NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kaji Daiko no Arubaito o Hajimetara Gakuen Ichi no Bishojo no Kazoku ni Kiniira re Chaimashita V4 Chapter 1

 Penerjemah: Ramdhian

Proffreader: Ramdhian


Chapter 1

Celengan Pernikahan

Di pagi buta, saat langit baru mulai memutih, Haruto bangkit dari kasur dan meregangkan tubuh lebar-lebar. Ia terbangun di waktu yang hampir sama seperti biasanya, lalu duduk di tepi ranjang sambil memandangi sekeliling kamarnya


Kamar yang ia tempati sedari kecil.


Tak ada yang berubah, tidak ada yang istimewa; sebuah kamar pribadi yang sama seperti hari-hari sebelumnya.


Namun entah mengapa, pemandangan itu terasa baru di mata Haruto.


Merasakan suatu keajaiban, Haruto memiringkan kepala sedikit sementara tatapannya berkelana di dalam kamar. Kemudian, ia beranjak dari kasur, membuka tirai jendela, dan menatap pemandangan di luar.


Di sanalah Haruto menyadarinya.


Bukan hanya kamarnya, tapi pemandangan di luar pun terasa baru. Padahal itu pemandangan dari jendela yang sudah sangat ia kenal, namun entah kenapa rasanya seolah dunia yang berbeda.


Mengapa keajaiban seperti ini bisa terjadi?


Haruto memikirkan perbedaan antara hari ini dan kemarin. Dan jawabannya langsung muncul di kepalanya yang baru saja bangun.


Ia sudah punya pacar.


Seorang gadis yang ia temui di tempat kerja sambilan sebagai asisten rumah tangga, yang kemudian memikat hatinya.


Ia sempat berbohong, berpaling dari perasaannya sendiri, dan mencoba melarikan diri. Namun, ia telah mengungkapkan semuanya dan mengutarakan isi hatinya sejujur-jujurnya. Alhasil, ia bisa mulai berkencan dengan Ayaka sebagai kekasih sejati.


“Punya pacar ternyata sehebat ini ya...”


Mentari pagi mulai terbit di kejauhan. Cahaya tampak begitu agung di mata Haruto, yang kemudian bergumam pelan menyadari perubahan dalam hatinya sendiri. Hanya dengan mengingat kejadian kemarin, hanya dengan fakta bahwa Ayaka kini menjadi kekasihnya, hatinya terasa membumbung tinggi penuh kegembiraan.


Haruto mengembuskan napas dalam-dalam bersama emosi yang meluap di dada demi menenangkan diri, lalu memulai rutinitas belajar paginya. Berkat hilangnya ganjalan perasaan yang selama ini menyumbat hatinya, ia bisa konsen belajar dengan intensitas yang sudah lama tidak ia rasakan.


Setelah menghabiskan waktu pagi dengan fokus belajar yang tinggi, Haruto kemudian makan siang bersama neneknya. Setelah itu, sambil menahan perasaan yang menggebu-gebu, ia bergegas menuju kediaman Toujou.


Sepanjang pagi ia memang bisa belajar dengan fokus, namun di saat-saat jeda atau saat menghela napas, senyuman Ayaka selalu terbayang di benaknya.


Apa pun yang ia lakukan, sosok gadis itu selalu ada di sudut pikirannya.


Di dalam kepala Haruto, kini telah tersedia tempat khusus sepenuhnya untuk Ayaka.


Jalanan di kawasan perumahan menuju rumah keluarga Toujou yang sudah sering ia lalui musim panas ini terasa lebih singkat karena Haruto berjalan lebih cepat dari biasanya.


Setibanya di depan rumah dalam waktu yang lebih singkat, ia menekan bel pintu dengan gerakan terbiasa, meski terselip sedikit ketegangan yang berbeda dari sebelumnya.


“Ya! Aku sudah menunggumu, Haruto-kun!”


Suara Ayaka yang terdengar ceria menyahut dari interkom.


Hanya dengan mendengar suara itu, ekspresi Haruto spontan menjadi cerah.


Ia menunggu di depan pintu dengan detak jantung yang sedikit lebih kencang dari biasanya. Sesaat kemudian, pintu terbuka dan Ayaka melompat keluar.


“Selamat datang, Haruto-kun!”


Ayaka menyambutnya dengan senyuman yang bahkan seolah bisa meredupkan teriknya matahari musim panas.


“Permisi,” jawab Haruto sambil ikut tersenyum lebar, menanggapi Ayaka yang tampak seperti ingin segera memeluknya.


Keduanya tatap-tatapan dengan senyum penuh kebahagiaan, lalu perlahan mencoba merengkuh lengan satu sama lain untuk berpelukan. Namun, tepat sebelum itu terjadi, pintu ruang tamu terbuka lebar dengan bunyi brak!, dan Ryota berlari keluar dengan kecepatan luar biasa.


Ia berlari sekuat tenaga, melesat melewati kakaknya, dan langsung memeluk pinggang Haruto dengan erat.


“Onii-chan sudah jadi pacarnya Onee-chan, ‘kan?!”


Mata Ryota berbinar-binar luar biasa saat ia mendongak menatap Haruto dengan suara riang.


“Dengan begitu, asal ada uang, Onii-chan bisa nikah sama Onee-chan, ‘kan!”


“Y-Yah, begitulah...”


Haruto kewalahan menghadapi semangat Ryota yang tampak sangat gembira, sehingga ia hanya bisa mengangguk sambil tersenyum kecut tanpa bisa membantah.


Mendengar reaksi Haruto yang seolah mengiyakan, wajah Ryota semakin berseri-seri. Melihat tingkah adiknya, Ayaka sedikit memiringkan kepala dan menatap Haruto.


“Uang? Maksudnya bagaimana?”


“Ah... Sebenarnya waktu kita berendam di pemandian air panas pas camping, Shuuichi-san menjelaskan kepada Ryota-kun kalau menikah itu butuh uang...”


Ketika Ryota mendesak dengan pertanyaan “Kapan Onii-chan akan menikahi Onee-chan?”, Shuuichi membantu Haruto yang kesulitan mencari alasan dengan menjelaskan bahwa mereka belum bisa menikah karena tidak punya uang, yang akhirnya membuat Ryota mengerti.


“Oalah, begitu rupanya... Maaf ya, Papa malah ngomong yang aneh-aneh.”


Mendengar penjelasan itu, meski mulut Ayaka berkata maaf, wajahnya yang sedikit memerah tampak menyimpan rasa senang.


Melihat kekasihnya yang tetap manis dan memikat seperti biasa, Haruto membuang muka dengan malu-malu.


“Tidak, tapi... itu bukan sesuatu yang aneh juga, sih... maksudku... yah...”


“Eh? Ah, be-begitu ya...”


Mendengar kata-kata Haruto yang tidak menyangkal hal itu, wajah Ayaka semakin memerah, sambil memainkan jari-jemarinya dengan gugup.


Tiba-tiba, seolah teringat sesuatu, Ryota melepaskan pelukannya dari Haruto.


“Ah, benar! Ada sesuatu yang ingin kutunjukkan pada Onii-chan!”


Sambil berkata demikian, Ryota kembali berlari kencang dan menghilang ke arah ruang tamu.


Sambil menatap punggung bocah itu, Haruto berujar dengan hangat.


“Ryota-kun tetap energik kayak biasanya, ya.”


“Tadi pagi waktu tahu kalau Haruto-kun sudah jadi pacarku, dia bahkan lebih heboh dari ini.”


“Ahaha, pasti merepotkan, ya.”


Haruto membayangkan sosok Ryota saat itu dan merasa simpati pada Ayaka, namun di saat yang sama hatinya terasa hangat mengetahui bocah itu begitu bahagia untuk mereka.


“Mama juga sudah nunggu, Haruto-kun. Mari masuk.”


Sambil berkata demikian, Ayaka menarik lembut lengan Haruto dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.


Mengikuti Ayaka yang sejak tadi memancarkan aura kebahagiaan, Haruto pun masuk ke rumah keluarga Toujou dan menuju ruang tamu.


Di ruang tamu, Ikue sedang WFH dengan laptop terbuka di meja makan.


“Oh, selamat datang, Ootsuki-kun.”


Begitu Haruto masuk, ia mendongak dari laptop dan menyapa dengan senyuman manis.


“Permisi.”


Haruto menundukkan kepala, lalu menggigit bibirnya yang terasa kering sejenak untuk mengusir rasa tegang sebelum mulai bicara.


“Anu, Ikue-san. Sebenarnya... ada satu hal yang ingin saya laporkan.”


“Ara? Apa tuh?”


Ikue sedikit memiringkan kepala, senyumnya semakin lebar sementara matanya berbinar jenaka. Dari gelagatnya, Haruto bisa menebak bahwa dia kemungkinan besar sudah mendengar ceritanya dari Ayaka.


“Ehm, sebenarnya, saya... saya menyukai Ayaka-san, dan tadi malam saya sudah mengutarakan perasaan saya. Karena itu, saya bermaksud untuk menjalin hubungan serius dengan Ayaka-san.”


Haruto merasa sudah cukup akrab dengan Ikue selama bekerja sebagai asisten rumah tangga di sini. Namun tetap saja, melapor atau meminta izin berpacaran kepada orang tua kekasih memberikan ketegangan yang unik, hingga ia berbicara dengan bahasa formal yang agak kaku.


Ketegangan itu tampaknya terlihat lucu di mata Ikue, sehingga ia tertawa kecil, “Fufu.”


“Tentu saja! Bagus tuh! Kalau begitu, titip putriku ya, Ootsuki-kun!”


“Baik! Saya akan berusaha sebaik mungkin!”


Meski reaksi Ikue sedikit mencairkan suasana, jawaban Haruto masih terdengar agak kaku. Di sampingnya, Ayaka yang memperhatikan interaksi itu tampak malu sekaligus bahagia dengan telinga memerah.


Ikue, dengan senyum lembutnya, mengalihkan pandangan kepada putrinya yang berdiri di samping Haruto.


“Ayaka ini agak manja, jadi mungkin dia bakal ngerepotin kamu. Tapi dia anak yang jujur dan baik hati, kok.”


“Tung-?! Mama!! Jangan ngomong yang aneh-aneh, dong!”


Ayaka berseru panik mendengar perkataan ibunya.


Melihat interaksi ibu-anak keluarga Toujou yang sudah mulai terbiasa ia lihat itu, Haruto pun ikut tersenyum senang.


“Dimanjakan oleh Ayaka-san adalah sebuah kehormatan bagi saya sebagai kekasih. Lagipula, saya sudah menemukan banyak sisi baik darinya meski dalam waktu singkat ini.”


“Haruto-kun...”


Mendengar kata-kata Haruto, Ayaka berhenti memelototi Ikue dan menatap kekasih di sampingnya dengan mata yang sedikit berkaca-kaca.


Seketika suasana di antara keduanya menjadi sangat manis, membuat Ikue menempelkan tangan di pipi sambil tersenyum penuh arti.


“Ara, ara... Ayaka, syukurlah ya.”


“I-Iya...”


Ayaka mengangguk dengan raut penuh kebahagiaan meski masih terlihat malu.


Pada saat itulah, Ryota yang tadi menghilang kembali muncul di hadapan mereka dengan kecepatan tinggi.


“Onii-chan! Onee-chan! Lihat ini! Ayo lihat, lihat!”


Ryota berseru girang sambil mengayunkan benda yang ada di kedua tangannya tepat di depan wajah Haruto dan yang lainnya.


“Ryota, tenanglah sedikit. Kalau kamu ayun-ayunkan begitu dekat, kami nggak bisa lihat apa-apa.”


Ayaka mencoba menenangkan adiknya.


Ryota berhenti mengayunkan tangannya, tapi tubuhnya masih bergerak naik-turun seolah tidak bisa menahan rasa antusiasnya.


“Ryota-kun, kamu bikin apa?”


Haruto merendahkan tubuhnya agar sejajar dengan tinggi Ryota dan bertanya.


Benda yang dipegang bocah itu tampaknya adalah sebuah prakarya yang terbuat dari kotak susu yang dibalut kertas warna.


Setelah ditanya begitu, Ryota dengan wajah bangga menyodorkan benda tersebut ke depan mata Haruto.


“Ini bikinanku sendiri, loh!”


Benda yang digenggam erat oleh kedua tangan Ryota itu memang sesuai dugaan Haruto: sebuah kotak susu yang dibungkus kertas warna putih. Di bagian tengahnya terdapat lubang memanjang seperti tempat memasukkan koin, dan di kedua sisi lubang itu terdapat gambar yang digambar dengan krayon.


Ryota menunjuk gambar-gambar itu sambil menjelaskan dengan sungguh-sungguh.


“Yang ini Onii-chan! Karena ini acara pernikahan, jadinya pakai setelan tuksedo! Dan yang ini Onee-chan! Onee-chan pakai gaun pengantin!”


Dengan riang, Ryota membalik kotak tersebut dan menunjukkan sisi sebaliknya.


Di sana tertulis dengan krayon: “Celengan Pernikahan Onii-chan dan Onee-chan”. Di samping tulisan itu, terdapat juga gambar bangunan yang menyerupai gereja.


“Supaya kalian berdua bisa cepat nikah, aku juga akan berusaha menabung uang di sini!”


Ryota berbicara dengan senyuman lebar yang tulus. Melihat sosoknya yang begitu polos dan menggemaskan layaknya malaikat, Haruto tidak bisa menahan dirinya untuk tidak memeluk Ryota.


“Makasih, Ryota-kun. Tapi, jangan terlalu maksain diri, ya?”


“Iya! Tapi aku pengin Onii-chan cepat-cepat jadi kakakku beneran.”


Mendengar perkataan polos Ryota, Ayaka tersenyum kecut namun tampak senang sambil mengusap lembut kepala adiknya.


“Ryota, terima kasih, ya.”


“Karena aku sangat menyayangi Onee-chan dan Onii-chan, jadi aku pengin kita semua cepat jadi keluarga.”


Melihat sosok Ryota yang berbicara dengan penuh semangat seolah sedang membayangkan masa depan tersebut, senyum hangat pun merekah di wajah semua orang yang ada di sana.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close