Penerjemah: Ramdhian
Proffreader: Ramdhian
Chapter 7
Cara Mengungkapkan ‘Aku Mencintaimu’
Di lokasi perkemahan yang dikunjungi Haruto dan rombongannya, terdapat sebuah pemandian air panas yang bisa ditempuh dengan berjalan kaki sekitar sepuluh menit.
“Fuh~ Nikmat sekali.”
Shuuichi berendam hingga sebatas bahu, meletakkan handuk kecil di atas kepalanya.
“Benar sekali. Rasanya seperti hidup kembali.”
Haruto juga berendam hingga bahu, mengembuskan napas panjang “Haa~” seolah memuntahkan seluruh rasa penatnya.
Di hadapan keduanya, Ryota berdiri di tepi bak pemandian, mengecek suhu air dengan mencelupkan ujung kakinya berulang kali.
Saat Haruto memandang tingkah itu dengan tatapan hangat, Shuuichi yang berada di sebelahnya mulai berbicara dengan nada santai.
“Bagaimana, Ootsuki-kun? Apakah kau menikmati camping sungguhan pertama dalam hidupmu ini?”
“Ya. Mengelilingi api unggun bersama, juga masakan campingnya, semuanya luar biasa.”
“Syukurlah kalau begitu. Aku sangat senang kalau kau menikmatinya.”
Shuuichi mengangguk puas mendengar jawaban Haruto.
“Paella seafood-nya juga sangat lezat. Ikue-san benar-benar jago memasak, ya. Saya iri pada Ayaka-san dan sekeluarga karena bisa memakan masakan Ikue-san setiap hari.”
“Ahaha. Begitu, ya! Ikue pasti akan sangat senang kalau mendengarnya.”
Shuuichi tertawa lantang, lalu mendesah “Fuh~” lagi sebelum berbicara kepada Haruto dengan nada yang lebih dalam dan penuh perasaan.
“Tapi sungguh, aku benar-benar bersyukur Ootsuki-kun jadi asisten rumah tangga dengan keluarga kami.”
“Saya juga merasa beruntung bisa bekerja dengan keluarga Shuuichi-san. Saya merasa pekerjaan ini sangat memuaskan batin saya.”
“Aku senang kalau kamu berkata begitu.”
Shuuichi tersenyum lebar mendengar perkataan Haruto. Ia mengusap wajahnya sekali dengan telapak tangannya, lalu memejamkan mata seolah sedang meresapi kenikmatan air panas itu.
“Sejak kau datang bekerja di rumah, Ayaka terlihat sangat gembira.”
“Begitu... kah?”
“Hmm. Sebenarnya putriku itu, dia punya sedikit rasa takut atau menghindari laki-laki. Sebagai orang tua, aku mengkhawatirkan hal itu.”
“Aaah... jadi begitu rupanya.”
Shuuichi membuka matanya, menyandarkan punggung di tepi bak, lalu berbicara sambil menatap langit-langit.
Haruto mengangguk, seolah memahami perkataan itu.
Di sekolah, Ayaka selalu dikelilingi oleh anak perempuan, sementara anak laki-laki tersingkir dari lingkaran itu.
Sebelum terlibat dengan Ayaka lewat pekerjaan rumah tangga, melihat tingkah lakunya di sekolah sempat membuat Haruto berpikir, Apa Ayaka tidak tertarik pada laki-laki? Sebegitu terasanya penolakan gadis itu terhadap lawan jenis.
“Mungkin ini cuma pandangan subjektif orang tua, tapi Ayaka itu sangat manis sejak kecil. Karena itu, anak laki-laki kerap mengganggunya, dan karena itulah...”
“Saya mengerti.”
Sengaja berbuat jahil pada anak yang disukai adalah pola perilaku yang umum bagi anak kecil, tetapi jika hal itu terjadi terlalu sering, tidak mengherankan jika ia jadi trauma terhadap laki-laki.
Shuuichi melanjutkan ceritanya sambil tetap menatap langit-langit.
“Kalau menuruti egoismeku sendiri, aku benci melihat putri manisku dikelilingi oleh bayang-bayang banyak pria. Rasanya ingin kubiarkan saja dia punya rasa takut itu dan tidak usah berhubungan dengan laki-laki. Sempat terpikir begitu, tapi tentu saja tidak bisa begitu terus, ‘kan?”
Shuuichi tersenyum kecut, lalu melanjutkan kata-katanya dengan wajah seorang ayah yang memikirkan putrinya.
“Masa yang sedang dijalani Ayaka dan Ootsuki-kun sekarang, yang disebut masa muda, adalah masa di mana kalian bisa merasakan banyak kebahagiaan. Tapi di sisi lain, ini juga masa di mana kalian menjadi sensitif terhadap kesedihan dan penderitaan, masa di mana perasaan mudah goyah dan labil. Ada kalanya menyenangkan, tapi terkadang diserang oleh kecemasan yang tak terlukiskan. Berbagai emosi yang dirasakan dalam masa muda seperti itulah... yang menurutku akan memperkaya hidup seseorang saat ia dewasa nanti.”
Perlahan, Shuuichi menurunkan pandangannya dari langit-langit.
“Karena itulah. Sebagai orang tua yang memikirkan putrinya, aku ingin dia mengalami berbagai hal dan merasakan berbagai emosi di masa berharga yang akan berlalu dalam sekejap mata itu.”
Sambil mengatakan itu, Shuuichi melempar senyum lembut kepada Haruto.
“Kalian sekarang berada di masa yang sangat sensitif, jadi orang dewasa seharusnya tidak boleh terlalu banyak ikut campur. Secara logika aku paham itu.”
Shuuichi menjeda kalimatnya sejenak, menghadapkan tubuhnya ke arah Haruto, lalu menundukkan kepalanya.
“Tolong, mulai sekarang pun, tetaplah akrab dengan Ayaka, ya?”
“Tu-Tunggu!? Shuuichi-san! Tolong angkat kepala Anda!!”
Melihat Shuuichi menunduk begitu dalam hingga wajahnya hampir masuk ke air, Haruto berseru panik.
Saat itulah, Ryota yang sudah membulatkan tekad akhirnya masuk ke air dengan suara byuur, berendam sampai bahu, lalu berjalan mendekati Haruto dan Shuuichi.
“Ayah lagi ngapain? Lomba tahan napas?”
Shuuichi yang sedang menunduk tertawa “Ahahaha” mendengar ucapan putranya, lalu mengangkat kepalanya.
“Bukan, Ryota. Ayah sedang memohon kepada Onii-chan, supaya mulai sekarang pun dia terus akur dengan Ryota dan Ayaka.”
Shuuichi menjelaskan sambil tertawa kepada putranya yang memiringkan kepala bingung. Kemudian, Ryota menatap Haruto dengan ekspresi heran.
“Onii-chan belum mencintai Onee-chan? Masih butuh waktu?”
“Eh!?”
Pertanyaan tiba-tiba dari Ryota membuat Haruto kehilangan kata-kata.
Lalu, dengan wajah penuh semangat, Ryota mulai menjelaskan kepada ayahnya.
“Itu loh, Yah! Onii-chan ini mau menikah sama Onee-chan! Dulu dia bilang begitu!!”
“Ah, Tung-, Ryota-kun!?”
Ryota menjatuhkan pernyataan mengejutkan kepada Shuuichi dengan riang gembira.
Sepertinya Ryota ingat betul saat Haruto berbicara soal pernikahan di Taman Hutan Satwa dulu.
Haruto yang panik berusaha menghentikannya. Namun, Ryota yang sudah berubah menjadi kereta ekspres pecinta Onii-chan dan Onee-chan ini tak kenal rem.
“Tapi katanya! Onii-chan belum bisa mencintai Onee-chan, jadi belum bisa menikah!”
Setiap kata yang dilontarkan Ryota menancap telak di hati Haruto, menggerus mentalnya habis-habisan.
Namun, Ryota tanpa ampun terus menjelaskan kepada ayahnya dengan wajah berseri-seri.
“Ayah tahu nggak? Kalau menikah itu, suka saja nggak cukup loh!”
“Oh, begitu? Kalau begitu, bisa beri tahu Ayah, apa yang harus dilakukan supaya bisa menikah?”
Shuuichi bertanya dengan lembut kepada Ryota yang sedang menjelaskan dengan sungguh-sungguh.
Ryota pun menjawab dengan tegas sambil memamerkan senyum lebar yang nyaris merobek pipinya.
“Untuk menikah itu... butuh CINTA!!”
Entah karena sedang di dalam pemandian, Haruto merasa ada sedikit efek gema pada suara Ryota di telinganya.
“Walaupun bertengkar tetap bersama, itu butuh cinta! Makanya menikah itu nggak cukup cuma suka, harus ada cinta!!”
“Ooh, kamu tahu banyak ya. Ryota hebat sekali.”
Saat Shuuichi tersenyum sambil mengelus kepalanya, Ryota membusungkan dada dengan bangga dan wajah imutnya berkata “Fufun!”
“Waktu jalan-jalan ke kebun binatang, Onii-chan yang kasih tahu!!”
“Begitu ya, begitu rupanya.”
“Terus ya... Onii-chan itu suka sama Onee-chan, tapi katanya butuh waktu untuk bisa saling mencintai!”
Ryota, dengan kata-katanya yang polos dan tanpa dosa, tanpa belas kasih meledakkan mental Haruto yang sudah terluka.
Saat Haruto jatuh dalam kondisi bengong ringan bagaikan samsak tinju yang sudah babak belur, Ryota melancarkan serangan susulan.
“Onii-chan. Sudah lewat berhari-hari sejak waktu itu, masih butuh waktu buat mencintai Onee-chan?”
“A-Aah... itu, iya ya...”
“Berapa lama lagi? Besok?”
“Bukan, sedikit lagi... masih butuh waktu, mungkin.”
“Minggu depan? Kapan Onii-chan bakal jadi kakakku beneran?”
Ryota yang sudah telanjur sayang pada Haruto tampaknya ingin dia segera menikahi kakaknya secepat mungkin.
Melihat itu, Haruto hanya bisa menyunggingkan senyum kaku.
“Ryo-Ryota-kun, dengar ya... itu, tidak semudah itu, loh.”
“Kenapa? Onii-chan bilang kalau ada cinta bisa menikah, ‘kan?”
“Ehm, iya sih, tapi... bukan ‘kalau ada cinta bisa menikah’, tapi lebih tepatnya ‘pernikahan itu butuh cinta’, begitu...”
“Apa bedanya? Sama saja, ‘kan? Onii-chan nggak bisa mencintai Onee-chan? Nggak mau menikah?”
“Bukan... bukan nggak mau, tapi itu...”
Haruto kewalahan menghadapi serangan bertubi-tubi ‘Kenapa?’ dari Ryota yang berdaya hancur tinggi.
Melihat interaksi itu dengan geli, Shuuichi akhirnya memberikan pertolongan.
“Ryota. Pernikahan itu, memang butuh cinta, tapi ada satu hal lagi yang dibutuhkan, loh.”
“Begitu? Apa itu?”
“Itu adalah... uang.”
“Uang?”
Melihat Ryota memiringkan kepalanya dengan imut, Shuuichi menjelaskan dengan nada menasihati.
“Dengar ya, Ryota. Dalam pernikahan itu ada yang namanya pesta pernikahan. Lalu, harus membeli cincin kawin juga. Untuk itu, butuh uang yang sangat banyak. Onee-chan dan Ootsuki-kun mulai sekarang harus menabung uang demi pernikahan, jadi mereka belum bisa menikah sekarang. Paham?”
“Hmm... menikah itu butuh uang ya.”
Ryota memang belum paham sepenuhnya dengan penjelasan Shuuichi, tapi setidaknya ia menerimanya.
“Onii-chan, semangat nabung uangnya ya! Aku dukung!”
Melihat Ryota yang mengepalkan kedua tangan memberi pose semangat, Haruto tersenyum meski wajahnya masih agak kaku.
“Te-Terima kasih, Ryota-kun. Itu... aku akan berusaha...”
Berkat bujukan Shuuichi, serangan ‘Kenapa?’ Ryota untuk sementara mereda.
Namun di saat yang sama, melihat senyum puas Shuuichi, Haruto merasakan sesuatu.
Sebuah ilusi, seolah-olah ia baru saja dikepung oleh tembok tak kasatmata.
※
“Pemandian air panas saat camping itu mantap banget~!”
“Api unggun memang seru sih, tapi baunya nempel, ya.”
Sambil berendam di air panas, aku menciduk air dengan telapak tangan dan menyiramkannya ke bahuku di sebelah Saki yang sedang meregangkan tubuh.
Pemandian umum yang luas dan lapang terasa nyaman dan sejuk, rasanya sekadar berada di sini saja sudah bikin hati tenang.
Saki juga meluruskan tangan dan kakinya di dalam bak, benar-benar rileks.
“Perut kenyang, air panasnya mantap, aku bahagia banget sekarang~”
Melihat Saki yang lemas dan sedikit mengapung di air, Mama yang berada di hadapannya tersenyum manis.
“Kalau ada Saki rasanya jadi ramai, aku juga senang.”
“Terima kasih banyak sudah mengajak saya hari ini! Paella buatan Mama Ikue enak banget!”
“Wah, terima kasih.”
Mendengar pujian Saki, Mama menempelkan tangan di pipinya dan tersenyum senang.
“Belakangan ini aku selalu mengandalkan masakan Ootsuki-kun, jadi sesekali aku harus berusaha supaya kemampuanku tidak tumpul.”
“Sekarang pasti selalu ada satu menu stok buatan Haruto-kun di meja makan kita, ya.”
Sejak Haruto-kun datang sebagai asisten rumah tangga, meja makan keluarga Toujou rasanya jadi punya beragam menu yang sedikit lebih mewah.
Bukan berarti selama ini Mama tidak masak, tapi sebagai orang tua yang sama-sama bekerja, pasti ada kalanya tangan Mama tidak sempat menyentuh dapur.
Di saat-saat seperti itu, biasanya kami makan mi instan atau pesan antar.
Tapi sekarang, berkat adanya stok masakan buatan Haruto-kun di kulkas, kami bisa makan makanan bergizi dan lezat.
“Waktu itu, Carottes Rapées buatan Haruto-kun enak banget, loh.”
Aroma wortel dan teksturnya yang renyah. Rasa asam dari whole grain mustard berpadu dengan manisnya madu, ditambah takaran garam yang pas, rasanya sangat lezat sampai-sampai mulut tak ingin berhenti memakannya.
Bahkan, Ryota yang tidak terlalu suka wortel saja menghabiskan Carrotes Rapées buatan Haruto-kun dalam sekejap.
“Iya, ya. Bagus juga untuk menambah warna di piring, itu memang enak. Kalau Mama, suka sekali Japchae daging sapi dan soun buatannya.”
“Benar! Japchae buatan Haruto-kun memang enak banget, ‘kan?”
Aku mengangguk setuju dengan penuh semangat pada pendapat Mama.
Melihat tingkahku dan Mama, Saki tertawa geli.
“Ootsuki-kun, benar-benar sudah menguasai perut keluarga Toujou.”
“Saki juga waktu menginap pas barbeku makan masakan stok buatan Haruto-kun, ‘kan? Enak, ‘kan?”
“Ya enak sih. Tapi habis itu, aku malah dapat deklarasi ‘Haruto-kun itu milikku’ dari Ayaka.”
“I-Itu kan! Saki sih, soal Haruto-kun... anu...”
“Oya oya? Ayaka-san, wajahmu merah loh?”
“I-Ini karena berendam di air panas, jadi peredaran darahku lancar!”
Aku memalingkan wajah dari Saki yang mengintip wajahku dengan tatapan jahil. Saat itu, Mama membuka mulut dengan ekspresi tersenyum lebar.
“Tapi Ayaka, selama liburan musim panas ini, kamu harus berhasil menaklukan Ootsuki-kun, loh. Membayangkan stok makanannya hilang dari kulkas, Mama jadi merinding sampai tidak bisa tidur nyenyak.”
Mama memeluk kedua bahunya sendiri dan berpura-pura menggigil.
“Mama Ikue, sudah kena sindrom ketergantungan Ootsuki-kun, nih.”
“Saki, kehebatan Ootsuki-kun itu bukan cuma soal masakan, tahu? Bersih-bersihnya teliti, dia juga mau menemani Ryota bermain. Pokoknya di masa depan, standar minimum calon menantu yang mau melamar harus selevel Ootsuki-kun.”
“Uwaah, standar calon suami Ayaka jadi naik drastis!”
“Tunggu dulu! Mama sama Saki jangan membesar-besarkan cerita sembarangan, dong!”
Dari tadi Mama bilang soal menjadikan Haruto-kun menantu, padahal kami pacaran saja belum, aku jadi bingung kalau dia bicara begitu.
Pertama-tama aku harus berpacaran dengan benar dengan Haruto-kun, menjadi kekasih resmi, baru setelah itu memikirkan hal-hal kedepannya, itu urutan yang wajar, ‘kan...?
“Ampun deh... sebegitu sukanya Mama sama Haruto-kun, ya?”
“Tentu saja Mama suka, sampai-sampai ingin Mama tarik masuk ke keluarga Toujou sekarang juga. Lagipula... Ayaka juga suka, ‘kan? Sama Ootsuki-kun.”
“Tch... i-itu, uuh... su-suka, kok.”
Aku merasakan wajahku memanas karena malu.
Aku memang tidak berusaha menutupinya, jadi aku yakin Mama sudah tahu perasaanku pada Haruto-kun.
Tapi, saat mengatakannya sejelas ini, rasa maluku tetap saja meluap-luap.
“Kalau Ootsuki-kun mendekatimu secara paksa, atau kalau Ayaka merasa terganggu, mungkin kontrak langganannya sudah Mama batalkan.”
Mama menatapku dengan senyum lembut yang terasa sangat mengayomi.
“Kalau kamu memang suka pada Ootsuki-kun, tidak ada alasan lagi untuk menolak, ‘kan? Kebahagiaan putri Mama yang manis terwujud, dan yang jadi menantunya adalah laki-laki yang pandai mengurus rumah. Bagi orang tua, itu seperti sekali mendayung dua-tiga pulau terlampaui.”
Saat mengatakan itu, Mama tidak menunjukkan wajah usil seperti biasanya, melainkan ekspresi lembut seolah benar-benar memikirkanku.
Duh, kalau dibilang dengan wajah seperti itu, aku jadi makin malu, ‘kan...
Untuk menyembunyikan rasa malu dan wajahku yang memerah, aku membenamkan diri sampai mulut ke dalam air panas.
Di sebelahku, Saki berkata, “Ngomong-ngomong.”
“Belum ada tanda-tanda Ootsuki-kun mau nembak? Hubungan pacar pura-puranya belum bisa diakhiri?”
“U-Uuhm. Gimana, ya... menurutku sih aku sudah berusaha memberi kode sebisaku...”
Mendengar ucapan Saki, aku menjawab dengan ragu.
Tiba-tiba, wajah Mama bersinar lebih cerah dari sebelumnya, dan ia menatapku dengan antusias.
“Apa nih, apa nih? Pacar pura-pura itu maksudnya apa?”
Melihat Mama yang penasaran setengah mati, Saki menatapku dengan ekspresi agak canggung, “Eh?”
“Jangan-jangan, soal Ootsuki-kun itu, dirahasiakan dari Mama Ikue?”
“Ehm, bukan bermaksud merahasiakan sih... tapi aku malu kalau harus cerita sendiri...”
Lagipula, kalau Mama sih masih aman, tapi kalau Papa yang dengar, aku tidak tahu dia ngelanturnya bakal kayak gimana.
Makanya, kalau sedang latihan jadi pacar di kamar, aku berbohong bilang sedang belajar.
“Duh, Ayaka ini. Kamu ngapain sama Ootsuki-kun di belakang Mama?”
Ekspresi Mama berubah dari wajah seorang ibu tadi menjadi senyum menyeringai penuh keusilan saat mendesakku.
“E-Enggak bermaksud menyembunyikan kok... Cuma...”
Merasa tak akan bisa melawan tekanan Mama yang kian mendekat, aku pun menjelaskan hubunganku dengan Haruto-kun saat ini kepada Mama. Tentu saja, soal orang tua Haruto-kun tidak bisa kuceritakan sembarangan tanpa ada orangnya, jadi bagian itu kusembunyikan.
Setelah mendengar penjelasanku, mata Mama berbinar dan ia memasang ekspresi sangat gembira.
“Wah, wah! Jadi begitu! Ya ampun! Padahal sampai baru-baru ini sama sekali tidak ada bayangan laki-laki, bagus sekali, ya. Masa muda memang indah.”
“Pa-Papa jangan dikasih tahu, ya?”
“Ufufu, tenang saja. Mama rahasiakan kok. Tapi, Ootsuki-kun itu... Mama kira dia anak yang cukup dewasa, ternyata ada sisi imutnya juga. Jadi...”
Mama menatap mataku dengan suasana hati yang sangat bagus.
“Saki juga sudah bilang, tapi apa Ootsuki-kun kelihatannya bisa ditaklukan?”
“Uuh... gimana, ya...”
Kurasa hubunganku dengan Haruto-kun sudah lumayan bagus.
Kurasa sih begitu... tapi soal dia bakal menyatakan cinta atau tidaknya, aku belum tahu...
Lalu Saki berkata sambil menopang dagu dengan tangannya.
“Melihat kalian berdua waktu barbekuan dan di camping kali ini, menurutku sih, Ootsuki-kun pasti sudah suka sama Ayaka.”
“Be-Benarkah? Kelihatan begitu?”
“Iya, justru aneh kalau dibilang enggak. Makanya, kalau ada event yang bisa jadi pemicu pernyataan cinta, kayaknya bakal berhasil, deh.”
“Event...”
Event yang bisa bikin dia menyatakan cinta itu apa, ya?
Melihat aku memiringkan kepala bingung, Saki berkata dengan senyum bercanda.
“Misalnya, seret Ootsuki-kun ke gereja, terus berdiri berdua di depan pastur?”
“I-Itu sih bukan pernyataan cinta lagi! Itu sumpah sehidup semati!”
“Tapi Ayaka mau kan ada di samping Ootsuki-kun, baik dalam suka maupun duka?”
“.....Ma-Mau sih, tapi...”
“Hyu~, setianyaaa.”
“Ah, sudah ah! Jangan menggodaku!”
Sambil memprotes, aku menciduk sedikit air panas dan mencipratkannya ke arah Saki.
Saki yang wajahnya terkena air panas berkata “Wap, fufufu, maaf maaf”, tapi ekspresinya menyeringai lebar.
Saat aku cemberut melihat sahabatku itu, Mama tiba-tiba berkata seolah baru teringat sesuatu.
“Omong-omong, bukannya minggu depan ada festival kembang api?”
“Ooh! Ayaka, ada event bagus tuh!”
Mendengar ucapan Mama, Saki menatapku dengan semangat tinggi.
“A, u-ung... kalau dipikir-pikir, iya juga, ya.”
“Loh? Kok reaksinya b aja?”
Saki memiringkan kepala dengan heran.
“Bukan, aku juga mau nonton kembang api sama Haruto-kun, tapi... anu...”
“Anu?”
“Kalau bisa sih, aku penginnya Haruto-kun yang ngajak...”
Aku jadi malu sendiri setelah mengatakannya, lalu meremas-remas kedua tanganku.
Melihatku begitu, Saki menghela napas panjang, “Haaah~”
“Lagi-lagi begitu, Ayaka mulai deh serakahnya.”
“Ta-Tapi kan...”
Aku tahu aku harus bergerak aktif, tapi aku juga ingin mengejar sedikit idealisme, dong...
“Kalau Ootsuki-kun lupa soal festival kembang apinya, nanti keburu lewat tanpa diajak, loh?”
“Sebelum itu terjadi, aku yang akan mengajak. Tapi kan masih ada kemungkinan Haruto-kun yang mengajakku?”
“Benar-benar deh, Ayaka ini gadis remaja banget, ya.”
Saki menggelengkan kepala seolah tak habis pikir.
Belakangan ini rasanya jarakku dengan Haruto-kun makin dekat, jadi menurutku kemungkinan dia mengajakku cukup tinggi, kok.
Saat aku berpikir begitu, Mama menatapku sambil berkata, “Ngomong-ngomong.”
“Hari festival kembang api itu, hari menginap di sekolahnya Ryota, ‘kan.”
“Kalau tidak salah iya.”
Di TK tempat Ryota bersekolah, kalau sudah kelas B bakal ada acara menginap satu malam dua hari.
Ryota akan berada di TK mulai sore hari sampai siang keesokan harinya.
“Mama juga hari itu kayaknya bakal pulang larut.”
Di hari menginap itu, diadakan juga semacam acara pertemuan wali murid, dan Mama sepertinya akan ikut serta.
“Ditambah lagi, mulai minggu depan Shuuichi-san juga pergi dinas luar kota.”
Setelah berkata begitu, Mama tersenyum manis padaku.
“Hari itu, di rumah cuma ada kamu sendirian, jadi itu kesempatan buat menyeret Ootsuki-kun ke dalam rumah dengan suasana bagus sepulang dari festival kembang api!”
Mama mengedipkan sebelah mata dan melontarkan ucapan yang tak pantas bagi seorang wali murid, membuatku protes dengan wajah merah padam.
“Me-Menyeret masuk kau bilang!? Mama nggak boleh bilang begitu, dong!? Orang tua itu normalnya mencegah hal kayak gitu terjadi, ‘kan!”
“Benar juga, ya. Iya sih, masih terlalu cepat untuk punya cucu.”
“Cu-Cucu!?”
Aku refleks terdiam seribu bahasa.
Selama ini, kupikir Papa yang harus diwaspadai sementara Mama aman. Tapi, jangan-jangan Mama juga lumayan bahaya...
Aku melotot penuh kewaspadaan pada Mama yang sedang berkata “Padahal Mama ingin lihat wajah cucu juga, sih”. Di saat itu, Saki di sebelahku malah ikut-ikutan jahil.
“Ootsuki-kun juga laki-laki, loh. Kalau dipepet sama bodi Ayaka yang aduhai ini, pasti langsung K.O.!”
“Ki-Kita tuh masih SMA! Harus pacaran yang bersih dan sehat!!”
Aku menepis tangan Saki yang menusuk-nusuk dadaku.
“Lagipula, aku kan belum jadian sama Haruto-kun! Pertama-tama harus jadi pacar resmi dulu!”
“Duh, Ayaka sampai ngotot gitu. Tentu saja Mama cuma bercanda, tahu?”
Mama berkata sambil tertawa “Fufufu”.
“Yang bener? Serius bercanda?”
Saat aku menatap Mama dengan tatapan curiga, dia membalas dengan senyum manis.
“Tentu saja, separuhnya bercanda, kok.”
“Separuhnya lagi serius, dong!!”
※
Haruto yang baru keluar dari pemandian air panas kembali ke area perkemahan sambil menggendong Ryota yang sudah tertidur pulas di punggungnya.
Saat Haruto membetulkan posisi gendongannya dengan gumaman “Hap,” karena Ryota sedikit merosot, Ayaka yang melihat hal itu datang mendekat ke sebelahnya.
“Dugaanku tepat, ‘kan?”
“Iya, benar.”
“Tidak apa-apa? Tidak berat?”
Ayaka menoleh ke arah Haruto dengan tatapan cemas.
Dari sosoknya, tercium aroma sampo khas orang yang baru selesai mandi, menggelitik hidung Haruto dengan lembut.
“Ya. Sama sekali tidak masalah, kok.”
Sambil sedikit mengalihkan pandangan dari rambut Ayaka yang terlihat agak basah dan berkilau mempesona, Haruto mengangguk kecil.
Kenapa wanita yang baru selesai mandi terlihat begitu menarik? Aroma yang menyelimuti tubuhnya, rambut yang agak basah. Serta senyuman tanpa riasan yang segar dan kencang itu.
Ayaka yang sedang tersenyum ramah itu pipinya tampak sedikit merona, mungkin karena efek air panas.
Saat itu, Haruto melihat Ikue dan Saki yang berjalan sedikit di depan mereka dan berpikir.
Kenapa, ya? Rasanya hanya wajah Ayaka yang sedikit lebih merah dibanding dua orang lainnya.
Saat Haruto merasa heran, Saki memperlambat langkahnya hingga berada di dekat Haruto dan Ayaka, lalu tersenyum dengan tatapan menggoda.
“Lihat tuh, lihat tuh, ada pasutri yang lagi mesra-mesraan. Kalau bermesraan terus, nanti ketinggalan rombongan, loh?”
“Tunggu, Saki!”
Seketika Ayaka menoleh ke arah Saki dengan ekspresi campuran antara panik dan malu.
“Aku dan Haruto-kun belum jadi suami istri!”
“Oya? Kalo ‘Belum’ berarti nantinya ada rencana, ‘kan?”
“Eh!? Maksudnya bukan begitu, woi!!”
Melihat kedua gadis itu heboh bercakap-cakap, Haruto hanya tersenyum kecut sambil kembali menaikkan posisi Ryota yang merosot di punggungnya, lalu berjalan santai ke perkemahan.
Beberapa menit kemudian, sesampainya di perkemahan, Haruto membaringkan Ryota yang tidur seperti batang kayu itu di dalam tenda.
“Ootsuki-kun, terima kasih, ya. Kamu selalu menjaga Ryota.”
“Tidak, sama sekali tidak merepotkan kok.”
Saat Haruto keluar dari tenda, Ikue berterima kasih kepadanya.
Di saat bersamaan, Shuuichi datang membawa botol yang terlihat seperti wine dengan wajah berseri-seri dan memberikan usulan.
“Bagaimana? Mau mengadakan pesta kecil-kecilan?”
Saki adalah yang paling cepat bereaksi terhadap usulannya.
“Pesta! Boleh juga tuh, Shuuichi-san!”
“Tapi Papa, kami kan belum boleh minum alkohol?”
Ayaka mengerutkan alis melihat botol yang digenggam ayahnya. Melihat reaksi putrinya, Shuuichi memperlebar senyumnya.
“Tidak masalah. Sebenarnya ini bukan wine, tapi cuma jus anggur.”
Sambil bilang begitu, Shuuichi menyodorkan botol itu ke arah Ayaka agar labelnya terlihat jelas. Di sana memang tertulis jelas: Jus Anggur 100%.
Haruto pun menatap jus anggur yang kemasannya mirip botol wine itu dengan kagum.
“Hebat sekali. Ternyata ada juga jus yang kayak gitu, ya.”
“Hmm. Ini pasti enak. Soalnya satu botolnya harganya lima ribu yen.”
“Li-Lima ribu!?”
Mendengar harga mencengangkan yang keluar dari mulut Shuuichi, mata Haruto terbelalak. Di sebelahnya, Saki yang sama-sama rakyat jelata mengeluarkan suara aneh, “Awawawa.”
Karena Shuuichi dan Ikue sangat ramah dan mudah diajak bicara, serta sikap Ayaka dan Ryota sama sekali tidak sombong, Haruto sering lupa kalau keluarga Toujou itu sebenarnya tajir melintir.
Melihat Haruto dan Saki yang gemetar ketakutan melihat jus yang terlalu mewah itu, Ikue berkata sambil tersenyum manis.
“Jangan sungkan, minum saja. Nambah berkali-kali juga boleh, kok. Kami bawa empat botol.”
“E-Empat botol...”
“Wow...”
Cuma jus saja totalnya dua puluh ribu yen. Haruto kehilangan kata-kata mendengar fakta itu, sementara Saki memberikan reaksi layaknya orang asing.
Lalu, Ayaka datang membawa gelas kertas sekali pakai tanpa terlihat mempedulikan harganya.
“Pakai gelas ini nggak apa-apa? Ada yang lebih besar sih kalau mau?”
“...Borjuis... dasar kaum borjuis!!”
Tiba-tiba Saki memeluk Ayaka dari belakang dan mulai menggelitik pinggangnya.
“Kya!? Saki, tunggu!?”
“Rasakan ini! Sudah tajir, cantik, bodinya bagus pula, itu curang tahu!”
“S-Saki juga langsing, ‘kan!! Hentikan, ahaha! Tu-Tunggu! Geli tahu!!”
“Berisik! Dasar cheater! Berikan setengah ukuran dadamu itu padaku!!”
“M-Mana mungkin bisa begitu!? Tung-Tunggu Saki!? Ja-Jangan diremas!!”
Ayaka berusaha mati-matian melawan serangan Saki.
Melihat pergulatan sesama cewek SMA yang terjadi di hadapannya, Haruto perlahan memalingkan pandangannya. Fakta bahwa keduanya baru selesai mandi menjadi faktor yang menambah daya tarik pemandangan itu.
“...Shuuichi-san. Gelasnya pakai ini saja tidak apa-apa?”
Untuk mengalihkan rasa canggung, Haruto mengambil gelas kertas yang tadi dibawa Ayaka.
“Ah, kami akan minum pakai ini, jadi tidak masalah.”
Shuuichi menggeleng, lalu kali ini mengambil botol yang benar-benar berisi wine.
Melihat itu, Haruto memberikan tawaran.
“Kalau begitu, bagaimana kalau saya buatkan camilan?”
“Oh! Mau buat apa?”
“Karena ada tomat kalengan dan penne, saya pikir mau membuat arrabiata. Kurasa cocok untuk teman minum wine.”
“Ooh!! Tolong buatkan!!”
Shuuichi menjawab dengan antusias tawaran masakan Haruto.
“Omong-omong, apa kalian semua tahan pedas?”
Saat memasak sebagai asisten rumah tangga, karena ada Ryota, Haruto selalu meminimalisir rasa pedas dan asam pada masakannya. Namun, karena Ryota sedang tidur sekarang, pertimbangan itu tidak diperlukan.
Bagi Haruto, arrabiata itu harus pedas. Saat ia bertanya, Ikue menjawab sambil mengangguk.
“Tahan banget. Justru aku suka pedas. Iya, ‘kan, Sayang?”
“Hmm. Lagipula, rasa pedas lebih cocok dengan alkohol.”
Mendengar jawaban pasangan suami istri Toujou, Haruto juga memastikan pada dua gadis yang masih bercanda di sana.
“Kalian berdua bagaimana? Tahan pedas?”
“Rasa pedas sangat kusambut!”
Saki yang tadi sibuk menggelitiki Ayaka menghentikan tangannya dan memberi hormat pada Haruto.
Ayaka yang akhirnya terbebas dari tangan jahil Saki memonyongkan bibir sambil bergumam “Saki bodoh...” lalu berkata pada Haruto.
“Aku juga tidak masalah dengan pedas.”
“Sip. Kalau begitu aku pakai bumbu agak pedas, ya.”
Setelah mendapat konfirmasi dari semua orang, Haruto segera mulai memasak.
Karena api unggun sudah dipadamkan sebelum pergi ke pemandian air panas, Haruto menaruh wajan di atas kompor portabel. Saki kemudian mengintip wajan dari belakang punggung Haruto dan bertanya.
“Ngomong-ngomong, Ootsuki-kun. Aku tadi nggak dengar, kamu mau masak apa?”
“Arrabiata.”
“Walah. Masak makanan keren lagi, ya. Aku sih cuma pernah makan arrabiata di restoran keluarga.”
Saki berkata dengan nada kagum, lalu menyeringai dan menatap ke arah Ayaka.
“Serius deh, bikin iri saja.”
“...Saki juga bentar lagi bakal makan arrabiata buatan Haruto-kun, ‘kan?”
“Iya juga, sih”
Ayaka menjawab godaan Saki dengan pipi sedikit menggembung. Melihat ekspresi Ayaka itu, seringai Saki makin lebar.
“Haruto-kun. Porsinya Saki bikin yang super pedas saja.”
“Ahaha, siap.”
“Aah—! Ayaka kok tega banget melakukan itu pada sahabatmu sendiri?”
“Habisnya Saki jahil, sih.”
“Ini kan salah satu bentuk ungkapan kasih sayang?”
“Huh.”
Mungkin karena Ayaka dan Saki sudah berteman lama, percakapan mereka terdengar sangat lepas tanpa rasa sungkan.
Haruto sesekali menimpali obrolan mereka sambil terus membuat arrabiata.
Ia memasukkan bawang putih cincang dan cabai merah ke dalam minyak zaitun, lalu memanaskannya hingga aroma dan rasa pedasnya meresap ke dalam minyak.
Aroma bawang putih dan cabai yang terbawa angin malam membuat wajah Shuuichi meleleh saking senangnya.
“Hanya dengan aroma ini saja rasanya sudah bisa minum wine.”
Mendengar itu, Haruto tersenyum, lalu menumis bawang bombai, memasukkan tomat kaleng, dan merebusnya hingga mengental.
Beberapa menit kemudian, Haruto mencampurkan penne yang sudah direbus ke dalam saus, menyesuaikan rasa dengan garam, dan terakhir menambahkan sedikit minyak zaitun sebelum menyajikannya di piring.
“Sudah jadi. Penne Arrabiata.”
Haruto meletakkan arrabiata yang sudah ditata di piring ke meja yang dikelilingi semua orang.
Seolah sudah menunggu momen ini, Shuuichi seketika mulai menuangkan minuman untuk semua orang. Setelah semua kebagian, ia mengangkat gelasnya dan berseru riang.
“Mari kita bersulang! Bersulang!!”
Mengikuti seruan itu, Haruto dan yang lain mengangkat gelas kertas mereka. “Bersulang!”
“Kuh~ jus anggur ini enak banget!! Apa-apaan ini!?”
Saki membelalakkan mata merasakan jus mewah itu. Di sebelahnya, Ayaka mengulurkan sumpit ke arrabiata buatan Haruto.
“Haruto-kun, ini enak banget.”
“Syukurlah. Makan yang banyak, ya.”
“Ung! A... tapi, agak pedas, ya.”
Rasa pedas yang perlahan menyebar di lidah membuat Ayaka tersenyum kecut.
Melihat putrinya begitu, Ikue tersenyum manis.
“Justru rasa pedasnya ini yang enak. Sangat cocok dengan wine, mantap sekali. Terima kasih ya, Ootsuki-kun.”
“Saya senang kalau sesuai dengan selera Anda.”
Haruto menunduk senang mendengar pujian Ikue.
“Minuman enak, makanan lezat, dan kalau menengadah ada langit penuh bintang. Wah, luar biasa!”
Shuuichi berkata dengan puas sambil memiringkan gelas wine-nya.
Setelah itu, pesta terus berlanjut dengan meriah sambil menyantap arrabiata.
Shuuichi dan Ikue terus memuji masakan Haruto sambil meneguk alkohol dengan lancar, sementara Saki menyesali nasibnya yang belum bisa minum alkohol sambil berkata, “Ootsuki-kun, di masa depan buka izakaya saja gimana? Nanti aku jadi pelanggan tetap di sana,” sambil meminum jusnya.
Ayaka pun berkata, “Pedasnya bikin ketagihan...” sambil makan dan minum jus bergantian.
Di bawah hamparan bintang, waktu yang ramai dan menyenangkan terus berlalu, hingga akhirnya pesta dibubarkan saat Shuuichi yang sudah mabuk berat merangkul bahu Haruto dan berkata dengan suasana hati sangat bagus, “Tidak usah panggil Shuuichi-san, panggil Ayah juga boleh, loh.”
Para wanita dan para pria masuk ke tenda masing-masing.
Sambil membungkus diri dengan kantong tidur, Haruto merasakan kepuasan besar karena camping sungguhan pertamanya ternyata jauh lebih menyenangkan dari bayangannya.
Dari sebelahnya, suara dengkuran Shuuichi mulai terdengar.
Haruto kembali merasakan rasa terima kasih kepada keluarga Toujou.
Soal Ayaka, kadang ia merasa berdebar karena tekanan-tekanan tertentu, tapi meski begitu, mereka sangat baik padanya, seperti mengajaknya barbeku dan camping seperti ini.
Berkat itu, kerja sambilan sebagai asisten rumah tangga pun bisa ia lakukan dengan sangat menyenangkan dan memuaskan.
“Benar-benar keluarga yang sangat baik, ya...”
Gumam Haruto pelan seorang diri.
Suasana keluarga Toujou yang ramai, ceria, dan penuh kasih sayang. Melalui kerja sambilan ini, Haruto bisa ikut merasakan suasana itu, dan hatinya terasa hangat secara alami.
Sungguh, ia bersyukur mengambil kerja sambilan ini di liburan musim panas.
Dan, ia bersyukur bisa bertemu keluarga Toujou.
Sambil memikirkan hal itu, Haruto perlahan memejamkan matanya dan tertidur pulas.
※
Mungkin karena ini pertama kalinya tidur di tenda, jadi tidurnya tidak terlalu nyenyak.
Haruto terbangun sendiri, dan sambil menatap langit-langit tenda dengan tatapan kosong, ia memikirkan hal itu.
Di luar masih gelap gulita.
Ia meraba-raba mencari ponsel yang diletakkan di dekat bantal, mengecek waktu, dan ternyata baru lewat sedikit dari pukul dua belas malam.
Haruto mencoba memejamkan mata sejenak untuk tidur lagi, tapi matanya justru semakin melek dan sulit terpejam. Apa boleh buat, ia menyerah untuk tidur, dan bergerak dengan hati-hati agar tidak membangunkan ayah dan anak keluarga Toujou yang sedang tidur nyenyak di sebelahnya, lalu mengendap-endap keluar tenda.
Di tengah kegelapan malam, dengan hanya mengandalkan cahaya bulan yang lembut, Haruto berhasil menemukan sepatunya di dekat pintu masuk tenda, memakainya, lalu berdiri perlahan dan secara spontan menengadah menatap langit malam.
“Ooh...”
Seketika, suara kekaguman kecil lolos dari mulutnya.
Langit malam terbentang di atas kepalanya.
Di sana, terdapat lautan bintang yang terasa tak berujung.
Ribuan bintang berdesakan memenuhi tirai malam, terhampar memenuhi seluruh pandangan di atas kepala seolah membungkus Haruto, berkelip dengan indahnya.
“Inikah yang disebut langit penuh bintang...”
Pemandangan luar biasa yang jarang bisa dilihat di perkotaan atau pemukiman yang banyak cahaya buatan manusia membuat Haruto hanya bisa bengong menatap langit.
Awalnya, Haruto berniat jalan-jalan sebentar untuk menggerakkan badan lalu kembali tidur.
Namun, karena langit berbintang itu begitu indah, ia akhirnya duduk di rerumputan yang agak jauh dari tenda dan menatap langit malam dalam diam.
Entah sudah berapa lama ia ada disana.
Di telinga Haruto yang sedang lupa waktu menatap bintang, tiba-tiba terdengar suara ritsleting dibuka.
Saat ia mengarahkan pandangan ke sumber suara, terlihat sosok Ayaka yang keluar dari tenda dengan gerakan ragu-ragu karena matanya belum terbiasa dengan kegelapan malam.
Dia agak kesulitan memakai sepatunya, lalu berjalan pelan, dan saat menyadari Haruto sedang duduk agak jauh dari tenda, ia menghentikan langkahnya.
“Ara? ...Haruto-kun?”
Sepertinya dia tidak bisa melihat dengan jelas karena gelap, jadi Ayaka bertanya dengan agak ragu.
“Ya. Aku tidak terbiasa tidur di tenda, jadi kebangun. Terus pas keluar, ternyata langitnya indah banget.”
“Begitu rupanya.”
“Ayaka sedang apa?”
“Aku... itu... sepertinya sebelum tidur tadi kebanyakan minum jus...”
Melihat Ayaka berkata dengan malu-malu, Haruto mengangguk kecil, “Ah, begitu rupanya.”
“Kalau tidak salah toilet di sebelah sana, ‘kan?”
Haruto berkata sambil mengarahkan pandangan ke bangunan kecil bergaya pondok kayu yang agak jauh.
“Ung”
Dia mengangguk kecil, melirik sekilas ke arah Haruto yang duduk di rumput, lalu ikut memandang ke arah langit berbintang.
“Haruto-kun masih belum mau tidur?”
“Sepertinya begitu. Mungkin aku akan begini sebentar lagi.”
Sambil berkata begitu, Haruto menengadahkan wajahnya dengan ekspresi tenang.
“Begitu, ya... ah, kalau begitu aku ke sana sebentar...”
“Ya, hati-hati.”
Setelah Haruto berkata begitu, Ayaka berjalan cepat menuju pondok kayu itu.
Bahkan setelah mengantar kepergiannya dengan pandangan, Haruto terus menatap langit berbintang dengan santai.
Tak lama kemudian, Ayaka kembali ke tempatnya.
“Syukurlah. Kamu masih bangun... hei, Haruto-kun. Boleh aku duduk di sebelahmu?”
Haruto berpikir dia kembali lebih cepat dari dugaan.
Napasnya sedikit terengah. Sepertinya dia berlari kecil dari pondok kayu sampai ke sini.
“Ya. Tentu saja.”
Apa mungkin dia agak takut pergi ke toilet sendirian? Kalau begitu harusnya tadi aku temani saja, pikir Haruto; meski begitu ia menyetujui permintaan Ayaka untuk duduk di sebelahnya.
Mendengar jawaban Haruto, Ayaka berekspresi sangat senang, lalu duduk di sebelah Haruto dengan memberi jarak sekitar satu kepalan tangan.
“Bintangnya indah, ya.”
“Ya, indah sekali.”
Angin malam membelai lembut dua orang yang sedang duduk sebelahan sambil menatap langit malam itu.
Berkat ketinggian lokasi ini, bahkan di tengah musim panas pun suhu udara turun drastis saat malam, dan angin malam yang berhembus terasa sangat nyaman.
Di sebelah Haruto, Ayaka berkata dengan penuh perasaan.
“Kalau tidak ada cahaya yang mengganggu, ternyata kita bisa lihat bintang sebanyak ini, ya.”
“Benar. Entah kenapa, saat melihat bintang sebanyak ini, rasanya langit malam jadi lebih dekat, ya.”
“Aku mengerti! Rasanya jadi nggak ada jaraknya, ‘kan.”
Ayaka menunjukkan persetujuan dengan senang atas ucapan Haruto.
Dunia malam yang gelap tanpa cahaya selain sinar rembulan yang lembut.
Bintang-bintang yang memenuhi langit di atas sana menyajikan pemandangan yang begitu menakjubkan hingga terasa seolah mendesak tepat di depan mata, memberikan nuansa luas yang fantastis.
“Bintang itu misterius, ya.”
Mendengar Haruto bergumam pelan, Ayaka mengalihkan pandangan dari langit dan melirik Haruto dari samping.
“Kalau membayangkan setiap kerlap-kerlip itu adalah bintang sejati, rasanya alam semesta itu benar-benar luas, ya.”
“Bintang sejati itu, maksudnya bintang kayak matahari?”
“Ung. Bintang yang memancarkan cahayanya sendiri.”
Setelah mengangguk pada ucapan Ayaka, mata Haruto berbinar seperti anak kecil saat menatap langit malam.
“Di sekeliling bintang-bintang yang tak terhitung jumlahnya itu ada banyak planet, dan di salah satunya, mungkin ada planet seperti bumi, di mana ada makhluk yang juga sedang menatap bintang kayak kita dan berkata ‘indah, ya’. Kalau membayangkan itu rasanya jadi bersemangat.”
“Fufufu, Haruto-kun ternyata orangnya romantis, ya?”
Berbanding terbalik dengan Ayaka yang tersenyum geli, Haruto menjelaskan padanya dengan sangat serius dan sedikit berapi-api.
“Tidak, tidak. Ini pembicaraan ilmiah, tahu?”
“Begitu?”
“Ada persamaan khusus untuk menghitung kemungkinan adanya kehidupan cerdas selain manusia di bumi, loh.”
“Persamaan...”
“Dalam persamaan itu, kita mengalikan berbagai variabel, tapi sampai baru-baru ini belum bisa dibuktikan kalau di sekitar bintang sejati itu benar-benar ada planet.”
“He, heee...”
Mendengar Haruto yang tiba-tiba bicara berapi-api soal sains antariksa, Ayaka memberikan respons yang agak kewalahan.
Namun Haruto terus berbicara tentang alam semesta dengan antusias.
“Tapi, ya. Penelitian terbaru menemukan bahwa bintang sejati itu bergerak sedikit, dan diketahui bahwa itu akibat pengaruh gravitasi planet di sekitarnya. Jadi, karena sudah terbukti kalau kemungkinan bintang sejati memiliki sistem planet itu tidak nol, kemungkinan adanya peradaban cerdas di luar bumi pun melonjak drastis.”
“Be-Begitu, ya...”
Awalnya Ayaka kira ini akan jadi pembicaraan romantis, ternyata malah jadi pembicaraan sains yang cukup berat, dia pun tersenyum kaku.
“Soalnya ada perbedaan besar antara nol dan satu. Kalau nol, mau dikali berapa pun hasilnya bakal tetap nol.”
Melihat Haruto mengatakan itu sambil menatap langit berbintang yang fantastis, Ayaka menunjukkan ekspresi sedikit tidak puas.
“...Hei, Haruto-kun.”
“Ya?”
“Anu, nggak ada cerita yang lebih romantis dikit? Misalnya mitos tentang rasi bintang, kamu tahu nggak?”
Mendengar pertanyaan Ayaka, Haruto memiringkan kepala.
“Hmm. Aku nggak terlalu paham soal rasi bintang, sih.”
“Begitu, ya... ah, aku tahu.”
Ayaka melihat bulan yang bersinar samar dan sepertinya mendapat ide untuk mengalihkan pembicaraan pada Haruto.
“Haruto-kun, kamu tahu nggak kalau frasa ‘Bulan itu indah, ya (Tsuki ga kirei desu ne)’ itu bisa berarti pernyataan cinta?”
“Ah, ya. Natsume Souseki, ‘kan, itu?”
“Eh? Benarkah?”
Ayaka berniat menggiring topik ke arah romantis, tapi ia tidak menyangka nama sastrawan besar zaman dulu akan keluar dari mulut Haruto, membuatnya melongo kaget.
Mungkin karena ekspresinya terlihat lucu, Haruto mulai bercerita sambil tersenyum “Fufu”.
“Waktu Natsume Souseki jadi guru bahasa Inggris, ada muridnya yang menerjemahkan ‘I love you’ mentah-mentah jadi ‘Aku mencintaimu’ (Ware kimi wo aisu). Lalu Souseki bilang, orang Jepang tidak akan menggunakan ungkapan langsung seperti itu. Lalu saat muridnya bertanya bagaimana harus menerjemahkannya, konon Souseki bilang, terjemahkan saja jadi ‘Bulan itu indah, ya (Tsuki ga kirei desu ne)’, begitu asal-usulnya.”
“Ternyata begitu, aku baru tahu. Haruto-kun wawasannya luas, ya.”
Mendengar pujian jujur Ayaka, Haruto menggaruk pipinya untuk menutupi rasa malu.
“Ini cerita yang lumayan terkenal, kok.”
“Begitu, ya. Tapi kenapa terjemahan ‘I love you’ jadi ‘Bulan itu indah’, ya?”
Bersama Haruto, Ayaka juga menatap langit malam sambil bertanya dengan heran.
Sambil menangkap profil wajah Ayaka di sudut pandangannya, Haruto membuka mulut dengan suara tenang.
“Dua orang berdiri berdampingan menatap bulan yang sama, dan berbagi perasaan bahwa bulan itu indah. Itu sudah cukup untuk mewakili rasa ‘mencintai’. Seingatku aku pernah baca penjelasan seperti itu.”
“Wah, itu bagus sekali. Romantis dan indah.”
“Yah, tapi di dunia nyata jarang ada orang romantis yang menyatakan cinta pakai cara itu, sih.”
Setidaknya, Haruto merasa mustahil kalau ia harus menyusun rencana kencan yang diakhiri dengan menatap langit malam berdua lalu menyatakan cinta dengan kalimat ‘Bulan itu indah, ya’.
Saat Haruto memikirkan hal itu, Ayaka di sebelahnya tiba-tiba mengalihkan pandangan dari langit dan menatap lekat pada Haruto.
“Kalau Haruto-kun, ‘I love you’ akan kamu terjemahkan jadi apa?”
“Eeh... permintaannya berat banget.”
Melihat Ayaka yang tersenyum riang padanya, Haruto tersenyum bingung.
“Haruto-kun kan pintar. Jadi kupikir kamu pasti bisa memikirkan ungkapan yang tidak kalah dari Natsume Souseki.”
“Tidak, tidak. Lawannya itu sastrawan besar yang wajahnya ada di uang kertas, loh?”
Meski Haruto berkata begitu sambil tersenyum kecut, Ayaka terus menatapnya dengan tatapan penuh harap.
Ini sih, kalau tidak dijawab dia nggak bakal mundur.
Merasa demikian, Haruto menatap langit malam tengah malam itu, memutar otak mencari ide.
Sosoknya itu terus dipandangi oleh Ayaka dengan ekspresi riang gembira.
Saat itu, angin malam musim panas membelai lembut mereka berdua.
Bersamaan dengan itu, Haruto merasa seolah terselimuti oleh aroma Ayaka.
Aroma sabun yang masih tersisa samar-samar setelah mandi, bercampur dengan aroma tubuh Ayaka yang biasanya, yang terasa agak manis.
Mencium aroma yang terbawa angin itu, Haruto berkata lirih seolah bergumam, masih sambil menatap langit.
“Angin malam hari ini, terasa nyaman... mungkin?”
“........”
Mendengar kata-kata Haruto, Ayaka hanya diam menatapnya. Ditatap seperti itu, rasa malu perlahan merayap naik di dalam dada Haruto.
Akhirnya, karena tak tahan lagi, wajah Haruto memerah padam dan ia berkata dengan cepat.
“Tadi itu nggak jadi! Anggap nggak ada!! Lupakan!”
“Eh? Menurutku itu bagus banget, loh? Haruto-kun memang hebat.”
“Hentikan, malu tahu.”
Melihat Ayaka memujinya dengan senyum lebar, Haruto yang pipinya masih merah menggaruk-garuk kepalanya dengan kasar, menggeliat karena malu.
Melihat tingkahnya, Ayaka tersenyum lembut dan mengusulkan sesuatu pada Haruto.
“Oh iya, Haruto-kun.”
“Hm?”
“Mau latihan jadi pacar?”
“Eh? Sekarang di sini?”
“Ung.”
Ayaka mengangguk malu-malu.
“Menatap langit berbintang bersama di tengah malam itu, rasanya kayak sepasang kekasih banget, ‘kan?”
“Begitu?”
“Ung. Makanya, kalau situasi ini dilewatkan begitu saja, sayang banget rasanya.”
Sambil berkata begitu, Ayaka memiringkan kepalanya sedikit, menatap Haruto dan bertanya, “Kamu keberatan?”
“Tidak, sama sekali nggak keberatan, tapi...”
“Kalau begitu sudah fiks, ya!”
Ayaka berkata dengan suara riang, lalu menutup jarak satu kepalan tangan di antara mereka, duduk menempel pada Haruto.
“...Uumm, latihan seperti apa?”
Merasakan kehangatan dari sebelahnya, Haruto merasa detak jantungnya menjadi lebih cepat.
“Hmm. Di saat seperti ini, pasangan kekasih sungguhan biasanya melakukan apa, ya?”
“...Gandengan tangan, lalu mengamati bintang dengan tenang, mungkin?”
Haruto asal menyebutkan apa yang terlintas di kepalanya.
Mendengar itu, Ayaka bergumam “Begitu, ya,” lalu perlahan menyodorkan tangan kanannya ke arah Haruto.
Haruto menatap tangan kanan itu sejenak, lalu perlahan menjalin jari-jari tangan kirinya ke sana.
Dari sebelahnya terdengar tawa kecil “Fufufu” yang terdengar sangat bahagia.
Untuk mengalihkan rasa malunya, Haruto menatap langit penuh bintang, dan Ayaka pun ikut menatap langit malam bersama.
“...Indah, ya.”
“Ya, indah sekali...”
Setelah saling melontarkan kata-kata singkat, keduanya menatap ke arah yang sama, bahu-membahu di dalam kegelapan yang dipenuhi bintang.
Setelah beberapa saat memandangi langit dalam keheningan, tiba-tiba Haruto merasakan beban berat mendarat di bahu kirinya.
Ia pun menurunkan pandangannya ke bahu kiri.
Di sana ada Ayaka yang menyandarkan kepalanya di bahu Haruto.
Dari rambut Ayaka yang ada tepat di depan matanya, Haruto mencium aroma gadis itu lebih kuat dan jelas dibandingkan saat terbawa angin tadi.
Saat dada Haruto berdegup kencang karena hal itu, suara Ayaka yang lembut dan terdengar rapuh sampai ke telinganya.
“Haruto-kun... tahu nggak... sudah sejak lama, aku merasa angin malamnya nyaman, loh?”
“...”
Mendengar kata-kata itu, Haruto refleks menoleh ke arahnya.
Lalu, Ayaka yang menyandarkan kepala di bahunya pun perlahan menatap Haruto.
Pandangan mereka bertemu dalam jarak yang begitu dekat.
Di mata Haruto, terpantul sosok Ayaka yang diterangi cahaya rembulan yang lembut dan sendu.
Begitu indah dan misterius seolah bukan berasal dari dunia ini, bagi Haruto, Ayaka terlihat lebih mempesona dari sebelumnya.
Haruto buru-buru melepaskan pandangannya dan kembali menatap langit malam.
Namun, hamparan bintang yang tadi membuatnya terkesima kini sama sekali tidak masuk ke dalam pandangannya.
Sebab, pesona gadis di sebelahnya terlalu menyilaukan, hingga cahayanya membuat bintang-bintang itu meredup.
Haruto, dengan jantung yang berdetak begitu kencang hingga ia khawatir Ayaka bisa mendengarnya, terpaksa menyadari bahwa perasaannya sudah mencapai titik di mana ia tak bisa lagi membohongi dirinya sendiri.
Aku sudah tidak bisa lagi melanjutkan kepura-puraan ini... Tidak, aku tidak ingin melanjutkannya.
Sampai sebegitunya Haruto menyadari bahwa hatinya telah dicuri, dan telah jatuh cinta setengah mati pada gadis bernama Toujou Ayaka.
“Hei, Haruto-kun. Segitiga Musim Panas itu yang mana, ya?”
Ayaka yang tidak mengetahui isi hati Haruto, bertanya dengan senyum polos yang indah namun sendu di bawah sinar bulan.
Sambil berusaha tidak tenggelam dalam arus emosi yang meluap di hatinya, Haruto berusaha keras pura-pura tenang saat menjawab.
“...Yang itu, yang itu, dan yang itu bukan?”
“Itu sih kamu asal tunjuk doang, ‘kan.”
“Iya, maaf.”
“Dasar... fufufu.”
Sambil mati-matian menahan perasaan yang nyaris membuncah, Haruto menghabiskan malam yang sunyi bersama gadis yang tertawa riang di sebelahnya.




Post a Comment