mengharap, bodoh! Beraninya kalian mempermainkan perasaan laki-laki SMA yang sedang masa pertumbuhan begini!


Entah itu yuamigi atau apa, pakaian itu bahkan lebih tertutup daripada baju renang. Kalau begini sih, baju musim panas yang agak terbuka malah lebih banyak memperlihatkan kulit. 


Apa yang harus kulakukan dengan hawa nafsu murniku yang tidak punya tempat pelampiasan ini!


"Kalau begitu, kami masuk ya—!"


Izumi membilas tubuhnya sejenak, lalu tanpa ragu langsung melompat ke bak mandi yang ditempati Eiji.


Tunggu sebentar. Bak mandi ini jelas-jelas tipe untuk dua orang, tidak cukup luas untuk tiga orang. Kalau Izumi masuk ke bak yang sama dengan Eiji, itu artinya...


"P-permisi... aku masuk ya..."


"I-iya! Silakan!"


Aoi-san, dengan wajah malu-malu, melangkah masuk ke dalam bak mandi yang sedang kutempati.


Astaga, Eiji... kau, apa kau sudah tahu akan jadi begini makanya sengaja memilih bak yang berbeda dariku?


Saat aku melirik ke arah Eiji lagi, dia hanya mengangguk pelan dengan ekspresi wajah setenang patung Buddha. Maafkan aku karena sempat menganggapmu pengkhianat... Sebenarnya aku selalu percaya padamu, kawan!


"Airnya enak ya..."


"A-ah, iya. Benar..."


Jantungku serasa mau copot karena jarak kami yang sangat dekat. Walaupun dia memakai yuamigi, bahunya tetap terekspos, dan karena rambutnya digelung ke atas, tengkuknya terlihat jelas. Ditambah lagi dengan jarak sedekat ini, bagaimana mungkin aku bisa pura-pura tidak sadar!


"Aku minta maaf karena merusak ekspektasimu, tapi dengan begini kamu mau memaafkanku, kan?"


"Hah? Maaf kenapa? Lagipula dari awal aku tidak berekspektasi apa-apa, kok."


Kumaafkan! Semuanya kumaafkan! Begini saja sudah lebih dari cukup, jadi tentu saja kumaafkan!


Sambil berusaha menjaga muka tembok, di dalam hati aku tidak berhenti berteriak, "Good job, Izumi!" Maafkan aku karena pernah sekali saja menganggap kalian pasangan bodoh.


"Ah~ rasa lelah setelah ujian benar-benar hilang ya~ ♪"


Izumi berujar sambil meletakkan handuk di atas kepalanya seperti bapak-bapak.


"Mungkin kita harus ke sini setiap kali selesai ujian."


"Ide bagus, Eiji-kun. Ayo lakukan!"


"Tapi, sebentar lagi libur musim panas. Mungkin berikutnya setelah ujian tengah semester dua nanti."


"Libur musim panas ya..."


Aku mengulang kata-kata Eiji. Waktu berjalan begitu cepat, tidak terasa sudah satu bulan aku tinggal bersama Aoi-san. Semester satu hanya tersisa dua minggu lagi.


"Akira, ada apa?"


"Tidak... aku hanya berpikir semester satu tinggal dua minggu lagi, rasanya gimana ya."


"Kamu tidak menantikan libur musim panas?"


"Bukan begitu. Hanya saja, tepat di saat situasi Aoi-san mulai membaik, kita malah masuk libur panjang... Rasanya sayang saja, seandainya ada lebih banyak waktu, mungkin hasilnya bisa berbeda."


"Memang benar, kita ingin semuanya sudah punya bentuk yang jelas sebelum libur panjang dimulai," sahut Eiji setuju.


Benar kata Eiji.


Sayang sekali rasanya, setelah jarak dengan teman sekelas mulai terkikis dan kami sedang gencar-gencarnya memperbaiki citra di mata guru, kami malah harus masuk libur musim panas. Tidak ada jaminan apa yang sudah kami bangun dengan susah payah akan tetap utuh saat sekolah dimulai lagi nanti.


Bukan hanya itu. Setiap hari yang kuhabiskan untuk menyelesaikan masalah Aoi-san berarti sisa waktuku di sini juga terus berdetak menuju akhir. Kesadaran itu juga yang membuatku merasa gelisah. Bukannya masih ada semester dua dan tiga, tapi hanya tinggal semester dua dan tiga saja. Meski pindah rumah masih delapan bulan lagi, kalau dikurangi libur panjang, praktis waktuku tinggal lima bulan. Rasa cemas itu mulai menghantuiku.


"Jangan khawatir. Kita tetap bisa bertemu teman sekelas saat libur musim panas kok. Kita tinggal buat rencana main bareng, dan kegiatan sukarelawan juga tetap ada selama libur. Serahkan saja bagian itu padaku! ♪"


"Terima kasih ya."


Aku benar-benar selalu merepotkan Izumi. Malah hampir semuanya dia yang mengatur. Karena tidak menyangka dia sampai memikirkan sejauh itu, kata-kata terima kasih meluncur begitu saja dari mulutku.


"Nggak perlu terima kasih segala. Aku melakukannya karena aku mau."


"Tapi, tetap saja biarkan aku mengatakannya. Benar-benar terima kasih."


"Kan sudah kubilang tidak perlu. Kalau kamu bilang sekali lagi, kupukul ya."


Padahal aku tulus berterima kasih, tapi entah kenapa dia malah terlihat kesal. Kenapa, sih?


"Aku mengerti Akira merasa bertanggung jawab," Eiji menengahi sambil menenangkan Izumi yang bibirnya sudah mengerucut.


"Karena kamu yang mengulurkan tangan, kamu merasa harus menyelesaikannya sendiri. Kamu tidak ingin memberi beban terlalu besar pada kami. Tapi, aku dan Izumi merasakan hal yang sama denganmu, Akira."


"Eiji dan yang lain juga sama...?"


"Kami membantu karena ada hal yang kami yakini. Bukan karena diminta, atau sekadar karena kita teman sekelas. Sederhananya, karena kami memang ingin membantu. Awalnya memang karena Akira yang meminta, tapi sekarang, Aoi-san sudah menjadi teman yang berharga bagi kami juga."


"Eiji..."


"Kalau kamu sudah paham itu, tidak perlu ada kata terima kasih lagi."


"Betul, betul. Begitu maksudnya," Izumi mengangguk-angguk mantap.


Mendengar kata-kata Eiji, aku teringat apa yang pernah dia katakan dulu.


—Manusia pada dasarnya tidak akan pernah bisa saling memahami sepenuhnya. 


Seberapa akrab pun atau seberapa lama pun menghabiskan waktu bersama, kita tidak bisa mengerti perasaan orang lain tanpa syarat. Itulah sebabnya, untuk menjaga hubungan dengan orang yang berharga, berdiskusi dan berbicara itu sangat penting.


Memang benar. Aku tidak menyangka mereka berdua sangat menghargai Aoi-san sampai sejauh itu. Rasa terima kasih yang berlebihan atau merasa telah memberi beban dan merepotkan mereka... mungkin memikirkan hal-hal seperti itu justru tidak sopan terhadap ketulusan perasaan mereka. Maka untuk terakhir kalinya, tanpa mengucapkannya, aku bergumam "Terima kasih" di dalam hatiku.


"Aoi-san, apa ada tempat yang ingin kamu kunjungi saat libur musim panas nanti?"


"Eh, aku? Hmm..."


Aoi-san tampak berpikir serius. Setelah merenung agak lama, dia menjawab dengan wajah sedikit tersipu dan senyum malu-malu.


"Asal bersama kalian semua, ke mana pun aku mau."


"Akira-kun, tukar tempat sebentar."


"Eh?"


Izumi keluar dari bak mandi yang dia tempati bersama Eiji, lalu melangkah mantap mendekati kami. Dia menarik lenganku dan menyeretku paksa keluar dari bak mandi, lalu begitu dia masuk menggantikanku, dia langsung memeluk Aoi-san dengan erat.


"Aoi-san, kamu baik banget sih! Ayo kita pergi ke banyak tempat bersama ya!"


"I-iya. Terima kasih."


"Aaah~ Aoi-san, di mana-mana terasa lembut dan nyaman sekali..."


Aoi-san tampak sedikit bingung karena didekati secara agresif oleh Izumi. Aku hanya bisa memandangi mereka berdua sambil berendam di bak yang sama dengan Eiji. Padahal aku baru saja menikmati momen berendam bareng Aoi-san... tapi yah, sebaiknya tidak usah diucapkan.


Begitulah, kami menikmati pemandian air panas ini sepuas hati hingga batas waktu habis. Kalau merasa pusing karena suhu panas, kami keluar sejenak untuk istirahat, lalu mencoba bertukar bak mandi. 


Setelah merasakan kemewahan berendam di tengah alam liar, kami meninggalkan fasilitas tersebut sambil berjanji akan datang lagi. Rasanya menyenangkan bisa bersantai dan mengetahui perasaan Eiji serta Izumi yang sebenarnya. 


Aku sempat berpikir ini akan menjadi awal dari libur musim panas yang sempurna. Namun... saat itu, aku tidak menyadari bahwa aku telah melewatkan satu hal yang sangat penting: perasaan Aoi-san yang sesungguhnya.



Setelah waktu pemakaian habis, kami bersantai di lobi sambil menikmati es krim.


"Asli, onsen-nya mantap banget."


"Iya, benar."


Aku duduk berdampingan dengan Aoi-san, mendinginkan tubuh yang masih terasa hangat dengan es krim. Biasanya orang minum susu setelah berendam, tapi es krim juga pilihan yang tidak buruk.


"Izumi, rencana setelah ini apa?"


"Aku mau pergi minta bantuan Dewa."


"Hah? Minta bantuan Dewa?"


Baru saja aku mau protes "apa-apaan sih anak ini", aku teringat kalau Izumi memang sering bicara aneh secara tiba-tiba. Ini bukan yang pertama kali, jadi aku menahan diri.


"Akira-kun yang sering pindah-pindah mungkin tidak tahu, tapi daerah ini adalah tempat wisata terkenal. Di dekat sini ada kuil yang terdaftar sebagai Warisan Dunia UNESCO. Ini adalah tempat wisata wajib di prefektur ini, power spot yang populer bukan cuma buat orang Jepang tapi juga turis asing."


"Heh... sepertinya aku pernah dengar."


"Aku sudah lama ingin ke sana, dan aku ingin pergi bersama kalian semua."


"Boleh juga. Mumpung sudah di sini, ayo kita mampir."


Setengahnya mungkin cuma hobi Izumi, tapi kalau tempatnya seterkenal itu, tidak ada ruginya berkunjung. Bukan bermaksud "minta tolong pada Dewa saat terdesak" saja, tapi tidak ada salahnya mendoakan masa depan kami kepada Sang Pencipta. 


Setelah menghabiskan es krim, kami kembali ke stasiun dan naik kereta menuju destinasi tersebut.



"......Luar biasa luasnya."


Kata-kata itu terlontar begitu saja saat aku tiba di kuil. Setelah melewati jalan utama (omotesando) dan melintasi gerbang torii batu yang besar, terbentang area yang sangat luas. 


Melihat papan petunjuk, sepertinya di sini bukan hanya ada satu kuil utama, tapi banyak bangunan bersejarah yang berjejer. Katanya butuh waktu rata-rata dua jam untuk berkeliling semuanya—luas sekali, kan?


Sekeliling kami ditutupi pohon-pohon cedar tinggi yang menghalangi sinar matahari, membuat suasana terasa cukup sejuk meskipun sudah awal musim panas. Benar-benar atmosfer mistis yang layak disebut sebagai power spot.


"Rasanya keindahannya sulit digambarkan dengan kata-kata..."


"Iya. Ternyata ada tempat seperti ini di dekat sini ya," sahut Aoi-san sambil terpana.


"Ayo, jangan cuma bengong, jalan!" 


"Iya, iya."


Kami berjalan mengikuti Izumi yang memimpin di depan. Ngomong-ngomong... karena ini tempat wisata populer, orangnya banyak sekali. Mungkin karena hari Minggu, tapi aku terkejut melihat turis asing ternyata lebih banyak daripada orang Jepang sendiri.


Sambil menyusuri jalan yang sedikit menanjak, di sebelah kiri terlihat pagoda lima tingkat. Setelah melewatinya dan berjalan lebih jauh, bangunan yang sepertinya kuil utama mulai terlihat. Kami membayar biaya masuk di loket, berjalan sebentar, dan akhirnya sampai di depan aula utama.


"Kita berdoa di sini?"


"Di sini boleh juga, tapi tempat yang ingin kutuju ada di bagian lebih dalam lagi."


"Bagian dalam?"


Setelah melewati aula utama ke arah timur, terlihat tangga batu yang memanjang jauh ke atas.


"Kita harus mendaki ini...?"


"Ada dua ratus anak tangga, jadi ayo semangat!"


"Dua ratus..."


Aku mengikuti Eiji dan Izumi yang mendaki dengan lincah. Tak lama kemudian, aku menyadari langkah Aoi-san mulai melambat.


"Aoi-san, kamu tidak apa-apa?"


"Iya. Tidak apa-apa kok..."


Tapi senyum di wajahnya jelas menunjukkan kalau dia kecapekan. Wajar saja, tangga ini cukup curam.


"Tidak perlu dipaksakan mengikuti kecepatan mereka berdua, ayo kita naik pelan-pelan saja."


"Iya. Terima kasih."


Saat aku mengulurkan tangan, Aoi-san meraih tanganku meski tampak sedikit sungkan. Sesaat kemudian, aku sadar bahwa aku baru saja melakukan sesuatu yang luar biasa tanpa pikir panjang.


Ngapain aku pegangan tangan secara natural begini!?


Bukan, aku tidak punya niat buruk. Aku cuma ingin membantu Aoi-san yang kelihatan kepayahan agar lebih ringan mendaki, tapi kelembutan tangannya seketika membuatku kehilangan ketenangan. Aku mencoba mengingat kapan terakhir kali aku menggenggam tangan perempuan.


Benar, terakhir kali itu waktu SD saat menari folk dance di kelas. Aku dipasangkan dengan anak perempuan yang entah kenapa membenciku, dan aku teringat kenangan buruk menari sambil hanya bersenDewa ujung jari dengan wajahnya yang tampak jijik. Kenapa sih cuma memori sampah begini yang kuingat dengan jelas? Sialan.


"Ada apa?" tanya Aoi-san sambil sedikit memiringkan kepalanya.


"A-ah, tidak... aku cuma berpikir, apa kamu tidak merasa risih berpegangan tangan denganku?"


"Eh...?"


Aoi-san seolah baru tersadar akan situasi ini dan pipinya mulai memerah.


"Nggak kok. Aku tidak merasa risih."


"B-begitu ya..."


Genggaman tangan Aoi-san pada tanganku terasa sedikit menguat.


"Tangan Akira-kun hangat ya."


"B-benarkah? Mungkin karena suhu tubuhku naik gara-gara naik tangga."


Mana mungkin aku bilang kalau suhu tubuhku naik karena gugup. Tapi berkat ini, memori buruk tentang memegang tangan perempuan sepertinya akan segera tertimpa oleh kenangan manis. 


Aku terus mendaki tangga, dan saat sampai di atas, aku kelelahan bukan karena tenagaku habis, tapi karena tegang setengah mati. Begitu mengatur napas dan melihat sekeliling, kulihat Eiji dan Izumi melambai dari kejauhan.


"Maaf, membuat kalian menunggu."


"Nggak apa-apa. Tapi, apa kalian tadi mendaki sambil pegangan tangan?" 


"Nggak, ini tuh... Aoi-san kelihatan capek jadi aku cuma bantu menariknya saja."


"Iya, benar. Tidak ada maksud mendalam apa-apa kok."


Kami berdua buru-buru melepaskan tangan sambil melontarkan alasan yang tumpang tindih.


"Nggak apa-apa kali. Daripada itu, lihat ini."


Padahal bagi aku... itu adalah peristiwa besar dalam hidupku. Saat aku mengikuti Izumi, di sana berdiri sebuah pohon cedar tua.


"Apa ini...?"


Pohon cedar itu terpotong rapi di ketinggian sekitar sepuluh meter dari tanah, tanpa ada satu pun dahan, dan bagian dalam batangnya hampir setengah berongga. 


Sekilas tampak seperti sudah mati, tapi jika dilihat lebih dekat, dari bagian batangnya tumbuh dahan-dahan kecil baru dengan daun-daun hijau. Melihatnya tetap hidup dalam kondisi seperti itu, aku dibuat takjub oleh kuatnya vitalitas tumbuhan.


Melihat tali suci (shimenawa) yang melilitnya, sepertinya ini adalah pohon suci (goshinboku). Banyak orang mengerumuninya, semuanya menangkupkan tangan untuk berdoa.


"Pohon ini adalah pohon cedar berusia lebih dari enam ratus tahun yang disebut 'Kanausugi' (Cedar Pengabul Doa)." 


"Kanausugi?"


"Katanya, kalau kita berdoa di pohon ini, keinginan kita akan terkabul."


Setelah mengatakannya, Izumi menatap pohon itu dengan ekspresi serius yang jarang ia perlihatkan. Profil wajahnya tampak begitu rapuh, sangat tidak terbayangkan dari sosok Izumi yang biasanya ceria.


"Aku sudah lama ingin ke sini, tapi tidak pernah punya kesempatan..."


"Kenapa?"


"Karena aku tidak punya sesuatu yang ingin kuminta pada Dewa. Mungkin orang pikir hal sepele pun boleh diminta, tapi aku merasa pengabulan doa seperti ini bukan sesuatu yang bisa didapat berkali-kali. Makanya, aku bertekad datang ke sini hanya sekali saja. Saat aku punya keinginan yang benar-benar ingin kukabulkan."


Begitu ya. Benar-benar khas Izumi yang menyukai kuil.


"Lalu? Apa yang mau kamu minta?" tanyaku dengan nada santai.


"Agar masa depan Aoi-san, semoga menjadi sesuatu yang cerah."


"Eh..."


Suara terkejut itu bukan datang dariku, melainkan dari Aoi-san.


"Izumi-san..."


"Tidak ada aturan kalau doa itu harus untuk diri sendiri, kan? Karena permohonanku tidak terlalu spesifik, mungkin Dewa juga bingung mengabulkannya. Tapi sebagai ganti dari tidak meminta detail yang rumit, aku cuma ingin Aoi-san bisa menghabiskan hari-harinya dengan menyenangkan. Apa pun jadilah."


Izumi berucap seolah sedang berbicara pada pohon itu, lalu ia memejamkan mata dan menangkupkan tangan.


"Aku bukan orang yang terlalu religius, tapi jika ada satu keinginan yang bisa dikabulkan, aku merasakan hal yang sama dengan Izumi," kata Eiji yang kemudian ikut menangkupkan tangan di samping Izumi.


"Kalian berdua..."


Mustahil aku bisa menahan luapan emosi di dalam dada. Izumi menggunakan satu-satunya kesempatan berdoa yang ia simpan di hatinya, demi Aoi-san. Aku tidak bisa menahan rasa haru yang membasahi mata; sebelum air mata itu tumpah, aku memejamkan mata dan ikut menangkupkan tangan.


──Dewa, kumohon, kabulkanlah doa kami.


Entah sudah berapa lama aku seperti itu. Tak lama kemudian, aku menyadari suara isakan pelan di sampingku lalu membuka mata. Aoi-san berdiri di sebelahku, menangkupkan tangan dengan sebutir air mata yang jatuh membasahi pipinya.



Setelah itu, kami membeli jimat bermotif Kanausugi di toko suvenir. Jimat berbentuk gantungan kunci dengan lonceng kecil dan replika pohon cedar yang menggemaskan. Kami sepakat untuk memakainya bersama di tas masing-masing sampai semua masalah Aoi-san tuntas.


Kami sempat berkeliling melihat-lihat area kuil sebelum akhirnya pulang. Di tengah jalan, kami berbelanja di toko oleh-oleh lalu naik ke kereta. Ketiga temanku sepertinya kelelahan setelah bermain seharian dan langsung tertidur lelap. Aku sendiri menatap pemandangan yang berlalu di luar jendela dan tak kuasa menahan pikiran...


Andai saja hari-hari seperti ini terus berlanjut selamanya──.


Namun, itu adalah doa yang mustahil dikabulkan. Bahkan jika masalah Aoi-san selesai, masa depan di mana aku harus berpisah dengan mereka semua tetap menanti. Memikirkan hal itu, entah kenapa aku merasakan rasa sakit yang nyata di lubuk hatiku.


Sejak kapan ya──? Aku yang sudah terbiasa pindah sekolah, yang selalu merasa pasrah terhadap hubungan manusia yang semakin menipis setiap kali aku pergi, kini menjadi sangat tidak ingin pindah. 


Sejak bertemu kembali dengan Eiji dan berteman dengan Izumi, aku memang mulai merasa sayang untuk pindah. Namun, aku tidak pernah merasakan penolakan sejelas ini sebelumnya.


Aku melirik Aoi-san yang menyandarkan kepalanya di bahuku dengan wajah tidur yang tenang, dan aku menyadarinya.


Benar. Sejak aku mulai tinggal serumah dengan Aoi-san, rasa enggan untuk pergi ini menjadi begitu kuat. Aku tidak tahu apakah ini karena rasa keadilan karena tidak bisa membiarkannya sendiri, atau karena perasaan lain. Yang jelas, aku ingin terus bersama Aoi-san lebih lama lagi. Begitu aku menyadari hal itu, rasa sakit di dada perlahan berubah menjadi kesedihan dan kesepian.


"Fuu..."


Aku menghela napas panjang untuk menekan emosiku. Saat aku kembali menatap ke luar jendela, matahari terbenam yang kulihat tadi terasa berbeda. Kelak, setiap kali aku melihat matahari terbenam yang indah seperti ini, aku pasti akan teringat hari ini.


Memikirkan hal itu, langit berwarna jingga kemerahan yang menyinari kami sekarang terasa begitu menyedihkan.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close