NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kaji Daiko no Arubaito o Hajimetara Gakuen Ichi no Bishojo no Kazoku ni Kiniira re Chaimashita V2 Afterword

 Penerjemah: Ramdhian

Proffreader: Ramdhian


Afterword

Terima kasih telah membaca. Aku Shiohon, si pengarang.


Karena volume kedua dari karya ini akhirnya berhasil terbit, izinkan aku berbagi sedikit cerita tentang “Gyoza Buatan Sendiri” yang muncul di awal cerita.


Itu terjadi pada suatu hari Sabtu musim panas, sebelum anak kami lahir. Demi menghemat listrik, aku tidak menyalakan AC dan tetap menyedot debu rumah. Hanya dengan itu saja, aku sudah mandi keringat dan akhirnya harus mandi air dingin.


Saat air dingin mengguyur kepalaku, tubuhku diselimuti kesejukan yang menyegarkan, dan aku pun larut dalam kenikmatan saat keringat mengalir pergi. Di saat itulah aku berpikir, “Malam ini makan gyoza sambil minum bir, kayaknya enak.”


Aku langsung menghubungi istriku yang sedang bekerja, menanyakan apakah tidak apa-apa kalau makan malamnya dengan gyoza. Tak lama kemudian, dia membalas dengan stiker karakter aneh yang mengacungkan jempol dengan semangat. Maka aku pun pergi ke supermarket untuk belanja bahan-bahan gyoza.


Setelah membeli semua bahan yang dibutuhkan, saat hendak mengambil kulit gyoza, aku berpikir, “Hari ini nggak banyak kegiatan, kenapa nggak coba bikin kulitnya juga sekalian?”


Aku pun pulang tanpa membeli kulit gyoza, langsung mencari resep, dan mulai membuat kulit gyoza dari nol. Karena ini pertama kalinya, hasilnya tidak terlalu bagus; bentuknya aneh dan ukurannya tidak seragam.


Saat makan malam, istriku pun berkomentar, “Wah, variasinya banyak ya,” dengan nada bercanda.


Meski tampilannya kurang menarik, rasanya luar biasa. Bahkan jika mempertimbangkan efek “buatan sendiri”, gyoza itu tetap terasa sangat enak.


“Kalau kulitnya dibuat sedikit lebih tebal, jadi kenyal-kenyal gitu, pasti makin mantap, ya?”


“Iya juga,” jawab istriku setuju.


Sejak hari itu, dimulailah perjalananku mencari “gyoza paling sempurna”.


Aku bereksperimen dengan perbandingan tepung terigu protein rendah dan tinggi, bahkan pernah mencoba mencampur bubuk kari untuk menjelajahi rasa baru. Untuk isian, aku mencoba berbagai kombinasi kol dan sawi putih, mencari rasio emas dengan daging cincang, dan terus melakukan trial & error.


Setelah sekitar enam bulan menjelajahi dunia gyoza, akhirnya aku menemukan resep yang memuaskan.


Untuk kulitnya, aku menambahkan lebih banyak tepung protein tinggi dari resep awal, lalu menguleni adonan dengan sekuat tenaga agar menghasilkan tekstur kenyal. Untuk isian, aku memijat kol dengan garam, lalu memerasnya sekuat tenaga hingga airnya benar-benar keluar. Sekedar info, membuat gyoza sempurna ini bikin badan pegal keesokan harinya.


Saat memanggang, aku menambahkan sedikit lebih banyak air untuk mengukusnya terlebih dahulu, lalu menaikkan api di akhir untuk membuat bagian bawahnya garing. Dengan begitu, aku bisa mendapatkan kombinasi kerenyahan dan kekenyalan dalam satu gigitan.


Gyoza sempurna yang aku buat ini rasanya luar biasa. Bahkan kalau bikin seratus buah pun, bisa habis dalam sekejap.


Waktu pun berlalu. Kini, gyoza di rumah kami telah berevolusi menjadi gyoza hanetsuki yang bisa dibuat hanya dengan menyusunnya di wajan tanpa minyak dan tanpa harus ditutup.


…Gyoza beku kualitasnya luar biasa, ya.


Setelah anak kami lahir, hari-hariku dipenuhi dengan kesibukan mengurus anak. Jujur saja, aku sudah tidak punya waktu untuk membuat kulit gyoza dari awal. Tapi aku tetap ingin makan gyoza yang enak! Keegoisan itu kini bisa dipenuhi oleh gyoza beku.


Gyoza beku yang bisa dimasak sambil menggendong anak itu benar-benar penyelamat. Tak diragukan lagi, itu adalah gyoza paling sempurna.


Ngomong-ngomong, bagaimana cara kalian membuat saus gyoza?


Di rumah kami, kami menyiapkan dua jenis saus: satu yang kental, campuran minyak cabai dan sedikit kecap asin; dan satu lagi yang segar, campuran cuka dan lada. Kami menikmatinya secara bergantian, kental dan segar.


Kalau kalian punya waktu dan motivasi, aku sangat menyarankan untuk mencoba membuat gyoza dari kulitnya sendiri. Kalian bisa menyesuaikan ketebalan dan teksturnya sesuai selera: tipis dan renyah, atau tebal dan kenyal.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close