Interlude 2
"……Miori."
"……Reita-kun.
Kamu tidak pernah membalas saat aku yang menghubungi, tapi sekarang malah
tiba-tiba menelepon. Ada apa dengan perubahan hatimu ini? …Aku khawatir,
tahu? Aku, dan semua orang
juga."
"……Justru
Miori, postingan itu, apa maksudnya?"
"Apa
maksudnya apa, aku hanya jujur menceritakan semuanya pada semua orang."
"Dengan
cara seperti itu, hanya akan membuat orang semakin memperhatikan hal buruk
tentang kamu."
"Aku tahu.
Tapi tetap saja. …Aku tidak mau dilindungi oleh pengorbanan diri Reita-kun. Dosa
yang kuperbuat harus aku tanggung sendiri. Kalau terus berbohong… pasti nanti
aku akan menyesal."
"Sebaiknya kamu hapus sekarang. Kalau sekarang masih
bisa, dampaknya tidak terlalu besar. Kamu sejak awal tidak punya dosa apa pun. Reputasi burukmu itu semua karena
aku. Aku yang memaksamu dengan paksaan hubungan pacar bersyarat. Padahal aku
tahu kamu menyukai Natsuki. Aku sudah tahu sejak awal risiko rumor seperti itu
bisa muncul, tapi aku diam saja. …Ini salahku. Makanya dosa itu harus
aku tanggung."
"Bukan begitu. Jangan pikir semuanya salahmu sendiri. Aku yang memutuskan untuk pacaran dengan
Reita-kun. Bahkan itu pun kamu anggap salahmu… itu sama saja merendahkan
aku."
"……Bukan itu
maksudku. Hanya saja, karena perasaanku sendiri, aku telah mendorongmu ke
jurang."
"Makanya
video itu adalah bentuk penebusan dosa? Dengan mengorbankan dirimu sendiri,
agar aku bisa kembali ke lingkungan yang lebih nyaman? ——Aku tidak mau. Saat
itu aku hanya tidak bisa mengendalikan perasaanku sendiri dan terpojok
sendirian. Bukan salah Reita-kun."
"Aku sedang
bicara bahwa aku yang menciptakan penyebabnya…!"
"Kamu yang
salah paham sejak awal. Seperti yang sudah berkali-kali kukatakan, aku pacaran
dengan Reita-kun atas kemauanku sendiri. …Aku senang, tahu? Karena kamu bilang kamu menyukaiku."
"……"
"Saat itu
meski aku masih menyukai Natsuki, aku menerima pengakuanmu karena kupikir suatu
saat aku bisa menyukaimu. Tapi aku malah mengkhianatimu. Makanya yang harus
minta maaf adalah aku. Maaf sudah membuatmu kacau. Seharusnya Reita-kun yang
marah padaku yang selingkuh."
"……Kamu
terlalu baik hati, Miori."
"Reita-kun
juga ternyata cukup keras kepala ya."
"……Baiklah.
Aku akan menghormati pilihanmu. Aku tidak akan ikut campur lagi."
"……Hei,
Reita-kun. Apa ini… perpisahan?"
"Siapa
tahu."
"Walau kamu
berpura-pura, aku tahu percakapanmu dengan Natsuki dan yang lain… Besok masa
skorsingmu selesai kan? Kembalilah ke sekolah. Kita bisa bersenang-senang
bersama semua orang lagi."
"Kalau aku
berada di dekatmu, aku pasti akan menyakitimu lagi."
"Reita-kun
yang menghilang justru lebih menyakitkan bagiku."
"Miori."
"…Apa?"
"Hubungan
kita memang singkat, tapi terima kasih. Aku mendoakan kebahagiaanmu dengan
sepenuh hati."
"Reita-kun? Tunggu sebentar…! Reita-kun!"



Post a Comment