NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kaji Daiko no Arubaito o Hajimetara Gakuen Ichi no Bishojo no Kazoku ni Kiniira re Chaimashita V2 Chapter 7

 Penerjemah: Ramdhian

Proffreader: Ramdhian


Chapter 7

BBQ yang Diadakan Keluarga Toujou

‘Jadi, lancar nggak sama Ootsuki-kun?’


Mendengar suara Saki dari balik ponsel, aku menjawab dengan suara yang sedikit bersemangat.


“Ya, kurasa lancar kok. Hari ini kami saling tiduran di paha.”


‘Waaah! Sesuai rencana, Ayaka-san gencar sekali menyerang, ya.’


“Iya, sejauh ini ‘Operasi Latihan Pacaran’ berjalan lancar!”


Menghapus rasa bersalah Haruto-kun karena telah berbohong, dan membuatnya benar-benar menyukaiku. Itulah misi yang kuberi judul ‘Operasi Latihan Pacaran’.


Melalui operasi ini, aku akan memikat Haruto-kun habis-habisan agar dia mengutarakan perasaannya padaku.


Sambil duduk di tepi kasur di kamarku, aku lanjut berkonsultasi dengan Saki.


“Untuk sementara ini kami sudah saling panggil nama, dan gaya bicara Haruto-kun juga sudah mulai lepas dari bahasa sopan. Terus di latihan pacaran yang pertama, kami sudah saling bilang ‘suka’.”


‘Terus? Reaksi Ootsuki-kun gimana?’


“Itu dia, waktu Haruto-kun bilang ‘suka’ padaku, dia mengatakannya dengan tatapan sangat serius, dan ekspresinya waktu itu ganteng banget sampai ingatanku agak kabur.”


‘...Gitu ya. Maaf Ayaka, aku mau ngopi dulu.’


“Kalau ngopi jam segini, nanti malah nggak bisa tidur, loh?”


Di luar jendela, hari sudah gelap gulita.


Kalau ngopi jam segini, nanti malam tidak bisa tidur dan jam tidurnya jadi terbalik.


Mentang-mentang lagi liburan musim panas, menurutku tidak baik kalau terlalu mengacaukan ritme hidup.


“Kurang tidur nggak bagus buat kulit, loh?”


‘Makasih perhatiannya, tapi sekarang aku lagi pengin bikin mulutku terasa pahit secepat mungkin.’


“Hmm? Gitu ya?”


‘Ya, jadi tunggu sebentar.’


Setelah Saki bilang begitu, terdengar suara glodak-glodak dari seberang telepon.


Selagi dia menyeduh kopi, aku mengingat kembali waktu yang kuhabiskan bareng Haruto-kun hari ini.


Pengalaman tiduran di paha pertamaku seumur hidup.


Bantalan paha Haruto-kun terasa agak keras, tapi hangat. Rasanya bikin deg-degan dan memalukan, tapi di sisi lain terasa menenangkan dan memuaskan hati.


Sungguh waktu yang sangat membahagiakan.


Waktu kepalaku dielus, rasanya jantungku mau berhenti saking malunya... tapi, itu juga terasa sangat nyaman.


Kayaknya bakal bahaya.


Kalau aku beneran jadi pacarnya Haruto-kun, mungkin aku bakal minta tiduran di paha setiap hari. Senyaman itu rasanya.


Lalu, waktu aku ngasih bantalan paha untuk Haruto-kun juga gawat banget.


Saat dia tidur di pangkuanku, entah kenapa dia kelihatan sangat manis, dan saat aku mengelus kepalanya di atas pahaku, aku jadi berdelusi seolah Haruto-kun sudah jadi milikku sepenuhnya.


Selain itu, tekstur cuping telinga Haruto-kun yang sangat enak dipegang adalah penemuan baru.


Cuping telinganya sangat kenyal, dan juga terasa sedikit dingin.


Kalau terus disentuh rasanya kayak adonan roti yang kenyal dan empuk, sampai-sampai aku jadi pengin gigit.


Yah, walau akhirnya Haruto-kun bilang, “Jangan digigit loh, ya?”.


Tapi, kelak... kalau aku benar-benar jadi pacar aslinya, saat itu boleh kan gigit dikit? Kalau cuma gigit manja, nggak bakal dimarahi, ‘kan?


Saat aku diam-diam memendam ambisi itu, terdengar suara Saki yang balik ke kamar sambil bawa kopi dari telepon.


‘Maaf udah nunggu... jadi melanjutkan cerita tadi, latihan jadi pacar selanjutnya mau ngapain? Sudah saling bilang suka, sudah tiduran di paha, selanjutnya ada ide?’


“Ah, iya. Soal itu. Sebenarnya hari ini, Haruto-kun mengajakku kencan.”


Begitu aku mengatakan itu, terdengar suara Saki terbatuk-batuk seperti tersedak.


Apa dia baik-baik saja? Apa kopinya masuk ke saluran napas?


‘Uhuk uhuk... eh? Gimana-gimana Ootsuki-kun ngajak kencan?’


“Iya.”


‘Hoo? Terus, isi kencan yang dia ajukan apa?’


Dari seberang telepon suara Saki kedengaran begitu antusias dan tampak senang.


Aku mengingat momen ketika Haruto-kun mengajakku kencan, dan melaporkannya pada Saki sambil sedikit menyeringai.


“Nanti, aku mau kencan nyari es krim bareng Haruto-kun.”


‘...Hmm? Rasanya, itu kencan yang cukup unik, ya?’


Mendengar suara Saki yang penuh keraguan, aku menjelaskan kronologi kenapa aku dan Haruto-kun bisa kencan nyari es krim.


Waktu itu saat pergi belanja ke supermarket bareng Haruto-kun, aku mengeluh karena es krim rasa terbatas milikku dimakan Ryota, lalu dia bilang kapan-kapan ayo cari bareng.


Ternyata Haruto-kun mengingat hal itu, dan minggu depan kami akan pergi berdua mencari es krim rasa terbatas itu.


‘Aah... es krim yang itu ya. Itu emang enak banget sih.’


“Eh? Saki juga pernah makan?”


‘Pernah. Aku sampai keliling tiga supermarket terdekat baru bisa beli. Kebetulan tinggal sisa satu, jadi aku hoki.’


“Ternyata nyari yang jual memang susah, ya. Minggu depan ketemu nggak ya.”


‘Tapi kalau nggak gampang ketemu, kencannya jadi lebih lama, bukannya bagus?’


“Iya sih... tapi aku juga pengin makan es krim itu...”


‘Ayaka serakah, ya.’


“Uuh...”


Aku mengerucutkan bibir mendengar ledekan Saki.


Habisnya semua orang yang pernah makan es krim itu bilang enak! Wajar dong kalau aku jadi pengin makan!


‘Yah, yang penting kan bisa kencan, bagus dong.’


“Iya sih. Ah, terus, aku mau minta pendapat Saki...”


‘Hm? Apa tuh?’


“Kalau Haruto-kun ngajak kencan duluan, berarti usahaku lumayan berhasil, ‘kan?”


Aku bertanya pada Saki dengan deg-degan.


Kalau Haruto-kun yang mengambil inisiatif, berarti dia mulai menyadariku, ‘kan?


Namun, Saki melontarkan pendapat yang lebih hati-hati daripadaku.


‘Hmm, entahlah. Kemungkinan itu ada, tapi mungkin juga dia mulai nggak tahan berduaan terus di kamar Ayaka.’


“Eh!? Kok gitu!? Aku nggak ngelakuin hal yang bikin Haruto-kun benci kok!?”


Aku memang agak agresif mendekatinya, tapi dia nggak kelihatan terganggu.


Dia memang kelihatan malu sampai wajahnya merah, sih...


Melihat aku yang tiba-tiba merasa cemas, Saki berkata, ‘Aku nggak bilang dia benci, loh.’


‘Begini loh, Ootsuki-kun itu laki-laki yang sedang masa puber, ‘kan? Kalau di ruang tertutup ada cewek kayak Ayaka yang terus mepetin dia, mungkin ada banyak hal yang nggak bisa dia tahan lagi.’


“Banyak hal yang nggak bisa ditahan? Maksudnya?”


Aku memiringkan kepala karena kurang paham dengan maksud perkataan Saki.


Melihat reaksiku, Saki bicara dengan nada sedikit bingung.


‘Hmm, bagaimana ya... yah, menurutku Ayaka lanjut saja mepetin Ootsuki-kun kayak sekarang.’


“Gitu? Begitu saja nggak apa-apa?”


Cara bicara Saki menyisakan sedikit rasa resah, loh?


‘Daripada itu, soal kencan nyari es krim itu? Kalian bakal keliling ke banyak toko, ‘kan?’


“Iya, rencananya begitu. Aku harap bisa pergi ke mal yang ada bagian makanannya.”


‘Bagus tuh, bagus! Itu artinya kalian bisa sekalian kencan window shopping secara alami.’


“Benar! Benar banget!”


Mencari es krim rasa terbatas itu hanyalah alasan kencan.


Tujuan sebenarnya adalah menikmati belanja bareng Haruto-kun!


‘Kalian bakal lihat-lihat baju terus tanya “mana yang cocok?”, gitu?’


“Umm, tapi aku nggak mau dianggap ngerepotin sama Haruto-kun... tapi, aku juga pengin Haruto-kun pilihin baju buatku...”


‘Di situ manfaatkan saja latihan pacarannya. Tanya saja dengan manis, “Kamu pengin pacarmu pakai baju yang kayak gimana?”.’


“Boleh juga! Saki jenius!!”


Aku refleks bertepuk tangan.


Dari ponsel terdengar suara bangga Saki, ‘Fufun, hebat kan’.


Setelah itu, aku dan Saki terus mendiskusikan tentang kencan mencari es krim.


Saat aku menengadah dan melihat jam dinding, aku baru sadar kalau hari sudah cukup larut.


Saking asyiknya ngobrol sama Saki, aku sampai lupa waktu.


“Sudah waktunya tidur?”


‘Hm? Ah, sudah jam segini ya. Iya deh.’


“Ah, iya. Ngomong-ngomong, Saki lusa ada rencana apa?”


Aku teringat ada hal yang harus kusanpaikan pada Saki.


‘Lusa? Hari Sabtu ya, tunggu sebentar... nggak, nggak ada rencana khusus sih, kenapa emangnya?’


“Umm, hari itu, kami mau barbekuan di halaman rumah, Saki mau ikut nggak?”


‘Eh? Boleh? Mau! Mau banget!’


“Iya, sebenarnya Mama yang bilang, katanya akhir-akhir ini jarang ketemu Saki jadi disuruh ajak.”


Sebelum pindah ke rumah yang sekarang, Saki tetanggaan denganku.


Jadi dia sering main ke rumah, dan kenal baik dengan Mama, Papa, dan Ryota.


Terutama Mama sangat menyukai Saki, dulu kami sering pergi belanja bertiga.


‘Beneran!? Aku juga pengen ketemu Mama Ikue setelah sekian lama!’


“Kalau begitu, aku sampaikan kalau Saki bakal datang lusa, ya.”


‘Oke! Tolong ya.’


“Ah iya, satu lagi. Hari itu Haruto-kun juga bakal ikut, nggak apa-apa?”


Saat aku bilang begitu, Saki mengeluarkan suara sedikit terkejut.


Omong-omong, aku sudah memberitahu Haruto-kun kalau mungkin Saki akan ikut.


‘Gitu ya? Aku sih sebagai tamu nggak masalah sama sekali, justru Ayaka sendiri nggak apa-apa? Aku nggak ganggu?’


Mendengar Saki yang terdengar agak khawatir, aku refleks menggelengkan kepala sambil menjawab meski Saki tidak bisa melihatnya.


“Nggak ganggu kok! Justru kalau ada Saki aku jadi lebih tenang.”


‘Begitu? Kalau gitu aku bakal menantikan lusa.’


“Iya!”


‘Soalnya aku mau melihat puas-puas bagaimana Ayaka dan Ootsuki-kun bermesraan.’


Wajahku sedikit memanas mendengar ucapan Saki yang menggoda.


“K-Kami nggak bakal ngelakuin itu! Mana mungkin aku berani macam-macam sama Haruto-kun di depan Papa dan Mama!”


‘Berarti, kalau nggak ada pengawasan Mama Ikue dan Shuuichi-san, kamu mau bermesraan sama Ootsuki-kun?’


“I-Itu... kalau Haruto-kun mau begitu, aku...”


Membayangkan kalau hal itu terjadi, suaraku makin lama makin mengecil karena malu.


‘Haaah rasanya kopi hari ini enak banget deh.’


Terdengar suara Saki yang berujar ‘Puhaaa’ dari seberang telepon.


“Hati-hati jangan kebanyakan kafein, loh?”


‘Iya iya, makasih udah khawatir. Kalau gitu kututup ya. Sampai jumpa lusa.’


“Iya, selamat malam.”


Setelah mendengar ucapan ‘Met malam~’ dari Saki, aku mengakhiri panggilan.


Lusa barbekuan bareng keluarga, ditambah Haruto-kun dan Saki.


Lalu minggu depan kencan dengan Haruto-kun.


Musim panas tahun ini lebih sibuk dari biasanya, tapi juga menyenangkan dan bikin hati berdebar.



Haruto berjalan menyusuri gang di area perumahan di mana bayangan mulai memanjang karena matahari mulai condong, menuju kediaman keluarga Toujou.


Hari ini, pekerjaan asisten rumah tangga libur.


Oleh karena itu, hari ini juga tidak ada sesi latihan pacaran dengan Ayaka, jadi ia berkunjung ke rumah Toujou sedikit lebih lambat dari biasanya.


“Ryota-kun bakal senang nggak, ya?”


Gumam Haruto sambil melihat ke dalam eco-bag yang dibawanya.


Di dalamnya berisi set kembang api dengan berbagai jenis. Ia membelinya karena berpikir bisa dimainkan bersama Ryota dan yang lain setelah barbeku selesai.


Membayangkan wajah senang Ryota saat melihat kembang api, ekspresi Haruto melembut secara alami.


Saat sedang berjalan di area perumahan sambil sedikit senyum-senyum sendiri, ia berpapasan dengan seseorang di persimpangan jalan.


“Eh? Aizawa-san?”


“Hmm? Ah, Ootsuki-kun. Yahoo~”


Saki yang namanya dipanggil Haruto, melambaikan tangan dan menyapanya dengan riang.


Sebagai sesama teman sekelas, mereka saling mengenal sampai batas tertentu.


Di sekolah, Ayaka sebisa mungkin menghindari interaksi dengan laki-laki. Namun, Saki tidak seperti itu, dan ia memiliki hubungan pertemanan dengan Haruto sebatas saling sapa jika bertemu di sekolah.


“Mohon bantuannya hari ini, ya.”


“Aku juga, mohon bantuannya.”


Haruto yang sudah mendengar dari Ayaka kalau Saki juga akan ikut barbekuan, membalas senyum Saki yang ceria. Setelah saling sapa, mereka berjalan beriringan menuju rumah Toujou.


“Aku dengar dari Ayaka. Ootsuki-kun kerja jadi asisten rumah tangga di rumah Ayaka, ya?”


“Ya, begitulah. Awalnya aku juga kaget.”


Haruto berkata dengan nada ceria sambil tertawa.


“Nggak nyangka bakal jadi asisten rumah tangga di rumah teman sekelas.”


“Aku juga kaget waktu dengar dari Ayaka. Tapi katanya Ootsuki-kun jago masak, ya.”


“Yah, lumayan lah.”


Mendengar Haruto yang merendah, Saki menyeringai.


“Oh? Itu kalimat orang yang pede, ‘kan?”


Mendengar ucapan Saki, Haruto tersenyum kecut.


“Kalau nggak pede, aku nggak bakal kerja sampingan sebagai asisten rumah tangga, ‘kan.”


“Yah, iya juga sih. Ngomong-ngomong, di dalam tas itu isinya apa?”


Saat Saki melihat ke arah tas belanja, Haruto membukanya sedikit agar isinya terlihat sambil menjawab.


“Kembang api. Kupikir Ryota-kun bakal senang.”


“Ooh! Boleh tuh! Ryota pasti bakal girang banget!”


Saki mengacungkan jempol ke arah Haruto sambil bilang “Good job!”.


“Aizawa-san, bawaanmu banyak juga, ya?”


Saki menggendong ransel yang agak besar.


“Hari ini aku bakal nginap di rumah Ayaka, jadi bawa ganti baju dan segala macam.”


“Ooh, begitu rupanya. Kalau isi kantong itu?”


Sama seperti Haruto, Saki juga membawa kantong di tangannya.


Karena penasaran dengan isinya, Haruto bertanya, dan Saki pun tersenyum penuh arti.


“Fufufu, bagus sekali kau bertanya. Yang kubawa adalah... ini dia!”


Sambil bilang “Jeng-jeng.”, Saki mengeluarkan barang dari kantongnya dan memamerkannya pada Haruto.


“Itu... pisang?”


“Benar! Pisang!”


Saki mengangkat pisang itu dengan senyum lebar.


“Ini kalau dijadiin pisang bakar, terus dikasih sirup cokelat dan dimakan, rasanya jempolan banget, loh.”


“Iya sih, kedengarannya enak. Gitu ya, makanan penutup ya... aku nggak kepikiran ide itu buat barbeku.”


Dalam benak Haruto, barbeku itu identik dengan daging atau seafood saja.


Setelah itu, mereka terus mengobrol santai sambil berjalan hingga sampai di kediaman Toujou.


Sesampainya di gerbang rumah Toujou, Saki menekan bel interkom dengan gerakan terbiasa tanpa ragu.


‘Ya.’


“Ayaka... aku datang~”


‘Saki~ bentar ya kubukakan.’


Suara Ayaka terdengar sedikit bersemangat ketika menyambut kedatangan sahabatnya dari interkom.


Tak lama kemudian pintu depan terbuka, dan Ayaka muncul dari sana.


“Eh? Bareng Haruto-kun juga?”


“Tadi kebetulan ketemu Aizawa-san di jalan.”


Haruto menjelaskan pada Ayaka yang tampak sedikit terkejut.


“Ah, begitu rupanya. Kalian berdua bawa apa?”


Ayaka melihat kantong yang dibawa Haruto dan Saki.


“Kalau aku sih... nih, pisang. Nanti kita bikin pisang bakar terus dikasih cokelat buat dimakan bareng.”


“Wah! Kayaknya enak! Kalau Haruto-kun?”


“Aku bawa kembang api unt─”


“Onii-chan!”


Di tengah ucapan Haruto, Ryota berlari menerjang dengan kecepatan penuh dari arah ruang tamu menuju pintu depan.


Di tengah lorong, dia menyadari ada Saki di sebelah Haruto, dan ekspresinya semakin berbinar.


“Waaah!! Saki Onee-chan!!”


“Ryota! Sudah lama nggak ketemu!”


Saki berjongkok menyambut Ryota yang menerjang, lalu mengacak-acak rambut bocah itu.


“Baru sebentar nggak ketemu, kamu tambah tinggi ya?”


“Beneran!? Aku tambah tinggi?”


Melihat Ryota yang matanya berbinar-binar, Saki mengangguk berkali-kali.


“Iya iya, tambah tinggi.”


Ryota yang suasana hatinya sangat bagus karena ucapan Saki, melihat kantong yang dipegang Haruto.


“Onii-chan, itu apa?”


“Ini kembang api. Lihat.”


Saat Haruto memperlihatkan isi tasnya, kegembiraan Ryota meledak.


“Horeeee!! Kembang api!! Onee-chan, ada kembang api!! Kita bisa main kembang api bareng-bareng!!”


“Syukurlah ya, Ryota. Ayo, bilang terima kasih yang benar sama Haruto-kun.”


“Ung!! Terima kasih, Onii-chan!”


“Sama-sama. Nanti kita main bareng, ya.”


“Ung! Aku mau bilang ke Ayah sama Ibu kalau Onii-chan bawa kembang api!”


Setelah bilang begitu, Ryota kembali berlari kencang menuju ruang tamu.


Saki tertawa geli melihat sambutan Ryota yang seperti badai.


“Ryota tuh kalau sama orang yang sudah akrab, selalu penuh semangat, ya.”


“Iya, padahal kalau deket orang yang belum akrab, dia langsung jadi pendiam kayak beda orang.”


“Eh? Ryota-kun itu pemalu?”


Mendengar ucapan Ayaka, Haruto memasang ekspresi sedikit terkejut.


Di benak Haruto, Ryota selalu memiliki citra energik, jadi ia agak sulit membayangkannya sebagai pemalu.


Saat pertama kali Haruto bertemu Ryota, memang sempat ada insiden dikira maling, jadi wajar kalau dia agak waspada, tapi di pertemuan kedua saat bekerja, mereka langsung akrab.


Karena itu, Haruto mengira Ryota memang begitu pada siapa saja, tapi ternyata tidak.


Melihat Haruto yang terkejut, Ayaka tersenyum senang.


“Nggak parah banget sih, tapi Ryota memang tipe yang agak pemalu.”


“Hee, ternyata begitu.”


“Makanya, waktu Ryota langsung lengket sama Haruto-kun, aku sempat kaget loh.”


“Ootsuki-kun itu tipe yang secara misterius disukai anak-anak, ya?”


Kata Saki sambil menatap Haruto penuh minat. Sebaliknya, Haruto menjawab sambil sedikit memiringkan kepala.


“Nggak... rasanya nggak gitu juga deh.”


“Pernah nggak pas pergi ke warung, tahu-tahu udah dikepung anak TK?”


“Aku belum pernah ngalamin event kayak gitu sih.”


“Kalau pergi ke mal besar, pasti ketemu anak hilang terus nganterin mereka ke pusat informasi?”


“Itu bukannya tak ada hubungannya sama disukai anak-anak?”


“Hm? Ah iya juga. Yah, berarti Ootsuki-kun secara kebetulan adalah penakluk Ryota.”


Saki sempat berpikir sejenak, tapi segera berhenti berpikir dan menyimpulkan sendiri.


“Masa kita ngobrol terus di depan pintu, boleh masuk?”


“Ah, iya. Silakan.”


Setelah meminta izin pada Ayaka, Saki melepas sepatu luarnya dan naik, lalu menuju ruang tamu.


Mungkin karena sudah sering main ke rumah ini, langkah kakinya tidak ragu sedikit pun.


“Haruto-kun juga masuk gih.”


“Iya, permisi.”


Haruto juga melepas sepatu, dan hendak melewati sebelah Ayaka menuju ruang tamu.


Namun, saat ia hendak melewati Ayaka, lengan baju Haruto ditarik sedikit oleh gadis itu.


“Hm?”


Haruto yang lengan bajunya ditarik, menoleh ke arah Ayaka.


“Sama Saki dari awal udah pakai bahasa santai... ya.”


Ayaka sedikit memonyongkan bibir, menunjukkan ekspresi merajuk.


Melihat ekspresi yang jarang diperlihatkan itu, Haruto tanpa sadar berdebar.


“...Eh?”


Mendengar ucapan Ayaka yang tak terduga, Haruto bingung harus menjawab apa dan terdiam.


Melihat Haruto tampak bingung, Ayaka tersentak kaget, lalu buru-buru melepaskan lengan baju Haruto.


“M-Maaf ya! Anggap yang barusan itu tidak ada! Lupakan!”


“Eh? Tapi...”


“Maaf aku ngomong aneh! Nggak usah dipikirin sama sekali! Iya, beneran jangan dipikirin. Please, lupakan...”


Setelah mengucapkan kata-kata itu dengan cepat, Ayaka berlari kecil menuju ruang tamu sambil menundukkan wajahnya.


Haruto berdiri terpaku di lorong, menatap punggung Ayaka dengan bengong.


“...Eh? Yang barusan itu, jangan-jangan... cemburu?”


Saat menggumamkan itu, Haruto merasakan dadanya berdegup kencang.


Dalam kasus Ayaka, mereka hampir tidak pernah berinteraksi di sekolah, dan baru bicara dengan benar saat mulai bekerja sebagai asisten rumah tangga. Jadi awalnya mereka menggunakan bahasa sopan.


Sebaliknya, dengan Saki, karena mereka teman sekelas dan sudah berinteraksi sampai batas tertentu, mereka bicara santai sejak awal. Namun, tampaknya hal itu tidak disukai oleh Ayaka.


Kok bisa begitu...


Memikirkan alasannya, Haruto harus berusaha keras menahan sudut bibirnya yang hendak naik.


“Apa aku terlalu kepedean menafsirkannya?”


Haruto bertanya pada dirinya sendiri.


Namun, tentu saja tidak ada jawaban, dan ia pun berjalan perlahan menuju ruang tamu.


Kalau seandainya itu benar-benar cemburu...


Sambil memikirkan itu, Haruto masuk ke ruang tamu, di mana Ayaka, Saki, dan Ikue sedang mengobrol.


“Sudah lama ya, Saki-chan.”


“Iya nih! Mama Ikue masih cantik kayak biasa, ya!”


“Wah! Denger tuh, Ayaka.”


“Syukurlah ya, Ma.”


Haruto melirik ekspresi Ayaka, tapi terlihat biasa saja seolah tidak ada apa-apa.


“Ah, selamat datang Ootsuki-kun. Katanya kamu bawa kembang api? Terima kasih, ya.”


“Ah, tidak apa-apa.”


Ikue yang menyadari kedatangan Haruto tersenyum ramah padanya.


“Sekarang Shuuichi-san lagi nyalain api di taman, jadi santai aja dulu sampai apinya siap.”


“Ah, kalau begitu saya bantu nyalakan api juga.”


“Ara, tidak usah loh. Hari ini Ootsuki-kun kan tamu, jadi santai saja.”


“Tidak kok, sebenarnya saya suka menyalakan api.”


“Ara, begitu ya? Ootsuki-kun memang laki-laki ya. Kalau begitu tolong ya.”


“Ryota juga nempel terus tuh di depan panggangan,” tambah Ikue sambil tertawa.


Saat keluar ke taman dari ruang tamu, tampak Shuuichi sedang mengipasi panggangan barbeku dengan kipas, dan Ryota menonton di sampingnya dengan antusias.


“Oh! Selamat datang, Ootsuki-kun!”


Mungkin karena terus mengipasi di dekat arang, wajah Shuuichi agak memerah saat ia menyapa sambil menyeka keringat dengan satu tangan.


“Terima kasih sudah mengundang saya hari ini.”


“Saki-chan juga datang, ya. Acara begini memang makin ramai makin seru.”


Shuuichi yang melihat sosok Saki di ruang tamu berkata dengan riang.


“Ayah, bagian merah di arangnya mengecil tuh.”


“Ups.”


Ditegur Ryota, Shuuichi kembali mengipasi, dan Haruto pun menawarkan diri untuk menggantikannya.


“Shuuichi-san, biar saya gantikan menyalakan apinya.”


Melihat Haruto yang menawarkan diri sambil tersenyum, Shuuichi mengibaskan tangan.


“Hari ini Ootsuki-kun kan tamu, jadi santai saja sampai barbekunya dimulai.”


“Tidak kok, saya suka menyalakan api.”


Mendengar Haruto mengucapkan hal yang sama persis seperti pada Ikue, Shuuichi membalas.


“Oya? Begitu ya? Kalau begitu aku terima tawaranmu, bisa tolong gantikan sebentar?”


Setelah bilang begitu, Shuuichi menyerahkan kipas yang dipegangnya pada Haruto, lalu meneguk minuman yang ada di meja lipat di samping panggangan.


Melihat cairan cokelat yang diminum pria itu, Haruto sempat waspada mengira itu bir.


Ia teringat tempo hari saat Shuuichi minum alkohol, suasana hatinya menjadi sangat bagus dan mulai membicarakan rencana pernikahan dengan Ayaka.


“Fyuuh~ Teh barley dingin yang diminum pas haus memang tiada duanya, ya.”


Namun, setelah tahu itu cuma teh, Haruto mengelus dada lega.


Haruto menggunakan kipas yang diterimanya dari Shuuichi untuk mengalirkan angin secara perlahan ke celah-celah di antara arang.


Perlahan, api mulai menyebar ke arang-arang tersebut.


“Ah! Onii-chan! Arangnya mulai memerah!”


“Oke, Ryota-kun, bisa mundur sedikit dari panggangan?”


Mendengar ucapan Haruto, Ryota mengangguk patuh “Ung”, lalu mundur beberapa langkah untuk menjaga jarak dari panggangan.


Setelah memastikan Ryota berada di jarak aman dan tidak ada benda yang mudah terbakar di sekitar, Haruto yang tadinya mengipas perlahan langsung mempercepat gerakannya, mengirimkan angin kencang dengan penuh semangat.


Seketika itu juga, api wusss menyembur naik dari tumpukan arang, disertai percikan bara api yang berhamburan cetetar-cetetar.


“Wah!! Kayak kembang api!”


“Hm hm, menyalakan api itu memang romansa laki-laki, ya.”


Di sebelah Shuuichi yang melipat tangan sambil mengangguk-angguk setuju, mata Ryota berbinar-binar, dan dia terus berseru “Keren!” dengan kegirangan.


“Ryota-kun, bisa tolong ambilkan beberapa arang baru dari kotak itu?”


“Ung! Ehm, yang kecil? Atau yang besar?”


“Aku mau yang besar.”


Saat Haruto mengatakan itu, Ryota memilih arang di dalam kotak dengan tatapan sangat serius.


Sepertinya dia sudah tidak sabar ingin membantu menyalakan api. Melihat tatapan serius Ryota, Haruto merasa hatinya menghangat, dan senyum pun merekah secara alami di wajahnya.


“Nih, Oni-chan! Ini boleh?”


“Iya, terima kasih.”


Ryota memasang ekspresi bangga saat Haruto berterima kasih.


Setelah memastikan arang sudah cukup terbakar, Haruto meruntuhkan tumpukan arang tersebut, lalu menyebarkan arang yang memutih dan memancarkan panas itu ke seluruh panggangan. Kemudian, ia meletakkan arang baru yang diambilkan Ryota di atasnya.


“Kayaknya sudah pas. Waktunya bawa bahan makanannya, ya.”


Shuuichi mengintip ke dalam panggangan, lalu berkata begitu dan menuju ke ruang tamu sebentar.


“Bu, apinya sudah jadi, bisa tolong bawakan bahan makanannya?”


“Baiklah. Ayaka dan Saki-chan bisa bantu juga?”


“Siap! Bahan makanannya ada di kulkas, ‘kan?”


Ketika dimintai tolong oleh Ikue, Saki menjawab dengan penuh semangat.


“Iya. Beberapa ada juga yang di freezer.”


“Siap laksanakan.”


Saki segera menuju kulkas, membuka pintunya, dan berseru kagum.


“Wuih! Dagingnya banyak banget!!”


“Karena Ootsuki-kun dan Saki-chan ikut, Ibu siapkan lebih banyak dari biasanya.”


Sambil mengeluarkan nampan yang penuh dengan daging, mata Saki berbinar.


“Sapi!! Daging sapinya banyak banget!!”


Memang pantas disebut keluarga di mana suami istri sama-sama menjabat sebagai pimpinan perusahaan; bahan makanan yang disiapkan di rumah Toujou tampak berkilau bak permata di mata rakyat jelata seperti Saki.


“Sepertinya untuk bahan makanan kali ini mereka cukup niat dan royal, loh.”


Kata Ayaka pada sahabatnya yang hampir meneteskan air liur.


“Karena Saki dan Haruto-kun ikut, Papa jadi bersemangat buat bikin acara ini lebih mewah dari biasanya.”


“Shuuichi-san emang dewa!”


Ayaka bersama Saki yang memasang wajah riang gembira, mengangkut bahan-bahan barbeku ke tengah taman.


Bahan-bahan makanan itu ditata satu per satu di atas meja lipat. Melihat itu, Haruto yang sedang menjaga api bersama Ryota membelalakkan mata.


“Gila... daging sapinya banyak banget...”


Haruto menunjukkan reaksi rakyat jelata yang sama dengan Saki.


Melihat reaksinya, Ayaka tertawa kecil.


“Haruto-kun, karena ada banyak, jangan sungkan makan yang banyak, ya.”


“I-Iya... tapi apa boleh makan hal semewah ini...”


Haruto merasa sedikit tertekan melihat daging dengan guratan lemak yang indah di hadapannya.


Melihat Haruto seperti itu, Shuuichi berkata seolah menegaskan.


“Seperti kata Ayaka, jangan sungkan, oke? Aku sengaja royal supaya kita semua bisa menikmatinya.”


“Yes Sir, Shuuichi-san! Selamat makan!”


Saki yang sudah lebih lama mengenal Shuuichi dibanding Haruto, tampaknya sudah paham betul cara menanggapi semangat pria itu, dan menjawab sambil memberi hormat.


Mengikutinya, Haruto juga menundukkan kepala.


“Benar-benar terima kasih banyak.”


“Ada sayuran juga, dimakan juga ya.”


Sambil bilang begitu, Ikue datang ke taman membawa nampan berisi sayuran seperti labu, bawang bombai, kentang, dan terong.


Setelah semua orang berkumpul di taman, Shuuichi memimpin dimulainya pesta barbeku.


“Oke, semuanya sudah kumpul. Kalau begitu ayo kita mulai. Tapi sebelum itu, Ootsuki-kun, boleh minta tolong sebentar?”


“Ya, tentu saja.”


Shuuichi bekerja sama dengan Haruto untuk menata meja dan kursi di sekitar panggangan barbeku.


“Aku mau duduk di sebelah Onii-chan!”


Ryota menarik tangan Haruto dan duduk di meja yang telah ditata.


“Hee, Ryota suka banget sama Ootsuki-kun, ya.”


“Ung!”


Saki duduk di meja sambil menatap mereka berdua dengan geli. Ayaka juga duduk di sebelahnya.


“Ayaka, adik manismu sudah direbut Ootsuki-kun, tuh.”


“Yah, mau bagaimana lagi, itu Haruto-kun sih.”


Ayaka membalas ucapan sahabatnya dengan senyum kecut.


Lalu Saki tersenyum menyeringai dan berkata pada Haruto dengan nada sedikit usil.


“Membuat kakak beradik Toujou tergila-gila, Ootsuki-kun laki-laki penuh dosa, ya.”


“Eh?”


Haruto yang perhatiannya teralihkan oleh bahan makanan mewah di depannya, menatap Saki dengan wajah bengong.


Melihat reaksi Haruto, Saki hendak mengatakan sesuatu dengan wajah menyeringai, tapi keburu dihentikan oleh Ayaka.


“T-Tunggu, Saki...”


“Ara? Wajah Ayaka kok merah?”


“I-Itu gara-gara Saki...”


Melihat Ayaka yang wajahnya memerah dan menggumamkan protes, Saki memasang ekspresi sangat senang.


Di saat itu, Shuuichi yang melihat semua orang sudah duduk, angkat suara.


“Semuanya siapkan minuman dulu, mari kita bersulang.”


“Ayo semuanya, pilih yang kalian suka, ya.”


Ikue menata beberapa botol plastik berisi berbagai jenis jus di atas meja.


“Ryota-kun mau minum apa?”


“Jus jeruk!”


Sementara Haruto menuangkan jus jeruk ke gelas Ryota, Saki mengambil jus apel dan menuangkannya ke gelasnya sendiri.


“Ayaka mau minum apa?”


Saki mengangkat sedikit jus apel yang dipegangnya dan bertanya, “Ini?”


“Hmm, Haruto-kun mau minum apa?”


Setelah ragu sejenak, Ayaka melihat Haruto yang baru saja menyerahkan gelas berisi jus jeruk pada Ryota.


“Aku mungkin minum ginger ale.”


“Hm, kalau begitu aku juga sama deh.”


Setelah bilang begitu, Ayaka menuangkan ginger ale ke gelasnya sendiri, lalu menuangkan hal yang sama ke gelas Haruto.


“Terima kasih.”


“Sama-sama.”


Melihat interaksi mereka berdua, Saki meletakkan tangan di dagu sambil bergumam, “Hoho.”


“Interaksi barusan, persis kayak istri yang nuangin minuman buat suaminya pas lagi dinner.”


“Hei Saki, jangan ngomong aneh-aneh.”


“Maaf, maaf, kelepasan.”


“Semua sudah dapat minumannya?”


Setelah memastikan minuman sudah ada di tangan semua orang, Shuuichi mengangkat gelas birnya.


“Kalau begitu, malam ini mari makan sepuasnya dan bersenang-senang! Bersulang!!”


Saat Shuuichi menyerukan itu, semua orang mengangkat gelas dan berseru, “Bersulang!”, menandai dimulainya barbeku keluarga Toujou.


Bahan-bahan yang berjejer di depan mata semuanya adalah bahan kualitas nomor wahid nan mewah. Bagi rakyat jelata seperti Haruto, ini terasa sangat glamor.


“Ini bukan ketebalan lidah sapi yang aku tahu... terlebih lagi lidah sapi ini...”


Satu potong ini harganya berapa ya?


Haruto yang merasa tubuhnya mau gemetar hanya dengan membayangkannya, menjepit lidah sapi super tebal itu dengan hati-hati menggunakan penjepit, lalu meletakkannya perlahan di atas jaring panggangan.


Seketika suara cesss yang menggugah terdengar di telinga.


“Ootsuki-kun, di sini ada air perasan lemon, pakai ya.”


“Ah, iya. Terima kasih.”


Ikue meletakkan air perasan lemon di depan Haruto.


“Ayaka-san dan Aizawa-san juga mau?”


Kata Haruto setelah menuangkan air lemon ke piring kecil miliknya dan Ryota.


“Umm, aku mau.”


Ayaka mengangguk, dan Haruto menyerahkan air lemon padanya, lalu segera mengembalikan pandangannya ke lidah sapi super tebal di atas jaring.


Melihat sosok Haruto yang menatap lidah sapi itu dengan tatapan serius, Ayaka tanpa sadar tersenyum.


“Haruto-kun, serius banget.”


“Daging sebagus ini, aku tidak boleh membiarkannya gosong sedikit pun.”


“Paham banget... Bisa barbekuan semewah ini, memang sebaiknya punya teman borjuis, ya.”


Sambil menatap daging yang sedang dipanggang dengan mata berbinar-binar, Saki menyetujui ucapan Haruto.


“Eeeh, jadi kalau aku miskin, Saki nggak mau temenan sama aku?”


“Ya iya, lah!”


Melihat Saki langsung menjawab sambil mengacungkan jempol, Ayaka berkata “Ih!” dan memukul pelan bahu sahabatnya.


Ayaka yang tahu betul kalau ucapan Saki itu bercanda, menggembungkan pipinya.


“Udahan ah, aku nggak mau ngomong sama Saki lagi.”


“Waaah. Jangan ngomong dingin gitu dong Ayaka... kita kan bestie selamanya?”


Saki juga tahu kalau Ayaka tidak benar-benar merajuk, jadi ia memeluk Ayaka sambil cengengesan.


Sebaliknya, Ayaka memalingkan wajah sambil tetap menggembungkan pipi, “Bodo amat.”


“Ootsuki-kun, Ayaka ngambek tuh. Bikin dia baik lagi dong.”


“Eh? Aku?”


Haruto yang tadi sepenuhnya fokus pada tingkat kematangan lidah sapi, menunjukkan wajah bingung karena tiba-tiba dilibatkan.


“Iya, kalau Ootsuki-kun elus kepalanya dengan lembut, suasana hati Ayaka bakal membaik dalam sekejap kok. Tolong ya.”


“E-Eeh... kalau di sini agak...”


Kalau itu latihan pacaran di kamar Ayaka sih masih mending, tapi sekarang ada Ryota, Ikue, dan Shuuichi.


Di situasi seperti ini kalau dia mengelus kepala Ayaka, entah apa yang bakal dikatakan orang-orang.


Haruto melirik isi gelas yang dipegang Shuuichi. Cairan berwarna emas dengan buih creamy di atasnya. Itu sudah pasti bir.


Di depan Shuuichi yang suasana hatinya sedang bagus karena alkohol, kalau Haruto ketahuan mengelus kepala Ayaka, bisa-bisa Shuuichi bakal langsung mengambil formulir pendaftaran pernikahan dari kantor sipil.


Lagipula, mengelus kepala itu memalukan, mungkin Ayaka juga tidak menginginkannya, pikir Haruto sambil mengintip keadaan Ayaka.


“...Mungkin bisa baikan...”


Ayaka yang bertatapan mata dengan Haruto bergumam pelan.


Tidak, tidak, tidak! Apa yang Anda katakan, Ayaka-san!?


Haruto menjerit bingung dalam hati.


Namun, seolah tak peduli dengan isi hati Haruto, Ayaka menatap Haruto lekat-lekat penuh harap. Mungkin supaya kepalanya mudah dielus, dia memiringkan kepalanya sedikit ke arah Haruto.


Di belakang Ayaka, Saki, si biang kerok, menonton mereka berdua dengan senyum selebar-lebarnya.


“..........”


Haruto melirik keadaan Shuuichi dan Ikue.


Shuuichi sedang menenggak bir dengan riang, dan Ikue sedang memanggang bawang bombai sambil bicara pada Ryota.


“Sayurannya juga dimakan yang benar ya.”


Setelah berpikir beberapa detik melihat Ayaka yang masih menatapnya penuh harap, Haruto perlahan mengulurkan tangannya ke kepala gadis itu.


“Ada abu nempel di kepalamu.”


Sambil bilang begitu, Haruto mengelus kepala Ayaka dengan cepat, seolah-olah sedang menepis abu dari rambutnya.


“Hhk... m-makasih.”


Ayaka pipinya langsung merona saat kepalanya dielus. Melihat itu, Saki menyeringai lebar.


“Ayaka langsung happy lagi dalam sekejap. Ootsuki-kun memang hebat. Laki-laki yang bisa diandalkan emang beda.”


“Aku nggak begitu paham maksud ucapan Aizawa-san...”


Haruto yang juga tampaknya sangat malu, segera memalingkan pandangan sambil bicara.


“Onii-chan, daging ini sudah matang belum?”


“Hm? Ah! Lidah sapi mewahnya!”


Mendengar ucapan Ryota, Haruto tersentak dan mengembalikan pandangan ke jaring, buru-buru mengangkat lidah sapi super tebal itu dari api.


“Bahaya, hampir saja kematangan... makasih sudah kasih tahu, Ryota-kun.”


Sambil bilang begitu, Haruto mengelus kepala Ryota, membuat bocah itu tersenyum “Ehehe” dengan sangat senang.


Haruto mencelupkan lidah sapi yang sudah matang itu sedikit ke dalam air lemon, lalu perlahan memasukkannya ke mulut.


Seketika, mata Haruto terbelalak.


Tekstur kenyal yang menyenangkan khas lidah sapi, semakin dikunyah rasa gurihnya semakin menyebar di lidah. Namun, sama sekali tidak ada rasa berminyak yang bikin enek, perpaduan yang pas dari rasa asam lemon menjadikannya terasa segar saat dimakan.


“Ini... enak banget...”


Haruto sampai kehilangan kata-kata saking enaknya. Melihat itu, Shuuichi dengan semangat menawarkan daging lainnya.


“Makan yang banyak, Ootsuki-kun! Nih, aku juga beli iga sapi, punggung sapi juga ada loh.”


Sambil bilang begitu, Shuuichi menaruh daging satu per satu ke atas jaring.


Haruto berpikir tidak boleh membiarkan daging sebagus ini gosong, jadi ia dengan cekatan memindahkan daging yang sudah matang ke piring.


“Ryota-kun mau makan iga?”


“Ung! Mau!”


Haruto mengambilkan bagian untuk Ryota bersamaan dengan bagiannya sendiri, lalu menaruhnya di piring anak itu.


“Enak ya, Onii-chan.”


“Benar, ini enak banget, juara.”


Haruto dan Ryota saling tersenyum sambil memakan daging dengan lahap.


Iga sapi yang dipanggang dengan arang, begitu masuk mulut, aroma smoky dari arang langsung menyeruak ke hidung, dan saat digigit, banjir sari daging yang gurih meluap-luap di lidah.


Haruto segera menyuapkan nasi putih ke dalam mulutnya.


Lemak iga dan sausnya bercampur dengan nasi, dan setiap kali Haruto mengunyah, rasa bahagia menyebar di dalam mulutnya.


“Ootsuki-kun, nasinya boleh tambah loh.”


“Ah, iya. Terima kasih.”


Karena iga sapinya terlalu enak, Haruto makan nasi dengan lahap melebihi dugaannya.


Menyadari bahwa Ikue melihatnya makan dengan lahap, Haruto menundukkan kepala dengan agak malu.


“Shuuichi-san, kerang simping ini boleh dipanggang?”


Di sebelahnya, Saki memegang nampan berisi kerang simping besar dan bertanya pada Shuuichi.


“Tentu saja boleh, Saki-chan. Panggang saja sesukamu.”


“Yes Sir.”


Saki segera menata kerang simping di atas jaring dengan antusias.


Di sebelahnya, Ayaka melihat ke arah Haruto.


“Haruto-kun, kalau aku panggang jamur shiitake, kamu mau makan?”


“Ooh, jamur shiitake-nya tebal banget. Tolong, aku mau makan.”


“Onee-chan, aku juga mau!!”


“Iya, iya. Kalau gitu aku panggang yang banyak, ya.”


Ayaka menata jamur shiitake di sebelah kerang simping yang ditata Saki.


Beberapa saat kemudian, cangkang kerang mulai terbuka, dan air kaldunya mulai mendidih blukutuk-blukutuk. Jamur shiitake juga mulai mengeluarkan air di bagian payungnya, dan aroma khas jamur yang sedap mulai tercium.


“Kerangnya sudah oke nih, saatnya masukin ini.”


Saki membuka kerang simping itu, lalu menaruh mentega di atasnya.


“Uhyah, pemandangan terbaik.”


Melihat kerang yang dipanggang dengan kaldu dan mentega yang meleleh mendidih, semangat Saki melonjak drastis.


“Terus kasih kecap asin di sini.”


Bersamaan dengan suara juss, aroma gurih kecap asin yang terbakar dan aroma mentega yang kaya langsung menggelitik hidung Haruto dan yang lain.


“Saki, bisa kasih kecap asin di sini juga?”


“Oke.”


Mengangguk pada ucapan Ayaka, Saki menuangkan kecap asin ke atas jamur shiitake juga.


Aroma jamur shiitake yang memikat, berbeda dengan kerang yang beraroma laut, membuat Haruto tanpa sadar menelan ludah glek.


Melihat itu, Ayaka memberikan tawaran yang lebih menggoda.


“Haruto-kun, mau dikasih keju?”


Sambil bilang begitu, Ayaka mengangkat sedikit keju leleh agar Haruto bisa melihatnya dengan jelas.


“Kombinasi yang mengerikan... Tolong, aku mau.”


“Onee-chan, aku juga mau keju!!”


Haruto menundukkan kepala dengan sangat sopan, sementara Ryota mengangkat tangan dengan heboh.


Ayaka tertawa “Fufu” sambil menaburkan keju di atas jamur shiitake. Lalu, Saki di sebelahnya mengumumkan matangnya kerang simping dengan senyum lebar.


“Selesai! Siapa yang mau kerang simping?”


Saat Saki bilang begitu, semua orang mengangkat tangan serentak.


Haruto menerima kerang simping di piringnya, mendekatkannya sedikit ke hidung untuk menikmati aromanya, lalu memasukkan daging kerang yang tebal itu ke dalam mulut.


“Hofuh! Panas! Hoho, enak!”


Begitu digigit, rasa manis yang pekat meluap dari daging kerang yang sedikit kenyal namun hancur dengan lembut di mulut.


Haruto segera meminum kuah yang tersisa di atas cangkang kerang.


Rasanya panas sampai hampir melepuh, tapi di dalam mulut yang masih menyisakan rasa manis kerang yang kuat, rasa pekat mentega-kecap asin bercampur dengan kaldu beraroma laut mengalir masuk; rasanya semakin dikunyah semakin enak.


“Mantap...”


Gumam Haruto pelan.


Di hadapannya, Shuuichi juga meminum kuah dari cangkang kerang dengan cara yang sama, lalu menenggak birnya gluk gluk dengan nikmat.


“Puahh! Ini benar-benar nggak ada lawan.”


Kata Shuuichi dengan wajah memerah dan suasana hati yang sangat baik.


Yang lain pun memakan kerang simping dengan senyuman.


“Ah, iya! Ayaka, foto bareng yuk.”


Seolah teringat sesuatu, Saki mengeluarkan ponselnya dan mulai ber-selfie sebelahan dengan Ayaka.


“Ayaka, piringnya angkat dikit biar panggangan di bawahnya kelihatan, nah gitu, gitu! Aku jepret ya.”


Saki berfoto dengan riang bersama Ayaka.


Setelah menjepret beberapa foto, kali ini dia mengarahkan kamera ke arah Haruto.


“Oke Ryota, lebih rapat lagi ke Ootsuki-kun.”


“Nnn? Begini?”


Mendengar instruksi Saki, Ryota menggeser tubuhnya menempel ke Haruto.


“Sip mantap! Cheese.”


Karena difoto agak tiba-tiba, perhatian Haruto sedang teralihkan sepenuhnya oleh kerang simping.


“Ahahaha! Muka Ootsuki-kun! Ngiler banget sama kerangnya!”


“Hei Aizawa-san, curang kalau tiba-tiba begitu.”


Melihat Saki tertawa melihat fotonya, Haruto memprotes sambil tersenyum kecut.


“Kalau gitu Ootsuki-kun juga boleh foto kami, kok.”


Setelah bilang begitu, Saki memeluk Ayaka dan melihat ke arah Haruto.


“Ayo, ini kesempatan dapat two-shot cewek SMA, loh, Ootsuki-san.”


“Ah, tu-tunggu sebentar, rambutku...”


Ayaka yang dipeluk oleh Saki yang bersemangat, buru-buru merapikan poni dengan jari-jarinya.


“Umm, boleh difoto.”


“Tuh, Ayaka juga bilang gitu.”


Saki mendesak sambil berpose dua jari ke arah Haruto.


“Kalau gitu, satu foto saja ya.”


Sambil bilang begitu, Haruto mengambil foto Ayaka dan Saki dengan ponselnya.


“Sudah? Lihat dong.”


Menanggapi Saki, Haruto memperlihatkan layar ponselnya sambil berkata, “Kayak gini.”


Saki memeluk Ayaka dengan senyum lebar, dan Ayaka menatap kamera dengan agak malu-malu.


“Ooh, hasilnya bagus juga, tuh. Boleh dijadikan wallpaper HP Ootsuki-kun, loh?”


“Nggak, kalau itu sih agak...”


“Tapi Ayaka di sini manis banget, ‘kan? Ya ‘kan? Ootsuki-kun.”


“Yah... itu aku akui.”


“Tuh kan~ Ayaka.”


Ayaka yang bahunya ditepuk-tepuk Saki, pipinya merona merah.


“Oke! Kalau gitu, selanjutnya foto two-shot Ootsuki-kun dan Ayaka! Ayo Ayaka, pindah ke sebelah Ootsuki-kun.”


Sambil bicara, Saki mendorong-dorong pinggang Ayaka agar menempel dengan Haruto.


“T-Tunggu, Saki!?”


“Ayo ayo, lebih nempel lagi! Kalau nggak gitu nggak bakal muat di layar. Ootsuki-kun juga, rangkul bahu Ayaka.”


“Tidak, tidak, Aizawa-san!? Ini terlalu mendadak!”


“Oh! Kesempatan emas!!”


Didorong oleh Saki, Haruto dan Ayaka jadi menempel dalam kondisi setengah dipaksa.


Keduanya menunjukkan reaksi panik karena kejadian tiba-tiba itu. Saki tidak melewatkan momen itu dan mengabadikannya di dalam ponselnya.


“Oho~ kepanikan dua orang ini, bagus, bagus banget.”


Melihat gambar yang baru saja diambil, Saki mengangguk-angguk sambil menyeringai.


“Ih, Saki beneran deh... nanti kirim gambarnya ke aku...”


Ayaka kembali ke kursinya dari sebelah Haruto sambil mengerucutkan bibirnya, dan meminta foto two-shot dengan Haruto. Saki tersenyum manis padanya.


“Tentu saja! Ah, nanti aku kirim juga ke Ootsuki-kun. Nanti boleh dicetak terus dipajang di dinding kamar, loh.”


“Tidak... aku nggak bakal melakukan itu... tapi, terima kasih.”


Mendengar ucapan Saki, Haruto juga mengucapkan terima kasih meski tampak malu.


Haruto dan Ayaka sama-sama malu. Seolah ingin mengalihkan suasana itu, Ayaka melihat ke arah jamur shiitake yang sedang dipanggang.


“Ah, jamurnya sudah matang. Nih, Haruto-kun. Ryota juga siniin piringnya.”


Melihat Ayaka membagikan jamur yang sudah matang, Saki tersenyum penuh arti.


Tiba-tiba, Shuuichi yang memegang bir memanggil Haruto seolah baru teringat sesuatu.


“Ngomong-ngomong, Ootsuki-kun. Tadi kamu bilang suka nyalain api, apa kamu suka camping?”


“Itu ya, saya jarang pergi sampai menginap sih, tapi saya suka hal-hal seperti itu.”


Haruto yang sedang menikmati jamur shiitake panggang, menghentikan tangannya sejenak mendengarkan Shuuichi.


“Ooh! Begitu ya! Sebenarnya minggu depan kami sekeluarga berencana pergi camping, bagaimana kalau Ootsuki-kun ikut juga?”


“Eh? Saya boleh ikut?”


“Tentu saja! Saki-chan juga kalau mau bagaimana?”


Shuuichi juga menawarkan pada Saki.


“Saya juga boleh!?”


Melihat Saki yang tampak sedikit terkejut, Ayaka berkata.


“Ayo kita camping bareng.”


Dengan satu kalimat Ayaka itu, Saki langsung mengangkat tangan tegak lurus.


“Ya, ya! Saya pasti ikut!”


“Umu. Kalau begitu kalian berdua bakal ikut, ya!”


“Terima kasih. Umm, mohon bantuannya.”


Haruto menundukkan kepala. Mendengar itu, Ryota yang duduk di sebelah wajahnya berbinar cerah.


“Onii-chan dan Saki Onee-chan juga ikut camping?”


“Iya, kita camping bareng ya, Ryota-kun.”


Melihat Haruto yang berkata sambil tersenyum, Ryota mengangkat kedua tangannya kegirangan, “Asyiiik!”


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close